Docstoc

CErpen Horison

Document Sample
CErpen Horison Powered By Docstoc
					       HORISON, JANUARI 2000



                                        MIMPI
                               Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili



Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, ka-rena dalam keadaan sadar pun ia
senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah me-ning-galkan ibadah wajib ini. Dalam
mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika
sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa.

"Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-
gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam
pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua
di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia
kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan
kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya:

"Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?"

"Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama
Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia
maha Penerima Taubat."

"Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess,
segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi."

"Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah
tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?"

Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal
itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam
mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga.

"Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih.
Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya."

Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?"

"Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk
menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang
menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup
lebih dari empat puluh hari."

Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat
Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan.
Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya.


                                            1
       HORISON, JANUARI 2000



"Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan,
berilah hamba kekuatan."

Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa
kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess
dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir
mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa
Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan
menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara
berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan
bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang
bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk
mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess
masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur
tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia
masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah
berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah
membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh
hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh
waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan
orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya
datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess
merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess
senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai
hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya
ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan
membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk
bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup,
melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir
bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama
Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan.
Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus
karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang
telah lalu. Orang ramai _baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan- ramai
mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan
misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari
sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku.

Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia
bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id
dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan
kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan
oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess
sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas
sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa
atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai
Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa
dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed
Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat

                                            2
       HORISON, JANUARI 2000



kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat
beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk
dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya.

Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut
--dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil
berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-
Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya
yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan
janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang
serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia
berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini
yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli,
yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpah-sumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia
tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan
istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin
tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku
bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram
mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil
melirik ke arahku.

Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan
licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku
sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil
menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu
menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku
mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya.

Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang
ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi
Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku
dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini
berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah
seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar
jadi menghadap ke barat! "

Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh
Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang
pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan
menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam waktu empat
puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan
Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa
berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumen-argumennya yang lapuk. Yakni
dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi
seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar
ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya
karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus
berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan
perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku.



                                             3
       HORISON, JANUARI 2000



Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah
menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku
mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman
rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah
menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang
perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed
Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati
Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah
sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk
pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras:

"Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess"

Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya.

"Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat
air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan.
Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa
yang akan kukatakan, aku segera bersuara:

"Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-
Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui
Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia
adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah
satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat
sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah
akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya."

Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua
yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada
seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya
dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya,
sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar.

"Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang."

"Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Tetapi, karena kuatir kesan yang
diharapkan itu akan hilang, aku lantas berkata:

"Buatlah tayamum, Mohamed Weess, ini dibenarkan dalam Qur'an. Tekankan kedua telapak
tanganmu ke tanah."

Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Kami bersembahyang dua rakaat.
Dalam rakaat pertama, dia membaca kesemua surah al-Nasr. Selepas itu aku terus pulang ke
sekolah menunggu hari siang.

Dalam tempo sejam, seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess.
Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess, kini berhimpun di
halaman sekolah, masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain al-

                                             4
        HORISON, JANUARI 2000



Abidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. Pada ketika
itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh
Mohamed Sa'id. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di
halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. Malah hewan ternak tersebut diserahkan
kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah, Naji, guru
sekolah keturunan Zain al-Abidin!

Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti.
Keraguanku akan nilai kemenangan ini, bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal
mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang
bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Sebaliknya, bilangan jemaahnya telah
bertambah satu lagi, yaitu aku sendiri. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku, yaitu
sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu, aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di
belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya, dan
bukan dengan tayamum!

*** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rak-ka, Syria pada tahun 1918. Sebagai se-orang Doktor ia menerjunkan diri
di bidang politik. Berkali-kali ia pernah men-duduki jabatan sebagai menteri, ter-masuk sebagai Menteri
Kebudayaan. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono.



               --------------------------------------------------------------------------------




                                                      5
       HORISON, JANUARI 2000



                                   KOMPLIKASI
                                  Oleh: Naguib Mahfouz



Pagi itu, dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Kemudian masuk pasien keenam,
seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Parasnya cantik. Tapi terselip guratan
penderitaan yang mendalam di wajahnya, bak mawar putih berlepotan debu jalanan.

"Tolong, Pak Dokter!" teriaknya segera.

Dokter menghampiri. Tenang sedikit tersenyum.

"Ada apa, Bu?" tanya dokter.

Keduanya duduk berhadapan. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan
penyakit kronisnya. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Dokter terperanjat
mendengar ceritanya. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya.

Dokter segera memeriksa. Rupanya keraguan dokter terbukti.

"Gawat, Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Penyakit kelamin!" gusar dokter.

Perempuan itu tersentak seketika. Matanya berkaca-kaca. Takut dan gelisah. Derita yang
dialaminya berubah menjadi ketakutan baru.

"Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya.

''Ya. Yang saya katakan benar, Bu. Tenangkan diri. Kendalikan emosi, agar kesedihan ini tak
menambah kesedihan lain. Saya ingin tanya, apakah ibu sudah bersuami?"

Perempuan itu menganggukkan kepala. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.

"Oh…. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Tak terkecuali mereka yang sudah
berkeluarga. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami.
Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Ibu harus mengingatkan perbuatan
terlarang itu. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Kalau tidak, pengobatan penyakit ibu akan
sia-sia," lanjut dokter.

Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu.

"Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya, Dokter! Jangan libatkan suami
saya!" rengek perempuan itu.

"Tapi…."

"Demi Tuhan, jangan, Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Lakukan saja tugasmu.
Tentu masalah ini akan selesai."




                                            6
       HORISON, JANUARI 2000



Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Jiwanya seakan lebih menderita
dibanding rasa sakit di tubuhnya. Kepedihan, kecemasan, rasa bersalah bersemayam dalam
dirinya.

Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Dadanya sesak.

"Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter.
Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Aku harus mengobati perempuan lemah ini.
Ah... Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan," batin dokter.

Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. Dokter langsung bekerja. Mendadak
pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. Akhirnya ia mengambil jalan
tengah.

"Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Bahwa ia dalam bahaya besar. Sepandai-
pandainya Ibu memendam rahasia ini, toh akhirnya akan ketahuan juga," saran dokter.

Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa.

"Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini, Dok?" tanyanya.

"Kurang lebih dua mingguan, itu harus intens."

"Oh…. Mati aku!!"

"Tentunya suami ibu juga terjangkit."

"Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. Kami akan
menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh."

"Meski sudah terlambat?"

"Yah …saya tak punya pilihan lain, Dok. Suami saya orang baik-baik. Sulit rasanya
meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Sudahlah, semua ini terserah Tuhan.
Barangkali Dia akan melindungi suami saya. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar
pada keluarga kami."

"Suasana hening mencekam. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Dengan memelas,
ditatapnya dokter itu.

"Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya.

"Tentu. Tentu. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya."

Lalu perempuan itu menghela nafas.

"Saya rasa cukup sampai di sini dulu, Dok. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. Selain
Jumat. Akan kuusahakan semampu saya," ucapnya dengan hati yang terluka.

Pekerjaan dokter telah selesai. Ketika perempuan itu beranjak keluar, dokter menghentikan
langkahnya.

                                             7
       HORISON, JANUARI 2000




"Siapa nama Ibu?" tanya dokter.

Wajah perempuan itu tampak ketakutan.

"Untuk apa?" tanyanya.

"Tak perlu takut, tak perlu sedih. Ini hanya formalitas belaka. Coba Ibu lihat daftar ini!
Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut, saya hanya seorang dokter,"
hibur dokter.

"Ibu Muhammad Abbas Efendi, pegawai DPU," jawabnya sembari menarik nafas.

***

Esoknya, perempuan itu datang. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja.

Menjelang petang, datang pasien berumur 30 tahunan. Badannya tinggi tegap. Raut mukanya
tampak cerdas dan berani.

"Selamat sore," sambut dokter.

"Sore," jawab lelaki itu.

Lelaki itu tertawa. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya.

"Saya mengidap penyakit, Dok," katanya.

"Penyakit apa?"

"Penyakit yang banyak dikeluhkan orang."

"Oh…kasihan sekali."

"Saya benar-benar menyesal, Dok."

"Menyesal?"

"Menyesal. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan
berkurang?"

"Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Silahkan ke kamar itu! Tunggu
sebentar. Tolong sebutkan nama Saudara!"

"Muhammad Abbas, mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. Dokter segera melihat
dengan seksama daftar nama-nama. Mendadak jiwanya bergejolak, begitu tahu bahwa dialah
orang yang terancam bahaya besar itu. Giginya geregetan. Kepalanya tertunduk hampir
menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Dokter menyembunyikan wajahnya.

Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek, Abbas merengek.


                                            8
       HORISON, JANUARI 2000



"Dok, saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk."

Dokter menerawang. Lantas bertanya, "Memangnya kenapa?"

"Saya sudah berkeluarga, dokter. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang
bisa terperosok dalam dosa," jelas Abbas.

"Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!"

"Ya. Saya benar-benar terjepit. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga
mengalami hal yang sama. Apa yang harus saya perbuat, Dok?"

Kini rahasia itu telah terbongkar. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Mereka
menyesali diri.

Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya, kalau tak mendengar pertanyaan Abbas.

"Saya harus bagaimana, Dok?" tanya Abbas berulang-ulang.

"Tenang saja. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Usahakan ajak istri
Saudara ke sini. Jangan sampai dia curiga."

Abbas bingung.

"Saya usahakan, Dok," jawabnya lemah.

Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Pergi.

"Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya, hingga persoalan ini selesai.
Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang
diderita istrinya. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Lantas
keduanya akan kuobati sampai sembuh. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada
istrinya dengan penuh penyesalan. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita
dibanding dirinya," kata dokter dalam hati.

***

Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Dokter mengira sore ini, ia akan
datang bersama Abbas. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Abbas dirundung ketakutan.
Wajahnya pucat. Tatapan matanya layu. Seolah tampak lebih tua dari biasanya.


"Ada apa?" tanya dokter terperangah.

Abbas menggelangkan kepalanya. Sedih.

"Menurut Dokter apa?" baliknya.

"Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Mana?"

"Yah….bagaimana lagi, Dok?"

                                             9
       HORISON, JANUARI 2000




"Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Tapi sayang, Saudara tidak bisa
meyakinkannya. Ya….beginilah jadinya!"

Abbas diam sejenak. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa.

"Oh…hidup di dunia memang susah."

Dokter membungkukkan bahunya.

"Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Saya yakin menusianyalah
yang menyebabkannya. Parahnya, mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!"
kata dokter.

"Entahlah. Perlu Dokter ketahui, belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa
menyedihkan. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Impian untuk menimang anak,
kini telah hilang. Entah sampai kapan, saya harus menjalani masa sulit ini."

Hati Abbas penuh teka-teki. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Ia
mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Kebingungan mendekap. Sinar matanya
menyimpan banyak pertanyaan.

"Singkatnya begini, Dok. Kemarin malam, saya berniat mengajak istri saya kemari untuk
menemui dokter agar saya bisa tenang. Tapi saya bingung, bagaimana harus menjelaskan
padanya. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Lalu dengan hati-hati, kudekati
istri saya. Tiba-tiba istri saya gelisah. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. Saya
mengharap dialah yang memulai bertanya. Tapi ia tak melakukannya. Terpaksa sayalah yang
memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang.
Lalu dengan ragu-ragu, Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah, tidak'. Saya berbohong: 'Kulihat
akhir-akhir ini, wajahmu pucat dan sedikit berubah. Bagaimana kalau kita periksakan ke
dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Pokoknya tidak.
Aku benci dokter. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka," tutur Abbas.

"Semakin banyak saya menuntut, semakin keras istri saya menolak. Saya terus mendesaknya.
Saya coba memohon dengan baik-baik, istri saya malah melawan dan bersikeras pada
pendiriannya. Usaha saya sia-sia. Saya bingung, bagaimana saya harus meyakinkannya. Dada
saya sesak. Hati saya dongkol. Rasanya sakit dan ingin marah. Karena saking suntuknya, saya
berteriak keras. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku
prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita.' Belum selesai saya bicara,
istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Matanya melotot, tak
mampu kuasai diri. Tubuhnya menggigil. Saya bingung dibuatnya. Saya bertanya dalam hati:
'Ada apa, Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut, tapi istri saya memotong
dengan gerakan aneh. Tubuhnya mengejang. Raut mukanya berubah aneh. Bengis. Saya
semakin bingung dan bertanya-tanya: 'Apa yang membuatmu takut, Istriku? Kenapa kau tak
mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah
marah. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Dengan murka, saya melangkah ke arahnya. Istri
saya menjerit: 'Ampun, Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Aku telah berbuat
dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Aku telah bersumpah pada Tuhan. Tolong! Jangan
sentuh aku. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian
pingsan," lanjut Abbas.


                                              10
        HORISON, JANUARI 2000



"Apa maksud semua ini, Dok? Saya hanya menduga. Otak saya ragu. Kepala saya
panas.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak," tambah Abbas.

Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui
batas kewenangan. Pengakuan dosa, permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya
karena satu hal.

"Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Saya telah ingkar, Dok.
Karenanya, saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya,
Dok?"

"Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Saya terjerumus dalam jurang yang curam.
Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi
cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi, Dok?"

"Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah
hati saya. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Kini saya ingin
pikiran saya terbuka. Perasaan tentram. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri
saya. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. Tuhan, bimbinglah jalan hidupku.

*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911, dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Cerpen ini diterjemahkan dari
antologi cerita pendek Hams al-Junu'un, dari Judul asli al-Maradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri
Munhanif.



                --------------------------------------------------------------------------------




                                                      11
       HORISON, JANUARI 2000



                                 PARA PEMBURU
                                      Oleh: Agus Noor



Purnama mengapung di telaga, sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami memandanginya
dengan gamang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga semua makhluk
yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri,
ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami beri-stirahat di pinggir telaga itu,
hanyut oleh pikiran kami. Mele-takkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan
gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang
pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih
dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak.

Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami, sebelum sampai ke telaga ini. Inilah pertama kali
kami merasa begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu
cepat. Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengala-man kami sebagai pemburu
telah kami keluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan kami tetap saja melenggang bebas.
Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang
telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Kami
adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah
gagal mem-buru sesuatu. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami bongkar tiap lekuk
pegunungan. Telah kami sibak semua palung lautan. Nenek moyang kami telah membentuk
kami sebagai pemburu paling ulung.

Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan
bina-tang buruan. Kami tak pernah ter-go--da menjadi petani atau peda-gang. Tak ada yang
lebih terhormat bagi kami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seor-ang
pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-cerita
penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala
mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami sudah tahu bagaimana
menyembelih wildebeest, sejak kami masih dalam kandungan. Kami mengembara dari satu
benua ke benua lainnya, untuk memburu bina-tang-binatang, bukan sebagai cara kami
bertahan menghadapi hidup, tetapi lebih untuk kebangga-an dan kehormatan.

Sampai kemudian kami menyadari, betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-lahan telah
habis kami buru. Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika.
Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, bina-tang-binatang itu juga
sudah terlalu hafal dengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi, begitu tercium bau
kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunu-hi. Gajah,
badak, macan, rusa, ular, serigala dan segala macamn-ya. Sampai kelinci, tupai dan tikus,
telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, dari tahun-ketahun, jumlah kami memang makin
membesar. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir, sementara orang-orang tua kami
bagai tak bisa mati. Mereka sudah renta, tapi tak gampang mati. Banyak di antara kami yang
sudah berusia 7890 tahun, tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope, kemudian
menghan-tam kepala binatang itu dengan kepalan tangan, hingga pecah berantakan. Dan
itulah kehormatan.

Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti kami
katakan tadi, semua binatang telah habis kami buru, kami bunuh.


                                             12
       HORISON, JANUARI 2000



“Perburuan tak mungkin berhenti!”

“Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!”

“Takdir tak bisa dihentikan.”

“Lantas bagaimana?”

“Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!”

“Memburu apa?”

Itu membuat kami terdiam. Sampai kemudian ide brilian ter-lontar. Kami akan memburu
manusia, untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Maka kami pun membeli
ratusan budak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas, dengan cara melarikan diri.
Mereka kami lepas ke tengah hutan, membiarkan mereka lari dan menghilang, baru kemudian
kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Bahkan membuat kami lebih
merasa sempurna sebagai pemburu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada
memburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami takluk-kan. Anak-anak kami pun
nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Lantas, perlahan-lahan, kebiasaan baru
tumbuh dalam kehidupan kami. Menjadi tradisi. Kami tak lagi memburu binatang, tapi
manusia. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Kepada mereka kami
tawarkan kebebasan, “Masuklah dalam hutan, lari. Selamatkan kehidupanmu. Jangan cemas,
meski kami akan memburu kalian, kalian masih punya kesempatan untuk memper-panjang
kehidupan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tapi itu lebih baik bagi kalian, dari
pada mati di tiang gantun-gan: tak lagi punya pilihan. Mati dalam perburuan ini lebih
terhormat bagi kalian. Anggap semua ini hanya permainan. Semoga nasib baik bersama
kalian...”

Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehor-matan. Kami iringi dengan
lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang
sesungguhnya, yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesaki-tan.
Adakah yang lebih menyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami
beri kehidupan sekaligus batas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Banyak juga di
antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu, memang makhluk yang tak
gampang menyerah. Liat dan sigap. Dan itu, sungguh, sasaran perburuan yang
menggairahkan.

Rupanya, tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah kami
menjalar ke banyak negara, banyak orang di luar suku kami, mendatangi kami, untuk ikut
menikmati perburuan itu. Mula-mula, banyak di antara kami yang menolak, karena hal itu
dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa menolak,
ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral, orang-orang besar di
negara mereka, para raja, puluhan kepala negara, para bangsawan dan pengusaha besar. Para
bangsawan, yang memang memiliki kebia-saan berburu seperti kami dan memiliki lahan-
lahan perburuan yang luas, mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan
kem-bangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menye-nangkan. Bahkan
mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para jendral menyediakan
kami senjata-senjata paling mutakhir. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-
milyar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka
sebagai binatang buruan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Kami tak hanya punya

                                             13
       HORISON, JANUARI 2000



kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati, tetapi kami bebas memilih siapa
pun yang paling menyenangkan kami buru. Malah sering para raja dan kepala negara
memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang
tak mereka sukai, para demonstran untuk kami habisi. Juga kaum intelektual yang selama ini
mereka benci. Ah, begitu melimpah buruan kami.

Kami bangun juga istana-istana, tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami
menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan meninggalkan
cara hidup kami di hutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman.
Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas dalam
kehangatan pesta.

“Ini darah seorang penyair untukmu, jangan sedih...” Gelas kami beradu, dan kami tertawa
bahagia. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair puja-puji bagi
keagungan kami. Hidup pemburu agung!

Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar, yang melintas bagai badai dan gelombang,
menggulung apa pun yang kami sukai. Di antara kemeriahan pesta, kami terus menuliskan
sejarah kami yang agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan, tetapi
juga, terkadang, keisengan. Kami, yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat,
dengan dukungan dana yang melimpah, pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam
gelas-gelas kami, menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di puncak menara peradaban, sendiri.
Itu sering membuat kami terusik sunyi. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang
sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Ketika kami menjarah perem-puan dan
membunuhi anak-anak, ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke
kamp konsentrasi, ketika kami menemba-ki anak-anak Palestina, ketika kami memburu dan
membantai orang-orang muslim di Bosnia, ketika kami mengirim pasukan pemburu ke
banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja, tak ada lagi kegairahan karena kemenangan.
Tak ada lagi yang berani menggertak kami, sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya
arti. Kami terus memburu, kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman,
melintasi gelombang waktu, menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung
sampai menyentuh awan, tetapi kami selalu dirundung sunyi. Apalah arti semua itu bagi jiwa
pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan, tetapi penaklukan
yang membosankan. Karena kami sudah terlalu kuat, hingga pertarungan menjadi tak
sepandan. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan.

“Kita harus melakukan sesuatu. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Jangan
biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini.”

Lalu seseorang yang paling tua di antara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun lebih,
menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Suaranya sudah gemetar, seakan maut
sudah menyentuh bibir orang tua itu.

“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?”

“Aku sudah mencium ajalku. Dan aku ingin, sebelum maut menjemputku, aku ingin
menikmati perburuan yang paling menggair-ahkan.”

“Apa hubungannya dengan para kiai itu?”



                                            14
       HORISON, JANUARI 2000



“Kumpulkan mereka, dari seluruh dunia. Suruh mereka menye-diakan malaikat untuk kita
buru!”

Kami terpukau oleh gagasan itu. Membuat darah kami mengge-lembungkan jiwa pemburu
kami. Gairah menjalar, membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami tak
memburu malaikat?

“Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!”

“Kami bersorai, anggur segera kami tuang dalam gelas, bersu-lang, menyambut hari depan
kami yang gilang gemilang. Panji per-buruan berkibar. Kami segera menghimpun topan.
Kami segera menge-luarkan seluruh senjata kami. Dan tentu, kami segera mengumpulkan
para kiai. Mereka kami datangkan dari semua penjuru, kalau perlu dengan paksa dan
kekerasan.

“Kami ingin Jibril,” kata kami kepada mereka. “Kami tak mau tahu, bagaimana cara kalian
mendatangkan Jibril bagi kami. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian
akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan
sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan kepada kami,
kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?”

Kami tatap wajah para kiai itu, mencari kepastian dalam mata mereka.

“Baiklah,” tegas kami, “kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa
mendatangkan Jibril bagi kami, kami akan membikin perhitungan sendiri...”

Mereka, para kiai itu, kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Tetapi mereka
menolak, dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada
sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Kami turut kemauan mereka, meski sesung-guhnya
heran. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Benar-benar masjid kecil yang tak
terawat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu, telah lapuk. Luasnya tak lebih dari
lima kali lima tombak. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami
himpun dari seluruh penjuru ini.

“Kalian jangan bercanda!” teriak kami.

“Kalianlah yang bercanda, dengan meminta kami mendatangkan Jibril.”

“Baiklah...”

Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu, membuat kami
begitu ternganga, ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid,
tetapi masjid itu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke
dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu, berkelok-kelok mengikuti gigir bukit,
seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Jutaan kiai masuk ke
dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang, itu pun pasti sudah
berhimpitan, bagaimana mungkin? Tapi, itulah yang kami saksikan. Sampai kemudian semua
kiai telah masuk dalam masjid itu. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana,
mengalun menidurkan rerumputan, sepanjang hari sepanjang malam. Gema itu melambung,
menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena
gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu, seperti daun yang mel-ayang-

                                               15
        HORISON, JANUARI 2000



layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami memagarbetis masjid itu, tak
membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Kami tak mau di
tipu para kiai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami terus berja-ga, takut mereka
akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur.

Satu bulan lewat, menguap begitu cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami cemas,
sekaligus marah, ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Segera kami kirim
seseorang untuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat kami tambah
cemas menunggu, kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam
masjid itu. Tetapi seperti yang perta-ma, orang kedua kami pun tak kembali. Kami panggil
namanya, tetapi tak kunjung keluar jua. Kami kirim utusan kembali, memper-ingatkan para
kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tapi seperti yang pertama dan kedua, utusan
kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Begitulah berkali-
kali, setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai, tak pernah muncul kembali.
Sementara suara dzikir itu terus saja bergema, membuat udara bergetar dan perasaan kami
gemetar. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar, tetapi
hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya pengertian, bukan?

Jangan salahkan kami. Dan kami segera menyerbu, masuk dalam masjid itu, tetapi, luar biasa,
semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja. Tiba-tiba
tubuh mereka hilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain,
tertelan dan lenyap. Kami panik. Kemarahan kami menyalakan api di tangan, berkobar dan
segera kami lempar pada mesjid itu. Kami bakar masjid itu, hingga kayu-kayu
bergemeretakan, dan api melahap cepat, membumbung.

Namun dzikir itu masih kami dengar, di pucuk api berkobar.

Pada saat itulah, seseorang di antara kami berteriak, mem-buat kami tengadah ke puncak api.
Dan, ya Allah, di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya menatap
kami, dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semes-ta.

“Jibril!!”

“Jibril!!”

Seketika kami berteriak, antara takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat impian
kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?

“Buru!”

Teriakan itu, mendadak menyadarkan kami, betapa memang inilah yang selama ini kami
tunggu-tunggu. Jibril, kini telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong
begitu? Maka, dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tombak, anak panah,
desing senapan mesin, roket dan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru
itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.

