Docstoc

Asuhan Keperawatan Mengenai Caesar

Document Sample
Asuhan Keperawatan Mengenai Caesar Powered By Docstoc
					                              TINJAUAN TEORI



A. PENGERTIAN

       Section caesarea adalah lahirnya janin melalui insisi didinding abdomen

(laparotomi) dan dinding uterus (histerektomi). (cuningham, F garry, 2005 ; 592)

Operasi Caesar atau sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan

dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi.

(www.mikoraharja.wordpress.com)



       Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-

tanda persalinan (Mansjoer, Arif, 1999: 310).

Ketuban Pecah Dini didefinisikan sebagai amnioreksis sebelum permulaan

pesalinan pada setiap tahapan kehamilan. (Hecker, 2001: 304).



       Ketuban Pecah Dini yaitu apabila ketuban pecah spontan dan tidak diikuti

tanda-tanda persalinan, beberapa jam sebelum inpartu, misalnya 1 jam atau 6 jam

sebelum inpartu. Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan servik

pada kala I, misalnya ketuban pecah sebelum pembukaan servik pada

primigravida 3 cm dan pada multigravida kurang dari 5 cm.



       Masa nifas adalah periode setelah kelahiran bayi dan plasenta sampai

sekitar 6 minggu setelah post partum (Hecker, 2001: 145).

Sectio caesarea merupakan tindakan operatif yang bertujuan menyelamatkan janin

dan ibu.



                                                                               1
B. ETIOLOGI



1. Etiologi ketuban pecah dini

          Penyebab dari ketuban pecah dini (KPD) masih belum jelas ada berbagai

faktor ikut serta dalam kejadiannya. (Hecker, 2001 ; 304)

          a. Infeksi vagina dan servik

          b. Fisiologi selaput ketuban yang abnormal

          c. Inkompetensi serviks

          d. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vtaimn C).

Menurut Mansjoer Arif, faktor presdisposisi KPD yaitu infeksi genitalia, servik

inkompeten, gamelia, hidramnion kehamilan pre term, dan disproporsi sepalo

pelvik.

2. Indikasi section caesarea

Indikasi sectio caesarea (Cuningham, F Garry, 2005: 595)

a. Riwayat sectio caesarea

          Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontraindikasi

untuk melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Resiko ruptur

uteri meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan

perut melintang yang terbatas disegmen uterus bawah , kemungknan mengalami

robekan jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang

mengalami ruptur uteri beresiko mengalami kekambuhan , sehingga tidak

menutup kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervaginam tetapi dengan

beresiko ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin, american collage of

obstetrician and ginecologistc (1999)



                                                                               2
b. Distosia persalinan

       Distosia berarti persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya

kemajuan persalinan, persalinan abnormal sering terjadi terdapat disproporsi

antara bagian presentasi janin dan jalan lahir, kelainan persalinan terdiri dari :


   1) Ekspulsi (kelainan gaya dorong)

       Oleh karena gaya uterus yang kurang kuat, dilatasi servik (disfungsi

       uterus) dan kurangnya upaya utot volunter selama persalinan kala dua.

   2) Panggul sepit

   3) Kelainan presentasi, posisi janin

   4) Kelainna jaringan lemak saluran reproduksi yang menghalangi turunnya

       janin


c. Gawat janin

Keadaan gawat janin bisa mempengaruhi keadaan keadaan janin, jika penentuan

waktu sectio caesarea terlambat, kelainan neurologis seperti cerebral palsy dapat

dihindari dengan waktu yang tepat untuk sectio caesarea.

d. Letak sungsang

Janin dengan presetasi bokong mengalami peningkatan resiko prolaps tali pusat

dan terperangkapnya kepala apabila dilahirka pervaginam dibandingkan dengan

janin presentasi kepala.




                                                                                     3
C. PATOFISIOLOGI

       Amnion terdapat pada plasenta dan berisi cairan yang didalamnya adalah

sifat dari kantung amnion adalah bakteriostatik yaitu untuk mencegah

karioamnionistis dan infeksi pada janin. Atau disebut juga sawar mekanik

terhadap infeksi. Setelah amnion terinfeksi oleh bakteri dan disebut kolonisasi

bakteri maka janin akan berpotensi untuk terinfeksi juga pada 25% klien cukup

bulan yang terkena infeksi amnion, persalinan kurang bulan terkena indikasi

ketuban pecah dini daripada 10% klien persalinan cukup bulan indikasi ketuban

pecah dini akan menjadi tahap karioamnionitis (sepsis, infeksi menyeluruh).

