BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH (BAGIAN VIII ) KETINGGIAN ALLAH DI ATAS „ARSY Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada teladan mulya, manusia paling bertaqwa, Rasulullah Muhammad Shollallaahu „alaihi wasallam, keluarga, para Sahabat, serta orang-orang yang senantiasa mengikuti Sunnahnya dengan baik. Saudaraku kaum muslimin, semoga rahmat Allah senantiasa menyertai langkah kehidupan kita… Tulisan kali ini akan mengupas salah satu aqidah Ahlussunnah yang memang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shollallaahu „alaihi wasallam, dipahami oleh para Sahabatnya –ridlwaanullahi „alaihim ajma‟iin-, dan diwarisi oleh para Ulama‟ Ahlussunnah untuk disampaikan pada umat. Aqidah tersebut adalah keyakinan bahwa Allah adalah Yang Maha Tinggi di atas „Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Dialah Allah yang Maha Tinggi dalam seluruh makna ketinggian: tinggi dalam Dzat, Sifat, Kekuasaan, dan seluruh makna ketinggian dan kesempurnaan. Tulisan ini juga merupakan bantahan terhadap tulisan di blog penentang dakwah Ahlussunnah, yang berjudul : “Membantah fitnah wahhaby 3-a : Allah ada tanpa tempat bukan di arsy/langit/arah atas”. Tulisan di blog penentang Ahlussunnah tersebut membahas banyak sisi yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah. Tegas sekali penulis dalam blog tersebut menentang keyakinan bahwa Allah berada di atas „Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Dalam tulisan ini kami belum membantah semua sisi yang ada di tulisan blog tersebut, namun khusus membahas dalil-dalil tentang ketinggian Dzat Allah yang ditentang oleh kelompok Jahmiyyah dan al-Asya‟iroh. Akan dikemukakan dalil-dalil dari AlQur‟an dan AsSunnah yang shahihah yang juga disertai pemahaman para Sahabat Nabi ridlwaanullaahi „alaihim „ajmaiin. Insya Allah pada tulisan-tulisan mendatang akan tersingkaplah semua syubhat yang ada pada tulisan : Membantah fitnah wahhaby 3-a : Allah ada tanpa tempat bukan di arsy/langit/arah atas. Hanya kepada Allahlah kita bertawakkal, Dialah sebaik-baik tempat berserah diri dan memohon pertolongan. Kami juga berharap agar penulis blog-blog penentang dakwah Ahlussunnah tersebut diberi taufiq oleh Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala untuk kembali pada aqidah Ahlussunnah, sebagaimana yang diyakini para Salaful Ummah. Barangsiapa yang Allah beri hidayah (taufiq) tidak akan ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, tidak akan ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. DALIL-DALIL YANG MENUNJUKKAN DZAT ALLAH BERADA DI ATAS Sangat banyak dalil dari al-Qur‟an dan AsSunnah yang shahihah yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas „Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Demikian banyaknya dalil itu sehingga tidak terhitung jumlahnya. Imam al-Alusiy menjelaskan: ت إٔ ر ؼ ِْ ٝأٗ ذ ٛهلل اُ لٞه ٤خ ئص جبد اُ غ ِق ٓز دُ ٤َ أُ ق ث ٘ذٞ ُ زُ ي ٝا ع زذُ ٞا ٠ ُ، ٝؿ ٤شٙ اُ طذبٝ١ اإلٓ بّ ػ ِ ٤ٚ ٗ ص ً ٔب ر ؼب
“ Dan engkau mengetahui bahwa madzhabus Salaf menetapkan ketinggian Allah Ta‟ala sebagaimana disebutkan oleh al-Imam AtThohawy dan yang selainnya, mereka berdalil dengan sekitar 1000 dalil” (Lihat Tafsir Ruuhul Ma‟aaniy fii Tafsiiril Qur‟aanil „Adzhiim was Sab‟il Matsaaniy juz 5 halaman 263). Karena demikian banyaknya dalil tersebut, tidak mungkin bisa dikemukakan semua. Pada tulisan ini hanya sedikit dalil yang bisa dikemukakan. Kami sarikan dari penjelasan Ibnu Abil „Izz al-Hanafy dalam Syarh al-„Aqiidah atThohaawiyyah halaman 267-269 dan juga tulisan berjudul al-Kalimaatul Hisaan fii Bayaani Uluwwir Rahmaan yang ditulis Abdul Hadi bin Hasan. Semoga Allah memberikan taufiq… Dalil-dalil tentang ketinggian Dzat Allah di atas „Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya terbagi dalam berbagai sisi pendalilan. Pada tiap sisi pendalilan terdapat banyak dalil. Sisi-sisi pendalilan tersebut di antaranya: Pertama: Penyebutan „alFauqiyyah (ketinggian) Allah dengan kata penghubung „min‟. Seperti dalam firman Allah: ُِٚٝ أ ض ك ٝٓ غٔ ٝ د ك ٓ ٣ جذ ِ َ َِ ُ ُ ََْلْ َ ُٞ َ َْٞ ِ ِْْ ِْٖ ََ ُْْ َ َب ُٞ َ )( َغْ ٌَْ ِ ُٝ َ َب َ ُْْ َاُْ َ َبِ َ ُ َاَ ٍ ِْٖ اَُْسْ ِ ِ٢ َ َب اُ َ َب َا ِ ِ٢ َب َغ ٓ ٝ٣ ؼِ ٕ ك هٜ ٓ سثٜ ٣خ ك ٕ ٣ ز جش ٕ ُ ٝٛ ٝ ِٔ ئٌخ د ثخ ُإْ َ ُٝ َ َب ٓ ٕ ٣ ٓش “ dan milik Allah sajalah segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata dan para Malaikat, dalam keadaan mereka tidaklah sombong. Mereka takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S AnNahl:49-50). Ibnu Khuzaimah –rahimahullah- meyatakan: َٝػْ َ َ٘ب َاَ ٍ، ِْٖ األس ِ ك ٢ ٝٓب اُ َٔبٝا ِ ك ٢ ٓب ٝكٞ َ ٓالئٌز ِ، كٞ َ سَ٘ب أ َ ا٥٣ ِ ٛز ِ ك ٢ ٝػ ال ج َ اُجِ٤ ُ كأػِْ َ٘ب ٔ َ َ ٙ م ث ٕ خ ٚ م د غ ض ٓ أ ِٔ د ثخ َ ك ٞه ْٜ اُ ز١ سَْٜ ٣خبكٞ َ ٓالئٌ َ ُ أ ٕ ٚز ٕ ث “Maka Allah Yang Maha Mulya dan Maha Tinggi memberitahukan kepada kita dalam ayat ini bahwa Rabb kita berada di atas para MalaikatNya, dan berada di atas segala yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan (Allah) mengkhabarkan kepada kita bahwa para Malaikat takut terhadap Rabb mereka yang berada di atas mereka” (Lihat Kitaabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 111). Perhatikanlah, Ibnu Khuzaimah memahami ayat tersebut bahwa memang Allah Ta‟ala berada di atas seluruh makhlukNya. Siapakah Ibnu Khuzaimah sehingga kita perlu mengambil rujukan (tentang Ketinggian Allah ini) darinya? Ibnu Khuzaimah adalah salah seorang ulama‟ bermadzhab Asy-Syafi‟i. Beliau merupakan salah satu murid al-Bukhari. Al-Bukhari dan Muslim juga mengambil ilmu (hadits) darinya, namun tidak dikeluarkan dalam As-Shahihain. Ibnu Khuzaimah adalah guru Ibnu Hibban al-Busty, sedangkan Ibnu Hibban adalah guru al-Haakim. Al-Hafidz Adz-Dzahaby menyatakan tentang Ibnu Khuzaimah: اال ع الّ، ؽ ٤خ اُ ل و ٤ٚ، اُ ذجخ اُ ذبك ظ .