Panduan pra survey pltmh by machfudh

VIEWS: 7,868 PAGES: 21

									1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Maksud dan Tujuan Sebagaimana dijelaskan pada Buku Pedoman Umum, bahwa sebelum melakukan suatu kegiatan studi kelayakan, perlu dilakukan studi potensi atau pra-studi kelayakan. Kegiatan studi potensi ini adalah kegiatan awal sebagai kajian umum atau penjajakan awal untuk pengumpulan atau mendapatkan data dan informasi tentang mungkin tidaknya suatu daerah aliran sungai yang ada dan dapat dikembangkan atau dimanfaatkan menjadi suatu potensi pembangkit energi listrik dari sumber mikrohidro atau yang dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Kegiatan studi potensi ini dapat diperkenalkan sebagai kegiatan Pra Studi Kelayakan (Pra-FS). Dari hasil kegiatan Pra-FS ini menjadi masukan untuk pengambilan keputusan apakah studi perlu dilanjutkan atau tidak, dan bila ternyata memiliki banyak potensi yang layak dapat membantu memilih suatu prioritas. 1.2. Lingkup Kegiatan Studi Potensi (Pra-Studi Kelayakan) Kegiatan Studi Potensi atau Pra-FS ini meliputi kegiatan pengumpulan data dan informasi untuk survey awal di lapangan atau lokasi daerah aliran sungai suatu dusun/desa yang diperkirakan memiliki potensi sumber energi mikrohidro. Data yang dikumpulkan pada kegiatan Studi Potensi atau Pra-FS ini meliputi : a. Data dan Informasi teknis tentang potensi sumber daya air atau daerah aliran sungai untuk PLTMH dimana besaran kuantitatif dan kualitatif data dan informasinya dapat dipetakan pada standar potensi kelayakan pembangunan dan pengembangan PLTMH. b. Data dan informasi tentang tingkat elektrifikasi dan potensi pertumbuhannya, profil sumber energi lokal dan pola penggunaan dan pemanfaatannya yang ada saat ini, profil kebutuhan dan ketersediaan (supply-demand) energi listrik, dan potensi serta daya dukung pembangunan PLTMH. c. Data dan informasi non-teknis tentang profil dan kondisi infrastruktur sosial ekonomi masyarakat, kapasitas lokal, tingkat partisipasi, dukungan dan kontribusi masyrakat lokal untuk pengembangan PLTMH sebagai energi baru terbarukan.

2

1.3. Kriteria Standar Kelayakan Potensi Untuk memberikan batasan atau parameter (kuantitatif dan kualitatif) sebagai tolak ukur kelayakan suatu potensi daerah aliran sungai, dan untuk pertimbangan kepada studi kelayakan lanjut dan dapat menjadi prioritas, bila memenuhi kriteria-kriteria minimal : a. Total jarak atau panjang jaringan transmisi/distribusi titik lokasi pembangkit terhadap penerima daya (beban) terjauh. b. Jumlah calon konsumen (orang, rumah,KK) yang ada. c. Potensi daya listrik terbangkit mencukupi (....kW) d. Kontinuitas ketersediaan aliran air sungai sepanjang tahun (musim hujan dan kering), minimal ......bulan. e. Tingkat aksesibilitas menuju lokasi tidak sangat ekstrim membutuhkan teknologi transportasi yang sangat mahal. f. Lokasi pembangkit tidak merusak dan atau berada di kawasan cagar alam atau budaya yang dilarang oleh undang-undang dan tidak diperbolehkan membangun bangunan fisik permanen. g. Tidak memimbulkan dampak negatif yang sangat ekstrim terhadap kondisi sosial politik dan ekonomis. h. Memenuhi ketentuan standar persyaratan internasional untuk pengembangan energi terbarukan dan investasi.

