taubat pelacur by rediantoputut

VIEWS: 15 PAGES: 3

									Taubat Seorang Pelacur menjadi sebab turun Ayat 33
Surah Annuur


Hari itu, Abdullah bin Ubay bin Salul –tokoh kaum munafik– sedang istirahat, melepas penat
dan lelah. Tetapi istirahat Ibnu Salul harus terusik kerana penjaga rumah tiba-tiba mengetuk
pintu. Ibnu Salul terpaksa bangun dan melihat penjaga bermuka sedih di depannya. Di tangan
penjaga itu ada segenggam wang. Wang itu ternyata hasil kerja pegawainya, tapi Ibnu Salul
gusar sebab wang itu jumlahnya tak seperti yang diharapkan. “Sesungguhnya, wang sebesar ini
adalah hasil kerja setengah hari bukan hasil kerja sehari penuh…” ujar Ibnu Salul berang. Tak
ingin dituduh menggelapkan wang maka penjaga rumah itu lantas mencelah, “Tahukah tuan,
kenapa penghasilan tuan sekarang ini menurun?” “Ya, aku tahu! Semua ini gara-gara
Muhammad telah merampas mahkotaku. Ia menjadikan orang-orang menjauh dari budak-budak
wanitaku lantaran mereka terpengaruh ajaran-ajaran yang diserukan oleh Muhammad.”
Bersamaan itu, Ibnu Salul mendengarkan suara orang memanggil namanya. Ia kemudian
menyuruh penjaga rumahnya untuk melihat siapa yang datang dan penjaga rumah cepat-cepat
keluar. Sekeluar dari kamar, penjaga rumah mendapati beberapa orang dari Bani Tamim yang
berkunjung ke Madinah. Penjaga rumah sudah mengenal mereka, yang tidak lain adalah para
pembesar dari Bani Tamim yang selalu menginap beberapa hari di tempat Ibnu Salul untuk
bersenang-senang setiap kali mereka kembali dari berdagang atau perjalanan dari Syam.

“Di manakah tuanmu, Ibnu Salul?” tanya salah seorang dari mereka. “Ada di dalam…” jawab
penjaga rumah Tidak ada rasa canggung, para pembesar Bani Tamim itu kemudian masuk. Ibnu
Salul cepat-cepat menyembunyikan wang di kamar, lantas segera keluar untuk menemui
mereka. Ibnu Salul menyambut dengan hormat dan mereka pun membalas.

“Manakah wanita yang dulu pernah Anda kirimkan untuk kami?” tanya seorang lelaki di antara
para pembesar Bani Tamim itu. “Wanita yang mana, ya? Mereka itu banyak….,” jawab Ibnu
Salul. “Budak wanita Anda yang paling cantik!” “Apakah dia itu Masikah?” tanya Ibnu Salul.
“Ya, dia! Tidak salah lagi… ” jawab seorang laki-laki, dengan girang. “Nanti akan kami kirim
dia untuk kalian semua bersama yang lainnya jika mereka mau…” “Segeralah, wahai Abul
Hubab, segeralah… Nanti kami akan memberinya wang sebagai upah kepadanya.” Tak sabar
ingin cepat mendapat upah, Ibnu Salul pun menyuruh penjaga rumah untuk memanggil Masikah
serta budak-budak wanita yang lain. Tetapi penjaga rumah menukas, “Masikah tidak mau lagi
melakukan hal itu, Tuan.” “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” ujar Ibnu Salul gusar. “Hal ini
terjadi sejak hari ini, Tuanku. Ia telah meluruskan pikirannya…”

Ibnu Salul pun bangkit, pergi ke kamar Masikah dan mendorong pintu dengan kakinya. Tetapi
betapa terkejutnya Ibnu Salul, saat ia melongok ke kamar ternyata mendapati Masikah, budak
wanita yang ia miliki sedang menunaikan shalat. Ibnu Salul tercekat, melihat perubahan yang
terjadi pada Masikah. Maka tanpa banyak berkata, Ibnu Salul mendekat dan mendera Masikah
dengan kasar. “Celaka kamu! Muhammad rupanya telah mempengaruhimu!” “Tidak,” jawab
Masikah setengah terkejutt “Justeru Beliau telah menunjukkan jalan terang padaku tentang
kebenaran…” Jawaban Masikah seketika membuat Ibnu Salul murka. Dia kembali mendera
Masikah, menyepak budak itu dengan kakinya. Masikah pun terluka. Lantas Ibnu Salul keluar,
seraya memendam geram dan kecewa. Penjaga yang melihat itu berujar, “Biar aku bicara
padanya, Tuan, agar ia bisa kembali seperti sediakala.”

