MUTU SEKOLAH DI KABUPATEN TANAH LAUT
Document Sample


Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
MUTU SEKOLAH DI KABUPATEN TANAH LAUT;
TELAAH INDIKATOR KINERJA DAN REVIEWINYA
OLEH : SARBAINI, FKIP UNLAM
A. Pengertian Mutu
Pengertian mutu dalam rangka umum menurut Umaedi (diambil tanggal 26 Desember
mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa
barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible”.
Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, mengacu pada proses pendidikan dan hasil
pendidikan. Dalam "proses pendidikan" yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar
(kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana
sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan
suasana yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinergikan semua
komponen input dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana
pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik
dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung
proses pembelajaran.
Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar
proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih
dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu
lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin
dicapai. Dengan demikian tanggung jawab sekolah dalam upaya peningkatan mutu berbasis sekolah
(school based quality improvement) bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya
adalah pada hasil yang dicapai .
Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah ' terutama yang menyangkut
aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan dengan menggunakan titik acuan
standar (benchmarking), misalnya : nilai UAN, UAS). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan
pada tiap sekolah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan
ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk
memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya.
Untuk menciptakan sekolah yang bermutu maka dibutuhkan kondisi sebagai pilar yang
menopang dengan kokoh di atas keyakinan dan nilai-nilai yang mengunggulkan mutu. Arcaro,
(1995:38) menyebutnya dengan (a) customer focus; kepuasan pengguna adalah kunci sukses; (b)
total involvement; semua unsur dalam sekolah peduli terhadap mutu; (c) measurement; mutu dapat
diamati dan terukur; (d) commitment; mutu perlu diupayakan dengan penuh kesungguhan; dan (e)
continuous improvements: perbaikan dan penyempurnaan secara berkelanjutan merupakan ciri dari
manajemen mutu pendidikan.
Mutu perlu diatur, dirancang, dilaksanakan dan akhirnya dipantau agar relevan dan
memenuhi tuntutan masyarakat pengguna. Pemantauan dan evaluasi atas indikator mutu kemampuan
dan kinerja sekolah harus dapat dilakukan oleh sekolah itu sendiri sebagai bagian terpadu dari fungsi
manajemen sekolah. Model USE PDSA dapat digunakan sebagai acuan untuk implementasinya
Umar Supardi & A.Kamil Marisi, 2007 diambil tanggal 26 Desember 2007 dari
http://lpmpjogja.diknas.go.id/index.php?option=com_content&task= view&id=171& Itemid =1).
Akan tetapi perlu diakui bahwa kondisi sekolah dalam kenyataannya adalah beragam dilihat
dari segi input maupun prosesnya, sehingga menimbulkan disparitas kinerja sekolah masing-masing.
Adanya disparitas kinerja sekolah yang bersumber dari faktor input maupun proses menuntut adanya
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 1
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
model penjaminan mutu yang dapat dijadikan acuan untuk memastikan terwujudnya sekolah-sekolah
efektif yang berkemampuan untuk mencapai standar-standar yang telah ditetapkan oleh BSNP
(Badan Standar Nasional Pendidikan) dan secara terus menerus meningkatkan standar sekolah dari
waktu ke waktu. Model USE PDSA dapat digunakan sebagai kerangka kerja penjaminan mutu
pendidikan.
