Docstoc

DAMPAK LAJU INFLASI TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2006-2011 - Tony S. Chendrawan, ST.,SE.,M.Si

Document Sample
DAMPAK LAJU INFLASI TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2006-2011 - Tony S. Chendrawan, ST.,SE.,M.Si Powered By Docstoc
					                       DAMPAK LAJU INFLASI TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN
                           DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2006-2011

                                                        Oleh :

Rudy Suwardi                        (1111084000009),             No hp : 089646460083
Mohammad Lukman Hakim               (1111084000005),             No hp : 087873257733

                                                   Mata Kuliah :
                                              Perekonomian Indonesia

                                                     Dosen:
                                         Tony S. Chendrawan, ST.,SE.,M.Si

                                  Jurusan Ilmu Ekonomi dan Study Pembangunan
                                            Fakultas Ekonomi dan Bisnis
                                              UIN Syarif Hidayatullah
                                                      Jakarta

ABSTRACT

Inflation is an economic situation in which the level of prices and the general costs continue to rise and this
problem-the government continues to receive attention. Government's long-term goal is to keep the inflation rate in
force are at very low levels. Many of the effects caused by the presence of inflation, one of which is poverty which is
a condition in which the human or the dapak not meet basic needs. In this study, the authors focused on the issue of
inflation and poorness in Central Java, when connected between inflation and poorness was very influential one
another, inflation is a situation where the level of prices and general expenses rose and if the entire price of basic
commodities also rise, power purchasing of goods of basic needs is also reduced because the income is also affected
by factors and this will impact on the level of poorness is high.

Keyword : inflation and poorness


                     BAB I                                       negara yang sedang berkembang lainnya, masalah
                 PENDAHULUAN                                     inflasi di Indonesia lebih pada masalah inflasi jangka
1.1 Fenomena                                                     panjang.
         Inflasi     merupakan      suatu     keadaan            Di jawa tengah Inflasi terjadi terutama disebabkan
perekonomian dimana tingkat harga dan biaya-biaya                karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh
umum naik ; misalnya naiknya harga beras, harga                  kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan 0,31
bahan bakar, harga mobil, upah tenaga kerja, harga               persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan
tanah, sewa barang-barang modal. Di dunia inflasi                tembakau 0,70 persen, kelompok perumahan, air,
merupakan tolak ukur perekonomian suatu Negara                   listrik, gas dan bahan bakar 0,27 persen, kelompok
apakah perekonomian suatu Negara tersebut baik                   kesehatan      0,13 persen serta kelompok    transpor,
atau buruk. Seperti halnya di Kolkata, India, jutaan             komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,71 persen.
pekerja pada sektor penerbangan dan kereta api                   Sedangkan penurunan indeks terjadi pada
mogok karena tingkat inflasi yang tinggi dan                     kelompok sandang sebesar         0,14   persen     dan
menganggap pemerintah tidak memperhatikan nasib                  kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar
pekerja karena kebijakannya yang tidak memihak                   0,06 persen. Dan jika dilihat dari enam ibukota
pekerja. Inflasi di india mencapai 21,44 %, tertinggi            provinsi di Pulau Jawa, Semarang, Jawa Tengah
selama 13 tahun terakhir, itu dipicu tingginya harga             mempunyai inflasi yang sangat tinggi jika di
buah-buahan, minyak, serta barang manufaktur.                    bandingkan dengan bagian provinsi lainnya yaitu
Pekerja harus berjuang keras memenuhi kebutuhan,                 sebesar 0,36 persen. Berikut ini adalah data laju
sedangkan gaji tidak naik. Inflasi di Indonesia bukan            inflasi di Indonesia dan Jawa Tengah :
merupakan suatu fenomena jangka pendek saja dan
terjadi berdasarkan kondisi-kondisi tertentu, tetapi
seperti halnya yang umum terjadi pada Negara-
  Data Laju Inflasi di Indonesia dan Jawa Tengah
                 Tahun 2006-2011                                      Persentase Penduduk Miskin
                                                                di Provinsi Jawa Tengah menurut Daerah
                           Laju Inflasi                                    Tahun 2006 – 2011
  Tahun
               Indonesia          Jawa Tengah                        Persentase PendudukMiskin
                                                             Tahun
  2006         6,60          6,50                                    Kota    Desa    Kota+Desa
  2007         6,59          6,24                            (1)     (5)     (6)     (7)
  2008         11,06         9,55                            2006    17,24   23,57   20,49
  2009         2,78          3,32                            2007    18,90   25,28   22,19
  2010         6,96          6,88                            2008    17,23   23,45   20,43
  2011         3,79          2,68                            2009    16,34   21,96   19,23
Sumber : data BPS Republik Indonesia dan BPS                 2010    15,41   19,89   17,72
provinsi Jawa Tengah                                         2011    14,33   18,66   16,56

