nsknugroho- Kesulitan Tidur by nsknugroho

VIEWS: 47 PAGES: 11

									Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                      Jan 06, 2008




                                  Permasalahan Tidur
                                  Oleh: NSK Nugroho, MCH, CHt
                                    Professional Hypnotherapist




Definisi
Berdasarkan pengalaman di klinik, setiap orang memiliki definisi sendiri mengenai ”masalah
tidur” atau ”tidak dapat tidur”. Sebagian mengatakannya sebagai tidur tidak nyenyak (selalu
terbangun), ada juga yang mengatakan sebagai sulit tidur di malam hari (karena kenyataannya
pelaku dapat tidur nyenyak di siang hari), ada juga yang mengatakan bangunnya tidak segar
mekipun sudah tidur lebih dari 8 jam, dan sebagainya. Sehingga ”tidak dapat tidur” atau
masalah tidur dapat dikategorikan sebagai sulit tidur (sulit untuk tidur meskipun siang hari-
Sleep Difficulties) maupun tidak dapat tidur dengan nyenyak (gangguan tidur/ tidur terganggu –
Sleep Disorder).

Beberapa klien yang mengalami keadaan ini, sebagian di antaranya, sudah menggunakan
bantuan obat tidur. Tetapi, beberapa di antaranya tetap mengalami masalah, bahkan semakin
sulit tidur (meskipun sudah menambah dosisnya, bukannya pelaku makin mudah tidur, tetapi
semakin sulit tidur). Akibatnya, secara fisik, respons dan reaksinya semakin lambat. Dan
....tetap bermasalah..., terpejam tetapi pikirannya tidak menentu, gelisah, dan sebagainya.

Sebagai referensi, Encyclopedia Britanica menyebutkan bahwa tidur adalah proses di mana
gerakan tubuh sudah menurun, otot mengendur, kesadaran atau respons terhadap lingkungan
menurun, demikian juga dengan aktifitas otak yang sudah rendah. Jenis tidur sendiri dibedakan
antara tidur REM (Rapid Eye Movement) dan Non-REM. Jika dikaitkan dengan aktifitas otak,
maka yang dinamakan tidur nyenyak tanpa mimpi adalah tidur Non REM dimana aktifitas otak
kita sangat rendah.

Mengapa terjadi permasalahan tidur?
Permasalahan tidur dapat disebabkan oleh karena faktor fisik maupun psikologis.

1. Faktor Medis atau fisik.
   Permasalahan yang terjadi karena ketidak seimbangan sistem dalam tubuh, seperti sistem
   metabolisma, tingkat keaktifan suatu kelenjar (misalnya kelenjar adrenalin), diabetes,
   masalah kekakuan otot, ketidak seimbangan tekanan darah, dan sebagainya.

2. Faktor Non Medis atau psikologis.
   Permasalahan tidur akibat ketidak selarasan dalam sistem kesadaran dimana pelaku
   melayani suatu ”beban pikiran” sehingga otak/ pikiran menjadi sangat aktif, secara disadari
   langsung atau tidak, sengaja atau tidak.
   ”Beban pikiran” tersebut seperti dapat berupa stress, pengalaman masa lalu yang tidak
   menyenangkan (traumatik) yang secara tidak disengaja masuk dalam pikiran, memikirkan
   suatu pekerjaan yang belum selesai, dan sebagainya.

@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                   1
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                      
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                       Jan 06, 2008


Kedua faktor ini bekerja secara sinergis, tidak terpisahkan satu sama lain. Masalah medis dapat
mengakibatkan terganggunya sistem psikologis. Sebaliknya, masalah psikologis dapat
mengakibatkan terganggunya keseimbangan sistem tubuh atau masalah medis.
Misalnya, hari itu anda terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas yang
mengakibatkan sakit perut dan mulas-mulas. Keadaan ini, mungkin karena perut anda selalu
terasa mulas, secara tidak disadari langsung pikiran anda terbebani masalah ini. Pikiran menjadi
kelewat aktif, sehingga anda terganggu secara psikologis di mana hal ini terbawa ketika akan
tidur atau tidur, yaitu sulit untuk tidur atau tidur anda terganggu. Tidur anda menjadi
bermasalah.
Sebaliknya, misalnya pada hari itu kita cemas luar biasa karena suatu tekanan pekerjaan.
Karena mungkin anda selalu memikirkan tekanan pekerjaan tersebut, salah satu sistem di tubuh
andapun menjadi terlalu aktif (misalnya kelenjar adrenalin), akibatnya keseimbangan tubuhpun
terganggu, disadari atau tidak, disengaja atau tidak. Ketidak seimbangan ini biasanya berefek
menjadi, misalnya, sakit perut, pusing, atau yang lainnya. Demikian juga, keadaan ini terbawa
ketika akan tidur atau tidur. Tidur anda menjadi bermasalah.

Karena adanya keterkaitan tersebut, maka banyak cara yang dapat dilakukan. Seperti anjuran
para ahli medis, untuk selalu menjaga kondisi fisik kita dengan baik. Misalnya dengan
memperbaiki asupan, olah raga secukupnya, mandi air hangat sebelum tidur, suhu ruangan yang
sesuai ketika tidur, dan sebagainya.
Namun, bagaimana mempersiapkan kondisi psikiologis supaya dapat tidur dengan nyenyak?
Hal inilah yang akan kita bahas di sini.

