Docstoc

ENDOKRIN

Document Sample
ENDOKRIN Powered By Docstoc
					Ledy Gresia Sihotang, S.Kep,Ns
                   TIK
   Fisiologi sistem endokrin
   Pengkajian sistem endokrrin
   Asuhan keperawatan klien gangguan
    sistem endokrin
   Asuhan keperawatan klien dengan
    hipertiroid
   Asuhan keperawatan klien dengan
    hipotiroid
 Sistem tubuh manusia yang rumit dan adanya
  kekhususan sel dan jaringan memelukan
  komunikasi internal yang bisa mengatur
  berbagai proses dalam tubuh
 Sistem endokrin dan persarafan adalah 2 unit
  yang bekerja sama untuk mengkoordinasi
  fungsi tubuh shg tubuh dapat berespon
  terhadap perubahan lingkungan
 Walaupun hipotalamus adalah bagian kecil
  otak, tetapi hipotalamus menjadi pengendali
  global untuk semua sistem endokrin
KELENJAR :
 EKSOKRIN
  Melepaskan sekresinya ke dalam duktus
  pada permukaan tubuh,
  seperti kulit atau organ internal

 ENDOKRIN
 Langsung melepaskan sekresinya kedalam
 darah
   Suatu sistem yg melibatkan hormon dan
    sistem sirkulasi dalam tugasnya.


      KELENJAR
                    HORMON      SIRKULASI
      ENDOKRIN




                               TARGET ORGAN
            ENDOKRIN

KELENJAR HIPOFISIS
KELENJAR TIROID
KELENJAR PARATIROID
KELENJAR ADRENAL
KELENJAR PULAU-PULAU LANGERHANS:
PANKREAS
KELENJAR OVARIUM DAN TESTIS
HORMON
    Suatu zat yang disekresikan oleh kelenjar endokrin untuk
    membantu mengatur fungsi organ bekerja secara terkoordinasi
    dengan sistem saraf

Klasifikasi :
1. Air : Polipeptida
         (Insulin, Glukagon, ACTH, Katekolamin)
2. Lemak : Steroid
         ( Estrogenn, Progesteron, Glukokortikod, Aldosteron)

Karakteristik :
 Diurnal : Pola naik turun dalam periode 24 jam (Kortisol)


   Pulsatif dan Siklik : Pola naik turun sepanjang waktu
   Variabel : Pola naik turun tergantung pada kadar
                substratnya (Paratiroid)
             REGULASI KELENJAR
PERAN HIPOTALAMUS DAN KELENJAR HIPOFISIS
Anatomi Fisiologi
•Berbobot 0,5 gram
•Ukuran 10 x 13 x 6 mm
                              NEUROHIPOFISIS
Perkembangan hipofisis:
     EMBRIOLOGI HIPOFISIS
1.    ECTODERMAL.
     Dari primitive mout diverticulum.ADENO-HYPOPHYSE.
2.    NEURO ECTODERMAL
     Dari diencephalon evaginasi. NEURO-HYPOPHYSE
PERANAN HIPOTALAMUS…

 Menghubungkan sistem saraf dengan endokrin
 Hipotalamus mengeluarkan hormon realising
  dan inhibiting yg bekerja untuk sel –sel spesifik
  dalam kelenjar pituitari untuk mengatur
  pembentukan dan sekresi hormon hipofisis

   SISTEM UMPAN BALIK
    bila kadar hormon dalam darah telah
    mencukupi, untuk menghasilkan efek yang
    dimaksud, makan kenaikan hormon lebih jauh
    dicegah dengan umpan balik negatif (Negative
    Feedback control).
STRUKTUR, FUNGSI DAN KERJA SISTEM
            ENDOKRIN
      STRUKTUR DAN FUNGI HIPOTALAMUS
   Terletak di batang otak (dienchepalon) dekat ventrikulus
    tertius
    Mrp pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin
    Menjalankan fungsi melalui humoral dan saraf
    Hormon yang dihasilkan disebut faktor R dan I
    mengontrol sintesa dan sekresi hormon
 HORMON YANG DIHASILKAN HIPOTALAMUS:
ACRH   : Adrenocortocoid Releasing Hormone
ACIH   : Arenocorticoid Inhibiting Hormone
TRH    : Thyroid Releasing Hormone
TIH    : Thyroid Inhibiting Hormone
GnRH   : Gonadotropin Releasing Hormone
GnIH   : Gonadotropin Inhibiting Hormone
PTRH   : Parathyroid Releasing Hormone
PTIH   : Parathyroid Inhibiting Hormone
PRH    : Prolaktin Releasing Hormone
PIH    : Prolaktin Inhibiting Hormone
GRH    : Growth Releasing Hormone
GIH    : Growth Inhibiting Hormone
MRH    : Melanosit Releasing Hormone
MIH    : Melanosit Inhibiting Hormone
     STRUKTUR DAN FUNGSI HIPOFISE
   Terletak di sella turika, lekukan os spenoidalis basis
    cranii
   Berbentuk oval dengan diameter 1 cm yang terbagi
    atas lobus anterior dan posterior

