JENIS-JENIS KEMAHIRAN BAHASA ARAB by rifkyrosian

VIEWS: 198 PAGES: 17

More Info
									                          JENIS-JENIS KEMAHIRAN BAHASA ARAB



          Setiap ketrampilan berbahasa mempunyai keterkaitan antara satu ketrampilan dengan

ketrampilan yang lain. Karena dalam memperoleh ketrampilan bahasa ditempuh melalui

hubungan yang teratur. Pada mulanya masa kecil seorang anak belajar menyimak karena

mereka belum bisa berbicara, seiring berjalannya waktu anak mulai bisa menirukan ucapan-

ucapan ibunya, kemudian memahami ucapan-ucapan itu, setelah faham lalu dia bisa

menjawab atas pertanyaan-pertanyaan ibunya. Begitu juga dalam proses pemerolehan bahasa

kedua, langkah-langkahnyapun sama. Pada mulanya belajar menyimak, kemudian berbicara,

membaca, dan menulis.

a. Ketrampilan Menyimak

   Ketrampilan menyimak adalah kemampuan seseorang dalam mencerna atau memahami

   kata       atau   kalimat   yang   diujarkan   oleh   mitra   bicara   atau   media    tertentu.1

   Istima’/mendengar,mempunyai peran penting dalam hidup kita, karena hanya dengan

   kemampuan mendengar sarana pertama yang digunakan manusia untuk berhubungan

   dengan sesama dalam tahapan-tahapan kehidupannya. melalui istima’ kita mengenal

   mufrodat, bentuk-bentuk jumlah dan tarkib, dan menguasai ketramplan-ketrampilan

   bahasa yang lain seperti berbicara, membaca, dan juga menulis.

   1)     Tehnik pengajaran ketrampilan menyimak.

          a) Guru memilih percakapan yang sesuai dengan tingkat kebahasaan jenjang peserta

               didik, yang dirasa menarik dan menyenangkan.

          b) Guru membacakan atau menceritakan materi yang siap disajikan kepada peserta

               didik, setelah peserta didik selesai mendengarkan dengan baik maka Guru

               memberikan beberapa pertanyaan yang memuat inti cerita atau pikiran pokoknya.

          1
           . Acep hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2011, Bandung:PT.Remaja Rosyda
Karya, Hal. 130.
    c) Guru menyampaikan cerita yang cocok dan mudah bagi siswa, kemudian secara

       bergantian mereka diminta bergantian menceritakan ulang dengan tidak

       memperketat pengunaan bahasa yang benar.

    d) Guru melatih siswa untuk mendengarkan cerita pendek diluar kelas, dan kemudian

       melatihnya untuk menceritakan kembali dihadapan teman-temannya di dalam

       kelas.

    e) Guru mengucapkan sebuah kalimat sekali tanpa ada pengulangan dan meminta

       siswa untuk mengulangi secara lisan. Hingga benar-benar sesuai dengan ucapan

       guru dan siswa yang lain menyebutkan artinya.

    f) Guru memberikan materi dengan bermain peran, dengan membisikkan satu kata

       pada salah satu siswa kemudian disambungkan lagi pada teman yang lain setelah

       melewati sepuluh siswa.



2) Tahapan-tahapan latihan menyimak.

  a) Latihan pengenalan (idenifikasi)

      Ketrampilan menyimak pada tahap pertama bertujuan agar siswa dapat

      mengidentifikasi binyi-bunyi bahasa Arab secara tepat. Latihan pengenalan ini

      sangat penting karena sistem tata bunyi bahasa Arab berbeda dengan sistem tata

      bunyi bahasa indonesia.

   b) Latihan mendengarkan dan menirukan.

      Dalam tahap permulaan, siswa dilatih untuk mendengarkan dan menirukan

      kegiatan ini dilakukan oleh guru ketika memperkenalkan kata-kata atau pola

      kalimat yang baru, atau dalam waktu yang sengaja dikhususkan untuk latihan

      menyimak. Latihan ini difokuskan pada bunyi-bunyi bahasa yang asing bagi siswa,
           juga pada pengucapan vokal panjang dan pendek, bertasydid dan yang tidak

           bertasydid.

     c) Latihan mendengarkan dan memahami.

           Setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya, tahapan

           selanjutnya adalah tahapan menyimak dan memahami. latihan ini bertujuan agar

           siswa dapat memahami bentuk dan makna dari apa yang didengarnya. Latihan ini

           meliputi latihan melihat dan mendengar, latihan membaca dan mendengar, latihan

           mendengarkan dan meragakan.



b. Ketrampilan Berbicara

      Ketrampilan berbicara bahasa Arab adalah kecekatan dan kecepatan                        dalam

  mengutarakan buah pikiran dan perasaan, serta ketepatan dan kebenaran dalam memilih

  kosakata dan kalimat dengan bahasa Arab secara lisan.2

           Pada haikatnya ketrampilan berbicara merupakan kemahiran menggunakan bahasa

  rumit. Dalam hal ini, kemahiran dikaitkan dengan pengutaraan buah pikiran dan perasaan

  dengan kata-kata dan kalimat yang benar dan tepat. Jadi ketrampilan ada kaitanya dengan

  masalah buah pikiran atau pemikiran tentang apa yang harus dikatakan. Selain itu

  kemahiran juga berkaitan dengan sikap kemampuan mengatakan apa yang telah dipikirkan

  dan dirasakan dengan bahasa yang benar dan tepat. Jadi ketrampilan berkaitan erat dengan

  kemampuan sistem leksikal, gramatikal, sematik dan tata bunyi. Semua kemampuan itu

  memerlukan persediaan kata dan kalimat tertentu yang cocok dengan situasi yang

  dikehendaki yang didalamnya dibutuhkan banyak latihan lisan.

      Target yang harus dicapai dari ketrampilan berbicara ini adalah kemampuan dan

  kelancaran berbahasa lisan atau berbicara atau berkomunikasi langsung sebagai fungsi


       2
           Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab.( Bandung : Humaniora 2009) Hal. 138
   utama bahasa.3 jika tarjet tersebut diatas telah tercapai maka dapat dikatakan telah

   berhasil.

              Seseorang dapat dikatakan trampil dalam bahasa asing, apabila dia dapat berbicara,

   membaca dan menulis sesuai dengan kaidah-kaidanya dengan tepat dan benar, termasuk

   penguasaan mufrodat menurut keperluan dan tujuan mempelajari Bahasa Arab.4

   1)    Tehnik ketrampilan berbicara Bahasa Arab.

                 Kegiatan berbicara di dalam kelas mempunyai aspek komunikasi dua arah yakni

        antara pembicara dengan pendengarnya secara timbal balik. Dengan demikian, latihan

        berbicara harus terlebih dahulu didasari oleh:

        a) Kemampuan mendengarkan.

        b) Kemampuan mengucapkan.

        c) Penguasaa (relatif) kosakata dan ungkapan yang memungkinkan siswa dapat

              mengkomunikasikan maksud/fikirannya.5

              Oleh karna itu dapat dikatakan bahwa latihan berbicara merupakan kelanjutan dari

        latihan menyimak yang didalamnya terdapat latihan pengucapan.

              Untuk mencapai kemahiran berbicara Bahasa Arab, maka seorang pengajar harus

        sering memberikan latihan pengucapan bunyi bahasa. Adapun tehnik pengajaran latihan

        pengucapan yang dapat ditempuh antara lain :

        a) Sound-bracketing drill yaitu : latihan bunyi-bunyi huruf yang baru dan asing dengan

              cara mengucapkan dari satu fonem ke fonem lainnya sesuai dengan makharojnya.

        b) Minimal-pairs drill yaitu : latihan ini agar pelajar mampu membedakan satu fonem

              dengan fonem lainnya melalui pasangan kata yang hampir sama yang sebenarnya

              berbeda. Misal: antara fonem Arab “sa dan sha”.

