Docstoc

Contoh Skripsi Bahasa Indonesia BAB II

Document Sample
Contoh Skripsi Bahasa Indonesia BAB II Powered By Docstoc
					                                 BAB II

        KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIK



A. Kajian Pustaka

       Sepanjang pengamatan penulis, penelitian tentang ketrampilan menulis

surat undangan berbahasa Jawa di MTs Negeri Bobotsari Kecamatan

Bobotsari Kabupaten Purbalingga belum pernah ada. Beberapa skripsi yang

berkaitan dengan kemampuan menulis surat antara lain skripsi Fiti Anaeni

(2008) yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Surat

Niaga dengan Metode Penugasan Pada Siswa Kelas XI MAN Brebes 2

Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2007-2008”.

       Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa, dengan batas tuntas belajar

yang ditentukan sekolah sebesar 70 persen, pada siklus I nilai rata-rata siswa

38,5 dengan persentase nilai 26,47 persen, dan jumlah siswa yang mencapai

batas nilai kelulusan sebanyak Sembilan siswa. Pada siklus II nilai rata-rata

siswa 71,5 dengan persentase 73,53 persen, dan jumlah siswa yang mencapai

batas nilai kelulusan sebanyak 25 siswa. Dengan terdapat kenaikan nilai rata-

rata siswa sebesar 33.

       Kemudian skripsi Bayu Ginanjar (2009) yang berjudul “Upaya

Meningkatkan Kemampuan Menulis Surat Dinas dengan Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe STAD (Students Team Achievment Division) di SMP

Muhammadiyah Sumbang Kelas VIII D Tahun Pelajaran 2008-2009”.




                                        6
                                                                             7




         Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa, kemampuan siswa SMP

Muhammadiyah Sumbang kelas VIII D dalam menulis surat dinas pada siklus

I nilai rata-rata siswa 67,42, dan pada siklus II nilai rata-rata siswa 81,4.

Dengan kemampuan menulsi surat dinas pada siswa kelas VII D SMP

Muhammadiyah Sumbang tergolong baik. Sedangkan bentuk partisipasi siswa

dalam     proses   pembelajaran   seperti   bertanya,   menjawab   pertanyaan,

menyanggah, dan berinisiatif mengerjakan soal selama pembelajaran

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, rata-rata seluruh

siswa tidak lagi mempunyai keragu-raguan untuk berpartisipasi secara aktif

dalam proses pembelajaran.

         Kemudian penelitian Nur Solichah (2009) yang berjudul ”Analisis

Kemampuan Kognitif Siswa Menyusun Paragraf Narasi Wacana Bahasa Jawa

Kelas IX B MTs Al Mukharomah Karangjati, Kecamatan Sampang Kabupaten

Cilacap Tahun Pelajaran 2008-2009”. Adapun hasil penelitian tersebut adalah,

kemampuan kognitif siswa menyusun paragraf narasi wacana bahasa Jawa

tergolong sedang.

         Perbedaan judul ketiga penelitian di atas dengan penelitian penulis

adalah, pada penelitian pertama meneliti kemampuan menulis surat niaga

dengan     menggunakan    metode    penugasan,    penelitian   kedua   meneliti

kemampuan menulis surat dinas dengan model pembelajaran Kooperatif tipe

STAD (Students Team Achievment Division), dan penelitian ketiga meneliti

kemampuan kognitif siswa menyusun paragraf narasi wacana bahasa Jawa.

Sedangkan peneliti dalam penelitian ini, lebih menekankan pada kemampuan
                                                                                8




menulis surat undangan berbahasa Jawa dengan aspek penilaian yang meliputi

isi surat undangan, penggunaan bahasa atau pilihan kata dalam surat

undangan, penggunaan EYD atau ejaan, dan sistematika penulisan atau

bagian-bagian dalam surat undangan.



B. Kerangka Teoretik

1. Pengertian Menulis

          Menulis merupakan salah satu dari aspek keterampilan berbahasa yang

berfungsi untuk melatih seseorang dalam mengungkapkan pikiran, perasaan,

dan pendapat dengan tulisan.

          Menurut Tarigan (1994: 21-22), menulis merupakan menurunkan

atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan sesuatu

bahasa. Lambang-lambang tersebut dapat dipahami oleh seseorang sehingga

orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut.

          Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para

pelajar    berpikir   kritis.   Selain   memudahkan   pelajar   berpikir   kritis,

mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pendapat, menulis juga dapat melatih

mencari, menguasai, dan menangkap informasi tentang topik yang akan kita

tulis.

          Ada tiga komponen yang tergabung dalam keterampilan menulis. Tiga

komponen tersebut adalah :

a. Penguasaan bahasa tulis yang akan berfungsi sebagai media tulisan,

    meliputi: kosakata, struktur kalimat, paragraph, ejaan, dan pragmatik.
                                                                              9




b. Penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis

c. Penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi

   tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah

   komposisi yang diinginkan seperti ; artikel, cerita pendek, dan makalah.

       Menurut Aziez dan Alwasilah (1996: 130-131), kegiatan menulis

dibagi ke dalam tiga kategori utama, yaitu menulis terkontrol, menulis

terbimbing, dan menulis bebas. Jika kita membuat jenjang, menulis terkontrol

akan berada pada tahab pertama, dan menulis bebas pada tahap terakhir.

Dengan kata lain pada awal-awal program pengajaran menulis, siswa harus

dilibatkan pada aktivitas menulis yang masih banyak membutuhkan control

guru. Peran guru masih sangat dominan dalam tahap ini. Tahap selanjutnya

adalah menulis terbimbing. Pada tahap ini peran guru sudah mulai berkurang.

Mereka hanya membimbing semata. Tahap terakhir adalah menulis bebas.

Pada tahap ini siswa sudah diberi keleluasaan mengekspresikan gagasannya

dengan keterampilan menulis yang telah dimilikinya tersebut

2. Surat

1) Arti dan Fungsi Surat

           Surat dapat diartikan sebagai alat komunikasi secara tertulis untuk

   menyampaikan informasi kepada pihak lain. Melalui surat, seseorang

   dapat memberikan informasi, menanyakan, menyatakan, meminta,

   melaporkan, atau menyampaikan buah pikiran lainnya kepada orang lain

   (Arifin, 1980: 1).
                                                                        10




       Dalam bahasa Jawa surat adalah layang, yaiku dluwang sing

tinulisan dikirimaké minangka gantiné rerembugan. (Surat adalah kertas

yang      berisi      tulisan    sebagai       pengganti      perundingan

(http://www.jv.wikipedia.org/w/index.php?title=Astamiwa%3APencarian

&redirs=1&search=layang&fulltext=Search&ns0=1diambil          tanggal   20

April 2009).

       Surat juga dapat dimaknai sebagai alat untuk menyampaikan suatu

maksud secara tertulis ke pihak lain, atau salah satu kegiatan berbahasa

yang dilakukan dalam komunikasi tertulis (Wiyasa, 1996:1). Meski saat

ini surat jarang digunakan oleh orang secara umum, dan telah tergeser oleh

penggunaan alat komunikasi lain seperti hand phone, namun penggunaan

surat masih dilakukan oleh seseorang atau instansi secara resmi.

       Berkomunikasi melalui surat tidaklah mudah. Dalam menulis surat,

seseorang atau instansi harus melakukan persiapan yang tidak sederhana.

Kegiatan tersebut meliputi persiapan bahasa dan alat tulis, membuat

konsep, proses penulisan, pengiriman dan penyampaian atau pengarsipan.

       Surat yang ditulis atau disampaikan oleh organisasi atau instansi

resmi merupakan wakil organisasi atau instansi tersebut. Oleh karena itu,

surat tersebut merupakan cerminan corak, keadaan mentalitas, jiwa, dan

nilai organisasi atau instansi yang bersangkutan. Dengan demikian, dalam

menyusun surat, hendaklah selalu berhati-hati dan berpikir secara cermat

agar tidak menimbulkan kesan yang tidak menyenangkan (Soedjito dan

Solechan, 1999: 2).
                                                                        11




          Sedangkan fungsi surat sebagai sarana komunikasi meliputi :

a) tanda bukti tertulis

       Yang dimaksud tanda bukti tertulis adalah tanda yang berupa

tulisan yang digunakan sebagai bukti. Misalnya surat perjanjian

b) alat pengingat

       Yang dimaksud alat pengingat di sini adalah, jika seseorang lupa

mengenai isi surat, maka orang tersebut dapat membuka surat itu kembali.

