Docstoc

Index Massa Tubuh

Document Sample
Index Massa Tubuh Powered By Docstoc
					Asuhan Kebidanan 1
   Indeks Massa Tubuh




     Dosen pembimbing:
       Hj. Nur Fatimah


       Namakelompok:
  1. Siti Rohmayatul Hidayah
         2. Sri Wahyu R.

        Prodi D3 kebidanan
   Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Insan Cendekia Husada Bojonegoro
               2012
                                   KATA PENGANTAR



       Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
       Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas Mata Kuliah “ASKEB”, selain itu malah
ini juaga bertujuan supaya pembaca dapat mengetahui dan memahami secara jelas mengenai
memantau kesejahteraan janin, persiapan persalinan dan kelahiran.


       Kami     menyadari    sepenuhnya     bahwa     makalah       ini   tidak   mungkin   dapat
terselesaikan dengan baik tanpa adanya dorongan dan bimbingan dari beberapa pihak. Ucapan
terimakasih kepada:
1. Ibu Hj Nur Fatimah, S.ST, selaku dosen pembimbing ASKEB
2. Seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.


       Demikian makalah ini kami susun, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun
khususnya dan pembaca pada umumnya. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan
demi kasempurnaan makalah ini.




                                                                     Bojonegoro, 5 April 2012




                                                                             Penulis
                                               BAB I
                                           PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
          Telah kita ketahui bahwa indeks massa tubuh (IMT) adalah salah satu indikator yang
   dapat dipercayai untuk mengukur lemak tubuh seseorang. Untuk menghitung IMT dapat di
   ambil dari nilai penghitungan antara berat badan & tinggi badan seseorang.
          Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut: Menurut rumus
   metrik:

                                                    Berat badan (Kg)
                        IMT      = -------------------------------------------------------
                                                   [Tinggi badan (m)] 2

B. Tujuan Penelitian
   1. Tujuan umum
        memberi tambahan pengetahuan kepada pembaca & agar pembaca lebih mengerti
        bagaimana cara menghitung lemak tubuh yang ada di dalam tubuhnya.
   2. Tujuan khusus
         Memberikan informasi kepada para ibu hamil agar mengetahui berat badan yang ideal
             selama kehamilan.
         Memberikan pengetahuan mengenai cara menghitung berat badan yang ideal.
C. Manfaat penelitian
   1.    Manfaat Bagi Penulis
         Penulis dapat lebih mengerti tentang cara menghitung IMT yang benar. Dan faktor-faktor
         yang mempengarui kenaikan dan penurunan IMT
  2. Manfaat Bagi Pembaca
         Pembaca dapat menghitung berat badan idealnya sendiri dengan rumus IMT
         Pembaca memperoleh ilmu tambahan mengenai IMT
                                                BAB I I
                                     TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Indeks Massa Tubuh
2.1.1 Definisi Indeks Massa Tubuh
         Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan
  antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat
  menjadi      indikator atau mengambarkan kadar adipositas                   dalam       tubuh    seseorang.
  IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan
  bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti
  underwater      weighing   dan     dual   energy       x-ray    absorbtiometry          (Grummer-Strawn
  LM et al., 2002). IMT merupakan altenatif untuk tindakan pengukuran lemak
  tubuh karena murah serta metode skrining kategori berat badan yang mudah
  dilakukan.
  Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut: Menurut rumus metrik:
                                                 Berat badan (Kg)
                       IMT    = -------------------------------------------------------
                                                [Tinggi badan (m)]      2



                       Atau menurut rumus Inggeris:


                       IMT = Berat badan (lb) / [Tinggi badan (in)]2 x 703


2.1.2 Kategori Indeks Massa Tubuh
         Untuk orang dewasa yang berusia 20 tahun keatas, IMT diinterpretasi menggunakan
  kategori status berat badan standard yang sama untuk semua umur bagi pria dan wanita.
  Untuk anak-anak dan remaja, intrepretasi IMT adalah spesifik mengikut usia dan jenis
  kelamin (CDC, 2009).
         Secara umum, IMT 25 ke atas membawa arti pada obes. Standar baru
  untuk IMT telah dipublikasikan pada tahun 1998 mengklasifikasikan BMI di
  bawah 18,5 sebagai sangat kurus atau underweight, IMT melebihi 23 sebagai
  berat badan lebih atau overweight, dan IMT melebihi 25 sebagai obesitas. IMT
  yang ideal bagi orang dewasa adalah diantara 18,5 sehingga 22,9. Obesitas
  dikategorikan pada tiga tingkat: tingkat I (25-29,9), tingkat II (30-40), dan tingkat III (>40)
  (CDC, 2002).
         Untuk     kepentingan     Indonesia,    batas    ambang       dimodifikasi       lagi    berdasarkan
  pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang. Pada
  akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai
  berikut:
                           Tabel 2.1: Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT)




                     Sumber: Centre for Obesity Research and Education 2007


2.1.3 Kekurangan dan Kelebihan Indeks Massa Tubuh
         Indeks massa tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator yang dapat
  dipercayai     untuk    mengukur         lemak      tubuh.       Walaubagaimanapun,          terdapat     beberapa
  kekurangan dan kelebihan dalam mnggunakan IMT sebagai indikator pengukuran
  lemak tubuh.
  Kekurangan indeks massa tubuh adalah:
   1. Pada     olahragawan:        tidak      akurat        pada     olahragawan       (terutama       atlet     bina)
      yangcenderung          berada        pada      kategori        obesitas     dalam       IMT        disebabkan
      mereka       mempunyai           massa       otot      yang      berlebihan         walaupun        presentase
      lemah       tubuh      mereka         dalam         kadar      yang       rendah.      Sedangkan          dalam
      pengukuran berdasarkan berat badan dan tinggi badan, kenaikan nilai IMT
      adalah disebabkan oleh lemak tubuh.
   2. Pada anak-anak:             tidak akurat karena jumlah lemak tubuh akan berubah
      seiringan     dengan       pertumbuhan          dan      perkembangan         tubuh      badan      seseorang.
      Jumlah      lemak      tubuh        pada     lelaki     dan     perempuan       juga      berbeda        selama
      pertumbuhan.        Oleh     itu,    pada      anak-anak        dianjurkan      untuk     mengukur         berat
      badan      berdasarkan      nilai     persentil       yang     dibedakan      atas    jenis   kelamin       dan
      usia.
   3. Pada       kelompok        bangsa:      tidak       akurat      pada      kelompok        bangsa      tertentu
      karena      harus     dimodifikasi          mengikut         kelompok       bangsa      tertentu.        Sebagai
      contoh      IMT     yang     melebihi        23,0     adalah     berada      dalam      kategori     kelebihan
      berat badan dan IMT yang melebihi 27,5 berada dalam kategori obesitas
      pada kelompok bangsa seperti Cina, India, dan Melayu. (CORE, 2007).
  Kelebihan indeks massa tubuh adalah:
   1. Biaya yang diperlukan tidak mahal
   2. Untuk      mendapat      nilai      pengukuran,        hanya     diperlukan     data     berat     badan     dan
      tinggi badan seseorang.
   3. Mudah dikerjakan dan hasil bacaan adalah sesuai nilai standar yang telah
      dinyatakan pada table IMT.
2.2 Obesitas

