Motor Learning Programme by JCPHYSIO85

VIEWS: 1,164 PAGES: 18

More Info
									“MOTOR PADA STROKE

RELEARNING

PROGRAMME”

(MRP)

Dikembangkan oleh Janet H. Carr dan Roberta Shepherd, dua orang fisioterapis Australia pada sekitar tahun 1980-an. MRP menjadi teknik pendekatan stroke yang terpopuler di Australia pada saat ini, disamping pendekatan Bobath. MRP memberikan alternatif metode pendekatan/terapi pada penderita stroke. Evidence Based  MRP lebih terpilih daripada Bobath karena lebih memperpendek masa rawat inap, sedangkan kemampuan motorik dan kualitas hidup tidak berbeda antara keduanya (Langhammer, Stanghelle, 2000).  MRP dan Bobath tidak berbeda setelah 1 dan 4 tahun (Langhammer, Stanghelle, 2003) Prinsip-prinsip MRP  Pelatihan kembali kontrol motorik yang berdasarkan pemahaman tentang kinematika dan kinetika gerakan normal (biomekanika), kontrol dan latihan motorik (motor learning & motor control)  Melibatkan proses kognitif  Ilmu perilaku & psikologi  Latihan dalam olahraga  Pemahaman anatomi dan fisiologi saraf  Tidak berdasarkan pada teori perkembangan normal (neurodevelopmental) Asumsi  Proses belajar, bahwa orang dengan disabilitas memiliki kebutuhan belajar yang sama dengan orang normal  Kontrol motorik: antisipasi, persiapan dan kelangsungan gerak  Latihan spesifk yang semakin meningkat, lingkungan bervariasi  Input sensorik mempengaruhi gerak  Plastisitas otak dipengaruhi oleh kejadian di alat gerak Komponen Latihan motorik  Kognitif  Atensi dan konsentrasi  Instruksi (aba-aba)

 Demonstrasi (pemberian contoh)  Motivasi  Penentuan tujuan  Penilaian yang obyektif  Latihan yang konsisten  Arahan/petunjuk/pegangan manual (manual guidance)  Catatan kemajuan  Latihan dengan aktivitas spesifik  Manipulasi lingkungan MRP menuntut partisipasi aktif dari pasien yang melibatkan re-learning aktifitas fungsional (aktivitas hidup sehari-hari), yang sangat bermanfaat pada pasien. Teknik ini menggunakan premis dasar bahwa kapasitas otak mampu untuk reorganisasi dan beradaptasi (kemampuan plastisitas otak), dan dengan latihan yang terarah dapat saja menjadi sembuh atau membaik.  Program ini berdasarkan pada 4 faktor penting untuk belajar keterampilan motorik dan relearning kontrol motorik yaitu eliminasi aktifitas otot yang tidak diperlukan, feedback, latihan dan hubungan antara pengaturan postural dan gerakan  Re-learning yang ada pada program ini merupakan latihan keterampilan yang sudah dimiliki pasien sebelum stroke, yang akan dibantu oleh fisioterapis. Para terapis akan mengarahkan dan menjelaskan (lebih kearah pelatih daripada terapis) latihan-latihan yang akan dilakukan oleh pasien stroke Ada 4 hal penting dalam menggunakan program ini: – – Analisa aktivitas dan observasi untuk menentukan problem Tugas motorik dilatih secara komponen atau secara keseluruhan

Pada umunya pasien-pasien pada tahap awal tidak dapat latihan secara keseluruhan sehingga perlu dilakukan latihan gerakan yang terpisah (latihan komponen terlebih dahulu) – Teknik

Penjelasan, demonstrasi dan arahan manual akan membantu pasien untuk mengerti alasan latihan yang akan dijalaninya – Metode Progression

Ketika pasien sudah menguasainya, pasien dilatih keterampilan yang sama tapi dengan kondisi lingkungan yang berbeda sehingga pasien terbiasa dan beradaptasi dengan semua kondisi  Efektifitas dari MRP tergantung dari kemampuan fisioterapis:

- Mengetahui perkembangan dari ilmu gerak - Menganalisa kemampuan motorik pasien - Menjelaskan kpd pasien secara jelas dan mudah dimengerti - Mengawasi kemampuan pasien & memberikan data yg akurat - Melakukan re-evaluasi pd tiap sesi kemampuan pasien & efektifitas terapi yg telah dilakukannya - Mengetahui kemajuan tingkat kemampuan pasien - Menyediakan lingkungan yang positif bagi pasien MOTOR RELEARNING PROGRAMME (MRP)  MRP terdiri dari 7 sesi yang mewakili fungsi penting (tugas motorik) dari kehidupan seharihari, yang dikelompokkan menjadi 1. Fungsi ekstremitas atas 2. Fungsi orofasial 3. Tidur ke duduk di tepi tempat tidur 4. Posisi duduk yang seimbang 5. Duduk ke berdiri 6. Posisi berdiri yang seimbang 7. Berjalan  MRP dilakukan sesegera mungkin stlh pasien dinyatakan stabil.  1,5 jam 2x perhari pada hari-hari pertama dan juga perlu dilakukan terapi diluar jadwal dengan terapis sehingga hasilnya lebih optimal FUNGSI EKSTREMITAS ATAS Deskripsi Fungsi Normal Gerakan lengan bekerja sama dengan tangan untuk menunjuk, menggapai, atau memegang suatu obyek - Memegang dan melepas obyek yang berbeda dengan bentuk, ukuran, berat dan tekstur yang berbeda pula - Memegang dan melepaskan obyek dengan lengan yang mendekat ke tubuh atau menjauh dari tubuh

- Memindahkan obyek dari satu tempat ke tempat lain - Memanipulasi atau menggunakan alat untuk tujuan tertentu - Mencapai semua arah - Menggunakan 2 tangan bersama-sama baik gerakan yang sama atau berbeda (gambar slide 14) Komponen-komponen penting Lengan Fungsi utama lengan adalah agar tangan dapat diposisikan untuk dimanipulasi. Komponen ini melibatkan: - Abduksi bahu - Fleksi bahu - Ekstensi bahu - Fleksi dan ekstensi siku Tangan Fungsi utama tangan untuk memegang, melepaskan, dan memanipulasi obyek untuk tujuan tertentu. Komponen ini melibatkan: - Deviasi radial dikombinasi dengan ekstensi lengan bawah - Ekstensi dan fleksi lengan bawah - Abduksi palmar dan rotasi sendi carpometakarpal ibu jari - Fleksi & rotasi jari-jari ke arah ibu jari - Fleksi sendi interphalangeal - Supinasi & pronasi saat pegang obyek (slide 15) ketika memegang sebuah obyek

Lengan

- Gerakan skapula terbatas biasanya rotasi lateral dan penurunan gelang bahu - Kontrol otot terbatas pd sendi glenohumeral  penurunan abduksi bahu & fleksi bahu atau tidak mampu utk mempertahankan posisi ini. Pasien mgkn melakukan kompensasi dg melakukan elevasi gelang bahu dan fleksi lateral dari badan - Fleksi siku yang tidak perlu, rotasi internal bahu dan pronasi (slide 16) Tangan - Kesulitan memegang dengan ekstensi pergelangan tangan - Kesulitan ekstensi dan fleksi sendi metacarpo-phalangeal dengan fleksi sendi interphalangeal agar jari dpt memegang dan melepaskan benda - Kesulitan abduksi dan rotasi ibu jari untuk memegang dan melepas benda - Tidak mampu melepaskan benda tanpa fleksi pergelangan tangan - Ektensi berlebihan dari jari-jari dan ibu jari sewaktu melepas benda - Kecenderungan utk pronasi ↑↑ ketika memegang atau mengambil suatu obyek - Tidak mampu memegang obyek yang berbeda ketika menggerakkan lengan - Kesulitan menggenggam  Analisa nyeri bahu, sebagai akibat dari penurunan aktivitas motorik disekitar bahu, otot-otot disekelilingnya menjadi tidak aktif. Sendi gleno-humeral merupakan sendi yang tidak stabil sehingga ketika otot-otot yang mengontrol fungsi tersebut terganggu maka sendi itu menjadi tidak stabil.  Jaringan lunak yang luka akan menyebabkan nyeri, kaku, dan subluksasi, biasanya hal ini terjadi karena 4 faktor : - Jaringan lunak terjepit akromion - Friksi jaringan lunak dengan tulang - Traksi jaringan lunak

