Docstoc

Agus_Setiawan

Document Sample
Agus_Setiawan Powered By Docstoc
					Media Konservasi Vol. VII, No. 2, Juni 2001 : 39 - 46


            TINJAUAN TERHADAP PEMBANGUNAN SISTEM KAWASAN KONSERVASI
                                  DI INDONESIA

                       (Review on the Development of Conservation Area System in Indonesia)

                                                   AGUSSETIAWAN" HADIS. ALIKODRA~)
                                                              DAN

                                              ar
                             ')stay~ e n ~ a jJurusan Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung
                                            Jl. Sumantri Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung 35145
                u
      ' ) ~ u r Besar pada Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB, Kampus IPB Darmaga, PO Box 168 Bogor

                                                                       ABSTRACT

         lndonesia is categorized as one of the biodiversity centers in the world. The value of biological diversity as environmental, economic and social
resources for maintaining the integrity and sustainability of natural systems and human life is very important. But, in other side, human development and the
population increase have caused the high rate of extinction of various plant and animal species. This high rate of extinction calls for a very serious and
prompt action of conservation. Priority should be given to designing protected area for protection of species and ecosystem. Quantitatively, conservation
development programs of Indonesia have a great achievement by designating 385 protected area which covering 22 560 545.46 ha. This paper overviews the
development of protected area in lndonesia including systems, history, existing distribution, problems and obstacles, and government policy.


Keywords : conservation, protected area, protected area system, protected area category, policy


                         PENDAHULUAN                                                  Tujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan keber-
                                                                                 adaan sistem kawasan konservasi di Indonesia yang
      lndonesia merupakan salah satu pusat keanekaragam                          meliputi : sistem, perkembangan, penyebaran, masalah-
hayati dunia. Dibandingkan dengan negara-negara Asia-                            masalah dalam pengembangan, dan kebijakan pembangun-
Pasifik, Indonesia memiliki Indeks Keanekaragaman Hayati                         an kawasan konservasi.
(Biodiversity Index) tertinggi (Paine, 1997). Wilayah
lndonesia mencakup tiga wilayah vegetasi yang memiliki
keanekaragaman hayati yang tinggi, yaitu (Sormin, 1990) :
I . Wilayah Asia: meliputi Sumatera dan Kalimantan yang                               Kekayaan biologis (sumberdaya hayati) di Indonesia
    didominasi oleh famili Dipterocarpaceae.                                     antara lain dilindungi dengan sistem kawasan konservasi
2. Wilayah Australia: mencakup Irian Jaya, Maluku, dan                           yang meliputi areal 22.560.545,46 ha (Pusat Informasi
    Sunda Kecil yang dicirikan oleh dominannya. famili                           Konservasi Alam, 2001) (atau lebih kurang 15,67% dari
    Araucariaceae dan Myrtaceae.                                                 luas kawasg hutan Indonesia, 144 juta ha), terdiri atas
3. Wilayah Transisi, meliputi Sulawesi dan Jawa yang                             taman nasional (TN), cagar alam (CA), suaka margasatwa
    didominasi oleh famili Myrtacea dan Verbenacea.                              (SM), hutan wisata (HW), taman buru (TB), dan tarnan
                                                                                 hutan raya (Tahura). Keenam kawasan konservasi tersebut
     Walaupun kepulauan Indonesia hanya mewakili 1,3%                            eksistensinya diakui secara yuridis oleh Undang-undang
luas daratan dunia, tetapi memiliki 25% species ikan dunia,                      Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam
 17% spesies burung, 16% reptil dan amphibi, 12%                                 Hayati dan Ekosistemnya dan IUCN.
mamalia, 10% tumbuhan dan sejumlah invertebrata, fungi,                               Mengacu pada UU RI No. 41 tahun 1999 tentang
dan mikroorganisme (Gautam et al., 2000). Hutan tropis                           Kehutanan dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990
lndonesia merupakan 10% dari hutan tropis dunia dan 40-                                                               Alam Hayati dan
                                                                                 tentang Konservasi ~ u m b e r d a ~ a
50% hutan tropis Asia. Di dalam hutan tropis 'Indonesia                          ~kosistemn~a,    hutan (kawasan) konservasi adalah hutan
terdapat sekitar 4.000 spesies pohon, 267 spesies di                             dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok
antaranya merupakan spesies komersil. Hutan tropika                              pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
Indonesia juga merupakan habitat bagi 500 spesies mamalia                        ekosistemnya. Sistem kawasan konservasi (KK) terdiri atas
(100 spesies di antaranya endemik) dan 1.500 spesies                             kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, dan taman
burung (IUCN, 1992).                                                             bum. Dengan adanya kawasan konservasi laut maka sistem
                                                                                 kawasan konservasi tersebut menjadi 10 kategori
                                                                                 (Gambar 1).
                                                                  Tinjauan terhadap Pembangunan Sistem Kawasan Kon.servasi di Indonesia




