Docstoc

padi sawah

Document Sample
padi sawah Powered By Docstoc
					                                         BAB II. ISI

        Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun
terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu
pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi
liar.Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan
gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas
penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.

        Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau
Glumiflorae). Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa
batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna
dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat
daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk,
tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang
duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana
buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm,
tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur
dominan adalah endospermium yang dimakan orang.

       Asal-usul padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga
dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza
glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika. Padi pada saat ini tersebar luas di
seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan
suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli
menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa.
Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan
di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada
sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang
berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.

        Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma)
bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi
dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma
jika telah masak. Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri,
karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama. Setelah
pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot
berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir
perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi
tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan. Bagi manusia, pati
dimanfaatkan sebagai sumber gizi.

      Teknik bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil
yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan
persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman hingga
berbuah ini harus dipelihara yang baik, terutama harus diusahakan agar tanaman terhindar
dari serangan hama dan penyakit yang sering kali menurunkan produksi.

1. PERSEMAIAN
        Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan
persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian
ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemian harus benar-
benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan
subur dapat tercapai.
a. Penggunaan benih
- Benih unggul
- Bersertifikat
- Kebutuhan benih 25 -30 kg / ha
b. Persiapan lahan untuk persemaian
- Tanah harus subur
- Cahaya matahari
- Pengairan
- Pengawasan
c. Pengolahan tanah calon persemaian
- Persemaian kering
- Persemaian basah
- Persemaian sistem dapog

Persemaian Kering
        Persemaian kering biasanya dilakukan pada tanah-tanah remah, banyak terdapat
didaerah sawah tadah hujan. Persemaian tanah kering harus dilakukan dengan baik yaitu :
- Tanah dibersihkan dari rumput clan sisa -sisa jerami yang masih tertinggal, agar tidak
mengganggu pertumbuhan bibit.
- Tanah dibajak atau dicangkul lebih dalam dari pada apa yang dilakukan pada
persemaian basah, agar akar bibit bisa dapat memasuki tanah lebih dalam, sehingga dapat
menyerap hara lebih banyak.
- Selanjutnya tanah digaru
Areal persemaian yang tanahnya sempit dapat dikerjakan dengan cangkul, yang pada
dasarnya pengolahan tanah ini bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, agar tanah
menjadi gembur.
Ukuran bedengan persemaian :
- Panjang bedengan : 500 -600 cm atau menurut kebutuhan, akan tetapi perlu diupayakan
agar bedengan tersebut tidak terlalu panjag
- Lebar bedengan 100 -150 cm
- Tinggi bedengan 20 -30 cm
Diantara kedua bedengan yang berdekatan selokan, dengan ukuran lebar 30-40 cm.
Pembuatan selokan ini dimaksud untuk mempermudah :
- Penaburan benih dan pencabutan bibit
- Pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi :
¬ Penyiangan
¬ Pengairan
¬ Pemupukan
¬ Pemberantasan hama dan penyakit
Persemaian diupayakan lebih dari 1/25 luas sawah yang akan ditanami, penggunaan
benih pada persemaian kering lebih banyak dari persemaian basah.

Persemaian Basah
Perbedaan antara persemaian kering dan basah terletak pada penggunaan air. Persemaian
basah, sejak awal pengolahan tanah telah membutuhkan genangan air. Fungsi genangan
air :
- Air akan melunakan tanah
- Air dapat mematikan tanaman pengganggu ( rumput )
- Air dapat dipergunakan untuk memberantas serangga pernsak bibit
        Tanah yang telah cukup memperoleh genangan air akan menjadi lunak, tanah
yang sudah lunak ini diolah dengan bajak dan garu masing-masing 2 kali. Namun
sebelum pengolahan tanah harus dilakukan perbaikan pematang terlebih dahulu,
kemudian petak sawah dibagi menurut keperluan. Luas persemaian yang digunakan 1/20
dari areal pertanaman yang akan ditanami.

