Ketentuan Lain-lain
W
Description
Ketentuan Lain-lain Pajak indonesia
Shared by: adamjhonson349
-
Stats
- views:
- 131
- posted:
- 11/27/2012
- language:
- pages:
- 5
Document Sample


BAB VI
KETENTUAN LAIN-LAIN
A. Penghapusan Piutang Pajak
1. Dasar Hukum
a. Pasal 24 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana diubah terakhir
dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan;
b. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 565/KMK.04/2000
tanggal 26 Desember 2000 Tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan
Penetapan Besarnya Penghapusan;
c. Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-539/KMK.03/2002 Tanggal 31
Desember 2002 Tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 565/KMK.04/2000 tanggal 26 Desember 2000
Tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya
Penghapusan;
d. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-15/PJ./2004 tanggal 19
Januarai 2004 Tentang Tata Cara Penghapusan dan Penetapan Besarnya
Penghapusan Piutang Pajak;
2. Jenis Piutang Pajak Yang Dapat Dihapuskan
Piutang Pajak yang dapat dihapuskan adalah piutang pajak yang tercantum dalam:
a. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT);
b. Surat Ketetapan Pajak (SKP);
c. Surat Ketetapan Pajak Tambahan (SKPT);
d. Surat Tagihan Pajak (STP);
e. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
f. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);
g. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar
(SKPKB);
h. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar
Tambahan (SKPKBT);
i. Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB);
j. Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan dan, Putusan
Banding;
3. Syarat-syarat Piutang yang Dapat Dihapuskan
a. Wajib pajak dan atau Penanggung Pajak tidak dapat ditemukan atau meninggal
dunia dengan tidak meninggalkan harta warisan, dan tidak mempunyai ahli
waris atau ahli waris tidak dapat ditemukan;
b. Wajib Pajak dan atau Penanggung Pajak tidak mempunyai harta kekayaan lagi;
c. Penagihan Pajak secara efektif telah dilaksanakan dengan penyampaian Salinan
Surat Paksa kepada Penanggung Pajak melalui Pemda Setempat;
d. Hak untuk melakukan penagihan sudah daluwarsa; atau
e. Sebab lain sesuai dengan hasil penelitian.
4. Langkah-langkah yang harus dilakukan KPP/KPPBB
a. KPP/KPPBB melakukan inventarisasi terhadap piutang pajak yang diperkirakan
tidak dapat ditagih.
b. Berdasarkan daftar hasil inventarisasi tersebut, kemudian KPP/KPPBB
menerbitkan Surat Perintah Penelitian untuk melakukan penelitian tentang
gambaran wajib pajak/ jumlah hutang wajib pajak yang diusulkan untuk
dilakukan penghapusan.
c. Dari hasil penelitian tersebut maka dibukukan oleh seksi penagihan pada buku
register penghapusan piutang pajak.
d. Pada akhir tahun KPP/KPPBB mengirimkan daftar usulan penghapusan piutang
pajak (tidak berlogo rangkap tiga) dan Daftar Piutang Pajak yang Dihapuskan
(berlogo rangkap dua) kepada Dirjen Pajak melalui Kanwil DJP. Daftar ini
paling lambat sudah dikirimkan tanggal 10 Januari tahun takwin berikutnya.
5. Langkah-langkah Kanwil
a. Kanwil mengirimkan Daftar Rekapitulasi Piutang Pajak yang dihapuskan,
Daftar Usulan Penghapusan Piutang Pajak, dan Daftar Piutang Pajak yang
Dihapuskan paling lambat 1 (satu) bulan setelah diterimanya daftar tersebut dari
KPP/KPPBB.
b. Daftar yang tersebut pada butir a setelah ditanda tangani Kakanwil atau copy
dikirim ke KPP/KPPBB sebagai arsip.
B. Penyitaan Kekayaan berupa Piutang dalam rangka Penagihan Pajak.
1. Dasar Hukum
a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-85/KMK.03/2002 Tanggal 3 Maret
2002 Tentang Tata Cara Penyitaan Kekayaan Penanggung Pajak berupa Piutang
dalam rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa;
b. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-459/PJ./2002 tanggal 16
Oktober 2002 Tentang Tata Cara Penyitaan Kekayaan Penanggung Pajak
Berupa Piutang dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
2. Pendahuluan
Piutang adalah harta kekayaan yang merupakan hak Penanggung Pajak yang
berada pada pihak lain yang dapat dilakukan penyitaan guna dijadikan jaminan
melunasi utang pajak.
Sebelum Pejabat melakukan penyitaan, terlebih dalulu menyampaikan surat
peringatan kepada Penanggung Pajak bahwa piutang Penanggung Pajak akan
digunakan untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.