                                Gambar 1. Bagan sistem kategori kawasan konservasi di Indonesia


     Selain kawasan konservasi tersebut, Indonesia me-            a)   Berbak, suatu daerah rawa gambut di Jambi, hutannya
miliki hutan lindung (protection forest) seluas 30,3 juta ha           masih utuh, dan menyimpan flora dan fauna yang kaya
utamanya untuk melindungi daerah tangkapan air                         sekali.
(catchment area). Walaupun hutan lindung b e h g s i              b)   Sumatera Selatan I, mencakup daerah Pegunungan
sebagai tempat perlindungan sumberdaya hayati, tetapi                  tinggi, perbukitan dan dataran rendah.
tidak digolongkan kawasan konservasi karena pengawetan            c) Gunung Wilhelmina di Langkat seluas 200.000 Ha,
keanekaragaman hayati bukan merupakan tujuan utama                     dan W y Kambas di Lampung.
                                                                               a
                                                                  d) Baluran, di pojok timur laut Pulau Jawa, sebagai
   PERKEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI                                     lawan dari Ujung Kulon, di sebelah barat Bukan saja
             DI INDONESIA                                              karena kaya margasatwa tetapi juga karena berada di
                                                                       daerah yang sangat kering di Jawa Timur, maka
     Pembangunan kawasan konservasi dapat dianggap                     reservat ini menjadi sangat penting.
dimulai oleh Dr. Koorders, (1863-1919) pendiri dan ketua               Ketika pemerintahan kolonial Belanda berakhir di
pertama dari Nederlandrh Indische Vereeniging tot                 Indonesia telah terdapat 78 buah kawasan konservasi (cagar
Natuurbescherming (Perkumpulan Perlindungan Alam                  alam) denganluas 19377,96 ha.
Hindia Belanda). Menjelang pecah Perang Dunia I1 (tahun                Selama pendudukan Jepang (1942-1945) usaha
1935), ada beberapa reservat penting yang ditetapkan di           pelestarian alam hampir tidak ada. Akan tetapi secara
Sumatera, yakni :                                                 kebetulan Suaka Alam Bromo tetap tejaga, karena kawasan
Media Konservasi Vol. VII, No. 2, Juni 2001


