Docstoc

Konsep Orientasi dan Mobilitas

Document Sample
Konsep Orientasi dan Mobilitas Powered By Docstoc
					      Konsep Orientasi dan Mobilitas

        a. Pengertian Orientasi dan Mobilitas
             Hosni (1995:14) mengatakan bahwa ”orientasi merupakan proses penggunaan indera yang masih berfungsi untuk
      menetapkan posisi dirinya sehubungan dengan obyek lain dalam lingkungannya”. Lowenfeld memberikan batasan bahwa
      ”orientasi adalah suatu proses penggunaan semua indera yang ada untuk menentukan posisi seseorang terhadap benda-benda
      penting yang ada di sekitarnya” (Widdjajantin dan Hitipeuw, 1995: 270).
             Dari batasan di atas dapat disimpulkan bahwa orientasi adalah penggunaan indera pendengaran, indera penciuman,
      indera perasa, indera penciuman untuk menangkap informasi dari lingkungan yang dapat digunakan untuk mengetahui posisi
      dirinya dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang ada disekitarnya.
             Mobilitas bisa disebut juga gerakan. Poerwadarminta (1985:217) “gerak berarti peralihan tempat atau kedudukan baik
      hanya sekali maupun berkali-kali, sedangkan gerakan berarti perbuatan atau keadaan bergerak”. Lydon (Widdjajantin dan
      Hitipiuw,1995:270) mengatakan “mobilitas adalah kemampuan bergerak dari suatu tempat ke tempat lain yang diinginkan
      dengan tepat, cepat dan aman”. Hosni (1995:14) mengemukakan ”mobilitas adalah bagaimana ia dapat melakukan gerakan
      dan perpindahan tempat dari posisi semula ke posisi obyek yang dikehendaki dengan tepat, aman dan selamat”.
             Mobilitas merupakan psysical locomotion yakni gerakan organisme dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan
      menggunakan mekanisme organismenya. Carrolt (Hosni, 1996 :13) mengatakan ”for mobility than walking. Mobilitas bukan
      hanya sekedar berjalan tetapi lebih dari sekedar berjalan” mobilitas tidak mesti berpindah tempat (locomotor movement)
      tetapi biasa hanya gerakan berpindah posisi (non-locomotor movement).
             Orientasi dan mobilitas merupakan satu kesatuan yang terintegrasi. Orientasi tidak akan berhasil tanpa adanya
      mobilitas, sebaliknya mobilitas tanpa didasari orientasi tidak akan berhasil. Orientasi berhubungan dengan mental sedang
      mobilitas berhubungan dengan fisik. Sebagaimana Lowenfeld (Natawidjaya,1996:112) mengemukakan:
      Orientasi dan mobilitas memiliki dua komponen yaitu lokomosi dan orientasi mental. Lokomosi adalah gerak individu dari
      suatu tempat ke tempat lain dengan memanfaatkan mekanisme organisme, sedangkan orientasi mental adalah kemampuan
      individu dalam mengenal keadaan lingkungan sekitar hubungan dengan keadaan dirinya sendiri. Kedua komponen ini selalu
      berkoordinasi dalam proses berpindah tempat.

           Dari beberapa batasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan orientasi dan mobilitas adalah kesanggupan
      menggunakan indera yang masih berfungsi untuk mudahnya bergerak dari suatu posisi ke posisi lain yang dikehendaki
      dengan tepat, cepat dan selamat.

         b. Fungsi Orientasi dan Mobilitas
            Layanan orientasi dan mobilitas kepada murid tunanetra tidak terlepas dari usaha untuk mengatasi keterbatasan dalam
     melakukan bergerak dan perpindahan tempat. Hosni (1996 :59) mengatakan tujuan akhir layanan orientasi dan mobilitas
     adalah agar anak tunanetra mampu:
1)   Bergerak dan berpergian dengan selamat. Layanan orientasi dan mobilitas berfungsi agar anak tunanetra dapat mengatasi
     rintangan atau bahaya dalam bergerak dan berpergian.
2)   Bergerak dan berpergian secara mandiri. Layanan orientasi dan mobilitas berfungsi agar anak tunanetra tidak tergantung pada
     orang lain dalam melakukan gerakan dan berpindah tempat.
3)    Bergerak dan berpergian secara efektif. Layanan orientasi dan mobilitas berfungsi agar anak tunanetra mampu menggunakan
     waktu terpendek serta sedikit dalam bergerak dan berpindahan tempat.
4)    Begerak dan bepergian secara baik. Layanan orientasi dan mobilitas berfungsi agar anak tunanetra dapat bergerak dan
     berpergian memiliki unsur keindahan, dalam arti postur tubuhnya kelihatan luwes, tidak kaku, badan tegap, tidak bungkuk,
     dan langkahnya tidak seret.

            Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi orientasi dan mobilitas adalah agar tunanetra baik total maupun
      low vision mampu mengenal, menguasi medan dan mampu memasuki setiap lingkungan yang dikenal maupun lingkungan
      yang berlum dikenal dengan aman, efisien, baik dan lentur tanpa banyak meminta bantuan orang lain, Dengan kata lain
      fungsi orientasi dan mobilitas adalah supaya anak tunanatra mampu bergerak, berpindah dan berjalan sendiri secara mandiri.


