TATARAN LINGUISTIK by h8fd76

VIEWS: 43 PAGES: 58

									    TATARAN LINGUISTIK

   Disusun untuk memenuhi tugas kelompok
  Mata Kuliah         : Kajian Bahasa Indonesia SD
  Dosen Pengampu : Drs. Umar Samadhy, M.Pd




                 Disusun oleh:
                     Kelompok

   1. Joko Sarjono                ()
   2. Desy Dwi Astuti             (1402408181)
   3. Kristina Murti Anissa       (1402408188)
   4. Titin Indrawati             (1402408194)
   5. Yubaedi Siron               (1402408202)
   6. Widya Herliliawati          (1402408208)
   7. Febriyan Amirul Rizza       (1402408214)
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
  FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
 UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                        2008
                                      BAB II
                      LINGUISTIK SEBAGAI ILMU



KEILMIAHAN LINGUISTIK


Keilmiahan linguistik dapat dibuktikan melalui tiga tahap,yaitu :
1. Tahap spekulasi (dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara
mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif)
   contoh : dalam studi bahasa,dulu orang menganggap semua bahasa di dunia ini
   diturunkan dari bahasa Ibrani,semua itu hanya spekulasi dan pada zaman
sekarang sulit diterima.


2. Tahap observasi dan klasifikasi (dalam tahap ini para ahli bahasa baru
mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa
memberi teori dan kesimpulan)


3. Tahap perumusan teori (dalam tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha
memahami       memahami masalah dasar dan mengajukan pertanyaan kemudian
dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu)


Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap tersebut.Artinya
linguistik          itu sekarang ini sudah bisa dikatakan kegiatan ilmiah. Sebagai
ilmu,linguistik berusaha mencari keteraturan / kaidah-kaidah yang hakiki dari
bahasa       yang   ditelitinya.Karena   itu   lingustik   juga     disebut   ilmu
nomotetik.Linguistik tidak berhenti pada satu kesimpulan saja tetapi akan terus
menyempurnakan kesimpulan itu berdasarkan data empiris selanjutnya.
SUBDISIPLIN LINGUISTIK


         Setiap ilmu biasanya dibagi menjadi bidang-bidang bawahan / cabang-
cabang      berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah
lain.Demikian pula dengan linguistik,karena mengingat objek linguistik adalah
bahasa yang merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia,maka subdisiplin linguistik juga sangat banyak,antara lain :
1. Berdasarkan objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya / bahasa
tertentu.dapat
   dibedakan menjadi :
   a. Linguistik umum : linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa
secara
                         umum.Pernyataan-pernyataan       yang    dihasilkan    akan
menyangkut
                         bahasa pada umumnya.


   b. Linguistik khusus : linguistik yang berusaha mengkaji kaidah bahasa
tertentu,misal
                          bahasa Indonesia.


 2. Berdasarkan objek kajiannya bahasa pada masa tertentu / bahasa sepanjang
masa.
   dibedakan menjadi 2 yaitu :
   a. Linguistik sinkronik : linguistik yang mengkaji bahasa pada masa yang
terbatas.
      contoh : mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan.


   b. Linguistik diakronik : linguistik yang mengkaji bahasa pada masa yang tidak
                            terbatas.Bisa sejak awal lahirnya bahasa sampai
punahnya
                            bahasa tersebut (linguistik historis komparatif).
3. Berdasarkan objek kajiannya apakah struktur internal bahasa / bahasa itu
dalam
   hubungannya dengan faktor di luar bahasa.Dapat dibedakan menjadi :
   a. Linguistik mikro : linguistik yang mengarahkan kajiannya pada struktur
internal
                             bahasa pada umumnya.
        (dibagi            lagi          menjadi           subdisiplin      linguistik
fonologi,morfologi,sintaksis,semantik,
        dan leksikologi)
        - fonologi      : ciri-ciri bunyi bahasa
        - morfologi     : struktur kata,bagian serta cara pembentukannya
        - sintaksis        : satuan-satuan kata,satuan lain di atas kata,hubungan satu
dengan
                         yang lain,dan cara penyusunannya sehingga menjadi ujaran
        - semantik      : makna baik yang bersifat leksikal,gramatikal,kontekstual
        - leksikologi   : leksikon / kosakata suatu bahasa


b. Linguistik makro : linguistik yang menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan
faktor
                           di luar bahasa.
   (dibagi                        lagi               menjadi               subdisiplin
sosiolinguistik,psikolinguistik,antropolinguistik,
       etnolinguistik,stilistika,filologi,dialektologi,filsafat,ilmu       bahasa,dan
neurolinguistik)


4. Berdasarkan tujuannya apakah penyelidikan linguistik untuk merumuskan teori
atau
   untuk diterapkan.Dibagi menjadi :
   a. Linguistik teoritis : linguistik yang berusaha mengadakan penyelidikan
terhadap
                           bahasa yang tujuannya hanya untuk kepentingan teori
belaka.


   b. Linguistik terapan : linguistik yang berusaha mengadakan penelitian dengan
tujuan
                            untuk memecahkan masalah-masalah di masyarakat.


5. Berdasarkan aliran / teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dapat
dibagi
   menjadi :
          a. Linguistik tradisional
          b. Linguistik struktural
          c. Linguistik transformasional
          d. Linguistik generatif
          e. Linguistik semantik
          f. Linguistik relasional
          g. Linguistik sistemik




ANALISIS LINGUISTIK


Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa atau lebih tepat terhadap semua
tataran tingkat bahasa yaitu fonetik,fonemik,morfologi,sintaksis,dan semantik.


STRUKTUR, SISTEM, DAN DISTRIBUSI


Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara
linear.
    - Sistem adalah hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan
kalimat
      lainnya.
    - Distribusi adalah menyangkut masalah dapat / tidaknya penggantian suatu
      konstituen tertentu dalam suatu kalimat tertentu dengan konstituen lain.


ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG


       Analisis bawahan langsung sering disebut analisis unsur langsung,atau
analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur /
konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa entah satuan
kata,frase,klausa,maupun kalimat. Manfaat : menghindari keambiguan karena
satuan-satuan bahasa yang terikat dapat dipahami dengan analisis tersebut.


ANALISIS RANGKAIAN UNSUR DAN ANALISIS PROSES UNSUR


1. Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk
atau ditata
   dari unsur-unsur lain.
   misal : satuan tertimbun terdiri dari ter- + timbun


2. Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan
   hasil dari suatu proses pembentukan.
   misal : bentuk tertimbun adalah hasil proses prefiksasi ter- dengan dasar
   timbun.
MANFAAT LINGUISTIK


1. Bagi linguis : membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya
2. Bagi peneliti,kritikus,dan peminat sastra : membantu dalam memahami karya
    sastra dengan lebih baik.
3. Bagi guru : membantu merumuskan kaidah-kaidah perspektif dan kaidah
    deskripti sehingga pengajaran berjalan dengan baik.
4. Bagi penyusun dan penerjemah : membantu dalam menyelesaikan tugasnya.
5. Bagi penyusun buku pelajaran : memberi tuntunan dalam menyusun kalimat
   yang tepat,memilih kosakata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca.
6. Bagi negarawan / politikus : membantu menyalurkan pemikirannya karena
   politikus harus menguasai bahasa.
                                  BAB III
                   OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA
        Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau
pengertian. Kata bahasa yang terdapat pada kalimat bisa menunjuk pada beberapa
arti atau kategori lain. Menurut peristilahan de Saussure, bahasa bisa berperan
sebagai parole, langue, langage. Sebagai objek kajian linguistik, karole
merupakan objek konkret karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan
oleh para bahasawan dari suatu masyarakat bahasa. Langue merupakan objek
yang abstrak karena langue itu berwujud sistem suatu bahasa tertentu secara
keseluruhan. Langage merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud
sistem bahasa yang universal.
        “ Apakah bahasa itu?” Seperti yang dikemukakan Kridalaksana (1983 dan
juga dalam Djoko Kentjono 1982) “ Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang
arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama,
berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri”. Definisi ini sejalan dengan definisi
dari     Barber(1964:      21),    Wardhaugh(1977:3),    Trager(1949:18),    de
Saussure(1966:16) dan Bolinger(1975:15).
        Masalah yang berkeneen dengan pengertian bahasa adalah bilamana
sebuah tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya dan bilamana
hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa lainnya dan hanya dianggap
sebagai varian dari suatu bahasa. Dua buah tuturan bisa disebut sebagai dua
bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistis dan
patokan politis. Masalah lain adalah arti bahasa dalam pendidikan formal di
sekolah menengah bahwa” bahasa adalah alat komunikasi”. Jawaban ini tidak
salah tetapi juga tidak benar sebab hanya mengatakan” bahasa adalah alat”.
        Oleh karena itu, meskipun bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia,
dalam arti tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tetapi karena
”rumitnya” menentukan suatu parole bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari
bahasa yang lain, maka hingga kini belum pernah ada angka yang pasti berapa
jumlah bahasa yang ada di dunia ini.


3.2 HAKIKAT BAHASA
      Beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa adalah

3.2.1 Bahasa sebagi Sistem
       Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan
makna ‘cara’ atau ‘aturan’, tapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem bararti
susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau
berfungsi. Sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan
sistemis. Dengan sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut pola, tidak
tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu
bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub- subsistem atau
sistem bawahan.

3.2.2 Bahasa sebagai Lambang
       Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian
yang sama. Lambang dikaji orang dengan kegiatan ilmiah dalam bidang kajian
yang disebut ilmu Semiotika atau Semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-
tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk bahasa. Dalam semiotika atau
semiologi dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu antara lain tanda (sign),
lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode,
indeks, dan ikon. Dengan begitu, bahasa adalah suatu sistem lambang dalam
wujud bunyi- bahasa, bukan dalam wujud lain.

3.2.3 Bahasa adalah Bunyi
        Sistem bahasa itu bisa berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Kata
bunyi, sering sukar dibedakan dengan kata suara. Secara teknik, menurut
Kridalaksana (1983: 27) bunyi adalah kesan dari pusat saraf sebagai akibat dari
getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan- perubahan dalam
tekanan udara. Lalu yang dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau yang termasuk
lambang bahasa adalah bunyi- bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi,
bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa.
Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi
bahasa, seperti teriak, bersin, batuk- batuk, dan sebagainya.

3.2.4 Bahasa itu Bermakna
       Bahasa itu adalah sistem lambang yang berwujud bunyi, maka tentu ada
yang dilambangkan. Yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide
atau pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena lambang-
lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau suatu pikiran, maka dapat
dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. Lambang- lambang bunyi bahasa
yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan- satuan bahasa yang berwujud
morfem, kata, frase, klausa, kalimat dan wacana. Karena bahasa itu bermakna,
maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.

3.2.5 Bahasa itu Arbitrer
        Kata arbitrer bisa diartikan “ sewenang- wenang, berubah- ubah, tidak
tetap, mana suka”. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya
hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep
atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

3.2.6 Bahasa itu Konvensional
        Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan
bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu
bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi
konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang
diwakilinya.
3.2.7 Bahasa itu Produktif
        Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti
produktif adalah “ banyak hasilnya “ atau lebih tepat “ terus- menerus
menghasilkan “. Lalu, kalau bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya,
meskipun unsur- unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur- unsur yang
jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan- satuan bahasa yang jumlahnya tidak
terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yamg berlaku dalam bahasa
itu.

3.2.8 Bahasa itu Unik
       Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh
yang lain. Bahasa dikatakan unik yang artinya setiap bahasa memiliki ciri khas
yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah
bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, artinya jika kita
memberi tekanan pada kata dalam kalimat maka makna kata itu tetap.

