Docstoc

3. Model Penyelenggaraan-SKM_050309

Document Sample
3. Model Penyelenggaraan-SKM_050309 Powered By Docstoc
					                                          A. Pendahuluan

1. Landasan Pedagogis
a.   tujuan utama pendidikan adalah memberi kemampuan pada manusia
     untuk hidup di masyarakat. Kemampuan ini berupa pengetahuan
     dan/atau keterampilan, serta pErilaku yang diterima masyarakat
b.   sekolah harus memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan
     potensi dan minat peserta didik
c.   Faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas
     pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat, minat,
     dan kemampuan
d.   Indikasi pembelajaran yang berkualitas adalah yang interaktif,
     inovatif, menyenangkan dan menantang
e.   Tugas sekolah adalah mengembangkan potensi peserta didik secara
     optimal menjadi kemampuan yang berguna bagi dirinya untuk hidup di
     masyarakat
                                         A. Pendahuluan
f.   Peserta didik yang berada pada dimensi intelektual akan cocok
     belajar di program studi matematika dan ilmu-ilmu alam,
     sedangkan yang berada pada dimensi realistik cocok belajar di
     program studi teknik mesin, teknik sipil, pertanian, dan
     konstruksi. Mereka yang berada pada dimensi konvensional akan
     sukses belajar pada program studi yang berhubungan dengan
     pemrosesan data, manajeman bisnis, atau akuntansi, sedangkan
     yang berada pada dimensi pengusaha cenderung sukses bila
     belajar pada program studi yang berkaitan dengan pemasaran
     dan hubungan publik. Mereka yang berada pada dimensi artistik
     akan cocok bila belajar pada program studi yang berkaitan
     dengan teologi, psikologi klinis, seni, dan musik, sedangkan yang
     berada pada dimensi sosial akan cenderung sukses bila belajar
     pada program studi yang berkaitan dengan sejarah, budaya,
     pedagogi, bimbingan dan konseling, serta bahasa.
              1.Landasan Yuridis

a.   PP 19 Tahun 2005 , pasal 11 ayat 4; yaitu sekolah/madrasah yang
     telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional
     Pendidikan harus menerapkan SKS
b.   PP 19 Tahun 2005 pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum
     untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang
     pendidikan dasar dan menengah terdiri atas lima kelompok mata
     pelajaran, yaitu agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan
     kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, dan
     jasmani, olah raga, dan kesehatan. Pasal 10 ayat (1) menyatakan
     bahwa beban belajar untuk SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk
     lain yang sederajat menggunakan jam pembelajaran setiap mingu
     setiap semester dengan sistem tatap muka, penugasan
     terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, sesuai
     kebutuhan dan ciri khas masing-masing.
     Faktor yang menentukan kualitas pendidikan antara lain kualitas
     pembelajaran dan karakter peserta didik yang meliputi bakat,
     minat, dan kemampuan
c.   Permendiknas No. 22,23,24 tahun 2006 dan Nomor 6 tahun 2007
B. Konsep Dasar Sekolah Kategori Mandiri

1. Pengertian
 • Penjelasan PP N0 19 Tahun 2005 pasal 11 ayat 2
   menyebutkan bahwa pemerintah mengkategorikan
   sekolah/madrasah yang telah atau hampir memenuhi
   standar nasional ke dalam kategori mandiri. Penjelasan
   selanjutnya menyebutkan bahwa Sekolah Kategori Mandiri
   (SKM) harus menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS).
 • SKS adalah salah satu sistem penerapan program
   pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai
   subyek.
 • Pembelajaran berpusat pada peserta didik, yaitu
   bagaimana peserta didik belajar. Peserta didik diberi
   kebebasan untuk merencanakan kegiatan belajarnya sesuai
   dengan minat, kemampuan, dan harapan masing-masing
2. Karakteristik
 a. Dukungan Internal, yang meliputi (1) Kinerja Sekolah,
    (2) Memiliki Kurikulum Sendiri, beban studi
    dinyatakan dengan satuan kredit semester, menyusun
    panduan/dokumen penyelenggaraan, (3) Kesiapan
    sekolah (4) Sumber Daya Manusia yang siap (5)
    Fasilitas di sekolah memadai

