MATA KULIAH by HC12110518535

VIEWS: 110 PAGES: 20

									                                     MATA KULIAH

                            STUDI KELAYAKAN BISNIS

             PENILAIAN INVESTASI KAITAN DENGAN
                     NILAI WAKTU UANG




                                      MODUL 12

                                     DOSEN
                            HARTRI PUTRANTO SE, MM.


                                 FAKLUTAS EKONOMI
                              UNIVERSITAS MERCUBUANA
                                      JAKARTA
                                         2011




          Studi Kelayakan Bisnis        Pusat Pengembangan Bahan Ajar
‘11   1                                 Universitas Mercu Buana
          Hartri Putranto, Se. MM.
  A. Tujuan Materi Kuliah :

             Setelah mahasiswa memiliki dan memahami konsep Manajemen
              Keuangan Lanjutan, maka mahasiswa dapat merencanakan suatu
              investasi dengan mengkaji apakah proyek yang akan di garap bisa
              diterima ( feasible ) dan menguntungkan.
             Melatih mahasiswa menggunakan alat-alat keuangan yang sering
              dipakai dalam proyek-proyek investasi.


             Setelah lulus menjadi sarjana diharapkan bisa menjadi motivator
              menggalakkan konsep – konsep keuangan lanjutan untuk memperkuat
              fundamental keuangan secara menyeluruh guna mempersiapkan
              mahasiswa menjadi ahli keuangan yang handal.

          Skenario Perkuliahan

             Naskah / Buku / Referensi ;

                      a. Dasar-dasar Manajemen Keuangan karangan Brigham &
                           Houston ( 2006 ) ,edisi 10 Salemba empat. Jakarta
                      b. Manajemen Keuangan karangan J.Fred Weston &
                           Thomas.E.Copeland (2000), edisi 6, Penerbit Erlangga.
                           Jakarta.
                      c. Dasar-dasar manajemen Keuangan karangan
                           Arthur.J.Keown,David.F.Scott (2004), salemba empat Jakarta.
                      d. Manajemen Keuangan,Teori dan Aplikasinya karangan Agus
                           Sartono,Edisi 5,BPFE Yogyakarta.
                      e. Manajemen Keuangan, Teori dan Penerapannya karangan
                           Suad Husnan,Edisi 4,BPFE, Yogyakarta.




          Studi Kelayakan Bisnis         Pusat Pengembangan Bahan Ajar
‘11   2                                  Universitas Mercu Buana
          Hartri Putranto, Se. MM.
                                        NILAI WAKTU UANG


                 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

       Dengan mempelajari Modul ini diharapkan agar mahasiswa dapat memahami
tentang arti pentingya alat keuangan dalam pemilihan proyek, dengan demikian
diharapkan mahasiswa tertarik, terangsang dan terdorong untuk terus belajar
keuangan sehingga tumbuh kepekaan terhadap iklim investasi pada proyek-proyek
yang menguntungkan.
       Mata kuliah ini bertujuan agar dapat mendorong mahasiswa untuk kritis setelah
menyelesaikan studinya dan mempersiapkan dengan pemahaman-pemahaman
keuangan.




                                       DAFTAR MATERI PEMBAHASAN


       Pada Modul I ini, materi Pembahasan terdiri dari :
       1. Nilai masa yang akan datang & nilai sekarang.
       2. Payback Period.                  ( PP )
       3. Average rate of return.          ( ARR )
       4. Net Present Value                ( NPV )
       5. Internal Rate of return          ( IRR )
       6. Benefit Cost Ratio               ( B/C )




            Studi Kelayakan Bisnis            Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11   3                                      Universitas Mercu Buana
            Hartri Putranto, Se. MM.
  3. Average Rate of Return


      Perhitungan average rate of return didasarkan atas jumlah keuntungan bersih
      sesudah pajak ( EAT ) yang tampak dalam laporan rugi-laba. Pengukuran
      dengan teknik rate of return ini sering pula disebut dengan istilah “Accounting
      rate of return “ yang perhitungannya dilakukan sebagai berikut :


      Average rate of return          = Average earning after taxes
                                       Average Investment


      Average Earning Taxes ( Rata – rata bersih sesuadah pajak )


      Average earning taxes atau rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak dihitung
      dengan jalan          menambah keseluruhan keuntungan bersih sesudah pajak
      selama umur proyek, kemudian dibagi dengan umur ekonomis proyek tersebut.