          Kemiskinan merupakan keadaan dimana
                                                       Sumber : Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi
manusia atau penduduk tidak dapat memenuhi
                                                       Nasional (Susenas) Panel Maret 2010 dan Maret
kebutuhan pokok (Junaiddin Zakaria:2009) dan
                                                       2011
keadaan seperti ini banyak terdapat di Negara-negara
berkembang salah satunya adalah Indonesia,
                                                       Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2006-2011
kemiskinan di Indonesia sudah menjadi hal yang
                                                       (%)
harus menjadi perhatian khusus pemerintah dan harus
                                                       Tahun      Kemiskinan
segera dibenahi. Jika dibandingkan dengan Negara-
                                                       2006       17,8
negara ASEAN, tingkat kemiskinan di Indonesia
hanya lebih rendah jika dibandingkan dengan Negara     2007       16,6
Laos.                                                  2008       15,4
          Di Provinsi Jawa Tengah angka kemiskinan     2009       14,2
mengalami penurunan yang sangat signifikan dan         2010       13,33
kontinyu, seperti halnya pada bulan maret 2011         2011       12,49
jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah         Sumber : World Bank (2012)
sebesar 5,107 juta orang (15,76 persen).
Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Bulan         1.2 Identifikasi
Maret 2010 yang berjumlah 5,369 juta orang (16,56            Bagaimana gambaran tentang inflasi di
persen), berarti jumlah penduduk miskin turun                   Provinsi Jawa Tengah ?
sebesar 261,80 ribu orang. Penurunan jumlah dan              Bagaimana gambaran tentang kemiskinan di
persentase penduduk miskin.                                     Provinsi Jawa Tengah ?
          Penurunan jumlah dan persentase penduduk           Bagaimana pengaruh laju inflasi terhadap
miskin selama Maret 2010 – Maret 2011 terjadi                   kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah ?
karena pada Bulan Februari 2011 memasuki periode
panen raya. Kondisi ini juga turut didukung karena     1.3 Tujuan
adanya penurunan harga Bahan Bakar Minyak                   Untuk menggambarkan tentang laju inflasi
sebanyak 3 kali (tanggal 1 Desember 2008, 15                   di Provinsi Jawa Tengah.
Desember 2008 dan 15 Januari 2009) meskipun harga           Untuk menggambarkan tentang tingkat
Bahan Bakar Minyak mengalami kenaikan pada 24                  kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah.
Mei 2008 dan juga karena di dukung oleh tingkat             Untuk menggambarkan pengaruh laju inflasi
inflasi yang mengalami penurunan, ini menunjukkan              terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi
bahwa tingkat inflasi pada suatu daerah sangat                 Jawa Tengah
mempengaruhi tingkat kemiskinan pada daerah
tersebut. Dari kasus ini dapat disimpulkan apabila
tingkat inflasi tinggi maka angka kemiskinan juga
akan melambung tinggi, sebaliknya jika tingkat
inflasi rendah maka angka kemiskinan juga akan
rendah karena kestabilan harga mempengaruhi
kemampuan daya beli masyarakat.
                    BAB II                              struktur sosial, dan yang satu teori mengenai budaya
                STUDI PUSTAKA                           miskin.
                                                                  Menurutnya Teori yang memfokuskan pada
2.1 Teori-teori                                         tingkah laku individu merupakan teori tentang
2.1.1 Teori Tentang Inflasi                             pilihan, harapan, sikap, motivasi dan capital manusia
          Masalah inflasi adalah masalah yang terus-    (human capital). Teori ini disajikan dalam teori
menerus mendapat perhatian pemerintah. Adapun           ekonomi neo-klasik, yang berasumsi bahwa manusia