 b. Dukungan Eksternal untuk menyelenggarakan
    SKM/SSN berasal dari komite sekolah, orang tua
    peserta didik, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan
    dukungan dari tenaga pendamping pelaksanaan SKS
C. Pengelolaan Kurikulum
 Kurikulum SMA yang disusun berdasarkan SI dan SKL yang berlaku
  secara nasional, sehingga lulusan SKM/SSN memiliki kualifikasi dan
  standar kompetensi sesuai dengan standar nasional pendidikan
 Kelompok guru mata pelajaran melakukan analisis SI, SK,KD,
  Indikator yang akan dicapai dalam mendukung pencapaian
  kompetensi peserta didik
 Setiap guru yang mengajar di Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah
  Standar Nasional perlu terlebih dulu melakukan analisis materi
  pelajaran
 Beban belajar peserta didik dinyatakan dalam satuan kredit semeser
  (sks),
 Pengorganisasian materi kurikulum dibuat menjadi materi umum/
  wajib dan materi khusus/pilihan
 Sekolah menugasi guru sebagai pembimbing akademik yang
  membina peserta didik
d. Model Pembelajaran SKM/SSN
   Pembelajaran berbasis kompetensi (competency oriented)
   Pembelajaran berpusat pada peserta didik (bagaimana peserta
    didik belajar)
   Pembelajaran bersifat konstruktivisme dan minimal instruction
   Memberikan pelayanan prima (service exellent) dan
    mengutamakan kepuasan peserta didik (customer statisfiction)
   Pengembangan pembelajaran menggunakan strategi yang lebih
    adaptif didukung penggunaan teknologi canggih (TIK)
   Menggunakan berbagai metode yang memudahkan peserta didik
    belajar.
   Proses pembelajaran bersifat kontekstual.
   Proses pembelajaran interaktif, inspiratif, inovatif,
    menyenangkan, memotivasi, menantang (prinsip PAIKEM).
   Menekankan pada kemampuan dan kemauan bertanya dari
    peserta didik.
   Dilakukan melalui kelompok belajar dan tutor sebaya.
   Mengalokasikan waktu sesuai dengan kemampuan belajar peserta
    didik
   Melaksanakan program remedial dan pengayaan sesuai dengan
    hasil penilaian/evaluasi.
e. Sistem Penilaian pada SKM/SSN

   Pencapaian kompetensi diukur melalui tes kinerja yang dilakukan terus
    menerus (continuous) menggunakan metode pengamatan, pemberian
    tugas, dan ujian tulis.
   Peserta didik yang sudah memperoleh layanan khusus namun tetap belum
    mencapai skor (kompetensi) minimal pada mata pelajaran wajib harus
    mengambil ulang pada semester berikutnya, sedangkan untuk mata
    pelajaran pilihan boleh mengganti dengan pilihan lain pada semester
    berikutnya.
   Peserta didik dinyatakan lulus SMA bila telah menyelesaikan total kredit
    dan mencapai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sesuai ketentuan SKS.
   Sekolah melaporkan kemajuan belajar setiap peserta didik tersebut
    kepada orang tua peserta didik sebelum diberikan kepada peserta didik
    yang bersangkutan.
   Orang tua dari peserta didik yang memiliki IP di bawah persyaratan
    lulus/tuntas diberitahu dan diundang ke sekolah untuk menyusun rencana
    pemecahannya.
f. Kompetensi Guru pada SKM/SSN
1.       Kompetensi pedagogik
          Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,
           spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.
          Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
           yang mendidik.
          Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata
           pelajaran yang diampu.
          Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
          Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
           kepentingan pembelajaran.
          Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
           mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
          Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan
           peserta didik.
          Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil
           belajar.
          Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk
           kepentingan pembelajaran.
          Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas
           pembelajaran.
f. Kompetensi Guru pada SKM/SSN

2. Kompetensi kepribadian
     Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum,
      sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
     Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur,
      berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik
      dan masyarakat.
     Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap,
      stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
     Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang
      tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa
      percaya diri.
     Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
f. Kompetensi Guru pada SKM/SSN


3. Kompetensi sosial
•   Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak
    diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin,
    agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan
    status sosial ekonomi.
•   Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun
    dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang
    tua, dan masyarakat.
•   Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah
    Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial
    budaya.
•   Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan
    profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
f. Kompetensi Guru pada SKM/SSN

4. Kompetensi profesional
• Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir
  keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang
  diampu.
• Menguasai standar kompetensi dan kompetensi
  dasar mata pelajaran yang diampu.
• Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu
  secara kreatif.
• Mengembangkan keprofesionalan secara
  berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
g. Pelayanan Bimbingan pada SKM/SSN

   Program bimbingan diarahkan untuk dapat menjaga terjadinya
    keseimbangan dan keserasian dalam perkembangan intelektual,
    emosional dan sosial

   Layanan bimbingan diperlukan peserta didik untuk memenuhi
    kebutuhan individual baik secara psikologis maupun untuk
    mengembangkan kecakapan sosial agar dapat berkembang
    optimal

   Bimbingan tersebut dapat diupayakan dengan melakukan langkah
    seperti (1) Pertemuan rutin dengan orang tua peserta didik untuk
    saling bertukar informasi, (2) Menghimpun berbagai data dari guru
    yang mengajar, khususnya berkaitan dengan aktivitas peserta
    didik pada saat pembelajaran, (3) Menjaring data dari peserta
    didik melalui daftar cek masalah, sosiometri kelas, angket
    maupun wawancara
                                   V. Penutup

Penyelenggaraan pendidikan dengan mengacu pada standar
nasional dan kajian empirik serta ilmiah akan memberikan model
konsep yang relevan dan ideal dengan orientasi utama
pengelolaan manajemen berbasis sekolah yang otonom dan
efektif.

Sekolah Kategori Mandiri/sekolah standar nasional merupakan
bentuk minimal dari manajemen penyelenggaraan pendidikan di
Indonesia yang harus terus dikembangkan secara konseptual,
strategi dan pengembangan implementasi pada satuan
pendidikan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1
posted:11/23/2012
language:
pages:16