Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

proposal _Repaired_

VIEWS: 81 PAGES: 47

									                                                                              1




A. Judul

“ANALSIS KERENTANAN BENCANA GEMPA BUMI DI KECAMATAN
LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT”

B. Latar Belakang Masalah
        Indonesia merupkan negara yang secara geologis terletak pada pertemuan
tiga lempeng tektonik yang meliputi lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan
lempeng Hindia-Australia. Hal itu menyebabkan Indonesia memiliki potensi
bencana yang besar, terutama bencana geologis. Erupsi Gunung Merapi pada
tahun 2010 merupakan salah satu contoh bencana geologis yang telah terjadi.
Selain itu, gempa dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pada tahun 2004
serta longsor yang sering terjadi di Jawa Barat juga merupakan contoh lain
bencana geologis tersebut. Salah satu bencana yang paling sering terjadi di
Indonesia adalah gempa bumi.
        Wilayah yang sering terjadi gempa bumi pada umumnya terletak dekat
dengan zona tumbukan lempeng dan dekat dengan patahan aktif. Gempa bumi
yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam, Padang, Nias, Sukabumi,Tasikmalaya,
Ciamis, Yogyakarta, dan Cilacap merupakan bukti bahwa bencana alam tersebut
terjadi di daerah dekat tumbukan lempeng dan patahan aktif. Namun, tingginya
potensi bencana tersebut tidak diikuti oleh pengetahuan kebencanaan masyarakat
Indonesia yang masih rendah dan tata ruang kawasan rawan bencana yang tidak
sesuai aturan. Kawasan rawan bencana sering digunakan untuk pusat kegiatan
manusia. Akibatnya, ketika terjadi bencana jumlah korban jiwa dan kerugian harta
benda menjadi sangat banyak.
        Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki sumber daya
alam yang sangat potensial. Kondisi fisik Jawa Barat yang beragam berimbas
pada potensi tersebut. Jawa Barat bagian utara memiliki potensi pertanian lahan
basah yang sangat bagus bahkan menjadi lumbung padi di provinsi ini. Jawa Barat
bagian tengah juga memiliki potensi pertanian lahan kering yang sangat bagus.
Selain itu, Jawa Barat bagian tengah ini juga memiliki daya tarik wisata yang
sangat beragam. Namun, Jawa Barat juga memiliki potensi bencana alam yang
                                                                                 2




besar, misalnya gempa bumi, longsor, erupsi gunung api, dan banjir. Gempa
bumi merupakan bencana yang sering terjadi di Jawa Barat.
          Daerah yang pernah dilanda oleh gempa bumi tersebut antara lain
Ciamis, Tasikmalaya, Sukabumi, Pangalengan, dan Cisarua. Berdasarkan hal
tersebut, maka mitigasi bencana gempa bumi menjadi sesuatu yang sangat penting
bagi penduduk Jawa Barat. Mitigasi bencana tersebut tentunya harus disesuaikan
dengan karakteristik geografis yang dimiliki oleh suatu wilayah. Sehingga
dampak dari bencana gempa bumi yang terjadi dapat dikurangi. Dampak tersebut
juga akan berpengaruh dengan potensi Jawa Barat yang sangat besar di berbagai
sektor.
          Potensi di berbagai sektor tersebut akan mendapatkan dampak negatif
yang ditimbulkan oleh bencana gempa bumi, misalnya penurunan kedatangan
wisatawan dan lumpuhnya aktivitas pariwisata. Sektor pertanian juga akan
mengalami penurunan produktivitas akibat gempa bumi tersebut. Untuk
mengurangi dampak tersebut, masyarakat di sekitar tempat yang berpotensi
gempa bumi harus mengetahui bencana yang berpotensi terjadi di wilayahnya
tersebut. Adanya pemahaman tersebut diharapkan masyarakat tidak panik ketika
terjadi bencana dan dampak dari bencana yang terjadi dapat dikurangi.
          Cekungan Bandung merupakan wilayah di Jawa Barat yang memiliki
tingkat aktivitas penduduk    yang tinggi. Cekungan Bandung juga merupakan
pusat kegiatan di Jawa Barat. Hampir semua sektor terpusat di wilayah ini, sektor-
sektor tersebut antara lain sektor industri, sektor pendidikan, sektor perdagangan,
sektor pariwisata, dan sektor ekonomi. Hal tersebut menjadikan Cekungan
Bandung sebagai tujuan migrasi yang memberikan pengaruh terhadap jumlah
penduduk di wilayah ini yang semakin meningkat. Peningkatan jumlah penduduk
tersebut membuat potensi bencana yang terdapat di Cekungan Bandung semakin
tinggi. Salah satu potensi tersebut adalah bencana gempa bumi. Ancaman bencana
gempa bumi ini dapat disebabkan oleh zona sub duksi di selatan Pulau Jawa
maupun ancaman Patahan Lembang yang dapat menimbulkan gempa. Jika gempa
tersebut terjadi, maka dampak yang ditimbulkan akan sangat merugikan semua
aktivitas yang berada di Cekungan Bandung. Hal itu tentunya juga akan
                                                                               3




berdampak buruk terhadap semua daerah di Jawa Barat bahkan di seluruh penjuru
tanah air.
        Salah satu daerah di Jawa Barat dan Cekungan Bandung yang memiliki
potensi bencana tinggi yaitu Kecamatan Lembang. Kecamatan Lembang
merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Bandung Barat.
Kecamatan Lembang merupakan wilayah dengan potensi bencana gempa bumi
tinggi. “Letaknya sangat dekat dengan patahan lembang yang sewaktu-waktu
dapat bergerak bersamaan dan dapat menyebabkan gempa bumi dengan kekuatan
7 pada skala Richter” (Tempo Interaktif, 11 Mei 2010). Patahan Lembang
merupakan salah satu patahan aktif yang ada di Jawa Barat. Patahan ini menjadi
pembicaraan karena potensi gempa bumi yang dimilikinya.
        Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi geografis Kecamatan Lembang
yang sangat dimungkinkan mendapat dampak yang paling besar ketika patahan ini
bergerak. “Kenyataan yang terjadi, belum banyak masyarakat yang mengetahui
keaktifan Patahan Lembang” (Kompas, 26 Maret 2011). Masyarakat pada
umumnya belum mengetahui penyebab dari bencana bumi secara benar. Padahal
masyarakat Kecamatan Lembang nantinya akan mendapatkan dampak yang
paling buruk ketika gempa bumi di daerahnya terjadi. Selain itu, menurut Pikiran
Rakyat (25 Februari 2010) “masyarakat Lembang juga belum akrab dengan
antisipasi bencana, paling tidak bisa dilihat dari fasilitas hotel yang belum
menyediakan denah evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam”. Hal
tersebut juga berkaitan dengan pengelola wisata di Kecamatan Lembang yang
mengabaikan potensi kebencanaan di daerah tersebut. Padahal jika terdapat denah
evakuasi bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa daerah yang
ditempatinya memiliki potensi gempa bumi.Tidak tersedianya rambu-rambu jalur
evakuasi     tersebut   dapat   mengakibatkan   masyarakat   mudah   panik   dan
berhamburan tanpa mengetahui tindakan mitigasi yang seharusnya dilakukan. Hal
tersebut juga akan berdampak pada kerugian akibat gempa yang besar. Apalagi
jumlah penduduk Kecamatan Lembang yang mencapai 164.470 jiwa. Berikut
jumlah penduduk di setiap desa yang terdapat di Kecamatan Lembang,
                                                                                4




              Tabel 1. Jumlah Penduduk Kecamatan Lembang

                                            Jumlah Penduduk
                No           Desa
                                                 (Jiwa)

                 1. Lembang                   13.259
                 2. Jayagiri                  18.556
                 3. Kayuambon                  7.829
                 4. Wangunsari                 9.993
                 5. Gudangkahuripan           12.060
                 6. Cikahuripan               10.527
                 7. Sukajaya                  12.037
                 8. Cibogo                    10.228
                 9. Cikole                    11.640
                10. Cikidang                   7.208
                11. Wangunharja                6.929
                12. Cibodas                    9.836
                13. Suntenjaya                 7.301
                14. Mekarwangi                 5.609
                15. Langensari                12.310
                16. Pagerwangi                 9.148
                      Jumlah                 164.470
                Sumber : Monografi Kecamatan Lembang 2010
         Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa jika gempa bumi terjadi maka
korban jiwa pun akan sangat banyak bila tanpa adanya mitigasi bencana yang
tepat. Selain itu, struktur geologi yang terdapat patahan yang berarah timur-barat
sepanjang 22 km semakin menunjukkan bahwa wilayah tersebut tidak stabil.
Patahan tersebut telah menunjukkan keaktifannya yang ditandai dengan gempa
berkekuatan kurang dari 6 skala richter pada tahun 1834, 1879, 1910, 2003, dan
2011 (Pikiran Rakyat, 13 Oktober 2011). Walaupun kekuatan gempa yang pernah
terjadi kurang dari 6 skala richter, namun dampak gempa tersebut cukup merusak
wilayah sekitarnya.
        Hal tersebut dapat dilihat dari gempa yang terakhir terjadi pada tanggal
28 Agustus 2011 di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Gempa
tersebut mengakibatkan 301 rumah rusak dan 9 diantaranya rusak parah, padahal
kekuatan gempa hanya 3,3 skala richter dan berlangsung kurang dari 3 detik.
Pergerakan patahan lembang juga terekam oleh GPS yang dipasang oleh para
peneliti. Pergerakan tersebut mencapai 2 sampai dengan 4 mm/tahun. Dari
                                                                             5




kenyataan-kenyataan tersebut, seharusnya masyarakat Kecamatan Lembang
mengetahui keberadaaan patahan Lembang dan memahami serta menerapkan
mitigasi gempa bumi yang berpotensi terjadi di wilayahnya.
                           Gambar 1. Patahan Lembang




                 Sumber : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

        Dengan demikian, gempa bumi merupakan bencana yang berpotensi
terjadi di Kecamatan Lembang. Namun, pada umumnya masyarakat Kecamatan
Lembang masih belum mengetahui mitigasi yang tepat dari bencana tersebut.
Padahal penduduk di Kecamatan Lembang sangat padat, Kecamatan Lembang
memiliki potensi sumber daya alam yang sangat bagus, serta Kecamatan Lembang
merupakan daerah tujuan wisata yang seharusnya telah dilengkapi dengan
berbagai penerapan mitigasi bencana. Tiga hal tersebut akan terkena dampak
negatif jika Kecamatan Lembang terjadi bencana gempa bumi.
       Oleh karena itu, perlu diukur tingkat kerentanan gempa bumi. Tingkat
kerentanan gempa bumi tersebut akan sangat berkaitan dengan upaya mitigasi
yang tepat terhadap bencana tersebut. Sehingga dampak dari gempa bumi tersebut
bisa dikurangi. Pentingnya penelitian ini yaitu agar masyarakat Kecamatan
Lembang mengetahui tingkat kerentanan yang dimiliki oleh daerahnya, potensi
                                                                                6




gempa bumi yang ada di daerahnya dan memahami serta menerapkan upaya
mitigasi bencana yang tepat untuk mengurangi dampak negatif ketika terjadi
gempa bumi. Perlunya penelitian ini yaitu agar masyarakat mengetahui hal-hal
yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi. Berdasarkan permasalahan
tersebut, penulis tertarik untuk mengambil judul “Analisis Kerentanan Bencana
Gempa Bumi di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat”.