Model USE PDSA, seperti terlihat pada gambar adalah model analisis kebijakan dan pengambilan
keputusan untuk perbaikan terus menerus (continuous improvement = Kaizen) yang didasarkan pada
konsep Roda Deming PDCA (Plan-Do-Check-Act). Masing-masing huruf pada model USE PDSA
mempunyai arti sebagai berikut :
U = Understand the quality improvement needs (Memahami kebutuhan perbaikan kualitas)
S = State the quality problem (s) (Menyatakan masalah kualitas yang dihadapi)
E = Evaluate the root cause (E) (Mengevaluasi akar penyebab masalah)
P = Plan the solution (P) (Merencanakan solusi masalah dlm. perbaikan kualitas)
D = Do or implement the solution (D) (Melaksanakan rencana solusi atau perbaikan kualitas)
S = Study the solution (S) result (mempelajari hasil-hasil solusi masalah atau perbaikan kualitas)
A = Act to standardize the solution (A) (Menstandarkan hasil-hasil solusi masalah atau perbaikan
kualitas )
Manajemen mutu yang terpadu dapat menerapkan manajemen strategis jika sekolah memiliki
visi pengembangan. Visi sekolah akan menjadi motor dan pengarah manajemen sekolah. Ukuran
keberhasilan mutu kinerja dijabarkan dari visi, evaluasi diri sehingga mengenal kelemahan dan
kekuatan internal serta peluang dan ancaman eksternal yang selanjutnya digunakan dasar untuk
perumusan target dan strategi serta program pengembangan yang tidak terlepas dari visi dan misi
sekolah. Oleh sebab itu evaluasi merupakan bagian integral dari upaya untuk mewujudkan sekolah
yang bermutu.
B. Ukuran Mutu Sekolah; Indikator Penentu Kinerja
Ukuran untuk menentukan mutu sekolah ditentukan oleh banyak indikator kinerjanya, dalam
hal ini tergantung acuan parameter yang digunakan, apakah menggunakan acuan
http://pakguruonline.pendidikan.net, profil pendidikan, Standar Pelayanan Minimal (SPM),
MPMBS, PPPGT Bandung, dan Badan Akreditasi Sekolah Nasional. Berikut dipaparkan
beberapa acuan indikator
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 2
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
1.Indikator Mutu Kinerja Sekolah
Ukuran mutu sekolah yang dipakai mengacu kepada indikator mutu pendidikan yang
bersesuaian dengan pengukuran kinerja sekolah pada pilar peningkatan mutu pendidikan (“Data
dan indikator pendidikan” diambil tanggal 21 Desember 2007 dari
http://pakguruonline.pendidikan.net)Tersedia 15(limabelas) pilihan indikator yang relevan untuk
mengukur mutu kinerja sekolah yakni:
a. Indikator mutu masukan; Persentase siswa baru tingkat SD menurut asal (% SB); 2) Rasio
rata-rata NEM lulusan terhadap rata-rata NEM siswa baru tingkat I (NEM L/SB).
b. Indikator mutu proses; Angka mengulang (AM); Angka putus sekolah (APS); Angka lulusan
(AL);
c. Indikator mutu guru (SDM); Persentase kelayakan guru mengajar (% GL); Persentase guru
menurut ijazah tertinggi (% GI); Persentase kesesuaian guru mengajar dengan jurusan ijazah
(% GJI); Persentase guru menurut bidang studi yang diajarkan (% GBS)
d. Indikator mutu sarana/prasarana; Presentase ruang kelas menurut kondisi (% RKK);
Presentase fasilitas sekolah (% FS)
e. Indikator mutu biaya yang dikeluarkan; Angka partisipasi pemerintah pusat (APPP); Angka
partisipasi orang tua siswa (APOS); Angka partisipasi pemerintah daerah (A Pemda);Satuan
biaya.