          3
             Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. ( Bandung : Humaniora 2009) Hal. 96
          4
             http://bataviase.id/node/204115
           5
             Ahmad Fuad Effendy. Metodologi Pengajran Bahasa Arab.(Malang, Misykat 2005) Hal. 113, dan
http://ahsan.blogdetik.com/2008/12/17/yahoo-messenger-media-pengembangan-kemahiran-berbicara-bahasa
       c) Oral Reading, latihan ini sangat baik untuk teknik pengucapan, karena tidak hanya

             fonem terpisah yang dilatih tetapi terkait juga dengan kata dan kalimat, serta alunan

             suara (intonasi)

       d) Listen and Repeat drill adalah latihan yang terdiri dari kegiatan mendengarkan dan

             menirukan tentang apa yang telah didengar oleh siswa.6

                 Kegiatan berbicara ini sebenarnya merupakan kegiatan yang menarik dan ramai

       dalam kelas, akan tetapi seringkali terjadi sebaliknya. Kegiatan berbicara menjadi tidak

       menarik dan tidak merangsang partisipasi siswa, Hal itu terjadi karena penguasaan

       kosakata dan pola kalimat yang dikuasai siswa terbatas, serta kurangnya latihan lisan

       yang intensif. Namun demikian, kunci keberhasilan tergantung pada guru. Apabila guru

       dapat memilih topik pembicaraan yang tepat dan sesuai dengan tingkat kemampuan

       siswa serta memiliki kreatifitas dalam mengembangkan model-model pengajaran

       berbicara yang bervareasi maka suasana kelas akan kondusif dan aktif.

  2) Tahap-tahap Latihan Berbicara.

              Pada tahap-tahap permulaan, latihan berbicara dapat dikatakan serupa dengan

       menyimak. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dalam latihan menyimak ada

       tahap mendengarkan dan menirukan. Latihan mendengarkan dan menirukan ini

       merupakan gabungan antara latihan dasar untuk ketrampilan menyimak dan

       ketrampilan berbicara.

                 Namun harus disadari bahwa tujuan akhir dari keduanya berbeda. Tujuan akhir

       latihan menyimak adalah kemampuan memahami apa yang disimak. Sedangkan tujuan

       akhir latihan pengucapan adalah kemampuan ekspresi (ta’bir) yaitu mengemukakan

       ide/pikiran/pesan kepada orang lain.keduanya merupakan syarat mutlak bagi sebuah

       komunikasi lisan yang efektif secara timbal balik.

         6
             Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. .( Bandung : Humaniora 2009) Hal. 138-
140.
            Berikut ini diberikan beberapa model latihan berbicara. Urutan nomor

    menunjukkan gradasi/tingkat kesukaran walaupun tidak mutlak.

    a) Latihan Asosiasi dan Identifikasi

        Latihan ini dimaksudkan untuk melatih spontanitas siswa dan kecepatannya dalam

        mengidentifikasikan dan mengasosiasikan makna ujaran yang didengarnya. Bentuk

        latihan antara lain :

        1) Guru menyebut satu kata, siswa menyebut kata lain yang ada hubungannya

             dengan kata lain.

        2) Guru menyebut satu kata, siswa menyebut kata lain yang tidak ada

             hubungannya dengan kata tersebut.

        3) Guru menyebut satu kata benda (isim), siswa menyebut kata sifat yang sesuai

        4) Guru menyebutkan kata kerja (fi’il), siswa menyebut pelaku (fa’il)nya yang

             cocok.

        5) Guru menyebut satu kata kerja (fi’il) siswa pertama menyebutkan (fa’il)nya

             yang cocok, siswa yang kedua melengkapinya dengan sebuah frasa, dan siswa

             yang ketiga mengucapkan kalimat yang disusun bersama-sama secara lengkap.

             (a) Latihan Pola Kalimat

             (b) Latihan Percakapan

             (c) Bercerita

             (d) Diskusi

             (e) Wawancara.

             (f) Drama

             (g) Berpidato 7.