- Kontraktur jaringan lunak Langkah 2 dan 3 : Latihan fungsi ekstremitas atas  Pada umumnya rehabilitasi fungsi ekstremitas atas tidak berhasil dengan baik. Banyak pasien yang tidak dapat menggunakan lengannya secara optimal dan mengalami nyeri bahu  Pada langkah 2 dan 3 bertujuan untuk: - Merangsang aktifitas otot dan melatih kontrol motorik meraih dan menunjuk. - Mempertahankan panjang otot - Merangsang aktifitas otot dan melatih kontrol motorik latihan ekstensi pergelangan tangan - Melatih supinasi - Melatih abduksi telapak tangan dan rotasi ibu jari - Latihan menggenggam - Latihan memanipulasi obyek - Melatih menggunakan alat-alat (garpu, pisau, sendok) (slide 19) Langkah 4 : Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari Jika pasien telah mencapai perbaikan fungsi ekstremitas atas secara optimal, ada 4 hal yang perlu disadari yaitu - Pasien tidak menderita akibat luka sekunder - Pasien dianjurkan untuk menggunakan lengan yang aktifitas. - Diluar jam terapi, pasien harus tetap latihan - Postur dari anggota gerak yang menetap sering muncul pada tahap awal pada post stroke 2. FUNGSI OROFASIAL Deskripsi menelan normal Menelan merupakan integrasi neuromuskular yang kompleks. Untuk tujuan deskripstif menjadi 4 fase utama yakni fase preoral, fase oral, fase faringeal serta fase esofageal. – Fase preoral merupakan problem yang jaringan lunak sakit dengan melakukan untuk untuk

– – – (slide 21)

Fase oral Fase faringeal Fase esofageal

Komponen-komponen penting :  Rahang menutup, bibir menutup, elevasi lidah bagian posterior untuk menutup cavum oral bagian posterior  Elevasi lidah bagian lateral  Ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar proses menelan menjadi efektif seperti - Posisi duduk - Pernafasan yang berhubungan dengan - Aktifitas refleks yang normal (gag reflex muncul pada dewasa) Langkah 1 : Menganalisa fungsi orofasial Analisa fungsi orofasial memerlukan: - Observasi keselarasan dan gerakan bibir, rahang, - Pemeriksaan intraoral dari lidah dan pipi - Melakukan observasi saat makan dan minum - Analisa yang dilakukan meliputi : - Kesulitan dlm menelan ketidakseimbangan grkn - Lemahnya kontrol emosional - Lemahnya kontrol pernafasan Langkah 2 dan 3 : Melatih fungsi orofasial Latihan-latihan yang dilakukan adalah  Latihan menelan – – – Latihan menutup rahang Latihan menutup bibir Latihan menggerakkan lidah wajah dan ekspresi dan lidah menelan satu-satunya refleks oral normal

yang

–

Latihan yang bertujuan untuk mengelevasi lidah bagian posterior

 Makan dan minum  Latihan menggerakkan otot-otot muka  Latihan mengontrol pernafasan  Latihan mengontrol emosi yang berlebihan  a. Asimetris tampak sewaktu membuka mulut  b. Terapis membantu menekan ke bawah sisi wajah yang aktifitasnya berlebih  c. Pasien dapat mengontrl wajahnya lebih baik

a. Asimetris tampak sewaktu membuka mulut b. Terapis membantu menekan ke bawah sisi wajah yang aktifitasnya berlebih c. Pasien dapat mengontrl wajahnya lebih baik (slide 25) Langkah 4 : Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari  Terapis menemani pasien pada waktu makan setelah langkah 2 dan 3 dilakukan dengan baik terutama yang berhubungan dengan makan dan minum.  Paling sedikit dilakukan sehari sekali.  Selama sesi latihan, terapis memonitor pasien dan mengingatkan pasien jika terjadi kesalahan 3. DUDUK DI TEPI TEMPAT TIDUR Langkah 4 : Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari  Terapis menemani pasien pada waktu makan setelah langkah 2 dan 3 dilakukan dengan baik terutama yang berhubungan dengan makan dan minum.

