Docstoc

Jurnal - PDF

Document Sample
Jurnal - PDF Powered By Docstoc
					                                                           SCIENTIA VOL. 1 NO. 1, 2011
                                                                   ISSN : 2087-5045




ISSN : 2087-5045                 Volume 1, Nomor 2, Agustus 2011




              Scientia, Vol. 1, No. 1, 2011 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045
                  Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang
                             DAFTAR ISI

MEMBANDINGKAN KADAR DAN LAJU DISOLUSI TABLET ASAM                               1- 6
MEFENAMAT NAMA DAGANG DAN NAMA GENERIK
Revi Yenti, Firmansyah dan Ayu Dwi Utami

PENETAPAN KADAR VITAMIN B1 PADA BERAS MERAH TUMBUK,                            7- 12
BERAS MERAH GILING DAN BERAS PUTIH GILING
SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBEL
Regina Andayani, Syahriar Harun dan Vica Kurnia Maya

PEMERIKSAAN KADAR KALIUM DAN NATRIUM PADA HERBA                            13- 17
Centella asiatica (L) URBAN DENGAN METODA FOTOMETRI NYALA
Roslinda Rasyid, Mahyuddin dan Miza Agustin

PENENTUAN KADAR KALSIUM PADA IKAN KERING AIR LAUT                          18- 24
DAN IKAN KERING AIR TAWAR DENGAN METODA
SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM
Ria Afrianti dan Syahriar Harun

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI AKSTRAK ETANOL                          25- 31
BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN LENGKUAS MERAH
(Alpinia purpurata K. Schum) TERHADAP MIKROBA PENYAKIT KULIT
Emma Susanti, Musyirna Rahma dan Sumiati Rahman

PENGARUH PEMBERIAN RUTIN DAN KUERSETIN TERHADAP                            32- 37
KESTABILAN PIGMEN ANTOSIANIN DARI KELOPAK BUNGA
ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.)
Musyirna Rahmah Nasution, Deddy Permana dan Mirwan Arif

UJI EFEK ANALGETIK HERBA SURUHAN (Peperomia Pellucida)                     38- 42
PADA MENCIT PUTIH BETINA
Dwi Mulyani

PENENTUAN HLB BUTUH (Required Hydrophile Lipophile Balance)                43- 47
DARI VCO DENGAN METODE TIE
Chris Deviarny dan Deifsa Noca Fersti

UJI TOKSISITAS SUB KRONIK EKSTRAK BUAH MALUR ( Brucea                      48- 54
Javanica L.Merr) PADA ORGAN HATI MENCIT PUTIH JANTAN
Mimi Aria, M. Husni Mukhtar dan Sri Sufyantini

PEMANFAATAN ZAT WARNA DARI EKSTRAK Cyphomandra Betacea                     55- 63
DAN MINYAK KELAPA MURNI DALAM FORMULASI LIPSTIK
Farida Rahim

PENGARUH PEMBERIAN SERBUK BIJI MAHONI (Swietenia                           64- 69
Macrophylla King) TERHADAP KADAR GAMMA-GLUTAMIL
TRANSFERASE (GGT) PADA MENCIT PUTIH BETINA
Surya Dharma, Dedi Nofiandi
    Scientia, Vol. 1, No. 2, Agustus 2011 ; halaman 1 – 69, ISSN : 2087-5045
           Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang
                           SCIENTIA
           JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
                           TERBIT DUA KALI SETAHUN
                      SETIAP BULAN FEBRUARI DAN AGUSTUS




                           DEWAN REDAKSI

Penanggung Jawab :                              Dewan Penyunting :
Prof. H. Syahriar Harun, Apt                    Prof.H. Syahriar Harun,Apt
                                                Prof.DR.H. Amri
Pemimpin Umum :
                                                Bakhtiar,MS,DESS,Apt
DR.H.M. Husni Mukhtar,MS, DEA, Apt
                                                Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt
Redaktur Pelaksana :                            DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt
Verawati, M.Farm, Apt                           Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt
Eka Fitrianda, M.Farm, Apt                      Drs. B.A. Martinus , MSi
                                                Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt
Sekretariat :
                                                Farida Rahim, M.Farm, Apt
Afdhil Arel, S.Farm, Apt
                                                Revi Yenti, M.Si, Apt
Khairul
                                                Verawati, M.Farm, Apt
                                                Ria Afrianti, M.Farm ,Apt
                                                Eka Fitrianda, M.Farm, Apt



                                   Penerbit :
            Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang

                                 ISSN : 2087-5045

                           Alamat Redaksi/Tata Usaha
                                 STIFI Perintis
           Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang
                    Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
                           e-mail : stifi_perintis@yahoo.co.id
                            website : www.stifi-padang.ac.id
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045

MEMBANDINGKAN KADAR DAN LAJU DISOLUSI TABLET ASAM
   MEFENAMAT NAMA DAGANG DAN NAMA GENERIK

                           Revi Yenti, Firmansyah, Ayu Dwi Utami
                                    STIFI Perintis Padang


                                            Abstract


        The determination of concentration and dissolution of mefenamic acid in trade name and
generic name tablet has been done. Dissolution test was done in phospate buffer with pH 7,2 at 50
rpm for 60 minute using paddle method, while the concentration of mefenamic acid was measured
using spectrophotometry at 285 nm. It was found that all of tested product were qualified, that is
80% of the tablet were dissolve within 30 minutes and fullfil requirement of concentration for
mefenamic acid in tablet.

Keywords : mefenamic acid, dissolution test, spectrophotometry



PENDAHULUAN                                                  Anti Inflamasi Non Steroid
                                                     (AINS) merupakan salah satu golongan
                                                     obat yang banyak digunakan oleh
        Banyaknya pabrik obat yang                   masyarakat baik yang diresepkan oleh
memproduksi obat dengan nama dagang                  dokter maupun yang dijual bebas.
yang berbeda dan berbagai formula yang               Golongan obat AINS dapat digunakan
berbeda maka dibutuhkan suatu pedoman                untuk pengobatan inflamasi dan nyeri.
pengobatan     yang    bertujuan    untuk            Dari     suatu    pengukuran     kuantitas
meningkatkan efektifitas dan keamanan                penggunaan obat golongan AINS (dengan
suatu obat. Jika terjadi penyimpangan                4 jenis obat) yang dilakukan oleh peneliti
kadar dari yang dicantumkan (zat                     sebelumnya didapatkan data bahwa
khasiatnya sangat rendah bahkan ada yang             golongan obat AINS yang paling banyak
sama sekali tidak mengandung zat                     digunakan adalah Asam Mefenamat
khasiat), maka perlu dilakukan intervensi            (46,46%) dan yang paling rendah
regulasi misalnya dengan membatasi atau              penggunaannya adalah ketoprofen (5,07%)
menarik obat yang memang terbukti tidak              (Anonim, 2009).
bermanfaat atau obat-obat palsu.(Anonim,
2000).                                                       Oleh karena itu berdasarkan uraian
                                                     di atas peniliti ingin untuk melihat tingkat
        Pemakaian bahan baku dan bahan               keamanan tablet asam mefenamat dengan
pembantu yang bervariasi serta berbagai              mengetahui berapa kadar dan laju disolusi
macam formula        dapat   menunjukan              asam mefenamat dalam tablet dengan nama
perbedaan sifat karakteristik fisik pada             dagang dan obat generik yang beredar
tablet dan berpengaruh terhadap stabilitas           dipasaran.
kimia, fisika dan biofarmasetiknya. Jenis
dan jumlah bahan penbantu yang
digunakan dalam pembuatan tablet                     METODE PENELITIAN
haruslah dipilih dengan tepat, walaupun
bahan tersebut tidak berkhasiat tetapi
dapat berpengaruh terhadap ketersediaan              Alat
hayati obat dalam tubuh.
                                                            Desintegrator          (pharmetest),
                                                     hardnesstester, alat disolusi (pharmatest),

                                                                                              1
                                                SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                    ISSN : 2087-5045
friabilator (pharmatest), spektrofotometer    Pemeriksaan Kekerasan Tablet
UV-Visibel (Shimadzu), timbangan digital
dan seperangkat alat gelas standar                    Pemeriksaan dilakukan terhadap
laboratorium,                                 10 tablet, dimana tiap tablet diletakkan
                                              pada alat sehingga skala menunjukkan
                                              angka nol, kemudian putar penekan maka
Bahan                                         tablet akan tertekan dan akhirnya pecah.
                                              Tepat pada saat pecahnya tablet skala
       Tablet asam mefenamat dengan           dibaca dan dicatat sebagai kekerasan
nama dagang dan nama generik, asam            tablet. Kekerasan tablet diukur dalam
mefenamat baku, larutan alkali hidroksida     satuan kg/cm2 .
(NaOH), dapar pospat 0,2M pH 7,2 dan
aquadest.                                     Pemeriksaan Kerenyahan Tablet

                                                      Dilakukan terhadap 20 tablet yang
Pengambilan     Sampel     Tablet    Asam     bebas dari debu ditimbang, kemudian
Mefenamat.                                    dimasukkan kedalam alat, jalankan alat
                                              biarkan berputar selama 4 menit (100
        Pengambilan sampel dari satu          rpm), keluarkan tablet tersebut dan
apotik yang kemudian tiap jenis tablet        bersihkan dari debu dan ditimbang
diberi kode OPA (Obat Dagang A), OPB          kembali dan hitung besarnya kerapuhan
(Obat Dagang B), dan OPC (Obat Dagang         tablet dalam satuan persen.
C) . OGA (Obat Generik A), OGB (Obat
Generik B), dan OGC (Obat Generik C).
                                              Pemeriksaan Waktu Hancur Tablet

Pemeriksaan Kadar tablet                              Pada pemeriksaan waktu hancur
                                              dilakukan terhadap semua tablet dengan
         Ditimbang 20 tablet asam             menggunakan         medium         aquadest.
mefenamat kemudian gerus, timbang             Pengukuran dilakukan terhadap 6 tablet,
setara dengan 20 mg asam mefenamat,           isi bejana dengan medium aquadest pada
masukkan kedalam labu ukur 100 ml,            suhu 36-37 oC, atur jumlah cairan
larutkan dengan NaOH 0,2 N, tambahkan         sehingga pada saat keranjang turun
dapar fosfat 0,2 M hingga tanda batas         permukaannya tidak tenggelam dalam
aduk sampai larut. Kemudian dipipet 10        cairan dan pada saat keranjang naik
ml, masukkan kedalam labu ukur 100 ml,        permukaan sebelah bawahnya tidak
tambahkan dapar fosfat 0,2 M hingga           melebihi permukaan cairan, masukkan
tanda batas, sehingga didapat konsentrasi     tablet satu persatu pada 6 tabung jalankan
20 µg/ml, ukur serapan larutan pada           alat dengan kecepatan 30 rpm. Tablet
panjang gelombang maksimum asam               dinyatakan hancur jika tidak ada bagian
mefenamat     yang    sudah    ditentukan     yang tertinggal diatas kasa alat uji.
sebelumnya. Kemudian hitung kadar yang
diperoleh.
                                              Penentuan Uji Disolusi Tablet Asam
                                              Mefenamat
Pemeriksaan      Keseragaman        Bobot
Tablet                                               Pemeriksaan laju disolusi tablet
                                              asam mefenamat dilakukan berdasarkan
        Sejumlah 10 tablet yang telah         metoda pertama (metoda dayung) menurut
dibersihkan dari debu ditimbang satu          USP XXIV. Medium disolusi yang
persatu dan dihitung bobot rata-rata tablet   digunakan adalah dapar pospat 0,2 M pH
dan standar deviasi.                          7,2 dengan volume disolusi 900 ml dan
                                              kecapatan putaran 50 rpm selama 60
                                              menit. Larutan dipipet sebanyak 5 ml pada
                                              bagian tengahnya setelah menit ke 5, 10,

                                                                                      2
                                                     SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                         ISSN : 2087-5045
15, 30, 45, dan 60 menit. Masing-masing            HASIL DAN PEMBAHASAN
larutan sample diukur serapannya dengan
spektrofotometer      UV-Visibel      pada                  Hasil pemeriksaan mutu tablet
panjang gelombang maksimum. Kemudian               asam mefenamat dari beberapa nama
ditentukan kadar tablet yang terdisolusi.          dagang dan generik dapat dilihat pada
                                                   tabel I.
Pengolahan Data

        Data-data yang diperoleh dari hasil
penelitian dilakukan pengolahan data
dengan metoda Anova dua arah.

                        Tabel I. Pemeriksaan Mutu Tablet Asam Mefenamat

                              Tablet     Tablet    Tablet    Tablet       Tablet   Tablet
        Pemeriksaan
                              OPA        OPB       OPC       OGA          OGB      OGC
      Kadar zat aktif (%)      89,70     99,58      92,94    104,35        94,75   102,05
                              ±0,102    ±0,265     ±0,267    ±0,525       ±0,703   ±0,674
      Keseragaman bobot       0,7354    0,7452     0,6384    0,7302       0,7173   0,7104
             (g)              ±0,0019   ±0,0012    ±0,010    ±0,006       ±0,005   ±0,002
      Kekerasan (kg/cm2)       10,4      10,3       8,4       10,3         10,2     8,8
                              ±0,305    ±0,213     ±0,339    ±0,214       ±0,249   ±0,133
       Kerenyahan (%)           0,79      0,82      0,98      0,82         0,87     0,92

    Waktu hancur (menit)       42,16     36:14     20:16     38:12        28:27    23:51


         Keterangan :

         Tablet OPA     = Obat nama dagang A
         Tablet OPB     = Obat nama dagang B
         Tablet OPC     = Obat nama dagang C
         Tablet OGA     = Obat generik A
         Tablet OGB     = Obat generik B
         Tablet OGC     = Obat generik C

         Dari hasil tesebut kelima macam           satupun tablet yang penyimpangannya
tablet tersebut memenuhi persyaratan yang          lebih besar dari 10%. Perbedaan variasi
tercantum dalam Farmakope Indonesia                bobot    tablet    akan    menyebabkan
edisi IV adalah tidak kurang dari 90% dan          kandungan zat aktif pada setiap tablet
tidak lebih dari 110% dari yang tertera            akan berbeda. Penyimpangan bobot tablet
pada etiket. Sedangkan untuk OPA tidak             dipengaruhi oleh jumlah bahan yang
memenuhi persyaratan, didapatkan hasil             diisikan ke dalam ruang cetakan tablet
yang sedikit menyimpang yaitu 89,70%.              (punch dan die) (Ansel, H.C., 1989;
Hal ini bisa disebabkan oleh proses                Firmansyah, 1989). Hasil yang didapat
pembuatan dan jumlah bahan obat yang               memenuhi persyaratan bobot tablet.
digunakan tidak memenuhi persyaratan.
                                                          Persyaratan kekerasan untuk tablet
       Persyaratan untuk tablet yang               kecil adalah 4 – 7 kg/cm2, sedangkan
bobot lebih besar dari 300 mg tidak lebih          untuk tablet besar 4 – 13 kg/cm2.
dari 2 tablet mempunyai penyimpangan               Kekerasan tablet ini sangat berpengaruhi
lebih besar dari 5% dan tidak boleh ada            terhadap uji disolusi dan waktu hancur,


                                                                                            3
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045
jika tablet terlalu keras maka uji disolusi
dan waktu hancurnya akan menjadi                              Persyaratan waktu hancur tablet
lambat.      Kekerasan     tablet     dapat           menurut Farmakope Indonesia edisi IV
dipengaruhi oleh formulasi yaitu jumlah               yang     menetapkan      bahwa     kecuali
partikel halus (kadar fine) didalam tablet            dinyatakan lain waktu hancur untuk tablet
terlalu banyak sehingga menyebabkan                   biasa tidak lebih dari 15 menit dan untuk
daya ikat antar masa cetak menjadi kecil,             tablet bentuk salut selaput tidak boleh
sehingga tablet yang dihasilkan menjadi               lebih dari 60 menit. Pengujian waktu
rapuh. Jika jumlah bahan pengikat yang                hancur dilakukan bertujuan supaya tablet
digunakan dalam formulasi melebihi batas              harus hancur, kemudian melepaskan
yang ditetapkan maka tablet yang                      komponen obat ke dalam cairan tubuh
dihasilkan akan menjadi keras begitu juga             untuk dilarutkan, sehingga obat akan
sebaliknya jika bahan pengikat yang                   diabsorbsi dalam saluran cerna (Ansel,
digunakan sedikit maka tablet yang                    H.C., 1989). Waktu hancur berkaitan
dihasilkan akan menjadi rapuh (Ansel,                 dengan kekerasan tablet yaitu dengan
H.C., 1989; Firmansyah, 1989). Hasil                  bertambah keras tablet maka waktu hancur
yang didapat tablet asam mefenamat                    akan menjadi lebih lama. Tablet asam
memenuhi persyaratan.                                 mefeamat berada dalam bentuk tablet salut
                                                      selaput, dari hasil yang didapat semua
        Uji kerenyahan merupakan uji                  tablet memenuhi persyaratan yaitu hancur
untuk menentukan kemampuan dan daya                   sempurna.
tahan tablet terhadap gesekan dan
goncangan      selama    waktu     proses
pengepakan dan transportasi hingga
sampai ke tangan konsumen. Tablet
memenuhi persyaraatan uji kerenyahan
jika uji kerenyahan yang diperoleh adalah
0,8-1% (Ansel, H.C., 1989; Firmansyah,
1989). Dari hasil yang didapat keenam
produk     ini   memenuhi     persyaratan
kerenyahan tablet.

                  Tabel II. Pemeriksaan Uji Disolusi Tablet Asam Mefenamat

                                               % terdisolusi
        Waktu
                   OPA         OPB            OPC         OGA        OGB        OGC

           0         0           0             0            0          0          0

                   29.97       33.23          45.38       31.99      44.91      49.23

           5       ±0.015     ±0.011      ±0.012         ±0.003     ±0.032     ±0.015

                   53.26       59.50          72.19       54.73      70.08      61.27

           10      ±0.006     ±0.053      ±0.011         ±0.008     ±0.112     ±0.090

                   62.54       74.88          81.62       63.04      79.13      71.88

           15      ±0.117     ±0.115      ±0.021         ±0.091     ±0.161     ±0.308

           30      77.34       84.50          90.34       82.97      88.80      89.75




                                                                                            4
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045
                  ±0.072     ±0.150      ±0.153         ±0.326     ±0.145    ±0.153

                   89.99      93.77          95.85       91.93     95.10      92.10

          45      ±0.136     ±0.157      ±0.185         ±0.170     ±0.156    ±0.173

                   98.05     100.22      103.18         100.01     99.41      102.14

          60      ±0.171     ±0.195      ±0.185         ±0.043     ±0.166    ±0.200




                     Gambar 1. Profil disolusi tablet asam mefenamat

        Penentuan uji disolusi yaitu                 perlakuan dari perbandingan tiap sampel
menghitung kadar asam mefenamat yang                 pada  = 0,05 dan pada  = 0,01,
terdisolusi atau terlarut pada menit –               memberikan nilai bahwa F hitung
menit tertentu, yang dilakukan selama 60             perlakuan dan waktu lebih kecil dari pada
menit dapat dilihat pada tabel II dan                F tabel. Ini menandakan bahwa kadar
gambar 1. Hasil yang diperoleh semua                 persentase tablet asam mefenamat yang
tablet memenuhi persyaratan Farmakope                terdisolusi dalam medium tidak berbeda
Indonesia edisi IV kecuali OPA baru                  nyata tidak signifikan. Ini membuktikan
terdisolusi 77,34%.                                  bahwa tidak ada perbedaan mutu antara
                                                     obat nama dagang dan bentuk generik.
        Penetapan      model      kinetika
pelepasan    tablet    asam    mefenamat
dilakukan      dengan        menggunakan             KESIMPULAN DAN SARAN
menggunakan        berbagai    persamaan
kinetika orde. Hasil yang diperoleh dapat            Kesimpulan
dikatakan bahwa model kinetika pelepasan
obat yang baik adalah mengikuti orde satu                   Dari hasil penelitian yang telah
karena nilai korelasinya mendekati satu              dilakukan pada pemeriksaan kadar zat
yaitu sebagai berikut tablet OPA = 0.952,            aktif dan pemeriksaan uji disolusi dapat
OPB = 0.964, OPC = 0.947, OGA = 0.958,               diambil kesimpulan bahwa tablet dengan
OGB = 0.985, OGC = 0.973.                            nama dagang maupun nama generik tidak
                                                     memberikan perbedaan yang bermakna
        Dari hasil yang didapat dibuat               dengan kata lain memenuhi persyaratan
analisa data dengan metoda analisa yaitu             terkecuali untuk tablet dagang A, kadar
metoda Anova Dua Arah. Pada antar                    yang didapat sedikit menyimpang dari

                                                                                          5
                                                SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                    ISSN : 2087-5045
ketentuan Farmakope Indonesia Edisi IV
yaitu 89,70 %        dan persen      zat
terdisolusinya pada waktu 30 menit yaitu
77,34 %.

Saran

        Disarankan       untuk    peneliti
selanjutnya melakukan penelitian terhadap
laju absorbsinya secara invivo.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Bagian Organisasi dan
      Hukum, Volume 1 Edisi VIII,
      Jakarta.
Anonim, 2009, Pengukuran Kuantitas dan
      Kualitas Peresepan Obat Golongan
      AINS Pada Pasien Rawat Jalan di
      RSI Surakarta Jakarta.2008 Dengan
      Metoda DU 90%
      http://rac.uii.ac.id/harvester/index.ph
      p/record/view/3284.Diakses 10 des
      2009.
Ansel H. C., 1989Introduction to
       Pharmaceutical Dosege Farmasi,
       Terjemahkan oleh F, Ibrahim,
       Pengantar Bentuk Seiaan Farmasi,
       Edisi Keempat, Penerbit Universitas
       Indonesia, Jakarta.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia,
       Edisi IV, Jakarta.
Firmansyah, Formulasi Tablet, Departemem
       Pendidikan dan Kebudayaan,
       Padang, 1989.




                                                                                6
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045

    PENETAPAN KADAR VITAMIN B1 PADA BERAS MERAH
  TUMBUK, BERAS MERAH GILING, DAN BERAS PUTIH GILING
        SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV- VISIBEL


                   Regina Andayani1, Syahriar Harun2, Vica Kurnia Maya2
                         1
                          Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang
                                     2
                                      STIFI Perintis Padang


                                            Abstract


        A research about analysis of vitamin B1 on the pounded red rice, the milled red rice and
the milled rice using spectrophotometry of UV-Visible had been performed. Vitamin B1 was
reacted with a bromothymol blue to form an ion-association complex in a weak-base aqueous
solution in the presence of solubilization agent (polyvinyl alcohol). The wavelength of maximum
absorbance was 441 nm.The method has high selectivity and could be applied to direct
spectrophotometric determination of vitamin B1 in aqueous phase without organic solvent
extraction. The concentration of vitamin B1 on the pounded red rice was 0,2887 % + 0,243, on the
milled red rice was 0,2265 % + 0,198, and the milled rice was 0,2129 % + 0,190. The LSD test on
the α = 0,05 and α = 0,01 showed that the highest concentration of vitamin B1was found in the
pounded red rice followed by the milled red rice and the milled rice.

Keywords : Vitamin B1, pounded red rice, milled red rice, milled rice, spectrophotometry UV-
            Visible



PENDAHULUAN                                         Murray, R.K et al.,1997; Gan, S., 1995;
                                                    Soeharto, P.K., 1991).
         Vitamin B1 atau Tiamin merupakan
salah satu vitamin yang dibutuhkan untuk                     Tiamin terdapat hampir pada semua
menimbulkan nafsu makan dan membantu                tanaman dan jaringan tubuh hewan yang
penggunaan karbohidrat dalam tubuh dan              lazim digunakan sebagai bahan makanan
sangat berperan dalam sistim saraf.                 tetapi kandungan vitamin ini biasanya kecil.
Kebutuhan vitamin bagi tubuh sebenarnya             Sumber vitamin B1 contohnya sereal,
sangat cukup tersedia, ada unsur-unsur              gandum, kentang, ikan, telur, hati, ginjal,
vitamin alami di dalam makanan yang di              jantung, otak, susu sapi dan ASI. Biji-bijian
santap setiap hari. Kebutuhan harian akan           yang tidak digiling sempurna merupakan
vitamin berbeda-beda berdasarkan jenis usia,        sumber tiamin yang baik. Tiamin dalam
jenis kelamin dan bisa juga berdasarkan jenis       makanan dalam bantuk bebas atau dalam
pekerjaanya. Masing-masing jumlah vitamin           bentuk kompleks dengan protein atau
B1 yang di butuhkan untuk bayi 0,4-0,5              kompleks protein phosfat, pada prinsipnya
mg/hari, anak-anak 0,7-1,0 mg/hari, pria            tiamin berperan sebagai koenzim dalam
dewasa 1,2-1,3 mg/hari, wanita dewasa 1,0-          reaksi-reaksi yang menghasilkan energi dari
1,1 mg/hari, ibu hamil 1,5 mg/hari dan ibu          karbohidrat dan memudahkan pembentukan
menyusui 1,6 mg/hari.       (Andi,H.N,1987;         senyawa kaya energi yang disebut ATP (
                                                    adenosil triposfat ).