“Kejar!”

Kami pun melesat, mengejar Jibril. Bertahun-tahun kami memburu. Membiarkan kaki kami
koyak oleh duri, membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Kami tak
punya waktu untuk memikirkan itu semua. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah

                                             16
       HORISON, JANUARI 2000



perburuan kali ini. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Setelah berabad-abad
kami hidup sebagai pemburu, setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi
pemburu sejati, inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Tombak terus
beterbangan, roket terus berlesatan, jaring-jaring baja telah kami rentangkan, ranjau-ranjau
telah kami tanam, perangkap telah kami pasang, agar kami mampu meringkus Jibril. Inilah
buruan kami yang abadi. Kemanapun Jibril melesat, kami memburunya.

Sampai kami tiba di pinggir telaga ini, yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian besar dari
kami kini benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat,
hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Banyak dari
kami yang mati dalam perburuan ini, dan kami pun tak sempat menguburkannya. Karena
kami harus terus mengejar Jibril. Kami tak mau kehilangan jejak. Dan memang, kami benar-
benar tak pernah punya waktu istirahat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh
kelelahan kami di telaga itu pun, mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali
muda, kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.

“Kesana!” seseorang dari kami berteriak, dan langsung mele-sat. Di seberang telaga sana,
kami melihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya.

Maka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami. Segera menghambur,
melanjutkan pemburuan abadi kami.***



Yogyakarta, 1995-1998
(Dongeng Buat Mas Danarto)




              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    17
       HORISON, JANUARI 2000



                               PERNIKAHAN ANGIN
                               Oleh: Dianing Widya Yudhistira


Aku di sini. Berada di keting-gian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat.
La-ngit diam. Sepi. Melintas di depan-ku burung gagak bergaun hitam. Me-nari di depanku.
Tarian yang se-be-lumnya belum pernah aku sak-si-kan. Seperti mengabarkan se-sua-tu yang
ganjil. Angin masih terlalu cinta de-ngan kehadiranku. Ia sapa aku lem-but. Perlahan-lahan
aku sapu anak ram-but yang tergerai di wa-jah-ku. Tulus. Gagak itu masih me-narikan ta-rian
yang terluka. En-tah ten-tang apa.

Ketika senja berangkat ke ma-lam, perlahan-lahan burung Ga-gak menghentikan tariannya.
Menatap padaku. Tatapan mata-nya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batin-ku. Aku
belum tahu apa yang se-sungguhnya Gagak sampaikan padaku.

Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya.
Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah de-dauan. Gunung-gunung mem-bi-su. Demikian
juga dengan ham-par-an laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Se-helai
daun akasia yang menua, me-la-yang di udara. Jatuh. Terku-lai di ta-nah basah. Kesunyian
kian leng-kap.

Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung le-ngan cakrawala. Perlahan-
lahan aku hela nafasku. Menghem-bus-kannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku,
malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara ma-lam ini. Hanya burung Hantu yang mau
menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan
dan bin-tang. Yang memberi aku ke-da-mai-an. Ya. Seekor burung hantu. Mengham-piriku.
Ha-nya saja matanya tak ber-sinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup.

Burung hantu me-natapku. Kosong. Se--baid lirik kehi-lang-an aku temukan di sa-na.

“Selamat malam, Dianing.”

“Kabut apa yang menodai matamu, hing-ga ke pendam ra-sa ngeri.”

“Engkau se-sung-guhnya, Dianing.”

Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.”

Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku.

“Pergilah ke hutan Para, Dia-ning.”

Aku menautkan kening.

“Kau akan tahu.”

Tiba-tiba angin meliukkan tu-buh--nya dengan gerakan yang dah-syat. Ia memintalku dengan
ke-kuat--annya. Dengan cinta ia ter-bangkan aku ke hutan Para.


                                            18
       HORISON, JANUARI 2000



Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku.
Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan
gelisah.

“Inikah hutan.”

“Ya. Hutan Para.”

Suara burung hantu.

“Apa yang aku tahu.”

“Ikuti aku.”

Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu.

Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya
deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang mem-buru dan aku akrab
dengannya. Ter-padu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku lang-kahkan
kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang ben-der-ang. As-taga!! Lismatano, laki-laki-ku
ber-gumul dengan tubuh pe-rempuan lain. Gila!!!

Seketika itu angin kembali me-liukkan tubuhnya dengan dah-syat. Memintaku kembali. Entah
da--lam wak-tu seberapa detik me-ner--bang-kan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku
kembali berada di ke-tinggian menara.

Aku lunglai. Bayangan Lis-ma-tano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku
yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sam-pingku.

“Untuk apa kau bawa aku.”

“Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.”

Aku hanya bisa menelan pil pa-hit. Menikmati segala luka hati de-ngan tulus.

Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

“Apakah aku terlambat, Dianing.”

“Sama sekali tidak.”

“Mengapa batinmu begitu luruh.”

“Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.”

Burung hantu tersenyum. Me-nge--pakkan sayapnya di ketinggian me-nara ini. Selalu ia yang
melin-dungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lisma-tano. Tak kan
lagi aku melakukan kesalahan yang sama.

Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia
mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin.

                                             19
       HORISON, JANUARI 2000




“Selamat malam.”

Aku membalasnya dengan menguap.

“Selamat malam, Dianing.”

Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku.

“Tidurlah dengan damai.”

Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam.

Di ketinggian menara ini.

Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpa-ku. Sejuk. Perlahan-lahan aku
terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rum-put hijau.
Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir
parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rum-put hijau itu, para bidadari
ter-se-nyum ramah.

“Oh kehidupan yang menye-nangkan.”

Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini.

Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku.
Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih.

“Aku akan menjemputmu, Dianing.”

“Menjemputku!?”

“Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.”

Aku tak mengerti.

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku.

“Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.”

“Ia masih terlalu muda.”

“Kehendak Tuhan.”

Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku
hanya bisa menikmati perdebatan mereka.

Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku.
Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu,
sungguh tubuh-ku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali
ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merin-tih, terpuruk, lelah.

                                            20
        HORISON, JANUARI 2000




Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia
berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang pe-rebutan roh.
Sosok bersayap itu meng-hendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan
jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit.

Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat
lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benar-benar
terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan
pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti.

Aku saksikan jasadku diman-dikan bunda dan saudara-saud-a-ra-ku. Beberapa orang yang
menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku
dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat.

Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku
mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak
belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Terta-nam
sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit.

Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku
layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku
merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih
mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku.

Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu.
Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku.

“Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.”

“Tentang apa.”

Aku menatap burung hantu.

“Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

“Maksudku melihat dunia.”

“Ya.”

“Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.”

Aku terpana.

Burung hantu mengepakkan sayapnya. Tersenyum dan memberi salam padaku. Aku
membalasnya dengan anggukan tulus.

“Aku tunggu kedatanganmu di dunia, Dianing.”

“Bila Tuhan mengizinkan.”


                                             21
        HORISON, JANUARI 2000



“Tentu.”

Burung hantu terbang. Ia menembus awan, mega, bintang, bulan menuju ke dunia.

UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. Atas izin Tuhanku. Aku lewati langit demi
langit. Gemerlap bintang menyambutku, langit cerah. Bulan bulat penuh. Ia bugil di malam
yang damai itu. Aku bertemu dengan mega.

“Cukup lama kami menunggu, Dianing.”

“Oh ya.”

“Cepatlah kau temui burung hantu. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.”

“Ya.”

Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. Aku lihat wajahnya sepi. Seperti menunggu
kedatangan.

“Gerangan siapa membuatmu sepi.”

Matanya berpendar. Indah sekali. Ia menjerit.

“Dianing.”

“Ya.”

Kami berpelukan. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.

Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. Seperti
berabad-abad lalu.

“Boleh aku tahu dukamu.”

Burung hantu menatapku. Tatapan yang sulit aku urai.

“Maukah kau ke hutan Para.”

“Hutan Para!?”

“Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.”

Aku lunglai.

Tiba-tiba begitu sepi.

“Dianing,” panggil burung hantu lirih.

“Untuk apa.”

Burung hantu masih bertengger di pohon randu.

                                                22
        HORISON, JANUARI 2000




“Bila kau berkenan. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.”

Aku luruh.

“Bukankah mereka telah menikah.”

Burung hantu menggeleng.

Aku terpana.

“Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.”

“Lalu?”

“Lismatano memilih jalan buruk. Tak sekedar gelap, terjal dan mendaki.”

“Bicaralah.”

“Mereka seatap tanpa ikatan.”

“Maksudmu...”

“Ya.”

Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Serumah tanpa ikatan sah
sebagai suami istri.

“Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.”

Aku kembali ke hutan Para. Lismatano, laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku.
Telah berpaling dengan perempuan lain. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Di hutan Para
itu aku kemba-li menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Pergulatan
yang dahsyat. Aku tak kuasa melihatnya. Tapi, entahlah mengapa tiba-tiba aku terpaku di
depan mereka.

Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Saling menumpah-kan nafsu. Deru nafas
memburu. Tiba-tiba... Aku tak percaya melihatnya. Tubuh Lismatano mengeras. Ia berubah
jadi batu. Ya. Lismatano telah membatu. Kini tak bisa bergerak. Ia dalam keadaan yang
mengerikan ketika membatu. Tubuhnya tumbuh lumut. Lebat dan kotor.

Aku terpana. Ngeri. Perempuan itu.

“Yuniz nama perempuan itu, Dianing.”

Aku hanya mengangguk. Ia tak membatu, tetapi tubuhnya berubah. Ia berkaki empat. Besar.
Tubuhnya berbulu sangat lebat. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan.
Aku yang terpaku. Mulutnya lebar ke arahku. Siap menerkamku. Tapi burung hantu segera
menerbangkan aku.



                                            23
       HORISON, JANUARI 2000



Aku di atas pohon randu. Lismatano telah membatu dan berlu-mut. Sementara perempuannya
berubah binatang.

“Mengapa dengan mereka.”

“Itulah yang pantas mereka terima.”

Aku menghela nafas.

“Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka.”

Aku menekuri tanah.

Aku berada di ketinggian mena-ra. Sebentar lagi aku harus kem-bali. Menikah dengan
Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Kini aku hanya bisa merasakan sen-tuhan angin.
Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Ya. Dan aku ki-ni mulai belajar untuk damai dan
ba-hagia dalam sendiri.***


Jakarta, Mei 1997.


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    24
       HORISON, JANUARI 2000



Horison, Februari 2000

                                        PISTOL
                                    Oleh: Ode Barta Ananda


Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. Mlah..., dor! Dor! Dor!
Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran. Ada yang menembus
kepa-la. Ada yang menusuk jantung. Ada yang mengelupaskan bahu. Tapi tidak ada satu pun
yang meleset.

“Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil
menembus jantung sasaran. “Selain pintar mengejar berita, sebagai wartawan, ternyata Bapak
sangat jitu juga dalam membidik sasaran.”

Wartawan mendengus. Menghapus peluh pada hidung. Dan berdehem, “Mudah-mudahan
bukan hanya kebetulan, Pak. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya
membukakan mata Bapak, untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya.”

“Tentu..., tentu..., asal tahu saja....” Pelatih menge-dipkan sebelah mata.

***

“Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pis-tol, benar berasal atas usul
Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat.

Pejabat yang berdasi kuning, berkemeja putih dan berce-lana abu-abu itu, tersenyum lebar
sebelum menjawab, “Begitu-lah. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban
dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini.”

“Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?”

“Secara prinsip sudah.”

“Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemung-kinan-kemungkinan buruk? Seperti
pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan, misalnya?”

Pejabat tergelak. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban.

“Tapi, hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang
cukup tinggi. Harga pistol yang mahal. Dan....”

Belum selesai pertanyaan itu, sudah ditukas pertanyaan lain, “Padahal menurut selentingan
kabar, sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?”

“Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain.

“Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?”

Pejabat mengerutkan kening, “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan
langsung memasuki mobil sambil membanting pintu.

                                               25
       HORISON, JANUARI 2000



***

Dor! Tembakan wartawan meleset.

“Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang.

“Saya sedang tidak konsentrasi.”

“Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?”

“Jangan terus bercanda. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah.

“Silahkan,” sang rekan merentangkan tangan. Lalu men-gangguk-angguk, memasang wajah
serius, “OK. Apa yang telah merusak konsentrasimu?”

“Pembayaran pajak pistol ini. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. Padahal, menurut
perkiraan dokter, istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang.”

Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar.

Namun wartawan telah kembali berujar, “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan
alat perekam baru. Kau sudah lihat kan?”

“Wow! Canggih, Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang
dengan harganya yang mahal.”

“Untuk melunasi kreditnya, saya harus menggadaikan pistol ini.”

***

Saat panas menukik terik. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. Waktu angin
mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. Saat itulah para pencari berita berhasil
mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantorn-ya.

“Kelihatannya biaya latihan, harga pistol, nilai pajak, dan biaya administrasi lainnya, semakin
tak menentu, Pak?”

Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. Malah semakin menekan gas mobilnya
sambil menginjak rem. Melihat para wartawan tidak mengerti, dia beralih membunyikan
klak-son.

“Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?”

“Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras.

Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik, yang terlambat datang, menyeruak
kerumunan, dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam, “Apakah Bapak,
akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu, sesuai dengan jabatan Bapak?”

Pejabat terbelalak. Dia langsung mengangguk keras-keras. Menutup kaca jendela mobil. Dan
menekan gas dalam-dalam.

                                              26
       HORISON, JANUARI 2000



***

Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. Saat fajar bergerak sembunyi. Waktu
matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. saat itulah wartawan dan pejabat, asyik
berbincang-bincang dekat telepon umum.

“Kau kan sudah menelepon tadi malam. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?”
Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab.

Wartawan tergelak, “Tak enak rasanya, kalau tak lang-sung berhadapan dengan Bapak, untuk
minta maaf,” diulurkan tangan untuk berjabat.

“Harus kuakui, ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam,” pejabat tergelak
juga. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri.

"Setibanya di rumah, saya baru menyadari, ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini,”
wartawan mengeluarkan alat perekam itu, “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa
meninggalkan kami kemarin?”

Pejabat mengangguk. tapi belum sempurna anggukannya, wartawan telah menukas sambil
mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol, “Benarkah tidak ada keterlibatan
oknum tertentu, yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol?
Atau....”

Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. Wajahnya memucat, “Jjjangan!
Dddia bukan mengancam!”

Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. Dia tertelungkup. Dan
darah mempermerah jaketnya yang sudah merah.***

              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    27
       HORISON, JANUARI 2000




                                TEATER DEWALA
                                Oleh: Doddi Achmad Fawdzy



Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day, Prabu Kresna masih meng-umpat-
ngumpat kepada para Punakawan. “Sebel gua, lagi-lagi propaganda Ame-rika. Apa sih
maunya Amerika? Dasar Yahudi!”

“Tapi Prabu, saya tidak melihatnya dari sisi itu. Ajakan untuk berdamai dan bersatu me-lawan
musuh dari luar angkasa itu sangat me--narik. Apa salahnya kita ajak Dursasana un-tuk
bersatu melawan musuh dari laur ang-kasa, dari Jupiter misalnya?” balas Astra-jing-ga.

“Dalam dunia pewayangan, tak ada makh-luk luar angkasa selain para dewa. Dewa jangan
diberontak, mereka sponsor kita kok.”

Sesaat hening. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Melewati
Alun-alun Bandung, tiba-tiba Kres-na, gerombolan Pandawa, dan Punakawan itu merasa
dirinya masing-masing kembali men-jadi remaja. Bahkan Arjuna kembali men-jadi ABG,
begitu ngepop. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. Na-kula dan Sadewa
tiba-tiba berlagak seba-gai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Astra-jingga dan Gareng ikut
berlenggak-leng-gok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal, “Kramotak,
kramotak!” Ha-nya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tam-pak kalem, tidak terpengaruh
oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. Tiba-tiba be-berapa orang merasa lapar dan
menuduh Pra-bu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.

“Siape ni nyang ngulang tahun, mo nrak-tir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan
Sadewa bertanya kepada rombongan.

“Bukan mau nraktir, BM dong!” balas Kres-na.

“Belum begitu laper gua ini, kita masuk pub dulu!” ajak Bima.

“Sambil makan malam, kita perlu merun-dingkan kembali materi untuk peringatan hari
ke-merdekaan negeri kita. Aku tiba-tiba ter-ga-gasi oleh film tadi,” sahut Kresna.

“Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja, terlihat gairahnya kalau diajak berpikir
serius.

“Apa kita hanya akan menampilkan kaba-ret saja untuk perayaan negara. Kan kemarin kita
terima faksimil dari seluruh propinsi bah-wa mereka tidak akan menampilkan kesenian
daerahnya masing-masing. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta
yang Hilang, apa tidak mem-bingung-kan pikiranku melihat realitas apresiasi ma-sya-rakat
sudah turun seperti itu? Rusak Re, Ru-sak!”

“Inilah salahnya Prabu, kita sekarang ter-lalu berjarak dengan wong cilik,” Dewala men-co-ba
menjelaskan.

“Jangan sok tahu Kau. Urusanmu me-nge-lola satpam dan tukang parkir.”


                                             28
       HORISON, JANUARI 2000



Dibentak seperti itu, Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Punakawan yang lain
menyikutnya, bahkan Semar menjewer ku--pingnya.

Seperti biasa, Gareng kebagian memesan hidangan. Para pen-gunjung tanpa disuruh sege-ra
meninggalkan makanannya. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar
makanan. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa, segera bersembunyi
ke belakang dan memijit remot re-corder. Rupa-nya dia dan pemilik rumah ma-kan itu
bersekongkol sebagai agen mata-ma-ta Astina. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam
itu sampai ke telinga Patih Seng-kuni dan Resi Kombayana.

“Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan
melibat-kan personal dari berbagai nega-ra. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus
menyambutnya. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh
ren-cana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti,” demikian Kombayana punya usul.

“Kukira tidak mesti seperti itu. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita teri-ma.
Takdir kita untuk menerima kekala-han. Apa pun yang kita rencanakan, Dewata telah
memutuskannya,” Bisma mengingatkan.

Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi ka-cau balau. Mereka mendengar laporan bahwa
Challenger meledak dan Chernobil bocor. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca
me-laporkan kejadian sesungguhnya. Bima menggebrak meja.

“Misi ujicoba kita gagal.”

“Ini kehendak Dewata. Mungkin kita ter-lalu serakah dan ceroboh.” Semar meng-ingat-kan.

“Tidak, Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiar-kan. Karena itu, misi per-damaian
lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya
omong kosong. Perdamaian ha-nya menghambat rencana Dewata. Tak ada kesenian dalam
merebut kemenangan. Pe-rang dan kekerasan adalah dua jalan yang ber-sa-tu menjadi satu
arah untuk mencapai ke-me-nan-gan.” Arjuna bersungut-sungut. Tangan-nya masih
menggenggam paha ayam.

Bima meraung-raung, suasana rapat menjadi lebih kacau. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam.
Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Ia membubarkan rapat dan me-mo-hon Prabu
Kresna dan Wak Semar me-nyabar-kan yang lain. Acara untuk menyam-but hari ulang tahun
kemerdekaan negara akan dipikir-kan. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk
mencapai perdamaian. Se-men--tara kerusakan teknologi akan dise-rah-kan kepada Batara
Guru.

Berhari-hari Yudistira menghadapi kom-puter dan mencerna John Naisbitt tentang
Ke-bang-kitan Asia. Berhari-hari pula ia men-jauh-kan diri dari ranjang Drupadi, dari kopi
dan dari rokok. Keningnya semakin mengerut se-per-ti kening Einstein. Kalau sudah seperti
itu, ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Ke-bia-saannya bersemedi diting-gal---kan, ia
lebih su-ka berhadapan dengan kom-puter dan inter-net. Tapi jalan keluar untuk da-mai belum
juga dida-pat-nya. Diam-diam ia ter-tarik dengan usulan Dewala. Dipanggilnya De-wala saat
itu juga.

“Saya punya obsesi dari dulu untuk meng-gelar naskah Pandawa Adu Dadu, tapi tidak ada
sponsor sampai saat ini. Sekarang ber-teater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa ada-nya.

                                              29
       HORISON, JANUARI 2000



Dulu bambu bisa menebang milik sia-pa saja, sekarang rakyat sudah menjadi ma-te-rialis,
segala benda serba diuangkan. Syu-kur--lah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya.”

“Bagi saya, pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah, tetapi yang bisa
mem--bawa pada aufklarung dan bertemakan per-damaian dunia,” jelas Yudistira.

“Justru naskah ini tepat sekali, Prabu. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Cerita
keka-lahan ini akan sangat menye-nangkan bagi Suyu-dana dan kawan-kawan. Kita harus
mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. Kita
mengalah untuk menang, me-nga-pa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka
akan kalah, itu sebab-nya baha-giakanlah mereka dari sekarang. De-ngan dibahagiakan, insya
Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada
yang lapang.”

“Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?”

“Sebenarnya ini tergantung dari sum-ber daya manusianya sendiri, kalau me-mang bakatnya
membelot ya mem-belot-lah. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan
kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Sebe-nar-nya waktu Pandawa mau diajak main
dadu, mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicu-rangi oleh Paman Sengkuni. Ini men--jadi
pelajaran juga bagi kita selaku pe-megang pemerintahan untuk tidak ter-bawa oleh arus dan
rayuan gombal musuh. Sa-ya punya teknik, selain nanti para pem-be-sar dari berbagai negara
diundang, juga para teaterwannya diajak untuk ikut ber-main dalam pementasan ini. Dengan
demi-kian, silatu-rahmi antarseniman pun ter-bina. Konon katanya menurut mitos, seni-man
adalah pintu terakhir yang akan men-ja--ga persaudaraan dan kebersamaan.”

“Tapi saat ini saya ragu, soalnya seni-man di negeri kita sendiri tengah gontok-gon-tokan.”

“Itu wajar karena mereka punya ideo-logi. Tetapi kita juga tahu, bahwa mereka saling
menghargai pendapat dan karya seniman lain. Eu begini Prabu, dalam akhir cerita, saya akan
membalikkan fakta. Po-kok---nya semua serba menye-nang-kan tamu undangan.”

“Apa itu?”

“Ada saja. Pokoknya rahasia. Nanti Pra---bu tidak merasa sur-prise lagi kalau saya beritahu
dari sekarang.”

***

Singkat cerita, Dewala menjadi sutra-dara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena
dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istri-nya Arjuna. Tapi
setelah mende-kati pe-men---tasan, casting itu diganti oleh As-watama yang baru pulang studi
komperatif ten-tang antropologi dari Amerika. Para seni-man raksasa dari Astina menjadi
Pan-dawa sedangkan para seni-man dari Amar-ta menjadi Kurawa dalam casting ini.

Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,”
bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca kar-ya sastra
dan memba-ca sejarah wayang, tam-pak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta
bangga karena Pandawa me-nang dalam lemparan pertama itu. Begitu lem-paran kedua dan
selanjutnya, raut muka ke-dua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni
menampakkan senyum keme-nang-an sambil melirik Yudistira yang ter-cenung mengerutkan

                                             30
       HORISON, JANUARI 2000



dahi. Pada lemparan ke-se-puluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan
kalah.

“Mustahil,” gumam Arjuna.

Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Dru-padi sebagai
taruhannya. Tentu saja Drupadi keber-atan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan
oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke
tangan Kurawa. Bagi Dur-sa-sana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti
adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah
bertahta di singgasana As-tina.

Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan
kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya
untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa
kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya.

Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi
ditang--galkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam
penjara sebagai tawanan taruhan.

Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ter-nya-ta Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dur-sasana
yang diperankan oleh Astrajingga. Pa-da mulanya Astrajingga dengan penuh se-mangat
menelanjangi Drupadi. Tetapi ke-mu-dian menjerit dan melompat dari panggung saat harus
memperkosanya, karena yang me-meran-kan Drupadi adalah Aswa-tama. As-watama,
keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajing-ga, “Please, touch me! Touch me!”

Kejar-kejaran terjadi, membuat para penon-ton naik pitam. Resi Kombayana yang me-rasa
ditelanjangi tentu saja marah tapi Bi-ma tak kalah gertak.

“Ternyata Aswatama itu seorang homo-seks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng men-jelas-kan
lewat mikropon.

Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-ha-bisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana
lang-sung memberondongkan peluru. Gatotka-ca melesat ke angkasa, dilemparkannya
sen-jata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari
jilat-an lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa men-jadi
kebal.

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sam-pai
saat ini belum ada yang kalah. ***


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    31
       HORISON, JANUARI 2000



                                        ONDOL
                                       Oleh: A. Hidayat



Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali.
Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan
tam-pak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol
pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan
luka di dadanya hampir mem-perlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.

Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol.
Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam
menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telin-ganya juga
hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya
yang tembam dan kebiruan.

Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian ke-matiannya yang tidak lazim itu
menim-bul-kan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba
saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol
ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang
misterius dan kematiannya yang mengenas-kan itu.

***

Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa,
beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu.

Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja,
lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor
kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka
kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun,
petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka
sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe.

“Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya.

Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-
orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang
bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci
menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit.

“Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil
mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di
halaman.

Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor.
Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu
duduk lagi.

                                              32
       HORISON, JANUARI 2000




“Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit.

“Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya.
“Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah
tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi
kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu
dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati
Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.
Sedangkan luka di dadanya hampir mem-perlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.”

Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil.

“Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak
dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa
luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah
telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh
sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.”

Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras.

“Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan
kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang,
Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas
dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan
kematiannya yang mengenas-kan itu....”

“Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang
menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang,
tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.”

Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian
mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan
dihisapnya dalam-dalam kemu-dian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus
lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit.

“Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang
berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

“Hei, nih ada laporan kriminil,” yang bersandal jepit seten-gah berteriak kepada keduanya.

“Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis, sedang yang berkaos oblong
langsung masuk ke ruang lain.

“Iya, Pak. Begini, Pak. Di tepi kali di desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami
yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan
mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang
putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa
sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas
godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang
rusuknya.”

                                               33
       HORISON, JANUARI 2000




Yang berkumis batuk-batuk kecil, berdiri dan mondar-mandir.

“Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak
dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa
luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah
telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh
sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.”

Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras, duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-
mandir lagi.

“Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan
kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang,
Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas
dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan
kematiannya yang menge-naskan itu....”

“Sebentar, sebentar,” yang berkumis memotong. “Sorri, sorri, sorri yeah, urusan kriminal itu
banyak macamnya. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Urusan saya adalah perkara
kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. Kalau kalian punya
narkotika, hubungi saya yeah. He he he. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh,
yang berkaos oblong tadi. Nah, kalian dengar, dia lagi mandi dulu. Tunggu yeah.”

Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Salah seorang yang melapor segera
menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Yang bersandal jepit dan yang
berkumis menemani mereka merokok. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas
itu.

Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. Mulutnya bersiul sumbang
entah lagu apa.

“Nah, ini dia selesai mandi. Ayo sekarang lapor sama dia,” kata yang berkumis kepada orang-
orang yang melapor.

“Terima kasih. Begini, Pak.”

“Nanti dulu,” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan
tangannya, “laporan kriminalitas?”

“Iya, Pak.”

“Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di
hadapan yang berkumis.

“Iya, Pak.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok
kepada yang berkaos oblong.

“Ya, ya, ya... ayo mulai,” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok.



                                            34
       HORISON, JANUARI 2000



“Begini, Pak. Di tepi kali di desa kami, tadi siang ditemu-kan seorang warga kami yang sudah
tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi
kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu
dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati
Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.
Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.”

Yang bersandal jepit bersin, bunyinya mengagetkan yang melapor.

“Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak
dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa
luka yang cukup mendalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya.
Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena
tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.”

Yang bersandal jepit bersin lagi, bunyinya kembali mengage-tkan yang melapor.

“Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan
kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang,
Ondol, selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas
dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan
kematiannya yang mengenas-kan itu...”

“Baik, telah saya dengarkan,” kata yang berkaos, “apa kalian bawa berita acara
kematiannya?”

Orang-orang yang melapor kaget dan bingung.

“Wah, kami tidak membawanya, Pak. Bagaimana, ya. Apakah tidak cukup dengan laporan
lisan saya tadi, Pak?”

“Tentu saja tidak. Harus ada berita acara tertulis. Laporan lisan saja tidak cukup, walaupun
yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. Apalagi kalian cuma warga desa
biasa! Sebuah laporan, apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkai-tan dengan
pembunuhan, mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Ya, dengan menyerahkan berita acara
kematian itu. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!”

Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Orang-orang
yang melapor menunduk semua.

“Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan, itu namanya baru disebut is-syu.
Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78, sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu.
Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun.
Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. Apalagi tanpa bukti. Ada bukti pun, jika tidak ada
berita acara tertulis hitam di atas putih, ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. Sebuah
is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung.
Nah, karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diis-syukan tadi. Itu pun kalau
perkara ini ingin diusut tuntas, ya tass.”

“Caranya bagaimana, Pak?”


                                             35
       HORISON, JANUARI 2000



“Menurut peraturan nomor 23456/7/89, berita acara itu sekurang-kurangnya ditandata-nga-ni
oleh lima orang yang melapor ser-ta diketahui oleh ketua RT be-serta ibu, Ketua RW beserta
ibu, Ke-pala Desa beserta ibu, Camat ju-ga beserta ibu, Kepala Kepoli-sian be-serta ibu, dan
akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Lalu dikukuhkan oleh seorang
notaris dan didaftarkan di pengadilan. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. Dilengkapi
pula dengan denah lokasi kematian, visum dokter, keterangan kelakuan baik sepanjang hayat,
keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah, tidak pernah terlibat
penganiayaan petugas keamanan, dan syarat lain yang tercantum di sini, nih.”

Yang berkaos menyerahkan selembar kertas.

“Nah, karena sekarang malam Minggu, sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup.
Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang.
Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan, he he he... pasti dia kesepi-an, kan?”

***

Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol, orang-orang yang melapor menceritakan apa yang
harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. Beberapa
orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir
dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka
akan pentingnya pengu-sutan kematian Ondol.

“Ingat, sodara-sodara. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah
setengah tahun lebih hilang secara misterius,” kata salah seorang. “Menurut yang berwajib
juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. Dan yang lebih penting lagi,
kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan, orang yang kita harapkan suatu
saat bisa memimpin desa ini. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk
memimpin dan memajukan desa ini.”

“Betul. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh
begitu saja?” tanya salah seorang. “Kalau soal ini dibiarkan, tak akan ada yang berani
mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. Saya
juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri, tetapi saya tidak berani kalau
risikonya harus seperti Ondol. Jelas bukan, ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib
saja mengatakan, ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. Karena itu, pengusutan perlu
dilakukan.”

Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengu-sutan. Salah seorang, yang
menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa, berbaik hati
mengurus berita acara kematian Ondol. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu
dan biaya yang tidak sedikit. Untuk mendapatkan visum dokter, mayat yang telah dikubur
digali kembali, dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. Kerabat Ondol juga
harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani
berita acara itu. Menurut salah seorang kerabat Ondol, lebih kurang satu juta habis digunakan
untuk berita acara itu. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di
pengadilan.

Pada hari itu juga, dengan semangat 45, orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor
yang berwajib di kabupaten. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui.


                                             36
       HORISON, JANUARI 2000



“Begini, Pak. Sesuai dengan petunjuk Bapak, sekarang kami serahkan berita acara kematian
Ondol,” kata salah seorang, “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut
tuntas setuntas-tuntasnya.”

Yang berkaos oblong mengerutkan dahi.

“Aduh, kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali, ya sayang sekali.
Menurut peraturan nomor 34567/8/90, sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi
kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada
yang berwajib tidak lebih dari sebulan. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. Kalau kemarin
datang ke sini, tentu berita acara kematian ini, atas nama hukum, bisa saya terima.”

Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu.

“Sekarang kami tidak punya banyak waktu. Kami lagi sibuk, supersibuk. Sebuah kejadian
serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang
tidak main-main. Lihat, berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima," yang
berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja.

Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata.

“Jadi, lebih baik kematian e... siapa namanya itu, kalian lupakan saja. Bukan kami tidak ingin
mengusut, tetapi kalian yang teledor, tidak disiplin dengan waktu. Jaman sekarang kita harus
berpacu dengan waktu! Ya, kami tidak punya waktu banyak. Selain harus mengusut perkara
minggu lalu, kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang
lalu itu," kata yang berkaos setengah marah-marah. “Sekali lagi, lupakan saja kematian si
Podol itu, ya! OK?”

Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan se-berkas tebal berita acara
kematian.

Dalam terik matahari yang membakar tubuh, mereka melangkah menuju sebuah warung kecil.
Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. Mereka membeli
beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. Karena plastik pembungkus di warung itu
habis, mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian
Ondol. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. Kertas-kertas warna-warni
berham-buran, melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan, ke halaman-halaman di
rumah pinggir jalan, sebagian lainnya hanyut di selokan. Beberapa anak kecil memungut
kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan.***


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    37
       HORISON, JANUARI 2000



Horison, Maret 2000

                                            NUH
                                  Oleh: Isworo Haris Sunardi


"Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?"
tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Kuusap-usap dengan keras dan
kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini, tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku.
Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Aku
jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu
besar, di bawah angin besar mem-ba-dai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya.

"Kaukah itu? Jawablah!"

Lelaki itu tetap diam. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Tapi dia me-man-dang-ku terus dan
tersenyum mengejek. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Tongkat
penyangganya menebar harum bau cendana, tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Oh!
Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Mengapa
tidak menjawab? Bisikku dalam hati.

"Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi.

Lelah rasanya aku memanggil, tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu
menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal
dari Indonesia, bahasa yang sangat asing ditelinganya. Ataukah senyumnya itu yang
menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia
tahu kalau aku sedang menerka-nerka.

Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.

"Ya. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu," jawabnya tenang. Aku
hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh.

"Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?"

"Ya," dia mengangguk. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian."

"Kalian?" aku heran. Kulihat di sekelilingku, tapi yang kutemui hanya diriku sendiri.

"Ya . Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan per-ja-lanannya. Aku berlayar di
lautan tia-da berpantai itu, seperti katamu, ha-nya untuk umatku. Tugasku telah selesai dan
tinggal santai. Bukan untuk kalian. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu
yang berisi ketololan dan keteledoran. Beda sekali dengan lautan yang aku layari," katanya
menjelaskan.

"Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami, Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini
berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini, Nuh? Aku mohon?"

Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Ada guratan gelombang di keningnya. Alis
putihnya mengumpul, seperti dia sedang serius berfikir. Lama aku menunggu jawabannya.

                                             38
       HORISON, JANUARI 2000




"Tidak, tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu," katanya menggeleng. Aku sangat kecewa.

"Kenapa?"

"Kronologi perjalanannya berbeda. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah
Tuhan dan nasihatku. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Bahkan tahi, bahkan tahi
dilemparkan ke muka ini. Istriku sendiri yang mengajari. Karena lamanya aku membuat
kapal, aku jadi kebal. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Di
antara mereka banyak yang saleh-saleh. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa
sendiri. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang.
Jembatan waktu yang kau tuju, telah berubah arah. Semua karena hanya ingin mengikuti kata
hati tanpa kau fikirkan. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan
mereka. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna."

Aku terdiam. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar
yang sangat. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Setiap kali kutapaki jalan
sambil memanggul sepi. Aku rindu harapan. Aku berjalan di bawah penindasan. Dan matahari
yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengat-nyengat pikiranku.

Akhirnya aku harus memilih jalan, ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang
dan perang. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Sementara di atasku beribu
peluru mendesing memburu. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Kukejar dan terus kukejar
lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang.

Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Aku sering
mendiamkan atau mendamaikan. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Saat kuketahui mereka
curang dan membahayakan, mereka kusikat. Kubabat tanpa sisa. Akhirnya sampai juga aku
menguasainya. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba
bangunan, dengan tanah-tanah yang kubangun rumah, juga kuda-kuda liar yang bisa
kutundukkan.

Aku dan anak buahku, juga familiku, aku bagi kebahagiaan. Mereka bebas makan,
berpakaian, kadang rumah yang berlebihan. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak
lupa, mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Mereka punjung
kata dengan emas. Aku ditandu dan dielu-elu, kedua tanganku mengepak se-ru-pa sayap.
Kulambaikan tangan pa-da orang-orang.

Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa mu-suh main petak umpet dan
perang-pe-rangan. Mereka tampak me-nyongsong, tapi di belakang disiapkan membokong.
Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Aku jadi sendiri, tepekur melebur diri
dalam keheningan dan kesunyian. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi.

Berjalan menyusuri ujung pe-nan-tian.

"Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh-…!--" teriakku memanggil-
manggil orang yang kukagumi itu. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Orang yang
sabar berlayar itu akan kupungut hati-nya. Dan dia yang berjiwa peno-long itu akan kucari
petunjuknya.



                                            39
       HORISON, JANUARI 2000



Lama kucari-cari dan kunanti, tapi tak juga muncul dalam benakku. Kureka-reka dalam
khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu
ada di sana. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar pe-na-sihatku, tapi malah
tersasar da-lam lem-bah kurang ajar. Aku berlari di hu-tan-hutan, tapi hutan itu malah
ter-ba--kar, dan gunung-gunung yang ku-pi--jak meledak. Bencana-bencana be-r-un-tun
melanda. Tapi yang kucari tak ketemu juga.

Untunglah dia datang saat aku ham-pir terpagut rasa putus asa. Ke-su-nyian-kesunyian yang
kutelan se--ba-gai pelepas dahagaku telah me-nge-nyangkanku.

Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Sambil berlari Dia kuham-piri. Kuulurkan tangan
agar aku da-pat meraih kelembutan telapak ta-ngan--nya. Tapi layaknya sekat, betapa sedih
ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Aku gagal menyentuhnya.

"Ketegaranmu, Nuh, akan kutempuh!" kataku.

Dia tersenyum.

"Jangan mengejek, Nuh."

Nuh yang tua itu menggeleng. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Bibirnya lembut
mengurai suara.

"Tabah," katanya. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. "Tanpa ke--ta-bahan kau takkan
mungkin mam-pu mengarungi lautan duka resah ini hing-ga sekarang. Ketabahan yang kau
pelihara sejak kecil itu membuat hati-mu kuat."

Lalu dia menegakkan jari te-ngah-nya ke arah langit hingga berjajar de-ngan telunjuknya.

"Tegarkan jiwamu!" katanya de-ngan menekankan suaranya. "Kau pas-ti akan merdeka
seperti engkau ber-juang mati-matian memperoleh kata itu."

"Lalu, Nuh?" tanyaku tak sabar. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Aku jadi
berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas.

"Tenang!" katanya. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerak-an-nya. "Ya, ke sana!"
katanya men-je-las-kan. Dia menyuruhku me-man-dang ke atas.

"Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Kendali emosi
dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan."

Aku termangu dalam buaian na-sihat-nya. Mataku terus saja me-na-tap-nya. Tapi Nuh tiba-
tiba pamit per-gi setelah meninggalkan nasihatnya de-ngan menghunjamkan dalam hati-ku.
Aku terdiam tenang. Sambil mem-beri salam dia pergi melambaikan ta-ngan. Kupandangi dia
saat berjalan me-ninggalkan.

"Terima kasih Nuh, terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang
mulai merayap meranggas gelap.***


              --------------------------------------------------------------------------------

                                                    40
       HORISON, JANUARI 2000



                          PADA SEBUAH TAMAN, MEI
                                Oleh: Moch. Hasymi Ibrahim


Di taman kota, senja beringsut perlahan, lamban, bahkan nyaris lunglai. Senja yang kemarin
juga, tapi. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana.

Pagi sekali, mereka yang hanya mengenal canda dan birahi, telah bergegas pergi dari situ.
Terbang ke tempat-tempat yang jauh, mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya.
Asing. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak
ada. Ning juga pernah bilang begitu, dulu, ketika kami tidur bersama pertama kali, pada
sebuah flat sederhana di Brooklynn, NY.

Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya
bersemangat menjemput malam, turun amat perlahan, lesu, meninggalkan gerah – juga kesal
lantaran langit kota telah penuh asap. Kota sedang terbakar. Revolusi, mungkin, sedang
bermula.

Usai mengantar Ning, aku segera terbang ke sini. Bau tubuhnya masih tersisa dalam
ketergesaan langkahku: asin, berkeringat, beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi
di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Bukan hal mudah mencapai taman ini.
Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan, perkantoran
dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Jalan raya yang melintang
membelah-belah kota menjadi senyap, lenggang, menyisakan cungkup-cungkup api dari
mobil-mobil terbakar.

Lalu di sini, senja mulai nyungsep, dan Yogo telah datang.

“Kita evaluasi perkembangan, di sana. Pergilah,” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah.
Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu.
Kekuasaan, kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo,
sepanjang malam, tadi. Dia hanya mengenakan T-shirt polos, sepatu karet dan celana jeans.
Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik, lenyap sama sekali. Sambil
mengontrol radio, memberi komando, mematangkan dan memberi perintah “start”, dia bagai
berada dalam situasi ekstase. Persis ketika suatu malam, nun beberapa tahun lampau, ketika
kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye, Paris, meneguk perlahan hangat
tequilla. “Perjumpaan dengan calon presiden,” aku menyebut pertemuan malam itu. Dia
datang dari jauh, pedalaman Irian, usai membebaskan sandera. Bau hutan tropis masih lekat
di wajahnya. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan,
juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. ”Anda bantu saya. Tak perlu kontak,
kukira. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan, persahabatan. Juga keagungan sebuah cita-
cita. Kamu pasti setuju, persahabatan adalah ikatan kita.” Singkat, simpel, khas orang
lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing.

Dan malam tadi, hingga subuh ketika kami pisah, Yogo tampak angker. Lambaian tangan
kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Persahabatan itu, segera akan terbukti,
kelak, tapi rencana masih sedang berlangsung. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah.
Presiden memang sudah terpojok, tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Juga kedatangan
Yogo yang telat.

Malam kemudian tiba dengan diam. Malam yang sepi.

                                             41
       HORISON, JANUARI 2000




Ning menelepon.

“Bang, Presiden mundur besok. Yogo tak mungkin datang. Pulanglah,” katanya simpel. Tak
ada basa-basi, seperti irama tubuhnya: simpel, langsung, tegas dan banal.

Aku kontan diserang frustasi. Lesu, habis, pupus. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung
mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya, bahkan dua tahun sebelumnya ketika
ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Aku telah membaca
jutaan bit dari laporan intelejen, mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik
dari waktu ke waktu, menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Bahkan untuk
beberapa tokoh kunci, sampai ke gelagat seksualnya di ranjang, telah aku rekam di luar
kepala. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Para pemain valas telah terkuasai.
Beberapa buah bank sudah ambruk. Markas keuangan sudah terbakar, diliputi misteri. Para
aktivis telah diamankan. Sabotase, demonstrasi, dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi.
Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Presiden yang ternyata sangat
lemah, masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Pendek kata semua berjalan
sesuai rencana. Demi Yogo, demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris, dan
demi keagungan. Oh, betapa menggairahkan.

Di ufuk, bayang kegagalan mulai tampak. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan
panglima. Dia berada satu level di bawah, tapi aku punya keyakinan, juga kepercayaan atas
nama keagungan, bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Langkah presiden selamanya
memang tak terduga. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Akan menyetop
aksi, akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Ini harus
dicegah. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan, rupanya tak dapat
dipercaya; dia memilih mengalah sebelum bertempur. Dia ternyata bukan prajurit sejati
seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang
kehabisan cita-cita, —lampu teplok kehabisan minyak; faktor yang kami tak hitung selama
ini.

“Ning, kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning.

“Ia. Kamu kok diam saja?”
“Aku bingung. Ada kontak dengan Yogo?”

“Belum, tapi kuusahakan. Mungkin dia sedang di istana.”

“Pulanglah segera, pulang. Di sini kita bisa berpikir jernih.”

Suara Ning tetap empuk. Menggairahkan. Memanggil. Tak ada kegetiran, apalagi kegentaran.
Dia memang lebih matang. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya
yang tak pernah surut dan padam. Sebaliknya, aku yang justru panik dan gamang. Bukan
karena risiko yang mesti datang, balas dendam kalangan militer, bukan. Melainkan kepanikan
seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. Lakon yang
berjalan tak sampai klimaks, lantaran aktornya bermain tak terkendali. Juga kepanikan dan
kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi, seperti Che Guevara,
Castro, dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas
nama cita-cita dan keagungan. Aku benar-benar frustasi, kini.

"Kamu masih di situ?" tanya Ning. Kali ini suaranya bernada khawatir.

                                               42
         HORISON, JANUARI 2000




“Iya,” balasku memencet “off” pada hand-phone.

Malam sudah bertahta. Udara gerah berbau asap. Taman benar-benar muram. Durja.
Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Kota masih terbakar, menghanguskan sisa
rencana.
Hand-phoneku bertulilit. Suara Yogo; “Tunggu sampai besok,” katanya singkat.

Tak ada besok, Yogo: gumamku membatin. Seperti yang sering kamu katakan, sekarang atau
tidak sama sekali. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi, dan tak ada rencana
ulang.

Di sini, di taman tempat burung-burung bersenggama, bertelur dan berkembang biak –dan
kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Keagungan itu memang ilusi,
kini. Bagi Yogo, utamanya. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Kami akan segera terbang ke
negeri lain, di sana prarencana sudah tersusun. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang
terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional, alumni Oxford, almamaterku. Ini
tentu akan lebih menggairahkan. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Atau bisa lanjut
di masa yang datang. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Tapi tidak malam ini.
“Ning, kamu masih di situ?”

“Ya, aku sudah mandi.”

“Sekarang pakai handuk?”

‘Ya, cuma handuk. Duduk menunggumu.”

“Sebentar lagi aku datang. Aku ingin berendam.”

“Kalau begitu aku mandi lagi.”

“Berendam bersama-sama.”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus larut seperti biasa.”

“Aku meresapkan bau mulutmu, kini.”

“Aku juga.”

“Tunggu, ya!”

“Cepat.”
Malam, di taman ini, kurasakan gairah yang lain. Gairah bulan Mei. Seperti gairah sebuah
musim panas, di Brooklynn, NY, nun bertahun lampau.***

Jakarta, Juni 1998
               --------------------------------------------------------------------------------

                                                      43
       HORISON, JANUARI 2000



                                 PEMAHAT ABAD
                                    Oleh: Oka Rusmini


Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Hampir saja pisau itu memahat kakinya.
Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Seperti bau daun-daun kering
dan kayu basah. Aneh, dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu
semakin mendekat.

“Siapa itu?”

“Titiang.1 Luh Srenggi.”

“Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Bau itu semakin mendekat dan
menyesakkan dadanya. Tangannya jadi lapar. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Pisau-pisau
yang runcing tebayang di otaknya. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi
wujud laki-lakinya.

Katakan padaku, siapa kau?!”

Titiang yang akan melayani seluruh keperluan, Ratu.2 Mulai hari ini dan seterusnya,” Suara
itu terdengar gugup.

"Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri.

“Luh Srenggi.” Suara itu terde-ngar bergetar. Suara itu adalah suara perempuan. Apa yang
terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Aneh sekali, tiba-tiba saja dia seperti
ditenggelamkan ke lautan. Suara itu dirasakan penuh dengan keju-juran, kasih sayang, dan
sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Inilah perempuan itu, perempuan
yang dicarinya berabad-abad. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Seorang
perempuan, benarkah suara ini milik seorang perempuan?

Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Tangan
mereka bersentuhan. Kopag semakin gelisah. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.
Luar biasa. Perem-puan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang
pohon, atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.

Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Dia bisa memberikan penilaian
yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Biasanya dia hanya
dijadikan objek, sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Apa pun yang
dikatakan orang-orang di sekitarnya, Kopag harus patuh. Kali ini, dia merasa menemukan
kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini
rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.

“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam, Gubreg?” Suara Kopag terdengar
getir, “bahkan untuk menilai keindahan itu, aku juga harus memakai kriteria mereka?"

"Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini
dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Pikirannya kacau!



                                             44
       HORISON, JANUARI 2000



Kopag sadar, sangat sadar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan.
Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Tapi, apakah
orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu
menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan
disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar
biasa pada diri Luh Srenggi. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran, perasaan, dan
keindahannya sendiri. Salahkah?

Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Tubuhnya seperti
lekukan kayu. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik.
Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Menghar-gai keindahan
yang dititipkan alam padanya. Bahkan Gubreg, pelayan tua itu, juga tidak berkomentar ketika
Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Apa yang sesungguhnya salah
pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan?

