TIMUN SURI

Document Sample
TIMUN SURI Powered By Docstoc
					                          TIMUN SURI


A. SEJARAH
        Istimewanya Timun Suri (Munculnya, Berkahnya, Rasanya,
         Khasiatnya)

         Timun suri merupakan tanaman istimewa karena fenomena munculnya
  tanaman tersebut adalah pada saat bulan suci Ramadhan. Bulan yang dikenal
  sebagai bulan puasa memang memberikan keberkahan pada negeri yang
  menyambut kedatangannya dengan beragam budaya. Pada bulan tersebut,
  banyak sekali ditemukan panganan, minuman, buah-buahan yang sulit sekali
  dilihat pada saat bulan selain Ramadhan. Antara lain, kolang-kaling, kurma,
  kolak dan juga timun suri. Buah-buahan yang disebutkan terakhir tidak akan
  mudah dijumpai di wilayah Jakarta apabila bukan bulan Puasa. Padahal,
  tanaman tersebut bukanlah tanaman musiman secara biologi, namun telah
  menjadi buah musiman bagi budaya masyarakat Jakarta khususnya. Sulit
  sekali ditemukan jawaban yang pasti apabila kita mencari informasi mengenai
  hal ini baik ke petani yang menanamnya atau bahkan dinas pertanian sebagai
  institusi pemerintah. Tidak ada rekaman sejarah yang jelas mengenai musim
  tanam timun suri di Jakarta. Hanya ada informasi yang mengatakan bahwa
  tanaman ini dibudidayakan setiap saat seperti halnya timun, melon dan
  semangka di daerah pesisir Barat pulau Jawa yaitu di Propinsi Banten. Konon
  katanya di daerah tersebut, penanaman timun suri tidak mengenal musim-
  musiman seperti halnya di Jakarta. Asumsi yang muncul adalah bahwa sudah
  menjadi kebiasaan permintaan akan konsumsi buah timun suri melonjak pada
  bulan Ramadhan sedangkan di bulan lain sepi dari permintaan. Sehingga hal
  ini menimbulkan spekulasi bagi para petani untuk berlomba-lomba menanam
  buah timun suri menjelang bulan Ramadhan. Keistimewaan timun suri yang
lain adalah menimbulkan revolusi sesaat bagi sebagian masyarakat baik dalam
profesi maupun pemanfaatan lahan. Bulan Ramadhan dapat mengubah profesi
seorang tukang ojek, buruh panggul, tukang becak menjadi petani sementara
yang bercocok tanam timun suri. Selain itu, lahan-lahan yang tadinya tidak
dimanfaatkan atau ditanam tanaman lain seketika menjelang Ramadhan
berubah menjadi ladang tempat bercocok tanam timun suri. Juga, lapak-lapak
dagangan buah dan sayur menjadi berubah warnanya dipenuhi buah timun
suri yang berwarna kuning, putih hijau dengan berbagai macam coraknya.
Dari hal tersebut tentunya bulan Ramadhan yang memang penuh berkah di
dalamnya telah memberikan berkah bagi orang-orang yang mendapatkan
tambahan penghasilan melalui timun suri. Meskipun sedikit, tetapi cukup
untuk Lebaran kata mereka yang mendapatkan Rizki dari Allah SWT melalui
bercocok tanam, menyewakan lahan untuk bercocok tanam ataupun menjual
buah timun suri.

       Belum lagi dalam hal rasa, buah timun suri memang suedap, sueger
dan mak nyuss kata Pak Bondan. Apalagi setelah diolah menjadi es buah,
koktil atau tabur gula timun suri menjadi sensasi bagi penikmatnya. Sajian
olahan panganan dan minuman timun suri biasanya ada pada saat buka puasa
di hampir setiap rumah. Bahkan ada keluarga yang memang menjadikan buah
timun suri sebagai sajian utama khas berbuka puasa selain kolak dan kolang-
kaling. Masalah rasa katanya adalah subyektif bagi tiap orang, tapi untuk
timun suri kesimpulan yang didapatkan adalah sama mengenai rasanya yang
dapat memberikan efek kesegaran. Terutama setelah seharian berpuasa,
rasanya segar sekali apabila berbuka dengan timun suri. Dan konon katanya,
buah timun suri juga berkhasiat untuk menghilangkan panas dalam mirip
minuman penyegar. Dari beberapa keistimewaan ini mungkin dapat sedikit
memecahkan filosofi yang terkandung dalam nama timun suri. Timun suri,
permaisuri dan Ibu suri memiliki kesamaan yaitu sama-sama istimewa.
Sehingga, mungkin sangat cocok apabila tanaman ini dinamakan oleh
pendahulu kita sebagai timun suri.

