SENI RUPA PRASEJARAH

Document Sample
SENI RUPA PRASEJARAH Powered By Docstoc
					SENI RUPA PRASEJARAH
BAB 1 PENDAHULUAN
   A.        Pengertian Sejarah Seni Rupa

             Menurut Kamus Bahasa Indonesia, sejarah berarti:
        1.      Silsilah atau asal-usul
        2.      Kejadian dan peristiwa yang benar-benar telah terjadi pada
                masa lampau
        3.      ilmu, pengeetahuan, cerita, pelajaran tentang kejadian dan
                peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau (
                Anton & Moelyono (ed), 1990: 794)
    Sejarah berasal dari bahasa arab “Sajaratun” yang berarti
                           pohon keturunan

   Seni rupa adalah hasil ekspresi manusia dalam bentuk 2 dan 3
    dimensional. Menggunakan unsur-unsur : garis, bidang, warna,
    tekstur, volume dan ruang.
   Fungsi seni rupa adalah membentuk pribadi manusia sehingga
    beradap tidak lepas dari nilai-nilai ilmu pendidikan, sosial, etis,
    estetis, dan artistik.
   Sejarah seni rupa merupakan rentetan peristiwa terjadinya
    ciptaan seni yang berbentuk 2 dan 3 dimensi dari masa kemasa (
    sudarmo – wiyadi, 1983 :12)
   Sumber Catatan Peristiwa Terjadinya Ciptaan Seni Rupa Terjadi
    Dari :
    1.   Peninggalan Seni Rupa
    2.   Piagam-piagam
    3.   Cerita
    4.   Buku Dari Dalam Dan Luar Negeri
    5.   Media Elektronik Dan Media Massa
    6.   Narasumber Yang Dapat Dipercaya


   Jenis-jenis yang dipelajari dalam Sejarah Seni Rupa :
    1.   Seni Lukis
    2.   Seni Hias
    3.   Seni Kriya
    4.   Seni Bangun
    5.   Seni Tata Kota,Tata Tanam Dan Tata Busana
    6.   Seni Patung
B. Periodisasi
       1. Prasejarah                   3. Seni rupa indonesia Islam
          a.     Seni Lukis               a.   Seni Bangun
          b.     Seni Hias                b.   Seni Kriya
          c.     Seni Kriya               c.   Seni Hias
          d.     Seni Bangun              d.   Seni Kaligrafi Islam
          e.     Seni Patung



       2. Seni Rupa Indonesia Klasik   4. Seni rupa baru indonesia
          a.     Seni Bangun              a.   Masa Perintis Kontemporer
          b.     Seni Patung                   Indoneisa
          c.     Seni Hias                b.   Seni Lukis Hindia Molek
          d.     Seni Kriya               c.   Persagi
          e.     Seni Lukis               d.   Seni Lukis Indoneisa Dalam
                                               Kependudukan Jepang
                                          e.   Sanggar-sanggar
                                          f.   Perkembangan Seni Rupa Moderen
                                               Indonesia
  Karya seni mengalami kelahiran tumbuh kembang karna
    pengaruh dari seni lain. “Klaslik” adalah jika karya seni
 mengalami pencapaian puncak kejayaan dan keanggungannya,
tetapi bisa mengalami masa penurunan atau lenyap tetapi bisa
juga keesenian itu lahir kembali dengan sebutan “Renaissance”
            BAB II PRA SEJARAH
A.    Zaman Batu
             Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan
           terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini
                      diperiodisasi lagi menjadi 3 zaman, antara lain:
      1.    Zaman Batu Tua (Palaeolitic)
            Alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau
     dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya, periode ini disebut masa food
     gathering(mengumpulkan makanan), manusianya masih hidup secara nomaden
     (berpindah-pindah) dan belum tahu bercocok tanam.
   Alat-alat yang dihasilkan antara lain: kapak genggam/perimbas (golongan
   chopper/pemotong), Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa dan Flakes dari
   batu Chalcedon (untuk mengupas makanan)


2. Zaman Batu Tengah (Mesolithic)
         Nomaden dan masih melakukan food gathering (mengumpulkan makanan).
   Tiga bagian penting kebudayaan Mesolithikum: Pebble Culture (kebudayaan kapak),
   Bone Culture (kebudayaan alat tulang) dan Flakes Culture (kebudayaan alat serpih)
         Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni
   masih merupakan alat-alat batu kasar. Alat-alat zaman mesolithikum antara lain:
   Kapak genggam (Pebble), Kapak pendek (hache Courte) Pipisan (batu-batu
   penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah, Ujung mata panah, pipisan,
   kapak persegi dan alat-alat dari tulang
3. Zaman Batu
Muda (Neolithic)

          Ciri utama pada
zaman batu Muda adalah
alat-alat batu buatan
manusia sudah diasah atau
dipolis sehingga halus dan
indah.Alat-alat yang
dihasilkan antara lain:
kapak persegi, kapak batu,
perhiasan dari batu,
pakaian dari kulit kayu dan
tembikar.