Misalnya surat yang disimpan dalam arsip.

c) bukti historis

       Yaitu untuk mengetahui atau menyelidiki keadaan atau kegiatan

seseorang atau suatu organisasi pada masa lampau. Misalnya, kumpulan

surat R.A. Kartini

d) pedoman kerja, misalnya surat keputusan, dan surat instruksi.

2) Jenis Surat

      Menurut Wiyasa (1996: 16-31) jenis-jenis surat meliputi:

   a) Surat Undangan

           Surat undangan adalah surat permohonan kepada suatu badan

   atau perseorangan agar datang atau hadir dalam pertemuan pada hari,

   tanggal, waktu, dan tempat yang telah ditentukan atau dicantumkan

   dalam surat undangan tersebut.

   b) Surat Kuasa

           Surat kuasa merupakan surat pengalihan kekuasaan dari

   seseorang kepada orang lain, untuk bertindak atau melaksanakan
                                                                     12




sesuatu berhubung pemberi kuasa tersebut tidak dapat melaksanakan

sendiri.

c) Surat Pengumuman atau Surat Pemberitahuan

           Surat pengumuman merupakan surat yang berisi pemberitahuan

suatu hal yang ditujukan kepada para karyawan atau masyarakat

umum, ataupun kepada pihak-pihak yang terlibat dalam isi surat atau

perihal yang dicakup dalam pengumuman tersebut.

d) Surat Kawat

           Surat kawat atau telegram adalah berita yang disampaikan atau

diterima melalui radio atau telegraph mengenai suatu hal yang perlu

segera mendapat penyelesaian dengan cepat.

e) Surat Perintah atau Tugas

           Surat perintah atau tugas adalah surat yang menerangkan

bahwa orang yang diberi surat tersebut diperintahkan dan ditugaskan

untuk menjalankan sesuatu.

f) Surat Pernyataan

           Surat pernyataan adalah surat yang menerangkan suatu

kenyataan mengenai suatu hal, disertai pertanggungjawaban atas

pernyataan tersebut.

g) Surat Edaran

           Surat edaran yaitu surat yang diedarkan dengan maksud agar

berita yang diedarkan itu diketahui oleh para anggota atau orang-orang

tertentu sesuai dengan maksud surat edaran tersebut.
                                                                   13




h) Surat Keputusan

        Surat keputusan adalah surat pernyataan untuk memberikan

suatu keputusan sesuai dengan bunyi surat keputusan.

i) Surat Keterangan

        Surat keterangan adalah surat yang bermaksud memberi

keterangan    mengenai   sesuatu   agar   yang    bersangkutan   tidak

menimbulkan keragu-raguan.

j) Surat Dinas atau Nota Dinas

        Surat dinas merupakan satu alat komunikasi kedinasan antar

pejabat atau unit organisasi di lingkungan dinas yang bersangkutan

yang sifatnya meminta penjelasan dan keputusan.

k) Surat Memo atau Memorandum

        Surat memo adalah salah satu alat komunikasi di lingkungan

dinas yang sifat penyampaiannya tidak resmi.

l) Surat Instruksi

        Surat instruksi adalah surat yang berisi petunjuk-petunjuk

teknis dan terinci mengenai apa yang harus dilakukan dalam rangka

pelaksanaan suatu ketetapan.

m) Surat Lamaran Pekerjaan

        Surat lamaran pekerjaan adalah surat permohonan dari orang

yang membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan.
                                                                 14




n) Surat Perjanjian

       Surat perjanjian adalah surat yang berisi mengenai perjanjian

antara satu orang dengan orang lain, maupun antara instansi satu

dengan instansi lainnya.

       Sedangkan dalam bahasa Jawa, menurut Jatirahayu (2000:79),

surat atau layang dibedakan menjadi :

a. Layang ulem (surat undangan)

       Layang ulem yaiku layang ingkang isine pengundang saka

wong sing arep duwe gawe, lumrahe wong sing ngundang lagi nemu

rasa kabungahan. Wong sing diulemi supaya rawuh ing wektu lan

papan sing wis ditentokake. Layang ulem umpamane, ulem mantu,

supitan, syukuran, tanggap warsa (ulang tahun), lan sapanunggalane.

(Surat undangan yaitu surat yang berisi perihal mengundang dari

seseorang, agar yang diundang berkenan hadir pada waktu, tempat

yang sudah ditentukan. Contoh surat undangan, misalnya undangan

pernikahan, undangan khitanan, undangan syukuran, undangan ulang

tahun dan lain-lain).

b. Layang kitir (telegram)

       Layang kitir isine ringkes, cekak aos apa prelune wae.

