Asal Usul Manusia by aida-adi

VIEWS: 17 PAGES: 7

									                            ASAL USUL MANUSIA
                            (MA’RIFATUL INSAN)
A. Pendahuluan.

      Manusia mampu memikirkan alam raya ini, dari mikrobiologi hingga yang sifatnya
makro, semisal benda-benda angkasa. Namun semuanya belum mampu terpecahkan oleh
manusia. Sehingga rahasia alam dapat disingkap manusia untuk memenuhi keperluan
hidupnya di dunia ini. Prestasi ini dapat kita lihat dalam berbagai jurnal ilmiyah atau
tayangan discovery di televise. Sungguh suatu penemuan yang menakjubkan dan
mengagumkan. Miskipun ia sanggup menyingkap berbagai rahasia alam yang begitu
mengagumkan, namun sesungguhnya manusia belum mampu menguak misteri terbesar bagi
dirinya yakni mengenal dirinya sendiri.

      Berangkat dari sini maka pemahaman mengenai jatidiri menjadi sangat penting, tulisan
ini sedikit banyak mengungkap hal tersebut yakni berkaitan proses penciptaan manusia dari
perpektif ayat-ayat al Qur’an, hubungan antara Khaliq (Pencipta) dan makhluq (yang
diciptakan), konsekuensi sebagai makhluq. Mengenai tugas ataupun fungsi manusia di bumi
ini, hal ini berkaitan dengan pertanyaan untuk apa ia diciptakan . Juga mengenai dari mana ia
berasal dan akan ke mana ia pergi. Kecenderungan-kecenderungan manusia.


B. Penciptaan manusia secara fisik (at takwin al khalqi)

      Ada beberapa hal yang harus diketahui mengenai penciptaan manusia secara fisik ini.
Yakni mengenai materi dari apa ia diciptakan, tahapan-tahapan penciptaan manusia, tahapan
perjalanan manusia hingga berakhir pada kematian. Hal tersebut dari dijelaskan sebagaimana
berikut ini.

    Beberapa ayat al qur’an maupun hadits Rasul dapat dijadikan petunjuk awal untuk
mempelajari kisah penciptaan manusia ini.

Al mu’minun (23): 12 – 14 (penciptaan manusia secara biologis)

             
                
            
                   
          
         
        
   
    
            
12. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah.

13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim).

14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Assajadah (32): 8 (penciptaan manusia secara biologis)

                         
                                      
8. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.

Al Hijr (15): 26 (materi diciptakannya manusia secara fisik)

         
      
26. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Qaf (50) : 16 (potensi psikis manusia)

            
          
    
           
16. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

Al Insan (76) : 2 (penciptaa secara biologis)

         
        
     
2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[1] yang
Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia
mendengar dan melihat.




Al balad (90):4 (proses penciptaan secara biologis)

    
                                  
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Attin (95): 4 (potensi manusia secara fisik)

                   
                           
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .



        Manusia diciptakan oleh Allah manhaj tarbiyah (system pendidikan) yang diberikan
kepadanya harus bersumber dari ajaran Allah, adalah tidak cocok untuk membentuk manusia
baik secara pertumbuhan fisiknya atau psikis (cara pandang, aliran pemikirannya) kecuali
sesuai dengan yang diturunkan oleh Allah. Perhatikan firman Allah berikut:

Al balad (90):10

          
10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yakni jalan kebajikan dan jalan
kejahatan).

- potensi fisik manusia

      potensi inderawi (hissi) yang dimiliki manusia diantaranya adalah gerak, energi,
penciuman, perasa/perabaan, pewarnaan sehingga mampu membedakan beragam warna.



C. Penciptaan manusia secara psikis ( at takwin alkhuluqi)



     Tabiat dasar manusia …
      Sebagaimana disinggung di atas, manusia diciptakan, secara materi, berasal dari sari
pati tanah, maka tabit manusia juga cenderung mengadopsi filosofi negative tanah, yang
kotor, berlumpur, licin, jorok. Ketika ini semua ada pada manusia maka derajat kemanusian
akan meluncur menuju kehinaan.

     Tetapi secara ruhani manusia memili ruh ketuhanan yang mengusung nilai-nilai luhur
kemanusian, misalnya kasih saying, suka keindahan, berkreasi, tolong menolong, sportif,
komitmen, berdedikasi.

     Beberapa ayat al qur’an berkaitan dengan hal ini misalnya:

    Siat manusia terhadap harta seperti Allah gambarkan dalam surat al Ma’arij (70): 19 -
25. Merupakan gambaran dua sosok manusia yang kikir dan dermawan. Tetapi Allah
menyebutkan sifat kikir dahulu baru kemudian sifat dermawan. Juga terkait dengan sikap
menghadapi kehidupan dunia ini satu sifat keluh kesah, di sisi lain ada yang sabar.