– Lobus anterior :
  •2/3 bagian hipofise
  •disebut juga Adenihipofise

– Lobus posterior
  •1/3 bagian hipofise
  •Disebut juga neurohipofise
  •Hipofese stalk (struktur saraf) menghubungkan
  lobus posterior dengan hipotalamus
– Lobus intermedia (pars intermedia)
  •Antara area anterior dan posterior
  •Diduga menghasilkan MSH
   Terletak pada leher bagian depan, dibawah
    kartilago krikoid, disamping kiri dan kanan
    trakhea
    Terbagi 2 lobus (kiri dan kanan) dengan
    ketebalan 2 cm, lebar 2,5 cm dan panjang 4 cm
    Disuplai oleh arteri tiroidea superior dan arteri
    tiroidea inferior (lobus kanan lebih besar
    disuplai)
    Hormon T3, T4 danTirokalsitonin
   Menempel pada bagian anterior dan posterior
    kedua lobus kelenjar tiroid
   Berjumlah 4 buah
   Terdiri dari 2 jeni sel :
      - Chief cells
      - Oxyphill cells
DATA DEMOGRAFI
• Usia dan jenis kelamin
   Beberapa gangguan endokrin baru jelas dirasakan pada usia
   tertentu meskipun proses patologis sudah berlangsung sejak
   lama
• Tempat tinggal

RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
  Mengkaji kemungkinan kelainan pada anggota keluarga
  lain seperti yang dialami oleh pasien.

Gangguan hormonal yang berhubungan langsung :
Obesitas
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
Kelainan pada kelenjar tiroid
Infertilitas
   Mengkaji kondisi yang pernah dialami oleh
   klien diluar gangguan yang dirasakan
   sekarang khususnya gangguan gangguan yang
   mungkin sudah berlangsung lama walaupun
   tidak ada keluhan, seperti :
• Tanda-tanda seks sekunder yang tidak
   berkembang
• Berat badan tidak sesuai dengan usia
• Gangguan psikologis ; mudah marah, sulit
   bergaul, tidak konsentrasi
• Hospitalisasi
    RIWAYAT DIIT
   Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen
   Penurunan atau penambahan berat badan yang drastis
   Selera makan yang menurun atau bahkan berlebihan
   Pola makan dan minum sehari-hari
   Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat
   menggangu fungsi endokrin ; bersifat Goiterogenik


STATUS SOSIAL EKONOMI
 Bagaimana klien dan keluarga memperoleh makanan
  yang sehat dan bergizi
 Upaya yang dilakukan dalam mendapatkan pengobatan
  bila klien dan keluarga membutuhkan
 Kurangi salah penafsiran
          MASALAH KESEHATAN SEKARANG
 Apa yang dirasakan klien ?
 Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi
    secara tiba-tiba atau perlahan dan sejak kapan
    dirasakan ?
   Bagaimana gejala mempengaruhi aktivitas hidup
    sehari-hari ?
    Bagaimana pola eliminasi baik fekal maupun urine?
    Bagaimana fungsi seksual dan reproduksi ?
    Apakah ada perubahan fisik tertentu yang sangat
    mengganggu klien ?
Selain alasan klien datang ke RS, juga perlu diidentifikasi hal-
hal yang berhubungan dengan fungsi hormonal secara umum
seperti :
   • Tingkat energi
   Perawat mengkaji
    Bagaimana kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
      sehari-hari
    Apakah mandiri atau dibantu atau kepayahan
    Asupan makanan berlebihan atau kurang