C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah,
1. Faktor-faktor apa sajakah yang memengaruhi kerentanan bencana gempa bumi
  di Kecamatan Lembang ?
2. Bagaimanakah tingkat kerentanan bencana gempa bumi di Kecamatan
  Lembang ?


D. Variabel Penelitian

       Variabel dalam penelitian ini terdiri atas variabel bebas dan variabel
terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini meliputi Kerentanan fisik, kerentanan
sosial kependudukan, dan kerentanan ekonomi yang terdapat di Kecamatan
Lembang. Dalam Kerentanan fisik terdapat tiga indikator, yaitu kawasan
terbangun, kualitas bangunan, dan kepadatan bangunan. Kerentanan sosial
kependudukan memiliki tiga indikator yaitu kepadatan penduduk, laju
pertumbuhan penduduk, dan kelompok masyarakat rentan yang terdiri atas
penduduk wanita, penduduk lanjut usia, dan balita. Kerentanan ekonomi meliputi
pendapatan dan mata pencaharian. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu
tingkat kerentanan bencana gempa bumi di Kecamatan Lembang Kabupaten
Bandung Barat. Berikut penggambaran dari kedua variabel tersebut,




                              Tabel 2. Variabel Penelitian
                                                                              7




                   Variabel Bebas                         Variabel Terikat
1.    Kerentanan fisik                               Tingkat Kerentanan Bencana
      a. kawasan terbangun                           Gempa Bumi di Kecamatan
      b. kualitas bangunan                           Lembang          Kabupaten
      c. kepadatan bangunan                          Bandung Barat
2.    Kerentanan sosial kependudukan
      a. kepadatan penduduk
      b. laju pertumbuhan penduduk
      c. kelompok masyarakat rentan :
         1.) Penduduk yang telah berumur lebih
             dari 65 tahun dan kurang dari 5 tahun
         2.) Penduduk Perempuan
3.    Kerentanan ekonomi
      a. mata pencaharian
      b. pendapatan




E. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah,
1. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kerentanan bencana gempa
     bumi di Kecamatan Lembang.
2. Menganalisis     tingkat kerentanan bencana gempa bumi di Kecamatan
     Lembang.


F. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini adalah,
1. Sebagai masukan untuk stakeholder terkait,
2. Sebagai masukan untuk masyarakat setempat,
3. Sebagai bahan pengayaan dalam proses pembelajaran mata pelajaran Geografi,
4. Bagi penulis, sebagai bahan pengayaan dalam bidang ilmu geografi,
5. Sebagai masukan bagi peneliti selanjutnya yang topiknya hampir sama,
6. Sebagai bahan perbandingan dengan penelitian lainnya.
                                                                                  8




G. Definisi Operasional
         Judul penelitian ini adalah “Analisis Kerentanan Bencana Gempa Bumi di
Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat”. Untuk memberi kemudahan
dan menghindari salah penafsiran pada penelitian ini, maka penulis akan
memberikan definisi dalam penelitian ini, yaitu :
a. Analisis kerentanan adalah “suatu proses yang akan menghasilkan jenis dan
     tingkat kerentanan dari manusia, harta benda atau hak milik dan lingkungan
     terhadap efek dari ancaman tertentu pada waktu tertentu”(Boli dkk, 2004 : 14).
b. Bencana adalah “peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
     mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik
     oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
     menimbulkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
     benda, dan dampak psikologis” ( Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007).
c. Gempa Bumi adalah “getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari
     terlepasnya energi yang terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang
     mengalami deformasi” (Noor, 2006 : 136).
d. Kecamatan Lembang adalah sebuah wilayah yang secara administratif berada
     di Kabupaten Bandung Barat.


H. Kajian Pustaka
1.    Mitigasi

         “Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana,
baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana” (UU No. 24 tahun 2007). Mitigasi
sebagai upaya pengurangan resiko bencana memiliki sifat struktural dan non-
struktural. Mitigasi struktural merupakan upaya yang berbentuk fisik untuk bisa
mengurangi dampak dari ancaman bencana, misalnya pembangunan sarana dan
prasarana yang mampu untuk mengurangi dampak dari ancaman bencana.
Sedangkan mitigasi non-struktural merupakan upaya yang berkaitan dengan
                                                                                  9




kebijakan, sosialisasi kepada masyarakat, dan penyediaan informasi kepada
masyarakat sehingga mampu untuk mengurangi dampak dari bencana.
       Dengan adanya kombinasi antara mitigasi struktural dan mitigasi non-
struktural, maka diharapkan masyarakat akan lebih peka terhadap ancaman
bencana yang terdapat di sekitar tempat tinggalnya. Misalnya dengan
pembangunan rumah tahan gempa , maka masyarakat akan sadar bahwa di tempat
pembangunan tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi gempabumi.
Contoh lain yaitu, dengan adanya pengerukan sungai, maka masyarakat akan
sadar bahwa di lokasi pengerukan tersebut merupakan daerah rawan banjir.
       Pembangunan rumah tahan gempa dan pengerukan sungai tersebut tidak
akan mampu memenuhi tujuan tanpa adanya sosialisasi yang berkaitan dengan
dua hal itu kepada masyarakat. Sosialisasi tersebut dapat berupa penyuluhan,
penyebaran pamflet, maupun pemasangan rambu yang menjelaskan mengenai
tujuan dibangunnya rumah tahan gempa dan pengerkan sungai. Oleh karena itu,
mitigasi struktural dan mitigasi non-struktural harus berjalan secara simultan.


2.   Bencana
       Menurut      keputusan     Sekretaris     Badan     Koordinasi      Nasional
Penanggulangan Bencana dan Penaganan Pengungsi Nomor 2 Tahun 2001
tentang Pedoman Umum Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi,
yang dimaksud bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
disebabkan oleh alam, manusia, dan atau oleh keduanya yang mengakibatkan
korban penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan,
kerusakan sarana prasarana dan fasilitas umum serta menimbulkan gangguan
terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Sedangkan pengertian
bencana alam menurut Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung (2009 : 2)
adalah “gejala ekstrim alam dimana masyarakat tidak siap mengahadapinya. Jelas
ada dua hal yang berinteraksi yakni (i) gejala alam (ii) masyarakat atau
sekumpulan manusia (yang berinteraksi dengan gejala alam)”.
       Dari dua pengertian tersebut, maka jelas bahwa bencana merupakan
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia, alam, maupun gabungan dari keduanya
                                                                             10




yang yang menimbulkan korban penderitaan manusia maupun kehilangan harta
benda, serta merusak sistem kehidupannya. Bencana terbagi menjadi tiga yaitu,
bencana alam, bencana non-alam, dan bencana manusia. Bencana alam
merupakan bencana yang disebabkan oleh adanya gejala alam. Gejala alam
tersebut baru disebut sebagai bencana ketika bertemu dengan kerawanan,
misalnya kejadian gempabumi merupakan ancaman bagi daerah yang memiliki
kepadatan penduduk tinggi. Dalam hal ini kedudukan gempabumi adalah sebagai
ancaman, sedangkan kedudukan kepadatan penduduk merupakan kerawanan.
       Selanjutnya, bencana non- alam merupakan bencana yang disebabkan oleh
hal-hal selain dari alam dan manusia. Bencana yang masuk kategori ini adalah
bencana yang diakibatkan oleh kegagalan teknologi dan wabah penyakit.
Sedangkan bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh manusia.
Bencana yang masuk ke dalam kategori ini antara lain teror bom dan konflik antar
kelompok masyarakat.
       “Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun
oleh ulah manusia (man-made disaster)” (UNDP, 2006 : 4). Faktor-faktor yang
dapat menyebabkan bencana antara lain bahaya alam dan bahaya karena ulah
manusia dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi, bahaya hidrometeorologi,
bahaya biologi, bahaya teknologi dan penurunan kualitas lingkungan, kerentanan
yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/
kawasan yang berisiko bencana, kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di
dalam masyarakat
       Secara geografis Indonesia terletak di antara tiga lempeng tektonik yaitu
lempeng Hindia Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Pada Sumatera
bagian barat, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku
terdapat fenomena ring of fire. Hal tersebut menjadikan Indonesia memiliki
potensi yang besar terhadap bencana geologis seperti gempa bumi, tanah longsor,
tsunami, dan erupsi gunung api.
       Hal itu pula yang menyebabkan Indonesia memiliki kekayaan mineral
seperti emas, nikel, tembaga, dan barang tambang lainnya. Selama kurun waktu
1600-2010, Indonesia telah mengalami gempa bumi yang disebabkan oleh
                                                                              11




