Kurikulum Berdasarkan Filsafat Behaviorisme by akhmadsudrajat

VIEWS: 36 PAGES: 45

									       Datar Isi   Admin       Opini Pendidikan      Forum Konselor       Forum Pengawas Sekolah   Download   Regulasi Pendidikan   Blog dan Web Pendidikan




       ← Tentang Islamisasi Sains                                                                       Harga Diri →


       Kurikulum Berdasarkan Filsafat Behaviorisme
       Posted on 12 Mei 2009


       Oleh: M Ihsan Dacholfany dan Ayi Sofyan                                                                                            makalah dan artikel manajemen pendidikan




                                                                                                                             Artikel Pendidikan Terbaru
       I. PENDAHULUAN                                                                                                          Hubungan Guru dengan Siswa
                                                                                                                               Arti Penting Kom petensi
                                                                                                                               Kepribadian Guru
                                       Kurikulum merupakan bagian dari sistem pendidikan yang tidak
                                                                                                                               KKN Tem atik Univ ersitas
                                       bisa dipisahkan dengan komponen sistem lainnya. Tanpa                                   Kuningan Tahun 2 01 2
                                       Kurikulum suatu sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai                         Penilaian Kinerja Guru, Kepala
                                                                                                                               Sekolah dan Pengawas Sekolah
                                       sistem pendidikan yang sempurna. Ia merupan ruh (spirit) yang
                                                                                                                               “TENTANG PENDIDIKAN”
                                       menjadi gerak dinamik suatu sistem pendidikan, Ia juga                                  m asuk 1 5 finalis ACER
                                       merupakan sebuah idea vital yang menjadi landasan bagi                                  GURARU Award 2 01 2

                                       terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum
open in browser PRO version         Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                                                                                 pdfcrowd.com
                               terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum
                                                                                                        Statistik Blog
                               seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan            9 ,6 86 ,4 4 6
       pendidikan. Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya
                                                                                                                            makalah dan artikel Bimbingan Konseling

       kualitas output pendidiksan, dalam hal ini, peserta didik.


       Dalam kedudukannya yang strategis, kurikulum memiliki fungsi holistik dalam dunia
       pendidikan; Ia memiliki peran dan fungsi sebagai wahana dan media konservasi,
       internalisasi, kristalisasi dan transformasi ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan nilai-nilai
       kehidupan ummat manusia.                                                                                            makalah dan artikel manajemen pendidikan




                                                                                                        Diskusi Pendidikan
       Sebagai wahana dan media konservasi, kurikulum memiliki konstribusi besar dan strategis            djam an pada Inilah Kary a-
       bagi pewarisan amanat ilmu pengetahuan yang diajarkan Allah SWT melalui para nabi dan              Kary a Inov atif Siswa SMK Kita
                                                                                                          ULIL AZMI BAGINDO pada
       rosul, para filosof, para cendikiawan, ulama, akademisi dan para guru, secara turun
                                                                                                          Kom ponen-
       temurun, inter dan antar generasi melalui pengembangan potensi kognetif, afektif dan               Kom ponen Kurikulum
       psikomotorik para muridnya. Sehingga ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan dalam              Asep Awaludin pada Hubungan
                                                                                                          Guru dengan Siswa
       kerangka menciptakan situasi kondusif, dinamis dan kostruktif tatanan dunia ini
                                                                                                          Anony m ous pada Kom ponen-
       berlangsung secara kontinum.                                                                       Kom ponen Kurikulum
                                                                                                          M. Ichsan pada Hubungan
                                                                                                          Guru dengan Siswa
       Sebagai wahana dan media internalisasi, kurikuluim berfungsi sebagai alat untuk
       memahami, menghayati dan sekaligus mengamalkan ilmu dan nilai-nilai itu, dalam                   Ikuti Blog ini
       spektrum relitas kehidupan yang sangat luas dan universal, sehingga kehidupan ini                Masukkan alamat e-mail Anda
                                                                                                        dalam kolom di bawah ini lalu klik
       memiliki kebermaknaan, dalam arti nilai guna dan hasil guna.                                     "DAFTAR".

                                                                                                        Bergabunglah dengan 8.7 82
       Kurikulum berperan dan berfungsi sebagai wahana dan media kristalisasi ilmu                      pengikut lainny a.

       pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan, sebab manusia baik sebagai objek maupun subjek
       pendidikan dan kurikulum, tidak hanya dituntut mengerti, memahami, mengauasai,
       menghayati dan mengamalkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai itu, tetapi juga dituntut
                                                                                                         DAFTAR !
       untuk memiliki concern dan commitment terhadap ilmu dan nilai-nilai itu. Sehingga
       pemilik ilmu pengetahuan dan nilai-nilai itu merasa memiliki (sense of belonging) dan
open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API
                                                                                                                    TENTANG PENDIDIKAN
                                                                                                                              pdfcrowd.com
       merasa tanggungjawab (sense of responsibility) yang replektif terhadap diri dan                       TENTANG PENDIDIKAN

       lingkungannya, atas dasar amanat yang diembannya..                                                       Suka


                                                                                                  6,182 orang menyukai TENTANG PENDIDI
       Lebih jauh, kurikuluim bukan hanya berfungsi sebagai wahana dan media konservasi,
       internalisasi dan kristalisai, tetapi Ia juga merupakan wahana dan media transformasi.
       Pemilik ilmu pengetahuan dan nilai-nilai, dituntut mempelopori, memimpin dan mendesain      Reny        L is a       A na    Y ouleeart

       peradaban ummat manusia yang konstruktif, dinamis, produktif dan innovatif, serta
       mengawal, membimbing, membina, dan mengarahkan perubahan- perubahnya secara
       proaktif dan dedikatif melalui perubahn-perubahan peradaban yang semakin baik. Dalam       J auhari

       konteks ini pula pemilik ilmu pengetauan adan nilai-nilai memerankan dirinya sebagai
       agent of social canges, agent of social responsibility, agent of innovation and agent of
       human invesment                                                                              P lugin s os ial Fac ebook




       II. KONSEP, LANDASAN, DAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


       A. Konsep Kurikulum


       Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktek
       pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya.
       Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang
       harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Pandangan yang muncul sejak zaman
       Yunani kuna ini, dalam lingkungan tertentu masih dioakai hingga kini, sebagaimana
       pendapat Robert S. Zais (1976:7), “a recesourse of subject matters to be mastered”.
       Menurut pendapat ini, kurikulum identik dengan bidang studi.


       Ada pendapat yang menyatakan bahwa kurikulum merupakan pengalaman belajar,
       pendapat ini dikemukakan antara lain oleh Caswell dan Cambell (1975), “…to be composed
       of all the experiences children have under the guidance of theachers”. Ronald C Doll

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                                                     pdfcrowd.com
       (1974:22), menggambarkan kurikulum telah berubah dari kontens belajar (isi) ke proses,
       dari skop yang sempit kepada yang lebih luas, dari materi ke pengalaman, baik di rumah,
       sekolah maupun lingkungan masyarakat, bersama guru atau tidak, ada hubungannya
       dengan pelajaran ataupun tidak, termasuk upaya guru dan fasilitas untuk mendorongnya.
       Meskipun, pemaknaan kurikulum demikian, mendapat kritik dari Mauritz Johnson
       (1967:130), menurutnya pengalaman hanya akan terjadi bila siswa berinteraksi dengan
       ligkungannya, interaksi seperti demikian bukan kurikulum tetapi pengajaran. Menurutnya,
       kurikulum hanya berkenaan dengan “… a structured series of intended learning
       outcomes”, hasil yang dicapai dari hasil belajar siswa. Oleh karena itu, perencaan dan
       pelaksanaan isi, kegiatan belajar mengajar, evaluasi termasuk pengajaran.


       Mc Donald (1967:3) memandang kurikulum sebagai rencana pendidikan atau pengajaran,
       yang terdiri dari empat komponen, yaitu: mengajar (kegiatan professional guru terhadap
       murid), belajar (kegiatan responsi siswa terhadap guru), pembelajaran (interaksi antara
       guru murid pada proses belajar mengajar) dan kurikulum (pedoman proses belajar
       mengajar).


       Bauchamp (1968) menekankan kurikulum sebagai rencana pendidikan atau pengajaran. Ia
       menegaskan bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis dan sekaligus merupakan rencana
       pendidikan yang given di sekolah. Tetapi, kurikulum tidak hanya dinilai dari segi dokumen
       dan rencana pendidikan, karena ia harus memiliki fungsi operasional kegaiatan belajar
       mengajar, dan menjadi pedoman bagi pengajar maupun pelajar.


       Hilda Taba (1962) berpendapat, kurikulum tidak hanya terletak pada pelaksanaanya,
       tetapi pada keluasan cakupannya, terutama pada isi, metode dan tujuannya, terutama
       tujuan jangka panjang, karena justeru kurikulum terletak pada tujuannya yang umum dan
       jangka panjang itu, sedangkan imlementasinya yang sempit termasuk pada pengajaran,
       yang keduanya harus kontinum.

