kul farmasetika ii by 9tO63Vo

VIEWS: 844 PAGES: 119

									   Farmasetika II
            Oleh :
Muhammad Muhlis, S.Si., Apt., Sp.FRS



          Fakultas Farmasi
        Univ. Ahmad Dahlan
         Jogjakarta th 2012
       Sumber bacaan/Pustaka
1.   UU Kes no 36 th 2009 tentang
     Kesehatan
2.   Farmakope Indonesia edisi IV
3.   USPDI (United States Pharmacopeia
     Dispensing Information)
4.   Pharmaceutical Preformulation and
     Formulation: A Practical Guide from
     Candidate Drug Selection to
     Commercial Dosage Form
                     Obat
   Adalah bahan atau paduan bahan yang
    digunakan untuk mempengaruhi atau
    menyelidiki system fisiologi atau keadaan
    patologi dalam rangka penetapan
    diagnosa, pencegahan penyakit,
    penyembuhan penyakit, pemulihan, dan
    peningkatan kesehatan termasuk
    kontrasepsi dan sedian biologis. ( Penjelas
    atas PP RI No. 72 Th 1998 tentang
    Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat
    Kesehatan)
         UUKes 36 th 2009
 Obatadalah bahan atau paduan
 bahan, termasuk produk biologi yang
 digunakan untuk mempengaruhi
 atau menyelidiki sistem fisiologi atau
 keadaan patologi dalam rangka
 penetapan diagnosis, pencegahan,
 penyembuhan, pemulihan,
 peningkatan kesehatan dan
 kontrasepsi, untuk manusia.
    Sediaan farmasi adalah:

      Bahan obat, Obat tradisional,
 Obat,
 dan Kosmetika
     (UURI   No 36 th 2009 tentang kesehatan)
                     Obat: (jadi)
   Adalah sediaan atau paduan bahan-bahan yang
    siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau
    menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi
    dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan,
    penyembuhan, pemulihan, peningkatan
    kesehatan dan kontrasepsi.
        (PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993)

Adalah zat yang digunakan untuk:
    – Diagnosis
    – Mengurangi rasa sakit
    – Mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau
      hewan.
                (Ansel, 1985)
     Bahan Obat / Bahan Baku
   Semua bahan, baik yang berkhasiat
    maupun tidak berkhasiat, yang berubah
    maupun tidak berubah; yang digunakan
    dalam pengolahan obat walaupun tidak
    semua bahan tersebut masih terdapat di
    dalam produk ruahan.

   Produk ruahan ????
             Obat Tradisional
   Adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa
    bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
    sediaan sarian (galenik) atau campuran dari
    bahan tersebut yang secara turun temurun telah
    digunakan untuk pengobatan berdasarkan
    pengalaman. (UU RI No 36 Th 2009, tentang
    Kesehatan)
   Obat tradisional adalah bahan atau ramuan
    bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan
    hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik),
    atau campuran dari bahan tersebut yang secara
    turun temurun telah digunakan untuk
    pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan
    norma yang berlaku di masyarakat. UUKes 36
    2009
               Kosmetik
Menurut Keputusan Kepala BPOM RI No.
 HK.00.05.4.1745 th 2003 tentang Kosmetik,


kosmetik adalah bahan atau sediaan yang
  dimaksudkan untuk digunakan pada bagian
  luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku,
  bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi
  dan mukosa mulut terutama untuk
  membersihkan, mewangikan, mengubah
  penampilan dan atau memperbaiki bau badan
  atau melindungi atau memelihara tubuh pada
  kondisi baik.
 Tujuan Penggunaan Kosmetik
DAHULU :
 1.Melindungi tubuh dari alam (panas sinar
  matahari – terbakar, dingin – kekeringan, iritasi
  – gigitan nyamuk).
 2. Tujuan Religius : Bau dari kayu tertentu-
  cendana – mengusir mahluk halus
SEKARANG : Personal hygiene, meningkatkan
  daya tarik-make up, meningkatkan
  kepercayaan diri & ketenangan,melindungi
  kulit-rambut dari uv yg merusak, polutan dan
  faktor lingkungan lain, menghindari penuaan
Secara umum : membantu manusia untuk
  menikmati hidup yang lebih bermanfaat
    Nomor Registrasi Kosmetik
    Nomor Registrasi Kosmetik sebagai berikut:
    Depkes RI/POM CD 10 digit: untuk kosmetika dalam negeri
    Depkes RI/POM CL 10 digit: untuk kosmetika import


