Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

MAKALAH PENDIDIKAN SENI

Document Sample
MAKALAH PENDIDIKAN SENI Powered By Docstoc
					MAKALAH PENDIDIKAN SENI




                     Oleh :

              KELOMPOK 5

 Shwarna Dyah Andartika (12206244003)

 Rizta Noor Annisa              (12206244004)

 Risdya Intan Pangesti          (12206244015)

 Ratri Dwi Purama               (12206244016)

 Riyanti                        (12206244038)

 Lilik Agustina                 (12206244041)

 Tiara Bunga Nugraheni          (12206244043)



    MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

        FAKULTAS BAHASA DAN SENI

   UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

                         2012


                                                1
                                    PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

       Dalam kehidupan sehari – hari kita tidak pernah lepas dari sebuah seni. Seni
merupakan suatu proses penggambaran ekspresi diri manusia sehingga bisa dilihat dalam
intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Dalam mengungkapkan ekspresi jiwa, seorang
individu memiliki cara yang berbeda-beda untuk menggambarkannya. Oleh karena itu seni
sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sangat sulit untuk dinilai, bahwa masing-masing
individu memilih sendiri perarturan dan parameter yang menuntun dalam mengekpresikan
diri. Inilah yang membuat sebuah seni dirasa menarik untuk dipelajari, karena dengan
mempelajari seni kita dapat melihat berbagai macam cara penggambaran ungkapan ekspresi
individu.

       Di dalam dunia pendidikan seni mempunyai peran yang sangat penting. Di mana seni
yang digunakan sebagai alat pendidikan dalam pendidikan seni bukan semata-mata bertujuan
untuk mendidik menjadi seniman melainkan membina manusia untuk menjadi kreatif. Seni
merupakan aktifitas permainan, dan melalui permainan kita dapat mendidik anak dan
membina kreatifitasnya sedini mungkin. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seni dapat
digunakan sebagai alat pendidikan. Manusia dapat berimajinasi sesuai dengan apa yang
dikehendaki untuk memunculkan apa yang ada dalam pikirannya melalui pendidikan seni.
Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai pengaruh seni dalam pendidikan, pengaruh seni
di era globalisasi, fungsi seni dan perbedaan pendidikan di Indonesia dan Pendidikan seni di
luar negeri.




                                                                                          2
B. Rumusan Masalah


  a. Apa itu pendidikan seni?
  b. Bagaimana seni dalam pendidikan?
  c. Bagaimana pengaruh seni dalam era globalisasi?
  d. Bagaimana pengaruh seni untuk masa depan?
  e. Bagaimana perbedaan pendidikan seni di Indonesia dan pendidikan seni di luar
     negeri?
  f. Bagaimana Fungsi seni sebagai sarana pendidikan?




C. Tujuan


  a. Mengetahui apa itu pendidikan seni.
  b. Mengetahui pengaruh seni dalam pendidikan.
  c. Mengetahui pengaruh seni dalam era globalisasi.
  d. Mengetahui pengaruh seni untuk masa depan.
  e. Mengetahui perbedaan pendidikan di indonesia dan pendidikan seni luar negeri.
  f. Mengetahui fungsi seni sebagai sarana pendidikan




                                                                                     3
                                         Daftar isi




Sampul           ………………………………………….............................................. 1

Pendahuluan ………………………………………….............................................. 2

       Rumusan masalah        ……………………………………………………….. 3

       Tujuan ……………………………………………………………………….. 3

Daftar Isi       ……………………………………………………………………….. 4

Pembahasan       ……………………………………………………………………….. 5

       Pengertian pendidikan seni    ……………………………………………….. 5

       Pengaruh seni terhadap pendidikan ……………………………………….. 6

       pengaruh seni dalam era globalisasi ……………………………………….. 7

       pengaruh seni untuk masa depan       ……………………………………….. 8

       perbedaan pendidikan seni di Indonesia dan pendidikan seni di luar negeri... 10

       Fungsi seni sebagai sarana pendidikan          ……………………………….. 16

Kesimpulan       ……………………………………………………………………….. 17

Daftar pustaka         ……………………………………………………………….. 18




                                                                                         4
D. Pembahasan

1. Pengertian Pendidikan Seni

   Mata pelajaran Pendidikan Seni merupakan suatu kesatuan yang mencakup empat cabang
seni, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Setiap cabang seni memiliki ciri-
ciri khusus dan keutuhan. Di sisi lain saling melengkapi dan membentuk keterpaduan.
Pendidikan Seni menganut pandangan pendidikan melalui seni, bahwa seni berfungsi sebagai
media atau sarana pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan dapat dilakukan melalui berbagai
cabang seni, baik secara terpisah dalam pengertian masing-masing cabang seni maupun
secara terpadu.Seluruh pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan dengan bertolak dari
karya seni, meliputi empat materi kegiatan pokok, yaitu apresiasi seni, berkarya seni, kritik
seni, dan penyajian seni.