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                     pdfcrowd.com
       Kurikulum, juga merupakan perwujudan penerapan teori baik yang terkait dengan bidang
       studi maupun yang terkait dengan konsep, penentuan, pengembangan desain,
       implementasi, dan evaluasiya. Oleh karna itu, ia merupakan rencana pengajaran dan
       sistem yang berisi tujuan yang ingin dicapai, bahan yang akan disajikan, kegiatan
       pengajaran, alat-alat pengajaran, dan jadwal waktu pengajaran. Sebagai suatu sistem
       kurikulum merupakan bagian dari sistem organisasi sekolah yang menyangkut penentuan
       kebijakan kurikulum, susunan personalia dan prosedur pengembangannya, penerapan,
       evaluasi dan penyempurnaannya (Saodih, 2008:4-7).


       Dalam konteks pendidikan Nasional, kurikulum adalah rencana tertulis tentang
       kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu
       dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan
       tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian
       kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenaan dengan
       pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan
       pendidikan tertentu.


       Dalam Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat
       rencana dan pengaturan mengenai isi dan lahan pelajaran serta cara yang digunakan
       sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Rumusan ini lebih spesifik
       mengandung pokok – pokok pikiran, sebagai berikut:


       1. Kurikulum merupakan suatu rencana/perencanaan;
       2. Kurikulum merupakan pengaturan, yang sistematis dan terstruktur;
       3. Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran bidang pengajaran tertentu;
       4. Kurikulum mengandung cara, metode dan strategi pengajaran;
       5. Kurikulum merupakan pedoman kegiatan belajar mengajar;
       6. Kurikulum, dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan;
open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                 pdfcrowd.com
       7. Kurikulum merupakan suatu alat pendidikan.


       Rumusan tersebut menjadi lebih jelas dan lengkap, karena suatu kurikulum harus disusun
       dengan memperhatikan berbagai faktor penting. Dalam undang-undang telah dinyatakan,
       bahwa: “Kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan
       memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan
       lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan
       teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan
       pendidikan.”


       Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan suatu kurikulum, ialah:


       1. Tujuan pendidikan nasional, dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, dirinci
          menjadi tujuan kurikuler, dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (umum dan
          khusus), yang mendasari perencanaan pengajaran.
       2. Perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis yang mencakup psikologi
          perkembangan dan psikologi belajar;
       3. Mengacu pada landasan sosiologis dibarengi oleh landasan kultur ekologis.
       4. Kebutuhan pembangunan nasional yang mencakup pengembangan SDM dan
          pembangunan semua sektor ekonomi.
       5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta budaya bangsa dengan multi
          dimensionalnya.
       6. Jenis dan jenjang pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan
          tujuannya.


       Rumusan kurikulum menunjukkan kecenderungan berubah, dari rumusan yang bertolak
       dari isi/materi course of studi menjadi pengertian yang lebih luas, yakni…as all the learning
       experiences under the aegis of the school (Hills 118). Perubahan menitikberatkan pada apa

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                         pdfcrowd.com
       yang dikerjakan dan dipelajari di sekolah, dipengaruhi bukan semata-mata oleh mata
       ajaran yang diajarkan, melainkan bergantung pada tugas-tugas belajar yang disiapkan
       koherensi dan keseimbangan dalam keseluruhan program-sekolah, bagaimana siswa
       terlibat secara reflektif dalam kurikulum, nilai-nilai dan tujuan-tujuan para guru, yang
       berkaitan dengan cara mereka menilai belajar siswa dan menilai dirinya sendiri. Cara yang
       sederhana untuk mempertimbangkan kurikulum adalah melihat kurikulum dari 4 fase,
       yakni: isi (content), metode, tujuan (purpose) dan evaluasi.


       Dalam perspektif ini, kurikulum sekolah keseluruhan (a whole school curriculum) bukan
       hanya sangat kompleks namun juga merupakan satu kesatuan yang ideal. Suatu sekolah
       juga memiliki a hidden curriculum’…the largely unintended effect of its social milieu,
       sedangkan the actual curriculum, yang ditafsirkan sebagai siswa mengalami secara aktual
       dan guru mengajarkan secara aktual, mungkin berbeda dengan apa yang direncanakan
       secara formal. Jurang antara curriculum-as-intention dan curriculum-in-use (atau in-
       transaction) mendasari kebutuhan mendasar dan kongkrit yang harus diperbuat dan
       dipelajari siswa di sekolah, yang dirancang dalam public curriculum. Masalahnya adalah
       bagaimana membuat suatu kurikulum yang efektif dan bermakna bagi publik luas. Ada 2
       pendekatan yang dapat digunakan, yakni (1). Melihatnya sebagai suatu masalah riset
       terhadap pengajaran bukan sebagai perencanaan umum. Kurikulum dilihat sebagai suatu
       spesifikasi dari konten dan prinsip-prinsip untuk diinvestigasi dalam realita kelas; (2)
       Pendekatan kedua lebih menekankan pada kurikulum sebagai keseluruhan dan sebagai isi
       (intention), misalnya sebagai peta kebudayaan. Konsepsi integrative diterjemahkan
       menjadi analisis hambatan terhadap guru dan sekolah, dan mengaitkan teori kurikulum
       dengan strategi perubahan sosial jangka panjang.


       Terdapat beberapa gagasan mengenai kurikulum, antara lain:


       Pertama, Whole Curriculum. Istilah The Whole Curriculum, tidak bersinonim dengan

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                     pdfcrowd.com
       curriculum dan cenderung digunakan untuk membedakan program sekolah yang
       menyeluruh seimbang dan koherensi dengan source study. Keputusan-keputusan
       mengenai the whole curriculum tergantung pada persoalan-persoalan yang berkenaan
       dengan proses sekolah jangka panjang diseleksi dari kebudayaan yang bermanfaat, dengan
       pola studi tertentu bagi semua siswa.


       Konsep tersebut ada kaitannya dengan pernyataan, bahwa “Curriculum all the learning
       experience planned and guided by school”. Konsep ini mengandung dua cabang:
       berkenaan dengan lingkungan belajar total, pengembangan diri siswa yang ditransmisikan
       padanya; dan penempatan komponen subjects dalam konteks desain the whole curriculum.
       Konsep ini membantu mengenai cara the whole curriculum menyajikan ‘a selection from
       culture’, asumsi-asumsi tentang pengetahuan yang ditransmisikan dalam masyarakat. Dari
       perspektif ini dapat dipertanyakan dan diklarifikasi kontribusi pola-pola organisasi
       kurikulum, subject-based by tradition ke arah tujuan-tujuan persekolahan jangka panjang.


       Kedua, Hidden Curriculum, gagasan ini merupakan suatu tantangan bagi perancang
       kurikulum. Hidden Curricu¬lum memuat kontradiksi terhadap kurikulum official
       (intended curriculum), karena merupakan kurikulum tak tertulis (Hargreaves, 1978).
       Kurikulum ini adalah hasil dari desakan yang memberikan efek tak diinginkan, untuk
       mempengaruhi orang lain agar menyetujui sesuatu yang diharapkan, melalui interaksi
       kelas upaya penyebarluasan pesan-pesan kultural mengenai tingkah laku sosial.

       Ketiga, Komponen-komponen Kurikulum, kurikulum memiliki komponen-komponen yang
       berkaitan satu dengan yang lainnya, yakni : (1). Tujuan, (2), Materi, (3). Metode, (4).
       Organisasi, dan (5). Evaluasi. Komponen-komponen tersebut, baik secara sendiri-sendiri
       maupun secara bersama-sama menjadi dasar utama dalam upaya mengembangkan sistem
       pembelajaran.


open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                    pdfcrowd.com
       Keempat, Peranan Kurikulum, kurikulum direncanakan secara sistematis, mengemban
       peranan penting bagi pendidikan, yakni: (1). Peranan konservatif, (2). Peranan kritis dan
       evaluatif, dan (3). Peranan kreatif. Ketiga peranan ini sama pentingnya dan antara
       ketiganya perlu dilaksanakan secara berkeseimbangan.

       Kelima, Fungsi Kurikulum, sebagaimana dikemukakan Alexander               Inglis (1978),
       menyatakan:


       1. Penyesuaian (the adjustive of adaptive function)
       2. Pengintegrasian (the integrating function)
       3. Peferensiasi (the differentiating function)
       4. Persiapan (the propaedeutic function)
       5. Pemilihan (the selective function)
       6. Diagnostik (the diagnostic function)

       Keenam, Pendekatan Studi Kurikulum, mempertanyakan apa yang dipergunakan dalam
       pembahasan atau dalam penyusunan kurikulum tersebut. Penggunaan sesuatu
       pendekatan (approach) menentukan bentuk dan pola yang dipergunakan oleh kurikulum
       tersebut melalui empat pendekatan, yakni: mata pelajaran, interdispliner, integratif dan
       sistem.


       Ketujuh, Proses Kurikulum, pada dasarnya merupakan suatu perangkat lengkap yang
       menjadi dasar bagi guru dalam membuat semua keputusannya di sekolah. Setiap guru
       memiliki kemampuan membentuk atau menyusun kurikulum berdasarkan suatu proses
       logis, dinilai terbaik pada saat disampaikan pada siswanya. Jika guru tidak berpedoman
       pada kurikulum, pengajarannya akan menimbulkan meragukan.

