Docstoc

Makalah Proses Adaptasi Ibu dan Keluarga

Document Sample
Makalah Proses Adaptasi Ibu dan Keluarga Powered By Docstoc
					                                    BAB I
                             PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
            Berbeda dengan permasalahan sosial dan emosional, masalah
   psikologis jarang dijumpai dalam masa kehamilan, kendati depresi dapat
   terjadi pada wanita yang rentan. Kelainan psikologis yang sudah ada
   sebelumnya dapat membaik atau bertambah parah. Dalam anamnesa riwayat
   pasien, kita harus menanyakan pula riwayat psikologisnya di samping riwayat
   medis yang berhubungan dengan keadaan jasmani ibu.
            Kesinambungan perawatan merupakan faktor yang penting dalam
   asuhan maternitas. Bahkan dalam klinik yang paling sibuk sekalipun harus
   diusahakan agar wanita hamil dapat diperiksa oleh dokter yang sama.
   Penilaian secara objektif terhadap keadaan psikologis dilakukan di sepanjang
   kehamilan, dan setiap penyimpangan dan sikap atau perilaku sebelumnya
   (atau yang ‘normal’)perlu dicatat. Bantuan yang sesuai diberikan setelah
   pasien dirujuk kepada dokter ahli psikiatri.
            Selama masa kehamilan hingga nifas, tentunya seorang wanita telah
   mengalami perubahan hidup yang membuatnya harus mampu beradaptasi
   terhadap perubahan itu. Tidak hanya wanita itu sendiri namun kerabat dekat
   dalam hal ini keluarga juga harus mampu untuk beradaptasi sehingga
   terciptanya suasana kondusif untuk pertumbuhan bayi itu sendiri.
            Untuk itu, makalah ini disusun dengan harapan memberikan kita
   pengetahuan terkait adapatasi ibu dan keluarga baik pada masa hamil maupun
   nifas.


B. Tujuan
   Mengetahui adaptasi ibu dan keluarga baik dalam masa hamil maupun nifas.




                                                                              1
                                    BAB II
                         TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Terkait
   1.   Ibu Hamil
              Kehamilan berarti mulainya kehidupan berdua dimana ibu
        mempunyai tugas penting untuk memelihara janinnya sampai cukup
        bulan dan menghadapi proses persalinan. Janin dalam rahim dan ibunya
        merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi sehingga kesehatan
        ibu yang optimal akan meningkatkan kesehatan, pertumbuhan dan
        perkembangan janin (Manuaba, 2002). Pada akhir kehamilan ibu dan
        janin mempersiapkan diri untuk menghadapi proses persalinan. Janin
        bertumbuh dan berkembang dalam proses persiapan menghadapi
        kehidupan di luar rahim. Ibu mengalami berbagai adaptasi fisiologis
        selama masa hamil sebagai persiapan menghadapi proses persalinan dan
        berperan sebagai ibu. Adaptasi ini terjadi untuk menghadapi berbagai
        perubahan baik anatomi maupun fisiologis. Perubahan-perubahan ini
        dapat terjadi karena perubahan fungsi endokrin maternal, tumbuhnya
        plasenta yang juga berfungsi sebagai alat endokrin ddan kebutuhan
        metabolisme yang meningkat karena pertumbuhan janin. Persalinan dan
        kelahiran adalah akhir kehamilan dan titik dimulainya kehidupan di luar
        rahim bagi bayi baru lahir (bobak et al, 2005).
              Seorang wanita yang sedang mengandung janin dalam rahim
        karena sel telur dibuahi oleh spermatozoa.
              Ibu hamil adalah seseorang yang mengalami perubahan terutama
        pada alat kandungan dan juga organ lainnya.
              Ibu hamil adalah seorang wanita yang membawa embrio atau fetus
        di dalam tubuhnya. Kehamilan terjadi selama 40 minggu antara waktu
        menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan).




                                                                             2
B. Perubahan Psikologis Ibu Hamil
   1. Teori Krisis
           Kehamilan adalah saat krisis, saat terjadinya gangguan, perubahan
      identitas dan peran bagi setiap orang: ibu, bapak, dan anggota keluarga.
           Manusia berespon dengan krisis dengan cara yang khas, sesuai dengan
      sifat dari kejadian yang mengganggu kehidupan mereka. Definisi tentang
      krisis dinyatakan sebagai suatu ketidakseimbangan psikologis yang
      mungkin disebabkan oleh situasi atau oleh tahap perkembangan. Pada
      awalnya, terdapat periode syok dan menyangkal, kemudian kebingungan
      dan preoccupation dengan berbagai masalah yang diperkirakan sebagai
      penyebabnya. Ketika wanita mengetahui dirinya mungkin hamil, ia merasa
      syok dan menyangkal. Awal dari syok yang disebabkan karena kehamilan
      diikuti oleh rasa bingung dan preoccupation dengan masalah yang
      mengganggu.
           Cara orang bereaksi terhadap krisis tergantung pada faktor:
      a.   Persepsi terhadap peristiwa
               Setiap wanita membayangkan tentang kehamilan dalam pikiran-
           pikirannya sendiri tentang seperti apa wanita hamil dan seorang ibu.
           Persepsi ini mempengaruhi bagaimana ia berespon terhadap
           kehamilan. Mereka mungkin menyamakan kehamilan dengan
           penyakit,   kejelekan     atau   memalukan,   atau   mereka   mungkin
           memandang kehamilan sebagai suatu periode kreativitas dan
           pemenuhan tugas.
      b.   Dukungan Situasional
               Dukungan ini merupakan orang-orang dan sumber-sumber yang
           tersedia untuk memberikan dukungan, bantuan, dan perawatan.
           Selama kehamilan, keluarga atau penggantinya, seringnkali memenuhi
           peran yang penting ini.
      c.   Mekanisme koping
               Keterampilan koping merupakan kekuatan dan keterampilan
           seseorang belajar untuk menyelesaikan masalah dan mengatasi stress.


                                                                                 3
       Mekanisme pertahanan diri adalah cara mempertahankan diri (seperti
       menyangkal), tetapi mungkin dapat membantu dalam mengurangi
       kecemasan untuk sementara waktu. Metoda koping tersebut dapat
       digunakan oleh calon orang tua dan anggota keluarga untuk
       menyesuaikan      terhadap    realitas   kehamilan   dan   mencapai
       keseimbangan pada kehidupan mereka yang terganggu.


2. Perubahan Psikologis pada Trimester I (Periode Penyesuaian)
   a) Ibu merasa tidak sehat dan kadang-kadang merasa benci dengan
      kehamilannya.
   b) Kadang muncul penolakan, kecemasan dan kesedihan. Bahkan kadang
      ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja.
   c) Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil. Hal
      ini dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya.
   d) Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat
      perhatian dengan seksama.
   e) Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia
      seseorang yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau
      bahkan merahasiakannya.