   Pembelajaran Pendidikan Seni dibedakan menjadi pembelajaran apresiatif dan
pembelajaran produktif. Pembelajaran apresiatif meliputi apresiasi seni dan kritik seni.
Pembelajaran produktif meliputi berkarya seni dan penyajian seni. Pembelajaran produktif
mendapat alokasi waktu yang lebih banyak dari pada pembelajaran apresiatif, dengan
perbandingan kurang lebih 60% dan 40%.

   Pembelajaran apresiasi seni di suatu sekolah dimulai dari seni dari daerah setempat,
dilanjutkan dengan seni daerah-daerah lainnya, dan kemudian seni mancanegara.
Pembelajaran seni di Indonesia maupun seni dari mancanegara meliputi seni tradisi dan seni
modern (termasuk seni kontemporer), sesuai dengan perkembangan dalam sejarah seni.
Materi pokok produktif disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa serta kemampuan
sekolah atau keadaan daerah. Materi pokok produktif yang belum dapat dilaksanakan oleh
sekolah dapat diberikan dalam bentuk apresiasi seni.

   Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan pendekatan terpisah dan
terpadu. Pendekatan terpisah ialah melaksanakan pembelajaran setiap bidang seni, sesuai
dengan ciri-ciri khusus dan kesatuan substansi masing-masing. Pendekatan terpadu ialah
melaksanakan pembelajaran yang memadukan bidang-bidang seni dalam bentuk seni
pertunjukan, seni multimedia, atau kolaborasi seni. Pembelajaran Pendidikan Seni secara
terpadu meliputi pembelajaran apresiatif dan produktif.



                                                                                              5
2. Pengaruh seni dalam pendidikan

   Beberapa tahun terakhir telah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa pendidikan
seni, terutama musik, mempunyai pengaruh yang baik bagi perkembangan otak anak. Salah
satu penelitian dilakukan oleh University of Toronto dengan menyertakan 144 orang anak
berumur 6 tahun untuk mengikuti kursus piano, kursus vokal dan yang tidak mengikuti
kursus secara acak selama satu tahun. Hasilnya, anak-anak yang mengikuti kursus musik
semakin baik perkembangan otaknya dan memicu kemampuan matematika serta IQ secara
keseluruhan.   Musik   berguna   untuk   merangsang    otak,   meningkatkan   kemampuan
bersosialisasi, melatih empati serta menumbuhkan musikalitas anak dengan menggunakan
lagu dan gerakan yang merangsang koordinasi bagian otak. Alat musik yang
direkomendasikan untuk dipelajari oleh anak Anda antara lain piano dan organ, karena akan
merangsang otak anak untuk lebih kreatif. Selain itu, anak Anda bisa diarahkan juga untuk
mempelajari gitar dan biola untuk mendapatkan efek yang tak jauh berbeda.

       Disamping musik, seni tari juga berguna bagi anak Anda karena akan membantu
mengembangkan keterampilan motoriknya. Sementara drama akan mengajarkan tentang
emosi, membantu anak tentang pengendalian diri dan empati sehingga anak mampu
memecahkan masalah, serta belajar menghadapi frustasi dan situasi sosial di sekelilingnya.
Sedangkan seni lukis dapat membantu perkembangan emosional, sehingga anak Anda bisa
memahami apa yang membuatnya merasa senang, sedih maupun takut. Bagi yang ingin
memberikan pelajaran seni pada anak-anak Anda, sebaiknya dilakukan dari usia 3-6 tahun.
Umur tersebut ideal bagi anak karena perkembangan pendengaran sedang berada pada saat
yang paling baik. Pada umur tersebut pelajaran seni juga akan meningkatkan kecerdasan
anak, sebagaimana telah dibuktikan di negara-negara maju.




                                                                                        6
3. Pengaruh Seni dalam Era Globalisasi

   Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan
daerah, salah satunya adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang
merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang
selanjutnya berkembang menjadi budaya massa. Dengan globalisasi yang memiliki dampak
positif maupun negatif, maka perlu adanya tindak lanjut dalam menyikapi globalisasi
tersebut. Adapun tindakan-tindakan yang dapat dilakukan yaitu :

   1. Menambah porsi pengetahuan tentang kebudayaan bangsa di sekolah-sekolah baik
       mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi
   2. Menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk
       tidak merugikan dan berdampak negatif.
   3. Mengadakan berbagai pertunjukan kubudayaan.
   4. Membatasi acara-acara yang dapat memunculkan rasa cinta terhadap budaya asing.

   Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata
lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing. Caranya adalah dengan penyaringan
budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Bagi masyarakat yang
mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan
terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk
dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu
indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya
dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang
merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa
depan anak cucu.




                                                                                           7
4. Masa Depan Pendidikan Seni Rupa di Indonesia

       Seni rupa merupakan salah satu cabang kesenian yang memiliki klasifikasi wujud
dalam bentuk 2 dimensi dan 3 dimensi. Seni rupa telah mengakar mulai zaman animisme dan
dinamisme hingga jaman melenium, juga menjadi salah satu bagian cabang seni yang secara
performatif mempresentasikan wujud yang kasat mata. Pendidikan seni rupa adalah proses
mendidik dalam merepresentasi bentuk seni rupa secara nyata melalui media sebagai dasar
perwujudan rupa.

       Di era modern yang serba instan ini, pendidikan bertransformasi menjadi salah satu
landasan utama dalam aspek kehidupan yang kedepannya diharapkan dapat mencerdaskan
kehidupan bangsa, mempersiapkan tenaga kerja yang trampil dan ahli agar dapat membina
dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Untuk mewujudkan pendidik profesional yang
mampu mengatasi tantangan-tantangan dan mampu berinovasi dalam proses belajar
mengajar.
       Pendidikan formal seni rupa di Indonesia dimulai pada tahun 1950, di Yogyakarta
berdiri ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang sekarang namanya menjadi ISI (Institut
Seni Indonesia) yang dipelopori oleh RJ. Katamsi, kemudian di Bandung berdiri Perguruan
Tinggi Guru Gambar (sekarang menjadi Jurusan Seni Rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof.
Syafe Sumarja. Selanjutnya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) sekarang dikenal
dengan IKJ (Institut Kesenian Jakarta) disusul dengan jurusan – jurusan di setiap IKIP Negeri
salah satunya adalah Universitas Negeri Yogyakarta.
       Dalam pendidikan maupun dunia kerja, seni rupa menjadi salah satu profesi yang
mampu bersaing pada masa yang akan datang.. Kompetensi dasar yang harus dicapai bidang
seni rupa meliputi kemampuan memahami dan berkarya lukis, kemampuan memahami dan
membuat patung, kemampuan memahami dan berkarya grafis ,kemampuan memahami dan
membuat kerajinan tangan, serta kemampuan memahami dan berkarya atau membuat sarana
multimedia. Cabang seni rupa yang beraneka ragam dengan keahlian dan tingkat kesulitan
masing-masing adalah keahlian utama yang harus dimiliki sang perupa ataupun pendidik
dalam seni rupa.


       Belakangan ini yang banyak dibicarakan dalam dunia pasar seni rupa adalah lukisan
kontemporer China. Karya-karya dari perupa China mampu membuat semua mata tertuju
pada mereka dan menjadi perbincangan utama keseni rupaan dunia. Julukan Booming Seni
Lukis China pun mereka sandang atas hasil kerja keras dan kedisiplinan yang selama ini
                                                                                           8
mereka lakukan. Bahkan mereka mampu membuat pasar seni rupa dunia kalangkabut dengan
harga lukisan yang terus-menerus mengalami peningkatan yang mengejutkan, meningkat
puluhan kali dari harga sebelumnya.
       Tidak mau kalah dengan China, beberapa nama seniman Indonesia juga mulai
diperbincangkan di dunia pasar seperti Agus Suwage, Putu Sutawijaya, Rudi Mantofani,
Yunizar, Handiwirman Saputra, Budi Kustarto, Pupuk DP, Jumaldi Alfi, Nyoman Masriadi,
dan Agapetus. Mereka berinovasi agar karya-karyanya mampu mendapat perhatian dan
mudah terjual.
       Fenomena seperti itu mendorong galeri-galeri semakin sibuk menawarkan agenda
pameran bagi karya-karya mereka. Begitu juga para pemburu lukisan tidak kalah sibuk
mendapatkan karya mereka untuk dijadikan ikon di lelang. Tentu saja ini membuat para
senimannya berlimpahan materi.
       Di saat dunia pasar memamerkan pundi-pundi kapitalnya, dunia pendidikan seni rupa
justru tengah ngos-ngosan mempertahankan eksistensinya. Banyak lembaga formal maupun
non-formal yang mempunyai jurusan seni rupa mulai rewel karena kurangnya dana untuk
praktikum dikarenakan peminat yang semakin merosot tajam. Dari sini bisa dilihat
bagaimana jomplangnya dunia pasar seni yang berlimpah ruah materi dan dunia pendidikan
seni yang kebingungan mencari pemasukan dana.




