Docstoc

Investasi VS Trading

Document Sample
Investasi VS Trading Powered By Docstoc
					Investasi Vs Trading

Konsep yang harus Anda pahami pertama kali adalah adanya perbedaan mendasar antara
trading dan investasi. Pendapat umum mengatakan bahwa dua hal ini memiliki substansi
yang sama, namun perumpamaan di bawah diharapkan dapat memberi gambaran tentang
perbedaan keduanya.

Anda membeli sebuah rumah dengan tujuan untuk menyimpannya sebagai modal dan
mendapatkan pasif income. Untuk itu Anda menyewakan rumah tersebut kepada pihak yang
membutuhkan.

Seiring waktu, nilai rumah tersebut umumnya mengalami kenaikan dan Anda juga
mendapatkan pendapatan tambahan dari penyewaan rumah setiap tahunnya.

Prinsip ini berbeda secara mendasar dengan trading. Trading dalam contoh di atas akan
teraplikasikan ketika tujuan Anda membeli rumah adalah untuk menjualnya kembali pada
harga yang layak, dan keuntungan Anda diperoleh dari selisih harga pembelian dan
penjualan.

Keduanya (investasi dan trading) memiliki cara yang mirip dan dapat saling
menguntungkan, namun dari contoh di atas kita dapat mengambil kesimpulan tentang ciri
yang membedakannya.

Dunia Keuangan

Investasi pada instrumen keuangan menganut prinsip yang sama, ketika membeli aset
semisal saham keuntungan modal akan Anda dapatkan ketika harga saham naik, sementara
pasif incomenya Anda peroleh dari dividen yang dibagikan.

Resiko pertama yang muncul dari investasi ini adalah kebutuhan akan counter party.
Dengan kata lain, setiap Anda ingin membeli aset, di sana harus ada pihak lain yang
menjual. Sebaliknya ketika Anda ingin menjual aset tersebut kembali, harus ada juga pihak
yang bersedia membeli.

Resiko counter party muncul dengan sendirinya ketika harga mengalami perubahan cepat
misalnya penurunan drastis. Anda akan mengalami kesulitan untuk menemukan pembeli.

Resiko selanjutnya adalah potensi partial fills dimana hanya sebagian saja dari aset Anda
yang berhasil terjual.

Aset di atas dapat juga diaplikasikan dalam konsep trading, dengan tingkat resiko counter
party lebih rendah walaupun dengan produk yang sama. Hanya saja Anda tidak dapat
mengambil keuntungan sesaat dari pernurunan harga yang drastis. Sebab short selling
memiliki peraturan yang ketat dan di beberapa negara termasuk Indonesia, hal tersebut
sepenuhnya di larang.

Derivatif/ Berjangka

Sementara itu, di bagian lain dunia keuangan, terdapat fasilitas trading yang mampu
menjawab berbagai kekurangan tersebut di atas. Yang menjamin likuiditas sepenuhnya
terlaksana, baik dari sisi kenaikan dan penurunan harga, maupun dari jumlah aset yang
ditransaksikan.

Dalam dunia finansial, terdapat produk-produk derivatif dan produk berjangka yang
memenuhi kriteria tersebut di atas yang diperdagangkan di dalam bursa tersendiri.
Terdapat banyak keunggulan yang dapat dimanfaatkan dari trading di bursa berjangka.
Kelebihan-kelebihan yang patut disimak, antara lain:

   1. Jangka                                                                         Waktu
      Jangka waktu investasi memiliki rentang yang panjang dan mengikat hingga
      mencapai tingkat keuntungan ideal. Sedangkan jangka waktu trading diproyeksikan
      beberapa bulan saja. Seorang investor yang membeli tanah pada lokasi yang
      menjanjikan dari sisi ekonomi, tetap membutuhkan waktu yang relatif lama untuk
      menunggu harga tanahnya mengalami kenaikan yang ideal. Penggunaan waktu yang
      lebih efisien dapat dijumpai pada perdagangan produk berjangka, karena trader
      dapat mengubah jangka waktu tradingnya dengan menggunakan timeframe yang
      lebih pendek. Rentang time frame ini dapat disesuaikan hingga sampai 5 menit atau
      bahkan 1 menit.
   2. Likuiditas
      Dalam dunia investasi, likuiditas trading atau investasi memiliki arti seberapa besar
      pasar yang tersedia dapat menyerap produk yang di transaksikan (rasio jumlah
      penjual dan pembeli). Semakin tinggi likuiditas, maka semakin mudah pula proses
      trading dapat dilakukan. Likuiditas yang rendah membawa kesulitan bagi penjual
      untuk menemukan pembeli. Bursa berjangka memiliki likuiditas transaksi yang
      sangat cepat, dijalankan secara online dan dapat melaksanakan transaksi dimanapun
      Anda berada, tanpa antrian dan tanpa partial fill. Disamping itu, Anda juga dapat
      langsung melakukan aksi jual tanpa harus direpotkan oleh delay atau proses
      birokrasi apapun. Hal-hal tersebut bisa dilakukan kapan saja selama sesi
      perdagangan trading.
   3. Potensi                                                                  Keuntungan
      Dalam investasi tradisional, tidak terdapat fasilitas leverage karena berbasis modal
      penuh. Leverage merupakan layanan bagi investor untuk melakukan pembelian
      suatu instrumen trading dengan hanya mengeluarkan sebagian kecil dari modal
      investasi/ harga instrumen tersebut. Dalam perdagangan derivatif/ berjangka
      (penjelasan lebih detil bisa dilihat pada artikel selanjutnya), sebuah instrumen
      trading berjangka dapat dibeli dengan modal 10% dari nilai instrumen, bahkan ada
      produk yang dapat dibeli dengan hanya mengeluarkan 1% modal dari nilai
      instrumennya.
      Perumpamaan penggunaan leverage trading, dapat disimak dalam contoh cerita
      berikut ini. Seandainya Anda membeli tanah di daerah ‘elit’ ibukota seharga Rp 1
      Miliar, dan setelah satu tahun kemudian ketika harganya mencapai Rp.1,1 Miliar,
      Anda-pun menjual aset tersebut sehingga menghasilkan keuntungan Rp 100 juta.
      Return     On   Investment     (ROI)    Anda    akan     menjadi:    Rp.100.000.00,-/
      Rp.1.000.000.000,-               x             100%                =             10%
      Anda dapat membandingkannya dengan potensi yang bisa diraih melalui trading
      produk derivatif berdasarkan contoh berikut. Anda membeli 100 troy ounce emas
      pada harga $1,000 per troy ounce, sehingga total nilai investasi Anda $100,000 (100
      troy ounces x $1,000). Namun karena penggunaan leverage, modal yang Anda
      butuhkan untuk melaksanakan pembelian ini hanyalah sebesar $10,000. Selanjutnya
      Anda menjual emas tersebut pada harga $1,100 per troy ounce. Dari transaksi ini,
      Anda memperoleh profit sebesar $10,000 ($100.00 x 100 troy ounce). Perhitungan
      ROI               Anda               adalah               sebagai             berikut:
      $10,000 / 10,000 x 100% = 100% dari nilai investasi kita.
Dasar Analisa Teknikal

Dasar Analisa Teknikal Bagian ini akan membahas:
Analisa teknikal dasar Definisi dan asumsi dengan Tipe grafik dan penggunaannya Konsep
indicatordanoscillator

Berjalanlah ke area terbuka, dan lihatlah kondisi cuaca saat ini. Apakah Anda melihat langit
cerah? Atau berawan? Atau mendung? Atau bahkan mendung yang sangat gelap? Setelah itu,
ingat-ingatlah      kembali       cuaca       apa       yang        biasanya     menyusul?

