Akuntansi Syariah by 5W6wBuA

VIEWS: 113 PAGES: 14

									Akuntansi Syariah
Dosen : Muhamad SE. MM.
muh_syariah@yahoo.com




    Rekonstruksi Kerangka Dasar Konseptual Untuk
     Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Syariah 1




Sesi 5 :
1. Paradigma Akuntansi Syariah
2. Falsafah akuntansi syariah
3. Tujuan laporan keuangan syariah
4. Tujuan akuntansi syariah
5. Asumsi dasar
6. Laporan keuangan syariah
7. Standard akuntansi keuangan Syariah
Paradigma Akuntansi Syariah


        Seiring dengan meningkatnya rasa keberagamaan (religiusitas)
  masyarakat Muslim menjalankan syariah Islam dalam kehidupan sosial-
  ekonomi, semakin banyak institusi bisnis Islami yang menjalankan kegiatan
  operasional dan usahanya berlandaskan prinsip syariah. Untuk mengelola
  institusi Islami ini diperlukan pencatata transaksi dan pelaporan keuangan.
  Pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan dengan karakteristik tertentu
  yang sesuai dengan syariah. Pencatatan transaksi dan pelaporan keuangan
  yang diterapkan pada institusi bisnis Islami inilah yang kemudian berkembang
  menjadi akuntansi syariah. Akuntansi syariah (shari’a accounting) menurut
  Karim (1990) merupakan bidang baru dalam studi akuntansi yang
  dikembangkan berlandaskan nilai-nilai, etika dan syariah Islam, oleh
  karenanya dikenal juga sebagai akuntansi Islam (Islamic Accounting).

        Perkembangan akuntansi sebagai salah satu cabang ilmu sosial telah
  mengalami pergeseran nilai yang sangat mendasar dan berarti, terutama
  mengenai kerangka teori yang mendasari dituntur mengikuti perubahan yang
  terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karim(1990:3) mengemukakan bahwa
  selama ini yang digunakan sebagai dasar kontruksi teori akuntansi lahir dari
  konteks budaya dan idiologi.

       Demikian halnya dengan kontruksi akuntansi konvensional menjadi
  akuntansi Islam (syariah) yang lahir dari nilai-nilai budaya masyarakat dan
  ajaran syariah Islam yang dipraktikan dalam kehidupan sosial-ekonomi
  (Hammed:1997). Akuntansi syariah dapat dipandang sebagai kontruksi sosial
  masyarakat Islam guna menerapkan ekonomi Islam dalam kegiatan ekonomi.
  Akuntansi syariah merupakan sub-sistem dari system ekonomi dan keuangan
  Islam, digunakan sebagai instrument pendukung penerapan nilai-nilai Islami
  dalam ranah akuntansi, fungsi utamanya adalah sebagai alat manajemen
  menyediakan informasi kepada pihak internal dan eksternal organisasi
  (Hasyshi: 1986; Baydoun dan Willet, 2000 serta Harahap, 2001).
       Kerangka konseptual akuntansi syariah sebagaimana telah
dikemukakan di atas dirumuskan menggunakan pendekatan epistimologi
Islam. Epistimologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas
teori ilmu pengetahuan, secara harfiah epistimologi berasal dari bahasa
Yunani episteme yang berarti pengetahuan (Suria Sumantri, 1991). Dalam
lingkup filsafat ilmu, epistimologi mengandung pengertian sebagai metode
memperoleh pengetahuan agar memiliki karakteristik, kebenaran, dan nilai-
nilai tertentu sebagai ilmu (Chalmers, 1991).

       Dalam konteks epistimologi sebagai metode memperoleh pengetahuan
ilmu, epistimologi Islam diperlukan guna memperoleh pengetahuan yang
diharapkan memiliki karakteristik, kebenaran dan nilai-nilai Islami.
Epistimologi Islam adalah metode memperoleh pengetahuan ilmu yang Islami
melalui proses penalaran yang sistematis, logis dan sangat mendalam
menggunakan “ijtihad” yang dibangun atas kesadaran sebagai khalifatullah
fii-ardl (lihat Syafi’i, 2000 dan Triyuwono, 2000).

     Akuntansi syariah dapat dikategorikan sebagai pengetahuan ilmu dalam
bidang akuntansi yang memiliki karakteristik, kebenaran dan nilai-nilai Islami,
yang digali menggunakan epistimologi Islam. Kerangka konseptual akuntansi
syariah dikembangkan menggunakan prinsip dasar paradigma syariah (the
fundamental of the syaria’ah paradigm) sebagaimana dikemukakan oleh
Haniffa (2001:11) dan disajikan dalam gambar 1 Prinsip Dasar Paradigma
Syariah.



