Docstoc

implementasi nilai

Document Sample
implementasi nilai Powered By Docstoc
					          Implementasi Nilai – Nilai Pancasila Dalam Etos Kerja Polisi Indonesia



       Problematika dalam kehidupan berbangsa dan Negara tidak akan terlepas dari manusia,
karena benar dalam konsep dasar manusia, bahwa manusia merupakan makhluk monodualisme,
dimana manusia sebagai makhluk individu, manusia sebagai makhluk sosial, dan manusia
sebagai makhluk Tuhan. (Prof. Notonagoro). Dualisme yang seperti itu telah menghukum
manusia untuk bisa memerankan dirinya dalam kancah kehidupan sesuai dengan kondisi yang
dihadapi. Manusia sebagai makhluk individu tentu memiliki sifat keegoisan yang tinggi demi
menjadikan dirinya manusia yang lebih sempurna di bandingkan manusia lain, walau terkadang
cara tersebut salah di aplikasikan dalam kehidupannya, misalnya saja dalam kaitannya dengan
semangat bekerja, tidak sedikit manusia berlomba – lomba bekerja dengan menghasilkan dana
yang banyak dalam waktu singkat. Dengan menyelipkan beberapa lembar uang Negara kedalam
kantong bajunya yang berukuran jumbo, sehingga tidak heran saat kantong baju jumbo itu tidak
memuat lembaran uang Negara kasus yang terjadi sekarang adalah kantong jumbo milik bayi
bisa bernilai milyaran. Kalau kita analogikan manusia dewasa saat ini tampaknya kurang
memahami nilai –nilai yang terkandung dalam pancasila dan mereka terlalu berani memerankan
kodrat manusianya bukan pada tempatnya. Namun ada juga manusia yang mampu memposisikan
dirinya sesuai pada kodratnya. Manusia ini biasanya cenderung di musuhi banyak kalangan, baik
intansi pemerintah maupun swasta, memiliki pribadi manusia yang pancasialis memang sulit
dalam dunia kerja, namun hal itu perlu adanya pondasi yang kuat bagi diri manusia yaitu sebuah
kepercayaan. Karena kepercayaan bisa menumbuhkan sebuah kepekaan diri kita terhadap hal –
hal yang bertentangan dengan kata hati nurani.

       Kodrat manusia yang bersifat monodualisme selanjutnya yaitu manusia sebagai makhluk
sosial, dimana dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentu manusia tidak bisa terlepas dari
relitas sosial, dimana dalam melengkapi kebutuhan hidupnya manusia saling ketergantungan,
namun realitas yang ada manusia dalam memposisikan dirinya sebagai makhluk sosial mereka
lebih cenderung untuk mementingkan atas kehidupan diri sendirinya, mencari kesenangan
dirinya tanpa melihat keadaan disekitarnya, misalnya dalam dunia kerja di era sekarang adalah
mereka yang menduduki jabatan pemerintah kadang masih kurang sesuai dengan kemampuannya
sehingga mereka kurang mampu mengemban tugas pokok dan fungsinya sebagai pejabat Negara.
Namun hal ini perlu di waspadai adanya politik uang, sehingga siapa yang ber uanglah maka dial
ah yang dapat menempati kedudukan itu. Dengan adanya penempatan posisi yang salah sering
sekali kita jumpai banyak intansi pemerintah yang kurang maksimal dalam menjalankan program
kerja. Hal ini terlihat dari banyaknya keluhan masyarakat dalam berbagai forum nasional
maupun daerah terhadap pelayanan yang kurang optimal, dan sebagainya.

       Manusia sebagai makhluk tuhan, kita semua tahu bangsa bangsa Indonesia menuntut
warga Negara Indonesia untuk berketuhanan Yang Maha Esa, hal ini tercantum dalam Pancasila
sila ke- 1, sehingga wajar bila masyarakat Indonesia yang majemuk menganut agama yang
berbeda – beda sesuai dengan kepercayaannya masing – masing. Namun dalam hal ini kaitannya
dengan etos kerja, manusia sebagai makhluk Tuhan sering dijumpai manusia yang terlalu berani,
maksudnya manusia ini bersumpah membawa nama Tuhannya untuk mengemban sebuah
amanah yang berupa jabatan, namun aplikasi di dunia kerjanya hanya setengah – setengah
bahkan mbelot begitu saja. Manusia ini terlalu mempermudah urusan dengan Tuhan tanpa
memikirkan dampak kedepannya. Disatu sisi banyak manusia yang rela berjuang demi
mengagungkan Tuhannya, sehingga dalam dunia kerja pun manusia ini sangat berhati – hati
karena takut akan murka Tuhannya.