 Paling sedikit dilakukan sehari sekali.  Selama sesi latihan, terapis memonitor pasien dan mengingatkan pasien jika terjadi kesalahan 1. DUDUK DI TEPI TEMPAT TIDUR 2. Proses normal

3. - Untuk miring ke salah satu sisi (sebagai contoh ke kanan), terjadi fleksi kepala dan rotasi kepala ke kanan, lengan kiri fleksi terhadap bahu, gelang bahu terulur, tungkai kiri fleksi terhadap pinggul dan lutut, dan kaki mendorong ke tempat tidur agar tubuh berputar dan terangkat. Pinggul berfungsi sebagai tumpuan agar lebih stabil. 4. - Agar dapat duduk di tepi tempat tidur dari posisi berbaring ditepi tempat tidur, leher dan badan dalam keadaan fleksi, lengan bawah berabduksi terhadap tempat tidur untuk menganggkat, dan tungkai diangkat dan diayunkan melewati sisi tempat tidur. (slide 27)  Komponen-komponen penting: - Miring ke salah satu sisi - Rotasi dan fleksi leher - Fleksi lutut dan pinggul - Fleksi bahu dan protraksi gelang bahu - Rotasi tubuh - Duduk di tepi tempat tidur - Fleksi lateral leher - Fleksi lateral tubuh - Tungkai terangkat dan turun ke sisi tempat tidur Langkah 1: Analisa Untuk duduk di tepi tempat tidur, masalah yang muncul sebagai akibat dari kompensasi aktifitas otot yang menurun, yaitu: - Pasien melakukan rotasi leher dan lateral. Biasanya ini terjadi karena fleksikannya ke depan bukannya ke gerakan tubuh lateral yang lemah sehat pada sisi dan tubuh

- Pasien menarik dengan tangan yang tempat tidur, bukannya melakukan fleksi leher ke lateral - Pasien mengaitkan tungkai yang sehat yang sakit agar tungkai dpt melewati sisi (slide 29) Langkah 2 : Latihan komponen yang hilang

dibawah tungkai tempat tidur.

Latihan yang dilakukan yaitu melatih fleksi leher dan trunk ke lateral

Langkah 3 : Latihan duduk di tepi tempat tidur Latihan yang dilakukan: - Menolong pasien untuk duduk di tepi tempat tidur - Membantu pasien utk berbaring Langkah 4 : Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari Hal ini penting dilakukan agar pasien tidak menghabiskan waktunya hanya untuk berbaring. Jika pasien terus dalam posisi berbaring akan memicu rasa kantuk, bingung dan merasa tidak berdaya. (slide 30) 4. POSISI DUDUK YANG SEIMBANG Deskripsi fungsi normal Kemampuan duduk secara aktif diperlukan keselarasan tubuh. Posisi duduk yang seimbang didefinisikan sebagai kemampuan duduk tanpa menggunakan aktifitas otot yang berlebihan, bergerak dalam posisi duduk, melakukan berbagai aktifitas dalam posisi duduk. Ketika salah satu segmen tubuh bergerak, posisi pusat gravitasi akan berubah. Akibatnya diperlukan keseimbangan dari segmen lain untuk mempertahankan posisinya.  Keselarasan tubuh dalam posisi duduk tergantung dalam sejumlah faktor yaitu: jenis tempat duduk, apa yang sedang dikerjakan dan postur tubuh secara umum.  Keselarasan posisi duduk : Kaki dan lutut dalam posisi tertutup Berat badan terdistribusi rata Fleksi pinggul dengan tubuh ekstensi Keseimbangan kepala pada bahu Komponen penting:  Kemampuan untuk : melakukan persiapan pengaturan postur, dan keselarasan postur yang nantinya akan digunakan untuk gerakan atau aktifitas tertentu  Keselarasan tubuh dalam posisi duduk tergantung dalam sejumlah faktor yaitu: jenis tempat duduk, apa yang sedang dikerjakan dan postur tubuh secara umum.  Keselarasan posisi duduk :