Contoh kasus dan Penanganan melalui metoda Hypnotherapy
Sebelum seorang klien masalah tidur melakukan hypnotherapy, saya selalu menyarankan agar
mereka memeriksakan dirinya terlebih dahulu secara medis ke dokter atau laboratorium. Akan
percuma saja bila penyebab utamanya karena masalah medis, karena hypnotherapy hanyalah
sebagai alat bantu atau suplemen (lihat artikel saya: ”Hypnotherapy Sebagai Alat Bantu Proses
Penyembuhan” di www.nsknugroho.com). Meskipun dibantu dengan metoda hypnotherapy,
klien masih akan merasa gelisah ketika akan tidur. Sehingga, penyelesaian medis harus tetap
dilakukan. Berbeda halnya jika masalah itu berasal dari masalah psikologis atau mental,
hypnotherapy dapat menjadi katalisator utama untuk penyelesaiannya.
Setelah pemeriksaan medis baru ditentukan model hypnotherapy yang akan dilakukan, apakah
berfungsi sebagai suplemen atau sebagai alat utama? Hypnotherapy hanya membantu
menangani masalah mental atau psikologis (kegelisahan, kecemasan, dan lain-lain) yang
menyebabkan masalah tidur.
Untuk kasus tertentu, penyelesaian salah satu faktor permasalahan tidur di atas (fisik atau
psikologis), dapat menjadi pendukung faktor lainnya. Misalnya masalah psikologis seseorang
sudah diselesaikan, dia akan tidur lebih nyenyak jika dia mengkonsumsi makanan yang sehat.
Demikian juga sebaliknya.

Tujuan utama penyelesaian hypnotherapy adalah membuat pelaku mampu mengendalikan diri
atas permasalahan mental yang dialaminya.
Pengendalian gangguan rasa sakit, jika masalah tersebut berasal dari masalah medis, seperti
mengendalikan diri terhadap sakit perut, luka, dan sebagainya. Pelaku mungkin tetap merasa
sakit, namun dia mampu mengendalikannya. Sedangkan untuk masalah mental adalah
pengendalian diri terhadap pengaruh lingkungan yang mengganggu mental, seperti keadaan
yang menyebabkan stress, cemas, gelisah, dsb.


@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                    2
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                       
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                        Jan 06, 2008


Tujuan pengendalian diri dalam permasalahan tidur adalah untuk mengembalikan fungsi atau
tujuan tidur itu sendiri sesuai nilai-nilai yang dimiliki pelaku.

Meskipun fungsi tidur masih ada kontroversi, namun tujuan tidur secara umum adalah
memenuhi kebutuhan biologis untuk mengistirahatkan tubuh dan memberikan kesempatan bagi
tubuh untuk melakukan regenerasi atau recovery atas sel-sel yang rusak. Sehingga badan
menjadi segar kembali ketika bangun. Karena adanya keterkaitan antara kondisi psikologis
seseorang dengan fungsi tubuh secara fisik, maka keadaan cemas, takut, stress, dan lain-lain
dapat mengganggu proses regenerasi maupun perbaikan sel di atas. Akibatnya, badan dapat
menjadi semakin lelah ketika terbangun. Sekali lagi, keaktifan pikiran dapat mempengaruhi
kualitas tidur secara tidak langsung.

Kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sangat tergantung pada nilai-nilai yang
digunakan dalam menghadapi permasalahan tidurnya. Yang dimaksud dengan nilai-nilai adalah
motivasi, keinginan tersembunyi, keyakinan, program-program atau kebiasaan orang tersebut
dalam menghadapi permasalahan tidur. Rata-rata klien, dalam kasus di klinik, nilai-nilai yang
digunakan untuk tidur kurang tepat (padahal nilai-nilai itu sudah dia miliki sendiri, hanya
pelaku tidak menyadarinya). Mereka kadang-kadang hanya menduplikasi, mengikuti kata orang
lain, atau meniru orang lain, sementara hal itu (nilai-nilai yang dipakai) belum tentu cocok atau
tepat bagi dirinya sendiri. Apabila nilai yang digunakan tepat dan sesuai dengan dirinya, maka
orang tersebut dapat mengendalikan dirinya terhadap permasalahan tidur.

