mangrove sebagai green belt

Document Sample
mangrove sebagai green belt Powered By Docstoc
					TUGAS INDIVIDU
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN LAUT SECARA TERPADU




             WILAYAH PESISIR SEBAGAI GREEN BELT




                   JURUSAN ILMU KELAUTAN
            FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
                  UNIVERSITAS HASANUDDIN
                         MAKASSAR
                            2012
A. Pendahuluan

       Indonesia setidaknya mempunyai 47 ekosistem unik. Walaupun luasnya

hanya 1,3 persen dari permukaan dunia, namun 17 persen dari spesies di dunia

hidup di Indonesia, melebihi segala bentuk kehidupan dari seluruh Benua Afrika.

       Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan

ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan

ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis pantai,

mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal),    tempat mencari makan

(feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat

pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur

iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain penghasil keperluan

rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit.

       Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan

mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi

lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri,              dan sebagainya

maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak

ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya

berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove,

yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem

mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.

       Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam rangka perlindungan

terhadap keberadaan hutan mangrove adalah dengan menunjuk suatu kawasan

hutan mangrove untuk dijadikan kawasan konservasi, dan sebagai bentuk sabuk

hijau (green belt) di sepanjang pantai dan tepi sungai. Dalam konteks di atas,

berdasarkan karakteristik lingkungan, manfaat dan fungsinya.
       Pengelolaan wilayah pesisir diwujudkan untuk penggunaan, menikmati,

pembangunan, perawatan, konservasi dan perlindungan sumberdaya alam.

Tujuan utama dari Rencana Pengelolaan wilayah pesisir adalah untuk

membentuk kerangka kebijakan, prosedur dan tanggung jawab yang diperlukan

untuk pembuatan keputusan secara terus menerus pada pengalokasian dan

penggunaan berkelanjutan sumberdaya pesisir.


B. Wilayah pesisir sebagai sabuk hijau (green belt)

   a. Sejarah green belt

       Dimuai dari penguraikan proposal untuk sabuk hijau di sekitar Lewi kota-

kota di Tanah Israel, Musa Maimonides menguraikan bahwa rencana jalur hijau

dari Perjanjian Lama disebut semua kota di Israel kuno. Pada abad ke-7,

Muhammad membentuk sabuk hijau di sekitar Madinah . Dia melakukan ini

dengan melarang setiap penghapusan lebih lanjut dari pohon di strip 12-mil

panjang sekitar kota.

       Di zaman modern, kebijakan green belt dirintis di Inggris pada tahun 1930

setelah tekanan dari CPRE dan organisasi lainnya. Ada empat belas daerah

sabuk hijau, di Inggris yang mencakup 16.716 km ², atau 13% dari Inggris, dan

164 km ² dari Skotlandia , untuk pembahasan rinci dari, lihat Sabuk hijau

(Inggris). Contoh terkenal lainnya adalah Greenbelt Ottawa dan Golden

Horseshoe Greenbelt [2] di Ontario , Kanada . 20.350 Ottawa hektar jalur hijau

dikelola oleh Ibu Kota Nasional Komisi (NCC). Istilah yang lebih umum di AS

adalah ruang hijau atau greenspace, yang mungkin daerah yang sangat kecil

seperti taman .

       Konsep "sabuk hijau" telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir

untuk mencakup tidak hanya "Greenspace" tapi juga "Greenstructure", dengan

mempertimbangkan semua Greenspaces perkotaan, merupakan aspek penting
dari pembangunan berkelanjutan di abad 21. Para Komisi Eropa 's BIAYA Aksi

C11 ( BIAYA - Kerjasama Eropa dalam Sains dan Teknologi) sedang melakukan

"Studi kasus dalam Perencanaan Greenstructure" yang melibatkan 15 negara

Eropa.

b. Penerapan sabuk hijau

         Sabuk hijau merupakan program dalam rangka mengembalikan peran

penting hutan mangrove sebagai penjaga keseimbangan pantai. Indonesia, yang

merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau 17.508 dan penjang garis

pantai sekira 81 ribu kilometer. Mayoritas pulau-pulau tersebut, dalam kondisi

terancam akibat kerusakan pada lingkungan dan ekosistem laut.




