Docstoc

Latar Belakang Etika

Document Sample
Latar Belakang Etika Powered By Docstoc
					                                    BAB II

                           LATAR BELAKANG ETIKA



SETELAH MEMPELAJARI MATERI INI :

Pembaca dapat menjelaskan faktor-faktor sosial, pihak-pihak yang

berkepentingan, kebijakan internal, kepribadian dan unsur-unsur etika.



1. Pendahuluan

        Perkembangan dalam teknologi informatika telah menyebabkan

   masyarakat dapat melihat, mendengar dan mengetahui berbagai hal

   mulai dari kehidupan pribadi pejabat eksekutif, perselingkuhan pejabat

   legislatif, kawin cerainya selebritis, poligami dai kondang, tampilan

   smack down yang makan korban 22 anak anak, pelecehan seksual

   guru terhadap muridnya, remaja melakukan penculikkan, anak-anak

   membunuh, perampokkan, pencurian, pemotongan rel kereta api,

   bencana alam      diseluruh dunia sebagai akibat ulah manusia yang

   menyebabkan       pemanasan      global,   unjuk   rasa   yang     mengarah

   ketindakan anarki, kerusuhan diberbagai daerah, sampai ke kegiatan

   kampanye anti korupsi yang dilakukan dijalan sebagai antitesis

   parahnya korupsi sebagai kolaborasi antara birokrasi dan pengusaha

   di   Indonesia.   Ini    semua   menyita    dan    mengetuk      hati   nurani

   manusia,dan menimbulkan pertanyaan, apakah kini tidak ada lagi etika




                                                                              15
   di Indonesia ini, terutama dalam komunikasi massa yang dapat

   menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat?

        Sekarang isu etika tidak dapat lagi dihindari dan menimbulkan

   pemikiran     yang dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori

   diantaranya dari aspek sosial,pihak yang berkepentingan, kebijakan

   internal dan pribadi:

2. Faktor Sosial

        Dalam aspek ini kita mencoba untuk melihat pandangan dari ahli

   psikologi sosial Sherif & Muzfer tentang perilaku individu dalam

   kaitannya dengan situasi stimulus sosial atau rangsang sosial yang

   bukan hanya oleh orang-orang lain yang mengadakan interaksi sosial

   dengan si pelaku, melainkan dapat berupa benda-benda dan hal-hal

   lain yang bernilai sosial pula. Misalnya, sikap individu atau kelompok

   terhadap bangunan mesjid, gereja, pura, wihara, candi, kelenteng,

   patung-patung pemujaan, walaupun hanya berupa bangunan biasa,

   namun mempunyai nilai sosial tertentu sehingga orang selalu

   membuka sepatu atau sandalnya jika akan memasuki mesjid atau

   pura. Masih ingat kasus Salman Rusdhi dengan bukunya Ayat-ayat

   Setan, karikatur Nabi Muhammad SAW dan film tentang Yesus yang

   menggemparkan? Peristiwa itu tergolong stimulus sosial. Dalam tata

   bernegara, pemerintah menstimulus warganya dengan per-undang-

   undangan dan peraturan lainnya, norma, tata krama atau etiket dan




                                                                      16
sebagainya yang menyebabkan orang harus berperilaku sesuai

dengan ketentuan.

Sherif & Muzler menggolongkan stimulus sosial sebagai berikut:

a. Orang lain

   1) Orang atau    orang-orang lain sebagai stimulus atau stimuli

      (orang tua, saudara, tetangga, kenalan dan sebagainya) yang

      berada disekitarnya.

