Docstoc

NATAN DAN DASTER BU ENDANG

Document Sample
NATAN DAN DASTER BU ENDANG Powered By Docstoc
					                            NATAN DAN DASTER BU ENDANG
                              Udin Suchaini / suchaini@gmail.com
                                          Cerpen 2012


Pagi itu terdengar kokok ayam dengan nyaring, suara adzan subuh membangunkan dan bergeraklah
Natan dari kasur empuk yang masih baru. Natan beranjak keluar mengikuti suara gemericik air di
beranda depan.
Berdiri tertahan sempoyongan menahan kantuk yang masih teramat sangat, Natan pun mencoba
meraih handuk di sela-sela gantungan baju dekat beranda. Handuk di tangan ditaruh di pundak dan
mulai berjalan mencari-cari lokasi kamar mandi untuk segera bersuci dan sholat subuh fikirnya.
Sebelum    mencapai       kamar      mandi,     terdengar   teriakan  yang    sangat   kencang
(Aaaaaaaaaa….!!!!!!!!!!!!!!) dari seorang wanita… “Ibu Kos”…. Ya, memang ibu kos (Bu Endang
namanya)…. Bukannya minta maaf, karena telah membuat kaget, Natan ganti berteriak sekencang-
kencangnya “Maling!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”. Tak ayal seluruh penghuni kos keluar semua dan
menuju sumber teriakan itu berasal.
Bu Endang akhirnya ambil sapu dan memukuli Natan, saat itu Natan baru tersadar, Dia sudah tidak
dirumah, sudah tidak lagi di kampung, sudah ada di Kota Metropolitan, Ibukota negeri ini, sudah
tinggal di rumah orang, sudah tinggal di rumah Bu Endang.
Suara kokok ayam yang membangunkannya? Itu hanya suara alarm Farid, teman kamar sebelahnya
yang memang di beri suara ayam berkokok, tapi Natan masih tidak tahu kalau itu suara alarm dari
handphone. Jaman sekarang anak kecil sudah menggunakan handphone sendiri, tetapi Natan karena
rasa patuhnya sama orang tua yang tidak mau membelikan handphone alasannya pemborosan
menjadikan Dia semakin GaPTeK (gagap teknologi? Bukan… Gak punya, Pinjam Tetangga
Kamar). Kata bapak, “beli HP borosin uang untuk beli pulsa, kalau mau sms atau telfon pinjam HP
kawan kamu saja”.
Natan berganti merintih kesakitan karena merasa sakit gara-gara dipukul gagang sapu oleh Bu
Endang. Adegan itu sontak jadi tontonan penghuni kos yang jumlahnya belasan, tak terkecuali
Farid. Natan pun merasa, pasti setelah kejadian itu banyak yang memperbincangkan Dia.
Teman-teman kos belum mengenal Natan, karena memang baru datang malam sebelumnya hanya
dijamu oleh Farid. Farid yang bertubuh tegap dan beramput cepak seperti tentara dengan wajah
boros, banyak yang tidak percaya kalau Farid masih berumur 20 tahun.
Ada juga yang merasa iba, Vera seorang wanita yang manis berlesung pipit yang menawan. Natan
hanya sekilas melihat dan tak menghiraukannya lagi karena menahan sakit.
Berbeda dengan wanita di sebelahnya, Nita agak gemuk tapi kenceng yang selalu menjadi menjadi
provokator bagi teman-temannya. Saat Nita telat bayar kos, dia selalu memanas-manasin teman-
teman kosnya supaya dibayarkan akhir bulan, atau buat belanja-belanja dulu. Saat ini menjadi Nita
meriuhkan suasana dan berteriak, “Terus bu, Terus, Pukul malingnya sampai mampus!”.
Natan sendiri teringat ketika Dia dipukul dengan gagang sapu oleh bapak-nya gara-gara telat
bangun untuk sholat subuh, saat itu Natan masih terlelap dengan sebuah mimpi yang
mempertemukannya dengan pujaan hatinya. Tapi mimpi itu harus sirna gara-gara rasa sakit di kaki
dan lengan gara-gara pukulan gagang sapu dan kemarahan bapak-nya. Bapak selalu bilang, “Rizki-
mu di makan ayam kalau bangun kesiangan”. Natan hanya selalu mengangguk dan tidak akan