                              Gambar 1. Hutan mangrove

         Program sabuk hijau ini sejalan dengan tujuan untuk meningkatkan upaya

pelestarian dan mencegah kerusakan ekosistem mangrove sebagai pengendali

plasma nutfah, penyangga abrasi pantai, penyeimbang ekosistem esturia, tempat

pemijahan ikan dan burung, penekan intstrusi air laut, folter dan penyerap

puloitan, bahkan organik bagi lingkungan sekitarnya serta sumber kekebalan

bagi biota laut. Namun begitu, dia menyatakan, sabuk hijau di Pantura Jawa ini

juga perlu didukung dengan pengelolaan sumber daya wilayah pesisir secara

terpadu dan berkelanjutan.
       Fungsi dari keberadaan sabuk hijau ini setidaknya ini memiliki 3 fungsi

yaitu fungsi ekologis, fisik dan sosial ekonomi. fungsi ekologis yang mendasar

adalah sebagai habitat bagi biota yang berada di kawasan ini dan sekitarnya,

yakni spawning ground, nursering ground dan feeding ground.




                         Gambar 2. fungsi ekologi sabuk hijau

       Fungsi fisik dari sabuk hijau yaitu sebagai penahan alami gelombang

laut, pengabsorbsi tsunami, penahan angin, penahan badai dan lain-lain selain

itu terciptanya sabuk hijau pesisir (coastal green belt) serta ikut mendukung

program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global karena mangrove akan

mengikat (sequester) CO2 dari atmosfer dan melindungi kawasan pemukiman

dari kecenderungan naiknya muka air laut;.

       Sedangkan fungsi sosial ekonomi yaitu dengan keberadaan kawasan ini

dapat dibentuk sebagai kawasan ekowisata, taman nasional, tempat rekreasi dsb

dimana masyarakat dapat mengahasilkan pendapatan dari pengelolaan kawasan

ini.
        Kawasan sabuk hijau pesisir berupa hutan mangrove berada di

sepanjang pesisir tebal hutan mangrove yang idialnya adalah sekitar 50-100

meter dari daerah pasang tertinggi,

        Dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian salah satu ekosistem

pesisisr yaitu ekosistem mangrove, terdapat dua konsep utama          yang dapat

diterapkan. Kedua konsep tersebut pada dasarnya memberikan legitimasi dan

pengertian bahwa mangrove sangat memerlukan pengelolaan dan perlindungan

agar dapat tetap lestari. Kedua kosep tersebut adalah perlindungan hutan

mangrove dan rehabilitasi hutan mangrove (Bengen, 2001).

        Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam rangka perlindungan

terhadap keberadaan hutan mangrove adalah dengan menunjuk suatu kawasan

hutan mangrove untuk dijadikan kawasan konservasi, dan sebagai bentuk sabuk

hijau di sepanjang pantai dan tepi sungai. Dalam konteks di atas, berdasarkan

karakteristik lingkungan, manfaat dan fungsinya, status pengelolaan ekosistem

mangrove dengan didasarkan data Tataguna Hutan Kesepakatan (Santoso,

2000) terdiri atas :

        a. Kawasan Lindung (hutan, cagar alam, suaka margasatwa, taman

            nasional, taman laut, taman hutan raya, cagar biosfir).

        b. Kawasan Budidaya (hutan produksi, areal penggunaan lain).
    c. Potensi Mangrove di lokasi Greenbelt

      Sabuk hijau (Green belt) adalah kebijakan dan penggunaan peruntukan

tanah    yang   digunakan       dalam   perencanaan    penggunaan     lahan   untuk

mempertahankan daerah sebagian besar belum berkembang, liar, atau pertanian

lahan sekitar atau tetangga perkotaan. Pada dasarnya, sabuk hijau adalah garis

yang tak terlihat mengelilingi daerah tertentu, mencegah pembangunan daerah

memungkinkan satwa liar untuk kembali dan dibentuk (Anonim, 2002).