   Misteri Nama Timun Suri
       Memang belum ditemukan fakta lapangan mengenai mengapa
masyarakat memberikan nama timun suri, dan fakta tersebut seharusnya tetap
dicari . Kembali kepada asumsi yang muncul, mungkin ada kemiripan
tanaman ini dengan timun. Untuk mengetahui yang lebih mendekati
kebenaran ilmiah, maka perlu dilakukan penelitian guna mencari data-data
yang kemudian dapat dianalisis dan ditarik kesimpulan . Berdasarkan fakta
ilmiah yang didapatkan menunjukkan bahwa sekilas tanaman timun suri
memiliki kemiripan dengan timun. Timun yang dalam bahasa ilmiah disebut
sebagai Cucumis sativus yang termasuk dalam keluarga labu-labuan
(Cucurbitaceae) memiliki ciri-ciri umum seperti yang dimiliki oleh tanaman
anggota keluarga labu-labuan lainnya seperti melon (Cucumis melo). Yaitu
antara lain batangnya merupakan herbaceous (herba) yang penuh dengan
klorofil sehingga warnanya hijau, tumbuh merambat dengan sulur, memiliki
bunga berbentuk terompet. Begitu pula dengan timun suri yang ciri-ciri
tumbuhnya sama dengan timun dan tanaman Cucurbitaceae lainnya. Ciri-ciri
umum ini tentunya akan banyak kemiripannya antara tanaman yang memiliki
hubungan kekerabatan yang lebih dekat. Anggota tanaman dalam satu marga
akan lebih sedikit memiliki kesamaan dalam ciri-ciri umum ini jika
dibandingkan dengan tanaman dalam satu Jenis/Spesies yang memiliki sifat
kekukhusan atau spesifikasi tertentu. Apabila dua individu memiliki ciri-ciri
umum yang semakin banyak, bisa jadi antara keduanya merupakan satu
spesies. Yang terjadi selanjutnya adalah diketahui tanaman timun memiliki
perbedaan dengan timun suri dalam hal bentuk daun dan bentuk buah.
       Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Charisma Eko
Wicaksono pada tahun 2005-2007, yang membandingkan antara bentuk daun,
buah dan biji timun, timun suri dan melon, diketahui bahwa daun timun
berbentuk segi lima, menyudut runcing serta bergerigi pada tepinya.
Sedangkan daun timun suri berbentuk bulat, tidak bersudut runcing dan
bergerigi pada tepinya. Bentuk daun melon adalah bulat, berlekuk dan tidak
bergerigi. Biji (benih) timun lebih pipih dan panjang dibandingkan dengan
melon yang menggelendong dan lebih pendek dari timun dan timun suri. Dan
biji timun suri lebih pendek dan lebih menggelendong dibandingkan dengan
biji timun dan lebih panjang dibandingkan dengan melon. Selain itu, dari
bentuk buah terlihat jelas perbedaan diantara ketiganya. Buah timun
berbentuk lonjong panjang dengan diameter relatif lebih kecil dibanding buah
timun suri. Sedangkan buah melon memiliki perbedaan yang jelas terlihat
yakni berbentuk bulat. Sehingga dapat ditarik garis besar bahwa ciri umum
timun suri berada di tengah antara timun dan melon. Perbedaan yang jelas
terdapat pada bentuk buahnya. Akan tetapi ada satu fenomena menarik yang
muncul dalam pengamatan buah yang masak antara timun-timun suri-melon.
Bahwa, buah timun yang masak tidak mengeluarkan aroma yang harum
seperti buah timun suri dan melon. Informasi ini menambah kesimpulan
mengenai lebih dekatnya hubungan kekerabatan timun suri dengan melon
dibandingkan timun. Hasil penelitian tersebut memang belum dapat
menyimpulkan apakah timun suri termasuk spesies timun atau melon
sehingga menuju kesimpulan bahwa apakah tanaman istimewa tersebut lebih
tepat disebut sebagai Timun suri atau Melon suri.
       Penelitian tersebut dilanjutkan ketingkat yang lebih dalam dengan
mencari tahu informasi mengenai karakter kromosom timun suri serta
perbandingannya dengan timun dan melon. Riset dilakukan di Laboratorium
Genetika Fakultas Biologi UGM Yogyakarta. Karakter kromosom yang
diteliti adalah jumlah dan formula karyotypenya. Definisi kromosom secara
umum adalah kumpulan rantai DNA yang terdapat dalam inti sel eukaryotik
yang jumlah dan bentuknya spesifik pada satu spesies. Antara satu spesies
dengan spesies lainnya memiliki jumlah kromosom dan formula karyotype
yang berbeda. Sehingga, karakter ini dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk
menentukan kedudukan individu dalam spesies tertentu. Sehingga apabila
timun suri dan timun adalah termasuk jenis tanaman yang sama, maka
keduanya kemungkinan besar memiliki jumlah kromosom yang sama. Jumlah
kromosom diploid timun suri yang diketahui dalam penelitian tersebut adalah
24. Sedangkan jumlah kromosom diploid timun dan melon berbeda yaitu
timun 2n=14 sedangkan melon 2n=24. Hasil karyotype juga menunjukkan
bahwa timun suri memiliki bentuk kromosom metasentris dan memiliki
kesamaan dengan varietas melon lokal. Berdasarkan jumlah kromosom dan
karyotype tersebut dapat disimpulkan bahwa timun suri bukan dan tidak
termasuk anggota spesies timun. Namun, timun suri lebih dekat
kekerabatanya dengan melon .