(Telegram, yaitu surat yang isinya ringkas, padat, dan sesuai dengan

keperluan).
                                                                     15




c. Layang lelayu (kematian)

       Layang lelayu isine kabar lelayu utawa kematian. (Surat

kematian, yaitu surat yang isinya mengenai perihal kematian).

d. Layang iber-iber (kiriman pribadi)

       Layang iber-iber isine awujud kabar pribadi, bab sing

diandharake bisa apa wae. (Surat pribadi, yaitu surat yang isinya

mengenai kabar pribadi si pengirim).

e. Layang dhawuh (surat perintah)

       Layang dhawuh isine prentah saka wong sing pangkate luwih

dhuwur marang andhahane utawa sing pangkate luwih cendhek. (Surat

perintah, yaitu surat yang berisi perintah dari atasan kepada bawahan).

f. Layang Paturan (surat permohonan)

       Layang paturan minangka kosok balene layang parentah.

Layang paturan bisa ditegesi ature andhahan marang sesepuh utawa

wong sing pangkate luwih dhuwur. (Surat permohonan, yaitu surat

yang berisi laporan dari bawahan kepada atasan).

       Dari berbagai jenis surat yang telah peneliti sebutkan, pada

penelitian ini peneliti hanya meneliti tentang surat undangan berbahasa

Jawa, karena hal ini sesuai dengan judul penelitian yaitu kemampuan

menulis surat undangan berbahasa Jawa pada siswa kelas VIII D MTs

Negeri Bobotsari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.
                                                                          16




3) Bahasa Surat

          Bahasa adalah alat yang dipakai seseorang untuk menyampaikan

pikiran    dan   perasaannya,   keinginan   serta   perbuatan-perbuatannya

(Samsuri, 1985: 4). Dengan menggunakan bahasa, orang dapat

mengemukakan buah pikiran atau isi hatinya, baik secara lisan maupun

secara tulisan. Bahasa lisan digunakan apabila mereka yang berbicara itu

berhadapan langsung. Sedangkan bahasa tulisan digunakan jika mereka

yang berbicara itu tidak berhadapan secara langsung, tetapi dengan

menggunakan surat sebagai alat perantaranya.

          Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, bahasa surat itu bahasa

yang dilahirkan secara tertulis. Sebelum bahasa surat ditulis di atas kertas,

hendaknya si penulis mempertimbangkan apakah kalimatnya sudah benar,

terang, baik susunannya, artinya, serta penggunaannya. Hal ini perlu

diperhatikan, karena bahasa tertulis itu akan selalu dibaca berulang-ulang

dan akan selalu diingat selama masih tertulis. Oleh karena itu, seseorang

yang hendak menulis surat semestinya harus menghindari pemakaian kata

yang kurang tepat, terutama yang dapat menyinggung perasaan orang lain.

          Bahasa surat, khususnya surat resmi harus ditulis singkat dan

sederhana serta padat isinya. Dengan kata lain, kata yang digunakan harus

dipilih dari sejumlah kata atau ungkapan yang mudah diartikan dan

kemudian disusun yang sederhana dan singkat, serta tidak mengurangi

pengertian atau mengaburkan maksudnya.
                                                                       17




       Selain hal tersebut, dalam bahasa tertulis juga harus diperhatikan

pemakaian tanda baca. Sebab, fungsi tanda baca dalam bahasa tertulis

sangat menentukan. Tanda baca dapat membantu menjelaskan maksud

kalimat, memberi petunjuk tentang perasaan yang terkandung dalam

kalimat.

       Penggunaan tanda baca juga harus berhati-hati. Pemakaian tanda

baca harus digunakan seperlunya, dan tidak berlebihan. Sebab,

penggunaan tanda baca yang berlebihan dapat menyesatkan maksud suatu

kalimat.

       Demikian halnya dalam menuliskan ejaan. Ejaan yang harus

digunakan    adalah   ejaan   yang   berlaku   sekarang     (Ejaan   Yang

Disempurnakan). Perkataan asing yang belum diindonesiakan ditulis

menurut ejaan asingnya.

       Kemudian dalam menulis kependekan atau singkatan kata harus

mengikuti ketentuan yang berlaku sekarang. Dalam surat, sebaiknya

jangan menggunakan singkatan kata yang belum lazim, lebih-lebih dibuat

sendiri, sebab hal ini akan menimbulkan salah pengertian.