                                                                                             7
                                                   SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                       ISSN : 2087-5045
         Dampak kekurangan vitamin B1 ini        Bahan
dapat menimbulkan penyakit beri-beri .
Umumnya penyakit yang ditemukan tahun                     Polivinyl alkohol 1%, etanol netral
1642 di Indonesia ini banyak menyerang           40 %, larutan biru bromotimol 0,05 %,larutan
masyarakat dengan makanan pokoknya beras         dapar NH4CL-NH4OH 0,2 M (49:1) pH 7,6,
giling seperti Indonesia, India, Cina, Jepang,   kalium heksasianoferat (III) 5% timbal (II)
Malaysia dan Negara lainnya. Kekurangan          asetat 10 %, indikator fenolftalein, asam
vitamin tersebut dapat disebabkan karena         klorida 3 N, tiamin HCL ( BDH Biochemical
vitamin ini tidak stabil pada pemrosesan         ), kertas saring, aquadest.
tertentu dan penyimpanan, karena itu aras
kandungan vitamin dalam makanan yang             Prosedur
diproses dapat sangat menurun. (DepKes RI,
1974)                                            Persiapan sampel

         Penetapan kadar vitamin B1 dapat                Sampel yang digunakan adalah beras
dilakukan dengan cara gravimetri, volumetri,     merah tumbuk, beras merah giling dan beras
fluorometri, kolorimetri dan kromatografi        putih giling yang diambil dari daerah Kayu
cair kinerja tinggi (KCKT). (DepKes              Aro – Kerinci, Jambi. Sampel di haluskan
RI,1995;       Garrat, D.C.,1964; Herlich,       dengan blender kemudian timbang 5 gram
K,1990). Penentuan kadar vitamin B1 pada         sampel masukan dalam erlenmeyer 50 ml
sediaan farmasi menggunakan beberapa             cukupkan dengan aquadest sampai tanda
macam pewarna (dye) asam trifenilmetan           batas, kocok, kemudian saring dengan kertas
telah dilakukan dan diperoleh hasil yang baik    saring masukan dalam labu ukur 50 ml,
(Liu,S., et al,2002). Oleh karena itu metode     cukupkan dengan aquadest sampai tanda
tersebut dicoba digunakan untuk menetapkan       batas.
kadar vitamin B1 pada sampel makanan
seperti ; beras merah tumbuk, beras merah        Pembuatan Larutan Induk Vitamin B1 500
giling dan beras putih giling menggunakan        µg/ml (Liu, S.,et al., 2002)
biru     bromotimol       sebagai     senyawa
pengompleks yang dapat membentuk                         Ditimbang 25 mg Vitamin B1
kompleks asosiasi ion dengan vitamin B1          kemudian larutkan dengan air suling dalam
menggunakan polivinyl alkohol (PVA)              labu takar 50 ml tepatkan sampai tanda batas.
sebagai      zat      pensolubilisasi    yang
menghasilkan senyawa yang larut dalam air        Pengukuran Panjang Gelombang Serapan
dan diukur dengan spektrofotometri UV            Maksimum (Liu, S.,et al., 2002)
Visible pada panjang gelombang 441 nm.
                                                         Dari larutan induk di pipet 4 ml
                                                 masukkan dalam labu ukur 25 ml, sehingga
METODE PENELITIAN                                diperoleh konsentrasi 80 µg/ml, tambahkan 2
                                                 ml dapar amonia, ditambah 3,3 ml biru
                                                 bromotimol 0,05 % dan 1,5 ml polivinyl
Alat
                                                 alkohol 1 %, cukupkan dengan aquadest
                                                 sampai tanda batas, kocok homogen, lalu
        Spektrofotometer           UV-Visibel    tentukan panjang gelombang serapan
(Shimadzu 265), erlenmeyer, gelas piala,         maksimum dengan spektrofotometer VV –
gelas ukur, corong, batang pengaduk, pipet
                                                 VIS antara (400-800) nm.
takar, pipet tetes, karet hisap, labu semprot,
timbangan digital, labu ukur, pH meter.


                                                                                          8
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
Pengukuran Kadar Vitamin B1                     HASIL DAN PEMBAHASAN

        Larutan induk Vitamin B1 (500                    Penetapan kadar vitamin B1 yang
µg/ml) dipipet sebanyak 2; 2,5; 3; 3,5; 4 ml    terdapat pada beras merah tumbuk, beras
dan masing-masing larutan dimasukkan            merah giling dan beras putih giling dilakukan
dalam labu ukur 25 ml. Ke dalam masing-         dengan metoda spektrofotometer UV-VIS
masing labu ditambahkan 1,2 ml dapar            menggunakan kompleks asosiasi ion antara
amonia, 2,7 ml biru bromotimol 0,05 % dan       vitamin B1 dengan biru bromotimol. Metoda
0,7 ml polivinyl alkohol 1% kemudian            ini sederhana, mudah dan selektif dengan
cukupkan dengan aquadest sampai tanda           menggunakan sampel dalam jumlah yang
batas, dikocok homogen, sehingga diperoleh      sedikit dengan waktu yang singkat, dan dapat
konsentrasi larutan vitamin B1 berturut-turut   diterapkan untuk penentuan spektrofotometri
40,50,60,70, dan 80 µg/ml. Ukur serapan         secara langsung pada vitamin B1 dalam fase
masing-masing larutan pada panjang              air tanpa melakukan ekstraksi dengan pelarut
gelombang maksimum yaitu 441 nm                 organik.
kemudian data absorban dan konsentrasi
larutan standar digunakan untuk membuat                  Vitamin B1+ bereaksi dengan biru
kurva kalibrasi.                                bromotimol pada pH 7,6 ditunjukkan dengan
                                                perubahan warna larutan dari tidak berwarna
        Pengukuran vitamin B1 pada sampel       menjadi kuning. Kompleks vitamin B1+
dilakukan dengan memipet 5 ml filtrat           dengan       biru    bromotimol   merupakan
sampel dan masukan dalam labu ukur 25 ml        kompleks asosiasi ion yang berwarna yang
tambahkan 1,5 ml dapar amonia, tambahkan        dapat diamati pada panjang gelombang
3 ml biru bromotimol 0,05 %, tambahkan 1        serapan maksimum 441 nm (Liu, S., et
ml polivinyl alkohol 1 %, kemudian              al.,2002). Keadaan pH yang lebih tinggi atau
cukupkan dengan aquadest sampai tanda           lebih rendah dari 7,6 dapat mempengaruhi
batas, kocok homogen dan ukur serapan           peranan biru bromotimol yang merupakan
dengan spektrofotometer UV-Visibel pada         indikator, karena keasaman larutan berperan
panjang gelombang 441 nm.                       besar pada reaksi warna, oleh karena itu
                                                untuk mengontrol keasaman larutan dapat
Pengolahan Data                                 digunakan larutan dapar NH4Cl – NH4OH 0,2
                                                M agar tidak terjadi penurunan nilai serapan (
        Kadar Vitamin B1 ditentukan dengan
                                                Liu, S., et al.,2002).
menggunakan kurva kalibrasi dari larutan
standar yang dihitung dengan menggunakan                 Untuk    meningkatkan     kelarutan
rumus :                                         senyawa kompleks vitamin B1 dengan biru
                                                bromotimol dalam air perlu ditambahkan
                       C xfpxV                  polivinyl alkohol sebagai zat pensolubilisasi
        Cs ( mg/g) =
                          w                     yang merubah kompleks asosiasi ion yang
                                                bersifat hidrofob menjadi bentuk misel selain
Keterangan : C = konsentrasi rata-rata (        itu penambahan polivinyl alkohol juga
             µg/g), fp       =   faktor         membentuk larutan tetap jernih sehingga
             pengenceran, V = volume            perubahan warna yang terjadi dapat diamati
             filtrat   (ml), W = berat          dengan jelas.
             sampel ( g )
                                                       Pada pembuatan kurva kalibrasi
                                                semakin tinggi konsentrasi vitamin B1 maka
                                                semakin meningkat juga penambahan larutan

                                                                                          9
                                                                    SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                                        ISSN : 2087-5045
dapar serta zat pensolubilisasi yang                              sehingga diperoleh kurva kalibrasi dengan
dibutuhkan, untuk memperoleh hasil yang                           persamaan regresi Y = - 0,1754 + 0,0109 x
linear antara konsentrasi dengan serapan.                         dengan harga koefisien korelasi r adalah
Standar vitamin B1 dibuat dengan                                  0,99472.
konsentrasi 40, 50, 60, 70 dan 80 µg/ml


                     0.8
                                 y = -0,1754 +0,0109 x
                     0.6
          Absorban



                                 r = 0,99472

                     0.4
                     0.2
                      0
                           0              20             40            60            80           100
                                                                       (µg/ml)
                                                 Konsentrasi (ppm)

                     Gambar 1. Kurva kalibrasi larutan standar vitamin B1 dalam dapar amonia + PVA
                                1 % + BBT 0,05 %

        Ketelitian adalah ukuran yang                             SD untuk beras merah tumbuk 0,243, beras
menunjukan derajat kesesuaian antara hasil                        merah giling 0,198 dan beras putih giling
uji individual dan rata – rata jika prosedur                      0,190. Sedangkan nilai KV yang di peroleh
ditetapkan secara berulang–ulang. Ketelitian                      untuk beras merah tumbuk 0,419 %, beras
diukur sebagai simpangan baku dan koefisien                       merah giling 0,437 % dan beras putih giling
variasi dari masing–masing pengukuran.                            0,449 % hasil ini memenuhi kriteria, karena
Untuk pengukuran kadar vitamin B1 pada                            nilai standar deviasi atau koefisien variasi 2
sampel dengan 3 kali pengulangan diperoleh                        % atau kurang.


     Tabel 1. Penentuan kadar vitamin B1 dalam sampel menggunakan spektrofotometri UV-
          Visibel pada panjang gelombang 441 nm

                                                                          Kadar
                                               C              C         Vitamin B1                 KV
        Sampel                    A                                                       SD
                                            (μg/ml)       (μg/ml)         (mg/g)                   (%)

                               1. 0,457    1. 58,018
      Beras merah
                               2. 0,452    2. 57,559      57,743            2,887         0,243    0,419
        tumbuk
                               3. 0,453    3. 57,651
                               1. 0,317    1. 45.174
      Beras merah
                               2. 0,318    2. 45,266      45,296            2,265         0,198    0,437
         giling
                               3. 0,320    3. 45,449
      Beras putih              1. 0,288    1. 42,513      42,574            2,129         0,190    0,446


                                                                                                           10
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
          giling      2. 0,287     2. 42,422
                      3. 0,291     3. 42,789


         Hasil pemeriksaan kadar vitamin B1     Liu, S., Zhuyuan, Z., Qin, L., Hongqun, L.,
dalam sampel beras diperlihatkan pada                     and     Wenxu,       Z.,   2002,
tabel 1. Beras merah tumbuk mengandung                    Spectrophotometric Determination
vitamin B1 dengan kadar tertinggi yaitu 2,887             of Vitamin B1 in a Pharmaceutical
mg/g, yang diikuti dengan beras merah giling              Formulation                using
2,265 mg/g dan beras putih giling 2,129                   Tryphenylmethane Acid Dyes,
mg/g. Pada uji statistik menggunakan                      Journal of Pharmaceutical and
ANOVA satu arah dilanjutkan uji beda nyata                Biomedical Analysis, Volume 30,
terkecil diperoleh perbedaan yang sangat                  Issue 3
signifikan (p<0,01) antara kadar vitamin B1
dari    masing-masing      sampel.     Proses   Miller. JC., 1991, Statistika Untuk Kimia
penyosohan atau penggilingan dapat                       Analitik, Edisi II, Penerbit ITB,
mengurangi kadar vitamin B1 dalam beras.                 Bandung

KESIMPULAN                                      Murray, R.K., Granner, D. K., Mayes, P. A.,
                                                        Rodwell, V. W., 1997, Biokimia
        Dari hasil penelitian yang dilakukan            Harper, Edisi 24, Penerbit Buku
dapat diambil kesimpulan bahwa kadar                    Kedokteran EGC, Jakarta
Vitamin B1 yang tertinggi terdapat dalam
Beras merah tumbuk 0,2887 % ± 0,243 yang        Soeharto, P.K., 1991, Biokimia Nutrisi
terendah dalam Beras putih giling 0,2129 %,              (Vitamin), Edisi 1, Fakultas
± 0,190 sedangkan Beras merah giling                     Peternakan UGM Yogyakarta
0,2265 %, ± 0,198.

DAFTAR PUSTAKA

Andi,   H.N., 1987, Pengetahuan Gizi
         Mutakhir : Vitamin , PT Gramedia,
         Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
        1974, Ekstra Farmakope Indonesia,
        Cetakan Pertama, Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
        1995, Farmakope Indonesia, Ed
        IV, Jakarta

Gan, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, Ed.
         4, Bagian Farmakologi FKUI,
         Jakarta

Garrat, D.C., 1964, The Quantitative Analisys
         of Drugs, Toppan Company,
         London

Herlich, K, 1990, Official Methods of
         Analisis, 15 th ed, Volume 1, USA


                                                                                      11
                                                          SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                              ISSN : 2087-5045

 PEMERIKSAAN KADAR KALIUM DAN NATRIUM PADA HERBA
       Centella asiatica (L) URBAN DENGAN METODA
                      FOTOMETRI NYALA

                          Roslinda Rasyid, Mahyuddin dan Miza Agustin
                               Fakultas Farmasi Universitas Andalas


                                              Abstract


         A research on potassium and sodium concentration inspection has been done to Centella
asiatica (L) Urban herbal using Flame Photometry Method, it is a method of spectrum line
intensity measurement which is transmitted by element which excitated in flame. The analysis
principle is by altering solid or liquid form to gas form and spread it, then excitate the particles to
breed flame emission. From the research, it was found that potassium concentration of dry sample
pegagan herbal was 2.58% and from wet sample was 2.14%, while sodium concentration of dry
sample pegagan herbal was 2.65% anf from wet sample was 2.19%.

Keyword : Centella asiatica, potassium, sodium, flame photometry



PENDAHULUAN                                                    Kandungan kalium dan natrium
                                                       menyebabkan tumbuhan pegagan berkhasiat
                                                       sebagai diuretic dan pemecah batu ginjal.
         Bangsa Indonesia sejak dahulu telah           Kalium akan bereaksi dengan batu ginjal
terbiasa dengan penggunaan obat-obat                   yang berupa kalsium karbonat membentuk
tradisional. Pengetahuan ini telah diwariskan          kalium karbonat. Endapan batu ginjal ini
secara turun temurun berdasarkan kebiasaan             kemudian larut dan keluar bersama urin.
semata. Seiring dengan meningkatnya                    Mineral natrium akan membantu pengeluaran
perkembangan ilmu pengetahuan dan                      air seni yang disebut dengan efek dieresis.
teknologi, penelitian kearah        obat-obat          Mineral ini akan menambah kecepatan
tradisional semakin meningkat pula. Para ahli          pembentukan volume urin (Mariani, 2008).
berusaha menyelidiki komponen apa saja
yang terkandung pada tumbuhan serta                            Pada penelitian ini penentuan
pengaruhnya terhadap penyakit (Sitakusuma,             kandungan kalium dan natrium dalam herba
1987).                                                 pegagan dilakukan dengan menggunakan
                                                       metoda Fotometri Nyala. Metoda ini cocok
          Centella asiatica (L) Urban atau             digunakan karena kalium dan natrium
yang biasa dikenal dengan nama Pegagan                 merupakan unsur yang mudah tereksitasi
(family Umbeliferaceae) merupakan salah                dengan       memancarkan      sinar    yang
satu tumbuhan yang digunakan sebagai obat.             karakteristik dengan intensitas yang cukup
Kandungan kimia utama dari tumbuhan                    tinggi untuk diukur dengan fotosel (Horwitz,
pegagan yaitu asam asiatat, asiatikosida dan           1990; Vogel’s, 1978).
asam madekasat. Kandungan kimia lainnya
yaitu karotenoid, valerian, resin, tannin,
minyak menguap dan garam-garam mineral                 METODOLOGI PENELITIAN
seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium
dan besi (Widowati, et al., 1992; Schaneberg,
et al., 2003; Achyad dan Rasydah, 2000).                        Bahan yang digunakan dalam
                                                       penelitian ini antara lain herba pegagan, asam
                                                       nitrat pa (merck), asam sulfat pa (merck),

                                                                                                 12
                                                   SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                       ISSN : 2087-5045
kalium klorida pa (merck), natrium klorida       Farmakope Indonesia IV dan didapatkan
pa (merck), asam klorida pa (merck), larutan     hasil rata-rata kandungan air sampel sebesar
standar kalium 1000 ppm, larutan standar         17,21%.
natrium 1000 ppm dan aquadest. Sedangkan
alat yang digunakan adalah Fotometri Nyala               Perlakuan sampel setelah dikering
(140-Corning), timbangan digital, labu           anginkan adalah dengan menjadikannya
Kjeldahl, desikator, blender, ayakan dan alat-   serbuk yang bertujuan untuk mempercepat
alat gelas lainnya yang biasa digunakan di       proses destruksi. Bentuk serbuk memiliki
laboratorium.                                    luas    permukan      yang     lebih  besar
                                                 dibandingkan dengan bentuk tumbuhan
         Sampel yang digunakan dalam             dalam keadaan utuh sehingga larutan
penelitian ini adalah herbal pegagan yang        pendestruksi akan lebih mudah berpenetrasi.
diambil di daerah Batusangkar Kabupaten          Proses      destruksi    bertujuan    untuk
Tanah Datar dan diidentifikasi pada              menghilangkan, merombak dan memutuskan
Herbarium Jurusan Biologi (ANDA) Fakultas        ikatan-ikatan senyawa organik yang terdapat
MIPA       Universitas  Andalas.   Sampel        dalam sampel sehingga yang tinggal hanya
dibersihkan dari kotoran dan ditimbang           senyawa anorganik saja. Metoda destruksi
sebanyak 1 Kg, dicuci dengan aquadest,           yang digunakan adalah metoda destruksi
dikering anginkan dan sebagian dipotong          basah. Metoda ini digunakan karena
kecil-kecil dan digunakan untuk penentuan        pengerjaannya lebih sederhana, oksidasi
kandungan air. Sampel kering diblender dan       kontinyu dan cepat dan unsur-unsur yang
diayak dengan ayakan 180 µm hingga               diperoleh mudah larut sehingga dapat
didapatkan sampel dalam bentuk bubuk             ditentukan dengan metoda analisa tertentu
halus.                                           (Raimon, 1992; Lisawati, 1985).

         Sampel yang telah dihaluskan                    Proses   destruksi    menggunakan
didestruksi basah menggunakan pelarut asam       campuran asam sulfat pekat dan asam nitrat
nitrat pekat dan asam sulfat pekat. Sebanyak     pekat sebagai pengoksidasi. Destruksi basah
1 gram sampel dimasukan ke dalam labu            menggunakan larutan pendestruksi campuran
kjeldahl, ditambahkan 10 ml asam sulfat          ini memberikan hasil yang lebih baik karena
pekat dan dikocok, kemudian ditambahkan 5        destruksi lebih sempurna dan suhu
ml asam nitrat pekat dan beberapa buah batu      pemanasan tidak terlalu tinggi sehingga
didih, dikocok hingga bercampur, diamkan         kemungkinan kehilangan unsur renik akibat
selama 30 menit. Kemudian dipanaskan             penguapan dan retensi menjadi lebih kecil.
perlahan-lahan sampai semua sampel larut
dan mendidih hingga asam nitro kuning                    Destruksi dimulai dengan pemanasan
keluar sebanyak mungkin. Dilanjutkan             rendah dan selanjutnya ditinggikan perlahan-
dengan penambahan asam nitrat pekat 1 – 2        lahan sampai sampel larut sempurna.
ml dan dipanaskan hingga seluruh bahan           Sebelum pemanasan, campuran sampel dan
organik terbakar, dipanaskan hingga asap         pelarut dibiarkan lebih kurang 30 menit agar
putih dari sulfat timbul, didinginkan,           proses     penetrasinya    lebih sempurna.
diencerkan hingga volume 50 ml. Sampel           Beberapa batu didih ditambahkan agar
hasil destruksi dipipet sebanyak 2 ml di         pemanasan lebih merata dan mencegah
diencerkan hingga 25 ml dengan aquadest          terjadinya bumping. Proses destruksi ditandai
kemudian dilakukan pengukuran emisi nyala        dengan keluarnya asap nitro yang berwarna
sampel dengan fotometer nyala, dimana            kuning. Kemudiann dilanjutkan dengan
sebelumnya alat yang digunakan dikalibrasi       penambahan 1 – 2 ml asam nitrat pekat yang
dengan deretan standar.                          bertujuan untuk menyempurnakan proses
                                                 destruksi. Destruksi dikatakan sempurna bila
                                                 telah diperoleh larutan jernih yang
HASIL DAN PEMBAHASAN                             menunjukan bahwa semua konstituen telah
                                                 larut sempurna atau perombakan senyawa
                                                 organic telah berjalan dengan baik.
        Penentuan   kadar   air    sampel        Selanjutnya larutan jernih ini diencerkan
dilakukan sesuai dengan yang tertera pada        dengan aquadest guna penentuan kandungan

                                                                                        13
                                                     SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                         ISSN : 2087-5045
kalium dan natriumnya menggunakan                 kalium klorida dan natrium klorioda dengan
fotometer nyala.                                  konsentrasi 10, 20, 30, 40 dan 50 ppm. Hasil
        Metoda fotometri nyala merupakan          pengukuran emisi larutan standar kalium
metodda yang sangat tepat digunakan untuk         pada panjang gelombang 766,5 nm
penentuan kadar kalium dan natrium karena         didapatkan kurva kalibrasi dengan persamaan
unsure-unsur ini merupakan logam golongan         regresi Y = 0,057 + 0,0107x dan koefisien
IA yang sangat mudah tereksitasi dengan           korelasi (r) = 0,998. Sedangkan pengukuran
memancarkan sinar yang karakteristik              emisi larutan standar natrium pada panjang
dengan intensitas yang cukup tinggi untuk         gelombang       589,0    nm    menghasilkan
diukur dengan fotosel. Kalium akan                persamaan regresi Y = 0,0162 + 0,00476x
menghasilkan intensitas yang tinggi pada          dan koefisien korelasi (r) = 0,998.
panjang gelombang 766,5 nm sedangkan              Pengukuran emisi larutan sampel hasil
natrium pada panjang gelombang 589,0 nm.          destruksi dikonversikan pada kurva kalibrasi
Sebelum pengukuran kadar kalium dan               larutan standar
natrium dari sampel terlebih dahulu dibuat
larutan standar kalium dan natrium dari




                      Gambar 3. Kurva kalibrasi standar kalium klorida




                      Gambar 4. Kurba kalibrasi standar natrium klorida



                                                                                        14
                                                SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                    ISSN : 2087-5045
        Hasil pengukuran emisi nyala sampel   Horwitz, W., Official Methods of Analysis
menunjukkan bahwa terdapat kadar yang                Association of Official Analytical
hampir sama antara kalium dan natrium yang           Chemists, 15th Ed., Vol. Two, USA,
terkandung di dalam herba pegagan. Kadar             1990.
kalium di dalam sampel kering adalah
sebesar 2,58% sedangkan kadar natrium         Lisawati, Y., Perbandingan Metoda Destruksi
2,65%. Kadar air sampel basah yang                   Basah      dan    Kering    Terhadap
didapatkan adalah sebesar 17,21%, sehingga           Pencemaran Logam Fe, Cu dan Zn,
didapatkan kadar kalium dalam sampel basah           Jurnal Universitas Andalas, 1985.
sebesar 2,14% sedangkan kadar natrium
dalam sampel basah adalah sebesar 2,19%.      Mariani R., Mencegah Batu Ginjal dan Batu
Besar kecilnya kandungan mineral kalium              Empedu,        http://www.pikiran-
dan natrium diduga dipengaruhi oleh                  rakyat.com
berbagai factor diantaranya keadaan tanah,
letak geografis, tempat tumbuh dan keadaan    Materia Medika Indonesia, Jilid I, 34 – 39,
musim.                                               Departemen Kesehatan Republik
                                                     Indonesia, 1977.
KESIMPULAN DAN SARAN                          Raimon, Perbandingan Metoda Destruksi
                                                     Basah   dan    Kering  Terhadap
                                                     Pencemaran Logam Fe, Cu dan Zn,
         Berdasarkan penelitian yang telah
                                                     BPPI Palembang, Edisi BIPA,
dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar
                                                     Palembang, 1992.
kalium yang terdapat dalam herba pegagan
kering adalah sebesar 2,58% dan pada herba
pegagan segar 2,14%. Sedangkan kadar          Schaneberg, B.T., J.R. Mikell, E. Bedir and.
natrium pada herba pegagan kering adalah             I.A. Khan, An Improve HPLC
2,65% dan pada herba pegagan segar 2,19%.            Method          for        Qualitative
Diharapkan peneliti selanjutnya untuk dapat          Determination of Six Triterpenes in
memeriksa kandungan kalium dan natrium               Centella asiatica Extract and
dari jenis tumbuhan lain dengan metode yang          Commercial                   Product,
sama.                                                http://www.herbmed.org., Juni, 2003

DAFTAR PUSTAKA                                Sitakusuma, T., Kimia dan Lingkungan,
                                                      pusat Penelitian Universitas Andalas,
                                                      Padang, 1987
Achyad, D.E. dan R. Rasydah, Pegagan
       (Centella asiatica (L) Urban),         Tang, W. and Eisbrand, G., Chinese Drug of
       http://www. Asiamaya.com                      Plant    Origin     :    Chemistry
                                                     Pharmacology Use in Traditional and
Becker, C.A. and R.C. Bachizen, Flora of             Modern Medicine, Springer Verlag
       Java, Vol. I, N.V.P. Noordhoff,               Published, Germany, 1982.
       Broningen, The Netherland, 1965.
                                              Vogel’s, A., Kimia Analisis Kuantitatif
Elvers, B., Wilmann’s Encyclopedia of                 Anorganik, Edisi IV, diterjemahkan
        Industrial Chemistry, Vol. A15,               oleh L.      Setiono dan A.H.
        Verlags    Gessell   Shaft Moit,              Pudjaatmaka,      Penerbit    Buku
        Weinheinm, 1990.                              Kedokteran, Jakarta, 1974.