***

Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag, agar
orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya.
Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Gelar Ida Bagus
menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana, kasta tertinggi dalam
struktur masyarakat Bali. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki
kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung.
Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Laki-laki itu adalah binatang yang
paling mengerikan. Kata orang, laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Dia tidak
pernah peduli, cantikkah perempuan itu, sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag, setiap makhluk
yang memiliki lubang bisa dimasuki. Suatu hari, setelah berbulan-bulan tidak pulang, laki-laki
itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Tubuhnya kurus dan pucat. Belum lagi
hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Seluruh kekayaan ludes. Dalam kondisi seperti itu,
laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Perempuan itu
menolak. Dia tahu, laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Apa artinya
kekuatan seorang perempuan? Terlebih, sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan
bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dia hamil. Lahirlah seorang laki-laki yang
mereng-gut nyawa perempuan itu.

Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya
sendiri. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan, bisa dibuat sebuah
pementasan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan, di sanalah
dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup
hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya, hidupnya. Kehidupan yang sering dimaki
Kopag ternyata cukup demokratis. Dia memberi Kopag poin, yang tentu saja tidak dimiliki
orang-orang. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para
intelektual seni rupa. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Kopag tidak saja memahat
kayu, dia memahat pikirannya, otaknya, juga impian-impiannya. Untuk pertama kali, alam
menyerah pada kekuasaanya, seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia
kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus.

***

Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu
mengantarnya ke mana dia pergi. Jujur saja, Kopag sangat menyukai kayu yang

                                             45
       HORISON, JANUARI 2000



mengenalkannya pada dunianya. Dunia yang diinginkan. Sebuah kesunyian dengan pagar-
pagar kein-dahan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping.

“Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu
menggelisahkannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Tanaman di halaman samping rusak
atau terinjak kakinya, kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut
tongkatnya, atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.

Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinga-nya. Bagaimana mungkin
perempuan konon kata orang-orang di desa-nya sangat cantik dan santun itu bisa berkata
begitu kasar. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Nama perempuan itu Ni
Luh Putu Sari. Karena dia bukan kaum Brahmana, perempuan itu harus mengubah namanya
menjadi Jero Melati. Karena perempuan Sudra, perempuan kebanyakan itu telah menikah
dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya.

Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa, kulitnya yang
sering jadi pujian, pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-
laki. Aneh sekali, Kopag sering berpikir, bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang
objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Iparnya yang luar biasa kasar dan
cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.

Bagi Kopag, perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Saat ini dia sangat
mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Perempuan itu
benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana, dia harus
menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam
lingkungan keluarga bangsawan. Itu yang dira-sakan Kopag, ketika untuk pertama kali
iparnya itu menyalaminya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang
membu-suk. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka, dia mencium bau
darah. Anyir. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat
mungil, merah, dan sangat pas. Bahkan Gubreg, parekan, pelayan setia yang merawat Kopag
sejak kecil, selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapat-kan perempuan
tercantik di desa.

Masih kata Gubreg, Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria
bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Postur tubuhnya seperti putri-putri
raja Bali.

“Luar biasa kecantikan Jero Melati, Ratu.”

“Seperti apa perempuan cantik itu, Gubreg? Tolong kau kata-kan seluruhnya. Aku ingin tahu,
aku juga ingin merasakan. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu.”

Laki-laki tua itu terdiam. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Ada rasa sakit mengelus
dada tuanya. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Tinggi, dan
tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Sejak kecil kakeknya hanya
mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Atau
sesekali mendatangkan guru yang mengajari-nya membaca.

“Anak itu buta, Gubreg. Menanggung dosa ayahnya. Pertumbu-hannya selalu
mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Karmanya jatuh pada
anaknya sendiri. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Aku masih percaya

                                             46
       HORISON, JANUARI 2000



kehidupan itu bisa diajak bicara. Kau bisa lihat, kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah
yang luar biasa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Lihat, dia
mampu membuat pa-tung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Juga dia baik-baik,
Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai, sebelum berpulang.

“Gubreg, kau belum jawab pertanyaanku. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti
bongkahan kayu beringin ini? Dingin, tapi mampu memikatku. Lihat, Gubreg, aku selalu
tersentuh. Gubreg, rasa apa yang sering membuatku meluap, apa ini rasa yang dimiliki laki-
laki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan.

Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar, sudah menjelang dua puluh lima
tahun. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Atau sesekali dia dikunjugi
orang asing dari Prancis, Frans Kafkasau.

Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg, jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya.
Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing, yang diterjemahkannya, tentang
Michelangelo Buo-norrty, yang konon, kata Frans, pematung jaman Renaisans.

Susah. Susah. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya.

“Kau tidak ingin menjawabnya, Gubreg?”

“Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang, Ratu. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti
Frans. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan.

Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Dadanya sering mendidih. Rasanya baru
mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti
keluar. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Laki-laki bule itu telah
memberinya didikan yang baru, perhatian yang lain. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Ada
yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kehilangan yang dalam. Bagi Gubreg, Kopag sudah
bagian dari nafasnya. Sejak kecil, dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu.
Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Dia juga
yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa, termasuk rangkaian pisau-pisau
pahatnya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat, dan
menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika
pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Waktu itu umur Kopag tujuh
tahun.

“Gubreg, tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Keruncingannya, ketajamannya,
begitu indah. Begitu penuh misteri. Luar biasa, Gubreg.”

Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Gubreg menyaksikan, betapa sinar
matahari yang perkasa itu menja-di patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja
keruncin-gannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Di tangan Kopag
pisau itu jadi begitu dingin, angkuh dan selalu lapar.

Sampai menjelang tengah malam, Gubreg belum juga bisa menja-wab arti menjadi laki-laki.
Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Takut sekali
menjawab perta-nyaan tentang esensi menjadi laki-laki.

***

                                           47
       HORISON, JANUARI 2000




Pagi-pagi sekali, Kopag sudah membuka jendela studionya.

“Aku ingin bercerita padamu,” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.

“Tentang apa lagi, Ratu?”

“Kecantikan perempuan.”

“Titiang...Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perem-puan pada Ratu. Semua orang,
Ratu, memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Perempuan itu....”

Suara Gubreg terdengar patah. Berkali-kali dia menarik nafas. Dia mengerti. Sangat paham.
Dia juga laki-laki, dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama
kali menampar wujud manusianya. Begitu parah, dan teramat mengge-lisahkan ketika
tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Rasa itu tiba-tiba saja
muncul kembali dalam otak, dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai
masa lalunya kembali.

Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sering sekali dia disuruh
mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Tubuh perempuan itu seperti ular yang
melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu
naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kaki perempuan itu putih, dan mampu
meledakkan otaknya. Terlebih, Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok
punggungnya dengan batu kali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih mele-kat
erat di tubuhnya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup.
Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Dia gelisah, dia
luka, karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Sebagai laki-laki
Sudra, kebanyakan, dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana.
Perempuan junjungannya, perem-puan yang sangat dihormatinya. Tak ada yang bisa
diceritakan kegelisahannya, dia adalah laki-laki tak berguna, yang hidup dari belas kasihan
keluarga Dayu Centaga. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga,
Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas
yang memburu. Hyang Widhi, Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Tubuhnya jadi pucat. Keluarga Griya mencari-kan dia seorang Balian, dukun.

Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan
aliran pernafasannya. Kata Balian itu, Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai.
Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Masih kata Balian tua itu, tadinya
penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Berkat kekuatan Gubreg, Dayu
Centaga tidak terkena. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Untuk
mengembalikan kesehatan Gubreg, keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai.

Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia pasrah ketika Balian
tua...memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak mengenai
keluarga Griya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya, Gubreg bersedia menjalankan
runtutan upacara itu.

Tak seorang pun tahu, komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg tidak sakit,
tidak juga kesambet setan. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya, karena aliran sungai dalam
tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil, tetapi sudah menyerupai air bah. Dan Gubreg tahu air

                                             48
       HORISON, JANUARI 2000



dalam tubuhnya memerlukan muara. Demi Hyang Widhi, dia merasakan cinta yang dalam
pada Dayu Centa-ga. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Cinta yang membuatnya jadi batu,
dingin, tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Sampai sekarang,
menjelang tujuh puluh lima, Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Tanpa istri, tanpa
kegaira-han sebagai laki-laki.

Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu, Gubreg paham. Sesuatu yang
dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya.

Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya.

“Gubreg, kau belum juga jawab pertanyaanku,” suara Kopag terdengar pelan. Dia menarik
nafas berkali-kali, "Gubreg, kau ingat kata-kata Frans?”

“Yang mana?”

“Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan
dia pada lukisan Pablo Picasso, Guemica. Pada dasarnya aku selalu penasaran, Gubreg.
Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi, mengajakku bicara, berdialog, dan
berpikir. Aku selalu ingin tahu, selalu ingin mengupas dan melu-kai kayu-kayu itu. Rasa ingin
tahu yang begitu besar, sampai menguliti otakku, tanganku, tubuhku. Aku juga ingin tahu arti
setiap impian. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-
rantingnya, membesarkan tubuhnya, sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di
tanganku. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Suatu hari
Frans dan seorang temannya mengatakan, pahatanku tentang perempuan sangat sempurna.
Kata mereka, sangat surealis. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu
mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham, yang memanfaatkan seluruh tubuhnya
untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Gubreg, aku merasakan kecantikan
perempuan itu melalui jari-jariku. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain.”

Gubreg tetap diam. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam
ingin disampaikan Kopag, seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya, diajar
memahami kehidupan. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar
rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya
untuk mengabdi.

Berkat Kopag, keluarga besar ini kembali bisa hidup. Patung-patung Kopag laku keras dan
diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Sekarang ini keluarga ini tentram. Jero
Melati tidak pernah ceriwis, perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semau-nya.
Bahkan, kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Saat ini galeri itu
sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya
patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Bulan kemarin, ada
bantuan dana dari Jerman dan Perancis.

Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang
atau tidak ada uang. Hanya satu yang ditangkap Gubreg, Kopag memerlukan perempuan.

***

“Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu,” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati.
Mendengar komentar itu, Jero Melati tersenyum.

                                             49
       HORISON, JANUARI 2000




“Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiap-kan.”

“Jero sudah punya calon?”

“Ya. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari.”

“Siapa?”

“Adik perempuanku,” jawab perempuan itu serius. Gubreg menatap mata perempuan itu
tajam. Untuk pertama kali dia merasa-kan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik
itu. Benar kata Kopag, perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Otaknya
hanya berisi kehormatan.

“Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” Suara perempuan itu
terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg diam. Dia tahu, adik Jero Melati adalah
perem-puan paling liar dan nakal. Kata orang-orang kampung, adik Jero Melati bisa menjual
tubuhnya. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sayang, dia tidak tahan miskin.
Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri.

***

“Gubreg. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Gubreg mencoba
memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Lima menit tanpa hasil. Kopag seperti
linglung, dia terus mengelilingi studionya.

“Ratu. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Ratu terlihat sangat gelisah.”

“Ya. Aku ingin kawin, Gubreg.” Suara Kopag terdengar sangat serius.

“Maaf Ratu, titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.”

“Apa kata mereka.”

“Mereka setuju. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” Gubreg
mengangkat wajahnya, ingin sekali dili-hatnya wajah Kopag berseri. Aneh! Wajah itu tetap
seperti batu.

“Aku sudah memiliki calon. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!”

“Siapa?”

“Luh Srenggi.”

“Ratu...?!” Gubreg seperti tercekik. Luh Srenggi, apakah kuping tuanya tidak salah dengar?
Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag,
membersihkan studionya menyiapkan makan, dan mengambilkan pisau-pisau pahat-nya?
Perempuan itu bukan perempuan, dia lebih mirip makhluk yang mengerikan, kakinya
pincang, punggungnya bongkok, ada daging besar tumbuh di atasnya, matanya yang kiri
bolong, dia hanya memiliki satu mata. Wajahnya juga rusak berat. Kulitnya begitu kasar.


                                              50
       HORISON, JANUARI 2000



Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Sadarkah dia, tahukah dia makna
kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.

“Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam, Gubreg. Tubuhnya benar-benar lekukan
kayu. Kulitnya juga kulit kayu. Kau tahu, ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya, aku
tenggelam dan habis. Dia adalah perempuan tercantik. Perempuan yang menga-lahkan
kecantikan kayu-kayuku. Ketika dia telanjang, tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi
ketajamannya. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.”

Gubreg ambruk. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. ***



1. Saya
2. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali




              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    51
       HORISON, JANUARI 2000



Horison, April 2000


                                       MAYAT
                                    Oleh: Putu Wijaya


Mayat itu mengeluh.

“Aku yang mati. Aku yang terdera. Aku yang menjadi korban. Aku menderita. Aku yang
sudah kesakitan. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku diberitakan, diperdebatkan,
dipergunjing-kan, diselidiki dan dipakai sebagai contoh, sebagai obyek untuk berbagai
penyelidikan, analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya.
Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh
peris-tiwa yang dahsyat ini, sehingga mereka menjadi terkenal, terke-muka, memegang posisi
puncak dan akhirnya menang. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apa-apa. Aku tetap saja
hanya sebuah mayat yang sepi. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-
orang tersebut. Ini sama sekali tidak adil!”

Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Ia menggugat perilaku
yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia.

“Peradaban sudah merosot. Kebudayaan tidak lagi membuahbudi-kan keluhuran, tetapi
membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. Dunia sudah menjadi
sebuah pasar besar. Semua orang berdagang. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang
tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan, saling bergotong-royong, tetapi sudah
menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Kehidupan sudah
rusak. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan
kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra,“ kata mayat itu.

Ia berdiri di pinggir jalan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai
keluhan, kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar
tidak bedanya dengan kutukan.

“Aku yang mati, kamu yang enak. Aku yang kejepit, kamu yang melejit. Kamu semua
kelihatan saja menangis, meringis, tapi sebetulnya kamu semua tertawa, kamu terus hidup
ngakak. Kematian-ku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Air
matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual
berita-berita perih, menciptakan esai-esai, elegi-elegi, balada-balada dan orasi-orasi yang
meratapi dan menggugat kematianku. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keun-tungan
dari orang yang mati!”

Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat
secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Para wartawan yang ditemuinya semua
menghindar, menutupi hidungnya, mengangkat bahu dan menunjuk atasannya.

“Tanya Bapak, aku kan hanya menjalankan assignment.”

Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang
cerewet itu.


                                            52
       HORISON, JANUARI 2000



Akhirnya sekretaris redaksi, terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Ia
menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Sama-sama wanita, mungkin dapat diselesaikan
secara baik-baik.

“Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberi-taan kami. Kalau memang ada
yang salah, meskipun kami sudah sangat berhati-hati, kami bersedia untuk meralatnya untuk
kebaha-giaan dan ketenangan Anda di sana,” katanya mempersilahkan mayat itu
menumpahkan semua sumpah-serapahnya.

Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Seperti bendun-gan ambrol, ia menembakkan
seluruh unek-unek perutnya. Apa saja yang sudah menyakitkan, apa saja yang sudah
menyinggung, semua yang tidak adil, seluruh ketidak-benaran, kesalahkaprahan, bahkan yang
mungkin akan menyiksanya di kemudian hari, ia beber-kan dengan kata-kata yang tajam dan
berbisa. Ia menguras seluruh dendam, luka, prasangka dan kesakitannya.

Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. Komput-er penuh dengan kata-kata
kotor. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-
bandit tengik. Moral, susila, tata krama, kepatutan, keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang
dikibar-kibarkan selama ini, ternyata hanya sebuah koteka, untuk membungkus kebiadaban.

“Semuanya busuk,” erang mayat itu. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti
kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Akhirnya ia menggigit kursi
sampai cabik-cabik, untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar
komputer.

Sekretaris panik. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya, telepon
berbunyi. “Biarkan saja, dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Nanti
setelah kempes dia kan pergi sendiri.”

“Tapi kursinya rusak, Pak. Itu kan baru dibeli. Bagaimana kalau dia menghancurkan
komputer.”

“Biar saja. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Ini justru bagus untuk publikasi kita!”

Sekretaris bengong. Mayat itu berdiri, karena mencabik kursi itu, juga tidak bisa mengurangi
tegangan dadanya. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Sekretaris menutup matanya,
lalu lari keluar.

Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Di
antaranya ada gambar garuda. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Mayat itu
baru menjadi sedikit tenang. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya, ia kembali
ke kursi. Di situ ia menangis tersedu-sedu.

Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia
lemparkan keluar dari perut, hati dan otaknya. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan
lebih san-tai. Seperti balon kempes, ia menggepeng di atas kursi. Nampak begitu lelah namun
damai.

Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan
sesuatu. Minuman panas, air dingin untuk penyegar. Mungkin juga makanan, semacam roti


                                              53
       HORISON, JANUARI 2000



bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Sekaligus
mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur.

Mayat itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Seluruhnya
mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang.
Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.

Penjaga kantor itu mengerti. Tetapi sebelum pergi meninggal-kan tamu eksklusif yang
diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu, ia sempat mengerling
ke atas layar komputer. Ia berdecak-decak kagum. Seakan-akan ikut menik-mati kepuasan
mayat tersebut. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Ia menoleh pada penjaga malam
yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat.

“Kamu mengerti?”

“Ya, saya mengerti sekali.”

“Kamu bisa merasakan.”

“Kenapa tidak? Jelas sekali.”

“Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?”

“Tidak. Itu memang benar.”

Mayat itu menjadi amat girang, menemukan untuk pertama kali-nya, orang yang mampu
memahami segala tuntutannya.

“Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?”

“Saya percaya.”

Mayat itu mengulurkan tangannya. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya.
Keduanya berjabatan tangan, seperti orang yang mau bersekongkol. Tapi tangan penjaga
malam itu dingin seperti beku. Mayat itu terkejut.

“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?”

“Tidak.”

“Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?”

“Ya memang begini keadaannya?”

“Tapi kenapa?”

“Karena inilah hidup saya.”

                                            54
       HORISON, JANUARI 2000




Mayat itu terkejut. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Siapa
tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. Tetapi ketika ia
meman-dangi mata penjaga itu, ia hampir terpekik. Karena di kedua mata nampak ruang
kosong.

“Astaga kamu tidak punya mata lagi?”

“Tidak.”

“Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?”

“Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.”

“Kenapa?”

“Karena itu kewajiban saya.”

Mayat itu bergidik. Bulu kuduknya meremang.

“Apa lagi kewajiban kamu?”

“Semuanya!”

Mayat itu tercengang.

“Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!”

“Ya memang.”

“Apa? Kamu budak?”

“Betul. Saya budak.”

“Budak apa? Budak siapa?”

“Budak segala-galanya. Saya budak komplit.”

Mayat itu bingung. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Tak puas hanya
melihat, ia lalu menyentuh, kemudian meraba-raba, selanjutnya merogoh tubuh penjaga
malam itu. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.

“Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Daging kamu bo-nyok!”

“Memang!”

“Bukan cuma itu, aku jadi curiga, jangan-jangan kamu, maaf boleh aku kobok sekali lagi?”

“Silakan.”



                                              55
       HORISON, JANUARI 2000



Mayat itu mendekat, lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Ia terpekik kembali dan
meloncat keluar. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.

“Ya Tuhan, kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.”

“Memang begitu.”

“Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?”

“Betul.”

“Edan!”

“Ya. Jangankan perasaan dan pikiran. Apa pun saya tidak punya. Lihat kemaluan juga tidak
ada lagi. Maaf ya... .”

Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Mayat itu menggigil. Orang itu memang
sudah dikebiri total. Seluruh kema-luannya, termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah
dicomot. Ia tak punya segala-galanya.

“Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah
kalah komplit. Apa kamu bukan manusia?”

“Saya manusia.”

“Apa kamu sakti?”

“Tidak!”

“Lha kenapa kamu bisa hidup?”

“Ya begitulah. Saya harus hidup, meskipun tidak punya semua itu lagi.”

“Tidak mungkin!”

“Memang tidak mungkin, tetapi apa boleh buat, wong ini harus, kok. Ini kewajiban saya.”

Mayat itu berpikir keras. Lalu menggeleng-gelengkan kepala-nya.

“Siapa sih sebenarnya kamu?”

“Boleh panggil saya siapa saja, saya tidak pilih-pilih nama. Terserah orang, suka manggil
saya apa saja, silahkan, saya manut-manut saja.”

“Itu namanya pasrah. Apa kamu orang Jawa?”

Penjaga malam itu berpikir.

“Nah sekarang kamu berpikir!”

“Bukan begitu. Saya memang telmi, telat mikir.”

                                            56
        HORISON, JANUARI 2000




“Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Gaji kamu berapa sih. Pasti besar sekali karena
kewajiban kamu begitu berat. Berapa?”

“Tiga puluh.”

“Tiga puluh juta?”

“Bukan tiga puluh saja.”

“Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?”

“Ya.”

“Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?”

“Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Bukan hanya saya yang harus hidup. Istri saya dan
sepuluh orang anak saya juga harus hidup.”

Mayat itu ternganga. Ia pelan-pelan duduk kembali. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana
seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Pasti
penjaga malam itu korupsi.

“Kamu pasti korupsi?”

“Tidak, Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.”
 “Kalau begitu kamu ngobyek!”

“Terserah, Pak.”

“Kamu korupsi!”

“Apa itu korupsi, Pak?”

“Jelas!”

“Ya sudah.”

Mayat itu termenung. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Memang pada orang
kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.

"Kamu luar biasa," gumam mayat itu terpesona. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya
seperti kamu ini.”

“Memang saya sudah mati.”
“Ah! Apa?”

“Kata saya, saya sudah mati.”

“Kamu sudah mati.”


                                             57
        HORISON, JANUARI 2000



“Ya.”

“Jadi kamu ini mayat?”

“Betul sekali.”
“Mayat seperti gua ini?”

“Benar!”

“Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegi-rangan karena merasa mendapat
seorang teman secara tiba-tiba, sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.

Tetapi sekali ini, penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.

“Ayo salaman, kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Sekarang aku tahu masih ada orang
lain. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. Ayo salaman!”

Penjaga malam itu menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ek-spresi bukan kolusi, jangan
takut, tidak akan dituntut.”

“Tidak bisa. Saya tidak bisa salaman. Jangan keliru.”

“Keliru bagaimana?”

“Saya bukan mayat seperti situ.”

“Lho tadi kamu bilang kamu mayat?”

“Betul.”

“Tetapi bukan?”

“Betul sekali. Saya memang mayat, tetapi bukan.”

“Kenapa bukan?”

“Karena meskipun saya mayat, tempat saya tidak di kuburan. Tetapi di kantor ini.”

“O kalau begitu kamu hantu?”

“Apa saya hantu?”

“Ya kamu hantu kalau begitu!”

“Ya sudah. Boleh juga saya disebut begitu.”

Mayat itu berpikir.

                                              58
       HORISON, JANUARI 2000



“Kamu jangan main-main. Ini bukan waktunya untuk guyonan.”

“Tidak. Sumpah, saya sungguh-sungguh. Boleh saja tidak percaya. Tidak apa. Saya sudah
biasa tidak dipercayai. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Dipercaya atau tidak,
memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh istirahat. Mati
pun saya tetap harus bertugas."

Mayat itu bengong.

"Jadi kamu mayat hidup?"

"Ya itu."
"Kenapa kamu mau?"

"Kalau tidak, siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan
menyakitkan ini. Baik, Pak. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Mayat kok banyak bicara.
Selamat beristirahat, kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Saya tidak tidur,
mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi, saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu.”

Penjaga malam itu pasang tabek, lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya, lalu ditangkap
oleh gelap.

Mayat itu terpesona.
“Ya Tuhan, kalau begitu, kalau begitu, nasibku tidak terlalu jelek. Ada yang lebih jelek.
Bahkan aku boleh dikata agak mendin-gan dibandingkan dengan penjaga malam itu,” desis
mayat itu. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Remang-remang dalam kegelapan, ia melihat
tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap.

“Kasihan...”.
Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergo-poh-gopoh menghampiri.

“Maaf, memanggil saya, perlu sesuatu?”

Mayat itu terkejut.

“O tidak, tidak, sudah cukup. Aku tidak perlu apa-apa lagi!”
Penjaga malam itu mengangguk, lalu kembali lagi ke tempat-nya. Waktu itu mayat itu merasa
malu hati. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. Setelah melihat
nasib penjaga malam itu, apa yang dirasanya sebagai kesakitan, seperti tidak ada artinya sama
sekali. Ia merasa sudah terlalu cengeng.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal,
mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Disertai penyesalan penuh, hanya dengan satu
gera-kan, ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluh-kesahnya.