   2) Kelompok sebagai stimulus atau stimuli

      a) Interaksi dalam kelompok, misalnya anak yang menghadapi

         orang tua dan saudara dalam keluarga, antar anggota

         perkumpulan, antara pegawai dengan pimpinan organisasi.

      b) Interaksi antar kelompok misalnya antara televisi yang

         mengejar     rating,   koran     yang   mengejar    oplah    dan

         keuntungan     dengan    masyarakat       yang   anaknya    kena

         smackdown, keluarga yang suami,ayah dan saudaranya

         selingkuh,perempuan       yang     terganggu     karena     kasus

         poligami,buruh yang kena pemutusan hubungan kerja

         karena perusahaan bangkrut sebagai akibat tidak mampu

         melawan     korupsi    birokrasi   yang    menimbulkan      biaya

         tinggi,dan masyarakat yang kena gusur karena tanahnya

         digunakan oleh pebisnis untuk mall,apartemen mewah tanpa

         penggantian yang layak.




                                                                       17
      c) Disamping hal diatas interaksi antar kelompok juga dapat

           memberikan hal yang positif melalui pendidikan, pelatihan,

           informasi yang meningkatkan pengetahuan,keterampilan,

           kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

      d) Situasi interaksi bersama (kolektif) : masyarakat ( publik)

           korban    Lapindo         yang   mengajukan        tuntutan      kepada

           Pemerintah dengan melakukan unjuk rasa ( rally), penonton

           (audience) sepakbola atau pentas group musik dialam

           terbuka yang dapat membuat keonaran akan berbeda

           dengan peminat musik kamar yang memainkan musik klasik

           Bethoven, Mozart, atau kasidah dan the whirling dervish

           pemujaan Allah ala Jalaludin Rumi.

     Peristiwa    yang     terjadi     pada     hari   Kamis    27     Desember

2007,pembunuhan          terhadap     Benazir    Bhutto   pada       saat    terjadi

kerumunan (crowd) saat dia melakukan kampanye telah menimbulkan

kerusuhan (riod) dimana masyarakat yang mencintai Bhutto telah

membakar mobil, rumah, kantor- kantor pemerintah di beberapa kota

di Pakistan. Contoh yang lain apabila ada kendaraan menabrak

seseorang maka masyarakat akan                   memukuli yang menabrak,

gerombolan       (mob)    yang       melakukan     tindakan     anarki      berupa

pembakaran,      penghancuran,        pembunuhan        dan    tindakan      kejam

lainnya.




                                                                                 18
  b. Produk kultural

     1) Material : rumah, mobil, patung, berlian, uang, pesawat,yacht,

        home theater dan sebagainya.

     2) Non material : upacara perkawinan, sistem kekerabatan,

        organisasi politik, agama, konsep tentang manusia, tentang

        demokrasi, hak azazi, gaya hidup dsb.



3. Pihak yang berkepentingan

       Dalam   berinteraksi   dengan    pihak   luar,   seorang   anggota

  organisasi, mau tidak mau akan berhubungan dengan organisasi atau

  pegawai instansi lain. Sebagai pegawai dalam lingkungan Departemen

  Keuangan, pihak luar yang akan atau harus dihadapi baik sebagai

  pribadi maupun anggota organisasi antara lain:

       Lembaga Keuangan Internasional (Bank Dunia, IMF, Asian

  Development Bank, Islamic Development Bank dsb), Bank Indonesia,

  Seluruh   Departemen/Lembaga         Tinggi   Negara/Lembaga       Non

  Departemen yang menggunakan APBN, Pemerintah Daerah yang

  berkaitan dengan Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus,

  Perusahaan/ pribadi yang membayar pajak/bea masuk dan cukai,

  perusahaan yang bertindak sebagai rekanan instansi pemerintah

  dalam pengadaan barang dan jasa, perusahaan yang akan dan telah

  go publik,perusahaan yang mempunyai hutang terhadap negara ,




                                                                      19
   perusahaan yang menerima penyertaan modal pemerintah, Badan

   Narkotika Nasional dan lain-lain.