   Kearifan lokal berupa nama local
       Kearifan lokal nenek moyang kita maupun nilai-nilai moral yang
diajarkan dalam budaya dan agama, mengajak kita untuk lebih bijakasana
dalam mengambil sikap. Kembali ke komitmen awal saya membuat artikel ini
adalah semata untuk memaparkan fakta ilmiah berdasarkan hasil penelitian
yang telah saya lakukan. Saya tidak mengajak untuk mengubah nama timun
suri menjadi melon suri. Memang perkataan Shakespere mungkin ada sedikit
benarnya. Karena walaupun diubah namanya menjadi apapun, keistimewaan
dan keberkahan tanaman ini yang diberikan Oleh Allah SWT tidak akan
pernah hilang. Masyarakat Jakarta akan tetap menanam timun suri menjelang
bulan Ramadhan dan buah timun suri akan tetap memberikan penghasilan
tambahan dan akan tetap menjadi hidangan utama berbuka puasa. Marilah kita
menghargai segala jerih payah pendahulu kita yang telah membudidayakan
timun suri pada Bulan Ramadhan dan telah menyebut tanaman ini sebagai
       timun suri yang tentunya kita tidak tahu arti dan maksudnya mengapa begitu.
       Bisa jadi, nama timun suri tidak dikenal di daerah lain seperti Sumatera,
       Kalimantan dan Sulawesi. Namun mereka mengenal buah yang memiliki
       keistimewaan ini dengan nama lain. Dan juga fakta ilmiah yang didapatkan
       akan menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk mencari kebenaran dengan
       menguak bukti-bukti otentik dan bukan hanya berdasarkan asumsi yang akan
       menimbulkan perdebatan kusir. Seyogyanya kita sambut Ramadhan kali ini
       dengan penuh kedamaian, toleransi dan kekhusyukan dalam beribadah.
       Karena Ramadhan menjadi berkah bagi kita semua.


