MAKALAH BIOGAS

Document Sample
MAKALAH BIOGAS Powered By Docstoc
					                                               BIOGAS

I.    Pengertian
            Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-
     bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah
     tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi
     anaerobik. Meski demikian, hanya bahan organik homogen berbentuk padat maupun cair seperti
     kotoran dan air kencing hewan ternak seperti babi dan sapi yang cocok untuk sistem biogas
     sederhana. Di samping itu, di daerah yang banyak terdapat industri pemrosesan makanan seperti
     tahu, tempe, ikan pindang dan brem, saluran limbahnya bisa disatukan ke dalam sistem biogas
     sehingga   limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini
     memungkinkan karena limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan organik yang homogen.
     Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi produktivitas sistem biogas.

            Biogas menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan. Biogas terbuat dari bahan-bahan
     alami, seperti kotoran manusia dan hewan, serta limbah-limbah organik lain. Komponen biogas
     antara lain sebagai berikut : ± 60 % CH4 (metana), ± 38 % CO2 (karbon dioksida) dan ± 2 % N2,
     O2, H2, & H2S. Sumber energi Biogas yang utama yaitu kotoran ternak Sapi, Kerbau, Babi dan
     Kuda. Kesetaraan biogas dengan sumber energi lain 1 m3 Biogas setara dengan :
                        Tabel kesetaraan biogas dengan sumber bahan bakar lain

                               Bahan Bakar                      Jumlah

                                   Elpiji                       0,46 kg

                              Minyak tanah                     0,62 liter

                               Minyak solar                    0,52 liter

                                  Bensin                       0,80 liter

                                 Gas kota                       1,50 m3

                                Kayu bakar                      3,50 kg


     Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman,
     sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer bila
     dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Biogas juga tidak menghasilkan limbah yang bisa
      mencemari lingkungan. Gas metana dalam biogas bisa terbakar sempurna. Sebaliknya, gas
      metana dalam bahan bakar fosil tidak bisa terbakar sempurna dan akan membahayakan
      lingkungan. Seperti kita ketahui, metana termasuk dalam gas-gas rumah kaca yang bisa
      menyebabkan pemanasan global (global warming). Sehingga penggunaan biogas bisa mencegah
      resiko terjadinya global warming.
             Biogas memiliki kandungan energi tinggi yang tidak kalah dari kandungan energi dalam
      bahan bakar fosil. Nilai kalori dari 1 m3 biogas sekitar 6000 watt jam, setara dengan setengah
      liter minyak diesel. Oleh karena itu biogas sangat cocok menggantikan minyak tanah, LPG,
      butana, batu bara, dan bahan bakar fosil lainnya. Biogas mengandung 75% metana. Semakin
      tinggi kandungan metana dalam bahan bakar, semakin besar kalor yang dihasilkan. Oleh karena
      itu, biogas juga memiliki karakteristik yang sama dengan gas alam. Sehingga jika biogas diolah
      dengan benar, biogas bisa digunakan untuk menggantikan gas alam. Dengan demikian jumlah
      gas alam bisa dihemat.


             Di negara Cina Sejak tahun 1975 "biogas for every household". Pada tahun 1992, 5 juta
      rumah tangga di China menggunakan biogas. Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah
      model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak & manusia serta limbah pertanian.
      Kemudian di negara India Dikembangkan sejak tahun 1981 melalui "The National Project on
      Biogas Development" oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional. Tahun 1999, 3 juta
      rumah tangga menggunakan biogas. Reaktor biogas yang digunakan model sumur tembok dan
      dengan drum serta dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian. Dan yang terakhir
      negara Indonesia mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an, pada tahun 1981 melalui Proyek
      Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari FAO dibangun contoh instalasi biogas di
      beberapa provinsi. Penggunaan biogas belum cukup berkembang luas antara lain disebabkan
      oleh karena masih relatif murahnya harga BBM yang disubsidi, sementara teknologi yang
      diperkenalkan selama ini masih memerlukan biaya yang cukup tinggi karena berupa konstruksi
      beton dengan ukuran yang cukup besar. Mulai tahun 2000-an telah dikembangkan reaktor biogas
      skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana, terbuat dari plastik secara siap pasang
      (knockdown) dan dengan harga yang relatif murah.


