tugas TPKI by z41n

VIEWS: 17 PAGES: 5

									                                              KATA PENGANTAR

        Tidak seorang penulisbiografi pun yang membayangkan bahwa tokoh yang merekatulis
kurang memiliki daya tarik atau tidak memiliki sesuatu yang khusus. Karena alasan-alasan yang
paling subjectif, saya pun tentunya merasakan hal yang sama mengenai fokus biografi ini. Saya
kira terdapat juga alasan-alasan objectif, mengapa Gus Dur dikenal berjuta-juta orang. Ini
merupakan pertimbangan paling menonjol untuk penulisan sebuah biografi. Saya menyadari
walau bagaimana pun paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, saya mohon
maaf segala kekurangan dan sangat berterima kasih bagi para pembaca, seandainya yang
berkenan memberikan saran dan sumbangan pemikiran, demi kesempurnaan paper ini. Mudah-
mudahan bermanfaat bagi pendidikan di tanah air.



A. Presiden RI. Kolumnis. Ketua Umum PBNU

        K.H. Abdurrahman Wahid lahir pada 4 Agustus 1940 di Denanyar Jombang. Ayahnya K.H.
A. Wahid Hasyim adlah putra K.H. M. Hasyim Asyari (Tebuireng). Sedangkan ibunya Ny. Hj.
                                                      1
Sholihah adalah putri K.H. Bisri Sansuri (Denanyar). Gus Dur memang dilahirkan pada hari
keempat bulan kedelapan. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tanggal itu adalah menurut
kalender islam, yakni bahwa Gus Dur dilahirkan pada bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam
                                                                                       2
penanggalan islam. Sebenarnya tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 7 September. K.H.
Hasyim Asyari semasa hidupnya menjabat Rais Akbar. Sedangkan K.H. Bisri Sansuri menjabat Rais
Aam sesudahnya. Dari kedua jalur nasab itu menunjukkan bahwa K.H. Abdurrahman Wahid
mempunyai aliran ‘Darah Biru’, kiai yang sangat besar dan berpengaruh.3

Pendidikan :

Pendidikan Dasar di Jakarta (1953)

SMEP Gowangan di Yogyakarta, sambil belajar di Pesantren Krapyak (1956)

Melanjutkan pendidikan di Pesantren Tegalrejo Magelang, selama tiga tahun

Lalu ke Pesantren Tambakberas Jombang, dan mengajar di Madrasah Mualimin Mualimat
Tambakberas Jombang sejak tahun 1959

Kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir

Pindah ke Fakultas Sastra Universitas Baghdad, Iraq

Namun belajarnya di Universitas Al-Azhar Kairo dan Universitas Baghdad tidak sampai lulus.
Tetapi sampai awal tahun 1970 beliau masih aktif dalam setiap kegiatan PPI (Perhimpunan
Pelajar Indonesia) Timur Tengah. Sepulang dari Iraq, beliau mengajar di Fakultas Ushuluddin



1
    Antologi Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU, K.H. Muchith Muzadi, 2007, Surabaya, hal: 173
2
    Biografi Gus Dur, Lie Hua, 2010, yogyakarta, hal: 25
3
    Op cit hal: 173

                                                           1
Universitas Hasyim asyari (Unhasy) Tebuireng Jombang, sekaligus menjadi dekannya pada tahun
1972 – 1974. Kemudian menjadi Sekretaris Pesantren Tebuireng pada tahun 1974 – 1979.

Pengabdian

Ketika masuk ke jajaran NU pada tahun 1979 atas dorongan kakeknya, K.H. Bisri Sansuri yang
saat itu menjabat sebagainRais Aam PBNU. Gus Dur langsung menempati posisi Wakil Katib Aam
PBNU. Pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo, ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU bersama
K.H. achmad siddiq sebagai Rais Aam. Jabatan itu disandangnya hingga tiga periode, yakni lewat
Muktamar ke-27 di Situbondo (1984), Muktamar ke-28 di Yogyakarta (1989), dan Muktamar ke-
29 di Cipasung (1994). Dalam Muktamar ke-30 di Lirboyo Kediri (1999), Gus Dur yang saat itu
menjadi Presiden RI diangkat sebagai salah seorang Mustasyar PBNU.

