Docstoc

transek garis

Document Sample
transek garis Powered By Docstoc
					TRANSEK GARIS DAN SURVEI UDARA




         JURUSAN ILMU KELAUTAN
  FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
         UNIVERSITAS HASANUDDIN
                MAKASSAR
                   2012
A. TRANSEK GARIS
a. Pengertian Dan Kegunaan
       Transek garis (“Line Intercept Transect”) merupakan salah satu metode yang
digunakan untuk menilai kondisi terumbu karang di suatu lokasi. Biota-biota dalam
terumbu karang tersebut dimasukkan kedalam beberapa kategori berdasarkan bentuk
pertumbuhan (benthic lifeform) sehingga metode ini juga disebut dengan metode
“benthic lifeform” atau bahkan disebut dengan metode lifeform saja.Beberapa
keuntungan dari Pengguna metode ini antara lain :Pengelompokkan biota ke dalam
beberapa kategori.
       Transek garis digunakan pula ketika Anda ingin menggambarkan gradien
tertentu atau pola linier sepanjang yang komunitas tumbuhan dan atau hewan
berubah. Mereka menyediakan cara yang baik untuk dapat jelas memvisualisasikan
perubahan yang terjadi sepanjang garis. Tergantung pada bagaimana rinci transek
garis adalah, mereka biasanya dapat dicapai cukup cepat.
       Transek garis tidak menghasilkan informasi sebanyak pada kepadatan relatif
dari spesies individu sebagai transek sabuk akan dilakukan. Sebuah transek garis
memberitahu Anda apa yang ada, tetapi memberikan informasi terbatas pada berapa
banyak yang hadir. Jika informasi kepadatan rinci diperlukan maka transek sabuk
harus dilakukan sebagai gantinya.
       Kegunaan lainnya untuk melihat dengan jelas mengenai kondisi alam dan
rumitnya sistem pertanian dan pemeliharaan sumber daya alam yang dijalankan oleh
masyarakat bagi orang luar. Kita dapat belajar tentang cara masyarakat dalam
memanfaatkan sumber daya alam. Dalam suatu perencanaan program, transek
dipergunakan untuk observasi lansung bagi kegiatan penjajagan kebutuhan dan
potensi. Sedangkan dalam evaluasi program, teknik ini dapat dimanfaatkan untuk
mengetahui fakta-fakta dan perubahan yang telah terjadi.


b. Kelebihan Dan Kekurangan
          Penggunaan metode garis tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangannya
yaitu :
a) Kelebihan
    1. Akurasi data dapat diperoleh dengan baik.
    2. Data yang diperoleh lebih banyak dan lebih baik seperti struktur komunitas
          seperti persentase tutupan karang hidup/karang mati, kekayaan jenis,
          dominasi, frekuensi kehadiran, ukuran koloni dan keanekaragaman jenis dapat
          disajikan secara lebih menyeluruh.
    3. Struktur komunitas biota yang berasosiasi dengan terumbu karang juga dapat
          disajikan dengan baik.
b) Kekurangan
    1. Membutuhkan tenaga peneliti yang banyak.
    2. Dituntut keahlian peneliti dalam identifikasi karang, minimal life form dan
          sebaliknya genus atau spesies.
    3. Survei membutuhkan waktu yang lama.
    4. Peneliti dituntut sebagai penyelam yang baik.
    5. Biaya yang dibutuhkan juga relatif lebih besar


c. Prinsip Penggunaan
          Pengamatan habitat dasar ekosistem terumbu karang, yang terdiri atas karang
batu (hard coral) dan berbagai organisme bentik lainnya, dilakukan dengan cara
membentangkan rol meter sebagai transek garis
  Gambar 1. Pengamatan Ekosistem Terumbu Karang Dengan Transek Garis