3

BAB 2 SURVEY AWAL STUDI POTENSI (PRA-STUDI KELAYAKAN)

2.1. Pengumpulan Data Teknis a. Pengumpulan Bahan Referensi Dasar Setelah mengidentifikasi dan memfokuskan calon-calon lokasi potensi, maka langkah selanjutnya mengumpulkan bahan referensi dasar yang dibutuhkan adalah antara lain : 1) Peta Lokasi : skala : 1 : 50.000 atau 1 : 10.000 Merupakan peta tentang wilayah dusun/desa lokasi potensi, relatif terhadap lokasi pusat pemerintahan desa, kecamatan, kota dan beberapa fasilitas umum. Peta ini dapat menggambarkan tingkat aksesibilitas lokasi PLTMH. 2) Peta Topografi : skala : 1/25.000 atau 1/50.000 Informasi yang diperlukan antara lain tanah pertanian, lokasi desa-desa, kemiringan sungai, daerah tangkapan air dari lokasi yang diusulkan, jalan menuju lokasi dan sebagainya. Peta topografi, skala dimaksud diperoleh dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 3) Data Curah Hujan : peta isohyetal dan lain-lain Peta isohyetal menyediakan data informasi perkiraan indikasi dari curah hujan di wilayah tersebut dan daerah yang berdekatan. b. Pemilihan Lokasi Potensial Pemilihan lokasi potensi sumber energi mikrohidro dapat dilakukan secara desk study atau survei awal sebagai pendekatan, yakni sebagai berikut : 1) Pemilihan berdasarkan Peta Perkiraan Ketinggian, yang ditaksir melalui peta adalah kurang lebih 10 m. Untuk peta dengan skala 1/25.000 dan 25 m untuk peta dengan skala 1/50.000. 2) Pemilihan dengan Mempertimbangkan Kemiringan Sungai dan Daerah Aliran Sungai Pemilihan lokasi potensial ini dengan mempertimbangkan profil tinggi head dan saluran air serta debit air aliran sungai yang ada. Jenis informasi, yang diambil dari peta topografi adalah

4

kemiringan sungai (perbedaan ketinggian dan panjang sungai) dan daerah aliran air.

Gambar 1. Catchment Area c. Pengumpulan Data dan Informasi Kelayakan Teknis Lokasi Pengumpulan data dan informasi kelayakan teknis ini adalah melengkapi bahan-bahan referensi dasar yang akan digunakan untuk analisa kelayakan lokasi dari segi teknis. Data yang terkumpulkan dalam formulir ini akan menjadi dasar persiapan perancangan teknis, dan menilai kelayakan teknis pembangunan PLTMH (Buku Pedoman 2 dan 3). Kegiatan di lapangan meliputi : wawancara dengan stakeholders, khususnya dengan penghuni lokal ; Pengukuran head, survey proyek di lokasi (dari intake sampai tailrace); Pengukuran flow; Pengukuran GPS untuk jaringan transmisi. Data sekunder yang dibutuhkan untuk kegiatan ini antara lain : 1) Peta Topografis (skala 1 : 50 000 atau lebih kecil) dari proyek dan daerah tangkapan air. 2) Data Hidrologis (curah hujan, bacaan dari stasiun yang relevan dievaluasi, apabila memungkinkan. Formulir ini diharapkan dapat melengkapi data dari masing-masing daerah tersebut atau menggambarkan pilihan pembangunan teknis sehingga dapat ditarik perbandingannya serta dapat dievaluasi.