Keadaan cerviks yang baik pada kontraksi uterus yang baik, maka persalinan per

vagina dianjurkan, tetapi apabila terjadi gagal induksi cerviks atau induksi cerviks

tidak baik, maka tindakan sectio caesarea tepat dilakukan secepat mungkin untuk

menghindari      kecacatan     atau     terinfeksinya     janin     lebih    parah.



D. MANIFESTASI KLINIK

Adapun tanda-tanda KPD yaitu (Mansjoer, Arif, 1999: 310) :


   1. Keluar air ketuban warna keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan

       sedikit atau sekaligus banyak

   2. Dapat disertai demam apabila disertai infeksi

   3. Janin mudah diraba

   4. Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah

       kering




                                                                                  4
    5. Inspekula tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban sudah kering

        dan tidak ada.




E. GAMBARAN KLINIS

1. Tahapan dan Teknik Sectio Caesarea

a. Insisi Abdomen

1) Insisi vertical

        Insisi vertikal garis tengan intra umbilikus, insisi ini harus cukup pajang

agar janin dapat lahir tanpa kesulitan. Oleh karena itu, panjang insisi harus sesuai

dengan taksiran ukuran janin

2) Insisi transversal atau lintang

        Kulit dan jaringan subkutan disayat dengan menggunakan insisi

transversal rendah sedikit melengkung. Insisi dibuat setinggi garis rambut pubis

dan diperluar sedikit melebihi batas lateral otot rektus.

b. Insisi Uterus

1) Insisi caesarea klasik

        Insisi caesarea klasik adalah suatu insisi vertikal ke dalam korpus uterus

diatas segmen bawa uterus dan mencapai fundus uterus. Sebagian besar insisi

dibuat di segmen bawah uterus secara melintang, insisi melintang disegman

bawah memiliki keunggulan yaitu hanya memerlukan sedikit pemisahan kandung

kemih dari miometrium dibawahnya. Indikasi untuk dilakukan insisi klasik untuk

melahirkan janin :




                                                                                  5
   a) Apabila segman bawah uterus tidak bisa dipajankan atau dimasuki dengan

       aman karena kandung kemih melekat dengan erat akibat pembedahan

       sebelumnya, atau apabila teardapat karsinoma invasik diservik

   b) Janin berukuran besar, terletak melintang, selaput ketuban sudah pecah

       dan bahu terjepit jalan lahir

   c) Plasenta previra dengan implantasi anterior

   d) Janian kecil, presentasi bokong, segman bawah uterus tidak menipis

   e) Obesitas berat


2) Insisi caesarea transversal

       Insisi tranversal melalui segman bawah uterus merupakan tindakan untuk

presentasi kepala, diantaranya :


   a) Lebih mudah diperbaiki

   b) Kemungkinan ruptur disrtai keluarnya janin kerongga abdomen pada

       kehamilan berikutnya

   c) Tidak mengakibatkan perlekatan usus


       Insisi uterus harus dibuat cukup lebar agar kepala dan badan janin dapat

lahir tanpa merobek atau harus memotong arteri dan vena uterina yang bejalan

sepanjang batas lateral uterus.

       Pelahiran janin :


   a. Pada presentasi kepala, satu tangan diselipkan kedalam rongga uterus

       diantara simpisis dan kepala janin kepala diangkat secara hati-hati denga

       jari da telapak tangan melalui lubanginsisi melalui lubang insisi dibantu

       oleh penekanan sedang transabdomen pada fundus.