       B. Landasan Filosofis Kurikulum

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                     pdfcrowd.com
       Pendidikan berperan sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia, sebab
       pendidikan berpengaruh langsung kepada kepribadian ummat manusia. Pendidikan sangat
       menentukan terhadap model manusia yang dihasilkannya.


       Kurikulum sebagai rancangan pendidikan, mempunyai kedudukan sentral; menentukan
       kegiatan dan hasil pendidikan. Penyusunannya memerlukan fondasi yang kuat, didasarkan
       atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Kurikulum yang lemah akan
       mengahasilkan manusia yang lemah pula.

       Pendidikan merupakan interaksi manusia pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan
       pendidikan. Interaksi pendidik dan terdidik dalam pencapaian tujuan, bagimana isi, dan
       proses pendidikan memerlukan fondasi filosofis, agar interaksi melahirkan pengertian yang
       bijak dan perbuatan yang bijak pula. Untuk mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak,
       ia harus tahu dan berpengetahuan yang diperoleh melalui cara berfikir sistematis, logis dan
       mendalam, secara radikal, hingga keakar-akarnya. Upaya menggambarkan dan
       menyatakan suatu pemikiran yang sistematis dan komprehensif tentang suatu fenomena
       alam dan manusia disebut berfikir secara filosofis. Filsafat mencakup suatu kesatuan
       pemikiran manusia yang menyeluruh.


       Pendekatan Ilmu dengan filsafat berbeda, ilmu menggunakan pendekatan analitik,
       mengurai bagian-bagian hingga bagian yang terkecil. Filsafat mengintegrasikan bagian-
       bagian hingga menjadi satu kesatuan yang menyeluruh dan bermakna. Ilmu berkaitan
       dengan fakta-fakta sebagaimana adanya, secara objektif dan menghindari subjektifitas.
       Filsafat melihat sesuatu secara das sollen (bagaimana seharusnya), faktor subjektif sangat
       berpengaruh. Tetapi filsafat dan ilmu memiliki hubungan secara komplenter; saling
       melengkapi dan mengisi. Filsafat memberikan landasan bagi ilmu, baik pada aspek
       ontologi, epistimologi, maupun aksiologinya.


open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                       pdfcrowd.com
       Dalam konteks pendidikan, filsafat pendidikan merupakan refleksi pemikiran filosofis
       untuk mengatasi permasalahan pendidikan. Filsafat memberi arah dan metodologi
       terhadap praktik pendidikan, sebaliknya praktik pendidikan memberikan bahan-bahan
       bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis. Menurut Butler (1957:12), hubungan filsafat
       dengan filsafat pendidikan sebagai berikut: 1) Filsafat merupakan basik bagi filsafat
       pendidikan, 2) Filsafat merupakan bunga bukan batang bagi pendidikan, 3) filsafat
       pendidikan merupakan disiplin tersendiri yang memiliki hubungan erat dengan filsafat
       umum, meski bukan essensinya, 4) Fisafat dan teori pendidikan adalah satu.

       C. Pengembangan Kurikulum


       Pengembangan Kurikulum (curriculum development) adalah: the planning of learning
       opportunities intended to bring about certain desered in pupils, and assesment of the
       extent to wich these changes have taken piece (Audrey Nicholls & S. Howard Nichools).


       Rumusan ini menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan
       kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah
       perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan itu
       telah terjadi pada diri siswa.


       Sedangkan yang dimaksud kesempatan belajar (learning opportunity) adalah hubungan
       yang telah direncanakan dan terkontrol antara para siswa, guru, bahan peralatan, dan
       lingkungan dimana belajar yang diinginkan diharapkan terjadi. Ini terjadi bahwa semua
       kesempatan belajar direncanakan oleh guru, bagi para siswa sesungguhnya adalah
       “kurikulum itu sendiri”.

       Pengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang meliputi empat unsur, yakni:


open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                 pdfcrowd.com
       1. Tujuan: mempelajari dan menggambarkan semua sumber pengetahuan dan
          pertimbangan tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik yang berkenaan dengan mata
          pelajaran (subject course) maupun kurikulum secara menyeluruh.
       2. Metode dan material: mengembangkan dan mencoba menggunakan metode-metode
          dan material sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan tadi yang serasi menurut
          pertimbangan guru.
       3. Penilaian (assesment): menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan itu
          dalam hubungan dengan tujuan, dan bila mengembangkan tujuan-tujuan baru.
       4. Balikan (feedback): umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh yang
          pada gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.

       Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan sebagai satu disiplin ilmu perlu
       bahkan seharusnya mendapat perhatian secara khusus dan menempati kedudukan dan
       fungsi sentral dalam sistem pendidikan, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan secara
       multidimensional, sebagai berikut.


       1. Kebijakan nasional dalam rangka pembangunan nasional berkenaan dengan sistem
          pendidikan nasional.
       2. Kurikulum menempati kedudukan sentral.
       3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan
          pembangunan dan memenuhi keperluan sistem pendidikan.
       4. Kebutuhan, tuntutan, aspirasi masyarakat yang terus berubah.
       5. Tuntutan profesionalisasi dan fungsionalisasi ketenagaan.
       6. Upaya pembinaan disiplin ilmu.


       Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, meliputi:

       1. Kurikulum disusun untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional.

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                pdfcrowd.com
       2. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan pendekatan
          kemampuan.
       3. Kurikulum harus sesuai dengan ciri khas satuan pendidikan pada masing-masing
          jenjang pendidikan.
       4. Kurikulum pendidikan dasar, menengah dan tinggi dikem¬bangkan atas dasar standar
          nasional pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan.
       5. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan secara berdiversifikasi,
          sesuai dengan kebutuhan potensi, dan minat peserta didik dan tuntutan pihak-pihak
          yang memerlukan dan berkepentingan.
       6. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan tuntutan pembangunan daerah dan
          nasional, keanekaragaman potensi daerah dan lingkungan serta kebutuhan
          pengembangan iptek dan seni.
       7. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangankan secara berdiversifikasi,
          sesuai dengan tuntutan lingkungan dan budaya setempat.
       8. Kurikulum pada semua jenjang pendidikan mencakup aspek spiritual keagamaan,
          intelektualitas, watak konsep diri, keterampilan belajar, kewirausahaan, keterampilan
          hidup yang berharkat dan bermartabat, pola hidup sehat, estetika dan rasa
          kebangsaan.

       Menurut Herrick ada tiga macam sumber kurikulum, yaitu pengetahuan, masyarakat
       serta individu yang dididik. Kurikulum sebagai desain pendidikan mempersiapkan
       pendidik¬an generasi muda bagi kehidupannya masa kini dan bagi masa yang akan datang.
       Karena kurikulum mempersiapkan anak bagi kehidupannya, maka baik isi maupun proses
       (Jack Wilton) kurikulum bersumber dan didasarkan atas hal-hal yang ada pada diri anak
       serta lingkungannya.

       Herrick menyebutkan empat sumber penyesuaian kurikulum yaitu bidang pengajaran
       (pengetahuan), masyarakat, individu dan perkembangan teknologi, Ronald Doll (1976) juga

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                    pdfcrowd.com
       mengemukakan dasar-dasar yang hampir sama, dengan menambahkan dasar filsafat dan
       sejarah. Menurut Doll ada empat dasar atau sumber penyusunan kurikulum yaitu, dasar
       filsafat dan sejarah, dasar psikologi, dasar sosial dan dasar ilmu pengetahuan.

       Setiap   guru   bertanggung        jawab      melakukan          perubahan-perubahan   yang harus
       direncanakan melalui proses yang logis rasional dan valid dengan senantiasa berusaha
       merelevansikan pendidikan yang diberikannya dengan tuntutan dan kebutuhan
       masyarakat. Tanggung jawab ini pada gilirannya menuntut tingkat pengetahuan,
       keterampilan dan pengalaman agar mampu mengembangkan kurikulum secara terus
       menerus. Dalam rangka inilah maka setiap guru perlu mengalami pendidikan guru,
       mengikuti kegiatan pengembangan staf dan program inservice training. Konsep ini
       berlandaskan pada asumsi bahwa guru memiliki hak untuk memutuskan sendiri apa-aga
       yang akan diajarkannya dan bagaimana cara mengajarkannya. Namun demikian tetap
       dalam pola kurikulum yang telah digariskan sebagai frame of reference.

       Terhadap perubahan kurikulum, umumnya para guru dapat dikategorikan menjadi tiga
       golongan. Pertama, para guru yang responsif terhadap kegiatan pengembangan kurikulum.
       Kedua, adalah para guru yang lebih menyukai mengikuti dengan baik dan patuh
       kurikulum. Ketiga adalah para guru yang menentukan isi kurikulum bergantung selera,
       atau minat dan kemampuan guru sendiri, sehingga kurikulum terus menerus ditambah,
       dilengkapi, yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam kurikulum.


       Guru perlu memiliki sikap inovatif agar kurikulum senantiasa selaras dengan kebutuhan
       masyarakat, tetapi kurikulum lama dalam garis besarnya tak perlu segera ditinggalkan.
       Beberapa usaha pembaruan baik dilakukan dengan pertimbangan kurikulum yang sudah
       ada. Jadi peningkatan kemampuan yang profesional dari guru, agar mampu mengikuti
       perubahan dan belajar terus, kiranya merupakan kaharusan profesional, yang perlu
       dipersiapkan sejak awal dalam proses pendidikan guru.