       Dengan realitas kehidupan manusia dalam berbangsa dan bernegara, sehingga muncul
berbagai pertanyaan terkait manusia dengan pancasila, apakah pancasila dibentuk hanya sebagai
formalitas Negara?. Ataukah konsep pancasila tidak sesuai dengan karakter manusia bangsa
Indonesia? Atau manusia Indonesia kurang memahami pancasila secara menyeluruh sehingga
mengalami kesulitan berinteraksi dengan nilai – nilai pancasila?. Atau pancasila justru
memberikan kekuatan yang fundamental dalam rangka peningkatan mutu etos kerja suatu
bangsa.

Etos Kerja Polisi Indonesia

       Etos diartikan sebagai jiwa khas suatu bangsa (Echols, 1995:219). Sedangkan kirana
(1997: 71-80) mengatakan bahwa untuk mewujudkan suatu nilai dibutuhkan suatu etos tertentu
yang harus dibangun diatas nilai – nilai yang yang dianut dan diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya, sambil terus disesuaikan dengan perubahan jaman. Dengan demikian etos
kerja polri dapat diartikan sebagai jiwa khas polri dalam bekerja untuk mencapai suatu prestasi
yang maksimal bagi kemajuan dan kejayaan diri sendiri dan bangsanya.

       Melihat pengertian dari etos tersebut dalam kita analisis bahwa etos kerja polri tentunya
berada dalam lingkaran nilai – nilai pancasila, karena kita semua tahu bahwa pancasila dibentuk
atas dasar perjanjian bersama seluruh rakyat Indonesia melalui perwakilan pengonsep pancasila,
dan pancasila tersebut diambil dari nilai – nilai yang tumbuh dari masyarakat Indonesia,
sehingga pancasila disini merupakan potret karakter manusia Indonesia.

       Manusia Indonesia memiliki kemajemukan budaya sehingga pancasila merupakan alat
pemersatu dari perbedaan yang ada di tanah Indonesia. Melihat dari sejarah juang Negara
Indonesia dalam rangka mengusir penjajah perlu kita akui, bahwa manusia Indonesia
sesungguhnya memiliki semangat juang yang tinggi dalam rangka mempertahankan dan
membela Negara Indonesia dari penjajah, manusia Indonesia saat itu berjuang dengan merelakan
harta benda, tenaga, fikiran dan nyawa, demi merebut kemerdekaan Indonesia yang terbebas dari
penjajah tetapi seharusnya manusia Indonesia sekarang adalah berjuang dengan segala yang
dimiliki baik dari harta, tenaga, fikiran, dan nyawa demi kemajuan Negara Indonesia, demi
mengusir kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, KKN yang selama ini membelenggu di
Indonesia. Kalau manusia Indonesia dulu bisa mengusir penjajah dengan semangat persatuan dan
kesatuan yang dimiliki, kini manusia Indonesia harus sama memiliki semangat persatuan dan
kesatuan demi mencapai cita – cita bangsa.

       Perbedaan suku, ras, agama, etnis, budaya, adat istiadat, dan sebagainya yang tumbuh
dinegara Indonesia, idealnya kita jadikan perbedaan adalah sebagai pelengkap dari apa yang
belum kita miliki, dengan adanya perbedaan memberikan warna yang indah dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, jangan sebaliknya justru menjadikan perbedaan sebagai virus dalam
kehidupan yang mana takut bahwa perbedaan itu akan menghantui bahkan membunuh yang kita
miliki. Pemikiran seperti tadi yang mestinya manusia Indonesia membuang jauh – jauh, karena
justru pemikiran yang takut dengan perbedaan inilah yang dikatakan VIRUS. Dan virus inilah
yang nantinya akan menghancurkan Negara Indonesia, sehingga yang akan terjadi adalah kasus
saling bantai membantai, saling menghina, mencemarkan nama baik, dan sebagainya. Tentunya
kita semua hanya mengidamkan Negara Indonesia yang adil, aman, dan sejahtera.
Aktualisasi Nilai Pancasila sumber mutu kerja polri