peregerakan lempeng. Hal itu juga berimbas terhadap kejadian tsunami yang
merupakan bencana yang disebabkan oleh adanya gempa bumi dengan kekuatan
lebih dari enam skala richter yang telah terjadi beberapa saat sebelum terjadi
tsunami. Dampak dari tsunami akan parah jika morfologi pantai relatif datar
dengan penggunaan lahannya didominasi oleh kawasan terbangun.
       Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004
merupakan contoh nyata betapa hebatnya dampak dari pergerakan lempeng yang
mengakibatkan gempa bumi dengan kekuatan 8,9 skala richter dan diikuti oleh
gelombang tsunami yang memporak-porandakan semua yang dilewatinya. Korban
jiwa akibat peristiwa itu pun tidak kurang dari 200.000 jiwa. Bencana ini sempat
mengundang simpati dari berbagai belahan dunia, sehingga bencana ini sering
disebut sebagai bencana kemanusiaan.
       Selain itu, gempa lain yang cukup besar juga melanda Daerah Istimewa
Yogyakarta pada Mei 2006. Peristiwa banyak menelan korban jiwa dan meratakan
sebagian infrastruktur yang ada di Yogyakarta. Gempa Yogyakarta merupakan
gempa yang episentrumnya terletak pada aktivitas patahan Opak yang masih
aktif. Namun banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai keaktifan
patahan ini dan dampak yang akan ditimbulkan jika patahan ini melepaskan
energi. Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan kebencanaan yang cukup bagi
masyarakat mengenai berbagai macam ancaman bencana yang ada di sekitar
tempat tinggalnya.
       Gempa Yogyakarta juga menjadi pemicu munculnya perdebatan mengenai
aktivitas patahan lembang yang juga aktif dan menjadi ancaman bagi aktivitas
penduduk di Kota Bandung dan sekitarnya. Apalagi Kota Bandung memiliki
batuan endapan danau muda yang belum terkonsolidasi dengan baik, sehingga
jika terjadi gempa maka diprediksi akan merusak infrastruktur Kota Bandung dan
menimbulkan banyak korban jiwa yang dikarenakan oleh tingkat kepadatan
penduduk yang sangat padat.
       Selain bencana geologis, terdapat pula bencana sosial, bencana
lingkungan, dan bencana akibat kegagalan teknologi. Bencana sosial sering terjadi
di Indonesia terutama di Indonesia bagian timur. Konflik antar suku, antar agama,
                                                                               12




antar desa, dan tawuran pelajar merupakan contoh dari bencana sosial. Biasanya
bencana sosial dipicu oleh adanya kesalah pahaman atau masalah pribadi yang
sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan.
       Bencana lingkungan merupkan bencana yang disebabkan oleh adanya
aktivitas manusia yang mengeksploitasi lingkungan sehingga menyebabkan
kerusakan lingkungan yang pada akhirnya menyebabkan bencana. Hal ini juga
sering terjadi di Indonesia. Bencana lingkungan sering terjadi karena pihak pelaku
industri biasanya tidak mematuhi regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
Keuntungan besar merupakan orientasi utama dalam melaksanakan aktivitas
industri, sehingga faktor sumber daya sering diabaikan. Hal tersebut juga terjadi
pada bencana yang diakibatkan oleh adanya kegagalan teknologi. Kegagalan
teknologi juga terkait dengan kesalahan manusia dalam menciptakan suatu
teknologi. Hal ini bisa diakibatkan oleh bahan yang berkualitas, proses pembuatan
yang kurang baik, atau sumber daya manusia nya yang kurang memiliki
kapabilitas. Contoh dari bencana ini adalah kecelakaan transportasi.


3. Resiko Bencana
       Menurut United States Agency for International Development (2009:10),
yang dimaksud resiko bencana adalah kemungkinan terjadinya kerugian pada
suatu daerah akibat kombinasi dari bahaya, kerentanan, dan kapasitas dari daerah
yang bersangkutan. Pengertian yang lebih mudah dari resiko adalah besarnya
kerugian yang mungkin terjadi (korban jiwa, kerusakan harta, dan gangguan
terhadap kegiatan ekonomi) akibat terjadinya suatu bencana.
       Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24
Tahun 2007 tentang penaggulangan bencana, pengertian resiko bencana adalah
potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun
waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya
rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan
masyarakat.
       Berdasarkan dua pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk
mengetahui risiko bencana yang terdapat di suatu daerah, maka terlebih dahulu
                                                                               13




harus mengetahui jenis bahaya, kerentanan, dan kapasitas daerah. Semakin rentan
suatu daerah, maka tingkat risiko daerah tersebut akan tinggi. Apalagi jika daerah
itu tidak memiliki kapasitas yang baik dalam penanggulangan bencana.


4.   Kerentanan
       “Kerentanan adalah rangkaian kondisi yang menentukan apakah suatu
bahaya (baik bahaya alam maupun bahaya buatan) yang terjadi akan dapat
menimbulkan bencana” (United States Agency for International Development,
2009 : 9). Kerentanan dibagi menjadi kerentanan fisik, kerentanan sosial, dan
kerentanan ekonomi. Kerentanan fisik misalnya kondisi permukiman yang
terletak di dekat patahan aktif. Sedangkan kerentanan sosial misalnya kepadatan
penduduk di permukiman tersebut sangat padat.
       Jadi, kerentanan fisik merupakan kerentanan yang diakibatkan oleh adanya
gejala alam yang berpotensi menimbulkan bencana. Kerentanan sosial merupakan
kerentanan yang disebabkan oleh adanya aktivitas manusia yang memicu
timbulnya bencana. Sedangkan kerentanan ekonomi terkait dengan pendapatan
masyarakat. Semakin rendah pendapatan penduduk maka dianggap penduduk
tersebut lebih rentan untuk terhadap gempa bumi. Dua hal tersebut sangat
berkaitan karena semakin tinggi kerentanan sosial yang ada di suatu tempat, maka
akan semakin tinggi pula tingkat kerentanan fisik yang mengancam di daerah
tersebut.
       Contoh aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas
dari pusat ancaman. Dengan demikian, daerah rawan letusan gunungapi
merupakan daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. Daerah seperti ini
pada umumnya mempunyai daya tarik dalam kondisi tanah yang subur untuk
bercocok tanam, mata air dan pemandangan yang indah, sehingga masyarakat
senang tinggal dan beraktivitas di wilayah itu. Aktivitas yang dilakukan oleh
masyarakat tersebut seperti bertani dan pariwisata.
       Selain itu, masyarakat juga banyak yang tinggal di sekitar ancaman
bencana, misalnya masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang
tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi,
                                                                              14




mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahan
aktif, penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di
lerang-lereng yang labil, masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang
tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya
memang merupakan dataran banjir. Tsunami Aceh merupakan contoh dari
bencana yang menelan korban di pesisir pantai, Longsor Pasir Jambu merupakan
bencana yang korbannya adalah masyarakat sekitar lereng, banjir Baleendah
merupakan bencana yang menimbulkan korban di bantaran sungai.
       Unsur kerentanan berikutnya adalah tingkat kepadatan penduduk, dimana
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Jumlah penduduk Indonesia
berdasarkan data tahun 2008 adalah sebanyak 231.640.960 jiwa dengan laju
pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1,3%. Salah satu
masalah yang sedang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran
penduduk ke seluruh penjuru negeri ini. Hal itu pula merupakan salah satu
penghambat pembangunan di Indonesia.
       Sebanyak dua per tiga penduduk Indonesia (58,3%) tinggal di Pulau Jawa
dan Madura, yang hanya merupakan 6,9% dari seluruh daratan yang dimiliki
Indonesia. Salah satu daerah dengan konsentrasi penduduk sangat tinggi adalah
DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10.852 orang per km2 pada tahun
2008. Jika dibandingkan, pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk
Indonesia per km2 hanya 124 jiwa, dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa
untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya.
       Padatnya penduduk di Pulau Jawa dan Madura, diikuti oleh Pulau
Sumatra, menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak
ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi, juga menghadapi
ancaman kerawanan sosial. Penumpukan penduduk tersebut tidak terlepas dari
daya tarik Pulau Jawa sebagai pusat semua kegiatan di Indoensia. Dengan
terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan, lapangan kerja, serta
bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut
menjadikan tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi. Selain itu, dengan
                                                                             15




tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi, jika tidak dikendalikan dengan
baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia.
       Unsur kerentanan lainnya yaitu kemiskinan, dimana secara sosial ekonomi
Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan. Jumlah penduduk miskin yang
tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar jika dibandingkan dengan yang
tinggal di daerah perkotaan. Namun, jumlah penduduk miskin di perkotaan terus
mengalami bertambah dari tahun 1978-2006, dan sebaliknya, pada kurun waktu
yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami
penurunan. Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi.
Potensi desa yang kurang dimaksimalkan merupakan pendorong masyarakat desa
berurbanisasi ke kota. Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian yang
baik dan tingkat pendidikan yang cukup datang ke kota besar untuk mencari
pekerjaan, sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan. Mereka
kebanyakan masuk ke sektor informal seperti pedagang dan buruh bangunan. Hal
ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat
berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan
menimbulkan risiko bencana yang tinggi. Jika melihat kondisi sosial ekonomi per
provinsi, Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak, tercatat
pada Juli 2006 mencapai 7,4 juta orang atau 20,29 %, sedangkan provinsi yang
memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai
39,26 %. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu
dianggap lebih rentan terhadap bahaya, karena diasumsikan tidak mempunyai
kemampuan finansial yang cukup untuk melakukan upaya pencegahan atau
mitigasi bencana.
       Data Badan Pusat Statistik      (2007) menyebutkan bahwa dari segi
pendidikan, tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007
adalah sebesar 91,87 %, sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia
adalah 7,47 tahun. Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini sama dengan
pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama. Artinya, sampai dengan tahun 2007
wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya. Anggapan yang
digunakan yaitu bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas
                                                                           16




mengenai bencana, maka tingkat kerentanannya semakin rendah. Oleh karena itu,
peran sektor pendidikan sangat penting untuk mengurangi tingkat kerentanan
terhadap bencana. Namun, di sisi lain pendidikan masih dianggap sesuatu yang
mahal bagi sebagian masyarakat. Mereka lebih untuk bekerja daripada
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dari segi kesehatan, usia
harapan hidup orang Indonesia adalah 68,7 tahun. Angka kematian bayi pada
tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran.
       Dari segi ekonomi, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun
2007 adalah Rp 15.628.050,-. Sementara itu, dari segi pengeluaran penduduk,
pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp
624.370,-. Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa
kerentanan fisik, sosial dan/atau ekonomi. Kerentanan sosial ekonomi yang
digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain
menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi, pendapatan asli daerah,
produk domestik regional bruto (PDRB), kepadatan dan jumlah penduduk, tingkat
pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan tenaga kerja ( BPNB, 2010 : 29).
       Kerentanan sosial ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk seluruh
jenis ancaman. Kerentanan fisik bersifat khusus, tergantung jenis ancaman dan
masing-masing ancaman menggunakan indikator khusus, misalkan tsunami code
untuk tsunami, indikator building code untuk gempa bumi, indikator penduduk
yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi
dan sebagainya. Dalam hal kemampuan menghadapi bencana, Indonesia masih
terus mengembangkan diri. Hal tersebut dikarenakan faktor sumber daya manusia
di Indonesia yang masih lemah dalam bidang pendidikan kebencanaan.
       Dipandang dari segi kelembagaan kemampuan ini meningkat secara
signifikan dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan
independen yang menangani bencana. Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat,
BPBD di tingkat provinsi , hingga tingkat         kabupaten/kota, maka upaya
penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah, terpadu dan
menyeluruh. Pembentukan tersebut dikarenakan oleh frekuensi bencana di
                                                                                 17




Indonesia yang semakin meningkat. Masih dibutuhkan berbagai upaya untuk
mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen, mampu
berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain, dijalankan oleh staf yang
cukup dan kompeten, memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai,
dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi.
       Kemampuan       juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal
dampak buruk bencana, termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi
risiko. Kapasitas atau kemampuan masyarakat dapat dikatakan tinggi bila
masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar
keamanan bangunan, dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai
untuk menghadapi situasi ekstrim. Masyarakat seperti ini telah mengetahui bahaya
yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya
ini, melalui gladi dan simulasi bencana, pengembangan sistem peringatan dini
berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana. Selain itu, adanya
kearifan lokal dalam tanggap bencana, jaringan sosial dan organisasi masyarakat
yang kuat, budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang
membangun kapasitas. Namun, pengembangan potensi masyarakat tersebut
seringkali banyak menemui hambatan terutama sikap masyarakat yang masih
apatis terhadap sosialisasi pengurangan risiko bencana dari pemerintah.