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                             pdfcrowd.com
       D. Pengembangan Komponen Tujuan Kurikulum

       Tujuan kurikulum merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh suatu kurikulum. Karena
       itu tujuan dirumuskan sedemikian rupa dengan mempertimbangkan berbagai faktor,
       seperti:

       1. Tujuan pendidikan nasional, karena tujuan.ini menjadi landasan bagi setiap lembaga
          pendidikan.
       2. Kesesuaian antara tujuan kurikulum dan tujuan lembaga pendidikan yang
          bersangkutan.
       3. Kesesuaian tujuan kurikulum dengan kebutuhan masyarakat atau lapangan kerja,
          untuk mana tenaga-tenaga akan dipersiapkan.
       4. Kesesuaian tujuan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
       5. Kesesuaian tujuan kurikulum dengan sistem nilai dan aspirasi yang berlaku dalam
          masyarakat.


       Hal ini menjadi penting, jika kita ingat bahwa tujuan kurikulum pada gilirannya akan
       dijabarkan menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Sebagai pedoman dalam
       merumuskan tujuan kurikulum mungkin ada baiknya kita menggunakan pandangan Bloom
       dkk. yang terkenal dengan “Taxonomy of Educational Objectives”. Domain-domain
       (wilayah) yang dikembangkan Bloom tersebut dapat kita jadikan sebagai alat untuk
       mengkategorikan tujuan kurikulum. Kategori tersebut adalah sebagai berikut: (1) The
       Cognitif Domain2 (2) The Affective Domain dan (3) The Psycomotor Domain

       E. Pengembangan Komponen Belajar

       Pandangan tentang belajar akan mendasari kurikulum yang akan dilaksanakan. Kurikulum
       pada hakikatnya merupakan suatu program belajar yang dengan sengaja dan berencana
open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                 pdfcrowd.com
       untuk mencapai tujuan tertentu.


       Dalam hubungan itu ada beberapa prinsip belajar yang dapat kita jadikan pegangan, yakni:

          Belajar senantiasa bertujuan.
          Belajar berdasarkan kebutuhan dan motivasi siswa.
          Belajar berarti mengorganisasi pengalaman
          Belajar memerlukan pemahaman.
          Belajar bersifat keseluruhan (utuh atau umum), di samping khusus.
          Belajar memerlukan ulangan dan latihan.
          Belajar memperhatikan perbedaan individual.
          Belajar harus bersifat kontinu (ajeg).
          Dalam proses belajar senantiasa terdapat hambatan-hambatan.
          Hasil belajar adalah dalam bentuk perubahan perilaku siswa secara menyeluruh.


       Prinsip-prinsip belajar tersebut umumnya telah menjadi kesimpulan semua ahli psikologi
       belajar. Karena itu prinsip-prinsip ini perlu dipertimbangkan dalam perencanan
       kurikulum.

       F. Pengembangan Komponen Siswa (Subjek Didik)

       Proses perencanaan kurikulum senantiasa mempertimbangkan sikap yang akan menerima
       kurikulum itu. Berhasil tidaknya suatu kurikulum banyak tergantung pada kesesuaian isi
       kurikulum dan pihak yang menyerapnya. Pengakuan pendidik terhadap anak sebagai
       individu yang sedang berkembang, yang memiliki potensi untuk berkembang, yang
       berbeda satu sama lainnya secara individual, yang mampu bereaksi dan berinteraksi, yang
       mampu menerima, yang kreatif, dan berusaha menemukan sendiri, semuanya menjadi
       bahan pertimbangan dalam menyusun kurikulum.

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                    pdfcrowd.com
       Pandangan tentang siswa juga sangat berpengaruh terhadap penentuan strategi
       instruksional di kelas. Bahkan patut pula diperhatikan, bahwa antara siswa satu sama
       lainnya dalam kelompok/kelas yang sama sudah tentu berbeda-beda, baik secara
       horisontal maupun secara vertikal. Kenyataan ini membawa implikasi yang jauh terhadap
       pembinaan dan pengembangan kurikulum dan strategi belajar-mengajar.

       G. Pengembangan Komponen Kemasyarakatan

       Kurikulum harus mempertimbangkan masyarakat dalam semua aspek, sesuai dengan
       sistem kepercayaan, sistem nilai, sistem kebutuhan yang terpadu dalam masyarakat.
       Kurikulum harus sejalan dengan tuntutan dalam pembangunan. Kurikulum harus
       memberikan andilnya dalam membentuk tenaga pembangunan yang kreatif, kritis dan
       inovatif, yang terampil dan produktif.

       Untuk mengetahui keinginan, kebutuhan, tuntutan, masalah, aspirasi masyarakat,
       sebaiknya dilakukan survei dokumenter dan lapangan. Kita dapat memperoleh gambaran
       tentang aspirasi masyarakat yang sedang berkembang dewasa ini dan lingkungan tertentu
       seperti: keluarga, masyarakat desa, masyarakat kota, kelompok-kelompok sosial tertentu,
       dan jika perlu dapat pula diperoleh dari kelompok masyarakat yang tergolong sektor
       “informal” (tuna karya, tuna wisma, tuna susila, dan sebagainya).

       H. Pengembangan Komponen Organisasi Materi Kurikulum


       Materi/isi kurikulum yang disusun adalah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan,
       bahwa kurikulum yang direncanakan itu seharusnya mengikuti pola organisasi tertentu
       dengan kriteria kurikulum yang dapat dijadikan pedoman, yakni:

          Kriteria dalam hubungan dengan tujuan pendidikan.
open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                   pdfcrowd.com
          Kriteria sehubungan dengan sifat siswa.
          Kriteria yang bertalian dengan proses pendidikan.


       Bentuk organisasi kurikulum yang akan dipergunakan juga hendaknya memperhatikan
       beberapa faktor, yakni: urutan bahan pelajaran, ruang lingkup dan penempatan bahan
       pelajaran. Kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran, urutan bahan, ruang lingkup dan
       penempatannya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran tersebut.

       Kurikulum yang berkorelasi umumnya tersusun dalam bentuk bidang studi {broadfield)
       urutan pokok bahasan didukung oleh sejumlah bahan dari mata pelajaran yang tercakup
       dalam bidang studi tersebut.

       Kurikulum terintegrasi pada unit-unit pengajaran, yang masing-masing unit didukung oleh
       sejumlah mata pelajaran atau bidang studi. Tiap unit merupakan suatu masalah yang luas
       dan perlu dipecahkan, dan pemecahannya membutuhkan bahan dari setiap bidang studi.
       Itu sebabnya, urutan bahan, ruang lingkup dan penempatan bahan untuk setiap unit harus
       dirancang berdasarkan kebutuhan unit dan sistem instruksional yang dilaksanakan.
       Dengan demikian, masing-masing bentuk kurikulum tersebut harus memperhatikan
       karakteristik materi yang terkandung pada unsur-unsur pendukungnya.

       III. KURIKULUM BERBASIS BEHAVIORISTIK

       A. Dasar Psikologis Kurikulum


       Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena kondisi psikologisnya yang membuat
       manusia maju. Menurut Saodih (2008:45), kondisi psikologis merupakan karakteristik
       psiko-fisik seseorang sebagai individu yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku
       dalam interaksi dengan lingkungannya. Prilaku kognetif, afektif, psikomotorik merupakan

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                   pdfcrowd.com
       manifestasi karakteristik kehidupan manusia.

       Kondisi psikologis setiap individu berbeda karena perbedaan perkembangan, latarbelakang
       social budaya dan faktor-faktor yang mempengaruhinya tergantung kepada konteks,
       peranan dan statusnya. Kondisi psikologis interaksi pendidikan, antara pendidik dengan
       terdidik harus sesuai, meskipun antara jenjang dan lingkungan pendidikan berbeda.


       Tugas utama pendidik adalah membantu seluruh aspek perkembangan peserta didik.
       Melalui pendidikan, perkembangan peserta didik lebih tinggi dan lebih luas. Melalui usaha
       belajar, baik melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman dan
       penerapan serta pemecahan masalah. Psikologi pengjaran memberi arah tentang tatacara
       dan proses pendidikan yang memberikan hasil optimal.

       Psikologi perkembangan dan psikologi pembelajaran merupakan dua cabang psikologi
       pendidikan yang penting. Psikologi perkembangan menggambarkan pengetahuan individu
       diperoleh melalui studi yang bersifat longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik
       atau kasus. Longitudinal menekankan pada studi melalui pengamatan dan pengkajian,
       Cross sectional melihat ciri-ciri fisik dan mental, pola-pola perkembangan dan kemampuan
       serta prilaku. Studi analitik menekankan pada gangguan studi pada masa sebelumnya akan
       berpengaruh pada studi selanjutnya. Studi sosiologik menekankan pada tugas-tugas yang
       harus dihadapi di masyarakat sedangkan studi kasus hanya menekankan studi
       perkembangan anak dari kasus kasus tertentu.


       Psikologi belajar, menekankan pada bagaimana individu belajar. Belajar merupakan
       perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman karena berinteraksi dengan
       lingkungan dan sebagai reaksi atas situasi yang dihadapinya.