Geniswara, S.G., Farmakologi dan Terapi,      Vogel’s, A Textbook of Qualitative Inorganic
       Edisi IV, Bagian Farmakologi                   Analysis, 4th Ed., 1978
       Fakultas Kedokteran Universitas
       Indonesia, Jakarta, 1995.              Widowati, L., P. Astuti, D. Indrari dan D.
                                                    Sundari, Beberapa Informasi Khasiat
                                                    Keamanan dan Fitokimia Tanaman

                                                                                     15
                                              SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                  ISSN : 2087-5045
       Pegagan, Centella asiatica (L)
       Urban, Prosiding Seminar Pegagan
       dan Cabe Jawa, Vol. I, Jakarta 8 – 9
       Januari 1992, Kelompok Kerja
       Tanaman Obat Indonesia, Jakarta,
       1992.

Winarto, W.P. dan M. Surbakti, Khasiat dan
       Manfaat Pegagan : Tanaman
       Penambah Daya Ingat, Penerbit
       Agromedia, Jakarta, 2003.




                                                                             16
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045

 PENENTUAN KADAR KALSIUM PADA IKAN KERING AIR LAUT
     DAN IKAN KERING AIR TAWAR DENGAN METODA
          SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM



                                 Ria Afrianti, Syahriar Harun
                                         STIFI Perintis


                                            Abstract



        A research has been done to determining calcium concentration on dry saltwater
and freshwater fish using atomic absorption spectrophotometry method ini 422,7 nm. From
the research, calcium concentration found in dry saltwater fish were 7,565 mg/g and 8,145
mg/g respectively for Stelophorus sp and Goura sp. Meanwhile calcium concentration in
dry freshwater were 19,155 mg/g and 13,775 mg/g respectively for Trichogaster
pectoralis and Mystacoleuseus padangensis.

Keywords : calcium determination, Stelophorus sp, Goura sp, Trichogaster pectoralis,
           Mystacoleuseus padangensis Atomic Absorption Spectrophotometry



PENDAHULUAN                                        mengkonsumsi kalsium sejak dini dapat
                                                   mencegah terjadinya osteoporosis dimasa tua
         Ikan merupakan salah satu bahan           (Darmono, 1995; Winarno, F.G, 1997).
makanan yang mengandung nutrisi yang
tinggi seperti : protein, karbohidrat, lemak,              Kalsium dalam tulang sangat penting
vitamin dan mineral. Ikan berdasarkan              dalam susunan komposisinya, berat kering
tempat hidupnya dibagi atas dua bagian yaitu       mengandung sekitar 460 g Ca/kg, 360g
ikan air laut dan ikan air tawar. Contoh ikan      protein/kg dan 180g lemak/kg. Komposisi ini
air laut antara lain : ikan tongkol, ikan          bervariasi menurut umur dan susunan nutrisi
tenggiri, ikan teri, ikan beledang dan ikan        dari hewan. Kebutuhan kalsium dapat
kakap sedangkan contoh ikan air tawar antara       diperoleh dari susu, kuning telur, keju,
lain : ikan mas, ikan nila, ikan bilih, ikan       kacang-kacangan, sayur-sayuran dan ikan
sepat dan ikan mujair. Kandungan mineral           (Robert, K, Muray, 1990 ).
yang dibutuhkan dalam jumlah relatif banyak
                                                           Penetapan kadar kalsium dapat
antara lain : fosfor, kalsium dan magnesium
                                                   dilakukan dengan berbagai cara antara lain
(H.d. Belitz. W. Grosch, 1981).
                                                   dengan metode titrasi kompleksometri, titrasi
        Kalsium adalah mineral yang paling         permanganometri      dan   spektrofotometri
banyak dibutuhkan oleh tubuh, terdapat             serapan atom. Prinsip penelitian adalah
dalam jumlah 1,5-2 % dari keseluruh berat          sampel didestruksi terlebih dahulu dengan
tubuh. Lebih 99 % kalsium terdapat dalam           menggunakan pelarut asam kuat dibantu
tulang. Kalsium juga merupakan komponen            dengan pemanasan sehingga diperoleh hasil
penting dalam pembentukkan gigi. Kalsium           destruksi yang sempurna ditandai dengan
sangat penting untuk mengatur sejumlah             larutan jernih. Pada penelitian ini kadar
besar aktivitas fungsi saraf dan otot, kerja       kalsium pada ikan kering air laut dan ikan
hormon serta pembekuan darah. Dengan               kering air tawar ditentukan dengan


                                                                                          17
                                                   SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                       ISSN : 2087-5045
menggunakan       metode     spektrofotometri            kemudian       didinginkan      dalam
serapan atom (Day, A.R, A.K, Underwood,                  desikator dan ditimbang.
1996; Rivai. H. 1995). Pada penelitian ini          2.   Cara diatas diulangi pada jarak 1 jam
sampel dibatasi karena keterbatasan waktu                hingga didapat berat yang konstan.
dan dana. Dimana ikan kering air laut               3.   Ditimbang 2 gram sampel, kemudian
diambil dua jenis yaitu ikan teri (Stelophorus           dimasukkan        kedalam       cawan
sp ) dan ikan beledang ( Goura sp ) serta dua            penguap, keringkan dalam oven pada
jenis ikan kering air tawar yaitu ikan bilih (           suhu 105°C selama 3 jam.
Mystacoleuseus padangensis ) dan ikan sepat         4.   Dinginkan dalam desikator kemudian
( Trichogaster pectoralis ).                             ditimbang.
                                                    5.   Masukkan kembali kedalam oven
                                                         pada suhu 105°C selama 1 jam.
METODE PENELITIAN                                        Dinginkan dalam desikator kemudian
                                                         ditimbang.     Kemudian       lakukan
Alat dan Bahan                                           percobaan diatas sampai didapatkan
                                                         berat yang konstan, sehingga
         Spektrofotometri serapan atom                   penentuan kandungan air sampel
alfa 4 , labu Kjeldahl, timbangan analitik               dapat dihitung dengan rumus:
digital, pipet gondok, corong, gelas ukur,
labu ukur, beker glass, pipet mikro, oven,
desikator, cawan penguap, kertas saring
whatman 42. Sampel ikan kering yaitu:
ikan kering yang berasal dari laut (ikan
teri dan ikan beledang) dan ikan kering
                                                 Keterangan:
yang berasal dari air tawar (ikan bilih dan
ikan sepat), asam nitrat pekat p.a                  B1= Berat cawan kosong
(Merck), hidrogen peroksida pekat p.a               B2= Berat cawan dengan sampel sebelum
(Merck), asam klorida pekat p.a (Merck),                 dikeringkan
kalsium karbonat (Merck), air suling.               B3= Berat cawan dengan sampel setelah
                                                         dikeringkan

Prosedur Penelitian
                                                 Pemeriksaan     Bahan      Baku     Kalsium
Pengambilan Sampel                               Karbonat

        Sampel diambil didaerah Pasar Raya                Kalsium karbonat yang digunakan
Padang, sampel yang dianalisa adalah ikan        terlebih dahulu diperiksa menurut cara yang
yang telah dibersihkan dari kotoran.             tertera pada Farmakope Indonesia edisi IV.
                                                 Pemeriksaan ini terdiri dari pemerian,
                                                 kelarutan dan identifikasi.


Penyiapan Sampel                                 Destruksi    Basah      Sampel dengan
                                                 Menggunakan Pelarut Asam Nitrat Pekat
        Ditimbang sampel sebanyak 100 g,         (HNO3) dan Hidrogen Peroksida Pekat
kemudian dibersihkan dari kotoran. Sampel        (H2O2) (Helrich, k. 1990 )
dipotong kecil-kecil kemudian diblender lalu
digerus dalam lumpang sampai homogen.               1. Sampel yang telah digerus ditimbang
                                                       sebanyak 0,5 gram dimasukkan ke
Penentuan Kandungan           Air     Sampel           dalam labu kjedahl.
(Depkes RI, 1995)                                   2. Tambahkan 25 ml asam nitrat pekat
                                                       biarkan setengah jam.
   1.   Cawan Penguap dipanaskan dalam              3. Dipanaskan     mula-mula     dengan
        oven pada suhu 105°C selama 3 jam,             pemanasan yang rendah kemudian

                                                                                        18
                                                   SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                       ISSN : 2087-5045
      dinaikkan secara perlahan-lahan,                 ukur 25 ml, tambahkan air suling
      setelah    30     menit    pemanasan             sampai tanda batas.
      dinaikkan,     dihentikan     sebentar.       c. Pembuatan larutan standar 10 g/ml
      Kemudian      diteteskan     Hidrogen            dari larutan standar 100 g/ml.
      Peroksida (H2O2) 35 % sebanyak 5                 Larutan standar 100 g/ml dipipet
      tetes dan pemanasan dilanjutkan.                 2,5 ml masukkan ke dalam labu ukur
      Penambahan         tetes     Hidrogen            25 ml, tambahkan air suling sampai
      peroksida dilakukan berulang kali                tanda batas.
      sampai larutan menjadi larutan yang           d. Pembuatan larutan standar 15 g/ml
      jernih.                                          dari larutan standar 100 g/ml.
   4. Hasil      destruksi      didinginkan,           Larutan standar 100 g/ml dipipet
      kemudian encerkan dengan air suling              3,75 ml masukkan ke dalam labu
      sampai volume 50 ml lalu disaring                ukur 25 ml, tambahkan air suling
      dengan kertas whatman 42.                        sampai tanda batas.
   5. Sampel siap diukur dengan SSA pada
                                                    e. Pembuatan larutan standar 20 g/ml
      panjang gelombang 422,7 nm.
                                                       dari larutan standar 100 g/ml.
   6. Pengulangan dilakukan 2 kali untuk
      masing-masing sampel.                            Larutan standar 100 g/ml dipipet
                                                       6,25 ml masukkan ke dalam labu
                                                       ukur 25 ml, tambahkan air suling
                                                       sampai tanda batas.


Pembuatan Larutan Standar Kalsium                Pengukuran Larutan Standar dan Sampel
                                                 dengan SSA
1000 g/ml (Haswel, S.I, 1991; Slavin, M,
1986)
                                                 Pembuatan Kurva Kalibrasi
        Timbang kalsium karbonat sebanyak
                                                    a. Pengukuran serapan dari deretan
2,498 g, masukkan dalam labu ukur 1000 ml,
                                                       larutan standar kalsium
tambahkan kira-kira 100 ml air suling,
                                                       Serapan diukur dari larutan standar
tambahkan sedikit demi sedikit 20 ml larutan
                                                       kalsium dengan konsentrasi 0, 5, 10,
HCl 12 N sampai kalsium karbonatnya larut.
Kemudian encerkan dengan air suling sampai             15, dan 20 g/ml pada panjang
tanda batas. Larutan ini mengandung 1000               gelombang 422,7 nm.
                                                    b. Buat     kurva     kalibrasi  dengan
g/ml. Dari larutan standar ini dibuat deretan
                                                       menghubungkan              konsentrasi
larutan standar dengan konsentrasi 0, 5, 10,
                                                       terhadap absorban.
15, dan 20 g/ml.

                                                 Penentuan Kadar Kalsium             dengan
Pengenceran Bertingkat Larutan Standar
                                                 Spektrofotometri Serapan Atom.
dengan Konsentrasi 0, 5, 10, 15, dan 20
g/ml                                                    Masing-masing 5 ml hasil destruksi
                                                 dipipet dan dimasukkan ke dalam labu ukur
   a. Pembuatan larutan standar 100 g/ml        50 ml tambahkan air suling sampai tanda
      dari larutan standar 1000 g/ml.           batas. Ukur absorban larutan sampel pada
      Larutan standar 1000 g/ml dipipet         panjang gelombang 422,7 nm dengan
      10 ml, masukan ke dalam labu ukur          spektrofotometri serapan atom.
      100 ml, tambahkan air suling sampai
      tanda batas.                               Pengolahan data.
   b. Pembuatan larutan standar dengan 5
      g/ml dari larutan standar 100 g/ml.              Konsentrasi larutan sampel dapat
      Larutan standar 100 g/ml dipipet          dihitung berdasarkan kurva kalibrasi
      1,25 ml masukkan ke dalam labu             larutan standar, sehingga konsentrasi
                                                 logam dalam sampel bisa dihitung.

                                                                                       19
                                               SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                   ISSN : 2087-5045
Konsentrasi logam Ca dalam ikan
dihitung dengan rumus:                              Tujuan penambahan asam nitrat
                   X .Y                      adalah agar proses pendestruksian lebih
Logam Ca ( ppm ) =      x fp
                    Z                        sempurna.     Masing-masing     sampel
                                             dilakukan 2 kali pendestruksian dengan
                                             tujuan untuk mengambil rata-rata kadar
                                             Ca yang terdapat pada masing-masing
                                             sampel dan juga untuk mengurangi
Keterangan :                                 kesalahan dalam pengukuran sampel.
X = Kosentrasi yang didapat berdasarkan
     kurva kalibrasi (g/ml)                         Metoda yang digunakan yaitu
Y = Volume larutan contoh (ml)               metoda destruksi basah dengan pelarut
Z = Berat sampel (gram)                      asam nitrat dan hidrogen peroksida.
Fp = Faktor pengenceran                      Proses    destruksi    dimulai     dengan
                                             pemanasan rendah kemudian pemanasan
                                             dinaikkan secara perlahan-lahan sampai
HASIL DAN PEMBAHASAN                         pelarutan sempurna. Proses destruksi
                                             ditandai dengan adanya buih dan uap
        Sampel yang digunakan dalam          berwarna coklat. Penambahan H2O2 -
penelitian ini adalah beberapa ikan kering   secara berulang-ulang bertujuan agar
yang beredar di pasaran, jumlah sampel       proses pendestruksian senyawa organik
yang dipilih adalah 4 macam ikan yaitu       berjalan sempurna yang di tandai dengan
ikan teri, ikan beledang, ikan bilih dan     terbentuknya     larutan    jernih.    Ini
ikan sepat.                                  menunjukkan bahwa semua konstituen
                                             yang ada telah larut sempurna atau semua
       Sampel dibersihkan lalu dipotong-     senyawa organik telah dirombak.
potong kecil kemudian diblender setelah
itu digerus dalam lumpang sampai                     Sampel yang diteliti adalah ikan
homogen. Sampel yang telah digerus           kering air laut dan ikan kering air tawar
ditimbang masing-masingnya sebanyak          dimana sampel yang diambil ini sering
0,5 gram. Sampel yang telah ditimbang        dikonsumsi       masyarakat    bersamaan
dimasukkan      dalam    labu    kjedahl     dengan tulangnya karena pada tulang
kemudian tambahkan HNO3 65 % 25 ml.          banyak terdapat kandungan kalsium.
Biarkan setengah jam. Panaskan dengan        Sebelum ditentukan kadar kalsium pada
pemanasan rendah kemudian naikkan            ikan kering air laut dan ikan kering air
suhu secara perlahan-lahan. Setelah 30       tawar     terlebih    dahulu    dilakukan
menit pemanasan dihentikan sebentar          penentuan kandungan air yang gunanya
kemudian tambahkan 5 tetes H2O2 35 %         untuk mengetahui persentase kandungan
yang dilakukan berulangkali sampai           air dalam ikan kering tersebut dan untuk
larutan menjadi jernih. Hasil destruksi      mengkonversikan kadar kalsium dalam
didinginkan, saring dengan kertas saring     sampel dengan kadar kalsium dalam
whatman No. 42 kedalam labu ukur 50          sampel kering sehingga dapat ditentukan
ml, kemudian encerkan dengan air suling      kadar kalsium dalam ikan kering air laut
sampai tanda batas. Hasil destruksi          dan ikan kering air tawar. Kandungan air
dipipet masing-masing 5 ml masukkan          yang diperoleh pada ikan kering air laut
dalam labu ukur 50 ml encerkan dengan        yaitu ikan teri 37,74 % dan ikan beledang
air suling sampai tanda batas. Hasil         39,93 % sedangkan pada ikan kering air
destruksi ini siap diukur dengan             tawar yaitu ikan sepat 25,63 % dan ikan
menggunakan spektrofotometer serapan         bilih 22,44 %. Kadar kalsium yang
atom pada panjang gelombang 422,7 nm.        diperoleh pada ikan kering air laut yaitu

                                                                                  20
                                                              SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                                  ISSN : 2087-5045
ikan teri 756,5 mg/100g dan ikan                            sedangkan ikan teri bagian yang diambil
beledang 814,5 mg/100g sedangkan                            seluruhnya karena ikan ini kecil dan bisa
kadar kalsium pada ikan kering air tawar                    dikonsumsi      masyarakat    bersamaan
yaitu ikan sepat 1915,5 mg/100g dan ikan                    dengan tulangnya. Pada ikan kering air
bilih 1377,5 mg/100g. Dari hasil tersebut                   tawar yaitu ikan sepat dan ikan bilih
dapat dilihat bahwa kadar kalsium pada                      bagian yang diambil juga seluruhnya
ikan kering air laut lebih rendah dari                      karena ikan ini kecil dan dapat
kadar kalsiun ikan kering air tawar hal ini                 dikonsumsi      masyarakat    bersamaan
disebabkan dari cara pengambilan sampel                     dengan tulangnya. Nilai gizi ikan kering
dan cara pengerjaannya.                                     sangat bervariasi tergantung pada jenis
                                                            dan kesegaran ikan yang digunakan, cara
       Pada ikan kering air laut yaitu                      penggaraman, cara penjemuran serta cara
ikan beledang bagian yang diambil                           penyimpanan. Selama penyimpanan
adalah badannya dan bagian kepalanya                        dapat saja terjadi berbagai reaksi kimia
dibuang karena kepala ikan ini besar dan                    yang dapat merusak nilai gizi ikan.
tidak dikonsumsi oleh masyarakat

Table I. Hasil Pengukuran Absorban Larutan Standar CaCO3 pada panjang gelombang
        422,7 nm dengan lampu katoda berongga Ca dalam pelarut HCl 12 N.

          No                        Konsentrasi (x) g/ml                 Absorban (y)
          1                                  0                               0,000
          2                                  5                               0,207
          3                                  10                              0,387
          4                                  15                              0,522
          5                                  20                              0,668


                        0.800

                        0.700       y = 0,0266 +
                        0.600       0,03302 x
               Sr p n




                        0.500
                                    r = 0,9960
                ea a




                        0.400

                        0.300

                        0.200

                        0.100

                        0.000
                                0          5         10          15        20         25

                                                Konse ntrasi (µg/ml)



     Gambar 1. Kurva Kalibrasi Standar CaCO3 dalam larutan HCl 12 N pada panjang
               gelombang 422,7 nm


       Persamaan regresi dan konsentrasi                    0,9960. Hasil ini menunjukkan bukti
yang didapat pada tabel 1, gambar 1 dari                    yang baik atau      korelasi erat yang
kurva kalibrasi adalah y = 0,0266 +                         menyatakan       adanya       hubungan
0,03302 x dan koefisien korelasi (r) =                      konsentrasi dengan absorbsi.

                                                                                                21
                                               SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                   ISSN : 2087-5045
                                             Haswel,     S.I, 1991, Atomic Absorption
        Ketelitian adalah ukuran yang                  Spectrocopy, Theory Design and
menunjukkan derajat kesesuaian antara                  Application Elserver, New York.
hasil uji individual yang diukur melalui
penyebaran hasil individual dan rata-rata    H.d. Belitz. W. Grosch, 1981, Food
jika prosedur diterapkan secara berulang-            Chemistry, Springer-Verlog Berlin
ulang. Ketelitian diukur sebagai standar             Heidenberg, Printed In Jermany.
deviasi dan koefisien variasi dari masing-
masing pengukuran. Untuk pengukuran
kadar Ca dalam sampel kering ikan teri       Helrich, k. 1990, Official Methods of
                                                     Analysis, 15 th ed, volume 1, USA.
diperoleh SD = 0,021 dan KV = 0,28 %;
ikan beledang diperoleh SD = 0,460 dan       Mutschler, E, 1991, Dinamika Obat, Edisi
KV = 5,64 %; ikan sepat diperoleh SD =              kelima, diterjemahkan Oleh M.B.
0,827 dan KV = 4,32 %; ikan bilih                   Widianto dan A.S. Ranti, Penerbit
diperoleh SD = 0,134 dan KV = 0,97 %.               ITB, Bandung.

                                             Rivai. H. 1995, Asas Pemeriksaan Kimia,
KESIMPULAN                                          Universitas Indonesia (UI-Press),
                                                    Jakarta.
        Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan dapat diambil kesimpulan     Robert, K, Muray, 1990, Biokimia, Harpers
                                                     Review of Brochemestry, Edisi 20,
: Bahwa kadar kalsium yang terdapat
                                                     Penerbit Buku Kedokteram EGC,
pada ikan kering air laut yaitu ikan teri            Jakarta.
adalah 7,565 mg/g ( 756,5 mg/100g ),
ikan beledang 8,145 mg/g ( 814,5             Slavin,     M, 1986, Atomic Absorption
mg/100g ) dan kadar kalsium pada ikan                  Spectroscopy,        Chemistry
kering air tawar yaitu ikan sepat = 19,155             Departemen Brookhaven National
mg/g ( 1915,5 mg/100g ) dan ikan bilih =               Laborator,New York.
13,775mg/g ( 1377,5 mg/100g). Hasil ini
menunjukkan       bahwa     ikan kering      Winarno, F.G, 1997, Kimia Pangan dan Gizi,
merupakan sumber kalsium yang baik.                 PT. Gramedia Pustaka Utama,
                                                    Jakarta.


DAFTAR PUSTAKA

Darmono, 1995, Logam Dalam Sistem
      Biologi Makhluk Hidup, Penerbit
      Universitas Indonesia (UI-Press),
      Jakarta.

Day, A.R, A.K, Underwood, 1996, Analisis
       Kimia Kuantitatif, Edisi Kelima,
       diterjemahkan    oleh    Aleysius
       Handayana Pujaatmaka, Erlangga,
       Jakarta.

Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia,
      Edisi IV, Jakarta.




                                                                                   22
                                                         SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                             ISSN : 2087-5045

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL
  BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN LENGKUAS MERAH
  (Alpinia purpurata K.Schum) TERHADAP MIKROBA PENYAKIT
                              KULIT


                   Emma Susanti, Musyirna Rahmah, Sumiati Rahman
                      Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau Pekanbaru


                                             Abstract



         The comparison of antimicrobial activity of garlic ethanolic extract (Allium sativum L.) and
red galangal ethanolic extract (Alpinia purpurata K. Schum) on microbial of skin disease has been
studied. Antimicrobial activity test was done by agar diffusion method by measuring the inhibition
diameter produced. Microbial samples used were microbes that were isolated from patients with
skin disease of tinea versicolor, ringworm and ulcer. Microbial Identification was performed by
Gram staining for bacteria. The isolation results showed that skin disease of tinea versicolor,
ringworm and ulcer were known having Gram-negative bacteria and Gram-positive bacteria such
as coccus and bacillus shape. The test results showed that ethanol extract of garlic and ethanol
extract of red galangal had medium antimicrobial activity, because it had 10-19 mm inhibition
diameter. The results showed significant difference between both of them in antimicrobial activity
on every microbial sample because (P <0.05) statistically. The greatest antimicrobial activity was
given by Red galangal ethanolic extract at 64% concentration.