1    2   3    4    5      6    7   8    9   10

    Keterangan :
    1. Digit 1,2         : Kategori
    2. Digit 3,4         : Sub Kategori
    3. Digit 5,6         : Tahun Pendaftaran (pembacaan dibalik).
    4. Digit 7,8,9,10:   Nomor Urut Pendaftaran produk
                               di Badan POM
 Produk impor biasanya juga
 mencantumkan kode lain selain kode
 CL,
Kode CA (kosmetik Asia),
kode CE (kosmetik Amerika) dan
kode CC (kosmetik Eropa)
beserta angka 11 digit.
       Penggolongan Obat
Obat digolongkan menjadi 4 golongan yaitu
 Obat Bebas,

 Obat Bebas Terbatas

 Obat Keras

 Obat Narkotika
             Obat Narkotika,
   adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman
    atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi
    sintesis yang dapat menyebabkan penurunan
    atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
    mengurangin sampai menghilangkan rasa
    nyeri, dan dapat mnimbulkan ketergantungan ,
    yang dibedakan kedalam golongan-golongan
    sebagai mana terlampir dalam undang-undang
    ini atau yang kemudian ditetapkan dengan
    Keputusan Menteri Kesehatan. (UURI No 22 Th
    1997 tentang Narkotika )
obat ini pada kemasan nya ditandai dengan
  lingkaran yang di dalamnya terdapat
  palang (+) berwarna merah.
 Obat narkotika bersifat adiksi dan
  penggunaannya diawasi dengan ketat,
  sehingga obat golongan narkotika hanya
  dapat diperoleh di Apotek dengan resep
  dokter yang asli (tidak dapat
  menggunakan kopi resep). Contoh dari
  obat narkotika antara lain: Opium, coca,
  ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain
  sebagainya. Dalam bidang kedokteran,
  obat-obat narkotika biasa digunakan
  sebagai anestesi/obat bius dan
  analgetika/obat penghilang rasa sakit.
     Hal-hal khusus pada Obat
             Narkotika :
 Pada Resep, Obat Narkotika harus digaris
  bawahi dengan tinta merah.
 Pada resep harus tertera alamat pasien
  yang jelas.
 Pada etiket obat harus tertera etiket
  “Tidak Boleh diulang tanpa resep dokter”
 Resep obat Narkotika diarsip tersendiri,
  terpisah dari resep lainnya
 Penyimpanan obat narkotika harus dalam
  almari khusus yang sesuai dengan
  peraturan Menkes.
 Penandaan   khusus obat bebas
 terbatas
         P. No 1.                       P. No 2.
    Awas ! Obat Keras,             Awas ! Obat Keras,
Bacalah Aturan Memakainya      Hanya untuk dikumur, jangan
                                         ditelan




         P. No 3.                       P. No 4.
    Awas ! Obat Keras,             Awas ! Obat Keras,
Hanya untuk bagian luar dari       Hanya Untuk dibakar
          badan




                                        P. No 6.
        P. No 5.                   Awas ! Obat Keras,
   Awas ! Obat Keras,            Obat Wasir Jangan ditelan
   Tidak boleh ditelan
               Psikotropika
 Psikotropika, adalah zat atau obat, baik
  alamiah maupun sintetis bukan narkotika,
  yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh
  selektif pada susunan saraf pusat yang
  menyebabkan perubahn khas pada
  aktifitas mental dan perilaku. (UURI No 5
  Th 1997 tentang Psikotropika)
 Obat psikotropika ini termasuk golongan
  obat keras tertentu (OKT)
   Contoh : diazepam, lorazepam,
    klordiazepoksid, luminal
     Obat Wajib Apotek (OWA)


   OWA No. 1, OWA No 2, OWA No 3.
      Bentuk sediaan obat
Berkenaan dengan cara pemberian
 obat
Cara pemberian obat Berpengaruh
 pada kecepatan obat mencapai kadar
 puncak dalam darah
       PULVIS (SERBUK)

 Campuran   kering bahan obat atau
  zat kimia yang dihaluskan, ditujukan
  untuk pemakaian oral atau untuk
  pemakaian luar.
 Syarat :    ?????
          Keuntungan:

 Penyebaran  obat lebih luas dan cepat dari
  sediaan kompak.
 Lebih cepat diabsorbsi

 Mengurangi lokal iritasi

 Memberikan kebebasan bagi dokter untuk
  pemilihan:
   – Obat-obat atau kombinasi
   – Dosis
       Untuk anak-anak atau orang dewasa yang
        sukar menelan lebih menguntungkan
  Hal khusus dalam pulvis
Ekstrak kental
– Dilarutkan dalam larutan penyarinya
  dalam mortin hangat + zat pengering 
  aduk hingga kering dan homogen