2. Indikator Keberhasilan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sekolah
Indikator Keberhasilan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sekolah, terdiri dari berbagai
komponen, yaitu;
a. Kurikulum, meliputi; ketersediaan dan keterlaksanaan kurikulum nasional, ketersediaan dan
keterlaksanaan kurikulum muatan lokal, % daya serap kurikulum nasional, % daya serap
KTSP, Kriteria kenaikan kelas dan tamatan
b. Peserta Didik, meliputi;APK, APM, APS, Angka Putus Sekolah, Angka Mengulang,
Kelangsungan belajar siswa (survival), % kelulusan
c. Ketenagaan, meliputi; kinerja kepala sekolah, % guru berkualifikasi, % guru berkualitas, %
karyawan berkeahlian, rasio guru dengan siswa
d. Sarana/Prasarana, meliputi; lahan, bangunan, perabot, peralatan lab/media, rasio buku teks dgn
siswa, sarana olahraga, infrastruktur
e. Organisasi, meliputi; struktur organisasi, personalia, uraian tugas, mekanisme kerja
f. Pembiayaan, meliputi; anggaran pemerintah, anggaran swadaya, komponen yang dibiayai
g. Manajemen sekolah, meliputi; pemahaman visi dan misi sekolah, % kehadiran guru, %
kehadiran karyawan, % kehadiran siswa, % tertib admiistrasi, kinerja sekolah
h. Peranserta masyarakat, meliputi; dukungan dan peranserta masyarakat/komite sekolah,
perhatian orangtua, peranserta tokoh masyarakat, peranserta dunia usaha/industri
3. Indikator Mutu Kinerja Sekolah menurut MPBS
Indikator Mutu Kinerja Sekolah menurut MPBS terdiri dari berbagai komponen, yaitu;
a. Konteks, meliputi; kondisi geografis, permintaan masyarakat akan pendidikan,
dukungan/partisipasi masyarakat, kebijakan pemerintah, aspirasi masyarakat terhadap
pendidikan, status sosial ekonomi
b. Inputs, meliputi;
1) Perencanaan; (visi,misi, tujuan, sasaran, program), sumber daya sekolah, siswa,
kurikulum, dan kemandirian.
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 3
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
2) Pelaksanaan; pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program,
pelaksanaan belajar mengajar, pelaksanaan evaluasi pembelajaran, pelaksanaan kerjasama
dan partisipasi, akuntabilitas, kemandirian, transparansi/keterbukaan,
sustainibilitas,pengelolaan keuangan
c. Outputs, meliputi; prestasi akademik dan non akademik
C. MUTU SEKOLAH DI KABUPATEN TANAH LAUT; REVIEW DARI HASIL
PENELITIAN (Sarbaini, dkk,2005) dan (Suratno dan Sarbaini, 2007)
1. Hasil UAN
Tabel 1. Rata-Rata Nilai UAN SLTP se Kab. Tanah Laut Tahun 2001-2005
RERATA NILAI
MATA PELAJARAN 2001/2002 2002/2003 2003/2004 2004/2005
Bahasa Indonesia 5,23 6,73 5,95 6,53
Bahasa Inggris 4,57 5,90 4,75 5,16
Matematika 5,04 5,16 4,81 5,67
TOTAL 14,84 17,79 15,51 17,36
Sumber : Diknas Prov.Kalsel: 2005
Data di atas menunjukkan bahwa secara total rata-rata nilai UAN siswa SLTP di
Kabupaten Tanah Laut dari tahun 2001-2005 untuk tiga mata pelajaran, menunjukkan
kenaikan dan penurunan, yakni meningkat di tahun 2002/2003, menurun di tahun 2003/2004,
tapi meningkat lagi di tahun 2004/2005. Namun jika dipatok pada rata-rata nilai di tahun
2001/2002, maka dapat dikatakan prestasi nilainya mencapai kenaikan.
Terlihat bahwa klasifikasi prestasi belajar siswa SLTP di Kabupaten Tanah Laut secara
total, klasifikasinya tidaklah berbeda dengan klasifikasi prestasi belajar siswa SLTP di
Kalimantan Selatan dan Kota Banjarmasin. Untuk perkembangan klasifikasi prestasi siswa
dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa.Inggris, dan Matematika nampaknya
klasifikasi prestasi yang dicapai siswa SLTP di Kabupaten Tanah Laut, kualifikasinya sama
dengan kualifikasi prestasi siswa SLTP di tingkat Kalimantan Selatan. Malah perkembangan
klasifikasi prestasi belajar siswa pada mata pembelajaran Matematika, lebih baik
dibandingkan siswa SLTP Kota Banjarmasin dan Kabupaten HSS.
