Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

jurnal ASI by zuperbayu

VIEWS: 54 PAGES: 16

									                          Search
Search:

"New Paradigm for Public Health"

         Salam sahabat


susu formula menghambat pemberian
asi ekslusif
Posted on April 26, 2007. Filed under: artikel ilmiah |

            PROMOSI SUSU FORMULA MENGHAMBAT

 PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 6-11 BULAN

                DI KELURAHAN PA’BAENG-BAENG

                             MAKASSAR TAHUN 2006
                          Oleh. Ridwan Amiruddin*) ; Rostia **)

*/**) Bagian Epidemiologi FKM Unhas

ABSTRAK

      Menurut HKI pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah
kelahirannya hanya 25-80%. Lebih buruk lagi di daerah kumuh perkotaan (Jakarta,
Makassar, Surabaya dan Semarang), pemberian itu hanya sampai 40%. Jenis penelitian
adalah penelitian observasional dengan desain crossectional study untuk mengetahui
faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6- 11 bulan.
Populasi adalah semua ibu yang mempunyai bayi 6- 11 bulan sebanyak 86 orang.
Pengambilan sampel dilakukan secara Exhausted Sampling. jumlah populasi diambil
secara keseluruhan yaitu sebanyak 86 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian ASI Eksklusif hanya 9,3%. Cakupan ini masih sangat jauh dari standar
nasional yang telah ditetapkan yaitu 80%. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara promosi susu formula dengan pemberian ASI Eksklusif
pada bayi 6- 11, serta tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu, sosial
ekonomi, pekerjaan ibu dan KIE petugas kesehatan dengan pemberian ASI Eksklusif
pada bayi 6- 11 bulan (p > 0.05). Disarankan agar petugas kesehatan hendaknya tidak
menganjurkan ibu untuk memberikan susu formula kepada bayinya pada awal masa
kelahiran, melakukan pemberdayaan petugas kesehatan, perlunya dukungan dari
keluarga, dukungan tempat kerja untuk pengadaan tempat pemberian ASI serta
perpanjangan cuti hamil dan melahirkan bagi ibu bekerja.

Kata Kunci : ASI Eksklusif, susu formula.

ABSTRACTfollow HKI ASI exclusive in baby until age a month after birth it only 25-
80%. worse again at urban affairs slum (jakarta, makassar, surabaya and
semarang), that gift only until 40%. Methode research with crossectional study to detect
factor relate to gift ASI exclusive in baby 6- 11 months. population all mothers that has
baby 6- 11 months as much as 86 person. sample taking is done according to exhausted
sampling. population total is taken as a whole that is as much as 86 person. Result
shows that gift ASI exclusive only 9,3%. this scope has stilled very far from standard
national that appointed that is 80%. statistics test result shows that there is relation
that have a meaning between milk promotion formula with gift ASI exclusive in baby 6-
11, with there is no relation that have a meaning between mother knowledge, economy
social, mother job and KIE well-being with gift ASI exclusive in baby 6- 11 months (p >
0.05). suggested so that well-being health worker should doesn’t suggest mother to give
milk formula to the baby in the early time births, do well-being health worker
enableness, the importance of support from family, work place support for gift place
supplying asi with extension leaves pregnant and give birth to for mother works.Key
words : ASI Exlusive, milk formula.