yang menjadi tujuan jangka panjang pemerintah           bebas mengambil keputusan untuk dirinya sendiri
adalah menjaga agar tingkat inflasi yang berlaku pada   dengan tersedianya pilihan-pilihan. Perspektif ini
tingkat yang sangat rendah. (Sukirno:2006) Teori        sejalan dengan teori sosiologi fungsionalis, bahwa
inflasi selalu dihubungkan dengan jumlah uang yang      ketidak setaraan itu tidak dapat dihindari dan
beredar. Beberapa teori mengenai jumlah uang            diinginkan adalah keniscayaan dan penting bagi
beredar antara lain:                                    masyarakat secara keseluruhan. Terori perilaku
Teori Kuantitas                                         individu meyakini bahwa sikap individu yang tidak
Menurut teori ini, inflasi disebabkan oleh jumlah       produktif telah mengakibatkan lahirnya kemiskinan.
uang beredar dan psikologi (harapan) masyarakat         Teori Struktural yang bertolak belakang dengan teori
mengenai kenaikan harga di masa datang.                 perilaku memandang bahwa hambatan-hambatan
                                                        struktural yang sistematik telah menciptakan
      Teori Keynes                                     ketidaksamaan        dalam       kesempatan,       dan
Menurut Keynes, inflasi terjadi karena masyarakat       berkelanjutannya penindasan terhadap kelompok
ingin hidup di luar batas kemampuannya (secara          miskin oleh kelompok kapitalis. Variasi teori
ekonomis). Terjadi perubahan rezeki diantara            struktural ini terfokus pada topik seperti ras, gender
kelompok-kelompok social dalam masyarakat.              atau ketidak sinambungan geografis dalam kaitannya
Masing-masing kelompok menginginkan bagian yang         atau dalam ketidakterkaitannya dengan ras.
lebih besar dari pada kelompok yang lain. Proses                  Teori budaya miskin yang dikembangkan
perebutan ini menyebabkan permintaan masyarakat         oleh Oscar Lewis dan Edward Banfield ini
terhadap barang-barang selalu melebihi jumlah           mengatakan bahwa gambaran budaya kelompok kelas
barang-barang yang tersedia.                            bawah, khususnya pada orientasi untuk masa
                                                        sekarang dan tidak adanya penundaan atas kepuasan,
       Teori Strukturalis                              mengekalkan kemiskinan di kalangan mereka dari
Teori ini memberikan tekanan pada kekuatan dari         satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut
struktur perekonomian seperti yang terjadi di Negara-   Michael Sherraden bahwa dalam berbagai bentuk,
negara berkembang. Ada kekuatan utama dalam             teori budaya miskin ini berakar pada politik sayap
perekonomian perekonomian Negara-negara sedang          kiri (Lewis) dan politik sayap kanan (Banfield). Dari
berkembang yang bias menimbulkan inflasi kekuatan       sayap kiri, perspektif ini dikenal sebagai situasi
ini terdiri dari:                                       miskin, yang mengindikasikan bahwa adanya
Ketidakelastisan dari penerimaan ekspor, yaitu nilai    disfungsi tingkah laku ternyata merupakan adaptasi
ekspor tumbuh secara lamban dibandingkan dengan         fungsional terhadap keadaan-keadaan yang sulit
pertumbuhan sektor lain.                                (Michael Sherraden : 2006, Parsudi Suparlan : 1995).
Ketidakelastisan penawaran atau produksi bahan          Dengan kata lain kelompok sayap kiri cenderung
makanan yang tumbuh tidak secepat pertambahan           melihat budaya miskin sebagai sebuah akibat dari
penduduk dan penghasilan perkapita sehingga harga       struktur social. Sebaliknya kelompok sayap kanan
bahan makanan naik melebihi kenaikan harga barang       melihat tingkah laku dan budaya masyarakat kelas
lain. (Sukardi:2009)                                    bawah yang mengakibatkan mereka menempati
                                                        posisi di bawah dalam struktur sosial.
2.1.2 Teori Tentang Kemiskinan
       Kemiskinan adalah konsep yang abstrak yang
dapat dijelaskan secara berbeda tergantung dari         2.1.3 Teori Tentang Hubungan Inflasi dan