   • Pola eliminasi dan keseimbangan cairan
   Perawat mengkaji
    Pola berkemih dan volume urine out put
    Apakah klien sering bangun tengah malam untuk berkemih
    Apakah klien kekurangan cairan atau kelebihan cairan
Pertumbuhan dan perkembangan
Secara langsung dibawah pengaruh hormon GH,
  Thyroid, Gonadotropic. Gangguan
  pertumbuhan dapat terjadi sejak masa
  kandungan hingga bayi dilahirkan, maka perlu
  dikaji :
 Tubuh ; kerdil/ besar
 Tingkat inteligensi
 Kemampuan berkomunikasi
 Inisiatif dan rasa tanggung jawab
 Apakah perubahan fisik mempengaruhi
  kejiwaan klien
Seks dan reproduksi
Kaji :
 Siklus menstruasi ; mencakup lama,
  volume, frekuensi, perubahan fisik
  termasuk sensasi nyeri atau kramp
  abdomen, usia haid pertama
 Pernah hamil dan melahirkan
 Kemampuan ereksi dan orgasme
 Ukuran dan bentuk alat genitalia
 Pemeriksaan Fisik:
 ◦ Inspeksi
 ◦ Palpasi
 ◦ auskultasi
  Pengkajian Psikososial:
Hal yang perlu dikaji:
 Keterampilan koping
 Dukungan keluarga, teman
 Keyakinan
 Kemampuan keluarga dalam merawat dan
  penggunaan obat
    PENGKAJIAN DIAGNOSTIK SISTEM
             ENDOKRIN
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA
  KELENJAR HIPOFISE
 Foto tengkorak (Kranium)
  Untuk melihat kondisi sella turika ; tumor/ atropi
  Pend. Kes penting !!!

    Foto tulang (Osteo)
    untuk melihat kondisi tulang (Gigantisme) ; ukuran
    tulang bertambah

    CT scan otak
    Untuk melihat kemungkinan adanya tumor
    hipofise atau hipotalamus. Pend. Kes penting !!!
Pemeriksaan darah dan urine
Kadar Growth Hormone
 Nilai normal 10 μg/ml (anak-anak dan
 dewasa)
 Spesimen adalah darah vena 5 cc
Kadar TSH
 Nilai normal 6 – 10 μg/ml, untuk mentukan
 gangguan tiroid primer atau sekunder
 Spesimen adalah darah vena 5 cc
KadarACTH
 dilakukan dengan test supresi dekametason
 spesimen darah vena 5 cc dan urine 24 ja

Persiapan
 Tidak ada pembatasan makanan dan minuman
 Bila klien menggunakan obat-obatan seperti
  korisol atau antagonisnya, dihentikan lebih
  dahulu 24 jam sebelumnya
 Bila obat-obatan harus diberikan, lampirkan
  jenis obat dan dosisnya pada lembaran
  pengiriman spesimen
 Cegah stress fisik dan psikologis
Pelaksanaan
 Klien diberi deksametason 4 x 0,5 ml/ hari
 selama 2 hari , Besok paginya darah vena
 diambil 5 cc
 Urine ditampung selama 24 jam,
 Kirim spesimen ke lab.
Hasil
 Normal bila :
 ACTH menurun kadarnya dalam darah.
 Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl
 17-Hydroxi-Cortico-Steroid (17-OHCS)
 dalam urine 24 jam kurang dari 2,5 mg
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA KELENJAR
               TIROID

 UP TAKE RADIOAKTIF (RA)
  Untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam
  menangkap iodida

 Persiapan :
  Klien puasa 6 – 8 jam
  Jelaskan tujuan prosedur


 Pelaksanaan :
  Klien diberi radioaktif Iodium (I) oral sebanyak 50 microcuri
  Ukur radioaktif yang tertahan dengan alat pengukurdiatas
   kelenjar tiroid
  Dapat juga diukur dengan clearence (I) melalui ginjal dengan
   mengumpulkan urine 24 jam
Hasil :
 Normal : 10 – 35 %
 < 10 % : menurun     Hipotiroid
 > 35 % : meningkat   Hipertiroid
 T3 DAN T4 SERUM

Persiapan fisik secara khusus (-), spesimen
  darah vena 5 – 10 cc
Nilai normal dewasa :
 Iodium bebas         : 0,1 – 0,3 mg/dl
 T3                   : 0,2 – 0,3 mg/dl
 T4                   : 6 – 12 mg/dl

Nilai normal bayi/ anak anak :
 T3                  : 180 – 240 mg/dl
UP TAKE T3 RESIN
  Untuk mengukur jumlah hormon tiroid
  (T3) atau tiroid binding globulin (TBG)
  tdk jenuh
Spesimen darah vena 5 cc
Klien puasa 6 – 8 jam
Nilai normal :
 Dewasa : 25 – 35 %
 Anak-anak : ( - )
PROTEIN BOUND IODINE (PBI)
Untuk mengukur iodium yang terikat dengan
protein plasma
Spesimen darah vena 5 – 10 cc
Klien puasa 6 – 8 jam
Nilai normal : 4 – 8 mg % dalam 100 ml
  darah
LAJU METABOLISME BASAL (BMR)
Untuk mengukur secara tidak langsung jumlah oksigen yang
  dibutuhkan tubuh dibawah kondisi basal selama beberapa
  waktu
Persiapan :
 Klien puasa sekitar 12 jam
 Hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress
 Klien harus tidur minimal 8 jam
 Tidak mengkonsumsi obat-obat analgesik dan sedatif
 Jelaskan prosedur
 Tidak boleh bangun dri tempat tidur sampai pememriksaan
  dilakukan
Pelakanaan :
 Segera setelah bangun, lakukan pengukuran TD dan Nadi
 Dihitung dengan rumus : BMR (0,7 x Pulse) + (0,7 x TD) –
  72
 Nilai normal : 10 – 15 %
  PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA KELENJAR
              PARATIOROID