ث ٌش ث ٖ صبُ خ ث ٖ اُ ٔ ـ ٤شح ث ٖ خض٣ ٔخ ث ٖ ئ عذبم ث ٖ ٓذٔذ ّاُ ؾبك ؼ٢ اُ ٘ ٤ غبث ٞس١ اُ غ ِٔ٢ ث ٌش أث ٞ االئ ٔخ، ئٓب “ Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin alMughirah bin Sholih bin Bakr. (Beliau) adalah al-Hafidz, alHujjah, alFaqiih, Syaikhul Islam, Imamnya para Imam. Abu Bakr As-Sulamy anNaisabuury Asy-Syaafi‟i (bermadzhab Asy-Syafi‟i)(Lihat Siyaar A‟laamin Nubalaa‟ juz 14 halaman 365). Sisi pendalilan yang pertama ini juga sebagaiman disebutkan dalam hadits Nabi, bahwa Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam menyatakan kepada Sa‟ad bin Mu‟adz ketika Sa‟ad memberi keputusan terhadap Bani Quraidzhah:
ْعٔبٝا ٍ عج ِ كٞ ِ ِْٖ ث ِ ٌَ َ اُ ز١ ا ِ ث ٌُْ ِ اُ٤ٞ َ ك٤ٜ ُ َ َ َ ُوذ ٌْْ د ّ ْ هلل ذ ْ غ مٓ ٚد د “ Sungguh engkau telah menetapkan hukum (pada hari ini) dengan hukum Allah yang telah Allah tetapkan dengannya dari atas tujuh langit” (diriwayatkan oleh anNasaa-i dalam Manaaqibul Kubraa, Ibnu Sa‟ad dalam atThobaqoot, atThohaawy dalam Syarh al-Maa‟niy, al-Haakim dalam al-Mustadrak. Al-Hafidz Ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam Takhriijul Mukhtashor. Silakan dilihat penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany dalam Silsilah al-Ahaadits Asshohiihah juz 6/556). Kedua: Penyebutan al-fauqiyyah (ketinggian) tanpa diikuti kata penghubung apapun. Seperti dalam firman Allah: َ ُ َ ُ ِ ِ َب ِ ِ َْٞ َ اُْ َب ٞٛٝ ػج دٙ ك م و ٛش “ dan Dialah Yang Maha Menundukkan di atas hamba-hambaNya”(Q.S al-An‟aam:18). Ketiga: Penjelasan adanya sesuatu yang naik (Malaikat, amal sholih) menuju Allah. Lafadz „naik‟ yang disebutkan dalam Al-Qur‟an dan al-Hadits bisa berupa al-„uruuj atau as-Shu‟uud. Seperti dalam firman Allah: ٖٓ ِٚ َ ِ ِ َ ُ]4 - 3:اُ ٔ ؼبسج[ }َِ٤ْ ِ َاُ ُٝ ُ اُْ َ َِ َ ُ َؼْ ُ ُ * اُْ َ َب ِ ِ ِ١ ا ٔؼ سج ر ئُ ٚ ٝ ش ح ٔالئٌخ ر شج “ dari Allah yang memiliki al-Ma‟aarij. Malaaikat dan Ar-Ruuh naik menuju Ia “(Q.S al-Ma‟aarij:3-4). Mujahid (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menafsirkan: (yang dimaksud) dzil Ma‟aarij adalah para Malaikat naik menuju Allah (Lihat dalam Shahih al-Bukhari). Dalam hadits disebutkan: َ ُٞ َ َ َغَْ ُ ُْْ ِ٤ ُْْ َب ُٞا اَ ِ٣ َ َؼْ ُ ُ ُ َ اُْ َجْ ِ، َ َ َ ِ اُْ َصْ ِ َ َ ِ ِ٢ ََجْ َ ِ ُٞ َ ِبُ َ َب ِ، َ َ َِ َ ٌ ِبُ َ٤ْ ِ َ َِ َ ٌ ِ٤ ُْْ َ َ َب ٕ ك٤ أ ٜ ك ٌ ث ر ُز ٖ ٣ شج صْ ل ش ٝصالح ؼ ش صالح ك ٝ٣ زٔؼ ٕ ث ٜ٘ س ٝٓالئٌخ ث ِ َ ٓالئٌخ ك ٌ ٣زؼ هج - َ ُ َ ُ َ ُْ َ ُٞ َ َ ُْْ َََ٤ْ َب ُْْ ُ َ ُٞ َ، َ ُْْ َ ًَْ َب ُْْ : َ َ ُٞ ُٞ َ ِ َب ِ١؟ ًْ َُْْ َ َ٤ْ َ : َ َ ُٞ ُ - ِ ِْ َػ ٞٛٝ ِْ ز رش ً ق ك٤و ٍ ثٜ أ ٣صِ ٕ ٝٛ ٝأر ٘ ٛ ٣صِ ٕ ٝٛ رش ٘ ٛ ك٤و ُ ٕ ػج د “ Bergantian menjaga kalian Malaikat malam dan Malaikat siang. Mereka berkumpul pada sholat „Ashr dan Sholat fajr. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, sehingga Allah bertanya kepada mereka –dalam keadaan Dia Maha Mengetahui- Allah berfirman: Bagaimana kalian tinggalkan hambaKu? Malaikat tersebut berkata: “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat” (H.R Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Khuzaimah menyatakan: “ Di dalam khabar (hadits) telah jelas dan shahih bahwasanya Allah „Azza Wa Jalla di atas langit dan bahwasanya para Malaikat naik menujuNya dari bumi. Tidak seperti persangkaan orang-orang Jahmiyyah dan Mu‟aththilah (penolak Sifat Allah) (Lihat Kitabut Tauhid karya Ibnu Khuzaimah halaman 381) Seperti juga firman Allah: ٚ ُ٣ كؼٚ ص ُخ ٝ ؼَٔ ط٤ت ٌ ْ ٣ ؼذ ئ ِ ْ٤َِ ُ َ َْشْ َ ُ ُ اُ َبِ ُ َاُْ َ َ ُ اُ َ ِ ُ اُْ َ ِ ُ َص “ kepada-Nyalah naik ucapan yang baik dan amal sholih dinaikkannya” (Q.S Fathir:10). Disebutkan pula dalam hadits: َْٖ َ َ َؼْ َب َ؟ ِْٖ َ ُٞ ُ َب اُ ُ ُٞ ِ، ِ َ َْٜ ًا َ ُٞ ُ َ َ َ َْْ ا ِ، َ ُٞ َ َب : ُِْ ُ : َب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ٢ َ٣ْ ٍ ثْ ِ ُ َب ص ذ ٖ أع ٓخ ػ ٍ ؽ ج ٕ ٓ رص ّ ٓ ؾٜ س ٖٓ ؽ ش رص ّ أسى ُ هلل سع ٍ ٣ ه ذ ه َ ُشْ َ َ َْٕ َ ُ ِ ُ اُْ َبَ ِ٤ َ، َ ِ َِ٠ ا َػْ َب ُ ِ٤ ِ ُشْ َ ُ َْٜ ٌ َ ُ َ َ َ َ َب َ، َ َ ٍ َ٤ْ َ َْ٘ ُ اُ َب ُ َـْ ُ ُ َْٜ ٌ َِ َ« : َب ٍ أل ٔ ٍ ك ٚ ر كغ ؽ ش ٝٛٞ ٝسٓع ٕ سجت ث ٖ ػ ٚ ٘ ط ٣ لَ ؽ ش رُي ه ُ٣ كغ أ كأدت ؼ ُٔ ٖ سة ئ
