Docstoc

Minat Belajar dan Prestasi Siswa

Document Sample
Minat Belajar dan Prestasi Siswa Powered By Docstoc
					                                     BAB I

                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

      Di dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

  Nasional (Sisdiknas) telah dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah

  meningkatkan kualitas manusia indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap

  Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin,

  bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat

  jasmani dan rohani.

      Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang tertera

  dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tersebut membutuhkan usaha dan

  kerja keras yang terus menerus dan berkesinambungan serta melibatkan banyak

  faktor pendukung yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor

  internal meliputi siswa pebelajar, sedangkan faktor eksternal meliputi bahan

  belajar, suasana belajar, media dan sumber belajar serta subjek pembelajaran itu

  sendiri (Dimyati dan Mudjiono, 2002).

      Sampai saat ini proses pengajaran khususnya pengajaran matematika yang

  diajarkan oleh guru di kelas masih diselenggarakan dengan menggunakan

  pendekatan tradisional, dimana guru dengan aktif menjelaskan materi,

  memberikan contoh dan latihan. Sementara siswa hanya mendengarkan,

  menulis, dan melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Diskusi jarang




                                        1
terjadi yang mengakibatkan interaksi siswa yang satu dengan yang lainnya juga

jarang terjadi, sehingga proses belajar mengajar di kelas perlu diperbaiki.

     Kenyataan yang ada umumnya, mereka mempelajari matematika karena

terpaksa   hanya    karena   ingin   mencapai     target   kelulusan.   Sehingga

mengakibatkan banyak siswa yang gagal dalam ujian atau hasil yang mereka

capai kurang memuaskan karena banyak dijumpai pembelajaran yang berpusat

pada guru, yang pengajarannya bersifat verbal dan prosedural. Akibatnya,

dalam pembelajaran siswa nampak pasif dan menerima apa yang diberikan oleh

guru.

     Dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus teliti dan

mempertimbangkan berbagai hal termasuk pendekatan pembelajaran yang

digunakan karena tidak semua pendekatan pembelajaran cocok untuk konsep-

konsep yang akan diberikan. Disini, kesederhanaan dan kemudahan alat bantu

belajar akan sangat      berpengaruh terhadap       kemampuan siswa dalam

menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dan mampu

mengkaitkan konsep-konsep yang diberikan dengan kehidupan sehari-hari.

     Selama pengamatan di SMP NW Kalijaga yaitu di kelas IX C,

pembelajaran masih didominasi oleh guru dan aktivitas siswa masih pada

aktivitas mendengar, mencatat, dan mengerjakan latihan soal. Alasannya

supaya materi yang ditargetkan oleh kurikulum dapat habis dan selesai pada

tepat waktunya. Akibatnya, nilai pelajaran matematika selalu lebih rendah

dibandingkan dengan nilai pelajaran yang lain. Siswa belajar dalam keadaan

terpaksa karena, (1) siswa duduk sepanjang waktu selama pembelajaran




                                       2
  matematika berlangsung, (2) siswa tidak aktif bertanya, (3) pada saat

  mengerjakan soal, siswa tahu rumus tetapi bingung operasi perhitungannya, (4)

  siswa belum terbiasa mengerjakan soal-soal yang berbeda contoh soal latihan

  yang diberikan guru, dengan kata lain siswa belum terbiasa menyelesaikan soal-

  soal aplikasi. Hanya beberapa siswa yang prestasinya memang sudah baik di

  matematika saja terlihat antusias belajar, sedangkan yang lainnya selalu

  mengeluh ketika jam pelajaran matematika dimulai dan bersorak gembira

  ketika jam pelajaran matematika berakhir.

       Melihat fenomena yang diuraikan di atas, maka salah satu alternatif untuk

  meningkatkan prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan bangun

  ruang sisi lengkung        adalah dengan menerapkan model pembelajaran

  kontekstual pada siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun ajaran 2008/2009.



B. Identifikasi Masalah

       Berdasarkan   latar   belakang   di    atas,   maka   dapat   diidentifikasi

  permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini diantaranya adalah sebagai

  berikut:

  1. Minat belajar dan prestasi siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun ajaran

     2008/2009 masih rendah.

  2. Siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun ajaran 2008/2009 kurang faham

     terhadap materi yang disampaikan oleh guru sehingga prestasi siswa tidak

     memuaskan.




                                        3
  3. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual belum dilaksanakan oleh guru dalam

     pelaksanaan pembelajaran.



C. Batasan Masalah

       Karena keterbatasan waktu, biaya dan kemampuan dari peneliti, maka

  peneliti membatasi penelitian ini pada :

  1. Pembatasan Subjek Penelitian

     Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga

     tahun ajaran 2008/2009 yaitu sebanyak 29 siswa.

  2. Pembatasan Objek Penelitian

     Objek dalam penelitian ini dibatasi pada masalah peningkatan prestasi

     belajar siswa melalui penerapan pendekatan pembelajaran kotekstual pada

     pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung .



D. Rumusan Masalah

       Dari batasan masalah di atas, maka masalah yang diajukan dalam

  penelitian ini adalah Bagaimana prestasi belajar siswa kelas IX C SMP NW

  Kalijaga tahun ajaran 2008/2009 pada pokok bahasan bangun ruang sisi

  lengkung dengan penerapan pembelajaran kontekstual?



E. Tujuan Penelitian

       Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui apakah

  pendekatan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar




                                        4
  siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun ajaran 2008/2009 pada pokok

  bahasan bangun ruang sisi lengkung .



F. Manfaat Penelitian

       Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah

  sebagai berikut:

  1. Bagi Siswa

     Dapat menarik minat belajar siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun

     ajaran   2008/2009      dengan   menggunakan   pendekatan   pembelajaran

     kontekstual.

  2. Bagi Guru

     Dapat menjadi bahan bagi guru dalam memiliki strategi pembelajaran

     dengan pendekatan kontekstual sehingga siswa tidak merasa jenuh dengan

     belajar matematika, dan siswa merasa senang dalam belajar karena diberi

     kebebasan untuk bernalar sesuai dengan pengalamannya dalam kehidupan

     sehari-hari.

  3. Bagi Peneliti Lain

     Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai suatu acuan untuk dapat

     merangsang peneliti lain untuk memperdalam hal-hal yang belum terungkap

     dalam penelitian ini.




                                         5
                                   BAB II

           LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN



A. Deskripsi Teori

   1. Hakikat Belajar

             Pada dasarnya, belajar adalah masalah setiap orang. Dengan belajar

      maka pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, nilai, sikap, tingkah laku, dan

      semua perbuatan manusia terbentuk, disesuaikan dan dikembangkan. Oleh

      karena itu, banyak ahli yang mencoba memberikan definisi tentang belajar.

      Salah satu diantaranya memberikan batasan yaitu Pyle (Mukminan, 1998:

      1) mengemukakan bahwa proses belajar sebagai suatu proses berubahnya

      bentuk tingkah laku tertentu yang secara relatif permanen. Selanjutnya,

      Gagne dan Snelbecker (Mukminan, 1998: 1) mengemukakan bahwa

      disamping permanen, perubahan tingkah laku tersebut hendaknya bukan

      disebabkan oleh proses pertumbuhan fisik dan juga bukan karena

      perubahan kondisi fisik yang temporer sifatnya.

             Atas dasar definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar

      selalu melibatkan tiga hal pokok, yaitu; adanya perubahan tingkah laku,

      sifat perubahannya relatif permanen, serta perubahan tersebut disebabkan

      oleh interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun

      perubahan-perubahan kondisi fisik yang temporer sifatnya.

             Oleh karena itu, pada prinsipnya belajar adalah proses perubahan

      tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-




                                      6
   sumber belajar, baik sumber yang didesain maupun yang dimanfaatkan.

   Proses belajar tidak hanya terjadi karena adanya interaksi antara siswa dan

   guru. Hasil belajar yang maksimal dapat pula diperoleh lewat interaksi

   antara siswa dengan sumber-sumber belajar lainnya.



2. Prestasi Belajar Matematika

   a. Pengertian Prestasi Belajar Matematika

              Menurut Syaiful Bahri Djamarah (1994: 21) bahwa prestasi

     adalah hasil yang dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun

     kelompok.     Selanjutnya,   Poerwadarminta      (Syaiful,   1994:   20)

     mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai

     (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Sedangkan, Nasrun Harahap

     berpendapat bahwa prestasi adalah penilaian pendidikan tentang

     perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan

     bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang

     terdapat dalam kurikulum (Syaiful, 1994: 21).

              Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi

     adalah hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan yang dilakukan baik

     secara individu maupun kelompok tentang perkembangan dan kemajuan

     siswa baik berupa penguasaan bahan pelajaran maupun berupa nilai-

     nilai.