5

Selanjutnya, Forms C (Desain), D1 (Pendapatan dan Generator), D3a (Biaya Implementasi), D3b (Biaya Operasional), D4 (Analisa Ekonomi), D5 (Analisa Keuangan) and Form E (Evaluasi dan Konsolidasi) harus juga diisi dari setiap pilihan pembangunan teknisnya. Secara garis besar kelompok data dan informasi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut adalah : 1) Deskripsi Umum Potensi 2) Deskripsi Lokasi Potensi 3) Layout Umum 4) Jaringan dan Transmisi 5) Faktor-faktor lingkungan 6) Penggunaan Lahan sekitar lokasi potensi saat ini Hal-hal yang perlu diklarifikasi selain dari kelompok informasi diatas antara lain adalah : 1) Profil potensi sumber alam mikrohidro di desa/dusun wilayah yang telah diindikasi dengan aliran sungai, dan 2) Profil potensi sosial ekonomi desa/dusun yang diidentifikasi membutuhkan listrik. 3) Apakah benar bahwa memungkinkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang dekat dengan daerah yang membutuhkan daya. 4) Berapa kapasitas daya yang diperkirakan dapat dihasilkan berdasarkan profil topografi (representasi head) dan debit/deras aliran sungai yang ada. 5) Alternatif-alternatif lokasi potensial lain di sepanjang aliran sungai dusun/desa tersebut. d. Kajian Pencarian Lokasi Sistem Pembangkit Dalam kajian lokasi pembangkit diupayakan sedekat mungkin dengan lokasi-lokasi konsumen yang membutuhkan daya. Apabila lokasi permintaan daya tersebar pada daerah yang luas, maka disarankan menyebarkan pembangkit skala kecil (picohidro) daripada memasok daya ke seluruh grup oleh sebuah pembangkit tunggal. Syarat yang perlu diperhatikan adalah biaya jaringan lebih rendah, lebih mudah pengoperasian dan perawatan dan dampak penghentian tak terduga dari pembangkit dapat diperkecil. Selanjutnya perlu juga

6

diperhitungkan adalah daya yang dihasilkan, tingkat permintaan, topografi, kondisi jalan masuk, tegangan jaringan dan perhitungan ekonomi jaringan. Perkiraan jarak maksimum jaringan sampai dengan konsumen adalah kurang lebih 1,5 km. Jarak ini berdasarkan pada asumsi bahwa tegangan pada akhir jaringan distribusi harus terjaga diatas 205 Volt, 15V sebagai kerugian tegangan yang diijinkan pada aturan tegangan 220V, tanpa trafo (transformer). Jika lokasi potensial tidak ditemukan karena terlalu jauh pelayanan konsumen maka trafo harus dipasang. e. Kajian Kondisi Stabilitas dari Struktur Tanah (Kondisi Geologis) untuk Rencana Bangunan Sipil Komponen PLTMH Kajian ini dilakukan dari desk study data/informasi kondisi struktur tanah atau kondisi geologi, atau dengan survei awal stabilitas tanah, terutama permukaan tanah, diperlukan untuk pembangunan dari sebuah pembangkit tenaga air skala kecil karena (i) bangunan yang ditunjukkan sebagian besar adalah bangunan sipil utama (ii) rute dari saluran air pada sebuah kemiringan sisi bukit. Penelitian harus dihasilkan dalam bentuk sketsa gambar (berdasarkan gambar 2) untuk tujuan referensi untuk menentukan bangunan dasar dari setiap bangunan sipil.

Gambar 2. Sketsa geologi yang didasarkan pada pengamatan lokasi

7

f. Pembuatan Layout Awal Sistem PLTMH Untuk memudahkan studi kelayakan lanjut, pada tahap pra-studi kelayakan dapat dibuat layout awal sistem PLTMH yang merepresentasikan posisi/lokasi komponen sistem PLTMH sebagaimana gambar dibawah ini.