7
    Ahmad Fuad Effendy. Metodologi Pengajran Bahasa Arab. (Malang : Misykat 2005). Hal. 114
c. Ketrampilan Membaca

               Dapat dikatakan trampil dalam membaca jika mampu melafalkan teks tulis

  dengan intonasi dan makhroj yang tepat serta mampu memperoleh atau memahami

  informasi dari bahasa tulis atau memahami isi apa yang tertulis.8

               Membaca pada hakikatnya adalah proses komunikasi antara pembaca dengan

  penulis melalui teks yang ditulisnya, maka secara langsung di dalamnya ada hubungan

  kongnitif antara bahasa lisan dengan bahasa tulis

               Dalam makna yang lebih luas, membaca tidak hanya terpaku pada kegiatan

  melafalkan dan memahami makna bacaan dengan baik, yang hanya melibatkan unsur

  kongnitif dan psikomotorik, namun lebih dari itu, yaitu menyangkut penjiwaan atas isi

  suatu bacaan.

  1) Tujuan dari kegiatan membaca adalah:

         a) Memahami isi atau kandungan suatu bacaan.

         b) Untuk mencari informasi apapun yang dibutuhkan melalui sebuah tulisan, baik

             informasi kongnitif, intelektual, refrensial dan faktual, aktif dan emosional.

  2) Teknik Pengajaran ketrampilan membaca.

         Melihat tujuan diatas maka perlu penulis bahas tentang teknik pengajaran yang dapat

         digunakan dalam pembelajaran ketrampilan membaca. Adapun teknik yang dapat

         digunakan adalah sebagai berikut :

         a) Guru membacakan beberapa kalimat dan jumlah disertai penjelasan maknanya

             (dengan mengunakan gambar, isyarah, gerakan, peragaan, dll) setelah yakin

             bahwa siawa telah faham kemudian guru mengunakan kalimat atau jumlah dalam

             komunikasi praktis.




     8
         . Ahmad Fuad Efendi. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. (Malang : Misykat 2005) 2005. Hal 114.
b) Guru menyuruh siswa membuka buku dan membacakan kalimat dan jumlah sekali

   lagi dan meminta siswa untuk mengulangi lagi.

c) Siswa mengulangi kalimat dan jumlah secara bersama-sama, kemudian kelas di

   bagi dua atau tuga kelompok, setiap kelompok diminta untuk mengulang-ulang

   sampai ahirnya guru memilih salah satu siswa secara acak untuk mengulang dan

   diikuti oleh seluruh temannya.

d) Setelah selesai membaca bersama-sama lalu siswa diminta untuk membaca

   sendiri-sendiri didalam hati.

e) Setelah membaca selesai siswa diminta menghadap kedepan, dan membiarkan

   buku tetap dalam keadaan teruka.

f) Setelah itu guru tidak memberikan toleran waktu bagi siswa yang belum selesai

   dan juga tidak membiarkan mereka mengulangi teks padawaktu tana jawab. Hal

   ini mendorong siswa membaca secara cepat.

g) Guru memberi pertanyaan seputar teks dan buku tetap terbuka, karena pada saat

   ini guru belum menguji hafalan siswa, siswa diperbolehkan untuk mencari

   jawaban dalam teks.

h) Sebaiknya pertanyaan urut berdasarkan jawaban dalam teks sehingga dapat

   diketahui sampai batas mana

i) Hendaknya pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan jawaban pendek.

j) Jika pertanyaan tidak mampu dijawab oleh siswa yang di tunjuk maka harus di

   berikan kepada siswa yang lain.

k) Memotifasi siswa untuk menjawab pertanyaan sebagaimana yang ada dalam teks

   tanpa meminta siswa menjawab dengan ungkapan baru.
        l) Waktu yang ideal untuk melakukan tanya jawab selama 20-25 menit.9

   3) Jenis-jenis membaca.

                   Membaca secara garis besar terbagi menjadi dua bagian yaitu membaca

        nyaring dan membaca dalam hati.

        1) Membaca nyaring (Al-Qiro’ah al-jahriyah).