Tabel 2.Rata-Rata dan Klasifikasi Nilai UAN SLTP di Kab.Tanah Laut Tahun 2001-2005
No SLTP/SMP Mata Pelajaran Tahun/Rata-Rata dan Klasifikasi Nilai
01/02 02/03 03/04 04/05
1 SMPN 1 B.Indonesia 6,07/C 7,10/B 6,47/C 7,03/B
Pelaihari B.Inggris 4,37/E 5,85/C 5,17/D 5,55/C
Matematika 4,37/E 5,08/D 5,26/D 5,65/C
Naik Total 14,81/D 18,03/C 16,90/C 18,23/C
2 SMPN 5 B.Indonesia 5,36/D 6,73/B 5,70/C 6,09/C
Pelaihari B.Inggris 4,32/E 5,28/D 4,31/E 4,30/E
Matematika 4,86/D 4,04/E 4,49/E 7,46/B
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 4
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
Naik Total 14,54/D 16,05/D 14,50/D 17,85/C
3 SMPN 1 B.Indonesia 5,09/D 6,59/B 5,59/C 6,47/C
Kurau B.Inggris 4,74/D 6,47/C 4,78/D 5,83/C
Matematika 5,03/D 6,14/C 4,52/E 4,31/E
Naik Turun* Total 15,87/D 19,20/C 14,89/D 16,61/D
4 SMPN 1 B.Indonesia 5,69/C 5,92/C 5,79/C 6,06/C
Tambang Ulang B.Inggris 4,88/D 5,35/D 4,52/E 5,11/D
Matematika 5,26/D 3,96/E 4,45/E 4,20/E
Tetap Total 15,83/D 15,23/D 14,76/D 15,37/D
5 SMPN 2 B.Indonesia 5,28/D 5,45/D 6,33/C 6,59/B
Jorong B.Inggris 4,87/D 4,92/D 4,94/D 5,50/C
Matematika 5,23/D 5,30/D 4,94/D 6,10/C
Naik Total 15,38/D 15,67/D 16,21/D 17,50/C
6 SMPN 1 B.Indonesia 5,15/D 6,48/C 5,91/C 6,54/C
Panyipatan B.Inggris 4,28/E 5,27/D 4,56/D 5,30/D
Matematika 4,98/D 4,24/E 4,52/E 6,14/C
Naik Total 14,41/D 15,99/D 14,99/D 17,98/C
7 SMPN 1 B.Indonesia 5,38/D 6,68/B 6,02/C 6,72/B
Takisung B.Inggris 4,65/D 4,67/D 4,85/D 5,71/C
Matematika 5,10/D 5,69/C 4,75/D 5,73/C
Naik Turun+ Total 15,13/D 17,04/C 15,62/D 18,16/C
8 SMPN 2 B.Indonesia 5,20/D 6,43/C 5,88/C 6,29/C
Kintap B.Inggris 4,43/E 6,07/C 4,51/D 5,39/D
Matematika 5,08/D 4,67/D 4,75/D 6,00/C
Naik Turun+ Total 14,71/D 17,17/C 15,14/D 17,68/C
9 SMPN 2 B.Indonesia 4,91/D 6,79/B 5,40/D 6,22/C
Batu Ampar B.Inggris 4,18/E 6,44/C 4,71/D 4,73/D
Matematika 4,87/D 5,98/C 5,09/D 5,45/D
Naik Turun- Total 13,96/D 19,21/C 15,20/D 16,40/D
2. Mutu Sekolah Berdasarkan Parameter MPMBS
Mutu sekolah diukur berdasarkan parameter yang digunakan untuk mengukur efektifitas
pelaksanaaan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Pengukuran dilakukan
terhadap komponen konteks, input, pelaksanaan dan output.Hasilnya dapat dilihat pada matriks
berikut
Kualitas Sekolah Sampel Kabupaten Tanah Laut tahun 2005
NO SEKOLAH KUALITAS
Konteks Input Pelaksanaan Output
1 SMPN 1 Panyipatan Kurang Cukup Cukup Cukup
2 SMPN 1 Kurau Cukup Cukup Cukup Cukup
3 SMPN Pelaihari Baik Cukup Baik Baik
4 SMPN 1 Tambang Ulang Kurang Kurang Cukup Kurang
5 SMPN 2 Jorong Cukup Cukup Cukup Cukup
6 SMPN 2 Kintap Cukup Cukup Cukup Kurang
7 SMPN 1 Pelaihari Baik Amat Baik Baik Baik
8 SMPN 1 Takisung Cukup Cukup Baik Baik
9 SMPN 2 Batu Ampar Baik Baik Baik Cukup
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 5
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
