Fungsi Pengawas Dalam Manajemen Pendidikan

Document Sample
Fungsi Pengawas Dalam Manajemen Pendidikan Powered By Docstoc
					FUNGSI PENGAWAS DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

            DI MI AL-ISLAM KARTASURA




                      Makalah Ini

             Disusun Guna Memenuhi Tugas

       Mata Kuliah : Manajemen Pendidikan Islam
   Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar, MA



                     Disusun Oleh:
                    Umi Salasatun

                  NIM. 26.10.7.3.068




            PROGRAM PASCA SARJANA

         MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
      INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

                    SURAKARTA
                         2011




                                                       1
                              B B

                         E          L


L     B l      g
       Upaya peningkatan kualitas pendidikan sedang gencar-gencarnya
dilakukan oleh pemerintah saat ini. Berbagai usaha mulai dari
pembaharuan kurikulum, perbaikan dari sarana prasarana, pelatihan-
pelatihan guru dan bantuan dana langsung berupa dana Bos ke sekolah-
sekolah. Ini menunjukkan keseriusan-keseriusan pemerintah dalam
meningkatkan kualitas mutu sumber daya manusia Indonesia ke depan.

       Sejalan dengan ini pemerintah telah pula mengesahkan Undang-
                                                              suai
Undang Guru dan Dosen agar guru lebih memperhatikan tugasnya se
dengan yang diamanatkan pemerintah. Guru dituntut memiliki kompetensi
yang memadai sehingga mampu menerapkan profesionalismenya dalam
peningkatan mutu pendidikan ke depan, sebab guru merupakan ujung
tombak kemajuan pendidikan dimasa depan.

       Dalam menjalankan tugas profesinya guru memerlukan agen
pembaharuan yang professional pula sehingga guru tidak tertinggal dari
kemajuan ilmu pengetahuan dan technologi yang berkembang terus. Selain
itu guru juga memerlukan sosok yang dipandang mampu untuk
memecahkan masalah-masalah pokok yang berhubungan dengan pelajaran
dan administrasi sekolah. Tidak hanya guru, dalam organisasi sekolah
Kepala sekolahpun memerlukan pembinaan yang terstruktur agar kualitas
pendidikan di sekolah itu dapat dikendalikan.

       Kepala sekolah beserta guru dalam pengelolaan pendidikan di
sekolah mempunyai misi yang tertuang dalam tujuan pendidikan
sebagaimana dituliskan dalam visi       sekolah. Untuk mencapai tujuan
pendidikan tersebut diperlukan manajemen pendidikan yang mantap.
Dalam manajemen pendidikan telah diatur peran dan fungsi masing-


                                                                     2
    masing fungsi manajemen tersebut antara lain, planning / perencanaan,
    organizing      /      pengorganisasian,      staffing/penyusunan      tenaga,
    controlling/pengawasan dan budgeting / pendanaan.

           Kepengawasan adalah bagian dari fungsi manajemen pendidikan
    yaitu controlling. Kepala sekolah beserta guru dalam melaksanakan
    fungsi-fungsi    manajemennya      memerlukan      control/pengawasan     dari
    pengawas pendidikan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Kepengawasan
    sangat erat hubungannya dengan sekolah-sekolah sebagai tempat
    berlangsungnya         kegiatan/pengelolaan     fungsi-fungsi       manajemen
    pendidikan tersebut dan merupakan bagian dari warga sekolah
    tersebut. ermasalahannya       sekarang,      apakah   peran    dan     fungsi
    kepengawasan dalam meningkatkan mutu pendidikan sebagai bagian dari
    manajemen pendidikan itu sendiri.



B                Masalah
           Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah
    sebagai berikut, bagaimana fungsi pengawas bagi Mi Al-Islam Kartasura?




