Docstoc

nsknugroho-Percaya Diri Dalam Membentuk Tubuh

Document Sample
nsknugroho-Percaya Diri Dalam Membentuk Tubuh Powered By Docstoc
					                       Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh




            Hypnotherapy for Weight Management:
        Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh
                              Oleh: NSK Nugroho, MCH, CHt
                                Profesional Hypnotherapist
                                   www.nsknugroho.com


Secara medis sering disampaikan, bahwa tubuh yang sehat adalah ketika seseorang memiliki
perbandingan ukuran yang tepat antara berat dan tinggi badan, beserta usianya. Tetapi, apakah
hanya dengan komposisi tersebut lantas orang sudah dapat dikatakan ideal? Bagaimana dengan
proporsi bentuk tubuh, seperti lingkar dada, lingkar lengan, lingkar perut, dan sebagainya?
Karena ada juga yang mengatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki tubuh ideal ketika
memiliki proporsi yang baik antara ukuran kepala, lingkar dada, lingkar pinggang, lingkar
pinggul, dan seterusnya. Apakah semua orang di dunia ini pasti menyukai proporsi tertentu,
misalnya dada bidang perut kecil?
Jawabannya: belum tentu! Mungkin anda sangat fanatik dan menyukai tubuh seseorang sebut
si A karena dadanya yang bidang; namun, mungkin, orang lain malahan tidak menyukai
bidangnya dada si A, dia bilang tidak proposional. Mungkin anda mempunyai -menurut anda-
tubuh yang langsing, tetapi sangat memungkinkan ketika anda berada dalam komunitas
tertentu, mereka menduga anda sedang sakit karena mungkin terlalu kurus menurut kebiasaan
mereka. Anda menjadi merasa tidak nyaman. Atau mungkin juga, ketika anda berada dalam
komunitas lainnya, mereka mengatakan anda masih terlalu gemuk! Anda juga merasa tidak
nyaman.

Nah, mana yang benar? Semua relatif, tergantung pada persepsi diri kita masing-masing.
Mengenai proporsi dan komposisi, setiap kultur memiliki persepsi masing-masing, dan
mungkin juga berubah dengan seiringnya perubahan zaman. Misalnya, untuk kultur tertentu,
tubuh gemuk menandakan kesuburan dan kesejahteraan, maka orang-orang di sana menjaga
tubuhnya agar tetap gemuk.
Saya lebih senang mengatakan bahwa tubuh yang ideal adalah yang sesuai atau tepat bagi diri
kita baik secara fisik maupun secara psikis.

Oleh karena itu, dalam judul diatas, saya sengaja mengatakan “Mengatur Bentuk Tubuh”,
bukan “Melangsingkan Tubuh”, karena adanya kerelatifan tersebut.
Pernahkah anda mengatakan bahwa diri anda masih terlalu gemuk, sementara itu orang lain
mengatakan bahwa anda sudah terlalu kurus? Di sini anda masih mengalami masalah
psikologis meskipun proporsi dan komposisi tubuh anda sudah tepat.

Ada juga beberapa orang yang mengatakan ingin melangsingkan tubuh karena alasan
kesehatan, meskipun hasil pemeriksaan dokter dikatakan sehat. Belum lagi, proporsi tubuh dan
komposisi tubuh sudah ideal, namun si empunya merasa stress, bahkan sakit-sakitan.
Luar biasa, manusia memang unik!

Untuk itulah, perlu sekali lagi disampaikan di sini bahwa tubuh yang dikatakan ”ideal” itu
relatif dan sangat tergantung persepsi kita masing-masing.

@Copyright NSK Nugroho, MCH, CHt, 2007, www.nsknugroho.com;                                1
Email: nsknugroho@yahoo.com
                       Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh



Mengenai bentuk tubuh dapat ditinjau dari berbagai hal, yaitu:

1. Kondisi Fisik Dasar (dalam penjelasan selanjutnya disebut sebagai KONDISI FISIK):
   Yaitu suatu keadaan fisik yang sudah ada sejak lahir, seperti ukuran tulang, keadaan mata,
   lengan dan sebagainya. Termasuk kondisi organ-organ tubuh seperti kemampuan thyroid,
   kemampuan dasar menghasilkan kelenjar. Keadaan ini BERBEDA untuk tiap orang.
   Misalnya, karena Kondisi Fisik Dasar dari sistem pencernaannya, ada orang yang mampu
   mencerna makanan dengan cepat dan ada yang lambat. Dan banyak contoh lagi.