3. Perubahan Psikologis pada Trimester II (Periode Kesehatan yang
   Baik)
   a) Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormon yang
      tinggi.
   b) Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
   c) Merasakan gerakan anak.
   d) Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran
   e) Libido meningkat
   f) Menuntut perhatian dan cinta
   g) Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari
      dirinya.


                                                                         4
        h) Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada
           orang lain yang baru menjadi ibu.
        i) Ketertarikan dan aktivitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan
           persiapan untuk peran baru.


   4. Perubahan Psikologis pada Trimester III
        a) Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan
           tidak menarik.
        b) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu.
        c) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat
           melahirkan, khawatir akan keselamatannya.
        d) Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi
           yang mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya.
        e) Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
        f) Merasa kehilangan perhatian
        g) Perasaan mudah terluka (sensitif)
        h) Libido menurun


C. Hubungan Episode Kehamilan dengan Reaksi Psikologi
   Hubungan episode kehamilan dengan reaksi psikologi yaitu:
   1.   Trimester pertama : timbul fluktuasi lebar aspek emosional sehingga
        periode ini mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau
        rasa tidak nyaman.
   2.   Trimester   kedua    :   fluktuasi emosional sudah    mulai    mereda   dan
        perhatian wanita            hamil lebih             berfokus            pada
        berbagai perubahan tubuh yang             terjadi        selama kehamilan,
        kehidupan seksual, keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang
        dikandungnya.
   3.   Trimester       ketiga       :      berkaitan        dengan       bayangan
        resiko kehamilan dan proses persalinan sehingga wanitahamil sangat emos




                                                                                   5
   ional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang
   mungkin akan dihadapi.


    Kehamilan bagi keluarga dan         khususnya      seorang wanita merupakan
peristiwa yang penting, meskipun demikian kehamilan juga merupakan saat –
saat krisis bagi keluarga di mana terjadi perubahan identitas dan peran
ibu, ayah, serta anggota keluarga lainnya.
    Tugas ibu pada masa kehamilan :
1. Menerima kehamilannya
2. Membina hubungan dengan janin
3. Menyesuaikan perubahan fisik
4. Menyesuaikan perubahan hubungan suami istri
5. Persiapan melahirkan dan menjadi orang tua


Kehamilan dapat sebagai :
1. Krisis
   Krisis merupakan ketidakseimbangan psikologis yang dapat disebabkan
   oleh situasi atau oleh tahap perkembangan.
2. Stresor
   Model      konseptual   menyatakan     bahwa      krisis psikologis dan    sosial
   dipertimbangkan, sebagai kejadian yang kritis tapi tidak selalu ditunjukkan
   dengan            masalah psikologis dan interpersonal yang                nyata.
   Setiapperubahan yang      terjadi    pada   seseorang      dapat    merupakan
   stresor. Kehamilan membawa perubahan yang            signifikan     pada     ibu
   sehingga      dapat     dinyatakan      sebagai      stresor,      yang     juga
   mempengaruhi psikologis anggotakeluarga lainnya.
3. Transisi peran
   Terjadi perubahan interaksi rutin      dalam keluarga,      dengan        adanya
   anggota keluarga yang baru sehingga terjadi perubahan peran masing-
   masing anggota keluarga; ayah, ibu, dan anggota keluarga yang lainnya.




                                                                                  6
D. Tahapan Perubahan Peran dalam Kehamilan
        Perubahan psikologis selama kehamilan terjadi oleh karena semakin
   bertambahnya usia kehamilan dan adanya adaptasi peran barunya.
        Tahapan perubahan peran selama kehamilan menurut Reva Rubin adalah
   sebagai berikut:
   a.   Tahap antisipasi atau anticipatory stage
        Tahap   antisipasi    merupakan      tahap     sosialisasi     atau latihan untuk
        penampilan peran yang diasumsikan pasangan (suami/istri) berkaitan
        dengan fantasi. Wanita akan mengawali peran barunya dengan merubah
        peran sosialnya melalui latihan informal dan informasi melalui model
        peran. Meningkatnya frekuensiinteraksi dengan yang lainnya akan
        mempercepat proses adaptasi dalam penerimaan peran barunya sebagai
        ibu.
   b.   Tahap honeymoon atau honeymoon stage
        Tahap honeymoon merupakan          tahap       dimana wanita mengasumsikan
        peran yang harus ditampilkan, melakukan pendekatan dan eksplorasi
        terhadap sikap yang dibutuhkan untuk penampilan peran, mulai
        melakukan latihan peran. Pada tahap ini, wanita sudah dapat menerima
        peran barunya dengan cara menyesuaikan diri dan muncul kebutuhan
        akan kasih    sayang baik      ibu-bayi,     ibu-suami.      Hal        lain   yang
        mempengaruhi tahapan honeymoon adalah                                      kesiapan
        menghadapi kelahiran bayinya serta dukungan dari orang-orang terdekat.
   c.   Tahap stabil atau plautau stage
        Tahap stabil merupakan tahapan dimana wanita hamil dapat melihat
        penampilan    dalam    peran      barunya.     Pada    tahap     ini,     pasangan
        memvalidasikan apakah peran yang akan ditampilkan adekuat/tidak,
        yang semuanya tergantung pada bagaimana mereka atau yang lainnya
        membentuk     peran    yang      harus     ditampilkan. Wanita          hamil akan
        melakukan kegiatan-kegiatan yang           positif    dan      berfokus        pada
        kehamilannya dan hal yang berguna bagi kesehatan keluarga.
   d.   Tahap akhir atau disengagement/termination stage


                                                                                          7
       Tahap ini merupakan tahap terminasi/pengakhiran peran. Peran pasangan
       pada kehamilan berakhir setelahproses persalinan selanjutnya pasangan
       memasuki tahap peran lainnya. Tahap ini disebut juga sebagai tahap
       perjanjian. Perjanjian ini dilakukan agar wanita hamil sedapat mungkin
       menepati janjinya yang berkaitan dengan peran barunya kelak.


Teori Ramona Marcer
       Teori ini lebih menekankanpada stress antepartum (sebelum melahirkan)
dalam pencapaian peran ibu, Marcer membagi teorinya menjadi dua pokok
bahasan:
1. Efek stress anterpartum
   Stress anterpartum         adalah     komplikasi dari     resiko kehamilan dan
   pengalaman          negatif         dari      hidup       seorang         wanita.
   Sehingga dukungan selama kehamilan sangat               diperlukan         untuk
   mengurangi rasa ketidakpercayaan seorang calon ibu. Penelitian Marcer
   menunjukkan        ada     enam faktor yang      berhubungan        dengan status
   kesehatan ibu, yaitu:
   -     Hubungan interpersonal
   -     Peran keluarga
   -     Stress anterpartum
   -     Dukungan sosial
   -     Rasa percaya diri
   -     Penguasaan rasa takut, ragu dan depresi