3. Profil Mutu Sekolah dan Kinerja Implementasi Kebijakan di SMP dan di SD
a. Profil Mutu Sekolah dilihat kondisi ruang kelas, rasio guru/siswa, rasio siswa/kelas, jumlah
kelas yang dimiliki oleh sekolah, dan rombongan belaja
Kelompok Kondisi Rasio Rasio Jumlah Jumlah
Sekolah/Kab/Kota Ruang Guru/Siswa Siswa/Kelas Kelas (Unit) Rombongan
Kelas(%) (orang) (orang) Belajar
(group)
SMP
HSS 72.44 7.56 29.67 6.56 5.89
TALA 67.00 8.67 29.78 8.22 7.00
BANJARBARU 66.25 13.63 25.38 11.13 11.00
SD
HSS 77.22 21.11 23.22 6.11 7.22
TALA 44.64 20.57 30.14 6.29 6.71
BANJARBARU 60.70 24.40 31.40 9.00 10.30
Kondisi ruang kelas untuk SD, yakni kondisi ruang kelas di SD Kabupaten Tanah
Laut pada umumnya rata-rata hanya 44% ruang kelasnya berkategori baik atau 56%-nya
sudah rusak.. Kondisi ruang kelas untuk SMP sampel di Kabupaten Tanah Laut, masih
memenuhi tuntutan ideal pemenuhan kebutuhan akan kualitas ruang kelas. Masing-masing
sekolah keadaan ruang kelasnya masih lebih dari 65% dinyatakan baik atau tidak mengalami
kerusakan
Rasio siswa/kelas yang ideal jadalah 20 siswa per kelas. Kepadatan rasio siswa/kelas
pada SMP sampel berkisar antara 26–30 siswa, sedangkan kepadatan rasio siswa/kelas untuk
SD berkisar antara 24–32 siswa. Kepadatan rasio siswa/kelas pada SD dan SMP di
Kabupaten Tanah Laut relatif tinggi
b. Sebaran Data Komponen dan Kinerja Implementasi Kebijakan Sekolah
Kelompok Komponen Implementasi Kebijakan Sekolah Kinerja
Sekolah/Kab/Kota Mana- KBM SDM Fasilitas & Keluar- Dampak implementasi
jemen Lingkungan an kebijakan
SMP
HSS 3.92 3.76 3.28 3.44 3.35 3.60 3.56
TALA 4.26 3.69 3.45 3.36 3.40 3.45 3.60
BANJARBARU 4.19 4.29 3.78 3.76 3.82 3.79 3.94
SD
HSS 3.93 3.90 3.56 3.67 3.48 3.95 3.75
TALA 3.72 3.59 3.29 3.16 2.89 3.24 3.32
BANJARBARU 4.18 4.29 3.48 3.48 3.30 3.75 3.75
Catatan: rentang skore 0-5 (sama sekali tak mendukung/tak sesuai/amat jelek/tidak memuaskan – sangat
mendukung/sangat sesuai/amat baik/sangat memuaskan)
Kinerja implementasi kebijakan di sekolah paling rendah dicapai oleh SD-SD di Tanah
Laut, sedangkan SD-SD di Hulu Sungai Selatan dan di Kota Banjarbaru relatif lebih unggul,
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 6
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
demikian juga peranan dari keenam komponen implementasi kebijakan tersebut. Peranan
keenam komponen implementasi kebijakan tampaknya dinilai lebih rendah oleh para pelaku
kebijakan di lapangan yakni Kepala Sekolah dan guru di Kabupaten Tanah Laut. Perbedaan
penilaian ini diduga faktor lingkungan dan kondisi potensi daerah setempat mempengaruhi
komitmen, cara pandang dan pola pikir atas tindakan operasional kebijakan di sekolah. Apapun
argumentasinya, maka implementasi kebijakan pendidikan di SD Kabupaten Tanah Laut perlu
mendapatkan perhatian karena jauh berbeda dengan kondisi di dua daerah lainnya.