      Prinsip dasar paradigma syariah merupakan multi paradigma yang
holistic, mencakup keseluruhan dimensi wilayah mikro dan makro dalam
kehidupan manusia yang saling terkait. Pertama, dimensi mikro prinsip dasar
paradigma syariah adalah individu yang beriman kepada Allah SWT (tauhid)
serta mentaati segala aturan dan larangan yang tertuang dalam Al-Qur’an,Al
Hadits, Fiqh, dan hasil ijtihad. Landasan tauhid diperlukan untuk mencapai
tujuan syariah yaitu menciptakan keadilan sosial (al a’dl dan al ihsan) serta
kebahagiaan dunia dan akhirat. Pencapaian tujuan syariah tersebut dilakukan
menggunakan etika dan motal iman (faith), taqwa (piety), kebaikan
(righteoneus/birr), ibadah (worship), tanggungjawab (responsibility/fardh),
usaha (free will/ikhtiyar), hubungan dengan Allah dan manusia
(Habluminallah dan Habluminannas), serta barokah (blessing).
        Kedua, dimensi makro prinsip syariah adalah meliputi wilayah
  politik,ekonomi dan sosial. Dalam dimensi politik, menjunjung tinggi
  musyawarah dan kerjasama. Sedangkan dalam dimensi ekonomi, melakukan
  usaha halal, mematuhi larangan bunga, dan memenuhi kewajiban zakat.
  Selanjutnya dalam dimensi sosial yaitu mengutamakan kepentingan umum
  dan amanah.

Tauhid (Keimanan kepada Allah SWT)

       Lebih lanjut Haniffa (2001:18) mengemukakan bahwa berdasarkan
  prinsip dasar paradigma syariah (the fundamental of the shari’ah paradigm)
  tersebut pada gambar 1 di atas kemudian dikembangkan kerangka
  konseptual akuntansi syariah (a conceptual framework for Islamic accounting)

        Dalam kerangka konseptual akuntansi syariah tersebut di atas,
  dinyatakan bahwa tujuan diselenggarakannya akuntansi syariah adalah
  mencapai keadilan sosial-ekonomi; dan sebagai sarana ibadah memenuhi
  kewajiban kepada Allah SWT, lingkungan dan individu melalui keterlibatan
  institusi dalam kegiatan ekonomi. Produk akhir teknik akuntansi syariah
  adalah informasi akuntansi yang akurat untuk menghitung zakat dan
  pertanggungjawaban kepada Allah SWT dengan berlandaskan moral, iman
  dan taqwa.

        Dengan demikian dalam hal akuntansi syariah sebagai alat
  pertanggungjawaban, diwakili informasi akuntansi syariah dalam bentuk
  laporan keuangan yang sesuai dengan syariah yaitu mematuhi prinsip full
  disclousure. Laporan keuangan akuntansi syariah tidak lagi berorientasi pada
  maksimasi laba, akan tetapi membawa pesan modal dalam menstimuli
  perilaku etis dan adil terhadap semua pihak. Jenis laporan keuangan
  akuntansi syariah yang memenuhi criteria ini menurut Harahap (2000)
  meliputi”
     Motivasi para pakar dan akademisi akuntansi terutama dari kalangan
orang-orang Muslim guna mengkaji dan mengembangkan akuntansi syariah
semakin meningkat. Setelah mengetahui beberapa peneliti (Gray, 1988;
Perera, 1989; Hamid et al., 1993; Baydoun dan Willet, 1994) yang menguji
hubungan antara budaya, religi dan akuntansi, menyatakan bahwa budaya
secara umum dan Islam secara khusus mempengaruhi bentuk-bentuk
akuntansinya. Sebagaimana dikemukakan oleh Gaffikin dan Triyuwono
(1996) akuntansi adalah refleksi dari sebuah realitas yang idealnya dibangun
dan dipraktikan berdasarkan nilai-nilai dan etika. Nilai-nilai dan etika orang
Muslim adalah syariah, maka alternatif terbaik pengembangan akuntansi
syariah adalah menggunakan pemikiran yang sesuai dengan syariah. Untuk
memahami pengertian akuntansi syariah, dapat mengacu pada definisi
akuntansi syariah yang dikemukakan oleh Hameed (2003) yaitu:

     Berangkat dari definisi-definisi akuntansi tersebut di atas, akuntansi
syariah dalam arti sempit dapat didefinisikan sebagai berikut: “Akuntansi
syariah adalah suatu proses, metode, dan teknik pencatatan, penggolongan,
pengikhtisaran transaksi, dan kejadian-kejadian yang bersifat keuangan
dalam bentuk satuan uang, guna mengidentifikasikan, mengukur, dan
menyampaikan informasi suatu entitas ekonomi yang pengelolaan usahanya
berlandaskan syariah, untuk dapat digunakan sebagai bahan mengambil
keputusan-keputusan ekonomi dan memilih alternative-alternatif tindakan
bagi para pemakainya”. Perkembangan akuntansi sebagai salah satu cabang
ilmu sosial telah mengalami pergeseran nilai yang sangat mendasar dituntut
mengikuti perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kam
(1990:3) mengemukakan bahwa selama ini yang digunakan sebagai dasar
kontruksi teori akuntansi lahir dari konteks budaya dan idiologi.
   Falsafah akuntansi syariah

Dalam elemen filosofi dasar ini yg menjadi sumber kebenaran dari nilai akuntansi
syariah adalah dari Allah SWT sesuai dengan faham tauhid yang di anut islaam.
Allah lah yg menjadi sumber kebenaran, pedoman hidup dan sumber hidayah yg
akan membimbing kita sehari hari dalam semua aspek kehidupan kita .

Seperti halnya yang ditegaskan oleh Prof.Dr Umar Abdullah Zaid bahwasanya
dalam Akuntansi dipahami oleh banyak orang , sekedar mencakup masalah
perdagangan ,industri, keuangan, manajemen, pertanian ,pemerintahan dan lain-
lain.Namun lagi-lagi salah satu elemen penting darti falsafah Akuntansi syariah
adalah refleksi atas hasil yang telah dicapai oleh peran manusia dalam
kekhalifahan di muka bumi

Dibalik sekian panjang perncatatan transaksi – transaksi dari mulai daftrarul
yaumiyah atau jurnal umum hingga mengeluarkan sebuah laporan keuangan
yang selanjutnya akan jadi bahan pertimbangan penting bagi para stakeholder
maka ia bukan sebuah amanah yang dapat dipandang sebelah mata oleh
seorang akuntan muslim


oleh Prof Dr Umar Abdullah Ziad dan nilai seperti ihsan ,amanah , siddiq ,
cerdas, dan tabligh atau menyampaikan seperti yang terangkum dalam konsep
ESQ 165 .Selayaknya bak ibarat batu pijakan tiap akuntan muslim yang berjihad
di atas jalan panjang da’wah ini .

Dan semua Falsafah spritual Akuntansi Shariah bermula dari kejernihan iman
lalu dari sana ia mempu menyalakan akal .Kolaborasi keduanya plus gelora
nurani dan ketajaman mata hati ,secara utuh melahirkan insan yang tak
dilalaikan oleh jual beli dari Rabbnya Yang Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui kemudian ia mendirikan shalat sebagai sandaran yang istirahatnya
terlepas sudah berbongkah-bongkah lelah dan gelisah ,maka zakat pun tak lupu
ia tunaikan sebagai bentuk ibadah yang mensucikan poko kehidupan dengan
elegan dan menyuburkan ikatan sosial pada sesama .
Tujuan laporan keuangan syariah

      Menyediakan informasi yg menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yg bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

      Tujuan lainnya adalah :

         1. meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam setiap
            transaksi dan kegiatan usaha.
         2. informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta
            informasi asset, kewajiban, pendapoatan dan beban yang tidak
            sesuai dengan prinsip syariah bila ada yg dalam perolehan dan
            penggunaannya.
         3. informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung
            jawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan
            dana, menginvestasikannya pada tingkat keunmtungan yg layak
         4. informasi mengenai keuntungan investasi yg di peroleh penanam
            modal dan pemilik dana syirkah temporer dan inform,asi mengenai
            pemenuhan kewajiban. (obligation) fungsi social entitas syariah.
            Termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah dan
            wakaf.

Laporan keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan.
Laporan keuangan untuk tujuan umum termasuk juga laporan keuangan yang
disajikan terpisah atau yang disajikan dalam dokumen publik lainnya seperti
laporan tahunan atau prospektus. Pernyataan ini berlaku pula untuk laporan
keuangan konsolidasian.
Tujuan akuntansi syariah

   Segala aturan yg diturunkan ALLAH SWT dalam sistem islam mengarah
   pada tercapainya kebaikan kesejahteraan. Keutamaan serta menghapuskan
   kejahatan, kesengsaraan dan kerugian pada seluruh ciptaannya. Dan di
   ekonomi untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat.