                                                                                3
                               B B II
                          KAJIAN TE        I

A. Pengertian Pengawas
          Dalam pelaksanaan manajemen pendidikan, terlebih dahulu perlu
   diketahui bidang garapan manajemen pendidikan yang tergambar dari
   fungsi-fungsi manajemen pendidikan itu sendiri. Setiap sikap kegiatan
   dalam proses manajemen pendidikan diarahkan untuk mencapai tujuan
   pendidikan yang tercantum dalam kurikulum. Adanya unsur tujuan ini
   menjadi tugas dan tanggungjawab bersama dari masing-masing fungsi
   manajemen tersebut untuk mencapainya. Semua orang yang terlibat di
   dalamnya mempunyai tanggungjawab dan wewenang, serta hak dan
   kewajiban sesuai dengan kedudukan dan fungsi masing-masing.Fungsi-
   fungsi pokok manajemen pendidikan tersebut adalah:

      a) Perencanaan (Planing)

                 Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi
          setiap kegiatan. Dalam setiap perencanaan ada dua faktor yang
          harus diperhatikan yaitu faktor tujuan dan sarana, baik personel
          maupun faktor material perencanaan adalah aktivitas memikirkan
          dan memilih rangkaian tindakan-tindakan yang tertuju pada
          tercapainya tujuan pendidikan.

      b) Pengorganisasian (Organising)

                 Organisasi adalah aktivitas menyusun dan membentuk
          hitungan-hitungan yang berwujud suatu ketentuan dalam mencapai
          tujuan pendidikan.




                                                                        4
   c) Pengordinasian (Coordinating)

               Koordinasi      adalah    aktivitas     membawa      orang-orang
       material, pikiran-pikiran, teknik-teknik, dan tujuan-tujuan ke dalam
       hubungan yang harmonis dan produktif dalam mencapai tujuan
       pendidikan.

   d) Komunikasi

               Komunikasi dalam setiap bentuknya adalah proses yang
       hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang dalam
       struktur organisasi.

   e) Supervisi / Pengawasan (Controlling)

               Supervisi sebagai fungsi manajemen pendidikan berarti
       aktivitas untuk menentukan kondisi-kondisi/syarat-syarat yang
       esensial     yang    akan     menjamin        tercapainya   tujuan-tujuan
       pendidikan.

   f) Pembiayaan (Budgeting)

               Pembiayaan merupakan, motor penggerak bagi setiap
       organisasi. Kelancaran jalannya suatu organisasi tidak mungkin t
       Penilaian (Evaluating)

   g) Evaluasi adalah aktivitas untuk meneliti dan mengetahui sejauh
       mana pelaksanaan yang dilaksanakan mencapai hasil sesuai dengan
       rencana.

       Dari fungsi-fungsi manajemen pendidikan tersebut yang dibahas
disinidalah kepengawasan / supervisi.

       Tabrani      Rusyani     1997     menyatakan       pengawasan     adalah
pengendalian      yang   dilakukan     dengan    melaksanakan      pemeriksaan,
penilaian   kemampuan,        meningkatkan      dan    menyempurnakan,      baik


                                                                              5
   manajemen maupun bidang operasionalnya.M. Ngalin Purwanto 2004
   mengatakan supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan
   untuk membantu kepala sekolah dan guru dalam melakukan pekerjaan
   mereka secara efektif.

          Burton dalam M. Ngalin Purwanto 2004 menyatakan supervisi
   adalah layanan     yang   mengarahkan perhatian kepada           -dasar
                                                                dasar
   pendidikan dan cara-cara belajar serta perkembangannya dalam mencapai
   tujuan pendidikan.Dari beberapa batasan di atas dapat disimpulkan
   supervisi atau kepengawasan adalah aktivitas layanan yang dilaksanakan
   oleh pengawas berupa pembinaan, pemeriksaan, penilaian yang terencana
   dan berkelanjutan dengan menekankan pada dasar-dasar kependidikan
   dengan cara-cara belajar dan perkembangannya dalam mencapai tujuan
   pendidikan



B. Fungsi Pengawas
          Supervisi / kepengawasan mempunyai peran untuk memotivasi
   guru agar mengemban tugas pokoknya sesuai dengan tuntutan profesinya
   (Djauzah Ahmad, 1996).