       Mempertajam penghayatan terhadap subtansi nilai – nilai pancasila dalam implementasi
kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan perjuangan membuka kunci emas mutu kerja
polri, karena perlu di akui bahwa nilai – nilai pancasila secara subtansial merupakan kunci emas
mutu kerja segala bidang kehidupan. Baik agama, politik, ekonomi, sosial, hukum, budaya dan
sebagainya. Hal ini terekam dalam etos kerja berbangsa dan bernegara menuju pencapaian cita –
cita bangsa :

1). Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

       Bahwa dalam kehidupan sehari – hari kaitannya manusia sebagai makhluk Tuhan,
dimana manusia di tuntut untuk memenuhi kewajibannya terhadap Tuhannya, dan ajaran agama
yang di ajarkan oleh Tuhannya pun tentunya tidak terlepas dari tujuan hidup yaitu mencapai
kebahagiaan abadi. Etos kerja yang tinggi yang dibarengi dengan aktualisasi terhadap nilai
pancasila, sila ketuhanan Yang Maha Esa, akan terbentuk manusia Indonesia yang
berkepribadian terpuji. Selalu berhati – hati dalam bertindak dan bertutur kata baik untuk dirinya
sendiri maupun orang lain.sehingga dengan adanya tindakan seperti ini tercipta sebuah sikap
tenggang rasa dan saling menghargai dalam bermasyarakat, tercipta pula sebuah kenyamanan
dalam menjalankan aktivitas sehari – hari tanpa takut adanya gangguan dari pihak lain. Keadaan
inilah memacu semangat manusia Indonesia untuk berlomba – lomba dalam hal kebaikan dan
berprestasi demi meraih kebahagiaan abadi, tentu tidak jauh dari sebuah kesuksesan.

2. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab

       Bahwa dalam kaitannya manusia sebagai makhluk individu dituntut untuk memiliki
karakter yang beradab, sehingga dalam memposisikan dirinya sebagai makhluk sosial akan
terbentuk manusia Indonesia yang memiliki karakter pancasila sebagai jati diri bangsa. Manusia
pancasilais tentu akan mencintai sebuah keadilan. Etos kerja yang tinggi di barengi dengan
pribadi yang berkarakter pancasila dan memiliki jiwa keadilan maka Negara Indonesia tentunya
terbebas dari tindakan KKN, mafia hukum, money politik, dan sebagainya yang semua itu
mengarah kepada proses jalannya hukuman. Pancasila telah memberikan sebuah ketegasan yang
tajam dalam tataran hukum, yaitu menuntut manusia untuk bertindak adil tanpa memandang
bulu. Bahkan subtansi pancasila dalam membentuk karakter manusia Indonesia yang pancasilais
terdapat penekanan yang mendalam bagaikan ujung pisau yang tajam. Tidak ada toleransi bagi
manusia yang membelot dalam aturan Negara maupun aturan yang berkembang di masyarakat.

3. Persatuan Indonesia

       Manusia Indonesia memiliki kekuatan terbesar yang sulit untuk dipatahkan oleh Negara
manapun, kekuatan ini terletak pada persatuan dan kesatuan seluruh warga Negara Indonesia
dalam menyongsong tugas bersama untuk meraih cita – cita bangsa. Perbedaan suku, budaya,
adat istiadat, etnis, dan sebagainya merupakan kekayaan terbesar yang dimiliki oleh bangsa
Indonesia, akan terlihat jelas dengan ikatan kesatuan dan persatuan. Bahkan kalau kita mampu
menjadi manusia pancasila, tentu dalam kehidupan akan ada banyak kemudahan. Segala
kesulitan yang dijadikan momok virus suatu bangsa akan cepat kita atasi dengan adanya
semangat kesatuan dan persatuan. Semangat kerja dengan begitu tingginya untuk mencapai
kejayaan puncak cita – cita bangsa Indonesia terasa cepat dan mudah dicapai. Karena persatuan
merupakan modal yang sangat kuat bagai sendi kehidupan bangsa kita.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