I. Percobaan Sulkowitch
  Untuk memeriksa perubahan jumlah kalium dalam
  urine, sehingga diketahui aktivitas kelenjar paratioroid
Persiapan
 Urine 24 jam ditampung
 Makanan rendah kalsium 2 hari berurut-turut
Pelaksanaan
 Masukkan urine 3 ml kedalam tabung (2 tabung)
 Masukkan reagen Sulkowitch 3 ml pada tabung I
 Tabung II sebagai kontrol
Hasil
 Negatif ( - )      : tidak terjadi kekeruhan
 Positif ( + )      : terjadi kekeruhan yang halus
 Positif ( ++ )     : kekeruhan sedang
 Positif ( +++ )    : kekeruhan banyak ; < 20 detik
 Positif ( ++++ )   : kekeruhan hebat ; seketika
II. Percobaan Ellwort – Howard
   berdasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhi oleh
   parathormon
Pelaksanaan :
 Klien disuntik dengan parathormon IV
 Urine ditampung dan diukur kadar pospornya
Hasil :
 5 – 6 x nilai normal : Hipotiroid

III. Percobaan Kalsium IV
  berdasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar
  serum kalsium akan menekan pembentukan Parathormon
Hasil :
 Normal : pospor serum >> dan pospor diuresi <<
 Hipoparatiroid : pospor diuresis >>>>
IV. Pemeriksaan Radiologi

Persiapan khusus ( - )
 Untuk melihat kemungkinan adanya kalsifikasi
  tulang, penipisan dan osteoporosis
Hasil :
 Hipotiroid : dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar
  tengkorak
 Hipertiroid : tulang menipis, terbentuk kista dalam
  tulang serta tuberculae pada tulang
V. Pemeriksaan Elektrocardiogram (ECG)

  Untuk mengidentifikasi kelainan gambaran kadar
  kalsium serum terhadap otot jantung
Hasil :
 Hiperparatiroid: Interval Q-T memanjang
 Hipoparatiroid : Interval Q-T normal


VI. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG)
 Untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot
 akibat perubahan kadar kalsium serum
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA KELENJAR
              PANKREAS
Pemeriksaan Glukosa
Untuk menilai kadar gula darah puasa selama 8-
  10 jam
Nilai normal :
• Dewasa        : 70-110 mg/dl
• Anak-anak     : 60-100 mg/dl
• Bayi          : 50-80 mg/dl
Persiapan
• Klien puasa
• Jelaskan tujuan prosedur

Pelakanaan :
• Spesimen darah vena 5 – 10 cc
• Gunakan anti koagulan bila tidak segera
  diperiksa
• Hentikan sementara insulin
• Setelah pengambilan sample darah, klien diberi
  makan dan minum serta obat sesuai program
Pemeriksaan Hemokonsentrasi darah
Nilai normal :
 Dewasa wanita   : 37 – 47 %
 Dewasa pria     : 45 – 54 %
 Anak-anak       : 31 – 40 %
 Bayi            : 30 – 40 %
 Neonatal        : 44 – 62 %

Spesimen darah perifer
Pemeriksaan elektrolit serum (Na, K, Cl)

Nilai normal :
 Natrium      : 310 – 335 mg (13,6 – 14
  meq/ Liter)
 Kalium       : 14 0 mg % (3,5-5,0
  meq/Liter)
 Chlorida     : 350 – 375 mg% (100-106
  meq/liter)
Hipofungisi adrenal akan terjadi hipernatremi
  dan hipokalemi
Hiperfungsi adrenal kebalikan hipofungsi
Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA)
 Bertujuan untuk mengukur katekolamin
 dalam urine.
Spesimen urin 24 jam
Nilai normal : 1 – 5 mg

Stimulasi Test
  Untuk mengevaluasi dan mendeteksi
  hipofungsi adrenal.
 Pemberian ACTH untuk kortisol
 Pemberian Sodium untuk aldosteron
Asuhan Keperawatan
  Gangguan Sistem
     Endokrin:
  Hiperparatiroid
                       Pendahuluan