       Sementara itu, Wiyasa (1996: 4) mengatakan, sebagai sebuah

karangan, bahasa surat harus memenuhi berbagai ketentuan mengenai

penyusunan atau komposisi seperti tema, tanda bahasa, kalimat, alinea,

gaya bahasa, tujuan komposisi, dan penggunaan tanda baca.
                                                                             18




4) Bagian-Bagian Surat

         Setiap surat yang bersifat resmi atau mempunyai bagian-bagian

penting. Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsinya masing-masing.

Menurut Sabariyanto (1998:38-39), beberapa bagian yang pokok dalam

surat resmi adalah sebagai berikut :

1) Kepala Surat

         Kepala surat disebut pula kop surat. Isinya adalah lambang

(departemen, universitas, perguruan tinggi, akademi, sekolah, dan instansi)

nama unit organisasi, alamat, nomor telepon (jika ada), nomor kotak pos

(jika ada), nomor faksimile (jika ada), dan alamat kawat (jika ada).

         Kepala surat berfungsi untuk mempermudah mengetahui nama dan

alamat kantor atau instansi serta keterangan lain mengenai organisasi yang

mengirim surat.

         Contoh Kepala Surat :

                       DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
              PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
                          BALAI PENELITIAN BAHASA
                Jalan Gatot Soebroto 20 Jakarta Telepon 021-5434587

2) Tanggal Surat

         Dalam menuliskan tanggal pada surat resmi tidak perlu didahului

dengan nama kota, sebab nama kota sudah tercantum di kepala surat. Lain

halnya dengan surat pribadi yang biasanya tidak menggunakan kepala

surat.

         Penulisan angka pada bagian tanggal, bulan, dan angka tahun ditulis

secara lengkap. Di belakang angka tahun tidak perlu diberi tanda titik (.)
                                                                      19




       Contoh menuliskan tanggal surat :

       21 April 2010 (pada surat resmi)
       Purwokerto, 21 April 2010 (pada surat pribadi)

3) Nomor Surat

      Setiap surat resmi yang keluar selalu diberi kode yang berupa

nomor. Nomor tersebut berguna untuk mempermudah mengatur

penyimpanan sebagai arsip, memudahkan mencari surat itu kembali, dan

untuk mengetahui jumlah surat yang telah keluar dalam setiap waktu.

       Contoh Nomor Surat :

       Nomor : 157/F9/2010

4) Lampiran

      Lampiran adalah sesuatu yang ditambahkan pada surat yang

dikirimkan. Tambahan itu dapat berupa surat, kertas surat, foto kopi

ijazah, akta kelahiran, surat keterangan dokter, dan kuitansi.

      Kata lampiran harus dicantumkan apabila surat yang diterbitkan

dilampiri berkas atau surat yang lain. Jika kata Lampiran sudah tercetak

pada kertas surat, dan surat yang diterbitkan tanpa dilampiri sesuatu,

bagian surat itu harus diisi dengan tanda yang menyatakan bahwa surat

tersebut diterbitkan tanpa lampiran, agar orang lain tidak mengisinya

untuk mengacaukan permasalahan. Dalam hal ini tanda yang umum

digunakan adalah tanda hubung (-).

       Contoh menuliskan Lampiran :

       Nomor :
       Lampiran        : Dua Berkas
       Hal             :
                                                                       20




5) Hal atau Perihal Surat

         Hal atau perihal surat atau poko surat yang dikemukakan pada hal

surat adalah isi pokok surat yang diterbitkan. Dengan membaca hal atau

perihal surat, pembaca akan segera mengetahui surat yang hendak

dibacanya. Hendaknya, hal atau perihal surat dituliskan secara ringkas dan

jelas.

         Contoh menuliskan hal atau perihal surat :

         Nomor          :
         Lampiran       :
         Hal            : Penataran Kebahasaan

6) Alamat Tujuan

         Pada umumnya, sebelum surat dikirimkan harus diberi sampul

terlebih dahulu. Dengan demikian ada dua macam alamat yang tertulis,

yaitu alamat luar dan alamat dalam yang tertera pada surat.