          Supervisi / kepengawasan mempunyai peran sebagai pengendali
   keberhasilan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengendali disini
   berupa kepastian pelaksanaan kependidikan, penilaian dan penelaah fakta
   kegiatan, koreksi dan motivasi rencan agar sejalan dengan perubahan yang
   mungkin terjadi, mendukung seluruh efektivitas dalam pelaksanaan
   (H.Tabrani Rusyani, 1997).Supervisi / kepengawasan mempunyai peran
   membangkitkan dan merangsang semangat kepala sekolah dan guru-guru
   dalam menjalankan tugasnya, mencari dan mengembangkan metode baru,
   berusaha mempertinggi mutu pengetahuan / kompetensi guru serta
   membinakerjasama yang baik dan harmonis di antara warga sekolah (M.
   Ngalin Purwanto, 2004)



                                                                         6
       Dari beberapa batasan di atas dapat ditarik kesimpulan peranan
kepengawasan adalah : memotivasi semangat kerja kepala sekolah dan
guru dalam menjalankan tugasnya, meningkatkan kompetensi kepala
sekolah dan guru-guru membina kerjasama yang harmonis serta sebagai
pengendali     keberhasilan      tujuan       yang    telah    ditetapkan   sehingga
meningkatkan mutu pendidikan lebih terjamin.

       Fungsi-fungsi kepengawasan pendidikan yang sangat penting
diketahui adalah sebagai berikut.

   a) Dalam bidang kepemimpinan
       1. Menyusun rencana dan policy bersama
       2. Mengikut sertakan anggota-anggota kelompok (guru-guru,
             pegawai) dalam berbagai kegiatan.
       3. Memberikan bantuan kepada anggota                       kelompok dalam
             menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan.
       4. Membangkitkan dan memupuk semangat kelompok atau
             memupuk moral yang tinggi kepada anggota kelompok.
       5. Mengikut          sertakan    semua        anggota    dalam     menetapkan
             keputusan-keputusan.
       6. Membagi-bagi           dan          mendelegasikan      wewenang       dan
             tanggungjawab kepada anggota kelompok, sesuai dengan
             fungsi-fungsi dan kecakapan masing-masing.
       7. Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.
       8. Menghilangkan rasa malu dan rasa rendah diri pada anggota
             kelompok sehingga mereka berani mengemukakan pendapat
             demi kepentingan bersama.
   b) Dalam hubungan kemanusiaan
       1. Memanfaatkan kekeliruan ataupun kesalahan-kesalahan yang
             dialaminya      untuk     dijadikan      pelajaran    demi     perbaikan
             selanjutnya,     bagi     diri     sendiri   maupun     bagi    anggota
             kelompoknya.


                                                                                   7
   2. Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang
      dihadapi anggota kelompok, seperti dalam hal kemalasan,
      merasa rendah diri, acuh tak acuh, pesimistis dan sebagainya.
   3. Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang
      demokratis.
   4. Memupuk rasa saling menghormati diantara sesama anngota
      kelompok dan sesama manusia.
   5. Menghilangkan        rasa   curiga-mencurigai   antara   anggota
      kelompok.
c) Dalam pembinaan proses kelompok
   1. Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik
      kelemahan maupun kemampuan masing-masing.
   2. Menimbulkan dan memelihara sikap percaya dan mempercayai
      antara sesama anggota maupun antara anggota dengan
      pemimpin.
   3. Memupuk sikap dan kesetiaan tolong-menolong
   4. Memperbesar rasa tanggungjawab para anggota kelompok.
   5. Bertindak bijaksana dalam menyelesaikan pertentangan atau
      perselisihan pendapat diantara anggota kelompok.
   6. Menguasai teknik-teknik memimpin rapat dan pertemuan-
      pertemuan lainnya
d) Dalam administrasi personel
   1. Memilih personel yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan
      yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
   2. Menempatkan personel pada tempat dan tugas yang sesuai
      dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.
   3. Mengusahakan susunan kerja           yang menyenangkan dan
      meningkatkan daya kerja serta hasil maksimal.
e) Dalam bidang evaluasi
   1. Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara
      khusus dan terinci


                                                                      8
          2. Menguasai dan memiliki norma-norma atau ukuran-ukuran
              yang akan digunakan sebagai kreteria penilaian.
          3. Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh
              data yang lengkap, benar, dan dapat diolah menurut norma-
              norma yang ada.
              Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga
              mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk
              mengdakan perbaikan-perbaikan.