           Membaca nyaring adalah memebaca dengan melafalkan atau menyuarakan simbol-

           simbol tertulis berupa kata-kata atau kalimat yang dibaca.10 Latihan membaca ini

           lebih cocok diberika kepada pelajar tingkat pemula. Adapun tujuan dari membaca

           nyaring ini adalah agar pelajar mampu melafalkan bacaan dengan baik sesuai

           dengan sistem bunyi dalam bahasa Arab, selian itu ada beberapa keuntungan dari

           membaca nyaring, antara lain :

           a) Menambah kepercayaan diri pelajar.

           b) Kesalahan-kesalahan dalam melafalkan dapat langsung di perbaiki oleh guru.

           c) Memperkuat disiplin dalam kelas, karena pelajar berperan aktif dalam kelas.

           d) Memberi kesempatan kepada pelajar untuk menghubungkan lafal dengan

               otografi (tulisan). Selain ada keuntungannya membaca nyaring juga ada sisi

               kelemahannya. Berikut sisi kelemahan dari membaca nyaring :

               - Membaca nyaring akan banyak menyita energi, akibatnya pelajar akan cepat

                    capek.

               - Tingkat pemahaman membaca nyaring lebih rendah dari pada membaca

                    diam. Sebab pelajar lebih disibukkan dengan melafalkan kata-kata dibanding

                    mencerna isi kandungannya.


       9
          Abdul Hamid, Uril Baharudin, Bisyri Mustofa. Pembelajaran Bahasa Arab. Malang : UIN Malang
Press. Hal. 48. Lihat M.Ali Al-Khauli. Ilmu Al-Lughoh. Amman : Daar Al-Falah. Hal. 39.
        10
           . Acep hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. (Bandung : PT.Remaja Rosdakarya
2011). Hal. 144.
               - Membaca nyaring dapat menimbulkan kegaduhan, akibatnya menganggu

                    kelas lain.

       2) Membaca diam (Al-Qiro’ah al-Samamitah).

           Membaca diam atau sering disebut dengan membaca dalam hati, yaitu membaca

           dengan tidak melafalkan simbol-smbol tertulis, berupa kata-kata atau kalimat yang

           di baca.11 Adapun tujuan dari membaca diam adalah penguasaan isi bacaan dalam

           waktu yang cepat.      Membaca diam lebih efektif dalam memahami isi bacaan

           dibandingkan dengan membaca nyaring, disamping itu, dapat dilakukan dimana

           saja dan lebih ekonomis.

           Efektifitas membaca akan terwujud melalui empat hal yaitu :

           a) Memperluas jangkauan visual kata-kata dalam bacaan.

           b) Mengurangi pengulangan deteksi kata.

           c) Menghindari deteksi kata terlalu lama.

           d) Menghindari istirahat ditengah-tengah sebelum bacaan selesai.

                    Oleh karena itu, kemampuan eksplorasi visual dan kecepatan membaca

         menjadi aspek inti dalam pengajaran keterampilan membaca diam.



d. Ketrampilan Menulis

        Menulis merupakan proses mengabadikan bahasa dalam bentuk grafis, reprentasi dari

   kegiatan kegiatan ekspresi bahasa, kegiatan melahirkan buah pikiran dan perasaan dalam

   bentuk tulisan. Yang pembelajarannya terpusat pada ketrampilan menulis imlak, khot, dan

   juga insya’.12




          11
             . Acep hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Bandung : PT.Remaja Rosdakarya
2011). Hal. 148.
      12
         . Abdul Hamid, Uril Baharuddin, Musthofa. Pembelajaran Bahasa Arab: (UIN Malang Press 2008.)
Hal. 49.
   Diantara keterampilan-keterampilan bahasa, keterampilan menulis adalah keterampilan

   tertinggi dari empat keterampilan bahasa yang lain. Menulis merupakan salah satu sarana

   berkomunikasi dengan bahasa antara orang dengan orang lain yang tidak terbatas oleh

   tempat dan waktu.

   Pembelaajaran menulis terpusat pada tiga hal, yaitu :

   1) Ketrampilan menulis (imlak)

   2) Ketrampilan khot (kaligrafi)

   3) Ketrampilan mengarang 13

   Agar lebih jelas penulis akan membahas satu persatu dari ketiga pembelajaran diatas.

   1) Ketrampilan menulis (imlak).