Tetapi apa daya, seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek, sama sekali tidak bisa
dihapus lagi. Ia abadi.***

Jakarta, 3 - 11 – 1997

              --------------------------------------------------------------------------------

                                                    59
       HORISON, JANUARI 2000



                                  RUMAH TUHAN
                                    Oleh: Muhammad Ali


Sampai saat ini, seperempat abad setelah ia meninggal dunia, masih terang terngiang di
telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang, nyaris berteriak, seolah-
olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia, ia berkata: "Atur sendiri-
sendiri!"

Demikian dikatakannya setiap kali, berkali-kali, di mana pun kebetulan ia berada. Di trotoar-
trotoar, di emperan-emperan toko, di perempatan jalan, di depan teras-teras rumah yang
pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi.

Seorang laki-laki tua, lebih separo abad usianya, ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Ia
mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu
besar menyungkup pundaknya. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang
pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Ia mengenakan topi koboi yang
pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Memakai sarung Samarinda biru yang
juga telah memat. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa
isinya.

Meskipun tua, tapi pengawakannya tegap dan kekar. Sorot matanya memancar berbinar.
Karenanya ia ditakuti orang, terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Mungkin ia
mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani
orang. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota.
Masuk-keluar kampung. Sekali-sekali berhenti di depan kantor, tempat orang lagi sibuk
bekerja. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit
pun merasa canggung atau enggan. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang
telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-
gopoh mengusirnya keluar.

Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya, karena kata-
kata itu seperti dilontarkan secara spontan, sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan
tertentu. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna, tidak ada artinya.

Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Sesuatu yang punya arti,
begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Hanya kata-kata itu yang selalu
diucapkannya, selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh.

Sepintas lalu, bila direnungkan, seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit
ditebak artinya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan
sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri, jangan
pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" "Hiduplah secara
tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu, jangan sombong dan
bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan
dari kata-kata tersebut.

Oh ya, belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Siapa namanya. Dari mana asal-usulnya.
Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Apakah
"Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin, Saridin, Sidin, Brodin atau Ilmudin, tak
ada yang tahu.

                                              60
       HORISON, JANUARI 2000




Ada selentingan, konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur
di desanya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Di sampingnya mengalir
sungai kecil yang jernih airnya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di
sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya.

Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu
yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Mereka membumihanguskan seluruh desa, tak
terkecuali gubuknya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anak-bininya.
Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu.

Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Diam-diam
ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit, lalu berkelana tanpa tujuan
mengikuti ayunan langkah kakinya.

Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa
dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah, penuh bertabur
onak dan duri. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau.

Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa
dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya, karena
penampilannya yang tidak lazim. Kusir-kusir dokar, tukang-tukang becak, lebih-lebih anak-
anak jalanan, mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya.

Tapi semua itu tak dihiraukannya. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orang-orang gila.
Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran, meskipun agaknya bisa
saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu.

Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa
tahun lalu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Bila malam tiba ia bergegas
mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Tempat peristirahatannya tidak tetap,
selalu berpindah-pindah. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Penjaga
malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu.

Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Di emperan super market. Di bawah
pohon di taman hotel berbintang. Di halte-halte bus kota. Di emper stasiun kereta api. Di
pemakaman-pemakaman umum. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Bahkan pernah
selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga,
karena walikota tidak pernah tidur di situ.

Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Dari mana
diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu
menghalaunya, ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadang-kadang
melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya, yang tentu disambutnya
dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar.

Entah darimana, suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Setelah selalu
mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman, senantiasa
dihalau, diusir dari satu tempat ke tempat lain. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan.
Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu.


                                              61
       HORISON, JANUARI 2000



Mengapa ia tidak ke sana saja, pikirnya, untuk beristirahat di malam hari, sekadar numpang
tidur sejenak, minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah, yaitu Tuhan?
Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan
yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya?

Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid
agung di kota itu. Tapi sial, ia tak bisa masuk ke dalam masjid, karena ada pagar tinggi
menghadangnya. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak
lagi terkunci rapat.

Dengan hati sendu dan putus asa, ia surut, lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Ia
menuju ke salah satu surau yang diingatnya. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil,
jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip
serupa tombak.

Surau itu lengang dan kosong. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar.
Berlampu suram, lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-
sini. Surau itu tampak kurang terpelihara. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu
yang kotor dan bau pesing.

Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya, lalu naik ke serambi surau.
Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Tak lama kemudian terdengar
dengkurnya. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula
seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu.

Kebanyakan orang, lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi, yang
pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Mereka sulit
tidur, bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun.

Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Di surau itu telah
berkumpul sejumlah orang, kebanyakan orang-orang tua, yang akan melakukan salat subuh
berjamaah. Cepat ia bangkit, lari ke kolam mengambil air wudu, lalu melangkah ke dalam
surau, mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam.

Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan
kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Ketika sujud ia di
bawah cerpu-Nya, sesaat ia tersedak, teringat akan nasibnya yang malang-melintang. serasa
kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Sampai akhir
hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar
melakukan perbuatan-perbuatan salah, apalagi kejahatan.

Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan
doa ke hadirat Tuhan. Dan ketika salat rampung sudah, para jamaah sama mengarahkan
pandangan mereka nanap kepadanya. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau
kerisihan pada wajah mereka. Mereka hanya memandang sesaat lamanya.

Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Lalu menyalaminya dengan
akrab seraya berkata, "Saya adalah penjaga surau ini. Jika Saudara kehendaki, Saudara boleh
beristirahat di sini setiap malam...."



                                             62
       HORISON, JANUARI 2000



Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Bibirnya
terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu
menciumnya.

Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Setiap malam ia
langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau
melakukan kebiasaannya, berkeliling kota tanpa tujuan.

Suatu ketika, tidak seperti biasanya, ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Ia duduk
bersandar ke dinding papan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang,
walau angin sejuk berhembus mengipasinya.

Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Agak lama matanya terpejam. Seakan-akan
sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang
berputar. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Keluarganya punah.
Hartanya musnah. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih.

Harapan-harapan, ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Ia
tersingkir, terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Seolah-olah ia
sesuatu yang najis dan menjijikkan. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah
kepercayaannya kepada Tuhan, kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya.
Keyakinan dan kebesaran-Nya, limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang
tiada batas akhirnya.

Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana, ia mengelana seorang diri. Tak seorang pun
peduli. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Kepercayaan kepada Tuhan
merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya,
selalu dipupuknya, melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup.

"Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya, "Cukup bagiku Tuhan melihatku."
jawabnya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya,
menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada.

Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang, terutama mereka yang termakan oleh apa
disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah
diberkati.

Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang
kisruh ini --yang disebut abad teknologi-- yang sekaligus membelakangi norma-norma agama.
Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan.

Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu, hai pengelana. Ini merupakan masa paling buruk.
Hal ini tentu telah engkau ketahui. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan, bahwa
ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi, tapi tidak pernah
menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan
Tuhan dalam dirinya, dalam hati nurani dan jiwanya, bahkan di urat-nadinya.

"Belum lama ini, dan akan selalu terjadi, ketika manusia sama ketakutan, hingga menggigil
sekujur sendinya, ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Tapi akhirnya
mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada


                                           63
       HORISON, JANUARI 2000



Tuhan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi
menggubris Tuhan.

"Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Mereka coba mendekati planet Mars. Mereka
mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Padahal mereka masih tetap
mengorbit di seputar atmosfir bumi. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang
angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu
yang berarti, tapi telah keburu sombong dan berlagak.

"Kini, mari kita tinggalkan dunia yang fana ini," kata sosok penjaga surau, "Bukankah di sini
kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Di sana
segala sesuatu kekal abadi, indah sempurna tiada tara...."

Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang
tak terbatas.

Ketika saat salat Zuhur tiba, orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni
sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Kedua belah matanya rapat
terpejam, seolah-olah ia tertidur lelap. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Laki-laki
tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan
napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai.***


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    64
       HORISON, JANUARI 2000



Horison, Juni 2000


                   WAWANCARA DENGAN SINTERKLAS
                SEBUAH RENUNGAN SEBELUM HARI NATAL
                               Oleh: Erich K?stner ( 1899 - 1974 )



Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini,
begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung
aku merangkak menuju pintu dan membukanya.

Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang
bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!"

"Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung.

"Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku
pikir itu lebih masuk akal."

"Jadi, Andalah orangnya?"

"Anda masih ingat hal itu?"

"Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!"

"Sekarang pun aku masih tetap kecil."

"Dan sekarang Anda tinggal di sini?"

"Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu.
"Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja,
sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya.

Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia
membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di samping
gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya
dia minum kopi bersamaku di kamar tamu.

"Anda mau cerutu?"

"Aku tidak akan menolaknya."

Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan
sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas
dengan lega.

"Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak
nyaman."


                                               65
        HORISON, JANUARI 2000



"Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu."

"Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku.
Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya."

"Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada
lagi."

"Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang
memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang
sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!"

"Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan
kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak
berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan."


"Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak
waktu kecil?"

"Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis
musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali
pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut
sebagai bisnis dadakan. Lalu..."

"Hm?"

"Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!"

Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang
pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya.
"Kalau Anda tak mau membicarakannya... ."

"Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum
seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu
saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat
lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam
masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk transportasi barang-
barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober.
Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang
membiarkan janggutku tumbuh."

"Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?"

"Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas.
Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret
karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku
membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi
semakin mahal!"

"Tentu saja."

                                             66
       HORISON, JANUARI 2000




"Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-
anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak
dengan langganan akan terputus."

"Logis."

"Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku."

Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu,
berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni
mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat
menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan
sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan
kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah
berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang
mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku
menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi.

Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya
sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah
baik. Apa itu yang Anda pegang?"

"Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya."

"Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk
keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda."

Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda
masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu.

"Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus
pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon
dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan
memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah
itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju
dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya.
Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol
itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat
jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko
makanan Zimmermann S?hne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar,
tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera.

"Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan.

"Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku.

"Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan
sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya,

                                             67
       HORISON, JANUARI 2000



nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak
pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar
dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain.
Setidaknya, tidak di rumahku.

Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun,
malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah
malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu
saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang
yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh
malam!***




                                             68
       HORISON, JANUARI 2000




                   KISAH-KISAH DARI BUKU BACAAN
                               Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )



       Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemah-kan oleh Kelompok Kerja
       Penerjemahan Sas-tra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Se-minar fuer Orientalische
       Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand,
       Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di ba-wah bimbingan
       Dewi Noviami)


"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita
sekarang?" tanya Pemilik Pabrik.

"Bom," kata Penemu.

"Perang," kata Jenderal

"Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Dia menambahkan huruf-huruf
yang sangat kecil dan halus. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam
merawat bunga yang ada di ambang jendela. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati, dia
sedih sekali dan menangis.

Dan di atas kertas ada angka-angka. Kemudian hanya dengan setengah gram, seribu orang
bisa terbunuh dalam waktu dua jam.

Matahari menyinari bunga.

Dan kertas.

***

Dua laki-laki bercakap-cakap.

"Ongkosnya?"

"Dengan ubin?"

"Dengan ubin hijau, tentu. "

"Empat ribu."

"Empat ribu? Baiklah. Ya, Sobat, jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada
waktu yang tepat, saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini."

"Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi."


                                              69
       HORISON, JANUARI 2000



"Dengan ubin hijau."

"Dengan ubin hijau."

Kedua laki-laki itu berpisah.

Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan.

Saat itu zaman perang.

***

Lintasan boling. Dua laki-laki bercakap-cakap.

"Nah, Pak Guru, berpakaian hitam-hitam, sedang berkabung?"

"Sama sekali tidak.… Sama sekali tidak. Ada upacara. Para pemuda maju ke garis depan.
Berpidato pendek. Ingat Sparta. Mengutip Clausewitz. Menyampaikan beberapa istilah:
kehormatan, tanah air. Membacakan H?lderlin. Mengingatkan pada Langemarck. Upacara
yang mengharukan. Sangat mengharukan. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi
senjata. Banyak mata bersinar. Mengharukan. Sangat mengharukan."

"Demi Tuhan, Pak Guru, berhentilah. Menyeramkan."

Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib
kecil di atas kertas. Banyak salib kecil. Dia bangkit dan tertawa. Dia mengambil bola baru dan
menggelindingkannya di atas lintasan. Menimbulkan gemuruh halus. Lalu, di belakang, gada-
gada kecil berjatuhan. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil.

***

Dua laki-laki bercakap-cakap.
"Nah, bagaimana?"

"Tidak begitu sukses."

"Anda masih punya berapa?"

"Kalau lancar: empat ribu."

"Berapa Anda bisa memberi saya?"

"Paling banyak delapan ratus."

"Pasti akan habis."

"Jadi, seribu."

"Terimakasih.'

Kedua laki-laki itu berpisah.

                                             70
       HORISON, JANUARI 2000




Mereka berbicara tentang manusia.

Mereka adalah para jenderal.

Saat itu adalah zaman perang.

***
 Dua laki-laki bercakap-cakap.

"Sukarelawan?"

"Tentu."

"Berapa umurmu?"

"Delapan belas. Dan kamu?"

"Sama."

Kedua laki-laki itu berpisah.

Mereka adalah prajurit.

Yang satu rubuh. Dia mati.

Saat itu adalah zaman perang.

Ketika perang berakhir, prajurit itu pulang ke rumah. Tapi dia tidak punya roti. Pada waktu itu
dia melihat seorang yang punya roti. Orang itu dibunuhnya.

"Kamu tidak boleh membunuh," kata Hakim.

"Kenapa tidak," tanya Prajurit.

***

Ketika konferensi perdamaian berakhir, para menteri jalan-jalan di kota. Pada waktu itu
mereka melewati sebuah stand menembak.

"Mau menembak, Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah.

Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton.

Ketika mereka sedang menembak, seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata
mereka. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya, perempuan itu
menamparnya.

Dia adalah seorang ibu.



                                              71
       HORISON, JANUARI 2000




***

Pada suatu ketika ada dua manusia. Waktu mereka berumur dua tahun, mereka saling
memukul dengan tangan.

Waktu mereka dua belas tahun, mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar
batu.

Waktu mereka dua puluh dua tahun, mereka saling menembak dengan senjata.

Waktu mereka empat puluh dua tahun, mereka saling melempar bom.

Waktu mereka enam puluh dua tahun, mereka menggunakan bakteri.

Waktu mereka delapan puluh dua tahun, mereka mati. Mereka dikuburkan berdampingan.

Ketika seratus tahun berlalu, seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Cacing tanah itu
sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Tanahnya
sama. Semuanya tanah yang sama.

Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah, dia mengamati dengan tenang:

Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon.

Burung-burung gagak masih menggaok.

Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya.

Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang.

Lumut dan laut

dan nyamuk-nyamuk:

Semuanya masih tetap yang sama.

Dan kadang-kadang -

kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai.*** Judul asli: "Interview mit einem
Weihnachts-mann". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman,
Jurusan Ba-ha--sa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-
bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Birgit Lattenkamp, Beate Meik, di bawah
bimbingan Dewi Noviami).


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    72
       HORISON, JANUARI 2000



                                      ABADKU
                               Oleh: Günter Grass ( 1927 - ... )


1914

Akhirnya, setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia
berusaha, pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang
lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. Mungkin saya lebih beruntung
karena saya perempuan dan masih muda, apalagi saya warga negara Swiss - suatu negara
yang netral. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai
ketentuan umum, mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di
pintu; dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang
menyatakan bahwa undangan saya diterima.

Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada
rekan-rekan di lembaga penelitian. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel
“Zum Storchen”. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue, sambil
memandang sungai Limnat, balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Remarque—waktu itu
usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. Ia jelas kelihatan sebagai
seorang yang menikmati kesenangan hidup; tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger
yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan
menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg,
Juenger datang liwat kota Basel, sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke
Hartmannsweilerkopf, yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit, dengan banyak
pertumpahan darah.

Pada pertemuan pertama, percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. Tamu-tamu
kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil
beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji
berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin, sedangkan Juenger lebih suka welsche
Dole. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan
daya pikat mereka masing-masing. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat
lucu, akan tetapi sekaligus menyusahkan. Namun, ketika saya mengutip awal sebuah lagu
yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya, yaitu
“Flandrischer Totentanz”, pertama-tama Remarque mulai bersenandung; tidak lama kemudian
juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. Keduanya
masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not, in Flandern reitet
der Tod” (“Flandern dilanda bahaya, di Flandern maut merajalela”). Kemudian keduanya
memandang ke arah gereja Grossmuenster; puncak-puncak menara gereja itu menjulang
tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende.

Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem, Remarque mulai bercerita
bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck,
ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan
pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman; juga,
bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck, yang mengabarkan bahwa berondongan
tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*,
memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. Barangkali sebab itu, juga karena
disemangati oleh para guru, banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai
mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. Dari tiap dua orang, satu tidak kembali. Dan

                                              73
       HORISON, JANUARI 2000



mereka yang kembali, seperti Remarque sendiri, yang tidak berkesempatan masuk sekolah
menengah umum, sampai sekarang hancur jiwa raganya. Setidak-tidaknya Remarque
memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. Juenger sambil tersenyum halus
menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque; meskipun Juenger
menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”, ia mengakui juga
bahwa lama sebelum permulaan perang, ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan
sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun
Asing Prancis”. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus, kami merasa dilebur
menjadi satu kekuatan besar. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan,
pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya, bahkan sampai pada hari-hari
terakhir sebagai komandan pasukantempur. Akui sajalah, Remarque, bahkan dalam novel Im
Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh
perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit.”
Novel ini, kata Remarque, isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi, melainkan
pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. “Dinas di rumah sakit tentara
sudah cukup sebagai sumber ilham saya.”

Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih, akan tetapi mereka menekankan
bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda, bahwa gaya penulisan mereka
berlawanan, dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. Kalau yang satu masih tetap
memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun
diubah”, yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”.

“Omong kosong!” teriak Remarque. “Dalam Stahlgewittern, sampai serangan terakhir yang
diperintahkan Ludendorff, Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. Tanpa pikir
panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur, hanya guna
menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus
guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya
Juenger telah menggambarkan pertempuran parit, bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang
membawa banyak korban dan kerugian itu, dengan sangat teliti.

Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah
menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua
tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck, kami
menemukan senapan, kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun
empat belas. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan, perlengkapan tentara sukarela yang dalam
kekuatan resimen telah maju ke garis depan …”

1915

Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon, sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. Di
sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara
kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta
diam-diam merencanakan revolusi. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa
depan, melainkan seputar masa lalu. Namun, pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa
pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Disetujui
pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk.

Seakan-akan menjadi saksi, kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu
pro dan kontra perang, terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. Namun
Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern.

                                            74
       HORISON, JANUARI 2000



“Betul,” kata Remarque, “buku itu laris. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku
yang dibakar secara resmi, sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di
pasaran buku Jerman; terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang
sama, sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya.”

Juenger tidak menjawab. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit
di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne, sambil meletakkan beberapa bagian peta
medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan.
Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan, Juenger
langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya:
“Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini, yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi
tentara, Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima
belas Juni diganti dengan helm baja. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri
bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang
memuaskan. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja.
Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan
baja anti karat, perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya, antara lain pabrik besi
Thale. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. Semua
pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas, yang berada
di front Timur terpaksa palinglama menunggu. Andaikan Anda tahu, Remarque, berapa
banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu, apalagi dalam
pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit, bahannya kadang-kadang diganti dengan
bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. Setiap tembakan jitu, berkurang satu orang.
Setiap pecahan peluru tembus.”

Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang
dipakai militer, bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi, pada dasarnya mengikuti
model helm baja kami, meskipun bentuknya agak diubah.”

Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuran-
pertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda
gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Remarque
sengaja tetap membisu. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai
keterangan rinci; mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam
berwarna kelabu, sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan
lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-
serat lain yang dipres. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran
parit; hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan, karena bagian
depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. “Nah, Anda tentu tahu
bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur, topi baja yang hebat ini sangat
mengganggu. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh, saya lebih suka memakai peci
letnan saya yang sudah tua - sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang
dianggapnya lucu: “O ya, di meja tulis saya ada kenang-kenangan, sebuah helm Inggris yang
bentuknya sama sekali lain, hampir pipih; ada lubang bekas peluru tentu.”

Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli
dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16, sesudah itu M 17,
jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru
direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. Melorot terus. Wajah-wajah
mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu, yang tinggal
kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. Lucu

                                             75
       HORISON, JANUARI 2000



dan memelas sekaligus. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan
pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu, mestinya Anda ketahui
juga... .”

Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. Juenger juga. Saya, si none, dipesankan air
jeruk yang baru diperas segelas lagi.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami.


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    76
       HORISON, JANUARI 2000



                                  JAK, SANG CALO
                               Oleh: Heinrich B?ll (1917 - 1985)


Bersama petugas pengantar makanan, dia datang pada malam hari untuk menggantikan
Gornizek yang berjaga di belakang, di pos komando. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa
takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. Aku berdiri di depan, di
pos pengintaian, dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suara-suara yang
ditimbulkan petugas pengantar makanan itu, juga ke arah depan yang gelap dan sunyi, di
mana orang-orang Rusia berada.

Gerhard, dialah yang mengantarkan orang itu, dan selain membawa peralatan makan, dia pun
membawa rokok. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard, "atau kusimpankan sampai besok
pagi?" Dari nada suaranya, aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando.

"Tidak usah," kataku, "kemarikan, semuanya akan segera kumakan."

Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak, sebungkus
permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. "Ini... ."

Selama itu, si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu.

"Dan ini," kata Gerhard, "orang baru yang menggantikan Gornizek ... Letnan mengirim dia
kepadamu, untuk pos pengintaian... ."

"Ya," kataku; adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. Gerhard
kemudian menyelinap kembali ke pos komando.

"Ayo, ke mari," kataku perlahan, "jangan terlalu keras, sialan!" Peralatan kopelrimnya, sekop
dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. Dengan canggung dia masuk ke lobang
perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. "Idiot," gumamku dan bergeser
untuk memberinya tempat. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan, aku
tahu bagaimana dia, sesuai dengan aturan, melepaskan kopelrimnya, meloloskan lalu
meletakkan sekopnya ke samping, masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang
perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh, dan bagaimana dia kemudian
mengaitkan kopelrimnya lagi. Sop buncis sudah dingin, dan bagus juga bahwa dalam
kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. Di
dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. Dan
daging kalengan itu pun kumakan, begitu saja dari kertas pembungkusnya, kemudian roti
kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. Orang itu berdiri dengan sangat membisu
di sampingku, dengan muka selalu menghadap ke musuh, dan dalam kegelapan aku melihat
sebuah profil, dan jika dia menoleh ke samping, terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih
muda, helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. Orang yang masih
sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada
permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. "Saudara merahku,
Winnetou," tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan. Bibir mereka gemetar karena takut
dan hati mereka keras karena berani. Anak-anak muda yang malang itu ...

"Duduklah yang tenang," kataku pelan-pelan, dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan
susah payah. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa
terdengar dalam jarak satu meter.

                                              77
        HORISON, JANUARI 2000




"Sini," tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya
untuk menduduki bangku. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri... ."

"Tapi di pos," kata sebuah suara yang lemah. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor
yang sentimental.

"Diam!" aku membentaknya.

"Di pos," bisiknya, "kan tidak boleh duduk."

"Tak ada yang boleh, juga tidak boleh memulai peperangan."

Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya, tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang
prajurit baru di sebuah kelas, tangan di lutut, sangat tegak dan setiap detik siap meloncat
berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. Aku membungkuk, menarik kerah mantel
tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok.

"Kamu mau merokok juga?"

"Tidak." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik.

"Kemari," kataku, "minum seteguk."

"Tidak," katanya lagi, tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke
mulutnya - sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya, dia
membiarkan beberapa tegukan tertelan, lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku
harus melepaskannya.

"Tidak enak?"

"Enak," katanya menggagap, "tapi aku tersedak."

"Kalau begitu, minum sendiri."

Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik.

"Terima kasih," gumamnya.

Aku pun minum.

"Sekarang lebih baik, kan?"

"Ya ... jauh lebih baik ..."