Keywords: Allium sativum, alpinia purpurata, mikroba kulit



PENDAHULUAN                                           dan eksim (Soewito, 1989 dan Wibisana,
                                                      1991). Berdasarkan penelusuran literatur
                                                      pada bawang putih dengan konsentrasi 1%
                                                      memberikan zona hambat rata-rata 6,39 mm
          Obat tradisional sejak zaman dahulu         terhadap pertumbuhan jamur Candida
memainkan peranan penting dalam menjaga               albicans (Kustanto, 2003). Dan ekstrak
kesehatan, mempertahankan stamina dan                 bawang putih pada konsentrasi 5% dapat
mengobati berbagai penyakit (Soedibyo,                menghambat         pertumbuhan         bakteri
1998). Salah satu tanaman obat tradisional            Salmonella typhimurium yang setara dengan
telah digunakan oleh masyarakat Indonesia             tetrasiklin 100 µg/ml (Suharti, S, 2004),
secara turun temurun adalah tanaman bawang
putih (Allium sativum L.) dan lengkuas
merah (Alpinia purpurata K.Schum).
                                                              Lengkuas merah lebih dikenal
                                                      sebagai   tanaman     obat,  salah   satu
                                                      pemanfaatannya      untuk    menghambat
          Bawang       putih     mengandung           pertumbuhan jamur dan bakteri (Handajani,
senyawa allicin. Allicin memiliki banyak              2008). Penelitian (Yuharmen et al, 2002),
manfaat terutama dalam pengobatan penyakit            menunjukkan penghambatan pertumbuhan
kulit seperti panu, kudis, kurap, bisul, borok        mikroba oleh minyak atsiri dan fraksi

                                                                                               23
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
metanol rimpang lengkuas pada beberapa          Alat dan Bahan
spesies bakteri dan jamur. Lengkuas merah
mengandung senyawa          minyak atsiri,               Alat alat yang digunakan adalah
galangin, kaemferid, kuersetin dan eugenol      Rotary evaporator (Buchi®), timbangan
yang menyebabkan perusakan permeabilitas        analitik, autoklaf (Napco®), hot plate,
membran sel (Haraguchi et al, 1996).            Spektrofotometer UV-Vis, Inkubator, oven,
Lengkuas merah memiliki serat yang kasar        cawan Petri, pipet mikro, tabung reaksi,
dan beraroma khas, sifatnya yang panas          erlemeyer, gelas piala, batang pengaduk,
dapat digunakan sebagai obat luar untuk         gelas ukur, pinset, lampu spiritus, jarum Ose,
mengatasi penyakit kulit seperti panu, kurap,   kertas cakram, pipet tetes dan jangka sorong.
kudis, eksim dan borok (Soewito, 1989;          Sedangkan bahan yang digunakan dalam
Wibisana, 1991 dan Sinaga, 2000). Penelitian    penelitian ini adalah etanol 70%, aquadest,
menggunakan minyak atsiri lengkuas merah        NaCl 0,9%, bahan baku pembanding
pada konsentrasi 100 ppm dan 1000 ppm           ketokonazol untuk jamur dan kloramfenikol
aktif menghambat pertumbuhan bakteri            untuk bakteri, dan media Nutrient Agar (NA)
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus      (Merck®), media Sabouraud Dekstrosa Agar
dengan diameter sebesar 7 mm dan 9 mm           (SDA) (Merck® ). Mikroba yang digunakan
(Parwata dan Dewi, 2008).                       dalam penelitian ini adalah mikroba yang
                                                diisolasi langsung dari penderita penyakit
        Kulit merupakan salah satu panca        kulit panu, kurap dan bisul. Mikroba yang
indera manusia yang terletak dipermukaan        diperoleh diidentifikasi dengan pewarnaan
tubuh sehingga kulit merupakan organ            Gram dan Larutan KOH 20%.
pertama yang terkena pengaruh tidak
menguntungkan dari lingkungan dan kulit         Prosedur Kerja
juga         cenderung         mengandung
mikroorganisme sementara. Gangguan kulit        Pembuatan Sampel
yang dapat meningkat menjadi penyakit kulit
akan sangat mengganggu bagi seseorang.                 Bawang putih dan lengkuas merah
Oleh sebab itu, gangguan dan penyakit kulit     masing masing sebanyak 1 kg, dikupas dan
tersebut harus segera diobati. Untuk            dibersihkan, kemudian dirajang. Sampel
mengobati berbagai gangguan dan penyakit        dimaserasi dengan pelarut etanol 70 %
kulit tersebut dapat dilakukan dengan           selama 5 hari. Kemudian pelarutnya
membuat ramuan tradisional dari bahan-          diuapkan secara vakum sehingga diperoleh
bahan yang mudah ditemukan. (Santosa et al,     ekstrak kental 15,28 g (bawang putih) dan
2004 dan Jawetz, et al, 1996).                  14,67 g ( lengkuas merah)
         Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengisolasi bakteri dan jamur dari
                                                Isolasi Dan Pemurnian Dan Identifikasi
penderita penyakit kulit panu, kurap dan
                                                Mikroba
bisul dan mengetahui morfologi dan
klasifikasi Gram dari isolat bakteri. Menguji         Pada penyakit kulit bisul, nanah yang
dan membandingkan aktivitas antimikroba         keluar dikumpulkan dengan menggunakan
dari ekstrak etanol bawang putih dan            Swab dan pada penyakit kulit panu dan kurap
lengkuas merah terhadap bakteri dan jamur       dikerok menggunakan spatel steril kemudian
hasil isolasi. Untuk mengetahui ekstrak mana    ditanam pada media NA dan SDA kemudian
yang memiliki aktifitas terbesar dalam          diinkubasi dalam inkubator selama 1-3
menghambat pertumbuhan mikroba, dengan          minggu pada suhu 24˚-30˚C untuk
metoda difusi agar. Mikroba yang digunakan      pembenihan SDA dan diinkubasi selama 24-
adalah mikroba yang diisolasi langsung dari     48 jam pada suhu 35-37oC untuk pembenihan
penderita penyakit kulit panu, kurap dan        NA.
bisul.
                                                       Setiap mikroorganisme yang tumbuh
                                                akan tampak berkoloni setelah diinkubasi,
                                                kemudian dipisahkan kedalam medium agar
METODE PENELITIAN                               lain dengan bantuan jarum Ose secara

                                                                                        24
                                                         SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                             ISSN : 2087-5045
aseptis, kemudian. Pemindahan ini dilakukan         dan pada suhu 25o selama 72 jam untuk
secara berulang-ulang sampai diperoleh isolat       jamur. Diamati hambatan pertumbuhan
murni.      mikroba     dilakukan     secara        mikroba uji yang terjadi dan diukur diameter
organoleptis dengan mengamati bentuk                hambatan pertumbuhan yang terbentuk
koloni yang terbentuk, warna, tepi koloni,          dengan jangka sorong. Etanol 70%
dan bentuk permukaan koloni. Pengamatan             digunakan sebagai kontrol negatif dan
secara mikroskopis yaitu dengan melihat             Kontrol positif digunakan ketokonazol dan
morfologi sel mikroorganisme tersebut               kloramfenikol.
setelah pewarnaan Gram

                                                    HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian Aktivitas Antimikroba

                                                             Mikroba uji yang digunakan dalam
    a. Pembuatan suspensi mikroba uji               penelitian ini adalah mikroba yang diambil
       Koloni mikroba uji disuspensikan             langsung dari penderita penyakit kulit panu,
       dalam NaCl fisiologis. Suspensi              kurap dan bisul. Dengan tujuan untuk
       mikroba      diukur menggunakan              mengetahui bakteri dan jamur penyebab pada
       spektrofotometer UV-Vis dengan               penyakit kulit ini.
       transmitan 25% pada panjang
       gelombang 580 nm untuk bakteri dan
       transmitan 90% pada panjang
       gelombang 530 nm untuk jamur.                         Penyakit kulit panu, disebabkan oleh
                                                    jamur Malassezia furfur, penyakit kulit kurap
    b.     Penentuan aktivitas antimikroba          disebabkan oleh jamur Trichophyton rubrum
         dengan metoda difusi agar                  dan pada penyakit kulit bisul disebabkan oleh
         Pipet 1 mL suspensi mikroba uji
                                                    bakteri Staphylococcus aureus (Djuanda et
         kemudian masukkan ke dalam tabung          al, 2005), setelah dilakukan isolasi dan
         reaksi yang berisi 10 mL media NA          identifikasi mikroba dengan menggunakan
         (500C) untuk bakteri, dan media SDA
                                                    pewarnaan Gram berdasarkan morfologinya
         (500C) untuk jamur, dihomogenkan,          pada penyakit kulit panu, ditemukan bakteri
         kemudian media dituangkan kedalam          Gram negatif yang berbentuk coccus, pada
         cawan Petri dan dibiarkan memadat.
                                                    penyakit kulit kurap ditemukan juga bakteri
       Larutan sampel dengan masing-                Gram positif yang bernbentuk streptobasil
masing konsentrasi (64%, 32% , 16%, 8%,             dan streptococcus dan pada penyakit kulit
4%, 2 % dan 1% dipipet dengan pipet mikro           bisul juga ditemukan jamur yang memiliki
10 µL, dan diteteskan pada cakram. Cakram           hifa panjang bercabang, yang dikelilingi oleh
ditanam pada cawan Petri, lalu diinkubasi           spora yang berkelompok. Hal ini disebabkan
pada suhu 37oC selama 24 jam untuk bakteri          karena terjadi kontaminasi mikroba terhadap
                                                    penyakit kulit ini.


               Tabel 1. Hasil Isolasi Mikroba Penyakit Kulit Panu, Kurap dan Bisul

           Penyakit                Media Uji
  No                                                                    Gambar
            Kulit                    NA



                          Bakteri (P1) tersebut adalah
   1         Panu          bakteri Gram negatif yang
                                berbentuk coccus




                                                                                           25
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045



                          Bakteri (K2) bakteri Gram
                            positif yang berbentuk
                                  streptobasil



   2         Kurap


                          Bakteri (K3) adalah bakteri
                            Gram positif berbentuk
                                  streptococcus




                         Bakteri (B1) tersebut adalah
                           bakteri Gram positif yang
                               berbentuk coccus


   3         Bisul


                       Bakteri (B3) adalah bakteri Gram
                                positif berbentuk
                                 staphylococcus




        Menurut literatur diameter hambat           (ANOVA) dua arah. Setelah dilakukan uji
yang beraktivitas lemah adalah < 10 mm,             statistik terdapat perbedaan yang nyata antara
diameter hambat yang beraktivitas sedang            ekstrak bawang putih dan lengkuas merah
10-19 mm, dan diameter hambat yang                  terhadap bakteri panu, kurap dan bisul pada
beraktivitas kuat > 20 mm (Sukandar, 1987).         konsentrasi 2%-64% karena (P<0,05), dan
Analisa data aktivitas antimikroba dilakukan        pada konsentrasi 1% tidak berbeda nyata
secara statistik menggunakan analisa varian         karena (P>0,05)




Tabel 2. Hasil Pengujian Aktivitas Antimikroba Ekstrak etanol bawang putih dan Ekstrak Etanol
         Lengkuas Merah

                       Mikroba
                                          Diameter daerah hambat rata-rata ( mm)
                          Uji
       No.   Perlakuan
                         Hasil
                                                           Konsentrasi
                        Isolasi
                                     1%    2%    4%       8%     16%     32%    64%    K(+)
       1.    Ekstrak        P1       6     6,8   7,6      9,3    10,2    11,3   12,7   26,4
             Etanol         K2       6     6,6   7,7      9,9,   11,5    12     13,7   22,1

                                                                                              26
                                                             SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                                 ISSN : 2087-5045
              Bawang           K3      6     6,9      7,2     9,3    11,2   11,8   12,5   18,3
              Putih            B1      6     7,1      8,2     9,2    10,1   11,6   13,6   20,6
                               B3      6     6,1      7,4     10,6   11,2   12,5   13,7   20,1
        2.    Ekstrak          P1      7,2   9,4      11,3    12,5   13,3   13,6   14,4   26,4
              Etanol           K2      6,5   9,1      10,3    11,3   12,1   13,4   14,2   22,5
              Lengkuas         K3      6,9   7,9      8,8     10,7   11,9   12,8   14,6   18,6
              Merah            B1      6,5   8,5      9,7     11,2   12,3   13,2   14,6   20,4
                               B3      6,8   7,9      9,2     10,6   12,2   13,6   15,2   20,3


         Keterangan :
         P1    :   Hasil isolasi dari bakteri panu
         K2   :    Hasil isolasi dari bakteri kurap
         K3   :    Hasil isolasi dari bakteri kurap
         B1   :    Hasil isolasi dari bakteri bisul
         B3   :    Hasil isolasi dari bakteri bisul
         K+   :    Kontrol positif (kloramfenikol)

         Pengujian aktivitas antimikroba dari                2. Pengujian aktivitas antimikroba pada
ekstrak bawang putih dan ekstrak lengkuas                       ekstrak etanol bawang putih dan
merah dikategorikan sedang ini kemungkinan                      lengkuas     merah      dikategorikan
disebabkan oleh persentase zat aktifnya yang                    mempunyai aktivitas sedang dalam
tidak terlalu besar dalam tanaman tersebut.                     menghambat mikroba penyakit kulit
Perbedaan aktivitas antimikroba dari ekstrak                    panu, kurap dan bisul karena
bawang putih dan lengkuas merah terhadap                        mempunyai diameter hambat 10-19
bakteri dan jamur mungkin disebabkan                            (mm)
karena perbedaan morfologi dan biokimia
dari bakteri dan jamur, dimana secara
morfologi dinding sel bakteri terdiri atas
peptidoglikan 60-100%, lipid 1-4% dan asam                   1. Analisa data menggunakan ANOVA
                                                                dua arah memperlihatkan aktivitas
teikoat untuk bakteri Gram positif,
peptidoglikan 10-20% dan lipid 11-12%                           antimikroba berbeda secara signifikan
untuk bakteri Gram negatif. Sedangkan                           antara ekstrak lengkuas merah dan
morfologi dinding sel jamur terdiri atas kitin                  bawang putih terhadap bakteri panu,
dan selulosa. Perbedaan struktur dinding sel                    kurap dan bisul pada konsentrasi 2%-
jamur dan bakteri ini yang menyebabkan                          64% karena (P<0,05). Terhadap jamur
perbedaan diameter hambat. Disamping itu,                       panu, kurap dan bisul memperlihatkan
adanya faktor-faktor yang mempengaruhi                          perbedaan yang nyata antara ekstrak
dalam pengujian aktivitas di antranya adalah                    bawang putih dan lengkuas merah
kecepatan difusi dari zat yang berbeda-beda                     pada konsentrasi 8%-64% karena
dan kecepatan mikroba tersebut merespon zat                     (P<0,05).
aktif (Pelczar and Chan, 1988).

                                                        DAFTAR PUSTAKA

KESIMPULAN
                                                        Cappuccino, J. G. and N. Sherman, 1983,
   1.    Hasil isolasi mikroba menunjukkan                    Microbiology a Laboratory Manual,
        pada penyakit kulit panu, kurap dan                   Addison-Wesley             Publishing
        bisul diketahui ada bakteri Gram                      Company, Inc., California.
        positif dan bakteri Gram negatif
        berbentuk coccus dan basil                      Djuanda, A., M. Hamzah dan S. Aisah, (Ed),
                                                               2005, Ilmu Penyakit Kulit dan

                                                                                                 27
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
        Kelamin, Edisi ke-4, Fakultas           Soewito,   D.S.,    1989,     Jaga      Raga
        Kedokteran Universitas Indonesia,              (Memanfaatkan Khasiat Flora),
        Jakarta.                                       Percetakan Stella Mars, Jakarta.

Haraguchi, H., Y. Kuwata, K. Inada, K.          Soedibyo, M.B.R.A, 1998, Alam Sumber
      Shingu, K. Miyahara, M. Nagao,                   Kesehatan Manfaat dan Kegunaan,
      and A. Yagi, 1996, Antifungal                    Cetakan pertama, Penerbit Balai
      Activity from Alpinia galanga and                Pustaka, Jakarta.
      The Competition for
      Incorporation of Unsaturated              Sinaga, E, 2000. Botani Lengkuas merah
                                                       (Alpinia purpurata K.Schum). Pusat
      Fatty Acids in Cell Growth,                      Penelitian   dan    Pengembangan
      Planta Medica 62:308-313.                        Tumbuhan         Obat      UNAS/
                                                       P3TOUNAS. http;//iptek.apjii.or.id.
Handajani, N.S, 2008, Aktivitas ekstrak                Diakses pada tanggal 16 Januari
       rimpang lengkuas (Alpinia Galanga)              2010.
       terhadap      pertumbuhan      jamur
       aspergillus spp. penghasil aflatoksin    Santosa, D., dan Gunawan, D., 2004,
       dan      Fusarium      Moniliforme,              Ramuan Tradisional untuk Penyakit
       Biodiversitas Vol.9, nomor 3, hal                Kulit, Penebar Swadaya, Jakarta.
       161-164.
                                                Suharti,      S, 2004, Kajian Antibakteri
Kustanto, W. K., 2003, Aktivitas antifungi                 Temulawak, Jahe, dan Bawang putih
       bawang putih (Allium sativum Linn)                  terhadap        bakteri     Salmonella
       terhadap Candida albicans secara in                 Tiphymurium          serta    Pengaruh
       Vitro.    http://litbang.depkes.go.id.              bawang putih terhadap Performans
       Badan Litbang Kesehatan. Diakses                    dan Respon Imun Ayam Pedaging,
       pada tanggal 12 Januari 2010.                       http://irrc.ipb.ac.id. Skripsi: Institut
                                                           Pertanian Bogor. Diakses pada
Lingga, M. E dan M. M. Rustama, 2010, ‘Uji                 tanggal 05 Februari 2010.
        Aktivitas Antbakteri dari Ekstrak Air
        dan Ekstrak Etanol Bawang putih         Wibisana, W., Farouq dan Muhastiningsih,
        (Allium sativum L.) Terhadap                   1991, Pemanfaatan Tanaman Obat
        Bakteri Gram Positif dan Gram                  Untuk Kesehatan          Keluarga,
        Negatif yang Diisolasi dari Udang              Departemen Kesehatan R.I, Jakarta.
        Dogol Metapenaeus monoceros),
        Udang Lobster (Panulirus Sp) dan        Yuharmen, Y., Y. Eryanti, dan Nurbalatif,
        Udang Rebon (Mysis dan Aecetes)”,             2002, Uji Aktivitas Antimikroba
        http://www.docstoc.com,      Skripsi:         Minyak Atsiri dan Ekstrak Metanol
        Universitas Padjajaran, Sumedang,             Lengkuas (Alpinia galanga). Jurnal
        Diakses pada tanggal 7 Agustus                Nature Indonesia, 4 (2): 178-183.
        2010.

Pelczar, M.J. and E.C.S. Chan, 1988, Dasar-
        dasar Mikrobiologi, Diterjemahkan
        oleh R.H. Oetome, dkk, Penerbit UI
        Press, Jakarta.

Sukandar E.Y., 1987, “Isolasi Antibiotika
       Antifungi    dari     Streptomyces
       Indosiensis ATCC 35859”, Disertasi
       Program Doktor, ITB, Bandung.




                                                                                             28
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045

  PENGARUH PEMBERIAN RUTIN DAN KUERSETIN TERHADAP
  KESTABILAN PIGMEN ANTOSIANIN DARI KELOPAK BUNGA
                       ROSELLA
                 (Hibiscus sabdariffa L.)


                 Musyirna Rahmah Nasution1, Deddy Permana2, Mirwan Arif1
                   1
                    Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, 2 Universitas Andalas


                                             Abstract


         Effect of Quercetin and Rutin induced the stability of Petal anthocyanin pigment
of roselle (Hibiscus sabdariffa L.) has been studied. Concentration of copigment are 1
mg/mL, 0.5 mg/mL and 0.25 mg/mL. Research was conducted using UV-Vis
spectrophotometry. The results showed that the addition of routine and quercetin
copigmen on concentration of 1 mg/mL, 0.5 mg/mL and 0.25 mg/mL can stabilize the
pigment anthocyanin petal roselle (Hibiscus sabdariffa L.) significantly (P <0.05 ).
Copigmen on aglikon give the higher protection compare to glycosida.

Keywords : quercetin, rutin, anthocyanin, copigment, spectrophotometry



PENDAHULUAN                                         banyak      digunakan     adalah    golongan
                                                    flavonoid, diantaranya adalah flavon,
        Antosianin merupakan pewarna                flavonol, flavanon dan flavanol (Rein, 2005).
makanan alami yang menimbulkan warna                Dari uraian diatas, maka perlu dilakukan
merah, oranye, ungu dan biru, dan ini banyak        penelitian     untuk    melihat    kestabilan
terdapat pada bunga seperti bunga mawar,            antosianin tanpa atau dengan penambahan
pacar air, kembang sepatu, bunga                    senyawa flavonol glikosida rutin dan
tasbih/kana, krisan, pelargonium, aster cina        aglikonnya. Pengukuran antosianin total
dan rosella. Selain itu antosianin juga banyak      dilakukan menggunakan metoda perbedaan
terdapat pada buah-buahan seperti buah apel,        pH yang diukur pada 2 panjang gelombang
chery, anggur, strawberi, dan juga terdapat         yaitu 510 nm dan 700 nm dengan pH 1 dan
pada buah manggis dan umbi ubi jalar                pH 4,5 (A.O.A.C, 2005).
(Hendry, 1996). Secara kimia semua
antosianin merupakan turunan suatu struktur
aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan
semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini         METODA PENELITIAN
dengan penambahan atau pengurangan gugus
hidroksil atau dengan metilasi atau glikosilasi
(Harborne, 1967).                                   Alat dan bahan

        Kestabilan antosianin dipengaruhi                   Alat-alat yang digunakan adalah
oleh beberapa faktor antara lain adalah faktor      botol volume, beker glass, Erlenmeyer, pipet
cahaya, temperatur, oksigen, enzim, asam            tetes, pipet mikro, timbangan, labu ukur,
askorbat dan pH. Selain itu copigmen juga           gelas ukur, pial, mesin grinder, spatel dan
berpengaruh terhadap kestabilan zat warna           spektrofotometer UV-Vis Pharmaspec 1700
antosianin. Kelompok copigmen yang                  (Shimadzu ®)

                                                                                           29
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
                                                volume ke dalam beker 100 ml yang berisi
         Bahan-bahan yang digunakan untuk       aquadest sepertiganya dan cukupkan hingga
proses ekstraksi adalah kelopak bunga rosella   100 ml dengan aquadest. Campurkan 25 ml
(Hibiscus sabdariffa) yang telah dikeringkan,   larutan KCl dan 67 ml HCl dilusi 0,2 N, atur
aquades, kalium klorida, natrium asetat ,       pH sampai 1,0.
asam klorida 10 N, rutin, kuersetin, metanol
destilasi.
                                                Pembuatan dapar sodium asetat pH 4.5

Identifikasi sampel
                                                        1,640 gram CH3COONa 3H2O
        Identifikasi   sampel (Hibiscus         dilarutkan dengan aquadest dalam beker
sabdariffa L.) dilakukan di Laboratorium        hingga 100 ml. Atur pH menjadi 4,5 dengan
Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu            penambahan HCl 0,2 N jika diperlukan.
Pengetahuan Alam Universitas Riau.
                                                Pengukuran         antosianin       dengan
                                                spektrofotometer UV-Vis
Penyiapan sampel
                                                        Sampel dipipet 150 µL dengan
        1 kg sampel segar yang masih utuh       menggunakan pipet mikro dan ad kan dengan
dengan     bijinya   disortir,   kelopaknya     aquadest sampai volume 1 mL. Kemudian
dipisahkan     dari   bijinya.    Kemudian      tambahkan 4 mL dapar pH 1. Perlakuan
kelopaknya dipisahkan menjadi 2 bagian          yang sama juga dilakukan untuk dapar pH
sama banyak, kemudian dikeringkan.              4,5. Ukur absorban masing-masing sampel
Pengeringan dilakukan dengan dua cara yaitu     pada panjang gelombang 510 nm dan pada
dengan cahaya matahari langsung dan oven.       700 nm.
Sampel yang sudah kering dihaluskan dengan
mesin penggiling (Depkes RI, 1985). Sampel              Jumlahkan absorban dari dilusi
ditimbang masing-masing 250 mg dan              sampel dengan cara di bawah ini :
dipanaskan dengan water batch dalam 5 ml        A = (A510nm – A700nm) pH 1.0 – (A510nm – A-
aquadest sehingga didapatkan filtratnya. Sisa        700nm) pH 4.5
sampel disimpan untuk persiapan uji
selanjutnya.                                           Sedangkan antosianin total pada
                                                sampel didapatkan dengan menggunakan
                                                rumus dibawah ini :
                                                Jumlah pigmen antosianin (mg/L) = (A x
                                                MW x DF x 1000)/(ε x 1)
Evaluasi        antosianin            secara
spektrofotometer UV-Vis                         Dimana :
                                                A   = (A510nm – A700nm)pH 1.0 – (A510nm – A-
        Analisa     antosianin     secara             700nm)pH 4.5
spektrofotometer     UV-Vis       dengan        MW = Berat molekul (449,2 g/mol)
pengukuran pada 2 panjang gelombang yaitu       DF = Faktor Dilusi
510 nm dan 700 nm dengan pH 1dan pH 4,5         l  = tebal kuvet (cm)
(A.O.A.C, 2005).                                ε = 26900 (l/mol cm)


Pembuatan dapar potassium klorida ph            Pengujian stabilitas pigmen antosianin
1.0                                             dengan penambahan copigmen rutin dan
                                                kuersetin

       1,490 gram KCl dilarutkan dengan                Simplisia     yang      mempunyai
aquadest dalam beker hingga 100 ml.             kandungan antosianin yang paling tinggi
Siapkan HCl dilusi 0,2 N dengan                 akan    didapatkan    setelah    dilakukan
memasukkan 2 ml HCl 10 N dengan pipet           pengukuran       dengan       menggunakan