Ekstrak cair / tinctura
 Timbang dlm cawan      wb
 panaskan ad 1/3 + pengering
Pulvis       obat dalam
 biasanya di kemas pada botol
 bermulut lebar, jika ada DM, perlu
 dihitung per satuan dosis, misalnya
 1 sendok teh
Pulvis        Obat luar,
 disebut juga ???????
   Zat tambahan pada pulvis
         adspersorius
– Mempertahankan kontak dengan kulit
        Al. Stearat
– Menambah mudah serbuk free flowing
        Talkum
– Mengabsorbsi keringat
        Bentonik
                 PULVERES
Serbuk bagi :
    Adalah serbuk yang dibagi dalam bobot
  yang lebih kurang sama, dibungkus
  menggunakan bahan pengemas yang
  cocok untuk sekali minum
 Contoh :
     Kertas perkamen
     Kertas dilapisi parafin

     Kertas Selofan
 Penulisan   dalam resep:



    dengan  dtd, (da tales dosis)
    tidak dengan dtd,
Contoh :
R/ Ampisillin   7,5
  GG        1,5
  Ephedrin  0,3
  CTM       0,060
  Mf caps no XV
 S. tdd caps I
 Pro Ananda 12 tahun
R/ Ampisilin 0,5
 GG          0,1
 Ephedrin 0,25
 CTM         0,04
 Mf. Caps dtd no XV
 S. tdd Caps I
 Pro Andi 15 tahun
Elaeosacchara (Gula minyak)
Campuran dari:
  – 2 gram Saccharum album (dapat diganti
    laktosa)
  – 1 tetes Minyak menguap (missal ol.
    Menthae piperitae)
 Sebagai Corigen Saporis / odoris
 Tidak boleh disimpan untuk
  persediaan
             TABLET
          (COMPRESSI)

DEFINISI FI ed IV
 TABLET adalah sediaan padat
  kompak dibuat secara kempa cetak
  dalam bentuk tabung pipih atau
  sirkuler kedua permukaan rata atau
  cembung mengandung satu jenis
  obat atau lebih dengan atau tanpa
  bahan tambahan.
  Zat tambahan yang digunakan
    dapat berfungsi sebagai :

 Zat   pengisi
 Zat   pengembang
 Zat   pengikat
 Zat   pelicin
 Zat   pembasah
 Zat   lain yang cocok
            Macam Tablet
 Tab   Sub lingual
 Tab   Buccal
 Tab   Vaginal
 Tab   Effervescen
 Tab   Lepas lambat
 Tab   Kunyah
 Tab   Hisap
             Pembuatan Tablet
1.   Tablet Cetak
2.   Tablet Kempa
      1.   Granulasi basah
      2.   Granulasi kering
      3.   Kempa langsung
           TABLET KEMPA

KOMPONENNYA
 Bahan Obat (Zat aktif)
 Bahan Pengisi
 Bahan Pengikat
 Disintegran
 Lubrikan
 Selain itu dapat pula mengandung:
  – Bahan Warna
  – LAK (bahan warna yang diadsorpsikan pada Al(OH)3
    yang tidak larut
  – Bahan pengaroma
  – Bahan pemanis
              BAHAN PENGISI

 Bahan pengisi ditambahkan jika jumlah
  zat aktif sedikit atau zat aktif sulit
  dikempa
 Contoh bahan pengisi:
    –   Laktosa
    –   Amilum / Pati
    –   Kalsium fosfat dibase (CaHPO4)
    –   Selulosa mikrokristal
   Untuk tablet kunyah bahan pengisinya
    khusus: Sukrosa, manitol, atau Sorbitol
          BAHAN PENGIKAT
 Penambahan bahan pengikat dapat dalam
  bentuk kering tetapi lebih efektif “Dalam
  bentuk larutan”
 Contoh bahan pengikat:
 Gom akasia,    Metilselulosa,     Gelatin
  karboksimetiselulosa(CMC), Sukrosa
  Povidon (PVP), Pasta Pati terhidrolisa
 Contoh bahan pengikat kering yang paling
  efektif
    – “Selulosa Mikrokristal” (untuk “Tablet kempa
      Langsung”)
                DISINTEGRAN

