Feature idul fitri by bangetoon44

VIEWS: 38 PAGES: 2

More Info
									Nama : Ariesty FujiAstuti

Nim   : 08003053

Kelas : A


                                       FEATURE

                             HARI RAYA IDUL FITRI

       Suara takbir menggema selepas maghrib yang secara serentak bersuara hampir di
seluruh kampung dan pelosok negeri. Takbiran di Indonesia cukup banyak coraknya, mulai
dari sekedar memutar kaset takbiran di kedai atau toko-toko, bertakbiran di serambi-serambi
masjid sembari memukul tabuh, dan yang lebih semarak dan heboh adalah takbir keliling
dikampung saya, baik berjalan kaki maupun dengan motor. Rute yang dilalui adalah masuk
kampung keluar kampung. Jadi takbiran dikampung saya terasa lebih meriah dan semarak.


       Suasana di jalan-jalan terlihat orang berbondong-bondong menuju lapangan maupun
masjid-masjid. Inilah yang nampak, idul fitri yang bersamaan. Sidang istbat yang
dilaksanakan pemerintah benar-benar terasa membawa kesatuan umat. Idul Fitri 1431 H jatuh
pada hari Jumat, 10 September 2010. Saya seperti tahun-tahun sebelumnya, bersama
keluarga besar menjalankan ibadah Sholat Ied di lapangan Tulung, Srihardono, Pundong,
Bantul, Yogyakarta. Lokasi ini memang dekat dengan rumah keluarga saya di Jogja. Suasana
ibadah Sholat Ied tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap orang
bisa mendapatkan transkrip khotbah, yang dibacakan oleh Khotib seusai Sholat Ied.


       Seusai shalat Ied, acara maaf-memaafkan biasanya dilakukan dalam lingkup keluarga
terdekat terlebih dahulu. Disambung silaturahim ke tetangga di sekitar rumah. Selanjutnya ke
sanak saudara berjauhan. Habis sholat Ied, orang tua itu duduk di teras di ruang tamu. Anak
menantu, anak-anak kecil, cucu-cucu semua pada sungkem. Setelah itu silahturahmi ke
saudara yang paling tua itu, Bude. Jadi Bulek ke rumah Bude. Terus kita ponakan-ponakan
ke rumah Bude, Bulek, om, paklek, pakde, gitulah. Anak muda harus sungkem ke ruang tua.
Ya dinasehatilah. Maksudnya, ibunya memberi nasehat supaya hati-hati ya supaya
memberikan wejangan-wejangan, panjang umur, banyak rejeki, dan lain-lain, lengkap dech.
Salam-salaman, rangkul-rangkulan. Kalau perempuan-perempuan cium pipi kanan-kiri ya.


                                             1
Kalau laki, paling nepuk-nepuk pundak wis yo, lahir batin, maaf yo, sepurane sing akeh rek.''
Begitulah suasana lebaran yang saya alami.

       Lebaran ketupat merupakan tradisi masyarakat sebagai ungkapan syukur setelah
melaksanakan ibadah puasa. “Ketupat lebaran dengan sayap opor ayam, disantap sepulang
dari salat Idul Fitri, untuk kakek dan nenek, tetangga, sahabat. Senangnya, subhanallah
sungguh nikmat.” Lebaran selalu identik dengan ketupat. Seolah-olah kalo Lebaran tanpa
makan ketupat belum Lebaran rasanya, walau tidak ada aturan soal hidangan Lebaran harus
ketupat. Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, diantaranya adalah
mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus
ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari
segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga
mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan
dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak
hari yang fitri. Setelah itu, melupakan kesalahan dengan saling bermaaf-maafan sembari
menyantap ketupat. Tujuan tersebut terselip dari makna ketupat dalam bahasa Jawa, ketupat
berarti “ngaku lepat” alias mengakui kesalahan. Ketupat juga bukan sekadar makanan yang
disajikan untuk menjamu para tamu pada hari raya Idul Fitri maupun merayakan genapnya
enam hari berpuasa sunah Syawal.

       Setiap hari raya ‘Idul fitri tiba, tidak hanya baju baru, banyak makanan atau kue yang
disediakan yang menjadi ciri khas untuk menyambut kedatangan “hari kemenangan” setelah
melaksanakan puasa satu bulan penuh. Ada hal yang lebih dari itu, yaitu halal bihalal.
Dikampung saya juga diadakan Halal bihalal, sehingga semua warga kampung datang dan
saling maaf-memaafkan.


       Dalam pengertian yang lebih luas, halal bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada
hari setelah hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam
yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu syathaniyah. Dalam
konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah
berpuasa, yang dengan dilandasi keimanan dan ketaqwaan setelah melakukan puasa sebulan
penuh di bulan Ramadhan dengan tulus ikhlas, hanya memburu ridho Allah, agar dosa-dosa
diampuni.




                                             2

								
To top