       Average EAT = total EAT / n
       Average EAT = rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak.
       Total EAT         = total keuntungan bersih sesudah pajak
       N                  = umur ekonomis proyek.


       Average EAT proyek A           = Rp.6.000.000 / 6
                                       = Rp.1.000.000


       Average EAT proyek B           = Rp.5.400.000 / 6
                                       = Rp.900.000




           Studi Kelayakan Bisnis          Pusat Pengembangan Bahan Ajar
‘11   4                                    Universitas Mercu Buana
           Hartri Putranto, Se. MM.
      Average Investment ( rata-rata Investasi )


        Rata-rata investasi dihitung dengan jalan membagi dua jumlah investasi. Rata-
      rata ini mengasumsikan bahwa perusahaan menggunakan metode depresiasi
      garis lurus dan tidak ada nilai residu atau salvage value pada akhir umur
      ekonomis proyek. Dengan demikian nilai buku aktiva akan menurun pada tingkat
      yang konstan, mulai dari nilai investasi yang semula sampai dengan Rp.0 pada
      akhir umur ekonomis proyek. Hal ini berarti. Bahwa rata-rata nilai proyek adalah
      separuh dari jumlah investasi yang semula. Latar belakang pemikiran ini sama
      dengan rata-rata persediaan yang digunakan dalam perhitungan EOQ dalam
      persediaan.


      Rata-rata investasi untuk masing-masing proyek adalah :


      Rata-rata investasi                     = Nilai Investasi
                                                        2
      rata-rata investasi proyek A            = Rp.6.000.000
                                                            2
                                              = Rp.3.000.000


      rata-rata investasi proyek B            = Rp.7.200.000
                                                            2
                                              = Rp.3.600.000


      setelah mengetahui rata-rata laba bersih sesudah pajak dan rata-rata
      investasi,maka average rate of return untuk masing-masing proyek adalah
      sebagai berikut :
      Average rate of return :
      Proyek A                         = Rp.1.000.000 / Rp.3.000.000
                                       = 0.333 atau 33.33 %


      Proyek B                         = Rp.900.000 / Rp.3.600.000



            Studi Kelayakan Bisnis              Pusat Pengembangan Bahan Ajar
‘11     5                                       Universitas Mercu Buana
            Hartri Putranto, Se. MM.
                                        = 0.25 atau 25 %


       Dari hasil perhitungan diatas maka tampak bahwa proyek A lebih baik daripada
       proyek B karena average rate of returnnya lebih besar dibandingkan dengan
       average rate of return proyek B.


       Selain cara perhitungan diatas, ada pula beberapa metode lain untuk
       menghitung average rate of return dari suatu proyek. Salah satunya adalah
       dengan menggunakan rata-rata cash inflow sebagai pembilang dan bukannya
       rata-rata keuantungan bersih sesudah pajak. Hal ini tentu saja sejalan dengan
       pandangan dalam manajemen keuangan perusahaan yang melihat cash inflow
       sebagai jumlah uang yagn sesuangguhnya dapat digunakan oleh perusahaan.
       Dengan menggunakan metode diatas, maka perlu terlebih dahulu dihitung rata-
       rata cash inflow sebagai berikut :


       Average cash inflow = total cash inflow / n


       Jadi. Average cash inflow dari proyek A = Rp.12.000.000 / 6
                                                         = Rp.2.000.000


                                             Proyek B = Rp.12.600.000 / 6
                                                          = Rp.2.100.000
       Setelah megnetahui jumlah rata-rata inflow, maka perhitungan average of return
dengan cara yang kedua adalah sebagai berikut :
       Average rate of return = Average cash infloe / Average Investment
       Maka ;
       Proyek A                         = Rp.2.000.000 / Rp.3.000.000


                                         = 0.6667 atau 66.67 %
       Prioyek B                         = Rp.25.100.000 / Rp.3.600.000
                                         = 0.5833 atau 58.33 %.
       Dari perhitungan diatas, maka rpyek A menunjukkan ARR yang lebih besar
daripada proyek B, dengan demikian keadaan proyek A lebih menguntungkan
dibandingkan dengan proyek B.