 Terjadi akibat produksi berlebihan hormon
  paratiroid.
 Ditandai dengan dekalsifikasi tulang, dan
  terbentuknya batu ginjal yang mengandung kalsium.
 Terbagi atas:
    Hiperparatirodisme primer
    Hiperparatiroidisme sekunder.
Hipertiroidisme Primer
 Hiperparatiroidisme primer ditandai dengan
  peningkatan kadar hormon hiperparatiroid serum,
  peningkatan kalsium serum dan penurunan fosfat
  serum
 Hiperparatiroidisme didiagnosis ketika tes
  menunjukkan tingginya level kalsium dalam darah
  disebabkan tingginya kadar hormone paratiroid
Hipertiroidisme Sekunder
 Produksi hormon paratiroid yang berlebihan karena
  rangsangan produksi yang tidak normal.
 Secara khusus, kelainan ini berkitan dengan gagal ginjal
  akut.
 Penyebab umum lainnya karena kekurangan vitamin D.
Manifestasi Klinik         Manifestasi Psikologi:
 Apatis                    Mudah tersinggung
 Keluhan mudah lelah.      Neurosis
 Kelemahan otot            Psikosis (efek langsung
 Mual dan muntah            Kalsium pada otak serta
 Konstipasi
                             sistem saraf)
 Hipertensi
                             Peningkatan kadar
                             kalsium akan menurunkan
 Aritmia jantung
                             potensial eksitasi jaringan
       peningkatan kadar     saraf dan otot.
  kalsium dalam darah.
                     Patofisiologi
                   Kelebihan Sekresi PTH    Hipertirodisme

                      Hiperkalsemia

                       Efek Reseptor

    Tulang             Traktus Digestinal        Ginjal

Reabsorpsi Ca >>
                      Absorpsi Usus >>>

 Hiperkalsiuria

 Nefrolithiasis

Penurunan Klearens
  dan Gagal Ginjal
Komplikasi

   1.   Peningkatan ekskresi
        kalsium dan fosfor
   2.   Dehidrasi
   3.   Batu ginjal
   4.   Hiperkalsemia
   5.   Osteoklastik
   6.   Osteitis fibrosa cystica
                Evaluasi Diagnostik
o Laboratorium:
1.    Kalsium serum meninggi
2.    Fosfat serum rendah
3.    Fosfatase alkali meninggi
4.    Kalsium dan fosfat dalam urin bertambah
5.    Foto Rontgen:
     1.   Tulang menjadi tipis, ada dekalsifikasi
     2.   Cystic-cystic dalam tulang
     3.   Trabeculae di tulang
          PA: osteoklas, osteoblast, dan jaringan fibreus
          bertambah
                  Evaluasi Diagnostik
 Radioimmunoassay:
  Membedakan hiperparatiroidisme primer untuk Parathormon.
 Sinar X (pemindai tulang):
   Mendeteksi adanya perubahan tulang.
 Antibodi ganda hormon paratiroid
  Untuk membedakan hiperparatiroidisme priimer dengan
    keganasan.
 USG, MRI, Pemindai Thalium, Biopsi Jarum Halus:
  Untuk mengevaluasi fungsi paratiroid dan untuk menentukan
    lokasi kista, adenoma, serta hiperplasia pada kelenjar tiroid.
                Penatalaksanaan
 Tindakan bedah untuk mengangkat jaringan
  paratiroid yang abnormal.
 Hidrasi (konsumsi cairan 2000 ml dan jus buah
  asam)
 Mobilitas yang banyak
 Diet dan obat-obatan
            ASUHAN KEPERAWATAN
 Pengkajian
  Riwayat kesehatan klien.
  Riwayat penyakit dalam keluarga.