Contoh kasus 1:
Permasalahan tidur karena ketidak sesuaian nilai

Seorang klien yang dari kecil sudah terbiasa tidur dalam waktu singkat (dan pelaku merasa
selama ini tidak ada masalah, karena badannya dapat tetap fit dan sehat), sejak dua tahun
terakhir mengalami masalah tidur. Dia selalu cemas ketika akan tidur. Diapun tidak tahu,
mengapa hal ini terjadi?
Setelah dilakukan pre-interview (lihat lampiran interview susah tidur-01), ternyata masalah ini
terjadi ketika dua tahun yang lalu dia pernah membaca suatu buku kesehatan dimana buku
tersebut menganjurkan bahwa perioda tidur yang baik untuk orang seusianya adalah sekian jam
atau lebih lama daripada perioda tidur si klien. Keadaan ini membuatnya khawatir, karena
merasa perioda tidurnya selama ini tidak sesuai dengan apa yang dianjurkan dalam buku
tersebut. Padahal kita tahu bahwa apa yang dikatakan buku tersebut pasti berdasarkan statistik
tertentu (yang mungkin tidak diketahui oleh klien) sehingga belum tentu berlaku untuk semua
orang, dan perlu diketahui juga bahwa kondisi tiap orang berbeda-beda. Dia menjadi khawatir
takut sakit, takut, jangan-jangan dia menderita kelainan, dan sebagainya. Dia sudah melakukan
uji laboratorium, dan sudah dinyatakan normal atau sehat-sehat saja. Namun perbedaan antara
anjuran dan kebiasaannya selama ini tetap menghantuinya, sehingga pelaku semakin cemas.
Kecemasan ini selalu membebani pikirannya ketika klien akan tidur. Akibatnya, klien susah
untuk tertidur seperti biasanya dan kenyenyakan tidurnyapun terganggu. Dia menjadi merasa
tidak nyaman dengan kebiasaan pola dan perioda tidurnya selama ini. Untuk mengatasi hal
tersebut, dia mengkonsumsi obat tidur. Tetapi apa yang terjadi? Klien semakin bertambah sulit
untuk tidur! Setiap akan tidur, klien selalu memikirkan kebiasaan tidurnya yang tidak sesuai
dengan anjuran dalam buku tersebut.
Keadaan ini berlangsung terus menerus dalam kesehariannya menjadi suatu kebiasaan, yaitu
tidurnya selalu terganggu karena memikirkan perbedaan perioda tidurnya dengan yang
dianjurkan. Kebiasaan ini, lama kelamaan, tidak seolah tidak disadari lagi oleh klien. Persis
pernyataan klien ketika pertama kali datang ke klinik. Dia tidak tahu mengapa dia sulit tidur.

@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                     3
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                        
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                       Jan 06, 2008


Dia hanya tahu bahwa sekarang tidurnya terganggu, tidak seperti dulu dimanba dia bisa tidur
nyenyak walau dalam perioda yang lebih pendek. Sehingga, setiap akan tidur, pikiran klien
aktif untuk memikirkan
 ”Mengapa tidur saya tidak nyenyak?”, ”Apakah selama ini lama tidur saya salah?”, ”Kalau
tidak tidur X jam, berarti saya sakit?”, ”Adakah yang aneh dalam diri saya?”, dan seterusnya.
Pikiran-pikiran inilah yang menghantui pelaku baik disadari langsung atau disadari tidak
langsung.
Pelaku telah terjebak dengan keaktifan pikirannya. Meskipun dia tahu tujuan tidur untuk
membuatnya segar, dia tidak mampu merasakan atau menstimulasikannya lagi.

Dalam kasus ini, masalah tidur terjadi karena pelaku tidak menggunakan nilai yang tepat (yang
dimiliki sendiri) bagi dirinya sendiri dalam mengatasi kesulitan tidurnya. Untuk pola tidurnya
sekarang, klien memaksakan dirinya untuk meniru atau menduplikasi nilai orang lain
(menduplikasi), yaitu suatu pernyataan bahwa tidur kurang dari X jam akan menyebabkan sakit.
Padahal, hal itu belum tentu sesuai dengan dirinya. Akibatnya pelaku merasa tidak nyaman.
Perlu kita ketahui bersama bahwa setiap orang PASTI berbeda secara fisik maupun mental
walaupun dia kembar identik.
Tidak ada yang salah dengan buku yang dibacanya. Dan saya yakin bahwa buku yang
dibacanya tersebut pasti bagus. Masalahnya, apakah hal tersebut pasti sesuai dengan pelaku.
Saya yakin semua buku itu bagus, karena telah melalui penelitian yang sedemikian rupa. Semua
tergantung pada kita sendiri apakah kita cocok dengan buku tersebut. Ketika tidak cocok,
mengapa kita harus memaksakan untuk menggunakannya? Demikian juga, bahwa dalam buku
tersebut biasanya merupakan hasil statistik, yang tentunya ada kemungkinan sampai 2% tidak
sesuai. Bagaimana kalau ternyata kita termasuk yang 2%?