         c. Keterampilan Orientasi dan Mobilitas
            Hilangnya fungsi indera penglihatan menyebabkan anak tunanetra mengalami keterbatasan mengenal lingkungan
      sekitarnya. Sebagaimana Lowenfeld (Hosni, 1996 : 20) mengatakan bahwa:
     Ketunanetraan pada seseorang dapat mengakibat tiga bentuk keterbatasan yaitu (1) keterbatasan lingkungan dan
      keanekaragaman pengalaman, (2) keterbatasan dalam berinteraksi dengan lingkungan, (3) keterbatasan dalam kemampuan
      berpindah tempat (mobilitas)”
          Keterbatasan-keterbatasan pada tunanetra dapat diminimalir dengan melakukan sejumlah keterampilan orientasi dan
    mobilitas kepada anak tunanetra. Keterampilan orientasi dan mobilitas yang diajarkan di sekolah-sekolah luar biasa bagian A
    (SLB-A) sangat bervariasi. Menurut Hosni (1996:140) bahwa ”keterampilan orientasi dan mobilitas bagi tunanetra meliputi
    enam komponen yaitu: 1) Landmark (ciri medan), 2) Clues (tanda-tanda), 3) Numbering (sistem penomoran, 4) measurement
    (pengukuran), 5) compass direction (arah mata angin). 6) self familiarization (memfamilerkan diri).
1. Keterampilan Orientasi
          Hosni (1996: 181) mengatakan bahwa ”keterampilan orientasi dan mobilitas bagi seorang tunanetra tidak lepas dari
    masalah pengembangan 13 konsep dasar”. Secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
  a. Konsep ukuran
    Konsep ukuran meliputi : besar, kecil, lebih besar, lebih kecil, panjang, pendek, lebih panjang, lebih pendek, jauh, dekat,
    sentimeter, meter, kilometer, inchi, dll
b. Konsep bentuk
    Konsep bentuk meliputi : bentuk segi empat, bentuk segi tiga, bentuk bulat, bentuk oval, bentuk tidak beraturan, dll.
c. Konsep permukaan (texture) : kasar-halus, lembut-keras, kering-basah, hangat-dingin, dll
d. Konsep warna meliputi : konsep tentang nama-nama warna, corak dari warna, mewarnai, warna menyala, warna tidak
    mengkilap, warna mengkilap, warna terang, warna gelap, warna primer, warna sekunder, dll
e. Konsep berat (weight) meliputi: ringan, berat, sedang, kilogram, ons, kwintal, ton, liter, dll
f. Konsep lokasi meliputi: tempat tidur, halaman, kamar mandi, jalan, dapur, pasar, terminal, puskesmas, trotoar,dll
g. Konsep kegunaan meliputi : kegunaan dari suatu benda atau barang
h. Konsep posisi meliputi: posisi atas, bawah, kiri-kanan, depan-belakng, tengah-pinggir,tenggelam-mengapung,terlentang–
    tengkurap, horisontal-vertikal, diagonal-sejajar, utara-selatan-timur-barat,
i. Konsep gerakan meliputi: diam-bergerak, cepat-lambat, lebih cepat-lebih lambat, dapat bergerak, sedang bergerak, berlari,
    berjalan, dll
j. Konsep waktu meliputi : pagi, siang, malam, sore, subuh, dll
k. Konsep suara meliputi: keras, lembut, serak-melengking, tinggi-rendah, gemuruh berisik, dll
l. Konsep rasa meliputi: manis-pahit, asin-tawar, pedas-gurih, kejut-sepet.
m. Konsep bau meliputi: harum-busuk, bau parfum, bau bensin, bau solar, bau bumbu, dll
         Pengajaran keterampilan orientasi kepada tunanetra lebih pada penanaman, pemahaman dan penguasaan konsep-konsep
    yang berkaitan dengan lingkungan sekelilingnya. Dalam menguasai konsep-konsep tersebut, anak tunanetra senantiasa
    mengoptimalkan fungsi indera-indera yang masih berfungsi.

   2. Keterampilan Mobilitas
         Hilangnya indera penglihatan tidak berarti hilang sama sekali mobilitas anak tunanetra. Kemampuan melakukan
   mobilitas pada tunanetra dapat memanfaatkan indera-indera yang masih berfungsi. Oleh karena itu, sangat penting
   peningkatan pengembangan motorik anak tunantera. Sebagaimana Hosni (1996: 191) mengatakan bahwa ”pengembangan
   keterampilan motorik merupakan bagian yang intergral dari pengembangan orientasi dan mobilitas”.
         Dalam melatih keterampilan motorik harus meliputi tugas motorik (task motor) dan keterampilan motorik (motorik
   skill). Tugas motorik adalah gerakan yang harus dilakukan dalam menyelesaikan suatu aktifitas, sedangkan keterampilan
   motorik berhubungan dengan terampilnya melakukan sesuatu aktifitas gerak dalam menyelesaikan suatu kegiatan. Jadi
   keterampilan motorik berhubungan dengan kecepatan, ketepatan, bentuk, dan penyesuaian dari gerak itu sendiri.
         Hosni (1996: 193) mengatakan ”keterampilan motorik meliputi gerakan dasar kepala, gerakan dasar tangan dan kaki,
   gerak dasar berguling, gerakan dasar duduk mandiri, gerakan dasar merangkak mandiri, gerakan berdiri sendiri, gerak
   berjalan sendiri, gerakan jongkok mandiri, gerakan koordinasi, gerakan mengeksplorasi lingkungan.
         Pengajaran keterampilan mobilitas kepada tunanetra lebih pada penerapan atau aplikasi dari sejumlah keterampilan
   orientasi yang telah dipelajari. Keterampilan mobilitas seperti bergerak, berpindah tempat, berjalan mandiri dan aktivitas
   kemandirian lainnya. Dalam melakukan aktivitas bergerak, berpindah tempat, berjalan mandiri, anak tunanetra senantiasa
   memanfaatkan indera yang masih berfungsi atau koordinasi antara indera yang masih berfungsi untuk merespon rangsangan
   dari lingkungan sekelilingnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:6
posted:12/26/2012
language:
pages:2