   Keterangan gambar : Berbagai peralatan batu zaman Neolitic , berumur sekitar 2700-
    1800BC ditemukan di Essex, Inggris.
B. Zaman Logam

      Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-
      alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Teknik
  pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan
    batu yang disebut ”bivalve” dan dengan cetakan tanah liat
  dan lilin yang disebut ”a cire perdue”. Periode ini juga disebut
  masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan
        undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan.
1. Zaman Perunggu



                                     Pada zaman perunggu ini
                               manusia sudah mampu membuat
                               berbagai peralatan perunggu.
                                     Salah satu kebudayaan yang
                               dikenal paling banyak menciptakan
                               peralatan perunggu berukuran
                               besar adalah Kebudayaan Dongson-
                               Tonkin, Cina (sekarang menjadi
                               negeri Vietnam.
                                     Alat-alat perunggu pada
                               zaman ini antara lain : kapak
                               corong, bejana dan arca perunggu.
                               Sedangkan untuk di Indonesia,
                               peninggalan zaman perunggu yang
                               paling populer mungkin adalah
                               genderang perang dari kebudayaan
Zaman logam ini dibagi atas:   Dong Son, seperti yang tampak
                               pada gambar di samping.
2. Zaman Besi

 Pada zaman ini orang
 sudah dapat
 melebur besi dari bijinya
 untuk dituang menjadi
 alat-alat yang diperlukan.
 Alat-alat besi yang
 dihasilkan antara
 lain: mata kapak
 bertungkai kayu, mata
 pisau, mata sabit, cangkul,
 alat alat pertanian dan
 beragam senjata atau
 peralatan perang seperti
 pedang, keris dll.
Zaman tembaga
C. Corak Peninggalan

Secara umum Soedarso Sp. Menyatakan ada tiga corak seni rupa prasejarah
    Indonesia:
a. Corak Monumental
    Terutama pada corak neolithicum, karya seni rupanya bercirikan:
    Tokoh nenek moyang diujudkan dalam bentuk tiga dimensional secara frontal
    Motif simbolik; kedok, pohon hayat, tanduk kerbau
    Irama garis bersudut-sudut, sederhana, kaku sehingga menimbulka kesan
    monumental
b. Corak Dongson
    Pengaruh dari daerah Tonkin China
    Dekoratif
    Kurang Simbolik
    Motif Hias: tumpal, spiral terdapat pada moko dan nekara
c. Corak Chow Akhir
    Tidak Simetris
    Garis irama (melengkung-lengkung memenuhi semua permukaan)
    Hanya terdapat di Kalimantan
D. Jenis Peninggalan

1. Seni Lukis
seni lukis adalah suatu pengucapan artistik yang situmpahkan dalam bidang
  dua dimensional menggunakan garis dan warna. Pada zaman neolitikum
  nenekmoyang kita telah melukiskan dalam diding gua lukisan cap tangan di
  dinding gua abba, darembang irian jaya, adapula capkaki di gua Altamira dan
  Lukisan Babi hutan dengan garis-garik merah dan terdapat bekas tonjokan
  benda tajam dilehernya. Lukisan-lukisan tersebut diperkirakan berumur
  4000 tahun ( menurut van heekeren). Masyarakat telah mengenal padoman
  dasar macapat sebagai pusatnya ditengah contohnya Di DIY, terdiri lima
  dati II Satu ditengan Kodia Yogyakarta.