٢ِ َ َ » َبِ ٌ َََب ِٔص ئْ ٝأٗ ػ Dari Usamah bin Zaid –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihat shaummu di bulan lain sebagaimana engkau shaum pada bulan Sya‟ban? Rasul bersabda: Itu adalah bulan yang banyak manusia lalai darinya antara Rajab dengan Ramadlan. Itu adalah bulan terangkatnya amalan-amalan menuju Tuhan semesta alam. Maka aku suka jika amalku terangkat dalam keadaan aku shaum (puasa)(H.R AnNasaa-i dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany). َْٖ ٢َِ ٠َ ُٞ ٢ػ َ ا َ ِ َ« : َ َب َ َ ِ َب ٍ ِ َْٔ ِ ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا ِ َ ُٞ ُ ِ٤ َب َب َ : َب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ ٓ ع أث ػ ٍ هلل سع ٍ ك ٘ ه ّ ه ض هلل ئٕ كو ٍ ً ٔ د ثخ ظ َ ػَٔ ه َ ٜ٘ س ٝػَٔ ٜ٘ س ػَٔ ه َ ِ َ ػَٔ ئُ ٚ ٣ كغ ٝ٣ كؼٚ و ط ٣ لط ٣٘ ّ أ ُٚ ٣ جـ ٝال ٣٘ ّ ال َ َ َ ِ َجْ َ اُ َ َب ِ َ َ َ ُ اُ َ َب ِ، َ َ ِ َجْ َ اُ َ٤ْ ِ َ َ ُ َِ٤ْ ِ ُشْ َ ُ ََشْ َ ُ ُ، اُْ ِغْ َ َخْ ِ ُ َ َب َ، َْٕ َ ُ َْ٘ َ ِ٢ َ َ َ َب ُ، َ ٝج َْ٤َ ُا ِ Dari Abu Musa radliyallahu „anhu beliau berkata: Rasulullah berdiri di hadapan kami dengan menyampaikan 5 kalimat (di antaranya) beliau bersabda: “ Sesungguhnya Allah „Azza wa Jalla tidaklah tidur dan tidak layak bagiNya tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya, terangkat (naik) kepadaNya amalan pada malam hari sebelum amalan siang hari, dan amalan siang hari sebelum amalan malam hari…”(H.R Muslim). Keempat: Penjelasan tentang diangkatnya sebagian makhluk menuju Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur‟an: {ََْ ُ َ َ َ ُ َ ُ]851 :اُ ٘ غبء[ }َِ٤ْ ِ ا ئُ ٚ ِٚ سكؼٚ ث “ Bahkan Allah mengangkatnya kepadaNya” (Q.S AnNisaa‟:158). {٢ِِ َ ٤ِ َ َ ُ َ ُ ِ ]55 :ػٔشإ آٍ[ }َِ َ َ َا ٗئُ٢ ٝس كؼي ٓزٞك ي ئ “ Sesungguhnya Aku mewafatkanmu dan mengangkatmu kepadaKu” (Q.S Ali Imran:55). Kelima: Penjelasan tentang ketinggian Allah secara mutlak Sebagaimana dijelaskan dalam AlQur‟an, di antaranya: {َ ُ َ ُ ِ َ ُْ[552 :اُ ج وشح[ }اُْ َ ِ٤ ُ ا ٞٛٝ ٢ ؼظ ْ ؼ “ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (Q.S al-Baqoroh:255). {َ ُ َ ُ ِ َ ُْ]32 : ع جأ[ }اُْ َ ِ٤ ُ ا ٞٛٝ ٢ ٌج ش ؼ “ dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Q.S Saba‟:28) Keenam: Penjelasan bahwa AlQur‟an „diturunkan‟ dari Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas, sehingga Ia menyebutkan bahwa AlQur‟an diturunkan dariNya. Tidaklah diucapkan kata „diturunkan‟ kecuali berasal dari yang di atas. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur‟an, di antaranya: {ُ ٣ِ َْ٘ ِ ]1 :اُ ضٓش[ }* اُْ َ ِ٤ ِ اُْ َ ِ٣ ِ اُ َ ِ ِ َ اُْ ِ َب َ ذٌ ْ ؼض ض ِٚ ٖٓ ٌز ة ر ض “Kitab (Al Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Az-Zumar:1). {ٌ ٣ِ َْ٘ َ ِ ِ ]2 :ك ص ِذ[ }* اُ َ ِ٤ ِ اُ َدْ َب َ شد ْ ش ٔ ٕ ٖٓ ر ض
“ (AlQur‟an) diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (Q.S Fusshilaat:2) {ٌ ٣ِ َْ٘ ِْٖ ٍ ٤ِ َ ٍ ٤ِ َ } []24 :ك ص ِذ َ دٔ ذ دٌ ْ ٓ ر ض “ (Al Qur‟an) diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Q.S Fusshilat:42). Ketujuh: Penjelasan tentang kekhususan sebagian makhluk di „sisi‟ Allah („indallaah) yang menunjukkan bahwa sebagian lebih dekat dibandingkan yang lain kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam AlQur‟an, di antaranya: {…١ِ َ]83 :ك ص ِذ[ }َغَْ ُٞ َ َ َ ُْْ َاُ َ َب ِ ِبُ َ٤ْ ِ َ ُ ُ َ ِ ُٞ َ َِ َ ِْ٘ َ َب ٣ أٓ ٕ ال ٝٛ ٝ ٜ٘ س ث ِ َ ُٚ ٣غجذ ٕ سثي ػ ذ كَ ُز ٕ “…maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu”(Q.S Fushshilat:38). {ُ ََ َْٖ ٢ِ ِ ]91 :األٗ ج ٤بء[ }* َغْ َذْ ِ ُٝ َ َ َ ِ َب َِ ِ َْٖ َغْ ٌَْ ِ ُٝ َ َ ِْ٘ َ ُ َ َْٖ َا َسْ ِ اُ َ َب َا ُٚٝ ٓ ٣ ز غش ٕ ٝال ػج درٚ ػ ٣ ز جش ٕ ال ػ ذٙ ٝٓ ٝ أل ض غٔ ٝ د ك “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” (Q.S Al-Anbiyaa‟:19). {ِ َ ِ ْ]11 :اُ زذش٣ ْ[ }اُْ َ َ ِ ِ٢ َ٤ْ ًب ِْ٘ َ َ ِ٢ اث ٖ سة ُ ج٘خ ك ث ز ػ ذى “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di Jannah”(Q.S AtTahriim:11) Kedelapan: Penjelasan bahwa Allah ada di atas langit Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam AlQur‟an: {ُْْ ِْ٘ ََ َْٖ ٢ِ ِ َب ِ ًب َ َ٤ْ ُْْ ُشْ ِ َ َْٕ اُ َ َب ِ ِ٢ َْٖ َ ِْ٘ ُْْ َّْ* َ ُٞ ُ ِ َ َِ َا ا َسْ َ ِ ُ ُ َخْ ِ َ َْٕ اُ َ َب غٔ ء ك ٓ أأٓ ز غٔ ء ك ٓ أٓ ز أ رٔ س ٛ٢ كار أل ض ثٌْ ٣ غق أ د صج ػِ ٌ ٣ عَ أ َ ُٞ َ ْ]71 - 61 :اُ ٔ ِي[ }* َ ِ٣ ِ َ٤ْ َ َ َ َؼ ٕ ِٔ ٗز ش ً ق كغز “ Apakah kalian merasa aman dari (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang Berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Q.S al-Mulk:16-17). Yang dimaksud dengan „Yang berada di atas langit‟ sesuai ayat tersebut adalah Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala. Karena Allahlah Yang Maha Mampu menjungkirbalikkan manusia bersama bumi yang dipijaknya tersebut serta meneggelamkan mereka di dalamnya. Hal ini diperjelas dengan ayat-ayat yang lain, di antaranya: {ُْْ ِْ٘ ََ َ َْٕ َ ِ ْ]86 :اإل عشاء[ } َب ِ ًب َ َ٤ْ ُْْ ُشْ ِ َ َْٝ اُْ َ ِ َبِ َ ِ ُْْ َخ د صج ػِ ٌ ٣ عَ أ جش ج ٗت ثٌ ٣ غق أ أكأٓ ز “Maka apakah kamu merasa aman dari Yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil?”(Q.S al-Israa‟:68) َ ِ ََ َ َ ٣ِ ََؾْ ُ ُٝ َ َ َ٤ْ ُ ِْٖ اُْ َ َا ُ َأِْ َ ُ ُ َْٝ ا َسْ َ ِ ِ ُ اُ َ ُ َخْ ِ َ َْٕ اُ َ ِ َب ِ َ َ ُٝا ا ٖٓغ٤ئ د ٌٓش ُز ٖ أكأ ؼز ة ٣ ر٤ْٜ أ أل ض ثْٜ ِٚ ٣ غق أ ٓ ٣ ؼش ٕ ال د ش “Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”(Q.S AnNahl:45). Disebutkan dalam sebuah hadits: َْٖ ٢َِ َ َ ْ٣َ ُ ٢َب َ َِ َا اُْ َ َِ َ ُ، َذْ ُ ُ ُ اُْ َ ِ ُ« :ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا ِ َ ُٞ ُ َب َ : َب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ ٛش شح أث ػ ٍ هلل سع ٍ ه ٍ ه ً ٕ كار ٔالئٌخ ر عشٙ ٔ٤ذ ُ ُ َ ُ٣ْ ِ َ َ َ ٍ َ َ٣ْ َب ٍ ِ َْٝ ٍ ََثْ ِ ِ١ َ ِ٤ َ ً اخْ ُ ِ٢ .اُ َ ِ ِ اُْ َ َ ِ ِ٢ َبَذْ اُ َ ِ َ ُ اُ َلْ ُ ََ ُ َب اخْ ُ ِ٢ : َب ُٞا َبِ ًب، ا َ ه ُ ص ُ ذ شج ط٤جخ ٘ ظ أ٣زٜ شج ٗ ً ط٤ت جغذ ك شؽ ٝسة ٝس ذ ٕ ثش ح ٝأ ؾش دٔ ذح شج