2. Pencapaian peran ibu
           Peran ibu dapat dicapai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya
   termasuk mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran, lebih lanjut
   Marcer menyebutkan tentang stress anterpartum terhadap fungsi keluarga,
   baik yang positif manupun yang negatif. Bila fungsi keluarganya positif
   maka ibu      hamil dapat     mengatasistress anterpartum, stress anterpartum
   karena      resiko kehamilan dapat         mempengaruhi    persepsi kesehatan,


                                                                                  8
dengan dukungan keluarga dan bidan maka ibu dapat mengurangi atau
mengatasi stress anterpartum.
      Perubahan yang dialami oleh ibu, selama kehamilan terkadang dapat
menimbulkan stress anterpartum,      sehingga bidan harus    memberikan
asuhan kepada ibu hamil agar ibu dapat menjalani kehamilannya secara
fisiologis (normal), perubahan yang dialami oleh ibu hamil antara lain
adalah:
-   Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian
    sehingga    dapat   berperan    sebagai    calon   ibu   dan   dapat
    memperhatikan perkembangan bayinya
-   Ibu memerlukan sosialisasi
-   Ibu cenderung merasa khawatir terhadap perubahan yang terjadi pada
    tubuhnya
-   Ibu memasuki masa transisi yaitu dari masa menerima kehamilan ke
    masa menyiapkan kelahiran dan menerima bayinya


Empat tahapan dalam melaksanakan peran ibu menurut Marcer:
1. Anticipatory
    Saat sebelum wanita menjadi ibu, dimana wanita mulai melakukan
    penyesuaian sosial dan psikologisdengan mempelajari segala sesuatu
    yang dibutuhkan menjadi seorang ibu.
2. Formal
    Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran
    dibutuhkan sesuai dengan kondisi sistem sosial.
3. Informal
    Dimana wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam
    melaksanakan perannya.
4. Personal
    Merupakan peran terakhir, dimana wanita telah mahir melakukan
    perannya sebagai ibu.




                                                                      9
E. ASPEK EMOSIONAL PADA KEHAMILAN
  Respon Terhadap Kehamilan
      Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap diagnosis
  kehamilan; barangkali frekuensi respons yang berbeda terhadap diagnosis
  kehamilan sama banyaknya dengan frekuensi bayi yang dikandung. Namun
  demikian, ada satu hal yang selalu terjadi, yaitu kehidupan sejak saat ini bagi
  orangtua tidak akan pernah sama. Bagi sebagian orangtua mungkin timbul
  perasaan gembira yang sangat dengan kehamilan yang sudah direncanakan
  dan sangat didambakan itu, namun bagi sebagian lainnya yang belum siap,
  kehamilan dapat menjadi peristiwa yang mengejutkan dan bahkan
  menimbulkan     keputusasaan    karena    mendengar     berita   tersebut   dan
  membayangkan masalah sosial serta finansial yang harus ditanggungnya.
  1. Ambivalen
     Kadang-kadang respon seorang wanita terhadap kehamilan bersifat
     mendua, bahkan pada kehamilan yang sudah direncanakan sekalipun. Kini
     sejumlah implikasi kehamilan yang lebih luas harus dihadapi. Implikasi ini
     dapat mencakup akibat yang terjadi atas rencana peningkatan karir,
     pertimbangan finansial, hubungan dengan orang lain, khususnya dengan
     anggota keluarga, proses kehamilan yang tidak bisa dihindari dengan
     perubahan tubuh serta gangguan kenyamanan yang ditimbulkannya, dan
     prospek persalinan. Di samping itu akan timbul kesadaran terhadap
     tanggungjawab yang harus dipikulnya atas bayi yang akan dilahirkan dan
     muncul harapan dari orang lain di lingkungan calon orangtua, khususnya
     calon ibu, terhadap kemampuan mereka untuk menangani bidang yang
     sama sekali tidak dikuasainya serta sampai saat ini belum pernah
     dipikirkan. Jadi, meskipun semua orang di sekeliling calon ibu sudah
     memperlihatkan kegembiraan mereka atas berita kehamilan, namun calon
     ibu itu sendiri masih membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.




                                                                               10
     2. Pengakuan
        Perasaan yang bercampur aduk atau mendua biasanya akan berubah
        dengan semakin majunya kehamilan dan terjadinya adaptasi tubuh ibu
        terhadap perubahan-perubahan tersebut. Dengan semakin bertambah
        besarnya perut dan terjadinya berbagai peristiwa positif tertentu, seperti
        melihat gambaran ultrasonografi atau mendengar suara jantung janin yang
        diperkeras oleh alat pengeras suara, maka ibu hamil mulai menerima janin
        sebagai calon anaknya dan dengan demikian mulai mempersiapkan dirinya
        untuk menghadapi bayi yang akan hadir. Pada sebagian kasus, perasaan di
        atas dapat beralih kepada dirinya sendiri untuk sementara waktu. Jika fase
        introspektif yang cukup normal dan biasanya berlangsung singkat ini
        berjalan lama atau tidak dipahami oleh suaminya, hubungan pasangan
        suami-istri tersebut dapat terganggu.


     3. Labilitas Emosional
        Labilitas emosional, yaitu perasaan gembira yang bergantian dengan
        perasaan sedih atau kadang-kadang campuran kedua perasaan tersebut,
        juga sering dijumpai dan dapat pula merusak hubungan suami-istri.
        Sebagian besar orang dapat menerima kondisi emosional seorang wanita
        hamil sampai batas tertentu dengan mengakui perubahan hormonal dan
        kebutuhan fisiologis yang terjadi dalam tubuh wanita tersebut, tetapi bagi
        wanita itu sendiri, perubahan emosi seperti ini sangat mengganggunya dan
        dapat membuat dirinya merasa kurang.


F.    PROSES MENJADI ORANG TUA
            Selama periode prenatal, ibu ialah satu-satunya pihak yang
     membentuk lingkungan tempat janin berkembang dan bertumbuh. Persatuan
     simbiosis tertutup antara ibu dan anak berakhir pada saat bayi lahir.
     Kemudian orang lain mulai terlibat dalam perawatan bayi secara penuh atau
     sewaktu-waktu. Siapapun- baik orangtua pengganti maupun orangtua
     biologis, wanita atau pria-yang melakukan peran orangtua memasuki sebuah