              Menurut Nasution (1982: 34) belajar adalah aktivitas yang

     mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri seseorang. Selanjutnya,




                                    7
Gage dan Berliner (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 116) mengungkapkan

bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang membuat

seseorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari

pegalaman yang diperolehnya. Sedangkan, Winkel (1999: 59)

mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis,

yang berlangsung dalam interaksi aktif dan lingkungan yang

mengakibatkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan pemahaman,

keterampilan dan nilai sikap, perubahan itu bersifat secara relatif

konstan dan berbekas.

        Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar

adalah suatu aktivitas mental/psikis yang mengakibatkan perubahan

tingkah laku sebagai hasil dari pegalaman yang diperolehnya.

        Menurut Syaiful (1994: 24) prestasi belajar adalah hasil

penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa setelah melakukan

aktivitas belajar. Sedangkan, Nurkencana (1987: 2) menjelaskan bahwa

prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang setelah

yang bersangkutan mengalami proses belajar dalam jangka waktu

tertentu.

        Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa berupa kemajuan

setelah melakukan aktivitas belajar dalam jangka waktu tertentu.

        Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan

bahwa prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai




                              8
     oleh seseorang setelah mengalami proses belajar matematika yang

     dilalui secara sadar dan diwujudkan dalam bentuk perubahan sikap,

     tingkah laku, dan keterampilan menggunakan matematika dalam

     kehidupan sehari-hari.

   b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

            Ruseffendi (1992: 14) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang

     mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar ada dua yaitu :

     a. Faktor dari dalam atau internal, meliputi; kecerdasan anak, kesiapan

         anak, bakat anak, kemampuan belajar dan minat belajar anak.

     b. Faktor dari luar atau eksternal, meliputi; model pengajaran guru,

         pribadi dari guru yang mengajar, kompetensi diri dan kondisi luar.

            Sedangkan Djazuli (1994: 78) mengatakan bahwa faktor-faktor

     yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah tingkat intelegensi,

     faktor psikologis, bakat, minat dan motivasi.

          Dari kedua pendapat di atas, terlihat bahwa faktor siswa meliputi

   kecerdasan, kesiapan, bakat, minat, motivasi dan suasana belajar sangat

   menentukan berhasil atau gagalnya siswa dalam mengikuti kegiatan

   belajar mengajar.



3. Pendekatan Pembelajaran

          Pendekatan pembelajaran dapat berarti aturan pembelajaran yang

   berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan

   psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran




                                    9
   belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 185). Selanjutnya, Karso (1993: 45)

   mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran adalah arah suatu

   kebijaksanaan yang ditempuh guru atau siswa dalam mencapai tujuan

   pengajaran dilihat dari bagaimana materi disajikan. Sedangkan, Udin dan

   Winata Putra (1994: 124) menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran

   adalah jalan atau cara yang digunakan oleh guru atau pembelajar untuk

   memungkinkan siswa belajar.

            Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan

   pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru dalam menyajikan

   suatu materi yang memungkinkan siswa belajar untuk mencapai tujuan

   pembelajaran.



4. Pembelajaran Kontekstual

            Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning

   (CTL) menurut Elaine B. Johnson (2007: 67) mengungkapkan bahwa CTL

   adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa

   melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan

   cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam

   kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi,

   sosial    dan   budaya   mereka.    Sementara   itu,   Bandono   (2008)

   mengungkapkan bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL)

   merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu

   siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya




                                  10
terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial

dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang

dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif

pemahamannya.

      Sedangkan, The washington State Consortium for Contextual

Teaching and Learning (Nurhadi, 2004: 12) mengungkapkan bahwa

pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa

memperkuat, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan

akademisnya dalam berbagai latar sekolah dan di luar sekolah untuk

memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata. Pembelajaran

kontekstual terjadi ketika siswa menerapkan dan mengalami apa yang

diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah real yang berasosiasi

dengan peranan dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga,

anggota masyarakat, siswa dan selaku pekerja. Pengajaran dan

pembelajaran kontekstual menekankan berpikir tingkat tinggi, transfer

pengetahuan melalui disiplin ilmu, dan mengumpulkan, menganalisis dan

mensintesiskan informasi dan data dari berbagai sumber dan sudut

pandang.

      Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata

ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan

mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan




                              11
keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari

proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah

dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

       Untuk mencapai tujuan ini, menurut Elaine B. Johnson (Nurhadi,

2004: 13-14) ada delapan komponen utama dalam sistem pembelajaran

kontekstual yaitu sebagai berikut:

a. Melakukan      hubungan     yang    bermakna     (making   meaningful

   connections)

   Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara

   aktif dalam mengembangkan minatnya secara individu, orang yang

   dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang

   dapat belajar sambil berbuat.

b. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work)

   Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai

   konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan

   anggota masyarakat.

c. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning)

   Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan; ada tujuannya, ada

   urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan

   pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatya nyata.




                                12
d. Bekerja sama (collaborating)

   Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara

   efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana

   mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

e. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking)

   Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara

   kritis dan kreatif; dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan

   masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-

   bukti.

f. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual)

   Siswa memelihara pribadinya; mengetahui, memberi perhatian,

   memiliki harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat

   diri sendiri.

g. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)

   Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi; mengidentifikasi

   tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya.

h. Menggunakan penilaian autentik (using authentic assesment)

   Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata

   untuk suatu tujuan yang bermakna.

       Adapun prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual menurut Nurhadi

(2004: 20-21) yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah sebagai

berikut:




                                 13
a. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan

   mental siswa (developmentally).

   Hubungan antara isi kurikulum dan metodologi yang digunakan untuk

   mengajar harus didasarkan kepada kondisi sosial, emosional dan

   perkembangan intelektual siswa. Jadi, usia siswa dan karakteristik

   individual lainnya serta kondisi sosial dan lingkungan budaya siswa

   haruslah menjadi perhatian di dalam merencanakan pembelajaran.

b. Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung (independent

   learning groups)

   Siswa saling belajar dari sesamanya di dalam kelompok-kelompok

   kecil dan belajar bekerja sama dalam tim lebih besar (kelas).

   Kemampuan itu merupakan bentuk kerjasama yang diperlukan oleh

   orang dewasa di tempat kerja dan konteks lain. Jadi, siswa diharapkan

   untuk berperan aktif.

c. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri

   (self-regulated learning)

   Lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self-regulated

   learning) memiliki tiga karakteristik umum, yaitu kesadaran berpikir,

   penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan.

d. Mempertimbangkan keragaman siswa (disversity of students)

   Di kelas guru harus mengajar siswa dengan berbagai keragaman,

   misalnya latar belakang suku bangsa, status sosial-ekonomi, bahasa

   utama yang dipakai di rumah, dan berbagai kekurangan yang mungkin




                               14
      mereka miliki. Dengan demikian, guru diharapkan dapat membantu

      siswa untuk mencapai tujuan pembelajarannya.

   e. Memperhatikan multi-intelegensi (multiple intelegences)

      Dalam melayani siswa di kelas, guru harus memadukan berbagai

      strategi pendekatan pembelajaran kontekstual sehingga pengajaran

      akan efektif bagi siswa dengan berbagai intelegensinya.

   f. Menggunakan        teknik-teknik       bertanya   (questioning)      untuk

      meningkatkan     pembelajaran      siswa,    perkembangan      pemecahan

      masalah, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi

   g. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment)

      Penilaian autentik mengevaluasi penerapan pengetahuan dan bepikir

      kompleks seorang siswa, daripada hanya sekadar hafalan informasi

      aktual.



5. Bangun Ruang Sisi Lengkung

          Bentuk bangun ruang sisi lengkung banyak kita jumpai dalam

   kehidupan sehari-hari, misalnya bentuk tabung seperti kaleng kemasan

   makanan atau minuman, bentuk kerucut seperti tempat es krim, bentuk

   bola seperti globe dan lain sabagainya.

   a. Unsur-Unsur pada tabung dan kerucut

       Unsur-unsur pada tabung

          Tabung merupakan prisma tegak yang alasnya berupa lingkaran.

          Tabung terdiri dari sisi alas yang disebut alas, sisi atas yang disebut




                                    15
   tutup, dan sisi lengkung yang disebut selimut tabung (Sugijono,

   2007: 65).



        P                Q

         t                            gbr. i

       A                 B
                 C

   Sisi alas dan sisi atas (tutup) tabung berbentuk lingkaran yang

   kongruen (bentuk dan ukurannya sama).

   Garis OA,OB, dan OC disebut jari-jari alas tabung.

   Garis AB disebut diameter atau garis tengah alas tabung.

   Garis BQ atau AP disebut tinggi tabung.

 Unsur-unsur pada kerucut

   Kerucut merupakan limas yang alasnya berbentuk lingkaran.

