Docstoc

Interaksi Taxanes dengan Obat Antikanker Kimia

Document Sample
Interaksi Taxanes dengan Obat Antikanker Kimia Powered By Docstoc
					       Interaksi Taxanes dengan Obat Kemoterapi Kanker Payudara :
                   Doxorubisin, Cisplatin, dan Epirubisin

                                             Suhatno 1

       Program Profesi Apoteker, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia
Abstrak.
1.   Pendahuluan

    Kemoterapi merupakan pengobatan menggunakan obat-obat antikanker atau obat-obat
sitotoksik. Tujuan kemoterapi adalah menghancurkan sel kanker payudara. Kemoterapi pada
umumnya diberikan bersama dengan pembedahan dan atau radioterapi untuk kanker
payudara invasif primer, setelah pembedahan dan sebelum radioterapi. Kanker payudara
invasif sekunder atau kanker payudara yang sudah matastasis merupakan kondisi dimana sel
kanker payudara telah menyebar ke bagian tubuh lain seperti tulang atau paru-paru.
Kemoterapi dapat diberikan untuk mengecilkan ataupun mengontrol pertumbuhan dari
kanker payudara yang sudah metastasis ini. Obat-obat yang digunakan untuk kemoterapi
antara lain : derivat Taxanes (paclitaxel dan docetaxel), doxorubisin, siklofosfamid, cisplatin,
epirubisin, fluorourasil, metotreksat, capecitabine, vinorelbine dan gemcitabine (Brest Canser
Care, 2012).
    Derivat Taxanes, mempunyai peran penting dalam pengobatan kanker payudara dan
banyak dari randomized trial telah membuktin kemanjuran kedua obat ini (Sparano dkk,
2000). Paclitaxel dan docetaxel telah muncul dalam dua dekade terakhir sebagai agen
antitumor yang efektif. Paclitaxel adalah Taxane semisintetik yang diisolasi dari kulit pohon
Pasific Yew (Taxus brevifolia) yang tumbuh di Amerika bagian barat dan Kanada
(Citroreksoko dkk, 1996). Docetaxel adalah semisintetik Taxane merupakan ekstrak dari
Taxus baccata. Di pasaran, paclitaxel mempunya nama dagang Taxol® dan docetaxel
mempunyai nama dagang Taxotere®. Kedua obat tersebut selama dua dekade ini telah
terbukti sebagai antikanker yang efektif (Vaishampayan dkk, 1999). Pada gambar 1
merupakan struktur kima dari paclitacel dan docetaxel.




                                                                                     ®
           Gambar 1. Struktur kimia dari docetaxel, semisintetik Taxane dalam Taxotere dan pacitaxel,
                                             ®
                     produk alami dari Taxol
   Kedua turunan Taxanes ini mempunyai kemiripan dalam mekanisme aksi dan aktivitasnya
termasuk dalam spektum luas. Untuk itu akan banyak kesempatan akan terjadinya interaksi.
(Vaishampayan dkk, 1999). Selain itu dalam terapi kemoterapi kanker payudara sering
dikombinasikan dengan obat sitotoksik lain seperti doxorubisin, cisplatin, dan epirubisin,
Kombinasi antara obat dengan obat ini sebagai terapi anti kanker payudara akan semakin
meningkatkan efek interaksi yang potensial sangat mungkin terjadi. Terjadinya interaksi
dapat menurunkan efek sitotoksik dari obat yang akan menurunkan kemanjuran obat tersebut.
Selain itu interaksi yang terjadi dapat menyebabkan adverse drugs reaction yang akan
membahayakan pasien. Dengan demikian diharapkan tidak terjadinya interaksi yan
     Metode : Penulisan artikel ini diperoleh dengan cara mengumpulkan berbagai jurnal,
 informasi dari website di internet, seperti Pubmed, situs pemerintah, Google Scholar maupun
 dan berbagai buku tentang kanker payudara serta guidelines breast cancer therapy. Kriteria
 inklusi yang digunakan antara lain sampel adalah pasien yang mengalami kanker payudara,
 jurnal dari tahun 1992-2012, jurnal merupakan jurnal ilmiah dengan bahasa Inggris,
 merupakan sumber data primer, sedangkan kriteria eksklusi adalah guidelines breast cancer
 therapy. Kata kunci yang digunakan: Taxanes, Drugs Interaction, Breast Cancer pada kolom
 pencarian.
 Hasil.dan Pembahasan
    Dari hasil pencarian menggunakan metode di atas diperoleh data sebagai berikut :
     Judul, Nama penggarang,
No                                  Metode        Sampel                 Hasil
                tahun

1.   Topical                     Eksperimental Anak            Ciprofloxacin/deksametason
     ciprofloxacin/dexamethasone               usia            untuk penyembuhan klinis
     superior to oral                          lebih 6         lebih unggul dibandingkan
     amoxicillin/clavulanic acid
                                               bulan s/d       dengan amoxicillin/asam
     in acute otitis media with
     otorrhea through                          12 tahun        clavulanat (85% vs 59%),
     tympanostomy tubes                                        penghentian otorrhea lebih
                                                               pendek (4 hari vs 7 hari)
     Dohar MD Joseph, Giles
     MD William, dkk (2006).