      3 sasaran hukum islam yg menunjukan islam sebagai rahmat bagi seluruh
alam semesta dan isinya.
    Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi
      masyarakat dan lingkungannya
    Tegaknya keadilan didalm masarakat.
    Tercapainya maslahah (puncak sasaran)
      Selamat agama, jiwa, akal, keluarga dan keturunannya, harta benda


Tujuan akuntansi syariah
Mulawarman (2007a; 2007b) dengan demikian adalah merealisasikan kecintaan
utama kepada Allah SWT, dengan melaksanakan akuntabilitas ketundukan dan
kreativitas, atas transaksi-transaksi, kejadian-kejadian ekonomi serta proses
produksi dalam organisasi, yang penyampaian informasinya bersifat material,
batin maupun spiritual, sesuai nilai-nilai Islam dan tujuan syariah.
Asumsi dasar

Untuk mencapai tujuannya , laporan keuangan disusun atas dasar akrual,
dengan dasar ini pengaruh transaksi dan peristiwa lain di akui pada saat
kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas di terima atau dibayar) dan di
ungkapkan dalam catatan akuntansi serta di laporkan dal;am laporan keuangan
pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan yang disusun atas dasar
akrual memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu
yang melebatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban
pemabyaran kas di masa depan serta sumberdaya yang merepresentasikan kas
yang akan di terima dimasa depan. Oleh karena itu lapoiran keuangan
menyediakan informasi masa lalu dan peristiwa lainnya yang paling berguna bagi
pemakai dalam keputusan ekonomi. Penghitungan pendapatan untuk tujuan
pembagian hasil usaha menggunakan dasar kas. Dalam hal prinsip pembagian
hasil usaha berdasarkan bagi hasil. Pendapatan atau keuntungan yang di
maksud adalah keuntungan bruto (GROSS PROFIT).

Kelangsungan usaha , laporan keuangan biasanya disusun berdasarkan asumsi
kelangsungan usaha entitas syariah dan akan melanjutkan usahanya di masa
depan. Karena itu entitas di asumsikan tidak bermaksud mengurangi secara
material skala usahanya . jika maksud itu timbul , laporan keuangan mungkin
harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar nya harus di ungkakan.
Laporan keuangan syariah


Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan
kinerja keuangan dari suatu entitas syariah. Tujuan laporan keuangan untuk
tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan
arus kas entitas syariah yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan
pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta
menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan
sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka
mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi
mengenai entitas syariah yang meliputi:


(a) aset;
(b) kewajiban;
(c) dana syirkah temporer;
(d) ekuitas;
(e) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;
(f) arus kas;
(g) dana zakat; dan
(h) dana kebajikan.

Informasi tersebut di atas beserta informasi lainnyayang terdapat dalam catatan
atas laporan keuangan membantupengguna laporan dalam memprediksi arus
kas pada masa depan khususnya dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya
kas dan setara kas.

Komponen Laporan Keuangan

 Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini:
(a) Neraca;
(b) Laporan Laba Rugi;
(c) Laporan Arus Kas;
(d) Laporan Perubahan Ekuitas;
(e) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat;
(f) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan dan
(g) Catatan atas Laporan Keuangan.
Standard akuntansi keuangan Syariah

Dalam upaya untuk mendorong tersusunnya norma-norma keuangan syariah
yang seragam dan pengembangan produk yang selaras antara aspek syariah
dan kehati-hatian, pada tahun laporan telah dilakukan pembahasan bersama
pihak terkait didalam Komite Akuntansi Syariah dimana Bank Indonesia sebagai
salah satu anggotanya bersama Ikatan Akuntan Indonesia dan pihak lainnya.

Komite Akuntansi Syariah bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan
– Ikatan Akuntan Indonesia telah mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan untuk transaksi kegiatan usaha dengan mempergunakan akuntasi
berdasarkan kaidah syariah. Berikut ini daftar Standar Akutansi Keuangan yang
juga akan berlaku bagi perbankansyariah :

(1) Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah,
(2) PSAK 101 (Revisi 2006) tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah,
(3) PSAK 102 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Murabahah,
(4) PSAK 103 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Salam,
(5) PSAK 104 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Istishna’,
(6) PSAK 105 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Mudharabah,
(7) PSAK 106 (Revisi 2006) tentang Akuntansi Musyarakah.