          Jika fungsi-fungsi kepengawasan di atas benar-benar dikuasai dan
  dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh setiap pemimpin pendidikan
  termasuk pengawas terhadap para kepala sekolah dan guru-guru, maka
  kelancaran jalannya sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan akan
  lebih terjamin.

C. Peranan dan Fungsi Kepengawasan dalam Pening atan Mutu
  Pendidi an

          Ada    banyak      faktor   yang    menentukan    peningkatan   mutu
  pendidikan. Bukan hanya dana yang memadai, juga pengasuh yang
  mempunyai visi dan misi yang jelas, para guru yang profesional dan
  masyarakat     yang      aktif   berpartisipasi   di   dalam   pengembangan
  pendidikannya turut mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan.
  Peningkatan mutu pendidikan dalam era global bukan hanya menjawab
  tantangan-tantangan internal tetapi juga tantangan-tantangan global.
  Pendidikan yang mengarah pada disintegrasi kesatuan bangsa bukanlah
  pendidikan bermutu. Pendidikan yang bermutu bukan hanya dari aspek
  akademik tetapi juga aspek pengembangan disiplin yang demokratis,
  kritis, dan produktif.

          Peranan kepengawasan hendaknya menuju pada hal-hal seperti di
  atas. M. Ngalin Purwanto, 2004 mengatakan pengembangan minat dan
  sikap profesional itu hendaknya merupakan bagian integral dari program


                                                                            9
   kepengawasan yang dilakukan oleh pengawas. Dengan dasar ini dipastikan
   peningkatan mutu pendidikan lebih terarah dan lebih mudah dicapai.
   Sebaliknya apabila kepengawasan belum mampu menyentuh kepala
   sekolah dan guru, tak ubahnya kualitas/mutu pendidikan jalan ditempat
   bahkan menurun seiring dengan patahnya semangat guru dan beratnya
   beban ekonomi.

          Dari uraian di atas dapat dilihat peranan dan fungsi kepengawasan
   dalam peningkatan mutu pendidikan ke depan adalah sebagai pembangkit
   motivasi dan semangat kepala sekolah dan guru, mendorong serta
   mengarahkan terciptanya kepuasan kerja, karena semua itu mempengaruhi
   kualitas pekerjaan seseorang dan akhirnya tertuju pada satu tujuan yaitu
   peningkatan mutu pendidikan.

D. Manajemen lembaga Islam dan Impli asinya
          Manajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan
   lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber-
   sumber belajar dan hal-hal lainyang berkaitan untuk mencapai pendidikan
   Islam secara efektif dan efisien. Makna definitive ini selanjutnya
   mempunyai implikasi-implikasi yang saling terkait dan membentuk satu
   kesatuan system dalam manajemen pendidikan Islam, dan berikut ini
   penjabarannya.

          Pertama, proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara
   Islami. Aspek ini menghendaki adanya muatan-muatan nilai Islami dalam
   proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam, misalnya penekanan pada
   penghargaan,     maslahat,   kualitas,   kemajuan   dan    pemberdayaan.
   Selanjutnya upaya pengelolaan ini diupayakan bersandar pada pesan-pesan
   Al-Qur¶an dan Hadits agar selalu dapat menjaga sifat Islami.

          Kedua, terhadap lembaga pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan
   objek dari manajemen ini yang secara khusus diarahkan untuk menangani
   pendidikan Islam dengan segala keunikannya. Maka manajemen ini bisa


                                                                        10
memaparkan cara-cara pengelolaan manajemen Madrasah, Sekolah,
pondok pesantren, perguruan tinggi dll.

       Ketiga, proses pengelolaan pendidikan Islam secara Islami
menghendaki adanya sifat inklusif dan ekseklusif. Frase secara islami
menunjukkan sifat inklusif, yang artinya kaidah-kaidah manajerial bisa
dipakai untuk pengelolaan pendidikan selain pendidikan Islam selama ada
kesesuaian sifat dan misinya. Dan sebalikanya kaidah-kaidah manajemen
pendidikan secara umum bisa juga dipakai dalam mengelola pendidikan
Islam sesuai dengan nilai-nilai Islam, realitas, dan kultur yang dihadapi
lembaga pendidikan Islam. Kemudian frase Lembaga Pendidikan Islam
menunjukkan keadaan ekslusif karena menjadi objek langsung, hanya
terfokus pada lembaga pendidikan Islam. Sedangkan lembaga pendidikan
lainnya telah dibahas secara detail dalam buku-buku manajemen
pendidikan.