2.   Topical                        Eksperimental Anak         Ciprofloxacin/deksametason
     ciprofloxacin/dexamethasone                  usia    6    untuk penyembuhan klinis
     otic suspension is superior to               bulan s/d    lebih unggul dibandingkan
     ofloxacin otic solution in the
                                                  12 tahun     dengan ofloxacin (90% vs
     treatment of children with
     acute otitis media with                                   78%), keberhasilan
     otorrhea through                                          membunuh mikroba (92%
     tympanostomy tubes                                        vs 81,8%), kegagalan dalam
                                                               pengobatan lebih sedikit
     Roland Peter S, Kreisler                                  (4,4% vs 14,1%),
     Leslie S, dkk (2011).                                     penghentian otorrhea lebih
                                                               pendek (4 hari vs 6 hari),
                                                               dan aman buat pasien anak-
                                                               anak

3.   A cost threshold analysis of   Decision       Pasien      Ciprofloxacin-deksametason
     ciprofloxacin-                 analytic                   memiliki      nilai  biaya
     dexamethasone versus           (analisa                   efektivitas 4,5 kali biaya
     ofloxacin for acute otitis
                                    keputusan)                 ofloxacin
     media in pediatric patients
     with tympanostomy tubes

     A Pontius, Wall G Michael,
     dkk (2004)
Paclitacel dan Doxorubisin

    Kombinasi dari doxorubisin (DOX) dengan paclitaxel (PTX) telah menunjukkan
peningkatasn efikasi pengobatan berbagai kanker, terutama kanker payudara. Kombinasi
kedua obat ini menimbulkan interaksi berdasarkan urutan dan waktu pemberiannya. Dalam
hal ini, ketika PTX diberikan sebelum DOX terjadi peningkatan insidensi mucositis yang
parah dan neutropenia. Pada pemberian PTX sebelum DOS juga diikuti dengan peningkatan
kadar DOX, metabolit alkohol dari DOX (doxorubicinol I). Peningkatan kadar DOX dalam
beberapa penelitian telah terbukti meningkatkan kejadian kardiotoksik.

    Pada penelitan yang dilakukan oleh Gianni dkk. (1995) tentang dosis dan urutan
pemberian obat dengan melibatkan 35 pasien, PTX yang diberikan sebagai infus selama 3
jam dikombinasikan dengan DOX. Infus PTX diberikan terlebih dahulu dan 15 menit setelah
infus PTX habis baru diberikan DOX dengan dosis (60mg/m2). Hasil penelitian tersebut
menunjukkan insidensi CHF lebih tinggi dari pada yang diharapkan (5 pasien mengalami
CHF) dari pada pemberian DOX saja. Namun tidak terjadi perbedaan pada efek samping lain
termasuk neutropenia, mucosistis, peripheral neuropathy dan myalgia/arthralgia. Holmes dkk.
(1996) melaporkan bahwa perubahan farmakokinetik DOX oleh PTX tergantung pada urutan
pemberian obat tersebut. Dalam penelitian tersebut, PTX diberikan lebih dahulu secara infus
selama 24 jam. Setelah itu diberikan infus doxorubicin selama 48 jam. Hasilnya terjadi 32%
penurunan Clearence dan konsetrasi plasma (Cmax) 70% lebih tinggi.

Paclitacel dan Cisplatin

    Penelitian yang dilakukan oleh Rowinsky dkk. (1991), terjadinya interaksi obat
berdasarkan urutan pemberian juga terjadi pada cisplatin dan paclitaxel. Pemberian infus
Cisplatin dengan dosis 75mg/m2 dan kecepatan 1mg/menit, diikuti dengan infusa paclitaxel
dengan dosis 135mg/m2 selama 24 jam, terjadi efek samping neutropenia. Secara
farmakologi, menunjukkan perbedaan penurunan eliminasi taxol sebesar 25% ketika cisplatin
diberikan lebih dulu dari taxol. Mekanisme penurunan proses eliminasi paclitaxel oleh
cisplatin belum diketahui secara pasti. Paclitaxel sendiri merupakakan obat yang
dimetabolisme di hati dengan sistim enzim sitrokrom P450 (Vaishampayan dkk, 1999).
Penelitan yang dilakukan Leblanc dkk (1992) mengungkapkan bahwa pemberian cisplatin
yang diikuti dengan paclitaxel pada tikus, terjadi penurunan eliminasi dari paclitaxel.
Penurunan eliminasi ini terjadi karena cisplatin menginduksi modulasi sistim enzim sitokrom
P450 dalam mengeliminasi paclitaxel.

Paclitaxel dan docetaxel interaksi dengan epirubusin




    Cisplatin, bila diberikan sebelum paclitaxel, menyebabkan insidensi yang lebih tinggi
secara signifikan neutropenia sebagai akibat penurunan 25% clearence paclitaxel. Jika urutan
dibalik, dengan memberikan paclitaxel sebelum cisplatin efek merugikan tersebut hilang.
Kombinasi antara caboplatin dan paclitaxel aman digunakan dan ditoleransi dengan baik.
Efek Trombositopenia yang parah dapat dikurangi dengan kombinasi tersebut jika
dibandingkan dengan pemberian carboplatin saja. Penemuan ini mungkin mencerminkan efek
diferensial dari senyawa platinum pada metabolisme CYP450.

Citroreksoko, P. 1996. Warta Biotek Tahun X No.4. Bogor : LIPI
Breast Cancer Care. 2012. Chemotherapy for breast cancer,
http:// www.breastcancercare.org.uk/sites/default/files/bcc16_chemotherapy_2012_1.pdf
(May 26, 2012)

				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:120
posted:11/15/2012
language:Unknown
pages:4
Description: interaksi obat golongan taxanes dengan obat anti kanker kimia lainnya