Kita umumnya dengan analisa teknikal akan memperkirakan akan turun hujan jika saat ini
melihat cuaca mendung, atau sebaliknya, jika melihat cuaca cerah, kita tidak mengharapkan
hujan                                     akan                                     turun.

Disadari atau tidak dengan analisa teknikal, kita sedang membuat perkiraan-perkiraan tentang
masa depan berdasarkan situasi atau kondisi saat ini. Perkiraan tersebut membantu kita untuk
mengantisipasi apa yang mungkin terjadi. Misalnya, jika kita melihat mendung yang gelap pada
puncak musim hujan, tentunya kita tidak akan keluar rumah tanpa mempersiapkan diri untuk
menghadapi hujan lebat bukan?

Berdasarkan analogi tersebut, dapat disimpulkan bahwa
mekanisme analisa teknikal persis dengan perkiraan cuaca.
Caranya sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh semua
orang. Weatherman tidak membutuhkan data lain untuk
melakukan perkiraan selain melihat ke langit dan mengenali
tanda-tanda dan kebiasaan sebelum turunnya hujan. Analisa
Teknikal juga demikian, hanya membutuhkan grafik sebagai
satu-satunya sumber data untuk menganalisis perilaku pasar
dan        menghasilkan        perkiraan        selanjutnya.

Banyak istilah dalam definisi analisa teknikal yang mungkin
Anda temukan. Misalnya; analisa teknikal sebagai studi
terhadap harga, studi terhadap perilaku pasar, terhadap grafik
atau terhadap pola-pola harga. Dengan tujuan untuk mengenali tren atau mencari peluang entry
& exit atau untuk memaksimalkan keuntungan. Tetapi tentu, Anda sendiri sadar bahwa
perbedaan tersebut hanya sebatas penggunaan istilah yang berujung pada maksud yang sama.
Pada intinya, analisa teknikal merupakan analisis terhadap perilaku pasar untuk mencari peluang-
peluang                                                                               transaksi.
{break}

Perilaku pasar

Perilaku seluruh pihak yang terlibat di pasar hanya muncul dalam tiga bentuk aktifitas:
1. Membeli Melakukan pembelian terhadap instrumen tertentu,
baik untuk posisi baru atau untuk likuidasi posisi sebelumnya.

2. Menjual Melakukan penjualan terhadap instrumen tertentu, baik
untuk posisi baru atau untuk likuidasi posisi sebelumnya.

3. Mengamati Memilih untuk tidak mengambil posisi baru atau
melikuidasi posisi yang ada, atau telah memutuskan untuk
menahan posisi hingga waktu atau harga tertentu.

Dan hasil analisa teknikal dari aktifitas tersebut memunculkan
kenaikan atau penurunan harga. Jika pihak pembeli lebih kuat
dibanding penjual, maka analisa teknikal harga tentunya akan mengalami kenaikan, dan begitu
juga sebaliknya. Semakin banyak pihak yang meminta, maka analisa teknikal harga akan
semakin tinggi, dan jika semakin banyak pihak yang menawarkan maka semakin rendah pula
harga. Hal ini terjadi karena pasar adalah tempat perdagangan maka hukum supply & demand
tetap                                                                              berlaku.

Untuk mengenali analisa teknikal apakah harga mengalami kenaikan, penurunan atau bergerak
dalam area yang terbatas, kita membutuhkan data yang mencakup harga sekarang dan harga-
harga sebelumnya. Keseluruhan data analisa teknikal tersebut kemudian ditampilkan ke dalam
grafik atau chart, yang saat ini sudah tersedia secara atomatis melalui software tertentu atau
trading platform yang ada. Dan itu tentunya analisa teknikal tersebut sangat memudahkan proses
analisa.

Ketika melihat grafik analisa teknikal, Anda akan menemukan harga bergerak naik, turun atau
datar secara berlulang-ulang, dari sinilah proses pengenalan tren harga dapat kita lakukan, dan
kemudian mengenali ciri-cirinya masing-masing untuk dimanfaatkan pada kesempatan analisa
teknikal berikutnya.




Figure 1 Alur kerja analisa teknikal

Seperti yang diperlihatkan dalam diagram 1, proses analisa teknikal dimulai melalui grafik untuk
mengenali     tren    kemudian     mencari    peluang     untuk     menciptakan     keuntungan.
{break}
Asumsi                                                                                 dasar

Untuk membangun pemahaman dan pengetahuan tentang analisa teknikal selanjutnya, ada 3
asumsi dasar yang perlu diketahui:

     1.                      Market                   discount                    everything

     Yang pertama adalah bahwa analisa teknikal pasar merupakan cerminan dari segala
     sesuatu. Perubahan harga yang terjadi di pasar adalah hasil dari tindakan (pembelian atau
     penjualan) yang diambil oleh para pelaku dengan beragam latar belakang, informasi,
     pengetahuan              dan               emosi               yang             berbeda.

     Melalui pengamatan terhadap perubahan harga yang terjadi di pasar sudah cukup bagi
     seorang analis untuk memperkirakan analisa teknikal pergerakan harga selanjutnya.

     2.             Prices              move              in             a              trend

     Analisa teknikal harga cenderung bergerak ke arah yang sama selama beberapa periode.
     Pergerakan tersebut dapat naik, turun atau bergerak dalam area tertentu (sideway)
     membentuk pola-pola yang efeknya dapat dikenali. Analisa teknikal percaya bahwa harga
     tidak bergerak secara acak, sehingga dapat diperkirakan. Jika harga suatu aset bergerak
     naik pada akhir minggu ini, maka minggu depan pergerakan tersebut cenderung berlanjut,
     sampai tanda analisa teknikal berakhirnya kenaikan muncul secara jelas.

     3.                       History                     repeats                       itself

     Pola-pola analisa teknikal tertentu yang dibentuk oleh pergerakan harga yang terjadi di
     masa lalu akan terulang kembali dan menimbulkan efek yang sama di masa depan. Analis
     teknikal percaya bahwa perilaku transaksi manusia yang didorong oleh informasi,
     keinginan dan emosi secara masal cenderung akan berulang, misalnya analisa teknikal
     sekerumunan massa yang melakukan antrian akibat kelangkaan minyak tanah pada saat ini
     akan kembali mengulang perilakunya di masa depan ketika menghadapi situasi yang sama.
     {break}

Alat analisa teknikal

Seorang trader atau investor hanya membutuhkan harga dan volume untuk dapat melakukan
analisa teknikal. Dimana harga adalah nilai uang dari aset yang diperdagangkan, dan volume
adalah jumlah transaksi. Kedua data ini, kemudian dimunculkan dalam grafik yang akhirnya
menjadi               objek               utama                analisa             teknikal.

Tipe-tipe                                                                              grafik

Dalam analisa teknikal, model grafik ada berbagai macam, namun dalam perkenalan ini kita
akan membahas tiga yang paling populer.
      1. Line chart

Analisa teknikal Grafik ini hanya berisikan sebuah garis yang menghubungkan penutupan
perdagangan yang satu dengan yang lain. Misalnya jika pada hari pertama perdagangan harga
berakhir di level 300, dan di hari kedua ditutup di harga 200 dan di hari ketiga di harga 400
seperti pada gambar 2, maka garis lurus dapat digambar dari 300 menuju 200 kemudian 400, dari
arah kiri ke kanan.