II.   Manfaat biogas
             Setelah harga BBM naik beberapa hari yang lalu, kehidupan masyarakat baik di desa
        maupun di kota semakin sulit. Warga berlomba-lomba mencari sumber energi alternatif, ada
        yang menggunakan energi matahari, energi air, maupun energi angin. Tapi sampai sejauh ini
        masih belum ditemukan sumber energi yang benar-benar bisa menggantikan bahan bakar
        minyak. Kebanyakan sumber energi alternatif tidak bisa menghasilkan energi sebesar energi
        yang dihasilkan bahan bakar minyak. Tapi, sebenarnya ada sumber energi alternatif yang relatif
        sederhana dan sangat cocok untuk masyarakat pedesaan, energi alternatif itu adalah energi
        biogas. Energi biogas digunakan sebagai pengganti bahan bakar khususnya minyak tanah dan
        dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar minyak (bensin,
        solar). Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping
        itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung
        dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya pertanian.
             Potensi pengembangan Biogas di Indonesia masih cukup besar. Hal tersebut mengingat
        cukup banyaknya populasi sapi, kerbau dan kuda, yaitu 11 juta ekor sapi, 3 juta ekor kerbau dan
        500 ribu ekor kuda pada tahun 2005. Setiap 1 ekor ternak sapi/kerbau dapat dihasilkan + 2 m 3
        biogas per hari. Potensi ekonomis Biogas adalah sangat besar, hal tersebut mengingat bahwa 1
        m3 biogas dapat digunakan setara dengan 0,62 liter minyak tanah. Di samping itu pupuk organik
        yang dihasilkan dari proses produksi biogas sudah tentu mempunyai nilai ekonomis yang tidak
        kecil pula. Dengan demikian kita juga bisa mengurangi anggaran untuk membeli pupuk.




                                       Skema biogas-proses pemanfaatan biogas




III.    Kelebihan dan Kekurangan


               Selain bermanfaat sebagai pengganti bahan bakar, ada sejumlah kelebihan yang dapat
        diperoleh dari biogas terhadap lingkungan, antara lain:
   1.   Masyarakat tak perlu menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar.
  2.     Proses memasak jadi lebih bersih, dan sehat karena tidak mengeluarkan asap.
  3.     Kandang hewan menjadi semakin bersih karena limbah kotoran kandang langsung dapat diolah.
  4.      Sisa limbah yang dikeluarkan dari biodigester dapat dijadikan pupuk sehingga tidak mencemari
         lingkungan.
  5.      Dapat berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca melalui pengurangan pemakaian bahan
         bakar kayu dan bahan bakar minyak.
  6.     Realatif lebih aman dari ancaman bahaya kebakaran.


         Adapun kekurangannya adalah          :
      1. Memerlukan dana tinggi untuk aplikasi dalam bentuk instalasi biogas.
      2. Tenaga kerja tidak memiliki kemampuan memadai terutama dalam proses produksi.
      3. Belum dikenal masyarakat.
      4. Tidak dapat dikemas dalam bentuk cair dalam tabung.