         Kegunaan alamat (alamat dalam) sebagai alat control bagi penerima

surat. bagi pengirim surat, alamat dalam berfungsi untuk mengetahui

kecocokan alamat yang dituju sewaktu pemroses surat memasukan surat

ke dalam amplop. Oleh sebab itu, penulisan alamat dalam dapat seperti

penulisan alamat luar, atau dengan tidak mencantumkan nama jalan dan

nomor rumah.

         Contoh menuliskan alamat (dalam) :

         Yth. Kepala MTs Negeri Bobotsari
         Jalan Tanjung 30
         Bobotsari 65321
                                                                        21




7) Salam Pembuka

      Dalam surat resmi yang biasa digunakan sebagai salam pembuka

adalah Dengan Hormat, yang perlu ditulis segaris lurus dengan baris-baris

lainnya. Dengan menuliskan salam pembuka, pengirim surat yang lazim

disebut subjek surat telah menyampaikan rasa hormatnya terlebih dahulu

sebelum ia menyampaikan isinya.

8) Isi Surat

      Isi surat merupakan bagian yang sangat penting karena bagian ini

merupakan wadah segala sesuatu atau semua persoalan yang ingin

disampaikan. Isi surat yang lengkap terdiri atas (1) alinea pembuka, (2)

alinea isi, dan (3) alinea penutup. Alinea pembuka merupakan pengantar

isi surat untuk menarik perhatian pembaca kepada pokok surat.

       Contoh kalimat pembuka :

       (1) Dengan surat ini saya beritahukan bahwa pada hari Senin,
           tanggal 10 Mei 2010 saya sakit.
       (2) Dengan ini kami beritahukan bahwa pada tanggal 19-21 April
           2010 diadakan penataran penyuluhan bahasa daerah.

      Isi surat yang sesungguhnya, memuat sesuatu yang diberitahukan,

dikemukakan, ditanyakan, diminta atau yang disampaikan kepada

penerima surat. Jadi, pada bagian inilah yang merupakan isi surat.

      Alinea penutup merupakan kesimpulan yang berfungsi sebagai

kunci isi surat, atau penegasan isi surat. Selain itu, alinea penutup dapat

berisi harapan penulis, maupun ucapan terimakasih kepada penerima surat

atas perhatian terhadap semua hal yang dikemukakan dalam isi surat.
                                                                    22




      Dengan adanya alinea penutup, pembicaraan berarti telah selesai.

Surat yang tidak menggunakan alinea yang berfungsi sebagai penutup

pembicaraan, maka surat tersebut seakan-akan belum selesai. Kalimat

yang berfungsi sebagai alinea penutup sangat bervariasi. Hal ini

tergantung pada isi dan inti dari surat-surat yang bersangkutan.

       Contoh kalimat pada alinea penutup :

       (1) Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
       (2) Atas perhatian Saudara, kami mengucapkan terima kasih.
       (3) Atas perhatian dan bantuan Saudara, kami ucapkan terima
           kasih.
       (4) Salam Penutup

      Untuk menunjukan rasa hormat dan keakraban pengirim terhadap

penerima surat, lazimnya dicantumkan salam penutup yang terletak

sesudah kata penutup, dan sebelum tanda tangan. Bunyi salam penutup itu

bermacam-macam tergantung pada pertimbangan bagaimana posisi

pengirim terhadap penerima surat.

       Contohnya:

       (1) Hormat kami,
       (2) Salam kami,
       (3) Wassalam

9) Pengirim Surat

      Pada surat-surat resmi sebelum tanda tangan tidak dicantumkan

salam penutup, tetapi cukup nama jabatan dan kantornya, kemudian

mencantumkan nama terang yang terletak di bawah tanda tangan

penanggungjawab serta dicantumkan pula nomor induk pegawai (NIP).
                                                                      23




10) Tembusan

       Jika sebuah surat memerlukan tembusan untuk beberapa instansi

yang ada kaitannya dengan surat yang bersangkutan, maka tembusan

dicantumkan di sebelah kiri pada bagian bawah.

        Contoh Tembusan :

              Tembusan :
              (1) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas
              (2) Kepala Sekolah MTs Negeri Banyumas

11) Inisial

       Inisial atau tanda pengenal yang berupa kode adalah singkatan nama

penyusun, konsep, dan pengetiknya. Bagian ini untuk keperluan internal,

maka bagian ini cukup ditulis pada surat arsipnya saja.

