Administrasi laboratorium sains untuk SMP

Document Sample
Administrasi laboratorium sains untuk SMP Powered By Docstoc
					Administrasi laboratorium sains untuk SMP kecil
Laboratorium merupakan tempat yang penting demi keberlangsungan pembelajaran IPA,
terutama berkaitan dengan materi yang membutuhkan pendekatan inkuiri. Pada saat ini
keberadaan laboratorium ini menjadi topik utama terutama dikalangan guru SMP. berbeda
dengan SMA yang setiap laboratoriumnya mempunyai struktur yang jelas dan mempunyai
petugas khusus yang senantiasa mengatur administrasi dan manajemen laboratorium, di SMP
(terutama SMP kecil ni…) laboratorium ini biasanya dikelola oleh guru IPA saja tanpa
memperhatikan kaidah-kaidah yang jelas tentang pengaturan sebuah laboratorium yang
penting praktikum dapat berjalan dengan lancar.
Pemerintah mencoba untuk memberikan solusi agar penggunaan laboratorium ini dapat
berjalan sebagaimana mestinya sehingga muncullah kebijakan tentang perlu adanya seorang
Kepala Laboratorium. Bahkan tidak tanggung-tanggung, seorang kepala laboratorium
dihadiahi 12 jam pelajaran disamping jam tatap muka yang dipunyai. imbas penambahan
beban mengajar guru beberapa waktu yang lalu dari 18 jam menjadi 24 jam seminggu
mengakibatkan banyak guru mencari jam pelajaran tambahan di sekolah lain (contoh sekolah
saya nih, hampir 50% yang mengajar di dua sekolah untuk memenuhi beban mengajarnya)
sehingga ketentuan 12 Jam untuk seorang kepala laboratorium ini dianggap sebagai solusi
yang cukup menarik untuk menambah jam pelajaran yang dipunya.
Namun ternyata bukan suatu pekerjaan yang mudah menjadi seorang kepala lab, banyak
sekali administrasi dan perencanaan laboratorium yang harus dibuat sebelum semester
dimulai. Oleh karenanya, mulailah muncul program pelatihan kepala laboratorium yang
diadakan oleh LPTK tertentu dimana di dalamnya di diberikan materi tentang manajemen
laboratorium

Program kerja Laboratorium
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah swt karena berkat rahmatdan izin Allah
penyusun dapat menyelesaikan sebuah Program Kerja tahunanyang dapat digunakan sebagai
acuan dalam melaksanakan kegiatan KBM diLaboratorium IPA SMP N 2 Selopampang.
Adapun Rencana Kerja Laboratoriumtahun ini akan lebih diarahkan pada peningkatan tata
kelola dan penambahanterhadap alat/bahan di laboratorium guna memberikan pelayanan
terhadap siswapengguna Lab lainnya. Hal ini akan memberikan sebuah motivasi siswa untuk
belajardalam pembuktian teori melalui percobaan / demonstrasi untuk menjadi kenyataan.
Selanjutnya untuk lebih berkembangnya peran Laboratorium tak terlepas darikerja sama dari
berbagai pihak seperti peran kepala sekolah, wakil sarana/prasanadan guru-guru bidang studi
yang terkait serta seluruh komunitas sekolah.Demikianlah yang dapat penyusun paparkan dan
oleh karena itu dalamkesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terimakasih kepada
semua pihak yangtelah ikut andil dalam menyusun program ini terutama kepada : 1. Kepala
SMP N 2 Selopampang. 2. Urusan Kurikulum SMP N 2 Selopampang. 3. Urusan
Sarana/Prasarana SMP N 2 Selopampang 4. Bapak dan Ibu stafpengajar IPA SMP N 2
Selopampang, dan teman-teman sejawat yangtelah memberikan dorongan dan semangat
sehingga terlaksananya penyusunanProgram Kerja ini, Amin yarabbil’alamin.
Penyusun menyadari sepenuhnya di dalam penyusunan Program Kerja inimasih banyak
kekurangan dan kelemahan yang disebabkan oleh keterbatasanpengetahuan dan pengalaman
yang penyusun miliki. Oleh sebab itu kritik dan saransangatlah penyusun harapkan, demi
kesempurnaan penyusunan Program KerjaLaboratorium ini. Akhirnya harapan penyusun,
semoga Program Kerja ini bermanfaatbagi pendidikan sains khususnya bagi rekan-rekan guru
jurusan IPA.
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang
SMP N 2 Selopampang adalah sebuah institusi pendidikan dalampencapaian tujuannya sangat
didukung oleh berbagai komponen. Salah satunyaadalah Laboratorium IPA. Lebih dari itu
Laboratorium IPA adalah hal yang sangatmendasar dalam terlaksananya suatu proses
pendidikan untuk mencapai hasilpembelajaran yang lebih baik. Laboratorium adalah tempat
pembelajaran sains IPAdengan cara mencari pengetahun tentang alam secara sistematis
melalui prosespenemuan ( inquiri ) yang menekankan pemberian pengalaman langsung
dalampenggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah
siswa,yangbermuara pada pembelajaran Work-Based experimen ( belajar sambil bekerja ).
Keberadaan Laboratorium IPA juga perlu didukung oleh berbagai program yang baikagar
dapat mencapai tujuan yang direncanakan dan mengacu kepada Visi dan Misi SMP N 2
Selopampang dan Kabupaten Temanggung. Penyusunan program yang baik danterencana
akan menciptakan suatu pengembangan dan pemeliharaan Laboratorium IPA ke depan. Hal
ini akan mendukung tingkat keberhasilan Program yang ingindicapai sekaligus memberikan
tingkat ketercapaian Visi dan Misi SMP N 2 Selopampang dan Kabupaten Temanggung.

2. Dasar Pemikiran
a. Pasal 12 ayat (1) dan Pasal 30 UU No 20 Tahun 23 tentang Sistem PendidikanNasional
b. Visi dan Misi serta Program Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Temanggung
c. Visi dan Misi serta Program Kerja SMP N 2 Selopampang
d. Program Kerja Laboratorium IPASMP N 2 Selopampang

3.Tujuan
a. Tujuan dari Program Kerja Pengelola Laboratorium ini adalah sebagai guru yang telah
disertifikasi untuk mengarah kepada guru yang Propesional
b. Sebagai bahan acuan bagi Pengelola Laboratorium IPA untuk menjalankantugasnya

BAB II
RENCANA KEGIATAN LABORATORIUM IPA
A. Denah Laboratorium
DESAIN RUANG LABORATORIUM IPA Keterangan :
SMP N 2 Selopampang 1 Meja Praktikum/Meja siswa

3 m 12 m
2 Meja LCD
11 10 3 Meja Demonstrasi
14 4 Meja Pembimbing
B 5 Meja Alat
8 m 6 Meja samping /keramik/tempat tas
13 A 7 Bak cuci
13 9 8 Lemari penyimpanan
C 9 Papan tulis
B. Penataan Alat dan Bahan
Penataan alat dan bahan praktik IPA sangat bergantung kepada fasilitas yangada di
laboratorium dan kepentingan pemakai laboratorium. Fasilitas yang dimaksuddalam hal ini
adalah adanya ruang penyimpanan khusus (gudang), ruang persiapan,dan tempat-tempat
penyimpanan seperti lemari, kabinet, dan rak-rak.Untuk menata alat dan bahan praktik IPA
ada beberapa hal yang perludikerjakan terlebih dahulu, yaitu pekerjaan sebagai berikut:
1. ruang laboratorium beserta tempat-tempat penyimpanan alat danbahan yang tersedia,
misalnya lemari, laci, dan rak.
2. Mendata dan memeriksa alat dan bahan dalam hal macamnya, jumlahnya, sifatfisiknya,
harganya, dan sebagainya.
3. Mengelompokkan alat dan bahan sesuai dengan kelompok mata pelajaran (fisika,IPA, dan
biologi) atau sesuai dengan katalog yang dirujuk.

C. Pengadministrasian Alat dan Bahan
Untuk memudahkan pengecekan, penggunaan, pemeliharaan, pengadaan, danterutama
pertanggungjawaban, semua fasilitas dan alat-alat/bahan di laboratoriumharus
diadministrasikan. Pengertian pengadministrasian disini adalah pencatatannama alat/bahan,
jumlahnya, ukurannya, mereknya, nomor kodenya, dan tempatpenyimpanannya.Untuk
keperluan pencatatan alat dan bahan laboratorium ini diperlukan formatatau buku perangkat
administrasi yang meliputi:
1. Buku inventaris
2. Kartu stok
3. Kartu permintaan/peminjaman alat/bahan
4. Buku catatan harian
5. Kartu alat/bahan yang rusak
6. Kartu reparasi
7. Format label
Buku lainnya yang dapat melengkapi perangkat administrasi di atas antaralain:
1. Daftar alat dan bahan sesuai dengan LKS
2. Program semester kegiatan laboratorium
3. Jadwal kegiatan laboratorium

D. Pengadaan Alat dan Bahan
Untuk melengkapi atau mengganti alat dan bahan yang rusak, hilang, atauhabis dipakai
diperlukan pengadaan. Sebelum pengusulan pengadaan alat dan bahandipikirkan hal-hal
berikut:
a. Percobaan apa yang akan dilakukan
b. Alat dan bahan apa yang akan dibeli (dengan spesifikasi jelas)
c. Apakah dana tersedia
d. Prosedur pembelian
e. Pelaksanaan pembelian
Prosedur pengadaan alat dan bahan biasnya dimulai dengan penyusunandaftar alat dan bahan
yang akan dibeli. Daftar pengusulan diperoleh dari usulanmasing-masing guru IPA yang
dikoordinasikan oleh penanggung jawab laboratorium.Daftar alat dan bahan yang akan dibeli
dibuat berdasarkan programsemester/program kegiatan laboratorium atau berdasarkan
analisis LKS.Daftar alat dan bahan yang dibeli harus dilengkapi dengan spesifikasi alat
danbahan, kemudian alat dan bahan disusun berdasarkan prioritas, artinya tentukan alatdan
bahan yang terlebih dahulu yang akan digunakan.Daftar alat yang akan dibeli dipisahkan dari
daftar bahan. Setelah selesaipenyusunan daftar alat/bahan, daftar ini diserahkan oleh
penanggung jawablaboratorium kepada kepala sekolah.
E. Tata tertib Laboratorium IPA
1. Siswa tidak dibenarkan masuk kedalam Lab tanpa izin Guru Pembimbing.
2. Siswa masuk Laboratorium tidak dibenarkan memakai sepatu.
3. Siswa masuk Laboratorium tidak dibenarkan membawa makanan.
4. Siswa diwajibkan menempati tempat yang sudah ditentukan sesuai kelompok kerja.
5. Alat dan bahan yang digunakan sesuai dengan petunjuk Praktikum .
6. Jika ada alat-alat yang rusak siswa segera melaporkan kepada guru pembimbing.
7. Jika terjadi kecelakaan dalam Praktikum segera melaporkan kepada gurupembimbing.
8. Setelah melakukan Praktikum siswa harus mengembalikan Alat/bahan ketempatsemula
dalam keadaan bersih.
9. Labor harus dalam keadaan bersih setelah selesai kegiatan
10. Kerusakan atau kehilangan alat terjadi akibat kelalaian siswa, siswa ataukelompok
kerjanya harus menggantinya.
11. Siswa yang tidak mengindahkan tata tertib dapat diberi sangsi /dikeluarkan
dariLaboratorium.
CATATAN: Jam-jam yang bertabrakan diadakan penyesuaian dengan materi
yangdipraktikumkan atau Demonstrasi

BAB III
ORGANISASILABORATORIUM IPA

Organisasi laboratorium IPA adalah suatu sistem kerja sama dari kelompok orang, barang,
atau unit tertentu tentang laboratorium IPA, untuk mencapai tujuan.Mengorganisasikan
laboratorium IPA berarti menyusun sekelompok orang ataupetugas dan sumberdaya yang lain
untuk melaksanakan suatu rencana ata programguna mencapai tujuan yang telah ditetapkan
dengan cara yang paling berdaya gunaterhadap laboratorium IPA.Orang-orang atau petugas
yang terlibat langsung dalam organisasilaboratorium IPA adalah sebagai berikut:
1. KEPALA SEKOLAH
a. Memberi tugas kepada personil-personil yang menjadi tanggungjawabnya.
b. Memberi bimbingan, motifasi, pemantauan dan evaluasi kinerja petugas
c. Memotifasi guru IPA untuk kegiatan laboratorium
d. Menyediakan dana operasional kegiatan laboratorium

2. WAKA KURIKULUM
Membantu tugas kepala sekolah dalam bidang kegiatan pembelajaran dilaboratorium.

3. WAKA SARANA PRASARANA
Membantu tugas kepala sekolah dalam bidang sarana dan prasarana Laboratorium

4. PENANGGUNGJAWAB TEKNIS LABORATORIUM
a. Bertanggungjawab atas kelengkapan administrasi
b. Bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan laboratorium
c. Mengusulkan kepada kepala sekolah tentang pengadaan alat dan bahan laboratorium
d. Bertanggung jawab atas kebersihan, penyimpanan, perawatan dan perbaikan alat-
alatLaboratorium.

5. KOORDINATOR LABORATORIUM
a. Mengkoordinasi guru-guru IPA dalam penggunaan laboratorium
b. Mengusulkan kepada penanggungjawab laboratorium untuk pengadaan alat dan bahan
praktek.
6. GURU
a. Merencanakandanmengaturpelaksanaanpraktikumsecarateratur
b. Melakukanpretespraktikum
c. Memantaudanmengevaluasikegiatanpraktikum

7. LABORAN
a. Mengerjakan tugas – tugas administrasi laboratorium
b. Menyimpan semua alat dan bahan secara rapi sesuai dengan jenisnya
c. Mempersiapkan dan menyimpan kembali alat dan bahan yang telah digunakan
d. Merawat semua alat/bahan/fasilitas laboratorium
e. Bertanggung jawab atas kebersihan alat dan ruang laboratorium beserta perlengkapan
lainnya

STRUKTUR ORGANISASI LABORATORIUM IPA
SMP N 2 SELOPAMPANG

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelaksanaan program kerja Laboratorium IPA di SMP N 2 Selopampang inidiharapkan
menjadi solusi dalam menyiasati besarnya tanggung jawab yang diembanoleh mata pelajaran
IPA di sekolah. Dengan adanya pelaksanaan program kerja inisebagai agenda rutin di SMP N
2 Selopampang, diharapkan nilai-nilai sains yang telahdipelajari oleh siswa tidak hanya
sekedar menjadi pengetahuan atau hapalan tetap hendaknya menjadi suatu bekal di tengah-
tengah kehidupan sehari-hari.

B. Saran
Laboratorium IPA sebagai sarana sumber belajar yang nyata untuk siswabelajar perlu
dipelihara kebersihan dan kenyamanannya. Untuk itu laboratorium IPA tidak hanya dikelola
oleh koordinator laboratorium IPA saja tetapi diperlukan jugaseorang laboran yang siap
setiap saat membantu guru IPA menyelenggarakanpraktikum di laboratorium.Dengan
keterbatasan tenaga dan waktu, koordinator laboratorium juga sangatmemerlukan tenga
kebersihan yang rutin untuk membersihkan ruang laboratorium,sehingga ruangan selalu
dalam keadaan bersih dan siap pakai.Demikian kiranya saran yang dapat diberikan kepada
pihak sekolah untukditindaklanjuti.

MANAJEMEN RESIKO KESELAMATAN KERJA
DI LABORATORIUM
I. Identifikasi pengelolaan dan manajemen resiko laboratorium IPA
Laboratorium ialah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat
merupakan ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, atau kebun. Dalam pengertian
yang terbatas, laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana
percobaan/eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud: 1995, 2003).
Laboratorium dapat berfungsi sebagai yang disebutkan tadi di atas, laboratorium sains harus
bersifat fleksibel (luwes), ini artinya laboratorium harus dapat berfungsi sebagai berikut:
1) Tempat siswa bereksperimen.
2) Tempat siswa mendiskusikan eksperimen.
3) Tempat siswa melihat demonstrasi.
4) Tempat siswa mendengarkan penjelasan konsep-konsep sains dari guru.
Di dalam pengelolaan laboratorium ditentukan cara-cara mengevaluasi hasil belajar, buku-
buku apa saja yang dipakai oleh siswa dan peraturan pemakaian laboratorium. Ketentuan
yang sudah disepakati dan dibuat hendaknya dipatuhi dan dilaksanakan dengan baik. Di
samping itu, tugas pengelola laboratorium akan berhasil baik jika pemakai laboratorium dapat
bekerja sama dengan baik.
Termasuk tugas dan tanggung jawab pengelola laboratorium ialah mengadministrasian alat
dan bahan. Pengadministrasian alat dan bahan ialah mendaftar alat dan bahan yang ada dalam
laboratorium dengan suatu sistem tertentu yang mudah dipahami oleh semua pihak. Hasil
administrasi alat/bahan dan dari laporan akhir tahun dibuatlah rencana untuk tahun
berikutnya.
Kecelakaan dapat terjadi dalam setiap kegiatan manusia. Kecelakaan merupakan suatu
kejadian di luar kemampuan manusia, terjadi dalam sekejap dan dapat menimbulkan
kerusakan baik jasmani maupun jiwa. Kegiatan yang membahayakan sering terjadi di
laboratorium, tetapi hal ini tidak harus membuat kita takut untuk melakukan kegiatan
laboratorium.
Salah satu hal yang penting yang diharapkan dari melakukan kegiatan dan eksperimen
didalam belajar sains adalah agar siswa atau mahasiswa berhadapan langsung dengan suatu
gejala atau fenomena. Untuk sebagian mahasiswa pemahaman akan terjadi dengan cara
melakukan learning by doing.
Eksperimen dapat merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan dapat juga
membahayakan. Guru harus mampu mencegah terjadinya kecelakaan. Siswa mengetahui
tentang bahaya yang dapat terjadi di dalam melakukan suatu kegiatan laboratorium atau
eksperimen sehingga mereka melakukannya dengan hati-hati. Dengan demikian bahaya
terjadinya kecelakaan dapat dihindarkan.
Risiko adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada suatu kegiatan / aktivitas yang
dilakukan manusia, termasuk aktivitas proyek pembangunan dan proyek konstruksi. Karena
dalam setiap kegiatan, seperti kegiatan konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian
(uncertainty). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada
suatu kegiatan.
Untuk dapat menanggulangi semua risiko yang mungkin terjadi, diperlukan sebuah proses
yang dinamakan sebagai manajemen risiko. Adapun beberapa definisi manajemen risiko dari
berbagai literatur yang didapat, antara lain :
a. Manajemen risiko merupakan proses formal dimana faktor – faktor risiko secara sistematis
diidentifikasi, diukur, dan dicari
b. Manajemen risiko merupakan metoda penanganan sistematis formal dimana
dikonsentrasikan pada pengientifikasian dan pengontrolan peristiwa atau kejadian yang
memiliki kemungkinan perubahan yang tidak diinginkan.
c. Manajemen risiko, dalam konteks proyek, adalah seni dan pengetahuan dalam
mengidentifikasi, menganalisa, dan menjawab faktor – faktor risiko sepanjang masa proyek.
II. Analisis kasus kecelakaan yang terjadi di kegiatan praktikum dalam laboratorium
Praktikum fotosintesis merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan di pembelajaran IPA
Biologi kelas VIII semester 2. Terdapat dua bentuk praktikum yang sering dilaksanakan oleh
siswa yaitu percobaan ingenhous dan percobaan sachs. Kedua jenis praktikum ini sama-sama
menggunakan peralatan yang terbuat dari kaca, alkohol dan api. Berikut mekanisme kedua
percobaan tersebut :
1. Percobaan Ingenhous
A. Tujuan
Mengetahui bahwa pada pristiwa fotosintesis dihasilkan gas O2
B. Alat dan Bahan
1. Tumbuhan air (Hydrilla verticillata)
2. Air
3. Soda kue
4. Gelas kimia
5. Corong kaca
6. Tabung reaksi
7. Plastik warna merah atau biru
8. Lidi
9. Korek api

C. Cara Kerja
1. Isilah gelas kimia dengan air kira-kira setengahnya
2. Masukkan tumbuhan Hydrilla ke corong kaca
3. Letakkan corong kaca dalam gelas kimia dengan posisi terbalik
4. Tutupkan tabung reaksi pada pipa corong
5. Buatlah 4 set alat seperti ini
6. Tempatkan 1 set alat di tempat terang, 1 set alat di tempat teduh, 1 set alat di tempat terang
dengan ditambah 1 sendok teh soda kue, dan 1 set alat di tempat terang dengan ditutpi plastik
merah yang tipis dan tembus pandang. Warna plastik dapat diganti dengan warna lain
7. Masukkan termometer untuk mengukur suhu tiap set alat
8. Amati perubahan yang terjadi pada ujung tabung reaksi dan hitung jumlah gelembung
udara yang muncul dari tumbuhan Hydrilla verticillata
9. Pengamatan dilakukan selama masing-masing 10 menit, dan setiap 2 menit sekali catatlah
hasil pengamatanmu pada tabel hasil pengamatan.
10. Ambil tabung reaksi dan segera masukkan lidi yang membara ke dalam tabung tersebut
D. Hasil Pengamatan dan Diskusi
1. Tabel hasil pengamatan :

Jumlah Gelembung
Tempat Terang Tempat Teduh Pakai Soda Kue Pakai Plastik
Suhu
Menit Ke-2
Menit ke-4
Menit Ke-6
Menit Ke-8
Menit Ke-10
Ket. Jumlah Gelembung udara : (–) tidak ada, (+) sedikit, (++) sedang, (+++) banyak, (++++)
sangat banyak
2. Percobaan sachs
A. Tujuan
Membuktikan bahwa pada peristiwa fotosintesis akan terbentuk amilum (karbohidrat)
B. Alat dan Bahan
1. Daun yang masih ada pada tumbuhan
2. Aluminium foil / kertas hitam
3. Larutan yodium
4. Alkohol
5.Yodium
5. Gelas kimia
6. Tabung reaksi
7. Pinset
8. Pipet tetes
9. Cawan Petri
10. Lampu spiritus dan kaki tiga
C. Cara Kerja
1. Tutup sebagian daun pada tanaman dengan aluminium foil / kertas hitam
2. Setelah tiga hari petiklah daun tersebut dan rendam dalam air mendidih selama 10 detik,
untuk mematikan sel-sel daun dan melunakkan dinding sel.
3. Masukkan daun ke tabung reaksi berisi alkohol, lalu letakkan tabung reaksi tersebut ke
dalam wadah berisi air panas selama 10 menit, untuk melarutkan klorofil
4. Bilas daun dengan air untuk membuang alkohol, untuk melembutkan daun
5. Letakkan daun pada cawan petri, lalu tetesi dengan larutan yodium
6. Amati. Jika pada daun berwarna biru kehitaman berarti mengandung karbohidrat.