Sistem Dapog
        Di Filipina telah dikenal cara penyemaian dengan sistem dapog, system tersebut
di Kabupaten Bantul telah dipraktekan di Desa Pendowoharjo, Sewon.
Cara penyemaian dengan sistem dapog :
- Persiapan persemaian seperti pada persemaian basah
- Petak yang akan ditebari benih ditutup dengan daun pisang
- Kemudian benih ditebarkan diatas daun pisang, sehingga pertumbuhan benih dapat
menyerap makanan dari putik lembaga
- Setiap hari daun pisang ditekan sedikit demi sedikit kebawah
- Air dimasukan sedikit demi sedikit hingga cukup sampai hari ke 4
- Pada umur 10 hari daun pisang digulung dan dipindahkan kepersemaian yang baru atau
tempat penanaman disawah
d. Penaburan benih
Perlakuan sebagai upaya persiapan Benih terlebih dahulu direndam dalam air dengan
maksud :
- Seleksi terhadap benih yang kurang baik, terapung, melayang harus dibuang
- Agar terjadi proses tisiologis
        Proses tisiologis berarti terjadinya perubahan didalam benih yang akhimya benih
cepat berkecambah. Terserap atau masuknya air kedalam benih akan mempercepat proses
tisiologis. Lama perendaman benih. Benih direndam dalam air selama 24 jam, kemudian
diperam( sebelumnya ditiriskan atau dietus )
Lamanya pemeraman
Benih diperam selama 48 jam, agar didalam pemeraman tersebut benih berkecambah.
Pelaksanaan menebar benih
Hal- hal yang hams diperhatikan dalam menebar benih adalah :
- Benih telah berkecambah dengan panjang kurang lebih 1 mm
- Benih tersebar rata
- Kerapatan benih harus sama
e. Pemeliharaan persemaian
  1) Pengairan
Pada pesemaian secara kering
        Pengairan pada pesemaian kering dilakukan dengan cara mengalirkan air
keselokan yang berada diantara bedengan, agar terjadi perembesan sehingga
pertumbuhan tanaman dapat berlangsung, meskipun dalam hal ini sering kali ditumbuhi
oleh tumbuhan pengganggu atau rumput. Air berperan menghambat atau bahkan
menghentikan pertumbuhan tanaman pengganggu / rumput. Perlu diketahui bahwa
banyaknya air dan kedalamanya merupakan factor yang memperngaruhi perkembangan
semai, terutama pada pesemaian yang dilakukan secara basah.
Pada pesemaian basah
        Pengairan pada pesemaian basah dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Bedengan digenangi air selama 24 jam
- Setelah genagan itu berlangsung selama 24 jam, kemudian air dikurang hingga
keadakan macak-macak (nyemek-nyemek), kemudian benih mulai bisa disebar.
Pengurangan air pada pesemaian hingga keadaan air menjadi macakmacak ini,
dimaksudkan agar benih yang disebar dapat merata dan mudah melekat ditanah sehingga
akar mudah masuk kedalam tanah.
- Benih tidak busuk akibat genagan air
- Memudahkan benih bernafas / mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga proses
perkecambahan lebih cepat
- Benih mendapat sinar matahari secara langsung
        Agar benih dalam bedengan tidak hanyut, maka air harus diatur sesuai dengan
keadaan, misalnya : bila akan terjadi hujan maka bedengan perlu digenangi air, agar
benih tidak hanyut. Penggenangan air dilakukan lagi pada saat menjelang pemindahan
bibit dari pesemaian kelahan pertanaman, untuk memudahkan pencabutan.
2) Pemupukan di persemaian
Biasanya unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar ialah unsur hara
makro. Sedangkan pupuk buatan / anorganik seperti Urea, TSP dll diberikan menjelang
penyebaran benih dipesemaian, bila perlu diberi zat pengatur tumbuh. Pemberian zat
pengatur tumbuh pada benih dilakukan menjelang benih disebar.

