Docstoc

LP ASMA

Document Sample
LP ASMA Powered By Docstoc
					             LAPORAN PENDAHULUAN

              ASTHMA BRONKHIALE




                  DISUSUN OLEH :

               DIMAS AYU WULANDARI

                     (0901190)




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG

              PRODI DIII KEPERAWATAN

                       2011
1. DEFINISI
           Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan
  oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski :
  1996).
  Asthma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan
  bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996).
  Asthma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan
  bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).


  Asthma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon.
  trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya
  penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara
  spontan maupun hasil dari pengobatan (The American Thoracic Society).


2. KLASIFIKASI
  1. Ekstrinsik (alergik)
  Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang
  spesifik, seperti :
  -   Debu
  -   serbuk bunga
  -   bulu binatang
  -   obat-obatan (antibiotic dan aspirin)
  -   dan spora jamur
  -   Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik
      terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang
      disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asthma ekstrinsik.
      2. Intrinsik (non alergik)
      Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak
      spesifik atau tidak diketahui, seperti :
  -   udara dingin
  -   infeksi saluran pernafasan
  -   dan emosi
  -   Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu
      dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien
      akan mengalami asma gabungan.
      3. Asthma gabungan
      Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk
      alergik dan non-alergik.
3. ETIOLOGI
  1. Faktor predisposisi
  o Genetik
  Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana
  cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai
  keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
  sangat mudah terkena penyakit asthma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.
  Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
  2. Faktor presipitasi
  o Alergen
  Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
  1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan.
  Seperti :
  -   Debu
  -   bulu binatang
  -   serbuk bunga
  -   spora jamur
  -   bakteri dan polusi.
      2. Ingestan, yang masuk melalui mulut.
      Seperti :
  -   makanan
  -   dan obat-obatan.
      3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.
      seperti :
  -   perhiasan
  -   logam
  -   dan jam tangan.
      o Perubahan cuaca.
      Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
      Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma.
      Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti:
  -   musim hujan
  -   musim kemarau
  -   musim bunga.
  -   Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
      o Stress.
      Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
      memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul
      harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu
      diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum
      diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
      o Lingkungan kerja.
      Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
      berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium
      hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu
      libur atau cuti.
      o Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat.
      Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
      jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan
      asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas
      tersebut.
4. MANIFESTASI KLINIK
  1. Manifestasi Klinik pada pasien asthma adalah
          batuk, dyspne, dari wheezing. Dan pada sebagian penderita disertai dengan rasa
      nyeri dada pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis,
       sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat, dalam, gelisah, duduk
       dengan tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja
       dengan keras.
  2.   Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu :
       1. Tingkat I :
       o Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
       o Timbul bila ada faktor pencetus baik di dapat alamiah maupun dengan test
       provokasi bronkial di laboratorium.
       2. Tingkat II :
       o Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan
       adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
       o Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
       3. Tingkat III :
       o Tanpa keluhan.
       o Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.
       o Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
       4. Tingkat IV :
       o Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
       o Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
       5. Tingkat V :
       o Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut
       yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
       o Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel.
       Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti : Kontraksi otot-otot pernafasan,
       cyanosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi.




5. PATOFISIOLOGI
           Asthma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
    menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
    bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara.
           Reaksi yang timbul pada asthma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai
    berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah
    antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi
    bila reaksi dengan
    antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang
    terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus
    kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat,
    alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel
    ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang
    bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan
    bradikinin.
           Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada
    dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus
    dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi
    sangat meningkat.
    Pada asthma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama
    inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian
    luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan
    selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat
    terutama selama ekspirasi.
           Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan
    adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi.
    Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru
    menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara
    ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest


6. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan yang lalu:
o Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya.
o Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan.
o Kaji riwayat pekerjaan pasien.
2. Aktivitas
o Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas.
o Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas
sehari-hari.
o Tidur dalam posisi duduk tinggi.
3. Pernapasan
o Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.
o Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur.
o Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu, melebarkan
hidung.
o Adanya bunyi napas mengi.
o Adanya batuk berulang.
4. Sirkulasi
o Adanya peningkatan tekanan darah.
o Adanya peningkatan frekuensi jantung.
o Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis.
o Kemerahan atau berkeringat.
5. Integritas ego
o Ansietas
o Ketakutan
o Peka rangsangan
o Gelisah
6. Asupan nutrisi
o Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
o Penurunan berat badan karena anoreksia.
7. Hubungan sosal
       o Keterbatasan mobilitas fisik.
       o Susah bicara atau bicara terbata-bata.
       o Adanya ketergantungan pada orang lain.
       8. Seksualitas
       o Penurunan libido.