IV.       Proses Pembuatan Biogas


                Proses penguraian oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik terjadi
         secara anaerob. Proses anaerob adalah proses biologi yang berlangsung pada kondisi tanpa
         oksigen oleh mikroorganisme tertentu yang mampu mengubah senyawa organik menjadi metana
         (biogas). Proses ini banyak dikembangkan untuk mengolah kotoran hewan dan manusia atau air
         limbah yang kandungan bahan organiknya tinggi. Sisa pengolahan bahan organik dalam bentuk
         padat digunakan untuk kompos.
                Secara umum, proses anaeorob terdiri dari empat tahap yakni: hidrolisis, pembentukan
         asam, pembentukan asetat dan pembentukan metana. Proses anaerob dikendalikan oleh dua
         golongan mikroorganisme (hidrolitik dan metanogen). Bakteri hidrolitik memecah senyawa
         organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa sederhana diuraikan oleh
         bakteri penghasil asam (acid-forming bacteria) menjadi asam lemak dengan berat molekul
         rendah seperti asam asetat dan asam butirat. Selanjutnya bakteri metanogenik mengubah asam-
         asam tersebut menjadi metana.
                                Instalasi sistem produksi dan pemanfaatan biogas
            3.1 Bahan Baku

             Biogas berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik diantaranya:

            Limbah tanaman : tebu, rumput-rumputan, jagung, gandum, dan lain-lain,
            Limbah dan hasil produksi : minyak, bagas, penggilingan padi, limbah sagu,
            Hasil samping industri : tembakau, limbah pengolahan buah-buahan dan sayuran, dedak,
             kain dari tekstil, ampas tebu dari industri gula dan tapioka, limbah cair industri tahu,
            Limbah perairan : alga laut, tumbuh-tumbuhan air,
            Limbah peternakan : kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran kambing, kotoran unggas.

3.2 Proses Pembuatan Biogas yang Berasal dari Kotoran Ternak
     Berikut adalah contoh proses pembuatan biogas dari kotoran ternak.
1.    Yang pertama dilakukan adalah menyediakan wadah atau bejana untuk mengolah kotoran
     organik menjadi biogas. Kalau hanya diperuntukkan secara pribadi, cukup menggunakan bak
     yang terbuat dari semen yang cukup lebar atau drum bekas yang masih cukup kuat. Selain itu
     perlunya kesediaan kotoran hewan (baik sapi maupun kambing) yang merupakan bahan baku
     biogas. Kalau sulit mencari kotoran hewan, maka percuma aja. Untuk itu diperlukan survey
     terlebih dahulu. Atau kalau mau sedikit niat, septik tank bisa dimanfaatkan seperti yang
     dilakukan di India.
2.   Proses kedua adalah mencampurkan kotoran organik tersebut dengan air. Biasanya campuran
     antara kotoran dan air menggunakan perbandingan 1:1 atau bisa juga menggunakan
     perbandingan 1:1,5. Air berperan sangat penting di dalam proses biologis pembuatan biogas.
     Artinya jangan terlalu banyak (berlebihan) juga jangan terlalu sedikit (kekurangan).
3.   Temperatur selama proses berlangsung, karena ini menyangkut "kesenangan" hidup bakteri
     pemroses biogas antara 27 - 28 derajat celcius. Dengan temperatur itu proses pembuatan biogas
     akan berjalan sesuai dengan waktunya. Tetapi berbeda kalau nilai temperatur terlalu rendah
     (dingin), maka waktu untuk menjadi biogas akan lebih lama.
4. Kehadiran jasad pemroses, atau jasad yang mempunyai kemampuan untuk menguraikan bahan-
     bahan yang akhirnya membentuk CH4 (gas metan) dan CO2. Dalam kotoran kandang, lumpur
     selokan ataupun sampah dan jerami, serta bahan-bahan buangan lainnya, banyak jasad renik,
     baik bakteri ataupun jamur pengurai bahan-bahan tersebut didapatkan. Tapi yang menjadi
     masalah adalah hasil uraiannya belum tentu menjadi CH4 yang diharapkan serta mempunyai
     kemampuan sebagai bahan bakar.
5.   Untuk mendapatkan biogas yang diinginkan, bak penampung (bejana) kotoran organik harus
     bersifat anaerobik. Dengan kata lain, tangki itu tak boleh ada oksigen dan udara yang masuk
     sehingga sampah-sampah organik yang dimasukkan ke dalam bioreaktor bisa dikonversi
     mikroba. Keberadaan udara menyebabkan gas CH4 tidak akan terbentuk. Untuk itu maka bejana
     pembuat biogas harus dalam keadaan tertutup rapat.
6.   Setelah proses ini selesai, maka selama dalam kurun waktu 1 minggu didiamkan, maka gas
     metan sudah terbentuk dan siap dialirkan untuk keperluan memasak. Namun ada beberapa hal
     yang harus diperhatikan dalam memanfaatkan biogas. Seperti misalnya sifat biogas yang tidak
     berwarna, tidak berbau dan sangat cepat menyala. Karenanya kalau lampu atau kompor
     mempunyai kebocoran, akan sulit diketahui secepatnya. Berbeda dengan sifat gas lainnya, sepeti
     elpiji, maka karena berbau akan cepat dapat diketahui kalau terjadi kebocoran pada alat yang
     digunakan. Sifat cepat menyala biogas, juga merupakan masalah tersendiri. Artinya dari segi
     keselamatan pengguna. Sehingga tempat pembuatan atau penampungan biogas harus selalu
     berada jauh dari sumber api yang kemungkinan dapat menyebabkan ledakan kalau tekanannya
     besar.