                                                                                      9
5. Perbedaan pendidikan seni di Indonesia dengan pendidikan seni di luar negeri
Beberapa faktor yang sering disebut-sebut menjadi kendala utama dalam pendidikan seni
rupa antara lain adalah :

a. Kurangnya Kemampuan Professional

   Dua faktor yang mempengaruhi profesionalitas pendidik yaitu faktor diri sendiri/ pribadi
(internal) yang meliputi minat dan bakat. Lulusan muda yang menjadi pendidik namun
melenceng jauh dari jalur semula, yang lebih parah lagi adalah ketidaksiapan pendidik dalam
bidangnya. Bisa disebabkan karena belum siapnya menghadapi dunia pendidikan dan
kurangnya ilmu yang didapatkan.
Lingkungan sekitar, sarana prasarana yang tidak memadai menjadi faktor eksternal yang
berdampak fatal pada peserta didik dan menyebabkan mengakarnya keprofesionalan seorang
pendidik.
Untuk mengatasi hal tersebut pendidik harus mau dan mampu menerapkan metode
pengajaran yang baik, mudah dipahami serta menjadikan diri sendiri sebagai kawan,
konsultan dan fasilitator. Karena dalam seni rupa peserta didik diharapkan dapat
mengembangkan imajinasi dengan bebas namun tetap pada kedisiplinan waktu.
Pendidik juga bisa mengajak peserta didik untuk berkarya bersama sambil mempertahankan
keeksistensiannya dalam menciptakan karya-karya baru yang lebih segar tentunya.

b. Kurangnya Minat Masyarakat

          Saat seorang anak memasuki usia dini mereka mampu merekam apa saja yang mereka
lihat, tentunya hal ini berpengaruh pada sistem kerja otak sang anak. Sebenarnya semua yang
dilihat sang anak adalah unsur-unsur seni rupa seperti garis, warna, bidang, ritme, balance
dan yang lainnya. Namun kebanyakan orang tua menganggap pelajaran seni rupa bukanlah
pelajaran yang penting, apalagi ditinjau dari segi ekonomisnya.
Hal ini jelas mengakibatkan seorang anak enggan untuk mempelajari tentang seni yang akan
berpengaruh pada kehidupannya mendatang. Jika banyak orang tua yang berfikiran seprti ini
maka banyak pula generasi muda yang diciptakan tanpa kepekaan seni yang tidak mereka
miliki.
Pada akhirnya mengakibatkan anjloknya minat belajar masyarakat muda dalam hal seni rupa
yang nantinya akan berpengaruh besar pada dunia pendidikan seni rupa di Indonesia.
Walaupun tanpa kita sadari minat perupa terhadap wacana seni rupa juga masih acuh tak

                                                                                        10
acuh. Banyak perupa yang beranggapan bahwa wacana dan tulisan tentang seni rupa mereka
serahkan pada kritikus dan tugas mereka hanyalah berkarya. Sempitnya pemikiran ini
mengakibatkan tidak berkembangnya seni rupa Indonesia dalam linkup seniman itu sendiri
karena tidak adanya latar pendidikan yang mendasari karya seni yang diciptakannya.


c. Kurangnya Bahan Refrensi Dalam Lingkup Perpustakaan Dan Media Cetak
       Beberapa media cetak seni rupa mengeluhkan keterbatasan dana yang dimiliki
mengancam mereka dalam kebangkrutan dikarenakan sedikitnya penelitian tentang seni di
Indonesia dan dengan jawaban sama para peneliti senipun melakukan hal tersebut karena
mereka dibayang-bayangi ciutnya dana. Pada kenyataannya hal ini berbanding terbalik
dengan suksesnya penjualan karya di pasar dunia. Apalagi kurangnya minat pembaca di
perpustakaan mengakibatkan tidak adanya masukan positif dan inovasi baru untuk jurnalistik
Indonesia.