   B. KLASIFIKASI TIMUN SURI
       Bila Anda ditanya, buah apa yang paling diburu selama bulan ramadhan.
Wajar kiranya jika sebagian besar menjawab seragam yaitu buah timun suri. Buah
bernama latin Cucusmis sativus memang bisa dibilang primadona yang paling dicari
sebagai bahan dasar es campur atau sajian khas lain berbuka puasa yang
menyegarkan.
       Buah berbentuk lonjong dengan warna kulit kuning dan halus itu memang
paling banyak dicari terutama saat ramadhan. Bila ditelisik, buah ini memiliki tekstur
yang mudah rusak ketika matang, beraroma harum dan daging buah bercitarasa manis
serta miliki kadar air yang cukup tinggi sehingga bisa menambah kesegaran selepas
berpuasa.
Sistematika buah timun suri :
       Kingdom        : Plantae
       Divisi         : Mangnoliophyta
       Kelas          : Mangnoliopsida
       Ordo           : Cucurbitales
       Family         : Cucurbitaceae
       Genus          : Cucurmis
       Spesies        : Cucurmis sativus




   C. MANFAAT TIMUN SURI
       Timun suri, dapat dikatakan sebagai buahnya bulan ramadhan. Buah bernama
latin Cucurmis sativus memang bisa dibilang primadona yang paling dicari sebagai
bahan dasar es campur atau sajian khas lain berbuka puasa yang menyegarkan.
       Buahnya yang berbentuk lonjong dengan warna kulit kuning dan halus itu
memiliki tekstur yang mudah rusak ketika matang, beraroma harum dan daging buah
bercitarasa manis serta miliki kadar air yang cukup tinggi sehingga bisa menambah
kesegaran selepas berpuasa.
       Timun suri, mengandung mineral kalium dan provitamin. Serat di dalam
timun suri mampu mencegah timbulnya kanker saluran pencernaan, seperti kanker
usus dan kolon. Hal ini disebabkan sifat serat timun suri yang mengikat zat-zat
karsinogen penyebab kanker yang ada di saluran pencernaan.
       Timun suri juga kaya akan provitamin A, berfungsi menjaga kesehatan mata
dan sebagai antioksidan alami pencegah rusaknya sel tubuh penyebab penuaan dini.
Kaya akan vitamin C yang dapat mencegah timbulnya gangguan penyakit flu dan
infeksi. Selain vitamin, mineral esensial seperti kalsium, fosfor dan zat besi juga
banyak terdapat di dalam timun suri.
       Selain itu, kandungan zat gizi dan nir gizi yang terkandung di dalam buah
timun suri bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, menyehatkan fungsi
ginjal dan limpa, dan menurunkan tekanan darah.
       Dibalik keberadaanya yang musiman, buah ini juga mengandung mineral
kalium dan provitamin. Serat di dalam timun suri mampu mencegah timbulnya
kanker saluran pencernaan, seperti kanker usus dan kolon. Hal ini disebabkan sifat
serat timun suri yang mengikat zat-zat karsinogen penyebab kanker yang ada di
saluran pencernaan.
       Setelah mengetahui beragam manfaat timun suri, sangat disayangkan jika
hanya dikonsumsi selama bulan puasa saja. Ada baiknya Anda tetap mengonsumsi
buah itu agar terus memperoleh khasiatnya.