Gambar 2 Line Chart

Sebuah analisa teknikal line chart memiliki pergerakan yang jelas dan halus tetapi tidak
menyediakan informasi harga tertinggi, terendah dan harga pembukaan setiap sesi, akibatnya
fluktuasi analisa teknikal pasar tidak terlihat selama periode tersebut. Tergantung strategi yang
anda         memilih,         hal         ini        dapat        berarti       atau        tidak.
{break}

      2. Bar chart

Analisa teknikal bentuk bar chart menyerupai batang yang memiliki tangkai di kiri dan kanan,
dan memiliki informasi yang lebih lengkap, berisi harga pembukaan, tertinggi, terendah dan
penutupan.

Harga buka pasar berada pada tangkai kiri, dan penutupan pada tangkai kanan. Sementara ujung
dari batangnya mewakili harga tertinggi dan terendah dalam satu periode perdagangan.




Gambar 3 Struktur bar chart

      3. Candlestick chart
Analisa teknikal Candlestick merupakan grafik tertua yang ditemukan oleh analis teknikal.
Struktur tubuhnya menyerupai lilin, dan memiliki unsur yang sama dengan bar chart, terdapat
data      Open,     High,       Low       dan      Close      pada     setiap      sesinya.

Harga yang mengalami kenaikan biasanya dibentuk dengan warna terang, dan harga turun
dengan warna gelap. Selain berfungsi sebagai salah satu tipe grafik, candlestick juga memiliki
model analisa tersendiri yang telah luas digunakan oleh trader di dunia.




                      Gambar 4 Candlestick chart

Seluruh model grafik memiliki keunikan tersendiri, seseorang mungkin saja lebih menyukai line
chart dibanding bar ataupun candlestick. Observasilah ketiganya, temukan mana yang Anda
minati.

Dalam gambar 5 di atas, analisa teknikal grafik line yang berada pada posisi paling kiri
menampilkan harga lebih halus dibanding grafik bar ataupun candle. Namun line chart tidak
memiliki data intraday yang cukup penting, misalnya harga perdagangan tertinggi atau terendah
sepanjang periode tersebut, sehingga line chart banyak digunakan hanya untuk mempermudah
pengenalan tren, sementara bar dan candle lebih banyak digunakan untuk analisa teknikal
peluang-peluang transaksi, jangka pendek dan menengah.




Gambar 5 Analisa teknikal Grafik line, bar dan candlestick untuk Euro Daily, Mei 2009 {break}

Analisa teknikal Indikator dan oscillator

Indikator teknikal adalah hasil perhitungan matematis yang inputnya berdasarkan pada dua hal;
harga dan volume. Sebuah indikator dapat disusun dengan hanya mempertimbangkan harga, atau
hanya            volume             atau         kombinasi           dari          keduanya.
Perbedaan indikator dan oscillator dalam analisa teknikal terletak pada batasan perhitungannya.
Indikator tidak memiliki batas atas dan bawah, misalnya analisa teknikal Moving Averages.
Sementara oscillator biasanya bergerak terbatas di dalam area tertentu, misalnya 0 sampai 100
seperti RSI dan Stochastic, atau bergerak diantara area positif dan negatif dengan area tengah 0,
seperti MACD. Namun, secara praktis, indikator dan oscillator tidak harus dibedakan sedemikian
rupa, karena analisa teknikal keduanya menggunakan dasar dan memiliki manfaat yang sama.

Dua        manfaat      analisa           teknikal   indikator    dan     oscillator       adalah:

1.           Menentukan               tren           dan         mengukur              kualitasnya

Dalam kategori analisa teknikal ini, terdapat indikator yang dapat membantu trader untuk
mengenali/ menentukan sebuah tren yang terjadi, seperti penggunaan Moving Average(MA),
kemudian mengukur kekuatan nya seperti Average Directional Movement Index (ADX),
mengukur tingkat volatilitas harga , seperti Average True Range (ATR), dan mengukur tingkat
kecepatan           perubahan                harga,          misalnya          Momentum.

2.Menentukan                      level                  entry           dan                   exit

Penggunaan indikator tidak bisa dianggap remeh dalam membantu seorang trader untuk
menentukan pengambilan posisi beli atau jual. Setiap analisa teknikal indikator biasanya
memiliki metode sendiri dalam menghasilkan sinyal. Moving Average misalnya, menghasilkan
sinyal beli ketika penutupan harga berhasil melampaui garis MA, atau ketika terjadi crossover
antara MA periode lebih pendek ke atas MA periode lebih panjang.{break}

Tips                                           memilih                                   indicator

Pilihlah indikator yang paling cocok dan mudah untuk Anda gunakan dalam menganalisa
teknikal. Gunakan sesedikit mungkin indikator agar sistem Anda tidak terlalu rumit dalam
melakukan analisa teknikal. Pilihlah indikator berdasarkan fungsinya masing-masing. Misalnya:
Moving average untuk mengenali tren dan RSI sebagai filter atau mencari sinyal konfirmasi.
Amatilah perilaku indikator terhadap harga dengan mengujinya. Kenali pada kondisi apa saja
indikator tersebut berfungsi dengan baik dan pada kondisi apa saja mengalami gangguan.

Review

        Analisa teknikal adalah studi terhadap perilaku pasar untuk mengenali peluang trading.
        Ada tiga buah asumsi dasar yang menjadi fondasi analisa teknikal; Market discount
         everything, price moves in trend dan histroty repeat it self.
        Analisa teknikal membutuhkan dua jenis data untuk menganalisa yaitu harga dan volume.
         Indikator dan alat lainnya dibuat berdasarkan dua data tersebut.
        Tiga jenis grafik yang paling populer yaitu line chart, bar chart dan candlestick chart.
        Indikator dan oscillator dibedakan berdasarkan area pergerakan tetapi memiliki
         interpretasi yang sama.
Tren Identifikasi

Jenis tren

Tren dapat didefinisikan sebagai arah specific pergerakan harga. Hal ini penting untuk
dipantau untuk trading sebuah market. Banyak trader terkadang membuat rumit
pengenalan    tren      yang    harusnya      sejelas   dan    sederhana      mungkin.

Tren harga adalah kecenderungan arah pergerakan harga dalam kurun waktu tertentu. Dan
dapat    diklasifikasikan berdasarkan    jangka   waktu    dan    arah    pergerakan.

1.                                       Durasi                                   Tren

Primary (Jangka Panjang) Tren harga yang bergerak dengan jangka waktu yang lebih lama,
biasanya bertahan lebih dari satu tahun. Intermediate (Jangka Menengah) Tren harga yang
bergerak dengan jangka waktu menengah, biasanya lebih dari 3 minggu hingga beberapa
bulan. Minor (Jangka Pendek) Tren harga yang bergerak dengan jangka waktu yang lebih
pendek,         dari       satu        hari        hingga       beberapa        minggu.