                                                                               11
hubungan penting dengan anak tersebut seumur hidupnya . Wanita dan pria,
tentunya, dapat hidup tanpa seorang anak, sehingga pada hakikatnya, menjadi
orangtua bisa merupakan faktor pematangan dalam diri seorang wanita atau
pria tanpa memperhatikan apakah anak yang diasuh memiliki hubungan
biologis atau tidak. Untuk ana-anak, peran orangtua sangat penting. Keadaan
mereka selanjutnya tergantung, pada kecukupan asuhan yang diterima.
        Tugas, tanggung jawab, dan sikap yang membentuk peran menjadi
orangtua dirumuskan oleh Steele dan Pollack (1968) sebagai fungsi menjadi
ibu (mothering function). Ini merupakan proses orang dewasa (pribadi yang
matang, penyayang, mampu dan mandiri) mulai mengasuh seorang bayi
(pribadi yang tidak matang, tidak berdaya, dependen). Setiap orangtua bisa
memperlihatkan sifat keibuannya. Sifat keibuan saat ini diketahui sebagai
suatu kemampuan yang tidak terkait pada jenis kelamin tertentu. Kemampuan
untuk menunjukkan kelembutan, kasih, dan pengertia dan meletakkan
kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri tidak hanya terbatas
pada wanita ini adalah ciri karakteristik individu.
        Steele dan Pullack (1968) menyatakan bahwa menjadi orangtua
merupakan satu proses yang terdiri dari dua komponen. Komponen pertama,
bersifat praktis atau mekanis, melibatkan keterampilan kognitif dan motorik;
komponen kedua, bersifat emosional, melibatkan keterampilan afektif dan
kognitif. Kedua komponen ini penting untuk perkembangan dan keberadaan
bayi.
1. Keterampilan Kognitif-Motorik.
         Komponen pertama dalam proses menjadi orangtua melibatkan
   aktivitas perawatan anak, seperti memberi makan, menggendong,
   mengenakan pakaian, dan membersihkan bayi, menjaganya dari bahaya,
   dan memungkinkannya untuk bisa bergerak (Steele, Pollack, 1968).
   Aktivitas yang berorientasi pada tugas ini atau keterampilan kognitif-
   motorik tidak terlihat secara otomatis pada saat bayi lahir. Kemampuan
   orangtua dalam hal ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya dan
   budayanya. Banyak orang tua harus belajar untuk melakukan tugas ini dan


                                                                         12
   proses belajar ini mungkin sukar bagi mereka. Akan tetapi, hampir semua
   orangtua yang memiliki keinginan untuk belajar dan dibantu dukungan
   orang lain menjadi terbiasa dengan aktivitas merawat anak.
2. Keterampilan Kognitif-Afektif
        Komponen psikologis dalam menajdi orangtua, sifat keibuan atau
   kebapakan tampaknya berakar dari pengalaman orangtua di masa kecil
   saat mengalami dan menerima kasih sayang dari ibunya. Dalam hal ini
   orangtua bisa dikatakan mewarisi kemampuan untuk menunjukkan
   perhatian dan kelembutan serta menyalurkan kemampuan ini ke generasi
   berikutnya   dengan    meniru    hubugan      orangtua-anak    yang     pernah
   dialaminya. Keterampilan kognitif-afektif menjadi orangtua ini meliputi
   sikap yang lembut, waspada dan memberi perhatian terhadap kebutuhan
   dan keinginan anak. Komponen menjadi orangtua ini memiliki efek yang
   mendasar pada cara perawatan anak yang dilakukan dengan praktis dan
   respons emosional anak terhadap asuhan yang diterimanya. Suatu
   hubungan orangtua-anak yang positif ialah saling memberi satu sama lain.
   Hubungan ini sangat mendasar, yakni bahwa orang lain berkeinginan
   untuk memberi bantuan dan bahwa orang tersebut berharga untuk
   menerima bantuan.
        Konsep Erikson (1959, 1964) tentang dasar kepercayaan juga hampir
   sama. Ia mengatakan bahwa perkembangan rasa percaya ini akan
   menentukan respons bayi seumur hidupnya. Orang-orang yang mengalami
   hubungan     orangtua-anak     yang     positif   cenderung    lebih    mudah
   bersosialisasi dan terbuka serta mampu meminta bantuan dan menerima
   bantuan dari orang lain. Sebaliknya, mereka yang kurang rasa percaya
   cenderung mengasingkan diri dan menyendiri. Mereka memiliki
   kemungkinan     yang   lebih    besar    untuk    mengalami    kritis   karena
   ketidakmampuannya      menggunakan         dukungan    orang    lain    ketika
   menghadapi masalah.




                                                                              13
G. PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS MASA NIFAS
  1. Adaptasi psikologis ibu masa nifas
     Proses adaptasi psikologi sudah terjadi selama kehamilan, menjelang
     proses kelahiran maupun setelah persalinan. Pada periode tersebut,
     kecemasan seorang wanita dapat bertambah. Pengalaman yang unik
     dialami oleh ibu setelah persalinan. Masa nifas merupakan masa yang
     rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran
     seorang ibu memerlukan adaptasi. Tanggung jawab ibu mulai bertambah.
     Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas
     adalah sebagai berikut:
  1. Fungsi menjadi orang tua
  2. Respon dan dukungan dari keluarga
  3. Riwayat dan pengalaman kehamilan serta persalinan
  4. Harapan, keinginan dan aspirasi saat hamil dan melahirkan


  2. Fase-fase yang akan dialami oleh ibu pada masa nifas antara lain:
     a) Fase Dependen
              Selama satu sampai dua hari pertama setelah melahirkan,
         ketergantungan ibu menonjol. Pada waktu ibu mengharapkan segala
         kebutuhannya dapat dipenuhi orang lain, ibu memindahkan energi
         psikologinya kepada anaknya. Rubin (1961) menetapkan periode
         beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking-in phase), suatu
         waktu di mana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan.
         Dalam penjelasan kasik Rubin, fase menerima ini berlangsung selama
         dua sampai tiga hari. Penelitian yang lebih baru (Ament, 1990)
         mendukung pernyataan Rubin, kecuali bahwa wanita sekarang
         berpindah lebih cepat dari fase menerima. Fase menerima yang kuat
         hanya terlihat pada 24 jam pertama setelah ibu melahirkan.
              Setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah melahirkan,
         wanita sehat yang dewasa tampaknya mengesampingkan semua
         tanggung jawab sehari-hari. Mereka tergantung kepada orang lain


                                                                         14
   sebagai respons terhadap kebutuhan mereka akan istirahat dan
   makanan.
       Fase dependen ialah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan
   kebanyakan orangtua sangat suka mengomunikasikannya. Mereka
   merasa perlu menyampaikan pengalaman mereka tentang kehamilan
   dan kelahiran dengan kata-kata. Pemusatan, analisis, dan sikap yang
   menerima pengalaman ini membantu orangtua untuk berpindah ke
   fase berikutnya. Beberapa orangtua dapat menganggap petugas atau
   ibu yang lain sebagai pendengarnya. Orangtua         lain lebih suka
   menceritakan perasaannya kepada keluarga atau kerabat.
       Kecemasan dan keasyikan terhadap peran barunya sering
   mempersempit lapang persepsi ibu. Oleh karena itu, informasi yang
   diberikan pada waktu ini mungkin perlu diulang.
       Ketidaknyamanan yang biasanya dialami pada fase ini antara lain
   rasa mules, nyeri pada luka jahitan, kurang tidur, kelelahan. Hal yang
   perlu diperhatikan pada fase ini adalah istirahat cukup, komunikasi
   yang baik dan asuhan nutrisi.
       Gangguan psikologis yang dapat dialami oleh ibu pada fase ini
   adalah:
   -   Kekecewaan pada bayinya
   -   Ketidaknyamanan sebagai akibat perubahan fisik yang dialami
   -   Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya
   -   Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya.