I. PENDAHULUANAir susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bayi pada awal usia
kehidupannya. Hal ini tidak hanya karena ASI mengandung cukup zat gizi tetapi juga
karena ASI mengandung zat imunologik yang melindungi bayi dari infeksi. Praktek
menyusui di negara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi
pertahun. Atas dasar tersebut WHO merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI
sampai bayi berusia 4-6 bulan (1).Steven Allen (dalam siaran pers Unicef, 2004)
mengatakan bahwa ASI bukanlah sekedar makanan tetapi penyelamat kehidupan. Setiap
tahunnya lebih dari 25.000 bayi Indonesia dan 1,3 juta bayi di seluruh dunia dapat
diselamatkan dengan pemberian ASI eksklusif Tahun 1999, setelah pengalaman selama 9
tahun, UNICEF memberikan klarifikasi tentang rekomendasi jangka waktu pemberian
ASI eksklusif. Rekomendasi terbaru UNICEF bersama World Health Assembly (WHA)
dan banyak negara lainnya adalah menetapkan jangka waktu pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan (2).Kajian WHO atas lebih dari 3000 penelitian menunjukkan pemberian
ASI selama 6 bulan adalah jangka waktu yang paling optimal untuk pemberian ASI
eksklusif. ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bagi bayi untuk bertahan
hidup pada 6 bulan pertama, mulai dari hormon, antibodi, faktor kekebalan sampai
antioksidan (2).Sejalan dengan hasil kajian WHO di atas, Menkes melalui Kepmenkes RI
No.450/MENKES/IV/2004 yang menetapkan perpanjangan pemberian ASI secara
eksklusif dari yang semula 4 bulan menjadi 6 bulan (3). Pemberian ASI eksklusif enam
bulan menurut HKI pada bayi di sejumlah kota besar di Indonesia ternyata masih
rendah.Pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia sebulan setelah kelahirannya
hanya 25-80%. Lebih buruk lagi di daerah kumuh perkotaan (Jakarta, Makassar,
Surabaya dan Semarang), pemberian itu hanya sampai 40%. Malah ada bayi yang baru
berumur dua minggu sudah diberikan makanan lain (4).Anak-anak yang tidak diberi ASI
eksklusif juga lebih cepat terjangkiti penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi,
dan diabetes setelah dewasa. Kemungkinan anak menderita kekurangan gizi dan obesitas
juga lebih besar (5).Proporsi pemberian ASI pada bayi kelompok usia 0 bulan sebesar
73,1%, 1 bulan 55,5%, 2 bulan 43%, 3 bulan 36% dan kelompok usia 4 bulan 16,7%.
Dengan bertambahnya usia bayi terjadi penurunan pola pemberian ASI sebesar 1,3 kali
atau sebesar 77,2%. Hal ini memberikan adanya hubungan antara pemberian ASI dengan
sosial ekonomi ibu dimana ibu yang mempunyai sosial ekonomi rendah mempunyai
peluang 4,6 kali untuk memberikan ASI dibanding ibu dengan sosial ekonomi tinggi
(6).Bertambahnya pendapatan keluarga atau status sosial ekonomi yang tinggi serta
lapangan pekerjaan bagi perempuan berhubungan dengan cepatnya pemberian susu botol.
Artinya mengurangi kemungkinan untuk menyusui bayi dalam waktu yang lama
(7).Berdasarkan hasil penelitian Setyowati 1998, promosi pemberian ASI eksklusif perlu
ditingkatkan, karena berdasarkan hasil penelitian praktek pemberian ASI di wilayah
Jabotabek ternyata 70,4% responden tidak pernah mendengar istilah ASI eksklusif,
disebutkan bahwa responden menyatakan tidak yakin bila bayinya dapat bertahan hidup
dengan memberikan ASI eksklusif saja sebagai makanan bayi selama 4-6 bulan.
Sebenarnya air atau cairan tambahan pada bayi di daerah tropik pada umur dini tidak
diperlukan karena secara teoritis maupun klinis telah dibuktikan bahwa pada bayi sehat
yang mendapat ASI eksklusif tidak pernah mengalami gangguan keseimbangan cairan
tubuhnya (8).Berdasarkan data Sub Dinas Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota
Makassar Cakupan ASI eksklusif Di Puskesmas Jongaya Kecamatan Tamalate pada
tahun 2004 sekitar 72,37% (Dinkes Kota Makassar, 2004). Hal ini belum sesuai dengan
target yang diharapkan oleh Departemen Kesehatan RI dimana ditargetkan pada tahun
2005 80% wanita Indonesia sudah memberikan ASI eksklusif.

             Tujuan Penelitian, Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan
pemberian ASI eksklusif pada bayi 6-11 bulan di Kelurahan Pa’baeng-baeng Kecamatan
Tamalate Makassar tahun 2006.



                             II. METODE PENELITIAN

A.   Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional dengan desain
crossectional study untuk melihat hubungan antara variabel independen yaitu
pengetahuan, promosi susu formula, KIE, sosial ekonomi, dan pekerjaan terhadap
variabel dependen yaitu pemberian ASI eksklusif.

B.   Lokasi, Populasi, Sample dan Responden

1. LokasiLokasi yang dipilih adalah Kelurahan Pa’baeng-baeng Kecamatan Tamalate
Kota Makassar, dilokasi ini terdapat 1 Puskesmas dengan jumlah posyandu sebanyak 12
posyandu.2. Populasi dan sampel Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang
mempunyai bayi usia 6-11 bulan pada saat penelitian dilaksanakan di Kelurahan
Pa’baeng-baeng Kecamatan Tamalate Kota Makassar tahun 2006. Dengan jumlah
populasi sebanyak 86 bayi. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai bayi
usia 6-11 bulan pada saat penelitian dilaksanakan, yang diambil secara Exhausted
Sampling.

     1. Responden

Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6 – 11 bulan yang ada
pada saat penelitian dilaksanakan.

C.     Pengumpulan Data

Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung terhadap responden
dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah tersedia (kuesioner) Data sekunder
diperoleh dari hasil pencatatan dan pelaporan di Puskesmas Jongaya, Dinkes Kota
Makassar, Kantor Kelurahan Pa’baeng-baeng dan Posyandu.