       Keempat, dengan cara menyiasati, frase ini mengandung strategi
yang menjadi salah satu pembeda antara administrasi dengan manajemen.
Manajemen penuh siasat atau strategi yang diarahkan untuk mencapai
suatu tujuan. Demikian pula dengan manajemen pendidikan Islam yang
senantiasa diwujudkan melelui strategi tertentu. Adakalanya strategi
tersebut   sesuai dengan strategi dalam mengelola lembaga pendidikan
umum, tetapi bisa jadi berbeda sama sekali lantaran adanya situasi khusus
yang dihadapi lembaga pendidikan Islam.

       Kelima, sumber-sumber belajar dan hal-hal yang terkait. Sumber-
sumber belajar disini memiliki cakupan yang luas, yaitu:

       1. Manusia, yang meliputi guru, ustd, dosen, siswa, santri,
           mahasiswa.
       2. Bahan, yang meliputi perpustakaan, buku paket ajar, dll.
       3. Lingkungan, merupakan segala hal yang mengarah pada
           masyarakat.


                                                                      11
         4. Alat dan peralatan, seperti laboratorium.
         5. Aktivitas.

         Adapun hal-hal yang terkaitbisa berupa keadaan sosio-politik,
sosio-kultur, sosio-ekonomi, maupun sosio-religius yang dihadapi oleh
lembaga pendidikan Islam.

         Keenam, tujuan pendidikan Islam. Hal ini merupakan arah dari
seluruh program pengelolaan lembaga pendidikan Islam sehingga tujuan
itu   sangat    mempengaruhi      komponen-komponen      lainnya,     bahkan
mengendalikannya.

         Ketujuh, efektif dan efisien. Maksudnya, berhasil guna dan berdaya
guna. Artinya manajemen yang berhasil mencapai tujuan dengan
penghemat tenaga, waktu, dan biaya. Efektifitas dan efisien ini merupakan
penjelasan     terhadap   komponen-komponen.       Sebelumnya       sekaligus
mengandung makna penyempurnaan dalam proses pencapaian tujuan
pendidikan Islam. (Mujamil, Qomar.2007 : 10-12)

         Berbicara tentang manajemen lembaga pendidikan Islam tidak
terlepas dari unsur-unsur yang membentuk budaya lembaga itu sendiri.
Salah satunya adalah lingkungan sekolah yang terdiri atas lingkungan
internal sekolah, misalnya tempat belajar dan mengajar, dan peran penting
dari keberadaan para pendidik dan anak didik atau ada guru dan murid,
para karyawan sekolah, alat-alat dan fasilitas sekolah, perpustakaan dan
aktivitas pembelajaran. Semua itu terlibat langsung dalam susunan
interaktif yang membentuk lembaga pendidikan. Adapun lembaga
pendidikan yang bersifat eksternal adalah keberadaannya diluar lembaga,
misalnya lingkungan masyarakat, hubungan struktural sekolah dengan
pemerintah dan interaksi pihak lembaga dengan keluarga seluruh anak
didik.

         Dalam lingkungan lembaga pendidikan seperti Sekolah/Madrasah,
perbedaan individual anak didik perlu mendapat perhatian guru,

                                                                          12
sehubungan dengan pengelolaan pengajaran agar proses belajar mengajar
berjalan secara kondusif. Pengembangan manajemen lembaga pendidikan
Islam bermula dari kondisi lingkungan Sekolah/Madrasah yang berkaitan
dengan masyarakat. Hubungan yang sosiatif antara keduanya dimulai
dengan beberapa harapan, yaitu sebagai berikut:

       1. Pendidikan tentang lingkungan yang bersih, yaitu bersih dalam
          perilaku negative. Oleh karena itu, perlu dipelajari dan
          diamalkan semua yang berkaitan dengan pendidikan akhlaq dan
          budi pekerti yang baik menurut agama, undang-undang dan
          norma-norma yang berlaku di masyarakat.
       2. Pendidikan tentang dakwah yang menyemarakkan lingkungan
          masyarakat dengan berbagai kegiatan positif dan dijunjung
          tinggi oleh nilai-nilai keagamaan.
       3. Pendidikan tentang sangsi social yang merusak nama baik
          lingkungan social-religiusnya. Sangsi social di berlakukan
          dengan tetap mempertahankan keselarasan dengan hokum yang
          berlaku dan nilai-nilai keagamaan.