5.   Ancaman
       Ancaman adalah “kondisi bahaya atau kejadian yang memiliki potensi
melukai, menyebabkan kematian, merusak harta milik, fasilitas, pertanian, dan
lingkungan” (Boli dkk, 2004 : 12). Berdasarkan asalnya, ancaman terdiri atas
ancaman alami dan ancaman tidak alami. Ancaman alami merupakan ancaman
yang bersifat meteorologis, geologis, biologis, dan dari luar angkasa. Ancaman
tidak alami adalah ancaman yang dibuat manusia atau karena teknologi.
       Ancaman juga terdiri atas beberapa jenis antara lain pemicu, tanda-tanda
peringatan, peringatan awal, kecepatan terjadi, frekuensi, kapan, dan durasi.
Pemicu terdiri atas angin, air, tanah, api, konflik, industri, dan ancaman lain yang
berhubungan dengan manusia. Tanda-tanda peringatan terdiri atas indikator
                                                                             18




ilmiah maupun tradisional yang menunjukkan bahwa ancaman akan terjadi.
Peringatan awal merupakan waktu antara peringatan dan dampak.
         Kecepatan terjadinya merupakan kecepatan terjadinya serta dampaknya,
misalnya yang bisa diprediksi atau yang tidak bisa diprediksi. Frekuensi
merupakan banyaknya ancaman terjadi, misalnya musiman, sekali seumur hidup,
atau sepuluh tahun sekali. Kapan merupakan waktu terjadinya ancaman tersebut,
misalnya setiap musim hujan atau setiap musim kemarau. Durasi merupakan
panjang waktu ancman yang dirasakan, misalnya gempa bumi dan gempa
susulannya.
         Dalam menganalisis ancaman terdapat hal-hal yang harus diperhatikan
sejarah, pengalaman masyarakat, kemungkinan intensitasnya, ancaman sekunder,
dan bahaya maksimum yang mungkin terjadi. Selain itu, elemen-elemen yang ada
dalam masyarakat yang berisiko bila ancaman terjadi antara lain manusia, harta
benda, lingkungan, dan sistem, sedangkan dampak yang ditimbulkan antara lain
kehilangan nyawa, luka, wabah penyakit, kerusakan lingkungan, kerusakan hak
miliki, kerusakan infrastruktur, gangguan terhadap tanaman produksi, gangguan
terhadap pemerintahan, gangguan terhadap sistem, konsekuensi psikologis, dan
perubahan geologis.


6.   Gempa Bumi
         Gempa bumi adalah “goncangan akibat adanya gerakan, geseran, maupun
patahan lapisan batuan di dalam bumi” (Depkominfo, 2008 : 7). Gempa bumi
merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan
letak Indonesia yang berada di antara lempeng pasifik, lempeng Hindia-Australia,
dan lempeng Eurasia. Pergerakan lempeng tersebut terdiri atas dua cara, yaitu
konvergensi atau pertemuan dua atau lebih lempeng benua dengan lempeng
samudera yang berupa subduksi, kolisi, dan obduksi.
         Selain konvergensi, pergerakan lempeng berikutnya disebut dengan
divergensi yaitu pemisahan lempeng-lempeng tersebut dan pergerakan mendatar
berupa     pergeseran   lempeng-lempeng.     Pergerakan     lempeng     tersebut
mengakibatkan wilayah kepulauan Indonesia memiliki potensi gempabumi yang
                                                                           19




tinggi, terutama di daerah yang dekat dengan jalur pertemuan lempeng. Namun,
terjadinya gempabumi akan menimbulkan dampak yang berbeda bagi setiap
wilayah di Indonesia. Hal itu dikarenakan karakteristik wilayah Indoensia juga
berbeda.

       Gempa bumi bisa merusak semua yang terdapat di permukaan bumi,
misalnya rumah-rumah penduduk. Hal itu juga tergantung dari besarnya kekuatan
gempa. Gempa bumi dapat memicu terjadinya longsor dan runtuhan batuan.
Dapat terjadi longsor jika daerah tersebut memiliki lereng curam dan tutupan
vegetasi yang renggang. Longsor yang terjadi pun akan menimbun semua yang
terdapat di bawah bidang lincir, termasuk permukiman penduduk. Semakin padat
permukiman itu, maka semakin rentan permukiman itu terhadap longsor. Selain
itu, bencana ikutan lain yang dipicu oleh gempa bumi antara lain banjir dan
kecelakaan transportasi. Banjir terjadi karena runtuhnya bendungan sedangkan
kecelakaan transportasi terjadi karena kepadatan lalu lintas.
       Wilayah yang memiliki batuan yang kompak akan memiliki tingkat risiko
gempabumi yang rendah, sedangkan wilayah yang memiliki batuan yang tidak
kompak akan memiliki tingkat risiko bencana yang tinggi. Hal tersebut
dikarenakan semakin kompak batuan yang terdapat di suatu wilayah, maka
semakin terlindungi wilayah tersebut oleh kemampuan meredam batuan itu.
Sedangkan, semakin tidak kompak batuan yang terdapat di suatu wilayah, maka
akan semakin mudah wilayah tersebut hancur karena batuannya tidak mampu
meredam gempabumi dengan baik.
       Selain itu, faktor demografi juga memegang peranan penting dalam
menentukan tinggi atau rendahnya risiko yang ditimbulkan oleh gempabumi.
Semakin padat suatu permukiman maka akan semakin berisiko wilayah itu terjadi
dampak gempabumi yang merusak, sedangkan semakin tidak padat suatu
permukiman maka risiko gempabuminya akan semakin rendah. Hal lain yang
masih berkaitan dengan aktivitas manusia adalah kondisi penggunaan lahan.
Semakin vital penggunaan lahan disuatu wilayah, maka wilayah tersebut memiliki
risiko bencana gempabumi yang tinggi, mislanya area pendidikan dan bisnis.
                                                                             20




Sebaliknya, semakin tidak vital penggunaan lahannya maka wilayah tersebut
memiliki risiko bencana gempabumi yang rendah.


7.   Hiposentrum
       Hiposentrum adalah “pusat gempa bumi, yaitu tempat terjadinya
perubahan lapisan batuan atau dislokasi di dalam bumi sehingga menimbulkan
gempa bumi” (Mulyo, 2004 : 175). Jenis-jenis gempa bumi berdasarkan terdiri
atas gempa bumi dangkal yang pusatnya kurang dari 70 km, gempa bumi sedang
pusatnya 70-300 km, sedangkan gempa bumi dalam pusatnya 300-700 km.
Semakin dangkal pusat gempa maka akan semakin kuat gempa yang
ditimbulkannya.
       Kebanyakan gempa yang terjadi memiliki kedalaman rata-rata 25 km dan
memiliki efek merusak yang tinggi. Getaran yang terjadi akibat hiposentrum
merambat ke permukaan bumi dengan dua macam gelombang yaitu, gelombang
longitudinal dan gelombang transversal. Gelombang longitudinal merupakan
gempa yang memiliki kecepatan rambat 7,5 – 14 km/detik. Sedangkan gelombang
transversal dengan kecepatan rambat 3,5 – 7 km/detik.


8.   Episentrum
       Selain hiposentrum, terdapat juga istilah episentrum. Menurut Mulyo
(2004 : 175),
        “Episentrum adalah tempat di permukaan bumi yang letaknya terdekat
     terhadap hiposentrum. Letak episentrum tegak lurus terhadap hiposentrum,
     dan sekitar daerah ini pada umumnya merupakan wilayah yang paling besar
     merasakan getaran gempa bumi”.


       Selain episentrum, terdapat istilah homoseiste yang berarti garis-garis
khayal yang menghubungkan tempat-tempat di permukaan bumi yang merasakan
getaran yang sama pada saat yang sama. Selanjutnya, ada juga istilah after shock
yaitu gempa bumi yang dipicu oleh gempa bumi yang sebelumnya terjadi di
daerah sekitarnya.
                                                                                21




9.   Kualitas Bangunan
       “Bangunan berdasarkan bahan dasarnya diklasifikasikan menjadi tiga,
yaitu bangunan permanen, bangunan semi permanen, dan bangunan non
permanen” ( Peraturan Walikota Surabaya Nomor 62, 2006 : 3). Bangunan
permanen merupakan bangunan yang memiliki komponen fondasi dari batu kali
atau plat beton, memakai slof, kolom, balok, dan besi atau beton, memakai
dinding pasangan atau batu merah, memakai rangka atap dari kayu jati atau
kamper, memakai atap dari genting beton, karang pilang, genting kodok bekas
brangkal atau sirap. Memakai lantai tegel, teraso, keramik, porselin, marmer atau
granit. Menggunakan konstruksi menurut peraturan teknik bangunan.
       Bangunan semi permanen merupakan bangunan yang memiliki komponen
fondasi dari batu merah atau batu kali. Memakai dinding setengah bagian dan
atasnya terdiri atas triplek, papan, atau bahan lain sejenisnya. Memakai tiang dari
kayu. Memakai rangka atap dari kayu meranti. Memakai atap dari genting biasa,
seng, atau eternit gelombang. Memakai lantai tegel atau plesteran semen.
Menggunakan konstruksi menurut peraturan teknik bangunan.
       Bangunan non permanen merupakan bangunan yang mengandung
komponen fondasi dari umpak beton, batu merah, batu kali. Memakai dinding dari
triplek, papan, gedek, atau sesek. Memakai tiang bambu atau kayu meranti.
Memakai rangka atap dari bambu atau kayu meranti. Memakai atap dari genting
biasa, seng, atau eternit gelombang. Menggunakan konstruksi yang tidak
memnuhi syarat peraturan teknik bangunan.
       Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007, bangunan dengan
konstruksi di perkotaan yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gempa bumi
yaitu bangunan konstruksi beton tidak bertulang dengan kepadatan bangunan
tinggi dan sedang. Konstruksi bangunan beton bertulang dengan kepadatan
bangunan tinggi. Bangunan di perkotaan yang memiliki kerentanan sedang
terhadap gempa bumi yaitu bangunan konstruksi beton bertulang dengan
kepadatan bangunan sedang dan rendah. Selain itu, bangunan semi permanen
dengan kepadatan bangunan tinggi juga memiliki kerentanan sedang.
                                                                           22




