Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

tafsir yat by KalVian

VIEWS: 24 PAGES: 9

									   Tafsir Ayat Tentang Jilbab


                         JILBAB; Antara Syari’at dan budaya
                           (Telaah Kritis Surat Al-Ahzab:59)

                                           BAB I
                                       PENDAHULUAN

            Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber hukum Islam. Sebagai pusat sumber, al-
   Qur’an dituntut untuk mampu menjawab setiap persoalan yang muncul di tengah dinamika
   zaman. Ia harus senantiasa relevan di setiap bentuk kondisi maupun tempat agar Jargon al-
   Qur’an “Shalihun likulli zaman wa makan” tidak menjadi jargon dusta tanpa bukti.
       Al-Qur’an adalah kalam Tuhan yang telah mengalami tekstualisasi atau dalam bahasa lain
   telah terjadi strukturalisasi kalam Tuhan. Sebuah teks sakral yang menjadi pedoman hidup
   umat Islam. Maka tak heran, jika kemudian Nashr Hamid abu Zayd, seorang pemikir Islam
   kontemporer menyebut peradaban Islam adalah peradaban teks (Hadlarah an-Nash).
       Dalam sejarahnya, al-Qur’an senantiasa berdialektika dengan kondisi sosial budaya pada
   masanya. Ayat-ayat hukum kerap kali turun sebagai bentuk respon atas sebuah peristiwa
   yang terjadi saat itu. Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana menyikapi ayat
   yang turun sebagai respon khusus atas suatu peristiwa. Memperlakukan ayat tersebut secara
   umum tanpa memepertimbangkan historisitasnya atau mengambil signifikansi yang
   terkandung dalam ayat tersebut?
       Ayat yang berbicara mengenai jilbab dalam surat al-Ahzab ayat 59, setidaknya dapat
   mewakili satu di antara sekian banyak ayat yang memunculkan masalah di atas. Beragam
   jenis tafsir pun banyak bermunculan sebagai bentuk penyikapan. Di era kontemporer saat ini,
   jilbab tidak hanya dijadikan sebagai sebuah penutup aurat belaka. Ia telah menjadi sebuah
   budaya , bahkan lebih ekstrim, ia telah berubah menjadi sebuah mode dan aksesoris
   penambah kecantikan. Oleh karenanya, dalam makalah singkat ini, kami akan mengeksplor
   tafsir ayat 59 dari surat al-Ahzab.




                                      BAB II
                                   PEMBAHASAN
                       JILBAB: ANTARA SYARI’AT DAN BUDAYA

A. Ayat Hukum (Al-Ahzab:59)
                                   y7Å_ºurø— @è% •ÓÉ<¨Z9$# $pkš‰r'¯»tƒ
            `ÏB £`ÍköŽn=tã šúüÏRô‰ãƒ Ïä!$|¡ÎSurtûüÏZÏB÷sßJø9$# y7Ï?$uZt/ur X{
         3 tûøïsŒ÷sムŸxsù z`øùt•÷èムbr& y7Ï9ºsŒ#’oT÷Šr& 4 £`ÎgÎ6•Î6»n=y_
                                         ÇÎÒÈ #Y‘qàÿxî$VJŠÏm§‘ ª!$# šc%x.ur

   59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
   orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang
   demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.
   dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