Namun sejak Muktamar ke-31 di Asrama Haji Donohudan Solo (2004), Gus Dur dan para Kiai
pendukungnya tampak kurang sepakat dengan pengurus baru PBNU. Sampai akhirnya ia
berencana mendirikan ‘NU yang Benar’ alias PBNU Tandingan, dengan kantor yang sama dengan
PBNU hasil Muktamar Dononuhan. Tapi akhirnya niat itu tidak pernah kesampaian. PBNU tetap
satu dengan DR K.H. MA. Sahal Mahfudh sebagai Rais Aam dan K.H. A. Hasyim Muzadi sebagai
Ketua Umum Tanfidziyahnya.

Ketika pada masa-masa awal meniti kariernya, Gus Dur dikenal sebagai seorang Kolumnis yang
produktif. Tulisannya banyak menghiasi halaman media masa nasional, terutama untuk majalah
Tempo dan harian Kompas. Pernah menjadi Ketua Dewan Pelaksana Harian Dewan Kesenian
Jakarta (DKJ), juri Festifal Film Indonesia (FFI), dan juga pernah menjadi anggota MPR wakil dari
DKI Jakarta.

Gus Dur memang sosok yang kontroversial. Selain pernah mendapatkan penghargaan Ramon
Magsaysay dari Philipina, ia juga mendapatkan penghargaan dari yayasan Simon Perez Israel,
disamping itu, juga terpilih sebagai salah seorang presiden WRCP (Persatuan Agama-agama
Sedunia).

Semasa menjabat Ketua Umum PBNU yang ketiga kalinya (1998), PBNU memfasilitasi berdirinya
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Gus Dur duduk sebagai Ketua Dewan Syuro partai tersebut.
Nama PKB akhirnya lebih identik dengan Gus Dur daripada ketua umumnya, baik Matori Abdul
Djalil maupun Alwi Shihab.

Dalam Sidang Umum MPR tahun 1999, Gus Dur diangkat sebagai Presiden RI Keempat,
menggantikan BJ Habibie. Selama memegang jabatan presiden, Gus Dur banyak melakukan
reshuffle kabinet. Sehingga banyak menimbulkan perlawanan dari partai-partai asal menteri itu
berada. Puncaknya, ia diserang lewat Impeachment oleh para anggota dewan. Dan akhirnya
dijatuhkan lewat Sidang Istimewa MPR tahun 2000. Ketika itu MPR dipimpi oleh Mohammad
Amien Rais.

       Ketika PKB terpecah menjadi dua, Muktamar Semarang dan Muktamar Surabaya, ia tetap
menempati posis Ketua Dewan Syuro DPP PKB Muktamar Semarang, dengan Muhaimin sebagai
Ketua Umumnya. Bahkan ketika akhirnya PKB hanya tinggal satu pada tahun 2006, Gus Dur tatap
menjadi Ketua Dewan Syuro-nya.


                                               2
B. Ahli Strategi yang Jenius4

Sosok Gus Dur yang seperti sekarang ini tentu saja hasil dari pergulata pemikirannya yang
panjang, pengalaman dan pengaetahuannya yang luas. Gus Dur merupakan gambaran sosok
dengan pengetahuan tradisi keagamaan yang luas dan penguasaan sejarah dunia yang cukup
memadai, sehingga mampu memahami dinamika agama dan modernisasi. Gus Dur adalah
hubungan seimbang, dan timbal balik antara keyakinan keagamaan, dan keyakinan skuler dalam
berbagai wujud dan manifestasinya dalam proses terus menerus berbangsa dan bernegara.