             Studi Kelayakan Bisnis             Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11    6                                       Universitas Mercu Buana
             Hartri Putranto, Se. MM.
4.Net Present Value ( NPV ) .


  Net Present Value adalah salah satu dari teknik apital Budgeting yang
   mempertimbangkan nilai waktu uang yang paling banyak digunakan. Definisi atau
   perhitungan net present value ( NPV ) dilakukan sebagai berikut :


   NPV         = Present Cash Inflow - Present Value Investasi.


   Dengan demikian, NPV adalah selisih antara cash inflow yang di diskonto pada
   tingkat bunga minimum atau cost of capital perusahaan dikurangi dengan nilai
   investasi. Pengukuran cash inflow dan cash outflow yang dasarkan atas nilai
   sekarang atau present valuenya dapat memberikan suatu perbandingan yagn lebih
   tepat dari beerapa proyek yagn sedang dievaluasi. Apabila proyek yang dinilai
   mempuynyai pola cash flow yang konvensional (cash flow diikuti oleh serangkaian
   cash inflow) maka present value dari investasi adalah sebesar modal yang
   ditanamkan karena jumlah investasi tersebut menggambarkan nilai sekarang dari
   modal yang iinvestasikan. Sebaliknya apabila cash inflow dari suatu proyek
   mempunuai pola non konvensional, maka terlebih dahulu harus dihitung present
   value dari keseluruhan modal yang telah diinvestasikan, kemudian baru dikurangi
   dari present value keseluruhan cash inflow.


       Keputusan tentang apakah suatu proyek dapat diterima atau tidak akan sangat
   tergantung pada hasil perhitungan net present value dari proyek tersebut.
       Usulan – usulan proyek akan dapat diterima apabila ;
       NPV > 0


       NPV yang lebih besar atau sama dengan no; menunjukkan kepada suatu
   keadaan dimana hasil yang diperoleh adalah lebih besar atau sama dengan rate of
   return minimum yang sudah ditetapkan. Proyek-proyek yang NPV-nya lebih kecil
   dari no; tidak dapat diterima karena hail yang diperoleh berarti lebih kecil dari biaya
   modal atau cost ocf capital yang sudah ditetapkan




             Studi Kelayakan Bisnis     Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11    7                               Universitas Mercu Buana
             Hartri Putranto, Se. MM.
      Contoh :
        Pendekatan net present value dapat iilustrasikan dengan menggunakan contoh
      tentang perusahaan “Vandan” yang datanya sudah disajikan diatas ( table 1.1 ).
      Apabila perusahaan meentapkan cost of capital sebesar 10 %, maka net present
      value masing – masing proyek adalah sebagai berikut :
      Proyek A                 Rp.2.710.000 dan proyek B Rp.2.638.100


      Apabila dalam pennilaian kedua proyek tersebut digunakan pendekatan ranking
      maka proyek A lebih baik dibandingkan dengan proyek B karena NPV nya lebih
      besar yang dihasilkan proyek A.


      Perhitungan Net Present Value untuk kedua proyek tersebut adalah sebagai
      berikut ;
      Net present Value proyek A dapat langsung dihitung dengan menggunakan table
      PVIFA karena cash inflownya berbentuk anuited. Present value proyek B harus
      dicari satu persatu dengan menggunakan table Present Value Rp.1,00 (PVIF)
      pada tingkat bunga 10 % karena pola cash inflownya tidak berbentuk anuitet.


      Dari hasil perhitungan di atas tampak bahwa present value kedua proyek yagn
      sedang dievaluasi, ( A & B ) menunjukkan jumlah yang lebih besar dari present
      value initial investmen sehingga keduanya mempunyai net present value yagn
      positif atau lebih besar dari nol. Apabila kedua proyek tersebut bersifat
      independent maka keudanya dapat diterima, sepanjang perusahaan mempunyai
      cukup dana. Akan tetapi apabila proyek tersebut bersifat mutually exclusive,
      maka pilihan akan jatuh pada proyek A karena net present value atau NPV-nya
      lebih besar dibandingkan dengan proyek B.