B. Analisis Semantik
   ‫ :أزواج‬Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ummahat al-Mu’minin, yakni istri-istri
   Rasul. Secara etimologis, lafadz ‫ زوج‬diperuntukkan bagi laki-laki maupun perempuan.
   Sementara pengucapan Lafadz ‫ , زوجة‬dengan menggunakan ta’ ta’nits dianggap benar,
   namun kurang fasih. Sebab, dalam al-Qur’an tidak pernah ditemukan penggunaan lafadz
   tersebut dengan tambahan ta’ ta’nits.[1]
   ‫ :يدنين‬Dari akar kata ‫ دنا‬yang bermakna dekat atau turun.[2] Lafadz ‫ يدنين‬muta’addi dengan
   bantuan huruf jerr berupa ‫ , ]3[ على‬sebab dalam lafadz tersebut mengandung makna as-
   Sadl(menguraikan/membiarkan turun).[4] Maksud ‫ يدنين‬dari ayat tersebut adalah menutup
   wajah dan tubuh mereka supaya terbedakan antara wanita-wanita yang merdeka dan
   budak.[5].
   ‫ :جالبيبهن‬Bentuk jamak dari lafadz ‫ ,جلباب‬yakni sejenis pakaian yang lebih lebar dari pada
   khimar (penutup/tudung kepala wanita). Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa jilbab
   sama dengan rida’ (sejenis selendang/penutup kepala). Pendapat ini didasarkan pada riwayat
   dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Namun, ada pula sebagian ulama yang lain mengatakan
   bahwa jilbab sama dengan Qina’ (cadar/ tutup kepala wanita) Maksudnya adalah pakaian
   yang menutupi seluruh anggota tubuh.[6] Dari beberapa pendapat ulama tentang definisi
   jilbab di atas, As-Shabuni mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan jilbab
   adalah setiap pakaian yang menutupi seluruh anggota badan perempuan yang
   menyerupai mala’ah(semacam baju kurung wanita).[7]
   ‫ :أدنى‬Isim tafdhil[8] bermakna lebih dekat.
   ‫ :غفورا‬Shighat Mubalaghah[9] bermakna Dzat yang maha pengampun.[10]

C. Makna Global
       Sebagai seorang utusan Allah, Nabi Muhammad mempunyai kewajiban untuk
   mengarahkan dan membimbing umatnya agar senantiasa beretika secara islami. Syari’at hijab
   yang termaktub dalam surat al-Ahzab 59 adalah salah satu bentuk titah Allah yang sangat erat
   kaitannya dengan etika tersebut.
       Syari’at hijab yang diwajibkan pada wanita muslimah bertujuan untuk menjaga
   kehormatan dan kemuliaan mereka.[11] Selain itu Allah mensyariatkan hijab juga bertujuan
   agar para wanita terbebas dari gangguan maupun godaan orang-orang fasiq.[12] Dengan
   pemakaian jilbab, seorang wanita akan dapat lebih mudah dikenali. Sebab saat itu, dari segi
   fisik belum ada pembeda antara wanita budak dan merdeka.[13]
D. Sosio-historis Ayat
           Untuk meperlengkap dan mempertajam sebuah penafsiran terhadap ayat hukum,maka
   aspek historis dari ayat tersebut menjadi sesuatu yang harus diketahui. Al-Qur’an senantiasa
   berdialektika dengan zaman. Al-Qur’an tidak pernah mengabaikan kondisi sosial masyarakat
   pada waktu itu. Demikian juga pada ayat 59 dari surat al-Ahzab, ayat ini mempunyai sejarah.
   Sejarah penting bagi seorang penafsir dalam melakukan interpretasi terhadap ayat tertentu.
           Mengenai aspek historis (Asbabun Nuzul) dari ayat di atas, secara umum ulama
   sepakat dalam satu peristiwa meskipun dari segi redaksi matan terdapat perbedaan. Peristiwa
   yang menjadi sebab turunnya ayat di atas bermula dari kebiasaan orang-orang fasiq penduduk
   madinah yang selalu keluar (begadang) di kegelapan malam. Mereka selalu menggoda
   perempuan-perempuan Madinah yang sedang keluar malam untuk memenuhi hajatnya.
   Ketika mereka ditanya mengapa mengganggu wanita-wanita tersebut, mereka menjawab,
   “kami kira mereka itu wanita budak”. Kemudian turunlah surat al-Ahzab:59 sebagai respon
   atas kejadian itu.[14]