Kaki dan lutut dalam posisi tertutup Berat badan terdistribusi rata Fleksi pinggul dengan tubuh ekstensi Keseimbangan kepala pada bahu Komponen penting:  Kemampuan untuk : melakukan persiapan pengaturan postur, dan keselarasan postur yang nantinya akan digunakan untuk gerakan atau aktifitas tertentu Langkah 1 : Analisa  Pengamatan keselarasan pasien pd posisi duduk yg tenang  Menganalisa kemampuannya untuk mengatur gerakan ekstremitas tubuh dan kepala ketika pasien melakukan berbagai gerakan dalam posisi duduk. Sebagai contoh: melihat ke atas meraih suatu obyek di bawah kursi dll Beberapa gerakan kompensasi yang sering ditemukan pada pasien yang duduk tidak seimbang:  Dasar tumpuan yang lebar, sebagai contoh salah satu kaki atau lutut sebagai tumpuan  Gerakan terbatas yg disadari antara lain menahan dirinya agar dapat duduk dan menahan nafas  Pasien menyeret kakinya untuk membuat keselarasan tubuh  Tangan / lengan berusaha menahan agar dpt duduk  Pasien bersandar ke depan / ke belakang ketika melakukan atifitas yg mengakibatkan titik berat badannya bergeser ke samping. (slide 33) Langkah 2 dan 3 : Latihan duduk yang seimbang Meliputi: - Latihan kesesuaian postural saat pusat gravitasi berubah - Meningkatkan kompleksitas Langkah 4 : Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari

Berdasarkan pengalaman yang ada, latihan ini hanya memerlukan waktu latihan beberapa hari. Sepanjang hari jika pasien ingin duduk, sebaiknya pasien duduk pada kursi yang memungkin pasien untuk berdiri. Jika lengannya flaksid perlu meja untuk membantunya 5. DUDUK KE BERDIRI Deskripsi fungsi normal  Saat mau berdiri, satu atau kedua kaki bergerak ke belakang  memberikan dasar pada pusat gravitasi  bergerak ke depan. Inklinasi dari tubuh yang bergerak ke depan terhadap pinggul dengan gerakan lutut  pusat gravitasi ada pada kaki dan memungkinkan berat badan tubuh bergeser ke depan dan ke atas  Saat mau duduk, pinggul dan lutut melakukan fleksi, tubuh condong ke depan sehingga pusat gravitasi bergeser ke belakang. Berat badan berada di bawah menuju ke kursi (slide 35) Komponen-komponen penting: Berdiri - Penempatan kaki - Inklinasi tubuh terhadap pinggul yg fleksi dg leher & tulang belakang yg tegak - Gerakan lutut ke depan - Ekstensi pinggul dan lutut Duduk - Inklinasi tubuh thdp pinggul yg fleksi dgn leher & tulang belakang yg tegak - Gerakan lutut ke depan - Fleksi lutut

Terapis mengamati keselarasan tubuh pasien ketika melakukan tugas yang diberikannya. Masalah yang sering muncul antara lain: - Berat badan ditumpu oleh sisi yang sehat - Tidak mampu mengubah pusat gravitasi ke depan dengan baik

- Pasien mencoba utk memindahkan BB ke depan dg tubuh dan kepala serta pinggul atau dengan memegang pinggiran kursi

fleksi

- Gagal meletakkan kaki yang sakit sehingga sewaktu pasien duduk dan berdiri, kaki yang sehat akan menumpu ke seluruhan berat badannya Langkah 2: Latihan komponen yang hilang Melatih tubuh condong ke depan terhadap pinggul dengan gerakan lutut ke depan. Langkah 3 : Latihan berdiri dan duduk Terdiri dari: Latihan berdiri Latihan duduk Meningkatkan kompleksitas Langkah 4 : Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari Pasien harus dapat berdiri dan duduk sendiri agar dapat melakukan aktifitasnya sehari-hari. Pasien perlu untuk latihan sendiri di luar jam terapi.