tersebut mempunyai nilai ritual Agama Budha yang banyak                    mendapat perhatian karena mulai diperkenalkan bentuk
dianut orang Jepang.          Saat itu Suaka Alam Depok                    kawasan konsewasi lain, yaitu suaka margasatwa darat.
mengalami kerusakan karena pohonnya banyak ditebangi                       Dalam tiga dekade terakhir (mulai tahun 1970 sampai
penduduk untuk kebutuhan kayu bakar.                                       dengan tahun 1999) luas kawasan konsewasi yang
      Pada zarnan kemerdekaan kegiatan perlindungan dan                    ditetapkan meningkat dengan pesat. Selain luasannya yang
pengawetan alam mulai mengalami kemajuan sejak tahun                       meningkat pesat, kategori kawasan konsewasi pun semakin
 1954. Usaha-usaha yang penting antara lain adalah : 1)                    beragam.
rehabilitasi suaka alam dan margasatwa, 2) penertiban
perburuan di Jawa dan Madura, 3) pemberantasan
perburuan gelap terhadap gajah di Sumatera Selatan, dan 4)                         PENYEBARAN KAWASAN KONSERVASI
kerjasama internasional, terutama dengan International                                      DI INDONESIA
Union for the Conservation of Nature and Natural                                Prinsip pertama dalam penentuan kawasan konsewasi
Resources (IUCN).                                                          adalah keterwakilan dan kelangkaan atau keterancaman
      Jumlah dan luas kawasan konservasi di Indonesia terus                (ekosistem atau spesies) dari kepunahan. Karena ekosistem
bertambah. Selain itu kategorinya juga semakin beragam.                    dan spesies di Indonesia sangat beragam, maka untuk dapat
Perkembangan luas kawasan konsewasi dalam 10 dekade                        memenuhi azas keterwakilan tersebut diperlukan banyak
terahir disajikan pada Tabel 1.                                            kawasan konservasi yang tersebar di berbagai daerah.
      Pada Tabel 1 tersebut terlihat bahwa 10 tahun sebelum                Prinsip kedua (dalam menentukan luas) adalah teori
dan sesudah Indonesia merdeka pembangunanlpenetapan                        Biogeografi, makin banyak dan makin luas (kompak)
kawasan konsewasi sangat sedikit.           Pada saat itu,                 kawasan konsewasi akan makin banyak tipe ekosistem
kemungkinan pemerintah lebih banyak disibukkan oleh                        atau spesies yang diselamatkan (dilindungi). Prinsip ketiga,
pergolakan politik.                                                        sesuai dengan Convention on Conservation of Biodiversity
      Selama tahun 1960-an luas kawasan konsewasi yang                     adalah "save it, study it, and use it" (Suwelo, 2000;
ditetapkan juga relatif keci!. Akan tetapi, dekade ini perlu


Tabel 1.   Perkembangan kawasan konsewasi di Indonesia tahun 1913 sampai dengan 2001




Keterangan
CAD : Cagar Alam Darat                                THR     : Taman Hutan Raya
CAL : Cagar Alam Laut                                 TND     : Taman Nasional Darat
SMD : Suaka Margasatwa Darat                          TNL     : Taman Nasional h u t
SML : Suaka Margasatwa h u t                          TWD     : Taman Wisata Darat
TB : Taman Bum                                        TWL     : Taman WisataLaut
Sumber : Pusat Informasi Konsewasi Alam, 2001 (Data Diolah)
                                                                              Tinjauan terhadap Pembangunan Sistem Kawasan Konservasi di Indonesia


Alikodra, 1996). Artinya selamatkanlah suatu ekosistem                              Sampai dengan Januari 200 1 Indonesia memiliki 385
atau spesies sebelum hilang (rusak), kemudian kaji                            unit kawasan konservasi, yang meliputi 10 kategori, dengan
kegunaannya bagi peningkatan kesejahteraan hidup                              luas keseluruhan 22.560.545,46 ha (Tabel 1) dan tersebar di
manusia.                                                                      seluruh Indonesia (Tabel 2).

Tabel 2. Distribusi kawasan konservasi (KK), luas, dan jumlah kawasan konservasi di Indonesia




    Kallmantan Tengah                            740944,OO                         7                      3,28                      1,82
             Tlmur
    Kal~mantan                                  1735879,OO                         8                       7,69                     2,08
    Lampung                                      530979,lO                         4                      2,35                       ,
                                                                                                                                    1M
    Maluku                                       395851,99                        23                        ,5
                                                                                                           17                       5,97
    Nusa Tenggara Barat                          121543,SO                        13                      0,54                      3,38
    Nusa Tenggara Tlmur                          520155,25                        25                      2,31                      6,49
    R~au                                         170085,62                         8                      0,75                      2,08
    Sulawes~Selatan                              798053,oO                        21                      334                        .5
                                                                                                                                    54
    Sulawesl Tengah                              499336,OO                        12                      2,21                      3,12
    Sulawes~
           Tenggara                             1717699,OO                        12                       7,61                     3,12
    Sulawesi Utara                               498050,50                        14                      2,21                      3.64
    Sumatera Barat                               194935,20                        10                      0,86                      2,60
    Sumatera Selatan                             295658,OO                         9                        ,1
                                                                                                           13                       2,34
    Sumatera Utara                               161028,75                         19                      0,71                     4 9
    Jumlah                                    22560545,46                        385                     100,OO                   100,OO