Kedua praktikum di atas merupakan kegiatan yang paling beresiko terhadap keselamatan alat
dan juga keselamatan siswa. Disamping menggunakan banyak alat yang terbuat dari kaca,
praktikum ini juga menggunakan alkohol yang dipanaskan di atas api. Pada percobaan
ingenhous, alat yang berupa gelas kimia, corong kaca, tabung reaksi dan bahan Hydrilla harus
di rangkai di bawah permukaan air sehingga harus dipastikan bahwa gelembung udara keluar
dari rangkaian percobaan. Proses pembuatan rangkaian ini biasanya dilakukan di dalam bak
mandi sekolah yang mempunyai persediaan air yang melimpah dan memungkinkan rangkaian
tercelup total ke dalam air. Pada waktu alat kaca ini di bawa ke bak air inilah merupakan
tahap yang paling rentan terjadi kecelakaan alat. Saat siswa keluar dari ruang praktikum
biasanya menjadi lebih aktiv dan kurang berhati-hati, seperti kejadian yang pernah terjadi di
SMP N 2 Selopampang beberapa tahun silam. Karena kekuranghatian siswa di bak air
menyebabkan siswa terpeleset dan memecahkan alat yang dibawanya sehingga pelaksanaan
praktikum menjadi terhambat.
Percobaan Sachs merupakan percobaan yang cukup berbahaya bagi siswa apabila tidak
dilakukan dengan hati-hati dan menggunakan cara yang benar. Langkah pertama yaitu daun
ditutup menggunakan aluminium foil dilakukan sendiri oleh siswa di rumah, selanjutnya daun
yang akan diuji tersebut dibawa ke sekolah untuk dilihat kandungan karbohidratnya.
Selanjutnya disusun alat seperti yang berada pada gambar di bawah :

1234
Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah langkah ke tiga dimana pada tahap ini terdapat
alkohol yang dimasak di atas api. Alkohol merupakan zat yang sangat mudah terbakar untuk
itu dalam memanaskannya harus dimasukkan ke dalam air dan harus dibiarkan sampai
mendidih. Pada saat mendidih inilah daun yang telah lunak dimasukkan ke dalamnya hingga
semua klorofil menjadi larut dan daunnya menjadi berwarna putih pucat. Perebusan daun
dalam alkohol perlu mendapatkan perhatian khusus oleh guru, karenapada saat alkohol
mendidih kadangkala alkoholnya bergolak dan meloncat sampai keluar dari tabung reaksi.
Apabila semburan alkohol panas ini mengenai bagian tubuh siswa tentu saja akan
menimbulkan munculnya luka bakar siswa tersebut. Lebih parah lagi kalau loncatan cairan
alkohol ini mengenai bunsen yang berada di bawahnya maka api akan cepat membesar dan
membakar segala sesuatu yang ada di sekitarnya.
III. Alternatif penanganan masalah resiko praktikum fotosintesis

1. Pemberian penjelasan kepada siswa secara rinci hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak
boleh dilakukan dalam praktikum
2. Memberikan penjelasan pada siswa tentang resiko yang sering terjadi dalam kegiatan
praktikum yang akan mereka lakukan.
3. Selalu mengingatkan siswa akan standart keselamatan kerja kegiatan di laboratorium
4. Apabila kecelakaan telah terjadi maka api harus segera dipadamkan dengan menggunakan
pemadam kebakaran ataupun selimut khusus kebakaran.
5. Apabila loncatan alkohol mengenai kulit siswa makan harus segera dibasuh dengan air
sebanyak-banyaknya agar tidak melepuh ataupun di berikan bioplacenton.

Laporan Sistem Penyimpan
I. PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui
pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan deduksi untuk menghasilkan suatu
penjelasan tentang sebuah gejala yang dapat dipercaya.Menurut Hungerford, Volk & Ramsey
(1990:13-14) mengatakanbahwaSainsadalah (1) proses
memperolehinformasimelaluimetodeempiris (empirical method); (2) Informasi yang
diperolehmelaluipenyelidikan yang telahditatasecaralogisdansistematis; dan (3)
suatukombinasi proses berpikirkritis yang menghasilkaninformasi yang dapatdipercayaatau
valid.

Pada aspek biologi, IPA mengkaji berbagai persoalan yang berkait dengan berbagai
fenomena pada makhluk hidup pada berbagai tingkat organisasi kehidupan dan interaksinya
dengan faktor lingkungan, pada dimensi ruang dan waktu. Untuk aspek fisis, IPA
memfokuskan diri pada benda tak hidup, mulai dari benda tak hidup yang dikenal dalam
kehidupan sehari-hari seperti air, tanah, udara, batuan dan logam, sampai dengan benda-
benda di luar bumi dalam susunan tata surya dan sistem galaksi di alam semesta. Untuk aspek
kimia, IPA mengkaji berbagai fenomena/gejala kimia baik pada makhluk hidup maupun pada
benda tak hidup yang ada di alam semesta. Ketiga aspek tersebut, ialah aspek biologis
(biotis), fisis, dan khemis, dikaji secara simultan sehingga menghasilkan konsep yang utuh
yang menggambarkan konsep-konsep dalam bidang kajian IPA. Khusus untuk materi Bumi
dan Antariksa dapat dikaji secara lebih dalam dari segi struktur maupun kejadiannya (BSNP,
2006).

Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1) kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati,
(2) kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji
tindak lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah. Kegiatan pembelajaran
IPA mencakup pengembangan kemampuan dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban,
memahami jawaban, menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana”
tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara sistematis yang akan
diterapkan dalam lingkungan dan teknologi. Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan
ilmiah yang didasarkan pada metode ilmiah. Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu
sendiri telah diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang
meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi konsekuensi dari
hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji prediksi, dan merumuskan hukum umum
yang sederhana yang diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen.

Laboratorium dan jenis peralatannya merupakan sarana dan prasana penting untuk penunjang
proses pembelajaran di sekolah. Dikemukakan pada PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan Pasal 42 ayat (2) serta Pasal 43 ayat (1) dan ayat (2) bahwa:
1. Pasal 42 (2) :
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang
pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa,
tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat
lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

2. Pasal 43
(1) Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA),
laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan
pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia.
(2) Standar jumlah peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan dalam rasio
minimal jumlah peralatan perpeserta didik.

Dalam mengelola sebuah laboratorium tentu saja diperlukan sebuah sistem manajemen dan
tenaga pengelola yang terlatih agar kegiatan laboratorium dapat terlaksana secara efektif dan
efisien. Makalah berikut akan menganalisis tentang sistem penyimpanan alat, penggunaan
alat dan penyimpanan alat di Laboratorium IPA SMP N 2 Selopampang, Kabupaten
Temanggung.

II. PEMBAHASAN

I. Tinjauan teoritis
Laboratorium IPA merupakan tempat siswa dan guru belajar menemukan dan memecahkan
masalah IPA. Di Lab, siswa dan guru melakukan penyelidikan dengan pengamatan
pengamatan objek-objekalam (gejala-gejala alam) dan atau percobaan-percobaan. Bentuk
Laboratorium bisa berupa ruang tertutup (dirancang) maupun ruang terbuka (Lingkungan
sekitar ; bentang alam).
Alat yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium IPA memerlukan perlakuan khusus
sesuai sifat dan karakteristik masing-masing. Perlakuan yang salah dalam membawa,
menggunakan dan menyimpan alat di laboratorium IPA dapat menyebabkan kerusakan alat
dan bahan, terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkan penyakit.
Cara memperlakukan alat dan bahan di laboratorium IPA secara tepat dapat menentukan
keberhasilan dan kelancaran kegiatan. Cara menyimpan alat laboratorium IPA dengan
memperhatikan bahan pembuat alat tersebut, bobot alat, keterpakaiannya, serta sesuai pokok
bahasannya. Penyimpanan alat menurut aturan tertentu harus disepakati antara pengelola
laboratorium dan diketahui oleh pengguna/praktikan.
Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengambilan kembali alat di laboratorium,
maka sebaiknya dibuatkan daftar inventaris alat yang lengkap dengan kode dan jumlah
masing-masing. Alat yang rusak atau pecah sebaiknya ditempatkan pada tempat tersendiri,
dan dituliskan dalam buku kasus dan buku inventaris laboratorium IPA.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat yaitu :
1. Bahan dasar pembuatan alat
2. Bobot alat
3. Kepekaan alat terhadap lingkungan
4. Pengaruh alat yang lain
5. Kelengkapan perangkat alat dalam suatu set
Penataan dan penyimpanan alat / bahan didasarkan pada :
1. Keadaan laboratorium yang ditentukan oleh fasilitas, susunan laboratorium, dan keadaan
alat/bahan.
2. Kepentingan pemakai ditentukan berdasarkan kemudahan dicari dan dicapai, keamanan
dalam penyimpanan dan pengambilannya.

Dasar dari penyimpanan alat, yaitu :
1. Jenis Alat, misalnya gelas kimia, corong, cawan petri, lumpang dan alu
2. Jenis bahan pembuat, misalnya kaca, porselin, logam dan kayu
3. Percobaan, misalnya laju reaksi, kesetimbangan, dll
4. Seberapa sering alat digunakan
- Yang sering digunakan misalnya: gelas kimia
- Yang jarang digunakan misalnya: lumpang & alu

Penyimpanan alat dan bahan
- Alat-alat yang sering digunakan, alat yang boleh diambil sendiri oleh siswa dan alat- alat
yang mahal harganya penyimpanannya dipisah
- Alat-alat untuk percobaan fisika biasanya dikumpulkan menurut golongan percobaannya
- Alat-alat yang digunakan untuk beberapa jenis percobaan disimpan tersendiri ditempat
khusus.
- Alat-alat untuk percobaan biologi umumnya disimpan menurut judul percobaan atau dapat
dilakukan berdasarkan atas bahan alat

Penggunaan dan pemeliharaan alat laboratorium IPA
Suatu laboratorium dengan peralatan yang lengkap tidak akan dapat berfungsi dengan baik
jika tidak ditata dengan benar. Penataan yang proporsional akan memperlancar pelaksanaan
kegiatan praktikum sehingga mencapai hasil sesuai harapan. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan penataannya dalam laboratorium adalah :
a. Meja kerja siswa
Meja dan kursi kerja siswa sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga mempermudah
pelaksanaan praktikum. Susunan dapat diubah setiap saat sesuai kebutuhan praktikum,
jumlah kelompok, kebutuhan akan cahaya, arah konsentrasi siswa, dan hal lainnya.
b. Alat dan bahan praktikum
Alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan praktikum disimpan dalam almari etalase
yang diberi dibagi dalam blok-blok tertentu sesuai sifat alat dan bahan. Misalnya alat yang
terbuat dari bahan kaca ditempatkan pada lokasi yang sama atau saling berdekatan. Untuk
bahan cair ditempatkan pada lokasi lain bersama dengan bahan-bahan lain yang juga bersifat
cair.
Selain berdasarkan sifat fisik bahan, penataan alat dan bahan juga disesuaikan dengan
kesamaan fungsi penggunaan ketika pelaksanaan praktikum. Misalkan alat yang diperlukan
untuk kegiatan penelitian struktur jaringan floem dan xylem, dimana alat yang dibutuhkan
adalah mikroskop dan beberapa preparat yang sifat fisiknya jauh berbeda. Kedua alat ini tidak
ditempatkan pada satu lokal yang sama, tetapi tetap berdekatan agar mudah dalam
persiapannya.
c. Sarana penunjang lainnya
Selain meja kerja dan peralatan serta bahan praktikum, sarana penunjang seperti tirai, sumber
listrik, sumber air dan wastafelnya juga perlu diperhatikan penataannya. Untuk penataan
sarana dan prasarana biasanya direncanakan sebelum gedung laboratorium di bangun. Namun
demikian ada kalanya perlu diadakan penataan ulang jika ternyata penataan awal kurang
mendukung atau bahkan menghambat kelancaran dalam mengoperasikan fungsi laboratorium

II. Sistem penyimpanan, penggunaan dan pemeliharaan alat di SMP N 2 Selopampang
SMP N 2 Selopampang memiliki satu laboratorium yang menjadi ruangan untuk praktikum
fisika dan praktikum biologi. Bangunan laboratorium ini didirikan baru sekitar tahun 2009
sehingga sampai saat ini kondisinya masih terlihat bagus dan kokoh. Peralatan yang dimiliki
masih sangat sedikit sehingga penyimpanan alat dan barang masih dapat diatur dengan
mudah.
Dalam laboratorium terdapat tiga buah lemari besar yang salah satu sisinya terbuat dari kaca,
satu lemari terdapat di ruang praktikum yang besar serta dua lemari terdapat di dalam ruang
penyimpanan alat. Di dalam lemari yang terdapat di ruang praktikum terdapat beberapa alat
dan media pembelajaran buatan siswa seperti alat ayunan, insektarium dan herbarium. Selain
itu, lemari ini juga sebgai tempat alat yang sering digunakan untuk praktikum seperti dan
juga kaki tiga.
Dalam ruang penyimpanan terdapat dua buah lemari besar, keduanya diletakkan di satu sisi
ruangan sehingga terdapat sisa ruang yang leluasa untuk mengambil alat. Dasar penyimpanan
alat yang digunakan adalah berdasarakan mata pelajaran, lemari satu untuk menyimpan alat
biologi serta yang lain untuk menyimpan alat fisika. Dalam penyusunannya dalam lemari
diatur agar alat yang berukuran besar diletakkan di paling bawah serta peralatan yang terbuat
dari kaca diletakkan di laci yang teratas. Untuk kit-kit fisika yang dimiliki diletakkan di
antara lemari pertama dan lemari kedua.
Dalam ruang persiapan terdapat meja persiapan dan meja untuk laboran yang mempunyai
satu unit komputer untuk membuat administrasi laboratorium. Diatas meja persiapan
digunakan untuk menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum yang akan
dilaksanakan oleh guru. Penggunaan alat laboratorium disesuaikan dengan jadwal praktikum
yang dilaksanakan bergantian oleh guru fisika dan biologi. Peminjaman alat laboratorium
dilakukan dengan mengisi administrasi tertentu yang telah disediakan oleh laboran.Beberapa
administrasi yang dikelola laboratorium IPA SMP 2 Selopampang dipaparkan sebagai
berikut.
1. Jurnal Praktikum
Jurnal praktikum adalah jurnal yang difungsikan untuk mencatat seluruh pelaksanaan
praktikum di laboratorium IPA SMP 2 Selopampang. Jurnal praktikum berisi informasi :
pembimbing praktikum, hari dan tanggal pelaksanaan praktikum, kelas praktik, jam pelajaran
dilaksanakannya praktikum, materi praktikum, alat dan bahan yang digunakan, dan
keterangan hasil pelaksanaan praktikum.
2. Kartu Praktikum
Kartu praktikum adalah sebuah lembaran kertas blangko yang difungsikan untuk mencatat
seluruh pelaksanaan praktikum yang dilaksanakan oleh siswa, dan setiap siswa memiliki satu
lembar kartu praktik. Kartu praktik berisi informasi mengenai : nama siswa, kelas, kelompok,
anggota kelompok, judul praktikum, waktu pelaksanaan praktikum, waktu pengumpulan
laporan praktikum, nilai praktik, dan paraf dari guru pembimbing. Pada sisi belakang kartu
dicantumkan pula tata tertib praktikum dengan tujuan agar siswa selalu ingat bagaiama
mereka seharusnya berperilaku ketika di dalam ruang laboratorium.
3. Buku Peminjaman Alat
Buku peminjaman alat adalah buku yang difungsikan untuk mencatat seluruh transaksi
peminjaman alat yang dilakukan oleh guru atau siswa dengan kuasa dari guru
pembimbingnya. Peminjaman dilaksanakan ketika dalam pembelajaran membutuhkan alat
peraga, model, atau mungkin beberapa alat percobaan secara lengkap.
Khusus untuk peminjaman alat percobaan lengkap untuk di bawa ke kelas atau tempat
dimana pembelajaran diselenggarakan diberlakukan hanya jika kegiatan praktikum sangat
mendesak untuk dilaksanakan tetapi terkendala oleh benturan waktu penggunaan dengan
kelas praktik yang lain. Faktor lainnya ialah jika kegiatan praktikum tidak mungkin
dilaksanakan di dalam laboratorium melainkan harus langsung di lapangan, maka
peminjaman alat lengkap diperbolehkan.
Buku peminjaman berisikan informasi mengenai : nama peminjam (bisa guru atau siswa
dengan kuasa guru), nama alat yang dipinjam, dan transaksi (tanda tangan, tanggal
peminjaman, dan tanggal pengembalian).

EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN
a. Definisi Evaluasi
Menurut pengertian bahasa, kata evaluasi berasal dari kata Evaluation dalam bahasa Inggris
yang berarti penilaian atau penaksiran. Beberapa pengertian evaluasi secara umum
dikemukakan oleh banyak ahli terkemuka. Dalam ensiklopedi pendidikan (Soegarda
Poerbakawatja, 1976:83) evaluasi mengandung tiga pengertian yaitu:
1. Suatu proses menetapkan nilai atau jumlah dari suatu taksiran yang sama,
2. Suatu proses untuk menetapkan kepentingan relative dari fenomena-fenomena dari jenis
yang sama atas dasar suatu standart tertentu, dan
3. Perkiraan kenyataan atas dasar ukuran nilai tertentu dan dalam rangka situasi yang khusus
dan tujuan–tujuan yang ingin dicapai.
Kaufmann dan Thomas (1980: 9) mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses yang
membantu sesuatu menjadi lebih baik melalui identifikasi dan dokumentasi beberapa
perbedaan hasil kegiatan masa lalu dan sekarang untuk menafsir apa yang akan dilakukan
berikutnya.
Worthen dan Sanders (1981: 19) memberikan pendapat tentang definisi evaluasi “Evaluation
is the determination of the worth of a thing. It includes obtaining information for use in
judging the worth of a program product, procedure, or objective, or of the potential utility of
alternative approaches designed to attain specified objectives”. Evaluasi merupakan
penentuan nilai suatu hal, yang meliputi pengumpulan informasi yang digunakan untuk
memutuskan nilai keberhasilan suatu program, produk, prosedur, tujuan, atau manfaat yang
pada desain pendekatan alternative untuk mempertahankan tujuan khusus. Dari pernyataan
diatas mengimplikasikan adanya standart atau kriteria tertentu yang digunakan untuk
menentukan nilai (worth) serta adanya sesuatu yang dinilai. Standart yang dimaksud adalah
standar keberhasilan suatu program dikatakan berhasil, dan yang dinilai adalah dampak atau
hasil yang dinilai atau dicapai oleh program itu sendiri.
Evaluasi juga sering dilakukan untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan suatu kegiatan.
Proses evaluasi suatu pelaksanaan kegiatan dapat menunjukkan informasi tentang sejauh
mana kegiatan itu telah dilaksanakan atau hal-hal yang telah dicapai. Standart atau kriteria
yang telah ditentukan sebelumnya dapat dijadikan acuan untuk melihat ketercapaian suatu
program, kesesuaian dengan tujuan, keefektifan, keefisienan, dan hambatan yang dijumpai
dalam sebuah program.
Stufflebeam dan Shinkfield (1985:159) memberikan definisi tentang evaluasi sebagai berikut:
“The process of delineating, obtaining, and providing descriptive and judgmental information
about the worth and merit of some object goals, design, implementation, and impact in order
to guide decision making, serve needs for accountability, and promote understanding of the
involved phenomena”.
Dari pernyataan diatas dapat dipahami bahwa Stufflebeam dan Shinkfield menyatakan bahwa
evaluasi adalah proses menggambarkan, mengumpulkan, menyajikan secara deskriptif dan
informative tentang penentuan nilai dan manfaat tujuan dari objek, desain, implementasi, dan
dampak untuk pengambilan suatu keputusan, penyajian keperluan untuk pertanggung
jawaban dan mempromosikan pemahaman terhadap fenomena yang terlibat.
Sejalan dengan beberapa pendapat diatas Chabib Thoha (1996: 1) mengatakan bahwa
evaluasi adalah kegiatan terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan
menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh
kesimpulan. Sedangkan Brinkerhoff, dkk (1983: 1-6), evaluasi merupakan sebuah proses
yang menentukan sejauh mana tujuan dapat tercapai. Brinkerhoff menambahkan dalam
pelaksanaan evaluasi setidaknya ada 7 elemen yang harus dilakukan yaitu :
1) Fokus pada apa yang akan dievaluasi (Focusing the evaluation)
2) Memiliki rancangan evaluasi (Designing the evaluation)
3) Mengumpulkan informasi (Collecting information)
4) Menganalisis dan menginterpretasikan informasi (Analyzing and interpretion)
5) Membuat laporan (Reporty information)
6) Pengaturan/ pengelolaan evaluasi (Managing evaluation)
7) Evaluasi untuk evaluasi (Evaluaty evaluation)

Ditambahkan lagi oleh Suchman dalam Sudarsono (1994:2) bahwa dalam merumuskan
evaluasi terdapat tiga elemen pokok yang harus dinyatakan yaitu: pertama, adanya intervensi
yang diberikan secara sengaja terhadap program yang direncanakan. Kedua, adanya tujuan
atau sasaran yang diinginkan atau diharapakan dan mempunyai nilai positif. Ketiga, adanya
metode untuk menentukan taraf pencapaian tujuan sebagaimana diharapkan. Di dalam
melakukan evaluasi, evaluator hendaknya tidak hanya menanyakan perubahan cara yang
dipakai, tetapi juga mengapa suatu program itu berhasil dan yang lain gagal.
Apabila beberapa pendapat diatas diaplikasikan dalam konteks pendidikan maka evaluasi
dapat dikatakan sebagai serangkaian upaya atau langkah-langkah strategis untuk mengambil
keputusan dinamis yang ditujukan pada pembuatan standart proses pembelajaran atau
pengajaran. Proses ini dapat terdiri dari: (1) mengumpulkan data dengan tepat, (2)
mempertimbangkan data dengan tolok ukur tertentu, (3) membuat keputusan berdasarkan
data dengan tindakan-tindakan yang relevan. Sedangkan apabila diterapkan dalam proses
pembelajaran maka evaluasi bisa diartikan sebagai sebuah proses membandingkan suatu
kegiatan pembelajaran di lapangan dengan rencana yang telah dibuat untuk menentukan
sampai sejauh mana tujuan pembelajaran dapat tercapai.

b. Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan suatu hal atau program dengan
langkah mengetahui keterlaksanaan kegiatan program. Untuk kegiatan pembelajaran IPA,
Evaluasi pembelajaran dapat dilihat dari aspek keterlaksanaan dalam faktor siswa, guru,
materi yang dipelajari, sarana belajar, pengelolaan kelas, dan lingkungan.
Dalam organisasi pendidikan kegiatan evaluasi ini sering disamaartikan dengan supervisi.
Secara singkat, supervise diartikan sebagai upaya mengadakan peninjauan untuk
memeberikan pembinaan maka evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu
mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang
tepat pula.

c. Model Evaluasi
Ada beberapa ahli evaluasi program yang dikenal sebagai penemu model evaluasi program
adalah Stufflebeam, Metfessel, Michael Scriven, Stake dan Glaser. Kauffman dan Thomas
membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu:

1) Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler
Goal Oriented Evaluation merupakan model yang muncul paling awal. Objek pengamatan
dari model ini adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program
dimulai. Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan, terus-menerus, memonitor seberapa
jauh tujuan tersebut sudah terlaksana dalam proses pelaksanaan program.
2) Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven
Model evaluasi yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini dapat dikatakan berlawanan
dengan model yang dikembangkan oleh Tyler. Jika dalam model yang dikembangkan oleh
Tyler, evaluator terus-menerus memantau tujuan, yaitu sejak awal proses terus melihat sejauh
mana tujuan tersebut sudah dapat dicapai, dalam model ini justru menoleh dari tujuan.
Menurut Scriven dalam melaksanakan evaluasi program evaluator tidak perlu memperhatikan
apa yang menjadi tujuan program. Yang perlu diperhatikan dalam program tersebut adalah
bagaimana kerjanya program, dengan jalan mengidentifikasi penampilan-penampilan yang
terjadi, baik hal-hal positif (hal yang diharapkan) maupun hal-hal negatif (yang sebenarnya
tidak diharapkan).
Alasan mengapa tujuan program tidak perlu diperhatikan karena ada kemungkinan evaluator
terlalu rinci mengamati tiap-tiap tujuan khusus. Jika masing-masing tujuan khusus tercapai,
artinya terpenuhi dalam penampilan, tetapi evaluator lupa memperhatikan seberapa jauh
masing-masing penampilan tersebut mendukung penampilan akhir yang diharapkan oleh
tujuan umum maka akibatnya jumlah penampilan khusus ini tidak banyak manfaatnya.

3) Formatif Sumatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven
Model ini pada mulanya juga dirancang oleh Scriven dalam hubungan pengembangan
kurikulum. Ia menyatakan suatu kurikulum mempunyai bentuk yang siap (final). Evaluasi
formatif merupakan pengumpulan data/bukti selama penyusunan dan uji coba dari kurikulum
baru. Revisi atau perbaikan dilakukan berdasarkan bukti-bukti tersebut yang dikumpulkan
melalui evaluasi formatif.
Dengan menggunakan evaluasi formatif, evaluator dapat melihat kekurangan dalam
pelaksanaan program/kegiatan, dan dapat juga memantau proses pelaksanaan, sehingga akan
dapat membantu dalam penyempurnaan dan kelengkapan product yang dikembangkan.
Karena itu evaluasi formatif dapat juga disebut dengan evaluasi internal (Internal-evaluation
atau Intrinsic-evaluation) karena evaluasi formatif dilakukan menyangkut isi, tujuan,
prosedur/proses, sikap guru, sikap murid, fasilitas dan sebagainya.
Evaluasi formatif yang dikembangkan Scriven untuk menilai kurikulum pada prinsipnya
dapat pula dimanfaatkan dan digunakan dalam evaluasi proses belajar mengajar, sebagai
salah satu kegiatan dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam hal ini evaluasi dilakukan selama
proses belajar mengajar berlangsung pada setiap satuan pelajaran. Informasi tersebut akan
dapat menunjukkan kekurangan baik pada guru maupun pada murid dan komponen lainnya,
sehingga informasi itu dapat digunakan sebagai bahan dalam penyempurnaan proses belajar
mengajar berikutnya.
Berbeda dengan evaluasi formatif, evaluasi summatif lebih diarahkan untuk menguji efek dari
komponen-komponen pendidikan/pembelajaran terhadap murid-murid, atau dapat juga
dikatakan bahwa evaluasi summatif dirancang untuk mengetahui seberapa jauh kurikulum
yang telah disusun sebelumnya memberikan hasil pada siswa antara lain mencakup aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal itu dapat dilihat pada hasil pre test dan post test, antara
kelompok eksperimen dan control. Walaupun Scriven tidak mengarahkan model ini pada
evaluasi dalam proses belajar mengajar, namun pelaksanaan kurikulum tidaklah dapat
dipisahkan dari kegiatan pendidikan.

4) Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake
Model evaluasi yang dikembangkan oleh stake menekankan dua jenis evaluasi yaitu deskripsi
dan pertimbangan serta membedakan tiga fase dalam evaluasi program yaitu:
1. Persiapan atau pendahuluan (Antecedents / context)
2. Proses / transaksi (Transactions / Process)
3. Keluaran atau hasil (Outcomes / Output)
Oleh Stake, model evaluasi ini digambarkan sebagai berikut:
Rational intens observation Standart Judgement
antecedent
transaction
outcomes

Description Matrix Judgement Matrix

Gambar 1. Evaluasi model Stake
Dalam model evaluasi tersebut ada dua matrix, yaitu description matrix dan judgement
matrix. Description matrix merupakan penggambaran antara intens (goals, objectives) dan
observation yaitu tujuan apa yang akan dicapai dan apa yang akan diamati pada setiap elemen
evaluasi, sedangkan pada judgement matrix adalah penggambaran standart dan judgement.
Dalam matrix diatas ada 12 cell, yang diawali dengan intens antecedents dan pada sel terakhir
adalah outcomes.

5) CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan
CSE-UCLA terdiri atas dua kata yaitu CSE dan UCLA. CSE merupakan singkatan dari
Center for the study of Evaluation, sedangkan UCLA adalah singkatan dari University of
California in Los Angeles. Dalam model ini ada lima tahap penting yang harus dilalui, yaitu
perencanaan, pengembangan, implementasi, hasil dan dampak. Fernandes mamberikan
penjelasan tentang tahap evaluasi CSE-UCLA terdiri atas empat tahap yaitu 1) Needs
Assesment, 2) Program planning,g 3) Formative evaluation, 4) Summative evaluation.
6) CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam
Model ini dikembangkan oleh Daniel L. stufflebeam dan kawan-kawan. CIPP merupakan
singkatan dari : Context evaluation : evaluasi terhadap konteks, Input evaluation : evaluasi
terhadap masukan, Process evaluation : evaluasi terhadap proses, Product evaluation :
evaluasi terhadap hasil Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP tersebut
merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program
kegiatan. Dengan kata lain, model CIPP adalah model evaluasi yang memandang program
yang evaluasi sebagai sebuah sistem.
a. Evaluasi konteks
Evaluasi konteks adalah upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan, kebutuhan
yang tidak terpenuhi, populasi dan sampel yang dilayani dan tujuan proyek. Evaluasi konteks
dimulai dengan melakukan analisis konseptual dalam mengidentifikasikan dan merumuskan
domain yang akan dinilai dan kemudian diikuti dengan analisis empiris tentang aspek-aspek
yang dinilai: melalui surve, tes dan sebagainya. Pada bagian berikutnya melibatkan kedua
cara tersebut (analisis konseptual dan analisis empiris) dalam rangka menemukan masalah
utama dalam aspek yang dinilai.
b. Evaluasi masukan
Meliputi pertimbangan tentang sumber dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan
umum dan khusus. Informasi-informasi yang terkumpul selama tahap penilaian hendaknya
dapat digunakan oleh pengalamam keputusan untuk menentukan sumber dan strategi didalam
keterbatasan dan hambatan yang ada.
Evaluasi masukan boleh mempertimbangkan sumber tertentu apabila sumber-sumber tersebut
terlalu mahal untuk dibeli atau tidak tersedia dan dipihak lain ada alternatif yang dapat
digunakan untuk mencapai tujuan program. Demikian juga menyangkut personil-personil
yang dapat melaksanakan program dan diperhitungkan sebaga sumber. Evaluasi masukan
membutuhkan evaluator yang memiliki pengetahuan luas tentang berbagai kemungkinan
sumber dan strategi. Menurut Stufflebeam pertanyaan yang berkenaan dengan masukan
mengarah pada pemecah masalah yang mendorong terselenggaranya program yang
bersangkutan.
c. Evaluasi proses
Meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan (dirancang) dan diterapkan didalam
praktek (operasi). Seorang penilaian proses mungkin disebut sebagai monitor sistem
pengumpul data dari pelaksanaan sehari-hari. Misalnya saja evaluator harus mencatat
kedatangan (presensi) para peserta penataran yang diadakan secara sukarela. Tanpa
mengetahui catatan tentang data pelaksanaan program tidaklah mungkin mengambil
keputusan menentukan tindak lanjut program apabila waktu berakhir telah tiba.
Tugas lain dari penilaian proses adalah melihat catatan kejadian-kejadian yang muncul
selama program berlangsung dari waktu kewaktu. Catatan-catatan semacam itu barangkali
akan sangat berguna dalam menentukan kelemahan dan kekuatan atau faktor pendukung serta
faktor penghambat program. Suatu program yang baik (yang pantas untuk dinilai) tentu sudah
dirancang mengenai siapa yang diberi tanggung jawab dalam pembagian, apa bentuk
kegiatannya, dan bila mana kegiatan tersebut sudah terlaksana. Tujuannya adalah membantu
penanggung jawab pemantauan atau monitor agar lebih mudah mengetahui kelemahan-
kelemahan program dari berbagai aspek untuk kemudian dapat dengan mudah melakukan
remedi.
Evaluasi proses dalam model CIPP menunjukkan “apa” (what) kegiatan yang dilakukan
dalam program, “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program,
“kapan” (when) kegiatan akan selesai. Dalam model CIPP, evaluasi proses diarahkan kepada
seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan didalam program sudah terlaksana sesuai dengan
rencana.
d. Evaluasi produk atau hasil
Penilaian yang dilakukan oleh penilai dalam mengukur keberhasilan pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan. Pengukuran tujuan tersebut dikembangkan dan diadministrasikan. Data yang
dihasilkan dan sangat berguna bagi administrator dalam menentukan apakah program
diteruskan, dimodifikasi atau dihentikan.
Evaluasi hasil berfungsi membantu penanggung jawab program dalam mengambil keputusan:
meneruskan, memodifikasi, atau menghentikan program. Evaluasi hasil memerlukan
perbandingan antara hasil program dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hasil yang dinilai
dapat berupa skor tes, data observasi, diagam data.

7) Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus
Evaluasi kesenjangan program, begitu orang menyebutnya. Kesenjangan program adalah
sebagai suatu keadaan antara yang diharapkan dalam rencana dengan yang dihasilkan dalam
pelaksanaan program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
kesesuaian antara standard yang sudah ditentukan dalam program dengan penampilan aktual
dari program tersebut.
Langkah Langkah dalam Evaluasi Kesenjangan
Langkah-langkah atau tahap-tahap yang dilalui dalam mengevaluasi kesenjangan adalah
sebagai berikut:
1. Pertama : Tahap Penyusunan Desain.
Dalam tahap ini dilakukan kegiatan
a. Merumuskan tujuan program
b. Menyiapkan murid, staf dan kelengkapan lain
c. Merumuskan standar dalam bentuk rumusan yang menunjuk pada suatu yang dapat diukur,
biasa di dalam langkah ini evaluator berkonsultasi dengan pengembangan program.
2. Kedua : Tahap Penetapan Kelengkapan Program Yaitu melihat apakah kelengkapan yang
tersedia sudah sesuai dengan yang diperlukan atau belum. Dalam tahap ini dilakukan
kegiatan
a. Meninjau kembali penetapan standar
b. Meninjau program yang sedang berjalan
c. Meneliti kesenjangan antara yang direncanakan dengan yang sudah dicapai.
3. Ketiga : Tahap Proses (Process)
Dalam tahap ketiga dari evaluasi kesenjangan ini adalah mengadakan evaluasi, tujuan tujuan
manakah yang sudah dicapai. Tahap ini juga disebut tahap “mengumpulkan data dari
pelaksanaan program”.
4. Keempat : Tahap Pengukuran Tujuan (Product)
Yakni tahap mengadakan analisis data dan menetapkan tingkat output yang diperoleh.
Pertanyaan yang diajukan dalam tahap ini adalah .apakah program sudah mencapai tujuan
terminalnya?”
5. Kelima : Tahap Pembandingan (Programe Comparison)
Yaitu tahap membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam tahap ini evaluator menuliskan semua penemuan kesenjangan untuk disajikan kepada
para pengambil keputusan, agar mereka (ia) dapat memutuskan kelanjutan dari program
tersebut. Kemungkinannya adalah a. Menghentikan program b. Mengganti atau merevisi c.
Meneruskan d, Memodifikasi tujuannya (?)
Standar adalah: kriteria yang telah dikembangkan dan ditetapkan dengan hasil yang efektif.
Penampilan adalah: sumber, prosedur, manajemen dan hasil nyata yang tampak ketika
program dilaksanakan. Kunci dari evaluasi discrepancy adalah dalam hal membandingkan
penampilan dengan tujuan yang telah ditetapkan.

DELAPAN ELEMEN BUDAYA MUTU
BAB I

PENDAHULUAN



Di era sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin
canggih dan terus mengglobal sehingga berdampak pada hampir semua kehidupan umat
manusia di muka bumi dewasa ini. Semakin berkembangnya IPTEK tersebut manusia
dituntut untuk semakin maju pula. Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu
prioritas pembangunan di bidang pendidikan nasional dewasa ini dan mendatang. Prioritas ini
didasarkan pada kebijaksanaan sebelumnya yang lebih menekankan kepada perluasan dan
kesempatan belajar sehingga mutunya sedikit terabaikan. Selain itu, tentunya tuntutan
terhadap mutu pendidikan semakin kuat sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan di
setiap sektor kehidupan di masa kini dan mendatang.

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan kini sebenarnya telah, sedang dan akan
terus dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan. Mulai dari peningkatan kualitas
pendidikan pra sekolah, dasar, menengah sampai dengan perguruan timggi. Salah satu upaya
yang dewasa ini sedang disosialisasikan dan dianggap tepat adalah melalui Total Quality
Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Esensi dari TQM adalah suatu
filosofi dan menunjuk pada perubahan budaya dalam suatu organisasi (pendidikan), serta
dapat menyentuh hati dan pikiran orang menuju mutu yang diidamkan.
Konsep Total Quality Management (TQM) dikembangkan pertama kali pada tahun 1950-an
(setelah berakhirnya Perang Dunia II) oleh seorang ilmuwan AS bernama Dr. W. Edwards
Deming, dalam rangka memperbaiki mutu dari produk dan pelayanan yang dihasilkan oleh
industri-industri di Amerika Serikat. Dr. Deming adalah salah seorang ahli statistik terkenal
di AS, pada saat itu konsep ini tidak begitu diperhatikan secara serius oleh bangsa Amerika
sampai akhirnya Dr. Deming ditugaskan ke Jepang bersama sejumlah tenaga ahli AS lainnya.
Para ahli tersebut dikirim oleh pemerintah AS dalam rangka membawa pengaruh barat ke
Jepang. Di Jepang ia kemudian mengadakan diskusi-diskusi dan seminar-seminar tentang
prinsip-prinsip efisiensi industri, dimana diskusi ini diikuti secara serius oleh 45 orang CEO
dari perusahaan-perusahaan di Jepang.

Bagian penting TQM yang sulit penerapannya adalah menciptakan, memelihara, dan menjaga
keberlangsungan budaya TQM. Sebelumnya apakah yang disebut budaya mutu? Apa saja
elemen-elemennya? Dan bagaimanakah hubungan antara budaya mutu ini dengan TQM?
Pertanyaan ini akan menuju pada inti pendekatan TQM. Dalam makalah ini akan membahas
tentang sifat dari budaya TQM.

BAB II

ELEMEN BUDAYA MUTU




Sebagian besar ilmuan sosial yang melakukan studi tentang organisasi setuju bahwa budaya
itu berasal atau bahkan terdiri dari kepercayaan atau nilai yang mendasar. Kepercayaan dan
nilai ini biasanya diciptakan dan diekspresikan oleh pemimpin dan di tularkan pada
anggotanya.