6. POSISI BERDIRI YANG SEIMBANG  Kemampuan utk berada dalam posisi yg seimbang diperlukan keselarasan tubuh & penyesuain tubuh ketika pusat gravitasi berubah  Keselarasan tubuh lebih diperlukan pada posisi berdiri daripada posisi duduk. Posisi berdiri yang seimbang adalah dengan kedua kaki berjarak beberapa inchi sehingga tungkai vertikal.  Keselarasan posisi tubuh tergantung dari sejumlah faktor yaitu: tempat berpijak, apa yang akan dikerjakan dan postur tubuh secara umum, dan faktor lainnya seperti umur dan jenis kelamin  Keselarasan posisi berdiri adalah: - Kaki terpisah beberapa inchi - Pinggul di deapan pergelangan kaki - Bahu melewati pinggul

- Keseimbangan kepala terhadap bahu - Tubuh tegak Komponen penting Kemampuan untuk: Persiapan pengaturan postural Pengaturan postural saat melakukan gerakan Langkah 1 : Analisa Analisa meliputi: - Pengamatan keselarasan pasien pada posisi berdiri yang tenang

- Mengamati kemampuan pasien untuk menyesuaikan diri saat ekstremitas, tubuh dan kepala bergerak melakukan berbagai tugas. Sebagai contoh pasien disuruh melihat ke atas, ke belakang, meraih suatu obyek, dan berdiri dengan satu kaki. Komponen penting Kemampuan untuk: Persiapan pengaturan postural Pengaturan postural saat melakukan gerakan Langkah 1 : Analisa Analisa meliputi: - Pengamatan keselarasan pasien pada posisi berdiri yang tenang

- Mengamati kemampuan pasien untuk menyesuaikan diri saat ekstremitas, tubuh dan kepala bergerak melakukan berbagai tugas. Sebagai contoh pasien disuruh melihat ke atas, ke belakang, meraih suatu obyek, dan berdiri dengan satu kaki. Gerakan kompensasi yang sering ditemukan pada pasien antara lain:  Dasar tumpuan yang lebar , contohnya kedua kaki terlalu jauh, satu atau kedua pinggul dalam posisi rotasi eksternal  Gerakan yang disadari terbatas misalnya pasien menahan dirinya sendiri dna menahan nagas  Pasien menyeret kakinya agar tubuhnya dapat seimbang

 Pasien mengambil langkah terlebih dahulu, misalnya saat pusat gravitasi berubah. Ini artinya keseimbangan cepat hilang saat tubuh bergerak  Pingggul pasien fleksi (seharusnya pergelangan kaki dorsofleksi) agar bisa bergerak ke depan, dan menggerakan tubuh (seharusnya pinggul dan kaki) agar bisa bergerak ke samping  Menggunakan lengan, antara lain untuk mendukung posisi berdiri

Gerakan kompensasi yang sering ditemukan pada pasien antara lain:  Dasar tumpuan yang lebar , contohnya kedua kaki terlalu jauh, satu atau kedua pinggul dalam posisi rotasi eksternal  Gerakan yang disadari terbatas misalnya pasien menahan dirinya sendiri dna menahan nagas  Pasien menyeret kakinya agar tubuhnya dapat seimbang  Pasien mengambil langkah terlebih dahulu, misalnya saat pusat gravitasi berubah. Ini artinya keseimbangan cepat hilang saat tubuh bergerak  Pingggul pasien fleksi (seharusnya pergelangan kaki dorsofleksi) agar bisa bergerak ke depan, dan menggerakan tubuh (seharusnya pinggul dan kaki) agar bisa bergerak ke samping  Menggunakan lengan, antara lain untuk mendukung posisi berdiri

Langkah 2 dan 3 meliputi:  Latihan keselarasan pinggul  Mencegah lutut untuk fleksi  Latihan kontraksi otot quadrisep  Latihan pengaturan tubuh ketika pusat gravitasi berubah  Meningkatkan kompleksitas Langkah 4: Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari  Pasien harus dibantu berdiri dan mulai dilatih posisi berdiri jika kondisi medisnya memungkinkan. Pasien juga seharusnya latihan diluar jadwal terapi. Pasien seharusnya tahu posisi tubuh yang benar agar dapat berdiri dengan kaki yang sakit.