ٕ: َ ُ َب ُ . ُ َ ٌ : َ َ ُٞ ُٞ َ َ َا؟ َْٖ : َ ُ َب ُ َ َب َ ُلْ َ ُ اُ َ َب ِ َِ٠ ِ َب ُؼْ َ ُ ُ َ َخْ ُ َ، َ َ٠ َِ َ، َ َب ُ َب ُ َ َا ُ َ َ . َعْ َب ك٤و ٍ كالٕ ك٤و ُ ٕ ٛز ٓ ك٤و ٍ ُٜ ك٤ زخ غٔ ء ئُ ثٜ ٣ شج صْ ر شج دز رُي ُٜ ٣و ٍ ٣ض ٍ كال ؿ ج َ َب ُ َب ُ َ َا ُ َ َ . َعْ َب َ َ٤ْ ِ َ َ ٍ َ َ٣ْ َب ٍ ِ َْٝ ٍ ََثْ ِ ِ١ َ ِ٤ َ ً ١ادْ ُ ِ .اُ َ ِ ِ اُْ َ َ ِ ِ٢ َبَذْ اُ َ ِ َ ِ ِبُ َلْ ِ َشْ َ ًب ط٤جخ ث ٘ ظ ٓ دج ٗ ً خَ ط٤ت جغذ ك ُٜ ٣و ٍ ٣ض ٍ كال ؿ ج ٕ ؿ ش ٝسة ٝس ذ ٕ ثش ح ٝأ ؾش دٔ ذح غٔ ء ئُ ثٜ ٣ زٜ دز رُي َ َِ ٠َ َ ٠َ َ ُْ٘ ٝج َ ػ َ ا ُ ِ٤ َب اَ ِ٢ اُ َ َب ِ َِ٠ ِ َب َ ض هلل ك ٜ ُز Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: “Orang yang akan meninggal dihadiri oleh para Malaikat. Jika ia adalah seorang yang sholih, maka para Malaikat itu berkata: „Keluarlah wahai jiwa yang baik dari tubuh yang baik‟. Keluarlah dalam keadaan terpuji dan bergembiralah dengan rouh dan rayhaan dan Tuhan yang tidak murka. Terus menerus dikatakan hal itu sampai keluarlah jiwa (ruh) tersebut. Kemudian diangkat naik ke langit, maka dibukakan untuknya dan ditanya: Siapa ini? Para Malaikat (pembawa) tersebut menyatakan: Fulaan. Maka dikatakan: Selamat datang jiwa yang baik yang dulunya berada di tubuh yang baik. Masuklah dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan Rauh dan Rayhaan dan Tuhan yang tida murka. Terus menerus diucapkan yang demikian sampai berakhir di langit yang di atasnya Allah Azza Wa Jalla” (diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Bushiri menyatakan dalam Zawaaid Ibnu Majah: Sanadnya sahih dan perawi-perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany). Perlu dipahami dalam bahasa Arab bahwa lafadz ٢ كtidak hanya berarti di „dalam‟, tapi juga bisa bermakna „di atas‟. Hal ini sebagaimana penggunaan lafadz tersebut dalam ayat: …َؽْ ُ ٍ َسَْ َ َ اَُْسْ ِ ِ٢ َ ِ٤ ُٞا أ ٜش أ ثؼخ أ ض ك كغ ذ “Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di atas bumi selama empat bulan…(Q.S AtTaubah:2). Dalam ayat itu disebutkan makna ٢ األس ض كsebagai „di atas bumi‟ bukan „di dalam bumi‟. Karena itu makna ٢ اُ غٔبء كartinya adalah „di atas langit‟ bukan „di dalam langit‟. Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: َ َ ٢ُِٞ َ َْ َ َب ً َ َب ًب اُ َ َب ِ َ َ ُ َأِْ٤ ِ٢ !اُ َ َب ِ ِ٢ َْٖ َ ِ٤ ُ َََب َأ غٔ ء ك ٓ أٓ ٖ ٝأٗ ر ٓ٘ ٗ أال ٘ ٝٓغ ء صج د غٔ ء خجش ٣ ر “ Tidakkah kalian mempercayai aku, padahal aku kepercayaan dari Yang Berada di atas langit (Allah). Datang kepadaku khabar langit pagi dan sore” (H.R al-Bukhari dan Muslim). Disebutkan pula dalam hadits: َْٖ ِ ْ.اُ َدْ َ ُ َشْ َ ُ ُ ُ اُ َا ِ ُٞ َ« :ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا ِ َ ُٞ ُ َب َ : َب َ ػ ٜ٘ٔب ا هلل س ظ٢ َْٔ ٍٝ ثْ ِ ا ِ َج ػ ش ٖ هلل ػ ذ ػ ٍ هلل سع ٍ ه ٍ ه ٕ ٔش ٖٔ ٣ دْٜٔ ش د اُ َ َب ِ ِ٢ َْٖ َشْ َْٔ ُْْ ا َسْ ِ ِ٢ َْٖ اسْ َ ُٞا ٔد ٓ غٔ ء ك ٓ ٣ د ٌ أل ض ك Dari Abdullah bin „Amr radliyallaahu „anhumaa beliau berkata: Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: Orang-orang yang penyayang disayangi oleh ArRahmaan. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya akan menyayangi kalian Yang ada di atas langit (Allah) (H.R atTirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany). Kesembilan: Persaksian Nabi bahwa seorang budak wanita yang ditanya di mana Allah, kemudian menjawab Allah di atas langit sebagai wanita beriman. Sesuai dengan hadits Mu‟awiyah bin al-Hakam: َ ُإ ِ َ ٌ ََِ َب َػْ ِوْ َب« : َب َ .ا ِ َ ُٞ ُ َْٗ َ : َبَذْ ،»ََب؟ َْٖ« : َب َ .اُ َ َب ِ ِ٢ : َبَذْ ،»ا ُ؟ َ٣ْ َ« :َ َب َ َب ٍ هلل أ ٖ ُٜ كو ُه ه ٍ غٔ ء ك ٓ ٗأ ُ ه ٍ هلل سع ٍ أ ذ ه ٜ ٓ ٓ٘خ كاٜٗ أ ز “ Rasulullah shollallahu „alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda:
„Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim). Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi‟i di dalam kitab al-„Umm juz 5 halaman 298. Mengenai periwayatan Imam Asy-Syafi‟i tersebut Imam Abu Utsman Ash-Shoobuny menyatakan di dalam kitabnya „Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits: ث ٜزا اُ ٌبك شح اُ شه جخ ئػ زبم ث جٞاص ه ُٞ ْٜ ك ٢ اُ ٔخبُ ل ٤ٖ ػ ِ٠ ػ ِ ٤ٚ ا هلل سدٔخ اُ ؾبك ؼ٢ اد زج ٝئٗ ٔب ٓ ؼ ز وذ ً ٔب ، ػش ؽٚ ػ ِ٠ عٔبٝار ٚ ع جغ ٝك ٞم ، خ ِ وٚ ك ٞم ع جذبٗ ٚ ا هلل إٔ الػ ز وبدٙ ، ساُ خت ٖ٤ ِٔ ال ص ْ صذ ٤ذب خ جشا ٣ شٝ١ ال ا هلل سدٔٚ ً بٕ ئر ، ٝخ ِ لْٜ ع ِ لْٜ ، ٝاُ جٔبػخ اُ غ ٘خ َ ٖٓ اُ ٔ غ ٛأ ٍٞدٔذّ ث ٖ دغبٕ اُ ُٞ ٤ذ أث ٞ اإلٓ بّ أٗ جأٗ ب ه بٍ ا هلل سدٔٚ ا هلل ػ جذ أث ٞ اُ ذبً ْ أخ جشٗ ب ٝه ذ . ث ٚ ٣ و ٚ٤ سدٔٚ اُ ؾبك ؼ٢ عٔ ؼذ ٣ وٍٞ ع ِ ٤ٔبٕ ث ٖ اُ شث ٤غ عٔ ؼذ ه بٍ ٓذٔٞد ث ٖ ئث شاٛ ٤ْ دذص ٘ب ه بٍ اُ ل و ٍٞػ و ِ٢ إٔ ك بػ ِٔٞا خ الك ٚ ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ اُ ٘ ج٢ ػٖ صخ ٝه ذ ه ٞ ال أه ٍٞ سأ٣ زٔٞٗ ٢ ئرا : ٣ و تهذ ٛر Asy-Syafi‟i –semoga rahmat Allah atasnya- berhujjah terhadap para penentang yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas „ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama‟ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (AsySyafi‟i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut. Telah mengkhabarkan kepada kami al-Haakim Abu Abdillah rahimahullah (dia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami Abul Waliid Hasaan bin Muhammad al-Faqiih (dia berkata) telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Mahmud dia berkata aku mendengar ArRabi‟ bin Sulaiman berkata: Aku mendengar Asy-Syafi‟i rahimahullah berkata: Jika kalian melihat aku mengucapakan suatu ucapan sedangkan (hadits) yang shahih dari Nabi shollallaahu „alaihi wasallam bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwasanya akalku telah pergi. Jika ada yang bertanya: Siapa Abu Utsman Ash-Shobuuny sehingga dia bisa tahu maksud ucapan Imam Asy-Syafi‟i? Maka kita jawab: Abu Utsman Ash-Shoobuny adalah salah seorang ulama‟ bermadzhab AsySyafi‟i (sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafidz Adz-Dzahaby dalam Siyaar A‟laamin Nubalaa‟). Imam AlBaihaqy menyatakan tentang Abu Utsman Ash-Shobuuny: ّصذه ب اال ع الّ ٝ ؽ ٤خ د وب، اُ ٔ غ ِٔ ٤ٖ ئٓب “Imam kaum muslimin yang sebenarnya, dan Syaikhul Islam yang sejujurnya”(Lihat Siyaar A‟laamin Nubalaa‟ juz 18 halaman 41). Kami kemukakan ucapan Imam al-Baihaqy di sini karena para penentang Ahlussunnah banyak memanfaatkan ketergeliciran Imam al-Baihaqy dalam memahami Asma‟ Was-Sifat. Kesepuluh: Penjelasan bahwa Allah ber-istiwa‟ di atas „Arsy. Lafadz istiwa‟ diikuti dengan penghubung ٠ِ ػ sehingga bermakna „tinggi di atas‟ „Arsy. Sebagaimana disebutkan dalam AlQur‟an pada 8 tempat pada surat: Al-A‟raaf:54, Yunus: 3, Yusuf:100, ArRa‟d:2, Thaha:5, al-Furqaan:59, As-Sajdah:4, al-Hadid:4. Para Ulama menjelaskan bahwa „Arsy adalah makhluk Allah yang terbesar dan tertinggi. Kesebelas: Nabi mengisyaratkan ke atas saat meminta persaksian kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir riwayat Muslim yang mengisahkan kejadian pada Haji Wada‟: ُْْ ََْٗ َ ُٞ َْاُ َ َب ِ َِ٠ َشْ َ ُ َب اُ َ َبَ ِ ِِصْ َ ِ ِ َ َب َ ََ َذْ َ ََ َ٣ْ َ َ َـْ َ َذْ ََ َ َؾْ َ ُ َب ُٞا َبِ ُٞ َ َْٗ ُْْ َ َب َ ِ٢ ُغ غٔ ء ئُ ٣ كؼٜ غج ثخ ثا جؼٚ كو ٍ ٝٗص ذ ٝأد ذ ثِ ذ ه أٗي ٗ ٜذ ه ُ ه ئِ ٕ أ ز كٔ ػ٘ ر أُ ٕ ٝأ ز َ َا ٍ َ َب َ اؽْ َذْ اُ َ ُ َ اؽْ َذْ اُ َ ُ َ اُ َب ِ َِ٠ ََْ٘ ُ ُ َب ٜٜ ِْٜ ٘ ط ئُ ٝ٣ ٌز ِْٜ ٜ ٓش د صِ س
“(Nabi bersabda) “Dan kalian akan ditanya tentang aku, apa yang akan kalian katakan? Para Sahabat berkata: „Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan (amanah), dan menyampaikan nasihat‟. Maka Nabi mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit mengetukngetukkannya ke hadapan manusia (dan berkata) Ya Allah persaksikanlah (3 kali)(H.R Muslim). Keduabelas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas Sebagaimana dalam hadits Umar bin al-Khottob yang mengisahkan kejadian pada perang Badr: َز ج َ َ ْاُ َ ُ َ َ َذَْ ِ٢، َب ِ٢ َْٗ ِضْ اُ َ ُ َ« :ِ َِ ِ َْٜ ِ ُ َ َ َ َ َ َ٣ْ ِ َ َ ُ َ اَُْ ِجْ َ ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا ِ َ ِ ُ اعْ َو ٢هلل ٗج َ ٓ ُ أ ج ِْٜ ثشثٚ ٣ زق كجؼَ ٣ذ ٚ ٓذ صْ ح و ِْٜ٘ ٝػ ر ٓ د ِ ا َسْ ِ ِ٢ ُؼْ َذْ َ ا ِعْ َ ِ َْٛ ِ ِْٖ اُْ ِ َبَ َ َ ِ ِ ُْٜ ِيْ ِْٕ اُ َ ُ َ َ َذَْ ِ٢، َب آ ٘ئ ِْٜ ٝػ ر ؼص ثخ ٛزٙ ر ٓ َ أل ض ك ر ج ال إل الّ أ “Nabiyullah shollallaahu „alaihi wasallam menghadap kiblat kemudian menengadahkan tangannya dan berseru kepada Rabb-nya: Ya Allah tunaikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah berikanlah apa yang Engkau janjikan untukku, Ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini dari Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di bumi” (H.R Muslim). ْٖئرا َغْ َذْ ِ٢ ًش٣ ٌ، َ ِ ٌ ا هلل ئ َ« :ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا هلل سعٞ ُ هب َ :هب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ٢ عِٔب َ ػ ٕ ٍ ٍ ٍ ٕ ٢٤ْ د ٤ ٣ ز ٣ذ ٚ ٚ شجَ سكغ َ َ َ ُ ُ َ َُبِ َ َ٤ْ ِ ُلْ ًا َ ُ َ ُٔب إٔ َ َ٣ْ ِ ئُ٤ ِ ا ٛخ ئجز ٖ ص ش ٣شد Dari Salman –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Pemalu lagi Mulya. Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangan ke arahNya kemudian Allah mengembalikan kedua tangan itu dalam keadaan nol sia-sia (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh alAlbaany). Ketigabelas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-Nya Para Ulama‟ menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah adalah bisa dilihatnya Allah nanti oleh penduduk Jannah. Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: َْٖ ِ ٣ِ َ ِ َِْ٠ َ َ َ َ ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ اُ َ ِ ِ َ َ َ٤ْ َ ً ُ ُٞ ًب ُ َب : َب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ٢ اُججِ ِ ا ِ َجْ ِ ث ٢ هلل ػ ذ ٖ جش ش ػ ٍ ٘ج٢ ٓغ ُ ِخ جِ ع ً٘ ه ئُ ك٘ظش كو ٍ ػ شح أ ثغ ِخ ؤش ِ َ َ ُُْؤَْ ِ ِ ِ٢ ُ َب ُٞ َ َ ٛ َا َ َْٝ َ َ َب ََ ُْْ َ َ َْٝ َ َِ ُْْ« : َ َب َ َؾْ َ َ، َسَْ َ ُ٤ َ َ ا ٌٗس ٣زٚ ك رع ٓ ٕ ال ز رش ٕ ًٔ سثٌ عزش ٕ ئ Dari Jarir bin Abdillah al-Bajaliy –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: “Kami duduk pada suatu malam bersama Nabi shollallaahu „alaihi wasallam kemudian beliau melihat pada bulan pada malam tanggal 14 beliau bersabda: „Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat (bulan) ini, tidaklah berdesakan dalam melihatnya” (H.R al-Bukhari dan Muslim). Keempatbelas: Penjelasan tentang turunnya Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala ke langit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir. َٖ٤ْ َ ٍ ُ َ ََ َبُ٠ َ َب َ َ َُ َب َْ٘ ِ ُ« :ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا هلل سعٞ ُ هب َ :هب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ٢ ٛش٣ش َ أث ٢ ػ ح ٍ ٍ ٍ ٍرج سى سث٘ ٣ ض ُ ِخ ًَ ٝرؼ ٠َِ ِ َْٖ َ ُػْ ِ َ ُ؟ َغَْ ُ ِ٢ َْٖ َ ُ؟ ََعْ َ ِ٤ َ َذْ ُِٞ٢ َْٖ : َ ُٞ ُ َ ا٥ ِ ِ، اُ َ٤ْ ِ ُ ُ ُ َجْ َ٠ ِ٤ َ اُ ُْٗ َب، اُ َ َب ُٓ كأ ط٤ٚ ٣ أ ٘ ٓ ُٚ كأ زج ت ٣ ػ ٗ ٓ ٣و ف خش ِ َ صِش ٣ و د ٖ ذ ٤ غٔ ء ئ ٍ ٢ُِ ِ ْ»َ ُ؟ ََؿْ ِ َ َغْ َـ ُٗٚ كأ لش ٣ ز لش Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: “Tuhan kita Tabaaroka Wa Ta‟ala turun ke langit dunia tiap malam ketika telah tersisa sepertiga malam, kemudian Dia berkata: Siapakah yang akan berdoa kepadaku, Aku akan kabulkan. Siapa yang meminta kepadaku Aku akan beri, siapa yang memohon ampunan kepadaku, Aku akan ampuni”(H.R alBukhari dan Muslim, hadits yang mutawatir). Kelimabelas: Khabar dari Nabi shollallaahu „alaihi wasallam bahwa beliau pada waktu Isra‟ Mi‟raj setelah