b) Fase Dependen-Mandiri
         Apabila ibu telah menerima asuhan yang cukup selama beberapa
   jam atau beberapa hari pertama maka pada hari kedua atau ketiga
   keinginan untuk mandiri timbul dengan sendirinya. Dalam fase
   dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk
   mendapat perawatan dan penerimaan dari orang lain dna keinginan
   untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Ia berespons


                                                                      15
dengan penuh semangat untuk memperoleh kesempatan belajar dan
berlatih tentang cara perawatan bayi atau jika ia adalah seorang ibu
yang gesit, ia akan memiliki keinginan untuk merawat bayinya secara
langsung. Rubin (1961) menjelaskan keadaan ini sebagai fase taking-
hold, yang berlangsung kira-kira 10 hari.
      Dalam enam sampai 8 minggu setelah melahirkan kemampuan
ibu untuk menguasai tugas-tugas sebagai orang tua merupakan hal
yang penting. Harapan yang realistis mempermudah kelangsungan
fungsi-fungsi keluarga selanjutnya sebagai suatu unit.
      Beberapa wanita sulit menyesuaikan diri terhadap isolasi yang
dialaminya karena ia harus merawat bayi dan tidak suka terhadap
tanggung jawab di rumah dan merawat bayi. Ibu yang kelihatannya
memerlukan dukungan tambahan sebagai berikut:
1. Primipara yang belum berpengalaman melahirkan anak
2. Wanta yang tidak punya cukup banyak teman dan keluarga untuk
   dapat berbagi rasa.
3. Ibu yang berusia remaja.
4. Wanita yang tidak bersuami.
      Pada fase ini tidak jarang terjadi depresi. Perasaan mudah
tersinggung bisa timbul akibat berbagai faktor. Secara psikologis, ibu
mungkin jenuh dengan banyaknya tanggungjawab sebagai orangtua.
Ia bisa merasa kehilangan dukungan yang pernah diterimanya dari
anggota keluarga dan teman-teman ketika ia hamil. Beberapa ibu
menyesal tentang hilangnya hubungan antara ibu dan anak yang
belum lahir. Beberapa yang lain mengalami perasaan kecewa ketika
persalinan dan kelahiran telah selesai.
      Keletihan setelah melahirnkan diperburuk oleh tuntutan bayi
yang banyak sehingga dengan mudah dapat timbul perasaan depresi.
Dikatakan bahwa pada masa puerperium ini, kadar glukokortikoid
dalam sirkulasi dapat menjadi rendah atau terjadi hipotiroid subklinis.
Keadaan fisiologis ini dapat menjelaskan depresi pascapartum ringan


                                                                    16
   (“baby blues”). Reaksi depresif tidak perlu diekspresikan secara
   verbal. Keadaan depresif biasanya ditandai oleh perilaku yang khas
   (menarik diri, kehilangan perhatian terhadap keadaan sekeliling, dan
   menangis). Ketika tugas-tugas dan penyesuaian telah dijalankan dan
   dapat dikendalikan, tercapailah suatu keadaan yang stabil. Pada saat
   ini, tanggung jawab baru sebagai orangtua, yang harus dihadapi
   selama hidup, mulai menjadi pusat perhatian.
         Diharapkan bahwa pada akhir fase dependen-sendiri, tugas dan
   penyesuaian rutinitas sehari-hari akan mulai menjadi suatu pola yang
   tetap. Bayi mulai mengambil posisi tertentu dalam keluarga. Banyak
   persoalan makan, yang berkaitan dengan pemberian susu ibu atau susu
   botol, sebagian besar telah diatasi. Kekuatan dan energi fisik ibu
   pulih. Pada minggu kelima, bayi telah diperiksa oleh petugas
   kesehatan dan ibu juga telah diperiksa atau telah mengadakan
   perjanjian untuk melakukan pemeriksaan. Sudah waktunya untuk
   berpindah ke fase penyesuaian berikutnya.
         Tugas bidan antara lain: mengajarkan cara perawatan bayi, cara
   menyusui yang benar, cara perawatan luka jahitan, senam nifas,
   pendidikan kesehatan gizi, istirahat, kebersihan diri dan lain-lain.


c) Fase Interdependen
         Pada fase ini perilaku interdependen muncul, ibu dan
   keluarganya bergerak maju sebagai suatu sistem dengan para anggota
   saling berinteraksi. Hubungan antar pasangan, walaupun sudah
   berubah dengan adanya seorang anak, kembali menunjukkan banyak
   karakteristik awal. Tuntutan utama ialah menciptakan suatu gaya
   hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam beberapa hal, tidak
   melibatkan anak. Pasangan ini harus berbagi kesenangan yang bersifat
   dewasa.
         Kebanyakan suami-istri memulai lagi hubungan seksualnya
   pada minggu ketiga atau keempat setelah anak lahir. Beberapa


                                                                          17
         memulai hubungan lebih awal, yakni segera setelah hal itu dapat
         dilakukan    tanpa   wanita      merasa     nyeri.   Hubungan   seksual
         meningkatkan aspek pria-wanita pada suatu keluarga dan pasangan
         dewasa ini akan merasa dekat satu sama lain tanpa tanpa terganggu
         oleh anggota keluarga lain. Banyak ayah baru yang mengatakan
         bahwa ia mengalami perasaan disingkirkan ketika melihat keintiman
         hubungan     ibu-anak      dan   beberapa     mengungkapkan     terbuka
         kecemburuan terhadap bayi mereka. Dimulainnya lagi hubungan
         perkawinan tampaknya membawa hubungan orangtua kembali ke
         dalam fokus perhatian.
               Fase interdependen (letting-go) merupakan fase yang penuh
         stres bagi orangtua. Kesenangan dan kebutuhan sering terbagi dalam
         masa ini. Pria dan wanita harus menyelesaikan efek dari perannya
         masing-masing dalam hal mengasuh anak, mengatur rumah, dan
         membina karier. Suatu upaya khusus harus dilakukan untuk
         memperkuat hubungan orang dewasa dengan orang dewasa sebagai
         dasar kesatuan keluarga.


H. ADAPTASI ANGGOTA KELUARGA
  1.   Adaptasi Saudara Kandung
            Memperkenalkan bayi kepada suatu keluarga dengan satu anak atau
       lebih bisa menjadi persoalan bagi orangtua. Mereka dihadapkan pada
       tugas untuk merawat anaknya yang baru tanpa menelantarkan anak yang
       lain. Orangtua perlu membagi membagi perhatian mereka dengan adil.
            Anak yang lebih tua harus menyusun posisi baru di dalam hirarki
       keluarga. Anak yang tertua harus tetap berada dalam posisi sebagai
       pemimpin. Anak berikutnya dalam urutan tanggal lahir harus berada pada
       posisi yang lebih superior dari adiknya yang baru (Kreppner, dkk; 1982).
       Bayi ini semakin berkembang dan mulai menunjukkan giginya, tetapi
       anak yang lebih tua harus berusaha utuk tetap berkuasa.