Sumber: Pusat Informasi Konservasi Alam Departemen Kehutanan, 2001 (Data Diolah)
Media Konsewasi Vol. VII, No. 2, Juni 2001


      Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa kawasan konservasi                    Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa perlindungan
di Indonesia tersebar di setiap propinsi, walaupun                      terhadap beberapa tipe habitat masih sangat kecil.
penyebaran tersebut tidak merata. Dari segi luas Irian Jaya             Sebagaimana menurut Paine (1997), walaupun memiliki
(Papua), merupakan propinsi yang memiliki luas relatif                  Biodiversity Index tertinggi, akan tetapi Indonesia memiliki
terbesar (37,63%) tetapi dengan jumlah unit relatif kecil               indeks konservasi (Conservation Index) yang rendah,
(7,53%). Ini berarti setiap unit KK miliki areal yang luas.             artinya upaya perlindungan terhadap sumberdaya alam
Sebaliknya, Jawa Barat memiliki luas relatif kecil (1,15%)              hayati tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan
tetapi memiliki jumlah unit relatif besar yang berarti rata-            yang diperlukan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan
rata luasan KK yang kecil. Dari data tersebut yang menjadi              indeks konservasi, masih banyak yang hams dilakukan
pertanyaan adalah "apakah luas dan jumlah unit KK di                    Indonesia (MacKinnon, 1996).
masing-masing propinsi tersebut sudah memenuhi azas
keterwakilan?'. Pertanyaan ini penting karena dengan
makin meningkatnya kegiatan pembangunan, tuntutan                         MASALAH-MASALAH DALAM PEMBANGUNAN
konversi lahan akan makin meningkat, sehingga diperlukan                          KAWASAN KONSERVASI
penentuan luasan optimal suatu kawasan konservasi.                           Dalam makalah ini, yang dimaksud dengan masalah
      Menurut Bappenas (199 I), kekayaan habitat dan                    adalah faktor atau faktor-faktor yang menghambat
spesies hutan dataran rendah yang tercaktlp dalam kawasan               tercapainya suatu tujuan, termasuk gangguan dan ancaman.
konservasi masih kurang dari 1,5%, masih banyak yang                    Berbagai bentuk gangguan dan ancaman terhadap hutan
belum terwakili. Berbagai tipe habitat yang ada di                      (termasuk kawasan konservasi) adalah : 1) pencurian dan
Indonesia dan luas areal yang terlindung dalam kawasan                  penebangan liar, 2) perambahan, 3) perdagangan,
konservasi dan direncanakan untuk dilindungi disajikan                  peredaran, dan perdagangan flora dan fauna secara illegal,
pada Tabel 3.                                                           4) perburuan liar, 5) penangkapan melebihi quota, dan



Tabel 3. Sebaran lqas kawasan konservasi (KK) menurut tipe habitat




      Hutan musim                                          2419200      38.0          106000          4.4          232500            9.6
      Savana                                                 39000      39.7            1000          2.5            9500        24.4
      Dataran tinggi (Alpine)                               2 17000    100.0           74000         34.1           25800        11.8
      Jumlah                                             189551200                  12543100                     13534600

Keterangan : Luas habitat yang tersisa didasarkan pada peta penutupan lahan awal tahun 1980-an.
Sumber : Gautam et al. (2000) yang mengutip dari MacKimon dan Artha (1981); MacKimon & MacKinnon (1986); Petocz dan Raspadc (1989)
                                                               Tinjauan terhadap Pembangunan Sistem Kawasan Konsewasi di Indonesia