                                                                              6
   b. Hidung dan mulut diaspirasi dengan bola penghisap (bulb syringe) untuk

       mencegah teraspirasinya cairan amnion dan isis nya oleh janin, dilakukan

       sebelum thorak dilahirkan.

   c. Bahu dilahirkan dengan tanpa ringan disertai penekanan pada fundus

   d. Bagian tubuh lainnya segera menyusul, setelahbahu dilarirkan, ibu atau

       pasien diberi oksitosin 20 unit/liter dengan kecepatan 10 lml/menit sampai

       uterus berkontraksi dengan baik.

   e. Tali pusat diklem, bayi dipegang setinggi dinding abdoment.

   f. Plasenta dikelurkan dari uterus.

   g. Penjahitan uterus dan dinding abdoment.

   h. Macam-macam sectio caesarea yang lain


Indikasi Dilakukan Section Caesarea yang Lain Diantaranya :



a. Section Caesarea Ektra Peritoneum

       Diindikasikan bila terjadi kehamilandengan infeksi isi uterus, tujuan

operasi adalah untuk membuka uterus secara ektra peritoneum. Dengan

melakukan insisi melalui ruang retziuz dan kemudian disepanjang salah satu sisi

dan dibelakang kandung kemih untuk mencapai segman bawah uterus.

b. Section Caesarea Post Mortum

       Terkadang section caesarea dilakukan pada seorang wanita yang baru saja

meninggal, atau yang diperkirakan tidak lama lagi akan meninggal.




                                                                               7
   1) Anestesia Sectio Caesarea


       Analgesia dan anestesia harus diberikan pada ibu yang akan melahirkan

dengan cara tidak mengurangi aktifitas rahim, yang dapat mengubah kemajuan

persalinan, maupun tidak mengurangi aliran darah rahim, yang akan

dapatmengakibatkan gawat darurat janin atau depresi neonatal.

a. Jalur nyeri pada proses persalinan

       Nyeri adalah rasa tak enak akibat perangsangan ujung-ujung syaraf

khusus. Serat syaraf aferen viseral yang membawa impuls sensorik dari rahim

memasuki medula spinalis pada segman torakal kesepuluh, kesebelas, dan

keduabelas serta segman lumbal yang pertama (T 10 sampai L 1), adapun nyeri

dari perineum melalui segman sakral kedua, ketiga, dan keempat (S 2 sampai S 4).

b. Jenis anestesia untuk sectio caesarea

1) Anestesia Regional

       Memungkinkan ibu hamil dalam keadaan tetap sadar dan mengurangi

kehilangan darah, resiko aspirasi paru-paru oleh isi lambung atau hipoksia yang

kecil dan mengurangi efek obat pada neonatus.

2) Anestesia Epidural

       Anesthesia ini lebih dapat dikendalikan oleh kateter epidural, nyeri kepala

tidak akan terjadi pasca operasi karena dura tidak ditusuk.

3) Anestesia Umum

Di indikasikan bila dibutuhkan section caesarea yang mendesak pada perdarahan

ibu.




                                                                                8
4. Komplikasi

Komplikasi sectio caesarea mencakup periode masa nifas yang normal dan

komplikasi setiap prosedur pembedahan utama. Kompikasi sectio caesarea

(Hecker, 2001 ; 341)

a. Perdarahan

       Perdarahan primer kemungkinan terjadi akibat kegagalan mencapai

hemostasis ditempat insisi rahim atau akibat atonia uteri, yang dapat terjadi

setelah pemanjangan masa persalinan.

b. Sepsis sesudah pembedahan

       Frekuensi dan komplikasi ini jauh lebih besar bila sectio caesarea

dilakukan selama persalinan atau bila terdapat infeksi dalam rahim. Antibiotik

profilaksis selama 24 jam diberikan untuk mengurangi sepsis.

c. Cedera pada sekeliling stuktur

       Beberapa organ didalam abdomen seperti usus besar, kandung kemih,

pembuluh didalam ligamen yang lebar, dan ureter, terutama cenderung terjadi

cedera. Hematuria yang singkat dapat terjadi akibatterlalu antusias dalam

menggunakan retraktor didaerah dinding kandung kemih.



Komplikasi Pada anak

       Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan sectio

caesarea banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan

sectio caesaria. Menurut statistik di negara – negara dengan pengawasan antenatal




                                                                               9
dan intra natal yang baik, kematian perinatal pasca sectio caesaria berkisar antara

4 dan 7 %. (Sarwono, 1999).



Komplikasi dari Ketuban Pecah Dini diantaranya :

a. Infeksi intra uteri

b. Prola tali pusat

c. Kelainan presentasi janin

d. Persalinan per vaginam tidak diindikasikan

5. Proses Penyembuhan Luka

        Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan dilkukan

proses sectio cesrea “proses peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima

tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain)

dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup

beberapa fase:

a. Fase Inflamasi

        Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi

akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak dicapai

adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing,

sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan.

        Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada

kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.

b. Fase Proliferatif

        Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan

menyembuhkan luka sectio caesare dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran



                                                                                10
fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada

persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama

proses reonstruksi jaringan.

       Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel

fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang.

Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke

dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan

beberapa   substansi   (kolagen,   elastin,   hyaluronic   acid,   fibronectin   dan

proteoglycans) yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru.

Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru

(connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas,

memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga fibroblas

sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. Sejumlah sel dan pembuluh

darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan

“granulasi”.

       Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah

terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth

faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.



c. Fase Maturasi

       Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai

kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan

terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan

bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna



                                                                                  11
kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat

fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan

dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah

perlukaan sectio caesarea.

       Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan

jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal.

Meskipun proses penyembuhan luka sama bagi setiap penderita, namun outcome

atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing

individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai

proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik

(diabetes mellitus)



F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

       Untuk mengetahui ketuban pecah dini dapat dilakukan pemeriksaan,

diantaranya (Manjoer, Arif. 1999 : 271)

1. Leukosit darah kurang dari 1500 permikro darah liter, bila terjadi nyeri

2. Tes lakmus merah mejadi biru

3. Amnias sintetis (dengan cara amnion yang cukup diperoleh dari vagina untuk

pemeriksaan pematangna paru-paru jain, dan dilakukan pemeriksaan pewarnaan

gram dan biakan)

4. USG, indeks caira amnion berkurang

5. Darah lengkap, (haemoglobin, Hematokrit, leukosit, trombosit, dll)




                                                                              12
G. TATALAKSANA MEDIS

Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea

(Cuningham, F Garry, 2005 : 614)


   1. Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat

   2. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap

      berkontraksi dengan kuat

   3. Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan,

      pemberian narkotik biasanya disertai anti emetik, misalnya prometazin 25

      mg

   4. Eriksa aliran darah uterus palingsedikit 30 ml/jam

   5. Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24

      jam pertama setelah pembedahan

   6. Ambulasi, satu hari setelahpembedahan klien dapat turun sebertar dari

      tempat tidur dengan bantuan orang lain

   7. Perawatan luka, insisi diperiksa setiap hari, jahitan kulit (klip) diangkat

      pada hari keempat setelah pembedahan

   8. Pemeriksaan     laboratorium,   hematokrit       diukur    pagi   hari      setelah

      pembedahan     untuk    memastikan     perdarahan         pasca   operasi     atau

      mengisyaratkan hipovolemia

   9. Mencegah infeksi pasca operasi, ampisilin 29 dosis tunggal, sefalosporin,

      atau penisilin spekrum luas setelahjanin lahir




                                                                                      13
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN

         Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Pelaksanaan asuhan keperawatan masa nifas pada post operasi sectio caesaria

melalui pendekatan proses keperawatan dengan melaksanakan :



1. Pengkajian

         Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan

meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin,

prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa. (Tucker, Susan Martin,

1998).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan post operasi sectio

caesaria diantaranya :


   a. Nyeri yang berhubungan dengan kondisi pasca operasi.

   b. Resiko terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan/atau konstipasi

         yang berhubungan dengan manipulasi dan/atau trauma sekunder terhadap

         sectio caesaria.

   c. Resiko terhadap infeksi atau cedera yang berhubungan dengan prosedur

         pembedahan.

   d. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang

         perawatan melahirkan caesar.

   e.    Kurang volume cairan berhubungna dengan perdarahan (Doenges, 2000)




                                                                              14
   f. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang

       informasi (Doenges, 2000)

   g. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang

       informasi (Doenges, 2000)


3. Fokus Intervensi

a. Nyeri yang berhubungan dengan kondisi pasca operasi.

Tujuan : Nyeri diminimalkan / dikontrol dan pasien mengungkapkan bahwa ia

nyaman.

Kriteria

Hasil : Klien mengungkapkan bahwa klien nyaman



Intervensi :


   1) Antisipasi kebutuhan terhadap obat nyeri dan atau metode tambahan

       penghilang nyeri.

   2) Perhatikan dokumentasikan, dan identifikasi keluhan nyeri pada sisi insisi;

       abdomen, wajah meringis terhadap nyeri, penurunan mobilitas, perilaku

       distraksi/penghilang.