3.3 Desain Alat
              Cara membuat alat sebagai berikut :
a.   Tabung Produksi
     Dua drum (200 liter) dibuka salah satu sisinya, dengan sebuah drum yang dibuka separo (0,5
     diameter). Kemudian sisi yang terbuka penuh dan sisi yang terbuka sebagian tersebut
     disambungkan. Pada sisi drum yang lain dibuat lubang masing-masing dengan diameter 5 cm .
     Satu lubang dihubungkan dengan pipa pemasukan, dan lubang yang lain dengan pipa
     pembuangan (masing-masing pipa berdiameter 5 cm). Dan perkuat tiap-tiap pipa tersebut dengan
     sebuh penopang. Usahakan ketinggian pipa pemasukan dengan sebuah corong, untuk
     mempermudah proses pengisian, agar tidak terguling (menggelinding) , sebaiknya tabung
     produksi diberi kaki penyangga, usahakan posisi kedua pipa tegak keatas. Pada sisi atas tabung
     dibuat lubang dengan diameter 1,25 cm dan disambungkan dengan pipa seukuran yang sudah
   dipasang kran. Tabung produksi sudah jadi dan bisa dihubungkan dengan tabung penyimpanan
   dengan selang melalui kran.
b. Tabung penyimpan
   Buka salah satu sisi drum (120 liter dan 200 liter). Untuk drum kecil (120 Lt) pada sisi yang lain
   dibuat 2 lubang berdiameter 1,25 cm, satu lubang untuk pemasukan gas dan yang lain untuk
   pengeluaran. Sambungkan kedua lubang tersebut dengan pipa seukuran, dan untuk pipa
   pengeluaran pasang kran. Letakkan drum besar dengan sisi terbuka menghadap keatas,lalu
   masukkan drum kecil dengan posisi terbalik. Tabung penyimpanan sudah jadi dan bisa diisi
   dengan air. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan alat adalah kekedapannya, jadi sebelum
   alat degunakan sebaiknya diuji drlr kekegapannya, kalau ada yang bocor harus ditambal atau
   diganti

        3.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Biogas

             Laju proses anaerob yang tinggi sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi
   mikroorganisme, diantaranya temperatur, pH, salinitas dan ion kuat, nutrisi, inhibisi dan kadar
   keracunan pada proses, dan konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktor-
   faktor tersebut.

             1. Temperatur

             Gabungan bakteri anaerob bekerja dibawah tiga kelompok temperatur utama. Temperatur
   kriofilik yakni kurang dari 20 C, mesofilik berlangsung pada temperatur 20-45 C (optimum pada
   30-45) dan termofilik terjadi pada temperatur 40-80 C (optimum pada 55-75 C).