6) penyelundupan flora dan fauna langka dan dilindungi               KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KAWASAN
(Sukiran, 2000).                                                               KONSERVASI
      Hal-ha1 tersebut di atas merupakan symptom (gejala)
yang terjadi pada kawasan konsewasi atau flora dan fauna.           Mengingat pentingnya konsewasi swnberdaya hayati,
Gejala tersebut timbul sebagai akibat adanya berbagai          Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan untuk
permasalahan. Ahli yang berbeda memandang masalah              melindungi 10% dari luas daratan dan 20 juta ha habitat
pengelolaan kawasan konsewasi secara berbeda-beda              pesisir dan laut sebagai kawasan konsewasi (Dephutbun,
(Priono, 2000; Suwelo, 2000; Sukiran, 2000). Dephutbun         2000).
(2000) memandang masalah sqbagai kelemahan dan                      Sesuai GBHN 1999 (Ketetapan MPR Nomor
tantangan. Masalah yang merupakan kelemahan dalam              IVlMPW 1999 tentang GBHN Tahun 1999-2004), arah
pembangunan kawasan konsewasi, adalah :                        kebijakan pembangunan perlindungan dan konsewasi alam,
                                                               adalah :
     Indonesia belum mampu mengubah potensi ekologis
     yang dimiliki menjadi potensi ekonomi yang dapat          a) Mengelola dan memelihara daya dukung SDA agar
     meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara                  bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari
     optimal;                                                      generasi ke generasi.
     Tingkat pendidikan, motivasi, dedikasi dan etos kerja     b) Meningkatkan pemanfaatan potensi SDA dan ling-
     serta tingkat kesejahteraan pegawai yang terlibat dalam       kungan hidup dengan melakukan konsewasi, rehabili-
     pengelolaan kawasan konsewasi umumnya masih                   tasi, dan penghematan penggunaan dengan menerapkan
     rendah.                                                       teknologi ramah lingkungan.
     Kelembagaan sebagai alat menajemen belum efektif          c) Mendelegasikan secara bertahap wewenang pemerintah
     akibat: 1) penanganan yang terlalu sentralistik, tidak        pusat kepada pemerintah daerah dalam pelaksanaan
     sesuai dengan karakteristik kawasan konsewasi di              pengelolaan SDA secara selektif dan pemeliharaan
     masing-masing daerah yang spesifik, 2) pembentukan            lingkungan hidup sehingga kualitas ekosistem tetap
     UPT kurang proporsional dengan luas dan karakteristik         terjaga yang diatur dengan undang-undang.
     kawasan; 3) polisi hutan belum berfbngsi secara           d) Mendayagunakan SDA untuk sebesar-besar kemak-
     optimal; 4) peranan pemerintah daerah dalam kegiatan          muran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi
     konsewasi sangat minim; 5) kegiatan terlalu                   dm keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan
     berorientasi pada proyek yang tidak mengacu pada              yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya
     kerangka pemikiran yang jelas; 6) lemahnya sistem             masyarakat lokal, serta penataan ruang, yang peng-
     pengelolaan data, dan 7) penyebaran dan penempatan            usahaannya diatur undang-undang.
     pegawai kurang proporsional.                              e) Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan
                                                                   pelestarian kemampuan keterbaharuan dalam penge-
     Sementara itu masalah yang berupa tantangan, adalah :         lolaan SDA yang dapat diperbarui untuk mencegah
    Kesenjangan antara permintaan dengan pasokan                   kerusakan yang tidak dapat balik.
    (khususnya permintaan akan kayu),                              Misi Departemen Kehutanan dalam pembangunan
    Tekanan masyarakat terhadap kawasan yang semakin           kawasan konsewasi, adalah :
    meningkat;                                                 a) Menjaga keberadaan kawasan konsewasi, rehabilitasi,
    Konflik dengan sektor lain;                                   dan peningkatan potensi.
    Rendahnya kondisi sosial ekonomi masyarakat yang           b) Pegelolaan kawasan konsewasi berwawasan sosial,
    tinggal di sekitar dan di dalam kawasan hutan;                ekonomi, budaya, dan lingkungan hidup.
    Meningkatnya perbman satwa dan tumbuhan liar;              c) Peningkatan manfaat hasil dan peran masyarakat.
    Tuntutan masyarakat terhadap nilai ekonomi                       Adapun tujuannya adalah terjaganya fungsi kawasan
    (langsung) kawasan konsewasi masih tinggi;                 konsemasi yang optimal bagi kemakrnuran rakyat di sekitar
    Kesadaran masyarakat di sekitar kawasan konsewasi          kawasan.
    &an konsewasi sumberdaya hutan masih rendah,                     Direktur Konsewasi Kawasan Direktorat Jenderal
                                                               Perlindungan dan Konsemasi Alam (2000) menggariskan
    Terjadinya degradasi dan deforestasi yang semakin          kebijaksanaan umurn pengelolaan kawasan konsewasi,
    meningkat;                                                 sebagai berikut :
    Kebakaran hutan akibat alam, kelalaian, atau disengaja
                                                               a) Mengupayakan terwujudnya tujuan dan misi upaya
    masih sering terjadi bahkan cenderung meningkat;                konsewasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem
    Liberalisasi perdagangan dan tuntutan akan produk               yaitu : perlindungan sistem penyangga kehidupan,
    berwawasan lingkungan.                                          pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan
Media Konservasi Vol. VII, No. 2, Juni 2001


     satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara       TNL, dan TWL) dan areal lain di luar kawasan hutan
     lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.         (kawasan lindung). Oleh karena itu, sudah saatnya
b)   Meningkatkan pendayagunaan potensi sumberdaya            pengelolaan kawasan konservasi ini dilaksanakan oleh
     alam hayati dan ekosistem kawasan konservasi dan         suatu lembaga independen yang terpisah dari Departemen
     hutan lindung untuk kegiatan yang menunjang              Kehutanan dan dapat mengakomodasi kepentingan
     budidaya. Jenis kegiatannya mencakup pemanfaatan         pemerintah daerah dan masyarakat sekitar atau di dalam
     kawasan, pemanfaatan jasa              lingkungan dan    kawasan hutan.
     pemungutan hasil hutan bukan kayu pada kawasan
     konservasi.
c)   Memberdayakan peranserta masyarakat di sekitar                               DAFTAR PUSTAKA
     kawasan konservasi dan hutan lindung melalui             Alikodra, H.S. 1996. The implementation of forest resource
     pembinaan masyarakat untuk berperan aktif dalam               conservation in sustainable forest management in Indonesia
     setiap upaya konservasi dan upaya peningkatan                 (in) Indonesia's efforts to achieve sustainable forestry
     kesejahteraannya.                                             (Revised Edition). Forum of Indonesian Forestry Scientists.
d)   Keterpaduan dan koordinasi untuk mencapai                Commonwealth of Australia 1999.         International forest
     pembangunan kawasan konservasi yang integral                conservation: protected area and beyond. A Discussion
     dengan pembangunan sektor lain di sekitarnya                Paper for the Intergovernmental Forum on Forest. March
     sehingga kegiatan pembangunan tersebut dapat                 1999.
     terselenggara secara selaras, serasi, dan seimbang.      Departemen Kehutanan. 1986a. Sejarah kehutanan Indonesia I:
e)   Pemantauan dan evaluasi untuk mengetahui keefektifan          periode prasejarah- Tahun 1942. Departemen Kehutanan
     pengelolaan dan penentuan arah kebijakan pengelolaan          RI. Jakarta
     selanjutnya.                                                                    . 1986b. Sejarah kehutanan Indonesia 11-
                                                                   111: periode tahun 1942-1983. Departemen Kehutanan RI.
                           PENUTUP                                 Jakarta
                                                              Dephutbun. 2000. Program pembangunan nasional (PROPENAS)
       Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman                perlindungan dan konservasi dam tahun 2000-2004.
sumberdaya hayati yang tinggi, Indonesia memiliki                 Departemen Kehutanan dan Perkebunan Direktorat Jenderal
tanggung jawab moral untuk melindungi sumberdaya                  Perlindungan dan Konservasi Alam. Jakarta
tersebut bagi kepentingan kesejahteraan manusia, baik         Gautam, M., U. Lele, H. Kartodihardjo, A. Khan, Erwinsyah & S.
generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.                Rana 2000. Indonesia: the chalenges of World Bank
Sekali suatu spesies hilang atau punah maka spesies                involvement in forest. Evaluation country case study series.
tersebut akan punah selamanya. Sementara itu masih                 The World Bank. Washington, D.C.
banyak sekali spesies yang belum diketahui kegunaannya        IUCN. 1992. Protected areas of the world: a review of national
bagi umat manusia. Oleh karena itu prinsip "save it, study        system. Volume I: Indomalaya, Oceania, Australia, and
it, and use it" merupakan prinsip yang sangat tepat.              Antartic. Prepared by the World Conservation Monitoring
       Walaupun dari segi kuantitas, pembangunan kawasan          Centre, IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK.
konservasi di Indonesia telah mengalami perkembangan          Paine, J.R. 1997. Status, trends and future scenarios for forest
yang pesat, akan tetapi pembangunan tersebut behun &pat            conservation including protected areas in the Asia-Pasific
mencapai hasil yang optimal. Kawasan konservasi masih              Region.    Asia-Pasific Forestry Sector Outlook Study
banyak mengalami kerusakan akibat berbagai gangguan.               Working Paper Series. Working Paper No: APFSOSI
Adanya berbagai gangguan merupakan indikasi banyaknya              WPl04. Forestry Policy and Planning Division, Rome.
masalah yang dihadapi, antara lain adalah pandangan                Regional Officer for Asia and Pacific, Bangkok. Rome.
bahwa konservasi semata-mata merupakan kegiatan               Prijono, S.N. 2000. Peranan LIPI sebagai scientific authority di
Departemen Kehutanan dan minirnnya peranan pemerintah               dalam konservosi svmbcrdaya alam hayati. Fbceeding
daerah. Minirnnya peranan pemerintah daerah karena                  Workshop Teknik Pengelolaan dan Kebijaksanaan Konser-
kewenangan pengelolaan kawasan konservasi masih                     vasi Sumberdaya Alam Hayati. Departemen Kehutanan dan
bersifat sentralistis.                                              Perkebuan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan
       Pengelolaan kawasan konservasi selama ini                    Perkebunan. Bogor, 10-11 Maret 2000.
dilaksanakan oleh Dirjen di bawah Menteri Kehutanan yang      Prijono, S.N. 2000. Peranan LIPI sebagai scientific authority di
juga membawahi bidang eksploitasi. Secara teoritis ha1 ini          dalam konservasi sumberdaya dam hayati. Proceeding
dapat menyebabkan terjadinya "conflict of interest". Selain         Workshop Teknik Pengelolaan dan Kebijaksanaan Konser-
 itu, kawasan konservasi di Indonesia tidak hanya mencakup          vasi Sumberdaya Alam Hayati. Departemen Kehutanan dan
kawasan hutan tetapi juga mencakup lautan (CAL, SML,                Perkebuan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan
                                                                    Perkebunan. Bogor, 10-11 Maret 2000.
                                                                   Tinjauan ferhodap   emb ban& Sistem Kawasan Konservasi di Indonesia