4. Kebijakan internal

        Yang perlu diperhatikan antara lain meliputi kesejahteraan,

   pengembangan karier, perlakuan yang adil, kode etik, peraturan yang

   berlaku, motivasi, kepemimpinan dan budaya organisasi. Dalam suatu

   organisasi yang mayoritas pegawainya didominasi oleh suatu suku,

   sering terdengar mereka bicara dalam bahasanya dan mencoba

   menganut filosofi dari suku itu misalnya “mikul duwur mendem jero”

   sehingga betapapun besarnya kesalahan yang dilakukan oleh seorang

   atasan akan dipendam dalam-dalam. Mereka lupa bahwa pada suatu

   saat kalau terjadi pergantian pimpinan , pendaman ini akan muncul

   atau mengapung ke permukaan.

        Multibudaya merupakan pandangan ditempat kerja dimana

   terdapat banyak latar belakang dan faktor budaya yang penting dalam

   organisasi, bahwa orang dengan latar belakang budaya yang berbeda

   dapat berada bersama-sama dan berkembang dalam suatu organisasi.

   Biasanya multibudaya seperti etnik, ras, kemampuan fisik, umur,

   orientasi seksual dan jenis kelamin atau jender.

        Walaupun saat ini komposisi tenaga kerja telah bergeser dari

   dominasi laki-laki menjadi jumlah yang lebih seimbang dengan

   perempuan pada sektor riel, namun masih banyak hambatan bagi




                                                                   20
perempuan yang membutuhkan perlakuan sama dalam kebanyakan

organisasi. Hambatan-hambatan tersebut diantaranya : Sindrom

langit-langit kaca (glass ceiling syindrome) merupakan suatu

pandangan bahwa walaupun kaum perempuan dan minoritas lainnya

diterima sebagai karyawan suatu organisasi, tetapi mengalami

kesulitan untuk dipromosikan ketingkat yang lebih tinggi, karena

adanya hambatan yang tidak tampak. Mereka dapat melihat keatas,

tetapi tidak dapat mencapainya. Di Indonesia fenomena ini mulai

menjadi wacana yang serius, karena adanya perbedaan perlakuan

terhadap suku maupun jender sehingga politisi perlu mengusulkan

kuota 30% bagi perempuan untuk duduk di lembaga legislatif. Alasan

utama untuk menolak kepemimpinan perempuan, kemungkinan karena

laki-laki tidak ingin dipimpin oleh perempuan. Berbagai cara dilakukan

untuk    menggagalkan       kepemimpinan       perempuan.             Sejarah

menunjukkan    bagaimana     perilaku   para   politisi   laki-laki     untuk

menggagalkan Benazir Bhutto menjadi pemimpin di Pakistan dan

Megawati Soekarnoputri menjadi presiden Indonesia,                seorang

politikus dari kalangan agama menyatakan agama melarang untuk

mengangkat seorang pemimpin perempuan. Namun ketika Megawati

menjadi Presiden, politikus tersebut lupa akan pernyataannya

terdahulu, dan bersedia duduk dalam kabinet yang dipimpin oleh

perempuan.




                                                                          21
         Selain itu, streotype yang lain adalah perempuan itu emosional,

  tidak fokus pada pekerjaan dan lemah. Tetapi laki-laki sering tidak

  peduli dan bersifat permisif kalau pemimpin pria suka marah, tidak

  teliti, lemah iman sehingga gampang jatuh kedalam perbuatan tercela

  seperti korupsi, selingkuh dalam rumah tangga dan haus kekuasaan.

  Hambatan berikut adalah pelecehan seksual dan kesenjangan

  penghasilan karena ada perbedaan ras dan agama. Selain itu kondisi

  diatas dapat mengakibatkan Sindrom Pintu Berputar (Revolving

  Door Syndrome) yaitu suatu sindrom dimana kaum minoritas keluar

  dari    organisasi karena peluang berkembang yang terbatas, untuk

  memulai usaha sendiri.



5. Tanggung Jawab Sosial

         Adalah kumpulan kewajiban organisasi untuk melindungi dan

  memajukan masyarakat dimana organisasi bekerja. Organisasi dapat

  menerapkan tanggung jawab sosial terhadap pihak-pihak yang

  berkepentingan, terhadap alam, dan terhadap kesejahteraan sosial.