3. Prosedur Pelaksanaan Penyitaan Piutang.
Prosedur yang dapat dilaksanakan dalam rangka melakukan penyitaan piutang
Wajib Pajak dalam rangka pelunasan hutang pajaknya adalah sebagai berikut:
a. Juru Sita Pajak melakukan inventarisasi tentang jenis dan jumlah piutang yang
akan disita yang dibuat dalam bentuk daftar. Dalam daftar tersebut juga
disebutkan nama penanggung pajak dan pihak ketiga yg berkaitan dengan
piutang, dan jumlah piutang yang akan disita. Daftar ini merupakan lampiran
pelaksanaan sita.
b. Juru Sita membuat surat peringatan kepada Penanggung Pajak yang isinya
menjelaskan bahwa piutang Penanggung Pajak akan digunakan untuk melunasi
utang dan biaya penagihan pajak.
c. Apabila 14 (empat belas hari) dari saat surat peringatan Wajib Pajak tidak
melunasi utang pajaknya, Juru Sita langsung dapat melakukan penyitaan
piutang tersebut baik dari penangung pajak maupun dari pihak ketiga.
d. Juru Sita membuat ”Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak Menagih” dari
Penangung Pajak, salinannya disampaikan kepada penanggung pajak maupun
pihak yang berkewajiban membayar.
e. Apabila Penanggung Pajak menolak untuk menandatangani berita acara, maka
langkah yang dilakukan :
1. Untuk surat perjanjian hutang-piutang (promissory notes) yang
diperdagangkan di Bursa Efek, maka Berita Acara Pelaksaanaan Sita
ditaandatangani oleh Jurusita Pajak dan dua orang saksi dimana salah
seorang saksi dari Pemerintah Daerah setempat sekurang-kurangnya
Sekretaris Kelurahan atau Sekretaris Desa;
2. Untuk surat perjanjian hutang-piutang (promissory notes) yang tidak
diperdagangkan di Bursa Efek, maka Berita Acara Pelaksaanaan Sita
ditaandatangani oleh Jurusita Pajak dan dua orang saksi dimana salah
seorang saksi dari dari Badan Pengawas Pasar Modal atau Kustodian.;
f. Apabila 14 (empat belas hari) sejak Berita Acara Pelaksanaan Sita, Penanggung
Pajak belum melunasi utang pajak dan biaya penagihannya maka pejabat dapat
melakukan tindakan sbb:
1. Pejabat menjual piutang tersebut kepada pembeli dan hasilnya disetorkan ke
Kas Negara dengan SSP;
2. Penyetoran dilaksanakan oleh Penanggung Pajak atas permintaan Pejabat
Negara.
3. Apabila hasil penjualan setelah diperhitungkan hutang pajaknya dan biaya
penagihan, kelebihan tersebut dikembalikan kepada penanggung pajak.
4. Pencabutan Sita Terhadap Piutang
Pencabutan sita terhadap piutang dilakukan apabila Penanggung Pajak telah
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menggunakan atau
tidak menggunakan piutang yang telah disita berdasarkan bukti Surat Setoran
Pajak yang telah dicap dan ditandatangani oleh bank sebelum jangka waktu 14
(empat belas) hari sejak penyitaan terakhir, dengan menyampaikan Surat
Pencabutan Sita kepada Penanggung Pajak dan tembusannya disampaikan
kepada pihak yang berhutang yang sekaligus berfungsi sebagai pembatalan
Berita Acara Pelaksanaan Sita.
Penagihan Hutang Pajak atas Perusahaan yang Assetnya Dikuasai oleh BPPN
Banyak perusahaan yang assetnya dikuasai BPPN sedangkan tunggakan
pajaknya belum bisa ditagih. Untuk mengatasi hal ini tindakan penagihan yang dapat
dilaksanakan agar mengacu pada ketentuan yang ada sebagai berikut:
1. Permintaan infonrmasi tunggakan pajak dan proses penagihan pajak debitur dapat
dilakukan oleh BPPN kepada KPP terkait dan tembusannya disampaikan kepada
Direktur P4. Dengan demikian agar KPP memberikan jawaban konfirmasi
dimaksud bila dipandang perlu disertai dengan foto kopi surat ketetapannya.
2. BPPN yang ajan memotong atau memungut pajak atas asset penanggung pajak
baeik penjualan melalui lelang atau transaksi lainnya, mengingat asset penanggung
pajak berada dibawah penugasan BPPN.
3. Namun demikian KPP/KPPBB agar aktif juga memantau setiap terjadi
pengumuman asset perusahaan/orang pribadi yang memiliki tunggakan pajak.
Namun demikian tidak salahnya KPP/KPPBB terlebih dahulu memberikan
informasi tunggakan pajak penanggung pajak kepada BPPN.
4. Untuk KPPBB disamping hal tersebut diatas juga agar mengacu pada SE-
08/PJ.06/2000 tanggal 29 Februari 2000, dan Surat Dirjen Pajak No.SE-
397/PJ/2002 tanggal 30 Agustus 2002.
SE Dirjen Pajak No: SE-08/PJ.06/2000 tgl 29 Februari 2000
SE Dirjen Pajak No.SE-397/PJ/2002 tgl 30 Agustus 2002