   Kerucut terdiri dari sisi als yang berbentuk lingkaran dan sisi

   lengkung yang disebut selimut kerucut (Sugijono, 2007: 66).

                     T


                                      gbr. ii
                 t

            A                B

                     C

   Garis OA, OB, dan OC disebut jari-jari alas kerucut.

   Garis AB disebut diameter atau garis tengah alas kerucut.

   Garis TO disebut tinggi kerucut.




                                 16
      Garis TA dan TB yaitu garis yang menghubungkan titik puncak

      kerucut dengan titik pada keliling alas disebut garis pelukis

      kerucut.

b. Jaring-Jaring Tabung dan Kerucut

    Jaring-jaring tabung


                                   P                      P
             P               Q
                                            2r
             t                                            t

             A               B
                                  Q
                                                          Q
                    C
                                 gbr. iii



      Gambar (iii) menunjukkan sebuah tabung dengan panjang jari-jari

      alas r dan tinggi t. tabung tersebut diiris menurut rusuk lengkung

      atas, rusuk lengkung bawah dan garis PQ. Kemudian direbahkan

      sehingga menjadi bidang datar seperti gambar (iv). Bangun datar

      pada gambar (iv) disebut jaring-jaring tabung. Jaring-jaring tabung

      terdiri dari dua lingkaran yang sama dan sebangun (kongruen) serta

      sebuah persegi panjang yang berasal dari selimut tabung dengan :

      Panjang = keliling lingkaran alas

      Lebar = tinggi tabung

      Perlu diingat bahwa:

      Luas lingkaran =r2 dan keliling lingkaran = 2r (Sugijono, 2007:

      66).




                                    17
    Jaring-jaring kerucut

                        T



                    t                                 2r

              P               Q


                                       gbr. iv


      Gambar (v) menunjukkan sebuah kerucut dengan panjang jari-jari

      alas r dan tinggi t. TQ adalah garis pelukis. Dengan menghgunakan

      teorema Pythagoras diperoleh TQ2 = t2 + r2, sehingga

      TQ  t 2  r 2 .

      Kerucut pada gambar (v) diris menurut rusuk lengkung dan garis

      pelukis TQ, kemudian direbahkan sehingga menjadi bidang daar

      seperti pada gambar (vi). Bangun datar pada gambar (vi) disebut

      jaring-jaring kerucut. Jaring-jaring kerucut terdiri dari sebuah

      lingkaran dan sebuah juring lingkaran yang berasal dari selimut

      kerucut dengan panjang busur pada juring = keliling lingkaran alas

      (Sugijono, 2007: 67).

c. Luas permukaan Tabung, Kerucut, dan Bola

    Luas permukaan tabung

          P                       P

                   2r            t      gbr. v

          Q                       Q




                                  18
   Dari gambar di atas dapat diamati bahwa jaring-jaring selimut (sisi

   lengkung) tabung berbentuk persegi panjang dengan ukuran

   sebagai berikut:

   Panjang selimut tabung = keliling lingkaran alas tabung

   Lebar selimut = tinggi tabung

   Maka, luas selimut tabung dan luas permukaan tabung dapat

   ditentukan dengan rumus:

   Luas selimut tabung = keliling alas x tinggi

                           = 2r x t

                           = 2rt

   Luas permukaan tabung = luas alas + luas tutup + luas selimut

                             = r2 + r2 + 2rt


                             = 2r(r + 1)


                           22
   dengan  = 3,14 atau       ; r = jari-jari; t = tinggi
                           7

 Luas permukaan kerucut



                                       gbr. vi
             s         s

                 2r



   Gambar di atas adalah jaring-jaring selimut kerucut yang diiris

   menurut garis pelukis s. Ternyata, jaring-jaring selimut kerucut

   merupakan juring lingkaran dengan ukuran sebagai berikut:



                              19
      Panjang jari-jari = s (garis pelukis)

      Panjang busur = 2r (keliling lingkaran alas)

      Untuk setiap kerucut berlaku rumus berikut:

      Luas selimut kerucut = rs

      Luas permukaan kerucut = r2 + rs atau r(r + s)

                             22
      dengan  = 3,14 atau      ; s = jari-jari
                             7

    Luas permukaan bola

      Bola merupakan tumpukan dari empat buah lingkaran. Keempat

      lingkaran tersebut dinamakan kulit bola. Untuk setiap bola berlaku

      rumus:

      Luas permukaan bola = 2 x luas permukaan setengah bola

                             = 2 x (2 x luas lingkaran)

                             = 2 x (2 x r2)

                             = 4r2

                             22
      dengan  = 3,14 atau      ; r = jari-jari
                             7

d. Volume tabung, kerucut, dan bola

    Volume tabung

      Volume tabung (V)      = volume prisma

                             = luas alas prisma x tinggi prisma

                             = luas alas tabung x tinggi tabung

                             = luas lingkaran x t

                             = r2 x t



                                20
                        = r2t

   dengan V = Volume tabung; r = jari-jari; t = tinggi dan nilai

                 22
   =3,14 atau      .
                 7

 Volume kerucut

   Volume kerucut (V) = volume limas

                            1
                        =     x luas alas x tinggi
                            3

                            1
                        =     x r2 x t
                            3

                            1 2
                        =     r t
                            3

   dengan V = Volume kerucut; r = jari-jari; t = tinggi dan nilai

                 22
   =3,14 atau      .
                 7

 Volume bola

   Volume bola (V)      = 2 x 2 x volume kerucut

                                 1 2
                        =4x        r t
                                 3

                            4 2
                        =     r t
                            3

   dengan V = Volume bola; r = jari-jari; t = tinggi dan nilai =3,14

          22
   atau      .
          7




                            21
e. Perubahan volume

   Besar volume suatu tabung dan kerucut akan bergantung pada ukuran

   panjang jari-jari alas dan tinggi, sedangkan besar volume bola hanya

   bergantung pada panjang jari-jarinya. Dengan demikian, jika panjang

   jari-jari suatu tabung, kerucut, atau bola berubah ukurannya, maka

   volumenya juga akan berubah (Sugijono, 2007: 89).

    Perbandingan volume

      Dengan adanya perubahan volume pada tabung, kerucut, atau bola

      yang disebabkan adanya perubahan panjang jari-jarinya, maka

      dapat ditentukan perbandingan antara volume bangun mula-mula

      dengan volume bangun setelah mengalami perubahan.

    Besar perubahan volume

      Untuk menghitung besar perubahan volume pada tabung, kerucut,

      maupun bola dapat dilakukan dengan cara menghitung selisih

      antara volume bangun mula-mula dengan bangun setelah

      mengalami perubahan. Jika volume mula-mula V1, dan volume

      setelah mengalami perubahan V2, maka besar perubahan

      volumenya adalah V = V2 – V1

f. Penerapan bangun ruang sisi lengkung

   Dalam kehidupan sehari-hari bentuk bangun ruang sisi lengkung

   banyak kita jumpai, misalnya bentuk tabung seperti kaleng kemasan

   makanan atau minuman, bentuk kerucut seperti tempat es krim, bentuk

   bola seperti globe dan lain sabagainya. Untuk menentukan luas




                              22
      permukaan maupun volume dari kaleng kemasan makanan atau

      minuman, es krim, atau globe sama dengan menentukan luas

      permukaan maupun volume dari tabung, kerucut, atau bola. Akan

      tetapi, untuk mempermudah dalam menyelesaikan soal-soal yang

      berkaitan dengan hal tersebut, dapat dilakukan terlebih dahulu dengan

      membuat sketsanya.



6. Penerapan Pembelajaran Kontekstual

          Adapun langkah-langkah penerapan pembelajaran kontekstual

   adalah sebagai berikut:

   a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna

      dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan

      sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

   b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry.

   c. Kembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya.

   d. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)

   e. Hindarkan model sebagai contoh pembelajaran.

   f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

   g. Lakukan penilaian yang sebenarnya.

          Dalam penelitian ini akan diterapkan pembelajaran kontekstual

   pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung. Keterkaitan antara materi

   yang diajarkan antara siswa akan membantu mempermudah pemahaman




                                  23
      siswa tentang matematika khususnya pada pokok bahasan bangun ruang

      sisi lengkung.



B. Hasil Penelitian Yang Relevan

          Hasil penelitian yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang

   dilakukan oleh M. Yani (2004) yaitu meningkatkan prestasi belajar pokok

   bahasan bilangan bulat melalui pendekatan pembelajaran kontekstual pada

   siswa kelas I SMP Negeri 1 Selong tahun pelajaran 2004/2005. Hasil

   penelitian   ini    memberikan   kesimpulan    bahwa    dengan    pendekatan

   pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dari

   63,7% (siklus pertama) meningkat menjadi 87,5% (siklus kedua).

