Docstoc

Feature Idul fitri

Document Sample
Feature Idul fitri Powered By Docstoc
					Nama : ARIESTY FUJIASTUTI

Nim : 08003053

Kelas : A


                                        FEATURE

                       LEBARAN TAK HARUS BAJU BARU

          Ramadhan telah selesai, dan kaum muslim di seluruh dunia menyambut Idul Fitri.
Sebagian orang berbondong-bondong membeli baju dan celana baru, sebagian lagi telah jauh-
jauh hari merencanakan jadwal untuk bersilaturahim dan open house. Seperti di pusat
perbelanjaan “Mulia” Bantul, Yogyakarta, pengunjung sejak pagi mulai memadati toko
tersebut yang banyak memajang busana trendy. Mulai dari sepatu, sandal, tas, asesoris
perhiasan bagi kaum hawa dan terutama pakaian dengan model terbaru. Khususnya pakaian
bertema muslim baik untuk pria, wanita hingga anak-anak dengan harga mulai ratusan ribu
rupiah.

          Idul Fitri adalah perayaan besar untuk umat muslim di dunia, begitu pula di negara
Indonesia. Setiap tahun anak-anak pasti banyak yang mendapatkan uang saku dari saudara-
saudaranya. Tentu saja mereka senang dengan semua itu. Namun bagi orang tua mereka yang
tidak mampu, pasti ada tekanan batin disana. Tradisi lebaran kian menjadi tekanan untuk
keluarga yang kesulitan dalam bidang ekonomi, apalagi dalam wilayahnya menerapkan gaya
hidup glamor. Malu apabila tetangganya bisa beli, namun dirinya tidak.

          Sejak kecil saya dibiasakan membeli baju dan sepatu baru saat lebaran. Sekarang
kebiasaan itu mulai saya hilangkan. Baju muslim yang masih bisa dipakai, nantinya akan
dipakai juga waktu lebaran. Sehingga tidak perlu membeli baju baru, karena bagi saya
tentulah tidak begitu penting, dan mungkin sebagian dari kita juga akan mengatakan
demikian. Tetapi kenyataannya pada masyarakat yang demikian kuat dengan perilaku
konsumtif dan sudah menjadi tradisi, baju baru harus dimiliki untuk menyambut Lebaran.
Suka tidak suka, ternyata memang harus diakui masih banyak yang suka memakai baju baru
untuk merayakan Lebaran.




                                              1
       Kebanyakan orang menikmati waktu mereka selama Idul Fitri dengan berkumpul
bersama keluarga, tetapi tak sedikit pula orang yang menikmati Idul Fitri penuh kesepian,
kesendirian, kesedihan, dan bahkan penderitaan. Mereka adalah orang-orang yang tidak
memiliki uang sepeser pun untuk membeli baju baru, dan untuk merasakan kebahagiaan Idul
Fitri. Saya sempat meneteskan air mata ketika melihat tetangga saya yang miskin. Dalam
keluarga tersebut terdiri dari ibu, ayah, dan 5 orang anaknya yang bernama ratman, joko,
ratna, koko, dan yani. Kehidupan ekonomi yang sangat rendah keluarga tersebut tidak bisa
merayakan Lebaran seperti orang pada umumnya. Orang tua mereka tidak pernah
membelikan baju baru untuk ke 5 orang anaknya. Sesungguhnya anak-anak tersebut ingin
memiliki baju baru untuk Lebaran hingga menangis. Hati saya merasa terketuk melihat
tangisan mereka, kemudian saya membujuk orang tua saya untuk membantu mereka dengan
membelikan baju baru. Orang tua ku setuju dengan keputusanku.