               Ketrampilan imlak adalah kemampuan menulis yang menekankan postur huruf

      dalam membentuk kata-kata atau kalimat. Secara umum ada tiga kecakapan dasar

      dalamyang dikembangkan dalam dalam ketrampilan imlak yaitu: kecermatan

      mengamati, mendengar, dan kelenturan tangan dalam menulis.

               Secara garis besar ada tiga macam teknik yang harus diperhatikan dalam

      pembelajaran imlak, yaitu:

      a) Imlak menyalin (al-Imlak al-manqul).

          Yang dimaksud menyalin disini adalah memindahkan tulisan dari media tertentu

          dalam buku pelajar. Model imlak jenis ini cocok untuk pemula. Mengajarkan imlak

          ini dilakukan dengan cara memberikan tulisan atau teks, pada papan tulis, buku,

          kartu atau sejenisnya. Setelah itu guru memberi contoh membaca dan diikuti pelajar

          hingga lancar. Setelah itu didiskusikan makna atau maksud yang terkandung dalam

          tulisan itu. Setelah itu pelajar baru menyalinnya.



          13
              . Acep hermawan. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. (Bandung : PT.Remaja Rosdakarya
2011). Hal. 152
   b) Imlak mengamati (mandhur).

       Yang dimaksud mengamati di sini adalah melihat tulisan dalam media tertentu

       dengan cermat, setelah itu dipindahkan dalam buku pelajar tanpa melihat lagi

       tulisan. Imlak ini pada dasarnya sama dengan imlak al-manqul dari segi

       memindahkan atau menyalin tulisan. Tetapi dalm proses menyalinnya para pelajar

       tidak diperbolehkan melihat tulisan yang disajikan oleh guru, sebisa mungkin

       pelajar harus menyalin tulisan dari hasil penglihatan mereka sebelumnya. Imlak ini

       tingkatanya sedikit lebih tinggi dari imlak yang pertama. Maka dalam prakteknya

       akan lebih cocok diberikan kepada pemula yang sudah lebih maju.

   c) Imlak menyimak (al-imla al-istima’i)

       Yang disebut menyimak disini adalah mendengarkan kata/kalimat/teks yang

       dibacakan oleh guru lalu pelajar menulisnya. Imlak jenis ini tingkatannya lebih

       sukar dibandingkan dengan kedua imlak diatas. Pada ketrampilan imlak jenis ini

       mengandalkan kecermatan pelajar dalam mendengarkan bacaan guru.

   d) Imlak tes (al-imlak al-ikhtibari).

       Imlak tes adalah imlak yang bertujuan untuk mengukur kemampuan dan kemajuan

       para pelajar dalam pembelajaran yang telah di pelajari pada pertemuan-pertemuan

       sebelumnya. Maka kemampuan yang diukur mencakup unsur-unsur kemampuan

       dasar seperti yang dijelaskan diatas. Dalam imlak al-ikhtibar para pelajar tidak lagi

       diarahkan oleh guru, oleh karna itu waktu yang disediakan harus cukup dalam

       melakukan latihan.



2) Ketrampilan khot (kaligrafi)

  Ketrampilan kaligrafi atau disebut juga tahsin al-khot(membaguskan tulisan) adalah

  kategori menulis yang tidak hanya menekankan pada postur huruf dalam membentuk
      kata-kata, dan kalimat tetapi juga menyentuh aspek-aspek estetika. Adapun tujuan

      pembelajaran khot ini adalah agar pelajar trampil menulis huruf-huruf dan kalimat

      Arab dengan benar dan indah.

      Macam-macam gaya aliran kaligrafi:

       Khot kufi.

       Khot naskhi.

       Khot tsulatsi.

       Khot fartsi.

       Khot diwani.

       Khot diwani jali.

       Khot ijazah.

       Khot riq’i



   3) Ketrampilan mengarang/ insya’.