                                                                             18
     Kelakuan mundur (regresi) ke usia yang jauh lebih muda bisa
terlihat pada beberapa anak. Mereka bisa kembali mengompol,
merengek-rengek, dan tidak mau makan sendiri. Karena bayi menyita
waktu dan perhatian orang-orang yang penting dalam kehidupan anak
yang lebih besar, reaksi kecemburuan dapat muncul ketika sukacita akan
kehadiran bayi di rumah mulai pudar.
     Orangtua, terutama ibu, menghabiskan banyak waktu dan tenaga
untuk bisa membuat saudara kandung ini menerima bayi yang baru.
Anak-anak yang lebih tua terlibat aktif dalam persiapan kedatangan bayi
dan keterlibatan ini meningkat setelah bayi lahir. Ibu dan ayah
menghadapi sejumlah tugas yang terkait dengan penyesuaian dan
permusuhan antar saudara. Tugas-tugas tersebut meliputi hal-hal berikut:
1. Membuat anak yang lebih tua merasa dikasihi dan diinginkan
2. Mengatasi rasa bersalah yang timbul dari pemikiran bahwa anak yang
   lebih tua mendapat perhatian dan waktu yang lebih sedikit.
3. Mengembangkan rasa percaya diri dalam kemampuan mereka
   mengasuh lebih dari satu anak.
4. Menyesuaikan waktu dan ruang untuk menampung bayi baru
   tersebut.
5. Memantau perlakuananak yang lebih tua terhadap bayi yang lebih
   lemah dan mengalihkan perilaku yang agresif.

     Kelas persiapan untuk saudara kandung telah terbukti efektif dalam
membantu mengurangi permusuhan antar saudara sewaktu anak kedua
bergabung ke dalam keluarga (Fortier, dkk, 1991).
     Perilaku saudara kandung ketika berkenalan dengan bayi baru lahir
telah dijabarkan oleh Marecki, dkk (1985) dan Anderberg (1988). Proses
perkenalan ini tergantung pada informasi yang diberikan kepada anak
tersebut sebelum bayi lahir dan pada tingkat perkembangan kognitif anak
tersebut. Perilaku mula-mula saudara kandung ialah melihat dan
menyentuh kepala.



                                                                      19
          Penyesuaian awal anak yang lebih tua terhadap bayi baru lahir
     membutuhkan waktu. Anak harus diperbolehkan berinteraksi atas
     kemauannya sendiri dan jangan dipaksakan. Mengharapkan seorang anak
     kecil untuk menerima dan mengasihi lawannya dalam memperoleh kasih
     sayang orangtua memerlukan suatu respons yang terlalu-dewasa. Kasih
     saudara kandung bertumbuh seperti juga kasih yang lain, yaitu melalui
     kebersamaan yang mereka jalani dan dengan berbagi pengalaman.


2.   Adaptasi Kakek Nenek
          Jumlah keterlibatan kakek-nenek dalam merawat bayi baru lahir
     tergantung pada banyak faktor, misalnya, keinginan kakek-nenek, dan
     peran kakek-nenek dalam konteks budaya dan etnik yang bersangkutan.
          Nenek dari ibu ialah model yang penting dalam praktik perawatan
     bayi. Ia bertindak sebagai sumber pengetahuan dan sebagai individu
     pendukung. Cucu ialah bukti nyata kontinuitas dan keabadian. Seringkali
     kakek dan nenek mengatakan bahwa kehadiran cucu membantu mereka
     mengatasi rasa sepi dan kebosanan.
          Orangtua baru dapat diberi semangat untuk melibatkan kakek dan
     nenek mereka, keterlibatan ini akan memperkaya kehidupan mereka dan
     kehidupan anak-anak mereka. Dengan dibantunya orangtua mengatasi
     opini yang berbeda-beda dan konflik yang belum diselesaikan (misalnya:
     ketergantungan dan pengontrolan) di antara mereka sendiri dan dengan
     orangtua mereka, mereka dapat terus maju untuk menguasai tugas-tugas
     perkembangan masa dewasanya dengan semakin baik. Dukungan kakek
     dan nenek dapat menjadi pengaruh yang menstabilkan keluarga yang
     sedang mengalami krisis perkembangan, seperti kehamilan dan menjadi
     orangtua baru. Kakek-nenek dapat membantu anak-anak mereka
     mempelajari keterampilan menjadi orangtua dan mempertahankan tradisi
     budaya.
          Salah satu cara untuk membantu kakek-nenek menjembatani
     perbedaan generasi dan mebantu mereka dalam memahami konsep


                                                                         20
         menjadi orangtua, yang digunakan oleh anak mereka, ialah dengan
         menawarkan mereka untuk mengikuti kelas-kelas persiaan. Kelas yang
         dimaksud meliputi pemberian informasi tentang praktik kehamilan yang
         baru, terutama cara merawat yang berpusat pada keluarga, perawatan
         bayi, pemberian makan, dan tindakan keselamatan (tempat duduk khusus
         di dalam mobil), dan penggalian peran yang dimainkan orantua dalam
         unit keluarga. Hal ini daapt membantu diskusi terbuka antar generasi
         tentang perasaan dan kebutuhan orangtua serta kakek-nenek.


I.   Postpartum Depression
         Normal postpartum adjustment is represented by the lack of significant
     symptoms of PPD. PPD is a major depressive disorder with possible long-
     term implications for the mother and her infant. The criteria for a major
     depressive disorder includes five or more symptoms, including depressed
     mood, markedly diminished interest or pleasure in an activity, appetite
     disturbance, sleep disturbance, physical agitation or psychomotor retardation,
     fatigue, feelings of worthlessness, diminished concern or inability to make
     decisions, and recurrent thoughts of death or suicide (American Psychiatric
     Association, 2000). The Diagnostic and Statistical Manual of Mental
     Disorders, fourth edition text revision (DSM-IV-TR) (2000), specifies onset
     of PPD within 4 weeks after birth, but most clinicians agree that PPD can
     occur up to a year after childbirth. Minor depression also causes impairment
     but is less severe than PPD, with fewer depressive symptoms reported
     (Gaynes et al., 2005).
         In this review, two qualitative studies explored the personal experience of
     PPD. Transcripts were checked with random participants for consistency, and
     inter-subjective agreement was accomplished by the researcher and the
     research   assistant.    Data   were   extracted   and   analyzed    using    a
     phenomenological research approach. Participants were purposely selected
     from a local community or support group. Twelve postpartum women with
     PPD reported their experience as an intense emotional response, which they