2. Perbandingan Ukuran Tubuh terhadap usia (dalam penjelasan selanjutnya disebut sebagai
   KOMPOSISI):
   Yaitu suatu perbandingan ideal antara tinggi dengan berat tubuh beserta usia, seperti acuan
   yang sering disampaikan oleh para ahli medis. Misalnya untuk orang berusia 40 tahun,
   komposisi yang memenuhi syarat atau baik adalah berat badan kira-kira = tinggi - 100

3. Proporsi Ukuran Tubuh (dalam penjelasan selanjutnya disebut sebagai PROPORSI):
   Yaitu suatu keadaan atau bentuk fisik, di luar kondisi fisik dasar di atas, yang terbentuk
   setelah manusia menjalani kehidupan sosialnya. Misalnya ketika seseorang masih muda
   ukuran lingkar perutnya 25, dan setelah menikah lingkar perutnya menjadi 28.
   Khusus PROPORSI, acuan yang digunakan sangatlah relatif. Tergantung acuan yang
   digunakan pelaku sendiri yang biasanya dibandingkan dengan acuan lingkungan di mana
   pelaku berada. Misalnya, seorang wanita mengatakan bahwa lingkar pinggang yang baik
   adalah 60, karena lingkungan pergaulannya rata-rata berlingkar pinggang 60, atau dia
   mengacu kepada seseorang yang menjadi idolanya yang ukuran pinggangnya 60.


Kaitan Bentuk Tubuh dengan Keadaan Mental.

Keterkaitan Pertama: KONDISI FISIK dengan Keadaan Mental
Berkaitan dengan Keadaan Mental seseorang, maka KONDISI FISIK berpengaruh langsung
atau tidak langsung kepada Keadaan Mental kita, dan tidak sebaliknya. Sehingga, tergantung
bagaimana kita menyikapinya terhadap KONDISI FISIK kita.
Seperti halnya, mungkin ada orang yang merasa rendah diri karena kakinya panjang sebelah,
atau tubuhnya terlalu besar. Tetapi tidak ada orang yang ukuran tulangnya berubah karena
stress.




Keterkaitan Kedua: KOMPOSISI-PROPORSI dengan Keadaan Mental
Sedangkan KOMPOSISI dan PROPORSI saling berpengaruh (resiprokal) atau saling terkait
dengan keadaan mental ketika terjadi perubahan di salah satunya.




Keadaan Mental akan berubah ketika terjadi suatu pembandingan antara keadaan diri pelaku
dengan suatu informasi baru dari luar dirinya, baik langsung maupun tidak.


@Copyright NSK Nugroho, MCH, CHt, 2007, www.nsknugroho.com;                                 2
Email: nsknugroho@yahoo.com
                        Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh


Misalnya ketika seseorang yang berbadan besar karena terbiasa makan banyak mungkin akan
merasa tidak nyaman ketika dia membaca informasi mengenai bahayanya badan besar karena
makan terlalu banyak.
Sebaliknya, KOMPOSISI dan PROPORSI akan berubah, misalnya beratnya bertambah, dan
lingkar perutnya bertambah karena akhir-akhir ini pelaku merasa stress dengan pekerjaannya
sehingga intensitas makannya bertambah. Atau sebaliknya menjadi kurus, karena makannya
berkurang.

Karena dalam bahasan ini kita berbicara mengenai ”Membentuk Tubuh”, maka kita
menggunakan Keterkaitan Kedua, yaitu keterkaitan KOMPOSISI-PROPORSI dengan Keadaan
Mental.

Dari pengalaman di klinik dalam menangani keluhan pembentukan tubuh (melangsingkan atau
menggemukkan), permasalahan tiap orang dapat dibagi menjadi 4 kategori, yaitu:

1.   KOMPOSISI-PROPORSI memenuhi syarat, mental tidak bermasalah
2.   KOMPOSISI-PROPORSI memenuhi syarat, Mental bermasalah
3.   KOMPOSISI-PROPORSI tidak memenuhi syarat, mental tidak bermasalah
4.   KOMPOSISI-PROPORSI tidak memenuhi syarat, Mental bermasalah

Catatan:
”KOMPOSISI yang memenuhi syarat” di sini berarti KOMPOSISI nya memenuhi sesuai acuan
yang dianjurkan para ahli medis. Sedangkan ”PROPORSI yang memenuhi syarat” berarti
sesuai dengan acuan yang sedang berlaku saat itu.

