Docstoc

Faedah Tauhid

Document Sample
Faedah Tauhid Powered By Docstoc
					                                Faedah Tauhid
Faedah kali ini adalah mengenai keutamaan surat Al Ikhlas yang di dalamnya mengandung makna
sepertiga Al Qur’an. Di dalam surat tersebut terdapat sifat-sifat Allah. Barangsiapa yang mencintai surat
tersebut, maka Allah pun akan mencintainya.

 ‫عَن عَائِشةَ أَن النَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - بَعث رجالً علَى سريَّة ، وكانَ يَقرأُ ألَصْ حابِه فِى صالَتِه فَيَختِم بِپ ( قُلْ هُو هللاُ أَحد ) فَلَما‬
  َّ      ٌ َ َّ َ                    ُ ْ ِ َ                  ِ َ          َ ْ      َ َ ٍ ِ َ     َ ُ َ َ َ                               َّ         َّ َ        ْ
َ‫رجعُوا ذكرُوا ذلِك لِلنَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - فَقَال « سلُوهُ ألَى شَىء يَصْ نَع ذلِك » . فَسأَلُوهُ فَقَال ألَنَّهَا صفَةُ الرَّحْ من ، وأَنَا أُحبُّ أَن أَقْرأ‬
     َ ْ         ِ      َ ِ َ              ِ           َ             َ         َ َ ُ       ٍ ْ ِّ         َ   َ                               ِّ        َ َ    ََ     َ َ
        ِ     َّ ‫بِهَا . فَقَال النَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - « أَخبِرُوهُ أَن‬
 » ُ‫َّ هللاَ يُحبُّه‬        ْ                                          ُّ    َ

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang pada suatu
pasukan. Lalu ia membaca surat dalam shalat pada para sahabatnya dan ia selalu tutup dengan surat
“qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Ketika kembali, mereka menceritakan perihal orang tadi kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun berkata, “Tanyakan padanya, kenapa ia melakukan seperti
itu?” Mereka pun bertanya pada orang tadi, ia pun berkata, “Karena di dalam surat Al Ikhlas terdapat
sifat Ar Rahman (sifat Allah) dan aku pun suka membaca surat tersebut.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Katakan padanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375).

Penjelasan:

Di antara hadits yang menerangkan tentang tauhid adalah hadits ‘Aisyah di atas. Hadits tersebut
menunjukkan keutamaan surat Al Ikhlas. Surat tersebut berisi penjelasan bahwa Allah itu ahad dan
shomad. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada yang semisal dengan Allah Ta’ala. Hadits
di atas menunjukkan ajakan tauhid kepada Allah. Dan hadits di atas sesuai dengan judul bab yang
disebutkan oleh penulis (Imam Bukhari):

‫باب ما جاء فِى دعَاء النَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - أُمتَهُ إِلَى تَوْ حيد هللاِ تَبَارك وتَعالَى‬
    َ َ َ َ        َّ ِ ِ                 َّ                         ِّ       ِ ُ       َ َ َ

Bab: Hadits yang membicarakan ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada umatnya untuk
mentauhidkan Allah tabaroka wa ta’ala.

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Imam (penguasa) dibolehkan memerintahkan pasukannya untuk berjihad di jalan Allah.

2. Imam (penguasa) disyari’atkan memimpin atau mengomandoi pasukannya.

3. Menunjukkan keutamaan surat Al Ikhlas.

4. Wajib beriman kepada nama dan sifat Allah serta makna yang terkandung di dalamnya, juga
mensucikan Allah dari segala macam kekurangan.
5. Surat Al Ikhlas dalam kalamullah. Karena dalam surat tersebut disebutkan ”    ” (katakanlah). Artinya,
Allah memiliki sifat kalam atau berbicara.

6. Menetapkan dua nama (asma’) bagi Allah yaitu “al ahad” dan “ash shomad”. Hal ini menunjukkan
bahwa Allah memiliki sifat wahdaniyyah (esa atau tunggal) dan memiliki sifat shomadiyyah (seluruh
makhluk butuh pada Allah dan Allah memiliki sifat yang sempurna).

7. Allah tidak beranak (memiliki anak), tidak diperanakkan (memiliki orang tua) dan tidak ada yang
semisal dengan Allah.

8. Boleh ketika shalat setelah membaca surat lain lalu ditutup dengan surat Al Ikhlas. Akan tetapi,
seperti ini jangan jadi rutinitas setiap saat.

9. Boleh membaca dua surat dalam satu raka’at karena dalam hadits ini diterangkan bahwa sahabat
tersebut membaca surat lain lalu ditutup dengan surat Al Ikhlas.

10. Keutamaan sahabat yang disebutkan dalam hadits di atas walau tidak disebut namanya.

11. Keutamaan mencintai surat dan ayat yang terdapat penyebutan nama dan sifat Allah. Karena
keutamaan surat dan ayat Al Qur’an itu bertingkat-tingkat. Ada yang lebih utama dari yang lainnya.

12. Menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah.

13. Dituntukan bertanya suatu perkara yang belum jelas yang dilakukan seseorang.

14. Hendaklah tabayyun (kroscek) dahulu sebelum bertindak.

15. Boleh memutlakkan sifat Ar Rahman seperti dalam surat Al Ikhlas ini dan ayat-ayat lainnya. Karena
sifat Ar Rahman adalah sifat yang terkandung dari nama Ar Rahman (Yang Maha Penyayang). Dan ini
adalah bantahan bagi orang yang tidak menyetujui demikian seperti yang dilakukan oleh Ibnu Hazm.

Faedah yang sangat berharga. Walhamdulillah.
Allah begitu penyabar walau ada yang menyakiti-Nya. Orang Nashrani mengklaim Allah memiliki anak
atau keturunan. Allah tidak menyetujui hal ini. Namun di balik itu, Allah masih memberikan pada
makhluk-Nya rizki walau mereka menyakiti-Nya. Allah Maha Kuat dan Maha Bersabar lebih dari
makhluk-Nya.