       Menurut Gagne perubahan tersebut berkenaan dengan disposisi atau kapabilitas individu,

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                          pdfcrowd.com
       “learning is a change in human disposition or capability, which can be retained, and which is
       not simply ascribable to the process of growth”. Hilgard dan Bower menembahkan bahwa
       perubahan itu karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, sebagai reaksi terhadap
       situasi yang dihadapinya. Menurut mereka belajar adalah:

       “The process by which an activity originates or is changed throught reacting to an
       encountered situation, provided that the characteristics of the change in activity cannot
       be explaned on the basis of native respone tendencies, maturation, or temporary states
       of the organism.”

       B. Rumpun Teori Psikologi Belajar

       Menurut Morris L. Bigge dan Maurice P. Hunt ada tiga keluarga atau rumpun teori belajar,
       yaitu teori disiplin mental, behaviorisme, dan Cognitive Gestalt Field.

       Pertama, Teori Disiplin Mental. Menurut rumpun teori disiplin mental, dari kelahirannya
       atau secara herediter, anak telah memiliki potensi-potensi tersebut. Belajar merupakan
       upaya untuk mengembangkan potensi-potensi tertentu. Ada beberapa teori yang
       termasuk rumpun disiplin mental yaitu: disiplin mental theistic, humanistic, naturalisme,
       dan apersepsi.

       1. Teori disiplin mental theistic berasal dari psikologi Daya. Menurut teori ini individu
          atau anak mempunyai sejumlah daya mental seperti daya untuk mengamati,
          menganggap, mengingat, berpikir, memecahkan masalah, dan sebagainya.belajar
          merupakan proses melatih daya-daya tersebut. Kalau daya-daya tersebut terlatih
          maka dengan mudah dapat digunakan untuk menghadapi atau memecahkan berbagai
          masalah.
       2. Teori disiplin mental humanistic bersumber pada psikologi humanisme klasik dari Plato

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                         pdfcrowd.com
          dan Aristoteles. Teori ini hampir sama dengan teori pertama bahwa anak memiliki
          potensi-potensi. Potensi-potensi perlu dilatih agar berkembang. Perbedaannya dengan
          teori disiplin mental theistic, teori tersebut menekankan bagian –bagian, latihan bagian,
          atau aspek tertentu. Teori disiplin mental humanistic lebih menekankan keseluruhan,
          keutuhan. Pendidikannya menekankan pendidikan umum (general education). Kalau
          seseorang menguasai hal-hal yang bersifat umum akan mudah ditransfer atau
          diaplikasikan kepada hal-hal lain yang bersifat khusus.
       3. Teori naturalisme atau natural unfoldment atau self actualization. Teori ini berpangkal
          dari psikologi naturalisme romamtik, dengan tokoh utamanya Jean Jacques rousseau.
          Sama dengan kedua teori sebelumnya bahwa anak mempunyai sejumlah potensi atau
          kemampuan. Kelebihan dari teori ini, berasumsi bahwa individu bukan saja mempunyai
          potensi atau kemampuan untuk berbuat atau melakukan berbagai tugas, tetapi juga
          memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dan berkembang sendiri. Agar anak
          dapat berkembang dan mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya pendidik
          atau guru perlu menciptakan situasi yang permisif yang jelas. Melalui situasi demikian,
          ia dapat belajar sendiri dan mencapai perkembangan secara optimal.
       4. Teori belajar yang keempat adalah teori apersepsi, disebut juga herbartisme,
          bersumber kepada psikologi structuralisme dengan tokoh utamanya Herbart. Menurut
          aliran ini, belajar adalah membentuk masa apersepsi. Anak mempunyai kemampuan
          untuk mempelajari sesuatu. Hasil dari suatu perbuatan belajar disimpan dan
          membentuk suatu masa apersepsi, dan masa apersepsi ini digunakan untuk
          mempelajari atau menguasai pengetahuan selanjutnya, semakin tinggi perkembangan
          anak, semakin tinggi pula masa apersepsinya.

       Kedua, rumpun atau kelompok teori belajar Behaviorisme yang biasa juga disebut S-R
       stimulus–respons. Kelompok ini mencakup tiga teori yaitu S-R Bond, Conditioning, dan
       Reinforcement, sebagaimana akan dijelaskan di bawah.


open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                        pdfcrowd.com
       Ketiga, Cognitive Gestalt Field, terdiri dari:

       1. Teori belajar pertama dari rumpun ini adalah teori insight. Aliran ini bersumber dari
          psikology Gestalt Field menurut mereka belajar adalah proses mengembangkan insight
          atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila
          individu menemukan cara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada dalam
          lingkungan, termasuk struktur tubuhnya sendiri. Gestalt Field melihat bahwa belajar
          itu merupakan perbuatan yang bertujuan explorative, imajinative dan creative.
          Pemahaman atau insight merupakan citra dari atau perasaan tentang pola-pola atau
          hubungan. To state it differently, insight is the sensed way through or solution of a
          problematic situation…we might say that an insight is a kind of intelligent feel we get
          about a situation that permits us continue to strive actively to serve our purpose.
       2. Teori belajar Goal Insight berkembang dari psikologi configurationism. Menurut
          mereka, individu selalu berinteraksi dengan lingkungan. Perbuatan individu selalu
          bertujuan, diarahkan kepada pembentukan hubungan dengan lingkungan. Belajar
          merupakan usaha untuk mengembangkan pemahaman tingkat tinggi. Pemahaman
          yang bermutu tinggi (tingkat tinggi) adalah pemahaman yang telah teruji, yang berisi
          kecakapan menggunakan suatu objek, fakta, proses, ataupun ide dalam berbagai
          situasi, pemahaman tingkat tinggi memungkinkan seseorang bertindak inteligen,
          berwawasan luas, mampu memecahkan berbagai masalah.
       3. Teori belajar cognitive field bersumber pada psikologi lapangan (field psikology),
          dengan tokoh utamanya Kurt Lewin. Individu selalu beradadalam suatu lapangan
          psikologis yang oleh Lewin disebut life space. Dalam lapangan ini selalu ada tujuan yang
          ingin dicapai, ada motif yang mendorong pencapaian tujuan dan ada hambatan-
          hambatan yang harus diatasi. Perbuatan individu selalu terarah kepada pencapaian
          sesuatu tujuan, oleh karena itu sering dikatakan perbuatan individu adalah purposive.
          Apabila ia telah berhasil mencapai sesuatu tujuan maka timbul tujuan lain yang ingin
          dicapai dan berada dalam life space baru. Setiap orang berusaha mencapai tingkat

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                       pdfcrowd.com
          perkembangan dan pemahaman yang terbaik, di dalam lapangan psikologisnya masing-
          masing. Lapangan psikologis terbentuk oleh interelasi yang simultan dari orang-orang
          dan lingkungan psikologisnya di dalam suatu situasi. Tingkah laku seseorang pada suatu
          saat merupakan fungsi dari semua faktor yang ada yang saling bergantung pada yang
          lain.


       Istilah cognitive berasal dari bahasa latin “cognoscre” yang berarti ‘mengetahui (to know)’.
       Aspek ini dalam teori belajar cognitive field berkenaan dengan bagaimana individu
       memahami dirinya dan lingkungannya, bagaimana ia menggunakan pengetahuan
       pengetahuan dan pengenalannya serat berbuat terhadap lingkungannya. Bagi penganut
       cognitive field, belajar merupakan suatu proses interaksi, dalam proses interaksi tersebut
       ia mendapatkan pemahaman baru atau menemukan struktur kognitif lama. Dalam
       membimbing proses belajar, guru harus mengerti akan dirinya dan orang lain serta
       lingkungannya merupakan suatu kesatuan.

       C. Falsafah Behavioristik


       Falsafah behavioristik yang biasa juga disebut S-R stimulus–respons mencakup tiga teori
       yaitu S-R Bond, Conditioning, dan Reinforcement. Kelompok teori ini berasumsi bahwa
       anak atau individu tidak memiliki/membawa potensi apa-apa dari kelahirannya.
       Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan, apakah
       lingungan keluarga, sekolah atau masyarakat; lingkungan manusia, alam, budaya, religi
       yang membentuknya. Kelompok teori ini tidak mengakui sesuatu yang bersifat mental.
       Perkembangan anak menyangkut hal-hal nyata yang dapat dilihat, diamati.