d. Kritikan Yang Disalah Artikan

       Dalam seni rupa ada yang disebut dengan curator atau pengamat seni. Tugas curator
adalah mengamati sebuah karya dari unsur, tekhnik dan aliran sang perupa. Barulah setelah
itu dia bias menanggapi sebuah karya dengan positif. Namun kembali lagi kebiasaan
masyarakat Indonesia yang mau mengkritik tanpa mau dikritik adalah alasan utama
kelemahan perkembangan seni rupa di Indonesia. Begitu kritikan muncul banyak perupa yang
mendadak berubah menjadi komentator, dimana mereka berkomentar bak seorang curator
berpengalaman. Banyak perupa yang kecewa pada saat karyanya mendapat kritikan namun
tak sedikit pula perupa yang merasa senang memberikan kritikan tanpa berfikir bagaimana
jika karya yang dikritik itu adalah milik dirinya.
Harus kita akui memang secara psikologis sebuah kritik seni sangat berpengaruh besar
terhadap seorang perupa. Kritikan bisa merubah pola pikir perupa untuk menjadi lebih baik
dalam meningkatkan karya tetapi seorang perupa juga dapat berhenti berkarya karena sebuah
kritikan. Jika seorang memasuki lingkup dunia pendidikan dia akan diajari bagaimana
caranya menghargai sebuah karya dan mau menerima masukan positif dari sesama perupa
maupun curator seni.


       Untuk membenahi ketiga faktor tersebut perlu adanya inovasi baru dalam pendidikan
seni rupa. Karena pada saat seniman karyanya memasuki dunia pasar seni rupa dia harus


                                                                                       11
memiliki dunia wacana yang kuat pula agar menjadi menyeimbang. Tentu saja dunia wacana
lahir dari eksistensi dunia pendidikan yang kuat pula melalui kajian-kajian yang mendalam,
obyektif, dan netral dari berbagai kepentingan pragmatis pasar yang hanya mementingkan
matrealisme saja. Seseorang yang sudah dibutakan dengan materi tidak bias berfikiran cermat
dan dengan mudahnya bias terjatuh dalam perangkap musuh ataupun kemiskinan mendadak.
Yang lebih parahnya kini hal tersebut tengah terjadi di dunia seni rupa Indonesia. Namun lain
halnya jika seseorang mengenal dunia pendidikan, secara spontan otak masih mampu untuk
berfikiran jernih dan mencari jalan keluar yang terbaik. Tentu saja kata-kata “seiman tidak
harus kotor” berlaku dalam pendidikan seni rupa.
Mengembangkan potensi dalam belajar seni rupa tidak harus dari buku saja, seni rupa
bukanlah sesuatu yang kaku dan tidak imajinatif. Mengunjungi galeri-galeri seni dan belajar
saling mengkritik dan bertukar pikiran dengan sesama pecinta seni bisa membantu
meningkatkan pengetahuan dalam berkarya seni. Dengan begitu masa depan pendidikan seni
rupa Indonesia bisa lebih mapan dan mampu disejajarkan dengan pendidikan seni rupa di luar
negeri yang memang sudah tidak lagi dipandang sebelah mata.


       Pendidikan di luar negri dan masa depan Indonesia
Oleh Sayidiman Suryohadiprojo
Pendidikan di luar negeri merupakan bagian yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan
satu bangsa. Hal itu juga berlaku untuk Indonesia sejak sebelum kemerdekaan hingga
sekarang.
Banyaknya pemuda Indonesia sekolah di luar negeri ada dampak positif dan negatifnya, baik
untuk bangsa secara keseluruhan maupun untuk pribadi masing-masing. Dampak positif
adalah bahwa bangsa akan memperoleh tenaga terdidik di sekolah yang baik dan membawa
pulang berbagai kemampuan yang bermanfaat bagi bangsa.
Kalau yang mengirimkan orangtua atas biaya sendiri, bangsa memperoleh manfaat itu tanpa
negara kehilangan dana yang berharga. Kemampuan yang terbentuk di luar negeri, apabila
dipilih sekolah yang tepat, akan meningkatkan kemampuan bangsa. Apalagi kalau itu
menyangkut disiplin ilmu atau kecakapan teknologi yang belum ada pendidikannya di
Indonesia atau sudah ada tetapi belum cukup bermutu.
Dampak positif bagi pribadi adalah bahwa ia dibiasakan untuk berada di lingkungan bangsa
lain. Apalagi kalau di sekolahnya ia juga bersama dengan bangsa tamu lainnya. Hal ini
membuatnya terbiasa berhadapan dengan macam-macam bangsa. Ia tidak hanya menjadi
cakap dalam bidang studi yang ia geluti, tetapi juga akan menguasai bahasa asing, baik