2. PERSIAPAN DAN PENGOLAHAN TANAH SAWAH
Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu
hingga memperoleh susunan tanah ( struktur tanah ) yang dikehendaki oleh tanaman.
Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap :
a. Pembersihan
b. Pencangkulan
c. Pembajakan
d. Penggaruan

a. Pembersihan
- Selokan-selokan perlu dibersihkan
- Jerami yang ada perlu dibabat untuk pembuatan kompos
b. Pencangkulan
Perbaikan pematang dan petak sawah yang sukar dibajak
c. Membajak
- Memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah
- Membalikkan tanah beserta tumbuhan rumput ( jerami ) sehingga akhirnya membusuk.
- Proses pembusukan dengan bantuan mikro organisme yang ada dalam tanah
d. Menggaru
- Meratakan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah
- Pada saat menggaru sebaiknya sawah dalam keaadan basah
- Selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut
terbawa air keluar
- Penggaruan yang dilakukan berulang kali akan memberikan keuntungan
�� Permukaan tanah menjadi rata
�� Air yang merembes kebawah menjadi berkurang -Sisa tanaman atau rumput akan
terbenam
�� Penanaman menjadi mudah
�� Meratakan pembagian pupuk dan pupuk terbenam

3. PENANAMAN
Dalam penanaman bibit padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah :
a. Persiapan lahan
b. Umur bibit
c. Tahap penanaman

a. Persiapan lahan
Tanah yang sudah diolah dengan cara yang baik, akhirnya siap untuk ditanami bibit padi.
b. Umur bibit
Bila umur bibit sudah cukup sesuai dengan jenis padi, bib it tersebut segera dapat
dipindahkan dengan cara mencabut bibit
c. Tahap penanaman
Tahap penanaman dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu
1. Memindahkan bibit
2. Menanam

1) Memindahkan bibit
Bibit dipesemaian yang telah berumum 17-25 hari ( tergantung jenis padinya, genjah /
dalam ) dapat segera dipindahkan kelahan yang telah disiapkan. Syarat -syarat bibit yang
siap dipindahkan ke sawah :
- Bibit telah berumur 17 -25 hari
- Bibit berdaun 5 -7 helai
- Batang bagian bawah besar, dan kuat
- Pertumbuhan bibit seragam ( pada jenis padi yang sama)
- Bibit tidak terserang hama dan penyakit
Bibit yang berumur lebih dari 25 hari kurang baik, bahkan mungkin telah ada yang
mempunyai anakan.
2) Menanam
Dalam menanam bibit padi, hal- hal yang harus diperhatikan adalah :
a. Sistim larikan ( cara tanam )
b. Jarak tanam
c. Hubungan tanaman
d. Jumlah tanaman tiap lobang
e. Kedalam menanam bibit
f. Cara menanam