D.       Pengolahan dan Penyajian Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi program komputer SPSS for
windows versi 11,5 dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Untuk pengujian
hipotesis di gunakan uji statistik Fisher’s Exact Test dan hipotesis yang akan diuji adalah
hipotesis Null (Ho) dimana Ho ditolak jika p<0,05.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian1.      Deskriptif Variabel PenunjangUmur responden bervariasi
mulai dari yang terlalu muda di bawah 19 tahun dan umur ibu yang terlalu tua di atas 35
tahun. Pengelompokan umur dibagi dalam tiga kelas. Distribusi responden menurut
kelompok umur dapat dilihat pada table 1 menunjukkan kelompok umur responden 19-
35 tahun merupakan yang tertinggi yaitu sebesar 83,7% sedangkan yang paling rendah
adalah kelompok umur < 19 tahun dengan hanya 5,8%. Pendidikan membantu seseorang
untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi, misalnya
memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. Proses pencarian dan
penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi. Distribusi responden
menurut tingkat pendidikan menunjukkan bahwa dari 86 responden terdapat 37,2% yang
mempunyai tingkat pendidikan SLTA dan hanya 5,8% tidak sekolah.Pekerjaan berkaitan
dengan pemberian ASI. Ibu yang bekerja cenderung memiliki waktu yang sedikit untuk
menyusui bayinya akibat kesibukan bekerja. Sedangkan ibu yang tidak bekerja ( Ibu
Rumah Tangga) mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui bayinya. Distribusi
responden menurut jenis pekerjaan menunjukkan bahwa dari 86 responden sebagian
besar sebagai Ibu rumah tangga sebesar 94,2% sedangkan hanya 2,3% sebagai Pegawai
Negeri.Tempat melahirkan memberikan pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif
pada bayi karena merupakan titik awal bagi ibu untuk memilih apakah tetap memberikan
bayinya ASI eksklusif atau memberikan susu formula yang diberikan oleh petugas
kesehatan maupun nonkesehatan sebelum ASInya keluar. Distribusi responden menurut
tempat melahirkan menunjukkan bahwa Rumah Sakit merupakan tempat melahirkan
yang paling banyak dipilih responden yaitu sebesar 52,3% dan hanya 1,2% yang memilih
untuk melahirkan di tempat lainnya yaitu di rumah bidan bersalin.



Tabel 1Distribusi karakteristik Responden di Kelurahan Pa’ Baeng – Baeng Kecamatan
Tamalate Makassar Tahun 2006


Karakteristik                   Jumlah ( n )       Persen ( %)                  Sumbe
                                                                                r : Data
19 – 35                         72                 83,7                         Primer
> 35                            9                  10,5
Tingkat Pendidikan              n                  %
Tidak Sekolah                   5                  5,8                           Susu
Tidak Tamat SD                  9                  10,5                          formul
SD                              8                  9,3                           a yang
SLTP                            23                 26,7                          didapat
SLTA                            32                 37,2                          ibu
Akademik / PT                   9                  10,5                          saat
Jenis Pekerjaan Ibu             n                   %                            melahi
Wiraswasta                      3                  3,5                           rkan
Pegawai Negeri                  2                  2,3                           berpen
IRT                             81                 94,2                          garuh
Tempat Melahirkan               n                   %                            terhada
Puskesmas                       2                  2,3                           p
Klinik Bersalin                 6                  7,0                           pembe
Rumah Sakit                     45                 52,3                          rian
Rumah                           19                 22,1                          ASI
Rumah Sakit Bersalin            13                 15,1                          eksklu
Lainnya                         1                  1,2                           sif
Mendapat Susu FormulaSaat                                                        pada
                                 n                    %
Bayi Lahir                                                                       bayiny
Ya                              59                   68,6                        a,
Tidak                           27                   31,4                        membe
Pendapatan Keluarga             n                     %                          rikan
Cukup                           33                   38,4                        susu
Kurang                          53                   61,6                        formul
a kepada bayi saat ASI belum keluar bukan merupakan tindakan yang tepat karena tidak
sesuai lagi dengan standar ASI eksklusif. Distribusi responden menurut status mendapat
susu formula saat bayi lahir menunjukkan bahwa dari 86 responden terdapat 68,6% yang
mendapatkan susu formula saat bayi lahir dan 31,4% yang tidak mendapatkan susu
formula saat bayi mereka dilahirkan.Pendapatan memiliki kaitan dengan pemberian ASI
eksklusif, ibu yang memiliki pendapatan keluarga yang tinggi akan mudah untuk
mendapatkan makanan yang bernilai gizi baik untuk membantu proses menyusui bayinya
daripada ibu yang memiliki pendapatan keluarga rendah. Distribusi responden menurut
pendapatan keluarga menunjukkan bahwa dari 86 responden terdapat 61,6% yang
memiliki pendapatan keluarga yang tergolong kurang dan 38,4% yang memiliki
pendapatan keluarga yang tergolong cukup.