Dan dari layout sistem PLTMH tersebut akan dapat menggambarkan skema sistem PLTMH yang diklasifikasikan kedalam : 1) Air dari intake dialirkan melalui penstock sampai ke turbin. Jalur pemipaan mengikuti aliran air, paralel dengan sungai (gambar long penstock following river). Metoda ini dapat dipilih seandainya pada medan yang ada tidak memungkinkan untuk dibuat kanal. Perlu diperhatikan bahwa penstock harus aman terhadap banjir. 2) Jalur penstock dapat dibuat langsung dari intake ke turbin tanpa mengikuti bentuk sungai (gambar short penstock). Penstock yang digunakan lebih pendek dibandingkan cara pertama. Cara ini menuntut adanya kemiringan tanah yang memadai pada jalur penstock yang dipilih. 3) Seandainya memungkinkan, pembuatan saluran terbuka (kanal) dapat dibuat sampai lokasi tertentu, selanjutnya digunakan penstock sampai ke turbin (gambar mid-length penstock). Dengan demikian jalur penstock menjadi sangat pendek. Panjang saluran terbuka serta kondisi tanah perlu diperhitungkan. Saluran yang panjang akan cepat rusak bila kurang mendapat perawatan.

8

Kondisi tanah yang labil dan miring akan menyulitkan dalam konstruksinya serta mahal. Sedapat mungkin pada tingkat pre-FS disamping layout di atas, dapat menggambarkan : 1) Sketsa-sketsa layout lokasi 2) Jarak-jarak yang diukur berdasarkan pada GPS atau tape measurements 3) Ketinggian berdasarkan pada altimeter sesuai dengan pengukuran GPS. 2.2. Pengumpulan Data Non Teknis a. Data dan informasi profil sosial ekonomi Data dan informasinya dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif yang dapat dilakukan melalui pengumpulan data sekunder maupun data primer yang didapat dari isian kuesioner maupun dari hasil wawancara pada penduduk lokal di lokasi potensi. Data non teknis tersebut meliputi : 1) Profil dusun/desa lokasi potensi yang menggambarkan tentang :  Tingkat populasi penduduk berdasarkan jumlah orang per KK, jenis kelamin, usia/umur, latar belakang pendidikan, komposisi agama yang dianut.  Tingkat heterogenitas masyarakat. Tingkat aksesibilitas lokasi dusun/desa dari pusat administratif desa, kecamatan, kota/kabupaten, dan ibu kota propinsi, kondisi jalan dan mode transportasi yang ada serta jarak lokasi.  Profil ketersediaan sumber energi dan pola penggunaan dan pemanfaatannya.  Tingkat dan pola konsumsi peralatan listrik. 2) Tingkat standar hidup dan sumber pendapatan masyarakat. 3) Kondisi dan kesadaran serta partisipasi gender. 4) Tingkat kesadaran (willingness) masyarakat untuk :  Kontribusi pada pembangunan penyediaan listrik dan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. 

9

 5) 6) 7) 8) 9)

Kesadaran dan kemampuan untuk membayar pelayanan penyediaan listrik. Profil usaha dan sumber-sumber ekonomi produktif berbasis sumber daya lokal. Kecepatan akses, kemampuan mengusahakan akses kepada pasar. Kapasitas lokal dan kemampuan berkembang dengan pemanfaatan potensi sumber daya lokal. Kondisi dan profil infrastruktur pelayanan publik yang ada. Tingkat respon dan dukungan pemerintah daerah setempat.

b. Analisis Finansial PLTMH Dilakukan dengan desk study dan perkiraan sangat kasar berdasarkan dukungan data harga, ongkos. Analisis finansial ini meliputi kalkulasi secara sangat kasar total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan PLTMH di lokasi potensi. Kalkulasi meliputi komponen harga atau biaya sebagai berikut : 1) Harga pengadaan peralatan mekanik elektrik. 2) Biaya transportasi/pengiriman peralatan dari pabrik ke lokasi. 3) Total harga pembangunan seluruh bangunan sipil sistem PLTMH, yang meliputi :  Biaya material yang dibutuhkan  Biaya jasa tenaga kerja pembangunan bangunan sipil 4) Biaya pemasangan/instalasi. 5) Biaya Pengadaan Jaringan dan Transmisi. 6) Biaya konsultansi detil perancangan dan komisioning. 7) Biaya administrasi dan kontingensi. Untuk lebih mempertajam analisis finansial ini, dapat dilanjutkan dengan memetakan perkiraan jumlah pendapatan (revenue) penjualan listrik berdasarkan jumlah optimal daya terbangkit potensi PLTMH, potensi keuntungan yang dapat diproyeksikan dari jumlah perkiraan pendapatan dikurangi jumlah biaya pengeluaran untuk gaji operator, biaya perawatan peralatan PLTMH, pembayaran kewajiban lain seperti iuran air dan sebagainya. Dari analisis finansial ini dapat dikalkulasi biaya per kW nya setiap lokasi potensi PLTMH. Sebagai catatan, untuk perhitungan perkiraan jumlah pendapatan (revenue) penjualan listrik per kW nya dapat menggunakan harga tarif yang ditetapkan per wilayah lokasi potensi sesuai Kepmen ESDM No. 1122/K/30/MEM/2002.