Untuk kasus seperti ini, biasanya saya mengajak pelaku untuk menemukan dan menggunakan
nilai kendalinya sendiri untuk menerima nilai dari luar. Jadi bukan dirinya yang menyesuaikan
dengan nilai luar, tetapi mengkonversikan nilai luar yang didapatnya sehingga sesuai dengan
nilai kendali dirinya sendiri. Maksudnya, pelaku bukan menerima atau meniru atau
menduplikasi nilai yang ditawarkan orang lain dengan mentah-mentah. Rata-rata orang
langsung ”menerima”, ”meniru”, atau menduplikasi nilai yang ditawarkan orang lain -yang
padahal belum tentu sesuai dengan dirinya- tanpa memperhatikan apakah nilai tersebut sesuai
dengan dirinya. Seperti pemaksaan. Pemaksaan ini biasanya dapat menimbulkan masalah di
kemudian hari. Berbeda dengan ”mencontoh”, yaitu menggunakan nilai kendali sendiri dalam
mempelajari dan menggunakan pola yang berasal dari nilai luar tersebut. Kita sendirilah yang
mengetahui diri kita sendiri. Dan di samping itu semua, saya lebih percaya bahwa tubuh lebih
memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita. Tubuh pasti sudah memiliki sistem
kendali diri yang dapat melindungi diri kita selama ini. Dan bila kita melanggar sistem kendali
tersebut, cepat atau lambat biasanya akan terjadi permasalahan. Ibarat memasukkan sebuah bola
sepak ke dalam kantong celana dengan paksa. Bukannya kita merubah ukuran kantong kita,
tetapi mengatur bola itu, misalnya dengan mengempiskannya sehingga bola itu dapat masuk
kantong celana kita. Tujuannya sama, yaitu memasukkan bola sepak ke kantong celana. Oleh
karena itu, hargailah kemampuan tubuh sendiri.
Metoda hypnotherapy digunakan untuk membantu seseorang dalam menemukan kembali nilai
kendali dirinya (yang sebenarnya sudah dimiliki) sehingga dia mampu ”mencontoh” nilai dari
luar sesuai kemampuannya dengan rasa ikhlas.

Contoh kasus 2:
Gangguan tidur akibat adanya permasalahan psikologis di belakang permasalahan tidurnya


@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                    4
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                       
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                       Jan 06, 2008


Seorang klien datang dengan muka pucat dan sembab, mengeluhan permasalahan tidurnya.
Keadaan ini sudah berlangsung setahun. Meskipun orang lain mengatakan bahwa dia bisa tidur,
namun dia merasa tidak nyenyak tidurnya. Ketika bangun dia merasa lelah dan tidak segar.
Klien sendiri tidak tahu mengapa ini terjadi, dan kadang-kadang merasa bahwa dia telah
”diteluh” orang.

Dalam proses interview dan regresi singkat (lihat lampiran interviewsulittidur-02) terungkap
bahwa kesulitan tidurnya dilatar belakangi oleh permasalahan psikologis di belakang
permasalahan tidurnya. Masalah tidur dimulai setelah klien memiliki permasalahan di tempat
kerjanya, yaitu dia sering dimarahi dan dilecehkan secara psikologis oleh atasannya. Waktu itu,
dia tidak bermasalah dengan tidurnya. Dia selalu berusaha membuat dirinya tenang dan rileks
sewaktu akan tidur. Melupakan persitiwa dimarahi dan dilecehkan oleh atasannya, dan
mencoba berpikir yang menyenangkan. Pertama-tama dia berhasil menaggulangi permasalahan
tidurnya. Namun, semakin lama (tanpa disadari langsung), permasalahan tidur itu semakin kuat.
Klien menjadi semakin sulit tidur, dan akhirnya mengkonsumsi obat tidur. Keadaan ini, yaitu
minum obat tidur ketika sulit tidur, terjadi terus menerus berulang-ulang. Akhirnya keadaan ini
menjadi suatu pola atau kebiasaan baru bagi pelaku. Setelah lama berselang, pemicu utama
yang membuatnya pertamakali mengalami masalah tidur sudah terlupakan. Setiap akan tidur,
pikiran pelaku selalu aktif memikirkan kesulitan tidurnya, ”mengapa saya sulit tidur, tidak
seperti dulu?”
Dalam diri klien telah terjadi pergeseran sumber masalah tidur, dari yang pertama ”masalah
tidur terjadi karena pengaruh lingkungan pekerjaan (pengaruh/ gangguan eksternal)”, menjadi
”sulit tidur karena memikirkan sulit tidurnya sendiri (pengaruh/ gangguan internal)”.
Saya dapat mengatakan bahwa sumber permasalahan tidur klien adalah akibat suatu
permasalahan di kantornya, karena (setelah proses regresi) setiap klien akan tidur perasaan dan
pikirannya selalu (hanya) terasosiasi dengan perasaan yang terjadi ketika ada permasalahan di
kantornya. Dan ketika keadaan itu diselesaikan (dengan menggunakan teknik penjangkaran),
permasalahan tidur klien pun selesai. Klien akhirnya menemukan kendali dirinya terhadap
masalah tidurnya.

Hal ini sering terjadi dalam kasus-kasus di klinik.

Gangguan eksternal ini dapat terjadi bukan hanya suatu peristiwa emosional yang dialami
sendiri seperti di atas, tetapi dapat juga terjadi karena gangguan kecil dari pengalaman orang
lain. Seperti di klinik, dimana seorang klien sulit tidur karena mendengar temannya bercerita
mengenai hantu di rumahnya. Dan ada kasus lain lagi, karena klien melihat temannya
dikeroyok oleh orang lain dalam suatu tawuran.

Untuk menyikapi gangguan eksetrnal ini sangat tergantung pada sikap pelaku sendiri.
Apakah dia akan terpengaruh terus menerus (terlarut) dengan pengalaman/ gangguan
eksternalnya, atau bersikap mengendalikan diri terhadap emosi yang dialami akibat pengalaman
tersebut?