ْ ِ َ َّ َ َ ْ
‫عَن أَبِى موسى األَشعرى قَال قَال النَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - « ما أَحد أَصْ بَر علَى أَذى سمعهُ منَ هللاِ ، يَدعونَ لَهُ الولَد ، ثُم يُعافِيهم‬
                               ُ َّ     َّ ِ َ ِ َ ً          َ ُ        ٌ َ َ                            ُّ       َ َ ِّ ِ َ ْ        َ ُ       ْ
» ‫هُم‬
   ْ  ُ‫ويَرْ زق‬
        ُ َ

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada seorang pun yang lebih sabar terhadap gangguan yang ia dengar daripada Allah. Manusia
menyatakan Allah memiliki anak. Akhirnya, Allah memaafkan dan masih memberi rizki pada mereka.”
(HR. Bukhari no. 7378)

Hadits di atas menerangkan sifat sabar bagi Allah, yaitu Allah begitu penyabar lebih dari orang-orang
yang bersabar ketika menghadapi cobaan. Imam Bukhari telah memasukkan hadits ini pada Bab firman
Allah Ta’ala,

     َ ْ ِ َّ ْ ُ ُ َّ َّ َ َّ َّ
ُ‫إِن هللاَ هُو الرزاق ذو القُوة المتِين‬

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.
Adz Dzariyat: 58). Hal ini karena Imam Bukhari menilai bahwa yang dimaksudkan sabarnya Allah kembali
pada makna kuatnya Allah. Dari sinilah terlihat kaitan antara hadits di atas dengan judul bab yang
dibawakan oleh Imam Bukhari. Hadits ini didukung pula oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa
Allah Ta’ala berfirman,

‫شتَمنِى ابْنُ آدم وما يَنبَغى لَهُ أَن يَشتِمنِى ، وتَكذبَنِى وما يَنبَغى لَهُ ، أَما شتمهُ فَقَوْ لُهُ إِن لِى ولَدًا . وأَما تَكذيبُهُ فَقَوْ لُهُ لَيْس يُعيدنِى كما بَدَأَنِى‬
           ََ ُ ِ َ                           ِ ْ َّ َ          َ     َّ                ُ ْ َ َّ         ِ ْ َ َ         َّ َ َ     َ ْ ْ            ِ ْ َ َ ََ              َ َ

“Manusia telah mencela-Ku dan tidak pantas baginya mencela-Ku. Dan manusia mendustakan-KU dan
tidak pantas baginya berbuat seperti itu. Celaan manusia pada-Ku yaitu Aku dikatakan memiliki anak.
Sedangkan mereka mendustakan-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak mungkin menghidupkannya
kembali sebagaimana Aku telah menciptakannya” (HR. Bukhari no. 3193).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Menyatakan Allah memiliki anak atau keturunan termasuk menyakiti Allah sebagaimana yang
dilakukan oleh orang Nashrani dan orang musyrik.

2. Wajib mensucikan Allah dari anak. Allah sendiri telah mensucikan diri-Nya dari demikian dalam
berbagai ayat Al Qur’an sebagaimana dalam surat Al Ikhlas dan selainnya. Dan ini sebagai bantahan
untuk orang Yahudi, Nashrani dan orang musyrik.

3. Allah disifati dengan sifat sabar terhadap yang menyakiti-Nya.

4. Tidak ada yang lebih sabar dari Allah Ta’ala. Adapun menetapkan bahwa Allah memiliki nama “Ash
Shobuur”, maka sebenarnya tidak ada dalil yang mendukung hal ini. Sebagian ulama ada yang
menetapkan Allah dengan nama Ash Shobuur(Maha Penyabar) dan ada yang tidak menetapkannya. Di
antara ulama yang menyebutkannya adalah Imam Tirmidzi dalam rangkaian nama-nama Allah (asmaul
husna). Yang tepat menurut para ulama muhaqqiqin, merangkaikan 99 nama bagi Allah tidaklah
disebutkan dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun hanya dikumpulkan oleh para
perowi hadits saja.

5. Perbedaan antara “adza” (menyakiti) dan “dhoror” (mendatangkan bahaya atau memudhorotkan)
bagi Allah Ta’ala. Tidak ada perbuatan manusia yang dapat memudhorotkan (mendatangkan bahaya
pada) Allah. Namun kalau sebagian perbuatan hamba menyakiti Allah, kita katakan iya. Oleh karenanya,
Allah menafikan (meniadakan) dhoror (bahaya) bagi diri-Nya sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

   ْ َ َّ
‫إِنَّهُم لَن يَضُرُّ وا هللاَ شيئًا‬
                       ْ ْ

“Sesungguhnya mereka tidak dapat membahayakan Allah sedikitpun.” (QS. Ali Imran: 176).

Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,

‫يَا عبَادى إِنَّكم لَن تَبلُغوا ضرى فَتَضُرُّ ونِى‬
                ِّ َ ُ ْ ْ ُْ            ِ ِ

“Wahai hamba-Ku, kalian sungguh tidak dapat memberikan dhoror (bahaya) sehingga memudhorotkan-
Ku.” (HR. Muslim no. 2577).

Namun kalau Allah disakiti (diberi “adza”) maka telah disebutkan dalam ayat,

‫إِن الَّذينَ يُؤذونَ هللاَ ورسُولَهُ لَعنَهُم هللاُ فِي الدنيَا واْلَخرة وأَعد لَهُم عذابًا مهينًا‬
    ِ ُ َ َ ْ َّ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ ُّ              َّ ُ َ              َ َ َّ      ُ ْ     ِ َّ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan
di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” (QS. Al Ahzab: 57).

Begitu juga dalam hadits qudsi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

‫يُؤذينِى ابْنُ آدم ، يَسُبُّ الدهر وأَنَا الدهر‬
ُ ْ َّ     َ َ ْ َّ          ََ            ِ ْ

“Manusia telah menyakiti-Ku, mereka mencela waktu, padahal Aku-lah yang mengatur waktu” (HR.
Bukhari no. 7491 dan Muslim no. 2246).

6. Konsekuensi dari sifat sabar bagi Allah adalah Dia memaafkan orang yang mencela-Nya dengan
mengatakan Allah memiliki anak dan Dia masih tetap memberikan rizki pada-Nya.