Peran desintegran
  “Membantu Hancurnya Tablet Setelah Ditelan”
 Contoh disintegran
  –   Amilum (Pati) : paling banyak digunakan. Selain pati :
  –   Pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia
  –   Asam Alginat
  –   Selulosa Mikrokristal
                 LUBRIKAN
Fungsi : Mengurangi gesekan selama proses
  pengempaan, Mencegah massa tablet
  melekat pada cetakan
   Contoh lubrikan:
     – Magnesium Stearat
     – Talk
   Sifat : Biasanya hidrofobik  cenderung
    menurunkan
    – Kecepatan disintegrasi dan
    – Kecepatan Disolusi Tablet
                  GLIDAN

Fungsi meningkatkan kemampuan alir
  serbuk, sehingga serbuk menjadi free
  flowing.
 Penggunaan :
  Biasanya digunakan dalam pembuatan
  “Tablet kempa langsung” (tanpa proses
  granulasi)
Sifat : hidrofobik

   Contoh Glidan: “Silika Pirogenik Koloidal”
 CARA PEMBUATAN TABLET

Ada 3 cara umum pembuatan Tablet
1. Granulasi Basah
2. Granulasi Kering (dengan mesin rol atau mesin
   slag)
3. Kempa Langsung

Tujuan Granulasi
  Meningkatkan sifat air (free flowing)
  Meningkatkan kemampuan kempa
   (Kompresibilitas)
            Tablet Salut
 Tab Salut gula
 Tab salut selaput (film coating)

 Tab salut enterik

 Tab Lepas Lambat
              PILULAE
                (PIL)
 MERUPAKANBENTUK SEDIAAN
 PADAT BUNDAR DAN KECIL
 MENGANDUNG BAHAN OBAT DAN
 DIMAKSUDKAN UNTUK PEMAKAIAN
 ORAL
         Berdasarkan Berat



 Boli      > 300mg
 PIL       60 – 300 mg
 Granul    < 60 mg. Ph.Ned < 30 mg
 ATURAN UMUM PEMBUATAN PIL
BERAT
 Apabila memungkinkan berat zat aktif,
  bahan pengisi, bahan pengikat tiap pil 100
  – 150 mg  + 120 mg

BAHAN PENGISI
  – Umumnya Radix liquiritiae
  – Untuk zat aktif yang sedikit dan menggunakan
    bahan pengikat: Succus liquiritiae, maka:
      Radix   =    2 X Succus
  – Pulvis Pro Pilulis (PPP)
      Jumlah   Succus dan Radix sama banyak
        BAHAN PENGIKAT
– Succus Liquiritae, 2 gram untuk 60 pil

– PULV GUMMOSUS
   Merupakan campuran Saccharum, PGA,
    Tragacantha
   Dengan berat 500 mg untuk 60 Pil


Pembasah             -    Aqua Glycerinata   (campuran
gliserin dan air sama banyak)
                 -       Sirup simplex

    Kerugian  Pil keras
-   Campuran succus dan Saccharum
         Pembasah : Aq. Glycerinata
         Yang dipakai : 75 gram untuk 1000 pil
     - Ekstrak kental
     - Glycerin Cum tragakan dalam Glycerin
     - Adeps Lanae & Vaselin album
         Untuk  bahan yang peka terhadap air
         Bahan yang bereaksi satu dengan yang lain
          dengan adanya air.
         Misal ; suatu asam dan bikarbonat
          (Meditreen, aspirin dan bikarbonat)
   Bahan-bahan yang peka air
misalnya folia digitalis dengan adanya air
  glikosidanya aktif terurai karena
  fermentennya (enzim) aktif
Sehingga sering pula dibuat dengan:
 R/ Fol. Digitalis         6
      ol. Cacao            12
      ol. Amygdal          1,7
      mf. Pil        no. 60
   Asetosal, dengan adanya air dari bahan
    pengikat/pembasah dapat menyebabkan
    terhidrolisanya asetosal menjadi asam
    salisilat yang toksik pada lambung dan
    asam asetat,

   sehingga jika ingin dibuat sediaan pil,
    menggunakan pengikat yang tidak
    mengandung air,

   misalnya Oleum cacao, adeps lanae dll.
                   CAPSULAE
                    FI ed IV
 Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri
  dari obat dalam cangkang keras atau
  lunak yang dapat larut.
 Bahan Dasar Cangkang:
      Gelatin
      Pati
      Bahan   lain yang cocok
Ukuran kapsul:
    5. 4. 3. 2. 1. 0. 00. 000
                          semakin besar
    Keuntungan sediaan Kapsul

 Menutupi bau dan rasa yang tidak enak.
 Menghindari kontak langsung dengan
  udara dan Sinar Matahari
 Lebih enak dipandang.
 Dapat untuk 2 sediaan yang tak
  tercampur secara fisis (incomp fisis),
  dengan pemisahan antara lain
  menggunakan kapsul lain yang lebih kecil
  kemudian dimasukkan bersama serbuk
  lain kedalam kapsul yang lebih besar.
 95 %