E. Interpretasi Surat Al-Ahzab:59
       Seluruh ulama, baik klasik maupun kontemporer sepakat bahwa ayat di atas
   membicarakan tentang jilbab. Dengan demikian maka fokus kajian hukum yang terkandung
   dalam ayat tersebut adalah mengenai hukum mengenakan jilbab bagi wanita muslimah.
       Mayoritas jumhur ulama klasik seperti Al-Qurtubi, At-Thobary, Az-Zamakhsyary, dll.
   sepakat atas kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita muslimah. Meskipun dalam hal ini,
   masih terdapat perbedaan mengenai tata cara pemakaiannya akibat perbedaan batas aurat
   wanita. Sementara sebagian ulama kontemporer mengatakan tidak ada kewajiban bagi
   seorang muslimah untuk mengenakan jilbab. Pendapat ini dipegangi oleh pemikir-pemikir
   yang muncul pada sekitar abad 19-20 an, seperti M. Syahrur, Said al-Asymawi dan M.
   Quraish Shihab.
       Ayat 59 dari surat al-Ahzab ini sangat berkaitan erat dengan surat an-Nur ayat 31 yang
   menjelaskan tentang wajibnya menutup aurat. Maka, dalam penafsirannya pun para ulama
   selalu menghubungkan kedua ayat tersebut. Surat al-Ahzab 59 merupakan pelengkap syari’at
   dari surat an-Nur ayat 31.
       Zhahir dari surat al-Ahzab:59, telah dengan sangat jelas memberikan indikasi bahwa
   pemakaian jilbab bagi wanita adalah sesuatu yang wajib. Dari segi semantik, ayat tersebut
   terbebas dari shighat fi’il amar (kata perintah). Jumlah šúüÏRô‰ãƒ termasuk kalam
   khabari bukan insya’iy[15] . Salah satu dari bentuk kalam insya’ adalah kalam tersebut harus
   terdapat shighat fi’il amar. Sementara asal dari perintah adalah wajib. Meskipun ayat tersebut
   tidak menggunakan shighat fi’il amar, ayat tersebut tetap memberikan implikasi hukum
   wajib. Sebab, gaya bahasa dari ayat di atas memberikan faidah perintah secara
   tersirat.[16] Konsep inilah yang dipegangi oleh mereka yang mewajibkan pemakaian jilbab
   bagi seorang wanita.
       Permasalahan yang kemudian muncul adalah tentang tata cara pemakaian jilbab. Ibnu
   Jarir at-Thabari, sebagaimana dikutip as-Shabuni, berpendapat bahwa seorang wanita selain
   diharuskan menutup rambut dan kepalanya, ia juga harus menutup wajahnya dan hanya boleh
menampakkan mata sebelah kiri saja.[17] Sedangkan Abu Hayyan meriwayatkan dari Ibnu
Abbas dan Qatadah, bahwa seorang wanita harus mengulurkan jilbabnya sampai di atas dahi
kemudian mengaitkannya ke hidung. Wanita boleh menampakkan kedua matanya, namun
harus menutupi dada dan sebagian besar wajahnya.[18] Setelah menampilkan beberapa
pandangan ulama, Ali ash-Shabuni pun senada dengan ulama yang menyatakan bahwa
kewajiban wanita tidak hanya sekedar menutup rambut dan kepala saja, namun wajah pun
harus juga ditutup. Ia mendasarkan pendapatnya pada surat an-Nur:31 yang mengharuskan
seorang wanita untuk tidak menampakkan perhiasannya. Sedangkan asal dari segala bentuk
perhiasan adalah wajah, maka menutupinya adalah sebuah keharusan.[19] Di antara hadits
yang dijadikan dasar oleh mereka yang mewajibkan menutup wajah adalah sebuah riwayat
dari Jarir bin Abdullah yang ketika itu menanyakan tentang hukum memandang seorang