7. Nikmat dunia diberikan Allah pada orang baik dan orang jahat sekaligus. Jadi diberikan nikmat dunia
pada seseorang tidak menunjukkan dia mulia.

8. Allah memiliki sifat mendengar.

9. Allah Maha Mendengar orang yang mencela dan menyakiti-Nya. Lalu Allah memaafkan dan masih
tetap memberi rizki pada mereka. Inilah yang menunjukkan sifat hilm atau kasih sayang Allah.
10. Haramnya melakukan segala yang dapat menyakiti Allah Ta’ala baik dengan perbuatan atau
perkataan. Segala sesuatu yang menyakiti Allah menunjukkan bahwa Allah tidak menyukainya.

Moga menjadi faedah berharga bagi yang mau merenungkan indah dan mulianya nama dan sifat Allah.

Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna dan mulia. Allah itu Al Hayyu (Maha Hidup), kekal abadi
sehingga jika seseorang bertawakkal pada-Nya, maka tentu ia bertawakkal pada Dzat yang Maha
Sempurna. Berbeda jika ia bertawakkal pada makhluk (jin atau manusia). Makhluk tentu saja memiliki
sifat kekurangan dan mereka tidak kekal abadi. Sehingga tawakkal kepada mereka tentu jadi sia-sia
bahkan bisa membawa kepada kesyirikan.

Ada hadits yang bisa jadi renungan di mala mini yaitu mengenai do’a yang diajarkan kepada kita di mana
do’a ini berisi permintaan pada Allah agar dilindungi dari kesesatan dan lainnya.

» َ‫عن ابن عبَّاس أَن النَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - كانَ يَقُول « أَعُوذ بِعزتِك الَّذى الَ إِلَهَ إِالَّ أَنتَ ، الَّذى الَ يَموت والْجن واإلنسُ يَموتُون‬
        ُ     ْ ِ َ ُّ ِ َ ُ ُ        ِ         ْ                      ِ َ َّ ِ ُ             ُ         َ                        َّ       َّ ٍ َ ِ ْ ِ َ

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdo’a (pada Allah), “Aku berlindung pada-
Mu dengan kemuliaan-Mu yang tidak ada ilah (sesembahan) selain Engkau di mana Engkau tidaklah
mati sedangkann jin dan manusia itu mati.” (HR. Bukhari no. 7383)

Bukhari membawakan hadits di atas dalam bab,

        َ َ َّ ِ ْ َّ َ          ِ َّ ِ ْ َ َ َ                ُ ِ َ ُ ِ َْ َْ َ
) ‫باب قَوْ ل هللاِ تَعالَى ( وهو العزيز الْحكيم ) ( سبْحَانَ ربِّك ربِّ العزة ) ( و َِلِلِ العزةُ ولِرسُولِه‬
  ِ                                                      ُ                              َ َّ ِ

“Bab firman Allah Ta’ala (yang artinya): Dan Dia-lah Rabb Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana[1],
Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan[2], Padahal kekuatan
itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya[3].”

Hadits di atas adalah potongan hadits yang amat panjang yang berisi tentang bagaimana seorang
seharusnya menghadap Allah, juga berisi bagaimana seorang hamba dalam bertawassul yaitu dengan
islam dan iman. Hadits ini juga mengajarkan tentang bagaimana seseorang bertawakkal dan
menyandarkan diri pada Allah.

Lafazh hadits di atas dalam riwayat Muslim,

        ِ ُّ َ ْ ْ
َ‫اللَّهُم لَك أَسلَمت وبِك آمنت وعلَيك تَوك ْلت وإِلَيك أَنَبْت وبِك خَاصمت اللَّهُم إِنِّى أَعُوذ بِعزتِك الَ إِلَهَ إِالَّ أَنتَ أَن تُضلَّنِى أَنتَ الحى الَّذى ال‬
                             ِ ْ      ْ                     َ َّ ِ ُ              َّ       ُ ْ َ  َ َ ُ        َ ْ َ ُ َّ َ َ ْ َ َ ُ ْ َ َ َ ُ ْ ْ َ َّ
               ْ ِ َ ُّ ِ ْ َ ُ ُ
  َ‫يَموت والجن واإلنسُ يَموتُون‬
         ُ

“Allahumma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu.
Allahumma inni a’udzu bi ‘izzatika laa ilaha illa anta an tudhillanii. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal
jinnu wal insu yamuutun” [Ya Allah, aku berserah diri pada-Mu, aku beriman pada-Mu, aku bertawakkal
pada-Mu, aku bertaubat pada-Mu, dan aku mengadukan urusanku pada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya
aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada ilah selain Engkau yang bisa menyesatkanku. Engkau
Maha Hidup dan tidak mati sedangkan jin dan manusia mati] (HR. Muslim no. 2717)

Beberapa faedah dari hadits di atas:
Bolehnya tawassul (menjadikan sesuatu sebagai perantara) dalam do’a dengan iman dan amalan sholih
di mana amalan yang utama adalah amalan hati berupa tawakkal pada Allah dan khudhu’ (tunduk dan
patuh).

Segala urusan atas kuasa Allah. Tidak ada kuasa bagi hamba terhadap sesuatu selain melalui kuasa
Allah.

Di antara bentuk Islam dan Iman adalah bertawakkal pada Allah (menyerahkan seluruh urusan pada
Allah disertai melakukan sebab atau usaha).

Tawakkal pada Allah dan bertakwa pada-Nya adalah sebab datangnya pertolongan.

Allah memiliki sifat ‘izzah (kemuliaan) dan yang dimaksud ‘izzah adalah kekuatan dan menang atas yang
lainnya serta Allah bersendirian dalam kesempurnaan.

Dibolehkannya isti’adzah (meminta perlindungan pada Allah) dengan ‘izzah-Nya (kemuliaan-Nya). Dan
beristi’adzah (meminta perlindungan) dengan kemuliaan Allah adalah di antara bentuk tawassul melalui
sifat Allah yang mulia. Danbukanlah yang dimaksud kita berdo’a meminta pada sifat Allah.
Jadi tidaklah dimaksud di sini seseorang boleh berdoa dengan mengatakan, “Ya ‘izzatallah, a’idznii
[Wahai kemuliaan Allah, lindungilah aku]”. Tetapi kita berdo’a dengan mengatakan, “Allahumma bi
‘izzatika [Ya Allah, dengan kemuliaan-Mu]”.