  Beberapa organisasi mengetahui tanggung jawab mereka di ketiga

  bidang itu dan berusaha sungguh-sungguh untuk mencapainya, yang

  lainnya menekankan hanya satu atau dua bidang tanggung jawab

  sosial, dan ada pula yang tidak mengetahui tanggung jawab sosial

  sama sekali.




                                                                     22
    Salah satu contoh penerapan tanggung jawab sosial organisasi

adalah yang berkaitan dengan industri tembakau. Di beberapa negara

seperti Amerika Serikat, Afrika Selatan, Inggris termasuk Indonesia,

perusahaan tembakau dibatasi dalam mengiklankan rokok dan harus

mencantumkan keterangan bahwa merokok bisa menyebabkan

kemandulan, impotensi dan penyakit kanker. Walaupun pemerintah

menyadari bahwa penerimaan negara dari Cukai tembakau sangat

potensial. Selain itu terdapat beberapa perusahaan yang memberikan

donasi seperti Sampurna Foundation dan Hatta Foundation.

    Dimensi Informal Tanggung Jawab Sosial

    Selain dimensi formal untuk mengelola tanggung jawab sosial,

ada juga hal-hal yang bersifat informal. Kepemimpinan, budaya

organisasi, dan bagaimana organisasi menghadapi komplain dari

masyarakat   serta   mensikapi   adanya   “Tiupan   Peluit”   (wistle

blowing). Tiupan peluit adalah penyingkapan oleh seorang karyawan

tentang tindakan ilegal atau tidak etis kebagian lain atau keluar

organisasi. Contoh aktual adalah tiupan peluit dari Khairiansyah

seorang alumni STAN tentang perbuatan tidak etis di Badan

Pemeriksa Keuangan dan Inu Kertapati di Institut Pemerintahan Dalam

Negeri (IPDN) . Saat ini kasus aktual adalah : Anwar Nasution Kepala

Badan Pemeriksa Keuangan yang melaporkan penyimpangan di Bank

Indonesia, lalu Andrea Amborowatiningsih seorang mahasiswa UGM

telah melaporkan pencurian dan pemalsuan barang antik di musium




                                                                  23
   Radya Pustaka Solo yang berlangsung dari tahun 2005, tetapi tidak

   ditanggapi oleh pejabat. Baru menjadi berita setelah dilaporkan kepada

   Djoko Dwiyanto, dosen arkeologi UGM.

           Bagaimana      organisasi     merespon      praktek        ini   sering

   mengindikasikan sikap pandang terhadap tanggung jawab sosial. Para

   peniup peluit ini mendapat teror dari lingkungan dimana mereka

   bekerja, Khairiansyah akhirnya keluar dari BPK, Inu Kertapati masih

   tetap bertahan, Ambar dipecat dari Radya Pustaka tempat dia bekerja,

   dan anggota DPR menyatakan agar                  Anwar Nasution supaya

   dilindungi.

6. Pribadi

           William   James    dalam    bukunya    Principles     of   Psychology

   mengemukakan diri (self) adalah segala sesuatu tentang diri sendiri,

   bukan hanya tentang tubuh dan keadaan psikisnya sendiri, melainkan

   juga tentang anak, istri, rumah, pekerjaan, nenek m,oyang, teman-

   teman, miliknya dan lain-lain. Kalau semua bagus ia merasa senang

   dan bangga. Akan tetapi kalau ada yang kurang baik, rusak, hilang ia

   merasa putus asa dan kecewa.

           Jadi, diri adalah semua ciri, jenis kelamin, pengalaman, sifat-sifat,

   latar     belakang budaya, pendidikan dan sebagainya yang melekat

   pada seseorang.




                                                                               24
Kepribadian

     Definisi menurut GW. Allport adalah Personality is the dynamic
organization within the individual of those psychophysical systems that
determinine his unique adjusment to his environtment.