wanita, maka Rasul pun menjawab “Palingkanlah pandanganmu!” dan sebuah riwayat dari
Ibnu Abbas, bahwa suatu hari Fadhil bin Abbas mengikuti Rasulullah di belakang. Fadhil
adalah seorang yang memiliki wajah dan rambut yang indah. Kemudian datanglah seorang
wanita dari suku Khats’am yang meminta fatwa kepada Rasul. Saat itu antara fadhil dan
wanita tersebut saling pandang memandang. Maka Rasul pun mengalihkan pandangan
Fadhil.[20]
    Sementara itu, mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah menyatakan
bahwa pemakaian jilbab tidak harus menutupi wajah. Mereka menyandarkan pendapatnya
pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sayyidah A’isyah bahwa suatu hari Asma’ binti
Abu Bakar menemui Rasulullah SAW. Ia mengenakan baju tipis, maka Rasul pun
memalingkan pandangannya dan berkata “Hai Asma’! Seorang wanita yang telah baligh
tidak boleh menampakkan seluruh tubuhnya kecuali ini dan ini”, beliau memberi isyarat pada
wajah dan kedua telapak tangannya.[21] Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an
menambahkan argumentasi logis bahwa pengecualian wajah dan telapak tangan dalam hal ini
adalah pendapat yang layak untuk dipegangi. Sebab, dalam ibadah, seperti halnya sholat
maupun ihram, seorang perempuan diharuskan untuk menampakkan wajah dan kedua
telapaknya. Andaikan keduanya termasuk aurat maka seharusnya dalam ibadah shalat
perempuan pun diharuskan menutup keduanya. Sebab hukum menutup aurat dalam shalat
adalah wajib.[22] Senada dengan Al-Qurthubiy, Wahbah Zuhaili dalam karya
monumentalnya“Fiqh Islam waAdillatuhu”, menyatakan bahwa aurat perempuan adalah
seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Namun, ia juga menambahkan
keterangan bahwa jika seseorang memandang wajah perempuan disertai dengan syahwat
maka hukumnya haram.[23]Hal ini didasarkan pada konsep Sadd adz-Dzari’ah.[24]
    Meski di antara para ulama tersebut terjadi perbedaan pandangan tentang wajib dan
tidaknya menutup wajah, namun mereka masih sepakat bahwa kewajiban berjilbab bagi
wanita muslimah adalah syari’at dari Syari’ yang harus dita’ati. Jilbab tidak hanya sekedar
budaya orang Arab. Syari’at jilbab berlaku umum bagi seluruh wanita muslimah di dunia.
Spesifikasi kejadian pada saat turunnya Al-Ahzab:59, tidak menghalangi dilalahnya yang
berlaku secara menyeluruh. Hal ini sesuai dengan kaidah ushuliyah “Al-Ibrah bi Umumil
Lafdzi La bi Khushus as-Sabab”.
    Terkait dengan masalah ini, seorang pemikir islam kontemporer M. Syahrur menolak
berbagai macam pendapat di atas. Menurutnya jilbab bukanlah kewajiban seorang muslimah.
Kewajiban seorang muslimah hanyalah menutup aurat. Dengan teori andalannya, yakni teori
limit[25], ia mengambil kesimpulan bahwa batas minimal aurat perempuan adalah
 sebagaimana termaktub dalam surat an-Nur:31 yang berbunyi:
                     ô`ÏB z`ôÒàÒøótƒ ÏM»uZÏB÷sßJù=Ïj9 @è%
£`ßgtFt^ƒÎ— šúïωö7ムŸwur £`ßgy_rã•èù £`ÏdÌ•»|Áö/r&z`ôàxÿøts†ur
      £`ÏdÌ•ßJ胿2 tûøóÎŽôØu‹ø9ur ( $yg÷YÏB t•ygsß $tB žwÎ)
                                                ( 4’n?tã£`ÍkÍ5qãŠã_