3.2.9 Bahasa itu Universal
        Bahasa bersifat universal artinya ada ciri- ciri yang sama yang dimiliki
oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri- ciri yang universal ini tentunya
merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri- ciri
atau sifat- sifat bahasa lain.

3.2.10 Bahasa itu Dinamis
        Bahasa adalah satu- satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari
segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai
makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan
bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat,
kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi
ikut berubah, menjadi tidak tetap dan tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut
dinamis.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi
       Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang
dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama.
Anggota masyarakat bahasa itu ada yang berpndidikan baik ada juga yang tidak,
ada yang tinggal di kota ada yang tinggal di desa, ada orang dewasa dan kanak-
kanak. Oleh karena latar belakang dan lingkungannya tidak sama maka bahasa
yang mereka gunakan menjadi bervariasi atau beragam.

3.2.12 Bahasa itu Manusiawi
       Alat komunikasi manusia         yang namanya bahasa adalah bersifat
manusiawi, dalam arti hanya milik     manusia dan hanya dapat digunakan oleh
manusia. Alat komunikasi binatang      bersifat terbatas. Dalam arti hanya untuk
keperluan hidup “ kebinatangannya”    itu saja. Kalaupun ada binatang yang dapat
mengerti dan memahami serta melakukan perintah manusia dalam bahasa
manusia adalah berkat latihan yang diberikan kepadanya.


3.3 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA
       Objek kajian linguistik mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok
bahasa itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam
hubungannya dengan faktor- faktor di luar bahasa yaitu tidak lain daripada segala
hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat, sebab tidak ada
kegiatan yang tanpa berhubungan dengan bahasa.

3.3.1 Masyarakat Bahasa
       Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang (dalam
jumlah yang banyaknya relatif ), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah
tempat tinggal atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama. Yang
dimaksud dengan masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa
menggunakan bahasa yang sama. Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa
pada “ merasa menggunakan bahasa yang sama”, maka konsep masyarakat bahasa
dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa
        Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk
membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan
status pemakaiannya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi ( T ) digunakan
dalam situasi- situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam
pendidikan, khotbah, surat- menyurat resmi dan buku pelajaran, variasi T ini harus
dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah- sekolah. Yang kedua adalah
variasi bahasa rendah ( R ) digunakan dalam situasi tidak formal, seperti di rumah,
di warung, di jalan, dalam surat- surat pribadi dan catatan untuk diri sendiri,
variasi R ini dipelajari secara langsung di dalam masyarakat umum dan tidak
pernah dalam pendidikan formal. Adanya pembedaan variasi bahasa T dan bahasa
R disebut dengan istilah diglosia ( Ferguson 1964 ). Masyarakat yang
mengadakan pembedaan ini disebut masyarakat diglosis.

3.3.3 Penggunaan Bahasa
       Adanya berbagai macam dialek dan ragam bahasa menimbulkan masalah,
bagaimana kita harus menggunakan bahasa itu di dalam masyarakat. Hymes
(1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi
dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang
diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
    1. Setting and scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu
       terjadinya percakapan
    2. Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan
    3. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan
    4. Act sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan
   5. Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan
       percakapan
   6. Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah
       secara lisan atau bukan
   7. Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan
   8. Genres, yaitu menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.
       Kedelapan unsur tersebut dalam formulasi lain bisa dikatakan dalam
berkomunikasai lewat bahasa harus diperhatikan faktor- faktor siapa lawan atau
mitra bicara kita, tentang apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jalurnya apa
dan ragam bahasa yang digunakan yang mana.

3.3.4 Kontak Bahasa
        Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat
menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari
satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Bahasa dari
masyarakat yang menerima kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa
dari masyarakat yang datang. Hal yang sangat menonjol yang bisa terjadi dari
adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya atau terdapatnya apa yang disebut
bilingualisme dan multilingualisme dengan berbagai macam kasusnya, sepertu
interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode.

3.3.5 Bahasa dan Budaya
        Satu lagi yang menjadi objek kajian linguistik makro adalah mengenai
hubungan bahasa dengan budaya atau kebudayaan. Dalam sejarah linguistik ada
suatu hipotesisyang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dengan
kebudayaan ini. Hipotesis ini dikeluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward
Sapir dan Benjamin Lee Whorf ( hipotesis Sapir- Whorf) yang menyatakan bahwa
bahasa mempengaruhi kebudayaan atau bahasa itu mempengaruhi cara berpikir
dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi bahasa itu menguasai cara
berpikir dan bertindak manusia. Apa yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi
oleh sifat- sifat bahasanya.


3.4 KLASIFIKASI BAHASA
        Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap
bahasa. Bahasa yang mempunyai kesamaan ciri dimasukkan dalam satu
kelompok. Menurut Greenberg (1957: 66) suatu klasifikasi yang baik harus
memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekhaustik, dan unik. Nonarbitrer maksudnya
bahwa kriteria klasifikasi hanya harus ada satu kriteria, maka hasilnya akan
ekhaustik. Artinya, setelah klasifikasi dilakukan tidak ada lagi sisanya, semua
bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok. Hasil klasifikasi
juga harus bersifat unik, maksudnya kalau suatu bahasa sudah masuk ke dalam
salah satu kelompok, dia tidak bisa masuk lagi dalam kelompok yang lain, kalau
masuk ke dalam dua kelompok atau lebih berarti hasil klasifikasi itu tidak unik.

3.4.1   Klasifikasi Genetis
         Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan
berdasarkan garis keturunan bahasa- bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau
diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu
bahasa pro ( bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa
baru atau lebih. Lalu, bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa
lain. Kemudian bahasa- bahasa lain itu akan menurunkan lagi bahasa- bahasa
pecahan berikutnya.
         Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti yaitu atas
kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang
memiliki sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau
bahasa proto yang sama. Apa yang dilakukan dalam klasifikasi genetis ini
sebenarnya sama dengan teknik yang dilakukan dalam linguistik historis
komparatif, yaitu adanya korespondensi bentuk (bunyi) dan makna. Oleh karena
itu, klasifikasi genetis bisa dikatakan merupakan hasil pekerjaan linguistik historis
komparatif. Klasifikasi genetis juga menunjukkan bahwa perkembangan bahasa-
bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi
banyak, tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan perkembangan
teknologi komunikasi yang semakin canggih, perkembangan yang konvergensif
tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

3.4.2   Klasifikasi Tipologis
        Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe- tipe
yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang
dapat timbul berulang- ulang dalam suatu bahasa. Klasifikasi tipologi ini dapat
dilakukan pada semua tataran bahasa. Maka hasil klasifikasinya dapat bermacam-
macam, akibatnya menjadi bersifat arbitrer karena tidak terikat oleh tipe tertentu.
        Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX
secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:
       Kelompok pertama adalah yang semata- mata menggunakan bentuk
         bahasa sebagai dasar klasifikasi. ( klasifikasi morfologi oleh Fredrich
         Von Schlegel)
       Kelompok kedua adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar
         klasifikasi ( oleh Franz Bopp).
       Kelompok ketiga adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai
         dasar klasifikasi, pakarnya antara lain H. Steinthal.
        Pada abad XX ada juga pakar klasifikasi morfologi dengan prinsip yang
berbeda, misalnya yang dibuat Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954).

3.4.3   Klasifikasi Areal
        Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik
antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau
wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau
tidak. Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa- bahasa
itu memberikan pengaruh timbal balik dalam hal- hal tertentu yang terbatas.
Klasifikasi inipun bersifat non ekhaustik, sebab masih banyak bahasa- bahasa di
dunia ini yang masih bersifat tertutup dalam arti belum menerima unsur- unsur
luar. Selain itu, klasifikasi inipun bersifat non unik, sebab ada kemungkinan
sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan dapat pula masuk ke
dalam kelompok lainnya lagi. Usaha klasifikasi ini pernah dilakukan oleh
Wilhelm Schmidt (1868- 1954) dalam bukunya Die Sprachfamilien und
Sprachenkreise der Ende, yang dilampiri dengan peta.

3.4.4   Klasifikasi Sosiolinguistik
        Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa
dengan faktor- faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan
status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu.
Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962
yang dapat kita baca dalam artikelnya “ An Outline of Linguistic Typology for
Describing Multilingualism”. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri
atau kriteria, yaitu :
    a. historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah
        pemakaian bahasa itu,
    b. standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak
        baku atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal,
    c. vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang
        menggunakannya dalam kegiatan sehari- hari secara aktif atau tidak,
    d. homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari
        bahasa itu diturunkan.
        Dengan menggunakan keempat ciri di atas, hasil klasifikasi bisa menjadi
ekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam
kelompok- kelompok tertentu. Tetapi hasil ini tidak unik sebab sebuah bahasa bisa
mempunyai status yang berbeda.