                                                                                       30
                                                     SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                         ISSN : 2087-5045
spektrofotometer-UV.    Sampel tersebut            digunakan untuk pemanasan adalah aquadest.
dilanjutkan dengan penambahan senyawa              Pemilihan aquadest sebagai pelarut karena
rutin dan      kuersetin untuk  melihat            dapat melarutkan senyawa-senyawa yang
stabilitasnya.                                     terkandung didalamnya dan harga yang
                                                   relatif murah. Pemanasan dilakukan pada
        Sampel kering yang mengandung              suhu 600 C selama 60 menit. Dengan
kadar antosianin yang tinggi tersebut di           pemanasan pada suhu dan waktu tersebut
ekstraksi menggunakan aquadest. 1,25 gram          agar senyawa-senyawa yang terkandung
dipanaskan dalam 25 mL aquadest dengan             didalamnya tidak mengalami kerusakan atau
perbandingan 1:20 pada suhu 600C selama 60         degradasi.
menit, saring kedalam labu ukur dan
cukupkan dengan aquadest hingga volume 25
mL (Chumsri, et al ). Dilakukan perlakuan
tersebut untuk mendapatkan 7 sampel uji
yang masing-masing 1 sampel sebagai                Pengukuran absorban dan perhitungan
kontrol, 3 sampel ditambahkan rutin dengan         antosianin total dengan pengeringan
konsentasi 1 mg/mL, 0,5 mg/mL, 0,25                dengan oven dan rumah kaca.
mg/mL, dan 3 sampel lainnya ditambahkan
kuersetin dengan konsentrasi yang sama                     Untuk pengukuran antosianin total
dengan rutin. Pengukuran stabilitas dilakukan      dengan pengeringan oven dan rumah kaca,
pada hari ke 0, hari 1, hari ke 3, 5, 7, 14, 21,   digunakan sampel kering yang telah
dan 30 dengan perlakuan yang sama seperti          dihaluskan. Sampel kering yang telah
pengukuran total antosianin. Sampel                dihaluskan ditimbang 0,250 mg dan
disimpan di tempat gelap.                          dipanaskan dalam 5 mL aquadest, kemudian
                                                   disaring sehingga didapatkan filtratnya.
                                                   Kemudian diukur absorbannya dan dihitung
HASIL DAN PEMBAHASAN                               kadarnya. Kadar yang diperoleh dengan
                                                   pengeringan di oven adalah 31,50 mg/g
Pengumpulan dan ekstraksi kelopak                  sampel, sedangkan dengan pengeringan
bunga rosella (hibiscus sabdariffa l.).            rumah kaca adalah 32,02 mg/g sampel. Hal
                                                   ini menunjukkan bahwa proses pengeringan
        Sampel segar kelopak bunga rosella         berpengaruh terhadap kadar antosianin yang
diperoleh dari pasar Dupa Pekanbaru, Riau.         terkandung dalam simplisia tersebut.
Pengeringan dilakukan dengan 2 cara
pengeringan yaitu dengan oven dan rumah
kaca. Dari 1 kg sampel segar yang masih
utuh dengan bijinya, didapatkan 500 g
kelopak yang sudah dipisahkan dengan
bijinya, setelah dikeringkan didapatkan            Pengukuran absorban dan uji stabilitas
sampel kering 70 g, berat simplisia 14% dari       pigmen antosianin kelopak bunga rosella
sampel segar.                                      dengan penambahan copigmen rutin dan
                                                   kuersetin
        Sampel kering kemudian dihaluskan
dengan     mesin    penggiling    (grinder).               Untuk    uji    stabilitas  pigmen
Penghalusan sampel bertujuan untuk                 antosianin kelopak bunga rosella dengan
memperluas permukaan dari sampel sehingga          penambahan copigmen rutin dan aglikonnya
zat aktif yang terkandung di dalam sampel          kuersetin, digunakan sampel kering yang
lebih mudah tersari oleh pelarut yang              telah dikeringkan di rumah kaca. Sampel
digunakan. Metoda ekstraksi adalah dengan          yang telah dihaluskan ditimbang 1,25 g
metoda pemanasan. Metoda ini digunakan             sampel dan dipanaskan dalam 25 mL
karena pengerjaannya mudah dan tidak               aquadest pada suhu 600 C selama 60 menit.
membutuhkan waktu yang lama. Pemanasan
dilakukan dengan water batch yang memiliki                Dari hasil perhitungan didapatkan
pengatur suhu dengan tujuan agar suhu dapat        bahwa antosianin kontrol mengalami
terkontrol dengan baik. Pelarut yang               penurunan kadar yang sangat signifikan. Hal

                                                                                         31
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045
ini menunjukkan bahwa antosianin tanpa               pigmen antosianin kelopak bunga rosella, ini
diberikan apa-apa sangat tidak stabil (Tabel         menunjukkan bahwa senyawa golongan
1). Secara umum, dapat dilihat bahwa                 flavonol dapat      menstabilkan pigmen
penambahan copigmen dapat menstabilkan               antosianin              (Rein,       2005)


Tabel 1. Kadar Antosianin Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)                    (mg/g
           simplisia)


       Perlakuan               Kadar antosianin kelopak bunga rosella (mg/g simplisia) hari ke-
                              0       1         3       5        7       14        21         30
Kontrol                    31,98 31,35 28,77 26,24 25,24 21,83 16,43                       15,64

Rutin 1 mg/ml              24,88    24,34    23,63   21,96    26,20    23,58    19,89     18,35

Rutin 0,5 mg/ml            26,56    25,11    24,38   23,01    29,77    23,25    17,78     16,43

Rutin 0,25 mg/ml           29,99    28,92    27,42   26,08    32,03    30,16    27,83     21,78

Kuersetin 1 mg/ml          28,75    27,79    26,92   25,19    31,89    28,60    26,13     23,34

Kuersetin 0,5 mg/ml        29,03    28,39    28,02   25,55    33,20    28,66    28,27     22,70

Kuersetin 0,25mg/ml        25,79    23,98    23,08   21,55    27,25    23,56    21,39     18,37



         Senyawa flavonol yang digunakan             bisa dipecahkan oleh penulis dan dapat
adalah rutin (glikosida) dan kuersetin (non          dijadikan sebagai bahan penelitian untuk
glikosida). Dari hasil perhitungan terlihat          peneliti berikutnya.
bahwa penambahan glikosida dan non
glikosida dapat mempertahankan stabilitas                    Penambahan rutin dan kuersetin
antosianin dengan kemampuan yang berbeda.            dengan berbagai konsentrasi yaitu 1 mg/mL,
Flavonol dalam bentuk non glikosida                  0,5 mg/mL dan 0,25 mg/mL. Dari hasil
memiliki kemampuan mempertahankan                    perhitungan terlihat bahwa konsentrasi juga
pigmen antosianin yang lebih kuat                    mempengaruhi stabilitas pigmen antosianin,
dibandingkan dalam bentuk glikosidanya               perbandingan tersebut memberikan proteksi
karena senyawa dalam bentuk gula dapat               yang bervariasi terhadap pigmen antosianin.
menurunkan stabilitas pigmen antosianin              Hasil statistik secara umum menunjukkan
(Krifi et al. 2000).                                 bahwa penambahan copigmen rutin dan
                                                     kuersetin dengan berbagai perbandingan
        Pada perhitungan kadar antosianin            berbeda nyata terhadap kontrol dengan
(Tabel 1), pada hari ke-0 terlihat kadar yang        P<0,05. Penambahan kuersetin dengan
bervariasi, hal ini disebabkan karena faktor         konsentrasi 1 mg/ml memberikan proteksi
penambahan        copigmen      dan     faktor       yang tinggi terhadap pigmen antosianin
penyaringan setelah pemanasan serta faktor           karena berdasarkan hasil perhitungan hingga
pengenceran. Kontrol dan penambahan                  hari ke-30, kuersetin 1 mg/mL tersebut dapat
copigmen mengalami penurunan yang                    mempertahankan kadar antosianin sebesar
konstan dari hari ke-0 hingga seterusnya.            81,18%. Hal ini juga menunjukkan bahwa
Namun pada hari ke-7 kadar antosianin yang           bentuk copigmen (glikosida dan non
ditambahankan copigmen naik, tetapi pada             glikosida)      mempengaruhi       stabilitas
hari selanjutnya tetap mengalami penurunan           antosianin.
hingga perhitungan hari ke-30. Hal ini
menjadi salah satu permasalahan yang belum

                                                                                            32
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
KESIMPULAN                                      Krifi B, Chouteau F, Boudrant J and Metche
                                                        M.,      2000,     Degradation     of
   1.   Rutin     dan    kuersetin     dapat            Anthocyanins from Blood Orange
        menstabilkan pigmen antosianin                  Juices, Int J Food Sci Techn, 35:275-
        kelopak bunga rosella (Hibiscus                 283
        sabdariffa L.)
   2.   Copigmen dalam bentuk aglikon           Markakis P., 1982, Stability of Anthocyanins
        memberikan proteksi yang lebih                 in Foods. In: Anthocyanins as food
        tinggi daripada bentuk glikosidanya            Colors, Markakis P (ed.), Academic
        dalam      menstabilkan      pigmen            Press Inc, New York,p.163-178
        antosianin kelopak bunga rosella
        (Hibiscus sabdariffa L.), konsentrasi   Mazza G and Brouillard R., 1987, Recent
        terbaik dalam menstabilkan pigmen             Developments in the Stabilization of
        antosianin adalah kuersetin dengan            Anthocyanins in Food Products”,
        konsentrasi 1 mg/mL.                          Food Chem, 25:207-225

                                                Mahadevan., Shivali and Kamboj, P., 2008,
DAFTAR PUSTAKA                                        Hibiscus      sabdariffa    Linn.-An
                                                      overview,        Department       of
A.O.A.C., 2005, Official Method 2005.02               Pharmacognosy, Punjab, India
      Total    Monomeric     Anthocyanin
      Pigmen Content of Fruit Juices,           Rein, M., 2005, Copigmentation reaction and
      Beverages, Natural Colorants, and                color stability of berry anthocyanins,
      Wines., J AOAC Int 88.12692                      Disertasi, Department of Applied
                                                       Chemistry       and     Microbiology,
Chumsri, P, Anchalee Sirichote and                     University of Helsinki
      Arunporn Itharat., 2007, Studies on
      the optimum condition for the
      extraction and concentration of
      roselle ( Hibiscus sabdariffa Linn.)
      extract.,   Songklanakarin     J.Sci.
      Technol. 30 (Suppl.1), 133-139

Depkes RI, 1985, Cara Pembuatan Simplissa
       yang Baik, Direktorat Jendral Obat
       dan Makanan

Hendry, 1996, Natural Food Colorants.,
       Blackie Academic & Proffesional,
       London

Harborne, J.B., 1967,       Comparative
       Biochemistry    of   Flavonoids.,
       Academic Press, London and New
       York

Kim, C.J., Chung, M and Chi.Y.H., 1982,
      Pharmacological       Activities of
      Flavonoids Relationship of Chemical
      Structur of Flavonoids and Their
      Inhibitor          Activity      of
      Hipersensitivities, J. Pharm Cung
      Ang., 345, 348-364



                                                                                       33
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045

  UJI EFEK ANALGETIK HERBA SURUHAN (Peperomia Pellucida)
               PADA MENCIT PUTIH BETINA

                                        Dwi Mulyani
                             Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi


                                             Abstract


         A Study has been conducted to investigating the analgesic effect of Suruhan Herba
(Peperomia pellucida) on female albino mice. Pain on mice was induced by injectioning 1%v/v
sterile acetic acid at a dose of 300 mg/kg body weight via the intra peritoneal route. The
investigation was done using 30%, 45%, and 60% Peperomia pellucida extract. From the research,
it was found that the percentage of analgesic activity of 30%, 45%, and 60% of Peperomia
pellucida extract were: 10.58%, 44.92% and 56.8%.The t test showed that t count>t table at a
concentration of 60%. So statistically the 60% Peperomia pellucida extract can be inferred
efficacious analgesic on female albino mice.

Keywords: Peperomia pellucida, analgesic activity



PENDAHULUAN
                                                    METODA PENELITIAN
         Setiap manusia dapat mengalami
nyeri, yang merupakan suatu gejala adanya
gangguan pada tubuh. Untuk mengatasinya             Alat
digunakan senyawa analgetik yang dalam
dosis terapi meringankan atau menekan rasa
sakit tanpa menghilangkan kesadaran                          Timbangan, lampu spiritus, kaki tiga,
(Katzung, 2002).                                    Erlenmeyer, corong, batang pengaduk,
                                                    saringan, becker glass, gelas ukur, penetes,
        Selain     penggunaan        obat-obat      lumpang, stamfer, spidol, spuit injeksi, spuit
analgetik untuk mengatasi rasa nyeri,               oral, stop watch dan vial.
sejumlah obat tradisional juga sering dipakai
sebagai obat alternatif. Salah satu tumbuhan
yang secara tradisional digunakan dalam
mengatasi rasa sakit/nyeri adalah herba
Suruhan (Peperomia pellucida) (Dalimarta,
2005). Herba ini sering digunakan untuk             Bahan
demam, sakit kepala, sakit perut dan nyeri
rematik.                                                       Air rebusan Herba Suruhan
                                                    (Peperomia pellucida) dalam tiga konsentrasi
         Penelitian ini dilakukan untuk             30%,45% dan 60%, tragakan 1%, aqua-dest,
menginvestigasi efek analgetika ekstrak             asetosal, larutan steril asam asetat 1%v/v dan
herba suruhan pada mencit putih betina              etanol 70%
menggunakan metoda induksi geliat. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memperkaya
data farmakologi herba suruhan serta                Hewan Uji
memberikan tambahan pilihan pengobatan
analgetika alternatif yang murah, aman, dan                 Mencit putih jantan 18 ekor dengan
mudah didapatkan.                                   berat badan 17 – 25 gram. Hewan uji dibagi
                                                    atas 6 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari

                                                                                            34
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045
tiga ekor dan masing-masing ditimbang                      1%v/v dengan dosis 300mg/kgBB
sebelum digunakan.                                         secara      intraperitonial    sebagai
                                                           perlakuan C. Biarkan selama 5 menit
                                                           kemudian amati dan catat jumlah
Uji Aktifitas Analgetik                                    geliat tiap 30 menit selama 3 jam.

                                                        4. Mencit kelompok IV, V dan VI
   1. Mencit kelompok I diberi aquadest                    diberi Air rebusan Herba Suruhan
      0,5ml secara oral sebagai perlakuan                  (Peperomia      pellucida)   masing-
      A ( control normal). Kemudian amati                  masing konsentrasi 30%,45% dan
      dan catat jumlah geliat tiap 15 menit                60% sebanyak 0,5ml secara oral,
      selama 3 jam.                                        biarkan 15 menit kemudian diberi
                                                           larutan asam asetat steril 1%v/v
   2. Mencit kelompok II diberi larutan                    dengan dosis 300mg/kgBB secara
      asam asetat steril 1%v/v dengan                      intraperitonial sebagai perlakuan C.
      dosis       300mg/kgBB         secara                Biarkan selama 5 menit kemudian
      intraperitonial sebagai perlakuan B                  amati dan catat jumlah geliat tiap 30
      (control nyeri). Biarkan selama 5                    menit selama 3 jam.
      menit kemudian amati dan catat
      jumlah geliat tiap 30 menit selama 3
      jam.                                        HASIL DAN PEMBAHASAN

   3. Mencit kelompok III diberi suspensi
      asetosal dengan dosis 50 –                          Dari penelitian uji efek analgetika
      75mg/kgBB dalam tragakan 1%                 yang telah dilakukan, didapatkan hasil seperti
      secara oral.15 menit kemudian               tersaji    pada       tabel-tabel    berikut:
      diberi larutan asam asetat steril

                          Tabel 1. Jumlah geliat mencit kelompok I

                                  Jumlah geliat menit ke                             Jumlah
  Mencit
                30’        60’         90’        120’         150’        180’       geliat

      1          0          0           0          0             0          0            0

      2          0          0           0          0             0          0            0

      3          0          0           0          0             0          0            0

   Rata-
                 0          0           0          0             0          0            0
   rata




                          Tabel 2. Jumlah geliat mencit kelompok II

                                  Jumlah geliat menit ke                             Jumlah
  Mencit
                30’        60’         90’        120’         150’        180’       geliat


                                                                                             35
                                              SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                  ISSN : 2087-5045
  1      57       26         21          20           14        15        153

  2      83       20         19           5           10        12        149

  3      86       31         23          11           8          2        161

Rata-
         75,3    25,6        21          12          10,6       9,6      154,3
rata



                Tabel 3. Jumlah geliat mencit kelompok III

                        Jumlah geliat menit ke                          Jumlah
Mencit
         30’     60’         90’        120’         150’      180’      geliat

  1      34       8           3           0           0          0        45

  2      16       5           2           0           0          0        23

  3      16       8           6           0           0          0        30

Rata-
         22       7          3,6          0           0          0       32,6
rata



                Tabel 4. Jumlah geliat mencit kelompok IV

                        Jumlah geliat menit ke                          Jumlah
Mencit
         30’     60’         90’        120’         150’      180’      geliat

  1      55       29         21          16           13        11        145

  2      60       20         10           6           12        10        118

  3      61       27         20          17           14        12        151

Rata-
         58,6    25,3        17          13           13        11        138
rata



                Tabel 5. Jumlah geliat mencit kelompok V
                        Jumlah geliat menit ke                          Jumlah
Mencit
         30’     60’         90’        120’         150’      180’      geliat

  1      69       22         23          14           10         2        140


                                                                               36
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045
      2           39          11           7        6           5           1          69

      3           22          10           6        4           3           1          46

    Rata-
                43,3         14,3         12        8           6          1,3         85
    rata




                           Tabel 6. Jumlah geliat mencit kelompok VI

                                    Jumlah geliat menit ke                          Jumlah
   Mencit
                 30’         60’          90’     120’         150’       180’       geliat

      1           44          19          12        9           5           4          93

      2           33          16           9        5           4           3          70

      3           22          8            5        2           0           0          37

    Rata-
                  33         14,3         8,6      5,3          3          2,3        66,6
    rata


        Dari data-data tersebut didapatkan                 Dari penelitian yang dilakukan
persentase daya analgetik untuk masing-            terhadap mencit menunjukan terjadinya
masing konsentrasi ekstrak herba suruhan           penurunan jumlah geliat setelah dirangsang
adalah sebagai berikut:                            dengan pemberian larutan asam asetat
                                                   dengan konsentrasi 1% secara intraperitonial.
    1. Konsentrasi 30% daya analgetiknya           Untukmenguji perbedaan daya analgetik pada
       10,58%                                      masing-masing ramuan dilakukan analisis
    2. Konsentrasi 45% daya analgetiknya           data secara statistic dengan uji t. Pada
       44,92%                                      konsentrasi 60% menunjukan perbedaan
    3. Konsentrasi 60% daya analgetiknya           bermakna sedangkan konsentrasi 30% dan
       56,80%                                      45% tidak bermakna.Akan tetapi persentase
                                                   analgetik pada konsetrasi 45% lebih besar
        Pada uji aktifitas terhadap hewan          dari 30%. Sehingga dapat dikatakan bahwa
coba didapatkan perbedaan geliat mencit satu       semakin tinggi konsentrasi semakin tinggi
dengan yang lain pada masing-masing                pula daya analgetiknya. Hal ini disebabkan
konsentrasi, hal ini disebabkan oleh derajat       karena kandungan zat khasiat yang berbeda
reaksi nyri tiap individu berbeda, Faktor yang     pula.Maka masih dirasa perlu untuk
menyebabkan perbedaan tersebut antara lain,        menaikan dosis larutan untuk mencapai efek
faktor emosi dan kemampuan otak sendiri            yang optimal.
untukmenekan besar sinyal nyeri yang masuk
kedalam system saraf.                                      Walaupun dari ketiga kelompok
                                                   tersebut ( 30% = 138 geliat, 45% = 85 geliat,
                                                   60% = 67 geliat ) menunjukan pengurangan

                                                                                            37
                                                SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                    ISSN : 2087-5045
jumlah geliat dibanding dengan kelompok
asam asetat (154 geliat) tapi jumlah geliat   Soebagijo Adi, Dkk, Ilmu Penyakit Dalam,
masih lebih banyak dari kelompok asetosal            Bagian SMF Penyakit Dalam
(33 geliat). Uji t ramuan terhadap asetosal          Fakultas Kedokteran Universitas
menunjukan adanya perbedaan bermakna                 Airlangga    RSUD.    Dr.Soetomo,
pada konsentrasi 30 dan 45%, tetapi tidak            Surabaya , 2002.
pada konsentrasi 60%. Ini artinya kelompok
60% menunjukan efek analgetik tetapi tidak    Tjitrosoepomo,   Gembong,       Taksonomi
sekuat asetosal.                                      Tumbuhan (Spermatophyte), Gajah
                                                      Mada University Press, Yokyakarta,
        Dari uji t konsetrasi 30 dan 45%              2000.
didapat t hitung < t table, sedangkan
konsetrasi 60% t hitung > t table.            Wibowo, Samekto Dan Gofir, Abdul,
                                                    Farmakologi Dalam Neurology,
                                                    Salemba Medika, Jakarta, 2001.
DAFTAR PUSTAKA


Bagian     Farmakologi Terapi FK UI,
         Farmakologi Dan Terapi, Edisi IV,
         FK UI, Jakarta , 1995.

Dalimarta, Setiawan Dr , 96 Resep
       Tumbuhan Obat Untuk Rematik,
       Penebar Swadaya, Jakarta , 2005.

E.F.Reynolds, James, Martindale The Extra
       Pharmacopeia, Thirtieth Edition,
       London The Pharmaceutical Press,
       London , 1993

Katzung, Bertram G, Farmakologi Dasar
       Dan Klinik, Buku 2 Edisi 8, Bagian
       Farmakologi Fakultas Kedokteran
       Universitas Airlangga, Salemba
       Medika, Jakarta, 2002




                                                                                   38
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045

    PENENTUAN HLB BUTUH (Required Hydrophile Lipophile Balance)
              DARI VCO DENGAN METODE TIE

                              Chris Deviarny, Deifsa Noca Fersti
                                     STIFI Perintis Padang


                                         ABSTRACT


        A research on the determination of the hydrophilic and lipophilic balance (HLB) of the
three pure coconut oil (Virgin Coconout Oil) marketed in Padang has been done using Emulsion
Inversion Point method. Polietilensorbitan monooleat (Tween 80) and Sorbitan monooleat (Span
80) were used as emulgator. This determination were done by making a series of emulsions using a
combination emulsion agent begins with a composition of lowest HLB value (100% lipophilic
surfactant) to highest HLB value (100% hydrophilic surfactant). The data obtained from this study
showed that HLB value of pure coconut oil (VCO) for all three samples of pure coconut oil (VCO)
is 8.6.