Rahardjo, T.S. 1991. Country report: Indonesia. Some aspects of    Sukiran, H.B. 2000. Perlindungan dan pengamanan hutan dan
     nature conservation in Indonesia. Workshop Proceedings             hasil hutan serta pengembangan sumberdaya manusianya.
     Second Asian School on Conservation Biology. Conser-               Proceeding Workshop Teknik Pengelolaan dan Kebijak-
     vation and Restoration of Rain Forest in Asia Sampurno             sanaan Konsemasi Sumberdaya Alam Hayati. Departemen
     Kadarsan et al. (ed). Life Sciences Inter University Center        Kehutanan dan Perkebuan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan
     Faculty of Graduate Studies. Bogor Agricultural University.        Kehutanan dan Perkebunan. Bogor, 10-11 Maret 2000.
     Bogor.
                                                                   Suwelo, 1.54. 2000. Tak kenal maka talc sayang: pengawetan alam.
Sormin, B.H. 1990. Indonesia (in) Blockhus, J.M., M. R.                Proceeding Workshop Teknik Pengelolaan dan Kebijak-
    Dillenbeck, J. A. Sayer & P. Wegge (ed). 1992. Conserving          sanaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati. Departemen
    biological diversity in managed tropical forest. Proceedings       Kehutanan dan Perkebuan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan
    of a Workshop held at the IUCN General Assembly Perth,             Kehutanan dan Perkebunan. Bogor, 10-11 Maret 2000.
    Australia 30 November - 1 Desember 1990.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:1/2/2013
language:
pages:8