       1. Teori S-R Bond (Stimulus-Response) bersumber dari psikologi koneksionisme atau
          teori asosiasi dan merupakan teori pertama dari rumpun behaviorisme. Menurut
          konsep mereka, kehidupan ini tunduk kepada hukum stimulus-response atau aksi-

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                        pdfcrowd.com
          reaksi. Setangkai bunga dapat merupakan suatu stimulus dan direspons oleh mata
          dengan cara meliriknya. Kesan indah yang diterima individu dapat merupakan stimulus
          yang mengakibatkan respons memetik bunga tersebut. Demikian halnya dengan
          belajar, terdiri atas rentetan hubungan stimulus respons. Belajar adalah upaya untuk
          membentuk hubungan stimulus respons sebanyak-banyaknya. Tokoh utama teori ini
          adalah Edward L.Thorndike ada tiga hukum belajar yang sangat terkenal dari
          Thorndike, yaitu law of readness, law of exercise or repetition dan law of effect (Bigge
          dan Thurst, 1980: 273). Menurut hukum kesiapan, hubungan dengan stimulus dan
          respon akan terbentuk atau mudah terbentuk apabila telah ada kesiapan pada system
          syaraf individu. Selanjutnya, hukum latihan atau pengulangan, hubungan dengan
          stimulus dan respon akan terbentuk apabila sering dilatih atau diulang-ulang. Menurut
          hukum akibat (law of effect), hubungan stimulus dan respon akan terjadi apabila ada
          akibat yang menyenangkan.
       2. Teori kedua dari rumpun behaviorisme adalah conditioning atau stimulus response
          with conditioning. tokoh utama teori ini Watson, terkenal dengan percobaan
          conditioning pada anjing.belajar atau pembentukan hubungan dengan stimulus dan
          respons perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Sebelum anak-anak masuk kelas
          dibunyikan bel, demikian terjadi setiap hari dan setiap saat pertukaran jam pelajaran.
          Bunyi bel menjadi kondisi bagi anak sebagai tanda memulai pelajaran di sekolah.
          Demikian juga dengan waktu makan pagi, siang, dan makan malam dikondisikan oleh
          bunyi jam atau jarum jam.
       3. Teori ketiga adalah reinforcement dengan tokoh utamanya C.L. Hull. Teori ini
          berkembang dari teori psikologi, reinforcement, merupakan perkembangan lebih lanjut
          dari teori S-R Bond dan conditoning. Kalau pada teori conditioning kondisi diberikan
          pada stimulus maka pada reinforcement kondisi diberikan pada respon karena anak
          belajar sungguh-sungguh (stimulus) selain ia menguasai apa yang dipelajarinya
          (respon) maka guru memberi angka tinggi, pujian, mungkin juga hadiah. Angka tinggi,
          pujian, dan hadiah merupakan reinforcement , supaya pada kegiatan belajarnya akan

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                       pdfcrowd.com
          lebih giat dan sungguh-sungguh.

       Di dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali contoh reinforcement kita temukan seperti
       pemberian pujian, hadiah, bonus, insentif, piala, mendali, piagam penghargaan, kalpataru,
       adipura, lencana sampai dengan parasamya, dan bintang mahaputra. Disamping
       reinforcement positif seperti itu dikenal pula reinforcement negatif untuk mencegah atau
       menghilangkan suatu perbuatan yang kurang baik atau tidak disetujui masyarakat. Contoh
       reinforcement negatif adalah: peringatan, ancaman, teguran, sanksi, hukuman,
       pemotongan gaji, penundaan kenaikan pangkat, dsb.

       Latar belajar teori behavioristis bersumber pada pandangan John Locke mengenai jiwa
       anak yang baru lahir, ialah jiwanya dalam keadaan kosong. Seperti meja lilin bersih,
       disebut tabularasa. Dengan demikian pengaruh dari luar sangat menentukan
       perkembangan jiwa anak, dan pengaruh luar itu dapat dimanipulasi (direatmen secara
       leluasa). Dari pandangan manusia menurut John locke tersebut, pendekatan belajar
       menjadi behavioristic elementaristic, atau pendekatan belajar behavioristic emperistic. Di
       samping itu ada pandangan manusia lain, ialah fenomena, jadi fenomologis, sehingga
       pendekatan belajar bercorak kognitif-totalistis, dasar psikologisnya adalah psikologi
       Gestalt.

       Pendekatan behavioristic-elementaristic menganggap jiwa manusia itu pasif, yang dikuasai
       oleh stimulus-stimulus atau perangsang-perangsang dari luar yang ada di lingkungan
       sekitar. Oleh karena itu tingkah laku manusia dapat dimanipulasi, dapat dikontrol atau
       dikendalikan. Cara mengendalikan tingkah laku manusia mengontrol perangsang-
       perangsang yang ada dalam lingkungannya. Tingkah laku manusia mempunyai hukum-
       hukum seperti yang berlaku dalam hukum-hukum pada gelaja alam, umpanya hukum
       sebab akibat. Metode-metode kealaman dapat dipakai dalam tingkah laku manusia dengan
       sifat hubungan mekanistis.

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                      pdfcrowd.com
       Dari pendekatan behavioristik tersebut di atas diajukan rumus matematis = FL`tingkah
       laku itu adalah TLk, yakni bahwa tingkah laku itu merupakan fungsi lingkungan. Jika
       lingkungan berubah tingkah lakunya akan berubah juga. Jika kita menginginkan tingkah
       laku tertentu, kita ubah lingkungan sedemikian rupa sehingga dapat membentuk tingkah
       laku yang diinginkan. Jika tingkah laku kita beri symbol R dan lingkungan S, maka R = fS
       dimana R = respon; S =stimulus.

       Ciri-ciri Teori Belajar Behavioristik


       Untuk mempermudah mengenal teori belajar behavioristik dapat dipergunakan ciri-
       cirinya yakni

       1. mementingkan pengaruh lingkungan (environmentalistis)
       2. mementingkan bagian-bagian (elentaristis)
       3. mementingkan peranan reaksi (respon)
       4. mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar
       5. mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu
       6. mementingkan pembentukan kebiasaan.
       7. ciri khusus dalam pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal’ atau trial and error.

       Teori hubungan S-R tanpa persyaratan (without reinforcemen) termasuk dalam teori
       belajar behavioristis. Tokoh Watson dan Guthrie dipandang sebagai pengajar teori belajar
       hubungan S-R tanpa persyaratan, yang disebut juga teori kontiguitas. Dalam teori ini tidak
       memperhitungkan pengaruh variable yang menyenangkan. Menurut teori kontiguitas,
       faktor terbentuknya hubungan S-R cukup keadaan kontinue saja. Bilamana suatu S
       kontinue (dibuat ada bersama) dengan tingkah laku tertentu R. akan terbentuklah
       hubungan dalam urat syaraf. Teori belajar kontiguitas dapat dikatakan paling sederhana,
       sebab tidak memperhatikan efek dalam belajar.
open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                      pdfcrowd.com
       J. B. Watson (1878-1958) mengadakan perubahan besar dalam teori dan praktek psikologi
       menurut pandangannya. Dengan pengalaman eksperimen….dalam maze (kotak
       eksperimen) dia menolak metode instrospeksi sebab tidak dapat dibuktikan. Watson
       mengadakan percobaan-percobaan belajar dengan hewan dan manusia. Sarjana ini
       percaya, bahwa tingkah laku dapat dapat diterangkan dengan terminology hubungan S-R
       dalam syaraf otak dalam karyanya: Psiokology as the Behavioristist Views lt. (1913).

       Belajar menurut Watson adalah jika S dan R ada bersamaan dan kontigu, maka
       hubungannya akan diperkuat. Kekuatan hubungan S-R tergantung kepada frekuensi
       ulangan adanya S-R. Watson mementingkan hukum ulangan atau hukum latihan dalam
       belajar. Watson tidak menganggap penting Hukum efek Thorndike. Watson menolak
       hukum efek dari Thornike, sebab dianggap dasarnya mentalistik dan berdasar prinsip
       kenikmatan.

       Hukum kedua yang dipententangkan oleh Watson adalah The Law of Recency (hukum
       kebaruan). Artinya respon yang baru akan diperkuat dengan ulangan hadirnya dari pada
       respon yang lebih awal. Dasar kegiatan belajar adalah dengan conditioning. Belajar adalah
       memindahkan respon lama terhadap stimuli baru.

       Sumbangan Watson dalam perkembangan psikologi pendidikan antara lain, ialah:

       1. Mempunyai pengaruh besar dalam psikologi di USA.
       2. Mempopulerkan ajaran behaviorisme.
       3. Adanya tingkah laku, mesti ada hubungan syaraf di otak.
       4. Untuk menjelaskan belajar perlu mengerti fungsi otak.
       5. Menggerakkan studi dan tingkahlaku secara obyektif.
       6. Mempertimbangkan faktor lingkungan .

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                     pdfcrowd.com
       7. Belajar adalah proses membentuk hubungan S-R.
       8. Banyak mendorong penelitian-penelitian eksperimen dengan conditoning di USA.


       Tokoh kedua adalah E.R Guthrie (186-1959) yang mengembangkan teori belajar
       kontiguitas S-R di Universitas Washington. Menurut Guthrie, bahwa prinsip kontiguitas
       adalah kombinasi stimuli yang telah menghasilkan respon diteruskan sehingga stimulus
       yang dikontigukan tetap menghasilkan respon tadi. Guthrie menolak hukum ulangan yang
       dianut Watson.

       Di dalam teori belajarnya, Guthrie berpendapat, bahwa organisme otot-otot dan
       pengeluaran getah kelenjar-kelenjar. Respon semacam itu disebut gerakan-gerakan.
       Guthrie mengatakan, suatu tindakan terdiri atas serentetan gerakan-gerakan yang
       diasosiasikan bersama dengan hukum kontiguitas. Guthrie menolak teori Thorndike yang
       mengatakan bahwa dasar respon adalah tindakan-tindakan dan bukan gerakan-gerakan.