10

c. Inventarisasi Potensi Kebutuhan Listrik 1) Survei Tingkat Pelayanan dan Potensi Kebutuhan Listrik Tingkat pelayanan dan potensi kebutuhan daya listrik (demand) masyarakat perlu diteliti awal, apakah benar tingkat permintaan daya sedikit lebih tinggi dari kemampuan produksi dan layanan listrik PT. PLN yang ada. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan berkaitan dengan efisiensi . Survey awal ini dilakukan untuk mengetahui profil jumlah KK yang telah teraliri listrik PT PLN dengan yang belum teraliri (sebagai rasio elektrifikasi). Dari profil jumlah KK yang teraliri dapat dianalisa profil beban puncak per KK dengan daya rata-rata 150200 W, yang dihubungkan dengan tingkat kemakmuran dan pertumbuhan usaha/ekonomi masyarakat. Dari data awal diatas, dapat diperbandingkan dengan perkiraan tingkat layanan penyediaan listrik PLTMH berdasarkan data kebutuhan listrik oleh masyarakat. 2) Jaringan Transmisi dan Distribusi Listrik (PT. PLN) Maksud dari inventarisasi jaringan transmisi dan distribusi listrik PT. PLN adalah untuk mengetahui awal profil jaringan PT. PLN yang ada di lokasi potensi dan rencana pengembangan kedepannya. Hal ini perlu diketahui sejak awal untuk mencegah berulangnya kejadian dimana banyak pembangunan dan pengembangan PLTMH tidak dioperasikan lagi karena sudah dibangun jaringan transmisi distribusi listrik PT. PLN. Untuk melengkapi kajian profil jaringan transmisi dan distribusi listrik PT. PLN tersebut dapat dilakukan dengan pengumpulan data sebagai berikut :  Data Rencana Pengembangan Jaringan Pelayanan PT. PLN. Di banyak tempat, ditemukan PLTMH tidak dioperasikan lagi karena sudah tersedia jaringan transmisi dan distribusi penyediaan listrik oleh PT. PLN. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk mendapatkan gambaran rencana penyediaan listrik di desa/dusun calon lokasi PLTMH. Selain itu juga perlu didapat data rencana pengembangan jaringan pelayanan PT. PLN dari rencana pemasangan tiangtiang listrik dan travo. Dengan data ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk rencana penyambungan (on-grid) pada jaringan PT. PLN seperti dengan skema PPA.

11



Data Pelanggan PT. PLN di Wilayah Desa Potensi PLTMH Sebenarnya data pelanggan PT. PLN adalah salah satu profil data sosial ekonomi sebagaimana telah dikumpulkan sebagai data non teknis. Akan tetapi data ini dapat difokuskan yakni data profil pelanggan PT. PLN. Data ini dapat diperoleh dari PT PLN. Data ini dapat digunakan untuk analisis potensi pertumbuhan kebutuhan (demand) listrik di wilayah lokasi PLTMH.