2.2.1 Definisi
             Obesitas     merupakan             kelainan           dari      sistem           pengaturan        berat      badan
   yang      ditandai         oleh      akumulasi         lemak           tubuh         yang           berlebihan.        Dalam
   masyarakat         primitif,        dimana          kehidupan           sehari-hari           membutuhkan            aktivitas
   fisik    yang     tinggi     dan     makanan         hanya        tersedia        sesekali,    kecenderungan          genetik
   akan      berperan     dalam        penyimpan          kalori      sebagai         lemak      karena       makanan       yang
   dikonsumsi tidak melebihi kebutuhan (Richard Harvey et al., 2005).
             Obesitas          didefinisikan            sebagai             keadaan              di        mana          adanya
   peningkatan        yang       sangat        berlebihan       pada        massa         jaringan        adiposa       (lemak).
   Obesitas        bisa   disalahartikan          sebagai          peningkatan          berat         badan     yang      sangat
   berlebihan bagi kebanyakan masyarakat. Namun, konsep ini tidak begitu
   relevan karena konsep obesitas tidak bisa diambil akibat peningkatan berat badan semata-
   mata melainkan adanya peningkatan massa jaringan adiposa (Gabriel Uwaifo, 2009).
             Obesitas         dan      kegemukan            merupakan                faktor      resiko       utama        untuk
   sejumlah         penyakit         kronis     seperti     diabetes,           penyakit         jantung,       dan      kanker.
   Obesitas      dianggap       merupakan            masalah       hanya        di     negara         berpenghasilan      tinggi,
   tetapi    sekarang         jumlah        pederita    obesitas          dan        kegemukan          semakin       meningkat
   di      negara     berpenghasilan           rendah        dan          menengah            khususnya        di     perkotaan
   (WHO, 2010).
2.2.2 Etiologi dan Faktor Resiko
             Penambahan             berat     badan        terjadi         disebabkan           oleh      ketidakseimbangan
   antara jumlah kalori yang dikonsumsi dengan kebutuhan tubuh. Jika makanan
   yang dimakan memberikan kalori lebih dari kebutuhan tubuh, maka kalori
   tersebut akan ditukar atau disimpan sebagai lemak. Pada awalnya, hanya ukuran
   sel-sel lemak yang akan meningkat. Tetapi apabila ukuran sel-sel tersebut tidak
   bisa lagi mengalami peningkatan, maka sel-sel akan menjadi bertambah banyak.
   Apabila       tubuh     mengalami            pengurangan           berat          badan,      yang      akan       berkurang
   hanyalah ukuran sel-sel lemak, bukan jumlahnya                                     yang berkurang mengakibatkan
   lemak akan mudah terbentuk semula.
             Terdapat banyak penyebab obesitas. Ketidakseimbangan asupan kalori dan konsumsi
   bervariasi bagi tiap individu. Turut memainkan peranan dan berkontribusi adalah
   usia, jenis kelamin, genetik, psikososial, dan faktor lingkungan (Gayle Galletta, 2005).
A. Faktor Genetik
            Obesitas      cenderung            berlaku         dalam         keluarga.           Ini      disebabkan        oleh
   faktor      genetik,         pola          makan        keluarga,            dan       kebiasaan           gaya        hidup.
   Walaupun          begitu,           mempunyai           anggota          keluarga              yang        obesitas     tidak
   menjamin          sesorang         itu     juga      akan        mengalami            obesitas         (Gayle        Galletta,
   2005).
B. Faktor Emosional
            Sebagian           masyarakat             mengkonsumsi                makanan            dalam          jumlah          yang
  banyak       karena         depresi,        putus       asa,     marah,         bosan,       dan      banyak         alasan        lain
  yang       tidak      ada      hubungannya              dengan         rasa      lapar.      Ini     tidak        berarti     bahwa
  penderita          obesitas         mengalami            lebih         banyak         masalah         emosional             daripada
  orang       normal          yang       lain.     Tetapi         hanya         berarti       bahwa      perasaan           seseorang
  mempengaruhi                kebiasaan          makan           dan       membuat            seseorang         makan           terlalu
  banyak.          Dalam         kasus           yang      jarang,         obesitas           dapat     digunakan              sebagai
  mekanisme            pertahanan         akibat        tekanan          sosial       yang       dihadapi        terutama           pada
  dewasa           putri.       Dalam            kasus       seperti            ini       ditambah           dengan           masalah
  emosional           yang       lain,        intervensi          psikologis           mungkin         menberikan              manfaat
  (Gayle Galletta, 2005).