          Hasil penelitian lain yang mendukung adalah hasil penelitian yang

   diakukan oleh Gazali (2004) tentang penerapan pembelajaran kontekstual

   pada pokok bahasan himpunan pada siswa kelas I di SMP Negeri 2 Mataram

   tahun pelajaran 2004/2005 memberikan hasil bahwa dengan pembelajaran

   kontekstual siswa dapat meningkatkan prestasi belajar yaitu sebesar 27,5%.



C. Kerangka Berpikir

          Berdasarkan deskripsi teoritis tersebut, maka berikut ini akan

   dikemukakan beberapa dasar pemikiran yaitu dalam proses belajar mengajar

   tidak luput dari metode mengajar seorang guru. Untuk itu, strategi mengajar

   yang salah dan terus menerus diberikan kepada siswa akan mempengaruhi

   struktur otak siswa yaitu kecerdasan, bakat serta minat siswa yang pada




                                      24
akhirnya akan mempengaruhi cara siswa berprilaku. Guru dituntut memiliki

kemampuan dalam menentukan metode pembelajaran yang digunakan dalam

proses belajar mengajar. Metode pembelajaran yang sering digunakan adalah

adalah metode ceramah.

        Dalam proses belajar mengajar matematika dengan menggunakan

metode ceramah peran guru lebih dominan yang mengakibatkan kurangnya

keterlibatan atau peran aktif siswa dalam pembelajaran sehingga siswa

menjadi pasif, sedangkan guru aktif. Aktivitas siswa terbatas pada

mendengarkan, mencatat dan menjawab bila guru memberikan pertanyaan.

Siswa hanya bekerja karena atas perintah guru, menurut cara yang ditentukan

guru, begitu juga berfikir menurut apa yang digariskan oleh guru. Proses

belajar mengajar seperti ini jelas tidak mendorong siswa untuk berfikir. Hal ini

tentu tidak sesuai dengan hakekat pribadi siswa sebagai pebelajar. Oleh karena

itu, perlu diupayakan model pembelajaran yang lebih efektif. Dalam penelitian

ini pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan pembelajaran kontekstual

yang dapat membuat siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar, siswa

dibiasakan untuk belajar memecahkan masalah sendiri dan bergelut dengan

ide-ide, serta menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendisi

dalam   belajar.   Dengan    demikian,   dengan    menggunakan      pendekatan

pembelajaran kontekstual prestasi belajar siswa akan meningkat.




                                    25
       Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema kerangka berfikir di

bawah ini:


             1.        Guru Menjelaskan dengan menggunakan metode ceramah
             2.        Guru menjelaskan dengan monoton
             3.        Siswa tidak diberikan kesempatan untuk bertanya
             4.        Aktivitas guru lebih mendominasi dibandingkan siswa



                       1.    Siswa Pasif atau kurang aktif
                       2.    Siswa tidak bisa mengeluarkan pendapat
                       3.    Siswa tidak bisa kerja kelompok
                       4.    Siswa tidak bisa mandiri dalam mengerjakan tugas




                                      Pembelajaran Kontekstual
                                  (Contextual Teaching and Learning)



                  1.        Siswa lebih aktif
                  2.        Siswa bisa mengeluarkan pendapat
                  3.        Siswa bisa kerja kelompok
                  4.        Siswa bisa mandiri dalam mengerjakan tugas




   Prestasi belajar siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga diharapkan dapat meningkat
              dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual
  pada pokok bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung di kelas IX C SMP NW Kalijaga




                                               26
D. Hipotesis Tindakan

          Menurut Yatim Riyanto (2001: 16) hipotesis merupakan jawaban yang

   sifatnya sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian.

   Sementara itu, Suharsimi Arikunto (2002: 64) berpendapat bahwa hipotesis

   merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan

   penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Selanjutnya,

   Nasution (2002: 39) mengemukakan bahwa hipotesis adalah pernyataan

   tentatif yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati

   dalam usaha untuk memahaminya.

          Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

   hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalah penelitian

   berupa dugaan sementara yang pembuktian kebenarannya harus diuji.

          Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis yang diajukan

   dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran kontekstual dapat

   meningkatkan prestasi belajar pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung

   pada siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun ajaran 2008/2009.




                                      27
                                    BAB III

                           METODE PENELITIAN



A. Setting Penelitian

          Penelitian ini dilakukan di SMP NW Kalijaga pada kelas IX C tahun

   ajaran 2008/2009 dengan jumlah siswa yaitu 29 siswa dan rencana

   pelaksanaan penelitian selama 6 bulan.

          Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik penelitian tindakan

   kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu

   pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja

   dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama (Suharsimi

   Arikunto, 2008: 3). Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru

   mata pelajaran matematika di SMP NW Kalijaga dalam menentukan

   permasalahan,     menyusun      rencana    tindakan,    mengimplementasikan,

   memantau, dan melakukan refleksi terhadap proses pelaksanaan tindakan.

   Siswa berperan sebagai subjek dalam tindakan pembelajaran yang dikelola

   oleh guru.



B. Faktor Yang Diselidiki

          Dari permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, ada beberapa

   faktor yang akan diteliti diantaranya adalah sebagai berikut:

   1. Faktor dari siswa

      Kemampuan siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga dalam memahami




                                        28
            konsep bangun ruang sisi lengkung setelah menggunakan pendekatan

        pembelajaran kontekstual.

    2. Faktor dari guru

        Melihat cara guru dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan

        pendekatan pembelajaran kontekstual pada pokok bahasan bangun ruang

        sisi lengkung.



C. Rencana Tindakan

              Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini direncanakan selama tiga

    siklus, tiap siklus dilaksanakan sesuai skenario yang telah dibuat. Ada empat

    tahapan yang dilaksanakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu

    perencanaan        (planning),        pelaksanaan         tindakan   (acting),   pengamatan

    (observing) dan refleksi (reflecting).

              Adapun bagan dan penjelasan dari keempat tahapan tersebut adalah:
                                          Rencana Tindakan
                            Refleksi

 Siklus 1      Observasi

                            Pelaksanaan
                             Tindakan


                                          Rencana Tindakan
                            Refleksi

               Observasi
 Siklus 2
                            Pelaksanaan
                             Tindakan


                                           Rencana Tindakan
                             Refleksi
 Siklus 3
                Observasi

                             Pelaksanaan                       (Suharsimi Arikunto, 2008: 16)
                              Tindakan



                                                  29
Siklus I

1. Perencanaan Tindakan Siklus I

       Sebelum pelaksanaan tindakan, beberapa hal yang perlu direncanakan

  secara baik, antara lain sebagai berikut:

  a. Membuat       rencana    pelaksanaan       pembelajaran   sesuai   dengan

      pendekatan pembelajaran kontekstual.

  b. Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya

      tindakan. Sarana pembelajaran ini dapat berupa misalnya media

      pembelajaran, Lembar Kerja Siswa.

  c. Mempersiapkan instrumen penelitian, yaitu lembar observasi untuk

      mengamati aktivitas belajar siswa dan lembar observasi kegiatan guru ,

      dan instrumen asessemen untuk mengukur hasil belajar siswa, serta

      pedoman observasi aktivitas belajar siswa.



2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I

       Jika perencanaan telah selesai dilakukan, maka skenario tindakan

  dapat dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang aktual. Tindakan

  dilaksanakan     sejalan   dengan      laju     perkembangan    pelaksanaan

  pembelajaran, dan tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan

  belajar mengajar.



3. Observasi Siklus I

       Pada saat pelaksanaan tindakan, kegiatan observasi dilakukan secara




                                   30
   bersamaan. Secara umum, kegiatan observasi dilakukan untuk merekam

  proses yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini

  dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan menggunakan lembar

  observasi, dimana pada tahap ini guru dan siswa diobservasi oleh peneliti,

  apakah    pembelajaran    sudah      sesuai   dengan   rencana   pelaksanaan

  pembelajaran yang telah dibuat bersama.



4. Refleksi Siklus I

       Pada    dasarnya    refleksi    merupakan    kegiatan   analisis-sintesis,

  interpretasi, dan eksplanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang

  diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Informasi yang terkumpul perlu

  diurai, dicari kaitan antara yang satu dengan yang lainnya, dibandingkan

  dengan pengalaman sebelumnya, dikaitkan dengan teori tertentu, dan atau

  hasil penelitian yang relevan. Melalui proses refleksi yang mendalam

  dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam. Refleksi merupakan

  bagian yang amat penting untuk memahami dan memberikan makna

  terhadap proses dan hasil (perubahan) yang terjadi sebagai akibat adanya

  tindakan (intervensi) yang dilakukan. Hasil refleksi digunakan untuk

  menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan

  perbaikan.

           Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan sebagai berikut:

     AnalisisPemaknaanPenjelasanPenyimpulanTindak Lanjut




                                      31
   Siklus II

           Siklus II merupakan perbaikan dari siklus I dimana tahap

     pelaksanaannya sama dengan siklus I yaitu perencanaan tindakan,

     pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pelaksanaan siklus II ini

     mengacu pada hasil refleksi pada siklus I. Jika siklus II hasil belajar belum

     tuntas maka dilanjutkan ke siklus berikutnya.