Dibolehkannya tawassul pada Allah dengan sifat ilahiyah dan mentauhidkan-Nya.

Allah menyesatkan siapa saja sesuai kehendak-Nya dan melindungi siapa saja dari kesesatan. Oleh
karena itu, kita dituntut meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjerumus dalam kesesatan.

Allah memiliki sifat kuasa (al qodr).

Dibolehkannya meminta perlindungan pada Allah dari kesesatan. Ini sama halnya kita meminta
perlindungan dengan ridho Allah dari murka-Nya dan meminta maaf-Nya dari siksa-Nya.

Allah memiliki nama “al hayyu”, yaitu Maha Hidup.

Jin itu ada, dan mereka bisa hidup dan bisa mati.

Kehidupan bagi jin dan manusia berbeda dengan sifat hidupnya Allah. Jin dan manusia memiliki
kekurangan dalam sifat hidup karena mereka pasti akan mati. Sedangkan Allah kekal abadi.

Tawakkal hanya boleh ditujukan pada Allah dan tidak boleh pada selain-Nya karena Allah Maha Hidup
dan tidak mati.

Tidak boleh kita bertawakkal pada jin dan manusia karena mereka tidak kekal abadi dan pasti akan mati,
berbeda dengan Allah yang kekal abadi dan memiliki sifat kesempurnaan yang tidak mengandung cacat
sedikit pun.
Rahmat Allah mengalahkan murka-Nya. Ini adalah berita gembira bagi hamba yang penuh dosa agar
tidak berputus asa dari rahmat Allah. Rahmat Allah begitu luas bagi pelaku dosa yang dapat kita ambil
dari nama Allah Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) dan Al Ghofur (Maha Pengampun). Jadi janganlah berputus asa
dan segeralah bertaubat.

                                                            َ َ َ ْ َّ َ َ َّ
‫عَن أَبِى هُريرةَ عن النَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - قَال « لَما خلَق هللاُ الخَلْق كتَب فِى كتَابِه - هُو يَكتُبُ علَى نَفسه ، وهو وضْ ع عندهُ علَى‬
   َ َِْ ٌ َ َْ َ ِ ِ ْ             َ      ْ َ  ِ ِ                                        َ                           ِّ       ِ َ َ َْ         ْ
» ‫ضبِى‬َ         ْ            َّ ِ َ ْ
         َ‫العرْ ش - إِن رحْ متِى تَغلِبُ غ‬
                       َ َ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan
makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy,
“Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no.
2751)

Hadits ini adalah hadits yang amat mulia yang berisi kumpulan sifat-sifat Allah yang diselisihi oleh para
penentang sifat Allah (mu’attilah). Sifat Allah yang ditentang adalah sifat menetap tinggi di atas ‘Arsy,
sifat kitabah (menulis), sifat rahmat, dan sifat ghodob (marah). Padahal seluruh sifat tadi didukung oleh
dalil Al Qur’an dan hadits serta ijma’ para ulama salaf. Dalil yang mendukung adalah,

            ِ ِ ْ    َ ُْ َ َ َ
َ‫كتَب ربُّكم علَى نَفسه الرَّحْ مة‬
  َ

“Rabbmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang (rahmat)” (QS. Al An’am: 54). Ayat ini
menunjukkan sifat kitabah dan sifat rahmat bagi Allah.

‫يَخَافُونَ ربَّهُم من فَوْ قِهم‬
ِْ        ْ ِ ْ َ

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan
(kepada mereka).” (QS. An Nahl: 50). Ayat ini menunjukkan sifat fauqiyah bahwa Allah berada di atas
seluruh makhluk-Nya.

 َ ْ ِ َْ
‫الرَّحْ منُ علَى العرْ ش استَوى‬
                  َ َ

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang menetap tinggi di atas 'Arsy” (QS. Thoha: 5).

            ُ ُ َْ َ َ َ
‫وربُّك الغفُور ذو الرَّحْ مة‬
ِ َ

“Dan Rabbmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat.” (QS. Al Kahfi: 58).

Dalam kitab musnad dan sunan disebutkan lafazh hadits,

ِِ َ َ
‫كتَب بِيَده‬

“Allah menulis dengan tangan-Nya.” (HR. Tirmidzi no. 3543, Ibnu Majah no. 4295 dan Ahmad 2: 433,
shahih)

Dalam lafazh Muslim terdapat lafazh,

‫لَما قَضى هللاُ الْخَلْق كتَب فِى كتَابِه علَى نَفسه فَهُو موْ ضُوع عندهُ إِن رحْ متِى تَغلِبُ غضبِى‬
   َ َ    ْ      َ َ َّ َ ْ ِ ٌ         َ َ ِ ِ ْ        َ ِ ِ         َ َ َ           َّ َ      َّ
“Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-
Nya, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku” (HR. Muslim no. 2751).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Alam ini memiliki awal. Yang dimaksud dengan makhluk yang disebutkan dalam hadits di atas adalah
langit, bumi dan seluruh makhluk yang berada di antara keduanya yang diciptakan Allah dalam waktu
enam hari.

2. Sesungguhnya alam itu diciptakan dan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang tanpa berawal atau
muncul bersamaan dengan keberadaan Allah sebagaimana anggapan kalangan filsafat.

3. Kitabah (menulis) adalah di antara perbuatan Allah. Kitabah memiliki dua makna: (1) ijaab
(mengabulkan) dan (2) menulis dengan tangan dan pena.

4. Allah mewajibkan sesuatu pada diri-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Sebagaimana Allah
mengharamkan sesuatu pada diri-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Namun tidak ada seorang pun yang
mewajibkan atau mengharamkan sesuatu bagi Allah. Hal ini mengandung faedah:

5. Bantahan terhadap Asya’iroh yang berkata bahwa Allah tidaklah mewajibkan sesuatu pada diri-Nya.

6. Menetapkan sifat nafs (diri) bagi Allah sebagai sifat dzatiyah.

7. Allah memiliki sifat fouqiyah pada Allah (yaitu Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya) dan sifat
istiwa’ (menetap tinggi di atas ‘Arsy) bagi Allah.