Gambar .2 Pemasangan Transek Garis.
       Gambar diatas mnggambarkan Prinsip menggunakan suatu garis transek yang
diletakan diatas koloni karang. Transek garis digunakan untuk menggambarkan
struktur komunitas karang dengan melihat tutupan karang hidup, karang mati, bentuk
substrat (pasir, lumpur), alga dan keberadaan biota lain. Spesifikasi karang yang
diharapkan dicatat adalah berupa bentuk tumbuh karang (life form) dan dibolehkan
bagi peneliti yang telah memiliki keahlian untuk mencatat karang hingga tingkat
genus atau spesies. Pemilihan lokasi survei harus memenuhi persyaratan keterwakilan
komunitas karang di suatu pulau. Biasanya penentuan ini dilakukan setelah dilakukan
pemantauan dengan metode Manta Tow. Peralatan yang dibutuhkan dalam survei ini
adalah rol meter, peralatan scuba, alat tulis bawah air, tas nilon, palu dan pahat untuk
mengambil sampel karang yang belum bisa diidentifikasi, dan kapal. Garis transek
dimulai dari kedalaman dimana masih ditemukan terumbu karang batu (± 25 m)
sampai di daerah pantai mengikuti pola kedalaman garis kontur. Umumnya dilakukan
pada tiga kedalaman yaitu 3 m, 5 m dan 10 m, tergantung keberadaan karang pada
lokasi di masing-masing kedalaman. Panjang transek digunakan 30 m atau 50 m yang
penempatannya sejajar dengan garis pantai pulau. Pengukuran dilakukan dengan
tingkat ketelitian mendekati centimeter. Dalam penelitian ini satu koloni dianggap
satu individu. Jika satu koloni dari jenis yang sama dipisahkan oleh satu atau
beberapa bagian yang mati maka tiap bagian yang hidup dianggap sebagai satu
individu tersendiri. Jika dua koloni atau lebih tumbuh di atas koloni yang lain, maka
masing-masing koloni tetap dihitung sebagai koloni yang terpisah. Panjang tumpang
tindih koloni dicatat yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa kelimpahan
jenis. Kondisi dasar dan kehadiran karang lunak, karang mati lepas atau masif dan
biota lain yang ditemukan di lokasi juga dicatat.
B. SURVEI UDARA
a. Penegertian
           Survei merupakan suatu teknik pengumpulan informasi yang di lakukan
dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan pada responden. Jadi, survei
udara merupakan teknik pengumpulan informasi tentang ekosistem yang dilakukan
dengan pengambilan data dengan foto udara. Termasuk juga pengambilan gambar via
satelit.
b. Pemetaan Terumbu Karang dengan Satelit
           Salah    satu     sumberdaya kelautan yang         potensial         untuk     digarap
 adalah terumbu karang.          Indonesia       memiliki          sekitar      50.000        km2
 ekosistem terumbu karang yang tersebar di seluruh wilayah perairan Nusantara.
 Potensi lestari sumberdaya perikanan yang terkandung di dalamnya diperkirakan
 sebesar 80.802 ton/km2/tahun (Dahuri dkk, 1996). Terumbu karang yang masih
 utuh juga menampilkan pemandangan yang sangat indah. Keindahan tersebut
 merupakan potensi wisata bahari yang belum dimanfaatkan secara optimal.
           Pemanfaatan dan pengembangan terumbu karang harus direncanakan melalui
 sistem      manajementerumbu karang yang         terpadu.    Pada      tahap     awal,      sistem
 manajemen         ini     membutuhkan       informasi     sebaran,     tipe,     spesies,     dan
 kondisi terumbu karang;          yang         disajikan       dalam            bentuk        peta.
 Pemetaan terumbu karang memerlukan data yang dapat menggambarkan distribusi
 spasialterumbu. Metode konvensional pengamatan bawah air dengan cara transek
 tidak mampu menyajikan informasi luas dan sebaran terumbu. Metode ini juga
 mengalami         kendala   sulitnya    pengamatan        medan      akibat    ketidakteraturan
 formasi terumbu. Pada interpretasi foto udara, pengaruh kedalaman perairan tidak
 dapat dibedakan dengan pengaruh karakteristik dasar perairan, sehingga
 penampakan terumbu menjadi kurang jelas. Selain itu juga kurang efektif untuk