2.                                        Arah                                    Tren

Pergerakan harga baik primary, intermediate atau minor, biasanya cenderung menuju ke
arah yang sama. Dalam analisa teknikal, tren sangat mudah dikenali dengan memahami 4
istilah dibawah ini:

        Higher high (HH); puncak harga tertinggi
        Higher low (HL); lembah yang lebih tinggi dari sebelumnya
        Lower high (LH); puncak yang lebih rendah dari sebelumnya
        Lower low (LL); lembah yang lebih rendah dari sebelumnya{break}

1.                       Uptrend                         (Tren                  naik)

Sederetan higher High (HH) dan Higher Low (HL). Atau dengan bahasa lain, adalah
pergerakan harga yang berulang kali membentuk puncak dan lembah yang lebih tinggi
dibanding sebelumnya.




                                   Gambar 1 tren naik.

2. Downtrend (Tren turun)
Sederetan Lower High (LH) dan Lower Low (LL). Atau, secara berulang membentuk puncak
dan lembah yang lebih rendah dibanding sebelumnya.




                                Gambar 2 Downtrend

3.                              Sideways                                (Konsolidasi)

Harga yang tidak membentuk sederetan HH, HL atau LH, LL. Atau harga yang secara
berulang diperdagangkan dalam area yang sama.




                             Gambar 3 Sideways {break}

Penentuan                                                                        tren

1.               Peak                &                Trough                 analysis

Suatu tren dapat dikatakan telah terjadi ketika sudah membentuk puncak (peak) & lembah
(trough)     paling      sedikit     dua       kali    ke    arah     yang       sama.

Misalnya, jika terjadi dua kali kenaikan peak & trough (P&T), maka tren naik dapat
dikatakan dimulai, seperti yang diilustrasikan pada gambar 4.
                                 Gambar 4 Awal tren naik

Dan sebaliknya, jika terjadi dua kali penurunan P&T, tren turun mendapatkan sinyal. Hal ini
dapat dilihat pada gambar 5.




                          Gambar 5 Awal tren menurun {break}

2.                Garis                 tren                 (Trend                  Line)

Tren juga dapat dikenali melalui penggunaan garis yang dihubungkan antara titik tertinggi
atau terendah suatu pergerakan harga. Proses penentuan tren melalui garis ini hanya dapat
dilakukan jika terdapat dua titik yang dapat dihubungkan. Dalam tren naik misalnya,
terdapat dua kali kenaikan trough atau dua kali penurunan peak dalam tren turun. Simak
gambar 6 dan 7.
                          Gambar 6 Pemotongan garis uptrend

Ketika harga memecah garis tren, hal ini adalah sinyal pertama bahwa akan ada pembalikan
tren.




                    Gambar 7 Pemotongan garis downtrend {break}

Support                                  &                                   resistance

Support adalah level dibawah harga sekarang yang memiliki kekuatan beli cukup besar
sehingga mampu menahan penurunan harga lebih jauh. Resistance adalah level diatas
harga sekarang yang memiliki kekuatan jual cukup besar sehingga mampu menahan
kenaikan harga lebih lanjut.
                      Gambar 8 Resistance berubah menjadi Support

Support dan resistance merupakan level tahanan, keduanya berfungsi sebagai penghambat
kecepatan harga. Jika level tersebut terlewati maka harga akan membentuk level support
atau resistance yang baru. Biasanya level resistance yang berhasil terlewati akan menjadi
level support bagi pergerakan selanjutnya, demikian juga bagi level support yang terlewati,
biasanya     akan    menjadi     resistance    bagi   pergerakan     harga    selanjutnya.

Support dan resistance dapat diidentifikasi dengan menggunakan garis trend. Normalnya
garis tren diletakkan pada harga terendah atau harga tertinggi sebelumnya.




                       Gambar 9 Tambahan Resistance dan Support

Dalam gambar 9, terdapat contoh lain support dan resistance yang terjadi pada
Poundsterling. Anda akan menemukan level support dan resistance yang dominan pada saat
harga mengalami trading range atau hanya bergerak dalam area terbatas dalam waktu
yang cukup panjang. Namun begitu level berhasil ditembus, umumnya pergerakan besar
menyusul kemudian. Dalam kata lain, trading range biasanya terjadi sebelum pergerakan
besar.{break}

Pola                                                                                       harga

Tren umumnya tidak berubah secara langsung dan tiba-tiba. Biasanya terdapat periode
transisi sebelum perubahan tersebut terjadi. Dan selama masa transisi tersebut harga
melakukan pergerakan membentuk formasi yang memiliki ciri-ciri tertentu yang mudah
dikenali.

Formasi-formasi   tersebut   biasanya   di   diklasifikasikan   sebagai   reversal   pattern   dan
continuation pattern. Namun implikasi dari berlanjut atau berbaliknya harga setelah
menyelesaikan formasi tersebut umumnya tergantung pada ke arah mana breakout terjadi.

Dalam buku ini, kita hanya akan membahas dua pola harga yang paling umum terjadi dan
memiliki                     efek                   paling                    tinggi.

1.                      Head                         and                        Shoulder

Yang pertama Head and Shoulder Pattern, sesuai namanya, adalah formasi yang mirip
dengan bentuk kepala dan bahu, yang memiliki implikasi reversal. Pola ini merupakan salah
satu pola klasik yang memiliki validitas tinggi.




                            Gambar 10 Pola Head & Shoulder

Gambar 10 adalah contoh formasi pola ‘head and shoulders’ yang harus memiliki dua bahu
(A dan C), dan kepala yang harus lebih tinggi dibanding kedua bahu.

Breakout terjadi ketika harga setelah membentuk bahu kanan (C) menembus garis
neckline. Pergerakan harga setelah breakout tergantung jarak antara kepada dan neckline.
{break}

Efek: Umumnya         reversal,       berdasarkan        arah       breakout       terjadi

Sebagai contoh, bisa dilihat pada gambar 11. Setelah bahu kiri tercipta pada Juni dan Juli
2007, Poundsterling berhasil menciptakan high baru dan pola head tercipta [ada Agustus-
Desember 2007. Harga kemudian turun lagi ke neckline and menciptakan shoulder kanan
dari Maret sampai Agustus 2008. Polanya lengkap setelah harga memecah neckline pada
tanggal 13 Agustus 2008. Harga mulai tren kebawah sejauh yang diindikasikan panah
merah, yang juga merupakan jarak head dan neckline. and neckline.
                   Gambar 11, Reversal Head and Shoulder pada GBP daily

2.                                                                                Triangle

Triangle adalah pola harga sideway yang berbentuk segitiga, dimana kedua garis trend
bergerak saling mendekati, dan diikuti oleh harga yang membentuk sederetan lower high
dan atau higher low. Triangle memiliki banyak tipe, diantaranya symetrical, ascending dan
descending,         yang         berbeda           dari         sisi        klasifikasinya.

Efek: Melanjutan                    tren                   atau                     reversal

Untuk lebih memudahkan, bahwa hampir seluruh pola harga akan bergerak sesuai arah
breakoutnya                                                       masing-masing.
{break}




Gambar 12, Triangle berlanjut (continuation)    Gambar 13, Triangle berbalik arah
(reversal)

Dalam gambar 12, setelah harga menyempurnakan formasi triangle, dan kemudian
melakukan penetrasi ke garis triangle bagian atas. Harga bergerak sesuai dengan arah
breakout. Demikian juga pada gambar 13, harga bergerak kearah breakout tetapi
merupakan reversal tren yang sedang berjalan.




                        Gambar 14 Euro H1, Breakout ke bawah

Euro H1 membentuk pola symetrical triangle dengan bearish breakout seperti yang
diilustrasikan oleh gambar 14, kemudian harga dengan cepat kembali ke area awal
pembentukan                                                                pola.