Kepercayaan nenek moyang kita cukup fariatif. Pengertia tuhan belulm jelas
  maka timbulah
     1.Animisme : Anima = Roh, batu, pohon, gunung, dianggap mempunyai roh
     2. dinamisme : Dinamis = kekuatan,mempunyai kekuatan gaib, misalnya
                  lukisan, patung
     3. totenisme : totem = binatang atau tumbuhan
     4. Manisme : manes = arwah nenek moyang yang dipuja dengan cara tertentu
2. Seni Hias
  Seni hias di Indonesia sangat diperhatikan guna menambah keindahan. Seni
     hias dilihat dari pemaikaian dan keggunaanya dibedakan menjadi :
  a. Hiasan Pasif          : Hiasan yang berfungsi untuk menambah
                           keindahan. Contoh : hiasan tempel dinding.
  b. Hiasa Aktif           : Hiasan yang berfungsi menambah kekuatan suatu
                           bangunan dan menambah kindahannya. Contoh :
                           tiang figur wanita.
  c.     Hiasan Simbolis : Hiasan yang berfungsi sebagai lambang dan
                  menambah keindahan. Contoh : swastika dan
                  bulan bintang
  d. Hiasan Mekanisn: Berkaitan dengan ilmu pesawan dan ilmu alam.
                           Contoh : penangkal petir berbentuk naga
3. Seni Kriya
a. Gerabah
   Banyak ditemukan pada zaman neolithicum. Pembuatan gerabah masih
   sederhana dengan pola hiasan anyaman, toheran, garis-garis sejajar dan
   lingkaran. Perkembangan selanjutnya, masa perundagian, pola hias
   berkembang dari lingkaran memusat menjadi titik dan lengkungan, pola
   anyaman, tumpal dan tangga maupun meader. Benda ini ditemukan di
   Kandanglembu Banyuwangi, Klapadua Bogor, Serpong Tanggerang, di sekitar
   Danau Bandung, Minangsipaka Sulawesi Selatan, dan juga di bukit pasir
   pantai selatan antara Yogyakarta - Pacitan
b. Benda Perunggu
   Zaman perunggu berlangsung kurang lebih 500 tahun SM.Teknik
   pembuatannya adalah a cire perdue (cetak hilang, hanya sesekali untuk
   mencetak). Contoh di Bali ditemukan cetak nekara dari batu.Yang dicetak
   dengan cetakan batu adalah nekara lilin, sedangkan nekara perunggunya
   dicetak dengan a cire perdue. Di jaman sekarang orang membuat cetakan
   yang dapat dipakai berkali-kali disebut bivalve (dua setangkup). Perunggu
   berasal dari campuran tembaga dengan timah putih yang membuat
   perunggu lebih tahan lama dibanding dengan besi.
Contoh seni kriya logam perunggu:


 1. Kapak corong/ kapak
 sepatu
        Benda semacam ini
 banyak di temukan di Jawa,
 Bali, Sulawesi, Sumsel, Pulau
 Selayar dan di dekat Danau
 Sentani Irian Jaya. Kapak
 corong yang salah satu sisinya
 lebih panjang disebut
 candrasa. Benda ini tidak
 hanya dipakai untuk keperluan
 sehari-hari namun juga sebagai
 tanda/lambang, dan juga
 upacara-upacara.
Kapak Cororng (Candrasa)
2. Nekara
        Nekara adalah sejenis genderang perunggu tertutup bagian sisi
  atasnya, berpinggang tengah dan bertangkai. Benda semacam ini banyak di
  temukan di Jawa, Bali, Sumatra, Pulau Sengean, Pulau Leti, Pulau Roti, Selayar
  dan Kep. Kei. Bentuk-bentuk Nekara sangat bervariatif, ada yg berbentuk
  ramping (Ditemukan di Pulau Alor), lalu ada yg berbentuk tinggi besar (1,86
  meter) nekara ini di temukan di Bali. Nekara dianggap suci dan dipuja
  karena merupakan bagian bulan yang jatuh dari langit. Nekara yang
  ditemukan di Indonesia tidak semua beras al dari daratan Asia, tetapi ada
  pula yang berasal dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan
  cetakan nekara yang terbuat dari batu di desa Manuaba, Bali. Dan cetakan
  tersebut kini disimpan di dalam pure desa tersebut.
3. Seni Kriya Lainya

       kriya zaman perunggu masih banyak jenis yang lain, diantaranya :
  gelang, biggel, anting-anting. kalung, cincin, dan gejana ( jenis kepis
  perunggu).
  Didaerah tepi danau kerinci dan dimadura terdapat perunggu seperti
  Periuk dan Gepeng.
  Dari hasil penyelidikan menunjukan bahwa pusat kebudayaan perunggu
  adalah daerah Tonkin. Mereka itu adalah bangsa Austronesia. Gelombang
  pertama kurang lebih 1000th sebelum masehi
4. Seni Bangun Megalitik