2. Analisis Hubungan Antar Variabela. Hubungan Pengetahuan dengan
Pemberian ASI EksklusifDistribusi pemberian ASI eksklusif menurut pengetahuan
dapat dilihat pada tabel berikut :Tabel 2Hubungan Pengetahuan ASI Eksklusif dengan
Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Pa’ Baeng – Baeng Kecamatan Tamalate
Makassar Tahun 2006

        Pengetahuan          Pemberian ASI Eksklusif           Total            Nilai p
        tentang ASI          Ya             Tidak
        Eksklusif            n       %      n           %      n       %
        Cukup                4       11,8   30          88,2   34      100,0    0,392
        Kurang               4       7,7    48          92,3   52      100,0
        Total                8       9,3    78          90,7   86      100,0

Sumber : Data PrimerHasil    analisis tabel 2 dapat dilihat bahwa presentase responden yang
memberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan tentang ASI eksklusif cukup
(11,8%) lebih besar dari responden yang memberikan ASI eksklusif dan memiliki
pengetahuan tentang ASI eksklusif kurang (7,7%) sedangkan presentase responden yang
tidak memberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan kurang (92,3%) lebih besar
dari responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan memiliki pengetahuan cukup
(88,2%). Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test menunjukkan
nilai p = 0,392( > 0,05), sehingga tidak ada hubungan pengetahuan dengan pemberian
ASI eksklusif pada bayi 6- 11 bulan.b. Hubungan Promosi Susu Formula dengan
Pemberian ASI EksklusifDistribusi pemberian ASI eksklusif menurut promosi susu
formula dapat dilihat pada tabel berikut :Tabel 3 Hubungan Promosi Susu Formula
dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Pa’ Baeng – Baeng Kecamatan Tamalate
Makassar Tahun 2006

        Promosi        Pemberian ASI Eksklusif                 Total               Nilai
        Susu           Ya                  Tidak                                   p
        Formula        N        %          n           %       n        %
        Ada            0        0,0        38          100,0   38       100,0      0,007
        Tidak Ada      8        16,7       40          83,3    48       100,0
        Total          8        9,3        78          90,7    86       100,0

Sumber : Data Primer

Hasil analisis tabel 3 dapat dilihat bahwa presentase responden yang memberikan ASI
eksklusif dan tidak mendapatkan promosi susu formula (16,7%) lebih besar dari
responden yang memberikan ASI eksklusif dan mendapatkan promosi susu formula tidak
ada sedangkan presentase responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan
mendapatkan promosi susu formula (100%) lebih besar dari responden yang tidak
memberikan ASI eksklusif dan tidak mendapatkan promosi susu formula (83,3%).Hasil
uji statistik dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,007(
<0, 05) yang berarti ada hubungan promosi susu formula dengan pemberian ASI
eksklusif pada bayi 6- 11 bulan.c. Hubungan KIE Petugas Kesehatan dengan
Pemberian ASI EksklusifKIE petugas kesehatan mempunyai peranan penting bagi
keberhasilan ibu dalam memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Distribusi pemberian
ASI eksklusif menurut KIE petugas kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut :Tabel
 4Hubungan KIE Petugas Kesehatan dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Pa’
Baeng – Baeng Kecamatan Tamalate Makassar Tahun 2006

                             Pemberian ASI Eksklusif                   Total                Nilai
        KIE Petugas          Ya              Tidak                                          p
        Kesehatan
                             n        %      n          %              n            %
        Pernah               3        12,0   22         88,0           25           100,0   0,667
        Tidak Pernah         5        8,2    56         91,8           61           100,0
        Total                8        9,3    78         90,7           86           100,0

Sumber : Data PrimerHasil   analisis tabel 4 dapat dilihat bahwa presentase responden yang
memberikan ASI eksklusif dan pernah menerima informasi dari petugas kesehatan
(12,0%) lebih besar dari responden yang memberikan ASI eksklusif dan tidak pernah
menerima informasi dari petugas kesehatan (8,2%) sedangkan presentase responden yang
tidak memberikan ASI eksklusif dan tidak pernah mendapat informasi dari petugas
kesehatan (91,8%) lebih besar dari responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan
mendapat informasi dari petugas kesehatan (88,0%).Hasil uji statistik dengan
menggunakan uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,667( >0,05) yang berarti
tidak ada hubungan KIE petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi 6-
11 bulan.       d. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Pemberian ASI
EksklusifDistribusi pemberian ASI eksklusif menurut sosial ekonomi dapat dilihat pada
tabel berikut :Tabel 5Hubungan Sosial Ekonomi dengan Pemberian ASI Eksklusif di
Kelurahan Pa’ Baeng – Baeng Kecamatan Tamalate Makassar Tahun 2006

                            Pemberian ASI Eksklusif            Total                    Nilai p
        Sosial Ekonomi      Ya           Tidak
                            n    %       n       %             N            %
        Tinggi              4    12,1    29      87,9          33           100,0       0,364
        Rendah              4    7,5     49      92,5          53           100,0
        Total               8    9,3     78      90,7          86           100,0