                                                                                          12
bahasa tuan rumah maupun bahasa Inggris kalau ia belajar di negara yang bukan berbahasa
Inggris.
Akan tetapi, juga ada kemungkinan dampak negatif bagi bangsa. Tidak mustahil bahwa
pelajar itu menjadi demikian terpesona dengan kehidupan tuan rumah sehingga lambat laun
menjadikannya tercabut dari kehidupan bangsanya sendiri. Cara berpikir dan perasaannya
sepenuhnya berubah dan menjadikannya bersikap hidup menyamai bangsa tuan rumah.
Hal ini menimbulkan kompleks inferioritas pada dirinya dan menilai bangsanya sendiri
kurang bermakna bagi masa depannya. Apalagi kalau ia kemudian begitu merendahkan diri
dengan merugikan bangsanya sendiri untuk keuntungan bangsa di mana ia bersekolah. Hal
seperti itu banyak terjadi dalam masa Perang Dingin dan organisasi intelijen makin besar
perannya dalam kehidupan internasional.
Bagi pribadi yang kurang kuat akarnya pada bangsanya sendiri akan terjadi alienasi dengan
bangsanya ketika ia kembali pulang. Akibatnya adalah bahwa ia akan mengalami kesulitan
untuk hidup normal di lingkungan bangsanya sendiri. Ini semua juga berakibat negatif bagi
bangsa, tidak saja karena banyak biaya hilang tanpa manfaat maupun malahan dapat
menimbulkan bahaya bagi kehidupan masyarakat.
Indonesia telah mendapat manfaat besar dari pemudanya yang belajar di luar negeri kalau
pemuda itu belajar dengan sungguh-sungguh sehingga memperoleh kemampuan yang amat
bermanfaat bagi Indonesia dan ia selalu sadar akan kebangsaannya. Banyak pemimpin
nasional kita termasuk kategori itu, antara lain, Bung Hatta dan Bung Syahrir.
Juga bangsa Indonesia memperoleh pakar berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang
bermutu, seperti almarhum Prof Dr Maria Ulfah Subadio, almarhum Prof Dr Sumitro
Djojohadikusumo, dan almarhum Prof Dr Sumantri Brodjonegoro. Setelah Indonesia
merdeka makin banyak diperoleh lulusan pendidikan luar negeri yang bermanfaat bagi
bangsa.
Akan tetapi, juga kemudian datang kembali orang-orang yang kurang bermanfaat, malahan
merugikan bangsa. Sebab, tidak semua belajar dengan baik di luar negeri atau mereka kurang
kuat pijakannya di bumi Indonesia ketika berangkat ke luar negeri.
Mulai sekarang kita harus lebih waspada menghadapi persoalan ini. Sebab, dapat kita
perkirakan bahwa makin banyak pemuda Indonesia akan sekolah di luar negeri.
Sebab, secara obyektif peningkatan mutu pendidikan di Indonesia masih memerlukan waktu
panjang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain keterbatasan dana pemerintah dan
suasana pendidikan yang kurang kondusif.