                                                                                  21
described as an overwhelming feeling of doom. Nine themes emerged when
the transcripts were analyzed and organized into categories: depression taking
over mind and body, overwhelming responsibilities in caring for children,
emotional and physical separation from their children, decreased desire to
interact with children, guilt and irrational thinking, uncontrollable anger,
depression limiting the ability to have relationships with other children,
feelings of loss, and striving to minimize the negative effects of depression
(Beck, 1996).
    In a similar study in British Columbia, eight women who had recovered
from PPD were interviewed about their experience with depression after
birth. Three stages or themes emerged from the transcripts of these women.
They include "why did this happen," "spiraling downward," and "getting to
the other side." Women began by trying to make sense about why they
experienced PPD. As the depression continued, women described shattered
dreams and loss of control. Getting to the other side involved recovery, which
involved surrendering control, creating hope, and rebuilding of self (Beck and
Indman, 2005; Berggren-Clive, 1998). Women in both studies described
incongruence between the visions of what motherhood would be like and the
actual responsibilities and adaptations required of the new mother. As women
describe their experiences, it becomes clear that many factors contribute to
the difference in their expectations and the reality of motherhood. The sample
participants were mostly married and White, which limits the ability to
generalize the results. Only women with PPD were interviewed. A control
group or comparison group was not utilized. Both studies were clear about
the purpose of the study, had well-defined literature reviews, extracted and
analyzed data appropriately, and presented results in a clear, comprehensive
manner.
    Several research studies examined the incidence and prevalence of PPD.
Three quantitative studies and four literature reviews or syntheses were
identified. Eberhard-Gran, Eskild, Tambs, Samuelsen and Opjordsmoen
(2002) conducted a study to examine depression in postpartum and non-


                                                                           22
postpartum women in two municipalities in Norway. Women were recruited
from community-based child health clinics and surveys were randomly
mailed to all women aged 18 to 40 years from the registry. Two thousand five
hundred seventy-seven non-postpartum women and 467 postpartum women
returned questionnaires for a response rate of 63% and 89%, respectively.
Depression was measured by the Edinburgh Postnatal Depression Scale
(EPDS) and a cut-off score of 10 or more was used to determine a positive
screen for depression. The postpartum group demonstrated an 8.9%
prevalence rate for depression, while the non-postpartum group demonstrated
a prevalence rate of 13.6%. A majority of women were married (98%), with
no mention of ethnic or racial demographics (Eberhard-Gran et al., 2002).
    In a longitudinal study of PPD symptoms over time, postpartum women
with increased depression scores on the EPDS were recruited from a large
hospital in Boston to examine depression symptoms over time (4–8 weeks,
10–14 weeks, 14–18 weeks, and 2 years after birth) (Horowitz & Goodman,
2004). One hundred twenty-three postpartum women agreed to participate in
the first two time periods, 117 continued to participate at time 3, and 62 of
these postpartum women were located and participated at the final data
collection point. The Beck Depression Inventory was administered at each
time period after the initial recruitment. The percentage of women who
scored positive for depression symptoms was 41.9% at 4 to 8 weeks, 35.5% at
10 to 14 weeks, 27.4% at 14 to 18 weeks, and 30.6% at 2 years. In this
sample of women who scored positive for depression screening at 2 weeks
postpartum, 30.6% were still experiencing symptoms of depression
approximately 2 years after birth. A majority of participants were married
(87%), and 74.2% were White. This study is limited by the high attrition rate
of participants from time one to time four and the lack of consistent measures
of depressive symptoms. The EPDS was used as a baseline screening for
depression, and the Beck Depression Inventory was used for each data point
throughout the study. Participants were not randomly selected and




                                                                            23
represented a small geographic area in the Northeast United States (Horowitz
& Goodman, 2004).
    Mayberry, Horowitz, and Declercq (2007) examined PPD symptom
prevalence rates among women in the United States during the first 2 years
after giving birth. A large cross-sectional sample of postpartum women was
drawn from an online poll site. Women were grouped into four categories: 0
to 6 months, 7 to 12 months, 13 to 18 months, and 19 to 24 months after
birth. Depression symptoms were measured with use of the EPDS, and the
cut-off scores of 10 to 12 for mild depression and 13 or more for moderate to
severe depression were used. Mild depression rates across the four cohorts
were 11% to 15.1%, with no significant differences across the groups.
Moderate to severe depression ranges were 17.1% to 23.1% and also
demonstrated no significant differences among groups. In terms of age, the
highest rates of both mild (16.4%) and moderate to severe (29.9%) EPDS
depression scores were among the youngest mothers (18 to 24 years of age).
Compared with other income groups, women in the lowest income bracket
had the highest rates of mild depression (18.9%) and moderate to severe
depression (31%). A majority of the participants were White (81.8%), and
there was no mention of marital status. Demographics including age, income,
education, parity, employment, and race were not evenly distributed among
the four groups of participants. The study was limited by the self-report of
depression symptoms with no diagnostic criteria comparison and a sampling
bias through an Internet-based survey (Mayberry, Horowitz, & Declercq,
2007).
    Four of the research studies are literature reviews or syntheses examining
the incidence or prevalence of PPD. The literature reviews reported an
incidence of major depression from 1% to 5.9% in the first year after birth.
The incidence of minor and major depression ranges from 6.5% to 12.9% in
the same period. Overall averages of depression vary according to major
depression, minor depression, or both. The overall incidence of major
depression is reported as being 12%, minor depression is reported as being


                                                                           24
19%, and both minor and major depression are reported as being 13%, or a
range of 3% to 30%. The highest prevalence rate for major depression occurs
at 2 and 6 months after birth, while the highest prevalence rate for both minor
and major depression occurs at 3 months after birth, with a slight decrease in
the fourth through seventh postpartum months (Beck, 2008a; Gaynes et al.,
2005; O'Hara & Swain, 1996; Ugarriza & Robinson, 1997).. All of these
reviews report the method of categorizing and analyzing the results in each of
the studies and report limitations, including lack of a standardized screening
method for depression, lack of consistent cut-off scores on instruments,
inconsistent data collection points, and lack of formal diagnosis based on
diagnostic criteria.
    Several studies describe the negative impact of PPD on maternal-infant
interactions. Two quantitative studies and three integrated reviews focus on
infant outcomes of maternal PPD. Dawson and colleagues (1999) evaluated
expressive      and    communicative       abilities,   temperament,       and
electroencephalogram results for infants 13 to 15 months of age. Ninety-nine
postpartum women were recruited for the study by newspaper ads,
community groups, and individual medical offices. Within this group, 59
women (70%) screened positive for depression symptoms on a self-report
scale. Infants were evaluated using the MacArthur Communication
Development Inventory for expressive and communicative child abilities and
the Colorado Child Temperament Inventory for child temperament.
    Electroencephalography also was performed on each of the toddlers.
Toddlers were evaluated during five conditions including baseline calm
environment, mother play, stranger approach, experimenter play, and
maternal separation. Infants of depressed women exhibited reduced relative
left frontal brain activity in baseline conditions, mother play, and
experimenter play. These infants also demonstrated atypical brain patterns in
playful interactions and non-social situations. The study had a few
limitations, including self-report of depressive symptoms and no control for
risk factors of depression. A strength of the study includes the comparison of