1. Pelaku telarut oleh pengalaman eksternal yang dialami

    Dalam hal ini berarti pelaku tersugesti (terus menerus) oleh pengalaman tersebut. Secara
    tidak sengaja, pelaku telah terkonsentrasi untuk melayani gangguan tersebut sehingga
    pikirannya aktif karena memikirkan pengalaman itu terus menerus. Banyak di antara klien
    yang sudah berusaha melupakan suatu pengalaman buruk, tetapi tidak tahu kenapa mereka
    jadi bertambah sulit tidur. Pada awalnya mereka bisa melupakan sehingga dapat tidur,

@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                    5
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                       
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                        Jan 06, 2008


    namun selanjutnya, kesulitan tidurnya pun muncul lagi meskipun seolah sudah melupakan
    gangguan eksternal tadi. Tidak bertahan lama. Mengapa? HANYA melupakan tanpa suatu
    sugesti berikutnya, dapat diartikan bahwa kita masih terkonsentrasi pada gangguan tersebut
    secara disadari tidak langsung (sub conscious masih terfokus pada gangguan tersebut).
    Contoh dalam suatu pernyataan, ”Lupakan saja kalau orang anda pernah melihat seekor
    gajah”.
    Baca kalimat pernyataan di atas, apa terjadi? Sebagian besar pembaca, dalam pikirannya,
    akan terbayang atau tergambarkan seekor gajah yang besar. Diminta melupakan, malah
    tergambar seekor gajah besar. Bahkan, anda yang tadinya tidak berpikir gajah, sekarang
    malahan berpikir gajah.
    Persis seperti orang tadi yang tidak mau mengingat atau berusaha melupakan kejadian yang
    tidak menyenangkan. Pelaku bukannya lupa atas peristiwa tersebut, tetapi semakin
    terbayang, disadari langsung atau tidak. Seolah pernyataan itu justru mengingatkan kembali
    kepada kejadian yang tidak menyenangkan.
    Secara disadari tidak langsung, keadaan ini membuat pelaku mulai belajar membiasakan
    dirinya untuk meningkatkan keaktifannya berpikir. Dan secara tidak langsung pula hal ini
    membentuk pola baru untuk tidurnya, yaitu membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur
    pulas.
    Di sinipun masih tergantung pada sikap pelaku, setelah (mungkin) dia menyadari langsung
    perubahan pola tidurnya. Apakah dia menerima perubahan pola tidurnya dengan ikhlas,
    seperti dengan memaklumi pengalaman eksternal yang memicu permasalahan tidurnya, atau
    tidak.
    Ketika pelaku pasrah terhadap apa yang dialaminya. Dalam beberapa kasus di klinik,
    kepasrahan ini biasanya dapat langsung membuat pelaku untuk tetap dapat tidur dengan
    pulas dan nyenyak.
    Sebaliknya, jika pelaku secara tidak langsung mengingkari keadaan atau pengaruh eksternal
    tersebut, seperti menentangnya, ”tidak suka”, atau ”tidak terima” atau ”menyenang-
    nyenangkan diri”, atau ”menenang-nenangkan diri”, atau bahkan ”melupakannya”, maka
    biasanya yang dipikirkan bukan lagi sumber pemicu permasalahan tidurnya tetapi
    memikirkan mengenai pengingkarannya. Keadaan inilah yang meningkatkan keaktifan
    berpikir orang tersebut, sehingga makin sulit tidur. Seperti suatu kiasan ”dimulut menerima,
    tetapi di dalam hati tidak”. Pikirannya sekarang berubah menjadi memikirkan mengenai
    sulit tidurnya, dimana gangguan utama (yang berasal karena keadaan eksternal) seperti
    terabaikan. Pelaku biasanya merasakan keanehan, mengapa dia dulu mudah tidur, tetapi
    sekarang sulit tidur, tanpa menyadari langsung apa yang telah terjadi padanya. Pelaku telah
    terjebak ke dalam pikiran aktifnya atau pengingkarannya.
    Seperti telah dijelaskan di atas, permasalahan tidurnya telah bergeser dari gangguan
    eskternal, yaitu ”tidur bermasalah karena ada nya pemicu eksternal” menjadi gangguan
    internal, yaitu ”tidur bermasalah karena memikirkan sulit tidur”.
    Dan, biasanya, jika sudah menjadi keadaan internal, penyelesaiannya menjadi lebih sulit.

2. Pelaku mengendalikan diri dengan langsung”memutuskan” kaitan antara sulit tidur
   dengan pengaruh atau gangguan eksternal.

    Dalam hal ini, pelaku sudah memiliki kendali diri agar tidak terlarut dalam perasaan yang
    tidak menyenangkan. Artinya, pelaku memutuskan asosiasi yang terjadi antara proses
    tidurnya dengan gangguan eksternal tersebut.
    Keadaan ini sangat tergantung pada nilai-nilai atau program-program yang sudah dimiliki
    pelaku dalam melakukan pengendalian diri dari pengaruh eksternal.