Kepercayaan memberikan pernyataan “Jika….. maka……” jika melakukan sesuatu maka
akan mengakibatkan sesuatu yang lain. Sedangkan nilai diartikan sebuah proses yang harus
dikontrol untuk menetukan tiga hal, yaitu:

   1. Performa yang luar biasa
   2. Memproduksi barang yang baik dan memberikan servis yang bermutu tinggi

Nilai yang pertama merupakan nilai yang sulit dilaksanakan secara maksimal dalam sebuah
organisasi. Sedangkan nilai yang kedua merupakan nilai yang berhubungan secara langsung
dengan adaptasi dan pencapaian tujuan organisasi serta berhubungan tidak langsung terhadap
koordinasi dan aktivitas kerja yang efektif. Kepercayaan dan nilai merupakan hal yang
paling penting ketika menghadapi tiga bidang krusial dalam organisasi fungsional, seperti:
penyesuaian terhadap perubahan, pencapaian tujuan, dan pengkoordinasian tenaga kerja.

Nilai dan kepercayaan yang membangun budaya TQM meyakinkan bahwa anggota
organisasi kerjasama untuk menyelesaikan kerja mereka dengan tujuan utama: Kualitas untuk
pelanggan. Apabila TQM berguna untuk membangun elemen integral dari budaya organisasi,
Seperangkat nilai dan kepercayaan merupakan bagian terpenting dari budaya tersebut. Nilai
dan kepercayaan mengingatkan pada kita yang benar dan yang salah (if….then…).
Bentuk budaya sangat komplek. Dalam membentuk budaya organisasi, kepercayaaan dan
nilai saling mendukung dan melengkapi satu sama lain. Agar dapat dimengerti dengan baik,
budaya TQM ini dibagi menjadi delapan elemen penting yaitu sebagai berikut:

    1.   Etika
    2.   Integritas (kejujuran)
    3.   Kepercayaan
    4.   Pelatihan (training)
    5.   Kerja tim (team work)
    6.   Kepemimpinan (leadership)
    7.   Penghargaan (recognition)
    8.   Komunikasi



TQM telah diciptakan untuk menggambarkan sebuah filsafat yang menjadikan mutu sebagai
tenaga penggerak di belakang kepemimpinan, desain, perencanaan, dan inisiatif perbaikan.
Untuk hal itu, TQM membutuhkan bantuan dari kedelapan elemen kunci di atas. Elemen-
elemen ini selanjutnya dapat dikelompokkan lagi ke dalam empat bagian berdasarkan
fungsinya dalam membentuk struktur bangunan TQM. Keempat bagian tersebut adalah:

I. Pondasi – mencakup: etika, integritas dan kepercayaan

II. Batu Bata – mencakup: pelatihan, kerja tim, dan kepemimpinan

III. Campuran Semen Pengikat – mencakup: komunikasi

IV. Atap – mencakup: Penghargaan

PONDASI

TQM dibangun di atas pondasi yang terdiri dari etika, integritas dan kepercayaan. Ketiga hal
tersebut membantu perkembangan keterbukaan, keadilan dan ketulusan, serta menghargai
keterlibatan semua individu. Etika, integritas dan kepercayaan merupakan kunci untuk
membuka potensi pokok dari TQM. Ketiga elemen ini bergerak bersama-sama, namun
demikian, setiap elemen menyumbangkan sesuatu yang berbeda dalam konsep TQM.

1. Etika

Etika adalah disiplin yang terkait dengan kebaikan dan keburukan dalam berbagai situasi. Ia
merupakan dua sisi mata uang yang dilambangkan oleh etika organisasi dan etika individu.
Etika organisasi membentuk sebuah kode etik bisnis yang menguraikan petunjuk bagi semua
anggotanya dan harus melekat dalam pekerjaan sehari-hari mereka. Sedangkan etika individu
mencakup kebenaran dan kesalahan perseorangan.

2. Integritas

Integritas mencakup kejujuran, moral, nilai-nilai, keadilan, dan kesetiaan terhadap kebenaran
dan keikhlasan. Karakteristiknya adalah bahwa apa yang diharapkan oleh pelanggan
(internal/eksternal) dan apa yang memang layak untuk mereka terima. Lawan dari integritas
adalah sikap bermuka dua (munafik), dan TQM tidak akan dapat bekerja dengan baik dalam
suasana tersebut.

3. Kepercayaan

Kepercayaan adalah produk dari integritas dan prilaku yang beretika. Tanpa kepercayaan,
kerangka kerja dari TQM tidak dapat dibangun. Kepercayaan membantu perkembangan
partisipasi penuh dari semua anggota organisasi. Ia memperkenankan aktifitas pemberian
wewenang yang mendorong kebanggaan turut memiliki perusahaan dan juga komitmen. Ia
memberi peluang dilakukannya pengambilan keputusan pada semua level dalam organisasi,
mengembangkan penanganan resiko oleh tiap-tiap individu untuk perbaikan berkelanjutan
dan membantu dalam menjamin bahwa ukuran-ukuran yang digunakan terpusat pada
perbaikan proses dan tidak digunakan untuk melawan pendapat orang lain. Kepercayaan
adalah sifat dasar untuk menjamin kepuasan pelanggan. Jadi, kepercayaan membangun
lingkungan yang kooperatif (saling bekerjasama) sebagai dasar untuk TQM.

BATU BATA

Dengan didasari oleh pondasi yang kuat dari etika, integritas, dan kepercayaan, selanjutnya
batu bata untuk membangun dinding TQM bisa diletakkan diatasnya sampai pada dasar atap
dari pengakuan atau penghargaan, dimana batu bata itu meliputi:

4. Pelatihan (training)

Training sangat penting artinya bagi karyawan organisasi agar bisa menjadi lebih produktif.
Disamping itu para Supervisor mesti bertanggungjawab dalam menerapkan TQM di
departemennya, termasuk mengajarkan filsafat dasar dari TQM kepada semua bawahannya.
Training yang biasanya dibutuhkan oleh para karyawan dalam mendukung penerapan TQM
antara lain; kemampuan interpersonal, kecakapan bekerjasama dalam tim, penyelesaian
masalah, pengambilan keputusan, analisa dan perbaikan kinerja pengelolaan pekerjaan,
ekonomi bisnis, dan keterampilan teknis. Pada saat penciptaan dan pembentukan TQM, para
karyawan hendaknya segera dilatih agar mereka dapat menjadi karyawan yang efektif bagi
perusahaan.

Gambar 1. Struktur Bangunan Total Quality Management

5. Kerjasama tim

Kerjasama tim juga merupakan sebuah elemen kunci dari TQM, yang menjadi alat bagi
organisasi dalam mencapai kesuksesan. Dengan menggunakan tim kerja, organisasi akan
dapat memperoleh penyelesaian yang cepat dan tepat terhadap semua masalah. Suatu tim
biasanya juga memberikan perbaikan-perbaikan permanen dalam proses dan operasi-operasi.
Dalam sebuah tim, orang-orang merasa lebih nyaman untuk mengajukan masalah-masalah
yang terjadi dan dapat dengan segera memperoleh bantuan dari pekerja-pekerja lainnya
berupa solusi-solusi yang akan digunakan untuk menanggulangi masalah-masalah yang
dihadapi. Secara umum terdapat tiga jenis tim yang diadopsi oleh organisasi TQM:

a) Tim Perbaikan Mutu (Quality Improvement Teams atau QITs)
Jenis ini merupakan bentuk tim sementara yang dibentuk untuk menyelesaikan suatu masalah
spesifik yang sering terjadi berulang-ulang. Tim ini biasanya dibentuk untuk periode tertentu
antara 3 sampai 12 bulan.

b) Tim Penyelesaian Masalah (Problem Solving Teams atau PSTs)

Jenis ini juga merupakan bentuk tim sementara yang dibentuk untuk memecahkan masalah-
masalah tertentu dan juga untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyebab dari masalah-
masalah tersebut. Umumnya tim ini dibentuk untuk masa kerja 1 minggu sampai 3 bulan.

c) Tim Kerja Biasa (Natural Work Teams atau NWTs)

Jenis ini terdiri dari sejumlah grup-grup kecil dari pekerja-pekerja terampil yang saling
berbagi tugas dan tanggungjawab. Tim ini menggunakan konsep-konsep seperti keterlibatan
semua karyawan, pengaturan mandiri dan lingkaran mutu (quality circles). Tim-tim ini
biasanya bekerja untuk jangka waktu 1 sampai 2 jam per minggu.

6. Kepemimpinan

Kepemimpinan mungkin merupakan hal yang paling penting dalam TQM. Ia muncul pada
semua tempat dalam organisasi. Kepemimpinan dalam TQM membutuhkan Manager-
Manager yang dapat memberikan pandangan atau visi yang dapat memberikan ilham,
membuat arahan strategis yang dapat dimengerti oleh semua orang dan menanamkan nilai-
nilai sebagai pedoman bagi bawahannya.

Agar TQM bisa berhasil diterapkan dalam organisasi, para Supervisor juga harus secara
sungguh-sungguh memimpin bawahannya. Seorang Supervisor harus mengerti TQM, percaya
akan kegunaannya dan kemudian menunjukkan kesungguhan dan kepercayaannya itu dalam
mempraktekkan TQM setiap hari. Para Supervisor harus memastikan bahwa strategi, filsafat
dasar, nilai-nilai dan sasaran-sasaran mutu telah disampaikan kepada bawahannya
disepanjang organisasi untuk menghasilkan fokus, kejelasan dan arah dari TQM.

Kunci terpenting adalah bahwa TQM harus diperkenalkan dan dipimpin oleh manajemen
puncak. Komitmen dan keterlibatan personal dari manajemen puncak dibutuhkan dalam
rangka penciptaan dan penyebaran nilai-nilai dan sasaran-sasaran mutu yang jelas dan
bersesuaian dengan sasaran-sasaran dari perusahaan, serta penciptaan dan penyebaran sistem
yang terdefinisi dengan baik, metoda-metoda dan pengukur kinerja untuk mengukur
pencapaian sasaran-sasaran tersebut.

CAMPURAN SEMEN PENGIKAT

7. Komunikasi

Komunikasi akan mengikat segala sesuatu secara bersama-sama. Dimulai dari pondasi
sampai ke atap dari suatu bangunan TQM, semua elemen diikat oleh campuran semen
pengikat berupa komunikasi. Ia bertindak sebagai sebuah mata rantai penghubung antara
semua elemen TQM. Komunikasi berarti sebuah pemahaman bersama terhadap satu atau
sekelompok ide-ide antara pengirim dan penerima informasi. TQM yang sukses menuntut
komunikasi dengan, dan/atau diantara, semua anggota organisasi, pemasok dan juga
pelanggan.
Para Supervisor harus memelihara keterbukaan dari arus komunikasi dimana seluruh
karyawannya dapat mengirim dan menerima semua informasi tentang proses-proses TQM.
Adalah suatu hal yang vital bahwa komunikasi harus dirangkai dengan penyampaian
informasi yang benar bukan dengan informasi yang keliru. Supaya komunikasi bisa menjadi
sesuatu yang dapat dipercaya maka pesan yang disampaikan harus jelas dan penerima
informasi harus memiliki penafsiran yang sama dengan apa yang dimaksud pengirimnya.

ATAP

8. Penghargaan

Penghargaan adalah elemen terakhir dari keseluruhan sistem TQM. Ia sebaiknya diberikan
untuk saran-saran dan pencapaian-pencapaian yang memuaskan baik dihasilkan oleh suatu
tim ataupun individu. Para karyawan akan didorong untuk berusaha keras memperoleh
penghargaan untuk dirinya dan untuk timnya. Menemukan dan mengenal para kontributor
dari saran-saran dan pencapaian-pencapaian yang baik tersebut merupakan tugas dari seorang
Supervisor. Begitu para kontributor ini dihargai, mereka akan dapat mengalami perubahan
yang sangat besar dalam hal penghargaan-diri, produktivitas, mutu dan jumlah karya, yang
pada akhirnya mendorong seseorang untuk berusaha lebih giat dalam tugas sehari-harinya.
Penghargaan datang dalam bentuk terbaiknya jika saran-saran tersebut diikuti oleh sebuah
tindakan langsung untuk mencapai hasil yang baik oleh kontributor tersebut.

BAB III

PENERAPAN BUDAYA MUTU DALAM PENDIDIKAN

Pada zaman globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang
semakin canggih terus menggelobal dan berdampak pada hampir semua sistem kehidupan
umat manusia di muka bumi dewasa ini. Lembaga pendidikan sebagai organisasi merupakan
salah satu sistem juga tidak dapat terhindar dampak dari kemajuan tersebut, dengan demikian
maka disetiap lembaga pendidikan dituntut untuk dapat mengantisipasi berbagai perubahan-
perubahan tersebut.

Keberadaan TQM yang digunakan dalam penerapan di dunia bisnis menuai hasil yang sangat
signifikan, sehingga TQM memiliki daya tarik tersendiri, untuk bisa diaplikasikan pada
objek-objek kelembagaan atau organisasi yang lain, baik dalam bidang politik, sosial,
termasuk dalam dunia pendidikan. Hal ini dalam rangka efektivitas dan hasil yang baik
sebagai target yang diidam-idamkan.

Secara filosofis manajemen pendidikan seperti ini menekankan pada kepuasan pelanggan,
layaknya sebuah perusahaan yang selalu mengutamakan kepuasan pelanggan (customer).
Yakni, institusi memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan apa yang diinginkannya. Pelayanan yang diberikan kepada pelanggan tentunya
haruslah bermutu sehingga dapat memuaskan pelanggan. Dengan demikian institusi selalu
dituntut untuk memperbaiki kualitas mutu pendidikan demi tercapainya mutu yang baik dan
kepuasan pelanggan.

Pelanggan dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu pelanggan dalam (internal customer)
dan pelanggan luar (external customer). Yang termasuk pelanggan dalam di dunia pendidikan
adalah pengelola institusi pendidikan seperti guru, staff dan penyelenggara institusi. Adapun
pelanggan luarnya adalah mayarakat (pelajar), pemerintah dan dunia pendidikan. Jadi, suatu
institusi pendidikan dikatakan bermutu apabila kepuasan pelanggan dalam dan pelanggan luar
telah terpenuhi.

Oleh karena itu, untuk memposisikan instusi pendidikan seperti industri jasa, maka harus
memenuhi standar mutu Total Quality Management, serta harus memenuhi spesifikasi yang
telah ditetapkan. Secara operasional mutu dapat ditentukan oleh dua faktor, yaitu
terpenuhinya semua spesifikasi yang telah ditetapkan dan sesuai dengan kebutuhan pengguna
jasa. Menurut Edward Sallis (2008: 7) yang pertama dapat disebut quality infect (mutu
sesungguhnya) dan kedua disebut quality in perception (mutu persepsi).

Dalam dunia pendidikan quality infect dapat diukur dengan kemampuan dasar yang dikuasai
oleh peserta didik dan kualifikasi akademik lulusan institusi pendidikan terkait. Sedangkan
quality in perception dapat diukur dengan kepuasan dan bertambahnya minat pelanggan
eksternal terhadap lulusan dari institusi pendidikan tersebut.

Selanjutnya dalam operasi Total Quality Management in Education perlu diperhatikan
beberapa hal pokok sebagai konsep yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan
mutu pendidikan. Adapun hal-hal yang pokok tersebut adalah pertama, perbaikan secara
terus menerus (continuous improvement). Konsep ini mengandung pengertian bahwa pihak
pengelola pendidikan hendaknya senantiasa mengadakan perbaikan-perbaikan guna
tercapainya mutu pendidikan yang benar-benar berkualitas sebagaimana yang diharapkan.
Adapun perbaikan tersebut membutuhkan introspeksi agar setiap kesalahan yang didapat
dalam perjalanannya diketahui dan kemudian terus diperbaiki.

Kedua, menentukan standar mutu (quality assurance). Ini merupakan konsep mendasar untuk
menentukan apakah pendidikan dikatakan bermutu atau tidak tergantung pada standar mutu
yang telah ditentukan oleh pihak pengelola institusi pendidikan. Penentuan standar mutu
harus memenuhi seluruh aspek yang terdapat dalam pendidikan, mulai dari tujuan hingga
pada kurikulum pendidikan yang digunakan dalam institusi tersebut. Selain itu juga perlu
ditentukan standar evaluasi yang bisa dijadikan sebagai alat untuk mancapai kemampuan
dasar pada peserta didik.

Dan standar mutu proses pembelajaran di sini juga harus menjadi perhatian besar bagi
pengelola pendididikan. Seperti, model pembelajaran yang digunakan di sini menurut Dr. A.
Ali Riyadi minimal memenuhi beberapa karakteristik, yaitu menggunakan pendekatan
pembelajaran aktif (student active learning), pembelajaran koperatif dan kolaboratif,
pembelajaran konstuktif, dan pembelanjaran tuntas (mastery learning).

Ketiga, perubahan kultur (change of culture). Konsep ini bertujuan untuk membentuk dan
menanamkan kesadaran kepada seluruh pengurus dan pengelola institusi pendidikan. Di sini
pemimpin dituntut untuk terus memotivasi anggotanya agar tetap semangat dan senantiasa
menjaga hubungan baik satu sama lain di dalam organisasi intistusi pendidikan.

Keempat, perubahan organisasi (up-down organization). Dalam mata rantai dan sturktur
organisasi tradisional pada umumnya pemimpin atau menajer tertinggilah yang mempunyai
kekuasaan penuh dan berhak memerintahkan apa saja kepada bawahan. Akan tetapi menurut
Edward Sallis (2008: 80) pada kultur organisasi Total Quality Management (TQM) ini bisa
digambarkan seperti piramida terbalik, yang paling teratas dalam struktur tersebut adalah
     pelajar. Dengan demikian, manajer senior tugasnya hanyalah memberikan dukungan dan
     wewenang kepada pelajar, bukan memerintahnya.

     Kelima, menjaga hubungan baik dengan pelanggan (keeping close to be customer). Karena
     organisasi pendidikan mengedapankan kepuasan pelanggan, maka para pengelola dituntut
     untuk selalu menjaga hubungan baik dengan masayrakat dan pelajar. Jika tidak ada hubungan
     yang baik di antara mereka maka mustahil akan terjadi kepuasan pada pelanggan.

     Lima faktor pokok di atas hendaknya menjadi perhatian besar bagi para praktisi pendidikan
     yang menginginkan untuk menerapkan Total Quality Management in Education. Sebab, jika
     lima hal pokok di atas tidak dilaksanakan dengan baik, maka mutu pendidikan yang
     diinginkan oleh para pelanggan tidak akan tercapai. Selain itu, perlu disadari menjalankan
     roda organisasi dalam pendidikan memerlukan manajemen dan pengaturan yang baik. TQM
     adalah salah satu model manajemen dalam pendidikan berbasis industri yang dapat
     dikembangkan dalam pendidikan.