       Dalam pandangan Syahrur, batas minimal aurat wanita muslimah adalah “Juyuub”,
yakni lubang atau celah dari badan seseorang yang tersembunyi yang memiliki dua lapisan,
bukan satu lapisan. “Al-Juyuub” pada wanita memiliki dua lapisan, atau dua lapisan beserta
lubangnya, yakni antara dua payudara, di bawah dua payudara, di bawah dua ketiak,
kemaluan dan dua pantat. Sedangkan mulut, hidung, mata dan telinga termasuk “Juyuub
Zhahirah” yang biasa terlihat karena terletak di bagian wajah yang merupakan identitas
seseorang. Menurutnya, perempuan muslimah hanya wajib menutup “Juyuub al-
Makhfiyah”yakni perhiasan tersembunyi saja bukan “Juyuub Zhahirah”.[26]
       Selanjutnya, pada ayat:
                                  £`ßgtFt^ƒÎ— šúïωö7ムŸwur
      4’n?tã £`ÏdÌ•ßJ胿2 (tûøóÎŽôØu‹ø9ur $yg÷YÏB t•ygsß $tB žwÎ)
                                                       ( £`ÍkÍ5qãŠã_
        Berdasar ayat ini, Syahrur berkesimpulan bahwa Allah memperbolehkan
menampakkan “juyuub” yang biasa terlihat. Menurutnya, kalimat “Khumur” adalah tutup.
Dengan demikian perempuan muslimah hanya diwajibkan menutup daerah antara dua
payudara, di bawah dua payudara, di bawah dua ketiak, daerah kemaluan dan dua pantatnya.
Inilah yang kemudian oleh Syahrur disebut sebagai batas minimal aurat perempuan.[27]
        Dalam Masalah aurat perempuan ini, Syahrur memandang bahwa surat al-Ahzab: 59
bukanlah ayat yang mengandung hudud, melainkan ayat yang mengandung anjuran yang
bersifat informatif (nubuwwah). Manusia boleh mengikuti dan boleh juga tidak mengikuti
sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungannya. Maka, menurutnya jilbab bukanlah
merupakan sebuah syariat wajib yang harus diikuti. Sedangkan Surat an-Nur: 31, termasuk
ayat risalah, yakni kewajiban dari Allah untuk para hambanya yang menyangkut persoalan
halal dan haram. Walhasil, dalam akhir pembahasannya tentang pakaian wanita ini, Syahrur
menemukan konklusi bahwa pakaian mayoritas wanita di bumi masih belum melanggar
hudud Allah (batas maksimal dan minimal), selama mereka tidak telanjang bulat dan
menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali.[28]
        Hampir senada dengan pandangan Syahrur, Quraish Shihab pun membantah jika
mengenakan jilbab bagi seorang wanita muslimah adalah sebuah keharusan. Dalam Tafsir Al-
Mishbahnya, ia menjelaskan bahwa surat al-Ahzab:59 tidak memerintahkan wanita muslimah
untuk memakai jilbab, karena agaknya saat itu sebagian wanita muslimah telah memakainya.
Hanya saja, cara pemakaiannya belum mendukung apa yang dikehendaki ayat
   tersebut.[29]Untuk memperkuat pandangannya ini, Quraish Shihab menampilkan pandangan
   Sa’id Al-Asymawi, seorang pemikir liberal asal mesir, bahwa Dalam QS. Al-Ahzab [33]: 59,
   ‘illathukum pada ayat ini, atau tujuan dari penguluran jilbab adalah agar wanita-wanita
   merdeka dapat dikenal dan dibedakan dengan wanita-wanita yang berstatus hamba sahaya
   dan wanita-wanita yang tidak terhormat, agar tidak terjadi kerancuan menyangkut mereka
   dan agar masing-masing dikenal, sehingga wanita-wanita merdeka tidak mengalami
   gangguan dan dengan demikian terpangkas segala kehendak buruk terhadap mereka. Akan
   tetapi ‘illathukum itu kini telah tiada, karena masa kini tidak ada lagi hamba-hamba sahaya,
   dan dengan demikian tidak ada lagi keharusan membedakan antara yang merdeka dengan
   yang berstatus hamba sahaya. Di samping itu, wanita-wanita mukminah tidak lagi keluar ke
   tempat terbuka untuk buang air dan tidak juga mereka diganggu oleh lelaki usil. Nah, akibat
   dari ketiadaan ‘illat hukum itu, maka ketetapan hukum dimaksud menjadi batal dan tidak
   wajib diterapkan berdasarkan syariat agama.[30]
           Berdasar alur logika yang digunakan Quraish Shihab dalam menyikapi ayat tentang
   jilbab, maka sebenarnya dalam hal pakaian wanita yang terpenting adalah bagaimana seorang
   wanita mampu berpakaian secara terhormat sesuai adat, budaya dan kondisi tertentu. Pada
   dasarnya jilbab adalah budaya wanita Arab. Sementara, masing-masing daerah mempunyai
   budaya yang berbeda dan memaksakan budaya lain pada sebuah daerah tertentu tidaklah
   tepat.