Dalam Time frame lebih besar (H4), setelah breakout tersebut, Euro kemudian membentuk
pola symetrical triangle yang lebih besar, namun membentuk bullish breakout (gambar 15).
                       Gambar 15 Euro H4, Breakout ke bawah

Review

     Tren didefinisikan sebagai kecenderungan pergerakan harga dan dapat
      diklasifikasikan berdasarkan jangka waktu dan arah bergeraknya.
     Tren dapat dikenali melalui posisi puncak dan lembahnya, menggunakan garis tren
      atau melalui indikator.
     Pola harga dapat diklasifikasikan ke dalam 2 model, yang pertama adalah pola
      berlanjut, dan kedua adalah pola reversal atau pembalikan arah.
     Umumnya efek yang dihasilkan oleh pola harga mengikuti arah breakout-nya.
Manajemen Resiko Trading

Pengertian Manajemen Resiko

         Dasar manajemen resiko
         Pengertian resiko setiap transaksi
         Pengertian mengenai resiko pasar
         Risk to reward ratio dan Pareto principle

Manajemen resiko seseorang yang bekerja atau berwirausaha di kawasan strategis, setiap
harinya berhadapan dengan kondisi jalanan yang macet. Seseorang tersebut bisa saja yakin
dapat sampai di kantor tepat waktu. Namun, tentu kondisi di jalanan tidak ada yang tahu,
misalnya pohon tumbang akibat hujan sebelumnya, atau jalanan ditutup atau faktor lain
yang           dapat          menyebabkan             terhalangnya            perjalanan.

Kemampuan seseorang tersebut dalam mengelola ketidakpastian di jalanan adalah salah
satu                 bentuk                  manajemen                       resiko.

Sama halnya dengan dunia finansial. Resiko adalah ketidakpastian yang bakal terjadi dari
setiap situasi dan keputusan yang kita ambil. Hanya saja konsekuensi dari manajemen
resiko    tersebut   adalah   berkurang   atau    hilangnya    sebagian   dana     kita.

Manajemen resiko membantu Anda untuk mengenali resiko apa saja yang mungkin dihadapi
dan    apa   saja   cara   yang    perlu  dipersiapkan      untuk    menghadapinya.
{break}
Manajeman Resiko penting yang perlu diperhatikan

Dalam trading, manajemen resiko sangat dibutuhkan, karena banyak resiko yang Tentunya
banyak jenis resiko yang ada di alam ini yang senantiasa mengintai Anda dalam melakukan
aktifitas         trading.          Dua           risiko        penting          adalah:

1.                  Manajemen                    Resiko               trading/bertransaksi

Manajemen resiko trading adalah resiko yang Anda ambil ketika menentukan seberapa
besar modal dan volume transaksi yang dilibatkan dalam setiap keputusan. Resiko jenis ini
sepenuhnya dibawah kontrol Anda.

         a.                     Resiko                       total                 equity

         Manajemen resiko Profesional biasanya menganjurkan resiko total dibatasi maksimum
         hanya sampai 20-30%, jika Anda cukup confident, maka Anda bisa menyesuaikannya.

         b.           Resiko             per          kali           masuk         posisi

         Setelah Anda menentukan batasan resiko equity, barulah manajemen resiko stoploss
         dapat ditentukan. Metode untuk menentukan stoploss beraneka ragam. Tapi
         sebaiknya manajemen resiko anda harus melihatnya dari total equity.
Tabel 1 di bawah memberikan gambaran manajemen resiko, bahwa semakin banyak resiko
yang Anda ambil, semakin sedikit transaksi yang dapat dieksekusi. Jika Anda ingin
menggunakan 1% dari total equity dalam setiap transaksi, maka Anda memiliki 100 kali
kesempatan transaksi. Jika Anda memilih 5% dari total ekuiti, Anda akan memiliki 20
kesempatan. Hal ini perlu di pertimbangkan manajemen resikonya agar Anda dapat
menemukan rasio risk reward yang sesuai.




Tabel. 1 Perbandingan resiko per transaksi dan kesempatan

Dalam tabel tersebut, dapat dilihat bahwa semakin besar presentase resiko, maka semakin
mengecil jumlah kesempatan yang kita miliki. Banyak pihak, menyarankan manajemen
resiko tidak boleh lebih besar dari 2% total ekuiti per transaksi, sehingga walaupun 25 kali
kesalahan terjadi berurutan, Anda masih memiliki 50% ekuiti untuk dapat memulihkan
kinerja trading.

{break}
2.                                       Market                                          risk

Manajemen resiko ini adalah resiko yang sudah dimiliki oleh pasar dengan sendirinya, baik
sebelum Anda terlibat didalam maupun sesudah itu. Anda sama sekali tidak dapat
melakukan apa-apa terhadap jenis resiko ini, kecuali mengenal menganalisa dan mencari
cara                                                                      mengatasinya.

Setiap instrumen trading memiliki keunikan tersendiri, 3 manajemen resiko terpenting yang
harus Anda pertimbangkan adalah:


     Perubahan                     harga                    dan                   volatilitas

     Yang pertama dan yang paling dasar adalah perubahan harga pasar. Perubahan ini
     tentunya akan menciptakan manajemen resiko tersendiri bagi aktifitas trading Anda.
     Saham yang berkapital besar biasanya bergerak lebih stabil dibanding yang berkapital
     kecil. Forex dan index juga sama, beberapa index dan mata uang bergerak lebih stabil
     dibanding                                 yang                                 lain.

     Volatilitas yang tinggi, terutama jika dibarengi dengan range pergerakan yang besar,
     dapat memaksa Anda untuk melonggarkan batasan resiko yang sudah Anda tentukan,
     misalnya manajemen resiko dengan cara menempatkan stop loss yang lebih jauh.

     Liquidity                                                                           risk

     Untuk melikuidasi posisi saham, biasanya data Anda akan di input dalam daftar
     antrian. Jika pasar dalam keadaan turun, dan pembeli sulit ditemukan, Anda mungkin
     tidak dapat melikuidasi posisi hingga kerugian besar menimpa Anda. Resiko seperti ini
     juga harus dipertimbangkan dalam manajemen resiko, dan mencari cara untuk
     mengatasi kerugian yang mungkin timbul tersebut, Anda bisa saja, misalnya,
     melakukan shot sell (jika memungkinkan) atau melakukan hedging di pasar future
     atau                                    pasar                                   CFD.

     Manajemen resiko likuiditas seperti ini bagi instrumen futures atau derivative lain
     sangat minim, terutama setelah adanya aktifitas online trading, yang memungkinkan
     pelaksanaan                transaksi                secara              elektronik.

     Risiko                    leverage                    dan                    margin

     Resiko leverage dapat diartikan sebagai manajemen resiko yang muncul akibat
     penggunaan skala modal yang lebih besar dibanding modal yang disetorkan. Misalnya
     Anda dapat membeli atau menjual suatu instrumen seharga $ 100,000,- dengan
     hanya menyetorkan jaminan dana sebesar $1,000. Jaminan tersebut bukanlah jumlah
     maksimum kerugian jika pasar bergerak berlawanan dengan posisi Anda, namun
     sebagian dari modal total yang Anda setorkan juga turut menanggung resiko tersebut.
     Hal ini terjadi karena leverage mengandung dana pinjaman dan kita harus
     membayarnya       kepada       broker     jika     transaksi   berjalan      buruk.