8. Allah memiliki kitab yang berisi, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”

9. Kitab tadi berada di atas ‘Arsy.

10. Allah memiliki sifat rahmat.

11. Allah memiliki sifat ghodob (marah).

12. Rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.

13. Rahmat Allah mengalahkan murka-Nya dibuktikan dengan nama Allah Al ‘Afwu (Maha Pemaaf), Al
Ghofur (Maha Pengampun), At Tawwab (Maha Penerima Taubat) di mana Allah begitu pemaaf, begitu
mengampuni dosa-dosa hamba dan menerima taubat mereka.

14. Rahmat (sifat penyayang) merupakan lawan dari sifat ghodob (marah), ridho lawan dari
sifat sakhoth (murka), sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam berbagai ayat Al Qur’an di antaranya:

‫أَفَمن اتَّبَع رضْ وانَ هللاِ كمن بَاء بِسخط منَ هللاِ ومأْواهُ جهَنَّم وبِئس المصير‬
ُ ِ َ ْ َ ْ َ ُ َ َ َ َ َّ ِ ٍ َ َ َ ْ َ َ َّ                   َ ِ َ ِ َ

“Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan
(yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. Ali Imran: 162).
Juga ditunjukkan dalam hadits,

‫اللَّهُم أَعُوذ بِرضاك من سخطك‬
َ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِ ُ   َّ

“Ya Allah, aku berlindung dengan ridho-Mu dari murka-Mu” (HR. Muslim no. 486).

15. Hadits di atas menunjukkan bahwa sifat harap mengalahkan rasa takut.

16. Sifat Allah itu bertingkat-tingkat.

17. Hadits di atas menunjukkan kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat dosa, janganlah mereka
berputus asa dari rahmat Allah.

18. Penetapan sifat ‘indi’ (sisi) bagi Allah yang menunjukkan tempat.

19. Hadits di atas menunjukkan bantahan bagi Jahmiyah dan Mu’tazilah serta yang mengikuti
pemahaman mereka di mana mereka menolak berbagai sifat yang telah disebutkan dalam hadits ini.

Semakin merenungi nama dan sifat Allah, semakin hati ini menjadi tenang.

Faedah tauhid berikut akan membicarakan dua sifat Allah yang mulia yaitu kebersamaan Allah dan
kedekatan Allah pada hamba-Nya. Ketika hamba semakin dekat pada Allah, maka Allah lebih dekat lagi
padanya. Sehingga hal ini mengingatkan kita jangan sampai lalai dari mengingat atau berdzikir pada
Allah. Juga hadits ini membicarakan bagaimana Allah sesuai dengan sangkaan hamba-Nya, yang di mana
hal ini menuntut kita supaya selalu husnuzhon pada Allah dalam do’a dan rasa harap.

، ‫عَن أَبِى هُريرةَ - رضى هللا عنه - قَال قَال النَّبِى - صلى هللا عليه وسلم - « يَقُول هللاُ تَعالَى أَنَا عند ظَنِّ عبدى بِى ، وأَنَا معهُ إِذا ذكرنِى‬
       َ ََ َ ََ َ                       َِْ        َِْ            َ َّ ُ                                 ُّ      َ َ                             َ َْ       ْ
َ         ْ َ ً َ ِ ِ ْ ُ َّ ٍ ِ َّ َ
‫فَإِن ذكرنِى فِى نَفسه ذكَرْ تُهُ فِى نَفسى ، وإِن ذكرنِى فِى مأل ذكَرْ تُهُ فِى مأل خيْر منهُم ، وإِن تَقَرَّب إِلَى بِشبْر تَقَربْت إِلَيه ذراعا ، وإِن تَقَرَّب‬
                                                                 ْ َ ْ ِْ ٍ َ ٍ َ              َ ٍ َ         َ ََ ْ َ   ِ ْ               َ ِ ِ ْ        َ ََ ْ
  ً‫إِلَى ذراعًا تَقَربْت إِلَيه بَاعًا ، وإِن أَتَانِى يَمشى أَتَيتُهُ هَرْ ولَة‬
» َ              ْ      ِ ْ           ْ َ           ِ ْ ُ َّ            َ ِ َّ

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.
Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di
suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan
malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat
kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa),
maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Penjelasan:

Hadits ini adalah hadits qudsi, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari
Allah Ta’ala (lafazh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maknanya dari Allah). Hadits ini adalah hadits
yang amat mulia di mana berisi perkara mulia yang berkenaan dengan Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu
berisi pembicaraan sifat-sifat Allah.

Di antara faedah dari hadits di atas:
1. Penetapan bahwa Allah memiliki sifat kalam (berbicara). Sebagaimana hal ini ditunjukkan pada hadits
dalam perkataan “      ”.

2. Allah merealisasikan apa yang disangkakan hamba-Nya yang beriman. Sebagaimana hal ini adalah
makna “                  ” (Aku sesuai persangkaan hamba pada-Ku).

3. Hadits ini mengajarkan untuk berhusnuzhon (berprasangka baik) pada Allah. Yaitu setiap hamba
hendaklah berprasangka pada Allah bahwasanya Dia maha pengampun, begitu menyayangi hamba-Nya,
maha menerima taubat, melipatgandakan ganjaran dan memberi pertolongan bagi orang beriman.
Berhusnuzhon pada Allah di sini dibuktikan dengan seorang hamba punya rasa harap dan rajin
memohon do’a pada Allah.

4. Hadits ini menunjukkan sifat kebersamaan Allah dengan hamba-Nya (ma’iyyatullah). Dan sifat
kebersamaan yang disebutkan dalam hadits ini adalah sifat kebersamaan yang khusus.

5. Dorongan untuk berdzikir pada Allah baik dalam keadaan bersendirian dan terang-terangan. Dzikir
pada Allah ini bisa dilakukan dengan mengucapkan bacaan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah),
tauhid (laa ilaha illalah), dan takbir (Allahu akbar). Jadi lafazh “      ” (jika ia mengingat-Ku
pada dirinya) bukanlah bermakna hamba tersebut mengingat Allah dalam hati tanpa dilafazhkan.
Namun maknanya adalah hamba tersebut mengingat Allah dalam keadaan bersendirian tanpa ada yang
mengetahui.