3.5 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

         Dalam bagian yang terdahulu sudah disebutkan bahwa bahasa adalah
sebuah sistem bunyi. Jadi bahasa itu adalah apa yang dilisankan. Juga sudah
disebutkan bahwa linguistik melihat bahasa itu adalah bahasa lisan, bahasa yang
diucapkan, bukan yang dituliskan. Namun linguistik sebenarnya juga tidak
menutup diri terhadap bahasa tulis, sebab apapun yang berkenaan dengan bahasa
adalah juga menjadi objek linguistik, padahal bahasa tulis dekat sekali
hubungannya denganm bahasa. Hanya masalahnya, linguistik juga punya prioritas
dalam kajiannya. Begitulah, maka bagi linguistik bahasa lisan adalah primer,
sedangkan bahasa tulis adalah sekunder. Bahasa lisan lebih dahulu daripada
bahasa tulis. Malah saat ini masih banyak bahasa di dunia ini yang belum punya
tradisi tulis. Artinya, bahasa itu hanya digunakan secara lisan, tetapi tidak secara
tulisan. Dalam bahasa itu belum dikenal ragam bahasa tulisan, yang ada hanya
ragam bahasa lisan.
         Bahasa tulis sebenarnya bisa dianggap sebagai “rekaman” bahasa lisan,
sebagai usaha manusia untuk “menyimpan” bahasanya atau untuk bisa
disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda.
Namun, ternyata rekaman bahasa tulis sangat tidak sempurna. Banyak unsur
bahasa lisan, seperti tekanan, intonasi, dan nada yang tidak dapat direkam secara
sempurna dalam bahasa tulis, padahal dalam berbagai bahasa tertentu tiga unsur
itu sangat penting.
        Apakah bahasa tulis itu sama dengan bahasa lisan, atau bagaimana?
Meskipun dari awal sudah disebutkan bahwa bahasa tulis sebenarnya tidak lain
daripada rekaman bahasa lisan, tetapi sesungguhnya ada perbedaan besar antara
bahasa tulis dengan bahasa lisan. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang
dituliskan seperti yang terjadi kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita
rekaman. Bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran,
sebab kalau tidak hati- hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk
terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar, maka
kesalahan itu tidak bisa secara langsung diperbaiki. Berbeda dengan bahasa lisan.
Dalam bahasa lisan setiap kesalahan bisqa segera diperbaiki, lagipula bahasa lisan
sangat dibantu oleh intonasi, tekanan, mimik, dan gerak- gerik si pembicara.
        Berbicara mengenai asal mula tulisan, hingga saat ini belum dapat
dipastikan kapan manusia mulai menggunakan tulisan. Ada cerita yang
mengatakan bahwa tulisan itu ditemukan oleh Cadmus, seorang pangeran dari
Phunisia dan lalu membawanya ke Yunani. Dalam fable Cina dikisahkan bahwa
yang menemukan tulisan adalah T’sang Chien Tuhan bermata empat, dan
sebagainya. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh
dari gambar- gambar yang terdapat dari gua-gua di Altamira di Spanyol Utara,
dan di beberapa tempat lain. Gambar- gambar itu dengan bentuknya yang
sederhana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ingin
disampaikan. Gambar- gambar ini disebut pictogram, dan sebagai sistem tulisan
disebut piktograf.
        Beberapa waktu kemudian gambar- gambar piktogram itu benar- benar
menjadi sistem tulisan yang disebut piktograf. Dalam piktograf ini, satu huruf
yang berupa satu gambar, melambangkan satu makna atau satu konsep. Piktograf
ini selanjutnya tidak lagi menggambarkan benda yang dimaksud, tetapi telah
digunakan untuk menggambarkan sifat benda atau konsep yang berhubungan
dengan benda itu. Piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep ini
disebut ideograf. Kemudian ideograf berubah menjadi lebih sederhana, sehingga
tidak tampak lagi hubungan langsung antara gambar dengan hal yang dimaksud.
Sistem demikian, yang menggambarkan suku kata disebut aksara silabis.
        Lalu dalam perkembangannya, aksara silabis ini diambil alih oleh orang
Yunani yang kemudian mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu
dengan menggambarkan setiap konsonan dan vocal dengan satu huruf.
Selanjutnya, aksara Yunani ini diambil alih pula oleh orang Romawi. Pada abad-
abad pertama Masehi aksara Romawi ini (yang lazim disebut aksara Latin)
menyebar ke seluruh dunia. Tiba di Indonesia sekitar abad XVI bersamaan dengan
penyebaran agama Kristen oleh orang Eropa.
        Jadi, sudah dikemukakan di atas adanya beberapa jenis aksara, yaitu
aksara piktografis, aksara ideografis, aksara silabis, dan aksara fonemis. Semua
jenis aksara itu tidak ada yang bisa “merekam” bahasa lisan secara sempurna.
Banyak unsur bahasa lisan yang tidak dapat digambarkan oleh aksara itu dengan
tepat dan akurat. Alat pelengkap aksara yang ada untuk menggambarkan unsur-
unsur bahasa lisan hanyalah huruf besar untuk memulai kalimat, koma untuk
menandai jeda, titik untuk menandai akhir kalimat, tanda tanya untuk menyatakan
interogasi, tanda seru untuk menyatakan interjeksi, dan tanda hubung untuk
menyatakan penggabungan. Bahasa- bahasa di dunia ini dewasa ini lebih umum
menggunakan aksara Latin daripada aksara lain. Aksara Latin adalah aksara yang
tidak bersifat silabis. Jadi, setiap silabel akan dinyatakan dengan huruf vokal dan
huruf konsonan. Huruf vokal untuk melambangkan fonem vokal dan huruf
konsonan untuk melambangkan fonem konsonan dari bahasa yang bersangkutan.
Hubungan antara fonem (yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan
makna dalam suatu bahasa) dengan huruf atau grafem (yaitu satuan unsur terkecil
dalam aksara) ternyata juga bermacam- macam. Tidak sama antara bahasa yang
satu dengan bahasa yang lain, karena jumlah fonem yang ada dalam setiap bahasa
tidak sama dengan jumlah huruf yang tersedia dalam alphabet Latin itu.
        Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah
ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya
setiap huruf hanya dipakai untuk melambangkan satu fonem. Jika demikian,
ternyata ejaan bahasa Indonesia belum seratus persen ideal, sebab masih ada
digunakan gabungan huruf untuk melambangkan sebuah fonem. Namun,
tampaknya ejaan bahasa Indonesia masih jauh lebih baik daripada ejaan bahasa
Inggris.
                                  BAB IV
             TATARAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI


A. Pengertian
  Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan
              membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.
  Fonologi dibentuk dari Fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu.
           Rututan   bunyi   bahasa   dapat     dianalisis   atau   disegmentasikan
  berdasarkan tingkat-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-
  hentian atau jeda yang terdapat pada runtutan bunyi tersebut.
  Misal:
  (1) [kedua orang itu meninggalkan ruang sidang meskipun rapat belum
      selesai].
  Tahap pertama, runtutan bunyi disegmentasikan berdasarkan adanya jeda
  yang paling besar.
  (1a) [kedua orang itu meninggalkan sidang] (1b) [meskipun rapat belum
  selesai]
  Tahap kedua, segmen (1a) dan (1b) dapat disegmenkan lagi.
  (1a1) [kedua orang]                     (1b1) [meskipun]
  (1a2) [meninggalkan ruang sidang]       (1b2) [rapat belum selesai]
  Tahap ketiga,segmen (1a1) dan (1ba) dapat disegmenkan lagi.
  (1a11) [kedua orang]                    (1b11) [meski]
  (1a12) [itu]                            (1b12) [pun]
  (1a21) [meninggalkan]                   (1b21) [rapat]
  (1a22) [ruang sidang]                   (1b22) [belum selesai]
  Tahap keempat, segmen (1a21) dapat menghadilkan silabel.
  [meninggalkan] = [me], [ning], [gal], [kan]
  Silabel adalah satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi
  yang paling nyaring.
  Silabel sering disebut juga dengan suku kata.
   Adanya puncak kenyaringan (sonoritas) inilah yang menandai silabel, yang
   biasanya ditandai dengan vokal.

B. Objek Studi Fonologi
   Fonetik      : yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah
                 bunyi-bunyi tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda makna
                 atau tidak.
   Contoh       : bunyi [i] yang terdapat kata [intan], [angin], dan [batik] tidaklah
                 sama
   Fenomik : mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi tersebut
                 sebagai pembeda makna.
   Contoh       : perbedaab bunyi [p] dan [b] yang terdapat pada kata [paru] dan
                 [baru]

  1. Fonetik
      Ada 3 jenis fonetik, yaitu:
      a) Fonetik artikulatoris/fonetik organ/fonetik fisiologis
            Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja
            dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu
            diklarifikasikan.
      b) Fenotik akuistik
            Mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam.
      c) Fenotik auditoris
            Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh
            telinga kita.
      a. Alat ucap
            Alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa (pada fenotik
            artikulatoris)
            -   Dorsal       : pangkal lidah          -   Uvular    : anak tekak
            -   Medial       : tengah lidah           -   Dental gigi
            -   Laminal : daun lidah                  -   Bibir     : labial
            -   Apikal       : ujung lidah
b. Proses fonasi
   Agar tercipta bunyi maka pita harus berada dalam posisi terbuka. 4
   macam posisi pita suara:
   -   Terbuka lebar : tidak akan terjadi bunyi bahasa.
   -   Terbuka agak lebar        : terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi tak
       berusara (voiceless).
   -   Terbuka sedikit           : terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi bersuara
       (voice).
   -   Tertutup rapat : terjadi bunyi hamzah atau global stop.
   Tempat bunyi bahasa terjadi disebut tempat artikulasi (artikulator)
   -   Artikulator aktif         : alat ucap bergerak.
   -   Artikulator pasif         : alat ucap tak bergerak
c. Tulisan fonetik
   Dalam tulisan fenotik, lambang atau huruf digunakan untuk
   melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam tulisan fenotik, setiap bunyi,
   baik yang segmental maupun suprasegmental, dilambangkan secara
   akurat, meskipun perbedaan hanya sedikit.
d. Klarifikasi bunyi
   Bunyi vokal, semuanya adalah bersuara, sebab dihasilkan dengan pita
   suara terbuka sekikit.
    Klasifikasi vokal.
            Posisi lidah secara vertikal:
           - Vokal tinggi: (i) dan (u)
           - Vokal tengah: (e) dan ()
           - Vokal rendah: (a)
            Posisi lidah horizontal
           - Vokal depan: (i) dan (e)
           - Vokal pusat: ()
           - Vokal belakang: (u) dan (o)
            Bentuk mulut
    - Vokal bundar: (o) dan (u)
    - Vokal belakang: (i) dan (e)
 Diftong atau vokal rangkap
   Disebut demikian karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi
   ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.
   Diftong ada 2, yaitu :
   a) Diftong naik: bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi
       bunyi yang kedua.
   b) Diftong turun: bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi
       pertama.
 Klarifikasi konsonan
   Bunyi-bunyi konsonan diibedakan berdasarkan 3 patokan, yaitu:
   posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.
   Berdasarkan tempat artikulasinya kita mengenal, antara lain,
   konsonan:
   1) Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir,
       bibir bawah, merapat pada biar atas. Antara lain (b), (p) dan
       (m).
   2) Labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan
       bibir atas, gigi merapat pada bibir atas. Antara lain (f) dan (v).
   3) Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah
       dan gusi antara lain (t) dan (d).
   4) Darsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan
       volum atau langit-langit lunak. Antara lain (k) dan (g).
   Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana hambatan yang
   dilakukan terhadap arus udara itu, dapat kita bedakan adanya
   konsonan.
   1) Hambatan ( letupan, plosif, stop ) : bunyi p, b,t,d,k, dan g.
   2) Geseran atau frikatif                   : bunyi f, s, dan z.
   3) Paduan atau frikatif                    : bunyi c, dan j.
   4) Sengauan atau nasal                     : bunyi m, dan n.
        5) Getaran atau trill                   : bunyi r.
        6) Sampingan atau lateral               : bunyi l.
        7) Hampiran atau aproksimal             : bunyi w, dan y.
      Unsur Suprasegmental
        Adalah bunyi yang dapat disegmentasikan di dalam arus ujaran.
        1) Tekanan atau stres
            Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi, suatu
            bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat
            sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, asti dibarengi
            dengan tekanan keras, begitu juga sebaliknya.
        2) Nada atau Pitch.
            Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi
            Macam-macam nada yaitu :
            a. Nada naik /
                Nada datar –
                Nada turun \
Nada turun naik ^
Nada turun v
         b. Nada paling tinggi, angka 4
               Nada tinggi, angka 3
               Nada sedang, angka 3
               Nada rendah, angka 1
     3) Jeda atau persendian
         Berkenan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.
         Macam-macam sendi:
         a. Sendi dalam (internal juncture)
               Menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel lain.
               Biasanya diberi tanda (+).
         b. Sendi luar (open juncture)
               Menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel.
               Antara lain: jeda antar kata (/)
               Jeda antar frase dalam klausa (//)
               Jeda antar kalimat dalam wacana (#)
   Silabel
     Adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi
     ujaran. Bunyi vokal selalu menjadi puncak silabis atau kenyaringan dalam
     suatu silabel.

2. Fonemik
  a. Identifikasi fonem
     Identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.
     Alofon
      Alofon-alofon dari sebuah fonem memiliki banyak kesamaan dalam
      pengucapannnya. Dimana alofon adalah rediasi dari fonem, yang konkret
      dalam bahasa.
      Contoh: fonem (i) setidaknya memiliki 4 buah alofon, yaitu:
                 Bunyi (i) dalam kata cita
                 Bunyi (I) dalam kata tarik
                 Bunyi (i) dalam kata ingkar
                 Bunyi (i:) dalam kata kali
 Klasifikasi fenom
  Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi
  terhadap arus ujaran disebut segmental. Dan fonem supra segmental atau
  fonem non segmental adalah fonem yang berupa unsur supra segmental.
  Yang membedakan suatu konstruksi adalahkata majemuk atau bukan
  adalah pada tekanan itu. Kalau tekanan dijatuhkan pada unsur pertama,
  maka kontruksi itu adalah kata majemuk,kalau dijatuhkan pada unsur
  kedua maka itu bukan majemuk.
  Dalam bahasa Indonesia unsur supra segmental tampaknya tidak bersifat
  fenomis maupun morfemis, namun intonasi mempunyai peranan pada
  tingkat sintaksis.