     Overnight                                                                        risk

     Untuk manajemen resiko instrumen berjangka, Anda menyimpan posisi overnight.
     Berita tertentu dapat menyebabkan market untuk bergerak di arah yang diinginkan
     atau sebaliknya. Terkadang, anda tidak dapat menyimpan order likuidasi ketika
     market tutup. Sehingga nenyimpan posisi overnight merupakan manajemen resiko
     yang                           perlu                           dipertimbangkan.

     Contohnya: untuk Lehman Brothers (LEH). Sehari sebelum pengumuman
     kebangkrutan, saham LEH menutup pada harga $4.00. Pada hari kebangkrutan, LEH
     membuka pada harga $0.24. Penurunan ini adalah sebesar 94% dalam sehari. Posisi
     jual akan menghasilkan keuntungan luar biasa pada hari itu, sebaliknya posisi beli
     akan menggerus keseluruhan modal.

{break}
Asumsi         manajemen           resiko         yang         perlu        diperhatikan

Dalam menyusun manajemen resiko, ada tiga hal yang perlu Anda pertimbangkan sebagai
bahan dasar pengelolaan resiko Anda, yang pertama adalah rasio risk to reward, kedua
adalah   rasio   win     loss   dan     yang    ketiga   adalah     prinsip   Pareto.

1.                Risk                  to                 Reward                   Ratio

Adalah manajemen resiko rasio yang digunakan untuk membandingkan potensi keuntungan
dengan resiko dalam setiap pengambilan keputusan transaksi. Risk reward ratio dalam hal
ini berbeda dengan yang umumnya dipahami, dalam dunia trading istilah tersebut
digunakan sangat sederhana sebagai sebuah gambaran tentang manajemen resiko yang
Anda    akan     ambil   untuk    mendapatkan     sejumlah     tertentu   keuntungan.

Misalnya jika Anda memiliki rasio risk reward 5:1, bukan berarti bahwa Anda secara nyata
menerima keuntungan 5 kali lebih besar dibanding resiko. Sekali lagi bahwa hal ini adalah
rasio                                     bukan                                     fakta.

Untuk menyusun rasio risk reward bagi setiap orang akan berbeda-beda dan bersifat
subjektif. Investor bermodal besar akan memiliki tingkat penerimaan terhadap resiko lebih
besar dibanding pemodal kecil. Faktor personal lain manajemen resiko, seperti tujuan,
karakter       dan      usia         juga    berpengaruh     dalam   menyusun       rasio.

Untuk menyesuaikan rasio tersebut ke dalam aktifitas transaksi manajemen resiko juga
tidak terlalu rumit, ada banyak cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan merubah
komposisi     modal,   stop  loss  atau   bahkan    dengan    merubah   exit   point.

Menyusun                             rasio                  anda                   sendiri

Penyusunan manajemen resiko reward tidak perlu rumit, bahkan sangat sederhana . Anda
hanya perlu menjawab dua pertanyaan di bawah ini;

     1. Berapa jumlah keuntungan yang Anda inginkan dari setiap transaksi? Berapa jumlah
        dana yang rela Anda tempatkan ke dalam resiko untuk mendapatkan keuntungan
        tersebut?

     2. Setelah Anda menjawabnya, bagilah jumlah keuntungan tersebut terhadap jumlah
        resiko yang Anda relakan, dan hasilnya Anda telah mendapatkan rasio risk reward
        Anda sendiri.

2.                             Win                         Loss                      Ratio

Rasio ini bermaksud mengukur seberapa besar presentase manajemen resiko kemenangan
berbanding     kerugian   yang     dihasilkan    oleh    sistem   trading    Anda.

Untuk mendapatkannya, Anda tentunya harus memiliki sistem manajemen resiko terlebih
dahulu, susunlah sistem tersebut dan uji hasilnya baik dalam bentuk back testing ataupun
forward        testing        dengan          menggunakan         demo          account.

Anda juga dapat melakukannya dengan test visual melalui grafik jika itu mudah dilakukan.
Setelah itu, catatlah hasil berapa kali sistem tersebut menghasilkan keuntungan dan berapa
kali menghasilkan kegagalan. Dengan demikian manajemen resiko Anda telah mendapatkan
win                                          loss                                    ratio.
{break}
3.                                       Pareto                                  Principle

“Vital few and trivial many”. Prinsip Pareto mengatakan bahwa 20% dari sesuatu itu selalu
mendatangkan hasil 80%. Atau dengan kata lain, 80% hasil diperoleh dari 20% aktifitas,
dan 20% dari hasil selalu diperoleh dari 80% aktifitas. Dalam artian trading, profit yang
efektif itu datang hanya dari sebagian kecil (20%) aktifitas transaksi Anda.

Anda tidak harus mengadopsi angka prinsip ini secara persis, yang terpenting yang harus
kita pahami adalah bahwa kebanyakan dari aktifitas trading biasanya hanya menyumbang
sebagian          kecil       bagi           pertumbuhan            modal          kita.

Sebagai contoh manajemen resiko, katakanlah sebuah metode memiliki probabilitas 60%
kekalahan dan 40% kemenangan. Prinsip diatas dapat berjalan seperti ilustrasi dibawah;

10 Transaksi EUR/USD; setiap transaksi memiliki SL 50 poin dan TP 100. 6 dari transaksi
tersebut terkena stoploss dan menghasilkan kerugian, 4 lainnya menghasilkan keuntungan.

        6 Transaksi Loss x 50 poin (pips) x $10/poin =- $3,000
        4 Transaksi Profit x 100 poin x $10/poin = +$4,000
      Net Profit/ Loss = +$1,000

Artinya bahwa dengan mengelola manajemen resiko trading Anda, metode yang buruk
sekalipun  masih   dapat Anda    manfaatkan   untuk    menghasilkan  keuntungan.

Review

      Ketika trading, hal yang perlu Anda perhatikan dalam manajemen resiko adalah
       seberapa besar total kekayaan Anda yang siap Anda tempatkan ke dalam resiko.
       (Saran pada umumnya berkisar antara 20¬% dan 30%..
      Hal lain yang perlu diperharikan ketika trading adalah manajemen resiko pergerakan
       harga, volatilitas, resiko margin dan juga resiko untuk posisi overnight
      Rasio risk to reward akan memberikan perbandingan manajemen resiko yang diambil
       terhadap profit yang dihasilkan.

Time Frame dan Stoploss

Bagian ini akan membahas:

      Time Frame dan penyesuaian dengan strategi trading
      Penempatan stoploss dan pemilihan jenis stop
      Trailing stop

Time Frame

Time frame adalah salah satu penyebab buruknya kinerja trading, bila terjadi kesalahan
memilih time frame yang sesuai dengan kebutuhan atau karakter investor bersangkutan.

Seseorang bisa saja menganggap time frame weekly atau time frame daily chart bergerak
sangat lamban dan menghasilkan sinyal yang sedikit. Menurutnya time frame, grafik
intraday lebih sesuai, menghasilkan banyak sinyal dan bergerak cepat sesuai metode dan
kepribadiannya. Tetapi time frame seorang yang lain dapat merasakan yang sebaliknya

Menggunakan time frame dalam grafik memungkinkan anda untuk mengambil keputusan
berdasarkan strategi trading. Seorang trader yang menggunakan grafik time frame daily
atau time frame weekly dan bertransaksi hanya beberapa kali setahun embutuhkan modal
lebih besar. Jangka waktu atau time frame lebih panjang juga berarti penambahan biaya
overnight and resiko gap (terutama dalam perdagangan saham dan futures)

Seorang trader yang menggunakan grafik time frame 1-15 menit, cenderung bertransaksi
sekitar 200 lot sebulan, dengan profit kecil. Pembutuhan modal biasanya kecil, asalkan
tidak terlalu banyak kerugian yang berurut dan tidak ada biaya overnight karena posisi
biasanya            ditutup         pada            hari         yang           sama.

