Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Jika Rakyat Mampu Mengeluh

VIEWS: 45 PAGES: 2

									Opini Pengembangan DIri 2012


                          Jika Rakyat Mampu Mengeluh
                          Udin Suchaini / suchaini21051986

Negeriku sayang negeriku malang. Parodi pejabat yang bermatabat, tapi belum pernah
mengharapkan rakyatnya menjadi hebat. Masyarakat pandai di negeri orang, menjadi tak
berarti di negeri sendiri. Banyaknya ilmuan kerja di orang, atau karena tak berguna di
Negeri sendiri?
Bertriliun-triliun rupiah digunakan untuk pembangunan infrastruktur memenuhi
kebutuhan para pejabat, bukan untuk mengembangkan industri untuk memenuhi
kebutuhan kerja rakyat. Rakyat menganggur menanti lowongan kerja, menghadapkan
mereka untuk memilih migrasi ke Luar Negeri karena menjanjikan hidup yang lebih baik.
Benar saja, pemerintah mementingkan negosiasi pembayaran upah untuk TKI di luar
negeri daripada membahas cara meningkatkan UMR yang layak di Dalam Negeri.
Rakyat memilih pejabat untuk memimpin dan menyuarakan aspirasi, sudah berubah jadi
lahan pe-legal-an kekayaan diri. Masyarakat seperti dianggap bodoh untuk untuk
menerima suatu alasan yang sangat menyakitkan. Bagaimana tidak? Kolam renang di
gedung DPR dengan alasan bisa membantu pemadaman kebakaran? Fasilitas spa untuk
relaksasi diri, tapi agenda kerja tak pernah sampai ketelinga publik menjadi berarti.
Rakyat harus bangga karena orang yang mereka pilih sudah menduduki kursi yang
mereka tentukan sendiri. Pejabat semakin berbangga diri duduk di kursi yang nyaman
dan bertugas bersuara karena rakyat memilih mereka. Sekarang apa yang terjadi? Janji-
janji kampanye seolah menjadi angin lalu, serasa tidak ada rakyat yang merasakan hasil
kerjanya.
Kalah dengan kuli
Kehidupan artis yang penuh glamor terbawa sampai kekehidupan bernegara yang
seharusnya fokus kepada rakyat dan negara, bukan kepada kehidupan pribadinya.
Anggota Dewan yang Terhormat dipilih untuk melakukan kontrol terhadap kinerja
pemerintahan, tapi memiliki agenda sendiri dengan rumah aspirasi senilai 112 Miliar.
Rakyat hanya mampu menonton dan bertanya-tanya, apa sih kerja mereka? Sidang
paripurna saja banyak yang bolos.
Fasilitas spa dan panti pijat pada fasilitas gedung baru membuat rakyat semakin perih,
saat tetes-tetes keringat pembayaran pajak dinikmati segelintir orang yang terpilih.
Seolah mereka tutup mata terhadap pengemis, pengamen tukang becak, sopir bajaj, buruh
bangunan, buruh-buruh pertanian, TKI, tukang ojek dan masih banyak lagi. Kerja cukup
duduk dan rapat menyuarakan aspirasi menjadi lebih berat dari kuli panggul yang setiap
hari harus menyisihkan uangnya untuk pijit karena urat mereka keseleo.
Pemerintah mengeluh ke publik karena banyaknya kritik, berharap rakyat empati dan
mengerti keluh kesah pemimpinnya atau sebagai ajang meningkatkan popularitas diri?
Kerja keras pemerintah yang tertutupi hanya karena banyaknya kritik. 100 hari pertama
pemerintah telah berhasil membangun 1.206 fasilitas air minum di desa-desa sulit air,
memulai pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, serta memeriksa kelayakan
semua bendungan di tanah air seperti tidak pernah ada asapnya. Banyaknya koruptor
yang ditangkap, hilang suaranya saat satu per satu grasi diberi padanya.
Butuh hidup
Rakyat hampir sudah tidak sempat mengeluh, karena disibukkan untuk mengisi perut.
Sampai-sampai gelandangan dan pengemis Pekanbaru tuntut ijin mengemis sampai
Opini Pengembangan DIri 2012


lebaran. Di Makassar, Sumenep, Solo dan daerah lain warga berdesakan menunggu
pembagian zakat dari sang dermawan sampai-sampai banyak yang pingsan seolah
menghiraukan kejadian di Pasuruan Jawa Timur dua tahun lalu yang menewaskan
sedikitnya 20 orang. Sungguh butuh dada yang lapang untuk mendengar konflik diantara
pejabat negeri dan eksistensi masyarakat yang butuh hidup.
Ketidakpekaan Pemerintah terhadap kehidupan masyarakat, membuat masyarakat berfikir
sendiri untuk memenuhi hajat hidupnya. Meningkatnya kejahatan di lingkungan
masyarakat bentuk cermin dari angka penganggur terbuka nasional 8.592.490 pada tahun
2010 ini. Kota-kota besar yang dianggap menjanjikan rizki yang lebih daripada di kota
sendiri. Luar negeri yang lebih menjanjikan, karena upah minimum regional di Dalam
Negeri jauh memenuhi kelayakan hidup atau mungkin upah minimum regional hanya
cukup untuk sebatas hidup.
Arus mudik yang melibatkan sekitar 16 juta pemudik, memberi gambaran pahit, bahwa
pemerataan yang diusahakan pemerintah masih jauh dari yang diharapkan. Daya tarik
mengenai jaminan hidup yang lebih baik telah menjadi magnet bagi masyarakat untuk
ber-migrasi. Mengisyaratkan bahwa negara belum mampu menjamin pemerataan
kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya.
Rakyat hanya ingin mengeluh, masyarakat hanya ingin bercerita, warga hanya ingin
mengungkapkan sesuatu yang menjadi kegundahan hatinya. Jika pemerintah di negara
sendiri hanya mampu menampung dan belum bisa melaksanakan aspirasi rakyatnya,
kepada siapa lagi rakyat mengadu?

								
To top