Pergaulan yang sangat luas dan bacaan yang sangat banyak membuat Gus Dur mempunyai
wawasan intelektualitas yang sangat luas. Greg Berton menilai Gus Dur sebagai salah seorang
pemikir islam liberal di Indonesia. Gus Dur dalam batas-batas tertentu, adalah agamawan dan
pemikir islam liberal di Indonesia yang belum tertandingi oleh Nur Cholis Majid. Cara berfikirnya
yang liberal itulah yang membuat Gus Dur kadang-kadang seperti tidak terkendali dan bahkan
bagi kalangan tertentu, Gus Dus dinilai nyeleneh. Meskipun demikian, orang berusaha
memakluminya, karena mereka sulit menarik batas keseriusannya. Strategi penyampaian dengan
kelakar dan humoris merupakan langkah jenius Gus Dur melintas batas menembus kecanggungan
dan ketenggangan. Ia sanggup meramu berbagai perbedaan-perbadaan dengan silaturrahmi dan
semangat perdamaian.

Kejeniusan strategi Gus Dur dalam memperjuangkan islam yang toleran dan demokrasi, kadang
terkesan tidak populis atau kontroversial. Jika kita melihatnya dalam jangka pendek, memang
Gus Dur sangat oportunis dan pragmatis dan emosional. Namun, kita harus meneropong jauh
kedepan bahwa strategi Gus Dur berperspektif jangka panjang. Sehingga dapat dikatakan, apa
yang dilakukan Gus Dur akan terlihat kebenarannya dalam beberapa tahu kemudian. Kecepatan
dan kejeniusan pemikiran Gus Dur kadang sulit diimbangi dengan langkah-langkah taktisnya,
sehingga terkesan serabutan dan emosional. Terlebih jika orang-orang di sekitarnya tidak dapat
menerjemahkan maksut Gus Dur atau memberikan informasi-informasi yang kurang valid.

Lompatan-lompatan Gus Dur baik dalam politik maupun gerakan kultural melalui NU merupakan
hasil perenungannya mengambil hikmah dari sejarah dunia yang di kuasainya. Gus Dur sangat
memperhatikan keberhasilan dan kegagalan periode-periode sejarah dunia. Ulasan
perjalanannya di Tiongkok yang menjadi latar tulisan-tulisannya. Sejarah bangsa Tiongkok
merupakan bangsa yang penuh dengan peperangan. Bangsa ini selama beribu-ribu tahun
menjadi medan pertempuran yang tidak pernah reda. Selalu ada revolusi, ada tokoh yang ingin
memproklamasikan raja baru. Tak mengherankan apabila strategi perang terbaik lahir di wilayah
ini.

Konon, sejak 500 tahun sebelum Masehi hingga 700 tahun sesudah Masehi, atau selama 1.200
tahun, tak kurang ada tujuh literatur strategi perang Cina yang terdokumentasikan. Literatur
tersebut mempengaruhi cara berfikir orang-orang Cina. Literatur yang paling terkenal adalah
strategi perang Suntzu dalam bahasa Cina, ada pepatah populer, “Shang chang ru zhan cang” :
pasar adalah medan pertempuran.




4
    Gus Dur Bertutur, As’ad Said Ali, 2005, Jakarta, hal: 17

                                                         3
Strategi perang Suntzu yang ditulis dalam 13 langkah sederhana. Mulai dari perencanaan perang,
hingga intelijen. Namun, kalau kita urut ke 13 langkah Suntzu itu, maka intisarinya Cuma ada tiga
langkah. Yaitu, mengenal diri kita dengan baik, mengenal musuh kita, dan mengenal tempat
dimana kita bertarung.

Salah satu strategi yang populer dari bangsa Cina yaitu, dalam memahami sepak terjang Gus Dur
adalah “ Bila orang melempar batu lawanlah dengan kertas. Bila mereka memakai kertas,
lawanlah dengan gunting. Dan bila mereka memakai gunting, ganjallah dengan batu.’ Kejeniusan
menerapkan strategi inilah yang membawa Gus Dur mengapa terkadang bersama A kadang
bersama B dankembali lagi bersama A, langkah zig zag gusdur yang kadang ada di tengah ,
kadang dipinggir atau kadang di luar memang membuat orang sulit mengenali arahnya dan
menguntungkan Gus Dur. Selain itu, langkahnya juga sangat terkait dengan orientasi jangka
panjangnya yaitu memberikan stimulan atau inspirasi bagi kalangan muda, terutama warga
naddliyin. Kini, kita bisa saksikan kalangan muda NU yang kritis dan progresif dengan mengusung
pemikiran-pemikiran Gus Dur.