@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                     6
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                        
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                        Jan 06, 2008


    Sekali lagi, mengendalikan diri dari suasana yang tidak menyenangkan bukan berarti
    melupakannya, tetapi menyiasatinya. Suatu kendali diri baru diketahui setelah kita
    ”mengakui” atau ”menerima” keadaan (perasaan) diri sendiri akibat keadaan tidak
    menyenangkan tersebut. Seperti sebuah ungkapan, kita akan mengerti rasanya senang
    setelah kita memahami bagaimana rasanya sedih, kita akan mengerti rasanya berani setelah
    kita memahami rasanya takut, dan sebagainya.
    Jadi, ketika mengalami suatu keadaan yang tidak menyenangkan, ikuti dulu keadaan
    tersebut, terima dan akui bahwa kita memang sedang mengalami keadaan tersebut. Bukan
    melawannya. Memaksakan diri agar tenang dengan keadaan tersebut sama dengan
    melawannya, karena ”tenang” belum tentu merupakan kendali terhadap keadaan tidak
    menyenangkan tersebut! HINDARI ”TETAPI”!, seperti: saya terima keadaan itu, tetapi
    saya tenang; kejadian itu memang mengesalkan tetapi saya berusaha mengabaikannya. Hal
    ini bertujuan untuk menurunkan tingkat keaktifan pikiran, sehingga kita dapat berpikir suatu
    penyelesaian yang lebih sesuai dengan nilai diri sendiri.
    Setelah menerima atau mengakui keadaan diri saat itu, mulai pikirkan suatu kondisi atau
    suasana hati suatu keadaan, misalnya, kita terbebas dari keadaan yang tidak menyenangkan
    tersebut. Misalnya, ketika takut. Akuilah kondisi takut kita, misalnya dengan mengatakan
    ”Saya memang takut terhadap peristiwa itu”. Setelah itu pikirkan apakah perasaan yang
    terjadi seandainya kita bebas dari rasa takut tersebut, ”Apa yang saya rasakan dengan tidak
    takut?”, misalnya menjadi tenang, atau menjadi berani, atau menjadi senang, atau apapun
    tergantung kita masing-masing. Setelah iut katakan pada diri sendiri ”Misalkan saya tetap
    tenang dalam menghadapi peristiwa itu, saya menjadi lebih .... [suatu pernyataan positif
    tergantung pada anda sendiri]”
    Jika setuju dengan pernyataan di atas berarti anda dapat merasakan suatu emosi tertentu
    (misalnya merasakan lebih tenang) mengenai pernyataan tersebut. Rasakan dan jiwai
    dengan sepenuh hati. Dan bila menyukainya atau dapat larut dengan perasaan yang terjadi
    saat itu, berarti rasa ”tenang” itulah nilai kendali anda terhadap permasalahan yang ada.
    Selanjutnya, cukup ikuti terus perasaan yang terjadi dalam setiap aktivitas


Masalah lainnya:
Medis tidak masalah, masalah mental sudah diselesaikan, tetapi masih mengalami
masalah tidur, mungkinkah?

Ada suatu kompetensi dalam diri manusia yang sudah ada sejak dilahirkan, yaitu kemampuan
beranalisa, beranalogi, kritis, berpikir aturan, dan sebagainya mengenai suatu hal. Kompetensi
ini semakin meningkat seiring dengan tingkat pendewasaan orang itu sendiri. Kondisi
fisiologis/ medis (seperti sistem tubuh, sistem syaraf, sistem kelenjar tertentu dalam tubuh, dan
sebagainya) dan keadaan eksternal (lingkungan) secara tidak langsung dapat meningkatkan
keaktifan kompetensi ini. Dalam tulisan ini, kondisi fisiologis tidak kita bicarakan, karena hal
ini berhubungan erat dengan dunia medis atau kedokteran. (Sekali lagi, jika suatu masalah
dengan dunia medis, maka penyelesaian medislah yang lebih tepat). Yang kita bahas di sini
adalah kondisi eksternal yang dapat mempengaruhi tingkat keaktifan kompetensi tersebut.
Semakin aktifnya kompetensi di atas (pelaku sering beranalisa, beranalogi, kritis, dan
sebagainya) berarti tingkat keaktifan berpikirpun menjadi meningkat. Bila hal ini sering
dilakukan, sengaja atau tidak, secara tidak langsung dapat merubah pola pelaku menjadi
terbiasa dengan berpikir aktif. Pemakaian kompetensi ini dapat menjadi suatu refleks bila
pelaku melatihnya atau membiasakannya, sengaja atau tidak disengaja. Kompetensi ini
sebenarnya bagus bila dijalankan sesuai atau tepat penggunaannya.


@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                     7
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                        
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                      Jan 06, 2008


Dikatakan sesuai bila pelaku tetap merasa nyaman secara psikologis meskipun terjadi
peningkatan keaktifan kompetensinya atau keaktifan berpikirnya. Bila pelaku sering atau
terbiasa tetap merasa nyaman meningkatkan keaktifan kompetensi tersebut, maka akan terjadi
suatu pola baru dalam menggunakan komptensinya, yaitu suatu peningkatan kompetensi
analisis, kritis, logika dan sebagainya.
Dikatakan tidak sesuai, jika pelaku tidak ”menerima” pola barunya meskipun kenyataannya
polanya sudah berubah.