Tujuan lain dari kebijakan sabuk hijau adalah untuk:

•       Melindungi alam dan lingkungan ;

•       Meningkatkan kualitas udara di wilayah perkotaan;

•       Memastikan bahwa penduduk perkotaan memiliki akses ke pedesaan,

dengan kesempatan pendidikan dan rekreasi akibatnya, dan

•       Melindungi karakter unik dari masyarakat pedesaan yang mungkin akan

diserap dengan memperluas pinggiran kota .



Gambar 1. Ilustrasi kawasan sabuk hijau (Green belt)

Kawasan sabuk hijau memiliki banyak manfaat yakni:

•       Berjalan, berkemah, dan daerah bersepeda dekat dengan kota-kota.

•       Habitat liar jaringan untuk tanaman , hewan dan satwa liar.

•       Udara dan air bersih.

•       Lebih baik tata guna lahan wilayah dalam kota yang berbatasan.

        Efektifitas sabuk hijau berbeda tergantung pada lokasi dan negara.

Kawasan daerah sabuk hijau sering bisa terkikis oleh urban pinggiran pedesaan

dan kadang-kadang, 'pembangunan' di atas area sabuk hijau. Sehingga

penciptaan "kota satelit" yang, meskipun terpisah dari kota oleh sabuk hijau,

fungsinya lebih seperti pinggiran dari komunitas independen.
       Tujuan mendasar dari kebijakan sabuk hijau adalah untuk mencegah

meledaknya urbanisasi dengan menjaga lahan terbuka secara permanen, dan

oleh karena itu atribut yang paling penting dari sabuk hijau adalah keterbukaan

mereka (Anonim, 2002).

       Dalam merehabilitasi mangrove yang diperlukan adalah master plan yang

disusun berdasarkan data obyektif kondisi biofisik dan sosial. Untuk keperluan

ini, Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam dapat memberikan kontribusi

dalam penyusunan master plan dan studi kelayakannya. Dalam hal rehabilitasi

mangrove, ketentuan green belt perlu dipenuhi agar ekosistem mangrove yang

terbangun dapat memberikan fungsinya secara optimal (mengantisipasi bencana

tsunami, peningkatan produktivitas ikan tangkapan serta penyerapan polutan

perairan).

       Pembuatan sabuk hijau dengan tanaman mangrove di wilayah pesisir

merupakan salah satu cara yang cukup dapat diterima baik bagi kepentingan

manusia dan lingkungan alam (Bengen, 2000). Gerakan Sabuk Hijau adalah

gerakan non-pemerintah di Kenya yang fokus dalam konservasi lingkungan,

pengembangan komunitas dan kapasitas bangunan. Profesor Wangari Maathai

mendirikan organisasi ini pada tahun 1977. Gerakan Sabuk Hijau menyatakan

telah menanam sekitar 30 juta pohon di seluruh Afrika.
                                    DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.undip.ac.id/5424/1/grasiaTA.pdf diakses pada tanggal 27 maret 2012,
       Makassar.


http://bhuvananusantara.or.id/bhuvana/?modul=hiduphijau diakses pada tanggal 27
       maret 2012, Makassar.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13003606&page=18 diakses pada tanggal 27
       maret 2012, Makassar.

http://indonesia.wetlands.org/Infolahanbasah/SpesiesMangrove/tabid/2835/language/id-
       ID/language/en-US/Default.aspx diakses pada tanggal 27 maret 2012, Makassar.
http://dannycip10.blogspot.com/2011/05/laporan-praktikum.html
http://fppb.ubb.ac.id/?Page=artikel_ubb&&id=268

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:122
posted:11/2/2012
language:Unknown
pages:9