  Keluhan utama, antara lain :
   Sakit kepala, kelemahan, lethargi dan kelelahan otot
   Gangguan pencernaan seperti mual, muntah,
    anorexia, obstipasi, dan nyeri lambung yang akan
    disertai penurunan berat badan
   Depresi
   Nyeri tulang dan sendi.
                     Pengkajian (2)
 Riwayat trauma/fraktur tulang.
 Riwayat radiasi daerah leher dan kepala.
 Pemeriksaan fisik yang mencakup :
    Observasi dan palpasi adanya deformitas tulang.
    Amati warna kulit, apakah tampak pucat.
    Perubahan tingkat kesadaran.
 Bila kadar kalsium tetap tinggi, maka akan tampak
 tanda psikosis organik seperti bingung bahkan
 koma dan bila tidak ditangani kematian akan
 mengancam.
                  Pengkajian (3)
 Pemeriksaan diagnostik, termasuk :
  Pemeriksaan   laboratorium :
   dilakukan  untuk menentukan kadar kalsium dalam
    plasma yang merupakan pemeriksaan terpenting dalam
    menegakkan kondisi hiperparatiroidisme.
   Hasil pemeriksaan laboratorium pada
    hiperparatiroidisme primer akan ditemukan
    peningkatan kadar kalsium serum; kadar serum posfat
    anorganik menurun sementara kadar kalsium dan
    posfat urine meningkat.
  Pemeriksaan radiologi, akan tampak penipisan
  tulang dan terbentuk kista dan trabekula pada
  tulang.
          Diagnosa Keperawatan
1. Risiko terhadap cidera b/d demineralisasi tulang
   yang mengakibatkan fraktur patologi.
2. Perubahan eliminasi urine b/d keterlibatan ginjal
   sekunder terhadap hiperkalsemia dan
   hiperfosfatemia.
3. Perubahan nutrisi b/d anorexia dan mual.
4. Konstipasi b/d efek merugikan dari
   hiperparatiroidisme pada saluran gastrointestinal.
               Rencana Keperawatan
 DX 1
   Tujuan : Klien tidak akan menderita cidera, seperti yang
    ditunjukkan oleh tidak terdapatnya fraktur patologi.
 Intervensi Keperawatan :
   Lindungi klien dari kecelakaan jatuh, karena klien rentan
    untuk mengalami fraktur patologis bahkan oleh benturan
    ringan sekalipun. Bila klien mengalami penurunan
    kesadaran pasanglah tirali tempat tidurnya.
   Hindarkan klien dari satu posisi yang menetap, ubah
    posisi klien dengan hati-hati.
   Bantu klien memenuhi kebutuhan sehari-hari selama
    terjadi kelemahan fisik.
 Intervensi Keperawatan :
   Atur aktivitas yang tidak melelahkan klien.

   Ajarkan  cara melindungi diri dari trauma fisik
    seperti cara mengubah posisi tubuh, dan cara
    berjalan serta menghindari perubahan posisi
    yang tiba-tiba.
   Ajarkan klien cara menggunakan alat bantu
    berjalan bila dibutuhkan. Anjurkan klien agar
    berjalan secara perlahan-lahan.
 DX2
   Tujuan : Klien akan kembali pada haluaran urine normal, seperti
    yang ditunjukkan oleh tidak terbentuknya batu dan haluaran urine
    30 sampai 60 ml/jam.
 Intervensi Keperawatan :
   Perbanyak asupan klien sampai 2500 ml cairan per hari. Dehidrasi
    merupakan hal yang berbahaya bagi klien dengan
    hiperparatiroidisme karena akan meningkatkan kadar kalisum
    serum dan memudahkan terbentuknya batu ginjal.
   Berikan sari buah untuk membantu agar urine lebih bersifat asam.
    Keasaman urine yang tinggi membantu mencegah pembentukkan
    batu ginjal, karena kalsium lebih mudah larut dalam urine yang
    asam ketimbang urine yang basa.
 DX 3
   Tujuan : Klien akan mendapat masukan makanan yang mencukupi,
    seperti yang dibuktikan oleh tidak adanya mual dan kembali pada
    atau dapat mempertahankan berat badan ideal.
 Intervensi Keperawatan :
   Berikan dorongan pada klien untuk mengkonsumsi diet
    rendah kalsium untuk memperbaiki hiperkalsemia.
   Jelaskan pada klien bahwa tidak mengkonsumsi susu dan
    produk susu dapat menghilangkan sebagian manifestasi
    gastrointestinal yang tidak menyenangkan.
   Bantu klien untuk mengembangkan diet yang mencakup
    tinggi kalori tanpa produk yang mengandung susu.
   Rujuk klien ke ahli gizi untuk membantu perencanaan diet
    klien
 DX 4
      Tujuan : Klien akan mempertahankan BAB normal, seperti pada yang
       dibuktikan oleh BAB setiap hari (sesuai dengan kebiasaan klien).
 Intervensi Keperawatan :
    Upayakan tindakan yang dapat mencegah konstipasi dan pengerasan
     fekal yang diakibatkan oleh hiperkalsemia.
    Bantu klien untuk tetap dapat aktif sesuai dengan kondisi yang
     memungkinkan.
    Tingkatkan asupan cairan dan serat dalam diet. Klien harus minum
     sedikitnya enam sampai delapan gelas per hari kecuali bila ada kontra
     indikasi.
    Jika konstipasi menetak meski sudah dilakukan tindakan, mintakan
     pada dokter pelunak feses atau laksatif.
 Peningkatan dari hormon tiroid dalam darah.
 Suatu keadaan hiperaktivitas kelenjar tiroid
   sehingga menyebabkan sintesis (produksi)
   hormon tiroid berlebihan dan peningkatan
   metabolisme dalam jaringan tubuh.
 Penyakit Graves
   Toksik Nodular Goiter
   Produksi TSH yang abnormal
   Tiroiditis (radang kelenjar tiroid)
   Konsumsi yodium berlebihan
   Peningkatan selera           Denyut nadi berkisar
    makan dan konsumsi            90 -160 x/i
    makanan
                                 Tekanan darah sistolik
   Penurunan berat badan         akan meningkat
    yang progresif
                                 Dekompensasi jantung
   Kelelahan otot yang
                                  dalam bentuk
    abnormal
                                  kegagalan kongestif
   Amenore
                                 Osteoporosis & fraktur
   Perubahan defikasi
    (konstipasi atau diare)
   Kegelisahan           Tahan tidak panas
                          Terus berkeringat
   Mudah terangsang       secara tidak lazim
                           Kulit sering kemerahan
   Iritabel & terus   