a) Sistim larikan ( cara tanam )
- Akan kelihatan rapi
- Memudahkan pemeliharaan terutama dalam penyiangan
- Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit akan lebih baik dan cepat
- Dan perlakuan-perlakuan lainnya
- Kebutuhan bibit / pemakaian benih bisa diketahui dengan mudah
b) Jarak tanam
Faktor yang ikut menentukan jarak tanam pada tanaman padi, tergantung pada :
- .Jenis tanaman
- Kesuburan tanah
- Ketinggian tempat / musim
- Jenis tanaman
Jenis padi tertentu dapat menghasilkan banyak anakan. Jumlah anakan yang banyak
memerlukan jarak tanam yang lebih besar, sebaliknya jenis padi yang memiliki
jumlah anakan sedikit memerlukan jarak tanam yang lebih sempit.
- Kesuburan tanah
Penyerapan hara oleh akar tanaman padi akan mempengaruhi penentuan jarak tanam,
sebab perkembangan akar atau tanaman itu sendiri pada tanah yang subur lebih baik daTi
pada perkembangan akar / tanaman pada tanah yang kurang subur. Oleh karena itu jarak
tanam yang dibutuhkan pada tanah yang suburpun akan lebih lebar daTi pada jarak tanam
padah tanah yang jurang subur.
- Ketinggian tempat.
Daerah yang mempunyai ketinggian tertentu seperti daerah pegunungan akan memerlikan
jarakn tanam yang lebih rapat dari pada jarak tanam didataran rendah, hal ini
berhubungan erat dengan penyediaan air. Tanaman padi varietas unggul memerlukan
jarak tanam 20 x 20 cm pada musim kemarau, dan 25 x 25 cm pada musim hujan.
c) Hubungan tanaman
Hubungan tanaman berkaitan dengan jarak tanam. Hubungan tanaman yang sering
diterapkan ialah :
- Hubungan tanaman bujur sangkar ( segi empat )
- Hubungan tanaman empat persegi panjang.
- Hubungan tanaman 2 baris.
d) Jumlah tanaman ( bibit ) tiap lobang.
Bibit tanaman yang baik sangat menentukan penggunaannya pada setiap lubang.
Pemakian bibit tiap lubang antara 2 -3 batang
e) Kedalaman penanaman bibit
Bibit yang ditanam terlalu dalam / dangkal menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang
baik, kedalam tanaman yang baik 3 -4 cm.
f) Cara menanam
Penanaman bibit padi diawali dengan menggaris tanah / menggunakan tali pengukur
untuk menentukan jarak tanam. Setelah pengukuran jarak tanam selesai dilakukan
penanaman padi secara serentak.

4 PEMELIHARAAN
Meliputi :
a. Penyulaman dan penyiangan
        Penyulaman dilaksanakan 5-7 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan untuka
mengganti benih tanaman yang tidak tumbuh. Rumpun padi yang rusak, pertumbuhannya
kurang baik, atau mati juga diganti dengan bibit yang baru. Penggantian bibit ini harus
segera dilakukan agar pertumbuhannya tidak tertinggal dengan yang lain.
        Penyiangan dilakukan sesuai dengan kondisi tanaman pengganggu atau gulma di
lapangan.penyiangan pertama padi sawah dilakukan kurang lebih 3 minggu setelah
tanam. penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam.
penyiangan ketiga dilakukan 50 hari setelah tanam. penyiangan kedua dan ketiga
dilakukan dengan tangan karena tanaman sudah tinggi.
Yang harus diperhatikan dalam penyulaman :
- Bibit yang digunakan harus jenis yang sama
- Bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu
- Penyulaman tidak boleh melampoi 10 hari setelah tanam.
- Selain tanaman pokok ( tanaman pengganggu ) supaya dihilangkan.

b. Pengairan
        Pengairan disawah dapat dibedakan :
- Pengairan secara terns menerus
- Pengairan secara piriodik
        kebutuhan air untuk budidaya padi sawah ada 2 tahap. Pertama, saat penyiapan
tanah atau pengolahan. Kedua, saat pertumbuhan tanaman. Setelah tanam atau penutupan
dasar, selama tiga hari sawah tidak diairi, tetapi dibiarkan dalam keadaan macak-macak.
4-14 hari setelah tanam sawah diairi sampai tergenang sedikit demi sedikit hingga
ketinggian 7-10 cm. 15-30 HST, sawah digenangi terus hingga ketinggiannya 3-5 cm. 30
HST air dikeluarkan dari petakan dan dibiarkan macak-macak, pada saat ini dilakukan
pemupukan susulan yang pertama.35- 50 HST petakan digenangi dengan ketinggian 50
HST sawah digenangi setinggi 10 cm sampai pada masa berbunga serempak. 15 hari
sebelum panen, sawah dikeringkan.