       Dalam proses-belajar, yang diasosiasikan adalah suatu stimulus dengan respon R, tepatnya
       adalah stimulus yang mengenai organ tubuh dan syarafnya (sebagai sensasi) dan kemudian
       menimbulkan respon tersebut. Eksperimen yang diadakan oleh Guthrie di Horton (1946)
       dengan kucing dalam sangkar.

       Guthrie mengajukan prinsip-prinsip belajar, yakni :


       1. yang terpenting adalah prinsip persyaratan (conditioning).
       2. prinsip pengendalian persyaratan yakni respon akan dikendalikan jika respon lain
          timbul dengan adanya S-R asli.
       3. adanya persyaratan yang ditunda.
       4. Pengembangan (perbaikan) performance atau tindakan merupakan hasil praktek.
          Proses conditioning akan terjadi setelah percobaan pertama. Penguatan hubungan S-R

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                    pdfcrowd.com
          adalah hasil dari ulangan (praktek) dan bukan karena peningkatan Stimulus.


       Memang teori belajar Guthrie dipandang lebih sederhana sebab ditekankan kepada adanya
       stimulus dan respon yang nampak dan belum atau tidak memperhitungkan kegagalan dan
       hadiah (reinforcement). Dengan begitu terori tersebut tidak mendorong untuk
       mengadakan penelitian-penelitian menurut model Guthrie. Selain itu Guthrie tidak
       mengembangkan motivasi belajar, sebab stimulus sendiri sudah berarti motif.

       Menurut teori kontiguitas, bahwa lupa dapat terjadi karena kegiatan hubungan S-R
       dipakai hal lainnya. Jadi lupa timbul karena ada interferensi atau gangguan pembentukan
       hubungan S-R dalam syaraf. Guthrie juga menganjurkan terjadinya transfer pengetahuan
       dari satu hal ke hal lain dengan latihan pada bidang khusus atau praktek pada bidang yang
       lebih luas.

       IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

       A. Kesimpulan


       1. Kurikulum merupakan centre of exellent dalam suatu system pendidikan yang
          berperan sebagai konservasi, internalisasi, dan kristalisasi ilmu pengetahuan, teknologi,
          dan budaya masyarakat.
       2. Kurikulum menuntut perumusan sistematik yang dapat dijangkau dengan prinsip-
          prinsip pengembangan melalui prosedur yang ditentukan berdasarkan disiplin ilmu
          yang terkait denganya.
       3. Kurikulum akan ajeg dan sempurna apabila memiliki dasar-dasar filosofis dan dasar-
          dasar psikologis yang kuat.
       4. Behavorisme sebagai salah satu bentuk landasan filosofis dan psikologis kurikulum atau
          pendidikan memiliki prinsip-prinsip yang relatif sederhana bermula dari pemikiran

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                        pdfcrowd.com
          bahwa manusia sejak dilahirkannya seperti tabularasa. Sedangkan kemampuan
          akademik akan diapresiasi oleh anak didik sesuai dengan prinsip stimulus dan respon,
          yang memiliki perbedaan dengan dasar filsafat dan psikologi pembelajaran dari aliran
          pemikiran lainnya.

       B. Implikasi


       Kurikulum berbasis filsafat behaviorisme tidak sepenuhnya dapat diimplementasikan
       dalam sistem pendidikan nasional, terlebih lagi pada jenjang pendidikan usia dewasa.
       Tetapi behaviorisme dapat diterapkan untuk metode pembelajaran bagi anak yang belum
       dewasa. Karena hasil eksperimentasi bihavioristik cenderung mengesampingkan aspek-
       aspek potensial dan kemampuan manusia yang dilahirkan. Bahkan bihaviorisme cenderung
       menerapkan sistem pendidikan yang berpusat pada manusia baik sebagai subjek maupun
       objek pendidikan yang netral etik dan melupakan dimensi-dimensi spiritualitas sebagai
       fitrah manusia. Oleh karena itu behaviorisme cenderung antropomorfis skularistik.

       DAFTAR PUSTAKA


       Abraham Maslow, 2004, Psikologi Sains. Teraju. Jakarta.


       Abudin Nata, 2008, Manajemen Pendidikan-Mengatasi Pendidikan Islam di Indonesia.
       Media Grafika. Jakarta.


       _____________, 2005, Filsafat Pendidikan Islam. Gaya Media Pratama. Jakarta.


       Assegaf Abdurrachman & Suyadi, 2008, Pendidikan Islam Madzhab Kritis-Perbandingan
       Teori Pendidikan Timur dan Barat. Gama Media. Yogyakarta.


open in browser PRO version    Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                  pdfcrowd.com
       Beane, James A., et. all, 1986, Curriculum Planning and Development. Boston. Allyn and
       Bacon, Inc.


       Fudyartanto, Ki RBS., 2002, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Global
       Pustaka Utama. Jogjakarta.


       Oemar Hamalik, 2008, Manajemen Pengembangan Kurikulum. PT. Remaja Rosdakarya.
       Bandung.

       _____________,         2008,      Dasar-dasar         Pengembangan        Kurikulum.   PT. Remaja
       Rosdakarya. Bandung.


       Purwanto, M. Ngalim, 2007, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. PT. Remaja
       Rosdakarya. Bandung.

       Schubert, William H., 1986, Curriculum: Perspective, Paradigm and Possibility. New York:
       McMillan Publishing Co.


       Sukmadinata, Nana Saodih, 2008, Pengembangan Kurikulum-Teori dan Praktek. PT.
       Remaja Rosdakarya. Bandung.

       Syaiful Sagala, 2007, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Alfabeta.
       Bandung.


       Tim Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 2009, Manajemen Pendidikan.
       Alfabeta. Bandung.


       Uyoh Sadulloh, 2007, Pengantar Filsafat Pendidikan. Alfabeta. Bandung.

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                             pdfcrowd.com
       M. Ihsan Dacholfany dan Ayi Sofyan. 2009 KURIKULUM BERDASARKAN
       FILSAFAT BEHAVIORISME. Tugas Makalah Bidang Studi Manajemen Kurikulum
       Program S3 PPS Universitas Islam Nusantara Dari Dosen: Prof. Dr. Harry Soedrajat


       Bagikan dan beri           Facebook 9          LinkedIn       Twitter      Tumblr    Digg       Google +1
       umpan balik!

       Like this:             ★Suka     Be the first to like this.




                               T entang AKHMAD SUDRAJAT
                               ==Ω== seorang praktisi pendidikan di Kabupaten Kuningan ==Ω==
                               Lihat semua tulisan dari AKHMAD SUDRAJAT →




       Catatan ini telah ditulis dalam Pendidikan Indonesia dan di-tag dengan Artikel, Filsafat Pendidikan, Kurikulum dan
       Pembelajaran, Pendidikan, Penelitian dan Sains, Teori Pendidikan. Penunjuk permalink.


       ← Tentang Islamisasi Sains                                                                              Harga Diri →



       16 Respon untuk Kurikulum Berdasarkan Filsafat Behaviorisme

                    suhermansantana berkata:
                    10 Juni 2012 pada 06:14


                    pak mengenai prinsip-prinsip pengembangan kurikulum..bpak bisa berikan ayat-
                    ayat apa saja yang ada dalam prinsip2 pengembangan kurikulum pendidikan
                    islam..


open in browser PRO version          Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                                         pdfcrowd.com
               Robbi berkata:
               13 Maret 2012 pada 11:51


               Pak,, saya mw tanya tentang pengertian/arti dari Tendensi Perkembangan
               Kurikulum.



               ulfiarahmi berkata:
               27 November 2011 pada 10:03


               landasan historis keyaknya juga diperlukan dalam pengembangan kurikulum



               nitta berkata:
               24 April 2011 pada 23:01


               .pak maav, saya ingin bertanya perihal poin ciri ciri behaviorostik , pada no. 2
               disebutkan ‘mementingkan bagian bagian (elementaristis)’
               .tolong untuk dijelaskan bagaimana maksudnya..
               .terimakasih



               wenny berkata:
               19 Januari 2011 pada 12:31


               bagaimana Behavioristik itu pak?….



open in browser PRO version     Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                  pdfcrowd.com
               jinx berkata:
               23 November 2010 pada 17:01


               cerdas!



               samy berkata:
               22 Januari 2010 pada 14:58


               apa yang dimaksud dengan pembaharuan kurikulum pak………?



               sri berkata:
               15 Januari 2010 pada 17:05


               pak, apa yang mempengaruhi kurikulum harus berubah???



               annas berkata:
               13 Desember 2009 pada 15:18


               bgmn kalau pmbuatan mklah dgn jdul pemikiran filsafat behaviorisme dan
               humanisme?



               Yayah Humayah berkata:
               4 November 2009 pada 20:09


open in browser PRO version    Are you a developer? Try out the HTML to PDF API         pdfcrowd.com
               maf pa,saya cari penjelasan tentang pendekatan studi kurikulum yang ada 4 itu loh
               yang pendekatan mapel,interdisipliner,integratif dan pendekatan sistem.tapi ndak
               ada….