   D. MENGOLAH TIMUN SURI MENJADI TEPUNG
       Bisa jadi terilhami karena setiap hari melihat keberadaan timun suri alias
belewa bergelantungan dijual di sepanjang jalan menuju lokasi kampus tempat
mengajar, maka dua wanita ini pun tergerak hatinya untuk menciptakan sesuatu yang
lebih bermanfaat dan berguna lebih dari sekadar makanan siap kupas dan disajikan
segar sebagai makanan pembuka berpuasa. “Kami terilhami dengan keberadaan
timun suri yang banyak di sini. Sehingga kami ingin mencoba agar keberadaannya
bisa lebih bermanfaat terutama bagi si penanamnya,” kata Ir Umi Rosidah MS
didampingi rekannya Eka Lidia Sari MSi, Rabu (15/10). Umi dan Eka dijumpai di
sela pelaksanaan Kongres Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (Patpi)
2008 yang diselenggarakan secara nasional di Hotel Horison Palembang selama tiga
hari. Ternyata hasrat mulia dua dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya
(Unsri) ini pun tak sekadar hasrat.
       Keinginan yang dituangkan dalam sebuah percobaan teknologi dengan
membuat timun suri menjadi tepung yang kaya akan kadar kalium. Tak tanggung-
tanggung, hasil temuan dua wanita ini pun sudah dituangkan dalam prosiding
(kumpulan hasil penelitian) dari kegiatan Kongres Patpi dan diperbanyak serta
dibagi-bagikan kepada seluruh peserta kongres dan juga sebagai bahan literatur
perpustakaan. “Tujuannya masyarakat bisa mengakses kegiatan peneliti dan jika ada
yang tertarik maka bisa ditindaklanjuti. Timun suri yang menjadi kajian kami,” kata
Umi.
       Timun suri sangat mudah tumbuh, dilempar saja sudah tumbuh dan berbuat
lebat dan dalam iklim apa pun bisa tumbuh. Sayangnya, menurut Umi dan Eka,
bahwa timun suri ini hanya dimanfaatkan sekadarnya saja. Pas momen memasuki
Ramadhan maka baru timun ini bermunculan sebagai makanan pembuka puasa.
Padahal timun suri ini ternyata bisa diolah menjadi tepung, diawetkan dan bisa
dipergunakan lebih banyak. Hasil penelitian dua wanita ini, timun suri bisa diolah
menjadi tepung yang kaya kalium. Adapun kalium sangat berguna untuk
memperlancar metabolisme tubuh. Zat kalium ini banyak terkandung pada buah-
buahan namun khusus pada timun suri kadar kalium ini sangat tinggi. Adapun
teknologi yang ditawarkan Umi dan Eka sangat sederhana. Belewa diiris tipis,
dikeringkan dan dihaluskan. Proses pengeringan supaya tidak berubah warna maka
melalui proses dengan suhu yang tepat yaitu 50 derajat celsius. “Suhu pas sekitar 50
derajat celsius dengan pengeringan bantuan oven. Dengan sudah berbentuk tepung,
maka bisa dipergunakan lebih banyak. Selain awet maka nilai ekonomisnya sangat
besar terutama bagi para petani yang menanamnya,” kata Umi.
   E. HABITAT (SAWAH DI TANGERANG JADI LADANG TIMUN SURI)
       Sedikitnya, 4.000 ha lahan pertanian di wilayah Kabupaten Tangerang,
berubah fungsi menjadi lahan timun suri. Pengalihan kebiasaan para petani
berlangsung sepekan menjelang puasa karena kebutuhan akan timun suri.
Sawah di Tangerang Jadi Ladang Timun Suri Tangerang,Pelita Sedikitnya, 4.000 ha
lahan pertanian di wilayah Kabupaten Tangerang, berubah fungsi menjadi lahan
timun suri. Pengalihan kebiasaan para petani berlangsung sepekan menjelang puasa
karena kebutuhan akan timun suri. Pemberian bantuan pupuk ini merupakan salah
satu bentuk kepedulian pemerintah daerah kepada petani. Dengan cara seperti ini,
hasil tanaman Timun Suri akan semakin baik. Untuk itu saya juga meminta agar
aparat desa dan instansi terkait lainnya ikut membantu para petani menanam Timun
Suri, ungkap Ismet Iskandar, yang mencalonkan diri kembali menjadi Bupati
Kabupaten Tangerang , periode 2008-2013. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten
Tangerang H Didi Aswadi mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat para
petani Tangerang beralih menanam Timun Suri, Selain karena musim kemarau air, di
mana air yang tidak cukup untuk menanam padi, juga karena pada bulan puasa buah
Timun suri menjadi primadona. Selama ini, lanjutnya, pemerintah daerah selalu
mendorong para petani untuk bisa memanfaatkan lahan secara baik dengan cara
menyesuaikan musim yang ada. Pada musim penghujan diterapkan sistem tanam 3-0,
yaitu padi-padi-padi, 2-1 atau padi-padi-palawija. Dan, pada musim kemarau sistem
dirubah menjadi 1-2, yaitu padi-palawija-palawija. Sejak 2005, menurut Didi, jumlah
penanam Timun Suri terus bertambah dari puluhan petani kini menjadi ratusan petani.
Luas lahan yang ditanami Timun Suri juga bertambah, jika dua tahun lalu hanya 100
hektar, saat ini mencapai 400 hektar, dan tiap hektarnya menghasilkan 4-5 ton Timun
Suri. Penanaman buah Timun Suri di saat musim kemarau merupakan langkah positif
dan kretaif petani untuk memanfaatkan lahannya, kata Didi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:106
posted:11/24/2012
language:
pages:10