"Tidak begitu takut lagi, kan?"

Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan, tapi memang begitulah mereka semua.

"Aku juga takut," kataku karenanya, "selalu malah... oleh sebab itu aku mencari keberanian
dari botol ini... ."

                                               78
       HORISON, JANUARI 2000




Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku, dan aku membungkuk ke
arahnya untuk dapat melihat parasnya. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan
matanya yang menurutku tampak berbahaya, dan hanya siluetnya yang buram dan gelap, tapi
aku bisa mencium baunya. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian, bau keringat,
lalu ruang penyimpanan pakaian lagi, lalu sisa-sisa sop, juga sedikit berbau minuman keras.
Dia sangat ... sangat diam, juga di pos komando di belakang kami, tampaknya mereka telah
selesai dengan pembagian makanan. Dia menoleh lagi ke arah musuh. "Ini untuk yang
pertama kalinya bertugas di luar?"

Dia malu lagi, aku merasakannya, tapi lalu dia berkata: "Ya."

"Sudah berapa lama jadi tentara?"

"Delapan minggu."

"Kalian datang dari mana?"

"Dari St. Avold."

"Dari mana?"

"St. Avold, Lothringen, kamu tahu..."

"Berapa lama di perjalanan?"

"Empat belas hari."

Kami diam beberapa saat, dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan
yang meliputi di depan kami. Ah, kalau saja hari menjadi siang, pikirku, kalau saja bisa
melihat sesuatu, setidaknya remang-remang atau berkabut, sedikitnya sesuatu, melihat
sesuatu, agak terang... Tetapi kalau terang, aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap, kalau
saja sedikitnya remang-remang, atau kalau saja tiba-tiba kabut datang; selalu begitu...

Di bagian depan tidak ada apapun. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. Juga
orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. Di suatu tempat, di depan sana,
terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan, seolah seseorang
membungkam mulut itu. Tetapi itu bukan apa-apa... .

"Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. Ah, betapa indahnya bahwa aku tidak
sendirian lagi. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia, merasakan bau apeknya,
bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat
membunuh kita.

"Ya," katanya, "pos pengintaian." Lagi-lagi aku heran, betapa baiknya dia bisa berbisik,
hampir lebih baik daripada aku. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya, untukku hal itu
selalu memakan tenaga. Aku paling senang kalau bisa meraung, berteriak atau berseru
sehingga malam membuyar seperti busa hitam, untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting.
Berbisik, untuk mengekang suaraku. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi, membuat
suara gemuruh atau berteriak histeris... .


                                             79
       HORISON, JANUARI 2000



"Bagus," kataku, "pos pengintaian. Artinya, kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu
datang, menyerang. Lalu kita menembakkan peluru asap merah, menembak-nembak sedikit
dengan senapan kita lalu pergi, ke pos komando, mengerti? Tapi kalau yang datang hanya
beberapa orang saja, pasukan pengintai, maka kita harus tutup mulut, biarkan mereka lewat,
kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan
kepada yang lain, kepada Letnan. Kamu sudah bertemu dia, kan?"

"Ya," katanya dengan suara bergetar.

"Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita, kita harus membunuh mereka,
sampai mampus, mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai, mengerti kan?"

"Ya," katanya, dan suaranya bergetar lagi, lalu aku mendengar suara yang mengerikan:
giginya bergemelutuk.

Aku pun minum lagi...

"Kalau ... ini kalau ...," gagapnya, "kalau kita tidak melihat mereka datang..."

"Habislah kita. Tapi tenang, kita pasti melihatnya, mendengarnya..."

"Dan kalau kita mencurigai sesuatu, bolehkah kita menembakkan roket isyarat, supaya bisa
melihat..."

Dia diam lagi; sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan.

"Tapi mereka tidak datang," omongku terus, "mereka tidak datang pada malam hari, paling-
paling pagi hari. Dua menit sebelum fajar..."

"Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku.

"Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan, artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai
menjadi terang..."

"Tapi kan itu sudah terlambat?"

"Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah, lalu pergi ... jangan takut,
artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci. Dan sebelumnya kita toh bisa
mendengar mereka. Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan, setiap
kali kalau mau berbicara dengannya, aku harus menyikut tulang rusuknya, itu artinya aku
harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah
memasukkannya lagi, supaya menjadi hangat lagi...

"Aku," katanya, "aku bernama Jak..."

"Seperti orang Inggris, ya?"

"Tidak," katanya. "Dari Jakob ... J...A....K, bukan Jeck, Jak, Jak saja."

"Jak," tanyaku lagi, "sebelum ini kamu kerja apa?"


                                               80
          HORISON, JANUARI 2000



"Aku," katanya, "jadi calo."

"Apa?"

"Calo."

"Jadi calo apa sih?"

Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku, dengan sangat tiba-tiba, dan aku merasakan bahwa
dia sangat heran.

"Calo apa ... calo apa ... yah, calo saja..."

"`Gimana," tanyaku. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu."

Dia diam sesaat, melihat lagi ke depan, lalu dalam kegelapan, kepalanya dipalingkannya lagi
kepadaku.

"Yah," katanya, "...calo apa...," dia mengeluh dalam-dalam, "aku berdiri di stasiun, setidaknya
hampir selalu... dan kalau seseorang datang, seseorang dari rombongan orang-orang yang
lewat, seseorang yang aku pikir cocok, biasanya tentara, jadi kalau seseorang datang, lalu aku
bertanya kepadanya dengan sangat pelan, sangat pelan, kamu mengerti? Tuan, ingin
bersenang-senang...? Begitulah aku bertanya.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini
bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu... .

Karena tegang aku lupa meneguk minuman. "Dan," kataku parau, "kalau orang itu mau
bersenang-senang?"

"Lalu," katanya dengan susah payah, dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi,
"lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan ... yang sedang kosong... ."

"Ke tempat pelacuran, kan...?"

"Bukan," katanya datar, "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran, aku punya beberapa
perempuan tidak terikat, kamu mengerti, beberapa perempuan bebas yang menghidupiku.
Tiga orang, mereka tidak punya surat izin, K?the, Lili dan Gottliese..."

"Siapa?" potongku...

"Ya, dia bernama Gottliese. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya
menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan, karena kalau anak laki-laki maka
bisa dinamainya Gottlob, tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. Aneh, ya...?"
dia benar-benar tertawa sedikit...

Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. Dan sekarang aku tidak
perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet, dia mengoceh hampir dengan
sendirinya.

"Gottliese," sambungnya, "adalah yang paling baik. Dia selalu murah hati dan melankolis dan
sebenarnya juga yang paling cantik ... dan."


                                                81
       HORISON, JANUARI 2000



"Dan," potongku, "dan artinya kamu dulu seorang germo, kan?"

"Bukan," katanya dengan nada yang untukku agak menggurui, "bukan, ah...," dia berkesah
lagi, "germo adalah tuan-tuan besar, tiran, dengan paksa mereka mengutip uang banyak-
banyak dan masih juga meniduri mereka... ."

"Dan kamu tidak mencicipi mereka?"

"Tidak, aku kan hanya seorang calo. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian
mereka bakar dan makan, dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya... ."

"Tulang-tulang ?"

"Ya," dia tertawa lagi sedikit, "tepatnya uang persen, mengerti, dan dari itu aku hidup, sejak
ayahku gugur dan ibuku hilang. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. Tidak,
perempuan-perempuan itu, untuk siapa aku bekerja, tidak punya germo, syukurlah! Kalau
punya, aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. Tidak, mereka bekerja mandiri, lepas,
kamu mengerti, tanpa izin apa pun. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan
seperti yang lain ... terlalu berbahaya, dan karena itu aku jadi calo untuk mereka, ya," dia
mendesah lagi, "eh, boleh aku minum lagi?"

Ketika aku membungkuk untuk meraih botol, dia bertanya, "Ngomong-ngomong, siapa
namamu?"

"Hubert," kataku sambil memberikan botol kepadanya.

"Enak sekali," katanya, tapi aku tidak bisa menjawab, soalnya aku sedang meneguk dari botol
itu. Sekarang, botol itu kosong, lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping.

"Hubert," katanya kemudian, dan suaranya sekarang bergetar hebat. "Lihat itu!" Dia menarik
aku ke depan, ke tanggul di mana dia sedang tiarap. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan
sangat ... sangat sungguh-sungguh, di suatu tempat yang sangat ... sangat jauh, terlihat sesuatu
seperti horison, sebuah garis hitam pekat. Di atas garis itu kelihatan agak terang. Dan di
dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu, sesuatu bergerak ... jauh, jauh
sekali, betul-betul jauh sekali ... seperti ayunan lembut jerami ... itu bisa juga manusia yang
diam-diam mendekat, manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat
diam-diam, sama sekali tanpa suara...

"Ayo, tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang.

"Anak muda," kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya. "Jak, itu bukan apa-apa; itu
perasaan takut kita yang sedang bergerak, itu neraka, itu perang, itu setumpuk tahi yang bikin
kita gila ... itu ... itu bukan sesuatu yang nyata..."

"Tapi lihatlah, itu pasti sesuatu ... sesuatu yang nyata ... mereka datang ... mereka datang..."
lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk.

"Ya," kataku, "diamlah. Itu sesuatu yang nyata. Itu tangkai-tangkai bunga matahari, besok
pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa. Kalau hari sudah sangat terang, kamu akan
melihatnya dan tertawa, itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu
kilometer dari sini, dan itu terlihat ada di ujung dunia, kan? Aku tahu itu tangkai-tangkai

                                              82
       HORISON, JANUARI 2000



bunga matahari yang mengering, hitam -- kotor dan sebagian hancur tertembak. DDan
bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu, dan bikin kita takut karena tangkai-
tangkai itu bergoyang-goyang..."

"Ah ... tembakkan yang putih ... tembakkan yang putih ... aku melihatnya ..."

"Aku kan kenal mereka, Jak."

"Tembakkan yang putih. Satu saja..."

"Ah, Jak," balasku berbisik, "kalau mereka benar-benar datang, kita bisa juga mendengarnya,
coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan; sepi, sepi sekali, dan tak ada
sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan.

"Ya," bisiknya, dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut,
"ya, aku bisa mendengar mereka... mereka datang.... mereka mengendap-endap... mereka
merangkak di tanah... ada sedikit suara gemerincing ... dengan sangat pelan-pelan mereka
datang, dan kalau mereka sudah dekat, maka sudah terlambat..."

"Jak," kataku, "aku tidak bisa menembakkan yang putih. Aku hanya punya dua peluru,
mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi, subuh, kalau pesawat pembom kita
datang, supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. Supaya mereka tidak membom kita ...
dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. Besok pagi kamu
akan tertawa... ."

"Besok pagi," katanya dengan sangat dingin, "besok pagi aku sudah mati."

Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran, aku begitu kaget. Dia
mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap.

"Jak," kataku, "kamu gila."

Dia diam, dan kami duduk lagi menyandar. Begitu ingin aku melihat wajahnya. Wajah
seorang calo tulen, dari dekat. Setiap kali, aku hanya mendengar mereka berbisik, di pojokan-
pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku
memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku... .

"Jak," aku ingin mulai... .

"Tembakkanlah yang putih," bisiknya seperti seorang sinting.

"Jak," kataku, "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih, kita masih
punya waktu empat jam, kamu tahu, dan suara tembakannya akan keras sekali, aku tahu itu.
Sekarang tanggal 21, artinya hari ini, orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras
mereka. Barusan tadi, mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka, kamu
mengerti? Dalam setengah jam, mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak;
dan mungkin sesuatu akan terjadi. Besok pagi-pagi, kalau pesawat pembom kita datang, baru
keringat dinginmu mengucur deras, pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat
di depan kita, baru kemudian aku harus menembakkan yang putih, karena kalau tidak, bisa-
bisa kita jadi selai. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih


                                              83
       HORISON, JANUARI 2000



sekarang, ketika tidak terjadi apa-apa, percayalah kepadaku; lebih baik kamu cerita lagi. Di
mana kamu terakhir kali .... jadi calo?"

Dia mendesah dalam-dalam. "Di K?ln," katanya.

"Di Stasiun Pusat?"

"Tidak," sambungnya dengan suara capek, "tidak selalu. Kadang-kadang di Stasiun Selatan.
Yah, itu lebih praktis, karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. Lili di
dekat Gedung Opera, K?the dan Gottliese di Barbarossaplatz. Ya, kamu tahu," suaranya
sekarang lamban seolah mulai tertidur, "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di
Stasiun Pusat, di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu, mereka suka melarikan diri.
Dan itu bikin jengkel. Di tengah jalan, karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain, tak
tahulah aku, mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. Jarak dari Stasiun Pusat ke
daerah selatan memang terlalu jauh, karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. Juga
karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah K?ln,
Stasiun Pusat maksudku. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu
jaraknya pendek, karena itu orang tidak cepat jadi panik. Awalnya," dia membungkuk lagi ke
arahku, "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese, dia tinggal di sebuah
gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe, kemudian cafe itu terbakar. Gottliese, kamu
tahu, dia yang paling baik. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. Tapi itu bukan
alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu, betul bukan, kamu pasti tidak
mempercayainya. Ah, kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia
yang memberi terbanyak, kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu
mendesak, sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya.

"Tetapi Gottliese sering mendapat tamu, aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. Dia
punya banyak langganan tetap, dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak
mendapat tamu. Dan kalau Gottliese mendapat tamu, aku sedih, lalu aku pergi kepada Lili.
Lili juga orangnya tidak menyebalkan, tapi dia sering minum. Dan perempuan yang mabuk
sungguh mengerikan; tidak bisa ditebak, kadang kasar, kadang ramah. Tapi Lili selalu lebih
baik daripada K?the. K?the orangnya sangat dingin. Dia memberi aku sepuluh persen... sudah,
itu saja. Sepuluh persen! Sementara, aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam
yang dingin, berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan,
menghadapi bahaya ditangkap polisi, dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi, aku bilang
sama kamu. Maka K?the selalu yang terakhir. Dan uang persenannya baru kuterima di hari
berikutnya, ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. Kadang hanya lima puluh sen, sekali
waktu bahkan cuma sepuluh sen, kamu mengerti, sepuluh sen... ."

"Sepuluh sen?" tanyaku terkejut.

"Ya," katanya, "dia hanya mendapat satu Mark. Laki-laki itu tidak punya uang lagi."

"Seorang tentara?"

"Bukan, seorang sipil, tambahan lagi sudah tua. Dan K?the masih juga memakiku. Ah,
Gottliese berbeda. Dia selalu memberi banyak kepadaku, setiap kali setidaknya dua Mark.
Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. Dan kemudian... ."

"Jak," tanyaku, "dia tidak meminta uang sama sekali?"


                                             84
       HORISON, JANUARI 2000



"Ya, kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. Aku percaya bahkan sebaliknya.
Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah."

"Menghadiahi?"

"Ya. Menghadiahi. Dia sangat pemurah. Seorang perempuan yang sungguh melankolis. Dan
dia pun lumayan mengurus aku. Bagaimana tempat tinggalku, apa aku punya rokok dan lain-
lain, kamu mengerti. Dan dia cantik. Sebenarnya, yang paling cantik."

"Bagaimana," aku ingin bertanya, "bagaimana rupanya?"

Tapi pada saat itu, orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. Suaranya
membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. Dan tembakan
pertama pun meletus. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak, dengan satu loncatan
saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian, lalu akan menjadi sasaran tembak orang-
orang Rusia itu. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. Aku menarik
mundur orang yang gemetar itu, sangat dekat ke arahku. "Diamlah, itu bukan apa-apa. Mereka
hanya sedikit mabuk, lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian
dengan membabi-buta. Kamu harus menunduk, karena tembakan seperti itu malah kadang-
kadang akan mengena... ."

Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan, dan walaupun kami tidak mengerti
sepatah kata pun, kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok.
Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping... .

"Tenanglah," kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerang-ngerang
itu, "tidak akan lama, paling hanya beberapa menit, sampai komisar mereka mengetahuinya,
lalu dia akan menonjok mulut mereka. Mereka kan tidak boleh begitu, dan apa-apa yang tidak
boleh akan dihukum berat, persis seperti pada kita... ."

Tapi teriakan itu tidak berhenti, juga lengkingan liar itu. Dan yang paling sial, salah seorang
dari kami di pos komando di belakang juga menembak. Aku berpegang erat pada anak muda
yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan ...
sekali lagi teriakan ... tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk.
Lalu sangat sepi, betul-betul sepi... .

"Kamu lihat," kataku...

"Sekarang ... sekarang mereka datang... ."

"Tidak ... dengarkan dong!"

Kami mendengarkan lagi, dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiang-ngiang
menakutkan.

"Ayo, pakai otak dong," sambungku, karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri.
"Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu, sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini,
dan kalau mereka datang, kamu akan mendengarnya, sangat pasti bahwa kamu akan
mendengarnya."



                                              85
       HORISON, JANUARI 2000



Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. Dia berjongkok kaku sambil membisu
di sampingku.

"Bagaimana," sekarang aku bertanya, "bagaimana parasnya, Gottliese itu... ."

Dengan segan dia menjawab, "Cantik," katanya pendek. "Rambut hitam dan dengan mata
yang besar dan terang. Dia sangat mungil, sungguh mungil, kamu tahu," tiba-tiba dia bisa
bicara lagi, "dan sedikit gila. Tidak bisa lain. Sering dia memakai nama lain ... Inge Simone,
Kathlene, entah siapa lagi, setiap hari nama baru ... atau Susemarie. Dia sedikit gila, dan dia
sering tidak meminta bayaran... ."

Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang, "Jak," kataku, "sekarang aku akan
menembakkan yang putih. Aku pikir, aku mendengar sesuatu."

Nafasnya tersendat. "Ya," bisiknya, "tembakkanlah yang putih, aku mendengar mereka
datang, kalau tidak aku bisa gila... ."

Aku memegang erat lengannya, menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru,
mengacungkannya di atas kepala lalu menembak; suara gemuruhnya seperti kiamat, dan
ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut - seperti kelap-kelip hujan salju
di Hari Natal, seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi - aku tidak punya
waktu lagi untuk melihat wajahnya. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun, sama sekali,
dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya, wajah seorang calo
tulen. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu, karena dari tempat di mana tadi terdengar
suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu, di situ, dalam terang,
muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan
suara "Hurra" yang bikin gila, mereka menyerbu maju. Aku pun tidak sempat lagi untuk
menembakkan isyarat merah, karena di belakang dan di depan kami, menyibak tirai perang
menyelimuti kami... .

Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil
menariknya, sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya, supaya setidaknya
dalam maut masih bisa melihat wajahnya, dia berbisik pelan: "Tuan, ingin bersenang-
senang...?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh
hentakan tangan liar yang mengerikan. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali
darah, lebih hitam dari pada malam, dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya
tidak untuk apa pun, malah masih memberi sesuatu....*** Judul asli: "Jak, der Schlepper",
diterjemahkan oleh Dewi Noviami.


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                    86
       HORISON, JANUARI 2000



                                       JATI DIRI
                                       Oleh: Nh Dini



Pak RT tergesa masuk, bertanya kepada istrinya:

“Mana Iwan?”

“Belum kelihatan.”

“Jum’atan apa tidak dia.”

Istrinya tidak menang-gapi, karena Pak RT se-perti berbicara kepada di-ri-nya sendiri.

Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru se-lesai dia timbang. Satu
on, seperempat, setengah dan satu kilo-an. Kini ma-sing-masing menge-lompok, di-ta-ta di
rak warung. Te-tang--ga lebih banyak mem--------beli kurang dari satu ki-lo. Maka kan-tung-
kan-tung plastik kecil lebih ban-yak terisi di rak-rak itu.

Sudah tiga tahun ba-paknya Iwan menjadi RT. Karena dekat dengan Pak Lurah, dia sering
men---da-pat persenan ke-un-tung-an menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Dia
me-mang mahir mem-pe-nga-ruh-i calon pembeli. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal
sebagai make-lar tanah dan rumah.

Pada suatu ketika, uang yang dia terima cu-kup untuk membeli se-buah rumah reyot di
ping--gir jalan, tidak jauh dari pa-sar Jatin-galeh. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak
Lurah, mendirikan usaha penjualan kayu, paving, ubin, semua keperluan MCK. Dan bila
orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ, Pak RT sanggup mencarikan. Se-mua
tergantung pada komisi yang di-sepakati.

Iwan adalah sulung dari empat anak.

Pak RT bukan kepala keluarga teladan, karena anaknya lebih dari dua, lebih dari tiga.
Sekarang se-te-lah rezeki semakin deras datang, dia bahkan se-ma-kin mengkhianati program
pemerintah: dia ingin me-nambah dua atau tiga anak lagi. Dia pikir, buat apa rezeki kalau
tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal, tempat yang telah dia miliki itu sudah
sangat pas. Dua anak lelaki, dua perempuan. Ke-betulan yang pe-rem-puan ber-ada di tengah-
tengah. orang Jawa bi-lang: Sendang kapit pan-curan.1

Ketika ayahnya men-jadi RT, usia Iwan 16 tahun. Dia baru lulus SLTP. Adiknya yang
terkecil de-la-pan tahun. Dan se-jak ayah--nya mem-----punyai ke---dudukan ter-sebut,
se-ka-ligus meng------------------------------urus-i mu-da--mudi kam--pung, se-kaligus se-lalu
repot di to-ko material bangunan, se-mua-nya berubah bagi Iwan.

Dia merasa hidup le-bih leluasa. Dia bebas, ka--rena bisa berbuat apa pun sesuai
kemauan-nya. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk ma-kan
siang. Sore ketika ke--banyakan ke-luar-ga ber-kum-pul, Pak RT ma-sih mengurusi usahanya.
Atau bila tiba-tiba pu-lang sebelum pu-kul tu-juh, dia berge-gas mandi lalu pergi lagi
me-mim-pin pertemuan ini atau itu di salah satu ru-ang-an kan-tor kelu-rah-an.


                                             87
        HORISON, JANUARI 2000



Jika ada tetangga yang usil bertanya me-nga-pa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah,
jawabnya yang paling sering ada-lah “Saya ha-rus ke per-temuan.”

Atau:

“Muda-mudi itu ha-rus ada yang meng-arah-kan.”

Adik Iwan sudah be-rang-kat remaja, men-ja-di gadis kecil dan berani mem-pro-tes:

“Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko, selalu di kelurahan!”

Anak-anaknya sangat hafal de-ngan jawaban Pak RT:

“Di toko aku tidak mengang-gur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!”

Yuni, adik Iwan yang paling ce-rewet menginginkan ayahnya ka-dang-kala datang ke sekolah
meng-am-bil rapor seperti orang tua- orang tua lain.

“Aku tidak punya waktu,” itu-lah jawaban Pak RT. Lalu diter-us-kan: “Biar ibumu yang
pergi.”

Iwan hidup di luar, nyaris men-jadi anak jalanan, menggerom-bol bersama teman-teman
sesama se-ra-gam SMU di perhentian bis, di warung-warung kopi atau di kios ro-kok yang
juga menyediakan mi-nu-man pembakar tenggorokan. Rokok yang dihisap bukan lagi merk
dikenal, melainkan lintingan da-un kering yang mampu mem-bi-kin perasaan melayang-
layang. Tu-buh Iwan kurus kering. Tetapi tak sa-tu- pun anggota keluarganya
mem-perhatikan.

Semua nampak bahagia. Ke-luar-ga Pak RT kelihatan sejahtera. Pen-duduk sekitar tetap
banyak yang tidak mampu. Tapi mereka me-nyukai Pak RT yang selalu pe-nuh pengabdian.

Rumah berganti ubin. Kini lan-tainya keramik putih berkilau. Ba-gi-an depan, seluruh
kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama, sehingga terang memantulkan ca-ha-ya hari.
Ketika rumah di sam-ping dijual, Pak RT langsung mem-be-linya. Dia bikin sebuah ruangan
polos, menjadi bangsal aula cukup besar. Di situ tikar digelar. Lalu dilengkapi meja-meja
pendek. Ka-tanya, “Ini untuk pertemuan-per-te-mu-an. Pintu-pintu bisa dipasang atau
di-copot. Bapak-bapak, PKK, mu-da-mudi rapat di sini. Dengan be-gitu, Mak kalian dan aku
tidak akan sering berada di luar.”