Kinerja implementasi kebijakan di SMP mayoritas lebih ditentukan oleh komponen
manajemen dan komponen kegiatan belajar-mengajar daripada komponen lainnya. Hal ini
berlaku untuk SMP di ketiga kabupaten/kota sampel. Untuk empat komponen lainnya yakni
SDM (sumberdaya manusia), fasilitas dan lingkungan sekolah, keluaran dan dampak, tampaknya
SMP di Kota Banjarbaru lebih unggul peranannya dibanding dengan di kedua Kabupaten yang
lain. Peranan keempat komponen ini lebih variatif di kedua Kabupaten yang disebut terakhir.
Secara umum ada perbedaan nyata antara peranan komponen-komponen implementasi kebijakan
yang telah berlangsung di Hulu Sungai Selatan dan di Tanah Laut dengan di Kota Banjarbaru. Di
Banjarbaru nampak lebih menonjol dan memberi pengaruh yang lebih baik pula terhadap kinerja
implementasi kebijakan
4. Profil Kinerja SMP, Indeks Retensi dan Gain Skore UN; Kasus SMP di Kabupaten Tanah Laut
Untuk memperoleh elaborasi lebih jauh, maka keadaan penilaian kinerja implementasi
kebijakan tersebut ditelaah dengan melibatkan dua variabel lain sebagai indikator perolehan
mutu yakni indeks retensi dan gain skore hasil rerata ujian nasional/ujian akhir sekolah
(UN/UAS). Indeks retensi merupakan besaran angka yang menunjukkan tingkat kemampuan
sekolah untuk menahan siswa betah bersekolah mulai masuk sebagai murid baru hingga keluar
lulus sebagai alumni. Indikator ini dihitung secara kumulatif dari data empat tahun terakhir mulai
tahun pelajaran 2003/2004. Sedangkan gain skore UN/UAS menunjukkan perubahan kinerja
pada resultan output akibat intervensi dalam proses pendidikan. Jika terjadi pengaruh intervensi
positif maka hasil UN/UAS periode tertentu akan lebih tinggi daripada hasil UN/UAS periode
sebelumnya, begitu sebaliknya jika terjadi perubahan yang negatif. Komitmen terhadap suatu
implementasi kebijakan dipandang memberi nilai positif bagi peningkatan mutu sekolah jika ada
dampak terhadap resultan dari pengelolaan proses pendidikan antara lain nilai UN/UAS. Oleh
karena itu gain skore UN/UAS dipakai dasar untuk mengelaborasi lebih jauh apakah benar
kinerja implementasi kebijakan dan komposisi intensitas pada komponen-komponennya
memberi kontribusi terhadap peningkatan mutu dan relevansi output pendidikan di suatu sekolah.