       Bangunan di perkotaan yang memiliki kerentanan rendah terhadap gempa
yaitu bangunan semi permanen dengan kepadatan bangunan rendah dan bangunan
tradisional dengan kepadatan bangunan rendah. Bangunan di pedesaan yang
memiliki kerentanan tinggi terhadap gempa yaitu bangunan beton tidak bertulang
dan bertulang. Bangunan di pedesaan yang memiliki kerentanan sedang terhadap
gempa bumi yaitu bangunan beton bertulang, bangunan semi permanen, dan
bangunan tradisional. Bangunan di pedesaan yang memiliki kerentanan rendah
terhadap gempa yaitu bangunan tradisional


10.   Kepadatan Penduduk
       Kepadatan penduduk adalah “banyaknya penduduk per satuan unit
wilayah” (Mantra, 1985 : 73). Penduduk merupakan fenomena geografi yang
memiliki kaitan dengan fenomena geografi lain. Penduduk di suatu daerah
memiliki perubahan yang cukup signifikan pada setiap tahunnya. Hal tersebut
disebabkan karena berbagai faktor, antara lain migrasi dan kelahiran. Semakin
padat penduduk di suatu daerah maka akan semakin rentan daerah tersebut
terhadap gempa bumi. Faktor kepadatan penduduk merupakan parameter yang
terdapat dalam kerentanan sosial. Kepadatan penduduk dibagi menjadi empat
bagian yaitu, kepadatan penduduk kasar, kepadatan penduduk fisiologis,
kepadatan penduduk agraris, dan kepadatan penduduk ekonomi. Penduduk wanita
merupakan penduduk yang mendapatkan perhatian khusus dalam kajian
kerentanan bencana. Penduduk wanita dianggap memiliki kemampuan yang
rendah dalam memitigasi dirinya sendiri, sehingga dalam kajian kerentanan
gempa bumi memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Demikian juga terjadi pada
penduduk lansia dan penduduk balita yang memiliki tingkat kerentanan tinggi
karena dianggap belum bisa memitigasi dirinya dengan baik.


11.   Pertumbuhan Penduduk
       “Pertumbuhan penduduk di suatu daerah dipengaruhi oleh besarnya
kelahiran, kematian, dan migrasi penduduk” (Mantra, 1985 : 75). Pertumbuhan
penduduk merupakan faktor yang dipengaruhi oleh migrasi, kelahiran, dan
                                                                              23




kematian. Faktor migrasi biasanya sering terjadi di kota besar, karena faktor
penarik yang dimiliki oleh kota tersebut. Sedangkan desa terkena dampak dari
perpindahan penduduknya. Pertumbuhan penduduk merupakan faktor yang
termasuk ke dalam kerentanan sosial. Pertumbuhan penduduk juga berkaitan
dengan kuantitas, distribusi, implikasi terhadap ruang dan lingkungan hidup,
kualitas, dan kebijaksanaan.
       Kuantitas penduduk terkait dengan jumlah penduduk yang berada di suatu
wilayah. Jumlah penduduk tersebut biasanya menunjukkan pertumbuhan yang
cukup signifikan pada kurun waktu beberapa tahun. Pertumbuhan penduduk yang
paling mencolok sering terjadi di kota-kota besar. Hal itu dikarenakan daya tarik
kota besar yang bisa memenuhi harapan dari pendatang. Distribusi penduduk juga
merupakan hal yang sangat berkaitan dengan pertumbuhan penduduk. Distribusi
penduduk erat kaitannya dengan persebaran penduduk di berbagai daerah.
       Penduduk biasanya cenderung mencari daerah yang secara sosial maupun
fisik mampu untuk menunjang kehidupan mereka. Dalam aspek sosial, penduduk
cenderung mengelompok di daerah yang menjadi pusat aktivitas. Hal itu
dikarenakan semakin dekat dengan pusat aktivitas, maka semakin mudah
penduduk untuk menjangkau segala kebutuhan hidupnya. Contoh nyata dari hal
tersebut adalah kepadatan penduduk di Jakarta yang sangat padat. Hal tersebut
tidak terlepas dari peran yang dimiliki oleh Jakarta sebagai pusat pemerintahan,
pusat kegiatan ekonomi, pusat pendidikan, dan pusat pariwisata.
       Oleh karena itu, sebagian besar penduduk Jakarta adalah pendatang. Para
pendatang tersebut awalnya bertujuan untuk mencari pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuannya. Jakarta dianggap sebagai tempat yang menyediakan
berbagai macam lapangan kerja baik sektor formal maupun informal. Pendatang
yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah cenderung memasuki sektor
informal seperti berdagang dalam skala kecil. Sedangkan penduduk yang
memiliki tingkat pendidirkan yang tinggi cenderung akan memasuki sektor formal
seperti karyawan perusahaan, karyawan bank, maupun pegawai negeri sipil.
       Dari hal itu, maka dapat disimpulkan bahwa distribusi penduduk memang
sering terpusat di kotabesar. Jika dibandingkan dengan daerah di luar Jawa
                                                                             24




memang akan sangat jauh laju pertumbuhan penduduknya. Di luar Pulau Jawa
sebenarnya memiliki sumber daya alam yang melimpah dan lapangan pekerjaan
yang sangat banyak. Namun, seringkali pengolahan sumder daya alam tersebut
tidak dipegang oleh orang yang sesuai dengan kualifikasinya. Sehingga berakibat
pada produktivitas yang rendah. Faktor yang memengaruhi rendahnya
pertumbuhan penduduk oleh para pendatang dari Pulau Jawa antara lain faktor
jarak, faktor keluarga, dan faktor biaya hidup.
       Faktor jarak memengaruhi rendahnya perpindahan penduduk dari Pulau
Jawa ke luar Jawa. Jarak yang ditempuh relatif jauh dan tentunya akan
membutuhkan biaya yang besar pula. Faktor keluarga juga ikut berpengaruh
karena diantara anggota keluarga memiliki ikatan batin yang kuat. Sehingga jika
seringkali seseorang berat hati untuk meninggalkan keluarganya di rumah, apalagi
jika kondisi keluarganya sedang tidak memungkinkan untuk ditinggal. Hal ini
juga sering dialami oleh para tranmigran. Bahkan mungkin merupakan hal
terberat yang harus dipertimbangkan karena untuk faktor lain para transmigran
telah diakomodasi oleh pemerintah.
       Kualitas penduduk juga sangat terkait dengan pertumbuhan penduduk.
Jumlah penduduk yang semakin bertambah harus diikuti oleh peningkatan
kualitas yang dimiliki oleh penduduk tersebut. Semakin berkualitas penduduk di
suatu daerah, maka kemungkinan besar daerah tersebut akan menjadi daerah yang
mampu berkembang dengan pesat. Pesatnya perkembangan itu dipengaruhi oleh
teriisinya berbagai sektor kehidupan dengan orang-orang yang memiliki
kompetensi dan mampu bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan dan
pengalamannya.
       Hal ini lah yang sering terjadi di luar Pulau Jawa. Sektor kehidupan
masyarakat di luar Pulau Jawa seringkali diisi oleh orang-orang yang secara
kualifikasi tidak mampu untuk memenuhinya. Sehingga daerah di lua Pulau Jawa
lambat perkembangannya jika dibandingkan dengan di Pulau Jawa. Sedangkan di
Pulau Jawa terjadi ketimpangan antara sektor yang akan diisi dengan jumlah
pelamar yang sesuai dengan kebutuhan sektor tersebut. Para pelamar tersebut
                                                                                25




sangat banyak, sedangkan formasi pekerjaan sangat sedikit. Sehingga penduduk di
Pulau Jawa harus bersaing ketat untuk memasuki pekerjaan.
       Faktor lain yang juga berkaitan dengan pertumbuhan penduduk adalah
implikasi terhadap ruang dan lingkungan hidup. Semakin banyak jumlah
penduduk di suatu daerah, maka biasanya akan berdampak pada kondisi
lingkungan di daerah tersebut. Hal itu merupakan tantangan penduduk setempat
untuk mampu menata lingkungan tempat tinggalnya dengan baik. Pengelolaan
yang baik juga akan berdampak pada kenyamanan hidup yang diperoleh
penduduk setempat. Namun, yang sering terjadi di masyarakat adalah kerusakan
lingkungan akibat pengelolaan lingkungan yang kurang baik oleh penduduk.
Banyak penduduk yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Penduduk
tersebut hanya mementingkan egonya dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Akibatnya bencana lingkungan pun sering melanda penduduk tersebut. Oleh
karena itu, dengan pertumbuhan penduduk maka seharusnya lingkungan pun
semakin tertata dengan baik oleh adanya penambahan jumlah sumber daya
manusia.