Berikut ini adalah panduan untuk menyesuaikan time frame berdasarkan strategi anda:

       Time                 Frame                         Long                     term
       Grafik   : time  frame   Daily       (D1)   &    time    frame  Weekly      (W1)
       Transaksi : Biasanya 2 atau         3 trades/    tahun, potensi profit      besar
       Drawdown       :     Besar           akibat       stoploss     yang          jauh
       Overnight     :      Biaya           overnight        dan      resiko          gap
       Time                   Frame                      Short                term
       Grafik          :         time          frame              Hourly       (H1)
       Transaksi :    Medium, 5-20 transaksi/bulan, potensi profit relatif besar
       Drawdown           :        Lebih        sedikit,          stoploss     kecil
       Overnight       :     Ada         biaya     jika        disimpan    overnight

       Time                      Frame                    Intra                  day
       Grafik : time frame Minutely, 1 menit (M1), 5 menit (M5), 15 menit (M15)
       Transaksi    :   20-100an    /   bulan, potensi   profit kecil   per transaksi
       Drawdown            :          Besar,      akibat        gejolak        harga
       Overnight : Tidak ada biaya overnight

{break}

Penempatan Stoploss

Penentuan kapan harus keluar posisi disaat rugi atau untung memiliki manajemen sendiri.
Stoploss order adalah tindakan atau perintah menutup posisi terbuka yang dipergunakan
untuk merealisasikan target keuntungan atau membatasi jumlah kerugian seorang trader
atau     investor    dalam     setiap    kali     pengambilan    keputusan     trading.

Likuidasi stoploss posisi dalam trading secara umum terbagi dalam dua katagori:

     1. Stoploss order, yakni menutup posisi (close position) beli di bawah harga masuk
        (open position) atau menutup posisi jual di atas harga masuk yang dipergunakan
        untuk membatasi jumlah kerugian trading.
     2. Take Profit (target), adalah menutup posisi beli (close) di atas harga masuk
        (open) atau menutup posisi jual (close) di bawah harga masuk (open), yang
        dipergunakan untuk merealisasikan keuntungan.

Dalam manajemen trading, ada dua kategori utama cara menentukan stoploss:

1.                 Equity                 dan                 Margin                 Stop

Ekuiti stoploss merupakan stop yang termudah, seorang trader atau investor dapat
menentukan stoploss level berdasarkan presentase atau jumlah tertentu dari ekuitinya
setiap kali melakukan transaksi. Misalnya, seorang trader konservatif menetapkan 2%
resiko dari total ekuitinya dalam setiap kali transaksi. Jika ekuitinya berjumlah $10,000,
maka stoploss setiap transaksi adalah $200 atau 20 poin jika menggunakan 1 lot transaksi
Euro. Persentase tersebut dapat disesuaikan dengan karakter sendiri, namun umumnya
profesional menyarankan tidak melebihi 5% dari equity. Sehingga bahkan dalam 10 kali
kesalahan        trading      sekalipun,      equity        masih      bertahan      50%.

Margin Stoploss, menentukan persentase stoploss berdasarkan margin. Seorang trader
dapat menggunakan 1 lot transaksi dan menentukan stoploss berdasarkan kemampuan
modal margin 1 lot, misal $1,000 setiap 1 lot transaksi. Metode ini membutuhkan trader
untuk    memecah      accountnya     $10,000      menjadi     10    bagian   transaksi.

Kedua model stoploss seperti ini, menyandarkan resiko pada faktor internal penggunanya
bukan dari eksternal, seperti misalnya penyesuaian terhadap karakter dan fluktuasi pasar.
{break}
2.                                   Technical                                    Stoploss

Cara menutup posisi yang dihitung/ dianalisis berdasarkan kondisi pasar. Penentuan
stoploss jenis ini adalah yang paling direkomendasikan oleh trader profesional. Technical
stoploss dapat ditentukan berdasarkan kondisi indikator atau oscillator tertentu, atau dapat
dilakukan hanya melalui pengamatan pada grafik.


     Berdasarkan                                                                Indikator

     Perpotongan MA atau oscillator yang telah mencapai level ekstrim adalah contoh
     bagaimana analisa teknikal cukup membantu dalam level menentukan stop.




     Gambar 1 Contoh transaksi dan stop dengan MA, Euro Hourly

     Sebagai contoh, gambar 1 memperlihatkan peluang yang dapat dimanfaatkan ketika
     crossover moving average terjadi. Setelah Anda mengambil posisi pada crossover
     pertama yang mengindikasikan sell, Anda disarankan menggunakan stoplosspada
     perpotongan kedua yang diindikasikan dengan garis merah. Biasanya juga disarankan
     untuk menutup posisi atau berbalik arah posisi ketika terjadi perpotongan
     selanjutnya.

     Sebelum menggunakan stop ini, Anda sebaiknya menguji secara visual terlebih dahulu
     MA periode berapa yang terbaik digunakan pada instrumen yang Anda pilih.
     {break}

     Berdasarkan                    titik                 signifikan                 harga

     Grafik adalah kaya akan informasi. Anda dapat memilih stoploss tanpa menambah
     indikator yang lain. High terbaru mengindikasikan resistance dan low terbaru
     mengindikasikan support. Menempatkan entry point dan stoploss berdasarkan metode
     tersebut dapat digunakan seperti yang ilustrasi pada gambar 2.
     Gambar 2 Entry point dan Stop berdasarkan high atau low yang terbaru pada Euro
     Hourly Chart

     Anda dapat menjual ketika harga breakout dan memasang stoploss pada level high
     sebelum breakout terjadi. Ketika sebuah breakout terjadi, hal ini bisa berarti
     perubahan tren, sehingga bisa berfungsi sebagai entry yang bagus, tetapi juga dapat
     berfungsi sebagai exit point, jika breakout terjadi pada arah sebaliknya. Metode
     tersebut dapat diaplikasi untuk memasuki posisi beli, dan memasang stoploss pada
     low terbaru.{break}

Menempatkan                                  Trailing                               Stop

Stoploss tidak harus statis, dapat juga berubah-ubah sesuai dengan kondisi pasar. Setelah
menentukan level stop awal (initial stop), seorang trader dapat menyesuaikannya kembali.
Stop ini sering disebut dengan trailing stop, yakni perubahan level stop yang digunakan
dengan tujuan untuk mengunci keuntungan dan menjaganya agar tidak berubah menjadi
kerugian. Seperti pernyataan “Limit your losses and let your profit runs”, yang sering
disarankan                     oleh                    para                  profesional.

Trailing stop dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah kelipatan poin,
ketika          harga          bergerak          sesuai         harapan           Anda.

Sebagai contoh, seorang trader yang membeli EUR/USD pada harga 1.4200 dan
menetapkan 200 poin sebagai trailing stop pada 1.4000 pada awal transaksi seperti yang
terlihat                   pada                        gambar                       3.