Kinerja implementasi kebijakan yang tertingi di Kabupaten Tanah Laut dicapai oleh
SMPN 5 Pelaihari dan SMPN 1 Kurau, dan yang terendah dicapai oleh SMPN 2 Kintap. Indeks
retensi tertinggi dicapai oleh SMPN 5 Pelaihari, terendah oleh SMPN 1 Kurau. Gain skore UN
Bahasa Indonesia tertinggi dicapai oleh SMPN 5 Pelaihari, terendah dicapai oleh SMPN 1
Kurau. Gain skore tertinggi Matematika dicapai oleh SMPN 2 Jorong dan terendah dicapai oleh
SMPN 1 Kurau. Gain skore tertinggi Bahasa Inggris dicapai oleh SMPN 1 Pelaihari dan terendah
oleh SMPN 1 Kurau.
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 7
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
Kinerja, Indeks Retensi, Gain Skore UN SMP di Kab. Tanah Laut
Kinerja
5.00
Indeks Retensi
4.00 Bhs. Indonesia
Matematika
3.00
Bhs. Inggris
2.00
Kriteria Skore
1.00
0.00
-1.00
-2.00
-3.00
SM SM SM SM SM SM SM SM SM
PN PN PN PN PN PN PN PN PN
2 KIN 1 TA 2B 1 PE 5 PE 1K 2B 2 JO 1 TB
T AP KIS T. A LAIH LAIH URA ATI- RON .UL
UNG MPA ARI ARI U BAT G ANG
R I
Gambar 1: Kinerja, Indeks Retensi, Gain Skore UN SMP di Kab. TALA
D. Simpulan
1. Prestasi belajar siswa Tanah Laut cendrung mengalami peningkatan, khususnya di tahun
2004/2005.
2. Berdasarkan parameter MPMBS, maka sebagian besar komponen konteks, input,
pelaksanaan telah mendukung sekolah dalam pencapaian kualitas yang diinginkan.
Namun pada tataran tertentu, dari beberapa komponen tersebut masih ditemui berbagai
hambatan yang kurang mendukung.
3. Pada komponen data mutu ada kecenderungan sekolah kategori kinerja tinggi diikuti oleh
data mutu yang tinggi pula, dan begitu sebaliknya sekolah yang kategori kinerjanya
lemah juga memiliki data mutu yang lemah. Untuk kasus di SD, ada kecenderungan yang
mirip dengan kondisi di SMP tetapi peranan komponen manajemen dan keluaran
memberi pengaruh yang kuat terhadap capaian mutu sekolah terutama nilai ujian nasional
dan ujian sekolah.
4. Kinerja implementasi kebijakan yang baik di SMP cenderung diikuti oleh indeks retensi
yang yang rendah, tetapi diikuti gain skore UN yang lebih baik. Jika dielaborasi lanjut
dengan korelasi parsial dengan dikontrol oleh data mutu internal (1) kondisi kelas, (2)
rasio guru/siswa, (3) rasio siswa/kelas, (4) jumlah kelas, (5) jumlah rombongan belajar;
ternyata gain skore UN/UAS bukan merupakan resultan langsung dari efek mutu kinerja
implementasi kebijakan.
5. Kasus di SD agak berbeda, komponen manajemen dari kinerja implementasi kebijakan di
tingkat sekolah memiliki hubungan yang signifikan terhadap capaian gain skore untuk
mata ujian IPA dan IPS. Untuk komponen keluaran berhubungan secara sangat signifikan
dengan mata ujian Bahasa Indonesia dan Matematika. Dari konteks dapat dimengerti,
bahwa pola belajar anak di SD perlu lebih ditekankan intervensi kebijakan pada faktor
manajemen dan faktor keluaran atau output pendidikan.