Di waktu itulah ibu Iwan ber-ka-ta kepada suaminya, “Bikinkan aku warung. Se-ka-rang
anak-anak sudah besar, aku ti-dak perlu memngawasinya. Aku ingin mencari uang sendiri.
Beri aku modal. Kecil-kecilan saja. Ha-nya kebutuhan rumah tangga se--ha-ri-hari.”

Ternyata dagangan itu pun ber-jalan lancar. Yang dijajakan di wa-rung bertambah: alat-alat
tulis, bah----kan perangko, meterai, obat-obatan.

Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Dan ka-rena rezeki berlimpahan,
pem-ban-tu yang dua orang ditambah satu lagi. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara
ibunya Iwan da-tang dari lereng gunung Sumbing. Kemenakan, adik atau saudaranya ipar,
siapa saja yang berasal dari de-sa sama. Pembantu itu bisa bertam-bah lagi di saat tetangga
da-tang mengobrol. Kebanyakan pen-duduk di sana tidak se-be-run-tung keluarga Pak RT.

                                              88
       HORISON, JANUARI 2000



Mereka se-lalu kekuran-gan. Selalu ada yang le-wat, lalu singgah, lalu membantu
mengerja-kan ini atau itu. Ke-mu-di-an, tiba-tiba, dia ingat harus me-na-nak nasi atau
menjemur cucian. Ibu--nya Iwan tidak lupa menyum-pal--kan uang dua ribu ke dalam
geng--gaman si tetangga. Di lain wak-tu, ada tetangga yang berani berkata, “Kalau boleh,
minta gula dan kopinya saja sedikit.”

Dan kalau itu sudah diberikan, ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak, sambil
katanya:

“Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja.”

Ibunya Iwan baik hati.

Sama seperti suaminya, dia ter-ke-nal sebagai orang yang tidak tega. Pasangan itu banyak
me-no-long dan membantu penduduk se-ki-tar. Itulah salah satu sebab me-nga-pa bapaknya
Iwan menjadi RT, dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana.

Pada suatu siang, Iwan sengaja memperlihatkan diri, turut ber-sem----bahyang Jum’at di
belakang ayah-nya. Mereka pulang bersama, berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak
jauh dari masjid. Ka-li itu Iwan bahkan makan siang di me-ja keluarga. Yang terkumpul
ada-lah ibu, ayah dan dua adiknya.

Sambil makan, Iwan menge-luar-kan kalimat yang sejak beberapa pe-kan didiktekan teman-
teman-nya. Dia minta dibelikan ken-da-ra-an.

"Tidak usah baru, Pak. Asal masih bagus jalannya. Buat seko-lah.”

Pak RT punya sebuah kijang. Untuk toko, semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka.
Tapi pe-kan kemarin dia tambah satu la-gi, karena seorang kenalan ter-de-sak kebutuhan
uang, menawarkan-nya kepadanya. Bisa dibayar dua ka-li. Kebetulan memang ba-paknya
Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pe-sa--nan yang semakin sering
datang. Orang terus membangun. Di ma-na-mana orang memerlukan kayu, ba-tu atau pasir.
Sekarang, ken-da-ra-an yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor.
Sedangkan yang pertama, se-lain buat keperluan toko, akan le-bih mudah disewakan buah
pin-dahan atau lainnya jika bak be-la-kang selalu kelihatan bersih.

“Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kenda-raan,” suara Pak RT tidak bertanya.
“Ka-mu sudah memperbaiki pres-tasimu di kelas? rapormu yang pa-ling akhir jelek sekali,
bukan?”

Ru-panya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya men-ce--tak empat angka di bawah
se-dang di catur wulan yang lalu. Hal ini agak mengejutkan Iwan. Ka-re-na dalam keseharian,
Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. Lebih-lebih
menyuruhnya belajar.

“Kalau punya kendaraan sen-di-ri, aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi,” Iwan kelihatan
tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya.

“Itu benar,” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. “Apa lagi ini nanti mu-sim hujan, kendaraan
umum selalu da-tang terlambat karena jalan ma-cet. Anak-anak repot, kena hu-jan...”.


                                            89
       HORISON, JANUARI 2000



“Di kelas, tinggal aku yang be-lum punya kendaraan,” kata Iwan la-gi. Dan dia tidak khawatir
ayah-nya akan menyelidiki kebe-na-r-an-nya. Kebohongan memang sudah men-dasari hidup
Iwan. Yang dia ka-takan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia
ucapkan sejak pagi hari itu. Karena Iwan semakin sering me--nga-takan hal yang hanya
terjadi di kepalanya. Yang dia inginkan de-mikian. Kadang-kadang, ke-nya-taan dan
harapannya sudah begitu me-nyatu, sehingga dia sendiri ter-je-rat dalam khayalannya. Mana
yang sungguh ada, atau mana yang dia harap ada, ruwet menjadi satu.

Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Kini teman-teman itu
me-nyu--lut api pemberontakan ter-ha-dap Pak RT:

“Ayahmu kaya. Baru saja mem-beli kendaraan lagi untuk toko-nya. Pa-dahal seharusnya
kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua, kita bisa cari uang.
Bisa turut berpacu di Jatidiri,” begitu kata Herman, temannya yang paling menonjol. Di mana
ada kegiatan ber-ke-lom-pok, Herman-lah yang menge-pa-lai.

Stadion Jatidiri besar. Se-be-tul-nya merupakan kebanggaan pen-du-duk ibu kota propinsi.
Tetapi pe-manfaatannya sangat kecil. Rum-put ilalang bertumbuhan nya-ris setinggi orang.
Jika pertandin-gan akan diselanggarakan di sana, barulah bagian-bagian tertentu di-rapi-kan.
Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan, se-hingga ta-naman dan perdu liar berduri
ber-desakan menjadi sarang aneka bi-natang melata. Di sanalah, di wak--tu malam, terjadi
kebut-ke-but--an. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah ber-o-da empat atau
dua, sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Mereka tidak
hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kece-pat-an. Di sana mereka juga
meng-ham-ba-kan diri pada kemaksiatan ber-ju-di.

“Benar,” kata kawan Iwan yang lain. “Kalau Khodir yang bawa ken-da--raanmu, pasti kita
menang. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Aku men-dapat resep baru dari te-tang-ga yang
datang dari gu-nun-gkidul...,” dan yang disebut Khodir meng-ang-guk-angguk. Dia yang
paling lama memiliki kendaraan. Seusai seko-lah, menjadi kernet om---prengan. K-a-rena
badannya le-bih tinggi dan besar dari anggota ke-lompok itu, se-mua teman Iwan sungkan
kepa-da Khodir.

Iwan termakan oleh gosokan itu.

Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Dan karena merasa permintaannya tidak
bakal terpenuhi, Iwan meninggalkan ru-mah sebelum keluarga selesai me-nyu-nyah pisang.
Dia keluar ma-sih mendengar omelan Mak ter-ha-dap suaminya, “Sampeyan3 ini bagaima-na!
Pu-nya anak lelaki, sulung, ti-dak di-man-ja. Minta kendaraan saja...”.

Lalu alur keseharian kembali se-perti semula, berlanjut biasa.

Hanya, pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung, ter-ke-jut bukan kepalang karena
ua-ng yang dia selipkan di belakang stop-les di rak paling atas hilang. Sam-pul coklat masih
ada tetapi kosong. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam, jumlahnya men--dekati tujuh
ratus ribu.

“Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. Dia mengira ana-k-nya marah karena
per-min-ta-annya ditolak Pak RT.



                                              90
       HORISON, JANUARI 2000



Mak tunggu anak sulung itu se-ha-rian. Baru muncul hampir pe-tang. Mak takut bicara kasar,
dia tung-gu lagi sampai anak itu mandi, lalu akan mengenakan baju. Mak tu-rut masuk kamar.
Alangkah ter-ke-jut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat, dadanya kerem-peng. Rupanya
baru kali itulah dia me-nyadari betapa kurusnya si su-lung yang dia bangga-banggakan.

Mak bertanya mengapa meng-ambil uang sebanyak itu. Biasanya, pa-gi Iwan dan Yuni
disuruh meng-ambil uang sendiri di kotak di da-lam laci. Tidak banyak. Paling-pa-ling lima
ribu. Kalau ada ke-per-lu-an sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. Mak bertanya lembut,
bahkan nyaris merayu si anak, un-tuk apa uang itu.

Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut, “Kuberikan kepada Her-man. Dia mau buka usaha,
ka-sih-an ti-dak punya modal,” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai, dia
keluarkan gumpalan uang lusuh. Diberikan kepada Mak, meneruskan bicaranya, “Ini
sisanya.”

Mak menghitung, dua ratus ribu lebih sedikit.

“Nanti kalau usahanya ber-ja-lan, Herman akan mengem-ba-li-kan. Malahan mungkin dengan
bu-nga,” kata Iwan lagi.

Mak lega.

“Apa usaha temanmu?”

“Bengkel kecil-kecilan, di muka sekolah, bersama tukang pompa ban.”

Lalu Iwan terburu-buru, me-nutup kancing baju, menggosok ram-but dengan kain apa saja
yang tersampir di sana.

“Mau ke mana?” Mak bertanya. “Makan dulu! Kamu kurus. Muka-mu pucat. Tadi siang
kamu juga ti-dak pulang makan.”

“Aku jajan bakso tadi,” Iwan menyahut, sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar
akan keluar, berhenti lalu katanya “Minta Rp 10.000, Mak”.

“Ke mana?” Mak masih meng-ikuti, tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan.

“Mau belajar bersama teman-teman. Besok pagi langsung ke se-kolah.”

Mak harus puas dengan jawab-an tersebut, karena si sulung su-dah berlalu. Rambutnya masih
ba-sah dan belum disisir. Tapi tidak apa-apa, Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya.
Hati Mak tenang. Di sana tentu disuguhi ma-kan-an. Apa lagi, anaknya bawa uang, bisa jajan.
Banyak makanan dijajakan di malam begitu. Mak berpikir, lebih baik mengetahui anaknya
berada di rumah teman, tidak keluyuran. Itu baik.

Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang se-sungguhnya. Dan yang
se-sung-guhnya terjadi ialah, dua hari ke-mu-d-ian orang tua diminta datang mengambil
rapor. Seperti biasa, Mak yang berangkat. Kepala se-ko--lah menemuinya bersama
se-ke-lompok orang tua lain di ruang ter-sendiri. Juga hadir dua guru.



                                                91
       HORISON, JANUARI 2000



Rupanya, anak-anak mereka tidak naik kelas. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin
jelek. Khodir berkali-kali mangkir, Her-man sudah dua bulan tidak masuk. Iwan sendiri, tidak
nampak di sekolah sejak empat hari.

“Dia berangkat sekolah setiap pagi,” istri Pak RT berkata mem-be--la anaknya.

Seorang guru melihat ke buku catatan, menanggapi, “Hari Senin masih masuk, tapi Selasa,
Rabu sampai hari ini tidak kelihatan.”

Dan yang lebih-lebih menge-jut-kan para orang tua kedua teman Iwan, ialah anak-anak
mereka su-dah setengah tahun tidak mem-ba-yar uang sekolah.

“Kami menerima uang tes, ma-ka kami memberi kelonggaran meng----ikuti tes untuk akhir
catur wulan. Kami kira, ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang,” ka-ta kepala sekolah.

“Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan
pe-ngetahuannya.

“Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana ber-tanya. Yang paling nampak
adalah ibu- Herman.

Mendengar itu, Maknya Iwan men-jadi ragu. Dengan suara terba-ta-bata, katanya, “Buka
reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban...” dan Mak itu hampir me-le-pas lanjutan
ka-li-mat, bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’
kepada te-man-nya itu.

Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan wak-tu--nya untuk mereka, dia
me-mu-tus-kan:

“Se-baik-nya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Jangan sam-pai terlanjur mendapat
penga-ruh buruk dari jalanan. Kecuali An-da, Ibunya Iwan. Anak Ibu pu-lang ke rumah setiap
hari, bukan?”

Mak kebingungan, tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. Sejak si sulung lulus
SLTP, dia menganggapnya sudah besar. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Pak
RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu ber-buat begini atau begitu. Jadi Mak juga meniru
suaminya. Sekarang, ka-lau Iwan pulang makan, mandi atau untuk keperluan lain, Mak
senang. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan, ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan
Yang Maha Ku-a--sa.

“Dia pulang sore. Katanya ba-nyak tambahan pelajaran,” akhir--nya itulah yang dikatakan
Mak.

“Memang banyak ekstra kuri-ku-ler, Bu. Tetapi saya jarang me-li-hat Iwan mengikuti
tambahan pelajaran itu,” sahut seorang guru.

Petang itu Pak RT pulang se-te-lah panggilan shalat Maghrib di-ku-mandangkan. Tergesa-
gesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat, la-lu mengenakan baju berkerah dan sarung.




                                            92
       HORISON, JANUARI 2000



Sementara itu orang mulai ber-da-tangan memasuki ruang perte-mu-an. Kaum muda lelaki
dan pe-rem-puan, pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar
dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT.

Tanpa menunggu lama, masing-masing tamu sudah mendapat ja-tah teh manis. Gelas-gelas
itu di-le-takkan oleh pembantu di atas me--ja rendah yang berderet di te-ngah, mengelilingi
tiga atau empat pi-ring berisi kudapan. Para pe-la-yan sudah terdidik. Begitu pula pa-ra
pendatang. Walaupun tidak se-mua dari mereka itu aktif men-ger-jakan sesuatu guna
membantu ke-lancaran organisasi kampung, te-tapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan
di rumah Pak RT tidak pernah rugi. Selain di situ suasana cerah, juga selalu banyak makanan
dan rokok. Mereka pulang ber-pe-lu-ang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau
filter, sesuai pilihan masing-mas-ing.

“Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi ma-suk-nya Pak RT ke dalam
ruangan.

Dan selalu ada yang menjawab, “Tidak apa-apa. Pak RT orang yang sibuk. Kami mengerti.”

Disambut dari sisi lain:

“Ya benar. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir mes-ki-pun kami harus menunggu.
Pak RT tetap belum pernah terlambat meng--iku-ti rapat kami!”

“Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Kami min---ta maaf, selalu merepotkan
ibu. Ini kami sudah mulai me-nik-m-ati hidangan,” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih
manis ter-de-ngar dari pojok lain.

“Silahkan! Silahkan! Direrus-kan saja,”tanggap Pak RT sambil me-nempatkan dirinya di atas
tikar, lalu mendongak ke arah dalam, serunya, “Bu! Tehnya ditambah!”

Pembantu-pembantu me-yo-rong-kan ceret berisi tambahan mi-num-an.

Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan.

“Anu 4, Pak RT, ini kami sedang memperbincangkan berita yang di-dengar tukang rokok di
depan Ka-rang-rejo. Ada sopir taksi yang di-rampok katanya.”

“Ya, saya juga dengar,” sahut Pak RT, mulutnya mengunyah go-reng-an bergedel jagung
penuh mi-nyak. “Apa beritanya sudah ma-suk koran atau televisi?”

“Kok belum ada. Padahal ka-ta-nya, sopir taksinya ditusuk pakai obeng,” seseorang
menjelas-kan.

“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya.

“Di situ saja! Di dekat Jatidiri!”

“Wah, dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya.”

“Yang saya dengar, satu pelaku sudah diringkus. Yang lain-lain ka-bur!”


                                             93
       HORISON, JANUARI 2000



“Ya, mengenai itu juga saya de-ngar. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang
cerita be-gitu.” Pak RT mengambil satu ber-ge--del lagi, menyumpalkannya di an-tara gigi
besarnya.

“Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Itu biar diurus
polisi!” kata seorang lelaki yang duduk ti-dak jauh dari pintu masuk.

“Betul! Betul! Kalau tidak, kita tidak akan selesai sampai besok pagi,” sahut suara lain.

Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Serius atau santai. Yang penting Pak RT tidak
makan lagi. Dia kelihatan sibuk, berbi-cara, membantah, mengata-kan ga-gas-an--nya. Begitu
nampak terpi-kat dia sehingga sejak me-lang-kah-kan kaki ke dalam rumah petang itu, tak
satu kali pun ingat apakah di-a sudah melihat anak sulungnya ha--ri itu. Dia juga belum
diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak na-ik kelas atau pun mangkir seko-lah pekan itu.

Pertemuan demikian diusaha-kan berakhir pukul sembilan. Atau paling lambat setengah
sepuluh. Tetapi tidak jarang Pak RT mena-han dua atau tiga tetangga. Me-re-ka ngelantur
mengobrol. Televisi di sudut ruang dinyalakan, mereka san-tai menonton, tiduran atau
ber-sandar ke dinding. Pak RT mem-biarkan pintu terbuka, memanggil pen-jaja makanan apa
saja: mi kop-yok, bakso atau sate. Mereka ma-kan dan berbicara, sementara ko-tak kaca
dibiarkan terus menyiar-kan tayangan yang dipilih.

Malam itu, tiga tamu belum me-ninggalkan ruang pertemuan. Mereka bersama Pak RT
menik-ma-ti sate ayam dengan lontong ke-nyal.

Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. Satu ka--li bertanya kepada
tukang be-cak, kemudian berhenti di de-pan rumah Pak RT. Dua orang tu-run, langsung
menuju pintu yang ter-bu-ka. Bau daging bakar ber-bum-bu memenuhi udara malam lem-bab.


“Selamat malam,” lelaki yang terdekat dengan pintu melongok-kan kepala memberi salam.

Pak RT bangkit dari tikar, me-ne-mui si pendatang. Mata ba-pak itu melirik ke kejauhan. Ada
tiga lelaki lain. Seorang di tengah-te-ngah halaman, seorang di pagar, se-orang lagi duduk di
belakang kemudi.

“Bapak Rajiman?”

“Ya, saya sendiri,” sahut Pak RT.

Terdengar suara bebincang ren-dah. Kelihatan kepala Pak RT ter-te-gak. Satu kali menengok
ke arah dalam rumah. Dia menggan-deng le-ngan orang yang baru da-tang, me-nariknya
menjauhi pintu.

Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali, langsung menuju ke rumah induk. Dia
memanggil-manggil. Sesaat berlalu, jelas ter-den-gar bahwa waktu istirahat seisi rumah
terganggu. Nama Iwan di-se---but-sebut. Percakapan yang ka-cau menyusul perbantahan di
an-ta-ra penghuni. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas, “Sudah hampir
seminggu Gus Iwan tidak pulang.”



                                              94
       HORISON, JANUARI 2000



Lalu Pak RT muncul di pintu, sudah mengenakan celana pan-jang. Katanya singkat kepada
tamunya yang baru menikmati daging sate, “Maaf, saya harus pergi. Sila-kan Anda pulang.
Biar pintu di-tu-tup.”

Lima menit berlalu sejak ke-da-tang-an tamu baru itu, Pak RT me-nye-tir kendaraannya
mengikuti jip ke-luar kampung. Seorang tetangga du-duk di sampingnya. Dia me-na-war-kan
diri menemani Pak RT ke kantor polisi.

Serse memberitahu bapaknya Iwan, bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Dia
berlari ke-tika polisi menyelidiki kasus pe-ram-pokan dan penusukan sopir taksi dinihari
sebelumnya. Karena tidak mau berhenti sewaktu di-pang--gil, kakinya ditembak. Maka
ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi
lintingan gan--ja siap pakai. Juga sebuah ko-tak korek api penuh butiran obat terlarang.
Belum ketahuan pasti jenis apa.

Khodir mengaku bahwa dia me-lakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Pak RT
harus memberitahu polisi alamat se-mua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat
ber-sem-bunyi kedua remaja itu.

“Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT se-per-ti kepada dirinya sendiri.
“Saya dan ibunya membanting tulang me-mutar otak untuk mencari uang. Supaya mereka
hidup layak, bisa sekolah. Tetapi nyatanya... .”

Tetangga di sebelah Pak RT ti-dak berani mengeluarkan penda-pat. Dia adalah satu dari
mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bi-sa hidup berkecukupan. Tugas-nya malam itu
adalah menema-ni Pak RT. Bukan untuk berbica-ra.**-*-



1. Sumber air/telaga terletak di antara dua pancuran.
2. Teh kental
3. Kamu
4. Kata tambahan dalam bahasa Jawa, biasanya dipakai karena gugup atau                           sungkan


              --------------------------------------------------------------------------------

Horison, September 2000




                                                    95
       HORISON, JANUARI 2000



                                UPACARA HITAM
Oleh: Abrar Yusra




Langit di atas kepalaku terpentang biru, me-ngi-rim--kan sinar matahari yang menerobos
menyilaukan mata. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Namun di bagian kota
lainnya langit digantungi men-dung gelap dan bumi di bawahnya mungkin di-si-ram hu-jan.
Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil.

Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat
yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400.000 jiwa itu. Ketika
meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Lihatlah, di bawah matahari silau para
pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakaman-nya. Maka bukit-bukit kuburan
seperti jadi lautan manusia. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas
terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan
habisnya. Tapi apa peduliku. Siapa tahu, jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-
masing!

Di deretan depan kulihat adik-adikku. Masing-masing memasang muka dan pakaian
berkabung yang sedemikian pantas, katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil.
Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Sebab yang paling
merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan, melawan pende-ritaan
di hari-hari sekaratnya yang panjang. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan
besar pun berlalu bagi adik-adikku. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan
besarku.

Aku menatap matahari. Silau.

Aku memandang khalayak. Gelap. Tidak, silau juga.

Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu
terbaring sehat-sehat saja. Ganjilnya, sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-
teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Ayah berkata, bagaikan organ-organ
di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan.

“Di sini,” bilang ayah, sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan, “tapi sudah
hilang sendiri!”

Ayah malah mencoba tertawa. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. Ya, serangan sakit
itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit, perlu
diobati atau tidak. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di
pusat kota.

“Tak ada gejala penyakit apa-apa,“ kata dokter.

Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Sebab seperti semacam
misteri, nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Maka ayah kami
bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Lalu kami mendatangkan sendiri
seorang dokter ke rumah di pinggiran kota, juga tanpa hasil apa pun.


                                             96
       HORISON, JANUARI 2000



Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentah-mentah.

“Jangan,” cemooh ayah tertawa, seolah ia sudah sembuh. “Masa panitia yayasan rumah sakit
diobati dukun kampung?”

Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Tapi makin lama makin sering.
Baru saja sekali enam hari, lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa
sakit, kapan saja di mana saja. Kami benar-benar kalang kabut. Sesudah berlangsung beberapa
bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah, apalagi mengobatinya.
Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato, maka ayah tidak
kami perkenankan keluar rumah sendiri.

“Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja,” kataku.

Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak
pernah dilakukannya.

Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Maka para pengunjung pun pada
berdatangan ke rumah. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Malah ayah
bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. Namun jika serangan penyakitnya datang,
makin sering saja, tak peduli sedang ada tamu atau tidak, ketika sedang tidur atau lagi
ngomong baik-baik, tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan,
lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya.

Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Makin cekung dan sepi. Penyakit itu
menganiaya ayah dengan semena-mena benar, sehingga membuatnya capek. Maka hidup
ayah jadi aneh. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang
lagi tanpa ampun.

 Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. Yang tinggal hanya para tetangga, di
antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Nampaknya seperti untuk bersenang-
senang. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. Mereka datang memang untuk
sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau
mengharapkan kesembuhan si sakit. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang
tinggal soal waktu saja lagi.

Sudah larut dinihari. Adik-adik sudah pada tidur. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi
perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Dan di ruang
tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang
menu-tup daun-daun jendela.

Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Nah, si kakek itu lagi, rupanya ia
sudah selesai menutup jendela-jendela. Konon ia teman ayahku dulu.

“Bagaimana beliau?” ia bertanya. “Kambuh lagi?”

Aku mengangguk. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan
sakit ayah paling menjadi-jadi. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benar-benar
kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong
busuk. Seperti digerogoti setan, tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. Muka cekung ayah
sudah menghitam. Sinar hidup dari matanya sudah padam!

                                             97
       HORISON, JANUARI 2000




Aku serasa mau gila. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepar-gelepar.
Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Yah, seolah mataku dapat mengikuti
atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor
binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Seolah menampik hidup dan penderitaan,
maka:

“Jangan!” rintih ayah tak jelas. “Ampun, ampun!”

Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah, ayah seperti memohon:

“Biarkan aku mati, mati!”

Maka ayahku menangis, barangkali juga pingsan lagi. Keterlaluan penderitaan orang tua itu.
Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri
penderitaannya. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. Maka
aku berdoa untuk kematian ayahku. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh
permintaan dan desakan seseorang. Ayahku meraung lagi. Seolah raung itu pun
menghabiskan cadangan tenaganya.