1. KOMPOSISI-PROPORSI memenuhi syarat, mental tidak bermasalah
   Saya kira kita tidak perlu membicarakan kategori ini, karena dalam keadaan ini pelaku
   tidak merasakan masalah apapun mengenai bentuk tubuhnya.

2. KOMPOSISI-PROPORSI memenuhi syarat, Mental bermasalah
   Adalah di mana seseorang selalu merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya
   padahal KOMPOSISI-PROPORSI tubuhnya sudah baik.
   Biasanya keadaan ini muncul ketika pelaku merasa terbandingkan dengan nilai lain di luar
   dirinya, baik secara langsung maupun tidak.
   Misalnya secara langsung dia mengalami sendiri ketika melihat orang lain yang menjadi
   saingannya (bukan saingan dalam keadaan bentuk tubuh, tetapi prestasi) lebih diidolakan
   dari dirinya. Lalu dia berprasangka buruk pada dirinya seperti mengatakan, “Ini pasti gara-
   gara badan saya tidak bagus!”
   Atau secara tidak langsung, seperti yang paling sering terjadi, seorang istri merasa tersaingi
   ketika suaminya mengagumi seorang artis wanita. Si istri menjadi merasa terbandingkan,
   dan, mungkin karena sifatnya yang selalu tidak mau kalah, secara diam-diam berambisi
   untuk mengalahkan bentuk tubuh artis wanita yang dikagumi suaminya. Padahal di sisi
   lain, apa yang dikagumi suaminya bukan keadaan tubuh si artis, tetapi mungkin
   prestrasinya yang luar biasa.

     Pada salah satu contoh kasus pelangsingan ada seorang wanita berumur 30 tahun yang
     selalu mengeluhkan mengenai keadaan tubuhnya. Dia selalu merasa tidak nyaman dengan
     keadaan tubuhnya seperti selalu mengatakan bahwa dirinya terlalu gemuk, lingkar dadanya
     terlalu kecil, dan sebagainya. Padahal secara komposisi tinggi badannya 160 dan beratnya
     58 kg. Proporsi tubuhnya, seperti yang terlihat, lengan, bentuk badan. Semua memenuhi

@Copyright NSK Nugroho, MCH, CHt, 2007, www.nsknugroho.com;                                    3
Email: nsknugroho@yahoo.com
                      Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh


   syarat, untuk dikatakan langsing. Dia selalu beralasan kesehatan setiap ditanya apa yang
   membuatnya ingin langsing. Padahal pemeriksaan laboratorium dan dokter sama sekali
   tidak menunjukan suatu masalah. Untuk mencapai keinginannya di minum beberapa obat
   pelangsing. Sehingga, apa yang terjadi? Tubuhnya baik, tetapi wajahnya terlihat kusut.
   Setelah dilakukan terapi, diperoleh informasi bahwa yang bersangkutan (di bawah
   sadarnya) selalu merasa terbandingkan dengan kakaknya sejak dia berusia 12 tahun. Dia
   merasa bahwa kakaknya lebih diperhatikan orang, karena pada saat usia itu tubuh wanita
   itu memang lebih gemuk dari pada kakaknya. Perasaan terbandingkan ini selalu terbawa
   sampai sekarang meskipun tubuhnya sekarang sudah jauh lebih baik secara KOMPOSISI
   dan PROPORSI.
   Saya mengatakan bahwa orang seperti ini telah terjebak dengan pemikirannya, atau lebih
   mudah dikatakan sebagai “terhypnosis” oleh pikirannya sendiri untuk selalu merasa tidak
   nyaman.
   Perasaan merasa terbandingkan ini biasanya muncul karena adanya suatu ambisi yang
   sebenarnya pelaku sendiri tidak menyadari apa yang sebenarnya dia inginkan.
   Misalnya seperti kasus di atas, setelah dieksplorasi klien di atas sebenarnya ingin
   merasakan suatu perasaan ”senang karena bebas”, karena selama ini dia selalu merasa
   ”terikat” dengan suatu keadaan. Setelah dilakukan terapi untuk mencapai rasa “senang
   karen bebas” nya, klien menjadi nyaman, percaya diri, dan senang dengan keadaan bentuk
   tubuhnya sekarang, bahkan mensyukurinya. Seminggu kemudian ketika bertemu saya lagi,
   raut wajah kilien menjadi lebih berseri. Dia telah menemukan keinginan dirinya yang
   sesungguhnya.