Penjaga rumah Ibnu Salul itu memasuki kamar Masikah bersama seorang wanita. Tatkala dia
melihat keadaan Masikah yang terluka, ia ikut hiba. Wanita yang ikut bersama penjaga rumah,
kemudian menyuruh membalut luka yang diderita Masikah dan mengambilkan buah. Penjaga
rumah itu kemudian bertanya tentang apa yang diperbuat Ibnu Salul setelah dia didatangi tamu
dari Bani Tamim yang ternyata menaruh minat terhadap Masikah. Setelah itu, penjaga rumah
menjelaskan bahwa orang-orang dari Bani Tamim yang menghendaki Masikah itu akan
memberikan harta sebagai tebusan bagi anaknya kelak jika Masikah melahirkan. “Demi Allah,
aku tak akan mendurhakai Allah lagi meskipun tubuhku dipotong-potong!” tegas Masikah.

Masikah sudah lama menjadi budak wanita Ibnu Salul. Tetapi, Ibnu Salul ternyata tidak
menjadikan Masikah kerja dalam hal baik, melainkan dijadikan budak nafsu bagi lelaki yang
memerlukan kesenangan. Dari situ Ibnu Salul meraih upah. Sebelum Rasulullah hijrah ke
Madinah, Ibnu Salul sudah memaksa budak-budak wanita dari kaum Yahudi dan yang lain,
termasuk Masikah. Untuk menampung mereka itu, Ibnu Salul membuka rumah yang di
depannya dikibarkan bendera merah sebagai tanda pengenal. Secara sembunyi-sembunyi,
Masikah kemudian mendekati wanita-wanita dari kaum Anshar dan dia bisa mendapatkan
keterangan jelas tentang Islam. Dari ayat-ayat al-Qur`an yang didengar dari wanita-wanita
Anshar itu akhirnya hati Masikah mendapat cahaya terang.

Di antara ayat al-Qur`an yang pernah didengar Masikah, adalah firman Allah surat Thaha [20]
1-8:

   “Thaha, Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah,
  tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari
 Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah
  yang bersemanyam di atas arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua
 yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika
kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih
 tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia
                 mempunyai al-Asmaaul Husna (nama-nama yang baik)”.

Seiring perjalanan waktu, Masikah pun semakin mengenal Islam. Ia tahu Islam itu adalah
kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah. Selain itu,
Islam itu mendirikan solat, membayar zakat, menjalankan puasa bulan Ramadhan dan
mengerjakan haji bagi siapa yang sanggup menunaikan perjalanan ke Baitullah. Tahu bahwa ia
bergelumang dengan dosa maka Masikah bertanya tentang seseorang yang berbuat dosa. Ia
mendapat jawaban, bahwa pintu-pintu harapan untuk bertobat kepada Allah itu senantiasa
terbuka, sebagaimana bunyi firman Allah yang dia dengar,
“Katakanlah, ‘hai, hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
 janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-
      dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
                              (QS. Az-Zumar [39]: 53).

Maka Masikah merasa sudah waktunya untuk bertaubat, lari dari jerutan dosa. Akhirnya,
malam tiba, Masikah keluar dari rumah Ibnu Salul, sambil mengendap-endap. Sementara itu,
budak-budak wanita lain sedang hanyut dalam buaian kesenangan. Dalam kegelapan itu,
Masikah bisa keluar rumah dengan selamat. Tapi setelah Masikah keluar ia bingung.“Ke mana
saya harus pergi?” Untung, ia teringat dengan wanita tua yang pernah membuat dia sempat
mendengarkan al-Qur`an, mengenal Islam dan mendapatkan hidayah Allah. Masikah lantas
berjalan ke rumah wanita tua tersebut, yang tinggal seorang diri. Wanita itu menerima
Masikah dengan tangan terbuka. Esok paginya, perempuan itu mengantar Masikah pergi ke
masjid bagi menemui Rasulullah SAW. Bersamaan ketika itu Abu Bakar keluar masjid, Masikah
yang dihantar wanita itu tiba di masjid. Abu Bakar berhenti, melihat wanita yang menderita
luka. Sementara itu, wanita tua yang mengantar Masikah kemudian bercerita bahawa semua
itu tidak lain akibat perbuatan Ibnu Salul yang telah memaksa Masikah untuk melacur.

Abu Bakar terus masuk ke masjid untuk menemui Rasulullah, dan bercerita apa yang dialami
Masikah. Rasulullah diam sesaat, sebelum kemudian turun wahyu dari Allah kepada Rasulullah
yang berbunyi,

 “Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang
 mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi.
      Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha
      Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu”
                                    (QS. An-Nuur [24]: 33).
Masikah tahu, ayat yang turun itu berkaitan dengan dirinya. Maka hati Masikah semakin teguh.
Sementara berita tentang Masikah tersebar dan orang jadi tahu tentang maksud dan tindakan
dari Abdullah bin Ubay bin Salul yang zalim itu.

								
To top