IAI sebagai lembaga yang berwenang dalam menetapkan standar akuntansi
keuangan dan audit bagi berbagai industri merupakan elemen penting dalam
pengembangan perbankan syariah di Indonesia, dimana perekonomian syariah
tidak dapat berjalan dan berkembang dengan baik tanpa adanya standar
akuntansi keuangan yang baik.

Standar akuntansi dan audit yang sesuai dengan prinsip syariah sangat
dibutuhkan dalam rangka mengakomodir perbedaan esensi antara operasional
Syariah dengan praktek perbankan yang telah ada (konvensional). Untuk itulah
maka pada tanggal 25 Juni 2003 telah ditandatangani nota kesepahaman antara
Bank Indonesia dengan IAI dalam rangka kerjasama penyusunan berbagai
standar akuntansi di bidang perbankan Syariah, termasuk pelaksanaan
kerjasama riset dan pelatihan pada bidang-bidang yang sesuai dengan
kompetensi IAI.
Sejak tahun 2001 telah dilakukan berbagai kerjasama penyusunan standard dan
pedoman akuntansi untuk industri perbankan syariah termasuk penyelesaian
panduan audit perbankan syariah, revisi Pedoman Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) 59 dan revisi Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
(PAPSI). Dengan semakin pesatnya perkembangan industri perbankan syariah
maka dinilai perlu untuk menyempurnakan standar akuntansi yang ada. Pada
tahun 2006, IAI telah menyusun draft Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah
Indonesia (PAPSI). Draft ini diharapkan dapat ditetapkan menjadi standar pada
tahun 2007.

Dalam penyusunan standar akuntansi keuangan syariah, dilakukan IAI dengan
bekerjasama dengan Bank Indonesia, DSN serta pelaku perbankan syariah dan
dengan mempertimbangkan standar yang dikeluarkan lembaga keuangan
syariah internasional yaitu AAOIFI. Hal ini dimaksudkan agar standar yang
digunakan selaras dengan standar akuntansi keuangan syariah internasional.

Badan yang menerbitkan standar akuntansi islam pada saat ini adalah the
Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAO-IFI)
yang didirikan sejak 1991 di Bahrain. Sampai dengan saat ini telah diterbitkan 56
standar akuntansi Islam dalam bidang akuntansi, auditing, governance dan etika,
seperti tertera pada tabel 2. Anggota Technical Board AAOIFI berjumlah 20
orang, dengan 115 anggota yang mewakili 27 negara. Saat ini juga sedang
disusun program Certified Islamic Public Accountant (CIPA) yang akan segera
disebarluaskan ke beberapa negara (Alchaar, 2006).



Standar Akuntansi yang Telah Diterbitkan AAOIFI
Accounting
Financial Accounting Statements
    Objective of Financial Accounting of Islamic Banks and Financial
      Institutions
    Concepts of Financial Accounting for Islamic Banks and Financial
      Institutions
Financial Accounting Standards
    General Presentation and Disclosure in the Financial Statements of
      Islamic Banks and Financial Institutions
    Murabaha and Murabaha to the Purchase Orderer
    Mudaraba Financing
    Musharaka Financing
      Disclosure of Bases for Profit Allocation between Owners' Equity and
       Investment Account Holders and Their Equivalent
      Salam and Parallel Salam
      Ijarah and Ijarah Muntahia Bittamleek
      Istisna'a and Parallel Istisna'a
      Zakah
      Provisions and Reserves
      General Presentation and Disclosure in Financial Statements of Islamic
       Insurance Companies
      Disclosure of Bases for Determining and Allocating Surplus or Deficit in
       Islamic Insurance Companies
      Investment Funds

      Provisions and Reserves in Islamic Insurance Companies
      Foreign Currency Transactions and Foreign Operations
      Investments
      Islamic Financial Services offered by Conventional Financial Institutions
      Contributions in Islamic Insurance Companies (New)
      Deferred Payment Sale
      Disclosure on Transfer of Assets (New)
      Segment Reporting (New)

Auditing
    Objective and Principles of Auditing
    The Auditor's Report
    Terms of Audit Engagement
    Testing by an External Auditor for Compliance with Shari'a Rules and
      Principles by an External Auditor
    The Auditor's Responsibility to Consider Fraud and Error in an Audit to
      Financial Statements (New)
Governance
    Shari'a Supervisory Board: Appointment, Composition and Report
    Shari'a Review
    Internal Shari'a Review
    Audit and Governance Committee for Islamic Financial Institutions
Ethics
    Code of Ethics for Accounting and Auditors of Islamic Financial Institutions
    Code of Ethics for the Employees of Islamic Financial Institutions
Sumber: AAOIFI. 2006.

								
To top