      Perhitungan NPV dapat digamabrkan sebagai berikut :




             Studi Kelayakan Bisnis         Pusat Pengembangan Bahan Ajar
‘11     8                                   Universitas Mercu Buana
             Hartri Putranto, Se. MM.
                  Perhitungan NPV untuk kedua alternative proyek A & B
Proyek A                                                        Proyek B
                                         Tahun   cash inflow             PVOF 10% Present value
                                         (1)        (2)                     (3)     (2) x ( 3 )


Cash inflow/thn Rp.2.000.000              1       4.500.000              0.909     4.090.500
PVIFA 10%,6          4.355                 2      2.200.000              0.826     1.817.200
Present Value                              3      2.000.000              0.751     1.502.000
Cash inflow         Rp.8.710.000          4       1.300.000              0.683       887.900.
                                           5      1.300.000              0.621        807.000
 Present value                             6.     1.300.000              0.564        773.200
 Initial invest     Rp.6.000.000           Present value cash inflow               9.838.100
                     ___________           Present value intial investment         7.200.000
NPV                 Rp.2.710.000           NPV                                     2.638.100




Dari perhitungan diatas tampak bahwa NPV proyek A lebih baik dibandingkan proyek
B sehingga proyek A yang lebih tepat untuk dipilih.




5. Internal Rate of Return ( IRR )


       Teknik ini mungkin yang paling banyak digunakan, tetapi perhitungannya lebih sulit
 dibandingkan dengan teknik NPV. IRR didefinisikan sebagai tingkat discount atau
 bujnga yang akan menyamakan present value cash inflow dengan jumlah initial
 investmen dari proyek yang sedang dinilai. Dengan perkataan lain, IRR adalah
 tingkat discount yang akan menyebabkan NPV sama dengan nol., karena present
 value cash inflow pada tingkat discount tersebut akan sama dengan initial
 investment.




              Studi Kelayakan Bisnis             Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11      9                                      Universitas Mercu Buana
              Hartri Putranto, Se. MM.
 Billamana perusahaan menggunakan teknik IRR dalam megnevaluasi usulan proyek
 capital budgeting, maka keputusan tentang diterimanya / tidaknya proyek tersebut
 akan tergantung pada “berapa rate of return yang diperoleh dibandingkan dengan
 cost of capital yagn digukanan sebagai discount factor dalam menentukan present
 value dari cash inflow yang diterima. Kriteria penerimaan atau penolakan suatu
 usulan proyek ditentukan sebagai ebrikut :


 Usulan proyek diterima apabila ;


  IRR > cost of Capital, dan akan ditolak bila ;


 IRR < Cost of capital


 Perhitungan IRR
 Perhitungan IRR harus dilakukan secaran “trial and error” ( coba-coba ) sampai pada
 akhirnya diperoleh tingkat discount yang akan menyebabkan NPV sama dengan nol.
 Penentuan besarnya IRR untuk suatu pola cash inflow Yng berbentuk anuited jauh
 lebih mudah dibandingkan dengan pola cash inflow yang tidak sama dari tahun
 ketahun ( mixed stream of flow). Dengan menggunakan contoh yagn sudah diebrikan
 didepan tentang perusahaan”Vandan” maka untuk proyek A dan B dihitung secara
 annuited dan tidak.




KASUS-KASUS KEUANGAN


a. Soal Penyusunan Laporan Keuangan


1. PT.Digdug akan menetapkan suatu level optimal terhadap aktiva lancarnya. sebagai
   hasil dari perluasan aktivanya manajemen mengharapkan akan terjadi kenaikan
   penjualan sebesar Rp.12.000.000,-. Dari aktiva tetap Rp.5.000.000,-, perusahaan
   ingin meningkatkan ratio hutang 60 %. Biaya hutang jangka pendek = hutang
   jangka panjang yaitu 8 %. Ada 3 alternatif bagi perusahaan dalam memproyeksi



            Studi Kelayakan Bisnis     Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11   10                              Universitas Mercu Buana
            Hartri Putranto, Se. MM.
   Aktiva Lancarnya yaitu dengan pendekatan Agressif, Moderat dan konservatif
   masing-masing dengan ratio Aktiva lancar terhadap penjualan 40 %, 50 % dan 60
   %. Dari informasi tersebut hitunglah :
   a. Besarnya Rentabilitas Modal Sendiri dari masing-masing alternatif diatas jika
        tariff pajak 50 % dan EBIT 12 %.
   b. Dari alternatif diatas manakah yang paling menguntungkan ?