pengalaman, perspektif, sudut pandang atau ideologi           Kemiskinan
yang dianut (Darwin, 2005). Ada banyak teori                  Menurut teori Keynes inflasi terjadi karena
tentang kemiskinan, namun menurut Michael               suatu masyarakat ingin hidup diluar batas
Sherraden (2006:46-54) dapat dikelompokkan ke           kemampuan ekonominya. Dengan kata lain proses
dalam dua kategori yang saling bertentangan dan satu
                                                        perebutan bagian rezeki diantara kelompok-
kelompok teori yang tidak memihak (middle ground),
yaitu teori yang memfokuskan pada tingkah laku          kelompok sosial yang menginginkan bagian yang
individu (behavioral), teori yang mengarah pada         lebih besar daripada yang dapat disediakan
masyarakat sehingga proses perebutan ini akhirnya       2.2 Kerangka Berpikir
diterjemahkan menjadi keadaan dimana permintaan         Kerangka berpikir berbeda dengan sekumpulan
masyarakat akan barang-barang selalu melebihi           informasi atau hanya sekedar sebuah pemahaman.
                                                        Lebih dari itu kerangka berpikir adalah sebuah
jumlah barang-barang yang tersedia (inflationary
                                                        pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman
gap).                                                   yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling
Kemiskinan merupakan masalah ekonomi global             mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran
paling mendesak saat ini,terutama di negara-negara      selanjutnya. Kerangka berpikir penelitian yang
berkembang. Di Indonesia, jumlah orang miskin           sedang dipahami pada Pengaruh Laju Inflasi
tidak banyak berkurang dalam tiga puluh tahun           Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Jawa
terakhir, dari sekitar 50 juta jiwa di tahun 1976       Tengah Tahun 2006-2011 adalah sebagai berikut:
menjadi 40 jiwa di tahun 2006. Dalam kurun waktu
yang panjang teresebut, jelas sekali bahwa                 INFLASI            HARGA             KEMISKINAN
pengentasan kemiskinan belum mencapai hasil yang
diharapkan. Kondisi kemiskinan ini diperburuk
dengan adanya peningkatan ketimpangan pendapatan,
paling tidak sejak 2002, saat Indonesia mulai                  PEREKONOMIAN                 PEMERINTAH
mencoba menggeliat keluar dari krisis. Akselerasi              JAWA TENGAH                  PROVINSI
pembangunan pasca krisis dipandang belum
menyentuh golongan bawah. Oleh karena itu tak
pelak lagi bahwa kemiskinan, bersama dengan             Dari fenomena yang ada diatas penelitian ini
distribusi pendapatan, merupakan fokus perhatian        menitikberatkan pada pengaruh laju inflasi terhadap
semua pihak, utamanya akademisi dan pengambil           tingkat kemiskinan yang terjadi di provinsi Jawa
kebijakan.                                              Tengah. Berikut ini adalah Gambar Kerangka
                                                        Berfikir Pengaruh Laju Inflasi Terhadap Jumlah
Krisis moneter yang melanda negara-negara ASEAN,
                                                        Impor di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006-2010
termasuk Indonesia, telah menyebabkan rusaknya
sendi-sendi perekonomian nasional. Krisis moneter       2.3 Kerangka Penelitian
menyebabkan terjadinya imported inflation sebagai
akibat dari terdepresiasinya secara tajam nilai tukar                     Kemiskinan
rupiah terhadap mata uang asing, yang selanjutnya
mengakibatkan tekanan inflasi yang berat bagi
Indonesia. Fenomena inflasi di Indonesia sebenarnya
semata-mata bukan merupakan suatu fenomena                        Permasalahan yang timbul :
jangka pendek saja dan yang terjadi secara
                                                                  banyak terjadi tindakan
situasional, tetapi seperti halnya yang umum terjadi
                                                                  kriminal dan meningkatnya
pada negara-negara yang sedang berkembang