12

BAB 3 PEMILIHAN PRIORITAS STUDI KELAYAKAN PLTMH

3.1. Formulasi Prioritas Berdasarkan pengalaman, beberapa daerah memiliki beberapa atau bahkan banyak potensi pembangkit energi mikrohidro yang layak. Akan tetapi untuk memilih atau menetapkan prioritas pembangunan dan pengembangannya berdasarkan tingkat/level kelayakannya relatif berdasarkan data dan informasi teknis dan non teknis hasil Pra-FS tersebut perlu dibuat suatu formulasi. Formulasi ini hanyalah suatu pendekatan kuantifikasi untuk menggambarkan tingkat kelayakan dan membantu pengambilan keputusan prioritas pembangunan dan pengembangannya. Sebagai pendekatan, formula tingkat kelayakan dan prioritas dapat dikuantifikasi berdasarkan pendekatan kriteria-kriteria sebagai berikut : a. Jumlah KK yang akan dialiri listrik b. Tingkat keseimbangan sosial ekonomi (berdasarkan jumlah pemeluk agama) c. Tingkat homogenitas situasi desa d. Sumber pendapatan dan profil pekerjaan penduduk e. Tingkat kesadaran dan partisipasi gender f. Tingkat kesadaran (willingness) untuk berkontribusi g. Tingkat kesadaran (willingness) untuk membayar listrik h. Tingkat kebutuhan penggunaan peralatan listrik per KK i. Tingkat potensi usaha produktif menggunakan energi/listrik PLTMH j. Tingkat potensi pengembangan kapasitas lokal k. Tingkat kapasitas kemampuan pengelolaan PLTMH l. Tingkat kemudahan dan pengembangan akses ke pasar 3.2. Pemilihan Prioritas PLTMH Pemilihan ini dilakukan kepada lokasi-lokasi potensi yang sudah memenuhi standar minimal sebagaimana di atas. Untuk memilih dan menetapkan prioritas lokasi potensi untuk kegiatan lebih lanjut, dapat dilihat dari tingkat/level keleyakan dan prioritasnya. Penetapan ini berdasarkan pendekatan pemberian nilai kuantifikasi yang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

13

a. Identifikasi data dan informasi kriteria-kriteria setiap lokasi potensi. b. Tetapkan skala pendekatan penilaian kuantifikasi setiap kriteria untuk setiap lokasi potensi, misalnya dengan skala : 1-10 c. Setiap penilaian kuantifikasi yang tertinggi, terbaik, atau paling baik diberikan nilai 10, dan terendah, terjelek, atau paling jelek diberikan nilai 1. d. Kemudian dengan perbandingan penilaian terhadap penilaian kuantifikasi dari terendah, terjelek (nilai 1) sampai tertinggi, terbaik (nilai 10), berikan penilaian kuantifikasi setiap kriteria untuk setiap lokasi potensi. e. Jumlahkan nilai total dari nilai kuantifikasi seluruh kriteria untuk masing-masing lokasi potensi. f. Bandingkan nilai total setiap lokasi potensi. Dari perbandingan ini dapat diinterpretasi perbandingan tingkat kelayakan dan prioritas lokasi potensi. Untuk menggambarkan hal ini dapat diberikan contoh seperti dibawah ini:
PLTMH Kriteria Jumlah KK Tingkat keseimbangan sosial Tingkat homogenitas situasi desa Sumber pendapatan dan profil pekerjaan 120 Islam = 100 Kristen = 10 Hindu = 10 Tidak ada konflik,desa dikelola baik PNS=80% Dagang (15%) Pengusaha 3% Lain2 (2%) Banyak ormas, aktif Tidak potensi, Tidak tertarik swadaya Tinggi; teratur LOKASI PLTMH A 150 Islam = 150 PLTMH B 260 Kristen =200 Islam =25 Katolik = 15 Tidak ada konflik,desa dikelola baik Petani (20%) Pekerja/Buruh/ PNS (50%) Lain2 (30%) Tidak ada ormas PLTMH C 200 Islam = 200 PLTMH D