     Dengan demikian kepribadian mempunyai unsur-unsur sebagai

berikut :

1) Ia adalah organisasi yang dinamis, jadi berubah setiap waktu

2) Organisasi itu terdapat didalam diri individu

3) Organisasi itu terdiri atas sistem psikis (sifat, bakat dll) dan sistem

   fisik yang saling terkait.

4) Organisasi itu menentukan corak penyesuaian diri yang unik dari

   tiap individu terhadap lingkungannya

     Definisi tersebut mengandung beberapa postulat diantaranya:

1) Kepribadian adalah organisasi keseluruhan atau gestalt. Kalau

   tidak, individu tidak akan mempunyai integritas, arti, atau

   kontinuitas, misalnya pada schizophrenia atau penderita psikosis

   lainnya.

2) Kepribadian tampak dalam pola-pola yang terorganisasi yang

   dikenal dengan istilah sifat, panels atau kompleks yang dapat

   diamati dan diukur.

3) Walaupun ada unsur-unsur biologik (kelenjar, kemampuan motorik

   dan lain-lain) pengembangan kepribadian terutama merupakan

   hasil atau produk lingkungan sosial budaya (peran orang tua,

   keluarga dll). C. Lombrosso berteori bahwa manusia tergolong




                                                                       25
     kedalam dua macam sesuai dengan bakatnya yaitu orang biasa

     dan penjahat. Penjahat sudah jahat sejak lahirnya (delinquento

     nato) dan dapat dilihat dari raut wajahnya.Sedangkan filsuf John

     Locke dengan teori Tabula Rasa mengatakan bahwa            bayi lahir

     seperti kertas putih ,bagaiman keadaan jiwa bayi itu setelah

     dewasa, tergantung pengalaman-pengalaman yang dituliskan

     diatas kertas itu.

  4) Kepribadian mengandung aspek superfisial (tulisan tangan, sikap)

     dan aspek yang lebih inti (sentimen, keagamaan , kecenderungan

     temperamen).

  5) Menurut Newcomb, kepribadian mempunyai sifat.yang umum dan

     unik.walaupun kepribadian secara individual saling berbeda, ada

     kesamaan-kesamaan tertentu yang berlaku umum untuk kelompok

     yang lebih besar atau untuk seluruh umat manusia.

          Dengan adanya berbagai pendapat diatas, diketahui bahwa

  para ahli mengembangkan arti kepribadian sesuai dengan minat atau

  bidang studi masing-masing, antara lain, kepribadian dipelajari sebagai

  tatanan emosi-emosi dasar, pola kebiasaan, sifat moral atau etika,

  sikap dan nilai-nilai dan sebagainya.

7. Unsur-unsur etika

          Untuk     meningkatkan     pemahaman      etika,   kita   harus

  menganalisis secara eksplisit dan mempraktekkan setiap hari. Istilah




                                                                       26
kunci dari bahasa Etika adalah nilai-nilai, hak, kewajiban, peraturan

moral dan hubungan manusia.

Tes Formatif

1) Bagaimana     pengaruh    teknologi   informatika   terhadap   etika

   masyarakat?

2) Terangkan hubungan antara perilaku individu dengan stimulus

   sosial dan berilah contohnya.

3) Apa yang dimaksud dengan tanggung jawab sosial ?

4) Menurut Saudara apakah organisasi pemerintah menerapkan

   tanggung jawab sosial?

5) Bila Saudara menjadi pimpinan organisasi, bagaimana sikap

   saudara terhadap peniup peluit ?

6) Bila saudara menjadi bawahan bagaimana pendapat saudara

   tentang filosofi mikul duwur mendem jero ?

7) Apakah ada pengaruh kepribadian seseorang dengan penerapan

   etika? Berilah contoh yang aktual dengan cara berdiskusi dalam

   kelompok.




                                                                    27

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:111
posted:11/28/2012
language:
pages:13
Description: Latar Belakang Etika
Suyono A Suyono A Kaskus the largest comunity www.kaskus.co.id
About joss man