       B. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
1. Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus.
2. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat.
       C. Intervensi
       Diagnosa Keperawatan
       1 :Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus.
       Tujuan : Jalan nafas kembali efektif.
       Kriteria Hasil :
       • Sesak berkurang
       • Batuk berkurang
       • Klien dapat mengeluarkan sputum
       • Wheezing berkurang/hilang
       • TTV dalam batas normal keadaan umum baik.
       Intervensi :
       • Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misalnya : mengi, erekeis, ronkhi.
       R/ Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. Bunyi nafas
       redup dengan ekspirasi mengi (empysema), tak ada fungsi nafas (asma berat).
       • Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi.
       R/ Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dpat ditemukan pada penerimaan
       selama strest/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi
       ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
       • Kaji pasien untuk posisi yang aman, misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada
       sandaran.
R/ Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan
gravitasi.
• Observasi karakteristik batuk, menetap, batuk pendek, basah. Bantu tindakan untuk
keefektipan memperbaiki upaya batuk.
R/ batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada klien lansia, sakit
akut/kelemahan.
• Berikan air hangat.
R/ penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.
• Kolaborasi obat sesuai indikasi.Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi).
R/ Membebaskan spasme jalan nafas, mengi dan produksi mukosa.


2 . Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
Tujuan : Pola nafas kembali efektif.
Kriteria Hasil :
• Pola nafas efektif
• Bunyi nafas normal atau bersih
• TTV dalam batas normal
• Batuk berkurang
• Ekspansi paru mengembang.
Intervensi :
• Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan
termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal.
R/ Kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat
gagal nafas. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri
dada.
• Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti crekels, mengi.
R/ ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.
• Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
R/ Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan.
• Observasi pola batuk dan karakter sekret.
R/ Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.
• Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk.
R/ Dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah
ketidak nyaman upaya bernafas.
• Kolaborasi
o Berikan oksigen tambahan.
o Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer.
R/ Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas, memberikan kelembaban pada
membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.
3 . Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil :
• Keadaan umum baik
• Mukosa bibir lembab
• Nafsu makan baik
• Tekstur kulit baik
• Klien menghabiskan porsi makan yang disediakan
• Bising usus 6-12 kali/menit
• Berat badan dalam batas normal.
Intervensi :
• Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit, rambut, konjungtiva).
R/ Menentukan dan membantu dalam intervensi lanjutnya.
• Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
R/ Petikan pengetahuan klien dapat menaikan partisi bagi klien dalam asuhan
keperawatan.
• Timbang berat badan dan tinggi badan.
R/ Penurunan berat badan yang signipikan merupakan indikator kurangnya nutrisi.
• Anjurkan klien minum air hangat saat makan.
R/ Air hangat dapat mengurangi mual.
• Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering.
R/ memenuhi kebutuhan nutrisi klien.
• Kolaborasi
o Consul dengan tim gizi/tim mendukung nutrisi.
R/ Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan.
o Berikan obat sesuai indikasi.
o Vitamin B squrb 2×1.
R/ Defisiensi vitamin dapat terjadi bila protein dibatasi.
o Antiemetik rantis 2×1
R/ untuk menghilangkan mual / muntah.


                               DAFTAR PUSTAKA
       Baratawidjaja, K. (1990) “Asma Bronchiale”, dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam,
Jakarta : FK UI.
Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”, Jakarta : AGC.
Crockett, A. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”, Jakarta : Hipocrates.
Crompton, G. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”, Blacwell
Scientific Publication.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000) “Rencana Asuhan
Keperawatan”, Jakarta : EGC.
Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”, Jakarta : EGC.
Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”, Volume 1, Jakarta :
EGC.
Price, S & Wilson, L. M. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”,
Jakarta : EGC.
Pullen, R. L. (1995) “Pulmonary Disease”, Philadelpia : Lea & Febiger.
Rab, T. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”, Jakarta : Hipokrates.
Rab, T. (1998) “Agenda Gawat Darurat”, Jakarta : Hipokrates.
Reeves, C. J., Roux, G & Lockhart, R. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”, Buku
Satu, Jakarta : Salemba Medika.
Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”, Jakarta : Info Medika.
Sundaru, H. (1995) “Asma ; Apa dan Bagaimana Pengobatannya”, Jakarta : FK UI

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:12/20/2012
language:Unknown
pages:11