                                                                    13
                                    BAB III
                         RE     LASI MENEJERIAL

       Eksistensi pengawas sekolah dinaungi oleh sejumlah dasar hukum.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 adalah landasan hukum yang terbaru yang
menegaskan keberadaan pejabat fungsional itu. Selain itu, Keputusan Menteri
Pendayagunaan aparatur Negara Nomor 118 Tahun 1996 (disempurnakan dengan
keputusan nomor 091/2001) dan Keputuan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 020/U/1998 (disempurnakan dengan keputusan nomor 097/U/2001)
merupakan menetapan pengawas sebagai pejabat fungsional yang permanen
sampai saat ini. Jika ditilik sejumlah peraturan dan perundang-undangan yang ada,
yang terkait dengan pendidikan, ternyata secara hukum pengawas sekolah tidak
diragukan lagi keberadaannya. Dengan demikian, tidak ada alasan apapun dan
oleh siapapun yang memarjinalkan dan mengecilkan eksistensi pengawas
sekolah.

       Menurut undang-undang dan peraturan yang berlaku, keberadaan
pengawas sekolah jelas dan tegas. Dengan demikian bukan berarti pengawas
sekolah terbebas dari berbagai masalah. Ternyata institusi pengawas sekolah
semakin bermasalah setelah terjadinya desentralisasi penangan pendidikan.
Institusi ini sering dijadiakn sebagai tempat pembuangan, tempat parkir, dan
tempat menimbun sejumlah aparatur yang tidak terpakai lagi (kasarnya: pejabat
rongsokan). Selain itu, pengawas sekolah belum difungsikan secara optimal oleh
manajemen pendidikan di kabupaten dan kota. Hal yang paling mengenaskan
adalah tidak tercantumnya anggaran untuk pengawas sekolah dalam anggaran
belanja daerah (kabupaten/kota). Sekurang-kurangnya fenomena itu masih terlihat
sampai sekarang.

       Penodaan terhadap institusi pengawas sekolah dan belum difungsikannya
para pengawas sekolah secara optimal bak lingkaran yang tidak berujung
berpangkal. Lingkaran itu susah dicari awalnya dan sulit ditemukan akhirnya.


                                                                              14
Tidak ada ujung dan tidak ada pangkal. Akan tetapi, jika dimasuki lebih dalam,
inti permasalahannya dapat ditemukan. Institusi pengawas sekolah adalah institusi
yang sah. Keabsahannya itu diatur oleh ketentuan yang berlaku. Seyogyanya,
aturan-aturan itu tidak boleh dilanggar oleh manajemen atau birokrasi yang
mengurus pengawas sekolah. Aturan itu ternyata sangat lengkap. Mulai dari
aturan merekrut calon pengawas,         sampai kepada     memberdayakan dan
menfugsikan pengawas sekolah untuk operasional pendidikan, ternyata sudah ada
aturannya. Pelecehan atau pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ada itulah
yang merupakan titik pangkal permasalahan pengawas sekolah sebagai institusi di
dalam sistem pendidikan.




                                                                              15
                                BAB IV
                              ANALISIS


 Bagaimana Fungsi Pengawas Bagi Manajemen lembaga Di Mi Al
  Islam Kartasura
           Peningkatan mutu pendidikan telah menjadi komitmen Departemen
  Pendidikan Nasional yang ditunjukkan dengan dibentuknya Direktorat
  Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK).
  Ada beberapa direktorat di lingkungan Ditjen PMPTK, satu di antaranya
  adalah    Direktorat Tenaga     Kependidikan.   Direktorat   ini   bertugas
  meningkatkan mutu tenaga kependidikan yang terdiri atas: (1) tenaga
  pengawas satuan pendidikan, (2) kepala sekolah/madrasah, (3) tenaga
  administrasi sekolah/madrasah, (4) tenaga laboratorium laboran/teknisi,
  dan (5) tenaga perpustakaan sekolah/madrasah.