      Keterampilan mengarang (al-insya’) adalah kategori menulis yang berorientasi kepada

      pengekspresian pokok pikiran berupa ide, pesan, perasaan, ke dalam bahasa tulisan.14

      maka wawasan dan pegalaman pengarang sudah mulai dilibatkan. Menulis karangan

      tidak hanya mendeskripsikan kata-kata atau kalimat ke dalam tulisan secara struktural

      melainkan juga bagaimana ide atau pikiran penulis tercurah secara sistematis untuk

      menyakinkan pembaca. Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat

      komunikasi tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena

      memudahkan para pelajar untuk berfikir dan dalam tingkatan yang lebih tinggi dapat

      mendorong mereka untuk berfikir secara kritis dan sistematis, memperdalam daya

      tanggap/persepsi. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi, dan

            14
                 . Sri utari subyakto-nabaan. metodologi pembelajaran bahasa. jakarata : gramedia pustaka utama.
Hal. 180.
sebagainya. Tulisan juga dapat membantu menjelaskan pikiran-pikiran yang hendak

dikemukakan.

Mengarang (al-insya’) dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu mengarang terpimpin

(al-insya’ al-muwajjah) dan mengarang bebas (al-insya’ hurr).

1) Mengarang terpimpin (al-isya’ al-muwajjah)

   Mengarang terpimpin adalah membuat kalimat atau paragraf sederhana dengan

   bimbingan tertentu berupa pengarahan, seperti melengkapi kalimat yang tidak

   lengkap. Mengarang terpimpin juga bisa disebut mengarang terbatas (al-insya’ al-

   muqayyad) sebab karangan pelajar dibatasi oleh ukuran-ukuran yang diberikan oleh

   pemberi     soal,   maka   dalam   prakteknya   tidak   menuntut    pelajar   untuk

   mengembangkan pikirannya secara bebas.

   Ada beberapa teknik latihan pengembangan mengarang terpimpin yang dikenal

   dalam pengajaran Bahasa Arab, anatara lain: mengganti merubah (al-tabdil),

   misalnya mengganti salah satu unsur dalam kalimat, merubah kalimat aktif menjadi

   pasif atau sebaliknya, positif menjadi negatif atau sebaliknya, berita menjadi tanya

   atau sebaliknya, kalimat yang ber-fiil mudhari’ menjadi ber-fiil madhi         atau

   sebaliknya, dan sebagainya; mengisi bagian kosong (al-imla’ al-firagh), menyusun

   kata-kata yang tersedia menjadi kalimat lengkap (al-tartib), membuat kalimat

   lengkap tertentu berdasarkan perintah (takwin al-jumal), menjawab pertanyaan

   tentang bacaan (al-ijabah), dan sebagainya.



2) Mengarang bebas (al-insya’ al-hurr)

    Mengarang bebas adalah membuat kalimat atau paragraf tanpa pengarahan.

    Contoh, kalimat yang tidak lengkap, dan sebagainya. Para pelajar dalam hal ini

    diberi kebebasan untuk mengekspresikan pikirannya tentang suatu hal tertentu.
Mengarang bentuk ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan mengarang terimpin,

sebab merupakan kelanjutan dari serangkaian kegiatan mengarang terpimpin. Akan

tetapi kemampuan mengarang bebas dalam prakteknya dipisahkan dari

kemampuan mengarang terpimpin, sebab memiliki cara, prosedur, dan tahapan

tersendiri jika dikembangkan lebih dalam lagi.

Ada beberapa teknik latihan yang harus dilalui untuk sampai kepada keterampilan

mengarang bebas, antara lain:

a) Meringkas bacaan terpilih (al-talkhish),

b) Menceritakan gambar yang dilihat (al-qishash)

c) Menjelaskan aktifitas tertentu (al-idhah):

   (1) Meringkas bacaan terpilih (al-talkhish), yaitu menuliskan kembali intisari

       bacaan dengan bahasa Arab yang dimiliki pelajar.

   (2) Menceritakan gambar yang dilihat (al-qishash) atau narasi, yaitu

       menceritakan isi gambar yang dilihatberupa pekerjaan sehari-hari sejak

       bangu tidur sampai saat hendak tidur.