Sumber : Data Primer

Hasil analisis tabel 6 dapat dilihat presentase responden yang memberikan ASI eksklusif
dan memiliki sosial ekonomi tinggi (12,1%) lebih besar dari responden yang memberikan
ASI eksklusif dan memiliki sosial ekonomi rendah (7,5%) sedangkan presentase
responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan memiliki sosial ekonomi rendah
(92,5%) lebih besar dari responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan memiliki
sosial ekonomi tinggi (87,9%).Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Fisher’s Exact
Test menunjukkan nilai p = 0,364( >0,05) yang berarti tidak ada hubungan sosial
ekonomi dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi 6- 11 bulan.
e. Hubungan Pekerjaan dengan Pemberian ASI EksklusifDistribusi pemberian ASI
eksklusif menurut KIE petugas kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut :Tabel
6Hubungan Pekerjaan dengan Pemberian ASI Eksklusif diKelurahan Pa’ Baeng – Baeng
Kecamatan Tamalate Makassar Tahun 2006

                            Pemberian ASI Eksklusif      Total            Nilai p
        Pekerjaan           Ya           Tidak
                            n    %       n       %       n       %
        Bekerja             0    0,0     5       100,0   5       100,0    0,606
        Tidak Bekerja       8    9,9     73      90,1    81      100,0
        Total               8    9,3     78      90,7    86      100,0

Sumber : Data Primer

Hasil analisis tabel 6 dapat dilihat bahwa presentase responden yang memberikan ASI
eksklusif dan tidak bekerja di luar rumah (9,9%) lebih besar dari responden yang
memberikan ASI eksklusif dan bekerja di luar rumah tidak ada sedangkan presentase
responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan bekerja di luar rumah (100,0%)
lebih besar dari responden yang tidak memberikan ASI eksklusif dan tidak bekerja di luar
rumah (90,1%).Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test
menunjukkan nilai p = 0,606( >0,05) yang berarti tidak ada hubungan pekerjaan dengan
pemberian ASI eksklusif pada bayi 6- 11 bulan.