         Bahan yang dapat dimasukkan
                dalam kapsul

          Serbuk
          Granul
          Minyak Lemak
          alkohol dengan kadar >95 %
          Minyak menguap
    Bahan cair dalam sediaan capsul
Jika harus dimasukkan kedalam capsul dengan
   cara diteteskan, maka pipet tetes yang
   digunakan harus ditara terlebih dahulu
   dengan cara :
        Pipet baku memberikan tetesan pada air suling
         sebanyak 20 tetes per gramnya.
        Pipet biasa ditara dengan cara air dimasukkan
         kedalam pipet yang akan ditera, kemudian diteteskan
         dalam wadah pada timbangan hingga 1 gram, hitung
         jumlah tetesan yang diperlukan.
        Penetesan harus dilakukan pada posisi tegak lurus

        Misalkan pipet biasa membutuhkan 22 tetes untuk 1
         gram air suling
        Jika pada resep dibutuhkan 10 tetes per capsul,
         maka cairan yang harus diteteskan adalah :
   22/20 x 10 tetes = 11 tetes piper biasa.
    SOLUTIONES (LARUTAN)
 Dalam istilah Kimia Farmasi, larutan disiapkan
  dari campuran padat – cair – gas
Definisi :
 Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih
  zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan
  dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara
  peracikan atau penggunaannya, tidak
  dimasukkan dalam golongan produk lainnya.
  (Ansel)

Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih
zat kimia yang larut, Misalnya terdispersi secara
molekuler dalam pelarut yang sesuai atau
campuran pelarut yang caling bercampur (FI ed IV)
Menurut Cara penggunaan



      Larutan   Oral

      Larutan   topical
              Larutan oral
 adalah    sediaan cair yang dibuat untuk
    pemberian oral, mengandung satu atau
    lebih zat dengan atau tanpa bahwa
    pengaroma, pemanis atau pewarna
    yang larut dalam air atau campuran
    konsolven – air.
 Larutan oral yang mengandung sukrosa
  atau gula lain kadar tinggi  sirup
 Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air 
  sirup simplek (64 %)
 Larutan yang mengandung etanol sebagai
  kosolven disebut eliksir
           Larutan Topikal

 Adalah larutan yang biasanya
 mengandung air tetapi seringkali
 mengandung pelarut lain, seperti
 Etanol dan Poliol, untuk penggunaan
 topikal pada kulit.
                         Lotio
 adalah sedian larutan atau suspensi   yang
  digunakan secara topical,
Contohnya : Lotio Kumerfeldi

R/ Sulfur praecip        10
  Camphora               1
  Gummi Arabicum         1,5
  Sol. Calcii Hidroxid   50
  Aquae            aa
    S. b.dd. ue.
    Pro : Fatimah
            Spirit adalah

 Larutan yang mengandung Etanol
 atau hidro alkohol dari zat mudah
 menguap, umumnya berupa larutan
 tunggal atau campuran bahan. Spirit
 harus disimpan dalam wadah yang
 tertutup rapat tidak tembus cahaya.
 Jika pelarutnya air disebut AIR
 AROMATIK.
                     Sirup

   Adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau
    pengganti gula dengan atau tanpa penambahan
    bahan pewangi dan zat obat.
   Sirup yang mengandung bahan pemberi rasa tapi
    tidak mengandung zat obat  pembawa bukan
    obat atau pembawa yang wangi
   Misalnya: Syrup akasia, syrup-jeruk, dll.
   Sirup yang mengandung bahan obat/terapeutik
     sirup obat
   Misalnya: antitussif, anti histamin
       Contoh Pengawet sirup
-   Asam Benzoat (0,1 – 0,2)%
-   Na Benzoat (0,1 – 0,2)%
-   Campuran Metil, Propil, dan Butil
    Paraben (Total + 0,1%)
             Saturasi

 Adalah solutio yang dibuat dengan
  cara mereaksikan bagian asam dan
  suatu bikarbonat, yang didalamnya
  jenuh dengan CO2, biasanya
  digunakan sebagai penyegar.
 Contoh : Potio Riveri
         Emulsi adalah sistem 2 fase,
 Definisi:
 yang salah satu cairannya terdispersi
 dalam cairan yang lain, dalam
 bentuk tetesan kecil.distabilkan
 dengan menggunakan emulgator

 Tipe   Emulsi:
         A/M;   M/A ;
         A/M/A; M/A/M
                TEORI EMULSI