3. KOMPOSISI-PROPORSI tidak memenuhi syarat, mental tidak bermasalah
   Pada kondisi ini klien sama sekali tidak bermasalah secara mental. Dia sudah tahu apa
   tujuan dirinya, namun karena keterbatasannya yang ada saat ini dia belum sempat atau
   belum mampu melakukannya sekarang. Misalnya untuk pelangsingan, sebenarnya dia
   sudah tahu bahwa dia mampu untuk langsing, namun karena sekarang dalam taraf
   menyusui anaknya maka dia tunda terlebih dulu usahnya untuk mengurangi makan. Dia
   sangat percaya diri dengan bentuk tubuhnya, bagaimanapun KOMPOSISI dan PROPORSI
   nya. Dia tidak terpengaruh dengan keadaan sekelilingnya. Acuan KOMPOSISI dan
   PROPOSI yang sesuai dengan persepsinya adalah dirinya sendiri. Dia tahu apa kekurangan
   dan kelebihannya saat ini. Biasanya dia tidak peduli apa yang dikatakan orang lain dengan
   keadaan bentuk tubuhnya, selama dia merasa sehat-sehat saja. Dan dia selalu merasa yakin
   bahwa dia dapat melakukannya dengan mudah apabila, misalnya, dia berniat untuk
   menurunkan atau menambah berat badannya. Dia tidak terpengaruh lingkungannya sama
   sekali. Orang seperti ini, meskipun dia hidup sendiri di hutan, dia akan tetap kukuh pada
   tujuannya untuk membentuk tubuhnya lebih baik.
   Dan apabila orang tersebut melakukan terapi untuk mengatur bentuk badannya, biasanya
   benar-benar karena keinginannya sendiri atau hanya ingin mencoba-coba saja. Artinya,
   apabila bentuk tubuhnya tidak berubah dia akan merasa biasa-biasa saja. Mungkin dia
   mengatakan seperti ”Ya sudah, memang dikasihnya badan seperti ini”. Dan biasanya,
   secara umum, apabila pelaku tidak mengalami masalah medis, biasanya secara otomatis
   suatu tindakan dan perilakunya akan sesuai dengan keinginannya dalam merubah bentuk
   tubuh lebih baik. Bahkan pada beberapa kasus, pelaku seolah tidak peduli lagi bahwa
   KOMPOSISI-PROPORSI tubuhnya sudah berubah menjadi bagus. Pelaku hanya
   merasakan percaya diri dan senang. Pelaku merasa nyaman-nyaman saja atas perubahan
   bentuk tubuh yang terjadi.




@Copyright NSK Nugroho, MCH, CHt, 2007, www.nsknugroho.com;                               4
Email: nsknugroho@yahoo.com
                       Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh


4. KOMPOSISI-PROPORSI tidak memenuhi syarat, Mental bermasalah
   Keterkaitan ini dapat berangkat dari karena KOMPOSISI-PROPORSI yang tidak
   memenuhi syarat sehingga keadaan mental bermasalah, atau karena keadaan mental
   bermasalah maka KOMPOSISI-PROPORSI menjadi tidak memenuhi syarat.
   Kasus-kasus seperti inilah yang sering ditemui di klinik.
   Seperti telah dicontohkan di atas, seseorang karena mengalami masalah mental tertentu
   seperti stress, atau depresi, atau traumatik, atau yang lainnya, tiba-tiba perilaku dan
   tindakan pelaku ikut berubah juga. Misalnya kebiasaan mengemilnya bertambah, malas
   menggerakkan tubuh, dan sebagainya.
   Sebaliknya, misalnya PROPORSI bentuk tubuhnya memang ternyata tidak sesuai dengan
   acuan umum dan mungkin karena sesuatu hal. Misalnya lingkaran perutnya bertambah
   besar karena setelah melahirkan, atau ukuran lingkar lengannya telalu besar menurut
   ukurannya.
   Dalam keadaan seperti ini, pelaku AKAN SELALU TERJEBAK dengan keadaanya
   sekarang. Dan yang luar biasa, semakin dia semakin terjebak KOMPOSISI-PROPORSI
   nya semakin bermasalah, dan hambatan mentalnya semakin tebal. Jika keadaan ini sudah
   terlalu akut maka akan timbul penyakit-penyakit medis. Permasalahan utama karena berat
   badan dpat berubah menjadi persoalan medis lainnya seperti darah tinggi, terlalu tingginya
   kadar kolersetorl dan sebagainya.
   Orang yang berada dalam keadaan ini, biasanya perilaku atau tindakannya mirip orang
   yang tidak bermasalah. Seperti fenomena gunung es, perilaku pelaku sepertinya tenang-
   tenang saja, namun bila setelah digali, keluarlah seluruh permasalahannya.
   Kategori ini biasanya berawal karena pelaku tidak mau menerima kenyataan yang dihadapi,
   sehingga melakukan pelarian-pelarian yang umumnya justru malahan merusak keadaan.