       Menurut Wiyasa (1996: 16), dalam penulisan surat resmi, harus

memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

        1) Kepala Surat
        2) Nomor Surat
        3) Mencantumkan badan atau perseorangan yang dituju
        4) Mencantumkan hari, tanggal, waktu, dan tempat dengan jelas
        5) Mencantumkan maksud dan tujuan
        6) Mencantumkan nama orang yang bertanggungjawab atas surat
           tersebut.
        7) Stempel badan atau organisasi

       Sedangkan bagian-bagian surat undangan atau parangane layang

ulem dalam bahasa Jawa menurut Yatmana (2006:10) terdiri atas:

              1)   Titimangsa
              2)   Salam pambuka
              3)   Surasa basa/isi
              4)   Wasana basa/penutup
              5)   Peprenahan
              6)   Jenenge sing ngulemi
              7)   Ndherek ngajeng-ngajeng (turut mengundang)
                                                             24




Berikut ini adalah bagian-bagian surat dalam bentuk gambar

        ……………………………
      ………………………………. a
        ……………………………
…………………………………………….
                         …………………c


   ………..b
   ………..


   ……….d
   ……….
           ………………………………….. e
   …………………………………………..
           ………………………………….. f
   …………………………………………..
           ………………………………….. g
   …………………………………………..
                                ………….. h
                                …………..
  …………..i                          j ………….
  …………..
Keterangan:
 a.    Logo dan nama organisasi (kop surat)
 b.    Nomor surat, lampiran, dan hal
 c.    Tanggal, bulan dan tahun
 d.    Alamat yang dituju
 e.    Salam pembuka
 f.    Pembuka surat
 g.    Isi surat
 h.    Penutup surat
  i.   Salam penutup
  j.   Pengirim surat
 k.    Tembusan (jika ada), inisial
                                                                         25




3. Ejaan Bahasa Jawa

     Sebagai pedoman teori dalam penelitian ini, penulis menggunakan Ejaan

bahasa Jawa yang disusun oleh Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta (Balai

Pusat Bahasa, 1990 : 7-24). Ejaan tersebut meliputi:

a. Penulisan huruf besar atau kapital

   (1) Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat dan

       huruf pertama petikan langsung.

       Contoh:

       Dalane menggak-menggok tur lunyu ‘Jalannya berkelok-kelok lagi
       pula licin’
       Bapak ngendika, ”Kowe aja lunga adoh-adoh!” ‘Ayah berkata,
       “Engkau jangan pergi jauh-jauh!”’

   (2) Huruf besar dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar,

       pangkat, dan sapaan.

       Contoh:

       Dr. (Doktor), Prof. (Profesor), dan Ny.(Nyonya).

   (3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari

       raya, dan peristiwa sejarah.

       Contoh:

       taun Alip “tahun Alip”
       sasi Sura “bulan Sura”
       riyaya Paskah “hari raya Paskah”
       perang Bubad “perang Bubad”

   (4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan

       bahasa.
                                                                       26




      Contoh:

      bangsa Walanda ‘bangsa Belanda’
      suku Batak ‘suku Batak’
      basa Jawa ‘bahasa Jawa’

b. Penulisan kata

      Penulisan kata meliputi :

   (1) Kata dasar

          Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

      Contoh:

      Aku tuku klambi ‘Saya membeli baju’
      Buku kuwi esih anyar ‘Buku itu masih baru’

   (2) Kata turunan

      a) Imbuhan ditulis serangkai dengan kata dasarnya.

          Contoh:

          digawa ‘dibawa’
          tinulis ‘ditulis’

      b) Jika bentuk dasar berupa gabungan kata mendapat awalan atau

          akhiran saja, gabungan kata itu ditulis terpisah.

          Contoh:

          solah bawane ‘tingkah lakunya, gerak-geriknya’
          mbangun turut ‘patuh, menurut’

   (3) Kata Ulang

             Kata ulang penuh ditulis secara lengkap dengan menggunakan

      tanda hubung.
                                                                           27




       Contoh :

       mlaku-mlaku ‘berjalan-jalan’
       ngguya-ngguyu ‘sebentar-sebentar tertawa’

   (4) Kata Majemuk

       a) Unsur kata majemuk ditulis terpisah

           Contoh :

           nyambut gawe ‘bekerja’
           Gotong royong ‘bergotong royong’

       b) Unsur kata majemuk yang telah padu ditulis serangkai

           Contoh :

           ewadene ‘meskipun demikian’
           bokmenawa ‘mungkin’

c. Penulisan Tanda Baca

   (1) Tanda titik (.)

       a) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau

           seruan.