     Materi Pelatihan



               STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)
                        A. PENGGUNAAN ALAT DI LABORATORIUM
      1. TUJUAN
      Prosedur ini dibuat untuk kegiatan penggunaan alat dalam kegiatan praktikum di
      laboratorium.
      2. RUANG LINGKUP
2.1 Prosedur ini berlaku untuk kegiatan praktikum siswa di laboratorium di lingkungan sekolah.
2.2 Prosedur ini berlaku untuk kegiatan praktikum rutin, penggunaan alat untuk penelitian siswa
      maupun guru dan pengguna dari pihak lain.
      3. DEFINISI
            Alat adalah kumpulan peralatan/perkakas yang digunakan dalam menunjang kegiatan
            praktikum di laboratorium.
      4. WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB
      4.1 Kepala Laboratorium bertanggung jawab terhadap pelaksanaan prosedur ini.
      4.2 Teknisi/Laboran bertanggung jawab atas perawatan, penyimpanan, pendistribusian alat,
            dan pemeriksaan alat.
      4.3 Siswa bertanggung jawab terhadap penggunaan alat dalam kegiatan praktikum dan
      guru pembimbing mengawasi dan mengontrol penggunaan alat dalam kegiatan praktikum.
      5. BAHAN ACUAN
      5.1 UU Nomor: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
      5.2 UU RI Nomor: 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
      5.3 PP Nomor: 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
      6. PROSEDUR
      6.1 Sebelum Praktik
6.1.1 Kepala laboratorium, teknisi dan analis/laboran mengadakan rapat membahas kesiapan
      kegiatan praktik dua pekan sebelum kegiatan praktikum untuk siswa dilakukan;
6.1.2 Kepala Laboratorium bersama dengan teknisi/laboran mengecek kesiapan dan kelayakan alat
      yang akan digunakan satu pekan sebelum kegiatan praktikum dimulai.
6.1.3 Kepala dan penanggung jawab laboratorium mengecek kesiapan LKS yang akan digunakan
      untuk kegiatan praktikum;
6.1.4 Laboran menyerahkan daftar bon alat kepada siswa/gosen untuk diisi alat apa yang akan
      dipinjam;
      6.1.5 Laboran menyerahkan alat kepada ketua dan anggota kelompok siswa;
6.1.6 Siswa (ketua kelompok)/dosen bersama dengan teknisi/analis/laboran bersama-sama
      mengecek kelayakan alat yang dipinjam. Jika terjadi ketidaklayakan alat akan dikembalikan
      kepada laboran/teknisi dan dicatat dalam buku kerusakan alat.
6.1.7 Guru praktikum diwajibkan mengisi Berita Acara Praktikum yang diketahui oleh
      penanggungjawab laboratorium sebelum melakukan praktikum.
      6.2 Selama Praktik
      6.2.1 Sebelum masuk praktik siswa harus menggunakan jas praktik sesuai dengan
            ketentuan dan tidak membawa tas masuk ke laboratorium.
6.2.2 Siswa harus mengisi buku daftar hadir yang telah disiapkan mulai jam praktik sampai dengan
      selesainya praktik.
6.2.3 Guru menjelaskan cara penggunaan alat kepada siswa praktikan baik yang standart maupun
      yang dipinjam sesuai dengan fungsinya;
6.2.4 Siswa menggunakan alat sesuai dengan fungsi dan petunjuk praktik dan diamati oleh guru
      pembimbing.
      6.3 Selesai Praktik
6.3.1 Siswa membersihkan alat yang telah digunakan dan mengembalikannya kepada
      teknisi/laboran;
      6.3.2 Teknisi/Laboran memeriksa kelayakan alat jika rusak/hilang maka teknisi/laboran
            mencatat sebagai alat yang ditinggalkan yang harus diganti oleh peminjam.
      6.4 Lain-Lain
      6.4.1 Sebelum menggunakan alat-alat praktikum,          siswa harus memahami petunjuk
            penggunaan alat itu, sesuai dengan petunjuk penggunaan yang diberikan atau
            disampaikan oleh penanggungjawab praktikum;
6.4.2 Siswa harus memperhatikan dan mematuhi peringatan (warning) yang biasa tertera pada
      badan alat;
      6.4.3 Siswa harus memahami fungsi atau peruntukan alat-alat praktikum dan
            menggunakan alat-alat tersebut hanya untuk aktivitas yang sesuai fungsi atau
            peruntukannya. Menggunakan alat praktikum di luar fungsi atau peruntukannya
            dapat menimbulkan kerusakan pada alat tersebut dan bahaya keselamatan praktikan;
      6.4.4 Siswa harus memahami spesifikasi dan jangkauan kerja alat-alat praktikum dan
            menggunakan alat-alat tersebut sesuai spesifikasi dan jangkauan kerjanya.
            Menggunakan alat praktikum di luar spesifikasi dan jangkauan kerjanya dapat
            menimbulkan kerusakan pada alat tersebut dan bahaya keselamatan praktikan;
6.4.5 Seluruh peralatan praktikum yang digunakan harus dipastikan aman dari benda/logam tajam,
      api/ panas berlebih atau lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan pada alat tersebut;
      6.4.6 Tidak melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan kotor, coretan, goresan atau
            sejenisnya pada badan alat-alat praktikum yang digunakan.


                    B. PANDUAN UMUM KESELAMATAN PENGGUNAAN
                               PERALATAN LABORATORIUM
     1. KESELAMATAN
     Pada prinsipnya, untuk mewujudkan praktikum yang aman diperlukan partisipasi seluruh
     praktikan dan penanggung jawab praktikum yang bersangkutan. Dengan demikian, kepatuhan
     setiap praktikan terhadap uraian panduan pada bagian ini akan sangat membantu
     mewujudkan praktikum yang aman.
     2. BAHAYA LISTRIK
     2.1. Perhatikan dan pelajari tempat-tempat sumber listrik (stop-kontak dan circuit breaker)
     dan cara menyala-matikannya. Jika melihat ada kerusakan yang berpotensi menimbulkan
     bahaya, laporkan pada asisten/penanggung jawab praktikum.
2.2. Hindari daerah atau benda yang berpotensi menimbulkan bahaya listrik (sengatan listrik/
     strum) secara tidak disengaja, misalnya kabel jala-jala yang terkelupas dll.
     2.3. Tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya listrik pada diri sendiri atau
           orang lain.
     2.4. Keringkan bagian tubuh yang basah karena, misalnya, keringat atau sisa air wudhu
     2.5. Selalu waspada terhadap bahaya listrik pada setiap aktivitas praktikum.
           Kecelakaan akibat bahaya listrik yang sering terjadi adalah tersengat arus listrik.
     Berikut ini adalah hal-hal yang harus diikuti praktikan jika hal itu terjadi:
 • Jangan panik.
 • Matikan semua peralatan elektronik dan sumber listrik di meja masing-masing dan di meja
     praktikan yang tersengat arus listrik.
 •    Bantu praktikan yang tersengat arus listrik untuk melepaskan diri dari sumber listrik.
 • Beritahukan dan minta bantuan asisten, praktikan lain dan orang di sekitar anda tentang
     terjadinya kecelakaan akibat bahaya listrik
     3. BAHAYA API ATAU PANAS BERLEBIH
     3.1. Jangan membawa benda-benda mudah terbakar (korek api, gas dll.) ke dalam ruang
           praktikum bila tidak disyaratkan dalam modul praktikum.
     3.2. Jangan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan api, percikan api atau panas yang
           Berlebihan.
     3.3. Jangan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya api atau panas berlebih
           pada diri sendiri atau orang lain.
     3.4. Selalu waspada terhadap bahaya api atau panas berlebih pada setiap aktivitas praktikum
     Berikut ini adalah hal-hal yang harus diikuti praktikan jika menghadapi bahaya api atau
     panas berlebih:
 • Jangan panik.
 • Beritahukan dan minta bantuan asisten/penanggungjawab praktikum, praktikan lain dan
     orang di sekitar anda tentang terjadinya bahaya api atau panas berlebih.
 • Matikan semua peralatan elektronik dan sumber listrik di meja masing-masing.
 • Menjauh dari ruang praktikum.
     4. BAHAYA BENDA TAJAM DAN LOGAM
     4.1. Dilarang membawa benda tajam (pisau, gunting dan sejenisnya) ke ruang praktikum
           bila tidak diperlukan untuk pelaksanaan percobaan.
     4.2. Dilarang memakai perhiasan dari logam misalnya cincin, kalung, gelang dll.
     4.3. Hindari daerah, benda atau logam yang memiliki bagian tajam dan dapat melukai.
4.4. Tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan luka pada diri sendiri atau orang lain.
     5. LAIN- LAIN
     5.1. Dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam ruang praktikum dan sekitar
           area ruang praktikum.
     5.2. Dilarang merokok di dalam ruang praktikum.
     6. SANKSI
           Pengabaian uraian panduan di atas dapat dikenakan sanksi tidak lulus mata kuliah
           praktikum yang bersangkutan.
                        C. PEMINJAMAN ALAT/BARANG/SARANA
                           DAN PRASARANA LABORATORIUM
    1. TUJUAN
    SOP Peminjaman Alat /Barang /Sarana dan Prasarana yang dimiliki oleh Laboratorium
    Sekolah dalam hal pertanggungjawabannya di pegang oleh Kepala Laboratorium dan dibantu
    oleh masing-masing Penanggungjawab Laboratorium. SOP ini ditujukan untuk menjelaskan
    hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan dalam meminjam inventaris alat/barang /
    sarana dan prasarana dibawah pertanggungjawaban Kepala Laboratorium dan
    Penanggungjawab Laboratorium yang selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan.
    2. PROSEDUR
    Prosedur peminjaman alat / barang / sarana dan prasarana ini meliputi kegiatan-kegiatan :
          A. Pengajuan Surat Permohonan Peminjaman
    Alat/Barang/Sarana dan Prasarana yang dimiliki oleh Sekolah dan yang menjadi tanggung
    jawab Kepala Laboratorium dan Penanggungjawab Laboratorium, pada dasarnya dapat
    dipergunakan oleh semua civitas akademika Sekolah. Oleh karena itu semua civitas
    akademika yang ingin mempergunakan alat/barang/sarana dan prasarana yang menjadi
    tanggung jawab Kepala Laboratorium dan Penanggungjawab Laboratorium tersebut, haruslah
    mengajukan permohonan peminjaman alat/barang/sarana dan prasarana tersebut yang
    ditujukan kepada Kepala Laboratorium Sekolah.
            Surat Permohonan Pinjaman minimal berisi :
  Nama Peminjam
  Jabatan Peminjam
  Bagian Peminjam
  Alamat Peminjam (Alamat Kampus, Ruang)
  Keperluan Pinjaman : acara, waktu & tempat
  Lama peminjaman
  Nama Barang yang akan dipinjam dan jumlahnya
         B. Pengesahan Permohonan Pinjaman
    Alat/Barang/Sarana dan Prasarana milik Laboratorium Sekolah yang akan dipinjam tersebut,
    setelah melalui tahap pertama yaitu pengajuan surat permohonan pinjaman yang ditujukan
    kepada Penanggung Jawab Laboratorium akan segera ditindaklanjuti.
    Penanggung Jawab Laboratorium akan memeriksa kebenaran surat permohonan pinjaman
    tersebut dan Penanggung Jawab Laboratorium mempunyai hak kuasa penuh untuk menerima
    dan menolak setiap surat permohonan pinjaman yang masuk terutama melihat kepentingan
    peminjaman alat/barang/sarana dan prasarana, dan diketahui oleh Kepala Laboratorium.
    Namun selama permohonan peminjaman tersebut untuk keperluan kegiatan Sekolah dan
    bukan untuk kepentingan pribadi, maka permohonan peminjaman tersebut akan diterima.
    Pemohon yang tertulis dalam surat permohonan peminjaman menjadi penanggung jawab
    terhadap alat/barang/sarana dan prasarana yang dipinjamnya.
         C. Pengisian Surat Pinjaman
    Tahapan ketiga adalah pengisian surat pinjaman bagi yang surat permohonan pinjaman telah
    di periksa dan disetujui oleh penanggung jawab Laboratorium dan diketahui oleh Kepala
    Laboratorium.
         D. Penyerahan Pinjaman dan Pengecekan Awal
    Tahapan keempat adalah setelah pemohon peminjaman mengisi surat bukti peminjaman
    yang terlihat pada gambar diatas, maka langkah selanjutnya adalah menerima alat / barang /
    sarana dan prasarana yang dipinjam tersebut dan melakukan pengecekan awal terhadap
    semua barang yang dipinjam. Kemudian pemohon dapat mempergunakan alat / barang /
    sarana dan prasarana pinjaman tersebut untuk keperluan yang dimaksud dan bertanggung
    jawab penuh terhadap alat / barang / sarana dan prasarana pinjaman tersebut.
         E. Pengembalian Pinjaman dan Pengecekan Akhir
    Tahapan kelima adalah setelah selesai mempergunakan alat / barang / sarana dan prasarana
    pinjaman tersebut, maka pemohon pinjaman harus segera mengembalikan alat / barang /
    sarana dan prasarana pinjaman tersebut dan melakukan pengecekan akhir terhadap semua
    barang pinjaman tersebut harus sesuai dengan kondisi awal pada saat barang tersebut
    dipinjam.
    Jika ternyata pada saat pengembalian, alat / barang / sarana dan prasarana pinjaman tersebut
    dinyatakan rusak, maka pemohon pinjaman harus bertanggung jawab terhadap alat / barang /
    sarana dan prasarana pinjaman tersebut dan harus menggantinya.
         F. Pengisian Surat Pengembalian
    Tahapan keenam yang merupakan tahapan terakhir adalah, pemohon harus mengisi tanggal
    pengembalian alat / barang / sarana dan prasarana pinjaman tersebut.
    Setelah pemohon mengisi tanggal pengembalian, maka proses peminjaman ini dinyatakan
    selesai.
         G. Ketentuan peminjaman bagi pihak luar
    Peminjaman alat / barang / sarana dan prasarana bagi pihak di luar civitas akademika sekolah,
    juga mengikuti prosedur yang sama yang disebutkan pada butir-butir di atas.
    Selain ketentuan-ketentuan tersebut, ada ketentuan tambahan yang harus dipenuhi yaitu :
    Peminjam harus menitipkan kartu tanda pengenal atau sejenisnya
    Peminjam dikenakan biaya sewa, yang harganya sesuai dengan jenis barang yang dipinjam.
    Adapun harganya akan ditentukan kemudian sesuai dengan kesepakatan Pengelola
    Laboratorium.


    ___________,________2012

           Mengetahui,                                         Kepala Laboratorium IPA,
           Kepala SMP/SMA
           __________________




           (__________________)                                (____________________)


    Contoh Proposal Peningkatan Sarana dan Prasarana Laboratorium IPA




                                        LOGO SEKOLAH



                         PROPOSAL PROGRAM PENGEMBANGAN
                                 LABORATORIUM DI ............
                                         Pengusul:
                                       1. ................
                                        2. ................




       SEKOLAH MENENGAH .................... NEGERI 1 JEPARA
                    DESEMBER 2011
                        PROPOSAL PROGRAM PENGEMBANGAN
                              LABORATORIUM DI ............
 A. Rasional

      1. Adanya hubungan antara teori dengan praktik yang bersifat berlapis berulang yang
         integratif
      2. Diterapkannya kurikulum KTSP maka peran dari laboratorium akan sangat
         menunjang dalam proses peningkatan ketrampilan peserta didiknya dalam rangka
         mengembangkan antara teori dengan praktik
      3. Penggunaan laboratorium sangat berguna bagi kelancaran PBM di sekolah sehingga
         perlu mendapat perhatian
      4. Pemenuhan kelengkapan sarana dan prasarana perlengkapan alat laboratorium
         merupakan hal penting untuk menghindari pemahaman yang keliru tentang konsep-
         konsep penting dalam IPA
      5. .......

B. Tujuan
Tujuan umum:
Meningkatkan pengelolaan layanan laboratorium bagi peserta didik di sekolah guna
menunjang kelancaran PBM di kelas berdasarkan kurikulum yang diterapkan disekolah agar
sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dan membekali lulusan dengan ketrampilan yang
sesuai dengan laboratorium yang dikembangkan.
.....................
Tujuan khusus:
     1.   Meningkatkan sistem pelayanan di laboratorium ......
     2.   Meningkatkan atmosfer akademik di sekolah
     3.   Meningkatkan ketertarikan siswa dalam bidang .....
     4.   Mengurangi timbulnya miskonsepsi pada siswa

C. Analisis obyek layanan khusus laboratorium dengan analisis SWOT sebagai
berikut:
1.   Kekuatan:

         Di SMA/SMP/SMK........... sudah terdapat layanan laboratorium yang terdiri dari
          laboratorium .....................
         Sudah terdapat perlengkapan alat dan bahan yang cukup memadai
         Sudah ada tenaga yang mengelola laboratorium
         Sarana dan prasarana yang ada di laboratorium ......sudah diupayakan memenuhi
          standart sarana dan prasarana yang diperintahkan oleh Dinas pendidikan ataupun
          pemerintah
         Laboratorium ............mempunyai luas bangunan yang sudah memenuhi standar
          ruangan untuk jenis laboratorium misalnya lab kimia dan biologi mempunyai luas
          bangunan 125 m² dengan rasio 3,1 m²/siswa, laboratorium fisika mempunyai luas
          bagunan 150 m² dengan rasio 3,5 m²/siswa, laboratorium komputer mempunyai luas
          bangunan 72 m² dengan rasio 2 m²/siswa, dan laboratorium bahasa mempunyai luas
          bangunan 120 m² dengan rasio 3 m²/siswa
         Di laboratorium komputer sekolah ini sudah terdapat hospot area untuk mengakses
          internet
          ..................

2.   Kelemahan:

         Belum ada ruangan untuk memisahkan antara laboratorium kimia dengan
          laboratorium biologi karena di sekolah ini laboratorium kimia dengan biologi masih
          dijadikan satu ruangan.
         Belum ada tenaga laboratorium yang memang benar-benar ahli di bidang pengelolaan
          laboratorium karena tenaga laboran di laboratorium IPA hanyalah satu orang yang
          merangkap dalam mengelola semua laboratorium IPA yang ada di sekolah itu.
         Di laboratorium kimia ataupun biologi belum ada ruangan yang khusus untuk ruang
          asam, ruang gelap, ruang steril, ruang timbang, sehingga di laboratorium kimia dan
          biologi semua perlengkapan alat dan bahan dijadikan saru ruangan
         Laboratorium komputer yang ada disekolah ini belum dimanfaatkan secara maksimal,
          karena kurang siapnya sumber daya manusia dalam menggunakan, memanfaatkan dan
          mengantisipasi perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat berkembang
          dan sifatnya yang global akan sulit dipelajari bila tidak didukung penguasaan bahasa
          asing
         Susunan organisasi di semua jenis laboratorium belum ada tenaga sebagai
          penanggung jawab teknis sehingga apabila terjadi kecelakaan dan kerusakan peralatan
          tidak ada yang menanggungnya serta memperbaikinya.
          ...................

3.   Peluang:
        Sudah ada laboratorium bahasa, dan laboratorium komputer yang sudah dilengkapi
         dengan hospot area sehingga bisa mengakses internet dengan dunia luar
        Adanya dana dari para orang tua peserta didik yang mampu dalam bidang ekonomi
         serta dana operasional dari pemerintah untuk menunjang pemenuhan kebutuhan
         sekolah
        Adanya program CSR (Company Social Responsibility) yang merupakan program
         pemerintah yang isinya adalah mewajibkan perusahaan untuk ikut bertanggungjawab
         terhadap peningkatan masyarakat
        Sudah tersedia perangkat lunak untuk peningkatan proses pembelajaran yang
         berbasiskan IT yaitu penyediaaan software berupa teaching lab, dimana software ini
         dibuat untuk mengoptimalkan kegiatan pembelajaran
         .................

4.   Tantangan:

        Semakin majunya dunia global yang bersaing dalam hal peningkatan teknologi serta
         pengembangan dunia usaha yang berbasiskan teknologi tinggi hendaknya sekolah
         mampu menciptakan output yang telah berbekal penguasaan teori dan berketrampilan
         dalam berpraktik mempunyai penguasaan dalam berbahasa asing dan menguasai
         penerapan kemajuan teknologi dizaman sekarang.
        Besarnya biaya yang diperlukan untuk menyiapkan sarana prasarana seperti, ruang,
         peralatan lab, dan materi pengajaran menimbulkan ketimpangan atau tidak semua
         sekolah mampu menyediakan fasilitas pembelajaran
        .....................

D. Program Pengembangan
1. Kegiatan yang akan dilakukan:

        Perencanaan pengadaan peralatan pembelajaran berbasis kimia (misal) yang penting
         untuk pembelajaran
        Perencanaan pemisahaan antara laboratorium kimia dengan biologi.
        Perencanaan pembangunan ruangan khusus untuk ruangan asam,ruangan gelap, ruang
         steril, dan ruang timbang di dalam laboratorium kimia dan biologi
        Memperbarui penyusunan struktur organisasi laboratorium dengan menambahkan
         penanggung jawab teknis laboratorium dan tenaga laboran disetiap jenis laboratorium
        .....................

2. Sarana dan Prasarana

        Untuk menghemat dana pengeluaran dana untuk membangun ruangan laboratorium
         maka untuk mengembangkan laboratorium kimia bisa dengan memanfaatkan ruang
         kosong di belakang gedung bekas kafetaria
        Menambah jumlah sarana dan prasarana yang ada di laboratorium kimia seperti LCD
         projector serta 1 set komputer atau laptop guna sebagai penunjang kegiatan
         pembelajaran praktikum dan menambah pakaian laboratorium untuk kegiatan
         praktikum
        Setiap ruangan laboratorium kimia harus dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran,
         jumlah alat pemadam kebakaran hanya 2 buah sehingga perlu menambah sebanyak 3
         alat pemadam kebakaran dan alat pelindung diri, Detektor asap + shower, dan Kotak
         P3K.
          Di laboratorium kimia harus ada tempat sampah yang khusus untuk membedakan
           limbah cair dan padat
          Di laboratorium kimia harus ada ruangan khusus untuk ruang asam, ruang steril,
           ruang gelap, dan ruang timbang
          Disediakan alat peraga kimia misal molymod, tabel SPU, dll., serta media
           pembelajaran berbasis IT yang memadai
           ......................