12.   Struktur Sesar
       Sesar adalah “patahan yang disertai dengan pergeseran kedudukan
bongkah-bongkah yang terputus hubungannya itu” (Tisnasomantri, 1998 : 87).
Ada tiga macam sesar berdasarkan gerakan yang terjadi, yaitu sesar vertikal, sesar
mendatar, dan sesar miring. Sesar vertikal merupakan sesar yang pergeserannya
berarah vertikal. Sesar mendatar merupakan sesar yang pergerakannya berarah
mendatar. Sedangkan sesar miring adalah sesar yang pergeseran vertikal sama
dengan pergeseran mendatar.
       Sedangkan menurut Mulyo (2004 : 192), “secara umum struktur sesar
dikelompokkan menjadi tiga jenis sesar, yaitu sesar normal, sesar mendatar, dan
sesar naik”. Sesar normal merupakan sesar yang hanging wall nya relatif turun
terhadap footwall. Sesar normal memiliki karakteristik antara lain kemiringan
bidang sesar besar, jejak sesar yang terlihat pada peta hampir lurus, goresan garis
pada sesar bersifat umum, mempunyai gawir, dan berbentuk seperti anak tangga.
                                                                                26




       Sesar mendatar merupakan sesar yang antara hanging wall dan foot wall
nya bergerak ke samping dan sejajar. Karakteristik dari sesar mendatar antara lain
bidang sesar memiliki kemiringan yang curam sampai dengan tegak, terdapat jalur
erosi kuat, diikuti struktur patahan dan lipatan, dan membentuk beberapa depresi
yang berkaitan dengan penyimpangan secara merencong. Sesar naik merupakan
sesar yang hanging wall nya bergerak naik terhadap foot wall dan memiliki sudut
kemiringan kurang dari 45º.
       Karakteristik yang dimiliki oleh sesar naik antara lain terdapat di
pegunungan lipatan, terdapat di daerah yang memiliki endapan sedimen tebal,
gerakan gesernya lebih cepat daripada proses pengikisan, mempunyai bidang
sesar yang licin, memiliki gejala struktur seretan, dan jalur sesarnya dapat berupa
melonit atau bidang licin dengan gores garis.


I.   Metode Penelitian
       Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
deskriptif. Metode deskriptif menurut Tika (2005 : 4) adalah “metode yang lebih
mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya
dan mengungkap fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang diberikan
interprestasi dan analisis”. Sedangkan     jika mengacu     pada pelaksanaannya,
metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Menurut Tika ( 2005)
survey adalah “suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan
sejumlah besar data berupa variabel, unit atau individu dalam waktu yang
bersamaan”. Metode survey yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk
mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mendukung analisis data kerentanan
gempa bumi.


1.   Desain Lokasi
       Lokasi penelitian ini adalah di Kecamatan Lembang. Letak geografis
kecamatan Lembang adalah sebagai berikut,
a.   sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Subang,
b.   sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bandung,
                                                                            27




c.   sebelah selatan berbatasan dengan Kota Bandung dan Kabuapaten Bandung,
d.   dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Parongpong.
Letak astronomis Kecamatan Lembang adalah 6º45’00’’ LS sampai 6º52’12’’ LS
dan antara 107º34’48’’ BT sampai 107º43’03’’ BT. Luas Kecamatan Lembang
mencapai 229.462,674 Ha.
         Jumlah Rukun Tetangga di Kecamatan Lembang yaitu 855, sedangkan
jumlah Rukun Warganya yaitu 219. Jumlah kepala keluarganya yaitu 46.958.
Jumlah warga perempuan mencapai 80.683 jiwa, sedangkan jumlah warga laki-
lakinya mencapai 83.787 jiwa. Sehingga jumlah warga Kecamatan Lembang
secara kesulurahan mencapai 164.470 jiwa (Monografi Kecamatan Lembang
2010).

2.Popualasi dan Sampel

a. Populasi

          Populasi wilayah pada penelitian ini adalah seluruh desa di Kecamatan
Lembang yang terdiri dari 16 desa dengan luas mencapai 229.462,674 Ha.
Populasi penduduknya       yaitu seluruh penduduk Kecamatan Lembang yang
mencapai 164.470 jiwa.

b. Sampel

           Sampel dalam penelitian     ini adalah sampel wilayah dan sampel
penduduk.

1.) Sampel Wilayah

          Sampel wilayah pada penelitian ini diambil dengan teknik stratified
random sampling dan hasil teknik sampling tersebut meliputi Desa Lembang,
Desa Kayuambon, Desa Gudangkahuripan dan Desa Cikole dengan pertimbangan
memilih Desa Lembang dan Kayuambon           karena jumlah penduduk banyak,
kepadatan penduduk sangat padat, dan merupakan pusat pelayanan di Kecamatan
Lembang. Sedangkan pertimbangan memilih Desa Gudangkahuripan karena
topografinya curam, jumlah penduduk banyak, dan penduduknya sangat padat.
                                                                                    28




     Kemudian Desa Cikole dipilih karena jumlah penduduk banyak, penduduknya
     sangat padat, letaknya dekat dengan Gunung Tangkubanparahu, serta banyak
     terdapat objek wisata.

     b.) Sampel Penduduk
                Sampel penduduk diambil dengan teknik simple random sampling.
     Pengambilan sampel per desa dilakukan dengan perhitungan menggunakan
     rumus Dison dan B. Leach dalam Tika (2005 : 25) berikut ini,


                        2
          ZxV                          (1)
n=
            C

     dimana,

     n = Jumlah sampel

     Z = Tingkat kepercayaan (confidence level 95%, hasil tabel statistik 1,96 %)

     V = Variabilitas

     Variabilitas diperoleh dengan rumus,

     V=                                      (2)

     dimana,

     V = Variabilitas

     P = Persentase karakteristik sampel yang dianggap benar

     C = Batas kepercayaan (confidence limit) yaitu 10

                   n
     n′ =                                    (3)
                        n

                        N
     dimana,
                                                              29




n′ = Jumlah sampel yang telah dikoreksi

n = Jumlah sampel yang telah dihitung berdasarkan rumus (1)

N = Jumlah populasi (kepala keluarga)

P=                            x 100


 =        x100

 = 28,83 %

V=

    =

    =

= 45,29

        ZxV       2
n=
        C
                      2


=

= [8,87]2

= 78,79

              n
n′ =
                      n

                      N


              78,79
n′ =
                      78,79

                  12.916
                                                                        30




     =

= 78,31

= 78 (dibulatkan)

         Jadi, jumlah sampel yang diambil adalah 78 responden. Untuk
menentukan sampel per desa secara proporsional, maka digunakan formula dari
Soepono dalam Nuryeti (2006 :39) sebagai berikut,




Dimana,

N = Jumlah sampel KK setiap kelurahan

P′ = Jumlah populasi KK setiap kelurahan

P = Jumlah populasi keseluruhan

n = Jumlah seluruh sampel

Berikut perhitungan menggunakan teknik ini,

a


b. Desa Gudangkahuripan :


c. Desa Cikole : N =


d. Desa Kayuambon : N =

3.   Instrumen Penelitian
a.   Bahan
                                                                             31




          Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, peta rupabumi
Indonesia1: 25.000 lembar 1209-313 Cimahi dan peta rupabumi Indonesia
1:25.000 lembar 1209-314 Lembang, peta geologi skala 1 : 100.000 lembar
Bandung, peta tanah skala 1 : 100.000 lembar Bandung, data kawasan terbangun,
data kepadatan bangunan, data kualitas bangunan, data laju pertumbuhan
penduduk, data jumlah penduduk kelompok rentan, data tingkat pendapatan, data
curah     hujan,   data   monografi   Desa   Lembang,   data   monografi   Desa
Gudangkahuripan, data monografi Desa Kayuambon, data monografi Desa
Cikole, dan data monografi Kecamatan Lembang tahun 2010.

b. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah,

1.)     global positioning system,
2.)     kamera digital,
3.)     komputer dengan spesifikasi intel T6500, Harddisk 250 G, 14,1” WXGA,
        RAM 2 GB, DVD RW, dan WLAN,
4.)     software mapinfo 10.5
5.)     peta rupabumi Indonesia1: 25.000 lembar 1209-313 Cimahi dan peta
        rupabumi Indonesia 1:25.000 lembar 1209-314 Lembang.
6.)     angket
7.)     pedoman observasi


4.    Teknik Pengumpulan Data
a. Data Primer
1.) Observasi Lapangan

          Dalam observasi lapangan, hal yang dilakukan yaitu mendatangi Desa
Lembang, Desa Kayuambon, Desa Gudangkahuripan, dan Desa Cikole.
Kemudian dilakukan ploting dan melakukan pengamatan kerentanan fisik di
lokasi kajian. Pengamatan kerentanan fisik yang dilakukan meliputi pengamatan
kawasan terbangun, kepadatan bangunan, dan bangunan dengan konstruksi
                                                                              32




tradisional. Alat yang digunakan dalam observasi lapangan adalah          global
positioning system, kamera, pedoman observasi dan peta rupabumi Indonesia1:
25.000 lembar 1209-313 Cimahi serta peta rupabumi Indonesia 1:25.000 lembar
1209-314 Lembang. Data yang dikumpulkan yaitu letak koordinat dan data
kerentanan fisik Kecamatan Lembang.

2.) Pemotretan

        Pemotretan dilakukan dengan cara mendatangi Desa Lembang, Desa
Kayuambon, Desa Gudangkahuripan, dan Desa Cikole. Kemudian dilakukan
pemotretan terhadap objek yang terkait dengan kerentanan fisik, kerentanan sosial
kependudukan, dan kerentanan ekonomi. Alat yang digunakan yaitu kamera
digital. Data yang dikumpulkan yaitu foto-foto lokasi kajian.

3.) Pengangketan

        Pengangketan dilakukan dengan cara membagikan angket kepada
responden di Desa Lembang, Desa Kayuambon, Desa Gudangkahuripan, dan
Desa Cikole. Data yang dikumpulkan yaitu data yang terkait dengan kerentanan
fisik, kerentanan sosial kependudukan, dan kerentanan ekonomi.

b.Data Sekunder

1.) Dokumentasi

        Data yang dikumpulkan yaitu data curah hujan dari Stasiun Meteorologi ,
Klimatologi, dan Geofisika Kabupaten Bandung Barat. Data monografi dari
Kecamatan Lembang, Desa Cikole, Desa Lembang, Desa Kayuambon, dan Desa
Gudangkahuripan.     Data kawasan terbangun, kepadatan bangunan, kualitas
bangunan, data laju pertumbuhan penduduk, data jumlah penduduk kelompok
rentan, dan data tingkat pendapatan dari Badan Pusat Statistik Kabupaten
Bandung Barat. Mengumpulkan peta rupa bumi yaitu peta rupa bumi Indonesia 1:
25.000 lembar 1209-313 Cimahi dan peta rupa bumi Indonesia 1:25.000 lembar
1209-314 Lembang dari Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional.
Mengumpulkan peta geologi skala 1 : 100.000 lembar Bandung dari Pusat
                                                                               33




Penelitian dan Pengembangan Geologi serta peta tanah skala 1 : 100.000 lembar
Bandung dari Pusat Penelitian Tanah.

2.) Studi Literatur
         Studi literatur dilakukan dengan cara mengumpulkan buku, jurnal, dan
artikel yang terkait dengan tema penelitian. Data yang dikumpulkan yaitu kutipan
dari buku, jurnal, dan artikel tersebut.