                                                                                         13
Padahal, di samping tingginya angka kemiskinan, dalam kenyataan ada segolongan orang
Indonesia yang kekayaannya menyamai orang di negara maju. Jumlah mereka mencapai
jutaan orang, kalau 1 persen saja dari penduduk Indonesia termasuk orang kaya. Mereka
cenderung menyekolahkan anaknya di luar negeri agar masa depannya terjamin.
Tidak dapat diingkari bahwa di Indonesia ada sekolah yang bermutu. Namun, jumlahnya
terbatas sekali dan belum tentu anak orang kaya cukup prestasinya untuk diterima di sekolah
demikian. Juga mulai ada universitas luar negeri ternama mengadakan kerja sama dengan
universitas di Indonesia yang bermutu. Akan tetapi, orang yang besar kemampuan
keuangannya umumnya memilih pergi ke universitas diluar negeri.
Itu semua tidak dapat dicegah atau dilarang, sebaliknya malahan harus disyukuri. Yang
penting adalah bahwa hasil pendidikan di luar negeri itu nanti menguntungkan, tidak hanya
bagi yang belajar, tetapi juga bagi bangsa.
Harus diusahakan agar kerugian yang dapat terjadi pada bangsa dibuat seminimal mungkin.
Sebab, hakikatnya kekayaan yang digunakan untuk membiayai pendidikannya di luar negeri
adalah kekayaan yang bersumber pada Tanah Air Indonesia. Orangtuanya menjadi kaya
karena memanfaatkan sumber daya yang berasal dari bumi Indonesia.
Meskipun pelajar itu tidak menggunakan uang negara, pemerintah wajib mengawasi agar
uang itu digunakan dengan semestinya. Pertama, harus diawasi dan bila mungkin dipengaruhi
agar setiap pelajar/mahasiswa belajar dengan sungguh-sungguh. Bukan rahasia bahwa di
Amerika ada mahasiswa Indonesia yang belajar sembarangan sehingga tidak jarang menjadi
cemoohan mahasiswa Jepang dan Korea yang sangat tidak setuju dengan mahasiswa hidup
mewah dan tidak belajar betul.
Hendaknya para Atase Pendidikan yang ada di setiap KBRI melakukan pengawasan ini
dengan tepat dan bijaksana. Para mahasiswa dirangsang agar dapat menyelesaikan studinya
tepat waktu dan tidak memboroskan kesempatan dan dana. Syukur sekali kalau mahasiswa
Indonesia menonjol prestasi dalam menempuh pendidikannya.
Kedua, perlu diusahakan agar para pelajar/mahasiswa mantap kesadarannya sebagai bangsa
Indonesia. Adalah mungkin bahwa mereka sangat menghargai prestasi bangsa tuan rumah.
Akan tetapi, pesona terhadap bangsa lain itu jangan sampai menimbulkan sikap inferioritas
sehingga mengorbankan bangsanya sendiri.
Sebaliknya, pesona terhadap bangsa tuan rumah justru menjadi cambuk untuk menghasilkan
prestasi yang meningkatkan harga diri bangsa Indonesia. Organisasi mahasiswa Indonesia di
negara tuan rumah perlu diaktifkan sehingga para mahasiswa Indonesia sebanyak mungkin
dibawa dalam kebersamaan untuk mengimbangi kehidupannya dalam masyarakat asing.

                                                                                        14
Mahasiswa yang tidak mau turut dalam organisasi itu perlu diingatkan dan diawasi karena
mungkin     akan    menjadi     faktor    negatif   bagi    bangsa   di    hari   kemudian.
Ketiga, para mahasiswa perlu diingatkan bahwa mereka mungkin menjadi sasaran bagi usaha
tuan rumah guna kepentingannya. Baik organisasi mahasiswa maupun Atase Pendidikan dan
Atase
Pertahanan melakukan pertemuan mahasiswa secara berkala untuk menjelaskan berbagai
informasi perkembangan dunia dan Indonesia.
Memang sulit untuk mengawasi kegiatan intel tuan rumah di masa studi karena mahasiswa
yang kena diikat tuan rumah baru diaktifkan setelah ia kembali di Indonesia. Seperti adanya
LSM tertentu yang sepenuhnya dibiayai dengan dana AS dan aktivitasnya mengarah kepada
kepentingan AS serta dipimpin bekas mahasiswa di AS.
Hal demikian mau tidak mau menimbulkan kesangsian terhadap niat LSM itu. Apalagi ketika
ada orang-orang AS aktif menunjang kegiatan LSM tersebut, maka hal itu menimbulkan
kekhawatiran banyak orang Indonesia.
Memang hal demikian tidak terbatas pada mereka yang belajar di luar negeri. Seorang lulusan
dalam negeri pun dapat terjerat oleh intel negara lain. Jadi kewaspadaan ini tertuju ke semua
arah. Namun, karena kita menginginkan manfaat maksimal dari pemuda kita yang belajar di
luar negeri, maka hal ini perlu diingatkan secara khusus.
Kita ingin agar mereka yang belajar di luar negeri dan memperoleh kesempatan yang jauh
melebihi pemuda Indonesia lainnya, terangsang untuk menghasilkan prestasi setinggi-
tingginya setelah selesai menempuh pendidikan.
Prestasi tinggi bagi dirinya hendaknya juga menjadi manfaat besar bagi bangsanya. Apakah
mereka memilih menjadi ahli sains, pakar ilmu sosial, usahawan, atau politikus tidak menjadi
soal. Yang penting adalah bahwa kegiatan dan prestasi yang mereka hasilkan langkah demi
langkah membuat bangsa Indonesia maju, sejahtera, dan berwibawa.