   Semua cairan mempunyai kecenderungan untuk
    mempunyai luas permukaan terkecil, bentuk
    yang luas permukaannya terkecil  bulat.
   Dalam tetesan cairan yang bulat ada kekuatan
    dalam yang cenderung meningkatkan hubungan
    dari molekul-molekul zat untuk menahan distorsi
    dari tetesan menjadi bentuk yang kurang bulat.
   Jika lingkungan tetesan adalah udara :
    Tegangan Permukaan Cairan
   Jika lingkungan tetesan adalah cairan lain :
    Tegangan Antar Muka
       Emulgator/pengemulsi


1.   Emulgator Alam
2.   Emulgator buatan
             A. Emulgator Alam
1.   Kuning telur
2.   Pulvis Gummi Arabicum (PGA), setelah
     penambahan minyak, PGA diaktifkan dengan
     penambahan air 1,5 kalinya.
3.   Jumlahnya jika tidak dikatakan lain adalah 50 %
     dari jumlah minyak. Untuk oleum Iecoris ????
     untuk Oleum Ricini ????????
4.   Tragakan, harus diaktifkan dulu dengan air 20
     kalinya, 1 gram tragakan setara dengan 10 gram
     PGA
5.   Pulvis Gummosus, diaktifkan dengan
     penambahan air sekaligus sebanyak 7 kalinya, 1
     g Pulv. Gumosus setara dengan 4 g PGA
6.   dll
         Emulgator buatan
Emulgator ionik
  – Emulgator Anionik, mis Sabun alkali :
    Na palmitat, Na oleat
  – Emulgaton Kationik, mis Amonium
    kuartener
Emulgator non ionik, mis: Setil
  alkohol, Stearil alkohol
Emulgator amfoter, Misal : Protein,
  Lesitin
       STABILISASI EMULSI

 Adalah sifat Emulsi untuk
  mempertahankan distribusi halus dan
  teratur dari fase terdispersi yang terjadi
  dalam jangka waktu yang panjang
 Kerusakan sebuah Emulsi ditunjukkan
  oleh penurunan stabilitasnya dan
  merupakan proses yang sangat banyak.
    Tahap Kerusakan Emulsi

1. Dalam beberapa waktu akan
  terbentuk 2 lapisan. Lapisan
  bawah/atas hanya mengandung
  sebagian kecil fase terdispersi
  (creaming) (reversible).

Untuk mengatasi hal ini dapat
 berpatokan pada hukum Stokes
   D  1   2 g
     2
v
        18
2. Penggabungan bola kecil yang tidak
    reversibel  Koalesensi  Emulsi
    pecah (Breaking)
    bersifat Irresversible
3. inversi, terjadi pembalikan tipe
    emulsi disebabkan penambahan
    fase internal terlalu banyak
PENGUJIAN JENIS EMULSI
1. Metode Warna
      Metilen Biru (larut dalam air)  warna seragam  M/A
      Sudan III (larut dalam lemak)  warna seragam  A/M
2. Metode Pengenceran
      Tipe M/A  dapat diencerkan dengan air
      A/M dapat dikeringkan dengan minyak
3. Metode pencucian
      Hanya Emulsi M/A yang mudah dicuci dengan air
4. Percobaan Cincin
      1 tetes Emulsi  kertas saring
      Tipe M/A  membentuk cincin air di sekeliling tetesan
5. Daya Hantar Listrik
      Tipe M/A  yang menghantarkan
    Metode pembuatan emulsi :

 Metode Continental
 Metode Anglosaxon

 Metode langsung
          Metode Continental
 yaitumetode pembuatan emulsi
  dengan terlebih dahulu membuat
  corpus emulsi, dengan perbandingan
 Emulgator (PGA) : Air: Minyak =