5.   Teknik Pengolahan Data
         Teknik pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,
a.   Editing data

       Editing merupakan tahap pertama dalam pengolahan data. Tujuan editing
yaitu untuk mengecek kelengkapan instrumen beserta jawaban yang diberikan
oleh responden di dalam instrumen tersebut.

b. Pengkodean

       Pengkodean dilakukan untuk mengelompokkan jawaban responden
berdasarkan macamnya dan berdasarkan kesesuaian dengan pertanyaan penelitian
yang diajukan dalam penelitian ini. Dalam pengkodean, pengelompokkan jawaban
responden dilakukan dengan memberikan kode berupa angka.

c.   Tabulasi data

       Tabulasi data dilakukan dengan cara menyusun dan menganalisis data
dalam bentuk tabel.

6.   Prosedur dan Tahapan-Tahapan Penelitian
a.   Pra-lapangan
         Pada tahap ini, yang dilakukan adalah pengumpulan buku-buku, jurnal,
artikel yang terkait dengan penelitian. Mengumpulkan sumber data terkait yang
meliputi monografi dari Kecamatan Lembang, Desa Lembang, Desa Kayuambon,
Desa Cikole, dan Desa Gudangkahuripan, data curah hujan di Kecamatan
Lembang dari Stasiun Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kabupaten
                                                                                34




Bandung Barat. Selanjutnya pengumpulan peta-peta lokasi kajian. Peta yang
dikumpulkan yaitu peta geologi skala 1: 100.000 lembar Bandung dari Pusat
Penelitian dan Pengembangan Geologi, peta rupabumi Indonesia 1: 25.000 lembar
1209-313 Cimahi dan peta rupabumi Indonesia 1:25.000 lembar 1209-314
Lembang dari Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, serta peta tanah
skala 1 : 100.000 lembar Bandung dari Pusat Penelitian Tanah.


b. Lapangan
        Pada tahap ini, yang dilakukan adalah pengumpulan data sekunder yang
meliputi data kawasan terbangun, data kepadatan bangunan, data kualitas
bangunan, data laju pertumbuhan penduduk, data jumlah penduduk lanjut usia,
balita, dan perempuan, serta data tingkat pendapatan.          Semua data tersebut
diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat. Untuk
memperoleh data primer dilakukan observasi lapangan, pemotretan, dan
pengangketan.


c.   Pasca lapangan
        Pada tahap ini, yang dilakukan adalah mengolah data-data yang telah
terkumpul dengan menggunakan teknik editing, pengkodean, tabulasi kemudian
dilakukan analisis dengan menggunakan analisis Earthquake Disaster Risk Index.


7.    Analisis Data
       Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
Earthquake Disaster Risk Index (EDRI), yang mana dalam hal ini hanya diambil
analisis kerentanannya saja. Analisis Earthquake Disaster Risk Index digunakan
untuk mengetahui nilai baku kerentanan indikator. Untuk bisa mengetahui tingkat
kerentanan, maka harus diketahui terlebih dahulu sub faktor dan indikator
kerentanan. Kerentanan dibagi menjadi tiga sub faktor yaitu,
a.   Kerentanan fisik
                                                                                35




          Terdiri atas beberapa indikator antara lain persentase kawasan terbangun,
persentase kualitas banguanan yang diukur dari persentase bangunan kayu, dan
persentase kepadatan bangunan (Firmansyah, 1997 : 79),
b. Kerentanan sosial kependudukan
          Terdiri atas beberapa indikator yaitu kepadatan penduduk, persentase laju
pertumbuhan penduduk, kelompok masyarakat rentan yang terdiri atas persentase
penduduk usia lanjut, persentase balita, dan penduduk wanita (Apriliansyah, 2008
: 105).
c. Kerentanan ekonomi
          Terdiri atas beberapa indikator yaitu pendapatan yang dilihat dari rumah
tangga miskin dan mata pencaharian sektor rentan (Firmansyah, 1997 : 79).
Rumah tangga miskin merupakan akumulasi persentase jumlah petani dan buruh
sedangkan mata pencaharian sektor rentan terdiri atas sektor perdagangan,
perangkutan, keuangan, dan jasa.
          Setelah diketahui sub faktor dan indikator kerentanan, langkah berikutnya
yaitu menentukan nilai baku indikator dan tingkat kerentanan sebagai berikut,
a.   Penentuan nilai baku indikator kerentanan
          Nilai baku indikator kerentanan dibutuhkan untuk menghitung tingkat
kerentanan setiap indikator. Perhitungan nilai baku tersebut berdasarkan data yang
dimiliki oleh setiap desa di Kecamatan Lembang. Data tersebut diklasifikasikan
terlebih dahulu seperti pada tabel 3.6 sampai dengan tabel 3.14. Nilai baku
didapatkan dari formula berikut,


                                        Xij – (X1-2Si)

                            X’ij =
                                             Si


                               (Davidson, 1997 : 127)

Keterangan :

X’ij = Nilai yang sudah dibakukan untuk indikator i di desa j
                                                                                  36




Xij = Nilai yang belum dibakukan untuk indikator i di desa j

X1 = Nilai rata-rata untuk indikator i di Kecamatan Lembang

Si = Standar deviasi untuk indikator i

       Sebelum melakukan perhitungan nilai baku indikator kerentanan, maka
harus diketahui terlebih dahulu data mengenai indikator tersebut untuk kemudian
diklasifikasikan. Berikut merupakan klasifikasi dari indikator-indikator tersebut,

1.)   Kerentanan fisik
a.) Kawasan terbangun
       Kawasan terbangun merupakan indikator yang memengaruhi kerentanan
gempa bumi. Hal tersebut dikaitkan dengan penduduk yang melakukan aktivitas
di kawasan terbangun tersebut. Berikut klasifikasi indikator kawasan terbangun,

                   Tabel 4. Klasifikasi Kawasan Terbangun

                        Persentase            Klasifikasi
                   < 45 %                 Rendah
                   45-70 %                Sedang
                   > 70 %                 Tinggi
                        Sumber : (Firmansyah, 1998 : 57)

b.) Kepadatan bangunan

       Indikator kepadatan bangunan berkaitan dengan kemudahan masyarakat
untuk mengevakuasi diri dan keluarganya. Selain itu, kepadatan bangunan ini juga
terkait dengan potensi kerusakan bangunan yang terdapat di suatu wilayah.
Berikut klasifikasi kepadatan bangunan,
                   Tabel 5. Klasifikasi Kepadatan Bangunan

                           Luas                 Klasifikasi
                   < 30 bangunan/ha          Rendah
                   30-40 bangunan/ha         Sedang
                   > 40 bangunan/ha          Tinggi

                         Sumber : (Firmansyah, 1998 : 54)
                                                                           37




c.)Kualitas bangunan

       Kualitas bangunan merupakan indikator yang berkaitan dengan mudah
atau tidaknya suatu bangunan jika terjadi gempa. Kerusakan bangunan tentu akan
berdampak kepada keselamatan jiwa para penghuninya. Menurut peraturan
menteri Pekerjaan Umum nomor 27 tahun 2007, bangunan dengan kosntruksi
tradisional justru memiliki kemampuan yang baik untuk menahan pengaruh
gempa bumi. Oleh karena itu, dalam hal ini diklasifikasikan bangunan dengan
konstruksi tradisional,
          Tabel 6. Klasifikasi Bangunan dengan Konstruksi Tradisional

                        Persentase               Klasifikasi
                   < 30 %                     Rendah
                   30-40 %                    Sedang
                   > 40 %                     Tinggi

                          Sumber : (Firmansyah, 1998 : 53)

2.) Kerentanan sosial kependudukan

a.) Kepadatan penduduk

       Kepadatan penduduk berkaitan dengan kemungkinan jumlah korban jiwa
yang diakibatkan oleh gempa bumi. Semakin tinggi kepadatan penduduk di suatu
wilayah, maka semakin tinggi pula kemungkinan korban jiwa. Berikut klasifikasi
kepadatan penduduk,

                   Tabel 7. Klasifikasi Kepadatan Penduduk

                        Kepadatan                Klasifikasi
                   < 100 jiwa/ha              Rendah
                   100-200 jiwa/ha            Sedang
                   >200 jiwa/ha               Tinggi
                          Sumber : (Firmansyah, 1998 : 61)

b.) Laju pertumbuhan penduduk
                                                                             38




       Laju pertumbuhan penduduk juga memiliki pengaruh yang hampir sama
dengan kepadatan penduduk. Indikator ini berkaitan dengan korban jiwa yang
diakibatkan oleh gempa bumi. Semakin tinggi laju pertumbuhan penduduk di
suatu wilayah, maka kemungkinan jumlah korban jiwanya pun akan tinggi.
Berikut klasifikasi pertumbuhan penduduk,

              Tabel 8. Klasifikasi Laju Pertumbuhan Penduduk

                       Persentase              Klasifikasi
                  <0%                       Rendah
                  0-3 %                     Sedang
                  > 3%                      Tinggi
                        Sumber : (Firmansyah, 1998 : 63)

c.) Penduduk lanjut usia dan balita

       Penduduk lanjut usia yaitu yang berusia lebih dari 65 tahun dan balita
yang berusia kurang dari 5 tahun merupakan penduduk yang dianggap kurang
mampu untuk melakukan prosedur tanggap darurat dengan baik. Oleh karena itu,
semakin banyak jumlah penduduk lanjut usia dan balita di suatu daerah, maka
kemungkinan jumlah korban jiwa yang terdiri atas penduduk usia lanjut dan balita
akan semakin banyak. Berikut klasifikasi penduduk lanjut usia dan balita,

            Tabel 9. Klasifikasi Penduduk Lanjut Usia dan Balita

                       Persentase              Klasifikasi
                  < 15 %                    Rendah
                  15-25 %                   Sedang
                  > 25%                     Tinggi



                        Sumber : (Firmansyah, 1998 : 64)

d.) Penduduk perempuan

       Penduduk perempuan juga merupakan penduduk yang dianggap kurang
mampu untuk melakukan prosedur tanggap darurat dengan baik. Oleh karena itu,
semakin banyak jumlah penduduk wanita di suatu daerah, maka kemungkinan
                                                                             39




jumlah korban jiwa penduduk perempuan akan semakin banyak. Berikut
klasifikasi penduduk perempuan,