Periodesasi pembentukan akhlak:

1. periode anak-anak (marhalatu tufulah)

2. Periode remaja/pemuda (marhatu asy syabab)

3. Periode dewasa (marhalatu ar rajulah)

Periode yang menentukan adalah pada masa kanak-kanak. Beberapa hal yang penting adalah
1) anak harus mendapatkan asuhan yang baik (al hadhanah ash sholihah), 2) pengasuh/ibu
yang bergama bagus (almurdhi’ al mutadayyinah). 3) Nama yang bagus

Ada sebuah hadits riwayat al Baihaqi yang bersumber dari Ibn Abbas:



“hak anak yang harus dipenuhi orang tua adalah memberinya nama yang bagus dan sopan
santun”

     Orang tua harus senantiasa mendampingi, memantau perkembangan anak sehingga
dapat mengarahkan dan membimbing anak karena anak merupakan amanat bagi orang tua
dan orang tua wajib melaksanakan amanat ini. Yakni dengan terus membimbing, mengajari.
Rasulullah mengajarkan bahwa: hak seorang anak yang harus ditunaikan orang tua adalah
hendaknya orang tua mengajari anak tentang tulis menulis, renang, memanah dan tidak
memberinya materi apapun kecuali yang baik, demikian menurut hadits riwayat al Baihaqi.

                          ‫عل‬   ‫ك تا ة م‬    ‫با ة‬     ‫رما ة‬         ‫ال‬   ‫ب يه قي( ط ي با إ ال رزق‬   )

      Setelah masa kanak – kanak, ia kemudian menginjak masa remaja atau pemuda yang
berlanjut pada masa dewasa. Pada masa ini seluruh potensi fisik manusia mengalami
perkembangan yang pesat. Semua indernya mulai berfungsi. Pertumbuhan fisiknya nampak
secara jelas, tampan atau kurang tampan, tinggi besar atau pendek kecil, dan seterusnya.
Maka pendidikan secara fisik juga harus tetap mendapatkan perhatian juga makanan yang
halal thayib.

     Secara umum memang manusia harus mendapatkan pendidikan, lingkungan,
pengasuhan yang baik. Namun secara khusus setiap tingkat kehidupan, manusia perlu
mendapatkan hal-hal yang memang harus didapatkan pada setiap tingkatan kehidupannya.

      Lingkaran hidup manusia berkisar pada tiga periode di atas yakni masa kanak-kanak
(kelahiran), masa remaja/muda ( pernikahan )dan masa dewasa/tua (kematian).

      Masa remaja anak harus mendapatkan bimbingan bagaimana menghadapi kehidupan
ini, menyiapkan mental dan fisik untuk menanggung sebuah keluarga dan masyarakat.

     Sedangkan pada masa dewasa, manusia telah siap secara fisik dan mental untuk
menghadapi perjalanan panjang setelah kehidupan di dunia setelah menyiapkan generasi
penerus sejarah kehidupannya. Maka alngkah indahnya ketika di masa tua seseorang
meninggalkan pertanyaan kepada generasi penerusnya seperti dinyatakan Ya’qub: apa yang
akan kalian sembah sepeningglku kelak ? Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek
moyangmu. Al baqarah :133.

    
        
        
   
  
  
   
                              
133. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata
kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami
akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu)
Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

- Potensi-potensi ruhani manusia

     Manusia dikarunia beragam potensi maknawi (qalbu, intelektual,spiritual) semua ini
agar manusia dapat tetap hidup di dunia ini. Dalam misi Islam tentu potensi ini berbeda
fungsi dan manfaatnya dibanding manusia lain. Karena konsep manusia di bumi adalah
konsep Adam sebagai khalifah atau wakil Allah di dunia. Maka semua potensi ini
dimaksudkan untuk merealisir semua ajaran Allah yakni rahmatan lil ‘alamin dalam kerangka
ibadah kepada Allah swt. Dan tiadalah Aku ciptakan manusia kecuali untuk beribadah
kepadaKu. Adzariayt: 56

    
                    
56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-
Ku.

     Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat pula. Mendidik akal agar sehat adalah
dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan iman.

     Sedangkan pendidikan fisik/badan adalah dengan rizki yang halal dan baik olah raga
yang dapat memacu pertumbuhan fisik maupun mentalnya menjadi sportif.

[1] Maksudnya: bercampur antara benih lelaki dengan perempuan.


                                   Tugas
                          Pendidikan Agama Islam


                          Asal Usul Manusia
                                            Menurut

                                AL-Qur’an




                                     ADI PRIBADI UTAMI
                      (B)



 AKADEMI KOMUNITAS NEGERI SUMBAWA
            TEKNOLOGI PANGAN
Konsentrasi Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan

                    2012

								
To top