Kembali ke permasalahan tidur. Masalah tidur seperti contoh di atas (baik karena ketidak
sesuaian nilai maupun karena picuan masalah/ gangguan eksternal), biasanya akan berpengaruh
kepada kebiasaan atau pola tidurnya. Apalagi jika masalah itu sudah terjadi cukup lama. Akibat
hal tersebut, pelaku telah memiliki suatu pola atau kebiasaan baru untuk tidurnya.
Jadi, dikaitkan kembali dengan pertanyaan di atas, ”Mungkinkah?” Jawabnya: Sangat
memungkinkan! Meskipun permasalahan mentalnya sudah diselesaikan, mungkin pola tidurnya
masih menggunakan pola tidur yang terakhir yaitu tidur dengan berpikir lebih aktif.
Sekarang tergantung pelaku sendiri, apakah dia ingin kembali ke pola tidur semula atau
mengikuti pola tidurnya yang baru? Dan hal ini tentunya disesuaikan dengan nilai dirinya
sendiri. Selama pelaku merasa tidak nyaman dengan pola yang dipilihnya (meskipun
permasalahan mentalnya sudah diselesaikan) berarti terjadi ketidak sesuaian antara pola tidur
dengan nilai yang digunakan.
Dan ingat, seperti contoh di atas, selama terjadi ”pemaksaan” terhadap suatu pilihan dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan keaktifan berpikir (yang lebih tinggi lagi intensitasnya),
sehingga tidurpun menjadi terganggu.




@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                   8
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                      
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                      Jan 06, 2008


Bagaimana caranya agar ada kesesuaian antara nilai dan pola tidur yang dipilih?

Dalam hypnotherapy untuk kasus kesulitan tidur seperti di atas, ada beberapa metoda yang
dapat digunakan yang tujuan utamanya adalah menselaraskan antara tingkat keatifan berpikir
dengan pola tidur yang digunakan.

Salah satu metodanya adalah sebagai berikut:

Pertama, sekali lagi, perlu kita ketahui bahwa kita mempunyai kompetensi berpikir seperti yang
dijelaskan di atas. Keselarasan antara kompetensi berpikir dan tingkat keaktifan berpikir
terakhir (yang disebabkan pola tidur yang baru), secara otomatis dapat menurukan atau
meniadakan peningkatan keaktifan berpikir. Bingung?
Baik, slakan baca salah satu metoda di bawah ini:

1. Metoda 1: Memahami inti (core) tujuan tidur bagi diri sendiri.

    Beberapa kasus, seperti di atas, biasanya pelaku hanya memikirkan mengenai tidur. Dalam
    hal ini, kita manfaatkan kemampuan atau kompetensi berpikir yang telah dimiliki untuk
    mencari inti atau tujuan tidur.

    Langkah-langkah:

    Pertama:
    Tanyakan pada diri sendiri apa yang didapatkan setelah tidur nyenyak. Agar lebih efektif,
    selalulah berimajinasi (menggambarkan atau seolah merasakan) atas jawaban anda sendiri.
    Dari pertanyaan tersebut perhatikan jawaban anda. Dari jawaban tersebut, pertanyakan lagi
    untuk kondisi emosional yang diinginkan (senang, bahagia, tenang, rileks, dsb). Jika
    jawaban anda belum mengarah ke kondisi emosional yang diinginkan, lakukan pertanyaan
    lagi atas jawaban tersebut.
    Terus lakukan tanya jawab sampai dengan jawaban anda selalu tetap dan bisa anda
    imajinasikan.

    Contoh :

    ”SETELAH saya dapat tidur nyenyak, apa yang saya dapatkan?”
    Misalnya jawabannya adalah: ”Saya INGIN beristirahat”.
    Ganti kata ”INGIN istirahat” dengan ”DAPAT istirahat” atau ”BISA istirahat”.

    Mengapa? Karena kata-kata ”INGIN tidur” biasanya hanya menunjukkan keinginan saja
    atau menempatkan ”istirahat” hanya sebagai objek di luar dirinya, sehingga sulit bagi
    dirinya untuk mengimajinasikan jawaban tersebut. Dan biasanya juga, pelaku cenderung
    belum tentu melaksanakan.

    ”SETELAH saya dapat beristirahat, apa yang sebenarnya saya rasakan?”
    Misalkan jawabannya adalah, ”Saya menjadi sehat”.
    Hilangkan kata ”menjadi”, menjadi ”saya sehat”
    Karena sehat bukan suatu keadaan emosional, tanyakan lagi:

    ”SETELAH saya sehat, apa yang saya rasakan?”
    Misalnya jawabannya adalah: ”saya merasa tenang”

@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                   9
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                      
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                        Jan 06, 2008




    Tanyakan lagi, ”Setelah saya tenang, apa yang saya rasakan?”
    Misalnya jawabannya adalah: ”Saya bahagia”

    Tanyakan lagi, ”Setelah saya bahagia, apa yang saya rasakan?”
    Misalnya jawaban anda sama: ”Saya bahagia”

    Tanyakan lagi untuk meyakinkan, ”Setelah bahagia, apa yang saya rasakan?”
    Misalnya jawabannya tetap, ”Saya bahagia”

    Jawaban atas pertanyaan yang ada adalah selalu sama yaitu ”bahagia”.
    Apakah anda dapat mengimajinasikan dan merasakan jawaban anda sehingga mungkin
    terasa sensasinya seandanya yang anda rasakan itu terjadi sekarang?
    Bila ”ya”, mungkin itu inti tujuan anda tidur. Bila ”tidak”, ulangi lagi; mungkin kata-kata
    yang anda pilih kurang tepat.