Zaman ini berlangsung bersama dengan zaman neolithikum dan zaman logam.
  Pemujaan nenek moyang sangat diutamakan. Untuk itu perlu lambang
  tertentu, misalnya : gambar, patung, kedok, menher, dolmen, sakofah,
  keranda, punden berundak, kubir batu,mainik-manik, agar dapat
  berkomunikasi dengan roh nenekmoyang.

  a. Menhir
     Serupa dengan tubuh atau tiang batu,
  yang didirikan sebagai peringatan
  dan melambangkan roh nenek moyang
  sehingga menjadi benda pujaan.
b. Dolmen
  Berbentuk seperti meja, batu berkaki menhir berfungsi
  sebagai meja saji untuk memuja roh nenek moyang.




c. Sarkofah/ keranda
 berbentuk seperti palung/ lesung bertutup, berfungsi
 untuk mengubur mayat ( peti ).
d. Punden Berundak
merupakan bangunan pemujaan yang disusun bertingkat yang digunakan untuk
  memuja nenek moyang, menhir/patung diletahan dibagian atas.
  Di bali dietemukan sarkofah-sarkofah bergambar kedok manusia dengan gaya
  kangkang, bahkan sarkofah ambiyansari dengan patahan Vagina yang disetitlir
  pada sisi atas dan bawahnya.
  Di Kallimantan timur juga ditemukan sarkofah dengan hiasan kedok.
  Di jawa Tirmut punden berundak ditemukan sarkofah berhiasan kedok pula.
  Di sumatra banyak terdapat menhir, arca,, dolmen dan peniggalan lainya. Hal ini
  ditemukan oleh Dr.Van Der Hoop Dan Von Heine Gelden.
e. Seni Patung/Arca
    Pada jaman megalitikum ada yang dibuat kelompok dan individu.
 Contohnya: batu gajah adalah sebuah patung berbentuk
 kebulatan seekor gajah dinaiki orang membawa nekara kecil.
 Menurut Van Heine Gelden patung tersebut digolongkan pada hasil
 kebudayaan Megalitikum akhir, dengan ciri dinamis sedangkan gaya
 yang monumentall seperti dolmen Menhir, Sarkofah merupakan gaya
 yang lebih tua. Didaerah poso Sulawesi Tengah ditemukan patung
 pahatan yang kaku monumentan seinggi 4 meter, begitu juga di Besoa
 yang berukuran lebih kecil, patung tersebut oleh penduduk setempat
 sering disebut “TADULAKO’ yang berarti pemimpin.
    Di Bali daerah gel-gel, disimpan arca Menhir dengan Vagina di dadanya
 yang disimpan di Pura Panataran Jero Agung. Banyak peninggalan
 Meggalithik, di Bali yang di keramatkan penduduk setempat sehingga
 dapat dikatan Living Megalithik Tradition . ( I Made Sutaba, 1980:36)
   Batu gajah :




   Arca :
  Di Sumatra selatan banyak ditemukan patung megalithik tersebar di
  Lahat, KarangIndah, tinggihari,Yanjungsirih, tebatsibentur,dll.
Patung inimenggambarkan gajah, harimau, kerbau, monyet dan manusia,
  gajah sebagai kendaraan roh yang meninggal, harimau dianggap
  sebagai lambang kekuatan yang hebat. Muka harimau sering
  digambar sebagai pengusir roh jahat.
Terdapat benda-benda pra sejarah yang lainnya yang menunjukkan adanya fungsi profan
   (kepentingan sehari-hari, tidak suci), misalnya kapak perimbas/ chooper, kapak
   penetak, pahat genggam, dll. Peninggalan tersebut banyak ditemukan di daerah
   Pacitan, Sukabumi, Gombang, Ciamis, Bengkulu, Awalbangkal, Lahat, Cabbebge dan
   Atambua Timor.
Pada zaman Neolithikum, kapak persegi yang dihaluskan dan tampak gurat batu yang
   indah sudah disebut sebagai seni kriya yang bernilai tinggi. Alat lain yang dibuat dari
   tulang binatang, digunakan sebagai sudip / tombak, ditemukan di Ngandong
   Kabupaten Blora, Sidoreja dan Sampung. Ditemukan juga batu asah pada zaman
   Neolithikum, guna mengasah kapak persegi, kapak lonjong dan jenis kapak kecil
   yang lain.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:174
posted:12/25/2012
language:Unknown
pages:29