Ketika harga telah mencapai 1.4400, level stoploss dirubah menjadi 1.4200 (bergerak 200
poin ke atas) dan ketika harga bergerak ke 1.4600, stoploss berada di level 1.4400.
Demikian seterusnya, hingga ketika terjadi koreksi lebih dari 200 poin, transaksi sudah
terlikuidasi.




Gambar 3: Trailing Stop of 200 points on a EUR/USD Hourly Chart

Penggunaan trailing stop mencegah keuntungan yang telah diperoleh trader berubah
menjadi kerugian. Seseorang yang tidak menggunakan trailing stop akan berakhir pada
kerugian    200     poin    jika   hanya    mengandalkan       stop   awal     saja.

Let your profit runs, bukan berarti tidak mengamankan keuntungan sama sekali. Ketika
terjadi pergerakan satu arah yang minim atau bahkan tidak memiliki koreksi sama sekali,
keuntungan trader terakumulasi terus tanpa sempat menyentuh level stop manapun.
Namun jika terjadi pembalikan harga dengan cepat, disinilah letak trailing stop bekerja,
mengawal                                                                    keuntungan.

Review

      Ketika trading, seseorang perlu memilih timeframe yang sesuai dengan karakteristik
       dan strategi trading.
      Ada tiga jenis timeframe yang harus dipertimbangkan yaitu long term, medium term
       dan intraday.
      Dua jenis stoploss penting adalah equity stop dan technical stop.
      Menggunakan trailing stop memungkinkan Anda untuk menerapkan ungkapan:
       “Limit your losses and let your profits run” ke dalam aktifitas trading Anda.

Strategi Trading praktis | Trading Optimal

Strategi Trading

Strategi trading dalam dunia investasi, memiliki strategi dan teknik masing masing untuk
menganalisis dan mengambil keputusan transaksi. Beberapa diantara strategi trading
mereka ada yang hanya menggunakan strategi trading fundamental (misalnya berdasarkan
berita atau indikator terkini) atau hanya menggunakan faktor teknikal (misalnya mengamati
grafik dan indikator harga) sementara beberapa strategi trading yang lain menggabungkan
kedua                   jenis                analisa               di                atas.

Dari sisi jenis strategi trading mereka, ada yang melakukan transaksi 2 atau 3 kali setahun
(jangka waktu panjang), ada juga yang mengambil posisi hingga 50 kali transaksi per hari
(jangka waktu yang sangat pendek dan hanya mencari keuntungan kecil dalam setiap
transaksinya). Beberapa diantara mereka ada yang berhasil, baik dengan strategi trading
yang sama maupun berbeda, menggunakan jangka waktu panjang maupun pendek, namun
banyak                       pula                    yang                        gagal.

Mereka yang menghasilkan keuntungan di pasar secara konsisten jika dipertemukan
strategi trading akan memiliki karakteristik dan pilosofi yang sama. Kami meringkas
karakteristik tersebut agar memudahkan Anda dalam memahami dan mengaplikasikannya.

6 karakteristik dan pilosofi umum strategi trading yang dimiliki oleh trader yang berhasil
adalah:

1.                                      Trading                                       Plan

Keseluruhan trader yang sukses memiliki trading plan. Secara umum isi dari strategi trading
plan                                  tersebut                                      adalah;

Penentuan secara spesifik kapan akan mengambil posisi dan kapan akan melikuidasi posisi
tersebut. Penentuan resiko strategi trading yang juga spesifik. Kapan, di harga berapa
kerugian akan di hentikan, berapa jumlah resiko maksimal yang akan diterima. Penyesuaian
hasil trading dengan kapasitas transaksi. Penyesuaian strategi trading ini dilakukan baik
ketika menghadapi keuntungan maupun kerugian, baik menggunakan leverage maupun
tidak

Yang terpenting dalam strategi trading plan ini bukan hanya pada penyusunannya, namun
lebih kepada pelaksanaannya. Trader yang sukses tersebut melaksanakan strategi trading
dengan sabar dan disiplin rencana yang telah disusun, tidak mudah panik menghadapi
kondisi pasar yang bergerak dinamis dan selalu menganggap bahwa trading adalah bisnis
atau investasi jangka panjang.Setelah Anda menyusun strategi trading Anda sendiri, hal
yang terbaik Anda lakukan adalah melaksanakan rencana tersebut dengan disiplin dan
sabar. Waktu akan membantu Anda mengenali kapan strategi trading tersebut harus di
review                   dan                      disesuaikan                kembali.

2.                                   Menerima                                    kerugian

Umumnya di atas 90% dari trader yang gagal adalah yang tidak pernah belajar menerima
kerugian. Merasa bahwa keputusan mereka benar dan ketika terjadi kesalahan, strategi
trading mereka fokus pada posisi yang yang mengalami kerugian dan melewatkan
kesempatan             transaksi            lain            yang             muncul.
{break}

Trader yang sukses tidak pernah menganggap kerugian bersifat personal, bukan soal
strategi trading siapa yang benar, tapi lebih kepada bagaimana menghasilkan keuntungan.
Mereka yang berhasil adalah yang langsung menghentikan posisi (cut loss) ketika
memahami kesalahan dan fokus pada peluang lain yang dapat dimanfaatkan untuk
mengambil                                                                   keuntungan.

3.                      Mudah                         dan                       sederhana

Karakteristik trader sukses yang lain adalah bahwa mereka tidak membuat aturan transaksi
menjadi rumit dan kompleks. Aturan transaksi strategi trading mereka simple dan mudah
untuk    diikuti   atau    disesuaikan    dengan   perubahan    pasar  yang     konstan.

4.      Hasil        lebih       baik        dengan         resiko       yang        kecil
Sebelum masuk posisi, trader sukses mempertimbangkan berapa potensi kerugian dan
berapa potensi keuntungan. Jika strategi trading mereka menemukan peluang resiko yang
tidak sepadan dengan keuntungan, maka mereka tidak akan mengambil posisi.

Trader sukses tidak terburu-buru dalam mengambil keuntungan, namun juga tidak akan
menunggu         hingga       keuntungan     berubah        menjadi       kerugian.

5.                      Mengikuti                        arah                       harga

Sejarah telah membuktikan bahwa strategi trading trader yang berhasil adalah trader yang
hanya mengambil peluang transaksi yang sesuai dengan arah (trend) pasar. Hal ini juga
berlaku bagi swing trader, yang mengambil posisi pendek dan cenderung berlawanan
dengan trend besar. Strategi trading mereka mengambil posisi sesuai dengan trend dengan
periode                                  yang                                   berbeda.

6.                                  Jangan                                  Over-trading

Trader yang sukses tidak akan terlibat atau terikat terlalu dalam terhadap satu posisi pada
satu                                                                            instrumen.

Banyak trader masuk posisi tanpa alasan yang jelas dan tidak sesuai dengan strategi
tradingnya. Tidak demikian halnya pada trader sukses, strategi trading mereka masuk
posisi dengan alasan yang jelas, sesuai dengan seluruh kriteria yang ada dalam rencana
strategi trading dan fokus pada keseluruhan rencana dan bukan hanya pada hasil posisi
yang                                                                              ada.

Walaupun sebagian besar trader     sudah mengetahui poin penting strategi trading yang
menentukan dalam keberhasilan       trading, tapi sedikit dari mereka yang benar-benar
mengaplikasikan strategi trading   apa yang telah di ketahui. Pelaksanaan inilah yang
membedakan antara trader sukses    dan gagal.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:23
posted:11/28/2012
language:
pages:28