Tidak ada konflik,desa dikelola baik Petani (70%) Dagang (20%) Pengusaha 10%, Lain2 Sedikit org masyrkt Potensi,tertarik bersedia swadaya Tidak teratur

Tidak ada konflik,desa dikelolah baik Petani (75%) Dagang (20%) Pegawai (3%) Lain2(2%) Sedikit org masyrkt Potensi dan Tertarik Tidak teratur

Kesadaran dan partisipasi gender Kesadaran untuk berkontribusi Kesadaran untuk membayar listrik

Tidak potensi dan tidak tertarik Sedang, Teratur

14
Kebutuhan penggunaan peralatan listrik Potensi usaha produktif Pengembangan kapasitas lokal Kapasitas kemampuan pengelolaan PLTMH Kemudahan akses pasar Banyak punya TV, Kulkas, R/T, Komputer Bbrp home industri makanan Bagus, banyak turis Sedang Banyak hanya radio, beberapa TV Ada penggilingan padi Bagus Tinggi Beberapa TV, R/T, Kulkas, Ricecooker Tidak ada industri Bagus Sedang Beberapa radio, TV Tidak ada industri Bagus Rendah

Bagus

Bagus

Bagus

Bagus

Berdasarkan data diatas, maka dibuat kuantifikasi berikut :
PLTMH Kriteria Jumlah KK Tingkat keseimbangan sosial Tingkat homogenitas situasi desa Sumber pendapatan dan profil pekerjaan Kesadaran dan partisipasi gender Kesadaran untuk berkontribusi Kesadaran untuk membayar listrik Kebutuhan penggunaan peralatan listrik Potensi usaha produktif PLTMH A 5 8 PLTMH B 6 10 LOKASI PLTMH C 10 8 PLTMH D 8 10

10

10

10

10

8 8 5 10 10 8

6 6 10 1 7 8

4 1 1 8 8 1

2 4 8 1 6 1

15
Pengembangan kapasitas lokal Kapasitas kemampuan pengelolaan PLTMH Kemudahan akses pasar Total 10 10 10 10

6

10

6

4

8 96

8 92

8 75

8 72

Dari nilai kuantifikasi total pada matrik diatas tergambar tingkat/level kelayakan dan prioritas masing-masing lokasi potensi PLTMH.

16

BAB 4 PENYUSUNAN LAPORAN HASIL STUDI POTENSI (PRA-STUDI KELAYAKAN)

Tidak ada standar baku format penyusunan Laporan Hasil Studi Potensi (Pra-FS) Pembangunan PLTMH, demikian juga format laporan yang disajikan dalam Buku Pedoman ini bukan merupakan standar baku. Pada pemangku (stakeholders) dapat menyusun sesuai versi masing-masing. Format penyusunan laporan dalam Buku Pedoman ini disusun justru karena tidak adanya standar baku dan sebagai petunjuk praktis membantu memudahkan penulisan laporan hasil studi potensi (Pra-FS) yang memudahkan kegiatan studi kelayakan lanjut berdasarkan referensi laporan ini. Laporan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Hasil Studi Potensi (Pra-FS) dapat disusun sebagai berikut : Halaman sampul laporan Ringkasan Eksekutif Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran Bab Pendahuluan Pada bab ini berisi tentang project statement, latar belakang, maksud dan tujuan serta lingkup kegiatan studi potensi yang telah dilakukan (boleh dijelaskan dengan jadwal waktu) dan gambaran hasil yang dicapai. Oleh karena kegiatan studi potensi ini dapat dilakukan oleh masyarakat (perorangan dan atau lembaga), maka pada bab ini dapat dicantumkan identitas maupun profil lembaga yang diuraikan identitas, status, dan alamatnya dengan jelas. 8. Bab Pengumpulan Data dan Survey Awal Lapangan Pada bab ini dijelaskan tentang pengumpulan data primer yang telah dilakukan dan didapat seperti : peta topografi dengan dijelaskan skalanya, data curah hujan atau meteorologi selama periode tertentu, data hidrologi, peta geologi dengan skalanya. Menjelaskan pengumpulan data dan informasi primer berdasarkan survey awal hasil wawancara dengan penduduk.