6. Allah akan menyebut-nyebut orang yang mengingat-Nya. Jika Allah menyebut-nyebut seperti ini,
menunjukkan bahwa sebutan tersebut mengandung pujian dan kasih sayang Allah (rahma Allah) pada
hamba tersebut.

7. Balasan sesuai dengan amalan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Hal ini dibuktikan pada ayat Al
Qur’an,

ُْ ُ ْ          ُ ْ
‫فَاذكرُونِي أَذكرْ كم‬

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (QS. Al Baqarah: 152). Dalam
hadits di atas dibuktikan pula dalam lafazh,

ْ ِْ ٍ َ ٍ َ                َ ٍ َ        َ ََ ْ َ    ِ ْ               َ ِ ِ ْ        َ ََ ْ
‫فَإِن ذكرنِى فِى نَفسه ذكَرْ تُهُ فِى نَفسى ، وإِن ذكرنِى فِى مأل ذكَرْ تُهُ فِى مأل خيْر منهُم‬

“Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di
suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan
malaikat).”

Juga dalam lafazh,

ً‫وإِن تَقَرَّب إِلَى بِشبْر تَقَربْت إِلَيه ذراعًا ، وإِن تَقَرَّب إِلَى ذراعًا تَقَربْت إِلَيه بَاعا ، وإِن أَتَانِى يَمشى أَتَيتُهُ هَرْ ولَة‬
    َ          ْ      ِ ْ           ْ َ ً ِ ْ ُ َّ                   َ ِ َّ َ          ْ َ        َ ِ ِ ْ ُ َّ ٍ ِ َّ َ                    ْ َ
“Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku
sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku
mendatanginya dengan berjalan cepat.”

8. Allah menyebut-nyebut hamba-Nya dengan kalam yang ia perdengarkan pada para malaikat yang Dia
kehendaki. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam lafazh hadits,

ْ ِْ ٍ َ ٍ َ                َ
‫ذكَرْ تُهُ فِى مأل خيْر منهُم‬

“…, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).”

Juga dikuatkan dalam hadits shahih lainnya,

ُ ‫إِن هللاَ إِذا أَحبَّ عبدًا دعَا جبْريل فَقَال إِنِّى أُحبُّ فُالَنًا فَأَحبَّه‬
      ِ                 ِ          َ      َ ِ ِ َ َْ           َ َ َّ َّ

“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berkata, “Sesungguhnya Aku
mencintai si fulan, maka cintailah dia.” (HR. Bukhari no. 7485 dan Muslim no. 2637).

9. Hadits ini menunjukkan dekatnya hamba pada Allah dan dekatnya Allah pada hamba-Nya.

10. Di antara nama Allah adalah: Al Qoriib Al Mujiib (Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan).
Allah Ta’ala menyebutkan mengenai nabi-Nya, Sholih ‘alaihis salam,

ٌ‫فَاستَغفِرُوهُ ثُم تُوبُوا إِلَيه إِن ربِّي قَريبٌ مجيب‬
   ِ ُ   ِ       َ َّ ِ ْ             َّ         ْ ْ

“Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbmu amat
dekat lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS. Hud: 61). Sifat Allah dekat sebagaimana sifat Allah
lainnya. Sifat ini tidaklah sama dengan kedekatan makhluk dan tidak diketahui kaifiyah (cara) kedekatan
Allah tersebut.

11. Kedekatan Allah pada hamba itu bertingkat-tingkat. Ada hamba yang Allah lebih dekat padanya lebih
dari yang lain.

12. Kedekatan hamba pada Allah bertingkat-tingkat pula. Ada hamba yang begitu dekat pada Allah lebih
dari yang lain.

13. Kedekatan Allah didekati dengan penyebutan sesuatu yang terindra seperti dengan jengkal, hasta
dan depa. Namun ini cuma secara maknawi yang menunjukkan Allah itu dekat.

14. “Harwalah” yang disebutkan dalam hadits bermakna berjalan cepat. Dari konteks hadits
menunjukkan bahwa jika hamba dekat pada Allah, maka Allah akan semakin dekat pada hamba.

Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah untuk semakin dekat dengan-Nya dan selalu
mengingat-Nya di kala sendirian maupun di kumpulan orang banyak. Wallahu waliyyut taufiq.

Setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba bukan hanya dibalas satu kebaikan semisal, namun
karena kemurahan Allah dibalas dengan 10 kebaikan bahkan bisa berlipat hingga 700 kalinya. Bahkan
jika hanya bertekad untuk melakukan amalan baik namun ada halangan, itu pun bisa dicatat sebagai
satu kebaikan.

 ‫عَن أَبِى هُريرةَ أَن رسُول هللاِ - صلى هللا عليه وسلم - قَال « يَقُول هللاُ إِذا أَراد عبدى أَن يَعمل سيِّئَةً فَالَ تَكتُبُوهَا علَيه حتَّى يَعملَهَا ، فَإِن‬
 ْ              َ ْ       َ ِْ َ           ْ            َ َ َ ْ ْ           ِ ْ َ َ َ َ َّ ُ             َ                                     َّ َ َ َّ َ ْ َ                   ْ
ُ‫تُبُوهَا لَه‬ْ‫عملَهَا فَاكتُبُوهَا بِمثلِهَا وإِن تَركهَا من أَجْ لِى فَاكتُبُوهَا لَهُ حسنَةً وإِذا أَراد أَن يَعمل حسنَةً فَلَم يَعم ْلهَا فَاكتُبُوهَا لَهُ حسنَةً ، فَإِن عملَهَا فَاك‬
                        َِ ْ           َ َ               ْ        َ ْ ْ          َ َ َ َ ْ ْ َ َ َ َ َ َ                      ْ             ْ ِ َ َ ْ َ          ِْ           ْ         َِ
 » ‫بِعشر أَمثَالِهَا إِلَى سبعمائَة‬
     ٍ ِ ِ   َْ               ْ ِ  ْ َ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Jika
hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga ia melakukannya. Jika ia melakukan
kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut
karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia bertekad melakukan satu kebaikan, maka
catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya sepuluh
kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).