5. BERJALAN 6. Deskripsi fungsi berjalan (Slide 43) Komponen penting: Fase stance - Ekstensi pinggul - Pergrkan horisontal ke lateral dr pelvis & badan (N: ± 4-5 cm) - Fleksi lutut (kurang lebih 15) di awal heel strike diikuti ekstensi kemudian fleksi kembali Fase swing - fleksi lutut, dengan pinggul mulai ekstensi - Lateral pelvis miring kebawah (kurang lebih 5) pada bidang horizontal saat toe-off - Fleksi pinggul - Rotasi pelvis ke depan saat tungkai mengayun - Ekstensi lutut dan dorsofleksi pergelangan kaki segera di awal heel strike Selain berjalan ke depan, berjalan dapat juga: - Berjalan mundur - Berjalan naik dan turun tangga Langkah 1 : Analisa berjalan Masalah utama yang ditemukan saat analisa sbb: Fase stance pada tungkai yang sakit Kurang ekstensi dari pinggul dan Kurangnya kontrol fleksi-ekstensi Pergerakan pelvis ke lateral yang dorsofleksi dari tungkai lutut dari 0-15

berlebihan pada sisi yang sehat berlebih dari sisi yg sakit

Kemiringan pelvis ke bawah berlebihan berhubungan dengan pergerakan ke lateral yg

(slide 45) Fase mengayun pd tungkai yang sakit sbb: - Kurangnya fleksi lutut saat toe-off - Kurangnya fleksi pinggul - Kurangnya ekstensi lutut dengan dorsofleksi pergelangan kaki pada heel strike (slide 46) Langkah 2 : Latihan komponen yang hilang Terdiri dari Fase stance: Latihan ektensi pinggul Latihan kontrol lutut Latihan pergerakan pelvis lateral horisontal Fase swing: Latihan fleksi lutut pada awal fase swing Latihan ekstensi lutut dan dorsofleksi kaki pada heel strike Langkah 3 : Latihan berjalan Terdiri: Berjalan Meningkatkan kompleksitas, misalnya: - Latihan melangkah melewati suatu obyek dg ketinggian yg berbeda-beda - Berjalan dg melakukan aktifitas lain seperti membawa barang - Melangkah dengna kecepatan yang berbeda - Melangkah di jalan yang ramai - Berjalan ke luar masuk lift - Treadmill percakapan &

Langkah 4 : Mengaplikasikan latihan-latihan yang telah dilakukan ke dalam aktifitas sehari-hari Latihan dilakukan di luar jam terapi DAFTAR PUSTAKA Carr JH., Shepherd RB, 1998., Neurological Rehabilitation: Optimizing Motor Performance, Butterworth-Heinemann, Oxford. Carr JH., Shepherd RB., 1987, A Motor Relearning Programme for Stroke, 2nd ed, Butterworth-Heinemann, Oxford Carr JH., Shepherd RB., 1987, Movement Science Foundations for Physical Therapy in Rehabilitation, An Aspen Publication, Maryland. Edwards, S., 2002, Neurological Physiotherapy: A Problem Solving Approach, Churchill Livingstone, Edinburgh Hill, K., 1997, Manual for Clinical Outcome Measurement in Adult Neurological Physiotherapy, Australian Physiotherapy Association Neurology Special Group, Victoria Langhammer, B., Stanghelle JK, 2000, Bobath or Motor Relearning Programme? A Comparison of two different approaches of physiotherapy in stroke rehabilitation: a randomised controlled study; Clinical Rehabilitation, 14: 361-369 Langhammer, B., Stanghelle JK, 2003, Bobath or Motor Relearning Programme? A follow-up one and four years post stroke; Clinical Rehabilitation, 17: 731-734 School of Physiotherapy, 2001, Physiotherapy Studies 1: Neurological Physiotherapy, School of Physiotherapy The University of Melbourne. Steven, dr., 2007, Motor Relearning Programme pada Stroke, Bagian / SMF Ilmu Penyakit Saraf FK Undip / RSUP dr. Kariadi Semarang


								
To top