Keywords : VCO, HLB, Emulsion, Surfactant, TIE




PENDAHULUAN                                         lemak rantai sedang MCFA (Medium Chain
                                                    Fatty Acid) yang didalam tubuh dipecah
         Emulsi merupakan sistem dua fasa           menghasilkan energi dan tersimpan sebagai
cair-cair yang saling tidak dapat bercampur.        trigliserida. Kandungan asam lemak rantai
Untuk membuat suatu emulsi yang stabil,             sedang ini sangat berperan dalam menjaga
perlu fase ketiga yaitu emulgator. Pemilihan        kesehatan tubuh serta ampuh dalam
emulgator yang tepat harus diperhatikan             menangkal berbagai penyakit maut, misalnya
dalam pembuatan suatu emulsi yang stabil.           kanker, penyakit jantung, kolesterol tinggi
Pemilihan ini berdasarkan pada jenis bahan          dan stroke. Disamping itu, ternyata
obat, konsentrasi dan metoda pembuatan              kandungan antioksidan di dalam VCO pun
(Ansel, 1994 ; Voight, 1995).                       sangat tinggi yang berfungsi untuk mencegah
                                                    penuaan dini dan menjaga vitalitas tubuh
        Salah satu metoda pembuatan emulsi          (Soraya, 2006).
adalah metoda HLB dimana untuk
mendapatkan emulsi yang stabil harus
mempertimbangkan harga HLB (Hydrophilic                     VCO yang saat ini beredar dipasaran
Lipophilic Balance) minyak dan emulgator            merupakan minyak yang dapat diperoleh dari
dengan merancang nilai HLB yang saling              daging kelapa segar. Proses pembuatannya
berdekatan (Rumus Aligasi). Dalam metoda            dapat dilakukan dengan beberapa metoda
tersebut, emulgator yang digunakan adalah           yaitu : pemanasan suhu yang relatif rendah,
jenis surfaktan non ionik seperti Tween 80          fermentasi, teknik pancingan, sentrifugasi
dan Span 80 karena relatif lebih stabil             ataupun enzimatis. Proses pembuatan yang
(Martin, 1993; Anief, 1999).                        berbeda    akan    berpengaruh     terhadap
                                                    komposisi kimia yang terkandung dalam
       Salah satu bahan yang dapat dibuat           VCO yang mungkin memberikan nilai HLB
menjadi bentuk sediaan emulsi sebagai fasa          yang juga akan berbeda (Soraya, 2006 ;
minyak adalah minyak kelapa murni (VCO).            Rindengan, 2005).
Minyak kelapa murni mengandung asam

                                                                                           39
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045
         Penelitian    sebelumnya,    yang            Validasi Alat
mencoba memformula minyak kelapa murni
dengan menggunakan nilai HLB minyak                           Alat     yang  digunakan      adalah
kelapa biasa, diperoleh hasil: sediaan jadi           konduktometer yang dimodifikasi, oleh sebab
mengalami pemisahan pada penyimpanan                  itu perlu dilakukan uji keandalan alat
dalam 2 minggu saja. Metoda           yang            menggunakan zat yang telah diketahui nilai
digunakan dalam penelitian ini adalah                 HLB nya . Dalam hal ini, bahan yang
metoda titik inversi emulsi (TIE). Metoda             digunakan adalah paraffin cair yang
titik inversi emulsi (TIE) yaitu menghitung           mempunyai nilai HLB 12. Penentuan ini
jumlah air yang dibutuhkan untuk merubah              dilakukan dengan membuat satu seri emulsi
tipe emulsi A/M menjadi M/A pada                      dengan paraffin cair dengan menggunakan
temperatur konstan. penyimpanan. Oleh                 kombinasi emulgator tween 80 dan span 80.
karena itu dalam penelitian ini dicoba                Perbandingan komposisi emulgator yang
menentukan nilai HLB butuh dari beberapa              digunakan dimulai dari nilai HLB emulgator
produk minyak kelapa murni (VCO) yang                 terendah (100 % surfaktan lipofilik) sampai
beredar di kota Padang.                               dengan nilai HLB emulgator tertinggi (100 %
                                                      surfaktan hidrofilik).
                                                      Formula emulsi dibuat dengan komposisi
BAHAN DAN METODA                                      sebagai berikut:



               Paraffin cair                        25 ml
               Emulgator                            10% dari fasa minyak
               Air suling untuk emulsi primer       5 ml
               Air suling sampai terjadi inversi

                 Tabel I. Perbandingan Komposisi Emulgator yang Digunakan


                                               Tween 80               Span 80
                 No           HLB
                                            gram        %        gram       %
                   1           4             0,06      0,24       2,43     9,72
                   2           5             0,16      0,64       2,34     9,36
                   3           6             0,40      1,6        2,10     8,4
                   4           7             0,63      2,52       1,87     7,48
                   5           8             0,86      3,44       1,64     6,56
                   6           9             1,1       4,4        1,40     5,6
                   7           10            1,33      5,32       1,17     4,68
                   8           11            1,57      6,28       0,93     3,72
                   9           12            1,8       7,2        0,70     2,8
                  10           13            2,03      8,12       0,47     1,88

Penentuan HLB butuh Minyak Kelapa                     emulgator     tertinggi (100% surfaktan
Murni dengan metoda Titik Inversi                     hidrofilik) pada tahap 1. Penentuan pada
Emulsi (TIE)                                          tahap 2 adalah dengan membuat seri emulsi
                                                      dengan menggunakan kombinasi emulgator
         Penentuan ini dilakukan dengan               yang sama, pada harga HLB butuh suatu
membuat seri emulsi VCO dengan                        satuan di atas dan satu satuan di bawah harga
menggunakan kombinasi emulgator tween 80              HLB yang diperoleh pada penentuan tahap
dan span 80. Perbandingan komposisi                   satu.
emulgator yang digunakan dimulai dari nilai           Formula emulsi dibuat dengan komposisi
HLB emulgator terendah (100 % surfaktan               sebagai berikut:
lipofilik) sampai dengan nilai HLB

                                                                                             40
                                                          SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                              ISSN : 2087-5045



              Minyak kelapa murni (VCO)             25 ml
              Emulgator                             10% dari fasa minyak
              Air suling untuk emulsi primer         5 ml
              Air suling sampai terjadi inversi


                  Tabel II: Perbandingan komposisi emulgator yang digunakan:


                                                  Tween 80            Span 80
                    NO      Range HLB
                                                gram      %       gram      %
                      1           4,3              0       0        2,5    100
                      2           5,3            0,23     9,2      2,27    90,8
                      3           6,3            0,47    18,8      2,03    81,2
                      4           7,3            0,70     28       1,78    71,2
                      5           8,3            0,93    37,2      1,57    62,8
                      6           9,3            1,17    46,8      1,33    53,2
                      7          10,3             1,4     56        1,1     44
                      8          11,3            1,64    65,6      0,86    34,4
                      9          12,3            1,87    74,8      0,63    25,2
                     10          13,3            2,10     84        0,4     16
                     11          14,3            2,34    93,6      0,16    6,4
                     12          15,3             2,4     96        0,1     4
                     13          15.0             2,5    100         0      0


Prosedur Kerja                                          HASIL DAN PEMBAHASAN


        Emulgator di campur ke dalam                            Emulgator yang digunakan pada
minyak lalu dipanaskan di atas hot plate pada           penentuan HLB ini adalah kombinasi Span
suhu 60°C sampai larut sempurna. Masukan                80 dan Tween 80, agar dapat membuat satu
5 ml air ke dalam fasa minyak aduk dengan               seri emulsi yang dimulai dari HLB terendah
mikser pada skala 1 selama lebih kurang 2               sampai dengan HLB tertinggi. Jumlah
menit sampai terbentuk corpus emulsi.                   emulgator yang dipakai dalam formula
Pasang sepasang elektroda yang dilengkapi               adalah 10% dari jumlah fasa minyak. Karena
dengan bola lampu listrik (5 watt) dan                  pada orientasi yang telah dilakukan pada
hubungkan dengan sumber listrik. Sambil                 konsentrasi ini menghasilkan emulsi yang
terus    diaduk        dengan      pengaduk             stabil. Dan jumlah ini masih memenuhi
magnetis,tambahkan air melalui buret ke                 persyaratan. Penggunaan Span dan Tween
dalam emulsi sampai terjadi inversi. Catat              sebagai emulgator dalam sdiaan emulsi
volume air yang terpakai dan hitung nilai               yaitu1-10% dari jumlah total sediaan (Wade
titik   inversi  emulsi     (TIE)     dengan            and Walter, 1994).
menggunakan persamaan sebagai berikut:
                                                                Metoda TIE dilakukan dengan
                                                        menggunakan alat konduktometer. Alat ini
                                                        digunakan untuk menentukan tipe emulsi
                                                        sudah berubah atau melihat terjadinya inversi
                                                        pada emulsi yang semula bertipe A/M
                                                        menjadi M/A. Penandaan tipe emulsi yang
                                                        benar-benar terjamin dapat dilakukan melalui
                                                        pengujian daya hantar listrik yaitu alat

                                                                                               41
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
konduktometer dengan sepasang elektroda
yng dihubungkan dengan sumber listrik.          DAFTAR PUSTAKA
Terjadinya inversi ditandai dengan nyalanya
lampu sebagai tanda bahwa emulsi yang
terbentuk dapat menghantarkan arus (tipe        Ansel, H, C., Pengantar Bentuk Sediaan
M/A (Voight, 1995). Alat konduktometer                 Farmasi, Edisi IV, Cetakan I,
yang digunakan merupakan modifikasi                    diterjemahkan oleh Farida Ibrahim,
sendiri, untuk melihat hasilnya akurat atau            Penerbit UI Press, Jakarta, 1985
tidak maka alat divalidasi terlebih dahulu             University, Yogyakarta, 1994
menggunakan paraffin cair yang telah            Anief, M., Sistim Dispersi Formulasi
diketahui nilai HLB butuhnya yaitu 12                  Suspensi dan Emulsi, Gadjah Mada
(Ansel, 1994 ; Voight, 1995)                           University Press, Yogyakarta, 1999

        Pada penelitian ini ke-3 sampel VCO     Martin, A., Farmasi Fisika, Edisi III”,
yang digunakan dibuat dengan metoda yang               Penerbit UI Press, Jakarta, 1993
berbeda yaitu untuk VCO Sabihissma dan
VCO Virginia dibuat dengan pemanasan            Rindengan,     B.,   Pembuatan     dan
pada suhu rendah pada suhu 60-70º C ,                  Pemanfaatan     Minyak  Kelapa
dimana krim yang terbentuk dipanaskan                  Murni, Cetakan ke-IV, Jakarta :
hingga terbentuk blondo dan disaring . Untuk           Penebar Swadaya, 2005
VCO PT. Patria diperoleh dengan metoda
teknik     pancingan,       yaitu      dengan   Soraya, N., Cantik dengan VCO, Agromedia
menambahkan VCO yang telah jadi dengan                  Pustaka, Jakarta, 2006
perbandingan 1:3. Perbedaan metoda
pembuatan VCO akan mempengaruhi                 Voigh, R., Buku Pelajaran Teknologi
komposisi asam lemak dan hal ini                       Farmasi, Edisi IV, Gadjah Mada
memungkinkan akan memberikan nilai HLB                 University Press, Yogyakarta, 1995
yang berbeda pula. Setelah dilakukan
penentuan nilai HLB pada tahap I dengan         Wade, A. and Paul J. Walter, Hand Books of
metoda TIE diperoleh nilai HLB yang                    Pharmaceutical Exipient, 2end
hampir sama untuk ketiga sampel antara 7,3-            edition, the Pharmaceutical Press,
9,3 untuk VCO Sabihissma, VCO Virginia                 London, 1994
dan VCO PT. Patria. Hal ini ditunjukan oleh
jumlah volume air minimum yang
dibutuhkan untuk terjadi inversi pada HLB
8,3 dan didukung oleh pengamatan
organoleptis yang memberikan hasil emulsi
yang paling stabil. Dan pada tahap ke-2
hanya dibuat tiga formula emulsi dengan
nilai HLB satu satuan di atas dan satu satuan
di bawah dari nilai HLB yang telah di dapat
pada tahap 1 dengan selisih 0,3, hal ini
dikarenakan    keterbatasan      bahan    dan
diperoleh nilai HLB 8,6 untuk ke-3 jenis
VCO. Hal ini juga didukung dari hasil TIE
minimum dan evaluasi organoleptis.



KESIMPULAN

        Nilai HLB butuh dengan metoda TIE
untuk ketiga jenis VCO adalah 8,6.


                                                                                     42
                                                         SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                             ISSN : 2087-5045

 UJI TOKSISITAS SUB KRONIK EKSTRAK BUAH MALUR (Brucea
  javanica L. Merr) PADA ORGAN HATI MENCIT PUTIH JANTAN


                        Mimi Aria1, M. Husni Mukhtar2, Sri Sufyantini1
                        1
                         STIFI Perintis, 2Fak. Farmasi Universitas Andalas



                                              Abstract


        The effect of subchronic toxicity of malur fruit extract [Brucea javanica (L.) Merr] on the
male albino mice liver has been observed. The malurs fruit extract suspension was given with dose
150 mg/KgBW and 300 mg/KgBW. The experiment was measured for 30th day and observation
was done at 31th day. The parameters observed were of Serum Glutamic Piruvic Transaminase
(SGPT) activity by spectrophotometry method with Photometer 5010 (Roche®) tools, liver weights
, bodies weight, and visual observation on liver. The result showed that malurs fruit extract were
not affect SGPT’s activity, liver weight, liver appearance and body weight of male albino mice
(p>0,05).


Keywords : Brucea javanica (L.) Merr, subchronic, SGPT, Spectrophotometry, Liver




PENDAHULUAN                                          yang dapat melakukan metabolisme toksikan
                                                     dalam jumlah yang tinggi. Oleh enzim ini,
                                                     sebagian toksikan diubah menjadi kurang
         Tanaman Brucea Javanica (L.) Merr           toksik, lebih mudah larut dalam air dan
dari famili Simaroubaceae telah digunakan            mudah diekskresikan (Sulaiman, 1990).
secara luas untuk pengobatan tradisional
pada malaria, disentri dan penyakit lainnya di              Kerusakan hati bisa disebabkan oleh
beberapa negara di dunia. Senyawa                    banyak faktor seperti virus, obat-obatan, dan
quassinoid merupakan kelompok turunan                bahan-bahan kimia. Salah satu pemeriksaan
triterpen yang terkandung di dalam                   kerusakan hati secara biokimiawi adalah
Simaroubaceae        yang     memperlihatkan         pemeriksaan aktivitas SGOT (Serum
aktifitas biologi yang telah diteliti belum          Glutamat Oksaloasetat Transaminase) dan
lama ini, seperti antitumor (Lee et al., 1979),      SGPT      (Serum        Glutamat      Piruvat
antimalaria (Alen, 2006), antinematoda (Alen         Transaminase) (Brooks, 2001).
et al., 2001), anti diare (Alen, 2005), anti
inflamasi    (Alen,     2005),    antidiabetes               SGPT dan SGOT merupakan enzim
(Noorshahida et al, 2009 ; Rossalina, 2010)          transaminase intraseluler yang terdapat dalam
dan menurunkan kadar kolesterol total                sel otot jantung, hati, pankreas, dan otot
(Yessi, 2007). Senyawa-senyawa quassinoid            tubuh. Enzim ini terutama terlokalisasi
seperti bruceantin, bruceantinol dan brucein         didalam mitokondria dan sedikit didalam
A-G sangat poten menghambat sintesis                 sitoplasma. Jumlah SGPT secara keseluruhan
parasit (Guo et al, 2005).                           lebih    sedikit     dari    SGOT,      tetapi
                                                     konsentrasinya di hati lebih banyak.
        Hati sering menjadi sasaran toksikan         Kenaikan aktivitas transaminase dalam serum
karena sebagian besar toksikan memasuki              disebabkan oleh sel-sel yang kaya akan
tubuh melalui sistem gastrointestinal dan            transaminase mengalami nekrosis atau
setelah diserap toksikan dibawa oleh vena            hancur. Akibatnya terjadi peningkatan
porta ke hati. Hati memiliki aktivitas enzim         permeabilitas membran sel sehingga enzim-

                                                                                             43
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
enzim yang terdapat di dalam sel akan
dilepaskan dan masuk kedalam peredaran
darah. Pengukuran aktivitas kedua enzim ini             Sampel diambil dari tanaman Brucea
dilakukan dengan menggunakan metoda             javanica ( L. ) Merr adalah buah yang telah
spektrofotometri dengan panjang gelombang       tua atau masak, lalu dibersihkan dan
340 nm (Frank, 1995 ; Syaifullah, 1996).        dihaluskan, selanjutnya letakkan didalam
                                                wadah dan ditimbang sebanyak 500 g.
         Pada      penelitian     sebelumnya    Sampel dimaserasi dengan etanol 96 %
mengenai uji toksisitas akut diketahui bahwa    dalam botol coklat selama 3x3 hari sambil
buah malur [Brucea javanica (L.) Merr]          sesekali diaduk. Pisahkan hasil maserasi
memiliki nilai LD50 adalah 438,4 mg/kgBB        dengan penyaringan menggunakan kapas.
(Satri, 2005). Berdasarkan informasi tersebut   Filtrat diuapkan dengan rotary evaporator
maka akan dilakukan penelitian untuk            hingga diperoleh ekstrak kental.
mengetahui toksisitas subkronik dari
pemberian ekstrak buah malur [Brucea
javanica (L.) Merr] dengan menggunakan          Uji Toksisitas
parameter aktivitas SGPT, rasio berat hati
dan perubahan berat badan pada mencit putih
jantan.                                                 Hewan percobaan yang digunakan
                                                adalah mencit putih jantan yang berusia 2-3
                                                bulan dengan beratbadan 20-40 gram dan
METODE PENELITIAN                               diaklimatisasi selama 1 minggu. Hewan
                                                percobaan dibagi atas 3 kelompok yang
                                                terdiri atas 9 ekor mencit untuk setiap
Alat                                            kelompok : kelompok I diberi suspense gom
                                                arab 5% sebagai kontrol, kelompok II diberi
                                                suspensi ekstrak buah malur dengan dosis
        Alat yang digunakan pada penelitian     150 mg/kgBB dan kelompok III dengan dosis
ini adalah : seperangkat alat rotary            300 mg/kgBB. Ekstrak buah malur
evaporator, erlemeyer, gelas ukur, penjepit,    disuspensikan dalam gom arab 5%.
tabung reaksi, spatel, pinset, pipet tetes,     Pemberian sediaan uji secara per oral selama
timbangan digital, timbangan hewan, jarum       30 hari dan hewan tetap diberikan makan dan
oral, alat suntik, lumpang dan alu, kaca        minum. Selama perlakuan, penimbangan
objek, alat sentrifuge (Hettich Zentrifugen     berat badan mencit dilakukan untuk melihat
EBA 20® ), krus porselen, plat tetes, pipet     pengaruh ekstrak pada berat badan.
mikro, fotometer 5010 (Roche®), botol
maserasi,kandang hewan percobaan.                       Pada hari ke-31, darah diambil dari
                                                arteri karotid leher, lalu dimasukkan ke
                                                dalam tabung sentrifus, diamkan selama 15
Bahan                                           menit, sentrifuse dengan kecepatan 3000
                                                RPM selama 10 menit, selanjutnya serum
                                                diambil dan tambahkan pereaksi, lalu diukur
         Bahan-bahan yang digunakan pada        dengan      alat     spektrofotometer   UV
penelitian ini adalah: Buah Brucea javanica     menggunakan panjang gelombang tertentu
(L.) Merr, CHCl3-Amoniak, Mayer, Mg/HCl,        untuk mengukur kadar SGPT hati. Kemudian
H2SO4, Anhidrat Asetat, Ethanol 96%, Air        hewan percobaan dibedah dan organ hati
suling, NaCl fisiologis, Reagen SGPT (Indo      diambil, lalu ditimbang dan amati perubahan
reagen®) terdiri dari reagen enzim (larutan     pada organ hati tersebut.
buffer, L-alanin, LDH) dan reagen substrat
(2-oxoglutarat, NADH), Makanan standar
mencit (Global Feed®), Gom Arab.                Pengukuran Aktivitas SGPT


Pembuatan Ekstrak Buah Malur [Brucea                   Darah mencit diambil kurang lebih 2
javanica (L.) Merr]                             ml melalui arteri karotid leher, menggunakan

                                                                                      44
                                                    SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                        ISSN : 2087-5045
silet, darah dimasukkan kedalam tabung            Range Test), menggunakan software statistic
reaksi. Darah didiamkan selama 15 menit dan       SPSS 17.0 for Windows Evaluation Version.
disentrifus selama 10 menit dengan
kecepatan 3000 RPM, serum yang diperoleh
dipipet kedalam tabung reaksi. Jumlah serum       HASIL DAN PEMBAHASAN
yang dibutuhkan adalah 100 mikroliter,
kemudian ditambahkan reagen enzim 1000                     Pengujian tokisisitas        subkronik
mikroliter dan reagen substrat 200 mikroliter,    ekstrak buah malur terhadap organ hati
campur hingga merata. Diamkan selama 30           menggunakan parameter antara lain aktivitas
detik. Ukur dengan menggunakan Fotometer          SGPT, rasio berat hati dan berat badan hewan
5010 (Roche®) pada panjang gelombang 340          percobaan. Pemeriksaan aktivitas SGPT
nm dengan faktor 1745. Tunggu beberapa            menggunakan serum hewan percobaan
saat, kemudian hasil pengukuran dicatat.          karena apabila digunakan plasma dapat
                                                  mengganggu pemeriksaan oleh adanya
                                                  senyawa       antikoagulan      yang      dapat
Penimbangan Organ Hati                            menghambat aktivitas enzim. Dalam
                                                  pengambilan darah hewan percobaan maupun
                                                  terhadap perlakuan sampel yang diperoleh
        Pada hari ke-31 mencit yang masih         harus diperlakukan secara hati-hati agar tidak
hidup ditimbang dan dikorbankan (dibunuh),        terjadi hemolisis, apabila terjadi hemolisis
kemudian dibedah. Organ hati diambil,             maka eritrosit akan mengeluarkan lisin dan
dibersihkan dengan NaCl fisiologis dan            hemoglobin,          dimana        hemoglobin
                                                  mengandung logam Fe dan terlarut didalam
ditimbang, kemudian lakukan pemeriksaan
                                                  serum, sehinggadapat menghambat aktivitas
hati secara visual. Berat hati relatif dihitung   enzim. Selain itu, hemolisis dapat
terhadap berat badan mencit, menggunakan          meningkatkan           pegeluaran        enzim
persamaan :                                       transaminase yang terkandung didalam
                                                  eritrosit dan terlarut dalam serum, sehingga
                                                  terjadi     peningkatan     aktivitas    enzim
                                                  transaminase pada serum yang dianalisis, hal
                                                  ini dapat menimbulkan kekeliruan dalam
                                                  hasil uji yang diperoleh.

                                                           Setelah   dilakukan     pengukuran
Analisa Data
                                                  aktivitas SGPT pada hari ke-31 didapatkan
                                                  hasil, yaitu untuk mencit kontrol 28,7 UI/L,
                                                  dosis 150 mg/KgBB 28,8 UI/L, dan untuk
        Data hasil pengukuran aktivitas
                                                  dosis 300 mg/KgBB 39,7 UI/L (Tabel 1).
SGPT dan rasio berat hati dianalisa dengan
                                                  Dosis 300 mg/kgBB memberikan Aktivitas
menggunakan metoda analisa varian ( Anova
                                                  SGPT yang lebih tinggi daripada aktivitas
) satu arah sedangkan hasil penimbangan
                                                  pada mencit normal yaitu 37 UI/L (Anonim,
berat badan dianalisa dengan menggunakan
                                                  1991). Peningkatan dosis memberikan
metoda analisa varian (Anova) dua arah.
                                                  pengaruh terhadap peningkatan aktivitas
Analisa data dilanjutkan dengan Uji Lanjut
                                                  SGPT.
Berjarak Duncan (Duncan New Multiple




                                                                                           45
                                                         SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                             ISSN : 2087-5045
Tabel 1. Pengaruh Pemberian Suspensi Ekstrak Buah Malur [Brucea javanica (L.) Merr] Terhadap
         Aktivitas SGPT dan Rasio Berat Hati Mencit Putih Jantan


                                                       Parameter yang diamati

     No       Kelompok Hewan             Aktivitas SGPT (UI/L)         Rasio berat hati (%)

                                                 x±SD, n = 9                 ±SD, n = 9

      1     Kontrol                    28,67                          5,21

      2     Dosis 150 mg/KgBB          28,78                          5,99

      3     Dosis 300 mg/KgBB          39,67                          6,02



         Data rata-rata aktivitas SGPT                Setelah dilakukan analisa data terhadap hasil
memiliki standar deviasi yang besar pada              pengukuran rasio berat hati mencit dengan
masing-masing kelompok. Hal ini diduga                metode analisa varian (ANOVA) satu arah
karena banyak faktor yang mempengaruhi                (SPSS 17.0), diperoleh hasil bahwa
hewan percobaan yang digunakan sehingga               kelompok mencit pemberian dosis 150
berpengaruh terhadap pengukuran aktivitas             mg/KgBB, dan kelompok mencit pemberian
SGPT. Setelah dilakukan analisa data                  dosis 300 mg/KgBB memperlihatkan
terhadap hasil pengukuran aktivitas SGPT              pengaruh pemberian ekstrak buah malur
dengan metode analisa varian (ANOVA) satu             terhadap rasio berat hati mencit yang tidak
arah (SPSS 17.0), diperoleh hasil bahwa               signifikan atau tidak berbeda nyata dengan
kelompok mencit pemberian dosis 300                   kelompok mencit kontrol, terlihat dari hasil
mg/KgBB         memperlihatkan      pengaruh          statistik P>0.05. Dengan demikian, organ
pemberian ekstrak buah malur terhadap                 hati pada hewan percobaan normal. Hal ini
aktivitas SGPT (UI/L) yang signifikan atau            dapat dilihat dari hasil pengamatan secara
berbeda nyata (p<0,05) dengan mencit                  visual (makroskopis) terhadap organ hati
pemberian dosis 150 mg/KgBB dan                       yang tidak memperlihatkan adanya kelainan
kelompok kontrol. Peningkatan aktivitas               seperti    pengerutan,     adanya     lemak,
SGPT ini disebabkan oleh adanya                       peradangan      dan     perubahan     warna.
peningkatan permeabilitas pada membran sel,           Berdasarkan pemeriksaan         makroskopik
sehingga enzim banyak dikeluarkan ke ruang            bahwa warna dan penampilan hati sering
ekstraseluler dan masuk ke sirkulasi sistemik,        dapat menunjukan sifat toksisitas, seperti
sedangkan pada kelompok pemberian dosis               perlemakan hati. Peningkatan berat hati
150 mg/KgBB tidak memberikan hasil yang               merupakan kriteria paling peka untuk
signifikan atau tidak berbeda nyata (P>0.05)          toksisitas (Syaifoellah, 1987 ; Thomas,
dengan kelompok kontrol.                              1998).

        Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa                      Pengaruh pemberian suspensi ekstrak
rasio berat hati mencit yang telah diberikan          buah malur [Brucea javanica (L.) Merr]
suspensi ekstrak buah malur pada dosis 300            secara per oral selama 30 hari terhadap berat
mg/KgBB lebih tinggi bila dibandingkan                badan mencit putih jantan dengan dosis 150
dengan rasio berat hati pada pemberian dosis          mg/KgBB dan dosis 300 mg/KgBB
150 mg/KgBB dan mencit kontrol. Hal ini               memberikan hasil yang tidak signifikan
menunjukan bahwa semakin tinggi dosis                 dengan kelompok kontrol (P>0.05), berarti
pemberian suspensi ekstrak buah malur dapat           pemberian suspensi ekstrak buah malur
memberikan pengaruh peningkatan pada                  dalam rentang dosis tersebut tidak
rasio berat hati pada hewan percobaan.                menimbulkan gangguan terhadap berat badan

                                                                                              46
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045
mencit, namun terhadap hari pengamatan                namun pada kelompok mencit pemberian
terdapat perbedaan yang signifikan, yaitu             dosis 300 mg/KgBB mengalami penurunan
pada hari ke-1, 10, 20 terhadap hari ke-31,           berat badan pada hari ke-20 dan mengalami
dan pada hari ke-1 terhadap hari ke-10, 20,           kenaikan berat badan kembali pada hari ke-
dan 31 (P<0.05), dimana pada kelompok                 31. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak
kontrol dan kelompok pemberian dosis 150              faktor, diantaranya adalah lingkungan,
mg/KgBB adanya kenaikan berat badan,                  imunitas dan nutrisi.