 2. PT.Vandan akan menetapkan suatu level optimal terhadap aktiva lancarnya.
       sebagai hasil dari perluasan aktivanya. Manajemen mengharapkan akan terjadi
       kenaikan        penjualan          sebesar       Rp.250.000.000,-                Perusahaan   ingin
       mempertahankan struktur modalnya 50 %. Dan nilai aktiva tetap saat ini sebesar
       Rp.120.000.000,-.Biaya hutang jangka pendek = hutang jangka panjang yaitu 16
       %. Ada 3 alternatif bagi perusahaan dalam memproyeksi Aktiva Lancarnya yaitu
       dengan pendekatan Agressif, Moderat dan konservatif masing-masing dengan
       ratio Aktiva lancar terhadap penjualan 60 %, 50 % dan 40 %. Dari informasi
       tersebut hitunglah :
       a.Besarnya Rentabilitas Modal Sendiri dari masing-masing alternatif diatas jika
        tariff pajak 30 % dan EBIT 15 %.
       b.Bagaimana komentar saudara dengan kebijakan tersebut ?




3..HASIL PENJUALAN TAHUN 2004 DARI PT.VANDAN SEBESAR Rp.12
 MILYAR. PEMBAGIAN DEVIDEN SEBESAR 50 % DARI LABA
 DITAHAN          TAHUN          2003     SEBESAR           Rp.60       juta.       PROSENTASI
 PENJUALAN             DARI        TIAP     POS       DINERACA            YANG        BERUBAH
 LANGSUNG DENGAN HASIL PENJUALAN ADALAH :
Kas                          4%
Piutang Dagang               10 %
Persediaan                   20%
Aktiva tetap                 35%
Utang Dagang                 12%
Accrual                      6%
Margin laba                  3%



               Studi Kelayakan Bisnis               Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11    11                                          Universitas Mercu Buana
               Hartri Putranto, Se. MM.
PERTANYAAN :


a.Susunlah Neraca per 31 Desember 2004 dengan melengkapi data sbb :
                                          NERACA PT.VANDAN
                                PER.31 DESEMBER 2004 ( DLM JUTAAN )
Kas                                       Rp..    Utang Dagang                      Rp.
Piutang dagang                            Rp..    Wesel bayar                       Rp.
Persediaan                                Rp...   Accrual                           Rp.
Aktiva tetap                              Rp… Saham biasa                           Rp.5.250.
                                                  Laba ditahan                      Rp.
Jumlah aktiva                             Rp.     Jumlab Utang dan modal            Rp.


b. Anggaplah hasil penjualan dalam tahun 2005 naik 10% dari hasil penjualan tahun
 2004. Berapa besarnya modal tambahan yang dibutuhkan dari luar ?


c. Susunlah Neraca akhir tahun 2005. Bukalah perkiraan untuk modal yang dibutuhkan
 atau dana yang tersedia.


d.Apa yang akan terjadi mengenai kebutuhan modal, dalam tiap kondisi dibawah ini :
  1. Margin laba berubah dari : “ 3 % menjadi 6 % dan dari 3 % menjadi 1 % “
  2. Rasio pembayaran deviden naik dari “ 50% jadi 80% dan turun jadi 30%.
  3. Rata-rata penerimaan piutang naik menjadi 45 %.




               Studi Kelayakan Bisnis               Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11   12                                           Universitas Mercu Buana
               Hartri Putranto, Se. MM.
JAWAB.


a.           Penyusunan Neraca.