3.       Personalia

          Pengangkatan tenaga pengelola laboratorium sebagai penanggung jawab teknis
           laboratorium sebanyak satu orang yang bertugas bertanggung jawab atas administrasi
           laboratorium, bertanggung jawab atas kelancaran kegiatan laboratorium, mengusulkan
           kepada kepala sekolah tentang pengadaan alat dan bahan, bertanggung jawab atas
           kebersihan, penyimpanan, perawatan, dan perbaikan alat-alat laboratorium
          Yang bertugas sebagai koordinator laboratorium mempunyai tugas untuk
           mengkoordinasi guru-guru bidang study dalam penggunaan laboratorium,
           mengusulkan kepada penanggung jawab laboratorium untuk pengadaan alat dan
           bahan praktek
          Tenaga laboran harus mempunyai tugas dan fungsi yang tersurat,dan memiliki
           keahlian berlaboratorium misalnya di laboratorium kimia, tenaga laborannya harus
           ahli didalam mengelola bahan-bahan kimia, cara mengelola limbah kimia, untuk
           tenaga laboratorium bahasa digital harus ada teknisi untuk mengelola perelengkapan
           apabila terjadi kerusakan. Kemudian tenaga laboran mempunyai tugas mengerjakan
           tugas-tugas administrasi laboratorium, menyimpan semua alat dan bahan secara rapi
           sesuai dengan jenisnya, mempersiapkan dan menyimpan kembali alat dan bahan yang
           telah digunakan, merawat semua alat dan bahan fasilitas laboratorium, bertanggung
           jawab atas kebersihan alat dan ruang laboratorium beserta perlengkapan lainnya.
          Untuk setiap pengelola atau tenaga personalia laboratorium haruslah tenaga yang
           sudah memenuhi standart kualfikasi setidaknya lulusan S-1 sesuai dengan bidang atau
           jenis laboratorium yang akan dipegangnya.
          Pengadaan pelatihan bagi guru-guru untuk mengetahui bagaimana cara mengelola dan
           menggunakan laboratorium

4.   Anggaran
                                  Jumlah
No       Item                                   Harga Satuan     Jumlah Harga
                                  Satuan
1        Pengadaan          server 1 PC         Rp 2.500.000,-   Rp 2.500.000,-
         komputer
2        Pengadaan AC               1 set                        Rp 2.000.000,-
3        Alat pemadam kebakaran 3 buah          Rp 1.300.000,-   Rp 3. 900.000,-
4        Komputer                   1 set                        Rp 4.500.000,-
5        LCD                                                     Rp 8.000.000,-
6        Pakaian praktikum          918 buah*   Rp 70.000,-      Rp 64.260.000,-
7        Alat    pelindung     diri 918 buah*   Rp 5.000,-       Rp 4.590.000,-
         masker
8        Alat pelindung diri kaos 918 buah*     Rp 10.000,-      Rp 9.180.000,-
         tangan
                                           Jumlah
No    Item                                              Harga Satuan    Jumlah Harga
                                           Satuan
9     Almari asap                3 buah           Rp 3.000.000          Rp 9.000.000,-
10    ......................... ................. ..................... ........................
      JUMLAH                                                            ........................
*Jumlah siswa 900 orang + jumlah laboran 3 orang dan guru bidang studi 5 orang = 908
orang
Sumber dana:

     1. Angaran SPP siswa/bulan @Rp 250.000,- x 900 siswa = Rp 225.000.000,- hanya
        diambil sebesar Rp 80.000.000,-
     2. Anggaran dari pemerintah atau dana hibah = Rp 75.000.000,- hanya diambil sebesar
        Rp 45.000.000,-
     3. Bantuan dari orang tua siswa Rp 40.000,- x 900 siswa = Rp 36.000.000,-
     4. Dana dari pihak sponsor sebesar .............................

Jumlah sumber dana yang ada adalah sebesar                               ...............................
Jumlah anggaran pengeluaran                                              .............................
5. Waktu yang diperlukan
No Kegiatan/Keperluan                                       Lama Hari      Keterangan
1    Pelatihan Laboran dan Teknisi                5 hari                   dilaksanakan pada waktu
2    Penyegaran                Guru Kimia tentang 4 hari                   tahun ajaran baru yaitu
     Pengelolaan Laboratorium                                              sekitar bulan juli
3    Penyusunan Proposal                          2 hari
4    Pengadaan perlengkapan sarana dan 1 bulan
     prasarana di masing-masing laboratorium
5    ..............................
E. Kesimpulan
Laboratorium adalah wahana yang sangat tepat untuk pengembangan kompetensi
keterampilan proses dan afektif siswa. Sebagus apapun suatu laboratorium tidak akan berarti
apa-apa dan akan menjadi sia-sia bila tidak ditunjang oleh kemampuan dalam mengelolanya
dan segala macam perlengkapan yang menunjang kegiatan praktik didalam laboratorium.
Dengan peningkatan fasilitas yang ada di setiap jenis laboratorium dan penambahan tenaga
laboran yang benar-benar ahli disegala jenis laboratorium maka diharapkan akan membantu
peningkatan proses belajar mengajar di sekolah ini khususnya pada waktu kegiatan praktik di
laboratorium. Dan dengan adanya pemanfaatan teknologi yang canggih maka diharapkan
keluaran yang dihasilkan akan mempunyai ketrampilan dan keahlian dalam bidang
penguasaan segala macam bahasa dan teknologi yang modern. Melalui program
pengembangan ini diharapkan semangat belajar siswa akan lebih meningkat dan akan
membawa sekolah ini lebih maju sesuai dengan tuntutan zaman di era globalisasi sekarang.

        Jepara, ..............................
        Koordinator Kegiatan,

        (__________________)
                                                    Mengetahui:
Kepala Sekolah.................                                     Ketua Komite Sekolah,

(___________________)                                               (___________________)



Teknik Laboratoriun



                                         BAB 3
                                  TEKNIK LABORATORIUM


A. Pendahuluan

        Laboratorium kimia merupakan tempat dimana kegiatan akademik dilakukan untuk
berbagai tujuan. Tujuan-tujuan yang dimaksud antara lain: verifikasi hukum/kaidah ataupun
teori dalam pembelajaran, meningkatkan ketrampilan penggunaan dan pemakaian bahan
kimia maupun peralatan analisis (instrumentasi) serta sarana untuk melaksanakan kegiatan
penelitian ilmiah dalam rangka menemukan sesuatu.
        Banyak ragam peralatan yang digunakan dalam laboratorium kimia, dari yang
berasal gelas maupun peralatan elektronik, dengan tingkat akurasi yang bervariasi.
Demikian pula dengan bahan-bahan yang digunanakan untuk praktikum, jenisnya sangat
banyak, disesuaikan dengan peruntukan kegiatan yang akan dilakukan. Untuk itu
pengetahuan tentang alat yang akan dipergunakan maupun bahan-bahan kimia yang pakai
sangatlah penting. Kekeliruan dalam penetapan alat sudah barang tentu sangat
mempengaruhi hasil yang akan diperoleh.
        Pada hakekatnya, kegiatan praktikum tidak selalu dilakukan di laboratorium dengan
peralatan yang lengkap dan memadai. Ada kalanya kegiatan praktikum ataupun penelitian
dilakukan di luar ruang laboratorium, misalnya di rumah, bengkel kerja, lapangan, dll.
Kondisi ini tidak menjadi persoalan, sejauh tujuan kegiatan terpenuhi, Pada bagian lain,
boleh jadi karena suatu hal, maka suatu peralatan untuk mengukur ataupun menentukan
parameter tertentu harus dirakit sendiri. Jika demikian halnya, maka cara pengukuran dan
reliabilitas serta kesahihan peralatan harus selalu diperhatikan.
        Di samping sebagai tempat untuk pembelajaran dan penelitian, laboratorium kimia
dengan segala kelengkapan peralatan dan bahan kimia merupakan tempat berpotensi
menimbulkan bahaya kepada para penggunanya jika tidak dibekali dengan pengetahuan
mengenai kesehatan dan keselamatan kerja. Secara filosofi keselamatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun
rohani. Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka para pengguna diharapkan dapat
melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman jika apapun
yang dilakukan oleh pekerja tersebut, resiko yang mungkin muncul dapat dihindari.
Pekejaan dikatakan nyaman jika para pekerja yang bersangkutan dapat melakukan dengan
merasa nyaman dan betah, sehingga tidak mudah capek.
       Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga
kerja dengan cara penerapan teknologi pengendalian segala aspek yang berpotensi
membahayakan para pekerja. Pengendalian juga ditujukan kepada sumber yang berpotensi
menimbulkan penyakit akibat dari jenis pekerjaan tersebut, pencegahan kecelakaan dan
penserasian peralatan kerja/ mesin/ instrumen, dan karakteristik manusia yang menjalankan
pekerjaan tersebut maupun orang-orang yang berada di sekelilingnya. Dengan menerapkan
teknologi pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan tenaga kerja akan
mencapai ketahanan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi. Disamping itu
keselamatan dan kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan ksenyamanan kerja
dan keselamatan kerja yang tinggi.
       Perkembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai penelitian dan percobaan di
laboratorium sudah sedemikian pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat ini
sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Akan tetapi perkembangan yang
sedemikian pesat juga dikhawatirkan akan berpotensi meningkatkan bahaya dalam industri.
Kalau prinsip keseimbangan dan keserasian dipegang teguh oleh para ilmuwan dan para
pengusaha, niscaya kekhawatiran tersebut dapat diminimalkan. Peningkatan kemampuan
dalam membuat alat dengan teknologi baru haruslah diimbangi dengan penciptaan alat
pengendali yang lebih canggih dan kemampuan tenaga yang makin beertambah. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi bahaya yang mungkin timbul akibat dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi antara lain menyangkut ukuran alat, alat
pengendali, kemampuan dan ketrampilan pekerja, alat penanggulangan musibah, dan
pengawasan yang dilakukan.
       Dari segi ekonomi pemakaian alat yang berkapasitas besar adalah lebih
menguntungkan, akan tetapi bahaya yang mungkin ditimbulkan juga akan besar. Dengan
demikian penentuan ukuran reaktor harus didasarkan pada keuntungan dari segi ekonomi
dan bahaya yang mungkin ditimbulkan. Salah satu langkah pengamanan yang dilakukan
dalam rancang bangun adalah penggunaan safety factor atau over design factor pada
perhitungan perancangan masing-masing alat dengan kisaran 10 – 20 %. Alat pengendali
harus lebih canggih dan lebih dapat diandalkan. Alat pengamanan yang terkait dengan alat
produksi dan alat perlindungan bagi pekerja harus ditingkatkan. Biaya untuk membangun
keselamatan dan kesehatan kerja, biaya untum membeli alat-alat pengamanan memang
cukup besar. Akan tetapi keselamatan dan kesehatan kerja juga akan lebih terjamin.
  Kemampuan dan ketrampilan pekerja harus ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan
  sehingga dapat mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Alat
  penanggulangan musibah harus ditingkatkan agar malapetaka yang diakibatkan oleh
  penerpan teknologi maju tidak sampai meluas dan merusak. Pengawasan terhadap alat
  maupun terhadap pekerja harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
  B. Jenis-jenis Peralatan Laboratorium Kimia
1. Alat untuk mengekstrak (ekstraktor). Pemisahan suatu senyawa dari campurannya atau
  lebih dikenal dengan istilah pemurnian dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Metoda
  yang dapat ditempuh adalah metoda ekstraksi, distilasi, atau dengan kromatografi. Ektraksi
  merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan senyawa dari sistem campuran.
  Berdasarkan fasanya, ektraksi dikelompokkan menjadi ekstraksi cair-cair dan padat-cair.
  Ektraksi cair-cair dilakukan untuk mendapatkan suatu senyawa dalam campuran berfasa
  cair dengan pelarut lain yang fasanya cair juga. Prinsip dasar pemisahan ini adalah
  pemisahan senyawa yang memiliki perbedaan kelarutan pada dua pelarut yang berbeda.
  Alat yang digunakan adalah corong pisah. Ekstraksi padat-cair dilakukan bila ingin
  memisahkan suatu komponen dalam suatu padatan dengan menggunakan suatu pelarut
  cair. Alat yang digunakan adalah ektraktor Soxhlet. Misalnya untuk mengekstrak minyak
  non-atsiri (senyawa yang terdapat pada bahan alam yang tidak mudah menguap). Larutan
  pengekstrak ditempatkan pada labu alas bulat. Sampel yang telah dibungkus dengan kertas
  saring ditempatkan pada tabung ektraktor. Bagian ujung atas merupakan pendingin Allihn
  atau pendingin bola. Ekstraktor Soxhlet ini merupakan ektraktor kontinyu, pelarut pada labu
  alas bulat dipanaskan dan akan menguap, terkondensasi pada pendingin. Selanjutnya
  pelarut akan masuk pada ektraktor. Apabila pelarut telah mencapai batas atas kapiler
  pelarut yang telah kontak dengan sampel akan masuk pada labu alas bulat. Begitu
  seterusnya.
2. Alat untuk distilasi (distiler). Distilasi adalah metode pemisahan berdasarkan
  perbedaan titik didih komponen-komponen yang ada di dalam campuran. Distilasi
  biasa dilakukan untuk pemisahan campuran yang memiliki perbedaan titik didih yang
  cukup besar. Sedangkan distilasi uap dilakukan untuk pemisahan campuran yang
  memiliki perbedaan tekanan uap jenuh yang cukup antara komponen-komponen
  yang ada pada campuran. Pada distilasi uap, uap yang digunakan biasanya berupa
  uap air. Selain itu distilasi juga dapat dilakukan pada tekanan di bawah tekanan
  atmosfer. Metode ini dikenal sebagai distilasi pengurangan tekanan. Distilasi
  pengurangan tekanan dilakukan apabila komponen akan mengalami dekomposisi
  pada titik didihnya. Bila selisih titik didih komponen-komponen yang ada pada
  campuran kecil maka komponen alat distilasi ditambah dengan kolom vigreux.
 3. Alat untuk reflux. Reaksi kimia kadang dapat berlangsung sempurna pada suhu di
   atas suhu kamar atau pada titik didih pelarut yang digunakan pada sistem reaksi.
   Salah satu alat yang dapat digunakan untuk reaksi-reaksi yang berlangsung pada
   suhu tinggi adalah seperangkat alat refluks. Ada beberapa tipe alat refluks, antara
   lain: (i) Alat refluks paling sederhana yang dilengkapi dengan labu alas bulat dan
   pendingin Liebig, (ii) Seperangkat alat refluks dilengkapi dengan labu alas bulat,
   pendingin Liebig dan corong pisah, (iii) Seperangkat alat refluks dilengkapi dengan
   labu alas bulat, pendingin Liebig, corong pisah, dan pengaduk atau termometer.
 4. Penyaring Buchner. Penyaring Buchner digunakan untuk proses penyaringan yang
   tidak dapat dilakukan dengan penyaring biasa. Penyaringan biasa dilakukan dengan
   memanfaatkan gaya grafitasi, sedangkan pada penyaring buchner, filtrat dipisahkan
   dari sistem campuran dengan cara disedot atau divakum.
 5. Tabung pengembang (chamber). Alat gelas ini digunakan pada percobaan
   kromatografi lapis tipis (KLT). Digunakan untuk tempat eluen (larutan pengembang)
   dan plat KLT yang telah dibubuhi (ditotol) sampel atau standar.
 6. Peralatan Gelas. Sebelum mulai melakukan praktikum di laboratorium, praktikan
   harus mengenal dan memahami cara penggunaan semua peralatan dasar yang
   biasa digunakan dalam laboratorium kimia serta menerapkan K3 di laboratorium.
   Berikut ini diuraikan beberapa peralatan yang akan digunakan pada Praktikum Kimia
   Dasar. Gambar 1 menunjukkan contoh peralatan gelas laboratorium.
 beberapa peralatan yang akan digunakan pada Praktikum Kimia Dasar. Gambar 1
   menunjukkan contoh peralatan gelas laboratorium.




               Gambar 1. Peralatan gelas sederhana untuk praktikum kimia
1. Labu Takar. Digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam bentuk cair pada
   proses preparasi larutan. Alat ini tersedia berbagai macam ukuran.
2. Gelas Ukur. Digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini
   mempunyai skala, tersedia bermacam-macam ukuran. Tidak boleh digunakan untuk
   mengukur larutan/pelarut dalam kondisi panas. Perhatikan meniscus pada saat
   pembacaan skala.
3. Gelas Beker. Alat ini bukan alat pengukur (walaupun terdapat skala, namun ralatnya
     cukup besar). Digunakan untuk tempat larutan dan dapat juga untuk memanaskan
     larutan kimia. Untuk menguapkan solven/pelarut atau untuk memekatkan.
4. Pengaduk Gelas. Digunakan untuk mengaduk suatu campuran atau larutan kimia
     pada waktu melakukan reaksi kimia. Digunakan juga untuk menolong pada waktu
     menuangkan/mendekantir cairan dalam proses penyaringan.
5.   Botol Pencuci. Bahan terbuat dari plastic. Merupakan botol tempat akuades, yang
     digunakan untuk mencuci, atau membantu pada saat pengenceran.
6.   Corong. Biasanya terbuat dari gelas namun ada juga yang terbuat dari plastic.
     Digunakan untuk menolong pada saat memasukkan cairan ke dalam suatu wadah
     dengan mulut sempit, seperti : botol, labu ukur, buret dan sebagainya.
7. Erlenmeyer. Alat ini bukan alat pengukur, walaupun terdapat skala pada alat gelas
     tersebut (ralat cukup besar). Digunakan untuk tempat zat yang akan dititrasi.
     Kadang-kadang boleh juga digunakan untuk memanaskan larutan.
8. Sama dengan no 7.
9. Tabung Reaksi. Terbuat dari gelas. Dapat dipanaskan. Digunakan untuk
     mereaksikan zat zat kimia dalam jumlah sedikit.
10. Kuvet.     Bentuk serupa dengan tabung reaksi, namun ukurannya lebih kecil.
     Digunakan sebagai tempat sample untuk analisis dengan spektrofotometer. Kuvet
     tidak boleh dipanaskan. Bahan dapat dari silika (quartz), polistirena atau
     polimetakrilat.
11. Sama dengan no 10.
12. Rak Untuk tempat Tabung Reaksi. Rak terbuat dari kayu atau logam. Digunakan
     sebagai tempat meletakkan tabung reaksi.
13. Sama dengan no 12.
     14.        Kaca Preparat.
15. Kawat Kasa.        Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alas saat
     memanaskan alat gelas dengan alat pemanas/kompor listrik.
16. Penjepit. Penjepit logam, digunakan untuk menjepit tabung reaksi pada saat
     pemanasan, atau untuk membantu mengambil kertas saring atau benda lain pada
     kondisi panas.
17. Spatula. Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alat Bantu mengambil
     bahan padat atau kristal.
 18. Kertas Lakmus.        Merupakan indikator berbentuk kertas lembaran-lembaran kecil,
     berwarna merah dan biru. Indikator yang lain ada yang berbentuk cair missal
     indikator Phenolphtalein (PP), methyl orange (MO) dan sebagainya. Merupakan alat
     untuk mengukur atau mengetahui tingkat keasaman (pH) larutan.
     19.          Gelas Arloji. Terbuat dari gelas. Digunakan untuk tempat zat yang akan
     ditimbang.
 20. Cawan Porselein. Alat ini digunakan untuk wadah suatu zat yang akan diuapkan
     dengan pemanasan.
 21. Pipet Pasteur (Pipet Tetes). Digunakan untuk mengambil bahan berbentuk larutan
     dalam jumlah yang kecil.
     22.          Sama dengan no 16.
     23.          Sikat. Sikat dipergunakan untuk membersihkan (mencuci) tabung.
     24.          Sama dengan no 23.
 25. Pipet Ukur. Adalah alat yang terbuat dari gelas, berbentuk seperti gambar di bawah
     ini. Pipet ini memiliki skala. Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume
     tertentu. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan, jangan dihisap
     dengan mulut.
 26. Pipet Gondok. Pipet ini berbentuk seperti dibawah ini. Digunkan untuk mengambil
     larutan dengan volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang
     menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet. Gunakan propipet atau pipet
     pump untuk menyedot larutan.
 27. Buret. Terbuat dari gelas. Mempunyai skala dank ran. Digunakan untuk melakukan
     titrasi. Zat yang digunakan untuk menitrasi (titran) ditempatkan dalam buret, dan
     dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran. Volume dari zat yang dipakai dapat
     dilihat pada skala.