               Johan Wahyudi berkata:
               15 Agustus 2009 pada 15:42


               Pa tolong minta diuraikan fungsi kurikulum disertai contohnya. Terimakasih.



               heri berkata:
               6 Juni 2009 pada 13:12


               hmm.. pendidikan pada dasarnya ditentukan oleh standar kurikulum, jika bagus so
               output pend. itu sendiri makin baik..
               but reality, in fact, masyarakat muslim hr ini banyak yg belum tergerak utk
               bangkit dr aspek pendidikan… buktinya msh klh dg ilmuwan2 barat…
               it’s muslim’s mission to solve this problems…
               eniwei, makalahnya blh juga…
               ^_^



               M Ihsan Dacholfany berkata:
               25 Mei 2009 pada 11:13


               Filsafat Pendidikan Islam
               M Ihsan Dacholfany

open in browser PRO version     Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                   pdfcrowd.com
               (Mhs ISID 1997 – Staf Pengajar PP Gontor –
               Perpustakaan Darussalam)


               A. Pendahuluan

               Setiap orang memiliki filsafat walaupun ia mungkin tidak sadar akan hal tersebut.
               Kita semua mempunyai ide-ide tentang benda-benda, tentang sejarah, arti
               kehidupan, mati, Tuhan, benar atau salah, keindahan atau kejelekan dan
               sebagainya. 1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap
               kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi tersebut
               menunjukkan arti sebagai informal. 2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau
               pemikiran terhadap kepercayaan yang sikap yang sangat kita junjung tinggi. Ini
               adalah arti yang formal. 3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran
               keseluruhan. 4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa serta penjelasan
               tentang arti kata dan konsep. 5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema
               yang langsumg yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan
               jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Dari beberapa definisi tadi bahwasanya semua
               jawaban yang ada difilsafat tadi hanyalah buah pemikiran dari ahli filsafat saja
               secara rasio. Banyak orang termenung pada suatu waktu. Kadang-kadang karena
               ada kejadian yang membingungkan dan kadang-kadang hanya karena ingin tahu,
               dan berfikir sungguh-sungguh tentang soal-soal yang pokok. Apakah kehidupan
               itu, dan mengapa aku berada disini? Mengapa ada sesuatu? Apakah kedudukan
               kehidupan dalam alam yang besar ini ? Apakah alam itu bersahabat atau
               bermusuhan ? apakah yang terjadi itu telah terjadi secara kebetulan ? atau karena
               mekanisme, atau karena ada rencana, ataukah ada maksud dan fikiran didalam
               benda . Semua soal tadi adalah falsafi, usaha untuk mendapatkan jawaban atau
               pemecahan terhadapnya telah menimbulkan teori-teori dan sistem pemikiran
               seperti idealisme, realisme, pragmatisme. Oleh karena itu filsafat dimulai oleh rasa

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                        pdfcrowd.com
               heran, bertanya dan memikir tentang asumsi-asumsi kita yang fundamental
               (mendasar), maka kita perlukan untuk meneliti bagaimana filsafat itu
               menjawabnya. B. Pengertian Filsafat pendidikan Islam Secara harfiah, kata filsafat
               berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau
               hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah.
               Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah
               hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha
               mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif
               terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti
               mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha
               menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain
               yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari
               bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang
               berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada
               kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher
               yang dalam bahasa Arab disebut failasuf. Sementara itu, A. Hanafi, M.A.
               mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan
               sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang
               pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas
               dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah
               cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah
               suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan
               sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau
               kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis.
               Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti
               yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan.Dalam hubungan ini dijumpai
               berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan
               bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                       pdfcrowd.com
               terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya
               kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan
               ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu 1) Usaha (kegiatan) yang bersifat
               bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. 2) Ada
               pendidik, pembimbing atau penolong. 3) Ada yang di didik atau si terdidik. 4)
               Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu
               ada alat-alat yang dipergunakan. Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang
               diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama
               lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling
               sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau
               hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan
               hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga
               mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya
               mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan.
               Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an
               dan al Sunnah. Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan
               oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah
               pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber
               ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah
               pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan
               seumur hidup ( long life education ). Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam
               sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist
               sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran.
               Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya
               mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa
               pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari
               keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta
               dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya. Dasar pelaksanaan

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                    pdfcrowd.com
               Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan
               demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami.
               Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan
               al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan
               sesungguhnya kamu benar-benarbenar memberi petunjuk kepada jalan yang
               benar ( QS. Asy-Syura : 52 )” Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang
               mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat
               kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal
               pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung
               dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)” Dari ayat
               dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan : 1. Bahwa al Qur’an diturunkan
               kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus
               dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
               2. Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling
               menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai
               usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam. 3. Al Qur’an dan Hadist tersebut
               menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang
               lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi
               petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat
               Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan
               berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang
               kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini. Pendidikan dalam arti
               umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan
               pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada
               generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam
               pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat
               hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu
               berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                   pdfcrowd.com
               lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit
               dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali
               dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan
               pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan
               dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan
               ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori
               pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi
               utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek
               pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan
               mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap
               dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat
               memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya
               didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat
               menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum
               dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya. Sedangkan para ahli filsafat
               pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh
               dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat
               menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari
               permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan
               mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari,
               bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus
               berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan
               menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
               Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses
               pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju
               tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir
               sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan
               (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                         pdfcrowd.com
               kebutuhan dan kemajuan. Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang
               digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat
               pengembangan fungsi manusia : 1) Menyadarkan secara individual pada posisi dan
               fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam
               kehidupannya. 2) Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan
               masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya. 3)
               Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk
               beribadah kepada Nya Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap
               makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan
               makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil
               manfaatnya Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa
               Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai
               masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an
               dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para
               filosof Muslim, sebagai sumber sekunder. Dengan demikian, filsafat pendidikan
               Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan
               ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan
               filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai
               dalam pemikiran filsafat pada umumnya. C. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan
               Islam Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat
               pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari
               adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil
               penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau
               tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai
               bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan
               bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran
               yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan,
               ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                          pdfcrowd.com
               menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini
               memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-
               masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan
               pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan. D. Kegunaan
               Filsafat Pendidikan Islam Prof. Mohammad Athiyah abrosyi dalam kajiannya
               tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan
               Islam yang diuraikan dalam “ At Tarbiyah Al Islamiyah Wa Falsafatuha “ yaitu : 1.
               Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa
               pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. 2. Persiapan untuk kehidupan
               dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian
               pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia
               menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus. 3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada
               pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu
               bukan sekedar sebagai ilmu. Dan juga agar menumbuhkan minat pada sains,
               sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya. 4. Menyiapkan pelajar dari segi
               profesional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat mengusai profesi tertentu,
               teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat ia mencari rezeki dalam
               hidup dengan mulia di samping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
               5. Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.
               Pendidikan Islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, atau sprituil
               semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-
               tujuan, kurikulum, dan aktivitasnya. Tidak lah tercapai kesempurnaan manusia
               tanpa memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan. E. Metode Pengembangan
               Filsafat Pendidikan Islam Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat
               pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut : Pertama,
               bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan.
               Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang
               disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                     pdfcrowd.com
               di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan. Kedua, metode
               pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat
               dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing
               prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam
               menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an
               semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad
               Fuad Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink.
               Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif
               metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan
               logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah.
               Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas
               harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut.
               Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-
               teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu
               pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan
               dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk
               menjelaskan suatu fenomena. F. Penutup. Islam dengan sumber ajarannya al
               Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah
               menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat
               dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran ntuk kita katakan bahwa secara
               epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni
               pendidikan Islam. Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para
               filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna
               membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna
               tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten. Namun
               demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif.
               Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja
               diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling

open in browser PRO version   Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                    pdfcrowd.com
               kurang tidak bertentangan. Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian
               secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang
               dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang
               berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah
               kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam
               ingin eksis ditengah-tengah percaturan global. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Hanafi,
               M.A., Pengantar Filsafat Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. Prasetya,
               Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka Setia, Bandung, 2000 Titus, Smith,
               Nolan., Persoalan-persoalan Filsafat, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984. Ali
               Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya,
               1983. Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta,
               1995. Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu,
               Jakarta, 1997



               Johan Firdaus berkata:
               19 Mei 2009 pada 15:13


               Wuih keren pak artikelna, btw mo tukeran link gak pak? kabarin saya dengan
               mengisi comment di blog saya ya kalo minat


               thanks



               saepudin berkata:
               18 Mei 2009 pada 12:22


               pa bisa minta bahan tentang kurikulum pelatihan ? Mksh pa

open in browser PRO version    Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                       pdfcrowd.com
               Indah Dewi R berkata:
               15 Mei 2009 pada 00:13


               Pa mau tanya lagi!


               Minta deskripsi tugas PKS kurikulum itu apa saja?


               Terima kasih atas jawabannya.




       Silahkan beri umpan balik untuk pendalaman materi ini...

        Enter your comment here...




    AKHMAD SUDRAJAT: TENTANG PENDIDIKAN                                           Tema: Twenty Ten   Blog pada WordPress.com.




open in browser PRO version    Are you a developer? Try out the HTML to PDF API                                     pdfcrowd.com

								
To top