           Salah satu tenaga kependidikan yang dinilai strategik dan penting
  untuk      meningkatkan     kinerja    sekolah/madrasah      dan    kepala
                                                                -
  sekolah/madrasah adalah tenaga pengawas sekolah/madrasah. Usaha
  usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu tenaga pengawas
  sekolah/madrasah antara lain adalah penyempurnaan sejumlah unsur mulai
  dari rumusan konsep dasar pengawasan, peranan dan fungsi pengawas,
  kompetensi kualifikasi dan sertifikasi, rekrutmen dan seleksi, penilaian
  kinerja, pengembangan karir, pendidikan dan pelatihan, penghargaan dan
  perlindungan sampai pada pemberhentian dan pensiun. Mengingat
  banyaknya unsur-unsur yang harus ditingkatkan pembinaannya dan
  dibahas, maka pada kesempatan ini pembahasan dibatasi pada peranan dan
  fungsi pengawas sekolah/madrasah saja.

           Masalahnya adalah pengawas sekolah/madrasah selama ini masih
  banyak yang belum mengetahui dan memahami peranan yang harus
  dimainkannya serta fungsi yang diembannya. Terlebih-lebih melaksanakan
  peranan dan fungsi tersebut.Permasalahan ini muncul karena sejak


                                                                          16
diberlakukannya otonomi daerah, banyak bupati/walikota mengangkat
pengawas sekolah bukan berasal dari guru dan atau kepala sekolah. Ada
pengawas sekolah yang diangkat dari mantan pejabat atau staf dinas
dengan maksud untuk memperpanjang masa pensiunnya, pada hal mereka
belum pernah menjadi guru atau kepala sekolah. Bahkan ada pula yang
diangkat sebagai balas budi ³tim sukses´ bupati/walikota terpilih.
Ironisnya, setelah mereka dilantik sebagai pengawas sekolah, mereka tidak
pernah mendapatkan pelatihan pengawas sekolah. Pengangkatan dengan
cara tersebut sebenarnya bertentangan dengan pendapat Wiles & Bondi
(2007) yang menyatakan: Selection criteria for supervisors, based on their
training and experience. Experience:

a. Minimum of two years of classroom teaching experience.
b. Minimum of one year of leadership experience (such as principal).
c. Cerification as a teacher.

       Tetapi, yang lebih parah lagi adalah pengangkatan tersebut di atas
telah melanggar Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 39 yang berbunyi:
(2) Kriteria minimal untuk menjadi pengawas satuan pendidikan meliputi:

a. Berstatus sebagai guru sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun atau
   kepala sekolah sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun pada jenjang
   pendidikan yang sesuai dengan satuan pendidikan yang diawasi,
b. Memiliki sertifikat pendidikan fungsional sebagai pengawas satuan
   pendidikan,
c. Lulus seleksi sebagai pengawas satuan pendidikan.

       Penulisan ini bertujuan untuk memberikan sumbangan konsep dan
teori tentang peranan dan fungsi pengawas sekolah/madrasah bagi para
pengawas sekolah/madrasah. Harapannya adalah agar para pengawas
sekolah/madrasah semakin bertambah pengetahuan dan pemahaman



                                                                       17
       tentang peranan yang harus dimainkan dan fungsi yang diembannya serta
       yang lebih penting lagi mereka mampu mempraktikannya dengan baik di
       tempat tugasnya masing-masing.

PERANAN PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

       Peranan menurut Getzels (1967), ³That roles are defined in terms of role
expectations-the normative rights and duties that define within limits what a
person should or should not do under various circumtances while he is the
incumbent a particular role within an intitution.´ Dari pendapat Getzels tersebut,
maka perananperanan dapat didefinisikan dalam terminologi harapan-harapan
peranan yang bersifat kebenaran normatif dan menetapkan batasan-batasan
kewajiban-kewajiban apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh
dilakukan seseorang secara khusus di dalam suatu organisasi. Oleh sebab itu,
setiap kita berbicara tentang peranan seseorang di dalam suatu organisasi
termasuk juga organisasi sekolah/madrasah tentunya, selalu berupa peranan-
peranan yang normatif atau yang ideal-ideal saja.