                                                                  jumlah pengangguran
lainnya, masalah inflasi di Indonesia lebih pada
masalah inflasi jangka panjang karena masih
terdapatnya hambatan-hambatan struktural dalam                     Faktor yang
perekonomian negara.                                                                       Inflasi
                                                                  mempengaruhi
Dengan demikian, maka pembenahan masalah inflasi
di Indonesia tidak cukup dilakukan dengan
menggunakan instrumen-instrumen moneter saja,
yang umumnya bersifat jangka pendek, tetapi juga                     Daya Beli
                                                                                       Kurs dan Valas
dengan melakukan pembenahan di sektor riil, yaitu                    Masyarakat
dengan target utama mengeliminasi hambatan-
hambatan struktural yang ada dalam perekonomian
nasional.                                               2.4 Model Penelitian
                                                        Penelitian tentang Analisis Faktor-Faktor    yang
                                                        Menentukan hubungan dan pengaruh inflasi terhadap
tingkat kemiskinan di Jawa Tengah pada tahun                                           BAB IV
2006-2011 dengan variabel penelitian meliputi inflasi                               PEMBAHASAN
dan kemiskinan menggunakan metode penelitian
deskriptif analisis. Hal ini didasarkan pada semua hal
yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah mengenai                        Dari data yang di peroleh dari Badan Pusat
tingkat kemiskinan setiap tahun, ini berdasarkan           Statistik (BPS) provinsi Jawa Tengah pada tahun
kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan              2006-2011 tingkat kemiskinan dan laju inflasi yang
sehari-harinya dengan adanya tingkat inflasi yang
                                                           terjadi di provinsi Jawa Tengah sebagai berikut;
terjadi di masyarakat. Kedua variable tersebut kami
bahas secara deskirptif dan di analisis mengenai           Descriptive Statistics
pengaruh yang terjadi diantara kedua variable
tersebut.                                                                                  Std.
                                                                              Mean         Deviation           N
2.5 Hipotesis                                               Kemiskinan        19.4367      2.04655             6
Hipotesis dalam masalah pengaruh laju inflasi               Inflasi           5.8617       2.52089             6
terhadap tingkat kemiskinan di provinsi Jawa Tengah
tahun 2006-2011 yang bersifat deskriptif. Penulis
                                                                     Dari tabel Descriptive Statistics, maka
mengambil kesimpulan bahwa tingkat inflasi akan
mempengaruhi tingkat kemiskinan karena dengan              diketahui bahwa rata-rata tingkat kemiskinan sebesar
adanya inflasi kebutuhan pokok dan harga-harga             19.4367 dengan standar deviasi 2.04655. Sedangkan
lainnya akan ikut naik juga di provinsi jawa tengah.       rata-rata Laju Inflasi sebesar 5.8617 dengan standar
Hal ini di dasari teori yang dikemukakan oleh              deviasi 2.52089.
Mankiw dan Sadono Sukirno. Maka semakin
besarnya jumlah impor di Jawa Tengah di dasari oleh        Correlations
tingkat inflasi yang tinggi.
                                                                                                   Kemiskinan      Inflasi
                    BAB III                                 Pearson            Kemiskinan
                                                                                                   1.000           .516
              Metodologi kemiskinan                         Correlation
                                                                               Inflasi             .516            1.000
         Penelitian ini dilakukan dengan cara               Sig. (1-tailed)    Kemiskinan          .               .147