                                                                                          15
6. Fungsi seni sebagai sarana pendidikan


      Tentunya dalam dunia pendidikan, seni mempunyai peran yang penting untuk
menunjang perkembangannya. Banyak hal yang dapat diperoleh dengan belajar seni, yaitu
sebagai berikut :
      1. Memberikan        fasilitas   yang      sebesar-besarnya   kepada   anak   didik   untuk
mengemukakan pendapatnya (ekspresi bebas).
      2. Melatih imajinasi anak, ini merupakan konsekuensi logis dalam kegiatan ekspresi
supaya dalam berekpresi seorang anak mempunyai bayangan terlebih dahulu yaitu dengan
latihan imajinasi yang dapat berangkat dari pengamatan maupun hasil rekapitulasi kejadian
yang telah direkam oleh otak.
      3. Memberikan pengalaman estetik dan mampu memberi umpan balik penilaian (kritik
dan saran) terhadap suatu karya seni sesuai dengan mediumnya.
      4. Pembinaan sensitivitas serta rasa pada umumnya, hasil yang diharapkan adalah
terbinanya visi artistik dan fiksi imajinatif.
      5. Mampu memberikan pembinaan keterampilan yaitu dengan membina kemampuan
praktek berkarya seni kerajinan. Hal ini berguna untuk mempersiapkan kemampuan terampil
dan praktis sebagai bekal hidup di kemudian hari.
      6. Mengembangkan kemampuan intelektual, imajinatif, ekspresi, kepekaan kreatif,
keterampilan, dan mengapresiasi terhadap hasil karya seni dan keterampilan dari berbagai
wilayah Nusantara dan mancanegara.
      7. Siswa memiliki pengetahuan, pengalaman dan kemauan keras berkarya dan berolah
seni, serta kepekaan artistik sebagai dasar berekspresi pada budaya bangsa. Tujuan tersebut
pada dasarnya adalah menyiapkan anak untuk berpengetahuan, bercakapan dan
berkemampuan dalam tingkat dasar agar kelak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi.
      8. Menumbuhkembangkan sikap profesional, toleransi, dan kepemimpinan.
      9. Seni sebagai alat pendidikan dalam pendidikan seni bukan semata-mata bertujuan
untuk mendidik anak menjadi seniman melainkan membina anak-anak untuk menjadi kreatif.
Seni merupakan aktifitas permainan, dan melalui permainan kita dapat mendidik anak dan
membina kreatifitasnya sedini mungkin. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seni dapat
digunakan sebagai alat pendidikan.




                                                                                              16
E. Kesimpulan

       Seni merupakan suatu proses proses penggambaran ekspresi diri manusia sehingga
bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan
dan juga sangat sulit untuk dinilai, bahwa masing-masing individu memilih sendiri perarturan
dan parameter yang menuntun dalam mengekpresikan diri.
       Seni mempunyai beberapa fungsi, antara lain fungsi individu dan fungsi sosial. Dalam
fungsi individu, seni berfungsi sebagai pemenuh bebutuhan fisik dan kebutuhan emosional.
Sedangkan dalam fungsi sosial secara khusus seni berfungsi sebagai alat rekreasi, rohani,
komunikasi, pendidikan, artistik bagi seniman, fungsi kesehatan, dan fungsi kegunaan.
       Dalam dunia pendidikan pun seni mempunyai peran yang sangat penting. Seni
berfungsi untuk memberikan fasilitas yang sebesar-besarnya kepada siswa untuk
mengemukakan pendapatnya (ekspresi bebas), melatih imajinasi anak, memberikan
pengalaman estetik dan mampu memberi umpan balik penilaian (kritik dan saran) terhadap
suatu karya seni sesuai dengan mediumnya. Selain itu dengan pembinaan sensitivitas serta
rasa pada anak usia dini, hasil yang diharapkan adalah terbinanya visi artistik dan fiksi
imajinatif serta mampu mengembangkan kemampuan intelektual, imajinatif, ekspresi,
kepekaan kreatif, keterampilan, dan mengapresiasi terhadap hasil karya seni dan keterampilan
dari berbagai wilayah Nusantara dan mancanegara. Dan dengan mempelajari seni, seorang
anak dapat menumbuhkembangkan sikap profesional, toleransi, dan kepemimpinan.




                                                                                              17
                              DAFTAR PUSTAKA




   Shinta Saragih, 11-11-2012, Masa Depan Penikan Seni Rupa di Indonesia,
    http://shinta-desain.blogspot.com/2011/06/masa-depan-pendidikan-seni-rupa,   12:28
    PM


   Anne Ahira, 11-11-2012, Pendidikan Seni di Indonesia,
    http://www.anneahira.com/pendidikan-seni.htm, 12:35 PM


   Paranggirismoko, 11-11-2012, Pendidikan Kesenian: Fungsi Seni,
    http://rumahtugasa209.blogspot.com/2011/10/pendidikan-kesenian-fungsi-seni, 12:39
    PM


   http://sayidiman.suryohadiprojo.com




                                                                                   18

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:62
posted:12/25/2012
language:Unknown
pages:18