       Pancasila kalau kita dalami ternyata sangat ideal untuk hidup ditengah – tengah bangsa
Indonesia, karena pancasila sama sekali membenci pemimpin yang tidak memiliki kebijaksaan
yang tinggi dan otoriter. Jelas dalam sila ke – 4 di jelaskan bahwa kerakyatan Indonesaia
dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan, tanpa adanya permainan
pemutusan kebijakan musyawarat yang mufakat. Pancasila bukan sebuah formalitas bangsa yang
hanya untuk dihafalkan dan dibaca oleh anak – anak Sekolah atau mahasiswa bahkan pejabat.
Tetapi pancasila lahir dibumi pertiwi untuk di jadikan acuan yang benar – benar di fahami dan
diimplementasikan dalam kehidupan sehari – hari, terlebih dalam kehidupan berorganisasi yang
merupakan pengamalan dari sila keempat. Dengan adanya pemimpin yang bijaksana sehingga
dalam segala mengambil keputusan bersama selalu di utamakan untuk musyawarah mufakat
bukan berdasarkan voting, tetapi atas dasar kesepahaman bersama dan kesepakatan bersama,
tanpa ada pihak yang dirugikan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Manusia Indonesia di tuntut oleh pancasila untuk bisa memerankan dirinya memiliki jiwa
keadilan sosial, terutama bagi pemimpin Negara untuk bisa bertindak adil bagi seluruh rakyat
Indonesia tanpa harus memandang kelas sosial yang ada di masyarakat. Dengan adanya keadilan
sosial maka akan tercipta pula kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila tidak memberikan toleransi kepada manusia Indonesia dalam bekerja untuk berbuat
curang ataupun pandang bulu dalam memberikan hukuman. Hal ini yang menjadikan rakyat
Indonesia merasa diakui harkat dan martabatnya sebagai makhluk sosial. Pancasila bersifat tegas
dan tajam dalam penegakan keadilan, sehingga siapapun yang salah maka dia harus menerima
hukuman sesuai dengan kadar kesalahannya tanpa adanya toleransi demi mewujudkan Indonesia
yang adil.

Kesimpulan

Pancasila berkembang di Indonesia mampu menjembatani semua permasalahan yang ada di
Indonesia dalam etos kerja bangsa, namun itu semua perlu adanya pemahaman yang mendalam
bagi polri Indonesia terhadap subtansi nilai – nilai pancasila
                                    Biodata Penulis



Nama       : Riyadin

Status     : Mahasiswa

Jurusan    : Teknologi Pendidikan

Fakultas   : Ilmu Pendidikan

PT         : Universitas Negeri Semarang

Alamat     : Kampus Sekaran Gd.A3 Jur. KTP Sekaran Gunungpati Semarang 50229

E-mail     : riyadin07.siac@gmail.com

No. HP     : 081901214207

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:23
posted:12/28/2012
language:
pages:7
Description: Problematika dalam kehidupan berbangsa dan Negara tidak akan terlepas dari manusia, karena benar dalam konsep dasar manusia, bahwa manusia merupakan makhluk monodualisme, dimana manusia sebagai makhluk individu, manusia sebagai makhluk sosial, dan manusia sebagai makhluk Tuhan. (Prof. Notonagoro). Dualisme yang seperti itu telah menghukum manusia untuk bisa memerankan dirinya dalam kancah kehidupan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Manusia sebagai makhluk individu tentu memiliki sifat keegoisan yang tinggi demi menjadikan dirinya manusia yang lebih sempurna di bandingkan manusia lain, walau terkadang cara tersebut salah di aplikasikan dalam kehidupannya, misalnya saja dalam kaitannya dengan semangat bekerja, tidak sedikit manusia berlomba – lomba bekerja dengan menghasilkan dana yang banyak dalam waktu singkat. Dengan menyelipkan beberapa lembar uang Negara kedalam kantong bajunya yang berukuran jumbo, sehingga tidak heran saat kantong baju jumbo itu tidak memuat lembaran uang Negara kasus yang terjadi sekarang adalah kantong jumbo milik bayi bisa bernilai milyaran. Kalau kita analogikan manusia dewasa saat ini tampaknya kurang memahami nilai –nilai yang terkandung dalam pancasila dan mereka terlalu berani memerankan kodrat manusianya bukan pada tempatnya. Namun ada juga manusia yang mampu memposisikan dirinya sesuai pada kodratnya. Manusia ini biasanya cenderung di musuhi banyak kalangan, baik intansi pemerintah maupun swasta, memiliki pribadi manusia yang pancasialis memang sulit dalam dunia kerja, namun hal itu perlu adanya pondasi yang kuat bagi diri manusia yaitu sebuah kepercayaan. Karena kepercayaan bisa menumbuhkan sebuah kepekaan diri kita terhadap hal – hal yang bertentangan dengan kata hati nurani.