F. Kilas Analisis Pendapat Ulama
       Sebagaimana pemaparan di atas, bahwa dalam masalah jilbab ini masih terjadi
   perselisihan di antara para ulama. Muara awal munculnya perbedaan pemahaman ini
   disebabkan adanya perbedaan metode pendekatan penafsiran. Di samping itu ketidakjelasan
   nash al-Qur’an dalam menentukan batasan aurat juga menjadi salah satu pemicu polemik
   ulama.
       Kelompok ulama, seperti Abu Hayyan, Ibnu Jarir at-Thobari, al-Utsaimin dan Ali ash-
   Shabuni menyatakan bahwa hukum memakai jilbab adalah wajib bagi setiap muslimah. Tidak
   hanya itu, setiap muslimah juga diwajibkan untuk menutup wajah dan kedua telapak
   tangannya. Pendapat ini terkesan ekstrim. Dalam konteks kekinian, bisa dibayangkan jika
   kemudian seorang muslimah wajib menutup wajah dan telapak tangannya, maka yang terjadi
   adalah masyaqqoh sosial. Identitas wanita menjadi kabur. Kebebasan wanita menjadi sangat
   terbatasi. Wanita menjadi sangat susah untuk berinteraksi secara sosial. Syari’at Islam
   diturunkan tidak untuk menciptakan Masyaqqat maupun mafsadah, tetapi justru sebaliknya,
   ia diturunkan dalam rangka menciptakan maslahah secara umum.
       Di sisi lain, kelompok pemikir muslim seperti M. Syahrur dan Said al-Asymawi
   menyatakan bahwa sebenarnya pemakaian jilbab bukanlah sebuah syari’at wajib yang harus
   dilaksanakan. Ayat tentang jilbab hanya berbicara tentang budaya lokal arab. Dengan
   demikian standar pakaian wanita didasarkan pada ukuran kehormatan dan kesopanan di
   daerah tertentu. Bahkan, lebih ekstrim lagi, Syahrur mengeluarkan statement bahwa selama
   wanita tidak telanjang bulat, wanita tersebut belum melanggar hudud Allah. Pendapat ini pun
   terkesan terlalu bebas dan kelewat batas. Pisau analisis yang dipakai Syahrur dalam
   menafsirkan batas-batas aurat tidaklah tepat. Teori limit yang ia gunakan adalah teori
   matematika yang bersifat paten. Dengan metode tersebut Syahrur terjebak dalam
   “dogmatisme ilmu kealaman”. Ia menganggap ilmu kealaman adalah juru tafsir satu-satunya
   yang paling tepat atas realitas. Padahal Ayat-ayat al-Qur’an senantiasa berdialektika dengan
   kondisi sosial budaya yang melingkupinya. Maka, bagaimana mungkin teori ilmu kealaman
   yang bersifat pasti digunakan untuk membedah permasalahan yang bersifat sosial budaya.
   Inilah yang kemudian menjadi kelemahan teori Syahrur. Aspek sosio- historis ayat kurang
   diperhatikan. Berdasar teorinya, akan sangat lucu jika seorang wanita diperkenankan
   berjalan-jalan dan melakukan aktifitas sosial dengan hanya berbikini saja.
       Poin penting yang bisa diambil dalam polemik jilbab ini adalah bahwa sebenarnya jilbab
   bukanlah sebuah keharusan. Jilbab pada dasarnya memang tradisi lokal arab. Meski
   demikian, perempuan muslimah tidak lantas kemudian bebas mengumbar aurat. Islam
   mewajibkan seseorang untuk menutup aurat. Sementara batas aurat wanita adalah seluruh
   tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Walhasil, wanita muslimah tidak wajib berjilbab,
   tetapi yang wajib adalah menutup aurat. Islam memberikan kebebasan untuk memakai jenis
   model pakaian. Yang terpenting adalah pakaian tersebut mampu untuk menutupi aurat.