   3) Berikan obat nyeri sesuai pesanan dan evaluasi efektivitasnya.

   4) Berikan tindakan kenyamanan lain yang dapat membantu, seperti

       perubahan posisi atau menyokong dengan bantal.


b. Resiko terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan/atau konstipasi yang

berhubungan dengan manipulasi dan/atau trauma sekunder terhadap sectio

caesaria.



                                                                              15
Tujuan : Berkemih secara spontan tanpa ketidaknyamanan Mengalami defeksi

dalam 3 sampai 4 hari setelah pembedahan.



Kriteria Hasil : Klien tidk ad permasalahn dengan pola eliminss

Intervensi :


   1. Anjurkan berkemih setiap 4 jam sampai 6 jam bila mungkin.

   2. Berikan tekhnik untuk mendorong berkemih sesuai kebutuhan.

   3. Jelaskan prosedur perawatan perineal per kebijakan rumah sakit.

   4. Palpasi abdomen bawah bila pasien melaporkan distensi kandung kemih

       dan ketidakmampuan untuk berkemih.

   5. Anjurkan ibu untuk ambulasi sesuai toleransi.


c. Resiko terhadap infeksi atau cedera yang berhubungan dengan prosedur

pembedahan.

       Tujuan : Insisi bedah dan kering, tanpa tanda atau gejala infeksi, Involusi

uterus berlanjut secara normal

Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda nfeksi, tidak ada eksudat, dan suhu normal

36º C - 37º C

Intervensi                                                                       :

1) Pantau terhadap peningkatan suhu atau takikardia sebagai tanda infeksi.

2) Observasi insisi terhadap infeksi.

3) Penggantian pembalut atau sesuai pesanan

4) Kaji fundus, lochia, dan kandung kemih dengan tanda vital sesuai pesanan.

5) Massage fundus uteri bila menggembung dan tidak tetap keras


                                                                               16
d. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang

perawatan melahirkan caesar.

Tujuan : Klien mengungkapkan pemahaman tentang perawatan melahirkan sesar.

Kriteria Hsil : Klien mengerti kebutuhan nutrisinya, klien mengerti tentang

lochea, dan klien dapat istiraht dengan cukup.

Intervensi


   1) Diskusikan tentang perawatan insisi, gejala infeksi dan pentingnya diet

       nutrisi.

   2) Jelaskan tentang pentingnya periode istirahat terencana.

   3) Jelaskan bahwa lochia dapat berlanjut selama 3 – 4 minggu, berubah dari

       merah ke coklat sampai putih.

   4) Jelaskan pentingnya latihan, tidak mulai latiha keras sampai diizinkan oleh

       dokter

   5) Jelaskan tentang perawatan payudara dan ekspresi manual bila menyusui.


e. Kurang volume cairan berhubungna dengan perdarahan (Doenges, 2000)

Tujuan : memenuhi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan tubuh

Kriteria Hasil : intake dan out put seimbang

Intervensi                                                                      :

1) Observasi perdarahan dan kontraksi uterus

2) Monitor intake dan out put cairan

3) Monitor tanda-tanda vital

4) Observasi pengeluaran lochea, warna, bau, karakteristik dan jumlah

5) Kolaborasi pemberian cairan elektrolit sesuai program




                                                                              17
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Doenges, 2000)

Tujuan : aktivitas kembali sesuai kemampuan klien

Kriteria hasil : klien bisa beraktivitas seperti biasa


        Intervensi :



    1) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seminimal mungkin

    2) Berikan posisi yang nyaman

    3) Bantu klien dalam ambulasi dini

    4) Anjurkan menghemat energi, hindarikegiatan yang melelahkan

    5) Jelaskan pentingnya mobilisasi dini


g. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang

informasi (Doenges, 2000)

Tujuan : Pengetahuan klien meningkat

Kriteria hasil : klien mampu mengungkapkan pemahaman tentag perawatan

setelahoperasi sectio caesarea

Intervensi :


    1) Kaji tingkat pengetahuan klien

    2) Berikan tentang perawatan diri

    3) Perlunya perawatan payudara dan ekpresi manual bila menyusui

    4) Jelaskan pentingnya ASI bagi bayi




                                                                            18

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:240
posted:11/19/2012
language:
pages:18
Description: Asuhan Keperawatan Mengenai Caesar untuk Program Studi Keperawatan