                                             NERACA PT.VANDAN
                                PER.31 DESEMBER 2004 ( DALAM JUTAAN )
       Kas                                   Rp. 480          Utang Dagang                         Rp.1.440.
       Piutang dagang                        Rp.1.200         Wesel bayar                          Rp. 630.
       Persediaan                                  Rp. 2.400             Accrual                         Rp.
       720.
       Jumlah aktiva lancar                  Rp.4.080         Jumlah Utang Lancar                  Rp.2.790
       Aktiva tetap                          Rp.4.200         Saham biasa                          Rp.5.250
                                                              Laba ditahan *)                            Rp.
       240
       Jumlah aktiva                         Rp.8.280         Jumlah utang dan modal               Rp.8.280.


b.           Hasil penjualan 2005 naik 10 % dari penjualan tahun 2004, maka


       110% x Rp.12 M = Rp.13,2 M.
           Dana luar yang dibutuhkan = A/S (delta S)– L/S(Delta S)- M.S2(1-D)
           = 0.69 (Rp.1,2.M) – 0.18(1,92M) – 3%.(13,2M)x(1-50%)
           = Rp.828 jt – 216.jt – 198 jt. = Rp.414 jt.


      *) Laba ditahan tahun 2004 = 3% x Rp.12M x 50%                               = Rp.180 jt.
            Laba ditahan tahun 2003                                                = Rp. 60 jt.
            Laba ditahan tahun 2004                                                = Rp. 240 jt.




                  Studi Kelayakan Bisnis                Pusat Pengembangan Bahan Ajar
     ‘11     13                                         Universitas Mercu Buana
                  Hartri Putranto, Se. MM.
c.                                           . NERACA PT.VANDAN
                                PER.31 DESEMBER 2004 ( DALAM JUTAAN )
       Kas                                   Rp. 528          Utang Dagang                         Rp.1.584.
       Piutang dagang                        Rp.1.320         Wesel bayar                          Rp.1.044.
       Persediaan                                  Rp.2.640              Accrual                         Rp.
       792.
       Dana yg dibutuhkan dr luar Rp.414                       Dana yg tersedia                    Rp. 414
       Jumlah aktiva lancar                  Rp.4.902         Jumlah Utang Lancar                  Rp.3.834
       Aktiva tetap                          Rp.4.620         Saham biasa                          Rp.5.250
                                                              Laba ditahan *)                            Rp.
       438
       Jumlah aktiva                         Rp.9.522         Jumlah utang dan modal               Rp.9.522.


*) Laba ditahan tahun 2005 = 3% x Rp.12,3M x 50%                                   = Rp.198 jt.
     Laba ditahan tahun 2004                                                       = Rp. 240 jt.
     Laba ditahan tahun 2005                                                       = Rp. 438 jt.


       d. 1. a. Jika margin laba naik menjadi 6 %
                  Dana yang dibutuhkan dari luar =
                  = 0.69 (Rp.1,2M) – 0.18 (Rp.1,2M) – 0.5x6%x Rp.13,2M
                  = Rp.828.jt – Rp.216 jt – Rp.396 jt = Rp.216 jt.


                b. Jika margin laba turun menjadi 1 %
                  Dana yang dibutuhkan dari luar =
                  = 0.69 (Rp.1,2M) – 0.18 (Rp.1,2M) – 0.5x1%x Rp.13,2M
                  = Rp.828.jt – Rp.216 jt – Rp.66 jt = Rp.546 jt.


             2. a. Jika rasio pembayaran naik menjadi 80 %
                  Dana yang dibutuhkan dari luar =
                  = 0.69 (Rp.1,2M) – 0.18 (Rp.1,2M) – 0.2x3%x Rp.13,2M
                  = Rp.828.jt – Rp.216 jt – Rp.79,2 jt = Rp.532,8 jt.




                  Studi Kelayakan Bisnis                Pusat Pengembangan Bahan Ajar
     ‘11   14                                           Universitas Mercu Buana
                  Hartri Putranto, Se. MM.
           b. Jika rasio pembayaran turun menjadi 30 %
             Dana yang dibutuhkan dari luar =
             = 0.69 (Rp.1,2M) – 0.18 (Rp.1,2M) – 0.7x3%x Rp.13,2M
             = Rp.828.jt – Rp.216 jt – Rp.277,2jt = Rp.334,8 jt.


       3. Jika penagihan piutang naik menjadi 45 hari, maka prosentase
            piutang menjadi :
             45 hari / 360 hari = 12,5 % ; maka kebutuhan dana luar menjadi
             lebih besar. Berapa ? Coba Hitung !!!!.