 Khazanah fenom
  Adalah banyaknya fenom yang terdapat dalam satu bangsa. Berapa
  jumlah fonem yang dimiliki suatu bangsa tidak sama jumlahnya dengan
  ynag dimiliki bangsa lain.
  Jumlah fonem bahasa Indonesia adalah 24 buah, dimana:
  - 6 buah fonem vokal: a, i, u, e, .... dan o
  - 18 buah fonemkonsonan: p,t,c,k,b,d,j,g,m,n, ....s,h,r,l,w dan y
 Perubahan fenom
  Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada
  lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.
  Macam-macam kasus perubahan fonem, antara lain:
  1) Asimilasi dan disimilasi
      Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi
      yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya.
      Sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama
      dengan bunyi yang mempengaruhinya.
      Kalau perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah
      fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fenomis. Jika tidak
   menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka disebut
   asimilasi fonetid atau asimilasi alomorfemis.
   Macam-macam asimilasi.
   a) Asimilasi progresif: bunyi yang diubah itu terletak di belakang
       bunyi yang mempengaruhinya.
   b) Asimilasi regresif: bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang
       mempengaruhinya.
   c) Asimilasi resipokal: perubahan terjadi pada kedua bunyi yang
       saling mempengaruhi.
   Proses disimilasi perubahan menyebabkan dua buah fonem yang
   sama menjadi berbeda atau berlainan.
2) Netralisasi dan arkifonem
   Contoh dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja “hard” keras
   dilafalkan /hart/. Adanya bunyi /t/ pada posisi akhir kata yang dieja
   hard itu adalah hasil netralisasi.
   Fenom /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam
   peristilahan linguistik disebut arkifonem.
3) Umlaut, ablaut, dan harmoni vokal
   Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu
   menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya
   yang tinggi.
   Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-
   bahasa Indo-Jerman. Untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.
   Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal
   terdapat dalam bahasa Turki. Contohnya kata at ‘kuda’ bentuk
   jamaknya adalah atlar’kuda-kuda’. Dalam bahasa Turki harmoni
   vokal berlangsung dari kiri ke kanan, atau dari silabel yang
   mendahului ke arah silabel yang menyusul.
4) Kontraksi
   Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi informal, seringkali
   penutur memperpendek ujarnya. Misal tidak tahu diucapkan ndak
                  tahu. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya
                  sebuah fonem atau lebih ada yang berupa kontrkasi. Dalam kontrkasi,
                  pendekatan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-
                  sendiri.
               5) Metatesis dan Epentesis
                  Metatesis mengubah urutan fenom yang terdapat dalam suatu kata.
                  Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat
                  dalam bahasa tersebut sebagai variasi.
                  Dalam proses epentesis sebuah fonem tert3entu, biasanya yang
                  homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.
               6) Fonem dan grafem
  Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan
 makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus
dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi
                    yang berbeda. Sedangkan yang lainnya sama.
                                BAB V
                       OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA
        Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau
pengertian. Kata bahasa yang terdapat pada kalimat bisa menunjuk pada beberapa arti
atau kategori lain. Menurut peristilahan de Saussure, bahasa bisa berperan sebagai
parole, langue, langage. Sebagai objek kajian linguistik, karole merupakan objek konkret
karena parole itu berwujud ujaran nyata yang diucapkan oleh para bahasawan dari suatu
masyarakat bahasa. Langue merupakan objek yang abstrak karena langue itu berwujud
sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan. Langage merupakan objek yang paling
abstrak karena dia berwujud sistem bahasa yang universal.
        “ Apakah bahasa itu?” Seperti yang dikemukakan Kridalaksana (1983 dan juga
dalam Djoko Kentjono 1982) “ Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang
digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan
mengidentifikasi diri”. Definisi ini sejalan dengan definisi dari Barber(1964: 21),
Wardhaugh(1977:3), Trager(1949:18), de Saussure(1966:16) dan Bolinger(1975:15).
        Masalah yang berkeneen dengan pengertian bahasa adalah bilamana sebuah
tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya dan bilamana hanya
dianggap sebagai varian dari suatu bahasa lainnya dan hanya dianggap sebagai varian
dari suatu bahasa. Dua buah tuturan bisa disebut sebagai dua bahasa yang berbeda
berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistis dan patokan politis. Masalah lain
adalah arti bahasa dalam pendidikan formal di sekolah menengah bahwa” bahasa adalah
alat komunikasi”. Jawaban ini tidak salah tetapi juga tidak benar sebab hanya
mengatakan” bahasa adalah alat”.
        Oleh karena itu, meskipun bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti
tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tetapi karena ”rumitnya”
menentukan suatu parole bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari bahasa yang lain,
maka hingga kini belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada di
dunia ini.


3.2 HAKIKAT BAHASA
      Beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa adalah

3.2.1 Bahasa sebagi Sistem
        Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan makna
‘cara’ atau ‘aturan’, tapi dalam kaitan dengan keilmuan, sistem bararti susunan teratur
berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sebagai
sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis. Dengan sistematis,
artinya bahasa itu tersusun menurut pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan.
Sedangkan sistemis, artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri
juga dari sub- subsistem atau sistem bawahan.

3.2.2 Bahasa sebagai Lambang
        Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang
sama. Lambang dikaji orang dengan kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut
ilmu Semiotika atau Semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam
kehidupan manusia termasuk bahasa. Dalam semiotika atau semiologi dibedakan adanya
beberapa jenis tanda, yaitu antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal),
gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Dengan begitu, bahasa
adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi- bahasa, bukan dalam wujud lain.

3.2.3 Bahasa adalah Bunyi
        Sistem bahasa itu bisa berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Kata bunyi,
sering sukar dibedakan dengan kata suara. Secara teknik, menurut Kridalaksana (1983:
27) bunyi adalah kesan dari pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang
bereaksi karena perubahan- perubahan dalam tekanan udara. Lalu yang dimaksud dengan
bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi- bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap
manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat
ucap manusia termasuk bunyi bahasa, seperti teriak, bersin, batuk- batuk, dan sebagainya.

3.2.4 Bahasa itu Bermakna
       Bahasa itu adalah sistem lambang yang berwujud bunyi, maka tentu ada yang
dilambangkan. Yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide atau pikiran
yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi. Oleh karena lambang- lambang itu mengacu
pada suatu konsep, ide atau suatu pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu
mempunyai makna. Lambang- lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa
berupa satuan- satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat dan
wacana. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna
dapat disebut bukan bahasa.

3.2.5 Bahasa itu Arbitrer
        Kata arbitrer bisa diartikan “ sewenang- wenang, berubah- ubah, tidak tetap, mana
suka”. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib
antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang
dimaksud oleh lambang tersebut.

3.2.6 Bahasa itu Konvensional
        Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkan bersifat
arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat
konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa
lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

3.2.7 Bahasa itu Produktif
        Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif
adalah “ banyak hasilnya “ atau lebih tepat “ terus- menerus menghasilkan “. Lalu, kalau
bahasa itu dikatakan produktif, maka maksudnya, meskipun unsur- unsur bahasa itu
terbatas, tetapi dengan unsur- unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-
satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem
yamg berlaku dalam bahasa itu.

3.2.8 Bahasa itu Unik
        Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang
lain. Bahasa dikatakan unik yang artinya setiap bahasa memiliki ciri khas yang tidak
dimiliki oleh bahasa lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan
kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis, artinya jika kita memberi tekanan pada
kata dalam kalimat maka makna kata itu tetap.

3.2.9 Bahasa itu Universal
       Bahasa bersifat universal artinya ada ciri- ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap
bahasa yang ada di dunia ini. Ciri- ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur
bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri- ciri atau sifat- sifat bahasa
lain.

3.2.10 Bahasa itu Dinamis
        Bahasa adalah satu- satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala
kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang
berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan
manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu
tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak
tetap dan tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi
        Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan
berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Anggota
masyarakat bahasa itu ada yang berpndidikan baik ada juga yang tidak, ada yang tinggal
di kota ada yang tinggal di desa, ada orang dewasa dan kanak- kanak. Oleh karena latar
belakang dan lingkungannya tidak sama maka bahasa yang mereka gunakan menjadi
bervariasi atau beragam.

3.2.12 Bahasa itu Manusiawi
        Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam
arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia. Alat komunikasi
binatang bersifat terbatas. Dalam arti hanya untuk keperluan hidup “ kebinatangannya”
itu saja. Kalaupun ada binatang yang dapat mengerti dan memahami serta melakukan
perintah manusia dalam bahasa manusia adalah berkat latihan yang diberikan kepadanya.


3.3 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA
        Objek kajian linguistik mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu
sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan
faktor- faktor di luar bahasa yaitu tidak lain daripada segala hal yang berkaitan dengan
kegiatan manusia di dalam masyarakat, sebab tidak ada kegiatan yang tanpa berhubungan
dengan bahasa.
3.3.1 Masyarakat Bahasa
        Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang (dalam jumlah
yang banyaknya relatif ), yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal
atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama. Yang dimaksud dengan masyarakat
bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Karena
titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “ merasa menggunakan bahasa yang
sama”, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa
        Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk
membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status
pemakaiannya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi ( T ) digunakan dalam situasi-
situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah,
surat- menyurat resmi dan buku pelajaran, variasi T ini harus dipelajari melalui
pendidikan formal di sekolah- sekolah. Yang kedua adalah variasi bahasa rendah ( R )
digunakan dalam situasi tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan, dalam surat-
surat pribadi dan catatan untuk diri sendiri, variasi R ini dipelajari secara langsung di
dalam masyarakat umum dan tidak pernah dalam pendidikan formal. Adanya pembedaan
variasi bahasa T dan bahasa R disebut dengan istilah diglosia ( Ferguson 1964 ).
Masyarakat yang mengadakan pembedaan ini disebut masyarakat diglosis.

3.3.3 Penggunaan Bahasa
        Adanya berbagai macam dialek dan ragam bahasa menimbulkan masalah,
bagaimana kita harus menggunakan bahasa itu di dalam masyarakat. Hymes (1974)
seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan
menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang diakronimkan menjadi
SPEAKING, yakni :
    9. Setting and scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu
        terjadinya percakapan
    10. Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan
    11. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan
    12. Act sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan
    13. Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan
        percakapan
    14. Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan
        atau bukan
    15. Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan
    16. Genres, yaitu menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.
        Kedelapan unsur tersebut dalam formulasi lain bisa dikatakan dalam
berkomunikasai lewat bahasa harus diperhatikan faktor- faktor siapa lawan atau mitra
bicara kita, tentang apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jalurnya apa dan ragam
bahasa yang digunakan yang mana.

3.3.4 Kontak Bahasa
        Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima
kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat,
akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Bahasa dari masyarakat yang menerima
kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa dari masyarakat yang datang. Hal
yang sangat menonjol yang bisa terjadi dari adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya
atau terdapatnya apa yang disebut bilingualisme dan multilingualisme dengan berbagai
macam kasusnya, sepertu interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode.

3.3.5 Bahasa dan Budaya
       Satu lagi yang menjadi objek kajian linguistik makro adalah mengenai hubungan
bahasa dengan budaya atau kebudayaan. Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesisyang
sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dengan kebudayaan ini. Hipotesis ini
dikeluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (
hipotesis Sapir- Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan atau
bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.
Jadi bahasa itu menguasai cara berpikir dan bertindak manusia. Apa yang dilakukan
manusia selalu dipengaruhi oleh sifat- sifat bahasanya.