C.   Pengukuran Parameter
     1.      Pengukuran Waktu
2.   Pengukuran Temperatur




3.   Pengukuran Massa




4.   Pengukuran Volume
                                 c)    Mengukur volume cairan
                                 menggunakangelas ukur




PROGRAM KERJA LABORATORIUM IPA TAHUN AJARAN 2012-2013


 PROGRAM KERJA LABORATORIUM
ILMU PENGETAHUAN ALAM
                                         SMP NEGERI 3 PANGGANG
Tahun Ajaran 2012-2013

Disusun oleh:
DEWI SETYA WULANDARI, S.Si
NIP. 19800115 200903 2 001
lembar pengesahan
program kerja laboratorium ilmu pengetahuan alam (ipa)
smp negeri 3 panggang




                                          Berdasarkan Surat Keputusan Kepala
sekolah SMP N 3 Panggang No 800/ 106/ 2012 tentang pembagian tugas guru
dalam proses belajar mengajar atau bimbingan dan penyuluhan semester I
tahun pelajaran 2012/2013, maka disusunlah program kerja laboratorium ilmu
pengetahuan alam (IPA) sebagai sebuah pedoman dalam mengelola
laboratorium sekaligus sebagai sarana komunikasi baik dengan guru mata
pelajaran maupun berbagai pihak yang terkait dalam kegiatan pembelajaran
dengan menggunakan fasilitas dari laboratorium IPA. Dengan adanya program
kerja laboratorium IPA diharapkan proses belajar mengajar di laboratorium bisa
tertib dan terkoordinir dengan baik sehingga tujuan pemberian pelayanan
prima kepada peserta didik dapat tercapai.
Program kerja ini meliputi struktur organisasi laboratorium dan tugas pokok
organisator laboratorium, sasaran, desain ruangan laboratorium, rencana
kegiatan praktikum IPA, daftar piket, tata tertib laboratorium, usulan
pengadaan alat dan bahan laboratorium, pembiayaan, serta check list untuk
mengkontrol pelaksanaan kegiatan laboratorium.


dasar hukum




                                         1. Pasal 35 ayat (1) UU No 20 Tahun
23 tentang Sistem PendidikanNasional
2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26 Tahun
2008, tentang Standar Tenaga Laboratorium Sekolah/Madrasah
3. Surat Keputusan Kepala sekolah SMP N 3 Panggang No 800/ 106/ 2012
tentang pembagian tugas guru dalam proses belajar mengajar atau bimbingan
dan penyuluhan semester I tahun pelajaran 2012/2013

bab I. pendahuluan


latar belakang
SMP N 3 Panggang adalah sebuah institusi pendidikan yang dalam pencapaian
tujuannya sangat membutuhkan dukungan dari berbagai komponen. Salah
komponen tersebut adalah Laboratorium IPA. Pembelajaran IPA sangat
tergantung pada Laboratorium IPA untuk mencapai hasil pembelajaran yang
lebih baik. Laboratorium adalah tempat pembelajaran sains IPA dengan cara
mencari pengetahun tentang alam secara sistematis melalui proses penemuan
(inquiri) yang menekankan pemberian pengalaman langsung dalam penggunaan
dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah siswa yangbermuara
   pada pembelajaran Work-Based experimen (belajar sambil bekerja).




   Pengelolaan Laboratorium IPA perlu didukung oleh program kerja yang baik dan
   koordinasi agar jelas langkah-langkah dan tolok ukur keberhasilan dalam
   memberikan pelayanan prima kepada peserta didik maupun untuk
   pengembangan dan pemeliharaan Laboratorium IPA ke depan.

   Untuk menindak lanjuti Surat Keputusan Kepala SMP Negeri 3 Panggang Nomor :
   800/134/2011 tentang pembagian tugas guru dalan kegiatan proses belajar
   mengajar atau bimbingan dan penyuluhan Semester 1 tahun pelajaran
   2011/2012 yang ditetapkan tanggal 2 Juli 2012, maka disusunlah program kerja
   laboratorium IPA tahun ajaran 2012-2013.

   Program kerja laboratorium IPA tahun ajaran 2012-2013 pada dasarnya
   melanjutkan program kerja laboratorium IPA tahun ajaran 2011-2012 dengan
   menyempurnakan dan menambahkan beberapa program tambahan.

   VISI
   Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
   bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
   mandiri, serta menjadi warga negara yang bermartabat dan bertanggungjawab
   sehingga mampu bersaing sehat di dunia global

   MISI
   Memberikan pelayanan prima kepada peserta didik dalam mendukung dan
   mengoptimalkan kegiatan pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA dan
   mata pelajaran lain yang terkait

   TUJUAN
1. Sebagai bahan acuan bagi Pengelola Laboratorium IPA untuk menjalankan
   tugasnya
2. Melalui Program Kerja Laboratorium IPA ini diharapkan alat dan bahan yang ada
   di Laboratorium ini bisa terkelola, terinventarisir, serta berdaya guna dengan
   baik.
3. Program Kerja Laboratorium IPA ini diharapkan dapat meningkatkan
   antusiasme peserta didik SMP N 3 Panggang untuk melakukan eksperimen-
   eksperimen di dalam Laboratorium IPA sebagai bekal keahlian sehingga kelak
   mampu menggunakan laboratorium alam.

     sasaran
     Guru, peserta didik, dan laboran.
a.       Peserta : Peserta adalah seluruh siswa/i SMP Negeri 3 Panggang kelas VII,
     VIII, IX
                                   Kelas     Jumlah siswa
                                               (orang)
                                  VII A           20
                                   VII B          20
                                  VIII A          18
                                  VIII B          17
                                   IX A           18
                                   IX B           18

     b. Guru :
     Guru Mata Pelajaran IPA/Fisika :
1.       Samiarso, S.Pd
2.       Imam Wicaksono, S.Si ( Ijin Tugas Belajar Menempuh S2 ,Program
     Peningkatan Kualifikasi Guru SMP P2TK Kemdikbud )
     Guru Mata Pelajaran IPA/Biologi :
     Dewi Setya Wulandari, S.Si
     c. Laboran:
1.       Nurvita Fajarini, A.Md
2.       Ambar Lestari, S.IP

     bab II. struktur organisasi, tanggung jawab, wewenang, dan tugas pokok

     Laboratorium IPA adalah suatu organisasi dengan sistem kerja sama dari
     kelompok orang, barang, atau unit tertentu tentang laboratorium IPA, untuk
     mencapai tujuan. Mengorganisasikan laboratorium IPA berarti menyusun
     sekelompok orang atau petugas dan sumber daya untuk melaksanakan suatu
     rencana atau program guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara
     yang paling berdaya guna terhadap laboratorium IPA.
     Struktur organisasi laboratorium IPA dan tanggung jawab, wewenang dan tugas
     pokok unsur didalamnya adalah sebagai berikut:
     Kepala sekolah
a.    Memberi tugas kepada personil-personil yang menjadi tanggungjawabnya.
b.    Mengesahkan program kerja laboratorium dan mendisposisikan program yang
   dapat dilaksanakan dan tidak dapat dilaksanakan dengan memberikan masukan
   dan pertimbangan terhadap program yang diajukan.
c.    Memberi bimbingan, motifasi, pemantauan dan evaluasi kinerja kepala
   laboratorium, guru mata pelajaran, dan laboran




d.     Membantu pengalokasian dana operasional untuk kegiatan laboratorium
     sesuai dengan program kerja yang telah disusun

     kepala laboratorium
     Kepala laboratorium berwenang dan bertanggung jawab untuk merencanakan,
     melaksanakan, mengembangkan, mengevaluasi dan menindaklanjuti seluruh
     kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan Laboratorium IPA

   Tugas Pokok kepala laboratorium:
   I. Perencanaan dan Pengembangan Laboratorium
   1. Menyusun Rencana Pengembangan Laboratorium
   2. Merencanakan Pengelolaan Laboratorium
   3. Mengembangkan Sistem Administrasi Laboratorium
   4. Menyusun Prosedur Operasional Standar (POS) Kerja Laboratorium yang
   terintegrasi dengan kesehatan dan keselamatan kerja serta penanganan bahan
   berbahaya dan beracun
   II.Pengelolaan Kegiatan Laboratorium
1. Mengkoordinasikan kegiatan praktikum dengan guru mata pelajaran IPA untuk
   menyusun buku pedoman pelaksanaan praktikum, ataupun membuat publikasi
   karya ilmiah
2. Menyusun jadwal kegiatan laboratorium
3. Memantau pelaksanaan kegiatan laboratorium
4. Mengevaluasi kegiatan laboratorium
5. Menyusun laporan kegiatan laboratorium

     III. Pembagian tugas teknisi dan laboran Laboratorium
1. Merumuskan rincian tugas teknisi dan laboran
2. Menentukan jadwal kerja teknisi dan laboran
3. Mensupervisi teknisi dan laboran
4. Membuat laporan secara periodik (tiap semester)
   IV. Memantau Sarana dan Prasarana Laboratorium
   1. Memantau kondisi dan keamanan bahan serta alat laboratorium
   2. Memantau kondisi keamanan bangunan laboratorium
   3. Mendesain ruangan laboratorium
   4. Mengusulkan kepada kepala sekolah untuk pengadaan alat dan bahan praktek
   V. Mengevaluasi kinerja teknisi dan laboran dalam kegiatan laboratorium
   1. Menilai kinerja teknisi dan laboran laboratorium
   2. Menilai hasil kerja teknisi dan laboran
   3. Menilai kegiatan laboratorium
   4. Mengevaluasi program laboratorium untuk perbaikan selanjutnya


  GURU MATA PELAJARAN IPA




                                              Berwenang dan bertanggung jawab
    secara teknis dalam pemanfaatan peralatan laboratorium.
    I. Merencanakan pemanfaatan laboratorium sekolah
1. Membuat daftar dan merencanakan kebutuhan bahan peralatan dan suku
    cadang laboratorium
2. Memanfaatkan katalog sebagai acuan dalam merencanakan bahan, peralatan,
    dan suku cadang laboratorium
II. Mengatur Penyimpanan bahan, peralatan perkakas dan suku cadang
    laboratorium
1. Mencatat bahan, peralatan, dan fasilitas laboratorium dengan memanfaatkan
    peralatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
2. Mengatur tata letak bahan, peralatan, dan fasilitas laboratorium IPA
III.Menyiapkan penuntun kegiatan praktikum
IV.Berkoordinasi dengan laboran untuk menyiapkan paket bahan dan rangkaian
   peralatan yang siap pakai untuk kegiatan praktikum
V. Bersama laboran mengkoordinir penataan ruang laboratorium IPA berdasarkan
   desain yang dibuat kepala laboratorium
   laboran
    Berwenang dan bertanggung jawab secara teknis dalam penyiapan praktikum,
    penyimpanan, pemeliharaan dan perawatan alat dan bahan Laboratorium IPA
    Tugas Pokok
I. Menginventaris bahan dan peralatan praktikum
1. Mencatat dan mengklasifikasikan bahan dan peralatan laboratorium
2. Mencatat penggunaan bahan dan peralatan laboratorium
3. Melaporkan penggunaan bahan dan peralatan laboratorium
    II. Mencatat kegiatan Praktikum
1. Mencatat kehadiran guru dan peserta didik
2. Mencatat penggunaan alat dan bahan laboratorium IPA
3. Mencatat kerusakan alat
4. Melaporkan keseluruhan kegiatan praktikum secara periodik
III. Berkoordinasi bersama guru mata pelajaran IPA menata ruang laboratorium
    berdasarkan desain yang dibuat oleh kepala laboratorium
IV. Menyiapkan bahan dan peralatan yang sesuai dengan penuntun praktikum
V. Melayani guru dan peserta didik dalam pelaksanaan praktikum
VI. Mengisi buku administrasi laboratorium
VII. Menangani limbah laboratorium sesuai dengan prosedur yang berlaku
VIII. Memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan
    bab III. rencana kegiatan

  perencanaan dan pengembangan laboratorium ipa
  Menyusun rencana pengembangan laboratorium
  1. Pengelolaan harian laboratorium
  Pengelolaan sehari-hari berkaitan dengan kegiatan praktikum dengan alur
  pengelolaan sebagai berikut:
2. Pengelolaan bulanan
Pengelolaan bulanan berkaitan dengan pengecekan alat dan bahan dengan alur
sebagai berikut:




                                        3. Pengelolaan Tiap semester
   Setiap semester kepala laboratorium IPA membuat laporan evaluasi tentang
   pengoptimalan pelayanan laboratorium kepada peserta didik dan melaporkan
   kepada kepala sekolah. Hasil evaluasi ini sebagai perbaikan dalam pelayanan di
   semester yang akan datang
   4. Pengelolaan Tahunan
   Pada akhir tahun pelajaran, kepala laboratorium membuat laporan pertanggung
   jawaban kepada kepala sekolah, dimana pada laporan tersebut akan diketahui
   kondisi laboratorium pada akhir tahun, baik kondisi alat dan bahan, maupun
   kondisi ruangan. Saran dalam laporan akhir tahun dapat diambil sebagai
   masukan untuk pembuatan program kerja tahun ajaran selanjutnya.
   Mengembangkan Sistem Administrasi Laboratorium

   Sistem Administrasi Laboratorium berupa:
1. Buku inventaris (hard copy dan soft copy)
2. Kartu stok
 3. Kartu permintaan/peminjaman alat/bahan
 4. Buku catatan harian kegiatan praktik
 5. Kartu alat/bahan yang rusak
 6. Kartu reparasi
 7. Format label
 8. Buku petunjuk praktikum dari Guru Mata Pelajaran IPA (bisa berupa LKS)
 9. Daftar alat dan bahan sesuai dengan LKS
 10. Program semester kegiatan laboratorium
 11. Jadwal kegiatan laboratorium

   Menyusun Prosedur Operasional Standar (POS) Kerja Laboratorium yang
   terintegrasi dengan kesehatan dan keselamatan kerja serta penanganan
   bahan berbahaya dan beracun
   Berupa tata tertib laboratorium (Terlampir)

   pengelolaan kegiatan laboratorium ipa
   Mengkoordinasikan kegiatan praktikum dengan guru mata pelajaran IPA untuk
   menyusun buku pedoman pelaksanaan praktikum, ataupun membuat publikasi
   karya ilmiah
1. Setiap awal semester, kepala laboratorium meminta salinan petunjuk
   praktikum yang akan digunakan untuk semester tersebut kepada guru mata
   pelajaran. Guru mata pelajaran memberikan petunjuk tersebut disertai dengan
   daftar alat dan bahan serta rencana pelaksanaan kegiatan praktikum selama
   satu semester.
2. Mengkoordinasikan penulisan karya ilmiah apabila memungkinkan
   Menyusun jadwal kegiatan laboratorium

   Jadwal kegiatan laboratorium adalah sebagai berikut:
   WAKTU SENIN SELASA RABU KAMIS JUM’AT
    07.00- VIII A     IX A    IX B          VII A
    08.20   (BIO)    (FIS)   (FIS)          (BIO)
    08.20- VIII B    VII A
    09.55   (BIO)    (FIS)
    09.55-   IX B    VIII B  VII B  VII B
11.15     (BIO)   (FIS)   (BIO)   (FIS)
11.30-             IX A           VIII A
12.50             (BIO)           (FIS)


Memantau pelaksanaan kegiatan laboratorium
Kepala laboratorium memantau tidak langsung pelaksanaan kegiatan
laboratorium melalui administrasi laboratorium dan memantau langsung pada
saat koordinasi dengan guru mata pelajaran ataupun laboran.




                                           pembagian tugas teknisi dan laboran
Merumuskan rincian tugas teknisi dan laboran
Penjelasan pada tugas pokok laboran BAB II, dibuat berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008, tentang
standar Tenaga Laboratorium sekolah/madrasah.
Menentukan jadwal kerja teknisi dan laboran
Jadwal kerja teknisi dan laboran menyesuaikan jadwal praktikum dan jadwal
piket laboratorium.
Mensupervisi teknisi dan laboran
Supervisi teknisi dan laboran dilakukan sejalan dengan program Memantau
pelaksanaan kegiatan laboratorium.
Membuat laporan secara periodik (tiap semester)
Laporan periodik harian, bulanan, semester, dan akhir tahun sesuai dengan
pengelolaan laboratoriu yang dilakukan.

memantau sarana dan prasarana laboratorium
Memantau kondisi dan keamanan bahan serta alat laboratorium dan
Memantau kondisi keamanan bangunan laboratorium
Dilakukan setiap saat dan dilaporkan pada saat laporan semester dan akhir
tahun

Mendesain ruangan laboratorium
   Usulan pengadaan alat dan bahan praktek
   Alat pendukung praktik dan administrasi
1.    Kran air dan bak cuci sebagai standar minimal laboratorium untuk
   memudahkan saat pemberian P3K jika terjadi kecelakaan kerja yang
   berhubungan dengan bahan kimia dan untuk memudahkan kegiatan praktikum
   dan mempermudah perawatan alat-alat laboratorium
2.    Buku besar folio bergaris untuk pencatatan administrasi harian dan daftar
   penggunaan alat bahan (2 buah)
3.    Kertas A4 1 rim
4.    Kertas manila warna terang (4 lembar) untuk pembuatan kartu stock, kartu
   permintaan/ peminjaman alat/bahan, kartu alat/bahan yang rusak, kartu
   reparasi
5.    Kartu label ukuran 3 x 5 cm (1 bendel)
6.    Kartu label ukuran 1 x 0,5 cm (I bendel)
7.    Kertas alumunium foil 1 pak
8.    Kertas lakmus
9.    Pipet tetes (10 buah)
10. Kertas tisu 6 gulung
11. Masker wajah 5 buah
12. Sarung tangan karet 2 pasang

     Bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan praktikum
1.     Formalin 70% untuk pembuatan preparat praktikum standar kompetensi 6
2.     Aquadest 1 liter digunakan untuk pengenceran bahan dan pengamatan
     mikroskopis preparat segar
3.     Biuret, larutan Fehling A, Fehling B, lugol, untuk percobaan sistem ekskresi,
     pengujian bahan makanan, dan fotosintesis
4.     Botol kultur jaringan siap tanam (2 buah) untuk ujian praktik kelas IX
5.       Cairan pembersih lensa

     MENGEVALUASI KINERJA TEKNISI DAN LABORAN DALAM KEGIATAN
     LABORATORIUM
     Menilai kinerja teknisi dan laboran
     Kinerja teknisi dan laboran dinilai berdasarkan keteraturan administrasi dan
     pelayanan untuk pelaksanaan praktikum
     Menilai kegiatan laboratorium




     Kegiatan laboratorium dinilai berdasarkan target pencapaian pelaksanaan
     praktikum dan keberhasilan pelayanan berbagai unit kerja terhadap peserta
     didik
     Mengevaluasi program laboratorium untuk perbaikan selanjutnya
     Program laboratorium dievaluasi berdasarkan evaluasi diri kepala
     laboratorium dalam mengkoordinasikan unsur-unsur pendukung laboratorium,
     penilaian kinerja guru mata pelajaran dalam menyiapkan petunjuk praktikum
     dan pengawasan saat pelaksanaan praktikum, penilaian kinerja teknisi dan
     laboran berkaitan dengan administrasi dan persiapan praktikum, dan
     perawatan alat dan bahan, dan penilaian kegiatan laboratorium.

     check list usulan alat dan bahan praktikum


     no      pengajuan alat dan bahan         rekomendasi
     1       Kran air dan bak cuci
     2       Aquadest 1 liter
     3       Biuret 100 ml
     4       larutan Fehling A 100 ml
     5       Fehling B 100 ml
     6       Lugol 100 ml
7     Kultur jaringan siap tanam (2
      botol)
8     Buku besar folio bergaris (2 buah)
9     Kertas A4 1 rim
10    Kertas manila warna terang (4
      lembar)
11    Kartu label ukuran 3 x 5 cm (1
      bendel)
12    Kartu label ukuran 1 x 0,5 cm (I
      bendel)
13    Kertas alumunium foil 1 pak
14    Kertas tisu 6 gulung
15    Masker wajah 5 buah
16    Sarung tangan karet 2 pasang
17    Formalin 70% 1 liter
18    Kertas lakmus ( 1 pak)
19    Pipet tetes (10 buah)
20    Pembersih lensa


bab IV. penutup


kesimpulan
Pelaksanaan program kerja Laboratorium IPA di SMP N 3 panggang dengan
optimal dan terkoordinir dengan baik mutlak diperlukan dalam memberikan
pelayanan prima kepada peserta didik untuk tercapainya visi, misi, serta
tujuan program.
                                             saran

Struktur organisasi yang solid, koordinasi dan komunikasi yang bagus dan
elegan diantara unsur didalam organisaasi sangat diperlukan untuk
menciptakan suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan. Dengan
terciptanya suasana nyaman, maka diharapkan segala potensi yang tertanam
dalam setiap pribadi mampu diwujudkan untuk membantu mempercepat
kemajuan SMPN 3 Panggang dimasa yang akan datang, sehingga mampu
bersaing di Gunungkidul dan segera mampu berkiprah di Provinsi Yogyakarta,
secara nasional maupun internasional.