   1 :   1,5 :   2
 Cara pembuatan :
emulgator ditambahkan kedalam minyak
 di dalam mortir yang kering dan di
 homogenkan, kemudian air yang telah
 di ukur ditambahkan sekaligus dan
 diaduk cepat hingga terbentuk corpus
 emulsi, dengan ciri corpus berwarna
 lebih putih dan kental, berbunyi khas
 bila diaduk. Jika jumlah minyak
 melebihi 2 kali jumlah PGA maka sisa
 minyak ditambahkan setelah corpus
 emulsi jadi dengan sedikit demi sedikit.
          Metode Anglosaxon
   yaitu metode pembuatan emulsi dengan
    terlebih dahulu membuat mucillago, yaitu
    emulgator ditambahkan pada sejumlah air
    yang telah ditentukan sesuai dengan
    masing-masing emulgator, di aduk hingga
    terbentuk mucillago, baru kemudian
    minyak ditambahkan sedikit demi sedikit,
    metode ini jika tidak hati-hati emulsi
    sering tidak jadi.
          Metode langsung
 yaitumetode pembuatan emulsi
 dengan cara langsung dibuat di
 dalam botol, sering disebut dengan
 metode botol. Metode ini biasanya
 sering digunakan untuk bahan-bahan
 yang mudah menguap.
              Definisi
FI ed IV adalah sediaan cair yang
 mengandung partikel padat tidak
 larut yang terdispersi dalam fase
 cair.
 Suspensi   Sirup kering
  – Ada tanda “….. untuk suspensi oral”
  – Misal : sirup kering antibiotik
 Untuk   suspensi topikal sering disebut
 Lotio
Alasan dibuat Suspensi antara lain

 1. Obat-obat tertentu tidak stabil secara kimiawi bila ada
    dalam bentuk larutan, tetapi stabil dalam bentuk
    suspensi
 2. Kloramfenikol Base adalah sediaan yang larut dalam
    air tetapi berasa Pahit sehingga tidak dapat digunakan
    secara peroral. Kloramfenikol palmilat merupakan
    sediaan yang tidak larut dalam air, tetapi tidak berasa
    pahit sehingga dapat digunakan secara peroral dengan
    demikian harus dibuat sediaan dalam bentuk suspensi
 3. Obat (yang tidak larut) lebih disukai bentuk larutan
    daripada Padat
 4. Untuk anak-anak
 5. Dosis dapat diatur
     Sifat-sifat yang diinginkan pada suspensi

1.    Relatif Stabil dalam penyimpanan,
      Mengendap secara lambat dan
      harus homogen kembali bila
      dikocok ringan.
2.    Ukuran partikel dari Suspensoid
      tetap agak konstan dalam waktu
      lama dalam penyimpanan.
3.    Dapat dituang dari wadah dengan
      cepat dan homogen.
 LajuEndapan Berdasarkan Hukum
  Stokes
 Suspensi yang baik mempunyai
  Diameter 1-50 mikron
    > 50 mikron = mudah mengendap
    < 1 mikron = mudah terjadi cake
   D  1   2 g
     2
v
        18
        Bahan Pensuspensi
 PGA  untuk zat berkhasiat keras 2-4
  %, untuk zat tidak berkhasiat keras
  1 –2 %
 Pulv. Gumosus, untuk zat berkhasiat
  keras 2 %, untuk zat tidak
  berkhasiat keras 1 %
 CMC Na kadar 0,5 %

 dll
Sulfur praecip
Camphora
PGA
Aq Rosae
Sol cal hydroksidi
                 STABILISASI

   Pada suspensi – proses sedimentasi tidak dapat
    dicegah  butuh bahan pendispersi.
   Bahan pendispersi berguna untuk
    mempertahankan stabilitas suspensi dengan
    cara:
    – Mencegah / memperlambat terjadinya agregasi.
    – Flotasi : Fase dispers seluruh atau sebagian berkumpul
      pada permukaan medium (agregasi terbuka)
    – Flokulasi : penggumpalan bersama partikel tunggal
      dalam cairan (Agregasi tertutup)
    Ketidakstabilan suspensi
 Cakingyakni melekatnya sedimen
 secara bersamaan
 dalam waktu yang lama / singkat
 susah untuk dihomogenkan kembali
 disebut pula sementasi.
    Incompatibilitas/
Ketidaktercampurnya obat
  (interaksi farmasetis)
Incompatibilitas :
1.Fisis
2.Khemis
Pada sediaan Serbuk
  1. Campuran serbuk menjadi basah
      disebabkan karena :
       a. Terbebasnya air kristal
       b. Terbentuk Campuran yang lebih higroskopis
       cara mengatasi :
       a. Tidak dicampur langsung
       b. Dibuat terpisah, 2 sediaan
2. Serbuk yang terjadi Meleleh
      Disebabkan karena terjadi penurunan
  titik lebur
   campuran
      Cara mengatasi :
      a. Tidak dicampur langsung
      b. Dibuat terpisah 2 sediaan