3.6 KLASIFIKASI BAHASA
        Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa.
Bahasa yang mempunyai kesamaan ciri dimasukkan dalam satu kelompok. Menurut
Greenberg (1957: 66) suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan
nonarbitrer, ekhaustik, dan unik. Nonarbitrer maksudnya bahwa kriteria klasifikasi hanya
harus ada satu kriteria, maka hasilnya akan ekhaustik. Artinya, setelah klasifikasi
dilakukan tidak ada lagi sisanya, semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu
kelompok. Hasil klasifikasi juga harus bersifat unik, maksudnya kalau suatu bahasa
sudah masuk ke dalam salah satu kelompok, dia tidak bisa masuk lagi dalam kelompok
yang lain, kalau masuk ke dalam dua kelompok atau lebih berarti hasil klasifikasi itu
tidak unik.

3.6.1 Klasifikasi Genetis
       Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan
garis keturunan bahasa- bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari
bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa pro ( bahasa tua,
bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Lalu, bahasa
pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa lain. Kemudian bahasa- bahasa lain itu
akan menurunkan lagi bahasa- bahasa pecahan berikutnya.
       Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti yaitu atas
kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang memiliki
sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau bahasa proto yang
sama. Apa yang dilakukan dalam klasifikasi genetis ini sebenarnya sama dengan teknik
yang dilakukan dalam linguistik historis komparatif, yaitu adanya korespondensi bentuk
(bunyi) dan makna. Oleh karena itu, klasifikasi genetis bisa dikatakan merupakan hasil
pekerjaan linguistik historis komparatif. Klasifikasi genetis juga menunjukkan bahwa
perkembangan bahasa- bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan
menyebar menjadi banyak, tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan
perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih, perkembangan yang
konvergensif tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

3.6.2 Klasifikasi Tipologis
        Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe- tipe yang
terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul
berulang- ulang dalam suatu bahasa. Klasifikasi tipologi ini dapat dilakukan pada semua
tataran bahasa. Maka hasil klasifikasinya dapat bermacam- macam, akibatnya menjadi
bersifat arbitrer karena tidak terikat oleh tipe tertentu.
        Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara
garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:
       Kelompok pertama adalah yang semata- mata menggunakan bentuk bahasa
          sebagai dasar klasifikasi. ( klasifikasi morfologi oleh Fredrich Von Schlegel)
       Kelompok kedua adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi (
          oleh Franz Bopp).
       Kelompok ketiga adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar
          klasifikasi, pakarnya antara lain H. Steinthal.
        Pada abad XX ada juga pakar klasifikasi morfologi dengan prinsip yang berbeda,
misalnya yang dibuat Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954).

3.6.3 Klasifikasi Areal
        Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara
bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa
memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini
bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa- bahasa itu memberikan pengaruh
timbal balik dalam hal- hal tertentu yang terbatas. Klasifikasi inipun bersifat non
ekhaustik, sebab masih banyak bahasa- bahasa di dunia ini yang masih bersifat tertutup
dalam arti belum menerima unsur- unsur luar. Selain itu, klasifikasi inipun bersifat non
unik, sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan
dapat pula masuk ke dalam kelompok lainnya lagi. Usaha klasifikasi ini pernah dilakukan
oleh Wilhelm Schmidt (1868- 1954) dalam bukunya Die Sprachfamilien und
Sprachenkreise der Ende, yang dilampiri dengan peta.

3.6.4 Klasifikasi Sosiolinguistik
        Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan
faktor- faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi,
penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi sosiolinguistik ini
pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang dapat kita baca dalam
artikelnya “ An Outline of Linguistic Typology for Describing Multilingualism”.
Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri atau kriteria, yaitu :
    e. historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah
        pemakaian bahasa itu,
    f. standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku
        atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal,
    g. vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang
       menggunakannya dalam kegiatan sehari- hari secara aktif atau tidak,
    h. homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu
       diturunkan.
       Dengan menggunakan keempat ciri di atas, hasil klasifikasi bisa menjadi
ekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam kelompok-
kelompok tertentu. Tetapi hasil ini tidak unik sebab sebuah bahasa bisa mempunyai status
yang berbeda.


3.7 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

         Dalam bagian yang terdahulu sudah disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah
sistem bunyi. Jadi bahasa itu adalah apa yang dilisankan. Juga sudah disebutkan bahwa
linguistik melihat bahasa itu adalah bahasa lisan, bahasa yang diucapkan, bukan yang
dituliskan. Namun linguistik sebenarnya juga tidak menutup diri terhadap bahasa tulis,
sebab apapun yang berkenaan dengan bahasa adalah juga menjadi objek linguistik,
padahal bahasa tulis dekat sekali hubungannya denganm bahasa. Hanya masalahnya,
linguistik juga punya prioritas dalam kajiannya. Begitulah, maka bagi linguistik bahasa
lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder. Bahasa lisan lebih dahulu
daripada bahasa tulis. Malah saat ini masih banyak bahasa di dunia ini yang belum punya
tradisi tulis. Artinya, bahasa itu hanya digunakan secara lisan, tetapi tidak secara tulisan.
Dalam bahasa itu belum dikenal ragam bahasa tulisan, yang ada hanya ragam bahasa
lisan.
         Bahasa tulis sebenarnya bisa dianggap sebagai “rekaman” bahasa lisan, sebagai
usaha manusia untuk “menyimpan” bahasanya atau untuk bisa disampaikan kepada orang
lain yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Namun, ternyata rekaman bahasa
tulis sangat tidak sempurna. Banyak unsur bahasa lisan, seperti tekanan, intonasi, dan
nada yang tidak dapat direkam secara sempurna dalam bahasa tulis, padahal dalam
berbagai bahasa tertentu tiga unsur itu sangat penting.
         Apakah bahasa tulis itu sama dengan bahasa lisan, atau bagaimana? Meskipun
dari awal sudah disebutkan bahwa bahasa tulis sebenarnya tidak lain daripada rekaman
bahasa lisan, tetapi sesungguhnya ada perbedaan besar antara bahasa tulis dengan bahasa
lisan. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi kalau kita
merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman. Bahasa tulis sudah dibuat orang dengan
pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati- hati, tanpa pertimbangan dan
pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis
sangat besar, maka kesalahan itu tidak bisa secara langsung diperbaiki. Berbeda dengan
bahasa lisan. Dalam bahasa lisan setiap kesalahan bisqa segera diperbaiki, lagipula
bahasa lisan sangat dibantu oleh intonasi, tekanan, mimik, dan gerak- gerik si pembicara.
         Berbicara mengenai asal mula tulisan, hingga saat ini belum dapat dipastikan
kapan manusia mulai menggunakan tulisan. Ada cerita yang mengatakan bahwa tulisan
itu ditemukan oleh Cadmus, seorang pangeran dari Phunisia dan lalu membawanya ke
Yunani. Dalam fable Cina dikisahkan bahwa yang menemukan tulisan adalah T’sang
Chien Tuhan bermata empat, dan sebagainya. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan
itu berawal dan tumbuh dari gambar- gambar yang terdapat dari gua-gua di Altamira di
Spanyol Utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar- gambar itu dengan bentuknya yang
sederhana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ingin disampaikan.
Gambar- gambar ini disebut pictogram, dan sebagai sistem tulisan disebut piktograf.
        Beberapa waktu kemudian gambar- gambar piktogram itu benar- benar menjadi
sistem tulisan yang disebut piktograf. Dalam piktograf ini, satu huruf yang berupa satu
gambar, melambangkan satu makna atau satu konsep. Piktograf ini selanjutnya tidak lagi
menggambarkan benda yang dimaksud, tetapi telah digunakan untuk menggambarkan
sifat benda atau konsep yang berhubungan dengan benda itu. Piktograf yang
menggambarkan gagasan, ide, atau konsep ini disebut ideograf. Kemudian ideograf
berubah menjadi lebih sederhana, sehingga tidak tampak lagi hubungan langsung antara
gambar dengan hal yang dimaksud. Sistem demikian, yang menggambarkan suku kata
disebut aksara silabis.
        Lalu dalam perkembangannya, aksara silabis ini diambil alih oleh orang Yunani
yang kemudian mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu dengan
menggambarkan setiap konsonan dan vocal dengan satu huruf. Selanjutnya, aksara
Yunani ini diambil alih pula oleh orang Romawi. Pada abad-abad pertama Masehi aksara
Romawi ini (yang lazim disebut aksara Latin) menyebar ke seluruh dunia. Tiba di
Indonesia sekitar abad XVI bersamaan dengan penyebaran agama Kristen oleh orang
Eropa.
        Jadi, sudah dikemukakan di atas adanya beberapa jenis aksara, yaitu aksara
piktografis, aksara ideografis, aksara silabis, dan aksara fonemis. Semua jenis aksara itu
tidak ada yang bisa “merekam” bahasa lisan secara sempurna. Banyak unsur bahasa lisan
yang tidak dapat digambarkan oleh aksara itu dengan tepat dan akurat. Alat pelengkap
aksara yang ada untuk menggambarkan unsur- unsur bahasa lisan hanyalah huruf besar
untuk memulai kalimat, koma untuk menandai jeda, titik untuk menandai akhir kalimat,
tanda tanya untuk menyatakan interogasi, tanda seru untuk menyatakan interjeksi, dan
tanda hubung untuk menyatakan penggabungan. Bahasa- bahasa di dunia ini dewasa ini
lebih umum menggunakan aksara Latin daripada aksara lain. Aksara Latin adalah aksara
yang tidak bersifat silabis. Jadi, setiap silabel akan dinyatakan dengan huruf vokal dan
huruf konsonan. Huruf vokal untuk melambangkan fonem vokal dan huruf konsonan
untuk melambangkan fonem konsonan dari bahasa yang bersangkutan. Hubungan antara
fonem (yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna dalam suatu bahasa)
dengan huruf atau grafem (yaitu satuan unsur terkecil dalam aksara) ternyata juga
bermacam- macam. Tidak sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, karena
jumlah fonem yang ada dalam setiap bahasa tidak sama dengan jumlah huruf yang
tersedia dalam alphabet Latin itu.
        Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah ejaan yang
melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya
dipakai untuk melambangkan satu fonem. Jika demikian, ternyata ejaan bahasa Indonesia
belum seratus persen ideal, sebab masih ada digunakan gabungan huruf untuk
melambangkan sebuah fonem. Namun, tampaknya ejaan bahasa Indonesia masih jauh
lebih baik daripada ejaan bahasa Inggris.
                                         BAB VI