membantah kata-kata bapak-nya. Kata guru ngajinya “Jangan membantah apa yang dikatakan
orang tuamu, nanti kamu kualat”.
Setelah tertegun agak lama, Farid tersadar dan akhirnya ambil suara untuk menyadarkan Bu Endang
bahwa yang dipukul itu Natan. Farid memang orang paling berani di antara penghuni kos yang lain,
tak ada yang berani berbicara pada Bu Endang secara langsung selain saat sudah bayar kos di awal
bulan, takut kalau-kalau ditagih uang kos. Maklum rata-rata penghuni kos merupakan mahasiswa.
Harus nunggu kiriman, kalau kiriman telat siap-siap kena marah Bu Endang.
Farid sendiri anak orang kaya yang tidak pernah telat bayar. Dia juga bayar lebih tinggi lima puluh
ribu rupiah satu kamarnya diantara penghuni kos lain. Kamarnya juga mewah ada springbed.
Penghuni kos lainnya satu kamar untuk berdua, untuk ukuran mahasiswa lumayan bisa lebih irit.
Sebenarnya Natan ngekos bukan untuk kuliah, tetapi lebih tepatnya dipaksa Bapaknya untuk
mencari rizki sendiri, karena saudara-saudaranya sudah bekerja. Setelah lulus SMA, saudara-
saudaranya langsung bekerja, ada yang jadi buruh pabrik, ada yang jadi mandor ada juga yang jadi
tukang ojek. Tetapi tidak bagi Natan, setelah lulus SMA Natan berniat melanjutkan kuliah, dan
memilih menganggur karena orang tua tidak punya biaya.
Natan disuruh bekerja di tempat teman bapaknya di kota jadi tukang fotocopy. Natan yang tertekan,
gara-gara selalu dimarahi Bapaknya setalah dua tahun jadi pengangguran di kampong. Selalu
disbanding-bandingkan dengan saudara lainya yang sudah bisa member “upeti” ke Bapaknya, buat
tambah beli gula dan garam di dapur.
Natan sendiri sibuk mengirim lamaran beasiswa kesana-sini demi melanjutkan, entah sudah berapa
proposal dia tulis. Natan selalu optimis, pasti akan ada yang membalas lamarannya. Pertanyaan
Bapaknya setiap hari juga selalu sama, “Mana beasiswanya?”. Jawabannya juga selalu sama,
“Besok pak”. Selama dua tahun itu, lamaran dikirim keberbagai pengusaha, pabrik, orang kaya dan
banyak lagi, Selama dua tahun itu juga membuat Bapaknya uring-uringan dan selalu dibanding-
bandingkan dengan saudara-saudaranya.
Natan sudah tidak punya labuhan hati di rumah, simboknya yang selalu ngayomi sudah tiada saat
Natan kelas 2 SMA. Setelah kehilangan simbok, prestasi Natan selalu menurun. Nilai-nilai di
sekolah yang awalnya hanya standar pada nilai rata-rata kelas, di akhir sekolah nilainya turun.
Bagaimana orang akan memberi beasiswa? Natan sendiri tidak lolos SPMB.
Natan orang yang ambisius, dia selalu yakin apa yang ada difikirannya. Tetapi saat ini, Natan
dipaksa mengalah dengan keadaan. Dia harus menerima kenyataan bahwa tidak ada yang mau
membiayai kuliahnya. Natan juga harus menerima kenyataan, harus mengikuti kata Bapaknya.
Natan bekerja ke kota jadi tukang fotocopy, meskipun tidak punya bakat. Natan-pun berangkat ke
kota dengan uang saku dari kakaknya untuk ngekos di daerah dekat tempat fotocopy, diantar oleh
Bapaknya.
Di kos hari pertama, Natan diselamatkan oleh Farid dari pukulan gagang sapu oleh Bu Endang. Bu
Endang akhirnya tersadar kalau yang dipukul adalah Natan, dan akhirnya menghentikan
pukulannya. Beliau meminta kain yang tersampir di pundak Natan, dan ternyata kain yang dikira
handuk ternyata adalah daster Bu Endang. Akhirnya, pagi itu semua penghuni kos kecuali Natan,
mengawali hari dengan tertawa. Sungguh malang nian nasib Natan pagi itu.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: CERPEN
Stats:
views:15
posted:11/30/2012
language:
pages:2