Penjelasan:

Hadits ini adalah hadits qudsi (maknanya dari Allah dan lafazhnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Hadits ini berisi faedah mengenai perbuatan hamba. Hadits ini dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala,

   ُ ْ َ ْ َ ْ ِ َّ                                                                     ِ َ َ ْ َ َ ْ َ
َ‫من جاء بِالحسنَة فَلَهُ عشر أَمثَالِهَا ومن جاء بِالسيِّئَة فَال يُجْ زَى إِال مثلَهَا وهُم ال يُظلَمون‬
                                         َ ِ َّ َ َ ْ َ َ                ْ ُ ْ َ

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan
barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang
dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al An’am: 160).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1. Penetapan bahwa Allah itu berbicara karena disebutkan dalam hadits:                                                                         (Allah berfirman).

2. Penetapan adanya ubudiyah (peribadatan) khusus yaitu ubudiyah yang dilakukan oleh orang beriman.

3. Hadits di atas merupakan sanggahan bagi Jabariyah yang menyatakan bahwa manusia itu dipaksa oleh
Allah dalam berbuat. Dalam hadits ini jelas dinyatakan bahwa manusia itu punya kehendak dan amalan
dari dirinya sendiri.

4. Balasan amalan hamba dihitung dengan bilangan.

5. Allah mewakilkan pada malaikat untuk mencatat kebaikan dan kejelekan. Sebagaimana hal ini
disebutkan dalam ayat,

          َْ َ
)12( َ‫كال بَلْ تُكذبُونَ بِالدِّين (9) وإِن علَيكم لَحافِظينَ (01) كراما كاتِبِينَ (11) يَعلَمونَ ما تَفعلُون‬
                     ُ ْ                 َ ً َ ِ         ِ َ ْ ُ ْ َ َّ َ        ِ              ِّ َ       َّ َ
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia
(di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Infithar: 10-12).

6. Hadits ini menunjukkan bahwa malaikat itu mengetahui setiap amalan hamba sampai pun kehendak
(tekad atau niat) mereka di dalam hati.

7. Siapa yang bertekad melakukan kebaikan, namun tidak bisa ia amalkan, maka malaikat akan mencatat
satu kebaikan untuknya.

8. Jika seorang hamba melakukan suatu amal kebaikan yang telah ia niatkan, maka dicatat untuknya 10
kebaikan hingga bisa berlipat hingga 700 kali.

9. Jika seorang hamba bertekad melakukan kejelekan lantas tidak jadi dilaksanakan karena Allah, maka
dicatat baginya satu kebaikan.

10. Jika meninggalkan kejelekan bukan karena Allah namun karena kurang semangatnya atau karena
tidak mampunya dia saat itu, maka tidak dicatat untuknya kebaikan dan tidak pula kejelekan.

11. Jika seorang hamba melaksanakan suatu kejelekan maka dicatat baginya satu kejelekan saja.

12. Balasan Allah bagi yang berbuat kebaikan adalah atas dasar fadhl (pemberian karunia) dan balasan-
Nya bagi yang berbuat kejelekan adalah atas dasar ‘adl (keadilan).

13. Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk mencatat apa yang hamba lakukan dan apa yang
ditinggalkan.

14. Hadits ini menunjukkan dorongan untuk melakukan amalan kebaikan dan meninggalkan kejelekan.

15. Yang dimaksud kebaikan adalah setiap yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan baik dengan perintah
wajib maupun sunnah. Sedangkan kejelekan adalah setiap yang Allah dan Rasul-Nya larang baik berupa
dosa kecil maupun dosa besar.

16. Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫إِنَّما األَعمال بِالنِّيَّات‬
ِ            ُ َ ْ     َ

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Semoga Allah memberikan taufik pada kita untuk berilmu dan beramal sholih.

Satu hadits lagi mengenai faedah tauhid yang bisa kita renungkan. Hadits ini membicarakan tentang
luasnya ampunan Allah bagi hamba yang penuh dosa. Ketika ia mengakui Allah itu Maha Pengampun
dan akan mengampuni setiap dosa, Dia pun akan menerima dan memaafkan dosa hamba tersebut.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
                                                                       ُ َ َ َ ُ َ ُ ْ
‫« إِن عبدًا أَصاب ذنبًا - وربَّما قَال أَذنَب ذنبًا - فَقَال ربِّ أَذنَبْت - وربَّما قَال أَصبْت - فَاغفِرْ لِى فَقَال ربُّه ُ أَعلِم عبدى أَن لَهُ ربًًّا يَغفِر الذنب‬
  َ ْ َّ ُ ْ َ           َّ      َِْ َ َ       َ َ               ْ                                          َ َ         َْ َ ْ َ َ ُ َ             َْ َ َ      ْ َ َّ
َّ‫ويَأْخذ بِه غفَرْ ت لِعبدى . ثُم مكث ما شَاء هللاُ ، ثُم أَصاب ذنبًا أَوْ أَذنَب ذنبًا ، فَقَال ربِّ أَذنَبْت - أَوْ أَصبْت - آخر فَاغفِرْ هُ . فَقَال أَعلِم عبدى أَن‬
         َِْ َ َ َ                ْ َ َ         ُ َ             ُ ْ      َ َ          َْ َ ْ           ْ َ َ َ َّ         َّ َ      َ َ َ َ َّ       َِْ  ُ َ ِ ُُ َ
- ‫لَهُ ربًًّا يَغفِر الذنب ويَأْخذ بِه غفَرْ ت لِعبدى ، ثُم مكث ما شَاء هللاُ ثُم أَذنَب ذنبًا - وربَّما قَال أَصاب ذنبًا - قَال قَال ربِّ أَصبْت - أَوْ أَذنَبْت‬
     ُ ْ          ُ َ           َ َ َ            َْ َ َ َ َ ُ َ              ْ َ َ ْ َّ َّ َ              َ  َ َ َ َّ       ِ ْ َ ُ َ ِ ُ ُ َ َ ْ َّ ُ ْ َ
» ‫آخر فَاغفِرْ هُ لِى . فَقَال أَعلِم عبدى أَن لَهُ ربًًّا يَغفِر الذنب ويَأْخذ بِه غفَرْ ت لِعبدى - ثَالَثًا - فَ ْليَعملْ ما شَاء‬
      َ     َ َ ْ                      ِ ْ َ ُ َ ِ ُ ُ َ َ ْ َّ ُ ْ َ                   َّ   َِْ َ َ َ                        ْ َ َ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang terjerumus dalam dosa (berbuat dosa), lalu ia berkata, “Wahai
Rabbku, aku telah terjerumus dalam dosa (berbuat dosa), ampunilah aku.” Rabbnya menjawab, “Apakah
hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb Yang Maha Mengampuni dosa dan akan menyiksa
hamba-Nya? Ketahuilah, Aku telah mengampuninya.” Kemudian ia berhenti sesuai yang Allah
kehendaki. Lalu ia terjerumus lagi ke dalam dosa (berbuat dosa). Lalu ia berkata, “Wahai Rabbku, aku
telah terjerumus dalam dosa (berbuat dosa) yang lain, ampunilah aku.” Rabbnya menjawab, “Apakah
hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb Yang Maha Mengampuni dosa dan akan menyiksa
hamba-Nya? Ketahuilah, Aku telah mengampuninya.” Kemudian ia berhenti sesuai yang Allah
kehendaki. Lalu ia terjerumus lagi ke dalam dosa (berbuat dosa). Lalu ia berkata, “Wahai Rabbku, aku
telah terjerumus dalam dosa (berbuat dosa) yang lain, ampunilah aku.” Rabbnya menjawab, “Apakah
hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb Yang Maha Mengampuni dosa dan akan menyiksa
hamba-Nya? Ketahuilah, Aku telah mengampuninya.” Ini disebut tiga kali. Rabb menambahkan,
“Lakukanlah semau dia.” (HR. Bukhari no. 7507 dan Muslim no. 2758).