6. TATARAN LINGUISTIK (3):
   SINTAKSIS

   6.1 Struktur Sintaksis
   Struktur sintaksis terdiri dari fungsi, kategori dan peran sintaksis, serta alat-alat untuk
membangun struktur tersebut.
   Kategori sintaksis adalah sesuatu yang akan mengisi fungsi sintaksis sehingga
menjadi bermakna. Yang termasuk kategori sintaksis yaitu : nomina, verba, ajektiva, dan
numeralia.
   Peran sintaksis yaitu peran kategori pada sintaksis, misalnya sebagai pelaku, sasaran,
waktu, dan sebagainya.
Contoh :
   Ibu menyapu halaman tadi pagi.
   Fungsi subjek diisi oleh kata ibu yang berkategori nomina dan berperan sebagai
pelaku.
   Alat-alat yang digunakan dalam pembangunna struktuk sintaksis adalah urutan kata,
bentuk kata,intonasi dan konektor.
   Urutan kata merupakan letak atau posisi kata satu dengan yang lainnya dalam suatu
konstruksi sintaksis. Bentuk kata di dalam Bahasa Indonesia juga mempengaruhi makna.
Misal: melirik menjadi dilirik.
   Intonasi menentukan perbedaan modus kalimat apakah itu kalimat deklaratif,
interogatif atau yang lainnya.
   Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas
merupakan kelas tertutup, yang bertugas menghubungkan satu konstituen dengan lainnya.
Ada dua macam konektor yaitu :
   a. Konektor koordinatif : menghubungkan dua konstituen setara. Kata hubung yang
          digunakan biasanya adalah dan, atau, tetapi.
   b. Konektor subkoordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak setara atau
       bertingkat. Kata hubung yang digunakan adalah kalau, meskipun, karena.
   6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis
   Kata adalah satuan terkecil dan bebas dalam sintaksis. Terkecil karena tidak dapat
dibagi lebih kecil lagi. Bebas karena dapat berdiri sendiri dalam kalimat atau sebagai
penuturan.
   Ada dua macam kata, yaitu :
   a. kata penuh
   Kata yang dapat mengalami proses morfologi (bisa diberi imbuhan), dan dapat berdiri
sendiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata penuh yaitu kata yang berkategori nomina,
verba, ajektiva, numeralia dan adverbia. Contoh : masak, memasak.
   b. Kata tugas
   Kata yang tidak mengalmi proses morfologi, dan tidak dapat berdiri sebagai tuturan.
Yang termasuk kata tugas yaitu kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Contoh :
dan, meskipun.
   6.3 Frase
       6.3.1    Pengertian
   Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif
yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah morfem bebas. Frase
tidak mempunyai predikat. Contoh : kamar mandi, bukan sepeda.
   Frase mungkin untuk diselipi kata lain. Contoh : adik saya menjadi adik milik saya.
   Salah satu unsur frase tidak dapat dipindahkan sendiri, melainkan harus bersama-
sama. Contoh :
   Nenek membaca koran di teras depan.
   Depan nenk membaca koran di teras. (tidak berterima)
       6.3.2    Jenis Frase
             6.3.2.1 Frase eksosentrik
   Yaitu frase yang komponennya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan
keseluruhannya. Misal frase di pasar. Frase eksosentrik dibedakan menjadi :
   -   frase eksosentrik direktif
   Frase eksosentrik yang komponen pertama berupa preposisi (di, dari, ke) dan
komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina.
   Frase ini disebut juga frase preposisional karena komponen pertama berupa preposisi.
Contoh : di pasar, dari kayu jati, demi kemakmuran, dsb.
   -   frase eksosentrik non direktif
   Frase eksosentrik yanga komponen pertama berupa artikulus si, sang atau kata lain
seperti yang, para, kaum, sedang komponen kedua berupa kata atau kelompok kata
berkategori nomina, ajektifa, dan verba. Contoh : si miskin, para jurnalis,kaum
cendekiawan.
           6.3.2.2 Frase endosentrik
   Yaitu frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan
keseluruhannya. Salah satu unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan.
Contoh : sedang membaca menjadi membaca.
   Frase endosentrik disebut juga frase modifikasi karena komponen kedua mengubah
atau membatasi makna komponen pertama. Contoh : membaca, diberi sedang berarti
pekerjaan sedang berlangsung.
   Selain disebut sebagai frase modofikasi, juga sering disebut sebagai frase subordinatif
karena salah satu komponennya berlaku sebagai komponen atasan (inti) dan yang lainnya
sebagai komponen bawahan. Frase subordinatif, dilihat dari kategori intinya ada frase
nomina, verba, ajektifa, dan numeral.
           6.3.2.3 Frase koordinatif
   Yaitu frase yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang sederajat dan dapat
dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baik…maupun). Contoh :
sehat dan kuat, buruh atau majikan.
   Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase
parataksis. Contoh : hilir mudik, tua muda.
           6.3.2.4 Frase apositif
   Yaitu frase yang kedua komponmennya saling merujuk sesamanya sehingga
urutannya dapat dipertukarkan. Contoh :
   Pak Ahmad, guru saya, sedang sakit, menjadi
   Guru saya, Pak Ahmad,sedang sakit.
       6.3.3     Perluasan Frase
   Biasanya dilakukan di sebelah kanan atau kiri. Dalam Bahasa Indonesia, perluasan
frase sangat produktif karena :
   1) untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus.
   2) pengungakapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas
       tidak dinyatakan dengan afiks.
   3) keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci.
   6.4 Klausa
       6.4.1     Pengertian
   Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikatif. Artinya
dalam konstruksi itu wajib ada komponen (kata atau frase) yang berfunsi sebagai
predikat. Dalam klausa, subjek juga wajib ada. Objek wajib ada jika predikat berupa
verba transitif. Jika bukan verba transitif, maka yang muncul adalah pelengkap.
Keterangan tidak wajib dalam klausa.
   Klausa jika diberi intonasi final akan berpotensi menjadi kalimat mayor,sedang kata
akan menjadi kalimat minor.
       6.4.2     Jenis klausa
   1) berdasarkan strukturnya :
   -   klausa bebas
   yaitu klaua yang punya unsur-unsur lengkap sekurang-kurangnya subjek dan predikat
dan berpotensi menjadi kalimat mayor.
   -   klausa terikat
   struktur tidak l;engkap, mungkin hanya S saja, P saja, O saja, aau K saja dan tidak
berpotensi menjadi kalimat mayor. Klausa ini biasa dikenali dengan adanya konjungsi
subordinatif di depannya disebut klausa subordinatif (bawahan) yang hadir bersama
klausa atasan.
   2) berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya :
   Dibedakan menjadi klausa verbal, numeral, nominal, ajektifal, advertbial, dan
proposisional.
   Klausa verbal dibedakan menjadi klausa transitif, intransitive, refleksif, dan
resiprokal.
    6.5 Kalimat
        6.5.1   Pengertian
    Kalimat adalah satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa. Atau satuan
sintaksis yang disusun dari konstituen dasar , klausa, dilengkapi konjungsi bila
diperlukan. Kalimat bisa berasal dari klausa yang diberi intonasi final.
        6.5.2   Jenis kalimat
            6.5.2.1 Kalimat inti dan non inti
    Kalimat inti (dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap
bersifat deklaratif, aktif/netral, dan afirmasif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat
non inti dengan berbagai transformasi : pemasifan, pengingkaran, penanyaan, dsb.
    Kalimat inti + transformasi = kalimat non inti
            6.5.2.2 Kalimat tunggal dan kalimat majemuk
    Perbedaan keduanya berdasarkan banyaknya klausa dalam kalimat. Jika terdiri dari
satu klausa, disebut kalimat tunggal. Jika terdiri dari dua atau lebih klausa disebut kalimat
majemuk.
    Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat, kalimat majemuk
dibedakan menjadi :
    -   kalimat majemuk koordinatif (setara)
    Klausa-klausanya punya status yang sama. Biasanya dihubungkan dengan konjungsi
dan, atau, tetapi dan lalu.
    -   kalimat majemuk subkoordinatif (bertingkat)
    Klausa-klausanya punya status yang tidak sama. Klausa satu disebut klausa atasan,
sedang lainnya disebut klausa bawahan. Konjungsi yang digunakan : kalau, ketika,
meskipun, dan karena.
    Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat yan terdiri dari tiga klausa atau lebih, ada
yang dihubungkan secara koordinatif dan juga subkordinatif sehingga merupakan
campuran dari koordinatif dan subkoordinatif dan disebut sebagai kalimat majemuk
campuran.
               6.5.2.3 Kalimat mayor dan minor
   Perbedaannya berdasarkan lengkap tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar.
Kalimat mayor harus punya subjek dan predikat.Jika tidak ada salah satunya, maka
termasuk kalimat minor.
               6.5.2.4 Kalimat verbal dan nonverbal
   Kalimat verbal dibentuk dari klausa verbal, predikat berkategori verba. Kalimat
verbal dibedakan menjadi kalimat intransitive, trnsitif, pasif, aktif, dinamis, dan statis.
   Kalimat non verbal yaitu kalimat yang predikatnya bukan verba.
               6.5.2.5 Kalimat bebas dan terikat
   Pembedaan dikaitkan dengan paragraf yang kalimat-kalimatnya adalah satuan-satuan
yang berhubungan.
   Kalimat bebas dapat disendirikan, dapat memulai suatu paragraf dan berpotensi
menjadi ujaran lengkap.
   Sedang kalimat terikat tidak dapat disendirikan, harus terikat dengan kalimat lain,
tidak dapat memulai suatu paragraf, dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran
lengkap.
       6.5.3     Intonasi kalimat
   Intonasi merupkan ciri utama yang membedakan kalimat dari klausa.
   Macam intonasi :
   -    Tekanan          : ciri-ciri suprasegmental yang menyertai ujaran
   -    Tempo            : waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran
   -    Nada             : diukur berdasarkan kenyarinagn ssuatu segmen.
       6.5.4     Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis
   6.5.4.1 Modus
   Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan
menurut tafsiran si pembicara. Atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya.
Beberapa macam modus antara lain :
   - modus indikatif / deklaratif       : menunjukkan sikap objektif / netral.
   - modus optatif                      : menunjukkan harapan / keinginan
   - modus imperative                   : menunjukkan perintah / larangan
   - modus anterogatif                  : menyatakan pertanyaan
   -modus obligatif                   : menyatakan keharusan
   - modus desideratif                : menyatakan keinginan / kemauan
   - modus kondisional                : menyatakan persyaratan
   6.5.4.2 Aspek
   Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu
situasi. Macam aspek antara lain :
   - aspek kontinuatif         : menyatakan perbuatan terus berlangsung
   - aspek repetitive          : menyatakan perbuatan berulang-ulang
   -aspek insentif             : menyatakan perbuatan baru dimulai
   - aspek progresif           : menyatakan perbuatan sedang berlangsung
   - aspek imperfektif : menyatakan perbuatan hanya berlangsunga sebentar
   - aspek sesatif             : menyatakan perbuatan sudah berakhir




   6.5.4.3 Kala
   Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan
yang disebutkan dalam predikat. Kala menyatakan waktu sekarang (sedang), sudah
lampau (sudah), dan akan datang (akan).
   Perbedaan kala dengan keterangan waktu adalah kala terikat pada predikatnya,
sedang keterangan dapat berpindah di awal atau akhir kalimat.
   6.5.4.4 Modalitas
   Modalitas adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang
dibicarakan, dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, keizinan dan yang
lainnya. Jenis-jenis modalitas :
   -   intensional (keinginan, harapan, permintaan, dan ajakan)
   -   epistemik ( kemungkinan, kepastian, dan keharusan)
   -   deontik (keizinan, keperkenaan)
   -   dinamik (kemampuan)
   6.5.4.5 Fokus
   Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehinggas perhatian pendengar
/ pembaca tertuju pada bagian itu. Dalam Bahasa Indonesia pemberian fokus dapat
dilakukan dengan berbagai cara :
   -   pemberian tekanan
   -   mengedepankan bagian yang ditonjolkan
   -   memakai pertikel pun,yang,tentang dan adalah pada bagian tersebut
   -   mengontraskan dua bagian kalimat
   -   menggunakan konstruksi posesifanaforis beranteseden
   6.5.4.6 Diatesis
    Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dengan perbuatan. Macam diatesis
   -   aktif (subjek melakukan pekerjaan)
   -   pasif (subjek dikenai pekerjaan)
   -   refleksif ( subjek berbuat untuk dirinya sendiri)
   -   resiprokal (subjek terdiri dari 2 pihak berbuat berbalasan)
   -   kausatif (subjek penyebab terjadinya sesuatu)
 6.6    Wacana
   6.6.1   Pengertian
   Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap dan merupakan satuan gramatikal
teringgi. Wacana dibentuk oleh kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal
dan persyaratan kewacanaan lainnya.
   6.6.2   Alat wacana
   Alat wacana digunakan untuk membuat wacana yang kohesif dan koheren. Ada 2
aspek, yaitu :
    1) aspek gramatikal
   -   konjungsi (penghubung)
   -   kata ganti dia,-nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis
   -   menggunakan elipsis (penghilangan bagian kalimat yang sama)
    2) aspek semantic
   -   hubungan pertentangan
   -   generic-spesifik dan sebaliknya
   -   hub. Perbandingan
   -   hub sebab-akibat
   -   hub tujuan
   -   rujukan yang sama
   6.6.3   Jenis wacana
   1) Berdasarka sarana : wacana lisan dan tulis
   2) Berdasarkan penggunaan bahasa : wacana prosa dan puisi
   3) Berdasarkan isi : narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
   6.6.4   Subsatuan wacana
   Wacana yang berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan bab, subbab,.
paragraph, subparagarf. Wacana singkat tidak ada subsatuannya.
 6.7 Catatan mengenai Hierarki Satuan
Satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Fonem,
morfem, kata, frase, klausa, kalimat, wacana.
                            BAB VII
                 TATARAN LINGUISTIK (4) SEMANTIK