   Misalkan dalam sebuah contoh kasus pelangsingan di klinik. Seorang ibu rumah tangga
   mengeluhkan badannya yang terlalu gemuk. Dia mengatakan bahwa dia terlalu sering
   ngemil. Dan alasan pertama ketika ditanyakan apa yang membuat dirinya ingin langsing
   adalah karena alasan kesehatan, dimana akhir-akhir ini dia sering merasa pusing dan sesak
   napas. Setelah dieksplorasi, peningkatan berat tubuhnya terjadi karena dia tidak lagi
   mengontrol makannya, karena selalu memikirkan suaminya yang sering pergi ke luar kota.
   Dia sangat menginginkan ketenangan karena sekarang sangat khawatir suaminya yang
   sering dinas ke luar kota akan selingkuh seperti suami temannya. Untuk mengatasi keadaan
   ini, sebagai pelarian, tanpa sengaja makannya jadi tidak terkontrol. Dia menjadi lebih
   sering ngemil dan makan es krim.
   Ketika proses terapi, klien diajak untuk menerima kenyataan mengenai dirinya (suami yang
   sering tugas ke luar kota, bahwa yang pernah selingkuh adalah suami temannya, bukan
   suaminya, dsb), sehingga setelah terapi klien merasakan suatu ketenangan seperti yang
   diinginkannya. Dan luar biasa, setelah dia dapat merasa tenang, pola makannya berubah
   dengan sendirinya, dan KOMPOSISI-PROPORSI tubuhnyapun membaik, demikian juga
   dengan raut mukanya, lebih berseri.

Dari keempat kategori di atas, terbaca bahwa masalah mental menjadi hal yang utama.
Kemudian, sebelum melakukan langkah memperbaiki bentuk tubuh, pelaku harus menyadari
apa akar masalah sebenarnya yang mendasari masalah mentalnya. Akan lebih baik lagi, setelah
menyadarinya, pelaku mampu mengendalikannya. Tentunya, pengendalian yang tepat atau
sesuai dengan masalahnya. Misalnya, masalah kita sebenarnya adalah rendah diri, kemudian
solusinya adalah berolah raga. Mungkin KOMPOSISI-PROPORSI yang diinginkan tercapai,
tetapi pelaku masih merasa ”ada yang kurang”. Atau bahkan, pelaku sendiri seolah tidak
menyadari lagi bahwa KOMPOSISI-PROPORSI tubuhnya telah berubah baik.

@Copyright NSK Nugroho, MCH, CHt, 2007, www.nsknugroho.com;                                5
Email: nsknugroho@yahoo.com
                       Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh


Dalam keadaan ini, saya mengatakan bahwa respons pelaku termasuk kategori ”I don’t know
what I want; I just do what I do” (penjelasan lebih lengkap mengenai kategori respons, lihat
buku saya berjudul ”Transformasi Diri: Memberdayakan Diri Melalui Hipnoterapi”, NSK
Nugroho – Penerbit Gramedia).
Usaha yang kita lakukan hanya ”menduplikasi” atau berdasarkan ”apa kata orang” atau ”apa
kata buku”, padahal mungkin saran tersebut belum tentu cocok bagi diri kita. Ingat, semua
buku bagus dan baik, namun kita harus mengeceknya apakah hal itu cocok atau sesuai dengan
diri kita? Tidak ada yang paling bagus atau jelek, tidak ada yang paling benar atau salah,
semua relatif. Yang paling benar adalah mana yang paling sesuai atau cocok dengan diri kita
sendiri.


Bagaimana kita tahu ada atau tidaknya akar masalah mental tertentu yang menyebabkan
tubuh kita seperti ini?Dan bagaimana merubahnya agar tubuh kita terbentuk sesuai dengan
keinginan kita?