    Contoh : Hexamin dan asam salisilat
         Camphora – salol
         Camphora - menthol
 Contoh lain, serbuk yang bila dicampur
  melebur &/ meleleh :
 Ephedrin HCl dengan :
    – Acetosal
    – Luminal
    – Menthol
   Euchinin dengan
    – Acetosal
    – Resorcinol
   Antalgin dengan :
    – Vit C
    – Coffein Citrat
    – Zat lain yang bereaksi asam
   Acetosal dengan :
    –   Hexamin
    –   Ephedrin HCl
    –   Antipyrin
   Hexamin dengan :
    –   Acetosal
    –   Phenol
    –   Salol
    –   Thymol
    –   Antipyrin
    –   Menthol
    –   As. Salisilat
3. Serbuk yang satu khasiatnya diabsorbsi serbuk yang lain
     Cara mengatasi :
       * Tidak diberikan secara bersamaan, diberikan
       terpisah selang 3-4 jam
        * Konsultasi ke dokter penulis resep
     Contoh : Obat lain dan Carbo adsorben


4. Terjadinya reaksi kimia yang tidak diinginkan
      misal : perubahan warna,
                      penguapan,
                      Pengaruh asam basa,
                      reaksi oksidasi reduksi
     Cara mengatasi :
       a. Tidak dicampur langsung
       b. Dibuat terpisah 2 sediaan
       c. Tidak diberikan secara bersamaan,
        tapi dengan selang waktu 3-4 jam
5. Memang bahan obatnya Higroskopis
  Misalnya, Ferrosi sulfas, Magnesium
  Sulfat, Natrium Sulfat dll
Cara mengatasi : diganti garam
  anhidratnya dengan perhitungan BM
  BM anhidrat
____________ x berat yg ada dlm resep
  BM hidrat
100 bag hidrat     Bagian anhidrat

Tawas              67 bagian

Ferrosi Sulfas     67 bagian

Magnesium Sulfas   67 bagian

Natrium Sulfas     50 bagian

Natrium Karbonat   50 bagian
                Pada sediaan Pil
R/       Paracetamol   0,100
   Vit C        0.050
   Luminal      0,020
   Na Bic              0,100
   Mf pil dtd   No XXX
Vit C reaksi Asam ada Na Bic dan Air jadi bereaksi, terbentuk gas
   CO2 maka pil dapat pecah

R/ Kalii Bromida               5
   Na. Subcarb         2
   Extr. Gentian               2,5
   Mf. Pil      No XXX

Ektr. Gentian Bereaksi asam + Na Subcarb keluar gas CO2, pil dapat
   pecah
        Dalam Sediaan Kapsul
Problem yang timbul
Isi kapsul meleleh
Misalnya pada bahan yang bereaksi satu dengan yang lain
Diatasi dengan dua bahan tersebut dipisah secara fisik
Misal,
    salah satu dikeluarkan dalam capsul dipisah dengan bahan
       inert
    Salah satu dibuat pil/capsul kecil lalu dimasukkan dalam
       kapsul yg lebih besar
Isi kapsul bereaksi dengan cangkang kapsul
Misal Kreosot,  naftol, thymol
Diatasi dengan diencerkan dengan minyak lemak, sehingga
   obat tidak lebih dari 40 %
          Dalam Sedian larutan
Fisis :
    Tidak dapat bercampur, misal pada bahan polar dan non polar,
diatasi dgn cara dibuat emulsi
    Bahan tidak larut dan tidak dapat diganti dgn bahan yang larut,
      misalnya Kloramfenikol palmitat, diatasi dengan cara dibuat
      suspensi
    Terjadi endapan
Larutan camphora dlm spiritus, bila ditambah air sedemikian
  banyak, camphora akan mengkristal kembali
    Perubahan viskositas
Mis larutan Gom/CMC dengan pemanasan viskositas akan
  menurun
   Khemis
    – Bikarbonat, dalam air/ larutan bersifat
      asam akan terurai mengeluarkan gas
      CO2
    – Borat, Garamnya yang larut dalam air
      adalah garam alkali, akan mengendap
      dengan adanya Zn Sulfat
R/ Zn Sulfas       0,04
   Borat           0,1
   Aqua       ad 10 ml
   m.d.s. t.d.d. gtt.opt II
   Dalam sediaan Salep
   Keluarnya air
    – Karena sistem emulsi rusak, dapat disebabkan karena suhu,
      alkohol, fenol
    – Adanya air/larutan yg tak terserap basis
   Diatasi dengan cara :
    – Jangan sampai sistem emulsi rusak
    – Sebagian basis diganti dengan yang mempunyai kemampuan
      menyerap air, misalnya adepslanae
   Misalnya salep basis krim dicampur dengan basis
    hidrokarbon
   Terbentuknya senyawa lain karena terjadi reaksi
   Diatasi dengan memisahkan obat menjadi 2 massa,
    kemudian baru dicampur (secara tidak langsung)

								
To top