    Sub sistem semantik disebut bersifat periferal karena makna yang menjadi objek
semantik adalah sangat tidak jelas, tak dapat diamati secara empiris.
Hakikat Makna
Makna adalah pengertian atau konsep yang terdapat pada sebuah tanda-tanda linguistik.
Para pakar mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna kata bila kata itu sudah
berada dalam konteks kalimatnya. Hubungan kata dan maknanya bersifat arbitrer.
Jenis Makna
a. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
   Makna leksikal: makna yang sebenarnya,makna yang sesuai dengan hasil observasi
    indra kita.
   Makna gramatikal: baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi,
    reduplikasi, komposisi,dan kalimatisasi.
   Makna kontekstual: makna sebuah kata yang berada dalam satu konteks.
b. Makna Referensial dan Non-Referensial
  Bermakna referensial kalau ada referensi / acuannya. Kata-kata deiktik acuannya tidak
  menetap pada satu maujud.
c. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
  Makna denotatif: makna sebenarnya yang dimiliki sebuah kata.
  Makna konotatif: makna lain yang ditambahkan pada makna denotative yang
                      berhubungan dengan nilai rasa dari orang yang menggunakan kata
                      tersebut.
d. Makna Konseptual atau Makna Asosiatif
  Makna konseptual: makna yang dimiliki sebuah kata terlepas dari konteks apapun.
  Makna Asosiatif: makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan
                      kata itu dengan sesuatu di luar bahasa.
e. Makna kata dan Makna Istilah
  Istilah bermakna yang pasti,yang jelas,yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks
kalimat.
f. Makna Idiom dan Peribahasa
  Idiom: satuan ujaran yang yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-
unsurnya.
  Idiom penuh: idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan,
                  sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu.
  Peribahasa memiliki makna yang dapat ditelusuri dari makna unsure-unsurnya karena
  adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.
Relasi Makna
 Sinonim: hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu
    ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
 Antonim: hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya
    menyatakan kebalikan,pertentangan antara yang satu dengan yang lain.
 Polisemi: jika sebuah kata itu mempunyai makna lebih dari satu.
 Homonim: dua buah kata bentuknya sama,maknanya berbeda karena masing-masing
    merupakan kata berlainan.
    Homofon: adanya kesamaan bunyi antara dua kata tanpa memperhatikan ejaan.
    Homograf: bentuk ujaran sama ejaannya, tapi ucapan dan maknanya tidak sama.
 Hiponim: hubungan semantik antara sebuah kata yang maknanya tercakup dalam
    makna bentuk ujaran yang lain.
 Ambiguiti: gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang
    berbeda.
 Redundansi: berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk
    ujaran.
Perubahan Makna
Faktor penyebab adanya perubahan makna pada sebuah kata:
 Perkembangan IPTEK
 Perkembangan social budaya
 Perkembangan pemakaian kata
 Pertukaran alat indra / Sinestesia
 Asosiasi
Perubahan meluas,contoh:saudara. Menyempit,contoh: sarjana
Medan Makna dan Komponen Makna
 Medan makna /medan leksikal: seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling
    berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan.
 Komponen makna: dapat dianalisis satu per satu berdasarkan pengertian yang
    dimilikinya. Contoh: kata ayah memiliki komponen makna :
              /+manusia/,/+dewasa/,/+jantan/,/+kawin/,dan /+punya anak/.
              Kata ibu berkomponen makna:
              /+manusia/, /+dewasa/, /+kawin/, dan /+punya anak/.
    Analisis binner: analisis makna dengan mempertimbangkan ada (+) atau tidak adanya
    (-) komponen makna pada sebuah butir leksikal.
 Kesesuaian Semantik dan Sintaktik
    contoh: * Kambing yang Pak Udin terlepas lagi (tidak berterima)
              karena kesalahan gramatikal.
            * Segelas kambing minum setumpuk air. ( tidak berterima)
              karena kesalahan persesusian leksikal.
Analisis persesuaian semantik dan sintaktik harus memperhitungkan komponen makna
kata secara lebih terperinci.
                                      BAB VIII
               SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Tahap-Tahap Studi Linguistik
 Tahap pertama, tahap spekulasi
         Pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada
   dongeng/cerita dan klasifikasi.
 Tahap kedua, tahap observasi dan klasifikasi
         Diadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang
   diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori.
 Tahap ketiga, tahap perumusan teori
         Membuat teori-teori, sehingga dapat dikatakan bersifat ilmiah.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL
          Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan
     semantik; sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal
     yang ada dalam suatu bahasa tertentu.
          Misalnya dalam merumuskan kata kerja, tata bahasa tradisional mengatakan
     kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata
     bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi
     dengan frase “dengan . . . .”.

8.1.1. LINGUISTIK ZAMAN YUNANI
            Sejarah studi bahasa pada zaman Yunani sangat panjang, yaitu dari lebih
       kurang abad ke-5 S.M sampai lebih kurang abad ke 2 M.
            Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan pada linguis pada
       waktu itu adalah :
       a. Pertentangan antara bahasa bersifat alami (fisis) dan bersifat konvensi (nomos)
          Bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-
          usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar
          manusia itu sendiri. kaum naturalis adalah kelompok yang menganut faham
         itu, berpendapat bahwa setiap kata mempunyai hubungan dengan benda yang
         ditunjuknya. Atau dengan kata lain, setiap kata mempunyai makna secara
         alami, secara fisis.
         Sebaliknya kelompok lain yaitu kaum konvensional, berpendapat bahwa
         bahasa bersifat konvensi, artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-
         hasil tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa
         berubah.
      b. Pertentangan antara analogi dan anomali
         Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu
         bersifat teratur. Karena adanya keteraturan itulah orang dapat menyusun tata
         bahasa. Jika tidak teratur tentu yang dapat disusun hanya idiom-idiom saja
         dari bahasa itu. Sebaliknya, kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu
         tidak teratur. Kalau bahasa itu tidak teratur mengapa bentuk jamak bahasa
         Inggris child menjadi children, bukannya childs; mengapa bentuk past tense
         bahasa Inggris dari write menjadi wrote dan bukannya writed ?

8.1.1.1. KAUM SOPHIS
             Kaum atau kelompok Sophis ini muncul pada abad ke-5 S.M. Mereka
       dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena :
       a) Mereka melakukan kerja secara empiris;
       b) mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunan ukuran-ukuran
           tertentu;
       c) mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa;
       d) mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna
             .

8.1.1.2. PLATO (429 – 347 S.M)
             Plato yang hidup sebelum abad Masehi itu, dalam studi bahasa terkenal
       antara lain, karena :
       a) Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialog. Juga
           mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional.
       b) Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira : bahasa adalah
            pernyataan pikiran manusia dengan perantaraan onomata dan rhemata.
       c) Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam onoma dan rhema.
       Onoma dapat berarti : (1) nama, dalam bahasa sehari-hari, (2) nomina, nominal,
       dalam istilah tata bahasa, dan (3) subjek, dalam hubungan subjek logis.
       Rhema (bentuk tunggalnya rhemata), dapat berarti (1) ucapan, dalam bahasa
       sehari-hari, (2) verba, dalam istilah tata bahasa, dan (3) predikat, dalam
       hubungan predikat logis. Keduanya, onoma dan rhema, merupakan anggota dari
       logos, yaitu kalimat dan klausa.


8.1.1.3. ARISTOTELES (384 – 322 S.M)
             Aristoteles adalah salah seorang murid Plato. Dalam studi bahasa dia
       terkenal antara lain, karena :
       a) Dia menambahkan satu kelas kata lagi atas pembagian yang dibuat gurunya,
            Plato yaitu dengan syndesmoi. Jadi menurut Aristoteles ada tiga macam
            kelas kata, yaitu onoma, rhema, dan syndesma. Syndesmoi adalah kata-kata
            yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Jadi syndesmoi itu
            lebih kurang sama dengan kelas preposisi dan konjungsi.
       b)   Dia membedakan jenis kelamin kata (atau gender) menjadi tiga, yaitu
            maskulin, feminin, dan neutrum.
            Aristoteles selalu bertolak dari logika. Dia memberikan pengertian, definisi,
            konsep, makna, dan sebagainya selalu berdasarkan logika.

8.1.1.4. KAUM STOIK
             Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada
       permulaan abad ke-4 S.M. Mereka terkenal antara lain, karena :
       a) Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata
            bahasa;
       b) Mereka menciptakan istilah khusus untuk studi bahasa;
      c) Mereka membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa, yaitu (1)
           tanda, simbol, sign, atau semainon; (2) makna, apa yang disebut
           semanomen, atau lekton; (3) hal-hal di luar bahasa, yakni benda atau situasi;
      d)    Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian dari
           fonologi tetapi tidak bermakna, dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa
           yang mengandung makna;
      e) Mereka membagi jenis kata menjadi empat, yaitu kata benda, kata kerja,
           syndesmoi dan arthoron, yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan
           jumlah;
      f) Mereka membedakan adanya kata kerja komplet dan kata kerja tak komplet,
           serta kata kerja aktif dan kata kerja pasif.

8.1.1.5. KAUM ALEXANDRIAN
      Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam studi bahasa. Oleh karena
      itulah dari mereka, kita mewarisi sebuah buku tata bahasa yang disebut tata
      bahasa Dionysius thrax sebagai hasil mereka dalam menyelidik kereguleran
      bahasa Yunani. Leonard Bloomfield (1887 – 1949), seorang tokoh linguis
      struktural Amereka menyebut Panini sebagai One of greatest monuments of the
      human intelligence, karena buku tata bahasa Panini, yaitu Astdhyosi merupakan
      deskripsi lengkap dari bahasa Sanskerta yang pertama kali ada.

8.1.2. ZAMAN ROMAWI
           Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman
     Yunani, sejalan dengan jatuhnya Yunani dan munculnya kerajaan Romawi.
     Tokoh pada zaman romawi yang terkenal antara lain, Varro (116 – 27 S.M)
     dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones
     Grammaticae.