LAMPIRAN

tata tertib laboratorium




                                        1.     Tidak diperkenankan memasuki
ruang laboratorium tanpa seizin pengawas/guru pembimbing.
2.     Memasuki ruang laboratorium dengan tertib dan sopan
3.     Menjaga kebersihan dan ketertiban
4.     Melaksanakan kegiatan sesuai dengan fungsi dan tujuan kegiatan
5.     Menggunakan alat dan bahan sesuai dengan fungsi dan tujuan kegiatan
6.     Menjaga keselamatan kerja dan alat
7.     Membersihkan semua alat yang telah digunakan kemudian
     mengembalikannya ke tempat semula
8.     Keluar dari ruangan setelah mendapat izin dari pengawas/guru pembimbing
     dengan tertib dan tenang.
9.     Wajib mentaati semua tata tertib yang berlaku
10.    Pelanggaran terhadap tata tertib dikenai sanksi

     Sanksi Terhadap Pelanggaran

     a. Pelanggaran terhadap tata tertib nomor 1, 2, 3, 4 , 5 dan 8 dikenakan
     sanksi berupa teguran atau dikeluarkan dari ruangan hingga tidak boleh
     mengikuti kegiatan selanjutnya.
     b. Pelanggaran terhadap tata tertib nomor 6 ( merusakkan alat), harus
     mengganti secara individu atau kelompok.
     c. Bila membahayakan keselamatan diri sendiri atau orang lain akan
     mendapat teguran dan atau dikeluarkan dari ruangan dan harus
     mempertanggungjawabkan perbuatannya.
                                                         d. Pelanggaran terhadap
peraturan lain akan ditentukan kemudian sesuai dengan jenis pelanggaran
yang dilakukan


Kamis, 26 Juli 2012
Deskripsi Tugas Penanggung Jawab Laboratorium IPA


Tenaga-tenaga yang bertanggung jawab secara langsung dalam hal pengelolaan Laboratorium
adalah :

   1. Kepala Sekolah
   2. Koord. Laboratorium
   3. Laboran

1. Tugas Kepala Sekolah

   1. Memberi tugas kepada Koord. Lab serta Laboran untuk bertugas di Laboratorium
   2. Menyediakan dana untuk keperluan-keperluan Laboratorium.
   3. Memberikan bimbingan, pengarahan, monitoring dan evaluasi kepada tenaga-tenaga
      yang bertugas di Laboratorium.
   4. Memberikan motivasi kepada guru-guru IPA untuk memanfaatkan sarana
      Laboratorium IPA dalam proses pembelajaran di sekolah.

2. Tugas Koordinator Laboratorium

   1. Bertanggung jawab atas kelengkapan administrasi Laboratoorium
   2. Bertanggung jawab atas alat-alat yang rusak/ tidak berfungsi
   3. Mengecek kelengkapan /fungsi alat/ bahan sebelum dan sesudah proses pembelajaran.
  4. Bertanggung jawab atas penyimpanan, perawatan alat/bahan IPA.
  5. Mengusulkan kepada Kepala Sekolah tentang pengadaan alat/bahan yang diperlukan.

3. Tugas Laboran

  1. Merencanakan pengadaan alat dan bahan Laboratorium
  2. Menyusun jadwal kegiatan dan tata tertib penggunaan Laboratorium
  3. Mempersiapkan peralatan/bahan yang akan dipergunakan praktikum dari guru mata
      pelajaran
  4. Mengatur pengeluaran dan pemasukan / penyimpanan alat-alat Laboratorium
  5. Mendaftar pemakaian alat/bahan Lab yang habis pakai
  6. Membuat daftar katalog sesuai jenis alat dan bahan Laboratorium
  7. Menginventarisir dan pengadministrasian peminjaman alat-alat Laboratorium
  8. Memelihara dan memperbaiki peralatan / perkakas dan bahan Laboratorium
  9. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan Laboratorium
  10. Bertanggung jawab atas kebersihan ruang dan alat Laboratorium IPA

 TATA TERTIB PESERTA DIDIK DALAM MENGGUNAKAN LABORATORIUM
                              IPA

KEWAJIBAN PESERTA DIDIK

  1. Masuk ruang Laboratorium secara tertib dan teratur.
  2. Menggunakan alat dan bahan praktikum harus sesuai petunjuk.
  3. Jika merusakkan alat-alat, harus segera melapor kepada Laboran/ Guru Pembina
     Praktikum.
  4. Menggunakan bahan praktikum harus hemat.
  5. Jika melakukan percobaan harus didampingi Guru Pembina Praktikum.
  6. Menggunakan alat dan bahan berbahaya harus hati-hati.
  7. Melaksanakan kegiatan praktikum secara tertib dan bertanggung jawab.

LARANGAN-LARANGAN

  1.   Membawa tas, makanan, minuman ke dalam ruang Laboratorium.
  2.   Membawa alat atau bahan ke luar ruang Laboratorium tanpa ijin.
  3.   Bekerja menurut kemauan sendiri
  4.   Mencicipi, membau bahan-bahan kimia yang berbahaya.
  5.   Mencoba mengoleskan cairan yang berbahaya pada kulit.
  6.   Bersendau gurau dan mengganggu teman lain yang sedang bekerja.
  7.   Mencoba-coba alat atau bahan praktikum yang membahayakan diri sendiri atau orang
       lain.

TINDAKAN / SANKSI TERHADAP PELANGGARAN

  1. Peserta didik yang tidak mematuhi tata tertib, dilarang mengikuti kegiatan praktikum
     dan disuruh keluar ruangan.
  2. Peserta didik yang merusakkan alat-alat, harus mengganti sendiri jika ia bekerja
     sendiri dalam melaksanakan praktikum.
  3. Peserta didik apabila bekerja dalam kelompok merusakkan alat-alat, maka kelompok
     tersebut harus mengganti alat yang dirusakkan.
     4. Sekolah tidak bertanggung jawab, jika seorang peserta didik mengalami cedera atas
        kelalaian / kesalahan sendiri dalam bekerja.


Minggu, 16 September 2012
PEMBAHASAN SOAL UN BIOLOGI SMP/MTS 2012
1.   Dalam pengamatan sel bawang merah sering diberi larutan biru metilen. Tujuan
penambahan biru metilen tersebut adalah . . . .

    A. Menambah sitoplasma
B. Mengamati inti sel
C. Memperjelas dinding sel
D. Mengetahui letak membrane sel

Jawaban : B
Bahasan : biru metilen yang ditambahkan dalam pengamatan sel bawang merah di bawah
mikroskop dapat memperjelas inti sel
2.     Dalam suatu pengamatan di lapangan, ditemukan jenis tanaman dengan cirri-ciri
sebagai berikut :
(1) Berkembangbiak dengan spora
(2) Belum mempunyai jaringan pengangkut
(3) Bentuk lembaran-lembaran
(4) Daun berwarna hijau dengan tepi berlekuk seperti cuping
(5) Tumbuh menggerombol, di atas tanah
Berdasarkan cirri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa tanaman tersebut termasuk jenis
tanaman . . . .


A. Lumut daun
B. Lumut hati
C. Paku-pakuan
D. Ganggang hijau

Jawaban : B
Bahasan : ciri-ciri tumbuhan lumut hati (Hepaticeae) :
1. Berkembangbiak dengan spora
2. Belum mempunyai jaringan pengangkut
3. Tubuhnya berbentuk lembaran
4. Daun dengan tepi berlekuk-lekuk
5. Tumbuh bergerombol di tempat lembab

3.      Perhatikan gambar berikut!

Bentuk strobilus semacam ini dimiliki oleh . . . .
       A. Melinjo
B. Pakis
C. Dammar
D. Pinus
Jawaban : DBahasan : bentuk strobilus pada gambar adalah strobilus jantan pada pinus
(Pinus merkusii)
4.     Perkembangan belalang mulai dari telur sampai menjadi belalang dewasa
mengalami metamorfosis tidak sempurna, karena . . . .

       A. Pertumbuhan belalang tidak melalui masa kepompong
B. Perkembangan belalang melewati masa kepompong
C. Pertumbuhan dan perkembangan belalang tidak mengalami bertelur
D. Perkembangan belalang berada di padang rumput
Jawaban : ABahasan : metamorphosis tidak sempurna = telur – nimfa – imago
Contoh : belalang
Jadi perkembangan belalang tidak melalui masa kepompong (pupa)
5.     Perhatikan gambar berikut!

Tulang kering dan sendi engsel berturut-turut ditunjukkan nomor . . . .

      A. 3, 4           C. 1, 3
B. 2, 3          D. 1, 2
Jawaban : C

Bahasan : tulang kering dan sendi engsel berturut-turut ditunjukkan nomor 1 dan 3,
sedangkan nomor 2 menunjukkan tulang paha, dan nomor 4 menunjukkan tulang betis.
6.    Gangguan pada pangkal usus duabelas jari disebabkan sekresi cairan lambung
masuk ke dalam usus duabelas jari sehingga asam disebut . . . .

       A. Melabsorpsi
B. Gastritis
C. Konstipasi
D. Ulkus peptikum
Jawaban : B
Bahasan : gastritis merupakan gangguan pada pangkal usus duabelas jari yang
disebabkan oleh kelebihan asam dalam lambung
7.     Pernyataan:
(1) Otot antar tulang rusuk berkontraksi menyebabkan tulang rusuk terangkat
(2) Otot tulang rusuk relaksasi kembali pada posisi semula
(3) Diafragma berkontraksi sehingga menjadi datar
(4) Diafragma relaksasi bentuknya menjadi melengkung kembali seperti semula
Proses pernapasan dada sesuai dengan pernyataan nomor . . . .
      A. (1) dan (2)
B. (2) dan (4)
C. (1) dan (3)
D. (3) dan (4)
Jawaban : A
Bahasan : proses pernapasan dada :
1. Inspirasi = otot antar tulang rusuk berkontraksi – tulang rusuk terangkat volume
rongga dada membesar – tekanan udara menurun – udara masuk.
2. Ekspresi = otot tulang rusuk relaksasi – tulang rusuk turun kembali – volume rongga
dada mengecil – tekanan udara naik – udara keluar.
8.    Perhatikan bagan di peredaran darah manusia berikut ini!

Darah yang paling kaya oksigen berada dalam pembuluh darah nomor . . . .

       A.   4
B. 3
C. 2
D. 1
Jawaban : ABahasan : darah yang paling kaya oksigen berada dalam pembuluh nadi atau
arteri
9.     Jaringan parenkim yang terdapat pada daun adalah . . . .

        A. Bunga karang dan stomata
B. Epidermis dan floem
C. Palisade dan bunga karang
D. Palisade dan epidermis
Jawaban : C
Bahasan : parenkim daun :
1. Palisade (jaringan tiang) --> tempat fotosintesis
2. Spons (bunga karang) --> tempat fotosintesis dan menyimpan sementara hasil
fotosintesis
10.     Factor-faktor berikut ini mempengaruhi naiknya air menuju daun, kecuali . . . .

      A. Kandungan air tanah
B. Tekanan akar
C. Daya isap daun
D. Kapilaritas pembuluh
Jawaban : A
Bahasan : faktor-faktor yang mempengaruhi naiknya air menuju daun :
1. Daya tekan akar
2. Daya isap daun
3. Daya kapilaritas
4. Pengaruh sel-sel hidup
11.    Gerak membelit sulur tanaman kacang panjang pada kayu tempat tumbuhnya
disebut gerak . . . .

       A. Tigmonasti
B. Tigmotropisme
C. Fototropisme
D. Seismonasti
Jawaban : B
Bahasan : tigmotropisme adalah gerak tropisme karena rangsangan sentuhan benda yang
lebih keras. Contohnya geak membelit sulur pada tanaman kacang panjang, mentimun,
dan markisa.
12.    Jenis organisme yang dapat membunuh sel dan merusak aktifitas metabolism
dengan mengeluarkan enzim ke dalam sel tanaman adalah jenis . . . .


A. Jamur kupas
B. Fusarium oxysporum
C. Phythopthora infestant
D. Jamur layu daun
Jawaban : C
Bahasan : Phythopthora infestant adalah suatu jamur yang menyerang tanaman kentang
dengan mengeluarkan enzim ke dalam sel tanaman kentang sehingga dapat membunuh
sel dan merusak aktifitas metabolism.
13.    Perhatikan gambar ginjal berikut ini!

Medulla dan ureter ditunjukkan gambar dengan nomor . . . .

      A. 1, 6
B. 2, 5
C. 3, 7
D. 1, 4
Jawaban : C
Bahasan : Keterangan gambar ginjal :
1. Kapsula Bowmann
2. Korteks
3. Medulla
4. Arteri
5. Vena
6. Piala ginjal
7. Ureter
14.   Pernyataan :
(1) Mengeluarkan urea, amoniak, asam ureat
(2) Memproduksi protrombin
(3) Menyimpan gula dalam bentuk glikogen
(4) Mengubah provitamin D menjadi vitamin D
(5) Menghasilkan getah empedu
Di antara pernyataan tersebut yang sesuai dengan fungsi hati adalah . . . .

      A. (1), (2), (3)
B. (1), (3), (5)
C. (3), (4), (5)
D. (2), (3), (4)
Jawaban : B
Bahasan : fungsi hati :
(1) Mengeluarkan urea, amoniak, asam ureat
(2) Menyimpan gula dalam bentuk glikogen
(3) Menghasilkan getah empedu
(4) Menawarkan racun
(5) Tempat perombakan sel darah merah
15.   Jenis penyakit yang dapat merusak kekebalan tubuh adalah . . . .

       A. AIDS
B. Klamidia
C. Gonorhoe
D. Sifilis
Jawaban : A
Bahasan : AIDS disebabkan oleh virus HIV yang dapat menghilangkan daya kekebalan
tubuh, dengan menyerang sel-sel darah putih T4, sehingga sel darah putih tersebut tidak
dapat memproduksi antibodi.
16.    Mekanisme terjadinya gerak refleks adalah . . . .




A. Indera -> sensorik -> otak -> motorik -> alat gerak
B. Indera -> motorik -> otak -> sensorik -> alat gerak
C. Reseptor -> sensorik -> konektor -> motorik -> efektor
D. Reseptor -> motorik -> otak -> sensorik -> alat gerak
Jawaban : C
Bahasan : mekanisme gerak reflex : reseptor -> saraf sensorik -> saraf konektor -> saraf
motorik -> efektor
17.    Ujung syaraf berselaput pad bagian kulit yang peka terhadap rangsang sentuhan
dan rabaan adalah korpuskel . . . .

      A. Meissner
B. Pacini
C. Krause
D. Ruffini
Jawaban : A
Bahasan : ujung saraf :
1. Berselaput (Korpuskel)
- Meissner : untuk sentuhan
- Pacins : untuk tekanan
2. Tak berselaput (ujung saraf bebas)
- Krause : reseptor dingin
- Ruffini : reseptor panas
18.   Perhatikan gambar berikut ini!

Alat untuk memperoleh makanan pada gambar di samping sesuai digunakan sebagai alat .
...

       A. Penusuk dan pengisap
B. Pengisap madu
C. Penggigit makanan
D. Penjilat makanan
Jawaban : B
Bahasan : alat untuk memperoleh makanan pada gambar dimiliki oleh kupu-kupu, yang
sesuai digunakan sebagai alat penghisap madu.
19.    Sifat dari suatu organisme yang tidak muncul karena terkalahkan oleh
pemunculan sifat lain yang sejenis, disebut . . . .

       A. Dominan
B. Intermediate
C. Heterozigot
D. Resesif
Jawaban : D
Bahasan : istilah-istilah dalam genetikal antara lain:
1. Dominan : gen yang mengalahkan gen lain yang sejenis, dan muncul pengaruhnya
dalam fenotip
2. Resesif : gen yang kalah dan tidak muncul pengaruhnya
3. Homozigot : genotip yang tersusun atas pasangan gen yang sama
4. Heterozigot : genotip yang tersusun atas pasangan gen yang tidak sama
5. Genotip : sifat organisme yang tidak tampak
6. Sifat organisme yang tampak
7. Intermediet : suatu sifat tidak dominan dan tidak resesif
20.    Perhatikan bagan persilangan berikut ini!



Jumat, 22 Juni 2012
Kumpulan LKS IPA Fisika Biologi dan Kimia SMP Sumber
Publikasipendidikan
Bagi bapak guru ibu guru yang ingin membuat LKS IPA di sini kami buatkan contoh LKS
Fisika SMP kelas VII yang saya gunakan di dalam kelas.
LKS Fisika SMP kelas VII ini membahas tentang pengukuran, yang isinya mencakut banyak
hal diantaranya :
Kumpulan LKS IPA Fisika Biologi dan Kimia SMP Sumber
Publikasipendidikan
Kegiatan Penyelidikan
Panduan Belajar
Lab Mini (Percobaan)
Remidial
Kumpulan LKS IPA Fisika Biologi dan Kimia SMP Sumber
Publikasipendidikan
Tentu saja LKS ini sangat bagus untuk rekan-rekan guru gunakan dan saya sangat
merekomendasikannya untuk membuat kegiatan pembelajaran didalam kelas menjadi lebih
berwarna dan tentusaja menjadikan suasana kelas menjadi asyik dan nyaman bagi guru dan
siswa.

Berikut kutipan isinya :
Kumpulan LKS IPA Fisika Biologi dan Kimia SMP Sumber
Publikasipendidikan

LKS Fisika SMP Kelas VII Pengukuran
Kegiatan I Kegiatan Penyelidikan
Para ilmuwan bila melakukan eksperimen, hasilnya selalu dilaporkan sehingga dapat
diketahui dan dipelajari oleh ilmuwan lain. Dalam melaporkan hasil eksperimen-nya, para
ilmuwan telah menyepakati penggunaan satuan pengukuran baku yaitu Sistem Internasional
(SI) sehingga tidak menimbulkan perbedaan pemahaman.
Sebelum diciptakan satuan pengukuran yang baku, dahulu orang-orang menciptakan satuan
pengukuran sendiri-sendiri untuk mengkomunikasikan ukuran sesuatu. Misalnya:
Kumpulan LKS IPA Fisika Biologi dan Kimia SMP Sumber
Publikasipendidikan
jengkal (gambar 1): jarak antara ujung jari kelingking dan ujung ibu jari, ketika
jari-jari tangan direnggangkan paling lebar
telapak (gambar 2): lebar telapak tangan termasuk ibu jari
lengan (gambar 3): jarak antara ujung siku hingga ujung jari tengah
Satuan-satuan pengukuran di atas memang sangat mudah didapatkan, tetapi banyak
menimbulkan kesulitan. Mengapa? Untuk menjawab pertanyaan ini, lakukanlah kegiatan
berikut!
Kumpulan LKS IPA Fisika Biologi dan Kimia SMP Sumber
Publikasipendidikan
Alat yang dibutuhkan
Tangan dan penggaris.
Prosedur

Bentuklah kelompok dengan anggota 4 sampai 5 orang!
Masing-masing kelompok, pelajarilah gambar-gambar di bawah ini untuk memahami satuan
jengkal, telapak, dan lengan.

BERIKUT KUMPULAN LKS IPA Fisika Biologi dan Kimia SMP
( LKS SIFAT FISIKA DAN KIMIA ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS SIFAT ZAT ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS PENGUKURAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS GERAK ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS ORGAN TUMBUHAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS GAYA DAN ENERGI ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS CAHAYA DAN OPTIK ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS BUNYI ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS MIKROSKOP ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS TANDA KEHIDUPAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS ASAM BASA ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS GETARAN DAN GELOMBANG ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS GAYA ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS MIKROSKOP BAG. 2 ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS SEL ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS SISTEM KEHIDUPAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS KEANEKARAGAMAN ) sumber Publikasipendidikan
Download
( LKS POLUSI ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS SAINS DAN MATEMATIKA ) sumber Publikasipendidikan
Download

TANDA KEHIDUPAN sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS SIFAT KEHIDUPAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS KINGDOM ) sumber Publikasipendidikan
Download

TULANG sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS IMUNISASI ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS ION DAN PARTIKEL ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS ALAT PERNAPASAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS SISTEM TRANSPORTASI TUBUH ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS ALAT PENCERNAAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS DAMPAK ZAT ADIKTIF ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS TUMBUHAN ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS TULANG ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS KOMPOSISI BAHAN KIMIA ) sumber Publikasipendidikan
Download

( LKS BAHAN KIMIA BAG. 2) sumber Publikasipendidikan
Download
(LKS BAHAN KIMIA BAG. 1) sumber Publikasipendidikan
Download

Read more: http://datapendidik.blogspot.com/2012/06/kumpulan-lks-ipa-fisika-biologi-
dan.html#ixzz2BzUBMqbC

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:891
posted:11/22/2012
language:Indonesian
pages:69