 diterapkan pada daerah yang luas. Metode analisa peta navigasi tidak mampu
 menggambarkan pengamatan secara sinoptik, karena informasi yang dikandungnya
 hanya berupa simbol-simbol yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelayaran.Berpijak
dari   permasalahan    tersebu,   pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit
merupakan alternative yang dapat dikedepankan dengan melihat kenyataan bahwa
pengamatan obyek bawah air dapat dilakukan melalui citra pada kondisi air laut yang
jernih dan mempunyai karakteristik yang homogen. Apalagi sejak diluncurkannya
Landsat-5 yang membawa sensor Thematic Mapper pada tahun 1984, banyak penelitian
di bidang kelautan yang memanfaatkan citra ini. Keunggulan dalam hal resolusi
spasial, resolusi spektral, dan resolusi temporal menjadi alasan utama para ahli untuk
menggunakannya.
       Pemetaan terumbu karang dengan satelit sumberdaya alam sebenarnya sudah
berkembang sejak lama. Diawali oleh Lyzenga (1981) yang memetakan material
penutup dasar perairan North Cat Cay – Bahama dari citra Landsat MSS.
Berdasarkan pengamatan in situ dengan foto bawah air, pantulan dasar dapat dibagi
ke dalam empat klas, yaitu: batas area bervegetasi, perlapisan Thalasia, pasir
karbonat berwarna putih, dan lapisan tak bervegetasi yang keras. Penelitian lain
dilakukan oleh Khan et al (1992) yang menggunakan pendekatan alternatif rotasi
sumbu dengan transformasi komponen utama. Citra hasil transformasi mampu
menyajikan habitat utama perairan pantai, yang didominasi oleh dasar perairan
berpasir, dasar yang keras, lumpur yang tersusun oleh sedimen halus, serta padang
lamun di Teluk Abu Ali – Arab Saudi. Bierwirth et al (1993) menurunkan informasi
pantulan substrat di dasar Hamelin Pool, Teluk Shark – Australia Barat
daricitra Landsat TM band 1-2-3 dengan teknik penajaman citra. Sedangkan
Luczkovich et al (1993) membedakan terumbu karang, padang lamun, dan tipe
material dasar pasiran di pantai utara Republik Dominika dengan metode
multivariate analysis of variance (MANOVA) terhadap nilai digital tiga saluran
tampak Landsat TM.
       Pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit tidaklah               tanpa
keterbatasan. Berdasarkan teori radiative transfer, kemampuan penetrasi panjang
gelombang tampak biru pada kedalaman 20 meter hanya sekitar 60% (Engman and
Gurney,    1991).     Oleh    karena    itu,   pada     penelitian   ini    pemetaan
terumbu karang dengan citra satelit hanya dibatasi sampai kedalaman 10 meter,
daerah-daerah yang agak datar, dan daerah dengan kemiringan yang masih dapat
dikoreksi dengan batimetri. Pemetaan terumbu di daerah lereng terumbu (reef slope)
dilakukan dengan asumsi persentase tutupan terumbu karang daerah lereng atas
(reef crest). Sedangkan pada lingkungan terumbu yang membentuk dinding hampir
tegak, hanya dilakukan pengamatan sampai kedalaman 10 meter. Selebihnya
dilakukan asumsi terhadap persentase tutupan terumbu karang drop off sampai
kedalaman 10 meter.
     Keterbatasan juga dialami pada pencitraan terumbu karang di perairan yang
keruh. Sifat optis air jelas dipengaruhi oleh keberadaan partikulat organik dan
anorganik serta material terlarut. Spitzer dan Dirks (1987) mengemukakan bahwa
kekeruhan akan berpengaruh terhadap sifat pantulan dasar perairan dangkal yang
menjadi lebih besar dibandingkan pada perairan dalam. Alasan ini menjadikan
perlunya    modifikasi    metode     Lyzenga,     sehingga    dapat    diterapkan
untuk pemetaan zona perairan pantai yang dicirikan oleh gradien horisontal
kekeruhan air. Tassan (1996) telah melakukannya untuk mendeteksi alga makro di
perairan P. Tahapoto di Samudera Pasifik bagian selatan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: transek, garis
Stats:
views:141
posted:11/2/2012
language:Unknown
pages:8