mengumpulkan data-data terlebih dahulu baik itu                                Inflasi             .147            .
bersumber dari beberapa referensi buku maupun               N                  Kemiskinan          6               6
data-data pendukung seperti internet, bps, dan data-
                                                                               Inflasi             6               6
data pendukung lainnya yang dibutuhkan dalam
proses penyelesaian penelitian ini. Metode penelitian
ini dilakukan menggunakan metode penelitian                Dalam tabel Correlations, diketahui bahwa menurut
deskriptif analisis, yaitu menganalisis masing-masing      cara Pearson. Jika variabel tingkat kemiskinan naik 1
objek dan menghubungkan pengaruh antar objek               unit, maka akan berpengaruh 0,516 Unit di variabel
tersebut.di provinsi Jawa Tengah.                          Laju Inflasi. Demikian pula jika variabel Laju Inflasi
         Penelitian ini menggunakan metode                 naik 1 unit, maka akan berpengaruh 0,516 unit di
deskriptif karena Tujuan dari penelitian deskriptif ini    variabel Tingkat Kemiskinan.
adalah untuk membuat deskipsi, gambaran atau
                                                                               Variables Entered/Removed(b)
lukisan secara sistematis, factual dan akurat
mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diselidiki. (Moh.Nazir:2005)                            Variables        Variables
         Dalam penelitian ini variabel independent          Model     Entered          Removed         Method
(bebas) adalah Laju Inflasi. Sedangkan variabel             1         Inflasi(a)       .               Enter
dependent (terikat) adalah Tingkat Kemiskinan. Data        a All requested variables entered.
yang digunakan adalah data time series Laju Inflasi        b Dependent Variable: Kemiskinan
dan Tingkat Kemiskinan Badan Pusat Statistik
Republik Indonesia serta Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2006-2011.                                                      Dari tabel Variables Entered/Removed,
                                                          menunjukkan variabel yang dimasukkan adalah Laju
                                                          Inflasi, sedangkan variabel yang dikeluarkan tidak ada.
                         Model Summary(b)                                                                                              Dan dari tabel Coefficient di atas, kolom B pada
                                                                                                                                       Constant (a) adalah 16,982 sedangkan Laju Inflasi (b)
                                                                                     Std. Error
                                                                  Adjusted R         of the                                            adalah 0.419. Sehingga persamaan regresinya adalah:
                           Model    R               R Square      Square             Estimate
                           1        .516(a)         .266          .083               1.96014                                           Y=a=bX
                         a Predictors: (Constant), Inflasi
                         b Dependent Variable: Kemiskinan                                                                              Y=16,982+0.419X
                                 Dari tabel Model Summary (Model Sisaan)
                      angka R Square adalah 0.266 yaitu hasil kuadrat dari                                                                                Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
                      koefisien    korelasi    (0.516X0.516=0.266).    Nilai                                                                              Dependent Variable: Kemiskinan
                      Standard Error of Estimate adalah 1.96014. Pada                                                                              1.00