B.      PembahasanMenyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta- juta ibu di seluruh
dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI. Bahkan ibu
yang buta huruf pun dapat menyusui anaknya dengan baik. Walaupun demikian, dalam
lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu
mudah.Pengetahuan ASI eksklusif adalah segala sesuatu yang diketahui responden
tentang ASI eksklusif yang meliputi pengertian, manfaat ASI eksklusif, kolostrum serta
manajemen laktasi yang dapat menunjang keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada
bayi 6- 11 bulanBerdasarkan hasil penelitian sebagaimana yang dipaparkan tabel 9
menunjukkan bahwa dari 86 responden yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang
ASI eksklusif sebanyak 34 responden (39,5%) dan 52 responden pengetahuannya masih
kurang tentang ASI eksklusif. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu mengenai
ASI eksklusif kurang baik.Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah
tingkat pendidikan yang dimiliki responden dimana responden yang tergolong pendidika
tinggi lebih sedikit dibandingkan dengan responden yang memiliki pendidikan rendah.
Hal ini menggambarkan bahwa tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pengetahuan
yang dimiliki oleh responden, karena semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin
tinggi pula tingkat pengetahuannya dan semakin rendah tingkat pendidikan seseorang
maka semakin rendah pula tingkat pengetahuannya.Berdasarkan hasil analisis statistik
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI
eksklusif di Kelurahan Pa’baeng- baeng Kecamatan Tamalate Makassar tahun 2006.Hal
ini menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan ibu cukup atau kurang tidak
mempengaruhi ibu untuk tetap memberikan ASI eksklusif kepada bayinya atau tidak.
Ternyata berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa faktor keluarga dan kebudayaan
sangat mempengaruhi ibu untuk menyusui bayinya secara eksklusif atau tidak. Ibu yang
baru melahirkan lebih percaya kepada kebiasaan- kebiasaan keluarganya/ orangtuanya
yang dilakukan secara turun temurun daripada mengaplikasikan informasi dari petugas
kesehatan. Sehingga kurangnya dukungan dari keluarga terutama dukungan dari ayah
bayi dan orangtua mengakibatkan bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif.Menurut Roesli
Utami (2000) ayah merupakan bagian yang vital dalam keberhasilan atau kegagalan
menyusui. Banyak ayah yang yang berpendapat salah. Para ayah ini berpendapat bahwa
menyusui adalah urusan ibu dengan bayinya. Mereka menganggap cukup mennjadi
pengamat yang pasif saja. Sebenarnya ayah mempunyai peran yang sangat menentukan
dalam keberhasilan menyusui karena ayah akan turut menentukan kelancaran refleks
pengeluaran ASI yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu
(2).Pengetahuan seseorang dapat berguna sebagai motivasi dalam bersikap dan bertindak
sesuatu bagi orang tersebut. Serangkaian pengetahuan selama proses interaksi dengan
lingkungannya menghasilkan pengetahuan baru yang dapat bermanfaat bagi dirinya
maupun orang lain. Pengetahuan oangtua, ibu dan ayah bayi khususnya mengenai
kolostrum, ASI eksklusif dan manajemen laktasi memegang peranan penting dalam
pemberian ASI eksklusif.Hanya ASI yang paling ideal untuk bayi manusia maka
perubahan yang dilakukan pada komponen gizi susu sapi harus mendekati susunan zat
gizi ASI. Meskipun para ahli teknologi pangan telah berusaha untuk memperbaiki
susunan zat gizi susu sapi agar komposisinya mendekati susunan zat gizi ASI, sampai
saat ini usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang baik.Salah satu faktor yang
menyebabkan hal tersebut adalah adanya pembagian susu formula yang dilakukan oleh
petugas kesehatan/ non kesehatan di tempat ibu melahirkan yang dibeli oleh responden
sehingga akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada bayi. Berdasarkan hasil
penelitian Nurcholish (2005) bersama Program Appropriate Technology in Health
(PATH) di daerah Cirebon, Kediri, Cianjur, Blitar tahun 2003 diketahui berbagai
”kenakalan” produsen susu formula dan makanan pendamping bayi, diantaranya promosi
dalam berbagai bentuk kepada sarana kesehatan serta tenaga kesehatan, baik dokter
maupun bidan untuk turut serta memasarkan produk mereka (9). Berdasarkan hasil
analisis statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara promosi susu formula dengan
pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Pa’baeng- baeng Kecamatan Tamalate Makassar
tahun 2006.Pada penelitian ini presentase responden yang tidak memberikan ASI
eksklusif dan tidak pernah mendapatkan promosi susu formula sebanyak 40 responden
(83,3%), hal ini disebabkan karena ada beberapa responden yang mendapatkan produk
susu formula tapi tidak diberikan pada bayinya saat baru dilahirkan malah mereka lebih
memilih memberikan air putih, air tajin dan madu saat menunggu ASI mereka keluar
karena menurut responden pemberian air putih, madu dan air tajin merupakan kebiasaan
keluarga secara turun temurun dimana dapat menjadikan bayi berprilaku sopan, berkata-
kata yang baik dan membersihkan hati si bayi hingga bayi besar nantinya. Namun
demikian, responden tidak mengetahui bahwa memberikan air putih, madu dan air tajin
pada bayi sebelum ASI keluar bukan merupakan tindakan yang tepat karena tidak sesuai
lagi dengan standar ASI eksklusif. Selain itu menurut responden susu formula tersebut
sudah merupakan bagian dari administrasi pembayaran persalinan jadi harus
diambil.Menurut Utami Roesli (2000) ASI eksklusif atau pemberian ASI eksklusif adalah
bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu,
air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu,
biskuit, bubur nasi, dan tim (2).Menurut Rulina Suradi (2004) pemberian air susu ibu
(ASI) secara eksklusif masih rendah, disebabkan karena tatalaksana rumah sakit yang
salah. Beberapa rumah sakit memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir sebelum
ibunya mampu memproduksi ASI. Hal itu menyebabkan bayi tidak terbiasa menghisap
ASI dari puting susu ibunya, dan akhirnya tidak mau lagi mengkonsumsi ASI (10).Hal ini
disebabkan karena ada faktor lain yang lebih mempengaruhi pemberian ASI eksklusif
pada bayi berupa anggapan yang salah dari para ibu yang menggangap bahwa dengan
pemberian ASI maka akan menyebabkan bayi mereka tidak mandiri, bayi cepat lapar,
pertumbuhan bayi kurang cepat sehingga untuk mengatasi hal tersebut ibu lebih memilih
memberikan makanan prelaktal sejak dini. Kemudian kurangnya dukungan dari keluarga
juga merupakan faktor terhambatnya pemberian ASI eksklusif sehingga walaupun ibu
pernah menerima atau tidak pernah menerima informasi ASI eksklusif dari petugas
kesehatan tidak akan mempengaruhi tindakan ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada
bayi mereka.Keluarga yang merupakan orang terdekat ibu bayi terutama ayah dan
orangtua perlu juga diberikan informasi tentang pentingnya ASI eksklusif oleh petugas
kesehatan sehingga dengan pengetahuan tersebut dapat menghilangkan anggapan-
anggapan yang salah tentang ASI eksklusif dan dengan adanya informasi tersebut akan
membuat keluarga untuk menyakinkan ibu agar tetap memberikan ASI secara eksklusif
kepada bayinya. Menurut Zamri Amin (2001) faktor- faktor yang dapat menghambat
pemberian ASI eksklusif selain adanya anggapan yang salah dari ibu menyusui juga
karena adanya faktor lingkungan. Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa jumlah
responden yang tidak memberikan ASI eksklusif yang memiliki sosial ekonomi rendah
presentasenya 57,0% atau sebanyak 49 orang dari 53 responden. Selanjutnya berdasarkan
analisa uji statistik diketahui bahwa tidak ada hubungan antara sosial ekonomi dengan
pemberian ASI eksklusif, hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Purnamawati
(2003) yang menunjukkan bahwa pada sosial ekonomi rendah memiliki peluang 4,6 kali
untuk memberikan ASI dibanding ibu dengan sosial ekonomi tinggi (6).Hal ini
menunjukkan bahwa walaupun ibu memiliki sosial ekonomi tinggi maupun sosial
ekonomi rendah tidak mempengaruhi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Berdasarkan
penelitian ini ibu yang memiliki sosial ekonomi rendah tetap membeli susu formula dan
memberikannya kepada bayi mereka kemudian susu formula yang diberikan kepada bayi
tersebut mengalami pengeceran yang salah yang tidak sesuai dengan ketentuan cara
penyajian sehingga kandungan gizi yang ada pada susu formula tersebut kurang
lengkap.Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa jumlah responden yang tidak
memberikan ASI eksklusif yang tidak memiliki pekerjaan persentasenya 90,1% atau
sebanyak 73 orang dari 81 responden. Selanjutnya berdasarkan analisa statistik diketahui
bahwa tidak ada hubungan antara ibu bekerja di luar rumah dengan pemberian ASI
eksklusif, hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zamri Amin (2001)
yang menunjukkan bahwa pada kelompok ibu yang tidak bekerja keinginan untuk
memberikan ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan pada ibu yang bekerja.Hal ini
disebabkan karena adanya faktor yang lebih dominan yang bisa mempengaruhi ibu untuk
memberikan ASI eksklusif pada bayinya diantaranya faktor lingkungan dan adanya
anggapan beberapa responden bahwa dengan memberikan ASI saja maka anak lambat
pertumbuhannya dan menjadi manja sehingga responden lebih berpikir untuk
memberikan susu formula karena disamping gizinya yang lengkap juga karena praktis
penyiapannya.
IV. SIMPULAN DAN SARANA. SIMPULANBerdasarkan hasil penelitian tentang
faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6- 11 bulan di
Kelurahan Pa’baeng- baeng Kecamatan Tamalate Makassar tahun 2006 dapat
disimpulkan sebagai berikut 1. Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu, KIE
Petugas kesehatan, sosial ekonomi keluarga, dan pekerjaan ibu dengan pemberian
pemberian ASI eksklusif pada bayi 6-11 bulan. Hal ini berarti pengetahuan bukan
merupakan faktor penentu dalam pemberian ASI Eksklusif. 2. Ada hubungan antara
promosi susu formula dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi 6-11 bulan. Hal ini
berarti responden yang mendapatkan promosi susu formula presentase pemberian ASI
Eksklusifnya sangat kecil.B. SARAN1. Perlu dukungan pihak terkait khususnya
instansi yang memperkerjakan wanita agar ibu- ibu yang bekerja dapat tetap memberikan
ASI Eksklusif misalnya dengan perpanjangan cuti hamil dan cuti setelah melahirkan serta
penyediaan tempat khusus bagi ibu-ibu yang ingin menyusui bayinya.2. Perlunya
dukungan dari keluarga agar ibu tetap memberikan ASI eksklusif pada bayinya sampai
usia bayi 6 bulan.3. Perlunya intervensi melalui pemberdayaan kepada petugas
kesehatan (Dokter, Bidan dan Paramedis lainnya), diantaranya dengan meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan petugas dalam rangka peningkatan penggunaan ASI.