Pertama-tama sekali kita harus mau jujur pada diri sendiri. Selama kita tidak jujur, maka
solusi masalah kita pun bukan yang ”jujur” seperti masalah kita. Sangat sulit bagi kita untuk
melakukan suatu usaha memperbaiki bentuk tubuh sebelum kita mengetahui inti permasalahan
sebenarnya. Solusinya palsu. Atau, meskipun bentuk tubuh yang seperti kita inginkan tercapai,
kita selalu merasa tidak nyaman, seperti merasa stress, depresi, dan sebagainya sehingga
mungkin menimbulkan simptom lain seperti masalah kesehatan. Badan bagus tapi wajah kuyu!
Hal ini terjadi karena kita sendiri tidak tahu apa sebenarnya keinginan kita untuk mencapai
bentuk tubuh yang menurut kita ideal.

Kedua, tempatkanlah diri anda sebagai orang lain ketika menilai mengenai diri anda. Anda
dapat melakukannya, sambil bercermin, dan apa yang di hadapan anda tersebut adalah anda,
sedangkan anda sendiri bukan anda. Silakan nilai diri anda yang dicermin dari sudut pandang
orang lain.

Ketiga, perluasalah wawasan anda untuk tidak terpaku pada satu acuan saja. Carilah opini lain,
carilah model lain. Hal ini bertujuan agar diri tidak merasa terbandingkan. Misalnya saat ini
yang menjadi acuan anda adalah komunitas yang selalu mendambakan PROPORSI tubuh
dengan ukuran tertentu. Gantilah acuan anda ke arah komunitas lainnya yang mengidolakan
PROPORSI dengan ukuran berbeda. Kemudian perhatikan, amati dan rasakan seolah anda
berada dalam komunitas berbeda tersebut.

Keempat, tetapkan tujuan anda dalam hidup ini yang berkaitan dengan bentuk badan anda.
Apakah yang sebenarnya anda inginkan dalam hidup ini dengan keadaan tubuh seperti yang
anda idam-idamkan. Berbahagia? Percaya Diri? Bebas? Senang? Atau yang lainnya. Setiap
orang memiliki kekhasan sendiri dalam mendefinisikan tujuan hidupnya. Setiap orang
mempunyai istilah atau kata-kata sendiri.

Kelima, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah anda percaya bahwa anda sendiri dapat
mencapai tujuan itu?” Jika ya, tanyakan lagi, ”Apa yang membuat anda sendiri percaya?”
Selama jawaban anda sendiri masih tergantung orang lain, seperti mengatakan “Saya bisa
mencapaikan ASAL suami saya memahami saya” atau “Saya bisa percaya KALAU lingkungan
saya juga mendukung” , maka anda belum menemukan tujuan diri anda sebenarnya. Untuk itu
bisa dibantu dengan anda mengimajinasikan bahwa anda seolah sendirian di hutan, tidak ada
siapapun, lalu tanyakan “Apa yang saya inginkan?”

@Copyright NSK Nugroho, MCH, CHt, 2007, www.nsknugroho.com;                                 6
Email: nsknugroho@yahoo.com
                       Peranan Mental dalam Mengatur Bentuk Tubuh



Keenam, tetapkan langkah-langkah anda untuk mencapai bentuk tubuh seperti yang anda
inginkan menurut anda sendiri. (ingat, bukan karena orang lain). Tentunya langkah ini harus
wajar, tidak mengada-ada.

Terakhir, buatlah pernyataan diri mengenai bentuk tubuh yang anda inginkan, misalnya,
”Saya semakin bahagia hari tubuh saya semakin ideal”. Dapatkah anda mengimajinasikan
dengan emosional mengenai keadaan ini? Jika ya, berarti itu tujuan anda. Kalau perlu tuliskan,
dan anda simpan tulisannya dalam dompet atau mungkin di kamar tidur anda, sehingga anda
dapat mudah membacanya setiap hari.

Yang penting di sini anda selalu menikmati dan mensyukuri pernyataan yang anda buat.
Biarkan tindakan dan perilaku anda bekerja sesuai emosi yang uncul ketika anda menikmati
dan mensyukuri pernyataan yang anda buat. Sering-sering anda lakukan. Mungkin anda seolah
tidak menyadari langsung perubahan apa yang terjadi pada diri anda.


                                           -- () --




@Copyright NSK Nugroho, MCH, CHt, 2007, www.nsknugroho.com;                                 7
Email: nsknugroho@yahoo.com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:34
posted:12/2/2012
language:Malay
pages:7