8.1.2.1. VARRO DAN “DE LINGUA LATINA”
             Dalam Buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid ini, dibagi dalam
      bidang-bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.
a) Etimologi adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta
     artinya. Dalam bidang ini Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang
     terjadi dari zaman ke zaman, dan perubahan makna kata. Kelemahan Varro
     dalam bidang etimologi ini adalah dia menganggap kata-kata Latin dan
     Yunani berbentuk sama adalah pinjaman langsung.
b)       Morfologi    adalah   cabang linguistik   yang   mempelajari   kata   dan
     pembentukannya. Dalam menyusun kelas kata, Barro membagi kelas kata
     Latin dalam empat bagian, yaitu :
     - Kata benda, termasuk kata sifat, yakni kata yang disebut berinfleksi
           kasus.
     -      Kata kerja, yakni kata yang membuat pernyataan, yang berinfleksi
           “tense”.
     - Partisipel, yakni kata yang menghubungkan (dalam sintaksis kata benda
           dan kata kerja) yang berinfleksi kasus dan “tense”
     - Adverbium, yakni kata yang mendukung (anggota bawahan dari kata
           kerja) yang tidak berinfleksi.
     Kategori kata kerja dibedakan atas tense, time, dan aspect serta aktif dan
     pasif.
     Menurut Varro, dalam bahasa Latin ada enam buah kasus, yaitu : (1)
     nominativus, yaitu bentuk primer atau pokok; (2) genetivus, yaitu bentuk
     yang menyatakan kepunyaan; (3) dativus, yaitu bentuk yang menyatakan
     menerima; (4) akusativus, yaitu bentuk yang menyatakan objek; (5)
     vokativus, yaitu bentuk sebagai sapaan atau panggilan; dan (6) ablativus,
     yaitu bentuk yang menyatakan asal.
     Varro membedakan adanya dua macam deklinasi (perubahan bentuk kata
     berkenaan dengan kategori, kasus, jumlah, dan jenis), yaitu :
     1) Deklinasi naturalis, adalah perubahan yang bersifat alamiah, sebab
           perubahan itu dengan sendirinya dan sudah berpola.
     2) Deklinasi voluntaris adalah perubahan yang terjadi secara morfologis
           bersifat selektif dan manasuka.
8.1.2.2. INSTITUTIONES GRAMMATICAE ATAU TATA BAHASA PRISCIA
           Buku tata bahasa Priscia ini yang terdiri dari 18 jilid (16 jilid mengenai
      morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting, karena :
      a) Merupakan buku tata bahasa Latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh
         pembaca aslinya;
      b) Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan
         bahasa secara tradisional.
      Beberapa segi formal bahasa yang patut dibicarakan mengenai buku ini, antara
      lain adalah :
      1) Fonologi
         Bunyi itu dibedakan atas empat macam :
          vox artikulata, bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna
          vox martikulata, bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna.
          vox litterata, bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun
              yang martikulata.
          vox ulitterata, bunyi yang tidak dapat dituliskan.
      2) Morfologi
         Kata dibedakan atas delapan jenis yang disebut partes orationis, yaitu :
         a) Nomen, termasuk kata benda dan kata sifat menurut klasifikasi sekarang.
         b) Verbum, kata yang menyatakan perbuatan atau dikenai perbuatan.
         c)    Participium, kata yang selalu berderivasi dari verbum, mengambil
              kategori verbum dan nomen.
         d) Pronomen, kata-kata yang dapat menggantikan nomen.
         e) Adverbium, kata-kata secara sintaksis dan semantik merupakan atribut
              verbum.
         f) Proepositio, kata-kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus.
         g) Interjectio, kata-kata yang menyatakan perasaan, sikap, atau pikiran.
         h) Conjunctio, kata-kata yang bertugas menghubungkan anggota-anggota
              kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan sesamanya.
      3) Sintaksis
          Bidang ini membicarakan hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang
          berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

8.1.3. ZAMAN PERTENGAHAN
          Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh
     terutama oleh para filsuf skolastik, dan bahasa Latin menjadi Lingua Franta,
     karena dipakai sebagai bahasa gereja, bahasa diplomasi, dan bahasa ilmu
     pengetahuan. Dan zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi
     bahasa antara lain adalah peranan :
      Kaum Modistae
        Kaum Modistae ini masih pula membicarakan pertentangan antara fisis dan
        nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali. Mereka menerima
        konsep analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat reguler dan bersifat
        universal.
      Tata bahasa spekulativa
        Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin (seperti yang
        dirumuskan oleh Priscia) ke dalam filsafat skolastik.
      Petrus Hispanus
        Perannya dalam bidang linguistik, antara lain :
        a) Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa.
        b) Dia telah membedakan nomen atas dua macam, yaitu nomen substantivum
            dan nomen adjectivum.
        c) Dia juga telah membedakan partes orationes atas categorematik dan
            syntategorematik.

8.1.4. ZAMAN RENAISANS
          Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman renaisans ini yang
     menonjol yang perlu dicatat, yaitu :
     1) Selain menguasai bahasa Latin, sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai
        bahasa Yunani, bahasa Ibrani, dan bahasa Arab.
     2) Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan Arab, bahasa-bahasa Eropa lainnya
        juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa
        dan malah juga perbandingan.

8.1.5. MENJELANG LAHIRNYA LINGUISTIK MODERN
          Dalam masa ini ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi
     bahasa, yaitu dinyatakan adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sanskerta
     dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin dan bahasa-bahasa Jerman lainnya. Dalam
     pembicaraan mengenai linguistik tradisional di atas, maka secara singkat dapat
     dikatakan, bahwa :
     a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa
        ujaran dengan bahasa tulisan;
     b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil
        patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin;
     c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara prekriptif, yakni benar atau salah;
     d) Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika;
     e) Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu
        dipertahankan.




8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS
        Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan
   ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu.

8.2.1. FERDINAND DE SAUSSURE
          Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dianggap sebagai bapak linguistik
     modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course
     de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan
     albert Sechehay tahun 1915.
     Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep :
     1) Telaah sinkronik dan diakronik
        Telaan bahasa secara sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu
        kurun waktu tertentu saja. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik adalah
        telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan
        oleh para penuturnya.
     2) Perbedaan La Langue dan La Parole
        La Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat
        komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya
        abstrak. Sedangkan yang dimaksud dengan La Parole adalah pemakaian atau
        realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa; sifatnya
        konkret karena parole itu tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari
        orang yang satu dengan orang yang lain.
     3) Perbedaan signifiant dan signifie
        Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam
        pikiran kita, sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada
        dalam pikiran kita.


     4) Hubungan sintagmatik dan paradigmatif
        Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat
        dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.
        Sedangkan hubungan paradigmatik adalah hubungan unsur-unsur yang
        terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat
        dalam tuturan yang bersangkutan.

8.2.2. ALIRAN PRAHA
          Aliran praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang
     tokohnya, yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Dalam bidang fonologi aliran
     Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan
     fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi
     mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem.
8.2.3. ALIRAN GLOSEMATIK
          Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya antara lain : Louis Hjemslev
     (1899 – 1965), yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Hjemslev juga
     menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan, dan mengakui adanya
     hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.


8.2.4. ALIRAN FIRTHIAN
          Nama John R. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London
     sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah, aliran
     yang dikembangkannya dikenal dengan nama aliran Prosodi.
          Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran
     fonetis. Fonologi prosodi terdiri dari satuan-satuan fonematis dan satuan prosodi.
     Satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segmental, yaitu konsonan dan
     vokal, sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih
     panjang dari pada suatu segmen tunggal. Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :
     1) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata,
        gabungan konsonan, dan gabungan vokal;
     2) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda; dan
     3) Prosodi yang realisasi fonetisnya melampui satuan yang lebih besar daripada
        fonem-fonem suprasegmental.


8.2.5. LINGUISTIK SISTEMIK
          Nama aliran linguistik sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K
     Halliday, yaitu salah seorang murid Firth yang mengembangkan teori Firth
     mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan
     bahasa. Sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Categories of the
     Theory of Grammar, maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal
     dengan nama Neo-Firthian Linguistics atau Scals and Category Linguistics.
     Namun kemudian ada nama baru, yaitu Systemic Linguistics (SL).
          Pokok-pokok pandangan systemic linguistic (SL) adalah :
    Pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa dan
    bagaimana fungsi kemasyarakatan itu terlaksana dalam bahasa.
    Kedua, SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”. SL mengakui pentingnya
    pembedaan langue dan parole.
    Ketiga, SL lebih mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta
    variasi-variasinya, tidak atau kurang tertarik pada semestaan bahasa.
    Keempat, SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.
    Kelima, SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa, yaitu :
    1) Substansi
         Yaitu suatu bunyi yang kita ucapkan waktu kita berbicara, dan lambang yang
         kita gunakan waktu kita menulis.
         Substansi bahasa lisan disebut substansi fonis, sedangkan tulis disebut
         substansi grafis.
    2) forma
         Adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna.
         Forma terbagi dua, yaitu : a) leksis, yakni yang menyangkut butir-butir lepas
         bahasa dan pola tempat butir-butir itu terletak; b) gramatika, yakni yang
         menyangkut kelas-kelas butir bahasa dan pola-pola tempat terletaknya butir
         bahasa tersebut.
    3) Situasi
         Situasi meliputi tesis, situasi langsung, dan situasi luas.

8.2.6. LEONARD BLOOMFIELD DAN STRUKTURALIS AMERIKA
           Beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran strukturalisme :
    1) Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu
         banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperlukan.
    2) Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang
         berkembang pada masa itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme.
    3)   Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya The
         Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Language; wadah
         tempat melaporkan hasil kerja mereka.
     Ciri aliran strukturalis Amerika ini adalah cara kerja mereka yang sangat
     menekankan pentingnya data yang objektif untuk memberikan suatu bahasa.

8.2.2. ALIRAN TAGMEMIK
           Aliran ini dipelopori oleh Kenneth L. Price, seorang tokoh dari Summer
     Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfeld,
     sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis. Menurut
     aliran ini satuan dasar dan sintaksis adalah tagmem.Tagmem adalah korelasi
     antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang
     dapat saling diperlukan untuk mengisi slot tersebut.


8.3. LINGUISTIK TRANFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN
   SESUDAHNYA
          Dunia ilmu termasuk linguistik, bukan merupakan kegiatan yang statis,
   melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus menerus sesuai
   dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu mencari kebenaran yang hakiki.

8.3.1. TATA BAHASA TRANSFORMASI
           Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut Chomsky adalah merupakan
     teori dari bahasa itu sendiri; dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:
     1)    Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh
          pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
     2) Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau
          istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan
          semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

8.3.2. SEMANTIK GENERATIF
           Menjelang dasawarsa tujuh puluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky,
     antara lain Pascal, Lakoff, Mc Cawly, dan Kiparsky, sebagai reaksi terhadap
     Chomsky, memisahkan diri dari kelompok Chomsky dan membentuk aliran
     sendiri. kelompok Lakoff ini, kemudian terkenal dengan sebutak kaum Semantik
     generatif.
           Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis
     diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.

8.3.3. TATA BAHASA KASUS
           Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles
     J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968 yang
     dimuat dalam buku Bach, E. dan R. Harms Universal in Linguistic Theory,
     terbitan Holt Rinehart and Winston.
           Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat
     atas (1) modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan
     (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Yang
     dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan
     nomina.


8.3.4. TATA BAHASA RELASIONAL
           Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan
     langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang
     dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi.
           Menurut Teori tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari
     jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud
     (entity), yaitu :
     a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu
         struktur;
     b) Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi
         gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya
         dengan elemen lain;
     c) Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang
         manakan elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap
         elemen yang lain.


8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA
            Hingga saat ini bagaimana studi linguistik di Indonesia belum ada catatan
     yang lengkap, meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan
     cukup semarak.

8.4.1. Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan
         Eropa lainnya, dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan kolonial.
8.4.2.   Pendidikan formal linguistik di fakultas sastra (yang jumlahnya juga belum
         seberapa) dan di lembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun lima
         puluhan masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat
         bersifat normatif. Perubahan baru terjadi, lebih tepat disebut perkenalan dengan
         konsep-konsep linguistik modern.
8.4.3. Pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior berdirilah
         organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia
         (MLI). Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai
         pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga
         penelitian kebahasaan.
8.4.4.   Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional
         Indonesia, banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia. Misalnya negeri
         Belanda, London, Amerika, Jerman, Rusia, dan Australia banyak dilakukan kajian
         tentang bahasa-bahasa Indonesia.
8.4.5. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa
         negara maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian
         linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pelbagai segi
         dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak
         pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis.
         Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti
         Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Dardjowidjojo, dan Soedarjanto, yang telah
         menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

								
To top