DAFTAR PUSTAKA1. Irawan, Purwanto Wahyu. Pengaruh Ibu bekerja Terhadap
Keberhasilan Menyusui dan Terjadinya Goncangan Pertumbuhan Bayi. Bagian IKA FK
UNDIP/RS Dr.Kariadi Semarang, Volume 32 No.4. 1997.2. Roesli, Utami. Mengenal
ASI Eksklusif Seri 1. Jakarta : Trubus Agriwidya, 2000.3. ASI adalah Emas yang
Diberikan Gratis in www.kesrepro.info, 2005, diakses 21 Maret 2006.4. Pemberian ASI
Eksklusif Masih Rendah in www.IDI ONLINE.ORG, 2005, diakses 16 Maret 2006.5
Baru Dua Persen ibu Berikan ASI Eksklusif in www.GATRA.com, 2004, diakses 16
Maret 2006.6. Purnamawati, Sinta. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Pola
Pemberian ASI Pada Bayi Usia Empat Bulan (Analisis Data Susenas 2001). Pusat
Penelitian Bagian Pemberantasan Penyakit, Badan Litbangkes Depkes RI, Media Litbang
Kesehatan Volume XIII No.3. 2003.7 Adiningsih, Neni Utami. Gerakan Kembali ke ASI,
ASI Pemberian Terbaik Tuhan Bagi Bayi Anda in www.binkesmas.net, 2003, diakses 26
Maret 2006.8 Setyowati, T., dkk., “Pemberian ASI dan Pemberian Minuman/Makanan
pada Bayi”. Buletin Penelitian Kesehatan,No. 26. 1998. In : Amsal, Asmiati. Studi
Tentang Pemberian Kolostrum dan ASI Eksklusif Pada Bayi 4-12 Bulan Di Kec.Tanete
Rilau Kab.Barru, FKM UNHAS, 2001.9. Nurcholish, Madjid. Program ASI Eksklusif
Hingga Bayi Enam Bulan in www.kesrepro.info, 2005, diakses 16 Maret 2006.10. Suradi
R. Perawatan Bergabung Di Rumah Sakit. In : Suharyono dkk., Editors. Air Susu Ibu.
Tinjauan Dari Beberapa Aspek. Edisi Kedua. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 1992. In : Zamri Amin (Tesis), Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Motivasi Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Melahirkan di RS. UNHAS, 2001.11.
Zamri Amin (Tesis), Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Pemberian ASI
Eksklusif Pada Ibu Yang Melahirkan di RS. UNHAS, 2001.
Kontak person : DR. Ridwan Amiruddin, SKM.,M.Kes.Program Magister
Epidemiologi PPS-FKM UnhasJl. P.Kemerdekaan Km. 10 Makassar
90245Hp.08164384965e-mail. Ridwan.Amiruddin@gmail.com