mendapatkan perintah sholat bolak-balik ketika berpapasan dengan Musa kembali naik menuju Allah untuk meminta keringanan bagi umatnya. Demikian terjadi beberapa kali. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits: َْٖ ِ ََ ِ َْْٝ َ٠ َب َِ َ ا ُ َْٝ َ٠ ...« :ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا ِ َ ُٞ ُ َب َ : َب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ٢ َبِ ٍ ث ٓ ُي ٖ أٗظ ػ ٍ هلل سع ٍ ه ٍ ه أ د ٓ ئُ٢ هلل أ د َ َ َ َ َ َ َ َ ٤ِ َْٔ ً َ َ ٢ِ ِ ُ ٍ َْٞ ٍ َ ْ٤ََ . ُ َُْ َ َ ٠َِ ٠َ ُٞ ٠ِ َ َ٠ َُ َ َ َ َ َب : َ َب َ ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ٓ ع ئُ ك٘ض ذ ُٝ ِخ ٣ ّ ًَ ك صالح خ غ ٖ ػِ٢ كلشض ٍ ػِ سثي كشض ٓ كو ِعْ َاِ٤ َ َ ِ٢ َ َْٞ ُ َذْ َِِ٢ . َِ َ ُ ِ٤ ُٞ َ َ ُ َ َ َ َِ َ اُ َخْ ِ٤ َ، َبعَُْْ ُ َِ َ َِ٠ اسْ ِغْ : َب َ . َ َ ً َْٔ ِ٤ َ : ُِْ ُ ُ َ ِ َ؟ ج ه ٍ صالح خ غ ٖ ه ذ أٓزي ُرُي ٣ط و ٕ ال أٓزي كإ ز ل ق ك أ ٚ سثي ئ ٗئ ش ئ َ ث٘ ثِ د ه كا ُْْ ُ َْ َ : َ ُِْ ُ ُٞ َ٠ َِ٠ َ َ َؼْ ُ . َْٔ ًب َ ِ٢ َ َ َ .ُ َ ِ٢ َ َ٠ َ ِقْ ! َ ِ َب : َ ُِْ ُ َِ٢ َِ٠ َ َ َؼْ ُ : َب َ . َ َ َش ٜسة ٣ كو ذ سث ئُ كشج ذ ه ٍ ٝخج ر دط كو ذ ٓ ع ئُ كشج ذ خ غ ػ٘ كذط أٓز ػِ خل ٢ِ َ ََ َبَ٠ َ َب َ َ َِ٢ َ٤ْ َ َسْ ِ ُ َ ٍَْ َ َْْ : َب َ .اُ َخْ ِ٤ َ َبعَُْْ ُ َِ َ َِ٠ ِغْ َبسْ َِ َ ُ ِ٤ ُٞ َ َ ُ َ َ َ ِ َ : َب َ . َْٔ ًب ٘ٝرؼ ُ رج سى سث ث ٖ أ جغ أص كِ ه ٍ ز ل ق ك أ ٚ سثي ئُ ج ك رُي ٣ط و ٕ ال أٓزي ئٕ ه ٍ خ غ ػ ٖ ٓ ع ٝث َ ْ٤ََ ٠َ ُٞ ٚ٤ ِ ُٞ َ َْْ َ َِ َ . َؾْ ٌ َ َ ٍ ِ ُ ِ . ََ٤ْ َ ٍ َْٞ ٍ ُ َ َ َ َا ٍ َْٔ ُ َِ ُ َ ! ُ َ َ ُ َب : َب َ َ َ٠ اُ غ الّ ػ ع ٕخ كزُي ػ ش صالح ٌَُ ُٝ ِخ ٣ ّ ًَ صِٞ د خ ظ ئٜٖٗ ٓذٔذ ٣ ه ٍ دز زٜ ذ دز ك٘ض ذ ه ٍ صالح ً َ َ ... َ َبعَُْْ ُ َِ َ َِ٠ اسْ ِغْ : َ َب َ ََخْ َشْ ُ ُ ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ُٞ َ٠ َِ٠ اْٗ َ َ٤ْ ُ َ َ٠ َ َ َُْ ُ : َب ُٓ ع ئ ٚج كو ٍ كأ ج ر ُك أ ٚ سثي ئ ز ٤ ذ دز سث ئُ سج ذ ه كو ذ ز ل ق َ ٤ِ ْ» ِْ٘ ُ اعْ َذْ َ٤ْ ُ َ َ٠ َِ٢ َِ٠ َ َؼْ ُ َذْ : َ ُِْ ُ .اُ َخ ٚٓ Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: “….Allah mewahyukan kepadaku apa yang Ia wahyukan. Maka Ia mewajibkan kepadaku 50 sholat sehari semalam. Maka aku turun menuju Musa shollallaahu „alaihi wasallam, kemudian ia berkata: Apa yang Rabbmu wajibkan bagi umatmu? Aku berkata: 50 sholat. Musa berkata: kembalilah pada Tuhanmu, mintakanlah padanya keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Karena sesungguhnya aku telah mencoba Bani Israil dan aku mengerti keadaan mereka. Rasululullah berkata: Maka aku kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk umatku. Maka dihapuskan dariku 5 sholat. Kemudian aku kembali ke Musa dan berkata: Telah dihapuskan (dikurangi) untukku 5 sholat. Musa berkata: sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup, kembalilah pada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan. Nabi bersabda: Senantiasa aku bolak-balik antara Tuhanku Tabaroka Wa Ta‟ala dengan Musa „alaihis salaam sampai Allah berfirman: Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat tersebut adalah 5 kali sehari semalam. Setiap sholat dilipatgandakan 10 kali. Maka yang demikian adalah (senilai) 50 sholat…..Nabi bersabda: Maka kemudian aku turun sampai pada Musa shollallaahu „alaihi wasallam, maka aku khabarkan kepadanya. Musa berkata: Kembalilah pada Rabmu dan mintakanlah keringanan. Maka aku (Rasulullah) berkata: Aku telah kembali pada Rabku, sampai aku merasa malu padaNya” (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat Muslim). Keenambelas: Nash-nash tentang penyebutan „Arsy dan sifatnya, dan seringnya diidhafahkan kepada Penciptanya yaitu Allah Subhaanahu Wa Ta‟ala yang berada di atasnya. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat AlQur‟an: {ُ َ ِ ْ]62 :اُ َ٘ٔ[ }اُْ َ ِ٤ ِ اُْ َش ؼ ظ ْ ؼ ػ سة “Rabb Arsy yang Agung..”(Q.S AnNaml:126). {َ ُ َ ُ ُٞ َ ُْ]51 - 41 :اُ جشٝج[ }* اُْ َ ِ٤ ُ اُْ َشْ ِ ُٝ * اُْ َ ُٝ ُ ا ٞٛٝ ٞد د ـل س ٔج ذ ؼ ػ ر “ Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Yang Memiliki Arsy yang mulya “(Q.S alBuruuj:14-15). {ُ ٤ِ َ ِ ]51 :ؿبك ش[ }اُْ َشْ ِ ُٝ اُ َ َ َب ؼ ػ ر ذسج د سك غ “(Allah)lah Yang Mengangkat derajat-derajat, yang memiliki „Arsy” (Q.S Ghafir:15). Penyebutan bahwa Allah istiwa‟ di atas „Arsy telah dikemukakan dalam sisi pendalilan kesepuluh di atas. ْٖاُ ِشْ َٝ َ كبعَْ ُٞ ُ ا َ ََُْ ُ ُ اِ َ« :ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ ا هلل َ ُٞ ُ َب َ : َب َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ٢ ٛش٣ش َ أث ٢ ػ ح ٍ سع ٍ ه ٍ ه أُ ٙ هلل عأ زْ ئر ل د ط ُ َ»اُ َدْٔ ِ ػش ُ ٝكٞ َ ُ اُج َ ِ، ٝأػ ِ٠ اُج َ ِ، أٝع ُ كا ٚٗ ط ٘خ ٘خ ٚه ش ٖ ػ Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam bersabda: Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus karena sesungguhnya ia adalah tengahtengah Jannah, dan Jannah yang paling tinggi. Di atasnya adalah „Arsy ArRahmaan” (H.R al-Bukhari). Ketujuhbelas: Aqidah Nabi-nabi sebelumnya secara tegas menunjukkan bahwa Allah Ta‟ala berada di atas.