Kejeniusan Gus Dur nampaknya tidak lepas dari kekayaan khazanah atau bacaan yang terekam
dalam memori otaknya dan pengalamannya yang luas, sehingga ia dengan cepat dan cerdas
mencerna setiap pengetahuan yang dipelajarinya. Kecepatan dan kecerdasan inilah yang
kemudian oleh warga nahdliyin meyakini Gus Dur memiliki ilmu ladunni (suatu ilmu yang
diperoleh tanpa belajar), bahkan ada yang meyakini ia seorang waliyullah (saint, seorang yang di
cintai dan dikaruniai allah dengan kemampuan lebih). Keyakinan warga nahdliyin ini sangat
disadari oleh Gus Dur, sehingga ia pun meraih kharisma yang besar apalagi ditunjang dengan
garis keturunan yang tinggi dan berperan dalam sejarah Indonesia.

C. Pribadi Sebenarnya Dibalik yang Terlihat5

Yang paling penting untuk bisa memahami Gus Dur adalah selalu mencoba mencari dari
apa yang tersirat, dari apa yang tersurat. Pada umumnya, tidaklah bijak untuk
meremehkan Gus Dur karena pada dirinya itu selalu terdapat sesuatu yang lebih daripada
apa yang kasat mata. Namun demikian, adalah juga tidak bijaksana untuk memahami
apa yang diucapkannya secara terlalu harfiah. Seringkali, apa yang diucapkan Gus Dur
bukanlah apa yang diketahuinya, melainkan lebih merupakan apa yang diingainkannya
sebagai sesuatu yang benar. Anggapan atas dia, dia akan menjadi seorang optimis yang
tak terkalahkan. Seburuk-buruknya, dia akan terlihat sebagai orang yang kurang tulus
atau suka menipu, atau kedua-duanya. Setelah berusaha keras selama beberapa tahun
untuk memahami Gus Dur, kesimpulannya bahwa berlawanan dari apa yang
dipersangkakan orang. Gus Dur sebenarnya jarang sekali menipu, atau berlaku kurang
tulus. Bahwa kecenderungan yang diperlihatkan Gus Dur dalam pernyataan-
pernyataannya yang memandang enteng masaalah yang dihadapinya, itulah yang
menggambarkan mekanisme eks trovert dari kebuasaannya untuk menyemangati dirinya
ketika menghadapi tantangan-tantangan yang benar-benar mengancamnya.


5
    Op cit hal: 7

                                               4
Kesimpulan dan Saran

        Gus Dur dilahirkan dari keluarga yang mempunyai aliran darah biru, karena
kepandaiaannya dalam berpolitik, beliau pernah menjabat Ketua Umum PBNU tiga kali. Dan
beliau adalah Preesiden RI keempat. Pengalaman belajarnya yang sangat luas sehingga berkali-
kali mendapatkan penghargaan dari dalam atau luar negeri. Beliau sosok seorang yang religius
dan ulama yang pandai berpolitik. Tindakan-tindakan yang kontroversial dan nyeleneh menjadi
ciri khasnya. Ia memiliki langkah dan strategi yang jenius. Hal ini karena pergaulannya yang
sangat luas dan bacaannya yang sangat banyak, bahkan Gus Dur dinilai nyeleneh karena
humorisnya dan terkadsang membuat orang salah faham dalam penafsirannya.

Saran;

Sebaiknya dalam menanggapi suatu masalah harus pasitif tinking dan tidak menganggap sesuatu
yang kita temui itu hal yang mustahil atau tidak ada kebenaran.



DAFTAR PUSTAKA

Hua, Lie.2010. Biografi Gus Dur. Yogyakarta. LKIS Printing Cemerlang

Muzadi, K.H. Abdul Muchit. 2007.Antologi Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU. Surabaya. Kalista

Ali, As’at Said. 2005. Gus Dur Bertutur. Jakarta Selatan. Harian Pro Aksi




                                                 5

								
To top