           Tabel 2. Pengaruh suspense ekstrak buah malur terhadap berat badan mencit

                                                 Berat badan (x±SD, n=9) Hari ke-
   No      Kelompok Hewan
                                          1               10             20             31

    1    Kontrol                    29,06±29,06      30,27±4,40     30,94±3,12     31,33±3,09

    2    Dosis 150 mg/KgBB           29,11±2,67      30,67±2,76     31,78±2,46     32,56±2,98

    3    Dosisi 300 mg/KgBB          29,06±1,63      30,67±4,14     30,17±4,37     30,89±5,74


        Dengan       demikian,   penggunaan           Merr] dalam rentang dosis 150 mg/KgBB
ekstrak buah malur [Brucea javanica (L.)              dan dosis 300 mg/KgBB aman secara sub
Merr] dalam rentang dosis 150 mg/KgBB                 kronis dalam pengobatan penyakit selama 30
dan dosis 300 mg/KgBB aman secara sub                 hari.
kronik untuk pengobatan penyakit selama 30
hari. Hal ini disebabkan peningkatan aktivitas
SGPT (UI/L) mencit yang tidak terlalu tinggi          Saran
dari batas aktivitas SGPT (UI/L) normal,
sehingga belum memperlihatkan adanya
kerusakan pada sel hati.                                       Diharapkan pada peneliti selanjutnya
                                                      untuk melakukan uji toksisitas kronik dari
                                                      ekstrak buah malur [Brucea javanica (L.)
         Pada kelainan hepatitis kronik               Merr] dan melihat pengaruhnya terhadap
persisten biasanya didapatkan peningkatan             transit saluran cerna.
aktivitas SGPT 2-3 kali dari batas normal dan
pada hepatitis kronik aktif peningkatan
aktivitas SGPT 5-10 kali diatas angka                 DAFTAR PUSTAKA
normal. Seringkali tidak terdapat hubungan
antara tingginya kadar enzim dengan derajat
kelainan atau kerusakan hati yang terjadi,            Alen, Y., 2006, Pengembangan Potensi
sehingga masih diperlukan pemeriksaan                       Ekstrak dan Fraksi Biji Tumbuhan
penunjang lainnya (Syaifullah, 1996).                       Obat Tradisional ”Malur” Brucea
                                                            sumatrana        Roxb.,    Sebagai
                                                            Fitofarmaka Antimalaria, Laporan
KESIMPULAN DAN SARAN                                        Hasil Penelitian BPOM-RI, Jakarta

                                                      Alen, Y., M. Oktavia, J. Jusfah, dan D.
Kesimpulan                                                   Arbain, 2005, Potensi Ekstrak dan
                                                             Fraksi Biji Tumbuhan Obat
                                                             Tradisional    “Malur’    Brucea
        Dari penelitian yang telah dilakukan
                                                             sumatrana Roxb. Sebagai calon
dapat disimpulkan bahwa penggunaan
ekstrak buah malur [Brucea javanica (L.)
                                                             fitofarmaka Anti diare, Seminar

                                                                                             47
                                              SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                  ISSN : 2087-5045
       Nasional      Obat    Herbal,               Current Medicinal       Chemistry,
       Departemen Farmasi Universitas              Vol. 12, No. 2
       Indonesia, PERHIPBA, Pusat
       Studi     Jepang,  Universitas       Katzung, B. G., 2004, Farmakologi
       Indonesia, Depok                           Dasar dan Klinik, Edisi VIII,
                                                  Fakultas Kedokteran Universitas
Alen, Y., L. Wardiyanti, dan Y. Lisawati,         Airlangga, Salemba Medika,
       2005, Potensi Fraksi Etil Asetat           Jakarta
       Ekstrak Biji “Malur’ (Brucea
       sumatrana Roxb). Sebagai calon       Lee, K. H. , I. Yashushiro, S. Yoshio, Y.
       fitofarmaka    Anti     Inflamasi.          W. Rong and H. Iris, 1979,
       Seminar Nasional Kimia Bahan                Antitumor Agents 33. Isolation
       Alam XV, Departemen Kimia,                  and Stuctural Elucidation of
       FMIPA, Institut Pertanian Bogor             Bruceoside-A and –B, Novel
       (IPB),      HKBAI,        Kampus            Antileukemic           Quassinoid,
       Darmaga, Bogor                              Glycoides and Brucein D and E
                                                   from Brucea javanica, J. Org.
Alen, Y., H. Kanzaki, T. Nitoda, N.                Chem, Vol. 44, No 13
      Baba, S. Nakajima and K.
      Kawazu,         2001,        New      Noorshahida, A, Wong T.W & Choo
      Antinematodal          Quassinoid           C.Y., 2009, Hypoglicemic effect
      Compound        from       Brucea           of quassinoids from Brucea
              sumatrana against the               javanica         (L.)       Merr
      Pinewood                Nematode            (Simaroubaceae) seeds, Journal of
      Bursaphelencus        xylophilus,           Ethnopharmacology,       Volume
      A Sumatran Rain Forest Plant                124, Issue 3,586-591
      pada seminar on Tropical
      Rainforest Plants and Their           Rossalina, T., 2010, Pengaruh Kombinasi
      Utilization                    for           Serbuk Biji Malur (Brucea
      Development,Padang,       Abstrak            Sumatrana Roxb) dan Biji
      Paper p.59.                                  Mahoni (Swietenia macrophylla
                                                   King.) Terhadap Kadar Glukosa
Brooks, G. dkk., 2001, Mikrobiologi                Darah Mencit, Skripsi, Jurusan
      Kedokteran, diterjemahkan oleh               Farmasi UNAND, Padang
      Bagian Mikrobiologi Fakultas
      Kedokteran           Universitas      Satri, M., 2005, Uji Toksisitas Akut
      Airlangga, Salemba Medika,                   Ekstrak Etanol dan Fraksi Etil
      Jakarta                                      Asetat       Biji       Malur
                                                   (Brucea Sumatrana Roxb) pada
Frank, C, Lu.,1995, Toksikologi Dasar              mencit putih, Skripsi, Jurusan
       Asas, Organ Sasaran dan                     Farmasi UNAND, Padang
       Penilaian Resiko, Edisi II,
       diterjemahkan oleh Edi Nugroho,      Sulaiman, A. H., 1990, Gastroenterologi
       UI Press, Jakarta                          Hepatologi, CV. Sagung Seto,
                                                  Yogyakarta
Guo, Z., S. Vangapandu, R. W. Sindelar,
      L. A. Walker and R. D. Sindelar,      Syaifoellah, H.M.,1987, Fisiologi dan
      2005,      Biologically   Active              Pemeriksaan Biokimiawi Hati, dalam
      Quassinoids and Their Chemistry:              dr.Soeparman (Ed), Ilmu Penyakit
                                                    Dalam, Edisi II, Balai Penerbit
      Potensial Leads for Drug Design,
                                                           FKUI, Jakarta

                                                                                 48
                                               SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                   ISSN : 2087-5045

Syaifullah, H.M.,1996, Buku Ajar Ilmu
        Penyakit Dalam, Jilid I Edisi III,
        Fakultas Kedokteran Universitas
        Indonesia, Jakarta
Thomas,      L.,1998,      Alanine     Amino
        Transaminase (ALT), Aspartate
        Amino Transferase (AST),Edition I,
        Clinical Laboratory Diagnostic

Thompson, E. P., 1990, Bioscreening or
      drug, evaluation technique and
      Pharmacology,     New       York,
      Weinheim Basel Cambridge




                                                                              49
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045

    PEMANFAATAN ZAT WARNA DARI EKSTRAK Cyphomandra
     betacea DAN MINYAK KELAPA MURNI DALAM FORMULASI
                           LIPSTIK

                                         Farida Rahim
                                      STIFI Perintis Padang


                                             Abstrak

        A research has been done to formulating lipstick using Cyphomandra betacea as natural
dye and Virgin Coconut Oil (VCO) as moisturizer with variation on concentration in order to
determining the difference of color intensity and lipstick consistency. Evaluation of lipstick
preparation include: organoleptic performance, homogeneity, dye stability, rigidity, melting point,
fragrance stability, and panelist opinion. Result of this research showed that VCO can be used as
base and moisturizer on lipstick preparation. Color of Cyphomandra betacea was stable on lipstick
preparation and F2 was the best formula according to panelist opinion.

Keywords : Lipstick, dye. Cyphomandra betacea CVO


PENDAHULUAN                                          dibentuk dari minyak, lilin dan lemak
                                                     (Wasiatmaja, 1997 ; Depkes RI, 1986).

         Dewasa ini ada berbagai macam                       Lipstik telah banyak diproduksi
kosmetika yang tersedia di pasar hasil               dengan warna yang beraneka ragam. Lipstik
produksi pabrik kosmetik di dalam dan luar           yang     ada     di    pasaran    umumnya
negeri. Bagi konsumen pemakai apalagi yang           mengggunakan zat warna sintetik seperti
pemula, ribuan macam kosmetika ini tentu             dibromofluoresein,      tetrabromofluoresein
membingungkan untuk          memilih      dan        karena lebih stabil dibandingkan dengan zat
menentukan pemakaiannya. Berbeda dengan              warna alam. Penggunaan zat warna untuk
obat,     pemakaian      kosmetik      lazim         sediaan lipstik perlu diperhatikan sifat zat
menggunakan beberapa bahan yang saling               warna tersebut yaitu tidak mengiritasi kulit,
berkaitan satu dengan lainnya. Aplikasi              tidak diabsorpsi oleh kulit dan tidak
kosmetika untuk satu gerak tujuan dilakukan          menimbulkan alergi karena bibir lebih peka
oleh tidak kurang dari 4-5 macam kosmetika           dibandingkan kulit pada bagian tubuh lainnya
yang berisi sekurang-kurangnya 4-5 macam             (Depkes RI, 1986).
bahan aktif pula (Wasitatmaja, 1997). Dari
berbagai jenis kosmetika yang ada salah                      Minyak kelapa murni yang dikenal
satunya     adalah   kosmetika     dekoratif.        dengan minyak laurat tinggi mengandung
Kosmetika dekoratif semata-mata hanya                asam lemak jenuh (saturated fatty), minyak
melekat pada alat tubuh yang dirias dan tidak        ini telah lama digunakan dalam perawatan
bermaksud untuk diserap ke dalam kulit serta         tubuh. Susunan molekul minyak kelapa yang
mengubah secara permanen kekurangan                  kecil memudahkan penyerapannya serta
(cacat) yang ada (Wasitatmaja, 1997).                memberikan tekstur yang lembut dan halus
                                                     pada kulit dan rambut. Minyak kelapa
         Rias bibir merupakan kosmetika              mampu memulihkan kulit yang kering kasar
dekoratif, disamping untuk merias bibir, rias        dan     keriput.   Banyak    juga     yang
bibir juga disertai dengan bahan untuk               menggunakannya sebagai pembasuh bibir
meminyaki dan melindungi bibir dari                  karena aman dan alami (Wasitmaja, 1997 ;
lingkungan yang merusak misalnya sinar               Rindengan, 2005).
ultra violet. Lipstik termasuk rias bibir yang
dikemas dalam bentuk padat (roll up) yang

                                                                                             50
                                                      SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                          ISSN : 2087-5045
        Cyphomandra betacea atau lebih                  - Minyak Kelapa Murni
dikenal dengan nama terung belanda
merupakan     tanaman     yang     buahnya                        Air perasan kelapa ( santan
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk produk                 pekat ) dibiarkan semalam, kemudian
minuman seperti sirup. Buah segar ini selain              tambahkan papain diamkan lagi
memberikan rasa enak juga berwarna cerah                  semalam, akan terbentuk tiga lapisan ,
dan menarik yang memungkinkan tanaman                     pisahkan minyaknya dari krim. Krim
ini digunakan sebagai sumber zat warna                    di panaskan di atas penangas air
alami dalam berbagai produk makanan, obat-                sampai krim memisah di tandai dengan
obatan maupun kosmetik (Crescentloom,                     terjadinya penggumpalan, kemudian
2006).                                                    pisahkan lagi minyaknya.

         Berdasarkan hal di atas maka dicoba
untuk mengembangkan suatu formula lipstik
yang mengandung minyak kelapa murni,
selain sebagai pelembab juga untuk
mengganti minyak jarak yang merupakan
basis lipstik, dan juga menggunakan ekstrak
Cyphomandra betacea sebagai zat warna
alami.


METODE PENELITIAN

1. Pengambilan Sampel
   - Cyphomandra betacea
   - Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut
     Oil)

2. Pengolahan sampel
   - Cyphomandra betacea

             Sebanyak 3 kg buah segar dari
      Cyphomandra betacea dipotong kecil-
      kecil      kemudian        dimaserasi
      menggunakan aseton selama 5 hari.
      Pengerjaan ini diulangi sebanyak 3
      kali. Kemudian sampel disaring
      sehingga     didapatkan      maserat.
      Gabungan maserat diuapkan in vacuo
      sehingga diperoleh ekstrak kental dari
      Cyphomandra betacea.

3. Formula Lipstik

                                    Tabel I. Formula Lipstik

                                                               Jumlah (gram)
    No             Nama Bahan
                                               F1              F2         F3         F4
     1.   Ekstrak Cyphomandra betaceae          8              12         16         20
          (terung belanda)
     2.   Minyak kelapa murni                   10          15            20         25
     3.   Minyak jarak                         41,6        32,6          23,6       14,6
     4.   Setil alkohol                         5           5             5           5
     5.   Adeps lanae                           5           5             5           5

                                                                                           51
                                                           SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                               ISSN : 2087-5045
       6.     Essen strawberry                    0,4           0,4           1,4          0,4
       7.     Lilin karnauba                       10            10            10          10
       8.     Malam putih                          20            20            20          20
                        Jumlah                    100           100           100          100

Keterangan : F1 = Formula Lipstik dengan ekstrak buah terung belanda 8 %
              F2 = Formula lipstik dengan ekstrak buah terung belanda 12 %
              F3 = Formula lipstik dengan ekstrak buah terung belanda 16 %
              F4 = Formula lipstik dengan ekstrak buah terung belanda 20 %

4. Pembuatan Lipstik                                    5. Evaluasi Sediaan Lipstik meliputi :

   -        Buat Massa 1                                    a. Pemeriksaan Organoleptis
            a. Lilin    karnauba    dimasukkan              b. Pemeriksaan Homogenitas
               dalam cawan penguap.                         c. Pemeriksaan Kestabilan Zat Warna
            b. Ditambahkan adeps lanae, etil                   Secara Visual
               alkohol dan malam putih.                     d. Pemeriksaan Ketegaran
            c. Semua campuran dalam cawan                   e. Pemeriksaan Suhu Lebur
               penguap dilebur di atas penangas             f. Pemeriksaan Kestabilan Pewangi.
               air bersuhu 85oC.                            g. Pemeriksaan Sediaan Lipstik Yang
                                                               Disukai
   -        Massa 2
            a. Lumpang direndam dengan air
               panas, biarkan sampai dinding
               bagian lumpang terasa panas (±
               10-15      menit),    kemudian           HASIL DAN PEMBAHASAN
               lumpang dikeringkan dan lapisi
               dengan sedikit minyak jarak                       Pewarna alami yang digunakan untuk
               sampai menutupi permukaan                formulasi lipstik adalah ekstrak dari buah
               bagian dalam lumpang.                    terung pirus yang diekstraksi dengan aseton
            b. Tambahkan ekstrak terung pirus,          secara maserasi. Pelarut aseton dipilih karena
               diaduk homogen.                          pada saat ekstraksi pendahuluan dengan
            c. Kemudian tambahkan semua                 menggunakan beberapa pelarut seperti
               sisa minyak jarak dan campuran           etanol, aseton, etil asetat dan heksan, ternyata
               diaduk homogen.                          aseton mampu menarik warna dari terung
                                                        pirus lebih baik dari pelarut lainnya. Ini
       - Massa      1 yang telah lebur                  ditunjukkan dari intensitas warna merah
          ditambahkan ke dalam massa 2,                 dalam larutan aseton yang paling bagus.
          diaduk homogen, sampai campuran               Buah terung pirus yang digunakan adalah
          sudah mulai agak mengental.                   buah yang segar dan berwarna merah tua
       - VCO ditambahkan ke dalam                       sebanyak 2 kg. Bagian yang diambil dari
          campuran dan diaduk homogen.                  buah ini adalah bagian dalam daging buah
       - Terakhir tambahkan essen strwberry             termasuk bijinya yang berwarna merah segar
          ke dalam campuran, aduk homogen.              dan diperoleh sebanyak 500 gram.
       - Segera tuangkan campuran ke dalam
          cetakan lipstik yang sebelumnya
          telah diolesi dengan sedikit parafin
          cair, dibiarkan membeku.




                                                                                                  52
                                                   SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                       ISSN : 2087-5045




                            Gambar 1. Buah Cyphomandra betaceae


Sampel segar sebanyak 500 gram ini                        Ekstrak terung pirus dan minyak
direndam dengan aseton selama 3 x 350 ml         kelapa murni dikombinasi dalam formulasi
selama 3 hari. Maserat yang telah difiltrasi     lipstik. Kedua bahan ini ditambahkan dalam
digabung dan diuapkan pelarutnya hingga          formula dengan konsentrasi yang berbeda-
kental dengan rotary evaporator sehingga         beda, bertujuan untuk melihat perbedaan
diperoleh ekstrak kental terung pirus            intensitas warna dari ekstrak dan pengaruh
sebanyak 27 gram.                                minyak kelapa murni sebagai pelembab dan
                                                 juga pengaruhnya terhadap konsistensi
         Minyak kelapa murni dibuat dari         lipstik.
pengolahan santan kelapa dengan proses                    Pengamatan organoleptis terhadap
enzimatis. Dengan proses enzimatis ini           keempat formula lipstik dilakukan selama 8
kualitas    produk     dapat     ditingkatkan.   minggu. Selama periode ini ternyata keempat
Keunggulan proses ini antara lain                formula stabil atau dengan kata lain tidak
menghemat energi, biaya yang relatif rendah,     mengalami perubahan baik dari segi bentuk
pengontrolan sangat mudah dan tidak              (konsistensi), warna dan bau.
menghasilkan limbah berbahaya bagi
lingkungan. Enzim yang digunakan pada
penelitian adalah papain yang terdapat pada
getah buah pepaya muda (Carica papaya.
L). Enzim papain ini bekerja memecah
protein dengan cara memutus ikatan peptida
yang mempunyai gugus sulfhidril (-SH),
karena itu papain tergolong pada enzim
protease sulfhidril (Muhidin, 1999).




                                                                                       53
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045
                           Tabel II. Pemeriksaan Organoleptis Lipstik

                                                         Minggu
Formula Pemeriksaan
                              I          II    III      IV     V         VI       VII     VIII
           Bentuk            PB          PB    PB       PB    PB         PB       PB      PB
   F1      Warna              C           C     C        C     C          C        C       C
           Bau               WS          WS    WS       WS    WS         WS       WS      WS
           Bentuk            PB          PB    PB       PB    PB         PB       PB      PB
   F2      Warna             M           M     M        M      M         M        M        M
           Bau               WS          WS    WS       WS    WS         WS       WS      WS
           Bentuk            PB          PB    PB       PB    PB         PB       PB      PB
   F3      Warna             MK          MK    MK       MK    MK         MK       MK      MK
           Bau               WS          WS    WS       WS    WS         WS       WS      WS
           Bentuk            PB          PB    PB       PB    PB         PB       PB      PB
   F4      Warna              U          U      U        U     U          U        U       U
           Bau               WS          WS    WS       WS    WS         WS       WS      WS

Keterangan :
      PB = Padat berminyak
      C    = Coklat
      M = Merah
      MK = Merah keunguan
      U    = Ungu
      WS = Wangi strawberry


Pemeriksaan homogenitas dan kestabilan zat           Hal ini kemungkinan bisa diatasi dengan
warna dari formula lipstik dilakukan dengan          menyiapkan ekstrak dalam preparasi yang
cara memotong lipstik secara membujur dan            berbeda, misalnya dibuat dalam bentuk
diamati selama 8 minggu berturut-turut. Dari         serbuk kering, tetapi hal ini tidak dilakukan
hasil pemeriksaan ternyata terdapat bintik-          karena membutuhkan studi lebih lanjut.
bintik pewarna pada lipstik yang berarti
sediaan kurang homogen. Kemungkinan hal                       Selama pengamatan 8 minggu lipstik
ini disebabkan zat warna tidak terdispersi           disimpan pada suhu kamar (25-27oC),
dengan baik dalam formula lipstik.                   ternyata warna lipstik tidak berubah. Warna
Penyebabnya bisa jadi karena konsistensi             dari lipstik statis mulai dari minggu pertama
ekstrak terung pirus yang terlalu kental dan         pengamatan hingga minggu terakhir. Hal ini
sifatnya yang larut air sehingga tidak dapat         berarti zat warna yang digunakan stabil.
menyatu dengan baik bersama minyak jarak.

                          Tabel III. Pemeriksaan Homogenitas Lipstik

                                                 Minggu
Formula
              I         II         III         IV       V           VI         VII       VIII
   F1        KH         KH         KH          KH      KH           KH         KH        KH
   F2        KH         KH         KH          KH      KH           KH         KH        KH
   F3        KH         KH         KH          KH      KH           KH         KH        KH
   F4        KH         KH         KH          KH      KH           KH         KH        KH

Keterangan : KH = kurang homogen




                                                                                            54
                                                        SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                            ISSN : 2087-5045

                    Tabel IV. Pemeriksaan Kestabilan Zat Warna Pada Lipstik

                                                    Minggu
Formula
               I          II         III         IV        V            VI      VII       VIII
   F1          S           s          s           s        s            s        s         s
   F2          S           s          s           s        s            s        s         s
   F3          S           s          s           s        s            s        s         s
   F4          S           s          s           s        s            s        s         s

Keterangan : s = stabil


Hasil      pengamatan    ketegaran     lipstik       ketegaran lipstik ini tidak ada parameter yang
menunjukkan bahwa formula F4 dengan                  menyatakan berapa besar ketegaran lipstik
kandungan minyak kelapa murni dan ekstrak            yang seharusnya.
pewarna yang lebih banyak memberikan nilai
ketegaran lipstik yang paling tinggi,
walaupun belum mendekati nilai ketegaran
dari lipstik pembanding. Nilai ketegaran yang
semakin besar mungkin dipengaruhi oleh
konsentrasi pewarna alami yang juga
bertambah banyak. Lipstik pembanding yang
digunakan adalah salah satu lipstik bermerk
yang ada di pasaran. Untuk pemeriksaan

                               Tabel V. Pemeriksaan Ketegaran Lipstik

                                                   Berat kawat plastik       Berat total beban
        Formula            Berat air (gram)
                                                         (gram)                   (gram)
       F1                         105,12                   3,89                   109,01
       F2                         73,52                    3,89                    77,41
       F3                         120,43                   3,89                   124,32
       F4                         150,11                   3,89                   154,00
    Pembanding                    173,29                   3,89                   177,18


Pada pemeriksaan suhu lebur selain                   lebur. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh
mengamati suhu lebur dari lipstik yang               kadar zat warna dan minyak kelapa murni
dibuat juga digunakan pembanding yang                yang ditambahkan ke dalam formula. Dari
sama dengan uji ketegaran. Formula lipstik           hasil terlihat bahwa suhu lebur yang
yang dibuat mempunyai titik lebur yang tidak         diperoleh dari pemeriksaan ini memenuhi
jauh berbeda satu sama lain dengan range             suhu lebur lipstik yang dikehendaki yaitu
54,6oC sampai 58,3oC. Pada masing-masing             berkisar antara 55oC-75oC.
formula terjadi sedikit peningkatan suhu




                                                                                             55
                                                           SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                               ISSN : 2087-5045

                            Tabel VI. Pemeriksaan Suhu Lebur Lipstik

                                                      Suhu lebur (oC)
    Formula
                           L1                    L2                     L3         Rata-rata
     F1                    55                    54                     55           54,6
     F2                    57                    57                     56           56,6
     F3                    57                    56                     58            57
     F4                    57                    59                     59           58,3
  Pembanding               73                    74                     74           73,6

Keterangan :    L1 = percobaan pertama
                L2 = percobaan kedua
                L3 = percobaan ketiga

        Pewangi yang digunakan untuk
sediaan lipstik ini adalah essen strawberri.
Pemeriksaan kestabilan pewangi dilakukan
selama 8 jam, dimana lipstik disimpan dalam
inkubator bersuhu 40oC. Selama pemeriksaan
dengan selang waktu tiap 2 jam, ternyata
tidak terjadi perubahan aroma dari esssen
strawberri sehingga dapat dikatakan pewangi
ini stabil dan komponen lipstik tidak
mempengaruhi kerja dari pewangi.