c. Pemupukan
Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan makanan yang
berperan sangat penting bagi tanaman baik dalam proses
pertumbuhan / produksi . Secara umum, kisaran dosis berikut ini dapat dipakai sebagai
acuan pemupukan.
Urea: 100- 250 kg/ha; ZA: 0- 200 kg/ha
SP36: 50-200 kg/ha; KCl: 0-100 kg/ha
Pupuk umumnya diberikan dalam beberapa tahap khususnya pupuk urea, karena pupuk
urea tidak bertahan lama. TSP/SP36 dan ZA yang diberikan sebagai pupuk dasar
diberikan setelah tanam dengan dosis keseluruhan. Kemudian, pupuk susulan diberikan
kira-kira 1 bulan setelah penanaman. Pupuk susulan ini berupa pupuk urea sebanyak sisa
dosis yang diberikan kira-kira 50 HST. Pemupukan dapat dilakukan secara sebar merata
atau ditebarkan pada alur-alur / larikan di antara barisan tanaman. Pada saat pemupukan,
tana``h sawah atau petakan tidak dalam kondisi tergenang air, tetapi dalam keadaan
ma`cak-macak. Pemupukan yang dilakukan dalam kondisi sawah tergenang air kurang
efektif.

d. Pengendalian hama dan penyakit

   Hama
      1. wereng daun (Nilaparvata lugens) dan wereng batang (Nephotettix sp.)

terdiri atas wereng batang dan wereng daun. Wereng batang biasanya terdapat pada
pangkal batang tanaman. Wereng daun terdapat pada daun tanaman padi. Hama wereng
menyerang padi pada masa vegetatif atau pun generatif. Cara pengendalian wereng
dilakukan dengan menggunakan perangkap cahaya. Perangkap ini dapat dibuat dari
lampu dan perangkapnya berupa tempat yang diisi dengan air atau minyak atau lem.

       2. walang sangit (Leptocorixa acuta)

walang sangit aktif menyerang pada pagi, siang dan sore hari. Walang sangit menyerang
buah padi dalam kondisi masak susu dengan cara menghisap cairannya sehingga menjadi
kopong dan kurang baik. Walang sangit di pertanaman padi dengan mudah diketahui
melalui baunya yang khas. Cara pengendalian walang sangit dilakukan dengan
menggunakan perangkap cahaya. Perangkap ini dapat dibuat dari lampu               dan
perangkapnya berupa tempat yang diisi dengan air atau minyak atau lem. Walang sangit
juga dapat dikendalikan dengan bangkai ketam yang telah busuk.

       3. penggerek batang

terdiri atas beberapa jenis, yaitu penggerek batang putih (Tryporiza innotata), penggerek
batang kuning (Typoriza intertulas), penggerek batang bergaris ( Chilo suppressalis),
penggerek batang merah jambu ( Sessamia inferens). Keempat jenis penggerek tersebut
bekerja dengan cara yang sama dan menimbulkan kerusakan yang sama. Serangan yang
dilakukan pada stadium vegetatif menimbulkan gejala yang disebut sundep. Yaitu
matinya pucuk tanaman karena titik tumbuh dimakan larva. Serangan pada stadium
generatif menimbulkan gejala beluk yaitu malai menjadi hampa berwarna putih dan
berdiri tegak karena tangkai malai putus digerek. Pengendaliannya dilakukan dengan
menggunakan perangkap cahaya. Perangkap ini dapat dibuat dari lampu                   dan
perangkapnya berupa tempat yang diisi dengan air atau minyak atau lem. Walang sangit
juga dapat dikendalikan dengan bangkai ketam yang telah busuk.

       4. tikus

tikus menyerang tanaman padi pada stadium pertumbuhan mulai dari persemaian sampai
menjelang panen. Ada 2 jenis yang biasa menyerang yaitu tikus sawah dan tikus rawa.
Serangan tikus biasanya terjadi pada malam hari. Serangan tikus menyebabkan banyak
gabah berserakan. Pengendaliannya dengan perangkap tikus. Jenis perangkap tikus dapat
berupa perangkap yang tidak mematikan separti perangkap jepit atau umpan yang diberi
racun. Cara lainnya dengan gropyokan yaitu membongkar lubang tikus dan
membunuhnya beramai-ramai.