                      standar deviasi tingkat kemiskinan 2.04655, jauh lebih
                                                                                                                                                    .75
                      besar dari standar error. Oleh karena lebih kecil dari
                      dari standar deviasi, maka model regresi bagus dalam




                                                                                                                   Expected Cum Prob
                                                                                                                                                    .50

                      bertindak sebagai predictor tingkat kemiskinan.
                                                                                                                                                    .25

                                                    ANOVA(b)
                                                                                                                                                   0.00
                                                                                                                                                      0.00      .25    .50    .75   1.00


                                                                                                                                                          Observed Cum Prob
                                              Sum of              Mean
                 Model                        Squares      df     Square      F              Sig.
                                                                                                                                                                BAB V
                 1          Regression        5.573        1      5.573       1.451          .295(a)
                                                                                                                                                              Kesimpulan
                            Residual          15.369       4      3.842
                            Total             20.942       5
                         a Predictors: (Constant), Inflasi                                                                                       Berdasarkan penelitian dan menurut
                         b Dependent Variable: Kemiskinan
                                                                                                                                       teori yang telah dikemukakan maka dapat di
                                  Berdasarkan tabel Anova, diketahui bahwa                                                             ambil kesimpulan bahwa di Jawa Tengah,
                         besar signifikansi regresi sebesar 0.295. Nilai F                                                             apabila perubahan laju inflasi diimbangi dengan
                         hitung sebesar 1.451. Maka dapat diketahui bahwa,                                                             perubahan tingkat kemiskinan. Hal ini diketahui
                         berdasarkan     nilai  Signifikan 0.295 berarti                                                               dari hasil persamaan regresi yaitu:
                         probabilitas 1,451 lebih besar dari 0.05 maka Ho                                                              Y=16,982+0.419X Sehingga, jika terjadi kenaikan
                         diterima. Tidak ada koefisien yang tidak nol atau                                                             laju inflasi sebesar 1 unit, maka akan terjadi
                         koefisien berarti, maka model regresi tidak dapat                                                             pertambahan tingkat kemiskinan sebesar 0,516
                         dipakai untuk memprediksi Tingkat Kemiskinan.                                                                 unit. Namun, jika terjadi penurunan laju inflasi
                                                                                                                                       sebesar 1 unit, maka akan terjadi penurunan
                         Coefficients(a)                                                                                               tingkat kemiskinan sebesar 0,516 unit.
                                    Standa
                                    rdized                                                                                                       Maka, untuk mengurangi kemiskinan
Mo                 Unstandardized   Coeffic                        95% Confidence
del                 Coefficients     ients      t          Sig.     Interval for B            Correlations                             yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah,
                            Std.                                  Lower     Upper     Zero-         Parti    Par                       pemerintah harus berupaya dalam mengurangi
                  B         Error   Beta                          Bound     Bound     order          al       t
1     (Constan
                                                                                                                                       laju inflasi yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah.
                  16.982    2.190               7.755      .001   10.902    23.061
      t)                                                                                                                               Sebagai contoh adalah mengendalikan harga-
      Inflasi                                                                                                .51
                  .419      .348    .516        1.204      .295   -.547     1.384     .516          .516
                                                                                                               6                       harga baik itu dalam hal kebutuhan pokok dan
                                                                                                                                       harga-harga lainnya yang berdampak besar
                         a Dependent Variable: Kemiskinan                                                                              dengan adanya inflasi, sehingga tingkat
                                  Dari tabel Coefficience diketahui bahwa
                                                                                                                                       kemiskinan di provinsi jawa tengah akan
                         besarnya nilai t test= 1,204 sedangkan besarnya
                                                                                                                                       berkurang setiap tahunnya.
                         signifikansi= 0,001 lebih kecil dari 0,05. Dengan
                         demikian H0 ditolak yang berarti ada pengaruh
                         variabel Laju Inflasi terhadap Tingkat Kemiskinan.
DAFTAR PUSTAKA


Case & Fair.2004.Prinsip-prinsip Ekonomi
       Makro. Jakarta. PT Indeks.

Nazir, moh. Metode penelitian. Ghalia
        Indonesia. 2005.

Sadli, M, Pertumbuhan ekonomi tidak bisa
        dipaksakan, Kolom Pakar.2005.

Sukirno, Sadono. 2006. Makroekonomi Teori
        Pengantar. Jakarta. PT RajaGrafindo
        Persada.

Zakaria, Junaiddin. 2009. Pengantar Teori
        Ekonomi Makro. Jakarta. Gunung
        Persada

www.bps.go.id Situs Resmi Badan Pusat
Statistik.

www.jateng.bps.go.id Situs Resmi Badan Pusat
Statistik Provinsi Jawa Tengah.

www.repository.ipb.ac.id

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:176
posted:12/24/2012
language:
pages:7