                           Tabel VII. Pemeriksaan Kestabilan Pewangi

                                                       Waktu (jam)
    Formula
                            2                    4                      6              8
       F1                   s                    s                      s              s
       F2                   s                    s                      s              s
       F3                   s                    s                      s              s
       F4                   s                    s                      s              s


         Hasil uji panelis terlihat bahwa               tetapi formula ini terasa lengket sehingga
formula F2 yang paling disukai. Alasannya               kurang nyaman bagi pemakai, namun karena
adalah karena warna lipstik F2 yang lebih               warna dari F3 dan F4 yang lebih tajam
cerah, terasa lembab dan lebih ringan di bibir          dibandingkan F1 dan F2 masih ada beberapa
dibandingkan formula lainnya. Formula F1                panelis yang menyukainya. Hasilnya dapat
kurang disukai karena warnanya yang lebih               dilihat pada tabel dibawah ini.
pucat. Sedangkan formula F3 dan F4
walaupun memberi rasa lembab pada bibir




                                                                                               56
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045
                      Tabel VIII. Pemeriksaan Sediaan Lipstik Yang Disukai

                                                  Panelis
Formula
              I        II      III        IV      V      VI       VII    VIII     IX      X
   F1         0        1        0          0      0       1        0      0        1      1
   F2         1        2        2          2      1       2        2      1        2      2
   F3         1        1        2          2      2       1        1      2        1      1
   F4         2        1        1          1      2       1        1      2        0      0

Keterangan :
0 = tidak suka
1 = kurang suka
2= suka




                                Gambar 2. Foto Sediaan Lipstik

KESIMPULAN DAN SARAN
                                                              a. Membuat       preparasi ekstrak
Kesimpulan                                                       Cyphomandra betaceae yang
                                                                 bisa terdispersi dengan baik
         Berdasarkan penelitian yang telah                       dalam basis lipstik
dilakukan dapat dibuat kesimpulan sebagai                     b. Mengisolasi zat warna dari
berikut :                                                        Cyphomandra betaceae untuk
          i.           Minyak kelapa murni                       selanjutnya digunakan sebagai
             dapat digunakan sebagai basis                       pewarna sediaan obat/kosmetika.
             dalam pembuatan formula lipstik
         ii.           Warna dari ekstrak
             Cyphomandra betaceae stabil             DAFTAR PUSTAKA
             sehingga bisa digunakan sebagai
             pewarna lipstik                         Balsam, M.S., 1974, Cosmetics Science and
        iii.           Formula            F2                Technology, A Wiley Interscience
             memberikan lipstik yang lebih                  Publication, New York.
             disukai dibandingkan lipstik
             formula lainnya.                        Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
                                                            1986,       Formularium Kosmetik
Saran                                                       Indonesia, Jakarta.

        Disarankan      pada         penelitian
selanjutnya untuk ;

                                                                                           57
                                                SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                    ISSN : 2087-5045
Departemen Kesehatan Republik Indonesia,              Minyak Kelapa         Murni,    Seri
       1979, “Farmakope Indonesia edisi               Agritekno, Jakarta.
       III, Jakarta.
                                              Wasitatmaja, S.M., 1997, Penuntun Ilmu
Herawan.T.RB., 1994, ’Berita Pusat                   Kosmetik      Medik,      Universitas
      Penelitian Kelapa Sawit “, dikutip             Indonesia Press, Jakarta.
      dari majalah Trubus 297. http ://
      www.crescentbloom.com/plants/spec
      imen, diakses 2006

Jellineck, J. S., 1970, Formularium and
        Function of Cosmetics, John Willey
        and Sons, New York.

Martin, A.J., Swarbrick and A. Cammmarata,
        1993, Physical Pharmacy, 4th ed,
        Lea and Febringer, Philadelphia.

Muhidin.D., 1999, Agroindustri Papain dan
       Pektin, Penebar Swadaya, Jakarta.

Nur Alamsyah. A., 2005, Virgin Coconut Oil,
       Minyak Penakluk Aneka Penyakit ,
       PT Agromedia Pustaka, Jakarta.

Otterstatter, G.,1999, Coloring of Food
        Drugs and Cosmetics, translated by
        Axel mixa, Lantana, florida, New
        York.

Rindengan, B., Hengky Novarianto, 2005,
        VCO Pembuatan dan Pemanfaatan




                                                                                     58
                                                      SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                          ISSN : 2087-5045

     PENGARUH PEMBERIAN SERBUK BIJI MAHONI (Swietenia
     macrophylla King) TERHADAP KADAR GAMMA-GLUTAMIL
       TRANSFERASE (GGT) PADA MENCIT PUTIH BETINA

                               Surya Dharma1, Dedi Nofiandi2
                 1
                  Fakultas Farmasi Universitas Andalas, 2STIFI Perintis Padang


                                           Abstract


         Research to investigating the influence of mahogany (Swietenia macrophylla King) seed
powder on levels of gamma glutamyl transferase (GGT) of female albino mice has been done using
animal experiments. The seed powder were given orally at a dose of 1.04 mg/20g BW, 2.08
mg/20g BW, and 4.16 mg/20g BW for 42 days. Observations were done on days 7th, 21th , and 42th.
Parameter observed was levels of GGT using Spectrophotometric method. Observations showed
that administration of mahogany seed powder at doses of 1.04 mg/20g BW, 2.08 mg/20 g BW and
4.16 mg/20g BW on the observation on day 7th, 21th, and 42th did not give the effect on elevated
levels of GGT significantly (P> 0.05).

Keywords : Mahogany seed powder, Gamma Glutamyl Transferase (GGT)



PENDAHULUAN                                        rematik, demam, masuk angin (Rosyidah,
                                                   2007).
        Dewasa     ini,    penelitian   dan
pengembangan tumbuhan obat, baik didalam                   Tumbuhan obat dikatakan aman
maupun diluar berkembang pesat. Penelitian         salah satu nya adalah tidak toksik, dalam
yang berkembang, terutama pada segi                tubuh kita organ yang berperan penting
farmakologi      maupun        fitokimianya        dalam metabolisme toksikan adalah hati. Hati
berdasarkan indikasi tumbuhan obat yang            sering menjadi sasaran toksikan karena
telah digunakan oleh sebagian masyarakat           sebagian besar toksikan memasuki tubuh
dengan khasiat yang teruji secara empiris.         melalui sistem gastrointestinal dan setelah
Hasil penelitian tersebut, tentunya lebih          diserap toksikan dibawa oleh vena porta ke
memantapkan para pengguna tumbuhan obat            hati. Hati memiliki kadar enzim yang
akan khasiat, maupun penggunaannya.                memetabolisme toksikan dalam jumlah yang
Terlebih lagi, uji toksikologi juga telah          tinggi. Oleh enzim ini sebagian besar
banyak dilakukan oleh para peneliti untuk          toksikan menjadi kurang toksik, lebih mudah
mengetahui keamanan tumbuhan obat yang             larut dalam air dan lebih mudah diekresikan
sering digunakan untuk pemakaian jangka            (Sulaiman, 1990).
panjang    maupun       pemakaian     secara               Adanya kerusakan hati dapat
mendadak (Dalimartha,1999).                        dideteksi melalui pemeriksaan fisiologi dan
                                                   patologis. Salah satu pemeriksaan kelainan
        Salah satu tumbuhan tradisonal yang        hati secara biokimia yang bisa dilakukan
digunakan sebagai obat adalah biji mahoni          adalah pemeriksaan kadar GGT. GGT
(Swietenia macrophylla King) dengan                (Gamma Glutamil Transferase) merupakan
kandungan kimia utama saponin dan                  suatu enzim yang spesifik yang ditemukan di
flavonoida, yang digunakan masyarakat              hepatosit dan sel-sel epitel bilier. GGT
untuk menurunkan tekanan darah tinggi              berperan penting dalam pembentukan
(hipertensi), antipiretik, kencing manis           glutation yang merupakan bahan kimia yang
(diabetes mellitus), menambah nafsu makan,         dibuat oleh tubuh untuk melindungi sel-sel
                                                   dari berbagai racun dan juga sebagai


                                                                                          59
                                                       SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                           ISSN : 2087-5045
mengkatalis pemindahan gugus gamma-               makanan standar dan pemberian air yang
glutamil dari suatu peptida yang mengandung       cukup. Selama pemeliharaan, bobot hewan
gugus     tersebut      (Gamma      Glutamil      ditimbang dan diamati prilakunya. Hewan-
Transferase, 2009).                               hewan yang dinilai sehat digunakan dalam
                                                  percobaan, yaitu bila selama pemeliharaan
        GGT       juga    berguna      sebagai    bobot hewan tetap atau mengalami kenaikan
mendiagnosa hepatitis kronik, sebagai             dengan deviasi maksimum 10% dan
indikator kolestatis, mendeteksi kelainan hati    menunjukkan prilaku yang normal.
secara dini dan mendeteksi kelainan hati
karena     alkohol.     Pemeriksaan      GGT      Pembuatan serbuk biji Mahoni
merupakan suatu pemeriksaan rutin dalam
klinik untuk memperkuat diagnosis berbagai                 Buah mahoni dipisahkan dari kulit
macam penyakit, dan dari angka GGT yang           buahnya dan dibersihkan dari bahan pangotor
meningkat pada berbagai penyakit hati dapat       lainnya, lalu dikeringkan di bawah sinar
diambil     kesimpulan      bahwa       derajat   matahari langsung selama 10 hari (hingga
peningkatan aktivitas GGT dalam serum atau        berwarna kecoklatan). Kemudian biji
plasma darah dapat dijadikan parameter            dipisahkan dari kulitnya dan dikeringkan
untuk diagnosis diferensial penyakit hati         selama ± 7 hari (tidak pada sinar matahari
(Muliawan, 1981). Berdasarkan fenomena            langsung) setelah kering, biji ini dihaluskan
diatas maka perlu diteliti sejauh mana            menggunakan lumpang dan diayak sampai
pengaruh pemberian serbuk biji mahoni             diperoleh serbuk dengan derajat kehalusan
(Swietenia macrophylla king) terhadap kadar       tertentu dengan ayakan No 44 (d= 355µm)
GGT hati.                                         (Materia Medika Indonesia, 1977).


METODA PENELITIAN
                                                  Pembuatan suspensi serbuk biji Mahoni
Alat dan bahan
                                                          Larutan uji serbuk biji mahoni dibuat
         Photometer 5010® (Roche), alat           dalam suspensi menggunakan Na CMC 0,5
sentrifuge (Hettich Zentrifugen EBA 20®),         % dengan konsentrasi larutan 1%. Serbuk
jarum oral, alat suntik, pipet mikro, alat        biji mahoni yang telah ditimbang sebanyak
bedah, timbangan hewan, gelas ukur, beacker       100 mg dan digerus halus disuspensikan Na
glass, tabung reaksi, kaca arloji, spatel,        CMC 0,5% dengan cara : Na CMC yang
pinset, sarung tangan, gunting, kapas, dan        ditimbang 0,05 g ditabur diatas air panas 20
kandang mencit, ayakan, reagent GGT               kalinya, biarkan 15 menit, digerus hingga
(reagent I : Tris buffer dan Glicyglicine         menjadi masa yang homogen tambahkan
reagent II : L-γ-glutamyl-3-carboxy-4-            serbuk gerus sampai homogen, cukupkan
nitroanilide), makanan untuk mencit, aqua         volume dengan menggunakan aquadest
destilata, biji mahoni, Na CMC 0,5%.              sampai 10 ml, gerus hingga homogen.


Sampel                                            Pengukuran kadar GGT

         Sampel yang digunakan dalam                      Hewan percobaan dibagi atas 4
penelitian ini adalah buah mahoni yang sudah      kelompok, setiap kelompok terdiri atas 15
kering diambil didaerah Balai Baru                ekor. Masing-masing kelompok mencit
kecamatan Kuranji Padang                          diberikan larutan sediaan oral, yaitu :

Persiapan hewan percobaan                         a.                Kelompok I kontrol (-)
                                                     diberikan suspensi Na CMC.
       Hewan yang digunakan adalah                b.                Kelompok II diberikan
mencit putih dengan bobot badan sekitar 20-          suspensi larutan uji dengan dosis 1,04
30 gram. Mencit diaklimatisasi selama tidak          mg/20g BB.
kurang dari 7 hari sebelum digunakan,

                                                                                         60
                                                 SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                     ISSN : 2087-5045
c.                Kelompok III diberikan       1. Hasil pengukuran kadar GGT rata-rata
   suspensi larutan uji dengan dosis 2,08         pada hari ke-7 adalah :
   mg/20g BB                                        a. kontrol (-)             : 2,36 U/L
d. Kelompok IV diberikan suspensi larutan           b. Dosis 1,04mg/ 20g BB: 2,17 U/L
   uji dengan dosis 4,16 mg/20g BB.                 c. Dosis 2,08mg/ 20g BB: 2,19 U/L
                                                    d. Dosis 4,16mg/ 20 g BB: 2,23 U/L
        Percobaan dilakukan pada hari ke-1     2. Hasil pengukuran kadar GGT rata-rata
sampai hari ke-6, hari ke-6 sore mencit           pada hari ke- 21 adalah :
dipuasakan, pada hari ke 7, 21, dan 42               a. kontrol (-)       : 2,37 U/L
dilakukan pengukuran kadar GGT mencit.               b. Dosis 1,04mg/ 20g BB : 2,25U/L
Penimbangan berat badan hewan percobaan              c. Dosis 2,08mg/ 20g BB: 2,33U/L
dilakukan setiap hari. Sebelum pengukuran            d. Dosis 4,16mg/ 20 g BB : 2,40 U/L
kadar GGT, dilakukan pengukuran berat          3. Hasil pengukuran kadar GGT rata-rata
badan hewan percobaan.                            pada ke- 42 adalah :
                                                     a. kontrol (-) : 2,35 U/L
        Setelah perlakuan terhadap hewan             b. Dosis 1,04mg/ 20g BB: 2,39 U/L
percobaan dilakukan pengukuran kadar GGT             c. Dosis 2,08mg/ 20g BB: 3,12 U/L
mencit dengan cara :                                 d. Dosis 4,16mg/ 20 g BB: 3,90U/L

a.   Pengambilan darah dan penyiapan                   Pada penelitian ini digunakan yaitu
     serum darah diambil dengan cara           biji mahoni (Swietenia macrophylla King)
     memotong pembuluh leher dan darah         dalam bentuk serbuk. Penggunaan serbuk
     ditampung pada tabung reaksi. Darah       dalam penelitian ini bertujuan memberikan
     disentrifuge selama 15 menit pada         kemudahan         pengaplikasiannya     pada
     kecepatan 3000 rpm. Bagian cairan         masyarakat dalam memanfaatkan biji mahoni
     jernih (serum) diambil untuk penentuan    untuk      pengobatan,       lebih    mudah
     kadar GGT.                                pembuatannya dan harganya lebih murah.
b.   Pipet 1,0 ml serum kedalam tabung         Pada penelitian dilakukan pemberian serbuk
     reaksi kemudian ditambahkan reagent       biji mahoni yaitu1,04 mg/20 g BB, 2,08
     GGT (reagent I + reagent II dengan        mg/20 g BB, dan 4,16 mg/20 g BB.
     perbandingan 4 : 1). Lakukan              Penyuntikan dilakukan secara oral setiap hari
     pengukuran       kadar GGT dengan         selama 42 hari pada mencit dan pengamatan
     Photometer 5010® (Roche) pada             dilakukan pada pemberian hari ke- 7, hari ke-
     panjang gelombang 405 nm.                 21, dan hari ke- 42. Tujuan pengukuran kadar
                                               GGT dilakukan pada hari ke- 7, hari ke- 21,
                                               dan hari ke- 42 adalah untuk melihat adanya
Analisa data                                   atau tidaknya pengaruh lama pemberian
                                               serbuk biji mahoni secara berulang yang
        Hasil pengukuran kadar GGT             dilakukan selama 42 hari dengan dosis yang
dianalisa secara statistik menggunakan         berbeda.
metode analisa varian (anova) dua arah
secara SPSS 19,00 dan dilanjutkan dengan               Kerusakan hati salah satunya dapat
uji Lanjut Berjarak Duncan (Duncan New         dilihat dengan peningkatan kadar enzim
Multiple Range Test) (Schefler, 1998).         Gamma-glutamil transferase (GGT). GGT
                                               merupakan enzim golongan fosfatase yang
                                               ditemukan pada berbagai jaringan tubuh.
HASIL DAN PEMBAHASAN                           Pada kolestasis dan hepatoseluler terjadi
                                               peninggian     enzim     ini.    Pemeriksaan
        Setelah dilakukan penelitian tentang   kuantitatif    aktivitas      gamma-glutamil
pengaruh pemberian serbuk biji mahoni          transferase berdasarkan atas menghilangnya
(Swietenia macrophylla King) terhadap kadar    substrat atau dibentuknya produk-produk
Gamma Glutamil Transferase (GGT), maka         oleh enzim tersebut. Substrat yang dipakai
diperoleh hasil sebagai berikut :              dalam pemeriksaan GGT merupakan substrat
                                               yang sintetik yang mengandung gugus
                                               glutamil yang dapat dipindahkan oleh enzim

                                                                                      61
                                                  SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                      ISSN : 2087-5045
ke suatu akseptor, yaitu suatu asam amino       peningkatan kadar         Gamma      Glutamil
atau dipeptida. Sebagai akseptor gugus          Transferase (GGT) paling tinggi terlihat pada
glutamil dipakai suatu dipeptida, yaitu         hari ke- 42 dengan dosis 2,08 mg/ 20g BB
glisilglisin. Pada pemecahan substrat           yaitu 30% dan pada dosis 4,16 mg/ 20g BB
terbentuk     p-nitroanilin  yang    dapat      yaitu 47,08%. Jadi, semakin lama waktu
mengabsorpsi         gelombang     cahaya       pemberian serbuk biji mahoni (Swietenia
spektrofotometer pada 405 nm (Muliawan,         macrophylla King) dan semakin besar dosis
1981). Pengukuran kadar GGT ini dilakukan       yang diberikan maka dapat meningkatkan
dengan menggunakan Photometer 5010®             kadar Gamma Glutamil Transferase (GGT)
(Roche) dengan panjang gelombang 405 nm.        serum darah mencit. Tetapi setelah dilakukan
                                                analisa data dengan SPSS 19,00, diketahui
        Perhitungan hasil dilakukan dengan      bahwa faktor perlakuan dengan waktu (hari)
menghitung persentase (%) kadar Gamma           terlihat nilai signifikan P>0,05, berarti nilai
Glutamil Transferase (GGT) dibandingkan         ini tidak bermakna/signifikan terhadap
dengan kelompok kontrol. Pengolahan data        pengaruh terhadap kadar GGT serum mencit
dilanjutkan secara     perhitungan stastistik   putih betina.
menggunakan metoda anova dua arah dan
metoda uji lanjut berjarak Duncan                        Dari uji lanjut Duncan untuk kadar
menggunakan SPSS 19,00 yaitu untuk              Gamma Glutamil Transferase (GGT) rata-
melihat ada atau tidak nya perbedaan yang       rata pada dosis 1,04 mg/20g BB, 2,08
bermakna (p < 0,05) antara perlakuaan dosis     mg/20g BB dan 4,16 mg/20g BB tidak
dan hari. Hasil yang diperoleh pada             menunjukan perbedaan yang nyata dalam
pemberian serbuk biji mahoni (Swietenia         pengaruh kadar GGT pada mencit putih
macrophylla King) terhadap kadar Gamma          betina dibandingkan dengan kelompok
Glutamil Transferase (GGT) serum darah          kontrol (Lampiran 8, Tabel 8), dan hasil
mencit yaitu hasil persentase (%) nya pada      lanjut Duncan terhadap hari ke- 7, hari- 21
hari ke-7 pemberian serbuk biji mahoni pada     dan hari ke- 42 yaitu pada hari ke- 7 tidak
mencit dengan dosis 1,04 mg/20g BB              terlihat perbedaan yang nyata dibandingkan
menunjukkan penurunan kadar Gamma               dengan hari ke-21, dan pada hari ke-21 tidak
Glutamil Transferase (GGT) yang paling          terlihat perbedaan yang nyata dibandingkan
rendah dengan hasil persentase (%) yaitu -      dengan hari ke-42, sedangkan pada hari ke-7
8,05%, pada       dosis 2,08 mg/20g BB          terlihat perbedaan yang nyata dibandingkan
menunjukkan penurunan kadar Gamma               dengan hari ke-42.
Glutamil Transferase (GGT) dengan hasil
persentase (%) yaitu -7,20%, dan pada dosis
4,16 mg/20g BB menunjukkan penurunan
kadar Gamma Glutamil Transferase (GGT)
dengan hasil persentase (%) yaitu -5,50%.
Sedangkan pada hari ke- 21 pemberian
serbuk biji mahoni pada mencit dengan dosis     KESIMPULAN
1,04 mg/20g BB menunjukkan penurunan
kadar Gamma Glutamil Transferase (GGT)                 Pemberian serbuk biji mahoni selama
dengan hasil persentase (%) yaitu -5,06%,       42 hari pada mencit putih betina tidak
pada dosis 2,08 mg/20g BB menunjukkan           mempengaruhi kadar GGT secara signifikan.
penurunan      kadar    Gamma      Glutamil
Transferase (GGT) dengan hasil persentase
(%) yaitu -1,71%, Dan pada hari ke-42           DAFTAR PUSTAKA
pemberian serbuk biji mahoni pada mencit
dengan dosis 1,04 mg/20g BB menunjukkan
penurunan kadar          Gamma Glutamil         Dalimartha, S., 1999, Atlas Tumbuhan Obat
Transferase (GGT) dosis 1,04 mg/20g BB                 Indonesia, Jilid II, PT Niaga
yaitu -0,41%, Sedangkan pengukuran pada                Swadaya,Jakarta.
hari ke-21 dapat terlihat peningkatan kadar
Gamma Glutamil Transferase (GGT) pada
dosis 4,16 mg/ 20g BB yaitu +1,26% dan

                                                                                         62
                                                 SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                     ISSN : 2087-5045
Dalimartha, S., 2006, Atlas Tumbuhan Obat             Plants”, Buletin No. 281. Australia:
       Indonesia, Jilid 2, Trubus Agriwidya,          CSIRO. Melbaurne.
       cetakan keIV, Jakarta.
                                               Syaifoellah, H.M., 1987, “Fisiologi dan
                                                       Pemeriksaan Boikimia Hati”, dalam
Muliawan, M., 1981, Pemeriksaan Gamma-                 Dr. dr. Soeparman (Ed), Ilmu
      Glutamil    Tranferase   Serumdan                Penyakit Dalam, Edisi ke-2, Balai
      Pemakaiannya dalam klinik,Cermin                 Penerbit FKU, Jakarta.
      Dunia Kedokteran, No22.
                                               Thompson, E.P., 1990, Bioscreening of drug,
Musyrif, N., 2009, Uji Efek Serbuk Biji              evaluation       Technique         &
       Mahoni (Swietenia macrophylla                 Pharmacology,        New       York:
       King) Terhadap Kadar Kolesterol               Weinheim Basel Cambridge.
       Total mencit, Skripsi Sarjana,
       Jurusan     Farmasi   Universitas       Wade, A., Weller, P., 1986, Pharmaceutical
       Andalas, Padang.                              Excipient edisi 2, London: the
                                                     Pharmaceutical Press.
Rosyidah, A., 2007, Pengaruh Ekstrak Biji
       Mahoni (Swietenia macrophylla
       King)
       Terhadap kadar Mortalitas Ulat
       Grayak, Skripsi, Universitas Jember,
       Jember

Sulaiman, A.H., 1990, Gastroenterologi
       Hepatologi, CV.Sagung     Seto,
       Yogyakarta.




Simes, J.J,.J.G Tracey, L.J.Webb and W.J
       Dunstand, 1959, ”an Australian
       Phytochemical survey III : Saponin
       in Gasterm Australian Flowering




                                                                                     63
                                                      SCIENTIA VOL. 1 NO. 2, AGUSTUS 2011
                                                                          ISSN : 2087-5045

              Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia
1. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan,
    baik berupa review maupun sintesis. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah
    dipublikasikan pada media lain.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bila naskah dalam bahasa
    Inggris, maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia, sebaliknya bila naskah dalam bahasa
    Indonesia, maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris.
3. Naskah diketik menggunakan komputer, dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman
    kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang
    diketik dengan jarak 1 spasi. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD)
    dikirim ke redaksi.
4. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut :
    a. Judul, nama lengkap penulis dan lembaga
    b. Abstrak
    c. Pendahuluan : berisi latar belakang masalah, ditambah literatur pendukung yang
         relevan
    d. Metoda Penelitian
    e. Hasil dan Pembahasan
    f. Kesimpulan atau saran
    g. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis, tahun, judul buku
         (tulis miring), penerbit, kota terbit; kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis,
         tahun, judul artikel, judul jurnal (ditulis miring), volume, nomor halaman)
5. Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas
6. Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah
7. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan. Naskah akan
    dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya
8. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja
9. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis
10. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke :
    Alamat : Jl. Adinegoro/Simp. Kalumpang Km. 17 Lubuk Buaya Padang-25173
    e-mail        : stifi_perintis@yahoo.co.id (khusus softcopy)




                                                                                              64

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:2072
posted:11/2/2012
language:Latin
pages:67