                                              BAB III
                                             PENUTUP

A. Kesimpulan
       Berpijak pada pemaparan di atas, dapat di ambil konklusi bahwa dalam masalah jilbab ini
   masih terjadi perselisihan di kalangan ulama. Ada yang menganggap bahwa memakai jilbab
   adalah kewajibab bagi setiap muslimah dan ada pula yang menganggap bahwa pemakaian
   jilbab bukanlah sebuah keharusan. Perbedaan ini muncul karena paradigma yang digunakan
   dari masing-masing ulama berbeda.

B. Saran-saran
       Syariat jilbab adalah syari’at yang masih diperdebatkan. Untuk itu, dalam menyikapi
   perbedaan, hendaklah kita bisa bersikap arif dan bijaksana. Kita harus mampu membedakan
   mana khilafiyah yang terkait dengan masalah ushul dan mana yang furu’. Sikap fanatisme
   ekstrim terhadap satu aliran atau pemikiran tertentu sebaiknya ditanggalkan. Saling menvonis
   kafir antar kelompok adalah sikap yang semakin menunjukkan ketidakdewasaan dalam
   beragama. Maka dari itu, jadikanlah perbedaan sebagai rahmat bukan sebagai laknat.
       [1]    Ali as-Shabuni, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Fikr,
2000)II, hlm.303.
         [2] AW. Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progresif), hlm.426.
         [3] Pada dasarnya, fiil lazim adalah setiap fiil yang tidak mempunyai maf’ul . Lawan
dari fiil tersebut adalah fiil muta’addi, yakni setiap fiil yang membutuhkan maf’ul. Fiil lazim
bisa berubah menjadi fiil muta’addi dengan bantuan huruf jerr. Lihat Dahlan Syarah Alfiyah
Ibnu Malik, Bab fi’il Muta’addi dan lazim hlm. 74.
         [4] Ali as-Shabuni, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Fikr,
2000)II, hlm.303.
         [5] Ibid, hlm. 303.
         [6] Abu abdullah Abu Bakar al-Qurthuby, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Beirut: Ar-
Risalah, 2006)XVII, Hlm. 230.
         [7] Ali as-Shabuni, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Fikr,
2000)II, hlm. 304.
         [8] Sebagian ulama nahwu ada yang menyebutnya dengan fiil/af’al at-Tafdhil, namun
yang lebih utama adalah dengat menyebut isim tafdhil. Sebab hakikat dari lafadz tersebut
adalah isim dan supaya dapat mencakup bentuk isim tafdhil lain yang tidak mengikuti
shighataf’ala seperti lafadz Khairun dan Syarrun. Lihat Hasyiyah Shobban ala syarhi al-
Asymuni ala Alfiyah Ibni Malik, Juz 3, hlm 62.
         [9] Shighat Mubalaghah adalah shighat yang dibentuk untuk menunjukkan makna
sangat atau banyak. Salah satu bentuk wazannya adalah Fa’uulun. Lihat Dahlan Alfiyah,
Karya Ahmad Zaini Dahlan, hlm. 108.
         [10] AW. Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progresif), hlm. 1011.
         [11] Ali as-Shabuni, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Fikr,
2000)II, hlm. 305
       [12]  Musthafa Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (ttp., Maktabah Musthafa Halabi,
1946)XXIII, hlm. 37.
       [13] Opcit. hlm. 305.
       [14] Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Qur’an al-Adzim, (ttp., Maktabah Aulad as-Syeikh, t.t)
XI, hlm. 243. Lihat juga Ali as-Shobuni dalam Rawa’i al-Bayan juz II, hlm. 305.
       [15] Kalam khobari adalah kalam yang masih mengandung kebenaran dan dusta,
sementara insya’i adalah kalam yang tidak mengandung unsur benar dan dusta.
Selengkapnya, lihat Jawahir al-Balaghah, karya Ahmad al-Hasyimi, hlm.53.
       [16] Mengenai bentuk-bentuk kalimat yang berakibat pada hukum wajib, bisa dilihat
dalam al-Muhadzzab fi ilmi Ushul al-Fiqh al-Muqaran, karya Dr. Abdul Karim bin Ali, juz I
hlm. 156.
       [17] Ali as-Shabuni, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir ayat al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Fikr,
2000)II, hlm. 309.
       [18] Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhith, (Beirut: Dar al-Kutub
Ilmiah,1993)VII, hlm. 240.
       [19] Ali as-Shabuni, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Fikr,
2000)II, hlm. 310.
       [20] Ibid., hlm. 125.
       [21] Ahmad bin abi Bakar al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, (Beirut:
Mua’ssasah Risalah, 2006)XV, hlm.213.
       [22] Ibid., hlm 213.
       [23] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, (Beirut: Dar al-Fikr,1985)
VII, hlm.19.
       [24] Sadd adz-Dzari’ah adalah salah satu metode istinbath hukum Islam yang
berorientasi pada pencegahan untuk melakukan sesuatu yang asalnya diperbolehkan karena
berakibat pada terjadinya sesuatu yang dilarang. Lihat Ushul Fiqh Islami, Karya Wahbah az-
Zuhaili, juz II, hlm.873.
       [25] Teori limit adalah salah satu teori dalam ilmu matematika yang kemudian oleh
Syahrur dijadikan sebagai metode interpretasi ayat-ayat al-Qur’an.
       [26] Muhammad Syahrur, Al-Kitab wal Qur’an, ( Damaskus: Al-Ahaliy, t.t), hlm 607.
       [27] Ibid., hlm. 606-607.
       [28] Ibid., hlm. 613-615.
       [29] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati,2006) XI, hlm.
321.
       [30] M. Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah, (Jakarta: Lentera Hati,
2006), hlm. 158.

								
To top