             Studi Kelayakan Bisnis     Pusat Pengembangan Bahan Ajar
‘11   15                                Universitas Mercu Buana
             Hartri Putranto, Se. MM.
Soal Nilai waktu Uang

1.KASUS
Diketahui Danan akan membuat usaha dengan memilih antara 2 (dua) alternatif usaha
yaitu usaha kontrakan atau Angkutan. Data spesifikasinya sebagai berikut :
Usaha Kontrakan :
Investasi yang diperlukan untuk membangun kontrakan sebesar Rp.200 juta untuk
membangun 10 kamar. Sewa kontrakan perkamar Rp.400.000/Bulan. Setiap tahun
sewa kontrakan naik 10 %.
Depresiasi secara garis lurus selama 8 tahun dengan Cost of Capital 15 %


Usaha Angkutan
Investasi beli mobil angkot sebesar Rp.150.juta. Setoran angkot/hari Rp.100.000,- dan
setiap tahun naik 10 %.. Angkot dalam sebulan jalan 25 hari.Umur ekonomis angkot
bisa sampai 6 tahun dengan depresiasi garis lurus dan cost of capital 15 %.
Pertanyaan :
Hitunglah 2(dua) proyek tersebut mana yang lebih baik untuk dijalankan.


2.KASUS
Diketahui Danan akan membuat usaha dengan memilih antara 2 (dua) alternatif usaha
yaitu usaha kontrakan atau Taxi. Data spesifikasinya sebagai berikut :
Usaha Kontrakan :
Investasi yang diperlukan untuk membangun kontrakan sebesar Rp.400 juta untuk
membangun 20 kamar. Sewa kontrakan perkamar Rp.500.000/Bulan. Setiap tahun
sewa kontrakan naik tetap
Depresiasi secara garis lurus selama 5 tahun dengan Cost of Capital 12 %


Usaha Taxi
Investasi beli 2 (dua) mobil Taxi sebesar Rp.450.juta . Setoran Taxi/hari Rp.300.000,-
dan setiap tahun naik 10 %.. Taxi dalam sebulan jalan 20 hari.Umur ekonomis Taxi bisa
sampai 5 tahun dengan depresiasi garis lurus dan cost of capital 14 %.

Pertanyaan :
Hitunglah 2(dua) proyek tersebut mana yang lebih baik untuk dijalankan.



             Studi Kelayakan Bisnis     Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11   16                               Universitas Mercu Buana
             Hartri Putranto, Se. MM.
C.Soal Biaya Modal



                             BIAYA MODAL ( COST OF CAPITAL )


BIAYA MODAL ADALAH SEMUA BIAYA YANG SECARA RIIL DIKELUARKAN
OLEH PERUSAHAAN DALAM RANGKA MENDAPATKAN SUMBER DANA.
                                        BIAYA EKSPLISIT ; BIAYA BUNGA




                                        BIAYA IMPLISIT
                                   ( BIAYA YG TDK DIKELUARKAN SAAT
                                       INI SEPERTI SELISIH HARGA OBLIGASI.




RUMUS :               BIAYA RIIL               X 100 %
            PENERIMAAN BERSIH




CONTOH :


PT.VANDAN MENGAMBIL KREDIT REK.KORAN BERJANGKA 1 TAHUN
Rp.10.000.000 DENGAN BUNGA 20 % SETAHUN. BERARTI PERUSAHAAN
HARUS MEMBAYAR BUNGA SEBESAR 20 % X Rp.10.000.000,- = Rp.2.000.000.
DISAMPING ITU PERUSAHAAN HARUS MEMBAYAR BIAYA PROVISI SEBESAR
Rp.200.000, BIAYA ADMINISTRASI Rp.25.000,- DAN BIAYA NOTARIS Rp.50.000.-
DENGAN DEMIKIAN SELURUH BIAYA YANG DIKELAURKAN ADALAH
Rp.2.000.000 + Rp.200.000 + Rp.25.000 + Rp.50.000 = Rp.2.275.000,- DAN DANA
YANG BISA DIGUNAKAN SEBESAR Rp.10.000.000 – Rp.2.275.000. KARENA ITU
BIAYA MODALNYA ADALAH :




BIAYA MODAL          = 2.275.000 / 7.725.000 X 100 % = 29.45%.