                          Pasien yang berusia
    merasa khawatir        lanjut: kulit kering dan
                           pruritus yang
   Palpitasi
                           menyebar
   Denyut jantung        Tremor pada tangan
    abnormal: cepat       Eksoftalmos (mata
                           menonjol
   Kurus, makan banyak tetapi tidak bisa
    gemuk
   Mata besar (membelalak = exophthalmus)
   Keluhan lain pada mata (nyeri, peka cahaya,
    kelainan penglihatan dan conjungtivitis)
   Kelenjar gondok membesar (struma nodosa)
    atau bisa juga tidak
   Detak jantung cepat
   Ujung jari gemetar
   Tes darah : bila kadar Thyroxine
    Stimulating Hormone (TSH) melebihi 20
    mikro-unit per liter, berarti pasien
    terkena hipertiroid (normal: 1-5 mikro-
    unit per liter)
   Ada atau tidaknya pembesaran di daerah
    leher
Mengenai benjolan, perlu diperhatikan bagaimana benjolannya,
sebab pada penyakit gondok (hipotiroid), juga terdapat benjolan.
Hanya saja pembesaran disekitar leher pada penyakit gondok
tak merata, yaitu biasanya di bagian depan leher, sedangkan
pada hipertiroid, pembesaran yang terjadi merata di sekitar
leher sehingga kurang kelihatan.
1.   Mengobati gejala hipertiroid
2.   Pemberian obat anti tiroid
3.   Yodium radioaktif
4.   Tindakan bedah
   Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d
    hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme;
    peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam arus
    balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan
    frekuensi, irama dan konduksi jantung.
   Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan
    kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan
    dengan gangguan kimia tubuhdi
   Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari
    kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme; mual
    muntah, diare; kehilangan insulin yang relative
   Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan b/d
    perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan
    penutupan kelopak mata/eksoftalmus
INTERVENSI                              RASIONAL


• Pantan tekanan darah pada posisi      • Hipotensi umum dpt terjadi sbg akibat
                                          vasodilatasi perifer yg berlebihan &
baring,duduk,&berdiri jika memungkinkan panurunan volome sirkulasi
• Pantau CVP jika klien menggunakannya • Memberikan ukuran volume sirkulasi yg
                                          langsung & lebih akurat dan mengukur
• Periksa adanya nyeri dada a/ angina     fungsi jantung secara langsung pula
  yang dikeluhkan klien                 • Merupakan tanda adanya peningkatan
                                          kebutuhan oksigen oleh otot jantung
• Auskultasi suara jantung ,perhatikan  • S1 dan murmur yg menonjol b’hub dng
  adanya bunti tambahan adanya irama      curah jantung meningkat pd keadaan
                                          hipermetabolikadanya S3 sbgai tanda
  gollaps dan murmur sistolik             adanya kemungkinan gagal jantung
•Auskultasi suara nafas                 • Tanda awal adanya kongesti paru yg
                                          berhub dgn timbulnya gagal jantung
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA HIPOTIROIDISME
Kelenjar tiroid berbentuk
seperti kupu-kupu, terdiri
dari 2 lobus dan terletak di
leher di bawah jakun di
depan trakea.
   Folikel dalam tiroid menghasilkan tiroglobulin yang
    kemudian akan dirubah menjadi hormon tiroksin oleh
    adanya TSH dari pituitari anterior.
   Tiroksin mengandung banyak iodium.
   Sumber iodium terbesar adalah seafood, seperti:
    kerang, udang, rumput laut dan aneka ikan.
            FUNGSI TIROKSIN



   Mengatur aktivitas berbagai organ
   Mengontrol pertumbuhan
   Membantu proses metabolisme
                    DEFINISI