D. Teknik Pengumpulan Data

         Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX C dan guru

  mata pelajaran matematika dengan menggunakan instrumen. Instrumen untuk

  mengukur keberhasilan tindakan dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses

  dan sisi hal yang diamati. Dari sisi proses yaitu      instrumen untuk input,

  instrumen untuk proses dan instrumen untuk output. Sedangkan,dari sisi yang

  diamati yaitu instrumen untuk mengamati guru (observing teachers) yaitu

  pengamatan terhadap keterlaksanaan tindakan, instrumen untuk mengamati

  kelas (observing classroom) yaitu pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan

  dan instrmen untuk mengamati siswa (observing students) yaitu pengamatan

  terhadap hasil tindakan. Dalam pengambilan data, peneliti menggunakan tes

  hasil belajar berupa tes essay sebanyak 4 soal dengan bobot nilai masing-

  masing soal tergantung dari kesulitan soal yaitu soal nomor 1 nilainya 15,

  nomor 2 nilainya 25, nomor 3 nilainya 30 dan nomor 4 nilainya 30 dan lembar

  pengamatan (observasi) berupa lembar observasi kegiatan guru dan lembar

  observasi aktivitas belajar siswa.




                                       32
           Teknik pengumpulan data ini secara singkat dapat dilihat pada gambar

    di bawah ini:



                               observasi                          Tes



       Lembar observasi kegiatan guru
                                                   Data           Tes hasil belajar
Lembar observasi aktivitas belajar siswa




E. Teknik Analisis Data

           Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yang

    telah diperoleh dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

    1. Data dari lembar pengamatan (observasi)

        Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis dengan statistik

        deskriptif. Statistik deskriptif ini meliputi penentuan skor maksimal ideal

        (SMi), harga rata-rata ideal (Mi) dan simpangan baku ideal (SDi).

               1
        Mi =     (Skor maksimal + Skor minimal)
               2

                1
        SDi =     (Skor maksimal – Skor minimal).
                6

        Untuk mempermudah pengkategorian data yang diperoleh dalam

        penelitian ini ada lima kategori yang digunakan yaitu kategori norma

        relatif skala lima sesuai pada tabel di bawah ini.




                                           33
                               Tabel 01:
    Pedoman Konversi Norma Relatif Skala Lima Aktivitas Belajar Siswa
                     Kelas IX C SMP NW Kalijaga

                     Interval                     Kategori

         Mi + 1,5 SDi ≤ A ≤ Mi + 3 SDi          Sangat Aktif

        Mi + 0,5 SDi ≤ A < Mi + 1,5 SDi             Aktif

        Mi - 0,5 SDi ≤ A < Mi + 0,5 SDi         Cukup Aktif

         Mi - 1,5 SDi ≤ A < Mi - 0,5 SDi        Kurang Aktif

         Mi – 3 SDi ≤ A < Mi – 1,5 SDi      Sangat Kurang Aktif



   Untuk data aktivitas belajar siswa dikatakan berhasil jika rata-rata skor

   siswa untuk setiap aktivitas termasuk pada kriteria aktif dan sangat aktif

   yaitu berada pada kategori Mi + 0,5 SDi ≤ A ≤ Mi + 3 SDi. Sedangkan,

   untuk menganalisis      data yang diperoleh tersebut, maka rumus yang

                           x
   digunakan adalah A 
                           n

    keterangan : A = rata-rata skor siswa untuk setiap aktivitas

                  x = Jumlah skor yang diperoleh siswa

                   n = Banyaknya siswa

2. Data dari tes hasil belajar

   Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah

   tercapainya ketuntasan belajar dengan rumus sebagai berikut:

              n
         p     x100%
              N




                                   34
       dimana, p = Proporsi aktual

                   n = Jumlah seluruh siswa yang memperoleh nilai  65

                   N = Jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes

           Jika p  85%, maka belajar dikatakan tuntas secara klasikal dan

       jika p < 85% maka belajar dikatakan belum tuntas.

       Adapun indikator ketuntasan belajar dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Perorangan, apabila mampu menyerap minimal 65% dari materi yang

   disampaikan, yang akan terlihat pada hasil evaluasi dimana siswa dapat

   mencapai minimal 65 pada saat evaluasi.

2. Klasikal, apabila 85% atau lebih dari siswa di kelas mencapai ketuntasan

   perorangan, yang akan terlihat pada hasil evaluasi minimal 85% siswa

   mencapai nilai minimal 65. Sebagai indikator keberhasilan pada penelitian

   ini adalah tercapainya ketuntasan klasikal.




                                      35
                                     BAB IV

                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Persiapan Penelitian

         Sebelum     melakukan     penelitian,   maka   suatu    persiapan   dalam

   mengumpulkan data perlu dipersiapkan sebaik-baiknya agar memperoleh

   kesimpulan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

   Kaitannya dengan itu, persiapan yang dilakukan meliputi observasi ke lokasi

   penelitian yaitu di SMP NW Kalijaga kelas IX C, dimana kelas IX C

   merupakan tempat diadakannya penelitian karena di kelas tersebut tempat

   adanya masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa dalam proses belajar

   mengajar khususnya dalam belajar matematika. Dari hasil observasi tersebut,

   dapat disimpulkan bahwa kurangnya minat siswa, kurangnya motivasi, dan

   kurangnya kreativitas siswa sehingga mengakibatkan prestasi belajar siswa

   tidak memuaskan.



B. Deskripsi Data

         Data tentang aktivitas belajar siswa selama proses belajar mengajar

   berlangsung dapat dilihat pada lampiran. Nilai mean ideal (Mi) = 15 dan

   standar deviasi ideal (SDi) = 3,3. Sehingga nilai interval data aktivitas belajar

   siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini.




                                        36
                                 Tabel 02
     Kategoti Aktivitas Belajar Siswa Dalam Proses Belajar Mengajar
                      Kelas IX C SMP NW Kalijaga

                         Interval                  Kategori

                   19,95 ≤ A ≤ 24,9              Sangat Aktif

                  16,65 ≤ A < 19,95                  Aktif

                  13,35 ≤ A < 16,65              Cukup Aktif

                  10,05 ≤ A < 13,35              Kurang Aktif

                      5,1 ≤ A < 10,05         Sangat Kurang Aktif




C. Hasil Penelitian

         Penelitian    ini   dilakukan   untuk    meningkatkan      prestasi   belajar

   matematika siswa khususnya pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung

   deangan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual dengan teknik

   penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian ini dilakukan

   selama 5 bulan yaitu dari tanggal 2 Agustus 2008 sampai dengan 30 Desember

   2008 mulai dari pembuatan rencana penelitian sampai dengan pelaporan hasil

   penelitian.

         Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari

   empat tahapan kegiatan yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan

   satu dengan yang lainnya dan berkesinambungan. Tahapan yang dilaksanakan

   dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi perencanaan (planning),




                                         37
pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi

(reflecting).

  1. Siklus I

    a. Perencanaan (planning)

        Pada tahapan perencanaan ini, peneliti mempersiapkan semua hal yang

        berkaitan dan mendukung dalam pelaksanaan tindakan penelitian

        siklus I. Adapun beberapa hal yang dipersiapkan dalam tahapan

        perencanaan ini adalah:

           Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

            Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat mengacu kepada

            metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar

            mengajar. Untuk lebih jelasnya rencana pelaksanaan pembelajaran

            dapat dilihat pada lampiran.

               Pedoman observasi aktivitas belajar siswa

            Pedoman observasi aktivitas belajar siswa ini berisi lima indikator

            dan tiap indikator terdiri dari empat deskriptor. Kelima indikator

            tersebut diantaranya; (1). Aktivitas siswa daam proses belajar

            mengajar, (2). Interaksi siswa dengan siswa, (3). Interaksi siswa

            dalam kelompok, (4). Interaksi siswa dengan guru, (5). Partisipasi

            siswa dalam menyimpulkan hasil belajar. Secara jelas pedoman

            observasi aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada lampiran.




                                       38
      Lembar observasi aktivitas belajar siswa

       Lembar observasi aktivitas belajar siswa mengacu kepada pedoman

       observasi aktivitas belajar siswa yang sudah dibuat sebelumnya.

       Lembar observasi aktivitas belajar siswa ini berisi isian tentang

       hasil observasi aktivitas belajar siswa yang dilakukan oleh

       observer. Adapun lembar observasi aktivitas belajar siswa dapat

       dilihat pada lampiran.