       Peranan adalah aspek dinamis yang melekat pada posisi atau status
seseorang di dalam suatu organisasi seperti yang dinyatakan oleh Lipham & Hoeh
(1974), ³We indicate that a role is a dynamis aspect of a position, office, or status
in institution.´.Karena peranan bersifat dinamis, maka ia berkembang terus sesuai
dengan tuntutan kebutuhan organisasi.

       Peranan pengawas sekolah/madrasah menurut Wiles & Bondi (2007),
³The role of the supervisor is to help teachers and other education leaders
understand issues and make wise decisions affecting student education.´ Bertitik
tolak dari pendapat Wiles & Bondi tersebut, maka peranan pengawas
sekolah/madrasah     adalah   membantu      guru-guru   dan    pemimpin-pemimpin
pendidikan untuk memahami isu-isu dan membuat keputusan yang bijak yang
mempengaruhi pendidikan siswa. Untuk membantu guru dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya serta meningkatkan prestasi belajar siswa, maka



                                                                                  18
peranan umum pengawas sekolah/madrasah adalah sebagai: (1) observer
(pemantau), (2) supervisor (penyelia), (3) evaluator (pengevaluasi) pelaporan, dan
(4) successor (penindak lanjut hasil pengawasan). Apa saja yang dilakukan setiap
peranan akan dibahas pada subbab fungsi pengawas sekolah/madrasah di bawah
ini.

         Dalam praktiknya, orang sering menyamakan antara arti pengevaluasian
dengan penilaian. Pada hal, arti pengevaluasian berbeda dengan penilaian.
Pengevaluasian pendidikan ialah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan
penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap
jalur,   jenjang,dan jenis    pendidikan sebagai bentuk         pertanggungjawaban
penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan penilaian ialah proses pengumpulan dan
pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa.

         Peranan sebagai penyelia adalah melaksanakan supervisi. Supervisi
meliputi: (1) supervisi akademik, dan (2) supervisi manajerial. Kedua supervisi ini
harus    dilakukan   secara    teratur   dan     berkesinambungan   oleh   pengawas
sekolah/madrasah.

         Sasaran supervisi akademik antara lain adalah untuk membantu guru
dalam hal: (a) merencanakan kegiatan pembelajaran dan atau bimbingan, (b)
melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan, (c) menilai proses dan hasil
pembelajaran/bimbingan, (d) memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan
layanan pembelajaran/bimbingan, (e) memberikan umpan balik secara tepat dan
teratur dan terus menerus pada peserta didik, (f) melayani peserta didik yang
mengalami kesulitan belajar, (g) memberikan bimbingan belajar pada peserta
didik,(h)    menciptakan      lingkungan       belajar   yang   menyenangkan,   (i)
mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran dan atau
bimbingan, (j) memanfaatkan sumber-sumber belajar, (k) mengembangkan
interaksi pembelajaran/bimbingan (metode, strategi, teknik, model, pendekatan
dan sebagainya) yang tepat dan berdaya guna, (l) melakukan penelitian praktis




                                                                                19
bagi perbaikan pembelajaran/bimbingan, dan (m) mengembangkan inovasi
pembelajaran/bimbingan.




                                                                 20
                        DAFTAR PUSTAKA

 Anonim 2003 PRRI No.20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
   Nasional, Jakarta Depdiknas
 Djauzal H. Achmad 1993. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di
   Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud
 Purwanto     M.      Ngalin.   2004.     Administrasi    dan    Supervisi
   Pendidikan.Bandung; PT. Remaja Rosdakarya
 Rusyam Tabrani R. 1997 Manajemen Pendidikan. Bandung; Media
   Pustaka
 Tilaar H.A.R. 2001 Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung PT.
   Remaja Rosdakarya
 Staf   Tenaga     Kependidikan.      2006.   Laporan    Rapat   Kordinasi
   Pengembangan Kebijakan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Direktorat
   Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan
   Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.




                                                                        21

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:33
posted:12/24/2012
language:
pages:21