 Tingkat pengurangan hormon tiroid (tiroksin).
 Suatu keadaan dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan
   menghasilkan sedikit tiroksin.
 Menyebabkan fungsi metabolisme tubuh bekerja sangat
   lambat.
 Merupakan keadaan yang ditandai dengan terjadinya
   hipofungsi tiroid yang berjalan lambat dan diikuti oleh
   gejala-gejala kegagalan tiroid
                     TIPE

1. Hipotiroidisme primer atau tiroidal yang
   mengacu pada disfungsi kelenjar tiroid itu
   sendiri.
2. Hipotirodisme sekunder, jika sepenuhnya
   disebabkan oleh kelainan hipofisis.
3. Hipotirodisme tertier: kelainan hipotalamus
   yang mengakibatkan sekresi TSH tidak adekuat.
 Apabila disfungsi tiroid disebabkan oleh
  kegagalan kelenjar hipofisis, hipotalamus atau
  keduanya, dikenal dengan hipotiroidisme
  sentral.
 Kretinisme: defisiensi tiroid terjadi sejak lahir.
  Pada keadaan ini, ibu mungkin juga menderita
  defisiensi tiroid.
                     ETIOLOGI


   Tiroiditis limfositik kronis (tiroiditis Hashimoto),
    dikarenakan penyakit sistem kekebalan tubuh
    atau tiroiditis otoimun.
   Atrofi kelenjar tiroid yang menyertai proses
    penuaan.
   Terapi untuk hipertiroidisme: iodium radioaktif,
    tiroidektomi.
                     ETIOLOGI


   Obat-obatan: litium, senyawa iodium, obat-obat
    antitiroid.
   Radiasi       pada   kepala   dan   leher   untuk
    penanganan kanker kepala dan leher, limfoma
   Penyakit infiltratif pada tiroid
   Defisiensi dan kelebihan iodium
                   MANIFESTASI KLINIS


   Kelelahan yang ekstrim         Suara kasar atau parau
   Kerontokan rambut              Menorhagia atau
   Kuku yang rapuh                 amenore

   Kulit kering                   Hilangnya libido

   Parestesia pada jari-jari
    tangan
     MANIFESTASI KLINIK HIPOTIROIDISME BERAT


   Suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal
   Kenaikan berat badan
   Kulit menjadi tebal
   Rambut menipis dan rontok
   Wajah tampak tanpa ekspresi
   Mengeluh sering dingin walaupun dalam
    lingkungan yang hangat
   Demensia disertai perubahan kognitif
    dan kepribadian khas.
   Apnu saat tidur
   Efusi pleura
   Efusi perikardial
   Kelemahan otot pernapasan
   Kenaikan kolesterol serum
   Aterosklerosis
   CHF
   Fungsi ventrikel kiri jelek
       KOMA MIKSEDEMIA


   Hipotermia
   Tidak sadarkan diri
   Peningkatan letargi menjadi stupor dan
    kemudian koma.
                    PENATALAKSANAAN


   Tujuan    primer:   memulihkan      metabolisme   dengan
    mengganti hormon yang hilang
   Levotiroksin sintetik merupakan preparat terpilih untuk
    pengobatan
   Untuk    hipotiroidisme   berat   dan   koma   miksedema,
    mencakup pemeliharaan vital sign
   Gas darah arteri, membantu ventilasi untuk mengatasi
    hipoventilasi
                 PENATALAKSANAAN

   Penggunaan     alat   pulse    oximetry    membantu
    memantau tingkat saturasi oksigen
   Infus larutan glukosa pekat untuk memberikan
    glukosa
   Jika berlanjut ke koma miksedemia, diberikan hormon
    tiroid secara intravena sampai kesadaran pulih
   Kemudian lanjutkan terapi hormon tiroid per oral
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN



    Modifikasi aktivitas
    Pemantauan yang berkelanjutan
    Pengaturan suhu
    Dukungan emosional
    Pendidikan pasien dan pertimbangan
     perawatan di rumah.
            DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.   Intoleransi   aktivitas   b/d   kelelahan     dan
     penurunan proses kognitif
2.   Perubahan suhu tubuh
3.   Pola napas tidak efektif b/d depresi ventilasi
4.   Konstipasi         b/d    penurunan         fungsi
     gastrointestinal
            DIAGNOSA KEPERAWATAN


5.   Perubahan      proses   pikir    b/d      gangguan
     metabolisme       dan     perubahan         status
     kardiovaskuler serta pernapasan
6.   Kurangnya     pengetahuan       tentang    program
     pengobatan untuk terapi penggantian tiroid
     seumur hidup

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:14
posted:11/30/2012
language:
pages:97