                                                                            25
a non-depressed group of women and their 13- to 15-month-old infants
(Dawson et al., 1999).
    In a large study of 570 pregnant women, researchers examined PPD and
child development during the last trimester of pregnancy, three months after
birth, and 18 months after birth. At three months after birth, 58 of the 570
women (10.2%) scored above 12 on the EPDS for depression symptoms. At
18 months after birth, 12 (17.1%) obtained a score above 12 on the EPDS.
The following scales and tests were used to evaluate the infants in this study:
Guaraldi's test assessing mother-child interactions, the Bur Scale evaluating
mother-infant relationships, The Denver Developmental Screening Test for
infant development, The Bayley Scale for infant development, the Strange
Situation test assessing infant attachment to mother, and the Object Concept
Task, which assessed the infant concept of object permanence. At 18 months,
infants of depressed mothers demonstrated less verbal interaction (22.9%
versus 0%, p < .05) and more time playing alone (78.8% versus 51.4%, p <
.05) than did infants of non-depressed mothers. The Denver Developmental
Screening Test demonstrated minor differences in both groups. The Bayley
scale showed significant differences in responsiveness to the mother, fear of
the examiner, degree of happiness, attention span, endurance, and level of
energy between infants of depressed and non-depressed mothers. In the
Strange Situation test, infants of depressed mothers searched much less for
their mothers during separation episodes and demonstrated more avoidance
behaviors during reunions with their mothers. During the object permanence
task, only 42.9% of infants of depressed mothers achieved the level
corresponding to their age compared with 77.1% of infants of non-depressed
mothers (p < .001). A limitation of this study includes the small sample size
of participants. A strength of this study includes the use of a control or
maternal group with no reported depressive symptoms for comparison
(Righetti-Veltema et al., 2003).
    Three literature reviews summarize the effects of PPD on infant
emotional, cognitive, and behavioral development. Beck (2008b) reports that


                                                                            26
PPD has a moderate to large effect on mother-infant interactions and a small
but significant effect on child cognitive and emotional development.
Limitations of these studies include no control for current level of depression
and no formal diagnostic screening for PPD (Beck, 2008b). Murray and
Cooper (1997) reported delayed motor and mental development among 12- to
18-month-old infants of mothers with depression. Overall, these infants also
demonstrated a lower rate of interactive behavior, less concentration, more
negative responses, insecure attachment behavior, and more behavioral
difficulties than did infants of non-depressed mothers. Overall limitations
include a lack of a formal rating system for quality of some infant behaviors
and a small sample size (Murray & Cooper, 1997). Weinberg and Tronick
(1998) conducted an integrated review of studies that examined infant
emotional characteristics associated with maternal depression and anxiety. As
early as 2 months, infants demonstrated less engagement in object and social
interactions, less eye contact, and more negative affect than did infants of
non-depressed mothers. At 1 year of age, infants demonstrated poorer
performance on developmental tasks and inconsistent attachment behaviors.
Children later in age demonstrated difficulties in school, poor modulation of
affect, conflict with parents and peers, and increased rates of psychiatric
problems including depression. Overall, the researchers reported several
methodologic problems with these studies including small sample size, no
comparison groups, and the maternal report of infant characteristics as
opposed to direct observations (Weinberg & Tronick, 1998).
    PPD affects 10% to 15% of all women after birth. Postpartum women
generally do not seek help for depression. Untreated PPD has significant
adverse affects on parenting, maternal bonding, and the infant's emotional and
behavioral development. Interaction with the woman's obstetric provider ends
shortly after the baby's birth. However, interactions with the pediatric office
are initiated and continue throughout the infant's first two years of life.
(Jurnal: Liberto, 2012)




                                                                            27
    After controlling for correlates that include socioeconomic status, life
stress, family conflict, maternal depression, maternal scaffolding skills,
mother–child attachment, child negative affect and effortful control, smoking
during pregnancy was no longer associated with child behavior or emotional
problems. (Jurnal: Lavigne dkk : 2011)




                                                                          28
                                     BAB III
                                   PENUTUP


A. Kesimpulan
   Hubungan episode kehamilan dengan reaksi psikologi yaitu:
   1.   Trimester pertama : timbul fluktuasi lebar aspek emosional sehingga
        periode ini mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau
        rasa tidak nyaman.
   2.   Trimester   kedua    :   fluktuasi emosional sudah    mulai    mereda   dan
        perhatian wanita            hamil lebih             berfokus            pada
        berbagai perubahan tubuh yang             terjadi        selama kehamilan,
        kehidupan seksual, keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang
        dikandungnya.
   3.   Trimester       ketiga       :      berkaitan        dengan       bayangan
        resiko kehamilan dan proses persalinan sehingga wanitahamil sangat emos
        ional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang
        mungkin akan dihadapi.


         Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas
   adalah sebagai berikut:
   1. Fungsi menjadi orang tua
   2. Respon dan dukungan dari keluarga
   3. Riwayat dan pengalaman kehamilan serta persalinan
   4. Harapan, keinginan dan aspirasi saat hamil dan melahirkan


B. Saran
         Dengan disusunnya makalah ini, mahasiswa keperawatan mampu
   memahami proses adaptasi ibu hamil dan nifas beserta keluarganya, sehingga
   mahasiswa mampu belajar dan membantu ibu dan keluarga untuk beradaptasi
   pada masa hamil dan nifas.



                                                                                  29
                          DAFTAR PUSTAKA


Farrer, Helen. 1999. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC


Bobakk, Lowdermilk. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC


Helen, Varney. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC



Destiani, Erni Yatty. 2012. Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas: Respon Ibu
       Terhadap Bayi Baru Lahir.
       http://id.scribd.com/doc/85058259/Proses-Adaptasi-Psikologis-Ibu-Masa-
       Nifas
       Diakses pada tanggal 13 November 2012


Anonimus. 2012. Adaptasi Psikologi Pada Masa Kehamilan.
       http://id.scribd.com/doc/93616454/Adaptasi-Psikologi-Pada-Kehamilan
       Diakses pada tanggal 13 November 2012


Lusa. 2011. Perubahan dan Adaptasi Psikologis Dalam Masa Kehamilan.
        http://www.lusa.web.id/perubahan-dan-adaptasi-psikologis-dalam-masa-
        kehamilan/
        Diakses pada tanggal 13 November 2012

Jurnal:
Levigne, John L. 2011. Is Smoking During Pregnancy a Risk Factor for
        Psychopathology in Young Children? A Methodological Caveat and
        Report on Preschoolers. Dalam: Journal of Pediatric Health Care.
        http://www.medscape.com/viewarticle/736163
        Diakses pada tanggal 13 November 2012


Liberto, Terri L. 2012. Screening for Depression and Help-seeking in Postpartum
         Women During Well-baby Pediatric Visits. Dalam: Journal of Pediatric
         Health Care.
         http://www.medscape.com/viewarticle/761290
         Diakses pada tanggal 13 November 2012




                                                                            30

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:271
posted:11/22/2012
language:
pages:30