   (3) Menjelaskan aktifitas tertentu (al-idhah) atau eksposisi, yaitu menerangkan

       pekerjaan yang bisa dilakukan oleh pelajar dalam situasi-situasi tertentu,

       misalnya berangkat ke sekolah naik sepeda motor, pulang kampung naik

       kendaraan umum. Kegiatan-kegiatan di kelas, dan sebagainya.

   (4) Setelah itu, baru mengarang bebas ( al- insya’ al-hurr ) tentang masalah-

       masalah tertentu yang di ketahui oleh pelajar. Tingkatan ini jauh lebih sulit

       di bandingkan dengan tiga tingkatan sebelumnya, sebab tidak hanya

       melibatkan keterampilan dalam memanfaatkan grafologi, struktur bahasa

       dan kosa kata. Tetapi juga menuangkan wawasan yang lebih luas tentang

       masalah yang dibahas. Dalam mengarang bentuk ini para pelajar sudah
                  diajak berfikir abstrak tentang fenomena yang terjadi dalam kehidupan.

                  Karangan mereka sudah mulai melibatkan wawasan tentang persoalan

                  masyarakat luas. Jadi dapat dikatakan inilah karangan sesungguhnya.

  Hal-hal penting dalam pembelajaran mengarang bebas antara lain :

  1) Topik yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan tingkat kebahasaan pelajar dan

      ruang lingkup (ranah) kehidupannya. Walaupun para pelajar diberi kebebasan untuk

      menuangkan semua gagasan tentang masalah tertentu, namun perlu disesuaikan

      dengan tingkat kemampuan dan pengalaman mereka.

  2) Sebelum dilakukan kegiatan mengarang hendaknya ditentukan apa tujuan tulisan

      ini, dan kepada siapa ditujukan. Walaupun dalam suasana latihan di tempat terbatas

      (kelas), namun imajinasi para pelajar harus dibawa kekawasan yang lebih

      luas,seakan-akan karangan mereka akan dipublikasikan, pada masyarakat luas. Hal

      ini dilakukan untuk merangsang imajinasi mereka dalam membuat sebuah karangan

      tertentu.

  3) Untuk mempermudah uraian dalam karangan, sebaliknya ditentukan outline

      karangan.

  4) Mewujudkan karangan di atas kertas, sebaliknya melalui langkah-langkah berikut:

      mula-mula konsep kasar, konsep ini kemudian diedit/ diperbaiki barangkali ada hal-

      hal yang salah, setelah itu ditulis rapi pada kertas karangan.

Proses pembelajaran keterampilan menulis akan berbeda–beda sesuai dengan pendekatan

pembelajaran yang digunakan. Apakah mengunakan pendekatan humanistik, pendekatan

teknik teknologi, pendekatan analisis/formal-struktural dan non analisis/global/naturalistik

atau pendekatan komunikatif /fungsional. Lebih dari itu pendekatan yang juga lzim

digunakan adalah pendekatan oral, pendekatan audiolingual, dan pendekatan gramatikal.

Adapun Petunjuk Umum Pembelajaran Ketrampilan Menulis antara lain seperti berikut :
a) Memperjelas materi yang dipelajari siswa, maksudnya tidak menyuruh siswa

      menulis sebelum siswa mendengarkannya dengan baik, mampu membedakan

      pengucapannya dantelah kenal bacaannya.

b) Memberitahukan tujuan pembelajarannya kepada siswa.

c) Mulai mengajarkan menulis dengan waktu yang cukup.

d) Asas bertahap, dari yang sederhana berlanjut kepada yang rumit.

      Contoh :

       Menyalin huruf

       Menyalin kata

       Menulis kalimat sederhana

       Menulis sebagian kalimat yang ada dalam teks atau percakapan.

       Menulis jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.

       Imlak

       Mengarang terarah (misalnya dengan mengambar)

       Mengarang bebas.

         (1) Kebebasan menulis.

         (2) Pembelajaran khot.

         (3) Pembelajaran imla’15




15
     .Judad Ar-Rokabi, Turuku Al-Tadrisi Al-Lughoh Al-Arobiyah. Amman : Daar Al-Fikri. Hal. 41.

								
To top