             2. Derajat keasaman ( pH )

             Pada dekomposisi anaerob faktor pH sangat berperan, karena pada rentang pH yang tidak
   sesuai, mikroba tidak dapat tumbuh dengan maksimum dan bahkan dapat menyebabkan
   kematian yang pada akhirnya dapat menghambat perolehan gas metana. Bakteri-bakteri anaerob
   membutuhkan pH optimal antara 6,2 – 7,6, tetapi yang baik adalah 6,6 – 7,5. Pada awalnya
   media mempunyai pH ± 6 selanjutnya naik sampai 7,5. Tangki pencerna dapat dikatakan stabil
   apabila larutannya mempunyai pH 7,5 – 8,5. Batas bawah pH adalah 6,2, dibawah pH tersebut
larutan sudah toxic, maksudnya bakteri pembentuk biogas tidak aktif. Pengontrolan pH secara
alamiah dilakukan oleh ion NH4+ dan HCO3-. Ion-ion ini akan menentukan besarnya pH
(Yunus, 1991).

         3. Nutrisi

         Mikroorganisme membutuhkan beberapa vitamin esensial dan asam amino. Zat tersebut
dapat disuplai ke media kultur dengan memberikan nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan
metabolismenya. Selain itu juga dibutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan aktivitas
mikroorganisme, misalnya besi, magnesium, kalsium, natrium, barium, selenium, kobalt dan
lain-lain (Malina,1992). Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi yang
mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, sodium, mangan, kalsium dan kobalt (Space and
McCarthy didalam Gunerson and Stuckey, 1986). Level nutrisi harus sekurangnya lebih dari
konsentrasi optimum yang dibutuhkan oleh bakteri metanogenik, karena apabila terjadi
kekurangan nutrisi akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan bakteri. Penambahan nutrisi
dengan bahan yang sederhana seperti glukosa, buangan industri, dan sisa sisa tanaman terkadang
diberikan dengan tujuan menambah pertumbuhan di dalam digester (Gunerson and Stuckey,
1986).

         4. Keracunan dan Hambatan

         Keracunan (toxicity) dan hambatan (inhibition) proses anaerob dapat disebabkan oleh
berbagai hal, misalnya produk antara asam lemak mudah menguap (volatile) yang dapat
mempengaruhi pH. Zat-zat penghambat lain terhadap aktivitas mikroorganisme pada proses
anaerob diantaranya kandungan logam berat sianida.

         5. Faktor Konsentrasi Padatan

         Konsentrasi ideal padatan untuk memproduksi biogas adalah 7-9% kandungan kering.
Kondisi ini dapat membuat proses digester anaerob berjalan dengan baik.

         6. Penentuan Kadar Metana Dengan BMP
           Uji BMP (Biochemical Methane Potential) ditunjukan untuk mengukur gas metana yang
    dihasilkan selama masa inkubasi secara anaerob pada media kimia. Uji BMP dilakukan dengan
    cara menempatkan cairan contoh, inokulan (biakan bakteri anaeorob) dan media kimia dalam
    botol serum. Botol serum ini, diinkubasi pada suhu 35oC, lalu pengukuran dilakukan selama
    masa inkubasi secara periodik (biasanya setiap 5 hari), sehingga pada akhir masa inkubasi (hari
    ke-30) didapatkan akumulasi gas metana. Pengukuran dilakukan dengan memasukkan jarum
    suntik (metoda syringe) ke botol serum.
7. Rasio Carbon Nitrogen (C/N)
           Proses anaerobik akan optimal bila diberikan bahan makanan yang mengandung karbon
    dan nitrogen secara bersamaan. CN ratio menunjukkan perbandingan jumlah dari kedua elemen
    tersebut. Pada bahan yang memiliki jumlah karbon 15 kali dari jumlah nitrogen akan memiliki
    C/N ratio 15 berbanding 1. C/N ratio dengan nilai 30 (C/N = 30/1 atau karbon 30 kali dari
    jumlah nitrogen) akan menciptakan proses pencernaan pada tingkat yang optimum, bila kondisi
    yang lain juga mendukung. Bila terlalu banyak karbon, nitrogen akan habis terlebih dahulu. Hal
    ini akan menyebabkan proses berjalan dengan lambat. Bila nitrogen terlalu banyak (C/N ratio
    rendah; misalnya 30/15), maka karbon habis lebih dulu dan proses fermentasi berhenti Sebuah
    penelitian menunjukkan bahwa aktivitas metabolisme dari bakteri methanogenik akan optimal
    pada nilai rasio C/N sekitar 8-20. (Anonymous, 1999a).