      Lembar observasi kegiatan guru

       Lembar observasi kegiatan guru mengacu kepada kegiatan guru

       yang ada di rencana pelaksanaan pembelajaran. Lembar observasi

       kegiatan guru berisi isian tentang hasil observasi kegiatan guru

       yang dilakukan oleh observer. Adapun lembar observasi kegiatan

       guru dapat dilihat pada lampiran.

      Instrumen

       Instrumen yang dibuat untuk pegambilan data tentang prestasi

       belajar siswa berupa tes yaitu dalam bentuk essay yang terdiri dari

       4 soal. Tiap soal memiliki skor yang berbeda-beda yaitu soal

       nomor 1 skornya 15, soal nomor 2 skornya 25, soal nomor 3

       skornya 30 dan soal nomor 4 skornya 30. Adapun soal evaluasi

       siklus I dapat dilihat pada lampiran.

b. Pelaksanaan Tindakan (acting)

   Pelaksanaan     tindakan     mengacu    kepada   rencana   pelaksanaan

   pembelajaran yang sudah dibuat sebelumnya. Pada siklus I ini,




                                 39
    tindakan dilakukan selama dua kali pertemuan. Pertemuan pertama

    dilaksanakan pada hari senin, 3 November 2008 pada jam kelima dan

    keenam, mulai pukul 10.30 Wita sampai dengan pukul 11.50 Wita

    (selama 2 jam pelajaran). Sedangkan pertemuan kedua dilaksanakan

    pada hari selasa, 4 November 2008 pada jam ketiga dan keempat,

    mulai pukul 08.50 Wita sampai dengan 10.10 Wita (selama 2 jam

    pelajaran). Untuk lebih jelasnya, jadwal pelaksanaan tindakan pada

    siklus I ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

                            Tabel 03
              Jadwal Pelaksanaan Tindakan Siklus I
                 Kelas IX C SMP NW Kalijaga

  Hari           Tanggal           Waktu (Wita)             Ket.

Senin        3 November 2008      10.30 – 11.50       2 jam pelajaran

Selasa `     4 November 2008      08.50 – 10.10       2 jam pelajaran



c. Observasi (observing)

    Pelaksanaan observasi ini bersamaan dengan pelaksanaan tindakan

    yaitu selama proses belajar mengajar berlangsung. Adapun yang

    melakukan observasi yaitu peneliti sendiri yang kemudian disebut

    sebagai observer. Adapun hasil observasi pada siklus I ini adalah

    sebagai bebrikut:

     Pertemuan pertama

        Proses belajar mengajar pada siklus I petemuan pertama ini

        berlangsung selama 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit. Materi yang




                                  40
dibahas pada pertemuan pertama ini adalah unsur-unsur pada tabung

dan kerucut serta jaring-jaring tabung dan kerucut. Adapun hasil

observasi kegiatan guru adalah sebagai berikut:

 Guru belum menanyakan rangkuman materi yang sudah

  diberikan.

 Guru masih kurang memberikan bimbingan kepada siswa yang

  mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang

  diberikan.

 Penggunaan waktu masih kurang sesuai dengan rencana

  pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat.

Sedangkan hasil observasi aktivitas belajar siswa adalah sebagai

berikut:

 Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran masih kurang

  dalam merespon atas stimulasi yang diberikan oleh guru atau

  siswa lainnya.

 Interaksi siswa dengan siswa lainnya masih kurang disebabkan

  karena masih malu dan takut salah dalam merespon pertanyaan

  dari temannya.

 Antusias siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar sudah

  cukup baik, akan tetapi masih banyak siswa yang belum fokus

  pada pelajaran dan masih terpengaruh dengan situasi di luar kelas.




                          41
   Masih ada beberapa siswa kurang siap dalam menerima pelajaran.

    Hal ini disebabkan karena siswa belum memiliki pengetahuan

    awal tentang materi yang akan dipelajari.

   Kerja sama kelompok masih kurang. Hal ini disebabkan karena

    belum adanya pembagian tugas dalam kelompok sehingga siswa

    masih mengerjakan soal sendiri-sendiri.

   Partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil belajar masih urang.

    Hal ini disebabkan karena siswa masih malu dan ragu

    menyimpulkan materi yang telah diajarkan dengan bahasanya

    sendiri.

  Hasil rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I pertemuan

  pertama ini sebesar 13,35 (terlampir). Ini berarti bahwa kategori

  aktivitas belajar siswa pada siklus I pertemuan pertama ini termasuk

  kategori cukup aktif. Oleh karena itu, aktivitas belajar siswa pada

  pertemuan berikutnya perlu ditingkatkan.

 Pertemuan kedua

  Proses belajar mengajar pada siklus I pertemuan kedua ini

  berlangsung selama 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit. Materi yang

  dibahas pada pertemuan kedua ini adalah luas permukaan tabung

  dan kerucut. Adapun hasil observasi kegiatan guru adalah sebagai

  berikut:

   Guru sudah menanyakan rangkuman materi yang telah dipelajari

     meskipun rangkuman yang dibuat oleh siswa belum sempurna




                            42
   dan hanya beberapa siswa yang membuat rangkuman dengan

   bahasanya sendiri.

 Guru sudah memberikan bimbingan kepada kelompok               yang

   mengalami kesulitan dengan mendatangi kelompok-kelompok

   yang kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang didiskusikan

   dan memberikan pembagian tugas dalam kelompok.

 Penggunaan     waktu    sudah     baik   sesuai    dengan   rencana

   pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat, disebabkan siswa

   sudah mulai mengerti hal-hal apa saja yang harus dikerjakan

   dalam proses belajar mengajar.

 Contoh soal suah diberikan, sudah lebih bervariasi meskipun

   tidak semua soal dapat diselesaikan oleh siswa.

Sedangkan hasil observasi aktivitas belajar siswa adalah sebagai

berikut:

 Interaksi siswa dengan siswa yang lainnya sudah ada

   peningkatan dibandingkan dengan pertemuan pertama. Hal ini

   disebabkan karena guru memberikan motivasi kepada siswa

   untuk lebih berani mengemukakan pendapat.

 Antusias siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sudah

   baik, siswa sudah fokus dalam menerima pelajaran dan tidak

   mengerjakan pekerjaan lain saat guru menjelaskan.

 Aktivitas   siswa     dalam   diskusi    sudah    ada   peningkatan

   dibandingkan dengan pertemuan pertama disebakan karena guru




                          43
   memberikan motivasi kepada siswa untuk mendemonstrasikan

   konsep yang telah diterima.

 Kesiapan siswa menerima pelajaran sudah lebih baik dari

   pertemuan pertama. Hal ini disebabkan karena guru memberikan

   tugas kepada siswa sehingga pelajaran yang telah dipelajari

   dapat diulang di rumah.

 Kerjasama kelompok sudah ada peningkatan disebabkan guru

   memberikan penjelasan tentang pentingnya kekompakan dalam

   kelompok dan pembagian tugas dalam kelompok agar semua

   anggota kelompok memiliki taggung jawab yang sama.

 Interaksi siswa dengan guru sudah cukup aktif, disebabkan guru

   sudah menjelaskan metode yang digunakan dan hal-hal apa saja

   yang harus dilakukan siswa dalam proses belajar mengajar.

 Partisipasi siswa menyimpulkan hasil belajar sudah baik, siswa

   sudah berani mencatat kesimpulan dengan bahasanya sendiri

   walaupun belum sempurna.

Hasil rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I pertemuan kedua

ini sebesar 14,69 (terlampir). Ini berarti bahwa kategori aktivitas

belajar siswa pada siklus I pertemuan kedua ini termasuk kategori

cukup aktif. Adapun hasil observasi aktivitas belajar siswa pada

siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.




                           44
                                    Tabel 04
                  Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I
                          Kelas IX C SMP NW Kalijaga

                         Jumlah skor yang diamati             Total     Rata-Rata
Pertemuan
                   1          2         3         4    5      Skor      Aktivitas

Pertama           91         81         87    78      50       387        13,35

Kedua             100        88         91    78      69       426        14,69

Rata-rata       95,5        84,5        89    78      59,5    406,5       14,02



                         Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas

             belajar siswa pada siklus I adalah 14,02. Berdasarkan kategori

             aktivitas belajar siswa, maka rata-rata aktivitas belajar siswa pada

             siklus I termasuk pada kategori cukup aktif. Oleh karena itu,

             aktivitas belajar siswa pada siklus berikutnya perlu ditingkatkan.