            Studi Kelayakan Bisnis             Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11   17                                      Universitas Mercu Buana
            Hartri Putranto, Se. MM.
JENIS BIAYA MODAL ;


   1. BIAYA MODAL INDIVIDUAL
   2. BIAYA MODAL RATA-RATA TERTIMBANG




Biaya Modal Individu terdiri dari 2 yaitu
   a. biaya hutang                                 obligasi
   b. biaya modal sendiri.                          Saham


a.Biaya Hutang


 contoh :


 1. PT.Vandan mengeluarkan obligasi berjangka 4 tahun, dengan nilai nominal
        Rp.100.000 per lembar dengan memberikan bunga 24 % setahun.hargam
        jual obligasi sebesar Rp.92.000,- perlembar.
        Hitung biaya modalnya ?




 2. PT.Vandan mengeluarkan obligasi berjangka 4 tahun, dengan nilai nominal
        Rp.500.000,- perlembar dengan memberikan bunga 20 % setahun. Apabila
        harga jual obligasi sebesar Rp.460.000,- per lembar, maka biaya hurang
        yang ditanggung berapa ?


   b.Biaya saham preferen
   D = Rp.1.400,-
   Pn = Rp.7.500 – Rp.150 = Rp.7.350
       Kd = D / Pn
          = 1.400 / 7.350 x 100 % = 19.05 %


   c. Biaya Modal Saham Biasa



              Studi Kelayakan Bisnis     Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11     18                              Universitas Mercu Buana
              Hartri Putranto, Se. MM.
       Rumus :        Kd = D1/ P + g




       Kd = Biaya Modal
       D1 = Deviden
       P = Harga Pasar Saham
       g = Growth / pertumbuhan.Deviden.




D.Soal Modal Kerja




Soal 1.( Modal Kerja )
PT.Vandan sedang mempelajari untuk menentukan tingkat aktiva lancar yang optimal
untuk tahun depan. Manajemen memperkirakan bahwa penjualan akan meningkat
Rp.600.000.000,-. Karena ditawarkannya produk baru. Perusahaan ingin tetap
mempertahankan rasio utangnya 50 % dan nilai aktiva tetap saat ini sebesar
Rp.160.000.000,-. Tingkat bunga baik jangka pendek maupun jangka panjang saat ini
20 %. Manajer keuangan PT.Vandan menginginkan 3 alternatif yakni :
   1. Kebijakan konservatif dengan tingkat aktiva lancar 70% sales.
   2. Kebijakan moderat dengan tingkat aktiva lancar 50% sales
   3. Kebijakan agressif dengan tingkat aktiva lancar 30 % sales.
Mana kebijakan yang sebaiknya diambil dengan ukuran Return On Equity (ROE) untuk
ketiga alternatif tsb dengan asumsi EBIT sebesar 15% sales dan pajak 30%.



JAWAB :




            Studi Kelayakan Bisnis     Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11   19                              Universitas Mercu Buana
            Hartri Putranto, Se. MM.
                                        Konservatif              Moderat        Agresif
Aktiva tetap                            160.000.000              160.000.000    160.000.000
Altiva Lancar                           420.000.000              300.000.000    180.000.000
   Total Aktiva                           580.000.000                460.000.000 340.000.000
Ratio hutang 50%                        290.000.000              230.000.000    170.000.000
Modal sendiri                           290.000.000              230.000.000    170.000.000
EBIT 15%                                90.000.000               90.000.000     90.000.000
Bunga 20%                               58.000.000               46.000.000     34.000.000
   EBT                                     32.000.000                 44.000.000 56.000.000
Pajak 30 %                              9.600.000                13.200.000    11.2.00.000
EAT                                     22.400.000               30.800.000    48.200.000
ROE                                     7.7 %                    13.4 % 28.3 %

Dari perhitungan diatas, ternyata kebijakan agresif memberikan ROE yang paling
besar, namun demikian jumlah aktiva lancar yang rendah menunjukkan bahwa
likuiditas perusahaan juga rendah sehingga resiko menjadi tinggi




             Studi Kelayakan Bisnis             Pusat Pengembangan Bahan Ajar
 ‘11   20                                       Universitas Mercu Buana
             Hartri Putranto, Se. MM.

								
To top