Possibly related posts: (automatically generated)

      Ibu menyusui dibutuhkan di Indonesia…
      Susu Formula dan Angka Kematian Bayi
      Waspadai Promosi Susu Formula



Make a Comment

Make a Comment: ( 1 so far )


You must be logged in to post a comment.

One Response to “susu formula menghambat
pemberian asi ekslusif”
  Comments RSS Feed

Assalaamualaikum dok.

Sblumnya pkenalkan nama sy kautsar dari FKUNS. Nah kbetulan ada tmn yg judul
skripsiny tentang hubungan pekerjaan dan pemberian asi esklusif di daerahnya. Dia
bingung mcari kuesioner tentang hal ini. Sudah brusaha mbuat tapi masih dianggap
kurang leh pembimbing dan pengujinya. Untuk itu, bolehkah sy meminta cntoh kuesioner
yg bkaitan ttg skripsi tmn sy itu??

Sebelumny sy ucapkan trima kasih krn sudah mbaca dan mnanggapi komen ini. Smoga
ALlah mbalas kebaikan dkter…

Wassalaamualaik
asysyaakir
March 12, 2009




Where's The Comment Form?

       About

       "Smart and Visioner For Health"

       RSS

          o      Complete Feed
          o      Comments

       Subscribe Via RSS

          o
          o
          o
          o
          o
          o
          o

       Meta

      bergantinya siang dan malam adalah tanda kebesaran Ilahi

            April 2007
       M T W T F S S
                   May »
                         1
       2 3 4 5 6 7 8
       9 10 11 12 13 14 15
       16 17 18 19 20 21 22
       23 24 25 26 27 28 29
       30

      tulisan teratas
           o   Evidence base Epidemiologi anemia deficiensi zat besi pada ibu hamil di
               Indonesia
           o   Studi kasus kontrol Anemia Ibu hamil (Jurnal Medika Unhas)
           o   TUMBUH KEMBANG ANAK
           o   BAB V. IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN
           o   Current Issue Kematian Anak karena Penyakit Diare
           o   Hipertensi dan faktor risikonya dalam kajian epidemiologi
           o   susu formula menghambat pemberian asi ekslusif
           o   Faktor risiko partus lama di RSIA Siti fatimah Makassar
      komentar kamu

               HARIS. N on STRATEGI PERENCANAAN KESE…

               asysyaakir on susu formula menghambat pembe…

               Ridwan Amiruddin on Salam sahabat

               danisharun on Salam sahabat

               arifinrtgblog on BAB V. IDENTIFIKASI MASALAH…

               Ridwan Amiruddin on Fatwa Haram untuk rokok tak pr…


      visitor
           o   385,762 hits
      “beri komentar”
           o   Salam sahabat

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

      Blogroll
          o about.com (english learn)
          o admin litbangkes
          o APACH
          o APACH2007
          o asia maya
          o belajar di Assie
          o Berita Riset
          o Bridgeblue-aus
          o buat pdf
          o daily listening
          o daily writing
          o Data kesehatqan Indonesia
          o DIKTI
          o english-child
       o   fkm ui
       o   Forum epidemiologi
       o   free toefl
       o   galeriku fotoku
       o   Globab Health Report
       o   Griffith university
       o   Harvard jurnal
       o   home
       o   IAKMI
       o   Indonesia Jurnal Klinik Indonesia
       o   info sehat
       o   insearch network
       o   journalsProdManSub.nav
       o   Jurnal International Epidemiology
       o   Kabar Indonesia
       o   kompas
       o   kompas/mdg
       o   Lagu natasha
       o   languagesystem
       o   Learning resource center/depkes
       o   litbangkes
       o   LPK kesehatan
       o   manual p2m
       o   pdf create
       o   prinsip prinsip epidemiologi
       o   pusdiknakes
       o   Radio Indonesia
       o   saya belajar bahasa inggeris
       o   scrib.com
       o   study english
       o   supercourse epidemiologi
       o   supercourse epidemiologi1
       o   surveillance
       o   tv
       o   UCLAedu epid
       o   weblearn
       o   who/tobacco
       o   WordPress.com
       o   www.Gmail.com
   health determinat
        o Globalizationandhealth
        o strategic planning
   sains
        o epidemiologi modern article march 23 2008
        o kompas/mdg
        o Tobacco Control
Get a free blog at WordPress.com • Theme Fadtastic by Andrew Faulkner.

								
To top