Hal ini sebagaimana dakwah Nabi Musa kepada Fir‟aun, tetapi Fir‟aun menentangnya. Sebagaimana dikisahkan dalam AlQur‟an: {َ } َب ًِب َ ُ ُ ُ َِِ٢ َ٠ ُٞ َِ ِ َِ٠ ََ َ ِ َ اُ َ َب َا ِ َعْ َب َ{ }* ا َعْ َب َ َثْ ُ ُ َ َ ِ٢ َشْ ًب ِ٢ اثْ ِ َب َب َب ُ ِشْ َْٞ ُ َ َب ٍ ٖ ٣ ٛ ٓ ٕ ك ػ ٕ ٝه ُ أل ج ة أ ِؾ ُؼِ ص د ً رث ألظ٘ٚ ٝئٗ ع ٓ ئُٚ ئُ كأّط غ غٔ ٝ د أ ج ة [[73 – 63 :ؿبك ش Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta (Q.S Ghafir/Mu‟min: 36-37). Ibnu Jarir atThobary menyatakan: maksud ucapan (Fir‟aun): Sesungguhnya aku memandangnya sebagai pendusta, artinya: Sesungguhnya aku mengira Musa berdusta terhadap ucapannya yang mengaku bahwasanya di atas langit ada Tuhan yang mengutusnya (Lihat tafsir AtThobary (21/387)). Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan: “Maka Fir‟aun mendustakan Musa dalam pengkhabarannya bahwa Rabbnya berada di atas langit… (I‟laamul Muwaqqi‟in juz 2 halaman 317). Kedelapanbelas: Pensucian Allah terhadap diriNya bahwa Ia terjauhkan dari segala aib, cela dan kekurangan maupun penyerupaan. Al-Imam Ahmad rahimahullah ketika membantah Jahmiyyah, beliau berdalil dengan ayat-ayat AlQur‟an yang menunjukkan bahwa setiap penyebutan keadaan „rendah‟ selalu dalam konteks celaan. Setelah menyebutkan dalil-dalil bahwa Allah berada di atas ketinggian, beliau menyatakan: “Maka ini adalah khabar dari Allah. Allah mengkhabarkan kepada kita bahwa Ia berada di atas langit. Dan kami dapati segala sifat rendah sebagai tercela. Sebagaimana firman Allah: َ ِ َ ٤ِ ِ اُ َب ِ ِ َ اَُْعْ َ ِ اُ َسْ ِ ِ٢ اُْ ُ َب ٕٔ٘ كو ٖ ئ ٘ س ٖٓ أ لَ ذ ى ك “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka..” (Q.S AnNisaa‟: 145). َ اَُْعْ َ ِ٤ َ ِ َ ِ َ َُٞب َهْ َا ِ َب َذْ َ َجْ َِْ ُ َب َاُِْْٗ ِ اُْ ِ ِ ِ َ َ َ َبَب اَ َ٣ْ ِ َ َِب ََ َب َ ُٝا َ اَ ِ٣ َ َ َب ٍ أ لِ ٖ ٖٓ ُ٤ٌ ٗ أ ذ ٓ٘ ر ذ ٗ ؼ ٜٔ ٝ ا ظ جٖ ٖٓ أظِ ٗ ُز ٖ أسٗ سث٘ كش ى ُز ٖ ٝه Dan orang-orang kafir berkata: "Ya Rabb kami perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina" (Q.S Fusshilat:29) (Lihat ArRadd „alal Jahmiyyah waz Zanaadiqoh karya Imam Ahmad bin Hanbal halaman 147). Ibnu Batthoh juga menyatakan: Tuhan kita Allah Ta‟ala mencela keadaan rendah dan memuji yang tinggi. Sebagaimana dalam firmanNya: ِ ِ ِ٤ َ َ ِ٢ اَُْثْ َا ِ ِ َب َ ِ َ َ َب ًِ ٕأ ش س ًز ة ئ ػ ٤ ٖ ُل “Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin”.(Q.S alMuthoffifiin: 18).‟Illiyyin adalah langit ke tujuh... Dan Allah Ta‟ala juga menyatakan: ِ ِ٤ ٍ َ ِ٢ اُْ ُ َب ِ ِ َب َ ِ َ َ َب ًِ ٕلج س ًز ة ئ عج ٖ ُل “Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”(Q.S alMuthoffifiin:7) Sijjin yaitu lapisan bumi yang terbawah. (Lihat Ucapan Ibnu Batthoh tersebut dalam kitab alIbaanah juz 3 halaman 142-143). Demikianlah, beberapa sisi pendalilan yang bisa kami sebutkan dalam tulisan ini. Pada tiap sisi pendalilan, terkandung banyak dalil dari AlQur‟an maupun hadits yang shahih. AQIDAH PARA SAHABAT NABI: ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT Setelah dikemukakan sisi-sisi pendalilan berdasarkan AlQur‟an dan hadits-hadits yang shahih, berikut ini akan disebutkan ucapan-ucapan para Sahabat Nabi –ridlwaaanullaahi „alaihim ajmaiin- tentang keyakinan bahwa Allah berada di atas „ArsyNya atau di atas langit:
1) Abu Bakr as-Shiddiq radliyallaahu „anhu Ketika Rasulullah shollallaahu „alaihi wasallam meninggal, Abu Bakr As-Shiddiq menyatakan: ك إ اُ غٔبء ك ٢ اُ ز١ ئُ ٜ ٌْ ً بٕ ٝئٕ ، ٓبد ه ذ ئُ ٜ ٌْ ك إ ر ؼ جذٕٝ اُ ز١ ئُ ٜ ٌْ ٓذٔذ ً بٕ ئٕ ! اُ ٘بط أ٣ ٜب ٌْ ٜ ُاٗ و ِ ج زْ ه زَ أٝ ٓبد أك إ اُ ش عَ ه جِ ٚ ٖٓ خ ِذ ه ذ س عٍٞ ئ ال ٓذٔذ ٝٓب( ر ال ص ْ ، ٣ ٔذ ُ ْ ئ ٠ِ ا٥٣ خ خ زْ د ز٠ )أػ وبث ٌْ ػ “ Wahai sekalian manusia! Jika Muhammad adalah sesembahan kalian yang kalian sembah, sesungguhnya sesembahan kalian telah mati. Jika sesembahan kalian adalah Yang berada di atas langit, maka sesungguhnya sesembahan kalian tidak akan mati. Kemudian Abu Bakr membaca firman Allah: َػْ َبِ ُْْ َ َ٠ اْٗ َ َجْ ُْْ ُ ِ َ َْٝ َب َ َ َِْٕ اُ ُ ُ ُ َجْ ِ ِ ِْٖ َ َذْ َذْ َ ُٞ ٌ َِب ُ َ َ ٌ َ َب ٓٝ وِ ز هزَ أ ٓ د أكا شعَ ه ٚ ٓ خِ ه سع ٍ ئُ ٓذٔذ ِأ و ثٌ ػ “ dan tidaklah Muhammad kecuali seorang Rasul, telah berlalu sebelumnya para Rasul. Apakah jika ia meninggal atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang(murtad)…”(Q.S Ali Imran:144). Sampai Abu Bakar menyelesaikan bacaan ayat tersebut”(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnafnya pada Bab Maa Ja-a fii wafaatin Nabi shollallaahu „alaihi wasallam nomor hadits 37021, al-Bazzar di dalam Musnadnya juz 1 halaman 183). Riwayat perkataan Abu Bakr As-Shiddiq tersebut adalah shahih. Abu Bakr bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Muhammad bin Fudhail dari ayahnya dari Nafi‟ dari Ibnu Umar. Semua perawi tersebut (termasuk Abu Bakr bin Abi Syaibah yang merupakan guru Imam al-Bukhari) adalah rijal (perawi) al-Bukhari. 