                         Pelaksanaan evaluasi pada siklus I dilaksanakan pada hari

             rabu, 5 November 2008 pada jam kelima dan keenam, mulai pukul

             10.30 Wita sampai dengan pukul 11.50 Wita (selama 2 jam

             pelajaran). Adapun hasil evaluasi siklus I setelah dianalisis

             diperoleh data sebagai berikut:

                                      Tabel 05
                  Hasil Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I

            No.                    Jenis Penilaian              Hasil
            1          Skor tertinggi                             87
            2          Skor terendah                              47
            3          Rata-Rata                                67,09




                                             45
       4      Jumlah siswa yang tuntas                     21
       5      Jumlah siswa yang belum tuntas                8
       6      Jumlah siswa yang ikut tes                   29
       7      Persentase siswa yang tuntas               72,41%
       8      Persentase siswa yang belum tuntas         27,59%



                 Hasil ini belum mencapai 85 % yang menunjukkan bahwa

       ketuntasan klasikal belum tercapai. Adapaun hasilnya secara

       lengkap dapat dilihat pada lampiran.

d. Refleksi (reflecting)

   Dilihat dari hasil yang diperoleh pada siklus I, ternyata belum

   mencapai hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, peneliti melanjutkan

   pembelajaran siklus berikutnya yaitu siklus II. Adapun kekurangan-

   kekurangan yang terdapat pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II

   diantaranya adalah sebagai berikut:

          Memberikan bimbingan yang optimal kepada siswa yang

           mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah yang diberikan

           oleh guru.

          Memperbaiki kesiapan siswa dalam menerima pelajaran dengan

           mengulangi materi yang sudah diberikan sebelumnya.

          Agar siswa termotivasi untuk mendemonstrasikan konsep yang

           telah didapat, maka perlu diberikan pujian atau nilai kepada siswa

           yang aktif dan berprestasi.




                                    46
         Penggunaan waktu harus sesuai dengan rencana pelaksanaan

          pembelajaran.

         Guru harus mampu membuat relevansi materi yang betul-betul

          mengena dan menarik, sehingga siswa merasa bahwa materi yang

          diberikan sangat bermanfaat.

         Komunikasi dan kerjasama daam kelompok nampak kurang.

         Pembagian tugas dalam kelompok belum terlihat, sehingga tugas

          kelompok masih dikuasai oleh satu orang saja. Sangat diharapkan

          guru dapat menjelaskan pentingnya penbagian tugas dalam

          kelompok agar semua kelompok memiliki tanggung jawab.



2. Siklus II

   a. Perencanaan (planning)

      Pada tahapan perencanaan ini, peneliti mempersiapkan semua hal yang

      berkaitan dan mendukung dalam pelaksanaan tindakan penelitian pada

      siklus II yang mengacu kepada hasil refleksi pada siklus I. Adapun

      beberapa hal yang dipersiapkan dalam tahapan perencanaan ini adalah:

         Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

          Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat mengacu kepada

          metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar

          mengajar. Untuk lebih jelasnya rencana pelaksanaan pembelajaran

          dapat dilihat pada lampiran.




                                   47
   Pedoman observasi aktivitas belajar siswa

    Pedoman observasi aktivitas belajar siswa pada siklus II masih

    mengacu kepada pedoman observasi aktivitas belajar siswa pada

    siklus I, sehingga cukup menggunakan pedoman observasi

    aktivitas belajar siswa pada siklus I. Secara jelas pedoman

    observasi aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada lampiran.

   Lembar observasi aktivitas belajar siswa

    Lembar observasi aktivitas belajar siswa mengacu kepada pedoman

    observasi aktivitas belajar siswa yang sudah dibuat. Lembar

    observasi aktivitas belajar siswa ini berisi isian tentang hasil

    observasi aktivitas belajar siswa yang dilakukan oleh observer.

    Adapun lembar observasi aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada

    lampiran.

   Lembar observasi kegiatan guru

    Lembar observasi kegiatan guru mengacu kepada kegiatan guru

    yang ada di rencana pelaksanaan pembelajaran. Lembar observasi

    kegiatan guru berisi isian tentang hasil observasi kegiatan guru

    yang dilakukan oleh observer. Adapun lembar observasi kegiatan

    guru dapat dilihat pada lampiran.

   Instrumen

    Instrumen yang dibuat untuk pegambilan data tentang prestasi

    belajar siswa berupa tes yaitu dalam bentuk essay yang terdiri dari

    4 soal. Tiap soal memiliki skor yang berbeda-beda yaitu soal




                             48
           nomor 1 skornya 15, soal nomor 2 skornya 25, soal nomor 3

           skornya 30 dan soal nomor 4 skornya 30. Adapun soal evaluasi

           siklus II dapat dilihat pada lampiran.

 b. Pelaksanaan Tindakan (acting)

       Pelaksanaan    tindakan     mengacu     kepada     rencana         pelaksanaan

       pembelajaran yang sudah dibuat. Pada siklus II ini, tindakan dilakukan

       selama tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari

       senin, 10 November 2008 pada jam kelima dan keenam, mulai pukul

       10.30 Wita sampai dengan pukul 11.50 Wita (selama 2 jam pelajaran),

       pertemuan kedua dilaksanakan pada hari selasa, 11 November 2008

       pada jam ketiga dan keempat, mulai pukul 08.50 Wita sampai dengan

       10.10 Wita (selama 2 jam pelajaran) dan pertemuan ketiga

       dilaksanakan pada hari rabu, 12 November 2008 pada jam kelima dan

       keenam, mulai pukul 10.30 Wita sampai dengan 11.50 Wita (selama 2

       jam pelajaran). Untuk lebih jelasnya, jadwal pelaksanaan tindakan

       pada siklus II ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

                              Tabel 06
                Jadwal Pelaksanaan Tindakan Siklus II
                    Kelas IX C SMP NW Kalijaga

  Hari               Tanggal           Waktu (Wita)                Ket.

Senin         10 November 2008        10.30 – 11.50      2 jam pelajaran

Selasa `      11 November 2008        08.50 – 10.10      2 jam pelajaran

Rabu          12 November 2008        10.30 – 11.50      2 jam pelajaran




                                     49
c. Observasi (observing)

   Pelaksanaan observasi ini bersamaan dengan pelaksanaan tindakan

   yaitu selama proses belajar mengajar berlangsung. Adapun yang

   melakukan observasi yaitu peneliti sendiri yang kemudian disebut

   sebagai observer. Adapun hasil observasi pada siklus II ini adalah

   sebagai bebrikut:

      Pertemuan pertama

       Proses belajar mengajar pada siklus II petemuan pertama ini

       berlangsung selama 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit. Materi yang

       dibahas pada pertemuan pertama ini adalah luas permukaan bola

       dan volume tabung. Adapun hasil observasi kegiatan guru adalah

       sebagai berikut:

        Mengulangi kembali pelajaran terdahulu dan memberikan

          penjelasan yang lebih detail tentang materi yang akan

          dipelajari.

        Memberikan bimbingan yang lebih optimal kepada kelompok

          atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan

          soal-soal.

        Contoh soal yang diberikan sudah lebih bervariasi karena guru

          memakai buku panduan yang lebih banyak.

        Membangkitkan minat siswa untuk belajar sehingga lebih

          termotivasi, lebih siap dalam menerima pelajaran, lebih aktif

          dalam bertanya dan lebih aktif dalam berdiskusi kelompok.




                               50
Sedangkan hasil observasi kegiatan guru adalah sebagai berikut:

 Antusias siswa dalam menerima pelajaran sudah cukup baik

    meskipun ada beberapa siswa yang masih tidak fokus dalam

    menerima pelajaran.

 Interaksi siswa dengan siswa lainnya sudah cukup baik, siswa

    tidak malu lagi mengeluarkan pendapatnya.

 Interaksi siswa dengan guru sudah cukup aktif, namun masih

    ada sebagian siswa yang masih malu untuk mengungkapkan

    pendapatnya.

 Kerjasama kelompok sudah cukup baik, pembagian tugas

    sudah dilakukan, akan tetapi masih belum percaya diri dari

    masing-masing anggota kelompok.

 Aktivitas siswa dalam diskusi sudah cukup baik, sudah sudah

    berani memberikan tanggapan kepada kelompok lainnya.

 Partisipasi siswa menyimpulkan hasil belajar sudah aktif, siswa

    sudah menyimpulkan sendiri materi yang sudah diberikan

    tanpa menunggu perintah guru.

Hasil rata-rata aktivitas belajar siswa siklus II pertemuan pertama

ini sebesar 16,69 (terlampir). Ini berarti bahwa kategori aktivitas

belajar siswa pada siklus II pertemuan pertama ini termasuk

kategori aktif.




                          51
   Pertemuan kedua

    Proses belajar mengajar pada siklus II petemuan kedua ini

    berlangsung selama 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit. Materi

    yang dibahas pada pertemuan kedua ini adalah lanjutan volume

    tabung dan volume kerucut. Adapun hasil observasi kegiatan

    guru adalah sebagai berikut:

     Mengulangi kembali pelajaran terdahulu dan memberikan

       penjelasan yang lebih detail tentang materi yang akan

       dipelajari.

     Memberikan bimbingan yang lebih optimal kepada

       kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan.

     Contoh soal yang diberikan sudah lebih bervariasi karena

       guru memakai buku panduan yang lebih banyak.