Penjelasan:

Hadits ini adalah hadits qudsi dan merupakan hadits yang mulia. Hadits ini adalah di antara dalil yang
menunjukkan keutamaan besar dari istighfar atau memohon ampun pada Allah, juga menunjukkan
agung dan mulianya Allah Ta’ala. Hadits ini berisi penjelasan nama Allah ‘al ghofuur’ dan ‘al ghofaar’.
Hadits ini juga berisi penjelasan pentingnya husnu zhon (berprasangka baik) pada Allah dan mulianya
rasa harap pada Allah.

Hadits tersebut berisi beberapa faedah:

1. Salah satu perkara ghoib yang Allah tampakkan pada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
keadaan amalan yang dimiliki sebagian hamba.

2. Hadits ini berisi penetapan adanya ‘ubudiyyah khusus (bentuk ibadah yang khusus pada Allah).

3. Hamba Allah yang sholih sekalipun bisa saja terjerumus dalam beberapa dosa. Akan tetapi ia tidak
terus menerus melakukan dosa tersebut.

4. Seorang mukmin walau dia seorang yang sholeh sekalipun bisa saja terjerumus dalam dosa dan ia
tidaklah ma’shum (selamat dari kesalahan).

5. Mengakui setiap dosa menunjukkan taubat dan memohon ampunan pada Allah (istighfar).
6. Hadits ini menunjukkan keutamaan berilmu tentang Allah dan mengetahui nama serta sifat-Nya yang
mulia karena dalam hadits disebutkan, “Apakah hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb Yang
Maha Mengampuni dosa dan akan menyiksa hamba-Nya.”

7. Keutamaan istighfar (memohon ampunan Allah). Jika istighfar diiringi dengan taubat, itu akan lebih
menyempurnakan ampunan dari Allah. Namun jika tidak diiringi taubat, namun diiringi dengan kejujuran
dalam memohon ampun pada Allah, maka itu kembali pada Allah. Jika Allah berkehendak, Dia akan
mengampuni dosa hamba-Nya. Jika Allah berkehendak, Dia akan menyiksanya.

8. Sesungguhnya Allah mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa saja yang Dia
kehendaki.

9. Bukanlah syarat taubat, seorang hamba tidak boleh kembali pada dosa yang telah diperbuat. Namun
syaratnya adalah jika ia ternyata kembali berbuat dosa, ia harus bertaubat.

10. Siapa yang jujur dalam taubat dan istighfarnya, maka Allah pasti akan mengampuni dosanya walau ia
berbuat dosa berulang dan kembali berulang.

11. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah berbicara.

12. Lafazh hadits yang menyebutkan, “Lakukanlah semau dia”, ini adalah janji dari Allah berupa
ampunan ketika seorang hamba bertaubat. Dan hadits ini bukanlah izin untuk mengulangi dosa lagi.
Oleh karenanya, tetap harus hati-hati dalam berbuat dosa supaya mendapatkan ampunan Allah. Karena
setiap hamba tidaklah tahu kapan ia bisa beristighfar dan bertaubat lagi. Boleh jadi ia tidak sempat
melakukannya karena maut ternyata lebih dulu menghampiri.

13. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah berkehendak.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Wallahu waliyyut taufiq.

 (*) Faedah tauhid di sini adalah kumpulan dari faedah pelajaran tauhid bersama Syaikh ‘Abdurrahman
bin Nashir Al Barrokhafizhohullah. Beliau seorang ulama senior yang sangat pakar dalam akidah. Beliau
menyampaikan pelajaran ini saat dauroh musim panas di kota Riyadh di Masjid Ibnu Taimiyah Suwaidi
(30 Rajab 1433 H). Pembahasan tauhid tersebut diambil dari kitab Shahih Bukhari yang disusun ulang
oleh Az Zubaidi dalam Kitab At Tauhid min At Tajriid Ash Shoriih li Ahaadits Al Jaami’ Ash Shohih.

rumaysho

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:101
posted:12/13/2012
language:Malay
pages:15
Abu Fathan As Salafy Abu Fathan As Salafy Ahlus Sunnah Wal Jamaah www.markazabufathan.co.nr
About kunjungi Markaz Abu Fathan di : www.desasalaf.blogspot.com, www.kampungsalaf.wordpress.com, www.markazsunnah.blogspot.com