8. Kandungan Padatan dan Pencampuran Substrat
           Menurut Anonymous (1999a), walaupun tidak ada informasi yang pasti, mobilitas bakteri
    metanogen di dalam bahan secara berangsur – angsur dihalangi oleh peningkatan kandungan
    padatan yang berakibat terhambatnya pembentukan biogas. Selain itu yang terpenting untuk
    proses fermentasi yang baik diperlukan pencampuran bahan yang baik akan menjamin proses
    fermentasi yang stabil di dalam pencerna. Hal yang paling penting dalam pencampuran bahan
    adalah menghilangkan unsur – unsur hasil metabolisme berupa gas (metabolites) yang dihasilkan
    oleh bakteri metanogen, mencampurkan bahan segar dengan populasi bakteri agar proses
    fermentasi merata, menyeragamkan temperatur di seluruh bagian pencerna, menyeragamkan
    kerapatan sebaran populasi bakteri, dan mencegah ruang kosong pada campuran bahan.


3   Jenis Biogas
       Ada dua macam Biogas yang dikenal saat ini, yaitu Biogas (yang juga sering disebut gas
rawa) dan Biosyngas. Perbedaan mendasar dari kedua bahan diatas adalah cara pembuatannya.


4.1   Biogas


       Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik dengan bantuan bakteri
anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas. Energi biogas didominasi oleh Komposisi biogas
terdiri atas metana (CH4) 55-75%, Karbon dioksida (CO2) 25-45%, Nitrogen (N2) 0-0.3%,
Hidrogen (H2) 1-5%, Hidrogen sulfide (H2S) 0-3%, Oksigen (O2) 0.1-0.5%. Nilai kalori dari 1
meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel.


4.2   Biosyngas


       Biosyngas (atau lebih sering disingkat Syngas atau Producer Gas) adalah produk antara
(intermediate) yang dibuat melalui proses gasifikasi termokimia dimana pada suhu tinggi
material kaya karbon seperti batubara, minyak bumi, gas alam atau biomassa dirubah menjadi
Karbon monoksida (CO) dan Hidrogen (H2). Apabila bahan bakunya batubara, minyak bumi dan
gas alam, maka disebut Syngas, sedangkan jika bahan bakunya biomassa maka disebut
Biosyngas. Biosyngas dapat digunakan langsung menjadi bahan bakar atau sebagai bahan baku
untuk proses kimia lainnya. Kandungan energi biosyngas kurang lebih 3 – 8 MJ/N.m3 (mega
joules per normal meter kubik), tetapi dapat mencapai 10 – 20 NJ/N.m3 jika menggunakan
oksigen murni digunakan dalam proses gasifikasi. Jika dalam proses gasifiksi ditambahkan
uap/steam, yang disebut “reforming”, gas yang dihasilkan akan mengandung hidrogen (H2)
dalam konsentrasi tinggi.
                                              DAFTAR PUSTAKA
http://www.tulungagung.go.id/index.php/beranda/seputar-tulungagung/lingkungan-hidup/582-
     pembuatan-biogas-untuk-pengendalian-pencemaran
http://www.tenangjaya.com/index.php/relevan-artikel/aplikasi-kompos-jerami-untuk-
     meningkatkan.htm
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Biogas

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4
posted:12/26/2012
language:Indonesian
pages:11