       Esoknya, aku bersama dengan orang tua ku serta 5 orang anak tetanggaku pergi ke
pasar Bringharjo. Karena sudah mendekati hari raya, jalan menuju pasar sangat ramai.
Berdesak-desakan dengan para pedagang juga pembeli lainnya dan di dukung dengan cuaca
yang panas membuat kami hampir pingsan. Ingin rasanya cepat-cepat keluar dari tempat
tersebut, namun baju belum didapat. Sampai kami terpikir untuk membatalkan puasa karena
kehabisan tenaga dan tenggorokan terasa kering. Ketika kami sedang memilih-milih baju di
sebuah kios, ada satu baju yang telah disukai oleh yani, namun baju itu pun disukai oleh
pembeli yang lain. Hingga terjadi tarik menarik merebutkan baju tersebut dan akhirnya baju
itu pun sobek. Namun pembeli itu langsung pergi begitu saja meninggalkan kami dan tidak
mau bertanggung jawab. Penjual baju itu pun marah dan kami lah yang harus membayar
dengan harga yang mahal. Perjuangan belum berakhir begitu saja, ketika kami sedang
berkeliling untuk memilih baju, ada satu anak yang bernama koko ternyata hilang tidak tau
kemana. Koko hilang karena terdesak-desak dengan banyak orang sehingga tertinggal oleh
kami. Kami bingung dan cemas, akhirnya kami lapor kepada satpam. Berkat bantuan satpam
koko pun ditemukan dalam keadaan menangis. Waktu sudah sore dan kami melanjutkan
mencari baju seadanya tanpa memilih-milih langsung kami beli.

       Dengan melalui berbagai peristiwa yang sulit, akhirnya ke 5 anak tersebut mempunyai
pikiran bahwa lebaran tidak semestinya berbaju baru. Tak harus baru, setidaknya layak
dipakai saat bersilaturahim di hari kemenangan itu. Walau kita mempunyai uang untuk
membeli baju baru tapi untuk membeli dan mendapatkan baju baru itu juga susah. Dan


                                            2
akhirnya mereka pun berfikir mungkin baju baru adalah simbol dari ekspresi suasana jiwa
yang baru dan serba bersih, setelah sebulan menyucikan diri dengan berpuasa. Dengan
suasana batin yang bersih itu, harapannya umat Islam mudah membangun sikap persaudaraan
antara sesama muslim khususnya, dan sesama manusia agar dapat hidup berdampingan
dengan damai dan bermartabat.

       Hari Raya Idul Fitri merupakan hari yang sangat indah. Bukan berarti harus berbaju
baru atau makanan yang lezat, tetapi orang tua kita mengajarkan pada diri kita bahwa kita
telah ”menang”, karena selama Ramadan kita berhasil puasa penuh. Namun, sikap seperti ini
yang nampaknya mulai luntur. Zaman sekarang sudah bergeser, mereka yang tidak puasa
tetap percaya diri merayakan hari raya. Walau hari raya terasa hambar. Sementara mereka
yang puasa penuh, merayakan hari raya dengan kesederhanaan tetapi nikmat, walau tidak ada
baju baru dan makanan lezat.
       Memakai baju baru di hari Lebaran memang bukan suatu keharusan, Tentunya tidak
salah memakai baju baru, justru bagus dan indah kelihatannya. Tetapi bukan itu yang lebih
penting dan tidak harus memaksakan diri. Karena memiliki hati baru pada saat merayakan
Lebaran sungguh lebih penting. Jangan sampai sebuah perayaan yang begitu agung dan suci
ini hanya sebatas suara takbir dan bedug, baju baru, makanan enak, ketupat, dan maaf-
memaafkan saja. Seharusnya ada nilai religius yang bisa lebih dimaknai.
       Dengan peristiwa tersebut saya merasa senang karena telah memberikan suatu
pelajaran kepada anak-anak tersebut. dengan kejadian itu mereka tidak lagi meminta dan
memaksa orang tuanya untuk membelikan baju bari saat Lebaran. Saya dan mereka
mempunyai pikiran yang sama bahwa: ”Beridul fitri itu tidak harus dengan menyiapkan
banyak makanan enak, karena hidangan sederhana dalam jumlah secukupnya pun tidak akan
mengurangi makna Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri tidak harus dengan membeli baju baru
karena baju yang bersih dan layak pakai pun sudah cukup. Beridul Fitri juga tidak harus
mudik karena bersilaturahmi dengan orangtua dan saudara bisa dilakukan kapan saja, tidak
harus di moment Idul Fitri. Meminta maaf juga tidak harus pas lebaran, kapan pun kita
merasa telah berbuat salah kepada orang lain, segeralah minta maaf, pun halnya dengan
memaafkan. Insya Allah Idul Fitri tidak lagi membutuhkan biaya besar dan semuanya akan
terasa lebih mudah.”




                                             3

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: feature, sastra
Stats:
views:31
posted:11/17/2012
language:
pages:3