17

9. Bab Profile Lokasi Potensi Pada bab ini dijelaskan profil teknis dan non-teknis yang mendukung analisis pra-kelayakan yang sudah didapat. Boleh juga pada bab ini digambarkan matrik profil potensi lokasi dengan kriteria-kriteria dan penilaian kuantitatif dan kualitatifnya. Pada bab ini setiap penjelasan dan uraian dapat ditampilkan gambar dan foto. Dan yang paling substansi pada bab ini adalah sketsa layout rencana sistem PLTMH, dan perkiraan potensi daya (kW) yang dapat dihasilkan. 10. Bab Analisis Finansial Pada bab ini menggambarkan profil dari aspek finansial yang terdiri dari profil besar investasi yang dibutuhkan yang terdiri dari biaya pengadaan peralatan, biaya pengiriman peralatan ke lokasi, biaya pembangunan bangunan sipil, perkiraan biaya operasi, perkiraan profil pendapatan berdasarkan asumsi model usaha (penjualan); dan profil keuntungan. Jika datanya menmungkinkan dapat pula disajikan ukuran-ukuran kelayakan secara aspek finansial seperti break even point (BEP), IRR, NPV dan sebagainya. Pada bab ini juga dapat juga dijelaskan skema pembiayaan atau kontribusi kepemilikan investasi. 11. Bab Rekomendasi Studi Kelayakan Pada bab ini disampaikan saran dan rekomendasi langkah kegiatan Pengujian lokasi (site assessment) dan pengumpulan data lebih lanjut atau lebih detil yang perlu dilakukan untuk lebih mendefinisikan kelayakan potensi dan membantu perencanaan detil pembangunan sistem PLTMH. 12. Lampiran-lampiran data, foto dan referensi.

18

BUKU 1 BUKU PEDOMAN PRA-STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PLTMH

INTEGRATED MICROHYDRO DEVELOPMENT AND APPLICATION PROGRAM (IMIDAP)

KERJA SAMA ANTARA DIREKTORAT JENDERAL LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI (DJLPE) DAN UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME (UNDP)

Jakarta,

Mei 2009

19

KATA PENGANTAR

20

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Maksud dan Tujuan 1.2. Lingkup Kegiatan Studi Potensi (Pra-Studi Kelayakan) 1.3. Kriteria Standar Kelayakan Potensi SURVEY AWAL STUDI POTENSI (PRA-STUDI KELAYAKAN) 2.1. Pengumpulan Data Teknis a. Pengumpulan Bahan Referensi Dasar b. Pemilihan Lokasi Potensial c. Pengumpulan Data dan Informasi Kelayakan Teknis Lokasi d. Kajian Pencarian Lokasi Sistem Pembangkit e. Kajian Kondisi Stabilitas dari Struktur Tanah (Kondisi Geologis) untuk Rencana Bangunan Sipil Komponen PLTMH f. Pembuatan Layout Awal Sistem PLTMH 2.2. Pengumpulan Data Non Teknis a. Data dan Informasi Profil Sosial Ekonomi b. Analisis Finansial PLTMH c. Inventarisasi Potensi Kebutuhan Listrik PEMILIHAN PRIORITAS STUDI KELAYAKAN PLTMH 3.1. Formulasi Prioritas 3.2. Pemilihan Prioritas PLTMH PENYUSUNAN LAPORAN HASIL STUDI POTENSI (PRA-STUDI KELAYAKAN) i ii 1 1 1 2 3 3 3 3 4 5

BAB 2

BAB 3

6 7 8 8 9 10 12 12 12 16

BAB 4

LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA

21


								
To top