C. Faktor Lingkungan
            Faktor lingkungan yang paling memainkan peranan adalah gaya hidup seseorang.
  Kebiasaan makan dan aktivitas seseorang dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya. Makan
  terlalu banyak dan aktivitas yang pasif (tidak aktif) merupakan faktor resiko utama
  terjadinya obesitas (Gayle Galletta, 2005).


D. Faktor Jenis Kelamin
            Secara       rata-rata,          lelaki      mempunyai              massa         otot     yang         lebih       banyak
  dari      wanita.         Lelaki     menggunakan               kalori     lebih         banyak       dari     wanita          bahkan
  saat      istirahat       karena       otot      membakar             kalori        lebih     banyak         berbanding           tipe-
  tipe      jaringan          yang       lain.        Dengan           demikian,          perempuan                 lebih      mudah
  bertambah           berat     badan         berbanding          lelaki     dengan           asupan     kalori        yang         sama
  (Gayle Galletta, 2005).


E. Faktor Usia
            Semakin           bertambah            usia          seseorang,           mereka          cenderung            kehilangan
  massa otot dan mudah terjadi akumulasi lemak tubuh. Kadar metabolisme juga akan menurun
  menyebabkan kebutuhan kalori yang diperlukan lebih rendah (Gayle Galletta, 2005).


F. Kehamilan
            Pada       wanita,        berat       badannya         cenderung           bertambah         4      -      6      kilogram
  setelah      kehamilan             dibandingkan          dengan          berat       sebelum         kehamilan.             Hal     ini
  bisa      terjadi     setiap        dari       kehamilan         dan     kenaikan           berat    badan         ini      mungkin
  akan menyebabkan obesitas pada wanita (Gayle Galletta, 2005).
2.2.3 Obesitas Tipe Android dan Tipe Ginekoid
             Terdapat beberapa tipe obesitas. Tipe obesitas pada lelaki (android) menunjukkan
  distribusi dan akumulasi dominan jaringan adiposa pada bagian visceral dan upper thoracic
  menunjukkan gambaran seperti buah apel. Sedangkan tipe obesitas pada wanita (ginekoid)
  menunjukkan akumulasi jaringan adiposa dijumpai secara dominan pada bagian bawah tubuh
  yaitu di daerah panggul dan paha yang mempunyai gambaran seperti buah pir. Obesitas tipe
  android adalah merupakan salah satu resiko penyebab penyakit kardiovaskular dan lebih banyak
  jikan dibandingkan dengan obesitas tipe ginekoid.
             Faktor    keturunan          atau    genetik   memberikan     kontribusi     yang   penting
  terhadap insidensi          penyakit ini         dalam    keluarga, meskipun faktor lingkungan
  memainkan           peran     dalam        perkembangannya.       Obesitas   android      berhubungan
  dengan kelainan metabolik yang juga merupakan ciri sindrom X: resistensi
  insulin,     hipertensi     arterial,     dan    dislipidemia.   Kecenderungan    seseorang    dengan
  obesitas android menjadi diabetes adalah terletak pada faktor keturunan dan faktor
  lingkungan.
         Hiperinsulinemia dan jumlah asam lemak bebas tinggi yang betindak pada hati dan
  pankreas untuk meningkatkan resistensi insulin dan munurunkan sekresi insulin merupakan 2
  faktor terjadinya diabetes tipe II. Kelainan fungsional lain yang             terjadi    menyebabkan
  obesitas android adalah disregulasi steroid adrenokortikal dan stress. Namun tidak
  ada bukti yang signifikan untuk membuktikan hipotesa diatas (D. Janjic, 1997).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:62
posted:12/16/2012
language:
pages:8