     Memberikan motivasi dan semangat kepada siswa serta

       membangkitkan minat siswa untuk belajar sehingga lebih

       termotivasi, lebih siap dalam menerima pelajaran, lebih

       aktif dalam bertanya dan lebih aktif dalam berdiskusi

       kelompok.

    Sedangkan hasil observasi kegiatan guru adalah sebagai

    berikut:

     Interaksi siswa dengan guru sudah cukup aktif, terlihat

       adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dan siswa sudah

       terbiasa dengan metode yang digunakan oleh guru.




                         52
     Kerjasama kelompok sudah cukup baik, pembagian tugas

       sudah dilakukan.

     Aktivitas siswa dalam diskusi sudah cukup baik, sudah

       sudah berani memberikan tanggapan kepada kelompok

       lainnya.

     Partisipasi siswa menyimpulkan hasil belajar sudah aktif,

       siswa sudah menyimpulkan sendiri materi yang sudah

       diberikan tanpa menunggu perintah guru.

    Hasil rata-rata aktivitas belajar siswa siklus II pertemuan kedua

    ini sebesar 17,03 (terlampir). Ini berarti bahwa kategori

    aktivitas belajar siswa pada siklus II pertemuan kedua ini

    termasuk kategori cukup aktif.

   Pertemuan ketiga

    Berdasarkan data hasil observasi kegiatan guru dan hasil

    observasi aktivitas belajar siswa pada siklus II pertemuan

    ketiga (terlampira) menunjukkan adanya peningkatan yang

    baik. Kekurangan-kekurangan pada pertemuan sebelumnya

    dapat teratasi, terlihat dari rata-rata aktivitas belajar siswa

    siklus II pertemuan ketiga ini sebesar 17,52 (terlampir). Ini

    berarti bahwa aktivitas belajar siswa termasuk kategori aktif.

    Hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus II dapat dilihat

    pada tabel berikut.




                          53
                                    Tabel 07
                 Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II
                         Kelas IX C SMP NW Kalijaga

                          Jumlah skor yang diamati                Total     Rata-Rata
Pertemuan
                   1          2          3           4     5      Skor      Aktivitas

Pertama           112         98         96          90    88      484        16,69

Kedua             115        101         97          91    90      494        17,03

Ketiga            117        102        100          95    94      508        17,52

Rata-rata      114,67 100,33            97,67        92   90,67   495,33      17,08



                   Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa rata-rata aktivitas belajar

            siswa pada siklus II adalah 17,08. Berdasarkan kategori aktivitas

            belajar siswa, maka rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus II

            termasuk pada kategori aktif.

                   Pelaksanaan evaluasi pada siklus II dilaksanakan pada hari

            senin, 17 November 2008 pada jam kelima dan keenam, mulai pukul

            10.30 Wita sampai dengan pukul 11.50 Wita (selama 2 jam pelajaran).

            Adapun hasil evaluasi siklus II setelah dianalisis diperoleh data

            sebagai berikut:

                                      Tabel 08
                 Hasil Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II

            No.                    Jenis Penilaian                  Hasil
             1         Skor tertinggi                                94
             2         Skor terendah                                 59
             3         Rata-Rata                                    72,59




                                                54
            4    Jumlah siswa yang tuntas                         25
            5    Jumlah siswa yang belum tuntas                   4
            6    Jumlah siswa yang ikut tes                       29
            7    Persentase siswa yang tuntas                86,21%
            8    Persentase siswa yang belum tuntas          13,79%



                Hasil ini sudah mencapai 85 % yang menunjukkan bahwa

          ketuntasan klasikal sudah tercapai. Adapaun hasilnya secara lengkap

          dapat dilihat pada lampiran.

      d. Refleksi (reflecting)

          Setelah melihat hasil observasi yang diperoleh pada siklus II,

          kekurangan-kekurangan pada siklus I dapat teratasi. Hasil evaluasi

          pada siklus II lebih besar dari standar ketuntasan klasikal 85 % dan

          aktivitas belajar siswa termasuk kategori aktif. Hal ini berarti bahwa

          tujuan penelitian ini dinyatakan telah tercapai sehingga hipotesis

          tindakan diterima dan siklus ini dinyatakan berhenti.



D. Pembahasan Hasil Penelitian

          Berdasarkan hasil analisis yang telah didapatkan dari siklus I sampai

   siklus II menunjukkan adanya peningkatan dan perbaikan-perbaikan dalam

   proses belajar mengajar baik dari siswa maupun dari guru. Pada siklus I

   menunjukkan bahwa persentase hasil belajar sebesar 72,41 % dari 29 siswa.

   Ini berarti ketuntatasan belajar siswa belum tercapai sesuai dengan ketuntasan

   belajar klasikal yang telah ditetapkan yaitu 85 %. Hal ini disebabkan karena




                                         55
kurangnya kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga tingkat

penerapan siswa dalam mengikuti pelajaran yang diberikan belum optimal,

akibatnya keefektifan dalam belajar belum tercapai. Sebagian besar siswa

tidak mempelajari materi sebelumnya, sehingga banyak siswa mendapat

kesulitan dalam mengerjakan tugas, kurangnya komunikasi dan kerjasama

siswa dalam kelompok, kurangnya keberanian siswa dalam bertanya,

mengemukakan pendapat dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan analisis pada siklus I menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas

belajar siswa sebesar 14,02 yang termasuk pada kategori cukup aktif dalam

proses pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, guru melakukan

perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran dan hal-hal masih dianggap kurang

yaitu dengan memberikan motivasi dan bimbingan pada siswa-siswa dalam

belajar.

           Pada siklus II, guru dan siswa sudah melakukan perbaikan-perbaikan

pada   proses      belajar   mengajar    sesuai   dengan   rencana   pelaksanaan

pembelajaran (RPP). Guru lebih menekankan kepada pembagian tugas dan

interaksi siswa serta memberikan motivasi dan bimbingan yang lebih optimal

kepada siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar khususnya pada

siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar pada siklus I. Dari hasil

analisis pada siklus II diperoleh persentase ketuntasan hasil belajar siswa

sebesar 86,21 % dari 29 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa telah tercapainya

ketuntasan klasikal yang teah ditetapkan yaitu 85 %. Sedangkan, rata-rata




                                        56
aktivitas belajar siswa pada siklus II sebesar 17,08 yang termasuk pada

kategori aktif.

        Berdasarkan hasil di atas, dimana jumlah siswa yang telah tuntas

belajar melebihi 85 % dan aktivitas belajar siswa termasuk pada kategori aktif,

maka pada siklus II ini dinyatakan tuntas dan penelitian dihentikan. Maka

sesuai dengan hasil penelitian di atas, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran

dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan prestasi

belajar siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun ajaran 2008/2009 pada

pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung.




                                    57
                                    BAB V

                                  PENUTUP



A. Kesimpulan

         Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dengan

  diterapkannya pendekatan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan

  prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika pokok bahasan bangun

  ruang sisi lengkung pada siswa kelas IX C SMP NW Kalijaga tahun ajaran

  2008/2009 dengan perolehan rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I

  sebesar 14,02 yang termasuk pada kategori cukup aktif. Sedangkan, persentase

  ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 72,41 %. Pada siklus II rata-rata

  aktivitas belajar siswa sebesar 17,08 yang termasuk pada kategori aktif dan

  persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus II sebesar 86,21 %. Oleh

  karena pada siklus II ketuntasan belajar lebih besar dari 85 % dan aktivitas

  belajar siswa termasuk pada kategori aktif, maka ketuntasan belajar tercapai

  pada siklus II.

         Tercapainya ketuntasan belajar klasikal ini disebabkan karena adanya

  usaha dari guru dan siswa untuk memperbaiki proses belajar mengajar

  menjadi lebih baik sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal

  bangun ruang sisi lengkung dapat meningkat.




                                      58
B. Saran-Saran

   1. Bagi siswa, sebagai dasar pemikiran bahwa jangan sampai menganggap

      pelajaran matematika itu adalah pelajaran yang sulit, menakutkan, dan

      membuat stres. Anggap bahwa matematika adalah pelajaran yang

      mengasyikkan, banyak kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sehingga

      termotivasi untuk mempelajari matematika.

   2. Bagi guru, dalam pembelajaran matematika hendaknya guru lebih kreatif,

      inovatif dan menggunakan metode yang sesuai dalam pembelajaran

      matematika.

   3. Bagi kepala sekolah, hendaknya mengontrol kegiatan belajar mengajar dan

      mempersiapkan sarana dan media yang menunjang proses belajar

      mengajar.

   4. Bagi peneliti lain, diharapkan mengadakan penelitian yang jangkauannya

      lebih luas serta mengungkap faktor-faktor lain yang belum ditemukan

      dalam penelitian ini.




                                     59

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Contoh, Skripsi
Stats:
views:130
posted:11/18/2012
language:
pages:59