                   Tabel 10. Klasifikasi Penduduk Perempuan




                       Persentase              Klasifikasi
                  < 45 %                    Rendah
                  45-50 %                   Sedang
                  > 50 %                    Tinggi
                         Sumber : (Firmansyah, 1998 : 65)

3.) Kerentanan ekonomi

a.) Mata pencaharian sektor rentan

       Menurut Jones dalam Davidson (1997 : 51) mata pencaharian sektor
rentan terdiri atas sektor jasa dan sektor distribusi. Sedangkan menurut
Firmansyah (1998 : 66) kedua sektor tersebut dijabarkan lagi yang terdiri atas
sektor perdagangan, sektor perangkutan, sektor keuangan dan sektor jasa. Sektor-
sektor tersebut dianggap rentan karena barkaitan dengan aktivitas yang dilakukan
oleh pekerja membatasi kemampuan mitigasi dan tanggap darurat ketika terjadi
bencana. Berikut klasifikasi mata pencaharian sektor rentan,

            Tabel 11. Klasifikasi Mata Pencaharian Sektor Rentan

                       Persentase              Klasifikasi
                  < 45 %                    Rendah
                  45-70 %                   Sedang
                  > 70 %                    Tinggi



                         Sumber : (Firmansyah, 1998 : 67)

b.) Pendapatan

       Pendapatan merupakan indikator yang juga berpengaruh terhadap
kerentanan ekonomi di suatu daerah. Hal tersebut dikarenakan semakin tinggi
                                                                           40




pendapatan seseorang, maka dianggap memiliki kemampuan mitigasi gempa bumi
yang baik. Kemampuan tersebut diperoleh dari pendidikan formal, media, maupun
penyuluhan yang pernah diikuti. Berikut klasifikasi pendapatan penduduk,

                        Tabel 12. Rumah Tangga Miskin

                         Pendapatan                    Klasifikasi
              < Rp 500.000,-                        Sangat Rendah
              Rp 500.000,- s.d. Rp 1.000.000 ,-     Rendah
              Rp 1.000.000,- s.d. Rp 1.500.000,-    Sedang
              Rp 1.500.000,- s.d Rp 2.000.000,-     Tinggi
              > Rp 2.000.000,-                      Sangat Tinggi
                         Sumber : (Lusdiana, 2010 : 39)

b. Penentuan nilai baku kerentanan sub faktor dan kerentanan wilayah

       Nilai baku kerentanan sub faktor diperoleh dari penjumlahan nilai baku
masing-masing indikator dibagi jumlah indikator. Nilai baku kerentanan wilayah
diperoleh dari penjumlahan nilai baku masing-masing sub faktor dibagi dengan
jumlah sub faktor tersebut. Berikut formula yang digunakan,


                                       A+B+C
                            V=
Keterangan,                             n

V = Kerentanan

A = Nilai Baku indikator atau sub faktor A

B = Nilai Baku indikator atau sub faktor B

C = Nilai Baku indikator atau sub faktor C

n = Jumlah indikator atau sub faktor

                            (Firmansyah, 1998 : 167)

c.   Penentuan tingkat kerentanan
                                                                            41




       Setelah diketahui nilai baku kerentanan setiap indikator, selanjutnya
ditentukan tingkat kerentanan untuk masing-masing indikator, sub faktor, dan
tingkat kerentanan wilayah. Tingkat kerentanan tersebut diklsifikasikan menjadi
3 klas yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Untuk mengetahui tingkat kerentanan
tersebut, maka digunakan metode klas interval menurut Sugiyono (2002 : 29)
dengan langkah-langkah sebagai berikut,

1.) Menetapkan jumlah klas interval sebanyak 3 kelas,
2.) Menentukan rentang data yaitu data terbesar dikurangi data terkecil,
3.) Menghitung panjang klas yaitu rentang data dibagi jumlah klas,
4.) Menyusun interval klas.
                                                                           42




8.   Alur Penelitian

           Berikut merupakan alur dalam penelitian ini,


                           Sub Faktor Kerentanan Gempa Bumi




         Kerentanan                   Kerentanan              Kerentanan
           Fisik                        Sosial                 Ekonomi
                                     Kependudukan



     1. Kawasan Terbangun          1. Kepadatan               1. Mata
     2. Kualitas Bangunan             Penduduk                   Pencaharian
     3. Kepadatan                  2. Laju                    2. Pendapatan
        Bangunan                      Pertumbuhan
                                      Penduduk
                                   3. Kelompok
                                      masyarakat
                                      rentan




                           Data Sekunder :

                           1. Data Kawasan Terbangun dan
                              kepadatan bangunan
                           2. Data Kependudukan
                           3. Data Kondisi Ekonomi




                       Analisis Data dengan Menggunakan Nilai Baku
                                 Kerentanan Gempa Bumi


                         Tingkat Kerentanan Bencana Gempa Bumi



                       Peta Tingkat Kerentanan Bencana Gempa Bumi
                                                      43




9. Sistematika Penelitian

a. Bab I Pendahuluan

1.) Latar Belakang Masalah
2.) Rumusan Penelitian
3.) Tujuan Penelitian
4.) Manfaat Penelitian
5.) Definisi Operasional



b. Bab II Kajian Pustaka

1.) Mitigasi
2.) Bencana
3.) Resiko Bencana
4.) Kerentanan
5.) Ancaman
6.) Gempa Bumi
7.) Hiposentrum
8.) Episentrum
9.) Klasifikasi Bangunan Berdasarkan Bahan Dasarnya
10.) Kepadatan Penduduk
11.) Pertumbuhan Penduduk
12.) Struktur Sesar


1.) Bab III Prosedur Penelitian
1.) Metode Penelitian
2.) Variabel Penelitian
3.) Desain Lokasi
4.) Populasi dan Sampel
                                                                             44




5.) Instrumen Penelitian
6.) Teknik Pengumpulan Data
7.) Teknik Pengolahan Data
8.) Prosedur dan Tahapan-Tahapan Penelitian
9.) Analisis Data


3.) Bab IV Hasil dan Pembahasan
1.) Deskripsi Daerah Penelitian
2.) Hasil dan Pembahasan


4.) Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi
1.) Kesimpulan
2.) Rekomendasi



10.Agenda Penelitian

         Agenda penelitian yang menjelaskan mengenai alokasi waktu dalam
penelitian ini, dengan adanya agenda penelitian maka diharapkan penelitian dapat
dilaksanakan dengan tepat waktu sesuai dengan regulasi yang berlaku dan hasil
penelitian pun akan tercapai dengan maksimal. Berikut ini agenda dalam
penelitian ini,




                                  Tabel 13. Agenda Penelitian
                                                                       45




                                            Waktu Penelitian

                               Oktober   November   Desember        Januari
   Bentuk Kegiatan              2011       2011       2011           2012

                           1    2 3 4 1 2 3     4   1   2 3 4   1   2 3       4

Persiapan

-Penyusunan Instrumen

-Perbanyakan

Pelaksanaan
- Pengumpulan       Data
dengan Angket

- Pengumpulan Data
dengan Wawancara

- Pengolahan Data

- Analisis Data

- Penyimpulan Hasil

Penyus. Laporan

- Pengetikan

- Penyerahan
                                                                        46




                             DAFTAR PUSTAKA



Amalia.(2010). Kelak Wajah Lembang akan seperti Apa?. Bandung : Pikiran
  Rakyat edisi 23 Februari.
Darmadi.(2011). Patahan Lembang Masih Aktif Bergerak. Kompas (26 Maret
  2011).
Departemen Komunikasi dan Informasi.(2008). Memahami Bencana. Jakarta :
  Depkominfo
Kecamatan Lembang. (2010). Monografi Kecamatan Lembang. Bandung :
  Pemerintah Kecamatan Lembang
Majelis Guru Besar ITB. (2009). Mengelola ResikoBencana di Negara Maritim
  Indonesia. Bandung : Institut Teknologi Bandung
Noor, D.(2006). Geologi Lingkungan. Jakarta : Graha Ilmu.
Presiden Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
  24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Jakarta : Presiden Republik
  Indonesia
Siswadi, A. (2010). Gempa Patahan Lembang Diduga Pernah Mencapai Tujuh
   Skala Richter. Tersedia dalam : Tempointeraktif.com [16 April 2011].
Tika, M.P. (2005). Metode Penelitian Geografi. Jakarta: Bumi Aksara.
Sugiyono. (2002). Statistika untuk Penelitian.Bandung : Alfabeta
Davidson, R.A.. dan Shah H.C. (1997). An Urban Earthquake Disaster Risk
  Index. Stanford : Stanford University
Firmansyah. (1998). Identifikasi Resiko Bencana Gempa Bumi dan Implikasinya
   terhadap Penataan Ruang di Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung. Tesis
   Magister pada Program Pascasarjana Institut Teknologi Bandung : tidak
   diterbitkan
Apriliansyah, M. (2008). Analisis Kerentanan Kota Palu terhadap Resiko
  Bencana Gempa Bumi. Tugas Akhir pada Program Studi Perencanaan Wilayah
  dan Kota Universitas Hasanuddin : tidak diterbitkan
Yulianto, E.(2011). Ancaman Gempa Bumi Patahan Lembang. Pikiran Rakyat (10
  November 2011).
                                                                          47




Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi.
  Keputusan Sekretaris Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pedoman Umum
  Penanggulangan Bencana dan Pengungsi. Jakarta : BKNPBPP.
Boli, Y. dkk. (2004). Panduan Penanganan Resiko Bencana Berbasis
  Masayarakat. Kupang : Forum Kesiapan dan Penanganan Bencana
Mulyo, A. (2006). Pengantar Ilmu Kebumian. Bandung : Pustaka Setia
Mantra, I.B. (1985). Pengantar Studi Demografi. Yogyakarta : Nur Cahaya
Tisnasomantri, A. (1998). Geomorfologi Umum. Bandung : IKIP Bandung
Pemerintah Kota Surabaya. (2010). Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 62
  tahun 2006 tentang Pedoman Harga Ganti Rugi atau Sumbangan terhadap
  Bangunan dan Fasilitas Kelengkapannya, Jembatan, Jalan serta Tanaman
  yang Digunakan Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum
  Di Kota Surabaya. Surabaya : Pemerintah Kota Surabaya
United Nations Development Programme. (2006). Pengurangan Resiko Bencana.
  Jakarta : Perum Percetakan RI
United States Agency for International Development. (2009). Pengurangan
  Resiko Bencana. Jakarta : Perum Percetakan RI
Departemen Pekerjaan Umum. (2007). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
  Nomor 21/PRT/M/2007 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan
  Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi. Surabaya :
  Pemerintah Kota Surabaya

								
To top