2) Abdullah bin Mas‟ud Sahabat Nabi Ibnu Mas‟ud menyatakan: خٔ غٔبئ خ ٓ غ ٤شح عٔبء٣ ٖ ً َ ٝث ٤ٖ ، ػبّ خٔ غٔبئ خ ٓ غ ٤شح ر ِ ٤ٜب ٝاُ ز٢ اُ ذٗ ٤ب اُ غٔبء ث ٤ٖ ٓب ّ، ػبّ خٔ غٔبئ خ اُ ٔبء ئُ ٠ اُ ٌش ع٢ ٝث ٤ٖ ، ػبّ خٔ غٔبئ خ اُ ٌش ع٢ ٝث ٤ٖ اُ غبث ؼخ ٓبءاُ ظ ٝث ٤ٖ ، ػب ػ ِ ٤ٚ أٗ زْ ٓب ٣ ؼ ِْ ٞ ، اُ ؼشػ ك ٞم ر ؼبُ ٠ ٝا هلل ، اُ ٔبء ػ ِ٠ ٝاُ ؼشػ ٛٝ “ Antara langit dunia dengan (langit) berikutnya sejauh perjalanan 500 tahun, dan antara 2 langit sejauh perjalanan 500 tahun, antara langit ke-7 dengan al-Kursiy 500 tahun, antara al-Kursiy dengan air 500 tahun, dan „Arsy di atas air, dan Allah Ta‟ala di atas „Arsy dalam keadaan Dia Maha Mengetahui apa yang terjadi pada kalian” (diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dalam kitab ArRaddu „alal Jahmiyyah bab Maa Bainas Samaa-id Dunya wallatii taliiha juz 1 halaman 38 riwayat nomor 34). Riwayat perkataan Ibnu Mas‟ud ini shohih. AdDaarimi meriwayatkan dari jalur Musa bin Isma‟il dari Hammad bin Salamah dari „Ashim dari Zir (bin Hubaisy) dari Ibnu Mas‟ud. Semua perawinya adalah rijaal al-Bukhari. 3) Zainab bintu Jahsy َْٖ ٍ ََ ٢:َ ُٞ ُ ٝ ع ِْ ػ ِ ٤ٚ ا هلل ص ِ٠ اُ َ ِ ِ َصْ َا ِ َ َ٠ َلْ َ ُ َبَذْ َذْ ٍ ِ٘ذ َ٣ْ َ َ َ َ ػ ٘ٚ ا هلل س ظ أٗظ ػ ٕص ٘ت أ ٘ج٢ أ ٝ ج ػِ ر خش ً ٗ ج ؼ ث ٍ رو «َ ُ َ َ َ َ ُ ٤ِ»اُ َ َب ِ ِ٢ َْٗ َ َ ِ٢ ا َ ِ َ« :روٞ ُ ًبٗذْ :ُل ٍ ٝك ٢ » عٔبٝاد َجْ ِ َْٞ ِ ِْٖ َ َبَ٠ ا ُ َ َ َ َ ِ٢ َ َب ٌٖهلل ٝصٝج٘ أٛ ُ ٌٖ صٝج ُ ع غ ك م ٓ رؼ ظ ٍ ٕهلل ئ ٘غٔ ء ك أ ٌذ Dari Anas –semoga Allah meridlainya- bahwa Zainab binti Jahsy berbangga terhadap istri-istri Nabi yang lain, ia berkata: “Kalian dinikahkah oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas tujuh langit”. Dalam lafadz lain beliau berkata: Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku di atas langit (H.R al-Bukhari).
4) Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) Sahabat Nabi yang merupakan penterjemah AlQur‟an ini, ketika menafsirkan firman Allah tentang ucapan Iblis yang akan mengepung manusia dari berbagai penjuru. Iblis menyatakan sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam AlQur‟an: {َ ُ ُْْ َ َ َِ ِْٖ ِ ْ٤َ ِْْ ٣ِ ْ٣َ ِْٖ َ ِْْ ِ َِْ َ َ ْٕ ِْْ ِ]71 :األػ شاف[ } َ َبِ ِ ِْْ َ َْٖ َ٣ْ َب ْٝع خ لٜ ٝٓ أ ذ ٜ ث ٖ ٓ ٥ر٤ٜ٘ ص ٜٗ ٔ ؽٔ ئ ٜ ٝػ أ “Kemudian sungguh-sungguh aku akan mendatangi mereka dari arah depan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan dan kiri mereka” (Q.S al-A‟raaf:17). Abdullah bin Abbas menyatakan: ْ ُ ْك ٞه ْٜ ْٖٓ ا هلل أ َ َ ِ َ ك ٞه ْٜ؛ ْٖٓ :ٝ َ٣ ن إْٔ ٣غزطغ ٍ ْٕػ “ Iblis tidak bisa mengatakan : (mendatangi mereka) dari atas mereka, karena dia tahu bahwa Allah berada di atas mereka (diriwayatkan oleh AlLaa-likaa-i dalam Syarh Ushulis Sunnah halaman 661 dengan sanad yang hasan). 5) Abdullah bin Umar
ٖأً َ َب :ُ ُ روٞ ُ :ػٔش اث ُ هب َ سُٜب، بٛ ٘ب ُ٤ َ :كوب َ َ َ َ ٍ؟ ْٖٓ َْٛ :ك وبٍ ثشا ٍ ػٔ ُ اث ُ َ َ :هب َ َعْ َ ٍ ث ِ ص٣ ِ ػ ش ٖ ٓش ٍ أ ِْ ٖ ذ ع ٍ جضسح ظ ٛ ٖ ٍ ث ٍ ٚ ِٜ ت ُ اُ شاػ٢ ٝا ؽ زشٟ ا ُ؟ َ٣ْ َ :أهٞ َ إْٔ أد ُ ٝا ُ أٗ ب :ػٔش اث ُ كوب َ ا ُ؟ ََ٣ْ َ :ٝهب َ اُ َٔب ِ ئُ ٠ سأ َ ُ كش َ َ :هب َ .اُزئ ٍ عٚ كغ ٍ غ ء ٖ ٍ هلل كأ ٖ ن هلل ٍ ٖ هلل أ ،َ ٘اُـ٘ َ ٝأػطب ُ كأػزو ُ، ٝاُـ ْ ٚ ٙ ْ Dari Zaid bin Aslam beliau berkata: Ibnu Umar melewati seorang penggembala (kambing), kemudian beliau bertanya: apakah ada kambing yang bisa disembelih? Penggembala itu menyatakan: Pemiliknya tidak ada di sini. Ibnu Umar menyatakan: Katakan saja bahwa kambing tersebut telah dimangsa serigala. Kemudian penggembala kambing tersebut menengadahkan pandangannya ke langit dan berkata: Kalau demikian, di mana Allah? Maka Ibnu Umar berkata: Aku, Demi Allah, lebih berhak untuk berkata: Di mana Allah? Sehingga kemudian Ibnu Umar membeli penggembala dan kambingnya, memerdekakan penggembala tersebut dan memberikan padanya satu kambing itu” (diriwayatkan oleh Adz-Dzahaby dalam kitab al-„Uluw halaman 860, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin menyatakan bahwa sanad hadist ini jayyid (baik)). Demikianlah, sedikit penjelasan dalil-dalil dari AlQur‟an dan AsSunnah yang shohihah yang menunjukkan bahwa Allah Ta‟ala berada di atas „Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhlukNya. Telah dikemukakan pula beberapa ucapan para Sahabat Nabi yang shorih (tegas) tentang aqidah tersebut.