       5. burung

serangan hama burung sudah mulai ada sejak penyemaian yaitu memakan benih yang
telah ditebarkan, kemudian saat padi masih muda atau pun saat padi sudah menguning.
Pengendalian dilakukan dengan bunyi-bunyian atau mengusirnya menggunakan orang-
orangan yang digerakkan dengan tali.

     Penyakit

       1.Tungro

Penyebab penyakit tungro adalah virus. Penyakit ini menular dengan perantara wereng
hijau dan wereng loreng. Gejalanya adalah pertumbuhan padi terhambat dan kerdil,
jumlah anakan berkurang, daun menguning sampai jingga yang dimulai dari pucuk ke
pangkalnya. Serangan pada daun tua ditunjukkan dengan bintik-bintik cokelat bekas
tusukan serangga menular. Malai yang dihasilkan kecil dan tidak dapat keluar dengan
sempurna, biasanya bulir mandul. Pengendalian dilakukan dengan:

              - mengendalikan serangga penular (wereng hijau)

              - menggunakan varietas resisten serangga penular

              - menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan sumber infeksi dengan
              mencabut, dan memusnahkan tanaman yang terserang

              - secara kimia dengan seed treatment pada tanah pesemaian dan aplikasi
              insektisida jika terlihat gejala tungro

       2. Kerdil rumput

Penyebab penyakit ini adalah virus. Serangga penularnya adalah wereng cokelat
(Nilaparvata lugens). Gejalanya adalah: tanaman menjadi kerdil, jumlah anakan
bertambah banyak, dan berbentuk tegak. Daun memendek dan sempit, warnanya hijau
pucat atau kekuning-kuningan dengan bercak-bercak cokelat. Jumlah malai yang
dihasilkan sedikit atau malah tidak menghasilkan kembali. Pengendaliannya dilakukan
dengan:

              - mengendalikan serangga penular (wereng cokelat)

              - menggunakan varietas tahan serangan serangga penular
              - pengaturan pola tanam (cara tanam serentak, pergiliran tanaman,
              pergiliran varietas resisten)

              - aplikasi insektisida terhadap serangga penular

       3. Blast

Penyebab penyakit ini adalah infeksi cendawan Pyricularia oryzae Cav. Infeksi cendawan
menyebabkan tubuhnya bercak pada daun, leher malai, bulir, buku-buku, dan pelepah
daun. Bercak pada daun berbentuk elips dengan kedua ujung meruncing. Mula-mula
bercak ini kecil, kemudian membesar. Daun dengan jumlah bercak yang banyak akan
mati diikuti dengan mengeringnya pelepah daun. Pengendaliannya dilakukan dengan:

                  - menggunakan varietas tahan blast
                  - penerapan cara tanam yang baik seperti pengaturan jarak tanam,
                  pemupukan berimbang, pembenaman jerami
                  - pergiliran tanaman dengan palawija
                  - seed treatment sebelum tanam (aplikasi fungisida)

       4. Bercak cokelat (Brown spot)

penyebab penyakit ini adalah infeksi cendawan Bipolaris oryzae. Gejalanya tampak pada
daun dan kulit gabah. Di samping itu, juga tampak pada koleoptil, pelepah daun dan
cabang malai. Pada daun yang terserang terlihat bercak berbentuk oval dengan
penyebaran merata, bercak berwarna cokelat dengan titik tengah berwarna hitam atau
cokelat. Bercak-bercak ini sering menutupi permukaan kulit. Pengendaliannya dilakukan
dengan:

              -   Menggunakan varietas tahan bercak cokelat
              -   Pergiliran tanaman dengan palawija
              -   Perbaikan cara bertanam
              -   Aplikasi fungisida yang dianjurkan saat jumlah anakan maksimum,
                  pada saat bunting, serta permulaan berbunga