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 8
Contact : HP 081521949136
Mutu Sekolah di Kab Tanah Laut; Telaah Indikator Kinerja dan Riviewnya
E. Saran
1. Peta kualitas sekolah perlu dibuat untuk menajamkan sasaran, target dan program
sehingga kebijakan yang dibuat dapat direncanakan, terlaksana secara sinergis dan
komprehensif, terarah, layak dan terukur, dan diketahui semua pihak bagi peningkatan
mutu pendidikan di Kabupaten Tanah Laut
2. Pemerintah Kabupaten, DPRD, dan Dinas Pendidikan Tanah Laut hendaknya
bekerjasama dengan LPMP Kalsel maupun dengan FKIP UNLAM (FKIP) dan IAIN
Antasari agar melalui Kegiatan Pengabdian Masyarakat dapat menjadikan salah satu
sekolah yang berkualitas ”kurang” dari aspek lembaga maupun prestasi belajar, sebagai
”pilot proyek” secara berkelanjutan, memberikan bantuan dan bimbingan terhadap
pelaksanaan MBS di sekolah. Kegiatan ini hendaknya dilakukan dengan dana ”sharing”
antara pemkab, dan lembaga pelaksana, pihak pengusaha dan massmedia.
3. Masalah sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan adalah masalah keuangan.
Untuk mengatasiya, tidak semata membebankan kepada orang tua siswa, komite sekolah,
tetapi menjadi tanggungjawab pemerintah daerah. Untuk itu perlu digagas dan
diwujudkan PERDA TENTANG PENDIDIKAN, salah satu isinya adalah mewajibkan
semua lembaga usaha yang mencari keuntungan di kabupaten agar menginfaqkan 2,5%
dari keuntungannya sebagai dana pendidikan. Dana ini dikelola oleh Dewan Pendidikan
bersama Ikatan Komite Sekolah dan IKKS di tingkat SMA/K, SMP,SD,TK. Melalui usul
mereka, maka Dewan Pendidikan merancang anggaran dana pendidikan, khususnya
untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah masing-masing.
4. Untuk SMP disarankan program aksi: Peningkatan sekolah mandiri, Pengadaan alat bantu
komunikasi belajar berbentuk ICT.Pengadaan jaringan belajar antar sekolah,Pengadaan
buku ajar yang relevan dan berkualitas,Pembangunan/rehab gedung untuk pusat layanan
belajar,Pengadaan SIM sumber belajar, Pelatihan guru pendamping kegiatan remedial.
5. Untuk SD disarankan program aksi: a) Penguatan dan peningkatan kapasitas manajemen
sekolah berbasis sekolah, dengan program-program: elatihan kapasitas manajemen bagi
Kepala Sekolah dan guru, Rekruitmen dan pelatihan tenaga SIM sekolah, Sosialisasi
program intensifikasi laporan kinerja dan jurnal kegiatan sekolah, Pengadaan fasilitas,
peralatan, media dan panduan pembelajaran, b) Pemberdayaan dan Pembimbingan
Belajar Siswa dalam rangka peningkatan mutu keluaran,berupa; Pengadaan bahan belajar
untuk tutorial dan remedial,Pelatihan guru pembimbing tutorial dan remedial, Bantuan
teknis program tutorial dan remedial.Monitoring dan evaluasi daya serap kemampuan
siswa.Pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan ujian nasional/sekolah
Sarbaini, Pelaihari, Kamis, 31 Juli 2008
Seminar Pendidikan di Kabupaten Tanah Laut Page 9
Contact : HP 081521949136
Related docs
Other docs by AnangSarbaini
Nilai Kesetaraan; Manifestasi Peran Majemuk Perempuan Pedagang Pasar Terapung Di Muara Kuin Banjarmasin Kalimantan Selatan
Views: 8 | Downloads: 0
PENGEMBANGAN MODEL PEMBINAAN KEPATUHAN PESERTA DIDIK TERHADAP NORMA SEKOLAH
Views: 53 | Downloads: 1
Pengembangan Model Pembinaan Kepatuhan Peserta Didik Terhadap Norma Ketertiban Sekolah
Views: 61 | Downloads: 1
Get documents about "