    Kedua:
    Sekarang, ajukan pertanyaan berikutnya berdasarkan jawaban dari langkah pertama,
    ”Bahagia seperti apa yang saya dapatkan?”
    Kurang tepat apabila jawaban anda hanya merupakan suatu definisi, seperti ”Bahagia
    adalah kalau saya dapat bangun dengan segar, dan dapat beraktifitas dengan ceria”, dan
    sebagainya, karena anda masih menempatkan ”bahagia” sebagai objek.
    Jadi, gunakan ingatan anda mengenai suatu rasa ”bahagia” seperti yang pernah anda
    rasakan (walau bebearapa saat) dalam suatu peristiwa atau pengalaman yang pernah anda
    alami sebelum ini.
    Misalkan, terimajinasi pernah merasa bahagia seperti sewaktu sekolah dasar ketika berhasil
    membuat menangis teman sekolah. Yang perlu anda ingat bukan peristiwanya, tetapi
    perasaan emosionalnya saja.
    Setelah itu periksa, apakah anda menyukai perasaan seperti yang anda alami sekarang?

    Ketiga:
    Lakukan stimulasi atau memperkuat keadaan di atas dengan menambahkan kata ”Saya
    semakin [core] daripada sebelumya”.
    Contoh:
    ”Saya lebih bahagia daripada sebelumnya”.

    Nyatakan hal ini berulang-ulang sambil berimajinasi (menggambarkan atau seolah
    merasakan pernyataan tersebut sekarang juga).
    Setelah itu, biarkan diri terlarut dengan imajinasi yang anda buat. Atau mungkin ada sensasi
    tertentu dalam diri anda, nikmati sensasi itu. Biarkan apapun yang terjadi pada diri anda,
    yang penting anda nikmati imajinasi dan sensasi yang ada, bahkan mensyukurinya bila anda
    merasa nikmat dengan keadaan tersebut. Larutkan diri anda dengan imajinasi dan sensasi
    yang ada.

    Catatan:
    Dari langkah pertama sampai dengan ketiga, apabila sudah merasakan kantuk, ikuti kantuk
    tersebut. Dan bila, rasa kantuk itu terputus, ulangi langkah dari pertama. Sekali lagi,
    HINDARI PEMAKSAAN, biarkan sensasi muncul dengan sendirinya, dan anda tinggal
    menstimulasinya saja.


@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                     10
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                        
Artikel Hipnoterapi: Permasalahan Tidur                                     Jan 06, 2008


2. Mengalihkan Pikiran (Mind Shifting)

    Cara ini lebih sederhana. Metoda ini dilakukan setelah pelaku terbiasa (mastering)
    menggunakan dengan metoda pertama di atas. Karena permasalahan tidur terjadi akibat
    terlampau tingginya kompetensi berpikir seperti di atas,
    Pikiran yang dialihkan adalah pikiran diri sendiri mengenai:
    ”Mengapa saya sulit tidur”.

    Adapun langkahnya adalah:

    Pertama:
    Terlebih dahulu menerima keadaan sulit tidur, dengan mengGANTI pertanyaan,
    ”MENGAPA saya sulit tidur?” menjadi pernyataan, ”MEMANG saya sulit tidur” atau
    ”Saya terima, MEMANG saya sulit tidur”.
     Pertanyaan ”Mengapa..?” dapat membuat kompetensi berpikir semakin meningkat, selama
    kita belum mengetahui jawabannya.
    Ucapkan pernyataan ”MEMANG saya sulit tidur”, berulang-ulang sampai kita sendiri
    malas bertanya-tanya lagi, dan merasakan suatu emosi, dan tercetus suatu ide (yang anda
    tahu sendiri apa idenya).

    Catatan:
    Hindari untuk ”menenang-nenangkan” diri, atau ”mencoba/ memaksa mengabaikan”
    mengenai masalah tidur anda. Justru, buatlah kesulitan tidur anda menjadi bagian dari
    anda!

    Kedua:
    Sambil mengucapkan pernyataan ”MEMANG, saya sulit tidur” di atas, lemaskan setiap
    bagian tubuh mulai dari bagian atas (kepala) sampai dengan kaki atau sebaliknya dari kaki
    ke kepala. Buatlah seolah pernyataan yang diucapkan diatas membuat tubuh semakin lemas.

    Selanjutnya, teruskan dan biarkan tubuh anda melemas sendiri sambil tetap pasrah dengan
    keadaan tersebut.




@Copyright 2008, NSK Nugroho, MCH CHt, All Right Reserved                                  11
www.nsknugroho.com, e-mail: nnsk@dnet.net.id; nsknugroho@nsknugroho.com                     

								
To top