           Contoh :

           Raden Ajeng Tin nuli budhal. ‘Raden Ajeng Tin lalu berangkat’

       b) Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam satu bagan,

           ikhtisar, atau daftar.

           Contoh:

           (a) III. Kecamatan Purwokerto Timur
                    A. Kelurahan Mersi
                    B. Kelurahan Teluk
           (b) 1. Unggah-ungguhing Basa
                    1.1 Ngoko
                    1.1.1 Ngoko Lugu
                    1.1.2 Ngoko Andhap
                                                                       28




   c) Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik

       yang menunjukkan waktu.

       Contoh :

       jam 02.30.15 jam loro luwih telungpuluh menit limalas sekon
       ‘Pukul dua lebih tiga puluh menit lima belas detik’

   d) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala

       karangan atau kerangka ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

       Contoh :

       Sejarah kasusastran Jawa ‘judul karangan’

   e) Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim, tanggal

       surat, dan nama alamat penerima surat.

       Contoh :

       Jalan Soedirman 304 Purwokerto
       21 April 2010

(2) Tanda koma (,)

   a) Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian

       atau pembilangan.

       Contoh :

       Aku tuku tas, buku, lan klambi ‘Saya membeli tas, buku, dan baju’

   b) Tanda koma dipakai di belakang penghubung antarkalimat yang

       terdapat pada awal kalimat.

       Contoh :

       Mula, kowe kudu ngati-ati. ‘Oleh karena itu, kamu harus hati-hati’
                                                                    29




   c) Tanda koma dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian

       alamat, tempat dan tanggal, serta nama tempat dan wilayah atau

       negeri yang ditulis berturutan.

       Contoh :

       Kusnanto, Jalan Jalipura 1, Purbalingga
       Purwokerto, 21 April 2010
       Jakarta, Indonesia

   d) Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik

       yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan, nama

       keluarga, atau marga.

       Misalnya :

       Haryanto, S.E.
       Ny. Siti Khafidah, M.M.

(3) Tanda titik koma (;)

           Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-

   bagian kalimat yang sejenis dan setara.

   Contoh :

   Wengi saya sepi; dheweke isih durung bisa turu ‘Malam semakin larut;
   ia belum juga dapat tidur’

(4) Tanda titik dua (:)

   a) Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang

       diikuti rangkaian atau pemerian.

       Contoh :

       Kebutuhan wong urip iku akeh: sandhang, pangan, papan, lan
       liya-liyane ‘Kebutuhan orang hidup itu banyak: pakaian, makanan,
       tempat, dan lain-lain’
                                                                   30




   b) Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau kalimat yang

      memerlukan pemerian.

      Contoh :

      Pangarsa: Nurrohman           ‘Ketua : Nurrohman’
      Panitra: Najma                ‘Sekretaris : Najma’

(5) Tanda Hubung (-)

   a) Tanda hubung digunakan untuk menyambung suku-suku kata dasar

      yang terpisah oleh pergantian baris.

      Contoh :

      Raden Ayu Pramayoga sa-
      nget sukur. ‘Raden Ayu Pramayoga sangat bersyukur’

   b) Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata

      ulang.

      Contoh :

      bocah-bocah ‘anak-anak’
      lemu-lemu ‘gemuk-gemuk’

   c) Tanda hubung digunakan untuk menyambung huruf pada kata yang

      dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

      Contoh :

      n-a-g-a-s-a-r-i

      21-4-2010

   d) Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan (a) sa- dengan kata

      berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (b) angka dengan –

      an.
                                                                   31




       Contoh :

       sa-Indonesia ‘se-Indonesia’
       taun 50-an ‘tahun 50-an’

   e) Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Jawa

       dengan unsur bahasa asing.

       Contoh :

       di-check up ‘diperiksa’

(6) Tanda Tanya (?)

   Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

   Contoh :

   Apa Srini isih turu? ‘Apakah Srini masih tidur?’

(7) Tanda seru (!)

   Tanda seru dipakai sesudah ungkapan yang menyatakan seruan atau

   perintah, kesungguhan, ketidakpercayaan, dan emosi yang kuat.

   Contoh :

   Gawanen mrene buku kuwi! ‘Bawalah kemari buku itu!’
   Adhuh, abote! ‘bukan main beratnya!’

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:490
posted:11/12/2012
language:
pages:26