PEMANENAN

Kualitas dan produktivitas padi yang baik merupakan harapan setiap petani. Untuk
mendapatkan hasil padi yang berkualitas tinggi perlu didukung dengan waktu panen
yang tepat, cara panen yang benar, dan penangan pascapanen yang baik.

a. Waktu panen

  Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada waktu panen. Padi yang siap panen
memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
              -   Kurang lebih 90% malai telah menguning
              -   Daun bendera sudah menguning
              -   Kadar air gabah sekitar 25%
              -   Untuk varietas padi umur pendek, umur panen kurang lebih 115 hari,
                  sedang untuk padi umur panjang umur panennya antara 135-145 hari

b. Tata cara panen

    Alat yang digunakan untuk panen padi pada umumnya adalah sabit, karena peralatan
tradisional (ani-ani) sudah jarang dilakukan. Panen dilakukan dengan cara memotong
batang padi memakai sabit pada jarak 20-30cm dari tanah. Selanjutnya, potongan batang
padi tersebut diletakkan pada alas yang telah disiapkan, lalu digulung dan dibawa ke
tempat perontokan. Tahap selanjutnya setelah padi dipanen adalah perontokan.
Perontokan dapat dilakukan dengan cara diiles/diinjak, dibanting/ditumbuk, atau
menggunakan alat perontok gabah.

c. Perawatan hasil

    1. Pembersihan

pembersihan dilakukan untuk menghilangkan kotoran-kotoran seperti daun-daun padi
atau lainnya. Pembersihan dapat memperlama waktu penyimpanan, mempertinggi
efisiensi proses yang selanjutnya, dan mempertinggi mutu. Pembersihan dapat dilakukan
dengan cara diayak atau ditampi

    2. Pengeringan

        Tujuannya adalah agar gabah dapat tahan lama disimpan atau memenuhi syarat
gabah yang dipasarkan. Gabah yang baru dipanen umumnya memiki kadar air kurang
lebih 25%. Dengan kandungan air yang tinggi, gabah akan mudah terserang hama atau
serangga atau jamur, cepat berkecambah dan mudah mengalami kerusakan sifat-sifat fisik
lainnya. Oleh karena itu, kadar air perlu diturunkan dengan cara pengeringan hingga
antara 12%-14%.

    3. Penyimpanan

        Gabah yang sudah kering bisa langsung diproses menjadi beras atau terlebih
dahulu disimpan. Untuk mendapatkan kualitas butir padi yang baik dan siap kemas,
sebaiknya setelah pengeringan dibersihkan lagi dari kotoran yang mungkin tercampur
saat penjemuran. Hal ini dapat dilakukan untuk gabah konsumsi ataupun untuk dibuat
benih. Selanjutnya, butir padi dimasukkan dalam alat pengemas. Untuk gabah konsumsi,
alat pengemasnya adalah karung, sedang gabah untuk benih alat kemasnya menggunakan
kantong plastic khusus.

    4. Pemrosesan menjadi beraskegiatan
     Pada saat ini, pemrosesan gabah menjadi beras dapat dilakukan dengan cepat dan
biayanya relative murah. Gabah yang sudah kering dapat langsung dibawa ke tempat-
tempat penggilingan padi yang diusahakan oleh perorangan ataupun milik KUD
setempat. Cara pemrosesan gabah menjadi beras menggunakan peralatan tradisional ‘alu’
dan ‘lumpang’ serta ‘lesung’ sudah jarang dilakukan.
                               DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2010. Budidaya Tanaman Padi. Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten
Bantul

Anonim. 2010. Padi. < www.wikipedia.com/search-padi >. Diakses pada tanggal 24
      November 2010.

Prasetiyo, Y. T. 2002. Budidaya Padi Sawah Tanpa Olah Tanah. Kanisius, Yogyakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:45
posted:12/5/2012
language:
pages:13