“Harus kaulakukan sesuatu, Nak!” suara si kakek lagi. “Saya bisa membantumu.”

Aku menatapnya tak berdaya. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak
dizalimi penyakit yang misterius itu lagi.

Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang,

“Kamu kenal siapa ayahmu. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Yang gereseh-peseh
bahasa Inggeris, punya mobil, pemimpin masyarakat yang modern. Tapi aku lebih kenal
ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. Segala
cara kami lakukan untuk itu. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan, bahkan ilmu-ilmu
hitam, ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?”

Aku hanya melongo. Tak tahu aku, apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Itu
seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Ia tersenyum.

“Sederhananya ilmu iblis. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara
iblis dalam dirinya, itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam
atau Si Anjing Hitam!”

Panjang juga uraiannya. Tapi sejauh yang dapat kutangkap, cukuplah di sini kukatakan bahwa
ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku, karena iblis yang
dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat, sebab
demikian firman Tuhan tentang iblis. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga:

“Si iblis itulah yang menzalimi beliau. Maka jalan terbaik bagimu, yah, kaupungut saja Si
Hitam. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!”

Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang
dalam cengkeraman mimpi buruk. Sebab kubayangkan, _tidak, seolah kulihat nyata_, Si
Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. Tak dapat kubayangkan bahwa

                                              98
       HORISON, JANUARI 2000



iblis itu, benar-benar iblis, akan terus memperkosa ayahku. Tapi Si Hitam terus bergedencak
menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. Maka tanpa pikir lagi kukatakan
pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam, jika memang hanya itulah cara agar Si
Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persum--pahan ayahku!

Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu, kami berhasil membebaskan
ayah dari penderitaannya. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku, meskipun aku tak
merasakannya! Dan ayah pun, yang sempat sadar pada detik-detik terakhir, akhirnya
menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat, serta mulut komat-kamit
begitu lemah...!

Kini di bawah matahari, di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan
jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya.
Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil
yang pernah kukenal, bahkan paling terkutuk. Aku sendiri, betapa terkutuk, justru tidak sedih
atas kematian ayahku. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus
kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam
itu. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah
lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri, betapa terkutuk! Ternyata aku
tidak siap untuk itu.

Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang
terhormat, yang berjuang dengan cara-cara terhormat, apa pun artinya. Bahkan aku ingin
seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan
menjahanamkan aku, anaknya, karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat
mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap, hina dan memalukan. Kalau
aku tidak malu, malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau,
atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat?

Maka matahari yang menyilaukan ini, upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan
sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku, benar-benar
tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpah-nyumpah
karena aku kehilangan makna diriku sendiri. Betapa terkutuk nasibku!***



Jakarta, 1992


                --------------------------------------------------------------------------------




                                                      99
       HORISON, JANUARI 2000



                MENYIRAM BUNGA DI DALAM CERMIN
                                    Oleh: Yus R. Ismail



“Bercerminlah dengan khusuk, maka kamu akan melihat diri sendiri,” kata suara entah dari
mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini.

Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. Betapa sunyi keinginan ini.
Bukankah setiap hari aku menjadi aku, menjadi diri sendiri, karena aku memang bukan
seorang pemain sinetron atau drama. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan
Naga Bonar atau apa dan siapa saja.

Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa
dimengerti mengapa pernah aku lakukan. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku
lakukan. Aku tidak bebas lagi bergerak, berekspresi, menerjemahkan hati menjadi apa saja.

Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. Di dalamnya, bisa jadi telah dibangun
kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa.
Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. Maka tanganku,
mulutku, kakiku, mataku, lidahku, bisa bergerak selain diperintah olehku.

Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin, setidaknya untuk mengetahui siapa
saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu.
Bila sudah mengetahuinya, aku ingin mengusirnya, dengan kekerasan atau tanpa kekerasan.

Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku, aku
pontang-panting mencari cermin. Aku memasuki wc-wc umum, mushola, gereja, candi, hotel,
diskotik, tapi selalu berakhir dengan kelelahan. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi
dipergunakan. Semua cermin telah retak dan pecah.

Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang
pantang menyerah. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-
nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan
darah. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi
setetes. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan
tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Teringat kelegaan dari
tangisan di waktu kecil itu, tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari
seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata.

Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-
benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Perubahan keyakinan itu memang
begitu menyakitkan. Kesedihan, kepapaan, kesendirian, kesunyiaan, ketakberdayaan,
ketaksempurnaan, kepedihan, semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh
tubuhku. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya.
Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran.

Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. Tubuhku telah terpantul
di mana-mana. Di tanah, angin, kabut, daun, batang, sampah, air, api, tubuhku terpampang
seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa.


                                            100
       HORISON, JANUARI 2000



***

PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Namaku memang tidak jelas. Tapi
ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Bila bertemu denganku, di mana saja, jangan ragu-
ragu untuk menyapa. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. Tapi bila ingin
ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran, temui saja
aku di kebun bunga.

Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan
(yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga
dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Aku tak pernah lupa bagaimana air
menetes dari ujung daun, bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar, bagaimana tanah
menguapkan bau yang khas, dsb.

Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana
dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-
mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin.

“Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub
dengan matanya. Di matanya, aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang
artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. Ada pucuk yang diam-diam menjadi
kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Ada
kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopak-kelopak yang
tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya.

“Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. Dengan gembira aku mengangguk
dan menghampiri. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu.
Tapi begitu air jatuh dari gayungku, aku lupa dengan metamorfosa itu. Aku telah terbawa air,
mengalir ke mana saja yang kumau. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat
kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat
hektaran hutan menjadi gurun tandus.

Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. Eh, aku tak
yakin, ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Aku tidak bisa membedakan suara
keduanya. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku, mengobrak-abrik ruang-
ruang tubuhku. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Entah berapa
lama aku pingsan, karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun.
Aku merasa tubuh ini sakit-sakit, begitu lelah. Pantai apakah ini?

“Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang
mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh.

“Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya.

“Kuta.”

Beberapa jenak aku tercenung. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku
merasa ini Pantai Panjang.

“Ya, Pantai Panjang juga bisa. Atau Pangandaran. Atau Pelabuhan Ratu.”


                                            101
       HORISON, JANUARI 2000



Aku memandang orang yang aneh itu.

“Apa perlunya nama. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. Karena semua nama
akan cocok dengan pantai ini.”

Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan
cukup lama, orang beransel besar itu terbang. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah
angin. Aku menyusulnya sambil berteriak, “Aku ikut!”

Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong.
Bertahun-tahun kami mengembara. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk
mengembara. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira
Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. Setiap
kaki melangkah meninggalkan suatu tempat, kami merasa begitu banyak tempat yang belum
kami kunjungi.

Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. Kami
banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. Kami merasa peristiwa itulah yang
lebih penting dibanding dengan nama-nama. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-
peristiwa itu. Tidak bisa terbayangkan, berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami
habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat
mengapa kami tidak mencatat. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang
tidak dicatat dan dibicarakan. Kami tidak bisa membayangkan, bila seluruh peristiwa itu
tercatat, berapa milyar pembaca yang akan sakit.

Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. Sepanjang sejarah, rasa
sakit barangkali bagian dari hidup. Sungai-sungai mengalirkan air mata. Suara tangis
terdengar di mana-mana. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita, karena hanya kita
yang menghuni dunia ini. Maka kami, aku dan angin, pergi dari tempat yang satu ke tempat
yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri.

Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat, kami merasa begitu banyak tempat yang
belum kami kunjungi. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan
kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang, tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-
tempat itu. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu
adalah hidup kami.

Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Aku
sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. Aku pingsan entah
berapa lama. Dan begitu terbangun, aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan
di mana. Saat kulihat ke sekeliling, aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul
di potret diri dari cermin-cermin itu.

“Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si
penyiram bunga itu. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Aku lebih tertarik dengan matahari
yang membuat langit memerah itu. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa
lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Eh, aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang
terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. Memandangnya sambil mencoba
memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. Atau aku pun adalah
ulat? Ah, aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. Aku tak mau pergi
dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin.

                                             102
       HORISON, JANUARI 2000




Aku berdiri dan pergi.

“Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram, kamu bisa pergi ke mana saja.
Ingatlah, kita tidak bisa tidak pergi. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. Karena sakit dan
perih adalah hidup kita....”

Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Dia
barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan.***


              --------------------------------------------------------------------------------




                                                   103
       HORISON, JANUARI 2000



Horison, Oktober 2000


                                 SEGENGGAM KURMA
                                    leh: Tayih Salih


Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku, tetapi aku
ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku, mereka akan menepuk kepalaku
dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. Yang aneh adalah
bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku, kakekkulah yang akan membawaku ke mana
pun ia pergi, kecuali pada pagi hari, ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. Mesjid, sungai,
dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. Sementara
kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran, aku
malah senang melakukannya. Sebabnya, aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu
memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja
ia menerima tamu, yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika
melihatku bersama kakekku.

Sungguh, aku dulu mencintai mesjid, dan aku juga mencintai sungai itu. Segera setelah selesai
membaca Quran pada pagi hari, aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju
ibuku, cepat seperti jin, dengan tergesa-gesa menelan sarapanku, dan berlari untuk menyelam
di sungai. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari, aku duduk di pinggir sungai dan
memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur, dan bersembunyi di
belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. Aku suka membiarkan khayalanku
dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu, orang-orang tinggi dan
kurus dengan janggut putih dan hidung tajam, seperti kakekku. Sebelum kakekku bisa
menjawab pertanyaanku yang banyak, ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari
telunjuknya, terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam
hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. Kakekku pasti juga luar
biasa tinggi, karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya
tanpa harus mendongakkan kepalanya, atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah
tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana
sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. Aku
menyayanginya dan akan membayangkan diriku, pada saat aku sudah menjadi laki-laki
dewasa, tinggi dan langsing sepertinya, berjalan dengan langkah-langkah yang lebar.

Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya, tidak heran, karena sepupu-sepupuku
adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang
pandai. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa, saat untuk diam; juga aku
akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi
tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. Ketika ia tidak memiliki kegiatan lain,
ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama, dan aku bisa
mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh.

Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami, Masood. Aku berkata pada kakekku,
“Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?”

Yang dijawabnya, sesudah menyentuh ujung hidungnya, “Orang itu culas dan aku tidak suka
orang macam itu.”


                                             104
       HORISON, JANUARI 2000



Aku berkata kepada kakek, “Apa sih orang culas itu?”

Kakekku menundukkan kepalanya sejenak, kemudian, memandangi luasnya ladang, ia
berkata, “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan
feddans. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant, akasia, dan sayal?
Semua ini jatuh ke pangkuan Masood, diwarisi olehnya dari ayahnya.”

Memanfaatkan kakekku yang membisu, aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah
yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. “Aku tidak peduli,” aku berkata pada
diriku sendiri, “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu, semua pohon itu ataupun tanah
hitam yang pecah-pecah ini, yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan
tempatku bermain.”

Kakekku kemudian melanjutkan, “Ya, anakku, empat puluh tahun yang lalu semua ini
menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku.”

Ini jadi berita untukku, karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak
Tuhan menciptakannya.

“Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. Masood
saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. Posisinya berubah sekarang, dan kupikir bahwa
sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga.”

Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa
kasihan kepada tetangga kami Masood. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang
dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi, suaranya yang indah dan tawanya yang keras
yang menyerupai suara air yang berdeguk. Kakek tidak pernah tertawa.

Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya.

“Perempuan,” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan”
adalah sesuatu yang buruk sekali. “Masood, anakku, adalah lelaki yang doyan kawin. Setiap
kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku.” Aku dengan cepat menghitung bahwa
Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. Lalu kuingat tiga
istrinya, penampilannya yang jorok, keledainya yang lambat dan pelananya yang tak
terpelihara, galabia-nya dengan lengan baju yang robek. Aku sudah melakukan semua kecuali
membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat
aku melihat laki-laki itu mendekati kami, dan kakek dan aku saling bertukar pandangan.

“Kami akan memanen kurma hari ini,” kata Masood. “Kalian tidak ingin ke sana?”

Walaupun begitu, aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana.
Namun, kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan
yang luar biasa. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood.

Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi,
sementara aku tetap berdiri. Di sana ada begitu banyak orang, tetapi biarpun aku kenal mereka
semua, aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood, jauh dari kerumunan orang
banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya, walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma
yang akan dipanen adalah miliknya. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar
kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang

                                            105
       HORISON, JANUARI 2000



bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan
sabitnya yang panjang dan tajam, “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya.”

Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di
puncak pohon kurma, dengan cepat dan penuh tenaga, menggarap cabang dengan sabitnya
sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga.

Namun, aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma.” Aku
membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan, sesuatu yang memiliki
jantung yang berdetak. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku
mempermainkan cabang pohon kurma muda, “Pohon kurma, anakku, seperti manusia,
merasakan kebahagiaan dan penderitaan.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang
tidak beralasan.

Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku, aku
melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma,
mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi
tumpukan yang tinggi. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam
wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung, yang kuhitung ada tiga puluh.
Kerumunan orang bubar, kecuali Hussein si pedagang, Mousa si pemilik ladang di sebelah
ladang kami sebelah Timur, dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Lalu aku perhatikan
Masood tidak mengubah cara berdirinya, kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam
mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan
makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh.

Tiba-tiba kakek bangun, melompat di atas kakinya, dan berjalan menuju kantung-kantung
kurma. Ia diikuti Hussein si pedagang, Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami, dan
dua orang yang tak dikenal. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati
kami dengan luar biasa perlahan, seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya
memaksa maju. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya,
beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Kakek memberiku segenggam penuh,
yang kemudian kukunyah. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma
dan membawanya ke dekat hidungnya, lalu mengembalikannya.

Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. Hussein
si pedagang mengambil sepuluh; masing-masing orang tak dikenal itu mengambil lima,
Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima, dan kakek
mengambil lima. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan
matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan
pulang ke rumah.

“Kau masih berhutang lima puluh pound padaku,” kata kakekku kepada Masood. “Kita
bicarakan itu nanti.”

Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai, dua orang asing
itu membawa unta, dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-
binatang itu. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta
itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Aku merasa mendekati Masood, merasakan tanganku
mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. Aku mendengarnya

                                           106
        HORISON, JANUARI 2000



mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Untuk
alasan yang tak kuketahui, aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku.

Aku berlari ke kejauhan. Mendengar kakekku memanggilku, aku sedikit ragu, kemudian
melanjutkan perjalanan. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. Aku
mempercepat langkahku, sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin
kuhindari. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia.
Kemudian, tanpa tahu mengapa, aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan
memuntahkan kurma yang sudah kumakan.

*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih), dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. Tentang
desanya itu, ia pernah me-nyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Masa
ke-cil-nya dihabiskannya di desa itu. Keluarganya adalah petani dan guru. Ia mendapatkan pen-di-dikan tinggi di
Universitas Khartoum, yang ke-mudian dilanjutkannya di beberapa univer-sitas di Inggris. Ia pernah menjadi
guru di Su-dan, namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa
Arab. Salih mulai menulis tahun 1953, tetapi kumpulan cerpennya yang pertama, yang hanya berisi tiga cerpen
baru terbit tahun 1968. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut, diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies, yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan
oleh Charles R. Larson dalam Under African Skies. Mo-dern African Stories, 1997, Edinburg: Payback Press.
Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.

                --------------------------------------------------------------------------------




                                                     107
       HORISON, JANUARI 2000



Horison, November 2000



                      SYAHDAN PADA DAHULU KALA
                                Oleh: Nadine Gordimer



Seseorang telah memintaku untuk        menyumbangkan sebuah antologi cerita anak-anak.
Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Orang itu mengatakan bahwa dalam
suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini, seorang pengarang telah
menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Terpikir
olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham
dengan pendapatnya. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan.

Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku.

Sebuah suara dalam diriku?

Suatu bunyi.

Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah
membawa beban yang berat. Kupasang telinga. Kupusatkan pendengaran. Bunyi berderat-
derit itu bergema lagi. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang
menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Aku tidak memiliki
terali besi. Tak ada pistol di bawah bantalku. Namun aku juga kini merasa cemas seperti
orang-orang lain yang serba waspada. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun,
mudah pecah seperti gelas anggur. Tahun lalu, seorang perempuan telah dibunuh (kata orang)
di siang bolong. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya
telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar
upahnya.

Kupandangi pintu, sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat--
di dalam gelap. Kutentramkan diri, tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami
jantungku. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang
hari. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun, mengenalinya baik-baik sambil
memilah-milah kemungkinan ancamannya.

Namun, aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Tak ada bobot manusia yang
menekan di papan itu. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Aku
merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang
tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. Nun jauh di bawah kamarku, di dasar
rumah ini, penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-
tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga.
Jika ada permukaan yang bergetar, ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah.
Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu, semen, kayu, dan kaca yang
menyangga rumah menjadi longgar. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di
atas zilofon, kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah
berada di bawah sana, di bawahku, dalam perut bumi. Tingkat tempat adanya runtuhan


                                           108
       HORISON, JANUARI 2000



mungkin tak digunakan lagi, air bertetesan dari rekahannya, atau mungkin ada orang yang
pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan.

Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. Merelakan
diri tidur kembali. Akupun bercerita pada diriku sendiri; kisah dalam tidur.

Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan, tinggallah sepasang suami-istri yang saling
menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. Mereka memiliki seorang anak lelaki
yang amat mereka cintai. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat
disayangi anak kecil itu. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang
digunakan untuk pergi berlibur. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk
mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati
lemas. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya, serta seorang
tukang kebun yang rajin. Jadi, manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia
untuk selama-lamanya, mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana,
yaitu ibu sang suami, agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. Mereka tergolong
masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan, anjing peliharaan mereka diberi
peneng, diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran, kerusakan akibat banjir, dan
perampokan, serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka
sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan",
mencegah kemungkinan perampokan, yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia
orang kulit putih atau kulit hitam.

Sukar untuk mengasuransikan rumah, kolam renang, atau mobil mereka dari kerusakan akibat
kerusuhan. Kerusuhan memang terjadi, tapi di luar kota, di mana orang kulit hitam
ditempatkan. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar, kecuali
pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. Oleh sebab itu, tak ada yang
perlu dicemaskan, ucap sang suami pada istrinya. Namun sang istri masih merasa cemas
kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan
bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Membuka pintu pagar, lalu memaksa
masuk. Jangan mengomel saja, ucap sang suami, di sana ada polisi dan tentara, gas air mata
dan senapan untuk mengusir mereka. Namun, saking cintanya, untuk menenangkan hati sang
istri, juga karena bus-bus dibakar, mobil-mobil dilempari batu, dan anak-anak sekolah
ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana, jauh dari pandangan dan
pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar, sang suami telah memasang pagar
berlistrik. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan
membuka pintu pagar, mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara
melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan
alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri,
bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya.

Kerusuhan telah dapat ditanggulangi, tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota
besar, dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci di dalam
almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. Pembantu rumah
pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa
rekannya. Seperti biasa, dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil
mereka, pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada
pintu dan jendela rumah, serta memasang alarm. Sang istri berkata, benar ucapan pembantu
itu. Ikutilah nasihatnya. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka
dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu, mereka melihat pohonan dan langit
melalui terali, dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi

                                            109
       HORISON, JANUARI 2000



untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan, kucing itu
pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah.

Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang
disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. Bunyi alarm yang nyaring, meraung
dan menjerit, bersipongang satu sama lain, dan berselang-seling di halaman-halaman rumah,
hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. Bunyinya dianggap biasa,
sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil
kesempatan dan menggergaji terali-terali besi, lantas menerobos masuk, mengambil peralatan
elektronik seperti hi-fi, televisi, tape recorder, kamera, radio, barang-barang berharga dan
pakaian, serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa
sangat lapar, bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam
kabinet atau dari bar. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman
malta sekalipun, kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. Pencuri-pencuri itu
tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka.

Akhirnya, tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat
dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu, akibat menganggur.
Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput, mengecat atap; atau apa saja.
Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang
tak dikenal. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan
botol-botol kosong. Sebagian lagi meminta sedekah, menunggu sang suami atau sang istri ke
luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan
pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik
jadi rusak oleh kehadiran mereka. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari.
Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. Ia lalu menyuruh pembantu
rumahnya mengantarkan roti dan teh. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para
bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. Sang suami berkata, betul
katanya, ikuti nasehatnya. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan
tehmu itu. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . Dan sang suami pun membawa masuk
sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat,
setelah dikunci rapat-rapat dan alarm dinyalakan, seseorang mungkin masih dapat memanjat
tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman.

Benar katamu, ucap sang istri, kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. Dan
perempuan sihir tua yang bijak itu, yaitu ibu sang suami, membayar untuk tambahan batu bata
sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Si anak kecil pun mendapat
pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng.

Tetapi, setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di
malam yang sepi, bahkan pada waktu subuh, meskipun pada bulan purnama di musim panas
yang indah, sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat
atas dibongkar. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata
terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan
anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu, berkali-kali, mula-mula
memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok, kemudian melompat
dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibas-ngibaskan ekornya ke dalam
kawasan rumah. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok
yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu
yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan.


                                            110
       HORISON, JANUARI 2000



Ketika sang suami, sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di
kawasan kediaman mereka, mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan
pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta tembok-tembok
dengan peralatannya. Sang suami, sang istri, dan anak kecil mereka membuat pilihan
menakjubkan. Sebuah pilihan yang murah, yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan
di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Ada juga usaha untuk
mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang
dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik
(besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). Separuh tembok
dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang
bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya
berlari ke muka, sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan,
dan selang beberapa minggu, saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok
tanpa berkata-kata, keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling
baik saja, yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk
kamp tahanan: tidak berbunga-bunga, kuat dan sederhana. Di sepanjang tembok, terbentang
gulungan besi yang keras, berkilat, tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. Ini semua
menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia
tersangkut pada gulungan itu. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di
situ. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Semakin
terkait, kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Sang istri terpesona memandangnya.
Betul katamu, ucap sang suami, siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai
menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. Hubungi
GIGI NAGA. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak.

Keesokan harinya, sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau
di sekeliling tembok rumah, di mana tempat sang suami, sang istri dan anak lelaki mereka
yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh
kebahagiaan buat selama-lamanya. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata
pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut, menyilaukan. Sang suami berkata, tak
mengapa. Kilau itu akan hilang nanti. Sang istri berkata, tidak mungkin, mereka menjamin
gulungan itu tahan karat. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain, lalu
berkata, saya harap si kucing peka. Sang suami berkata, jangan cemas sayang, kucing selalu
melihat sebelum melompat. Mereka benar, karena sejak hari itu, kucing mereka hanya tidur di
kamar si anak dan bermain di taman saja, tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu.

Pada suatu malam, sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku
yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. Pada keesokan
harinya, si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan membabat
duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta
menyadarkannya kembali. Si anak membawa tangga ke tembok. Ia menyusupkan diri ke
dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. Kaitan yang pertama mengenai
lututnya. Lalu tangannya, kepalanya. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam
gelungan itu. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat
peristiwa itu, lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersama-sama
dengannya. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba
menyelamatkan si anak. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh
menuju taman. Dalam pada itu, entah apa sebabnya (mungkin kucing, agaknya) alarm pun
menggila di tengah-tengah jeritan mereka, sementara si anak yang bermandi darah
dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji, pemotong kawat, kapak, dan
sebagainya. Mereka -sang suami, sang istri, pembantu rumah yang dipercayai yang tengah

                                            111
        HORISON, JANUARI 2000



diserang histria, dan tukang kebun yang menangis- membawa anak itu masuk ke dalam
rumah.
*** Nadine Gordimer, lahir di Transvaal, 1923. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat
penghargaan di bidang sastra, antara lain: Booker Prize, the W.H. Smith Commmonwealth Literature Award,
dan the Scottish Arts Council Neil M. Gunn Fellowship. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature,
dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. Kumpulan cerpennya antara lain
Livingstone Companions, Not dor Publication, Friday's Footprint, Selected Stories, A Soldier's Embrace, Jump
and Other Stories, dan Something Out There. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Diterjemahkan oleh Agus
dan Nikmah Sarjono



                --------------------------------------------------------------------------------




                                                     112

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:98
posted:11/19/2012
language:
pages:112